Anda di halaman 1dari 22

makalah ini disusun untuk memenuhi tugas tengah semester Agribisnis ternak

perah



Yunita Ratna Sari 115050113111017


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014





BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ketersediaan pakan sepanjang tahun merupakan persyaratan mutlak bagi
kelangsungan usaha peternakan.Biaya untuk menyediakan pakan ini menempati porsi
terbesar dalam biaya produksi, mencapai60-80%.Besarnya biaya tersebutditentukan
oleh jenis danbangsa ternak yang dikembangkan.Ternak ruminansia seperti
sapi,kerbau, domba, dan kambing merupakanternak herbivora yang memiliki sistem
pencernaan yang berbedadengan ternak nonruminansia(unggas dan babi).Sistem
pencernaanternak ruminansia dapat memanfaatkanpakan berserat tinggi.
Oleh karena itu, ternak ruminansia dapat mengkonsumsi pakan hijauan dalam
jumlah yang banyak, sepertivegetasi alami, hijauan introduksi,dan produk samping
pertanian.Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki produk samping
pertanian yang cukup banyakdan tersedia sepanjang tahun.Namun,pemanfatan produk
sampingpertanian tersebut untuk bahan pakanternak ruminansia belum
optimal.Penyebabnya adalah kurangdisukai ternak dan kualitas gizinyarendah,
sementara pakan hijauanlain masih banyak tersedia terutama dari vegetasi alami.
Namun demikian pada musim kemarau, ketersediaan vegetasi alami makin
berkurang sehingga perlu diupayakanpemanfaatan sumber pakanlain seperti produk
samping pertanian.Jerami padi merupakan salahsatu produk samping pertanianyang
tersedia cukup melimpah.Namun,jerami padi tergolong bahanpakan yang berkualitas
rendah, karenakandungan protein kasarnyarendah sementara kandungan seratkasarnya
tinggi.


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diberikan rumusan masalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana sistem pencernaan ternak ruminansia?
2.Bagaimana peran mikroba rumen dalam membantu proses pencernaan ternak
rumiannsia?
3. Bagaimana sistem pemberian pakan ternak ruminansia?
4. Bagaimana cara menyusun ransum ternak ruminansia?

1.3 Tujuan Kegiatan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, berikut adalah tujuan dari kegiatan
praktikum :
1. Untuk mengetahui sistem pencernaan ternak ruminansia.
2. Untuk mengetahui peran mikroba rumen dalam membantu proses pencernaan
ternak rumiannsia.
3. Untuk mengetahui sistem pemberian pakan dan ransum ternak ruminansia.

