Anda di halaman 1dari 28

1

TUGAS KELOMPOK

OBSTETRI FISIOLOGI
The Endometrium and Decidua: Pregnancy



DISUSUN OLEH :
Kelompok 3

RAHMAH FITRIA (1320332018)
YULI IRAWATI (1320332026)
SIRLII DIANA (1320332038)
SRI SARTIKA SARI DEWI (1320332054)

Dosen MK :
Dr.dr.Joserizal Serudji, SpOG(K)
dr. Yusrawati, SpOG(K)


MAGISTER KEBIDANAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ANDALAS PADANG
TAHUN 2014


2

KATA PENGANTAR


Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
nikmat dan kasih sayang-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini
tepat pada waktunya.
Dalam pembuatan makalah ini penulis mendapat bantuan berbagai pihak,
untuk itu penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua yang telah memberi
dukungan sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, untuk itu
saran dan kritik dari pembaca sangat penulis harapakan demi kesempurnaan
makalah selanjutnya.
Akhir kata, penulis berharap makalah ini dapat memberikan manfaat
kepada pihak-pihak yang memerlukan.

Padang, September 2014


Penulis












3

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 3
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. 4
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 5
1.1 Latar Belakang .............................................................................................. 5
1.2 Tujuan ........................................................................................................... 6
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 7
2.1 The Endometrium.......................................................................................... 7
2.1.1 Pengertian Endometrium ........................................................................ 7
2.1.2 Anatomi dan fisiologi ............................................................................. 8
2.1.3 Jaringan Maternal Pada Sistem Komunikasi Feto-Maternal .................. 9
2.1.4 Fungsi Utama Uterus ........................................................................... 10
2.1.5 Fungsi Endometrium ............................................................................ 10
2.1.6 Efek Estrogen ....................................................................................... 11
2.1.7 Efek Progesteron .................................................................................. 12
2.2 Desidua ........................................................................................................ 13
2.2.1 Definisi ................................................................................................. 13
2.2.2 Struktur Desidua .................................................................................. 13
2.2.3 Reaksi Desidua ..................................................................................... 15
2.2.4 Pendarahan Desidua ............................................................................. 15
2.2.5 Histologi Desidua ................................................................................. 16
2.2.6 Penuaan Desidua .................................................................................. 17
2.2.7 Prolaktin Dalam Desidua ..................................................................... 18
2.2.8 Fungsi Khusus Desidua ....................................................................... 19
2.3 Persiapan Endometrium untuk Implantasi ................................................. 20
2.3.1 Siklus Haid ........................................................................................... 20
2.3.2 Siklus dengan Implantasi ..................................................................... 21
2.3.3 Reaksi Desidua ..................................................................................... 22
2.4 Akomodasi Kehamilan Adalah Fungsi Utama Endometrium/Desidua ...... 23
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 27


4

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Pembuluh Darah Endometrium ................................................. 9
Gambar 2.2 Lapisan Endometrium ............................................................... 9

Gambar 2.3 Endometrium yang mengalami desidualisasi ............................ 14
Gambar 2.4 Pengendalian siklus ovarium dan endometrium oleh
gonadotropin ............................................................................. 20

Gambar 2.5 Siklus dengan Menstruasi.......................................................... 21
Gambar 2.6 Siklus dengan Implantasi .......................................................... 25





















5

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Menurut kamus bahasa inggris Oxford, kata obstetric diartikan sebagai suatu
cabang ilmu kedokteran yang menangani masalah kelahiran bayi, perawatan dan
penatalaksanaan ibu sebelum dan setelah kelahiran. Dalam pengertian yang
serupa, obstetric berkenaan dengan reproduksi manusia.
Sistem reproduksi tidak bertujuan untuk survival individu, tetapi diperlukan
untuk survival species dan berdampak pada kehidupan seseorang. Hanya melalui
sistem reproduksi, blueprint genetik kompleks setiap spesies dapat bertahan di
dunia ini. Meskipun sistem reproduksi tidak berkontribusi pada homeostasis dan
tidak penting untuk bertahan hidup seseorang seperti halnya sistem
kardiovaskuler, tetapi ia berperan penting dalam kehidupan seseorang.
Fungsi reproduksi juga berdampak pada masyarakat. Organisasi
kemasyarakatan membentuk unit yang membentuk lingkungan yang stabil dan
kondusif untuk kehidupan spesies. Permasalahan yang dapat terjadi antara lain
ledakan populasi yang perlu mendapatkan perhatian sehubungan dengan
keterbatasan dunia ini dalam menampung dan memfasililtasi makhluk hidup.
Semua ahli obstetric harus memahami proses biologis dasar reproduksi yang
diperlukan agar seorang perempuan dapat hamil. Maka dari itu., makalah ini akan
membahas tentang The Endometrium and Decidua: Pregnancy yaitu mempelajari
tentang bagaimana fisiologi kehamilan terutama pada fisiologi endometrium dan
desidua masa kehamilan.










6

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui tentang The Endometrium and Decidua: Pregnancy

1.2.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui tentang Fisiologi Endometrium saat Kehamilan
2. Mengetahui tentang Fisologi Desidua saat Kehamilan























7

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 The Endometrium
Uterus bersifat dinamis. Uterus tidak hanya memberi respon dan
mengalami perubahan-perubahan yang sensitif terhadap sinyalcsinyal hormonal
klasik (kejadian endokrin dalam siklus menstruasi) tetapi juga terdiri dari jaringan
yang kompleks, dengan fungsi autokrin dan parakrin penting yang melayani tidak
hanya uterus tetapi jika jaringan kontinyu dari unit fetoplasenter selama
kehamilan. Komponen uterus yang paling dinamis adalah endometrium.
Desidu-endometrium merupakan lokasi anatomis tempat mendekatnya dan
melekatnya blastokista serta perkembangan plasenta. Dasi sudut pandang ovulasi,
endometrium manusia telah sangat berkembang untuk mengakomodasi implantasi
endometrial dan plasentasi tipe hemokarial.

