Anda di halaman 1dari 15

PENANAMAN RUMPUT GAJAH

(Laporan Praktikum Padang Penggembalaan)

Oleh :

KELOMPOK IV
Boby Sanjaya (0814061027)
Cintia Agustina Kusuma Wati Nceng-Ncing-Ncang (08982232289)
Rismars Hizkia Sepperanuh (0814061055)

UNIVERSITAS LAMPUNG
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN PETERNAKAN
2010
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Jenis tanaman rumput-rumputan berperan dalam pengawetan tanah dan air. Rumput-
rumputan dapat berfungsi ganda, yaitu untuk membantu mencegah berlangsungnya
erosi dan dapat pula bermanfaat bagi hijauan makanan ternak. Rumput gajah
merupakan alternatifnya. Tanaman rumput-rumputan dapat digunakan dalam usaha
pengawetan tanah dan atau pencegahan erosi dikarenakan tanaman rumput-rumputan
dapat tumbuh dengan cepat, sehingga dalam waktu pendek tanah telah dapat tertutupi
oleh tanaman tersebut secara rapat dan tebal. Selainitu, bagian atas dari tanaman
(daun-daunan) mampu melindungi permukaan tanah dari percikan air hujan dan
memperlambat aliran permukaan. Bagian bawah tanaman (perakaran) juga dapat
memperkuat resistensi tanah dan membantu melancarkan infiltrasi air kedalamtanah.

Penanaman rumput gajah dapat dilakukan secara monokultur ataupun interkultur


dengan tanaman tahunan sehingga dapat diperoleh manfaat secara maksimal.
Pertumbuhannya yang relatif cepat dalam waktu yang pendek serta peranan daun-
daun dan perakarannya terhadap erosi, maka pembudidayaan rumput gajah dapat
menjadi pilihan yang bijaksana dan menguntungkan.

Karena manfaatnya tersebut, maka dilakukan penanaman rumput gajah sebagai


praktikum Tataniaga Padang Penggembalaan. Dengan demikian, diharapkan tulisan
ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Dan semoga laporan ini dapat membantu
pembaca dalam melakukan penanaman rumput gajah di waktu yang akan datang.
1.2 Tujuan

Dengan dilakukannya praktikum ini, maka diharapkan agar mahasiswa :


1. Mampu melakukan proses penanaman rumput gajah dengan baik.
2. Mengetahui masa panen dan produksi rumput gajah sebagai hijauan makanan
ternak.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Penanaman rumput gajah dilakukan dengan metoda perbanyakan vegetatif. Cara yang
umum diterapkan adalah dengan stek batang dan memecah anakan. Cara yang
pertama memungkinkan perbanyakan dengan lebih cepat, namun agak sedikit lebih
lambat pertumbuhannya dibandingan dengan cara anakan atau pols. Cara penanaman
yang biasa kami lakukan adalah sebagai berikut:

1. Pengolahan Lahan

Proses penanaman rumput gajah dimulai pada dengan pengolahan lahan yaitu dengan
melakukan pembersihan lahan dari tanaman gulma, memisahkan bibit yang masih
dapat digunakan untuk kemudian dilakukan pembalikan tanah serta pembuatan ulang
dan rekondisi galur tanam.

2. Pupuk Dasar dan Penanaman

Setelah melakukan pengolahan lahan, dilanjutkan dengan pemupukan dasar


menggunakan pupuk kandang (manure sapi) sekira 3 ton (± 1 ton/ha) dan dilanjutkan
dengan mengguludkan lahan tanam.
Kemudian dilakukan penanaman dengan metoda stek batang. Untuk satu rumpun
ditanam minimal 3 batang, yang masing masing batang terdiri sekurangnya dari 3
ruas. Kami mengusahakan 2 ruas terbenam di dalam tanah.

3. Pemupukan Kedua

Pemupukan kedua dilakukan 2 minggu setelah tanam dengan menggunakan pupuk


NPK (16:16:16) dengan dosis 60 kg / hektar.
Pemupukan kedua ini biasanya dibarengi dengan penyaueran (menimbunkan tanah
dan rumput liar untuk meninggikan guludan).

4. Pemupukan Lanjutan

Pemupukan kimia selanjutnya dilakukan pada musim hujan yang akan datang. Untuk
selanjutnya diharapkan pemupukan cukup dengan menggunakan pupuk kandang
sebanyak 2 kali per tahun, 1 kali pada musim hujan, dan 1 kali pada musim kemarau.

