Anda di halaman 1dari 34

1

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pencemaran laut adalah memasuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi
dan atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan mannusia, sehinga kualitas air turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya (PP No. 82 Tahun 2001).
Sampah plastik merupakan masalah bagi banyak negara. Salah satu penyebab
utamanya ialah plastik merupakan material yang tidak dapat dihancurkan oleh organisme
(non bio-degradable), sehingga bersifat tahan lama (persistent). Walaupun saat kini (terutama
di negara maju) bahan-bahan sintetik sudah dibuat lebih bersifat dapat didaur kembali
(recycable), tidak semua wilayah atau negara memiliki alat pendaur ulang untuk semua tipe
plastik. Di kota Melbourne, misalnya, dari sekian jumlah tipe plastik hanya mendaur ulang
sampah plastik dengan tipe polyethylen terephtalate (PETE), contohnya botol softdrink, jus
dll dan high-density polyethylene (HDPE), contohnya kemasan susu, air (Longe dan Katsarou,
2004).
Karena sifat material plastik yang tahan lama, ditambah lagi sifat lainnya yaitu ringan
sehingga mudah mengapung menyebabkan dampak sampah plastik yang umum diketahui
masyarakat ialah efeknya dari segi estetika. Apabila kita berjalan-jalan di tepi pantai,betapa
tidak nyamannya jika memandang sampah yang bertebaran. Tidak hanya itu, sampah-sampah
plastik biasanya juga bercampur dengan material-material sampah rumah tangga sehingga
menyebabkan bau tidak nyaman (Longe dan Katsarou, 2004).
Menurut Mantiri (1994) dalam Wardhani (2002), masuknya limbah ke dalam badan
air seperti sungai, danau ataupun laut akan menurunkan kualitas air serta mengubah kondisi
ekologi perairan. Pengaruh pencemaran air limbah terhadap kualitas air dapat dilihat dari sifat
2

fisik, kimia dan biologi perairan. Sifat fisik antara lain adalah peningkatan kekeruhan,
padatan tersuspensi, air menjadi berbau dan berwarna. Sedangkan sifat kimia dan biologi
adalah meningkatnya kandungan nutrient, logam-logam dan bakteri.
Kondisi perairan Cilacap dapat diketahui dari tiga parameter, yaitu fisika, kimia dan
biologi. Parameter fisika yang diukur antara lain temperatur, TSS, kecepatan arus.
Pengukuran pH, BOD, COD dan salinitas merupakan parameter kimia yang mengidentifikasi
pencemaran suatu peraian.Parameter biologi dapat dilihat dari struktur komonitas yang terdiri
dari indek kelimpahan, kepadatan, keragaman, dominasi, dan kesamaan dari organisme yang
dapat di jumpai pada suatu perairan tersebut (Odum, 1993).Berdasarkan hal diatas pentingnya
pengamatan tentang kualitas perairan laut untuk dapat mengetahui tingkat pencemaran di laut
tersebut.
1.2. Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan praktikum pencemaran laut antara lain:
1. Menganalisis sifat fisik perairan tepat terkena pencemaran
2. Menganalisis sifat kimia perairan tepat terkena pencemaran
3. Menganalisis marine debrisyang terdapat di sedimen
1.3. Manfaat
Setelah melakukan praktilum ini mahasiswa dapat mengklasifikasikan sampah
berdasarkan jenisnya. Mahasiswa dapat mengetahui cara pengukuran dan memahami faktor
fisika-kimia perairan yang baik untuk keberlangsungan organisme laut.


3

II. TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Pencemaran Laut
Sumber utama dari pencemaran laut dikategorikan menjadi dua yaitu sumber
kontaminan langsung dan tidak langsung (Warlina, 2004). Sumber langsung meliputi limbah
industri, limbah pertanian, limbah domestik, pengeboran minyak lepas pantai, transportasi
kapal laut, tumpahan minyak di laut. Sumber tidak langsung adalah adalah kontaminan yang
memasuki badan air dari tanah, air tanah atau dari atmosfir berupa air hujan.
Lebih lanjut Dahuri dan Damar (1994) mengatakan bahwa sumber bahan
pencemar perairan laut dapat dibagi atas dua jenis yaitu:
1. Point sources yaitu sumber pencemar yang dapat diketahui dengan pasti keberadaannya,
contoh: pencemar yang bersumber dari hasil buangan pabrik atau industri.
2. Non point sources yaitu sumber pencemar yang tidak dapat diketahui secara pasti
keberadaannya, contoh: buangan rumah tangga, limbah pertanian, sedimentasi serta
bahan pencemar lain yang sulit dilacak sumbernya.
Dahuri dan Damar (1994) menyatakan bahwa ditinjau dari daya uraiannya maka
bahan pencemar pada perairan laut dapat dibagi atas dua jenis yaitu:
1. Senyawa-senyawa konservatif merupakan senyawa yang muda terurai dan berubah
bentuk di dalam suatu badan perairan, contoh: senyawa organik seperti karbohidrat,
lemak dan protein yang mudah terlarut menjadi zat-zat anorganik oleh mikroba.
2. Senyawa-senyawa non konservatif senyawa-senyawa yang dapat bertahan lama di dalam
suatu badan perairan sebelum akhirnya mengendap ataupun terabsorbsi oleh adanya
berbagai reaksi fisik dan kimia perairan, contoh: logam berat, pestisisda, dan deterjen.


4

2. 2. Marine debris
Plastik telah menjadi masalah global. Sampah plastik yang dibuang, terapung dan
terendap di lautan. 80% (delapan puluh persen) dari sampah di laut adalah plastik, sebuah
komponen yang telah dengan cepat terakumulasi sejak akhir Perang Dunia II. Massa plastik
di lautan diperkirakan yang menumpuk hingga seratus juta metrik ton. (Bahtiar, 2007)
Plastik dan turunan lain dari limbah plastik yang terdapat di laut berbahaya untuk
satwa liar dan perikanan. Lestari dan Edward (2004) menyatakan organisme perairan dapat
terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan. Jaring ikan yang terbuat dari bahan
plastik, kadang dibiarkan atau hilang di laut. Jaring ini dikenal sebagai hantu jala sangat
membahayakan lumba-lumba, penyu, hiu, dugong, burung laut, kepiting, dan makhluk
lainnya. Plastik yang membelit membatasi gerakan, menyebabkan luka dan infeksi, dan
menghalangi hewan yang perlu untuk kembali ke permukaan untuk bernapas.
Aktifitas pernafasan dari organisme ini membuat makin menipisnya kandungan
oksigen khususnya pada daerah estuarin. Hal tersebut akan berpengaruh besar pada
kehidupan tumbuh-tumbuhan dan hewan yang hidup di daerah tersebut. Pada keadaan yang
paling ekstrim, jumlah spesies yang ada didaerah itu akan berkurang secara drastis dan dapat
mengakibatkan bagian dasar dari estuarin kehabisan oksigen. Sehingga mikrofauna yang
dapat hidup disitu hanya dari golongan cacing saja. Jenis-jenis sampah kebanyakan termasuk
golongan yang mudah hancur dengan cepat, sehingga pencemaran yang disebabkannya tidak
merupakan suatu masalah besar diperairan terbuka (Kunarso,1989).
Banyak hewan yang hidup pada atau di laut mengonsumsi plastik karena tak jarang
plastik yang terdapat di laut akan tampak seperti makanan bagi hewan laut. Plastik tidak
dapat dicerna dan akan terus berada pada organ pencernaan hewan ini, sehingga menyumbat
saluran pencernaan dan menyebabkan kematian melalui kelaparan atau infeksi. Selain
berpengaruh terhadap kesehatan biota laut, adanya sampah dilaut juga nerpengaruh terhadap
5