2.1.1 Pengertian Endometrium
Endometrium adalah lapisan epitel yang melapisi rongga rahim.
Permukaannya terdiri atas selapis sel kolumnar yang bersilia dengan kelenjar
sekresi mukosa rahim yang berbentuk invaginasi kedalam stroma selular.
Endometrium/ desidua merupakan lokasi anatomis terjadinya aposisi dan
implantasi blastokista serta perkembangan plasenta. Endometrium adalah lapisan
mukosa rongga uterus sedangkan desidua adalah endometrium pada kehamilan
yang mengalami modifikasi khusus. Dari sudut pandang evolusioner,
endometrium manusia mengalami perkembangan sempurna untuk
mengakomodasi tipe plasentasi hemokorioendotel. Perkembangan endometrium
yang setara dengan yang terdapat pada wanita, yaitu dengan arteri-arteri spiralis
khusus (yang menyerupai kumparan)- terbatas hanya pada primata jenis
catarrhine-misalnya manusia, kera besar, dan monyet Old World. Saat implantasi
dan pembentukan plasenta, trofoblas blastokista menginvasi arteri-arteri
endometrium ini untuk membentuk pembuluh-pembuluh uteroplasenta.
8

Primata catarrhine adalah satu-satunya jenis mamalia yang mengalami
menstruasi, suatu proses lepasnya jaringan endometrium disertai perdarahan yang
bergantung pada perubahan-perubahan dalam aliran darah arteri spiralis yang
dipengaruhi oleh hormon steroid. Pada siklus ovulasi nonfertil, menstruasi
mengakibatkan deskuamasi endometrium. Pertumbuhan dan perkembangan
endometrium baru harus dimulai di setiap awal siklus sehingga pematangan
endometrium sedikit banyak bersamaan dengan kesempatan kehamilan
(implantasi) berikutnya. Pada manusia, tampaknya kemampuan endometrium
menerima implantasi blastokista berlangsung dalam waktu yang relatif singkat
yaitu sekitar hari ke-20 sampai 24 daur menstruasi.

2.1.2 Anatomi dan fisiologi
Endometrium terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan fungsional letaknya
superfisial yang akan mengelupas setiap bulan dan lapisan basal yaitu tempat
lapisan fungsional berasal yang tidak ikut mengelupas. Epitel lapisan fungsional
menunjukkan perubahan proliferasi yang aktif setelah periode haid sampai terjadi
ovulasi, kemudian kelenjar endometrium mengalami fase sekresi.

Vaskularisasi Endometrium :
Arteri spiralis bergelung di endometrium dan desidua
Arteri yg berbentuk spiral atau bergelung pada endometrium manusia
berasal dari arteri arkuata yg merupakan cabang dari pembuluh-pembuluh
uterus.
Perubahan aliran darah arteri spiralis endometrium
Endometrium mendapat darah dari dua jenis pembuluh yaitu :
Arteri lurus yang memperdarahi 1/3 basal endometrium
Arteri berbentuk kumparan atau spiral (ikal), yang memperdarahi
2/3 jaringan superfisial
9


Gambar 2.1
Pembuluh Darah Endometrium



Gambar 2.2
Endometrium terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan fungsional dan basal

2.1.3 Jaringan Maternal Pada Sistem Komunikasi Feto-Maternal
Kontak langsung sel-ke-sel antara blastokista dan endometrium ibu
pertama kali terjadi 6 hari setelah fertilisasi ovum. Pada saat ini, blastokista
berkontak dengan epitel permukaan endometrium, suatu proses yang disebut
aposisi "blastokista". Untuk sesaat, epitel permukaan endometrium merupakan
satu-satunya jaringan maternal yang berkontak langsung dengan blastokista; tetapi
bahkan pada saat itu, telah terjadi proses-proses biologis di antara keduanya.
Segera setelah aposisi tersebut, blastokista melekat ke endometrium, dan proses
implantasi dimulai. Dengan cepat terbentuk komponen-komponen dasar dari
10

penerimaan konseptus secara imunologis, pengenalan ibu terhadap kehamilan,
perkembangan plasenta, pemeliharaan kehamilan, dan nutrisi janin.

2.1.4 Fungsi Utama Uterus
Secara biologis, fungsi uterus yang paling bermanfaat adalah akomodasi
konseptus (kehamilan). Di luar kehamilan, endometrium atau miometrium tidak
diketahui memiliki fungsi endokrin atau fisiologis lain yang dapat mempengaruhi
homeostasis metabolik atau kesejahteraan fisik wanita yang bersangkutan. Tidak
terdapat bukti bahwa tindakan pengangkatan sederhana miometrium,
endometrium, dan serviks (histerektomi) dapat menurunkan rentang harapan
hidup atau keseluruhan kondisi kesehatan wanita yang bersangkutan.