1.4 Manfaat Kegiatan
Berdasarkan tujuan masalah di atas, berikut adalah manfaat dari kegiatan:
1. Untuk menambah wawasan tentang dunia peternakan khususnya ternak sapi,
kambing dan domba.
2. Untuk menambah semangat kita sebagai generasi penerus bangsa yang kelak
membangun negara Indonesia terutama di bidang peternakan.
3. Untuk dijadikan bahan diskusi atau referansi dalam mempelajari peternakan
khususnya ternak sapi perah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Dilihat dari aspek pakan, budidaya sapi perah menghadapi permasalahan(1)
ketersediaan, (2) kontinyuitas, dan (3) kualitas pakan.Ketersediaan pakan dariwaktu ke waktu
mengalami penurunan, karena banyak lahan tanaman pakan danpertanian mengalami alih
fungsi menjadi areal pemukiman dan industri. DataBadan Pusat Statistik (BPS)
menunjukkan, selama 1995-2005, lahan sawahmengalami penyusutan perluasan dari 8,464
juta hektar menjadi 7,696 juta ataupenurunan 768 ribu hektar (thomas 2009).
Permasalahan kontinyuitas pakan diIndonesia dapat berhubungan dengan musim.Di
musim penghujan produksihijauan pakan berlimpah, sedangkan pada musim kemarau
peternak kekuranganhijauan pakan. Sajimin et al. (2001) melaporkan bahwa produksi BK
hijauanShorgum sp di musim hujan lebih tinggi dibanding dengan produksi di
musimkemarau yaitu 47,2 dan 5,3 g/rumpun/musim. Selain berpengaruh terhadapproduksi,
musim juga berpengaruh terhadap kualitas, sebagai contoh rumput gajahyang dipanen di
musim kemarau mempunyai SK yang relatif tinggi yaitu 23,51%sedangkan pada musim
penghujan hanya 13,47% (elley, 1991)
Suplementasi Zn dapat meningkatan populasi bakteri yang berbahan Aspergillus
oryzae, karena jamur tersebut mampu memanfaatkan O
2
di dalam rumen sehingga keadaan
anaerob bisa optimal, yang menyebabkan meningkatnya populasi mikroba yang hidup.Selain
itu suplementasi Zn dapat memenuhi kebutuhan Zn pada mikrobarumen yang cukup tinggi
yaitu 100-120mg/kg (Hungate, 1966) sehingga dapat mengoptimalkan bakteri dalam
menghasilkan enzim pencernaan dan dapat mencerna pakan yang masuk ke dalam tubuh
dengan lebih maksimal.
Kapasitas dan proses pencernaan secara fermentatif di dalam rumenmemberikan
keuntungan dan sekaligus juga menyebabkan kerugian bagi ternakyang bersangkutan.
Keuntungan pencernaan fermentatif adalah ternak dapatmencerna pakan berkadar serat kasar
tinggi, dapat menampung pakan dalamjumlah besar, dapat mengubah non protein nitrogen
(NPN) seperti urea menjadiprotein berkualitas tinggi, dan produk fermentasi dalam rumen
dapat disalurkanke dalam usus halus dalam bentuk yang mudah dicerna (Sutardi, 1980).

Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter.Hal itu
dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).Enzim selulase
yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam
lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat digunakan
sebagai sumber energi alternatif. Tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum akan
keluar dari tubuh organisme bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang
mengandung bahan organik akan diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).
(pratama 2008)















BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Sistem Pencernaan Ternak Ruminansia
Pencernaan pada ruminansia terjadi didalam mulut dengan proses mastikasi,
kemudian makanan ditelan kedalam lambung (rumen, reticulum, omasum, dan
abomasum). Didalam rumen terjadi fermentasi oleh mikroba secra intensif.
Mikroba pada rumen terdapat bakteri (anaerob-patogen, misalnya :
streptofokus, laktobasilus, bukinvibrio, bakterioides ruminikola). Selain bakteri juga
terdapta protozoa (siliata entodinium, diplodinium, epidinium dan aphry colex dan
flagelata).
Rumen
Bahan makanan seperti amilum, rumput, gula, urea, dan lemak difermentasi
oleh mikroba menjadi VFA dan gas (CH
4
, CO
2
, NH
3
, H
2
5) lalu diserap oleh tubuh.
VFA (volatile fatty alid) adalah asam lemak yang mudah menguap (asam
asetat = 60-70%; asam butirat = 10-15%; asam propionate = 15-20%). Pada rumput
tinggi = asam asetat meningkat dan propionate menurun, pada gula dan karbohidrat =
asam asetat menurun dan propionate meningkat, pada tetes (molasses) = asam asetat
menurun dan butirat meningkat. Kecepatan fermentasi pada gula halus, pada
karbohidrat lobus dan muda pada selulosa tua.
HCl dari abomasum masuk ke rumen, mikroba yang masuk mati (protein
sebagai sumber protein hewan). Dirumen makanan sebagai sumber protein mikroba
akan berubah menjadi vitamin B komplek dengan bantuan Mo dan Co.
Berbeda dengan protein, lemak makanan di dalam rumen diubah menjadi
asam-asam lemak atau gliserol dengan bantuan hidrolisis mikroba, kemudian diubah
menjadi asam propionat dengan difermentasi, lalu sisa lemaknya masuk kedalam
usus.
Usus Kecil/Halus Ruminansia
Pada usus kecil atau halus perjalanan sisa makanan diperlambat di usus kasar,
caecum dan colon bertindak sebagai tempat fermentasi.Isi dalam usus halus dengan
cepat menjadi hiopotonis terhadap plasma (disebsbkan penurunan cepat konsi Na, Cl,
Co
2
, VFA, dan ammonia).Absorpsi air dilakukan di usus besar.
Absorpsi
Absorpsi terdiri dari 2 komponen, yaitu : difusi sederhana (migrasi pasir)
tergantung derajat konstanta zat, berhubungan langsung dengan beda konsentrasi,
ukuran besar, bentuk, muatan listrik, dan polaritas senyawa. Transport aktif melawan
derajat konsentrasi dan memerlukan energi (ATP). Transport aktif meliputi : transport
perantara (kina), difusi terbatas, transport berpenghantar (Mg
++
, Fe
++
), dan pinositosis
(pencaplokan).
Absorbsi Bahan Makanan
Pada bahan makanan terdapat beberapa ketentuan, diantaranya adalah :
glokusa dengan transport aktif, lemak dan protein utuh melalui pembuluh limfe, asam
amino diabsorpsi melalui transport aktif, immune globuline dari kolustrum diserap
utuh dengan pinositosis, gliserol diserap secara transport aktif, monogliserida dan
asam lemak rantai panjang dan micelles melalui difusi sederhana, natrium tergantung
kalium dalam sel, dan Cl, fosfat, Ca transport pasir, Mg, Sr, dan Ba diserap secar
difusi. Besi secara transport aktif diatur oleh Fe dalam sel mikosa dan kemampuan FC
bersenyawa dengan apoferitin membran feritin.
Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari
mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum
terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus.
Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di
tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim. Selulase
yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak selulosa menjadi
asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang
sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat dicernakan untuk
menjadi sumber protein bagi hewan pemamah biak. Dengan demikian, hewan ini
tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada manusia.