kesehatan manusia. Penyakit yang paling sederhana seperti gatal-gatal pada kulit setelah
bersentuhan dengan air laut (Shuval,1986).
2.3. Parameter Fisika Perairan
2.3.1. Temperatur
Perairan laut cilacap merupakan perairan yang sudah terkena dampak pencemaran
lingkungan akibat limbah-limbah pabrik. Kondisi faktor fisik-kimia sangat mempengaruhi
keragaman biota di dalamnya ,dari keragaman sumber hayati maupun sumber perikanannya.
Dari faktor fisik, suhu di perairan cilacap yang tercemar berkisar antara 20-25
0
C. Suhu
merupakan faktor fisika yang penting dimana-mana di dunia. Kenaikan suhu mempercepat
reaksi-reaksi kimiawi; menurut hukum vant Hoff kenaikan suhu 10C melipatduakan
kecepatan reaksi, walaupun hukum ini tidak selalu berlaku. Misalnya saja proses
metabolisme akan menaik sampai puncaknya dengan kenaikan suhu tetapi kemudian
menurun lagi. Setiap perubahan suhu cenderung untuk mempengaruhi banyak proses kimiawi
yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman dan binatang, karenanya juga
mempengaruhi biota secara keseluruhan.
Hasil pengukuran suhu (Pariwono, 1988) di perairan Pelabuhan Perikanan cilacap
pada bulan September Oktober dan November Desember masing-masing tercatat sebesar
26,0
0
C pada musim timur 28
0
C pada awal musim barat.Suhu di perairan laut yang belum
tercemar secara umum pada kedalaman 0 meter berkisar antara 30 -31
0
C, dan pada
kedalaman 25 meter berkisar antara 27 29
0
C, kedalaman 50 meter berkisar antara 22 27
0
C, dan pada kedalaman 100 meter berkisar antara 13 -17
0
C (Dinas Perikanan Kelautan,
2003). Suhu dilapisan permukaan sampai dengan 50 meter masih sesuai dengan suhu air laut
pada umumnya (Ilahude, 2002). Suhu yang baik untuk kehidupan ikan di daerah tropis
berkisar antara 25 32
0
C (Mulyanto, 1992).

6

2.3.2. TSS (Total Suspended Solid)
Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat (pasir, lumpur,
dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat berupa komponen
hidup (biotik) seperti fitoplankton,zooplankton, bakteri, fungi, ataupun komponen mati
(abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik. Zat padat tersuspensi merupakan
tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang heterogen, dan berfungsi sebagai bahan
pembentuk endapan yang paling awal dan dapat menghalangi kemampuan produksi zat
organik di suatu perairan.Penetrasi cahaya matahari ke permukaan dan bagian yang lebih
dalam tidak berlangsung efektif akibat terhalang oleh zat padat tersuspensi, sehingga
fotosintesis tidak berlangsung sempurna. Sebaran zat padat tersuspensi di laut antara lain
dipengaruhi oleh masukan yang berasal dari darat melalui aliran sungai, ataupun dari udara
dan perpindahan karena resuspensi endapan akibat pengikisan (Shriver dan Atkins, 2010).
Meskipun istilah "padatan tersuspensi" dan "kekeruhan" kadang-kadang digunakan
secara sinonim, yang tingkat kekeruhan tidak sama dengan konsentrasi padatan tersuspensi,
melainkan kekeruhan adalah ekspresi hanya satu efek dari padatan tersuspensi, mengingat
sifat air (yaitu, kemampuan cahaya untuk menembus kolom air). Karena ukuran partikel dan
sifat (misalnya, organik vs anorganik) dari padatan tersuspensi mempengaruhi hamburan
cahaya, kekeruhan yang berbeda dapat diukur untuk perairan memiliki konsentrasi TSS yang
sama (McKee dan Wolf 1963).
Padatan terendap (sedimen) adalah padatan yang dapat langsung mengendap jika air
didiamkan dan tidak terganggu selama beberapa waktu. Padatan yang mengendap tersebut
terdiri dari partikel-partikel padatan yang mempunyai ukuran yang relatif besar dan berat
sehingga mengendap dengan sendirinya (Fardiaz, 1992). Partikel menurunkan intensitas
cahaya yang tersuspensi dalam air umumnya terdiri dari fitoplankton, zooplankton, kotoran
hewan, sisa tanaman dan hewan, kotoran manusia dan limbah industri (Sunu, 2001). Baku
7

mutu Total Suspended Solid (TSS) air laut untuk biota laut adalah 20 mg/L (KEPMEN LH
No.51/2004).
2.3.3. Kecepatan Arus
Arus merupakan suatu gerakan air yang mengakibatkan perpindahan horizontal dan
vertikal masa air. Arus sangat dipengaruhi oleh sifat air itu sendiri, gravitasi bumi, keadaan
dasar perairan, dan gerakan rotasi bumi. Sirkulasi arus pada permukaan perairan terutama
disebabkan oleh adanya wind stress. Jadi arus air yang ada dalam suatu perairan sangat
dipengaruhi oleh banyak faktor dari parameter kualitas air itu sendiri. Disamping itu arus juga
dapat berdampak pada kandungan oksigen yang ada dalam air tersebut melalui proses difusi
secara langsung dari udara. Arus berperan dalam transportasi ikan dan larva di laut. Arus
merupakan hal yang sangat penting kaitannya dengan iklim, arus juga membawa organisme
plankton dalam jumlah yang besar dari tempat asalnya secara periodik (Davis, 1972).
Sverdrup et al. (1946) membagi arus laut ke dalam tiga golongan besar, yaitu : 1). Arus
yang disebabkan oleh perbedaan sebaran densitas di laut. Arus ini disebabkan oleh air yang
berdensitas lebih berat akan mengalir ke tempat air yang berdensitas kecil atau lebih ringan.
Arus jenis ini biasanya memindahkan sejumlah besar massa air ke tempat lain; 2). Arus yang
ditimbulkan oleh angin yang berhembus di permukaan laut. Arus jenis ini biasanya membawa
air kesatu jurusan dengan arah yang sama selama satu musim tertentu; 3). Arus yang
disebabkan oleh air pasang. Arus jenis ini mengalirnya bolak-balik dari dan ke pantai, atau
berputar. Gerakan massa air dalam sangat berbeda dengan massa air permukaan. Massa air
dalam terisolasi dari angin, oleh karena itu gerakannya tidaklah bergantung pada angin.
Tetapi gerakan massa air dalam sebenarnya terjadi karena perubahan gerakan air permukaan.
Di daerah tertentu dan dalam keadaan tertentu pula, gerakan lateral air yang disebabkan oleh
angin juga mengakibatkan air mengalami suatu sirkulasi vertikal atau gerakan ke atas atau
upwelling (Nybakken, 1992).
8

