Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN ILMU HIJAUAN PAKAN TERNAK

PENGAMATAN RUMPUT DAN LEGUM

OLEH:

NAMA : MIZA SOFIANA


NIM : B1D018172
KELAS : 3B2

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas nikmat yang Allah SWT berikan berupa
rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan tetap
pratikum ilmu tanaman pakan ternak.
Laporan ini diharapkan dapat menjadi acuan kita bersama dalam mata
kuliah ilmu tanaman pakan ternak yang didasarkan pada praktikum yang telah
dilaksanakan supaya menjadi titik acuan dalam studinya yang mempunyai peran
penting dalam kehidupan sehari-hari umumnya dan dunia peternakan khususnya.
Penulis sangat menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif dan dapat memperbaiki
laporan ini ke depannya sangat penulis harapkan.
Tidak lupa pula penulis mengucapkan terima kasih kepada para pihak yang
telah membantu penulis dalam menyusun dan membuat laporan ini yang dalam
hal ini tidak dapat penulis sebutkan.

Mataram, 16 Desember 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

COVER
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. iiiV
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Tujuan Dan Manfaat Praktikum .................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 4
2.1 Gramineae ( rumput – rumputan ) ................................................................ 4
2.2 Leguminosae ( polong – polongan ) .............................................................. 5
2.3 Pengembangbiakan Gramineae dan Leguminosae........................................ 6
2.4 Waktu Pemotongan ....................................................................................... 7
BAB II MATERI DAN METODE ..................................................................... 9
3.1 Waktu dan tempat praktikum ................................................................... 9
3.2 Materi Praktikum ....................................................................................... 9
3.3. Metode praktikum ....................................................................................... 9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ........................................................... 11
4.1 Hasil Pengamatan ........................................................................................ 11
4.2 Pembahasan ................................................................................................. 20
4.2.1 Rumput – rumputan ( Gramineae ) ................................................. 21
4.2.2 Polong – Polongan (Leguminoseae) ............................................... 24
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 29
5.1. Kesimpulan ................................................................................................. 29
5.2.Saran ............................................................................................................ 29
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 30

DAFTAR TABEL

iii
Tabel 1: Ciri – Ciri Rumput (Gramineae) ..................................................... 14
Tabel 1: Ciri – Ciri Polong – Polongan (Leguminoseae) .............................. 20

iv
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keberhasilan suatu peternakan tidak pernah lepas dari efisiensi kualitas
dan kuantitas pakan. Hijauan pakan ternak atau biasa disebut hijauan
makanan ternak (HMT) merupakan bahan pakan yang sangat penting bagi
ternak terutama ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing, dan domba.
Hijauan pakan ternak menjadi bahan pakan yang sangat disukai oleh ternak
ruminansia.
Produktivitas ternak dipengaruhi oleh faktor lingkungan sampai 70%
dan faktor genetik hanya sekitar 30%. Diantara faktor lingkungan tersebut,
aspek pakan mempunyai pengaruh paling besar yaitu sekitar 60%. Hal ini
menunjukkan bahwa walaupun potensi genetik ternak tinggi, namun apabila
pemberian pakan tidak memenuhi persyaratan kuantitas dan kualitas, maka
produksi yang tinggi tidak akan tercapai. Di samping pengaruhnya yang besar
terhadap produktivitas ternak, faktor pakan juga merupakan biaya produksi
yang terbesar dalam usaha peternakan. Biaya pakan ini dapat mencapai 60-
80% dari keseluruhan biaya produksi.
Hijauan makanan ternak (HMT) merupakan salah satu bahan makanan
ternak yang sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan
kelangsungan populasi ternak. Oleh karenanya, hijauan makanan ternak
sebagai salah satu bahan makanan merupakan dasar utama untuk mendukung
produksi ternak terutama ternak ruminansia yang setiap harinya
membutuhkan cukup banyak hijauan pakan ternak. Pakan hijauan adalah
bahan yang berfungsi sebagai sumber serat atau sekaligus sebagai sumber
vitamin. Untuk memperoleh HMT pada umumnya peternak mencari di
lapangan yang ketersediaannya tergantung pada musim. Di samping itu
peternak juga melakukan penanaman HMT terutama yang memiliki jumlah
ternak banyak sehingga tidak hanya mengandalkan pencarian di alam. HMT
bisa berupa hijauan segar yang terdiri dari rumput dan daun-daunan. Limbah
pertanian mempunyai potensi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan

1
ternak. Limbah pertanian ini dapat berupa jerami padi, jerami jagung/tebon,
kulit kedelai dan limbah kacang tanah.
Hijauan makanan ternak merupkan kelompok tanaman yang unggul dan
berkualitas, sebagai kebutuhan utama makanan ternak yang mengandungan
nutrient (gizi-gizi) yang lebih efisien dan bermanfaat terhadap ternak. Hijauan
makanan ternak berasal daripada 2 bagaian komunitas besar yaitu kelompok
rumput-rumputan (Graminae) dan kacang-kacangan (Leguminosa). Dalam
penentuan keberadaan hijauan makanan ternak terdapat pengaruh besar yang
mempengaruhi terhadap pertumbuhan dan perkembangan daripada
produktifitasnya yaitu system penanamannya. Hingga saat ini banyak para ahli
ingin menngusahakan system penanaman hijauan makanan ternak yang lebih
unggul dan efisien serta tidak mengandung unsur genetik yang rendah sebagai
penyedia hijauan makanan ternak yang terbaik.
Seiring perkembangan peternakan di Indonesia maka kita diusahakan
membudidayakan pakan ternak terutama bangsa rumput karena bahan pokok
dari makanan ternak. Penanaman ini harus dikelola dengan baik dan teratur
sehingga kebutuhan akan pakan tenak tercapai. Pengembangan pakan ternak
ini juga akan menambah jumlah hewan tenak sehingga kebutuhan daging
dalam negeri akan bisa terpenuhi. Jenis rumput dan leguminosa yang
dikembangkan cocok bagi ternak. Ternak ruminansia seperti sapi (potong dan
perah), kerbau, kambing dan domba, salah satunya ditentukan oleh faktor
pakan (ransum)-nya. Pakan utama ternak ruminansia pada dasarnya adalah
hijauan. Agar ternak ruminansia dapat menghasilkan produksi yang tinggi
diperlukan pakan hijauan yang cukup baik kuantitas maupun kualitasnya.

1.2 Tujuan Dan Manfaat Praktikum


1.2.1 Tujuan Praktikum.

Adapun tujuan praktikum hijauan pakan ternak ini adalah untuk


mengidentifikasikan beberapa jenisGramineae( rumput – rumputan
)dan Leguminosae( polong – polongan )

1.2.2 Manfaat Praktikum:

2
Adapun manfaat praktikum hijauan pakan ternak ini adalah
agar praktikan dapat mengidentifiukasikan beberapa jenisGramineae(
rumput – rumputan ) dan Leguminosae
( polong – polongan )

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Gramineae ( rumput – rumputan )


Rumput merupakan tumbuhan monokotil, mempunyai sifat tumbuh,
yaitu membentuk rumpun, tanaman dengan batang merayap pada permukaan,
tanaman horisontal dengan merayap tetapi tetap tumbuh ke atas dan rumpun
membelit (Sarwono,1987). Menurut Sistematika taxonominya Rumput
termasuk sebagai berikut:
Sistematika Taxonomi Golongan

Phylum Spermatophyta

Sub phylum Angiospermae

Class Monocotyl

Ordo Glumiflora

Family Graminae

Sub Family Panicoldea

Genus Pennisetum, Panicum, Setaria

Spesies Purpureum, Maximum

Sedangkan rumput dalam pengelompokkannya dibagi menjadi dua yaitu


rumput potong dan rumput gembala.
a. Rumput potongan adalah rumput yang memenuhi persyaratan: memiliki
produktivitas yang tinggi, tumbuh tinggi secara vertikal dan banyak
anakan seerta responsif terhadap pemupukan.Termasuk kelompok ini
antara lain: Pennisetum perpureum, Pannicum maximum, Euchlaena
mexicana, Setaria sphacelata, Pannicum coloratum, Sudan grass (AAK,
1983).

4
b. Rumput gembala merupakan jenis rumput yang memiliki ciri-ciri antara
lain: tumbuh pendek atau menjalar dengan stolon, tahan terhadap
renggutan atau injakan, memiliki perakaran yang kuat dan tahan
kekeringan. Termasuk kelompok ini antara lain : Brachiaria brizhantha,
Brachiaria ruziziensis, Brachiaria mutica, Paspalum dilatatum, Digitaria
decumbens, Choris gayana, African star grass (Cynodon plectostachyrus).
AAK (1983)..

2.2 Leguminosae ( polong – polongan )


Legum adalah tanaman dari jenis kacang – kacangan (Leguminosae)
yang merupakan salah satu sumber makanan ternak terutama bagi ternak
ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing dan domba yang memiliki
kandungan protein tinggi dibandingkan dengan rumput (Graminae).
Selain memiliki kandungan protein yang tinggi, tanaman legume juga
memiliki zat anti nutrisi yakni mimosin dan tanin yang dapat membahayakan
ternak jika diberikan secara berlebihan atau terus menerus. Oleh sebab itu,
pemberian legum pada ternak harus dilayukan terlebih dahulu kemudian
dicampur dengan bahan pakan yang lain seperti rumput raja, rumput gajah dan
lain – lain.
Tanaman legum mampu mengkonversi nitrogen atmosfer menjadi
komponen nitrogen yang berguna bagi tanaman yang ada disekitarnya. Hal ini
terjadii karena pada nodul-nodul akar tanaman legum mengandung bakteri
jenis Rhizobium. Bakteri ini mempunyai suatu hubungan simbiotik dengan
legume dalam fiksasi nitrogen untuk tanaman. Sebagai gantinya, legume
menyuplai bakteri dengan sumber karbon yang diproduksi melalui
fotosintesis. Hal ini memungkinkan legume dapat bertahan hidup dan bersaing
secara efektif di daerah dengan kondisi kekurangan nirogen. Kemampuan
tanaman legum dalam memfiksasi nitrogen bagi tanaman disekitarnya dapat
mengurangi biaya-biaya pemupukan. Untuk itu sangat disarankan penanaman
legum di integrasikan dengan tanaman pertanian guna mengisi lahan yang
telah banyak kehilangan nitrogen.
Klasifikasi
Kingdom : Plantae