Berdasarkan hasil praktikum lapang yang telah saya lakukan serta saya
bandingkan dengan studi literatur, maka saya mendapatkan hasil data lapang sesuai
dengan literatur, yaitu sistem pencernaan ruminansia dimulai dari mulut esophagus
rumen reticulum omasum abomasums usus halus sekum usus besar
rectum anus.

3.2 Peran Mikroba Rumen Dalam Membantu Proses Pencernaan Ternak
Rumiannsia
Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak
jumlahnya.Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa
danfungi.Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangatbermanfaat bagi pencernaan
pakan serat, karena dia membentuk koloni padajaringan selulosa pakan.Rizoid fungi
tumbuh jauh menembus dinding seltanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk
dicerna oleh enzim bakteri rumen.
Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama
yangdigunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan
morfologinya.Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya
sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang
dilaporkanoleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa
(Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus,
Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio
fibrisolvens,Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna
pati(Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d)
bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri
pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).
Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichsyang
mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat
yangfermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar
mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna.
Berdasarkan hasil praktikum lapang yang telah saya lakukan serta saya
bandingkan dengan studi literatur, maka saya mendapatkan hasil data lapang sesuai
dengan literatur, yaitu ada tiga miroba yang terdapat pada rumen, yaitu protozoa,
bakteri, dan fungi. Mikroba ini bekerja menguraikan serat dari hijauan (pakan sapi)
secara fermetasi menjadi nitrogen dan energy kemudian oleh pembuluh darah
bersama O
2
diedarkan ke seluruh tubuh, mikroorganisme rumen untuk
mengkonversisulfat menjadi H
2
S dalam sintesis sistein dan metionin.