2.4. Faktor Kimia Perairan
2.4.1. Chemical Oxygen Demand (COD)
Beberapa bahan organik tertentu yang terdapat pada air limbah kebal terhadap
degradasi biologis dan ada beberapa diantaranya yang beracun meskipun pada konsentrasi
yang rendah. Bahan yang tidak dapat didegradasi secara biologis tersebut akan didegradasi
secara kimiawi melalui proses oksidasi, jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
tersebut dikenal dengan nama COD (Chemical OxygenDemand) (Cheremisionoff and
Ellerbusch,1978 dalam Kasam, 2005).
Nilai COD mengalami penurunan konsentrasi saat terjadi hujan. Hal ini disebabkan
terjadinya pengenceran oleh air hujan sehingga konsentrasi pencemar organik akan
berkurang. Berdasarkan kriteria mutu air untuk air kelas III pada lampiran 1 Perda Kota
Surabaya No. 2/2004 konsentrasi COD pada perairan seharusnya adalah 50 mg/L. Angka
COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang dapat dioksidasikan
melalui proses mikrobiologis, dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air
(Alaerts, 1984 dalam Hasriyani, 2010).
Karakteristik limbah sangat membahayakan apabila dibuang begitu saja ke
lingkungan terutama ke perairan. Bau dan warna yang ditimbulkan oleh limbah akan
menurunkan kualitas air. Air limbah tersebut mengandung minyak yang berwarna hitam
pekat dimana minyak akan mengapung diatas air dan menutupi perairan sehingga akan
menghambat masuknya oksigen ke perairan. Rendahnya oksigen terlarut menunjukkan
tingginya kegiatan biologis terutama bagi mikroba dalam mendegradasi senyawa-senyawa
dalam air limbah. Tingginya bahan-bahan organik dan anorganik dalam air limbah
ditunjukkan dengan tingginya nilai COD (Suyasaet al., 2012).
9

2.4.2. Potensial Hidrogen (pH)
pH adalah merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan intensitas keadaan
asam atau basa suatu larutan. Dalam penyediaan air, pH merupakan satu faktor yan harus
dipertimbangkan mengingat bahwa derajat keasaaman dari air akan sangat mempengaruhi
aktivitas pengolahan yang akan dilakukan, misalnya dalam melakukan koagulasi kimia,
desinfeksi. Pengaruh yang menyangkut aspek kesehatan dari penyimpangan standar kualitas
air minum dalam hal pH ini adalah pH air normal berkisar 6,5 9,2 ( Sutrisno, 2004 ).
pH dalam suatu perairan dipengaruhi oleh proses fotosintesis, aktivitas biologi, suhu
serta terdapatnya kation dan anion. Penurunan pH disebabkan oleh adanya CO
2
bebas hasil
respirasi hewan atau tumbuhan air. Semakin tinggi nilai pH, semakin tinggi pula nilai
alkalinitas dan semakin rendah kadar karbondioksida bebas. Larutan yang bersifat asam (pH
rendah) bersifat korosif (Effendi, 2003).
Kondisi pH air limbah digunakan sebagai indikator keadaan asam dan basa dimana
akan mempengaruhi penggunaan flokulan yang dipilih. Dengan mengetahui kondisi pH
limbah, maka koagulan akan bekerja dengan baik (Davis and Cornwell, 1998). Dalam hal ini
limbah mempunyai pH = 6, sehingga dapat digunakanaluminium sulfat atau magnesium
sulfat ( yang dapat bekerja dengan baik pada pH = 6 ), yang terkandung dalam air laut. pH
juga mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia. Senyawa amonium yang dapat
terionisasi banyak ditemukan pada perairan yang memiliki pH rendah. Amonium bersifat
tidak toksik. Namun, pada pH tinggi lebih banyak ditemukan amonia yang memiliki sifat
toksik. Amonia lebih mudah terserap ke dalam tubuh organisme akuatik dibandingkan
dengan amonium (Tebbut 1992dalam Effendi 2003).
Ikeda (1984) menyatakan bahwa pH air laut dianggap sebagai salah satu foktor utama
yang membatasi laju pertumbuhan plankton dan nilainya berkisar antara 7,0 8,5. Suatu
perairan dengan pH 5,5 6,5 dan pH yang lebih besar dari 8,5 termasuk perairan yang tidak
10

produktif dan perairan dengan pH antara 7,5 8,5 mempunyai produksi yang sangat tinggi
(Kaswadji, 1976).
2.4.3. Dissolved Oksigen (DO)
Oksigen adalah salah satu unsur kimia yang sangat penting sebagai penunjang utama
bagi kehidupan organism perairan untuk proses respirasi dan penguraian zat non organik
menjadi zat organik oleh mikro organisme. Kehidupan makhluk hidup didalam air tersebut
tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen minimal yang
dibutuhkan untuk kehidupannya (Fardiaz, 1992).
Oksigen terlarut (Dissolved Oksigen) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk
pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi
untuk pertumbuhan dan perbaikan. Oksigen berasal dari tiga sumber yaitu difusi langsung
dari atmosfer, akibat angin dan ombak, serta hasil fotosintesis tumbuhan air dan fitoplankton.
Oksigen terlarut dalam air berasal dari difusi udara dan hasil fotosintesis organisme
berklorofil yang hidup dalam suatu perairan dan dibutuhkan oleh organism untuk
mengoksidasi zat hara yang masuk ke dalam tubuhnya (Nyabakken, 1988).
Kondisi biologis sangat dipengaruhi oleh keberadaan oksigen yang dilakukan oleh
organisme aerobik dan anaerobik. Pada kondisi aerobik, fungsi oksigen yaitu mengoksidasi
bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah nutrien yang pada akhirnya dapat
memberikan kesuburan perairan. Pada keadaan anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan
mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas.
Kecepatan difusi oksigen dari udara tergantung dari beberapa faktor, antara lain kekeruhan
air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut
(Salmin, 2005).
Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air akan bertambah dengan
semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena
11

adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan
bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses
fotosintesis semakin berkurang. Peranan oksigen terlarut juga sangat penting dalam
mengurangi beban pencemar pada perairan secara alami maupun seara perlakuan aerobic
yang ditunjukkan untuk memurnikan air limbah industry, dan domestik (Salmin, 2005).
Kepmen No.51, (2004) menetapkan bahwa nilai oksigen terlarut untuk kehidupan biota laut
yaitu >5 ppm. kadar oksigen terlarut dalam perairan yang mencapai 0,5 mg/L termasuk
perairan yang tercemar (Nemerow, 1991).
2.4.4. Salinitas
Salinitas didefinisikan sebagai kadar garam atau jumlah berat semua garam (dalam
gram) yang terlarut dalam satu liter air, biasanya dinyatakan dengan satuan (ppt). Salinitas
adalah jumlah total (g) dari material padat termasuk NaCl yang terkandung dalam air laut
sebanyak satu kg dimana bromin dan iodin diganti dengan klorin dan bahan organik
seluruhnya telah dibakar habis (Wibisono, 2005). Keragaman salinitas dalam air laut akan
mempengaruhi jasad-jasad hidup akuatik melalui pengendalian berat jenis dan keragaman
tekanan osmotik. Jenis-jenis biota perenang mempunyai hampir semua jaringan lunak yang
berat jenisnya mendekati berat jenis air laut biasa, sedangkan jenis-jenis yang hidup di dasar
laut (bentos) mempunyai berat jenis yang lebih tinggi daripada air laut di atasnya
(Romimohtarto, 2007).
Salinitas perairan samudra biasa berkisar antara 34-35ppt. Salinitas perairan pantai
dipengaruhi aliran sungai yang bermuara, mengakibatkan turunnya nilai salinitas. Sebaliknya
di daerah yang penguapannya sangat kuat salinitas akan meningkat (Nontji, 2005). Oleh
sebab itu, daerah dengan lintang katulistiwa memiliki tingkat salinitas lebih tinggi
dibandingkan dengan daerah lintang diatasnya.
12

