Anda di halaman 1dari 12

1

Kolesistitis akut
Yahya Iryianto Butarbutar
102012270
A9
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta 11510
Email : yahyaseinz@gmail.com

Pendahuluan
Penyakit batu empedu sudah merupakan masalah kesehatan yang penting di negara
Barat sedangkan di Indonesia baru mendapatkan perhatian di klinis, sementara publikasi
penelitian batu empedu masih terbatas.
1
Sebagian besar pasien dengan batu empedu tidak mempunyai keluhan. Risiko
penyandang batu empedu untuk mengalami gejala dan komplikasi relatif kecil. Walaupun
demikian, sekali batu empedu mulai menimbulkan serangan nyeri kolik yang spesifik maka
risiko untuk mengalami masalah dan penyulit akan terus meningkat.
1
Batu empedu umumnya ditemukan di dalam kandung empedu, tetapi batu tersebut
dapat bermigrasi melalui duktus sistikus ke dalam saluran empedu menjadi batu saluran
empedu dan disebut sebagai batu saluran empedu sekunder. Perjalanan batu saluran empedu
sekunder belum jelas benar, tetapi komplikasi akan lebih sering dan berat dibandingkan batu
empedu asimtomatik. Komplikasi yang terjadi diantaranya dapat mempengaruhi organ di
sekitar empedu.
Isi
Anamnesis
Didalam ilmu kedokteran anamnesis merupakan wawancara terhadap pasien atas
keluhan yang dialaminya. Anamnesis yang baik disertai dengan empati dari dokter terhadap
pasien. Perpaduan keahlian mewawancarai dan pengetahuan yang mendalam tentang gejala
(sintom) dan tanda (sign) dari suatu penyakit akan memberikan hasil yang memuaskan dalam
menentukan diagnosis kemungkinan sehingga dapat membantu menentukan langkah
pemeriksaan selanjutnya, termasuk pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis dapat dilakukan langsung terhadap pasien (auto-anamnesis) maupun terhadap
keluarganya atau walinya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk
dilakukan wawancara, misalnya dalam keadaan gawat-darurat.
2

2

Dalam melakukan anamnesis perlu pertanyaan rutin yang harus diajukan kepada
semua pasien, misalnya pertanyaan tentang identitas, keluhan utama, keluhan penyerta,
riwayat penyakit terdahulu, riwayat penyakit menahun, dan riwayat penyakit sekarang yang
spesifik terhadap diagnosa sementara.
Pemeriksaan Fisik
Pada pasien penderita kolesistis akut pada pemeriksan fisik akan ditemukan demam
ringan yang lama-kelamaan meninggi, ikterus ringan, teraba masa kandung empedu, dan juga
nyeri tekan di daerah letak anatomis kandung empedu. Tanda Murphy positif apabila nyeri
tekan bertambah sewaktu penderita menarik napas panjang karena kandung empedu yang
meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas.
3
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran kolesistitis akut. Hanya
pada 15% pasien kemungkinan dapat terlihat batu tidak tembus pandang (radiopak) oleh
karena mengandung kalsium yang cukup banyak.
2,3
Kolesistografi oral tidak dapat memperlihatkan gambaran kandung empedu bila ada
obstruksi sehingga pemeriksaan ini tidak bermanfaat untuk kolesistitis akut.

Kolesistografi
oral merupakan pemeriksaan radiologi kandung empedu setelah pemberian medium kontras.
Pemeriksaan ini sekarang sering digantikan oleh scan kedokteran nuklir berlabel 99
tekhnetium, ultrasonografi, dan CT scan. Kolesistografi oral merupakan indikasi pada pasien
dengan gejala penyakit saluran empedu, seperti nyeri epigastrium kuadran kanan atas,
intoleransi lemak, dan ikterus, serta paling sering dilakukan untuk memastikan penyakit
kandung empedu.
2
Temuan abnormal yang dapat ditemukan adalah saat kandung empedu mengalami
opasifikasi, defek pengisian menunjukkan adanya batu empedu. Defek yang terfiksasi,
sebaliknya, dapat menunjukkan adanya polip kolesterol atau tumor jinak seperti adenomioma.