3.3 Sistem Pemberian Pakan Ternak Ruminansia
Ransum adalah campuran dua atau lebih bahan makanan yang
memilikikeserasian gizi dan diberikan pada ternak selama 24 jam tanpa
menimbulkanefek pathologis.
Ruminansia secara alamiah memiliki kemampuan mencerna ransum dengan
kualitas rendah, melalui bantuan mikroba yang terdapat dalam alatpencernaan,
ransum tersebut mampu disintesis untuk menghasilkan bahanmakanan bagi induk
semangnya dengan kualitas yang baik. Namundemikian, ransum yang diberikan untuk
usaha penggemukan ruminansia,sebaiknya dipilih dan disusun dari bahan-bahan
makanan berkualitas baikdan diberikan dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan
hidup pokok danproduksi.
Syarat-syarat ransum yang dapat diberikan pada ternak, antara lain :
1. Sesuai dengan kebutuhan yang menunjang penggemukan
2. Mudah diperoleh dengan harga yang murah
3. Memiliki nilai palatabilitas yang tinggi (palatable)
4. Mengandung gizi yang lengkap
5. Memiliki nilai kecernaan yang tinggi.
Kelima syarat tersebut mutlak harus dapat dipenuhi untuk
menghasilkanproduk yang maksimum, kekurangan salah satu atau lebih dari
persyaratantersebut akan berpengaruh terhadap program penggemukan, sehingga
hasilmaksimum yang diharapkan tidak akan dicapai. Secara umum ransum
untukpenggemukan terdiri atas dua kelompok bahan makanan, yaitu hijauan
dankonsentrat.
(1) Hijauan.
Hijauan adalah bahan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dalam
bentuk daun-daunan, kadang-kadang bercampur dengan batang, ranting,
atau pun bunga. Hijauan yang diberikan dapat berupa:




1) Hijauan Segar:
Hijauan yang baru saja diproduksi, tidak disimpan, tidak diberi perlakuan dan
tidak diawetkan. Hijauan segar yang paling umumdiberikan adalah kelompok rumput-
rumputan, baik berupa rumputbudidaya maupun rumput lapangan. Selain kelompok
rumput, nilai gizi hijauan akan lebih baik bila dicampur dengan hijauan yang berasal
darikelompok leguminosa, baik leguminosa pohon (kaliandra, gamal,turi,gayanti,
petai cina, dll), leguminosa rambat (siratro, sentrosema,kalopogonium, desmodium,
dll), atau leguminosa semak (stylo, cayanusatau kacang gede, desmodium atau
jalakan, flemingia atau hahapaan).
2) Silase:
Bahan makanan umumnya dari hijauan yang dihasilkan melaluiproses
fermentasi yang terkontrol dengan kadar air berkisar antara 30-35
persen.
3) Hay:
Hijauan yang sengaja dipotong kemudian dikeringkan sampai kadarair tertentu
dan biasanya disimpan untuk diberikan pada saat-saatkekurangan pakan. Rata-rata
kadar TDN (Total Digestible Nutrient)berkisar antara 45-55 persen dengan kadar serat
kasar berkisar antara25-35 persen.
4) Haylage:
Gabungan setengah hay dan setengah silase dengankandungan bahan kering
sekitar 50 persen.
5) Limbah:
Hasil ikutan pertanian, perkebunan, atau industri yang telahdiambil hasil
utamanya untuk kepentingan manusia.Misalnya, jeramipadi, daun ubi jalar, daun
jagung, pucuk tebu, kulit coklat, bungkil kelapa,tetes, pollar, ampas bir, dll.

(2) Konsentrat.
Konsentrat adalah suatu bahan makanan yang dipergunakan bersamabahan
makanan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhanransum, dengan
kandungan serat kasar rendah (di bawah 18 %), karbohidrattinggi, protein dapat
dimanfaatkan oleh semua ternak, bahan kering relative tinggi (85-95 %) dan
kandungan lemak rendah (10-14 %).
Bahan konsentrat dapat disusun dari kelompok :
1) Biji-bijian yang tergolong rumput-rumputan, misalnya : jagung, sorghum,
oat, atau hasil-hasil ikutannya.
2) Bungkil-bungkilan, misalnya : bungkil kelapa, bungkil kacang tanah,
bungkil kedele, bungkil biji kapuk, dll.
3) Biji-bijian yang tergolong leguminosa, misalnya : kacang tanah, kacang
kedele.
4) Tepung daun-daunan, misalnya : tepung daun lamtoro, tepung alfalfa, dll.
5) Hasil ikutan pabrik, misalnya : tetes, pollar, ampas bir, dll.
Kandungan Protein Kasar dan Energi Konsentrat untuk ProgramPenggemukan
No. Fase Hari ke- Protein Kasar Energi, Kcal
1 Pertama 1 10 14 4000
2 Kedua 11 60 12 13 4000
3 Ketiga 61 75 12 4000