Sebaran salinitas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan,
curah hujan dan aliran sungai. Perairan estuarin dapat mempunyai struktur salinitas yang
kompleks, karena selain merupakan pertemuan antara air tawar yang relatif ringan dan air
laut yang relatif berat, juga pengadukan yang sangat menentukan (Nontji, 2005). Oleh sebab
itu, pada organisme akuatik salinitas sangat berpengaruh bagi kehidupannya.
Salinitas menimbulkan tekanan-tekanan osmotik. Pada umumnya kandungan garam
dalam sel-sel biota laut cenderung mendekati kandungan garam dalam kebanyakan air laut.
Jika sel-sel tersebut berada di lingkungan dengan salinitas lain maka suatu mekanisme
osmoregulasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan kepekatan antara sel dan
lingkungannya. Pada kebanyakan binatang estuarin penurunan salinitas permulaan biasanya
diikuti dengan penurunan salinitas dalam sel, suatu mekanisme osmoregulasi baru terjadi
setelah ada penurunan salinitas yang nyata. Berdasarkan Kepmenlh No. 51 Tahun 2004,
salinitas yang sesuai dengan baku mutu air laut untuk biota laut adalah 30-34ppt.


13

III. MATERI DAN METODE
3. 1. Materi
3.1.1 Alat
Alat yang digunkan pada pengukuran analisis marine debris disajikan dalam tabel
sebagai berikut:
Tabel 1. Alat yang digunakan dalam praktikum
No Nama Alat Kegunaan
1 Ember Mengambil sampel air
2 Plastik Tempat sampel sedimen
3 pH universal Mengukur derajat keasaman
4 Handrefraktometer Mengukur salinitas
5 Labu erlenmeyer Alat bantu titrasi
6 Gelas ukur 100 mL Mengukur larutan
7 Botol Winkler 250 mL Alat bantu titrasi
8 Buret Sebagai tempat larutan titran
9 Statif Sebagai tempat buret
10 Pipet karet Sebagai alat untuk mengambil larutan
11 Wadah baki Tempat sampel sedimen
12 Botol sampel 600 mL Mengambil sampel air
13 Stopwatch Sebagai timer
14 Oven Mengeringkan sampel sedimen
15 Thermometer Mengukur suhu
16 Timbangan analitik Menimbang sampel
17 Kertas saring whatman no. 41 Menyaring air laut sampel
18 Kamera Alat dokumentasi
19 Label Menandai sampel
20 Alat tulis Mencatat hasil pengamatan



14

3.1.2 Bahan
Bahan yang digunkan pada pengukuran analisis marine debris disajikan dalam tabel
sebagai berikut:
Tabel 2. Bahan yang digunakan dalam praktikum
No Nama Bahan Kegunaan
1 Air laut Sampel
2 Larutan MnSO4 Titrasi
3 Larutan Na
2
S
2
O
3
0,025 N Titrasi
4 Larutan H
2
SO
4
4 N Titrasi
5 Indikator amilum 0,5% Titrasi
6 Larutan H
2
SO
4
pekat Titrasi
7 KMnO
4
0,01 N Titrasi
8 Akuades Pembuatan blanko
3. 2. Metode
3.2.1 Analisis Marine debris di Sedimen
Pengambilan sampel sedimen dilakukan pada tiga titik sampling yang telah
ditentukan, dengan mementukan titik koordinat stasiun pengambilan sampel. Selanjutnya
pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat 10m x 10m untuk
pengambilan makro marine debris, sedangkan transek kuadrat ukuran 1m x 1m untuk
pengmbilan sampel mikro marine debris. Pengambilan sampel dilakukan dengan tiga kali
ulangan berbentuk zigzag.Kemudian melakukan penyortiran sampel dan diidentifikasi serta
menghitung jumlahnya berdasarkan jenis dan ukuran. diidentifikasi dan dihitung jumlahnya
berdasarkan jenis dan ukuran. Selanjutnya menghitung prosentase hasil perhitungan.
15

3.2.2. Pengukuran Parameter Fisika Perairan
3.2.2.1. Temperatur
Temperatur air permukaan diukur dengan menggunakan thermometer celcius. Alat
tersebut dicelupkan ke dalam air selama kurang lebih 10 menit sampai menunjukkan angka
yang konstan, lalu dicatat (APHA, 1981).
3.2.2.2. (Total Suspended Solid) TSS
Pertama-tama kertas saring Whatman no.41 yang akan digunakan terlebih dahulu
dibilas dengan akuades, kemudian dikeringkan dan dinginkan dalam desikator lalu ditimbang
(nilai B). Saring sampel air sungai 100 ml dengan menggunakan kertas saring yang sudah
didinginkan dan ditimbang.
Terakhir hitung kadar TSS dengan menggunakan rumus :
(A B)
TSS = x 1000 mg/L
C
Keterangan :
A = Berat kertas saring dan residu setelah pemanasan 103-105
0
C (mg)
B = Berat kertas saring setelah dipanaskan 103-105
0
C (mg)
C = Volume sampel yang dianalisa (mL)
1000 = Volume air dalam 1 L
3.2.2.3. Kecepatan Arus
Pertama botol air 600 mL diisi dengan air hingga 80% botol terisi air.Selanjutnya
mengikat botol dengan tali rafia sepanjang 10 m. Tahap berikutnya botol berisi air dijatuhkan
ke perairan dan dihitung waktu menggunakan stopwatch hingga tali meregang membentuk
lurus.Terakhir mencatat waktu dan menghitung kecepatan arusnya.
3.2.3 Pengukuran Parameter Kimia Perairan
3.2.3.1. Potensial Hidrogen (pH)
Pengukuran pH dilakukan dengan menggunakan kertas pH universal. Kertas pH
dimasukkan ke dalam air sampel lalu didiamkan selama satu menit, kemudian dicocokkan
dengan pH universal.
16