Bila kandung empedu tidak mengalami opasifikasi atau bila hanya terjadi opasifikasi samar,
mungkin terdapat penyakit peradangan seperti kolesistitis, dengan atau tanpa pembentukan
batu empedu. Batu empedu dapat menyumbat duktus sistikus dan mencegah medium kontras
memasuki kandung empedu; peradangan dapat mengganggu kemampuan pemekatan mukosa
kandung empedu dan mencegah atau menghilangkan opasifikasi.

Bila kandung empedu tidak
3

dapat berkontraksi setelah perangsangan oleh makanan berlemak, kemungkinan terdapat
kolesistitis atau obstruksi duktus koledokus.
2

Pemeriksaan ultrasonografi (USG) abdomen sebaiknya dikerjakan secara rutin dan
sangat bermanfaat untuk memperlihatkan besar, bentuk, penebalan dinding kandung empedu,
batu dan saluran empedu ekstra hepatik. Nilai kepekaan dan ketepatan USG mencapai 90-
95%.

Ultrasonografi (USG) mempunyai derajat spesifitas dan sensitifitas yang tinggi untuk
mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intra hepatik maupun ekstra
hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena
fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Batu duktus dital
kadang sulit dideteksi karena terhalang udar di dalam usus.


Skintigrafi saluran empedu mempergunakan zat radioaktif HIDA atau 99n Tc6
Iminodiacetic acid mempunyai nilai lebih sedikit rendah dari USG tapi teknik ini tidak
mudah dilakukan. Terlihatnya gambaran duktus koledokus tanpa adanya gambaran kandung
empedu pada pemeriksaan kolesistografi oral atau skintigrafi sangat menyokong kolesistitis
akut.
2,3
Pemeriksaan CT Scan abdomen kurang sensitif dan mahal tapi mampu
memperlihatkan adanya batu empedu, penebalan dinding kandung empedu dan juga abses
perikolesistik yang masih kecil yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG.
2.3
Diagnosis Kerja
Kolesistitis
Kolesistitis merupakan peradangan yang terjadi pada kandung empedu. Kolesistitis
terbagi menjadi dua yaitu kolesistitis akut dan kronik.

Gambar 1.
Hasil USG pada pasien
4

Kolesistitis Akut
Definisi
Kolesistitis akut (radang kandung empedu) adalah suatu reaksi inflamasi akut dinding
kantung empedu yang disertai keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan, dan demam.

Kolesistitis akut adalah inflamasi akut dari kandung empedu yang dicetuskan oleh obstruksi
dari duktus sistikus. Penyebab tersering dari kolesistitis akut adalah obstruksi terus menerus
dari duktus sistikus oleh batu empedu yang mengakibatkan peradangan akut dari kandung
empedu. Pada hampir 90% kasus disertai dengan kolelitiasis. Respons inflamasi ditimbulkan
oleh tiga faktor yakni mekanik, kimiawi, dan bakterial.
2-4

Inflamasi mekanik karena meningkatnya tekanan intra luminal dan peregangan yang
mengakibatkan tertekannya pembuluh darah dan iskemia dari mukosa dinding, dapat terjadi
infark dan gangren. Inflamasi kimiawi yang disebabkan oleh terlepasnya lisolesitin (karena
aksi dari fosfolipase pada lesitin dalam cairan empedu), reabsorbsi dari garam empedu,
prostaglandin dan mediator inflamasi yang lain juga terlibat. Lisolesitin bersifat toksis pada
mukosa kandung empedu. Inflamasi bakterial yang berperan pada 50 85% kasus kolangitis
akut. Kuman yang seringkali diisolasi dari kultur cairan kandung empedu antara lain E.coli,
Klebsiella spp, Streptococcus spp, dan Clostridium spp.
4