Contoh Komposisi Ransum untuk Penggemukan
No. Bahan makanan Jumlah (%)
1 Onggok 47,00
2 Bungkil kelapa 23,00
3 Pollard 11,50
4 Kulit kopi 16,00
5 Kapur 1,25
6 NaCl 1,00
7 Premix 0,25
Jumlah 100,00

Fase 1, Rekondisi, Hijauan : Konsentrat = 20 : 80
Fase 2, Penggemukan, Hijauan : Konsentrat = 40-30 : 60-70
Fase 3, Finishing, Hijauan : Konsentrat = 70-80 : 30-20
Berdasarkan hasil praktikum lapang yang telah saya lakukan serta saya
bandingkan dengan studi literatur, maka saya mendapatkan hasil data lapang sesuai
dengan literatur, yaitu bahan makanan sapi (ternak ruminansia) berupa hijauan dan
konsentrat. Hijauan dapat berupa hijauan segar, silase, hay, haylage, dan limbah,
sedangkan konsentrat berupa biji-bijian yang tergolong rumput-rumputan, bungkil,
biji-bijian yang tergolong leguminosa, tepung daun-daunan, serta hasil ikutan pabrik
(limbah).
3.4 Cara Menyusun Ransum Ternak Ruminansia
Pembahasan :
1. Pada praktikum Ilmu Nutrisi Ternak Ruminansi, ternak diberikan ransum berupa
hijauan dan konsentrat dengan kadar BK, PK, dan SK :
diberikan (kg) (%) (% BK) (% Bk)
1. Hijauan 1,65 7,22 9,77 26,02
2. Konsentrat 0,33 87,9 16,62 23,87

Perhitungan :
Hijauan Rumput gajah :
Kadar BK = 1,65 x 7,22 = 11,913 Kg ( 7,22% dalam ransum )
Kadar PK = 1,65 x 7,22 x 0,977 = 1,63 Kg ( 9,77% dalam ransum )
Kadar SK = 1,64 x 7,22 x 0,2602 = 3,099 Kg ( 26,02% dalam ransum )
Konsentrat :
Kadar BK = 0,33 x 87,9 = 23,007 Kg ( 87,9% dalam ransum )
Kadar PK = 0,33 x 87,9 x 0,1662 = 4,821 Kg (16,62% dalam ransum )
Kadar SK = = 0,33 x 87,9 x 0,2387 = 6,924 Kg ( 23,87% dalam ransum )


BB
(kg)
Energi
Pakan
(%)
Crude
protein
Kalsium
(%)
Fosfor
(%)
Vitamin
A
aktivitas
Vitamin
E
kegiatan
TDN
(%)
DE
(Mcal/k
ME
(Mcal/k
g) g) (IU/kg) (IU/kg)
30 78 3,3 2,7 15 15,1 0,51 0,24 1,085 15

Tabel diatas diperoleh berdasarkan perhitungan kebutuhan sehari hari ternak.( Tabel
NRC )
Dari table diatas, dapat disimpulkan bahwa kebutuhan PK perhitungan dan
literatur cukup jauh berbeda. Pada Literatur, kebutuhan PK = 15,1 sedangkan perhitungan
adalah 13,195. Oleh karena itu, pemberian konsentrat dan hijauan harus diimbangi.Yang
dimaksud diimbangi ialah dua bahan pakan tersebut saling melengkapi.Bahan pakan yang
kandungan PK tinggi diberikan dalam jumlah lebih sedikit. Hijauan yang diberikan pada
ternak ialah rumput gajah, dengan kandungan nutrisi BK = 16%, PK = 1,8%, LK = 0,5%,
SK = 4,6%, mineral = 2,5%, energi (Mcal) ME = 0,33% ( Kartadisastra, 1995 )
2. Konsumsi BK ransum :
Konsumsi Hijauan = (jumlah pemberian x %BK) (jumlah sisa x %BK)
= 11,913 0,42339
= 11,48916kg
Konsumsi Konsentra t = (jumlah pemberian sisa)
= 29,007 Kg
Dari perhitungan diatas ditemukan perbandingan =
Hijauan : Konsentrat
11,913 : 29,007
1 : 2,4
Dalam perhitungan ini sebenarnya tidak jelas rasionya.Hal tersebut dikarenakan
sisa antara hijauan dan konsentrat bercampur menjadi 1.Oleh karena itu, kami
menganggap bahwa konsentrat tidak tersisa atau habis termakan.
4. BK total ( Hijauan + Konsentrat ) = 40,49
BK totlal ( % dari BB ) = 40,49 / 100 x 33
= 13,3617 % BB
Dari perhitungan diatas dinyatakan bahwa kadar BK dalam 33 Kg BB ialah
13,3617%. Dari perhitungan diatas menunjukan bahwa eratnya hubungan antara daya
cerna dengan konsumsi ialah meningkatkan daya cerna yang menyebebkan
meningkatnya.( Oka, 2005 )
5. Data evaluasi konsumsi pakan yang diperoleh dari hasil pengamatan :
No. sapi BB(Kg) Segar(Kg) BK(Kg) BO(Kg) PK(Kg)
2 33 1,95 40,49 35,73 5,947