5
Phylum : Spermatophyta
Sub Phylum : Angiosspermae
Class : Dicotyledoneae
Ordo : Rosales
Familia : Leguminocea
Sub Familia : Mimosoideae,Caesalpiniodeae, Papilionodeae
Genus : Centrosema, Peuroria, Colopogonium
Species : Pubescen, Phaseloides, Mucunoide

Ditinjau dari bentuknya, tanaman legumin dibagi menjadi 2 (dua), yaitu :


1. Leguminosa Pohon ; merupakan jenis tanaman leguminosa yang
berkayu dan mempunyai tinggi lebih dari 1,5 meter.
2. Leguminosa Semak ; merupakan jenis tanaman leguminosa yang
mempunyai tinggi kurang dari 1,5 meter. Sifat tumbuhnya memanjat
(twinning) dan merambat (trilling).

Tanaman legum memiliki karakteristik tersendiri, yaitu:


1. Tumbuh dengan cara merambat atau menjalar (herba) dan pohon
(perdu) ;
2. Tanaman dikotilledon dengan bijinya terdiri dari dua kotiledon atau
disebut berkeping dua;
3. Sistem perakaran bercabang dan tumbuh jauh kedalam tanah;
4. Daun berbentuk kupu-kupu ;
5. Mudah tumbuh dengan baik pada berbagai kondisi tanah (Frans,2017).

2.3 Pengembangbiakan Gramineae dan Leguminosae


Cara pengembangbiakan utama tanaman rumput adalah dengan vegetatif,
transisi, dan reproduktif. Fase vegetatif, batang sebagian besar terdiri atas
helaian daun. Leher helaian daun tetap terletak di dasar batang, tidak terjadi
pemanjangan selubung daun atau perkembangan kulmus, sebagai respon
terhadap temperatur dan panjang hari kritis, meristem apikal secara gradual
berubah dari tunas vegetatif menjadi tunas bunga. Hal ini disebut induksi
pembungaan. Fase perubahan ini disebut dengan fase transisi. Selama fase

6
transisi helaian daun mulai memanjang. Internodus kulmus juga mulai
memanjang. Fase reproduktif (pembuangan) dimulai dengan perubahan ujung
batang dari kondisi vegetatif ke tunas bunga (Soetrisno et al., 2008).

Tanaman legum tumbuh dengan cara tipe semak, tipe berkas, batang
bersifat tegak atau decumbent, serambling, dan roset. Tipe semak yaitu sebuah
tangkai sentral dengan cabang-cabang samping muncul sepanjang batang
utama dengan cabang aksiler, Tipe berkas yaitu sebuah tangkai yang darinya
muncul beberapa batang dan tunas baru sehingga sulit mengidentifikasi batang
utama. Batang bersifat tegak atau decumben, merambat yaitu batang
berkembang menjalar di atas permukaan tanah. Serambling adalah banyak
tanaman yang merambat tumbuh memanjat dan malingkari obyek yang tinggi.
Roset adalah bentuk vegetatif beberapa tanaman perennial berkembang setelah
berbunga (Soetrisno et al., 2008).

Salah satu teknik budidaya yang dapat dilakukan untuk memperbanyak


cabang, agar diperoleh bahan untuk stek dalam jumlah yang maksimal adalah
defoliasi. Defoliasi adalah pemotongan atau pengambilan bagian tanaman yang
ada di atas permukaan tanah, baik oleh manusia maupun oleh renggutan hewan
itu sendiri sewaktu ternak digembalakan (Suwarso, 2009). Perlakuan pada
defoliasi, sintesis auksin ditiadakan sehingga tidak terjadi transport auksin
kebawah sehingga konsentrasi auksin di ketiak daun semakin rendah. Turunnya
auksin di ketiak daun akan memacu pembentukan hormon sitokinin (Taiz dan
Zeiger, 1998).

2.4 Waktu Pemotongan


Semakin tua hijauan waktu dipotong, maka kadar serat kasar akan
meningkat dan kadar protein akan menurun karena makin meingkatnya
senyawa-senyawa bukan protein sebaliknya bertambah umur maka produksi
makin meingkat pada akhirnya menyebabkan kandngan dan produksi protein
menurun.