2.1.5 Fungsi Endometrium
Pertumbuhan dan karakteristik fungsi endometrium manusia adalah suatu
hal yang unik. Pada wanita usia subur, sel-sel epitel (kelenjar), sel-sel stroma
(mesenkim), dan pembuluh darah endometrium mengalami replikasi secara siklis
dengan kecepatan tinggi. Endometrium mengalami regenerasi pada setiap daur
endometrium (ovarium-menstruasi). Dua pertiga superfisial dari keseluruhan
endometrium dilepaskan dan rata-rata sebagian besar wanita mengalami
regenerasi hampir 500 kali selama usia subur.
Pada manusia tidak ada lagi contoh lain terjadinya pengelupasan dan
regenerasi seluruh jaringan yang berlangsung secara siklis. Untuk memandang
menstruasi berulang ini pada tempatnya, perlu disadari bahwa pengeluaran darah
kumulatif seumur hidup yang berkaitan dengan pelepasan endometrium adalah 10
sampai 20 liter atau lebih, yaitu jumlah darah yang mengandung paling sedikit
tiga kali total kandungan besi tubuh seorang wanita dewasa rata-rata.
Produksi kumulatif progesteron selama masa subur 38 tahun oleh korpus
luteum dan plasenta pada wanita yang memilih dua kali hamil tetapi mengalami
450 kali siklus ovarium nonfertil adalah sekitar 150.000 mg (150 g), yang setara
dengan jumlah kumulatif kortisol yang dikeluarkan oleh korteks adrenal selama
38 tahun yang sama. Investasi luar biasa dalam pertumbuhan jaringan
11

endometrium ini menjamin pembaruan stratum fungsionale secara teratur sebagai
persiapan untuk kesempatan kehamilan berikutnya.

2.1.6 Efek Estrogen
Estradiol-17, estrogen alami yang disekresi oleh sel-sel granulosa folikel
ovarium dominan dan secara biologis poten, bekerja meningkatkan respons
endometrium seperti cara kerja hormon steroid yang klasik. Dengan menggunakan
estrogen yang memiliki radioaktivitas spesifik tinggi, Jensen dan Jacobson (1962)
membuktikan bahwa estradiol-17 yang tidak dimetabolisasi (diberi label
radioaktif) diisolasi di jaringan-jaringan peka-estrogen, terutama uterus. Temuan
riset ini menandai dimulainya era studi kontemporer tentang mekanisme kerja
steroid melalui protein reseptor steroid spesifik.
Estradiol-17 masuk ke dalam sel dari darah melalui proses difusi
sederhana; tetapi pada sel-sel peka-estrogen, estradiol-17 diisolasi dengan cara
berikatan ke molekul protein-reseptor estrogen. Reseptor ini adalah suatu
makromolekul yang memiliki afinitas tinggi, tetapi rendah dalam kapasitas,
terhadap estradiol-17 dan estrogen (sintetik) lain yang aktif secara biologis.
Kompleks reseptor estradiol-17, setelah mengalami perubahan bentuk,
merupakan suatu faktor transkripsi yang kemudian berikatan dengan elemen peka-
estrogen dari gen-gen tertentu.
Interaksi ini menyebabkan terjadinya transkripsi gen yang dipicu oleh
reseptor estrogen, yang mendorong sintesis RNA messenger spesifik dan
selanjutnya sintesis protein spesifik. Di antara beragam protein yang disintesis di
sebagian besar sel peka-estrogen adalah reseptor estrogen tambahan dan
makromolekul lain yang memiliki afinitas tinggi terhadap progesteron (reseptor
progesteron). Dengan demikian, estradiol-17 bekerja di endometrium dan di
jaringan peka-estrogen lainnya untuk semakin meningkatkan kerja estrogen dan
meningkatkan responsivitas jaringan tersebut terhadap progesteron.
Sel-sel epitel (kelenjar) endometrium merupakan sel peka estrogen, tetapi
tidak selalu bereplikasi sebagai akibat langsung dari kerja estradiol-17 pada sel
epitel. Estrogen, bila diberikan kepada wanita yang telah dikastrasi atau pascai
menopause, dapat meningkatkan pertumbuhan endometrium, terutama sel-sel
12

epitel kelenjar. Namun, secara in vitro, penambahan estrogen ke dalam medium
biakan tidak banyak meningkatkan replikasi sel-sel epitel endometrium manusia
(kalaupun hal ini terjadi). Tampaknya, estradiol-17 dan estrogen bioaktif lainnya
in vivo menyebabkan replikasi endometrium secara tidak langsung (mungkin
melalui efek pada sel-sel stroma). Diperkirakan bahwa estrogen bekerja pada sel
stroma endometrium untuk meningkatkan sintesis suatu faktor pertumbuhan sel
epitel endometrium, yang berfungsi secara parakrin untuk menyebabkan replikasi
sel-sel epitel di sekitamya. Mekanisme ini tampaknya sering terjadi dalam
interaksi epitel-mesenkim pada jaringan- jaringan yang peka-hormon.

2.1.7 Efek Progesteron
Hormon ini juga masuk ke dalam sel melalui proses difusi dan pada
jaringan yang peka akan berikatan dengan reseptor progesteron yang berafinitas
tinggi, tetapi berkapasitas rendah, untuk progestin. Umumnya kandungan reseptor
progesteron dalam sel bergantung pada kerja estrogen sebelumnya. Kompleks
progesteron-reseptor juga mendukung proses transkripsi gen, tetapi respons
terhadap progesteron sangat berbeda dari respons yang dipicu oleh kompleks
reseptor estrogen estradiol-17.
Kerja progesteron antara lain menurunkan sintesis molekul reseptor
estrogen (Tseng dan Gurpide, 1975). Ini adalah salah satu cara progesteron (dan
progestin sintetik) untuk melemahkan kerja estrogen. Tseng dan Gurpide (1974)
juga menemukan bahwa progesteron bekerja untuk meningkatkan kecepatan
inaktivasi enzimatik estradiol-17 melalui peningkatan aktivitas enzim estradiol
dehidrogenase. Progesteron juga bekerja meningkatkan sulfurilasi estrogen
(estrogen sulfotransferase), yaitu cara lain untuk menginaktifkan estrogen (Tseng
dan Liu, 1981).
Hormon-hormon steroid juga mungkin bekerja melalui mekanisme di luar
proses genomik yang diperantarai oleh reseptor seperti yang baru dijelaskan.
Sebagai contoh, progesteron dan sebagian metabolitnya memicu respons biologis
(selular) yang mencolok melalui proses-proses nongenomik dan tanpa perantara
reseptor.