Sedangkan data evaluasi kecernaan pakan yang diperoleh dari hasil pengamatan :
No. sapi BB(Kg) Segar(%) BK(%) BO(%) PK(%)
2 33 80 99 97,7 98,7

Bila dibandingkan dengan literatur, menunjukan hasil analisa konsumsi bahan
kering, bahan organik, SK, PK ransum, dan keofisien cerna pada kambing PE yang diberi
ransum mengandung soda kue.Data selengkapnya disajikan pada tabel dibawah ini.
Peubah Pelakuan SEM
A B
Total konsumsi BK (gr) 80,92 71,90
2,16
Total konsumsi Bo (gr) 73,75 64,90
1,96
Total konsumsi SK (gr) 11,37 9,20
0,59
Total konsumsi PK (gr) 10,26 10,80 -
Koef.cerna BK (gr) 87,72 85,49
1,24
Koef.cerna BO (gr) 88,44 86,42
0,97
Koef.cerna SK (gr) 79,51 77,83
2,22
Koef.cerna PK (gr) 85,57 84,68
1,33
Ket = A = Rumput Lapang + 3 % soda kue dalam konsentrat
B = Rumput Lapang + 6 % soda kue dalam konsentrat
SEM = Standart Error of The Treatment Means
6. Retensi Nitrogen ialah pembentukan protein melebihi protein yang digunakan sehingga
menghasilkan pertumbuhan yang maksimal.Evaluasi / pengukuran kecernaan secara in
vivo ialah pengukuran kecernaan / teknik pengukuran kecernaan dengan menggunakan
sejumlah ternak sehingga banyak biaya yang dibutuhkan disamping tenaga untuk
pengumpulan parameter dan pemeliharaan ternak. Teknik in vivo memiliki tingkat akurasi
yang lebih tinggi disbanding teknik lain seperti in vitro dan in sacco, karena sifat
aplikasinya secara langsung (Supardjo, 2008)
Efisiensi ransum sangat dipengaruhi oleh sifat ransum itu sendiri serta potensi produksi
ternaknya. Ransum yang mudah larut dalam rumen akan semakin tidak efisien sebab akan
mudah dihidrolisis oleh cairan mikroba rumen.

Perhitungan
Tabel Analisa Laboratorium dan Evaluasi Kandungan zat Makanan pada Sampe.
Berat Segar
a) Rumput Sisa = 160 gr + 200 gr + 25 gr
= 385
= 385/3 = 128,3 gr
b) Konsentrat Sisa = 160 gr + 200 gr + 25 gr
= 385
= 385/3 = 128,3 gr
c) Feses = 40 gr + 35 gr + 42 gr
= 117 gr
= 117/3 = 39 gr
d) Urine = 26 gr + 23 gr +20 gr
= 69
= 69/3 = 23 gr
Kadar BK Udara (%)
e) Rumput Pemberian = Barat Kering/Berat Segar x 100%
= 140/1650 x 100%
= 8,48%
f) Rumput Sisa = Barat Kering/Berat Segar x 100%
= 54/128,3 x 100%
= 42%
g) Konsentrat Pemberian = Barat Kering/Berat Segar x 100%
= 330/330 x 100%
= 100%
h) Feses =Barat Kering/Berat Segar x 100%
= 12/39 x 100%
= 30,76%