Perlu diatur jarak antar pemotongan pertama, kedua dan selanjutnya,


sebab setelah defoliasi, pertumbuhan tanaman memerlukan zat-zat yang kaya

7
akan energi seperti gula dan pati. Interval pemotongan yang panjang tidak
mengkhawatirkan tetapi pada interval pemotongan pendek atau intensitas
pemotongan tinggi dapat menyebabkan kandungan karbohidrat dalam akar
akan menurun sehingga dapat mengganggu pertumbuhan kembali. Cadangan
karbohidrat setelah defoliasi segera dirombak oleh enzim tertentu menjadi
energi. Zat tersebut kemudian dipergunakan untuk pertumbuhan. Jarak
defoliasi pada musim penghujan sebaiknya 40 hari sekali dan musim kemarau
60 hari sekali (Soetrisno et al., 2008).

8
BAB II
MATERI DAN METODE

3.1 Waktu dan Tempat Praktikum


`Waktu praktikum dilaksanakan pada hari Jumat, 29 Nopember 2019
pukul 08.00- 10.30. Dilaksanakan di Teaching Farm, Lingsar, Lombok Barat,
dan Pekebunan warga, Selagalas, NTB.

3.2 Materi Praktikum

3.2.1 Alat-alat praktikum

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain :

1. Alat tulis
2. Kamera

3.2.2 Bahan-bahan praktikum

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah


buku dan 10 tanaman pakan ternak diantaranya :

1. Rumput Odot ( Pennisetum Purpureum cv.Mott)


2. Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum)
3. Chloris ( Chloris gayana )
4. Rumput Bintang (Cynodon plectostachyus)
5. Rumput Mulato ( Rachiaria Hybrid)
6. Turi (Sesbania Grandiflora)
7. Lamtoro ( Leucaena Leucocephala )
8. Kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedali)
9. Kacang Komak ( Lablab purpureus)
10. Stylo (Stylosanthes guianensis)

3.3. Metode Praktikum


Adapun cara kerjanya sebagai berikut:
1. Mengamati krakteristik setiap tanaman
2. Mengamati sifat tumbuh dari tanaman tersebut

9
3. Mengamati daun:
 Warna daun.
 Bentuk daun.
 Tekstur daun.
 Panjang daun.
 Tulang daun.
 Susunan daun
4. Mengamati cara tumbuh tanaman yang diamati.
5. Megamati bentuk batang dari hijauan pakan ternak.

10
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Berdasarkan pengamatan yang dilkukan diperoleh tabel berikut :

a. Rumput – rumputan (Gramineae)


No. Nama Gambar Ciri – Ciri

1 Rumput Odot - Termasuk rumput


( Pennisetum jenis potongan
Purpureum cv.Mo - Memiliki panjang
tt) daun ± 53cm
- Memiliki lebar
daun ± 3cm
- Daun panjang dan
meruncing
- Bersifat tumbuh
tegak merumpun
- Memiliki
pertulangan daun
yang jelas pada
bagian bawah
- Bertekstur daun
kasar
- Berbulu pada
bagian pangkal
daun
- Pertumbuhan daun
selang seling
- Warna daun hijau
muda
- Berbatang silinder

11
- Berakar serabut

2 Rumput Gajah - Termasuk rumput


(Pennisetum jenis potogan
Purpureum) - Memiliki panjang
daun ± 113
- Memiliki lebar
daun ± 4
- Daun panjang dan
meruncing
- Permukaan daun
berbulu
- Bertekstur daun
kasar pada bagian
bawah
- Pertumbuhan daun
selang – seling
- Bertulang daun
sejajar dan terlihat
jelas
- Bersifat tumbuh
tegak merumpun
- Berbatang silinder
- Berakar serabut

3 Chloris ( Chloris - Merupakan rumput


gayana ) jenis gembalaan
- Panjag daun ±16
cm
- Lebar daunnya ±2
cm
- Akar serabut
- Tumbuh tegak

12
berbaring dan
pendek
- pertumbuhan daun
selang – seling
- pada daun bagian
atas terdapat bulu
halus,
- Tulang daun
sejajar dan terlihat
jelas
- Daun pendek dan
meruncing dengan
daun berbulu halus
- Jumlah daun ganjil
4 Rumput Bintang - Termasuk rumput
(Cynodon jenis gembalaan
plectostachyus) - Memiiki panjang
daun ± 20 cm
- Memiliki lebar
daun ± 0,5 cm
- Berwarna hijau
kusam
- Tidak berbulu
- Pertumbuhan daun
selang seling
- Bertulng daun
sejajar dan
majemuk
- Batang silinder
panjang
- Tumbuh tegak dan
stolon

13
- Berakar serabut

5 Rumput Mulato - Termasuk rumput


( Rachiaria jenis gembalaan
Hybrid) - Memiliki panjang
daun ± 29 cm
- Meiliki lebar daun
± 2 cm
- Daun dan batang
penuh di dengan
bulu
- Pertulangan daun
jelas pada bagian
bawah
- Pertumbuhan daun
selang – seling
- Bersifat tumbuh
merumpun
- Bebatang silinder
- Berakar serabut

Tabel 1: Ciri – Ciri Rumput (Gramineae)

b. Polong – polongan ( Leguminoseae)

No. Nama tanaman Gambar Ciri – ciri

1 Turi (Sesbania - Termasuk tanaman


Grandiflora) legum jenis pohon
- Memiliki daun
majemuk dan
tersebar
- Akarnya berbintil-