3.2.3.2. Oksigen Terlarut (DO)
Air sampel diambil dan dimasukkan ke dalam botol winkler 250 mL. Ditambahkan 1
mL MnSO
4
dan 1 mL KOH-KI. Botol dikocok dan didiamkan sampai terbentuk endapan.
Ditambahkan lagi H
2
SO
4
pekat sebanyak 1 mL dan dikocok sampai cairan supernatan
menjadi tampak jernih. Air sampel dituang sebayak 100 mL kemudian dititrasi dengan
menggunakan Na
2
S
2
O
3
0.025 N sampai larutan menjadi tidak berwarna. Hasil pengukuran
dihitung dengan menggunakan rumus:


Keterangan:
P: jumlah mL Na
2
S
2
O
3
yang terpakai
q: normalitas larutan Na
2
S
2
O
3

Prosedur Pengamatan BOD
Pertama tama dipersiapkan 4 buah botol BOD (winkler) 2 botol untuk sampel dan 2 botol
untuk blanko. Mengambil sampel air dengan menggunakan botol winkler sebanyak 250 ml.
Selanjutnya memasukan sampel yang telah diencerkan ke dalam 2 buah botol winkler,
masing masing untuk diukur oksigen sampel nol hari dan oksigen sampel lima hari. Blanko
dibuat dari akuades dengan jumlah volume yang sama yaitu 500 ml. Kemudian dimasukan ke
dalam 2 buah botol winkler, masing masing untuk diukur oksigen blanko nol hari dan
oksigen blanko lima hari. Botol pertama diukur kandungan oksigen awal dan dinyatakan
dalam DO
0
, sedangkan untuk botol kedua dilakukan inkubasi selama 5 hari pada temperatur
20
0
C. Setelah hari kelima diukur kandungan oksigen lima hari dan dinyatakan dalam DO
5
.
Kadar BOD dihitung menggunakan rumus :

( ) ( )


Keterangan :
A
0
: O
2
terlarut sampel nol hari
A
5
: O
2
terlarut sampel lima hari
S
0
: Blanko terlarut sampel nol hari
17

S
5
: Blanko terlarut sampel lima hari
T : persen perbandingan antara A
0
: S
0

P : derajat pengenceran

3.2.3.3. Chemical Oxygen Demand (COD)

Sampel air diambil menggunakan botol air mineral sebanyak 600 ml. Sampel
kemudian di ambil 100 ml dengan gelas ukur dan ditempatkan pada labu Erlenmeyer.
menggunakan pengenceran 5% dengan memakai 95 ml aquades dan 5 ml air sampel.
Selanjutnya ditambahkan larutan H
2
SO
4
4N 5 ml dan larutan KMnO
4
0,01 N 10 ml dan
didihkan selama 10 menit. Dilanjutkan dengan penambahan 10 ml larutan asam oksalat 0,01
N dan didinginkan menggunakan air es. Setelah dingin kocok larutan hingga menjadi jernih
dan dititrasi menggunakan larutan KMn0
4
0,01 N sampai terbentuk larutan berwarna merah
muda. Kadar COD dihitung dengan rumus :

Kadar COD = [

*( ) +]
Faktor Koreksi =


Keterangan :
a = ml KMnO
4
yang terpakai
F = faktor koreksi KMnO
4

31,6 = berat eqivalen KMnO
4

3.3. Waktu dan Tempat
Praktikum lapang dan laboratium dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 31 Mei Mei
2013.Pengambilan sampel di mulai pukul 08.30 WIB. Tempat pengambilan sampel
praktikum dilakukan di perairan pantai Teluk Penyu dan di laboratorium perikanan dan
kelautan UNSOED.
3.4. Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan bantuan diagram histogram
dan dibandingkan dengan KEPMEN LH No. 51 Tahun 2004.

18

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4. 1. Analisis Marine debris di Sedimen
Berdasarkan hasil pengukuran yang terlah dilakukan dapat diketahui kondisi suhu
pada masing-masing stasiun.Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Marine debris pada masing-masing stasiun
Hasil pengamatan kelompok kami pada stasiun 1 didapatkan sampah plastik jenis PP,
PS dan PC dengan platik jenis PC menjadi sampah yang paling banyak ditemukan dengan
tingkat presentase 21,38 %. Pada stasiun 2 jenis plastik yang ada masih sama dengan yang
ada di stasiun 1. Pada stasiun 2 jenis plastik yang paling banyak berasal dari plastik jenis PP
sebesar 83,24 %. Sedangkan pada stasiun 3 plastik yang ditemukan masih sama seperti
stasiun 2 tetapi pada stasiun 3 ditemukan jenis plastik HDPE dengan PC sebagai jenis plastik
yang paling banyak ditemukan yaitu sebesar 63,93%.
4. 2. Faktor Fisika Perairan
4.2.1. Temperatur
Berdasarkan hasil pengukuran yang terlah dilakukan dapat diketahui temperatur pada
masing-masing stasiun. Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 11.
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3
PP
PS
PC
HDPE
19



Gambar 1. Temperatur pada masing-masing stasiun
Temperatur air laut dapat mengidentifikasi massa air laut. Temperatur air laut sangat
berhubungan erat dengan salinitas, dimana temperatur dan salinitas dapat menentukan
densitas air laut disamping tekanan. Air laut ditinjau dari sifat-sifat fisis atau kimiawinya,
secara umum adalah berlapis. Distribusi sifat-sifat maupun kimiawi air laut umumnya zonal
dalam arti tidak banyak perubahan dalam sifat-sifat air. Temperatur merupakan faktor fisika
yang penting dimana-mana di dunia. Setiap perubahan temperatur cenderung untuk
mempengaruhi banyak proses kimiawi yang terjadi secara bersamaan pada jaringan tanaman
dan binatang, karenanya juga mempengaruhi biota secara keseluruhan (Foster, 2006). Hasil
pengukuran temperatur di Pantai Teluk Penyu, Cilacap dituangkan dalam tabel 1.
Hasil pengamatan yang dilakukan kelompok kami, di daerah Pantai Teluk Penyu,
Cilacap dengan koordinat 7
o
4457S 109
o
111E temperatur perairan laut didapat sebesar
30
0
C. Berdasarkan KEPMEN LH No 51 tahun 2004, baku mutu air laut untuk temperatur
yang baik bagi keberlangsungan hidup biota laut adalah sekitar 28-32
0
C. Hal tersebut
menunjukan temperatur di daerah tersebut masih baik untuk kelangsungan hidup biota laut.
Menurut Barus (2001) pola temperatur ekosistem air dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
29.5
30
30.5
31
31.5
1 2 3 4 5 6 7 8
Temperatur (c)
Temperatur (c)
20

intensitas cahaya penyinaran matahari, pertukaran panas antara air dengan udara
disekelilingnya, ketinggian geografis, dan juga faktor canopy (penutupan oleh vegetasi).
4.2.2. Total Suspended Solid (TSS)
Berdasarkan hasil pengukuran yang terlah dilakukan dapat diketahui kondisi TSS
pada masing-masing stasiun. Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 12.