13

2.2 Desidua
2.2.1 Definisi
Desidua merupakan endometrium yang sangat khusus dan telah
dimodifikasi untuk kehamilan dan memiliki fungsi plasentasi hemokorial. Fungsi
yang terakhir ini memiliki fungsi plasentasi hemokorial. Fungsi yang terakhir ini
memiliki kesamaan dengan proses invasi trofoblas, dan berbagai penelitian telah
dilakukan untuk menyelidiki interaksi antara sel-sel desidua dan trofoblas yang
menginvasi. Desidualisasi transformasi endometrium sekretorik menjadi desidua
bergantung pada estrogen, progesterone dan faktor-faktor yang dieksresikan oleh
blastokista yang berimplantasi. Hubungan khusus antara desidua dan trofoblas
yang menginvasi ini tampaknya menentang hukum imunologi transplantasi.
Desidua adalah endometrium yang mengalami spesialisasi pada
kehamilan. Komunikasi biokimiawi antara unit feto-plasenter dan ibu harus
berlangsung timbal balik melalui desisua. Pandangan klasik mengenai desidua
menggambarkan desidua sebagai lapisan tipis dalam diagram anatomis, suatu
komponen struktural minor yang inaktif. Sekarang kita tahu bahwa desidua adalah
jaringan yang sangat aktif.

2.2.2 Struktur Desidua
William Hunter, seorang ginekolog Inggris abad ke-19, memberikan
penjelasan ilmiah pertama tentang membrana desidua. Menurut Damjanov (1985),
istilah ini diciptakan dengan memperhatikan kaidah logika formal yang diterapkan
dalam penulisan ilmiah-membrana, menunjukkan gambaran makroskopiknya,
sedangkan kata sifatnya desidua, ditambahkan dengan analog daun deciduous
(berguguran) untuk menunjukkan sifatnya yang sesaat dan kenyataan bahwa
lapisan ini akan rontok/terlepas dari uterus setelah persalinan. Wewer dkk. (1985)
mengajukan bukti bahwa desidua memang dapat dikualifikasikan sebagai
membran, tidak hanya karena gambaran makroskopiknya tetapi juga karena
mengandung sebagian besar komponen membran basal.
Lebih lanjut, setiap sel desidua matang akan dikelilingi oleh suatu selaput
yaitu membran perisel. Dengan demikian, sel-sel desidua jelas membentuk
dinding yang mengelilingi diri mereka masing- masing dan mungkin mengelilingi
14

janin juga. Bahkan, matriks perisel yang mengelilingi sel desidua mungkin
menjadi tempat melekatnya sitotrofoblas melalui molekul-molekul adhesi sel
dengan bertindak sebagai perancah tempat melekatnya trofoblas. Membran sel
desidua perisel juga mungkin memberi perlindungan bagi sel desidua dari efek
proteinase sitotrofoblas.

Gambar 2.3
Endometrium yang mengalami desidualisasi membungkus embrio muda.
Digambarkan pula tiga bagian desidua (basalis, kapsularis dam parietalis)

Desidua diklasifikasikan menjadi tiga bahan menurut lokasi anatominya. Desidua
yang terletak tepat dibawah implantasi blastokista dimodifikasi oleh invasi
trofoblas dan menjadi desidua basalis. Desidua kapsularis melapisi blastokista
yang membesar dan pada awalnya memisahkan blastokista dari sisa kavitas.
Bagian ini paling menonjol selama bulan kedua kehamilan, terdiri atas sel-sel
desidua yang ditutupi oleh lapisan tunggal sel epitel yang memipih. Dibagian
dalam, desidua kapsularis berhubungan dengan membran janin ekstraembrionik
avaskular chorion leave. Sisa uterus dilapisi oleh desidua parietalis kadang-
kadang disebut desidua vera, bila merupakan gabungan dari desidua kapsularis
dan parietalis.
Sewaktu kahamilan dini, terdapat ruang antara desidua kapsularis dan
parietalis karena kantong gestasi tidak memenuhi seluruh kavitas uteri. Saat
minggu ke-14 hingga 16, perluasan kantong gestasi telah cukup besar untuk
sepenuhnya mengisi kavitas uteri. Dengan penyatuan desidua kapsularis dan
15

parietalis, kavitas uteri mengalami gangguan fungsional. Pada kehamilan dini,
desidua mulai menebal, akhirnya mencapai ketebalan 5 hingga 10 mm. Dengan
pembesaran. dapat terlihat terowongan dan banyak lubang-lubang kecil yang
merupakan muara kelenjar uteri. Pada kehamilan lanjut, desidua akan menipis,
mungkin karena tekanan yang diberikan oleh isi rahim yang meluas.
Desidua parietalis dan basalis, seperti halnya endometrium sekretorik,
terdiri atas tiga lapisan. Lapisan pertama yang terletak diperlukaan merupakan
zona padat zona kompakta, bagian tengah atau bagian berongga-zona spongiosa-
dengan sisa kelenjar dan banyak pembuluh darah kecil, serta lapisan basal-zona
basalis. Zona kompakta dan spongiosa bersama membentuk zona fungsionalis.
Zona basalis tertinggal setelah pelahiran dan akan membentuk endometrium baru.