14
bintil yang
gunanya untuk
menyuburkan
tanah
- Anak daun
berbentuk jorong
memanjang, rata
dan genap
- Tangkainya
pendek, dan setiap
tangkai berisi 20-
40 pasang anak
daun
- Rantingnya mengg
antung
- Kulit luar
berwarna kelabu
hingga kecoklatan.
Kulit luarnya ini
tidak rata dengan
alur membujur dan
melintang tidak
beraturan dengan
lapisan gabus yang
mudah terkelupas.
- Bunganya besar
dan keluar dari
ketiak
daun. Bunganya be
sar dan apabila
mekar, berbentuk
seperti kupu-kupu

15
- Warna bunganya
ada yang merah
dan ada juga yang
putih
- Letak bunganya
menggantung
dengan 2-4 bunga
yang bertangkai,
dan kuncupnya
berbentuk sabit
- Buahnya
berbentuk polong,
meggantung,
bersekat, sewaktu
muda berwarna
hijau, dan sudah
tua berwarna
kuning keputih-
putihan.
- Bijinya berbentuk
bulat panjang, dan
berwarna coklat
muda.

2 Lamtoro - Termasuk legum


( Leucaena jenis pohon
Leucocephala ) - Batang tumbuh
tegak berkayu
dengan kulit
berwarna cokelat
bercorak bintil

16
putih
- Berdaun majemuk
dan berbentuk
menyirip rangkap
dengan siripnya
yang berjumlah 3 -
10 pasang
- Anak daun setiap
siripnya berjumlah
5 – 10 pasang
- Tumbuh anak
daunnya sejajar
- Permukaan daun
halus dan tepinya
berjumbai
- Bunganya
majemuk dan
bongkol berangkai
panjang dengan
jumlah 2-6
bongkol.
- Bunganya
berukuran kecil
dan berkelipatan 5
- Buahnya
berbentuk seperti
pita lurus, pipih
dan tipis
- Bijinya mirip petai
namu berukuran
lebih kecil.

17
3 Kacang panjang - Merupakan legum
(Vigna jenis merambat
unguiculata - Batangnya
sesquipedali) berbentuk
menjalar dan
bercabang
- Daunya berbentuk
menyirip dan
runcing pada
bagian ujung.
- Berbunga
sempurna dengan
warna putih kebiru
– biruan
- Berbuah panjang
dan menggantung
- Bijinya berwarna
hijau dan merah
kecoklatan

4 Kacang Komak ( - Merupakan legum


Lablab jenis merambat
purpureus) - Bercabang banyak
dan melilit
- Akar tunjang dan
akar lateral yang
berkembang
dengan baik.
- Pertumbuhan
daunnya selang-
seling
- Bentuk daunnya

18
membulat telur
melebar dengan
ujung menajam
sampai meruncing
pendek
- Permukaan agak
berambut pendek.
- Perbungaan malai
pada ketiak daun,
tegakcm
- Bunganya
mengelompok 2-5
pada tiap buku
- Tangkai bunga
pendek
- Bunganyaberwarn
aputih atau jingga
- Buahnya polong
bervarasi dalam
bentuk dan warna
pipih atau
menggelembung

5 Stylo - Merupakan legum


(Stylosanthes jenis semak.
guianensis) - bersifat perennial
kadang-kadang
semitegak.
- Batang sedikit
berbulu.
- Daun berwarna
hijau berbentuk

19
elip atau pedang
yang ujungnya
meruncing
- Kelopak tangkai
daun berbentuk
dua gigi.
- Bunganya kecil
berwarna kuning
bertulang belakang
dengan semacam
daun-daun
penyangga.
- Bunga standar
agak bulat
- Polong tidak
berbulu dan
memiliki satu biji.
- Warna biji kuning
kecoklat –
coklatan .

Tabel 2: Ciri – Ciri Polong – Polongan (Leguminoseae)

4.2 Pembahasan
Pada praktikum ini membahas tentang hijaun pakan ternak, dimana hijaun
pakan ternak merupakan salah satu bahan makanan ternak yang sangat
diperlukan dan besar manfaatnya baik kehidupan dan keberlangsungan
populasi ternak. Sehingga hijaun pakan tersebut dijadikan sebagai salah satu
bahan makanan dasar dan utamauntuk mendukung peternakan ruminansia.
Kebutuhan hijauan akan semakin banyak sesuai dengan bertambahnya jumlah
populasi ternak yang dimiliki.pakn hijaun ternak merupakam semua makanan
yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun – daunan.