Kolesistitis seringkali dimulai sebagai serangan nyeri bilier yang secara progresif
memberat. Hampir 60 70% dari pasien melaporkan pernah mendapat serangan nyeri bilier
sebelumnya yang sembuh spontan. Nyeri seringkali timbul larut malam atau dini hari,
biasanya di kuadran kanan atas abdomen atau epigastrium dan menjalar ke bawah sudut
skapula kanan, bahu kanan.
3,4
Diagnosis Banding
1. Kolesistitis kronik
Kolesistitis kronik lebih sering dijumpai di klinis. Penyebab terseringnya adalah
karena adanya batu dan biasanya disebabkan oleh kolesistitis akut yang berulang yang
menyebabkan penebalan dinding kandung empedu dan lama-kelamaan efisiensinya
berkurang.

Penyebab kolesistitis kronik mirip seperti kolesistitis akut tetapi timbulnya lebih
perlahan-lahan.
2,3


5

Gejala Klinis
Diagnosis kolesistitis kronik sering sulit ditegakkan oleh karena gejalanya sangat
minimal dan tidak menonjol seperti dispepsia, rasa penuh di epigastrium dan mual khususnya
setelah makan makanan tinggi lemak yang kadang-kadang hilang selepas sendawa. Riwayat
penyakit batu empedu di keluarga, ikterus dan kolik berulang, nyeri lokal di daerah kandung
empedu disertai tanda Murphy positif, dapat menyokong menegakkan diagnosis.
2,3

2. Kolelitiasis
Kolelitiasis adalah keadaan dimana terdapat batu empedu di dalam kandung empedu
yang memiliki ukuran, bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering
dijumpai pada 4F yaitu wanita (female), usia diatas 40 tahun (forty), kegemukan (fat) dan
fertile.
5

Batu empedu merupakan endapan satu atau lebih komponen empedu, yang terdiri dari
kolesterol, bilirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak, fosfolipid (lesitin) dan
elektrolit. Menurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu
digolongkan menjadi 3 golongan, yaitu batu kolesterol yang berbentuk oval, multifokal atau
mulberry form dan mengandung lebih dari 70% kolesterol; batu kalsium bilirubinat (pigmen
cokelat) yang berwarna cokelat atau cokelat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung
kalsium bilirubinat sebagai komponen utama; dan batu pigmen hitam yang berwarna hitam
atau hitam kecokelatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang
tidak terekstraksi. Di negara barat, 80% terdiri dari batu kolesterol, sedangkan di Asia lebih
banyak jenis batu pigmen.
5
Di Amerika Serikat, insidens kasus batu empedu pada wanita lebih tinggi
dibandingkan pada pria (2,5:1) dan terjadi peningkatan seiring bertambahnya umur. Di
masyarakat Barat, komposisi utama batu empedu adalah kolesterol, sedangkan penilitian di
Jakarta didapatkan 73% batu pigmen dan 27% batu kolesterol.
5


Faktor predisposisi terjadinya batu empedu antara lain perubahan komposisi empedu
(sangat jenuh dengan kolesterol), statis empedu (akibat gangguan kontraksi kandung empedu
atau sspasme sfingter oddi) dan infeksi (bakteri dapat berperan sebagai pusat
presipitasi/pengendapan) kandung empedu.
3

Batu pigmen yang terdiri dari garam kalsium dan salah satu dari keempat anion
seperti bilirubinat, karbonat, fosfat dan asam lemak. Pigmen (bilirubin) pada kondisi normal
akan terkonjugasi dalam empedu, dengan bantuan enzim glukoronil transferase. Kekurangan
enzim ini akan mengakibatkan presipitasi/pengendapan dari bilirubin tersebut.
3,5