Gambar 2. Total Suspended Solid pada masing-masing stasiun
Total Suspended Solid (TSS) atau zat padat yang tersuspensi, merupakan residu yang
tidak lolos saring, yaitu yang tertahan oleh saringan. TSS adalah salah satu parameter yang
digunakan untuk pengukuran kualitas air. Pengukuran TSS berdasarkan pada berat kering
partikel yang terperangkap oleh filter, biasanya dengan ukuran pori tertentu.Umumnya, filter
yang digunakan memiliki ukuran pori 0.45m (Clescerl, 1905).
Berdsarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan, didapatkan rata-rata TSS di Pantai
Teluk Penyu, Cilacap sebesar 0,998 mg/L. Berdasarkan KEPMEN LH No 51 tahun 2004,
baku mutu air laut untuk pengukuran TSS yang baik bagi keberlangsungan hidup organisme
adalah sekitar 20 mg/L pada ekosistem terumbu karang dan lamun, sedangkan pada
ekosistem mangrove sekitar 80 mg/L. Hasil tersebut menunjukan bahwa kandungan TSS di
Pantai Teluk Penyu, Cilacap sudah melampaui standar baku mutu yang telah ditetapkan. Hal
0
500
1000
1500
2000
2500
1 2 3 4 5 6 7 8
TSS
TSS
21

tersebut menunjukan bahwa perairan di daerah tersebut sudah tidak layak untuk kehidupan
biota laut. Material tersuspensi mempunyai efek yang kurang baik terhadap kualitas badan air
karena dapat menyebabkan menurunkan kejernihan air dan dapat mempengaruhi kemampuan
ikan untuk melihat dan menangkap makanan serta menghalangi sinar matahari masuk ke
dalam air. Nilai TSS umumnya semakin rendah ke arah laut. Hal ini disebabkan padatan
tersuspensi tersebut di suplai oleh daratan melalui aliran sungai (Helfinalis, 2005).
4.2.3. Kecepatan Arus
Berdasarkan hasil pengukuran yang terlah dilakukan dapat diketahui kecepatan arus
pada masing-masing stasiun. Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 13.

Gambar 3. Kecepatan arus pada masing-masing stasiun
Hasil pengukuran kecepatan arus yang dilakukan kelompok kami yaitu sebesar 0,15
m/s. Arusyang besar di laut menyebabkan perubahan densitas massa air permukaan.
Perubahan densitas air laut berhubungan dengan variasi suhu dan salinitas, yaitu kenaikan
suhu menyebabkan penurunan densitas air laut yang diikuti dengan kenaikan salinitas. Di laut
perubahan salinitas dan suhu biasanya terjadi bersama-sama dan keduanya sangat penting
dalam mengendalikan densitas (Barnes dan Hughes, 1998). Menurut Hinckley et al. 1991,
diacu dalam Olii (2003), arus selalu berhubungan dengan kedalaman.
0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
0.3
0.35
1 2 3 4 5 6 7 8
Kecepatan Arus (m/s)
Kecepatan Arus (m/s)
22

4.2.4. Bau Perairan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, didapatkan data bahwa bau
perairan di Pantai Teluk Penyu, Cilacap perairannya tidak berbau. Hal ini mengindikasikan
bahwa perairan tersebut masih normal. Organisme makroskopik seperti ganggang dan rumput
laut juga dapat menurunkan kualitas air dalam hal rasa, warna, dan bau, namun dapat
dihilangkan dalam proses purifikasi. Keberadaan ikan dalam air dapat mengendalikan
pertumbuhan organisme mikroskopik ataupun mikroskopik. (Suripin, 2002).
4.2.5. Warna Perairan
Warna air merupakan salam satu unsur dari parameter fisika terhadap standar
persyaratan kualitas air (Darmayanto, 2009). Warna air merupakan hasil refleksi kembali dari
berbagai panjang gelombang cahaya sejumlah material yang berada dalam air yang
tertangkap oleh mata. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan oleh kelompok
kami didapatkan hasil bahwa warna perairan di Pantai Teluk Penyu, Cilacap perairannya
berwarna kehijauan. Hal ini menunjukan bahwa di perairan tersebut terdapat dominasi
chloropiceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena
mempunyai waktu moralitas yang relatif panjang (Marindro, 2002).
4. 3. Parameter Kimia Perairan
4.3.1. Derajat Keasaman (pH)
Berdasarkan hasil pengukuran yang terlah dilakukan dapat diketahui pH pada masing-
masing stasiun. Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 14.
23


Gambar 4. Derajat kesamaan (pH) pada masing-masing stasiun
Derajat keasaman berpengaruh sangat besar terhadap kehidupan hewan dan tumbuhan
air serta mempengaruhi toksisitas suatu senyawa kimia (Effendi, 2003). Pada umumnya pH
perairan laut lebih stabil,namun di perairan pinggir pantai, nilai pH ditentukan oleh kuantitas
bahan organic yang masuk ke perairan tersebut. Hasil pengukuran pH di Pantai Teluk Penyu,
Cilacap yaitu 8.
Hasil pengukuran pH kelompok 1 sebesar 8. Derajat keasaman berpengaruh sangat
besar terhadap kehidupan hewan dan tumbuhan air serta mempengaruhi toksisitas suatu
senyawa kimia (Effendi, 2003). Menurut baku mutu air laut Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No.51 tahun 2004 standart pH baku mutu air laut sebesar 7-8,5, sehingga
dapat disimpulkan kondisi perairan sedang dalam kondisi baik untuk biota laut. Nilai pH
dalam suatu perairan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kegiatan fotosintesis,
temperatur dan terdapatnya anion dan kation.
4.3.2. Biochemical Oxygen Demand (BOD)
Biochemical Oxygen Demand (BOD) adalah suatu karakteristik yang menunjukkan
jumlah oksigen terlarut yang diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk
mengurai atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik (Umaly dan Cuvin,
6.4
6.6
6.8
7
7.2
7.4
7.6
7.8
8
8.2
1 2 3 4 5 6 7 8
pH
pH
24

1988; Metcalf & Eddy, 1991). Hasil pengukuran BOD yang telah dilakukan dituangkan
dalam tabel 6.
Hasil BOD kelompok 1 adalah 5,2 , kadar COD yang lebih besar dari BOD
menunjukkan buruknya kwalitas air (Aryani, et. al, 2004). Pemeriksaan BOD diperlukan
untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk
mendisain sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Penguraian zat organis
adalah peristiwa alamiah. Apabila sesuatu badan air dicemari oleh zat organis, bakteri dapat
menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa
mengakibatkan kematian ikan. Keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau
busuk pada air (Odum, 1971).
4.3.3. Chemical Oxygen Demand (COD)
Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan dapat diketahui COD pada
masing-masing stasiun. Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 15.

Gambar 5. Chemical Oxygen Demand (COD) pada masing-masing stasiun
Kebutuhan oksigen kimiawi atau COD menggambarkan jumlah total oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan organik secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi
secara biologis maupun yang sukar didegradasi secara biologis menjadi CO
2
dan H
2
O (Boyd,
1998). Hasil pengukuran COD yang telah dilakukan dituangkan dalam tabel 3.
0
5,000
10,000
15,000
20,000
1 2 3 4 5 6 7 8
Chemical Oxygen Demand (COD)
Chemical Oxygen
Demand (COD)
25

Hasil COD kelompok 1 adalah 15,41132 mg/L , sedangkan menurut KEPMEN LH
No.51 Tahun 2004 baku mutu untuk biota laut sebesar 20 mg/L. Kondisi ini berarti
menunjukkan bahwa keadaan kadar COD melebihi standar baku biota laut dan dapat
dinyatakan berbahaya bagi biota perairan laut. Menurut Aryani, dkk (2004), menyatakan
bahwa tingginya kadar COD disebabkan karena banyaknya bahan organik yang dioksidasi.
4.3.4. Salinitas
Berdasarkan hasil pengukuran yang telah dilakukan dapat diketahui salinitas pada
masing-masing stasiun. Hasil tersebut ditampilkan pada Gambar 16.