2.2.3 Reaksi Desidua
Pada kehamilan manusia, reaksi desidua dianggap tuntas hanya dengan
implantasi blastokista. Namun, perubahan-perubahan pradesidua yang mula-mula
terjadi di sel stroma endometrium yang berdekatan dengan arteriol dan arteri
spiralis, kemudian meluas bergelombang-gelombang ke seluruh mukosa uterus
dan kemudian dari tempat implantasi. Sel-sel stroma endometrium membesar
untuk membentuk sel desidua yang poligonal atau bulat. Inti sel menjadi bulat dan
vesikular, dan sitoplasma menjadi jernih, agak basofilik, dan dikelilingi oleh suatu
selaput bening.
Setiap sel desidua matur dikelilingi oleh membran translusen. Dengan
demikian, sel desidua manusia jelas membentuk dinding di sekitar diri mereka
sendiri dan kemungkinan mengelilingi janin. Matriks periselular yang
mengelilingi sel desidua membuat sitotrofoblas dapat melekat padanya melalui
molekul adhesi selular. Membran sel juga dapat melindungi sel desidua terhadap
protease sitotrofoblastik tertentu.

2.2.4 Pendarahan Desidua
Pendarahan desidua berubah sebagai konsekuensi dari implantasi. Pasokan
darah ke desidua kapsularis lenyap seiring dengan membesarnya mudigah-janin
dan ekspansinya memenuhi rongga uterus. Suplai darah ke desidua parietalis
16

melalui arteri spiralis tetap ada, seperti pada fase luteal siklus endometrium. Arteri
spiralis pada desidua parietalis mempertahankan dinding otot polos dan
endotelnya sehingga tetap responsif terhadap zat-zat vasoaktif yang bekerja pada
otot polos atau sel endotel pembuluh ini.
Namun, sistem arteri (spiralis) yang memperdarahi desidua basalis yang
terletak tepat di bawah implantasi blastokista hingga ruang antarvilus yang
mengelilingi sinsitiotrofoblas akan mengalami banyak perubahan. Arteri dan
arteriol spiralis ini diinvasi oleh sitotrofoblas; selama proses ini, dinding
pembuluh akan dirusak, meninggalkan hanya suatu selubung tanpa otot polos atau
sel endotel. Akibatnya, pembuluh darah maternal iniyang kini menjadi
pembuluh uteroplasentamenjadi tidak responsif terhadap zat-zat vasoaktif.
Sebaliknya, pembuluh korionik janin, yang mengangkut darah dari plasenta ke
janin, mengandung otot polos dan berespons terhadap zat vasoaktif, seperti halnya
arteri spiralis ibu.

2.2.5 Histologi Desidua
Stratum kompaktum desidua terdiri dari sel-sel epitelioid, poligonal,
berwama muda dan berinti bulat vesikular yang besar dan tersusun rapat. Banyak
sel stroma terlihat seperti stelata/ berbentuk bintang (terutama apabila desidua
mengalami edema) dengan tonjolan-tonjolan panjang sitoplasma yang
beranastomosis dengan tonjolan-tonjolan sel di dekatnya. Juga terdapat banyak sel
bulat kecil, yang sitoplasmanya sangat sedikit, tersebar di antara sel desidua,
terutama pada awal kehamilan. Sel-sel ini adalah limfosit natural-killer tipe
khusus yang disebut sebagai limfosit granular besar uterus. Sel-sel ini berasal dari
sumsum tulang yang pada suatu saat masuk ke endometrium dari darah perifer;
tetapi sesudah itu, limfosit-limfosit granular besar ini terbentuk terutama melalui
replikasi in situ di endometrium pada waktu-waktu tertentu dalam siklus.
Pada awal kehamilan, stratum spongiosum desidua terdiri dari kelenjar-
kelenjar besar yang mengalami peregangan dan sering memperlihatkan
hiperplasia yang jelas tetapi hanya dipisahkan oleh sedikit stroma. Mula-mula
kelenjar dilapisi oleh epitel silindris khas uterus dengan aktivitas sekretorik yang
besar. Diperkirakan sekresi kelenjar ini ikut berperan dalam pemberian makan
17

blastokista selama fase histotrofiknya, sebelum sirkulasi plasenta terbentuk.
Seiring dengan kemajuan kehamilan, epitel secara bertahap menjadi kuboid atau
bahkan menggepeng, kemudian mengalami degenerasi dan terlepas ke dalam
lumen kelenjar. Pada kehamilan tahap akhir, unsur-unsur kelenjar desidua
umumnya sudah lenyap.
Dengan membandingkan desidua parietalis pada usia gestasi 16 minggu
dengan endometrium fase proliferatif dini pada wanita tidak hamil, tampak jelas
bahwa terjadi hipertrofi mencolok tetapi hanya sedikit hiperplasia dari stroma
endometrium selama transformasi desidua.
Desidua basalis ikut serta dalam membentuk lempeng basal (basal plate)
plasenta, dan secara histologis berbeda dari desidua parietalis dalam dua aspek
penting. Pertama, stratum spongiosum desidua basalis terutama terdiri dari arteri
dan vena yang melebar; dan pada kehamilan aterm kelenjar hampir lenyap sama
sekali. Kedua, desidua basalis mengalami invasi oleh sel trofoblastik raksasa yang
muncul pada saat implantasi.
Jumlah dan kedalaman penetrasi sel raksasa ke endometrium sangat
bervariasi. Walaupun secara umum terbatas pada desidua, sel-sel ini dapat
menembus miometrium. Pada keadaan seperti ini, jumlah dan daya invasi sel-sel
ini mungkin sedemikian hebat sehingga memberi gambaran koriokarsinoma bagi
pengamat yang kurang berpengalaman.