Kadar BK (%) = BK Udara x BK. Oven 60
o
C x BK Oven 100
o
C
i) Rumput Pemberian = 8,48/100 x 89,25/100 x 96,94/100
= 7,22%
j) Rumput Sisa = 42,08/100 x 83,12/100 x 95,55/100
= 33,3%
k) Konsentrat Pemberian = 100/100 x 91,13/100 x 96,52/100
= 87,9%
l) Feses = 30,76/100 x 98,70/100 x 95,77/100
= 29,07%

Tabel Evaluasi Komposis ( Formula ), Kandungan Zat Makanan dan Harga Pakan
a) Kadar BK (Kg) = Pemberian x %BK
< Hijauan > = 1,65 x 7,22
= 11,913 Kg
b) Kadar BO (Kg) Hijauan = Pemberian x % BK x kadar BO pemberian
= 1,65 x 7,22 x 0,8641
= 10,294 Kg
c) Kadar PK (Kg) Hijauan = Pemberian x % BK x kadar PK pemberian
= 1,65 x 7,22 0,0977
= 1,163 Kg
d) Kadar SK (Kg) Hijauan = Pemberian x % BK x kadar SK pemberian
= 1,65 x 7,22 x 0,2602
= 3,099 Kg
Konsentrat :
a) Kadar BK (Kg) = Pemberian x %BK
= 0,33 x 87,9
= 29,007 Kg
b) Kadar BO (Kg) = Pemberian x % BK x kadar BO pemberian
= 0,33 x 87,9 x 0,8771
= 25,442 Kg
c) Kadar PK (Kg) = Pemberian x % BK x kadar PK pemberian
= 0,33 x 87,9 x 0,1662
= 4,821 Kg
d) Kadar SK (Kg) = Pemberian x % BK x kadar SK pemberian
= 0,33 x 87,9 x 0,2387
= 6,924 Kg

Tabel Evaluasi Kecernaan Pakan dan Relensi N
Konsumsi
a) Segar (Kg) = pemberian hijauan + pemberian konsentrat
= 1650 gr + 330 gr
= 1980 gr
= 1,98 Kg
b) BK (Kg) = Kadar BK ( hijauan + konsentrat ) ( sisa pemberian x sisa
kadar BK (%)
= 40,92 ( 1,283 x 0,33 )
= 40,92 0,42339
= 40,49661 Kg
c) BO (Kg) = Kadar BK ( hijauan + konsentrat ) ( sisa pemberian x sisa
kadar BK (%) x sisa kadar Bo ( % BK )
= 35,736 - (1,283 x 0,33 x 0,7965 )
= 35,736 0,337
= 35,399 Kg
d) PK (Kg) = Kadar BK ( hijauan + konsentrat ) ( sisa pemberian x sisa
kadar BK (%) x sisa kadar PK ( % PK )
= 5,984 (1,283 x 0,33 x 0,0877 )
= 5,9472 Kg
Feses
a) Segar = 0,39 Kg
b) Bk ( Kg ) = sisa kadar Bk %
= 0,33 Kg
c) BO ( Kg ) = sisa kadar BO ( % BK )
= 0,7965 Kg
d) PK ( Kg ) = sisa kadar PK ( % BK )
= 0,877 Kg
jumlah total = 2,3935 kg


KECERNAAN
a) BK ( % ) = BK konsumsi Feses/Bk konsumsi x 100%
= 40,49 0,2007/40,49 x 100%
= 99%
b) BO ( % ) = Konsumsi BO Feses/Konsumsi BO x 100%
= 35,73 0,79/35,73 x 100%
= 97,7%
c) PK ( % ) = Konsumsi PK Feses/Konsumsi PK x 100%
= 5,947 0,0765/5,947 x 100%
= 98,7%
Urine :
Retensi N % = Jumlah urine x kadar N x BJ urine
= 23 x 0,37 x 1,0016
= 8,52%