20
Ada beberapa kelompok tanaman hijaun pakan ternak yaitu berupa rumput
– rumputan (Gramineae) dan polong – polongan ( Leguminoseae). Pada
praktikum ini diamati berbagai jenis rumput yang terbagi menjadi rumput
potongan dan rumut gembalaan. Sementara itu, pada legum diamati legum
jenis pohon, merambat dan semak.
4.2.1 Rumput – rumputan ( Gramineae )
1) Rumput Odot ( Pennisetum Purpureum cv.Mott)
Nama Indonesia : Rumput odot
Nama binomial : Pennisetum Purpureum cv.Mott
Klasifikasi
Famili : poaceae
Genus : Pennisetum
Spesies : P. purpureum cv. Mott Culvipar
Rumput Odot ( Pennisetum Purpureum cv.Mott) merupakan
salah satu jenis rumput – rumputan yang dimanfaatkan sebagai rumput
potongan.
Rumput odot memiliki sifat tumbuh yang tegak merumpun
dengan batang berebentuk silinder. Rumput ini memiliki panjang daun
± 53 cm dengan lebar daun ± 3 cm. Model daunnya panjang dan
meruncing pada bagian ujung dan tumbuh selang – seling. Memiliki
pertulangan daun yang jelas pada bagian bawah dan bertekstur daun
yang kasar.
Rumput ini memiliki bulu – bulu halus yang tumbuh pada
bagian pangkal daun sampe kebatang.
Hal tersebut di atas sesuai dengan pernyataan Anonim (2019),
Rumput ini pada dasarnya merupakan kelompok dari rumput gajah
namun memiliki ciri-ciri yang berbeda dari jenis rumput gajah pada
umumnya. Tinggi dari rumput ini dapat berkisar 1 sampai 2
meter.Daunnya lemas namum tumbuh rimbun, bertunas dan
berumpun. Batangnya lunak dan berbulu.
Dari pernyataan tersebut depat perbedaan saat pada ukuran atau
tinggi tanaman, dikarenakan pada saat melakukan pengukuran, rumput

21
odot belum tumbuh maksimal dan praktikan tidak melakukan
pengukuran secara meluruh.
2) Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum)
Nama Indonesia : Rumput Gajah
Nama binomial : Pennisetum Purpureum
Klasifikasi ilmiah :
Family : Poaceae
Genus : Pennisetum
Spesies : Pennisetum purpureum
Rumput Gajah (Pennisetum Purpureum) merupakan jenis rumput
yang biasa dimanfaatkan sebagai rumput potongan. Rumput ini
digunakan sebagai rumput potongan karena sifat tumbuhnya yang
parennial dan tegak merumpun dengan batanag yang berbentuk
silinder.
Rumput ini merupakan salah satu jenis rumput yang berukuran
besar dengan panjang daun ± 113 cm dan lebar daun ± 4 cm. Daunnya
panjang dan meruncing pada bagian ujung. Permukaan daun berbulu
dan bertekstur daun kasar pada bagian bawah. Pertumbuhan daun
selang – seling dan bertulang daun sejajar dengan pertulangan daum
yang terlihat jelas.

Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Anonim (2015), bahwa


rumput gajah tumbuh dengan cara berumpun dengan perakaran
serabut, tinggi batang 3-4,5 meter tebal dan keras, daun berbulu
pendek dan berujung runcing, panjang daun 16-90 dan lebar 8-35 cm,
berbunga seperti es lilin. Namun adanya perbedaan pada tinggi dan
lebar tanaman. Hal ini terjadi karena praktikan tidak melakukan
pengukuran pada tinggi batang dan hanya melakukan pengukuran pada
panjang dan lebar daun saja.

3) Chloris (Chloris gayana)


Nama Indonesia : Rumput rhodes/ chloris
Nama binomial : Chloris gayana

22
Klasifiaksi ilmiah:
Ordo : Poales
Famili : Poaceae
Subfamili : Chloridoideae
Genus : Chloris
Spesies : C. Gayana
Subspesies : 1. C. gayana cv. Pioneer.
2. C. gayana cv Samford,
3. C. gayana cv katambora,

Chloris (Chloris gayana) merupakan rumput yang dimanfaatkan


sebagai rumput gembalaan. Rumput ini di gunakan sebagai rumput
gembalaan karena sifatnya yang tumbuhnya yang cepat, dan memiliki
sifat yang tahan terhadap panas.
Chloris memiliki sifat tumbuh yang tegak berbaring karena rumput
ini merupakan salah satu rumput yang sifat tumbuhnya stolon. Choris
juga di tunjang dengan akar serabut dan daun yang panjang daun 16
cm, lebar daun 2 cm, pertumbuhan daun selang – seling, pada daun
bagian atas terdapat bulu halus.
4) Rumput Bintang (Cynodon plectostachyus)
Nama Indonesia : Rumpu bintang
Nama binomial : Cynodon plectostachymus
Klasifikasi tanaman :
Family : Poaceae
Genus : Cynodon Rich
Spesies : Cynodon plectostachyus

Rumput bintang (Cynodon plectostachyus) merupakan salah satu


rumput yang di sebagai rumput gembalaan.
Rumput bintang memiiki panjang daun ± 20 cm lebar daun ± 0,5
cm dengan warna hijau kusam dan tidak bebulu.