2.2.6 Penuaan Desidua
Di tempat trofoblas bertemu dengan desidua, terbentuk suatu zona degenerasi
fibrinolitik yang disebut lapisan Nitabuch. Apabila terdapat kelainan pada
desidua, seperti pada plasenta akreta, lapisan Nitabuch biasanya tidak ditemukan.
Juga terdapat pengendapan fibrin yang tidak konstan, stria Rohr, di dasar ruang
antarvilus dan di sekeliling vilus pengikat. McCombs dan Craig (1964)
mendapatkan bahwa nekrosis desidua merupakan suatu fenomena normal pada
trimester pertama dan juga mungkin trimester kedua. Dengan demikian, adanya
desidua nekrotik yang diperoleh melalui kuretase setelah abortus spontan pada
trimester pertama tidak harus diinterpretasikan sebagai suatu kausa atau akibat
dari abortus.
18

2.2.7 Prolaktin Dalam Desidua
Riddick dkk. (1979) serta Golander dkk. (1978) menyajikan bukti-bukti
meyakinkan bahwa desidua merupakan sumber prolaktin, yang terdapat dalam
jumlah besar di dalam cairan amnion selama kehamilan manusia. Prolaktin
desidua jangan dicampuradukkan dengan laktogen plasenta (hPL), yang
diproduksi hanya oleh sinsitiotrofoblas. Prolaktin desidua adalah produk dari gen
yang sama yang mengkode prolaktin yang dikeluarkan oleh hipofisis anterior.
Kadar prolaktin dalam cairan amnion selama usia kehamilan 20 sampai 24
minggu dapat mencapai 10.000 ng per ml (Tyson dkk., 1972). Seperti dijelaskan
pada , konsentrasi prolaktin dalam cairan amnion sangat tinggi bila dibandingkan
dengan kadar tertinggi prolaktin pada janin (sampai sekitar 350 ng/ml) atau
plasma ibu (sampai sekitar 150 atau 200 ng/ml). Prolaktin yang dihasilkan di
desidua biasanya masuk ke dalam cairan amnion dan hanya sedikit atau tidak ada
yang masuk ke darah ibu. Ini adalah contoh klasik lalulintas molekul yang aneh
antara jaringan ibu dan janin pada sisi parakrin sistem komunikasi janin- ibu.
Faktor-faktor yang mengendalikan sekresi prolaktin di desidua masih
belum dapat dipastikan. Sebagian besar zat yang diketahui berpengaruh, secara
negatif atau positif, terhadap kecepatan sekresi prolaktin oleh hipofisis anterior
misalnya dopamin dan agonis dopamin serta thyrotropin-releasing hormone
tidak mengubah kecepatan sekresi prolaktin oleh desidua (baik in vivo maupun in
vitro). Brosens dkk. (2000) membuktikan bahwa progestin (yaitu,
medroksiprogesteron asetat) bekerja secara sinergis dengan AMP siklik pada sel
stroma endometrium dalam biakan untuk meningkatkan ekspresi prolaktin.
Temuan para peneliti ini menunjukkan bahwa proses desidualisasi, seperti
ditandai oleh produksi prolaktin, ditentukan oleh kadar reseptor progesteron.
Dilaporkan bahwa asam arakidonat, bukan PGF
2
atau PGE
2

memperlemah kecepatan sekresi prolaktin oleh desidua (Handwerger dkk., 1981).
Selain itu, berbagai sitokin, termasuk interleukin-1 dan interleukin-2, bekerja
untuk menurunkan sekresi prolaktin oleh desidua, demikian juga endotelin-1
(Chao dkk., 1994; Frank dkk., 1995; Kanda dkk., 1999). Blithe dkk. (1991)
mendapatkan bahwa molekul "alfa bebas" merangsang sintesis prolaktin dan
sekresi prolaktin oleh sel desidua manusia. Yang dimaksud dengan alfa "bebas"
19

adalah subunit-a dari beberapa hormon glikoprotein termasuk hCG, follicle-
stimulating hormone (FSH), luteinizing hormone (LH), dan thyroid-stimulating
hormone (TSH). Plasenta menghasilkan subunit-a bebas, dan kadar subunit-a
bebas dalam darah ibu meningkat seiring dengan kemajuan kehamilan. Hal ini
sebagian disebabkan karena sintesis subunit-P hCG (bukan subunit-a) membatasi
pembentukan hCG lengkap di sinsitiotrofoblas.
Peran fisiologis prolaktin yang dihasilkan oleh desidua tidak diketahui.
Karena semua (atau hampir semua) prolaktin yang diproduksi oleh desidua masuk
ke dalam cairan amnion, beredar spekulasi bahwa hormon ini mungkin berperan
dalam transpor air dan zat terlarut menembus korio-amnion, sehingga hormon ini
berperan dalam pemeliharaan homeostasis volume cairan amnion. Namun, telah
dibuktikan juga bahwa reseptor prolaktin terdapat di sejumlah sel imun yang
berasal dari sumsum tulang, dan bahwa prolaktin bekerja pada sel tulang untuk
memodifikasi beberapa fungsi imun (Pellegrini dkk., 1992).
Ingatlah bahwa banyak limfosit yang berasal dari sumsum tulang dijumpai
di endometrium dan desidua sepanjang kehamilan, dan fungsi sel-sel imun ini
mengalami cukup banyak modifikasi pada jaringan ini. Dengan demikian,
prolaktin yang dihasilkan di desidua mungkin berfungsi mengendalikan fungsi
imun di jaringan ini selama kehamilan. Walaupun masih berupa spekulasi,
prolaktin juga diperkirakan memiliki berbagai peran lain.

