Anda di halaman 1dari 24

Kriteria Diagnosis

OSAS

ANAMNESIS
1. Riwayat mendengkur +/-
2. Curiga OSAS +/-
3. Terdapat salah satu gejala di bawah ini dgn frekuensi > 3x/seminggu :
a. Terbangun dari tidur karena tersedak (terbatuk-batuk) ya/tidak
b. Apnea pada saat tidur (sesuai dengan keterengan teman tidur) ya/tidak
c. Bangun tidur dengan perasaan yang tidak segar ya/tidak
4. Epworth Sleepiness Scale 0 1 2 3
a. Duduk dan membaca
b. Menonton telvisi
c. Duduk diam di tempat umum (di bioskop atau rapat)
d. Sebagai penumpang mobil selama 1 jam tanpa istirahat
e. Rebahan untuk beristirahat sore ketika lingkungan
memungkinkan
f. Duduk dan berbicara dengan seseorang
g. Duduk tenang setelah makan siang tanpa minum alcohol
h. Saat mengemudi dan mobil berhenti beberapa menit
dalam kemacetan
Nb : Sistem scoring (0 3)
Score:
0 = tidak pernah mengantuk
1 = sedikit mengantuk
2 = cukup mengantuk
3 = sangat mengantuk dan tertidur

Total Score:
0-10 = Normal range
10-12 = Borderline
12-24 = Abnormal



PEMERIKSAAN FISIK
1. BB (kg) TB (m)
Lingkar Leher (cm)
Banyak pasien dengan obstructive sleep apnea adalah dengan berat badan berlebih dan
memiliki leher yang pendek dan tebal. Lingkar leher lebih dari 16 inch pada wanita atau lebih
dari 17 inch pada pria beresiko tinggi . Selanjutnya, peningkatan ukuran lingkar leher
menunjukkan hubungan dengab keperahan apnoe.

2. BMI = BB (kg) / (TB (m))
2

Under Weight (BMI < 20) Normo Weight (BMI 20-25) Over Weight (BMI 26-30)
Obese I (BMI 31-35) Obese II (BMI > 35)





Multilevel Obstruction In Upper Airway






3. Ukuran Lidah

Friedman Tounge Position / Modifikasi Malampatti



















Grade I:
Uvula dan tonsil/
pilar terlihat
Grade II:
Uvula terlihat tetapi
tonsil tidak terlihat

























Grade III:
Palatum mole terlihat
tetapi uvula tidak
terlihat
Grade IV:
Hanya Palatum
durum terlihat

4. Palatum Molle
Normal





Elongatio
















Webbing













Lidah








Normal










Makroglosia


5. Uvula

Normal


Memanjang


Melebar


Basis lebih besar



Basis Normal















6. Ukuran Tonsil





















Grade I:
Tonsils are in the
tonsillar fossa,
barely seen
Grade II:
Tonsils are visible
beyond the
anterior pillars
Grade III: Tonsils
extend three
quarters of the
way to the midline
Grade IV:
Kissing" tonsils







7. Rahang Bawah

Rahang normal


Micrognathia



Retrognathia








NASOLARINGOSKOPI STATIK & DINAMIK UNTUK MENENTUKAN LETAK OBSTRUKSI
Multilevel Obstruction In Upper Airway















1. Manuver Muller


Mueller Manuever
Nasofaringoskopi
Menilai basis lidah dan hipertrofi tonsil lingual, obstruksi/massa di daerah laring (supraglotik,
glotik dan subglotik), pergerakan pita suara.
Kolap atau tidaknya retropalatal dan retroglosal selama inspirasi sementara hidung dan mulut
ditutup.
Persentase kolap: 1+ = 0%-25%, 2+ = 26%-50%, 3+ = 51%-75%, 4+ = >75%.


2. Sleep Endoscopy
Sleep Endoscopy merupakan pemeriksaan yang berguna untuk menilai level, derajat dan bentuk
dari OSAS selama pasien tidur.
Penilaian dengan menggunakan Sleep Endoscopy :
a. Paradoxical Respiratory selama Sleep Endoscopy beralangsung +/-
b. Saturasi O2 selama Sleep Endoscopy +/-


Hidung
Hipertrofi Chonca +/-


Stenosis / kolaps ala nasi +/-
















Septum Deviasi +/-



Polip / Massa di Cavum Nasi +/-

Hipertrofi adenoid +/-




Velo-Orofaring





(A) Retropalatal airway with Mller's maneuver.
(B) Retropalatal airway with passive inspiration.
(C) Retroglossal airway with Mller's maneuver.
(D) Retroglossal airway with passive inspiration.

Palatal flutter
'Palatal flutter' is the vibration of the soft palate and uvula
Palatal Floppy










Hipofaring
Epiglotis omega shaped +/-, floppy epiglottis +/-




Stenosis Laringeal Trakeal

Ruggae dinding belakang hipofaring +/-

Lipatan mukosa arytenoid ariepiglotika +/-












Tonsil Lingualis : Hipertrofi ringan / sedang / berat



o lingual tonsil hypertrophy can be asymptomatic, but can be associated with vague
symptoms including sore throat, dysphagia, snoring, globus sensation, and
obstructive sleep apnoea
o a nonproductive chronic cough caused by irritation of the pharynx by the lingual
tonsils may occur
o reported complications include airway obstruction abscess formation, sleep
apnoea, and recurrent epiglottitis and diffficult anaesthetic intubations
lingual tonsil hypertrophy is being increasingly recognized as a cause of
both unexpected difficult intubation and difficult mask ventilation
danger of Lingual tonsil hypertrophy lies in the fact that traditional
preoperative oropharyngeal examination fails to hint at the
difficulties that may be encountered following induction of general
anesthesia and muscle relaxation
in addition, following muscle relaxation lingual tonsils may act as
a 'ball valve' that prohibits antegrade ventilation or insertion of an
endotracheal tube
best way to diagnose lingual tonsillar hypertrophy is through indirect or fiberoptic
laryngoscopy












LARING TANDA LPR
Arytenoid hiperemis, edema +/-
Hipertrofi Komisura Posterior +/-
Obliterasi Plika Ventricularis +/-
Edema Plica Vocalis +/-
LPR +/-


Grade IV:
Hanya Palatum
durum yang
terlihat
PSG-AHI
Polysomnografigold standard untuk diagnosis OSA pada anak :
- Mencatat secara simultan data jantung-paru, elektromyografi dan elektroensefalografi saat tidur.
- Ukur derajat obstruksi jalan napas saat tidur.
- Indeks Apnea-hypopnea(AHI) dihitung dari data
PSG, angka rerata jumlah apnea dan hypopnea tiap jam saat tidur.
Derajat OSA AHI Dewasa AHI Anak
- 0-5 0
Ringan 6-20 1-5
Sedang 21-40 6-10
Berat >40 >10








CPAP

Continuous positive airway pressure (CPAP) therapy uses a machine to help a person who has
obstructive sleep apnea (OSA) breathe more easily during sleep. A CPAP machine increases air
pressure in the throat so your airway does not collapse when you breathe in. You use CPAP at
home every night while you sleep

Skor VAS Mendengkur

--0--------1------2------3------4-----5
0=Tidak mendengkur
5=Sangat mendengkur