6

Batu kolesterol; kolesterol bersifat tidak larut dalam air, kelarutan kolesterol
tergantung dari asam empedu dan lesitin (fossfolipid). Proses pembentukan batu kolesterol
adalah terjadinya supersaturasi kolesterol kemudian mengalami nukleasi kolesterol dan
disfungsi kandung empedu.
3,5
Gejala Klinis
Keluhan timbul bila batu bermigrasi menyumbat duktus sistikus atau duktus
koledokus. Gejala klinis dapat berupa kolik bilier, mual, muntah. Kolik bilier merupakan
keluhan utama pada sebagian besar pasien. Nyeri viseral ini akibat obstruksi transien duktus
sistikus oleh batu, sehingga menyebabkan peningkatan intralumen dan distensi kandung
empedu. Kolik biasanya timbul malam hari atau dini hari. Nyeri meningkat tajam dalam 15
menit dan menetap selama 3-5 jam. Timbul di kuadran kanan atas atau epigastrium, dapat
menjalar ke punggung kanan atau bahu kanan. Kolik biasa disertai dengan mual dan muntah.
5

3. Kolangitis
Istilah kolangitis dipakai untuk infeksi bakteri pada cairan empedu di dalam saluran
empedu. Kolangitis disebabkan oleh adanya obstruksi dari aliran empedu seperti tumor,
striktur, stent, dan paling sering batu koledokus. Simptom umumnya berupa demam,
menggigil, nyeri perut, dan ikterus (trias dari Charcot).

Timbulnya kolangitis berasal dari
kombinasi adanya bakteri di cairan empedu ditambah dengan meningkatnya tekanan dalam
saluran empedu karena obstruksi. Pada beberapa keadaan jalur infeksi cukup jelas misalnya
timbulnya kolangitis setelah ERCP, pada anastomosis entero bilier, bakteri mencapai saluran
empedu secara retrograd, namun pada banyak keadaan, mekanisme yang tepat bagaimana
cairan empedu terinfeksi tidak begitu jelas.

Kemungkinan besar bakteri naik dari duodenum
yang dimungkinkan oleh adanya divertikel periampuler atau disfungsi motorik dari sfingter
Oddi. Bakteri bakteri yang terlibat adalah bakteri gram negatif aerob seperti E.coli,
Klebsiella, Proteus, Pseudomonas atau Enterobacter, bakteri anaerob ditemukan pada 10
20% kasus. Bila kolangitis tidak diobati dengan baik, dapat timbul bakteremia dan
selanjutnya abses hati tunggal atau multipel.
4

Gejala klinis
Manifestasi klinis yang paling sering adalah demam, menggigil, nyeri abdomen dan
ikterus (Trias Charcot). Rentang dan derajat beratnya simptom sangat lebar. Beberapa pasien
hanya menunjukkan demam, menggigil dan nyeri, pasien lain terutama pasien tua hanya nyeri
dan ikterus atau gejala yang minimal, sebagian kecil pasien lain dapat dengan renjatan sepsis.
Pada kolangitis yang khas adalah simptom intermiten yang menunjukkan obstruksi parsial
7

yang intermiten.

Nyeri abdomen khas seperti pada batu kandung empedu yakni di kuadran
kanan atas atau di epigastrium dan dapat menjalar ke punggung atau di bawah skapula kanan.
Bentuk kolangitis yang paling berat adalah kolangitis supuratif dengan adanya pus di saluran
empedu dengan gejala klinis yang berat. Pada pasien ini obstruksi biasanya hebat dan pus
mengisi saluran empedu.
4