23
Rumput ini memiliki sifat tumbuh tegak dan stolon dengan batang
silinder panjang dan pertumbuhan daun selang seling yang sejajar dan
majemuk.
5) Rumput Mulato ( Brachiaria hybrid)
Nama Indonesia : Mulato
Nama binomial : Brachiaria hybrid
Klasifikasi ilmiah:
Family : Graminae
Genus : Brachiaria
Spesies : Brachiaria hybrid

Rumput Mulato ( Rachiaria hybrid) merupakan rumput yang


dimanfaatkan sebagai rumpt gembalaan, yang memiliki panjang
daun ± 29 cm, lebar daun ± 2 cm.
Rumput ini memiliki ciri – ciri yang lebih spesifik yaitu, daun
dan batang yang penuh ditutupi bulu – bulu halus.
Adapun ciri - ciri umumnya yaitu pertulangan daun jelas pada
bagian bawah, pertumbuhan daun selang – seling sifat tumbuh
merumpun, berbatang silinder dan berakar serabut.

4.2.2 Polong – Polongan (Leguminoseae)


1) Turi (Sesbania Grandiflora)
Nama Indonesia : Turi
Nama binomial : Sesbania grandiflora
Klasifikasi ilmiah :
Famili : Fabaceae
Subfamili : Faboideae
Bangsa : Robinieae
Genus : Sesbania
Spesies : S. Grandiflora

Pada umumnya turi merupakan tanaman dikotil dimana tanamn


dikotil pada umumnya memilki ciri – ciri bijinya berkeing dua,

24
berakar tunggang, batang dan akar memiliki kambium, batang
bercabang, memiliki susunan bungan yang sempurna.

Turi (Sesbania Grandiflora) merupakan tanaman legum jenis


pohon dengan ciri – ciri akarnya berbintil-bintil yang gunanya untuk
menyuburkan tanah, kulit luar berwarna kelabu hingga kecoklatan.
Kulit luarnya ini tidak rata dengan alur membujur dan melintang tidak
beraturan dengan lapisan gabus yang mudah terkelupas.
Ciri – ciri daun dan bunganya antara lain; memiliki daun
majemuk dan tersebar, anak daun berbentuk jorong memanjang, rata
dan genap, tangkainya pendek, dan setiap tangkai berisi 20-40 pasang
anak daun, rantingnya menggantung. Bunganya besar dan keluar dari
ketiak daun. Bunganya besar dan apabila mekar, berbentuk
seperti kupu-kupu, warna bunganya ada yang merah dan ada juga
yang putih, letak bunganya menggantung dengan 2-4 bunga yang
bertangkai, dan kuncupnya berbentuk sabit
Sementara itu bagian buahnya berbentuk polong, meggantung,
bersekat, sewaktu muda berwarna hijau, dan sudah tua berwarna
kuning keputih-putihan dan bijinya berbentuk bulat panjang, dan
berwarna coklat muda.
2) Lamtoro ( Leucaena Leucocephala )
Nama Indonesia : Lamtoro
Nama binomial : Leucaena Leucocephala
Klasifikasi ilmiah:
Ordo : Fabales ·
Familia : Fabaceae ·
Upafamilia : Mimosoideae ·
Tribus : Mimoseae ·
Genus : Leucaena ·
Spesies : Leucaena leucocephala

Sama halnya dengan turi, lamtoro (Leucaena leucocephal)


juga termasuk tumbuhan dikotil jenis legum.

25
Lamtoro (Leucaena leucocephal) merupakan tanaman
legum yang termasuk legum jenis pohon dengan ciri – ciri antara
lai; batang tumbuh tegak berkayu dengan kulit berwarna cokelat
bercorak bintil putih,berdaun majemuk dan berbentuk menyirip
rangkap dengan siripnya yang berjumlah 3 - 10 pasang.
Daun lamtoro (Leucaena leucocephal) tersusum dari anak
daun yang setiap siripnya berjumlah 5 – 10 pasang dengan sifat
tumbuh anak daun yang sejajar dengan permukaan daun halus dan
tepinya berjumbai.
Bunga lamtoro (Leucaena leucocephal) termasuk gologan
bunga majemuk dan bongkol berangkai panjang dengan jumlah 2-6
bongkol yang berukuran kecil dan berkelipatan 5. Sementara itu,
buahnya berbentuk seperti pita lurus, pipih dan tipis dan bijinya
mirip petai namun berukuran lebih kecil.
3) Kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedali)
Nama Indonesia: Kacang panjang
Naman binomial: Vigna unguiculata sesquipedali
Klasifikasi ilmiah:
Famili : Fabaceae
Subfamili : Faboideae
Genus : Vigna
Spesies : V. unguiculata
Subspesies : V. u. sesquipedalis

Kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedali) kacang


panjang yang merupakan legum jenis merambat dengan batangnya
yang menjalar dan bercabang.
Ciri – ciri kacang panjang lainnya adalah memiliki daun berbentuk
menyirip dan runcing pada bagian ujung, berbunga sempurna dengan
warna putih kebiru – biruan, berbuah panjang dan menggantung dan
bijinya berwarna hijau dan merah kecoklatan
4) Kacang Komak ( Lablab purpureus)