2.2.8 Fungsi Khusus Desidua
Desidua mungkin memiliki kapasitas untuk berespons terhadap tantangan
mikrobiologis tanpa secara bersamaan memicu respons imunologis yang
menyebabkan abortus atau persalinan prematur. Rongga endometrium secara
anatomis terbuka, dan secara fungsional potensial terpapar lingkungan luar. Hal
yang sama berlaku untuk desidua saat kehamilan, paling tidak pada pertemuan
antara kutub bawah kantung amnion dengan desidua parietalis.
Namun, selama kehamilan, kanalis servikalis secara fungsional tertutup
karena adanya "sumbat" mukus yang memiliki sifat antimikroba. Dengan
demikian, desidua harus berfungsi membatasi kolonisasi bakteri di kutub bawah
pertemuan korion laeve dan desidua. Banyak peneliti beranggapan bahwa infeksi
20

yang disebabkan oleh penjalaran asendens mikroorganisme dari cairan vagina
melalui serviks dapat menjadi salah satu sebab terjadinya persalinan prematur


Gambar 2.4
Pengendalian siklus ovarium dan endometrium oleh gonadotropin


2.3 Persiapan Endometrium untuk Implantasi
2.3.1 Siklus Haid
Selaput lender rahim (endometrium) pada setiap siklus mempersiapkan
diri untuk implantasi hasil fertilisasi. Apabila tidak terjadi implantasi, selaput
lender digugurkan (menstruasi).

21


Gambar 2.5
Siklus dengan Menstruasi

2.3.2 Siklus dengan Implantasi
A. Fase Proliferasi
Setelah haid (terkikis), selaput lender rahim mengadakan regenerasi dari
ujung-ujung pipa kelenjar ataupun arteri dan vena spiralis yang terletak antara
trabekel-trabekel otot polos pada perbatasan antara miometrium dan endometrium.
Selaput lender di bawah pengaruh estradiol tumbuh sampai mencapai ketinggian
semual. Berdasarkan penilaian histologist pada bahan kikisan pada fase proliferasi
terdapat pipa-pipa kelenjar yang ramping dan lurus, dengan epitel yang tak
terdiferensiasi, dan dengan banyak mitosis apikal.

B. Fase Sekresi Dini
Setelah ovulasi berlangsung, pada hari ke-14 mulai terjadi diferensiasi
dalam pipa-pipa kelenjar di bawah pengaruh progesterone. Pipa-pipa kelenjar
pengaruh progesterone. Pipa-pipa kelenjar tersebut meliuk-liuk dan sel-sel epitel
menghimpun glikogen. Pelepasan glikogen yang terhimpun pada bagian basal
akan meninggalkan vakuol-vakuol pada sel-sel epitel yang pada sediaan
histologist tampak terang di sebelah bawah inti sel.

C. Fase Sekresi Tengah
Vakuol-vakuol glikogen menghilang lagi. Akibat liukan yang cukup
banyak, pipa-pipa kelenjar dapat mempertahankan bentuknya yang menyerupai
daun bergerigi. Bagian apikal badan sel dipenuhi dengan secret yang sebagian
dialirkan ke dalam lumen.
22

D. Fase Sekresi Lanjut
Ketiga lapis selaput lender kini sudah terbentuk lengkap: lapisan basal
(zona basalis) dengan banyak sel dan ujung akhir kelenjar-kelenjar yang tak
terdiferensiasi. Setelah menstruasi selesai dari sini berlangsung pembentukan
kembali suatu lapisan fungsional (zona fungsionalis) dengan jaringan ikat jarang
dan pipa-pipa kelenjar yang meliuk-meliuk dan melebar, lalu suatu lapisan tumpat
(zona kompakta) di bawah permukaan epitel yang dipenuhi sel-sel jaringan ikat
padat. Lapisan ini dilalui oleh saluran-saluran ekskresi kelenjar yang lurus dan
terdiri dari sel-sel epitel kuboid rendah. Dalam endometrium muncul sel-sel
berbutir yang mengandung prolaktin dan relaksin. Sebagai hormone local
keduanya menunjang proses peluruhan pada menstruasi, dan menunjang
perubahan desidual selaput lender pada implantasi.
Apabila tidak terjadi implantasi, ketinggian selaput lender pada minggu
terakhir siklus akan berkurang lagi (A1). Korpus luteum mengalami regresi, dan
karena penurunan estradiol dan progesterone secara tiba-tiba akan dicetuskan
menstruasi. Menstruasi juga aterjadi apabila blastokista dengan cacat genetic tidak
dapat membentuk cukup hCG untuk mempertahankan korpus luteum (mungkin
karena fisiologis menstruasi). Pada pil kontrasepsi yang ditelan sekali minum,
dosis hormone yang tinggi menyebabkan penurunan relative kadar hormone
sehingga mencetuskan menstruasi sebelum blastokista sempat memasuki rongga
rahim.
Jika telah terjadi fertilisasi, blastokista selang sekitar 5 hari sudah berada
dalam rongga rahim dan sesudah 6,5 hari mulai dengan implantasi (2d).
Blastokista menyusup ke dalam zona kompakta selaput lender. Sel-sel trofoblas
blastokista akan memasuki selaput lender, mengadakan lisis dan fagositosis sel-sel
desidua

2.3.3 Reaksi Desidua
Selaput lender menanggapi implantasi dengan mengubah diri menjadi
desidua. Sel-sel jaringan ikat desidua membengkak karena terhimpunnya
glikogen, dan lemak menjadi sel-sel polygonal yang besar. Dalam sinusoid-
sinusoid venosa darag terbendung. Perubahan desidual selaput lendir berlangsung
23

karena pengaruh progesteron, juga pada fase sekresi tanpa implantasi, sehingga
pada tahap itupun sudah digunakan istilah desidua.