Gambar 6. Salinitas pada masing-masing stasiun
Salinitas menggambarkan padatan total di dalam air setelah semua karbonat dikonversi
menjadi oksida, semua bromide dan iodide digantikan oleh klorida dan semua bahan
anorganik telah dioksida. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, salinitas
perairan di Pantai Teluk Penyu, Cilacap didapat sebesar 32 ppt. Hal ini menunjukan perairan
tersebut masih baik untuk kehidupan biota laut berdasarkan baku mutu Kepmen LH No 51
tahun 2004, yang menjelaskan bahwa baku mutu air laut untuk salinitas yang baik bagi
keberlangsungan hidup organisme adalah sekitar 33-34 ppt. Pada perairan pesisir, nilai
salinitas sangat dipengaruhi oleh masuknya air tawar di sungai (Pratama, 2009).
0
5
10
15
20
25
30
35
1 2 3 4 5 6 7 8
Salinitas ()
Salinitas ()
26

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan ahsil praktikum yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa:
1. Sampah jenis plastik yang ditemukan pada stasiun pengamatan di pantai Teluk Penyu
Cilacap pada 3 titik pengamatan yaituPP (polypropylene), PC+other (polycarbonate),
HDPE (high density polyethylene) dan PS (polypropylene) dengan tingkat kepadatan
yang berbeda beda di setiap stasiun.
2. Faktor fisika dan kimia perairan dapat dijadikan sebagai indikator untuk mengetahui
tingkat pencemaran suatu perairan.
3. Faktor fisika yang diamati antara lain: Temperatur, TSS, dan kecepatan arus.
4. Faktor kimia yang diamati antara lain : pH, salinitas, DO, BOD dan COD.
5.2. Saran
Pencemaran yang ada di laut merupakan akibat dari adanya limbah pencemar yang
berasal dari daratan yang dibawa oleh media sungai, hujan dan air tanah.Namun media
pembawa limbah pencemar terbanyak yaitu sungai.Sehingga dalam praktikum selanjutnya
mungkin dapat ditekankan mengenai persebaran pencemaran dari mulai muara sungai ke arah
pesisir pantai dan laut.


27

DAFTAR PUSTAKA
Aryani, D. 2008. Kondisi Fisika dan Kimia Air di sepanjang sungai citandui, jawa barat,
Skripsi Manajemen sumberdaya Perairan, UNSOED. Purwokerto.
Azwar, E. 2001. Pengaruh Aktivitas Pabrik Semen Andalas Terhadap Kelimpahan, Diversitas
dan Produktivitas Plankton di Perairan Pantai Lhoknga Kabupaten Aceh Besar.
Fakultas MIPA Uiversitas Syah Kuala.
Barus, T. A. 2001. Pengantar Limnologi Studi Tentang Ekosistem Sungai dan Danau.
Fakultas MIPA USU Medan.
Barus. 2001. Pengantar Limnologi. . Swadaya Cipta, Jakarta
Clescerl, Leonore S.(Editor), Greenberg, Arnold E.(Editor), Eaton, Andrew D. (Editor). 1905.
Standard Methods for the Examination of Water and Wastewater (20th ed.) American
Public Health Association, Washington, DC.
Connel, D. W dan G. J. Miller. 1995. Kimia dan Ekotoksikologi Pencemaran. Diterjemahkan
Oleh Koestoer, Y dan Sahati. UI Press, Jakarta.
Dahuri, R. 2004. Pengelola SDA Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Edisi Revisi.
Pradnya Paramita. Jakarta.
Dahuri, R. dan A. Damar. 1994. Metode dan teknik Analisis Kualitas Air, dalam Kumpulan
Makalah Kursus Amdal Tipe B. Kerjasama PSL-Undana, Kupang dan Bapedal
Kupang, Kupang
Darmayanto. 2009. Penggunaan Serbuk TulangAyam sebagai Penurun Intensitas Warna Air
Gambut. Diambil dari www.repository.ac.idpada 27 November 2010.
Davi J R A. 1972. Principles of Ocheanography. Addison Wesley. Publishing Company, Inc.
Philipines.
Dinas Perikanan Kelautan, DKP, 2003. Pedoman Umum Pengelolaan Berbasis Masyarakat
Coremap II.Kementerian Kelautan dan Perikanan.Jakarta.
Dojlido, J.R. and G.A.Best.1993.Chemistry Of Water Water Pollution, Ellis Horwood Series
In Water And Waste Water Technology, England
Effendi, H. 2003. Telaahan kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.
Effendi, H. 2003.Lahan Kualitas Air bagi Pengelola Sumberdaya & Lingkungan Perairan.J
MSP Fak. P & K IPB, Bogor.
Fardiaz, S. 1992. Polusi Udara. Kanisius. Yogyakarta.
Fauzi, A. 2005. Kebijakan Perikanan dan Kelautan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
185 hlm.
28

Foster, J., J. Greer and E. Thorbecke. 1984. A Class of Decomposable Poverty Measurement.
Econometrica, 52 (3): 761-766.
Hasriyani, 2010. Studi Kinerja Boezem Morokrembangan Pada Penurunan Kandungan Total
Solid dab Zat Organik Sebagai Permangnate Value (PV). Jurusan Teknik Lingkungan:
ITS. Surabaya.
Helfinalis. 2005. Kandungan Total Suspended Solid Dan Sedimen Di Dasar Di Perairan
Panimbang. LIPI, Jakarta.
Helfinalis. 2005. Kandungan total suspended solid dan sedimen dasar di Perairan Panimbang.
Makara Sainsm. Vol 9(2).
Ilahude, 2002. Teknik Analisis Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan. Jakarta: Pradnya
Paramita.
Kamaluddin, L, M. 2002. Pembangunan Ekonomi Maritim di Indonesia. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama. 331 hlm.
Kasam. 2005. Penurunan COD (Chemical Oxygen Demand) dalam Limbah Cair
Laboratorium Menggunakan Filter Karbon Aktif Arang Tempurung Kelapa. Logika, 2
92): 1-8.
Kaswadji, R.F. 1976. Preliminary study on the distribution and phytoplanktonabundance in
Upang Delta, South Sumatera. Undergraduate Thesis. Facultyof Fisheries,
BogorAgriculture Institute. Unpublished. (In Indonesian).
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No.51 Tahun 2004. Baku mutu air laut untuk
biota laut. Jakarta: Menteri Negara Lingkungan Hidup.
Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomer 51 Tahun 2004 tentang baku Mutu Air
Laut untuk Biota Laut.
Longe Katsanevakis S dan A. Katsarou. 2004. Influences on the distribution of marine debris
on the sesafloor of shallow coastal areas in Greece (Eastern Mediterranean). Water,
Air and Soil Pollution,159: 325-337.
McKee, JE, and HW Wolf. 1963. Water quality criteria (second edition). State Water Quality
Control Board, Sacramento, California. Pub. No. 3-A. Technical
Memorandum19Maret 2006.
Margaret. 2009. Phosphatidylinositol 3-kinase (PI3K) pathway activation in bladder cancer.
Cancer Research UK Clinical Centre, United Kingdom.
Moriber, G. 1974. Environmental Science. Allyn and Bacee, Inc. Boston
Mulyanto, M. 1992.Keberlanjutan Peikanan Tangkap Skala Kecil (Kasus Perikanan Pantai
Di Serang Dan Tegal). IPB. Bogor.
Nemerow, N.L. dan A. Dasgupta. 1991. Industrial and Hazardous Waste Treatment. Van
Nostrand-Reinhold, New York. 743 p.
Nontji, A. 2005. Laut Nusantara. Djambatan : Jakarta
29

Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut suatu pendekatan Ekologi. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.
Nybakken,J,W. 1992. Biologi Laut satu Pendekatan Ekologis. (Terjemahan. Alih bahasa oleh
H.M Eidman). PT. Gramedia.Jakarta.
Odum, E.P. 1971. Fundamental of ecology. Sounders and company. philadephia,London.
Odum,E.P.1972. Dasar-Dasar Ekologi. diterjemahkan oleh Thahmosamingan.
Yogyakarta:Gadjah Mada Press.
Romimohtarto, K. Dan S. Juwana. 2001. Biologi Laut. Ilmu Pengetahuan Tentang Biota Laut.
Penerbit Djambatan. Jakarta.
Salmin, 2005. Oksigen Terlarut (DO) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah
Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas perairan. Oseana, 30(3) : 51-56.
Suherman, A. 2010. Alternatif Strategi Pengembangan Pelabuhan Perikanan Nusantara
Brondong Lamongan Jawa Timur. Jurnal Saintek Perikanan,5(2): 1-5.
Sutrisno, H. 2004. Penelitian Research. Yogyakarta: BPFE.
Suyasa. 2012. Pengolahan Air Limbah Pembangkit Listrik PT Indonesia Power Dengan
Metode Flotasi dan Biofiltrasi Saringan Pasir Tanaman. ISSN 1907-9850.Jurnal
Kimia6 (1) : 62-71.
Sverdrup HU. 1946. The Oceans Their Physics, Chemistry and General Biology. Modern
Asia Edition.Prentice Hall, Inc. Englewood Chiffs, N. J. Charles E Tuttle Cmpany,
Tokyo.
Wardhani, N. K. 2002. Pengolahan Limbah Pertanian. Pros. Lokakarya Sistem Integrasi Padi
-Ternak I. Yogyakarta.
Warlina, L. 2004. Pencemaran Air, Sumber, Dampak dan Penanggulangannya. Makalah
pribadi. IPB Bogor.
Wibisono, M.S, 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Grasindo, Jakarta.
.



30

LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar-gambar pelaksanaan praktikum
Gambar Stasiun 1 Gambar Stasiun 2

Gambar Stasiun 3

31

Lampiran2. Tabulasi data dan hasil perhitungan
Tabulasi data marine debris (sedimen)
Tanggal : 31 Mei 2014
Kelompok : 2 (dua)
STASIUN 1
Tipe Ukuran Jumlah % Jumlah %
PETE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
HDPE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
PVC
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
LDPE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
PP
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 11 11 % 15,43 gr 15,43 %
PS
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 1 1 % 0,57 gr 0,57 %
PC / OTHER
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 2 2 % 21,38 gr 21,38 %
15

STASIUN 2
Tipe Ukuran Jumlah % Jumlah %
PETE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
HDPE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
PVC
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
LDPE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
PP
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 4 4 % 83,24 gr 83,24 %
PS
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 1 1 % 1,79 gr 1,79 %
32

PC / OTHER
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 3 3 % 38,16 gr 38,16 %
8

STASIUN 3
Tipe Ukuran Jumlah % Jumlah %
PETE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
HDPE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 2 2% 22,03 gr 22,03 gr
PVC
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
LDPE
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm
PP
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 3 3% 44,09 gr 44,09%
PS
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 2 2% 2,86 gr 2,86%
PC / OTHER
1,25 mm
2,5 4,75 mm
> 4,75 mm 1 1% 63,93 gr 63,93%
8
1. Tabulasi data kualitas perairan
Parameter Fisika
Parameter
Stasiun Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7 8
Temperatur (C) 30 30 31 30 30 30 30 30
TSS (mg/L)
2,374
Mg/L
1,026
Arus (m/s) 0,15 0,12 0,20 0,26 0,21 0,29 0,21
0,1
7
Bau
Warna
Parameter Kimia
Parameter
Stasin Pengamatan
1 2 3 4 5 6 7 8
O
2
Terlarut (ppm) 4 4,95
BOD
5
(ppm)
COD (ppm)
12,2
733
4

pH (kertas) 8 7 7 7 8 8 8 7
33

pH (pH Meter) 6,3 5,5 6,7 5,8 7,1 6,8 7,1 6,3
Salinitas () 32 27 26 26 25 25 25 28

PERHITUNGAN
1. TSS
TSS =
()

1000 Mg/L
=2,374 Mg/L
2. DO
O2 terlarut =


= 4
3. BOD

x p x q x 8
= 10 x 2,6 x 0,025 x 8 = 5,2 mg/l
4. Blanko

x p x q x 8
= 10 x 2,6 x 0,025 x 8 = 5,2 mg/l
5. COD
KMNO4 0,01N = 47,1 - 28,1 = 19ml
Faktor koreksi =

= 0,520
Kadar COD (Sampel):
[

x {(10 + a) F - 10}] x 0,01 x 31,6 mg/l


[

x {(10 + 19) 0,52 - 10}] x 0,01 x 31,6 mg/l


34

[

x {(29) 0,52- 10}] x 0,01 x 31,6 mg/l


[

x {15,08- 10] x 0,01 x 31,6 mg/l


[10x 5,08] x 0,01 x 31,6 mg/l
[50,8] x 0,01 x 31,6 mg/l
16,0528 mg/l
COD blanko = [

*( ) +)] x 0,01 x 31,6 mg/L


= [

*( ) +)] x 0,01 x 31,6


mg/L
= 10 x 1,336 x 0,316
= 4,22176 mg/L
COD : COD sampel COD blanko
: 16,0528 mg/l - 4,22176 mg/L
: 11,83104 mg/L
6. BOD5
Rumus BOD : A0-A5
A0 : 5,2 mg/l
A5 : 1000/100 x p x q x 8
: 10 x 1.5 x 0.025 x 8
: 3 mg/l
BOD : A0-A5
: 5,2 - 3
: 2,2 mg/l

PARAMETER PERAIRAN
Koordinat teluk penyu : 7
o
44 59 S 109
o
1 11 E
Salinitas : 27
pH : Kertas pH : 7
pH meter : 5,5
Suhu : 30
o
C
Arus : 1 19 Tenggara