Etiologi Kolesistitis
Penyebab utama kolesistitis akut adalah batu kandung empedu (90%) yang terletak di
duktus sistikus sehingga menyebabkan statis cairan empedu, sedangkan sebagian kecil kasus
timbul tanpa adanya batu empedu (kolesistitis akut akalkulus).
2,3
Patofisiologi Kolesistitis
Faktor yang mempengaruhi timbulnya serangan kolesistitis akut adalah stasis cairan
empedu, infeksi kuman, dan iskemia dinding kandung empedu. Batu empedu yang
mengobstruksi duktus sistikus menyebabkan cairan empedu menjadi stasis dan kental,
kolesterol dan lesitin menjadi pekat dan seterusnya akan merusak mukosa kandung empedu
diikuti reaksi inflamasi dan supurasi. Dinding kandung empedu akan meradang, kasus yang
lebih berat akan terjadi nekrosis dan ruptur. Kolesistitis akut akalkulus dapat timbul pada
pasien yang dirawat cukup lama yang mendapat nutrisi secara parenteral atau dapat juga
terjadi sumbatan karena keganasan kandung empedu.
2,3
Faktor risiko
Faktor risiko kolesistitis adalah faktor yang menyebabkan pembentukan batu empedu,
termasuk hiperlipidemia, diet tinggi karbohidrat, obesitas, diabetes melitus, hemoglobinopati,
nutrisi intravena jangka waktu lama, dismotilitas kandung empedu, mengkonsumsi alkohol
dalam jangka waktu yang panjang atau penyakit lain seperti diabetes melitus, siriis hati,
pankreatitis dan kanker kandung empedu. Faktor-faktor risiko ini meningkat dengan
bertambahnya usia seseorang. Jika dilihat dari sudut jenis kelamin, perempuan lebih berisiko
karena pengaruh hormon dan kelamin.
2
Gejala Klinis Kolesistitis
Keluhan khas adalah nyeri perut kanan atas, nyeri tekan dan kenaikan suhu tubuh
disertai menggigil. Rasa sakit menjalar ke pundak atau skapula kanan dan dapat berlangsung
sampai 60 menit tanpa reda. Berat ringannya keluhan bervariasi tergantung dari beratnya
8

inflamasi. Tanda radang peritoneum juga dapt ditemukan pada kolesistitis akut apabila
penderita merasa nyeri semakin bertambah pada saat menarik napas dalam. Selain itu,
terdapat juga anoreksia, mual dan muntah.
2,3

Pada pemeriksaan fisis teraba masa kandung empedu, nyeri tekan disertai tanda-tanda
peritonitis lokal (Murphy sign positif).

Ikterus dijumpai pada 20% kasus, umumnya derajat
ringan (bilirubin < 4,0 mg/dl). Apabila konsentrasi bilirubin tinggi, perlu dipikirkan adanya
batu di saluran empedu ekstra hepatik.
2
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya leukositosis serta kemungkinan
peninggian serum transaminase dan alkali fosfatase. Apabila keluhan nyeri bertambah hebat
disertai suhu tinggi dan menggigil serta leukositosis berat, kemungkinan terjadi empiema dan
peforasi kandung empedu perlu dipertimbangkan.
2
Penatalaksanaan
Tindakan umum yang dapat dilakukan pada pasien adalah tirah baring atau istirahat
total, pemberian nutrisi dan cairan parenteral, diet ringan tanpa lemak, obat penghilang rasa
nyeri seperti petidin. Pemberian antibiotik pada fase awal sangat penting untuk mencegah
komplikasi peritonitis, kolangitis dan septikemia. Umumnya bakteri penyebab infeksi adalah
Escherichia coli, Streptococcus faecalis dan Klebsiella sp. Dapat dipilih golongan
sefalosporin dan metronidazol atau golongan ureidopenisilin seperti pierasilin, atau ampisilin
sulbaktam, atau sefalosporin generasi ketiga.
2,3

Tindakan pembedahan yang dapat dilakukan adalah kolesistektomi namun masih
diperdebatkan, apakah sebaiknya dilakukan secepatnya (3 hari) atau ditunggu 6-8 minggu
setelah terapi konservatif dan keadaan umum pasien lebih baik. Sebanyak 50% kasus akan
membaik tanpa tindakan pembedahan. Sebagian ahli bedah yang mendukung tindakan
operasi dini menyatakan, dengan melakukan operasi dini dapat menghindarkan timbulnya
gangren dan komplikasi kegagalan dari terapi konservatif. Selain itu, lama perawatan di
rumah sakit menjadi lebih singkat dan biaya dapat ditekan. Sementara ahli bedah yang tidak
setuju menyatakan, operasi dini akan menyebabkan penyebaran infeksi ke rongga peritoneum
dan teknik operasi lebih sulit karena reaksi inflamasi akut di sekitar duktus akan
mengaburkan gambaran anatomi. Kolesistektomi terbagi menjadi dua yaitu secara terbuka
dan laparaskopik. Kolesistektomi terbuka merupakan operasi standar terbaik untuk
penanganan pasien dengan kolelitiasis simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang
9

dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas
yang dilaporkan dengan prosedur ini kurang dari 0,5%. Indikasi yang paling umum untuk
kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren diikuti oleh kolisistitis. Kolesistektomi
laparaskopik indikasi awalnya hanya pada pasien sitematik tanpa adanya kolesistitis akut.
Namun dengan bertambahnya pengalaman prosedur ini dilakukan pada pasien dengan
kolesistitis akut dan koledokoliatiasis.

Tindakan bedah yang saat ini sering dilakukan adalah
kolesitektomi laparaskopi karena mempunyai kelebihan seperti mengurangi rasa nyeri pasca
operasi, menurunkan angka kematian, secara kosmetik lebih baik, memperpendek lama
perawatan di rumah sakit dan mempercepat aktivitas pasien. Konversi ke kolesistektomi
konvensional sebanyak 1,9% dilakukan oleh karena sukar dalam mengenali duktus sitikus
oleh karena perlengketan luas (27%), perdarahan dan keganasan kandung empedu.
Komplikasi yang sering dijumpai pada tindakan ini yaitu trauma saluran empedu, perdarahan
dan kebocoran empedu.
2,3,6

Bila pembedahan tidak dilakukan dapat dilakukan terapi medikamentosa atau
menggunakan metode ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithotripsy).
Terapi medikamentosa diberikan pada pasien yang menolak operasi atau pasien risiko
tinggi untuk kolesistektomi. Zat pelarut batu empedu yang digunakan adalah asam
kenodioksikolat (CDCA) dan ursodioksikolat (UDCA). Keduanya hanya efektif untuk batu
kolesterol yang kecil (<10mm) dan tidak melarutkan batu pigmen. Mekanisme kerjanya
berdasarkan penghambatan sekresi kolesterol, sehingga kejenuhannya dalam empedu
bekurang dan batu dapat melarut lagi. UDCA dengan dosis 8-10 mg/kgBB/hari atau 8-12
mg/kgBB/hari merupakan pilihan karena efek samping diare dan rambut rontok lebih kecil.
UDCA diberikan selama 6-12 bulan. Bisa juga kombinasi UDCA dan CDCA dengan dosis
masing-masing 7,5 mg/kgBB/hari. Terapi dengan zat larut ini harus diberikan lama yaitu
antara 3 bulan sampai 2 tahun dan baru dihentikan minimal 3 bulan setelah batu-batu tersebut
larut.
5
ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithotripsy) merupakan prosedur noninvasif
yang menggunakan gelombang kejut berulang (Repeated Shock Wave) yang diarahkan pada
batu empedu di dalam kandung empedu atau duktus koledokus dengan maksud memecah
batu tersebut menjadi beberapa sejumah fragmen. Pecahan batu tersebut akan keluar melalui
saluran pencernaan. Namun beberapa komplikasi dapat timbul apabila pecahan batu tersebut
menyumbat saluran pankreas sehingga menyebabkan pankreatitis. Selain itu juga dapat
10

menyumbat saluran cerna yng sempit seperti ileum terminale sehingga menimbulkan ileus
obstruktif.
5
Komplikasi
Kolesistitis akut tidak jarang menjadi kolesistitis rekuren, kadang dapat berkembang
dengan cepat menjadi gangren, empiema dan perforasi kandung empedu, fistel, abses hati dan
peritonitis. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian antibiotik yang adekuat pada awal
serangan.
2,4,5

Empiema dan Hidrops Kandung Empedu
Empiema kandung empedu biasanya terjadi sebagai akibat progresi dari kolesistitis
akut dengan obstruksi duktus sistikus persisten dan superinfeksi cairan empedu yang stagnan
dengan disertai pembentukan pus.