Harga Ransum = 1,65 Kg x Rp 200,-
( Rumput ) = Rp 1980,-

Harga Ransum = 0,33 Kg x Rp 1.700,-
(Konsentrat) = Rp 3.366,-

Harga ( Rp/Kg ransum ) = Rp 1.980,- + Rp 3.366,-/Jumlah ransum ( Kg )
= Rp 5.346,-/1,98
= Rp 2.700,-
Harga ( Rp/Kg BK ransum ) = Rp 1.980,- + Rp 3.366,-/Jumlah BK ransum
= Rp 5.346,-/40,492
= Rp 132,026,-
Berdasarkan pembahasan dan perhitungan di atas, maka dapat diketahui bahwa
kebutuhan hijauan segar adalah 1650 gram, konsentrat adalah 330 gram, BK adalah
40,49661kg, BO adalah 35,399 kg, serta PK adalah 5,9472 Kg. Kemudian menghasilkan
urine sebesar 8,52%, feses total sebesar 2,3935 kg, serta kecernaan 98%, dan harga ransum
total serta harga BK ransum secara berturut turut adalah Rp 2.700,- dan Rp 132,026,




BAB VI
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut :
maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan hijauan segar adalah 1650 gram,
konsentrat adalah 330 gram, BK adalah 40,49661kg, BO adalah 35,399 kg, serta PK adalah
5,9472 Kg. Kemudian menghasilkan urine sebesar 8,52%, feses total sebesar 2,3935 kg, serta
kecernaan 98%, dan harga ransum total serta harga BK ransum secara berturut turut adalah
Rp 2.700,- dan Rp 132,026,



DAFTAR PUSTAKA
Elley, 1991. thomas 2009, sistem pencernaan ruminansia. New Concepts of Cattle
Growth. Sydney University Press, Sydney.
pratama 2008Prosedur Pemotongan Ternak Ruminansia dan non ruminansia, Tim
redaksi IPB, Bogor.
Sutardi, 1980. Nutrisi Ruminansia. Tim Redaksi Kompas.Jakarta.
thomas 2009, sistem pencernaan ruminansia.New Concepts of Cattle
Growth. Sydney University Press, Sydney.




LAMPIRAN
Pencernaan pada ruminansia terjadi didalam mulut dengan proses mastikasi,
kemudian makanan ditelan kedalam lambung (rumen, reticulum, omasum, dan
abomasum). Didalam rumen terjadi fermentasi oleh mikroba secra intensif.
Mikroba pada rumen terdapat bakteri (anaerob-patogen, misalnya :
streptofokus, laktobasilus, bukinvibrio, bakterioides ruminikola). Selain bakteri juga
terdapta protozoa (siliata entodinium, diplodinium, epidinium dan aphry colex dan
flagelata).
Bolus akan Jimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari
mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum
terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus.
Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di
tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim. Selulase
yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak selulosa menjadi
asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang
sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat dicernakan untuk
menjadi sumber protein bagi hewan pemamah biak. Dengan demikian, hewan ini
tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada manusia.

Kandungan Protein Kasar dan Energi Konsentrat untuk ProgramPenggemukan
No. Fase Hari ke- Protein Kasar Energi, Kcal
1 Pertama 2 10 14 4000
2 Kedua 11 60 12 13 4000
3 Ketiga 61 75 12 4000

Contoh Komposisi Ransum untuk Penggemukan
No. Bahan makanan Jumlah (%)
1 Onggok 47,00
2 Bungkil kelapa 23,00
3 Pollard 11,50
4 Kulit kopi 16,00
5 Kapur 1,25
6 NaCl 1,00
7 Premix 0,25
Jumlah 100,00

Fase 1, Rekondisi, Hijauan : Konsentrat = 20 : 80
Fase 2, Penggemukan, Hijauan : Konsentrat = 40-30 : 60-70
Fase 3, Finishing, Hijauan : Konsentrat = 70-80 : 30-20