5. Pemeliharaan

Pemeliharaan pada tahun pertama dapat di rinci sebagai kegiatan pemupukan dan
penyiangan/pembersihan gulma seperti berikut (pada lahan 3.2 hektar):
Pemupukan :
Pupuk Kandang 3 hari x 4 orang x 2 kali per tahun = 24 Hari Orang Kerja
(HOK)
Pupuk Kimia 1 hari x 4 orang x 1 kali per tahun = 4 HOK
Penyiangan :
3 hari x 4 orang x 2 kali per tahun = 24 HOK
Sehingga total pemeliharaan pada tahun pertama adalah 52 HOK
Sedangkan pada tahun kedua dan selanjutnya karena diharapkan sudah tidak
menggunakan pupuk kimia maka yang dibutuhkan hanya 48 H.O
(http://lestarimandiri.org/id/peternakan/hijauan-pakan-ternak/113-hijauan-pakan-
ternak/235-budidaya-rumput-gajah.html)

JENIS RUMPUT GAJAH


Jenis Kultivar di Indonesia

Sekurangnya da empat kultivar yang ada di Indonesia. Rumput gajah semuanya


merupakan introduksi dan bukan jenis rumput lokal.
Kultivar rumput gajah tersebut adalah King Grass (P. purpureum cv. King Grass),
Taiwan (P. purpureum cv. Taiwan), Hawaii (P. purpureum cv. Hawaii) dan Africa (P.
purpureum cv. Africa).
Namun karena memang bentuknya yang satu sama lain sangat mirip, agak sulit
membedakannya.

King:
Batang dan daunnya paling raksasa (karena itulah dia disebut King Grass), daunnya
berbulu kasar dan akan terasa perih bila memanen rumput ini tanpa menggunakan
baju tangan panjang (percayalah, penulis sudah merasakannya). Batangnya keras.
Produktivitas tinggi, menurut pengamatan kami dapat mencapai 200 - 250 ton per
hektar per tahun. Pada daun muda, pangkal daunnya memiliki bercak bercak
berwarna hijau muda. Produksi per rumpun di Cijayana bisa lebih dari 7 kilogram
(basah) per panen.

Bercak hijau muda di sekitar pangkal daun King Grass.

Rumput Gajah King Grass di desa Cimahi, kec. Caringin, kab. Garut.
Berumur sekitar 8 bulan sejak hari tanam.
Taiwan:
Cukup raksasa, dapat mencapai 4 -5 meter. Batangnya lunak, daun lebar berbulu
lembut, tingkat nutrisi cukup baik. Ciri ciri lain adalah pada batang muda pangkal
batangnya bawah yang dekat ke tanah berwarna kemerah merahan. Namun beberapa
rekan peternak di Lembang kurang menyukai kultivar ini karena lunaknya batang
tersebut sehingga cenderung mudah roboh apabila diterpa angin kencang.
Produktivitas tinggi, bisa mencapai 300 ton / hektar per tahun dengan kondisi
pemupukan dan pemeliharaan optimal. Selain itu, Taiwan (juga King Grass)
membutuhkan air yang cukup banyak. Produksi per rumpun bisa lebih dari 7
kilogram (basah) per panen.

Batang berwarna kemerah merahan merupakan ciri kultivar Taiwan (Cijayana).

Batang rumput Taiwan yang besar tapi relatif lunak (Cijayana).


Africa:
Batang kecil dan keras. Daun kecil. Tumbuh tunas tunas kecil pada ketiak batang.
Sehingga apabila terbiasa melihat King Grass atau Taiwan yang sehat, melihat Africa
seperti melihat rumput kerdil. Kultivar ini yang banyak ditanam di Manglayang
Farm. Keunggulan dari Africa adalah kebutuhan airnya yang tidak terlalu banyak.
Sehingga pada musim kering pun masih dapat tumbuh dengan cukup baik.
Produktivitas tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 1 -2 kilogram / rumpun (basah) per
panen (sekitar 100 ton per hektar per tahun).

Rumpun rumput gajah Africa yang sudah tua, perhatikan batangnya yang kecil.

Jumlah rumpun gajah Africa yang banyak.

Hawaii:
Hawaii memiliki batang dan daun yang lunak tapi tidak terlalu besar. Lebih mirip ke
Taiwan hanya lebih kecil. Tidak heran, karena kultivar ini merupakan induk dari
kultivar Taiwan yang merupakan hibrid King Grass dengan Hawaii.
Disebutkan disana King Grass merupakan hasil silangan antara P. purpureum biasa
dengan Pearl Millet (Pennisetum galucum).

Kultivar yang cukup menarik adalah tipe Dwarf (kerdil), yaitu Pennisetum
purpureum cv. Mott. Disebutkan bahwa kultivar ini memiliki karakteristik
perbandingan rasio daun yang tinggi dibandingkan batang. Berkualitas nutrisi tinggi
pada berbagai tingkat usia dibandingkan jenis rumput tropis lainnya. Tahan
kekeringan, dan hanya bisa di propagasi melalui metoda vegetatif
(http://manglayang.blogsome.com).
III. METODOLOGI KERJA

3.1 Alat dan Bahan

Alat yang dibutuhkan dalam pelaksanaan praktikum ini adalah : cangkul, sabit, dan
ember. Sedangkan bahan yang dibutuhkan brupa : bibit rumput gajah taiwan dan air.