Gambaran klinis menyerupai kolangitis dengan demam
tinggi, nyeri hebat di kuadran kanan atas dan leukositosis yang nyata. Empiema berisiko
tinggi untuk sepsis gram negatif atau perforasi. Bila diagnosis mencurigakan keadaan ini,
secepatnya dilakukan intervensi bedah dengan perlindungan antibiotika yang sesuai. Hidrops
atau mukokel dari kandung empedu dapat juga timbul sebagai akibat obstruksi duktus sistikus
yang berkepanjangan, biasanya oleh batu soliter yang besar. Pada keadaan ini, lumen
kandung empedu yang tersumbat melebat dengan progresif oleh mukus (mukokel) atau oleh
transudat yang jernih (hidrops). Pada pemeriksaan jasmani didapatkan massa visibel, mudah
diraba, tidak nyeri yang kadang-kadang meluas dari kuadran kanan atas sampai ke dalam
fossa iliaka kanan. Biasanya asimptomatik walau dapat timbul nyeri kronik di kuadran kanan
atas. Pada pasien ini perlu dilaukan kolesistektomi.
2,4,5

Gangren dan Perforasi Kandung Empedu
Gangren kandung empedu timbul sebagai akibat iskemia dan nekrosis dari dinding
dan merupakan predisposisi untuk terjadinya perforasi. Batu empedu dapat mengikis dinding
yang nekrotik, alternatif lain yakni sinus Rokitansky Aschoff yang mengalami dilatasi dan
terinfeksi dapat merupakan titik lemah untuk terjadi ruptur. Keadaan keadaan lain yang
sering melatarbelakangi termasuk distensis hebat kandung emepedu, vaskulitis, diabetes
melitus, empiema, atau torsi yang mengakibatkan oklusi arteri. Perforasi biasanya terjadi di
bagian fundus yang merupakan bagian yang paling sedikit vaskularisasinya. Perforasi ke
dalam omentum akan menimbulkan abses perikolesistik, perforasi ke organ di dekatnya akan
menimbulkan fistula bilier internal ke duodenum, jejunum, fleksura hepatika dari kolon atau
11

ke lambung. Lebih jarang lagi (1-2%) terjadi perforasi bebas ke kavum peritoneum, prognosis
buruk dengan angka mortalitas sekitar 30%. Penanganan berupa antibiotika yang adekuat dan
tindakan bedah secepatnya.
2,4,5

Ileus Batu Empedu
Bila batu empedu besar (>3,5 cm) memasuki fistula dan masuk ke isis, dapat timbul
ileus batu empedu. Lokasi obstruksi tersering adalah valvulus ileocaecal. Pada pasien ini
terdapat keluhan gejala gejala, dan pemeriksaan radiologik dari obstruksi usus.

Diagnosis
ditegakkan dengan pemeriksaan radiologi. Foto polos abdomen menunjukkan obstruksi usus
halus dengan adanya gas di saluran empedu dan batu empedu yang ektopik. Tindakan pilihan
adalah laparotomi dengan ekstraksi batu (atau mendorong batu ke dalam kolon).
2,4,5

Abses Perikolesistik
Abses perikolesistik adalah suatu bentuk perforasi yang paling sering terjadi dengan
isinya terlokalisir dan dibatasi dengan rapat oleh omentum serta visera di dekatnya. Keadaan
ini perlu dicurigai bila suatu kolesistitis akut lambat sembuh, terutama bila terdapat episode
kedua dari demam, nyeri perut bagian kanan atau timbul massa di abdomen kanan atas.
Dengan ultrasonografi dan CT scan abses ini akan tampak. Keadaan ini terutama terjadi pada
pasien tua atau pasien yang mendapat steroid jangka panjang dengan demam dan respons
inflamasi yang minimal.
2,4,5