26
Nama Indonesia : Kacang komak
Nama binomial : Lablab purpureus
Klasifikasi ilmiah:
Ordo : Fabales ·
Familia : Fabaceae ·
Upafamilia : Faboideae ·
Tribus : Phaseoleae ·
Upatribus : Phaseolinae ·
Genus : Lablab ·
Spesies : Lablab purpureus

Kacang Komak ( Lablab purpureus) merupakan legum jenis


merambat dengan ciri – ciri sifat tumbuh bercabang banyak dan
melilit yang berakar tunjang dan akar lateral yang berkembang
dengan baik.
Kacang Komak ( Lablab purpureus) memiliki pertumbuhan
daunnya selang-seling dengan bentuk daun yang membulat telur
melebar dengan ujung menajam sampai meruncing pendek, permukaan
agak berambut pendek.
Perbungaan pada Kacang Komak ( Lablab purpureus) ini bersifat
tumbuh malai pada ketiak daun, dengan kelompok 2-5 pada tiap buku
bunga dan memiliki tangkai bunga pendek. Tanaman ini memiliki
bunga berwarna jingga dan buahnya polong bervarasi dalam bentuk
dan warna pipih atau menggelembung
5) Stylo (Stylosanthes guianensis)
Nama Indonesia: Stylo
Nama binomial: Stylosanthes guianensis
Klasifikasi ilmiah:
Ordo : Rosales
Sub Ordo : Rosinae
Famili : Leguminoseae
Sub Famili : Papilionaceae

27
Genus : Stylosanthes
Species : Stylosanthes guianensis

Stylo (Stylosanthes guianensis) merupakan legum jenis semak


yang bersifat perennial kadang-kadang semi tegak. Dengan ciri –
ciri batang sedikit berbulu,daun berwarna hijau berbentuk elip atau
pedang yang ujungnya meruncing, kelopak tangkai daun berbentuk
dua gigi. bunganya kecil berwarna kuning bertulang belakang
dengan semacam daun-daun penyangga, bunga standar agak bulat,
polong tidak berbulu dan memiliki satu biji dan bijinya berwarna
kuning kecoklat – coklatan .

28
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa :
Hijauan pakan ternak merupakan salah satu bahan makanan ternak yang
sangat diperlukan dan besar manfaatnya bagi kehidupan dan kelangsungan
populasi ternak. Hijauan pakan ternak di bagi menjadi dua jenis yaitu rumput
– rumputan (Gramineae) dan polong – polongan (Leguminoseae).

Rumput – rumputan ( Graminea) di bagi menjadi 2 jenis yaitu rumput


potongan dan rumput gembalaan. Yang termasuk rumput potongan adalah
rumput odot ( Pennisetum Purpureum cv.Mott) dan rumput Gajah
(Pennisetum Purpureum) sedangkan yang termasuk rumput gembalaan
adalah chloris ( Chloris gayana ), rumput bintang (Cynodon plectostachyus),
dan rumput mulato ( Rachiaria Hybrid)
Sementara itu , tanaman polong – polongan dibagi menjadi jenis
pohon,merambat dan semak. Yang termasuk legum pohon adalah turi
(Sesbania Grandiflora) dan lamtoro ( Leucaena Leucocephala ). Legum
semak terdiri dari kacang panjang (Vigna unguiculata sesquipedali) dan
kacang komak ( Lablab purpureus). Sementara itu, stylo (Stylosanthes
guianensis) merupakan salah satu contoh legum semak.

5.2.Saran
Adapun saran pada praktek lapangan ini adalah sebaiknya praktikan
diajarkan dahulu bagaimana cara mengukur tanaman – tanman tersebut dengan
benar.

29
DAFTAR PUSTAKA

AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Yayasan
Kanisius: Yogyakarta.

Anonim. 2015. Hijauan Pakan Ternak Unggul: Perbedaan Rumput Odot,


Gajah dan Rumput Raja, Jenis Apa Yang Lebih Unggul?.
https://ternakdanburung.blogspot.com/2018/07/perbedaan-rumput-
odot-gajah-dan-rumput.html. 15 Desember 2019.

Anonim. 2019. Rumput Gajah Odot sebagai Pakan Ternak.


https://bibitbunga.com/rumput-gajah-odot-sebagai-pakan-ternak/. 15
Desember 2019.
Frans,Richo. Legum dan Jenis- Jenisnya.
https://richofrans.blogspot.com/2017/05/legum-dan-jenis-
jenisnya.html.8 Desember 2019.
Siregar, S.B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. PT. Penebar Swadaya:
Jakarta.
Soetrisno, Djoko., Bambang Suhartanto, Nafiatul Umami. Nilo Suseno. 2008.
Ilmu Hijauan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas
Gadjah Mada: Yogyakarta.

Taiz L. and E. Zieger. 1998. Plant Physiology. Sinauer Associates Inc.,


Publisher. Sunderland. Massachuse.

Tillman, A.D., Hartadi, H. Reksohadiprojo, S., Prawirokusumo, S.,


Lebdosoekojo, S. 1994. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gajah Mada
University Press: Yogyakarta.

30