3.2 Cara Kerja

Praktikum ini dilaksanakan dengan cara kerja sebagai berikut :


1. Penyiapan
a. Tanah dicangkul 1-2 kali kemudian diratakan,
b. Tanah dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan gulma,
c. Pembuatan parit/lubang tanaman dengan jarak 40 x 40 cm.
2. Penyiapan bibit rumput gajah Taiwan
a. Penanaman rumput gajah dapat dilakukan dengan stek maupun
sobekan rumput stek terlebih dahulu dipotong-potong sepanjang 25-
30 cm atau
b. Bibit paling sedikit terdiri dari dua mata.
3. Penanaman Rumput
a. Untuk penanaman dengan sobekan rumpun, terlebih dahulu dibuat
lobang sedalam 20 cm.
b. Jarak tanam adalah 40 cm x 40cm.
4. Perawatan
a. Penyiraman setelah rumput ditanam,
b. Pembersihan gulma pada praktikum minggu ke-2 dan ke-4.
IV. PEMBAHASAN

Rumput gajah Taiwan cukup raksasa, dapat mencapai 4 -5 meter. Batangnya lunak,
daun lebar berbulu lembut, tingkat nutrisi cukup baik. Ciri ciri lain adalah pada
batang muda pangkal batangnya bawah yang dekat ke tanah berwarna kemerah
merahan. Produktivitas tinggi, bisa mencapai 300 ton / hektar per tahun dengan
kondisi pemupukan dan pemeliharaan optimal. Selain itu, Taiwan (juga King Grass)
membutuhkan air yang cukup banyak. Namun, karena ditanam pada waktu musim
hujan, dan intensitas hujan tinggi, maka penyiraman tidak perlu dilakukan setiap hari.
Penyiraman hanya dilakukan sekitar seminggu sekali.

Penanaman rumput gajah Taiwan yang kami lakukan terbatas pada lahan berukuran
2m x 4m dengan jarak tanam sekitar 40 x 60 cm. Rumput gajah dibudidayakan
dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun (pous) sebagai bibit. Bahan stek
berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek 20 – 25 cm (2 – 3 ruas
atau paling sedikit 2 buku atau mata). Lahan dibersihkan, dan digemburkn dengan
cara membalik tanah. Setelah itu dilakukan penanaman, rumput yang telah
dipisahkan, kemudian ditanam dengan jarak tanam 40 x 60 cm/rumpun.

dan disiram dengan air secukupnya. Penanaman dilakukan pada awal musim hujan,
karena dikhawairkan rumput akan mati bila ditanam di musim kmarau. Setelah satu
minggu, lahan dibersihkan dari rumput liar yang tumbuh, karna dikhawatirkan akan
mngganggu pertumbuhan rumput gajah Taiwan yang ditanam. Pada jarak waktu 1
Minggu, tunas rumput sudah mulai terlihat.
Produksi per rumpun bisa lebih dari 7 kilogram (basah) per panen. Pada musim
penghujan secara umum rumput gajah sudah dapat dipanen pada usia 40 - 45 hari.
Sedangkan pada musim kemarau berkisar 50 - 55 hari. Tinggi pemotongan 10-15 cm
dari permukaan tanah. Lebih dari waktu tersebut, kandungan nutrisi semakin turun
dan batang semakin keras sehingga bahan yang terbuang (tidak dimakan oleh ternak)
semakin banyak.Sedangkan mengenai panen pertama setelah tanam, dapat dilakukan
setelah rumput berumur minimal 60 hari. Apabila terlalu awal, tunas yang tumbuh
kemudian tidak sebaik yang di panen lebih dari usia 2 bulan.
KESIMPULAN

Dari praktikum ini, dapat diambil kesimpulan bahwa :


1. Rumput gajah dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan
rumpun (pous) dengan panjang stek 20 – 25 cm (2 – 3 ruas atau paling sedikit
2 buku atau mata) dengan jarak tanam 40 x 60 cm/rumpun.
2. Pada musim penghujan secara umum rumput gajah sudah dapat dipanen pada
usia 40 - 45 hari. Sedangkan pada musim kemarau berkisar 50 - 55 hari.
Tinggi pemotongan 10-15 cm dari permukaan tanah.
DAFTAR PUSTAKA

http://manglayang.blogsome.com/2005/12/31/hijauan-pakan-ternak-rumput-gajah-
pennisetum-purpureum/

http://serdangbedagaikab.go.id/indonesia/images/keputusan/rumput.pdf

http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-rumput-gajah-untuk-pakan-
ternak/

http://www.hear.org/pier/species/pennisetum_purpureum.htm

PROSEA, Sumber Daya Nabati Asia Tenggara buku 4, PT. Balai Pustaka, Prosea
Indonesia.
LAMPIRAN

Foto Lahan Praktikum