Kolesistitis Emfisematosa
Istilah ini dipakai untuk menunjukkan infeksi kandung empedu dengan organisme
yang membentuk gas, E Coli, Clostridium welchii atau Streptococcus anaerob. Pasien dalam
keadaan sakit berat, teraba suatu masa di abdomen. Pada pemeriksaan radiologik tampak
kandung empedu sebagai bayangan gas berbentuk buah pir berbatas sangat jelas. Kadang-
kadang tampak udara menginfiltrasi dinding dan jaringan sekitarnya. Pada posisi tegak
tampak permukaan cairan dalam kandung empedu. CT scan dapat juga menampakkan gas.
Terapi berupa antibiotika yang adekuat dan tindakan bedah.
2,4,5
Sindrom Mirizzi
Pada keadaan ini batu terjepit di leher kandung empedu atau duktus sistikus sehingga
dapat menyebabkan obstruksi parsial dari duktus hepatikus komunis di dekatnya. Sindrom ini
seringkali menyebabkan kolangitis dan di diagnosis dengan cara ERCP. Tindakan yang
12

dilakukan adalah pemasangan stent untuk sementara perendoskopi bila keadaan kolangitis
atau ikterus menyolok. Untuk membersihkan batu yang menyumbat dapat digunakan
litotriptor elektrohidrolik, selanjutnya kolesistektomi.
2,4,5

Prognosis
Penyembuhan spontan didapatkan pada 85% kasus, sekalipun kandung empedu
menjadi tebal, fibrotik, penuh dengan batu dan tidak berfungsi lagi. Tindakan bedah akut
pada usia tua (> 75 tahun) mempunyai prognosis yang jelek disamping kemungkinan banyak
timbul komplikasi pasca bedah.
2

Kesimpulan
Pasien terkena kolesistitis akut dikarenakan adanya nyeri tekan di perut kanan atas
atau epigastrium dan mengalami demam juga ditemukan adanya batu empedu di kandung
empedu. Penatalaksanaan yang harus dilakukan adalah dengan tirah baring atau istirahat
total, pemberian nutrisi dan cairan parenteral, diet ringan tanpa lemak, obat penghilang rasa
nyeri seperti petidin dan juga antibiotik seperti golongan sefalosporin generasi tiga atau
dengan metronidazol untuk mematikan bakteri penyebab radang kandung empedu. Juga dapat
dilakukan tindakan pembedahan untuk mengangkat kandung empedu atau kolesistektomi
baik secara langsung maupun dengan laparoskopi. Atau jika pasien tidak dapat dioperasi
dapat digunakan ESWL (Extracorporeal Shock-Wave Lithotripsy).
Daftar Pustaka
1. Perhimpunan dokter spesialis penyakit dalam Indonesia. Buku ajar ilmu penyakit dalam
jilid I. Edisi IV. Jakarta: Departemen penyakit dalam UI; 2008
2. Pridady. Kolesistitis. Dalam: Sudoyono AW, Setiyohadi B, editor. Buku ajar ilmu
penyakit dalam. Jilid I Edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2010.718-20
3. Nurman A. Batu empedu. Dalam: Sulaiman HA, Akbar NA, Lesmana LA, Noer HMS.
Buku ajar ilmu penyakit hati. Jakarta: Jayaabadi; 2007.161-78
4. Sulaiman HA, Akbar HN, Lesmana LA, Noer HMS. Buku ajar ilmu penyakit hati. Edisi
pertama. Jakarta: Jayabadi; 2007.h.161-225. 20
5. Lesmana LA. Penyakit batu empedu. Dalam: Sudoyono AW, Setiyohadi B, editor. Buku
ajar ilmu penyakit dalam. Jilid I Edisi V. Jakarta: Interna Publishing; 2010.721-6
6. Lalisang TJM. Kolesistektomi laparoskopi. Dalam: Sulaiman HA, Akbar NA, Lesmana
LA, Noer HMS. Buku ajar ilmu penyakit hati. Jakarta: Jayaabadi; 2007.185-91