2.4 Akomodasi Kehamilan Adalah Fungsi Utama Endometrium/ Desidua
Satu-satunya fungsi fisiologis dan metabolik endometrium/desidua adalah
sebagai penghubung jaringan maternal dalam kehamilan. Endometrium
merupakan tempat optimal untuk implantasi blastokista dan berkembangnya
mudigah-janin/plasenta; tetapi tidak dapat dikatakan bahwa fungsi
endometrium/desidua ini bersifat unik, karena kehamilan ektopik juga ada yang
berhasil, meski jumlahnya terbatas. Pada jaringan tempat tertanamnya kehamilan
ektopik tampak jelas terjadi "desidualisasi".
Endometrium juga mungkin berperan dalam kapasitasi sperma; tetapi
sekali lagi, tidak dapat dikatakan bahwa fungsi ini khas bagi endometrium karena
kapasitasi sperma dan fertilisasi ovum manusia dapat terjadi in vitro. Sel-sel
desidua berdiferensiasi dari sel-sel stroma endometrium di bawah pengaruh
progesteron dan rangsangan lain. Selain itu, pada endometrium dan desidua
normal terdapat banyak sel yang berasal dari sumsum tulang (berbagai limfosit
dan leukosit).
Arteri-arteri spiralis yang unik terdapat di salah satu bagian desidua
(parietalis), tetapi arteri-arteri ini mengalami invasi dan modifikasi oleh trofoblas
pada desidua (basalis) yang terletak di bawah tempat implantasi.Implantasi
blastokista pada permukaan rongga endometrium menyebabkan terbentuknya
suatu lokasi anatomis untuk melahirkan janin. Desidua memiliki kesinambungan
dengan jalan lahir, yaitu, terdapat akses dari permukaan endometrium/desidua
melalui kanalis servikalis ke vagina. Susunan anatomis ini juga menyebabkan
janin terdorong keluar oleh kontraksi miometrium, yang menyebabkan dilatasi
serviks dan penurunan janin saat persalinan.
Endometrium dan desidua adalah jaringan khusus yang memiliki banyak
fungsi.
1. Responsivitas terhadap hormon, dan perubahan fenotipik pada sel-sel
endometrium/desidua memfasilitasi aposisi dan implantasi blastokista.
2. Desidua berfungsi sebagai jaringan imunologis khusus.
24

3. Endometrium/desidua dan arteri spiralis menerima invasi trofoblas dan
mempersiapkan nutrisi bagi mudigah-janin.
4. Desidua menghasilkan berbagai sitokin dan faktor pertumbuhan yang
membantu pertumbuhan dan fungsi plasenta serta menghambat apoptosis
(trofoblas).
Desidua, dengan sel-selnya yang berasal dari sumsum tulang, mula-mula
berfungsi menerima, tetapi kemudian membatasi invasi trofoblas ke dalam
jaringan maternal. Desidua juga merupakan suatu . jaringan endokrin serba guna,
yang menghasilkan prolaktin, 1,25-dihidroksi-vitamin Dy corticotropin-releasing
hormone, parathyroid hormone-related protein, relaksin, prorenin, somatostatin,
oksitosin, aktivin, inhibin, globulin pengikat kortikosteroid, protein (-protein)
pengikat-insulin-like growth factor, dan protein spesifik untuk kehamilan ganda
(Popovici dkk., 2000). Fungsi-fungsi endometrium ini dibahas oleh Tang dkk.
(1994).
Peran desidua dalam mendorong serta mengakomodasi pertumbuhan dan
fungsi plasenta merupakan topik riset yang banyak diminati. Telah banyak
penelitian yang ditujukan untuk mendefinisikan peran sitokin dan faktor
pertumbuhan yang dihasilkan di desidua dalam replikasi dan diferensiasi
trofoblas, atau dalam memodifikasi reseptor faktor pertumbuhan di trofoblas.
Besar kemungkinan trofoblas mengeluarkan bahan-bahan yang memicu desidua
untuk menghasilkan faktor-faktor yang semakin mendorong pertumbuhan dan
diferensiasi trofoblas dalam suatu proses parakrin. Rincian mengenai proses
terpadu ini belum diketahui pasti, tetapi tidak diragukan bahwa trofoblas mampu
memanfaatkan bantuan jaringan desidua ibu untuk memastikan pertumbuhan,
perkembangan, dan kelangsungan plasenta.

25


Gambar 2.6
Siklus dengan Implantasi










26

BAB III
PENUTUP


Endometrium/ desidua merupakan lokasi anatomis terjadinya aposisi dan
implantasi blastokista serta perkembangan plasenta. Endometrium adalah lapisan
mukosa rongga uterus sedangkan desidua adalah endometrium pada kehamilan
yang mengalami modifikasi khusus.
Jaringan ini adalah endometrium yang telah mengalami modifikasi khusus
terhadap kehamilan. Transformasi endometrium sekretorik menjadi desidua
bergantung pada kerja estrogen dan progesteron dan rangsangan lain yang
dihasilkan oleh blastokista yang berimplantasi (atau trombosit ibu) selama invasi
trofoblas ke endometrium dan pembuluh darahnya.
Satu-satunya fungsi fisiologis dan metabolik endometrium/desidua adalah
sebagai penghubung jaringan maternal dalam kehamilan. Endometrium
merupakan tempat optimal untuk implantasi blastokista dan berkembangnya
mudigah-janin/plasenta; tetapi tidak dapat dikatakan bahwa fungsi
endometrium/desidua ini bersifat unik, karena kehamilan ektopik juga ada yang
berhasil, meski jumlahnya terbatas. Peran desidua dalam mendorong serta
mengakomodasi pertumbuhan dan fungsi plasenta merupakan topik riset yang
banyak diminati.











27

DAFTAR PUSTAKA


Cunningham. 2013. Williams Obstetrics 23
rd
edition. Medical
Junqueira, LC, Carneiro, J, dan Kelley, RO. (1998). Histologi Dasar, Edisi 8.
Jakarta : EGC
Sadler TW. 2012. Langnam Embriologi Kedokteran. Jakarta: EGC
Guyton, Hall. 2012. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: EGC
Sherwood L. 2012. Fisiologi Manusia dari sel ke system Edisi 6. Jakarta : EGC
Linda. 2006. At a Glace Sistem Reproduksi Edisi kedua. Jakarta: EMS























28