Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIK

PENGUKURAN DI LABORATORIUM





Oleh :
Nama : NI PUTU NOVIYANTI
NIM : 1308105017
Kelompok : 1





JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014


PENGUKURAN DI LABORATORIUM

Abstrak
Laporan ini bertujuan untuk menngkatkan kemampuan melakukan prosedur
laboratorium secara sederhana dengn baik dan benar, dan untuk meningkatkan kemampuan
mengumpulkan data, melakukan pengamatan, pengukuran serta perhitungan secara sistematis.
Praktikum ini dilakukan dengan 2 pecobaan yaitu pengukuran densitas dan polarimetri.
Pengukuran densitas menggunakan alat yang bernama piknometer dengan zat A,B serta
aquades. Sedangkan pengukuran polarimetri menggunakan alat yang bernama polarimeter.
Pengukuran densitas dilakukan dengan menimbang piknometer yang sudah berisi zat yang
ditentukan, sedangkan .pengukuran polarimetri dilakukan dengan menentukan setengah
bayangan sebagai bayangan kerja. Hasil dari pengukuran putaran spesifik didapatkan sukrosa
lebih besar dari glukosa.



















1. PENDAHULUAN
Massa jenis atau densitas adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda. Semakin
tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Massa jenis
rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi dengan total volumenya. Sebuah benda yang
memiliki massa jenis lebih tinggi (misalnya besi) akan memiliki volume yang lebih rendah
daripada benda bermassa sama yang memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air). Alat yang
digunakan untuk menentukan densitas disebut piknometer. Adapun rumus untuk menentukan
massa jenis adalah

dengan
adalah massa jenis,
m adalah massa,
V adalah volume.
Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg m
-3
). Massa jenis berfungsi untuk
menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu zat berapapun
massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.
Polarimetri adalah suatu metoda analisa yang berdasarkan pada pengukuran daya putaran
optis dari suatu larutan. Daya putaran optis adalah kemampuan suatu zat untuk memutar bidang
getar sinar terpolarisir. Sinar terpolarisir merupakan suatu sinar yang mempunyai satu arah
bidang getar dan arah tersebut tegak lurus terhadap arah rambatannya. Bila arah transmisi
polarisator sejajar dengan arah transmisi analisator, maka sinar yang mempunyai arah getaran
yang sama dengan arah polarisator diteruskan seluruhnya. Tetapi apabila arah transmisi
polarisator tegak lurus terhadap arah analisator maka tak ada sinar yang diteruskan. Dan bila
arahnya membentuk suatu sudut maka sinar yang diteruskan hanya sebagian. Sinar terpolarisasi
linear yang melalui suatu larutan optik aktif akan mengalami pemutaran bidang polarisasi.
Polarimeter dapat digunakan untuk :
1. Menganalisa zat yang optis aktif
2. Mengukur kadar gula
3. Penentuan antibiotik dan enzim
Syarat senyawa yang bisa dianalisa dengan polarimetri adalah :
1. Memiliki struktur bidang kristal tertentu ( dijumpai pada zat padat)
2. Memiliki struktur molekul tertentu atau biasanya dijumpai pada zat cair. Struktur molekul
adalah struktur yang asimetris, seperti pada glukosa.
Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis suatu zat yang menimbulkan
terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir. Pemutaran bidang getar sinar terpolarisir oleh
senyawa optis aktif ada 2 macam, yaitu :
1. Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum jam.
2. Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan putaran jarum jam.
Polarisasi dapat disebabkan karena :
Polarisasi karena pemantulan
Bila sinar datang pada cermin datar dengan sudut datang 57
0
, maka sinar pantul merupakan sinar
terpolarisasi seperti pada gambar di atas.


Polarisasi karena pembiasan dan pemantulan
Cahaya terpolarisasi dapat diperoleh dari pembiasan dan pemantulan. Hasil percobaan para ahli
fisika menunjukkan bahwa cahaya pemantulan terpolarisasi sempurna jika sudut datang 1
mengakibatkan sinar bias dengan sinar pantul saling tegak lurus. Sudut datang seperti itu disebut
sudut polarisasi atau sudut Brewster.

Polarisasi karena pembiasan ganda (bias kembar)
Jika cahaya melalui kaca, maka cahaya lewat dengan kelajuan yang sama ke segala arah. Ini
disebabkan kaca hanya memiliki satu indeks bias. Tetapi, bahan-bahan kristal tertentu seperti
kalsitt dan kuarsa memiliki dua indeks bias sehingga kelajuan cahaya tidak sama untuk segala
arah. Jadi, cahaya yang melalui bahan ini akan mengalami pembiasan ganda.
Jenis jenis polarimeter :
Spektropolarimeter
Merupakan satu jenis polarimeter yang dapat digunakan untuk mengukur aktifitas optik dan
besarnya penyerapan. Pada alat ini mula mula sinar berada dari lampu akan melalui suatu
monokromator dan melewati suatu polarisator untuk menghasilkan sinar terpolarisir. Polarisator
ini berhubungan langsung dengan modulator yang berguna untuk menghatur tingkat sinar yang
terpolarisasi secara elektris yang dapat diamati pada servo amplifier. Kemudian sinar melewati
sampel dan analisator sebelum mencapai tabung pengadaan sinar, dan dapat dilakukan dengan
pengamatan pada indikator.
Optical rotatory dispersion ( ORD )
Alat ini merupakan modifikasi dari spektropolarimeter, prinsipnya sama dengan
spektropolarimeter, tetapi terdapat perbedaan yaitu pada ORD ini sinar diatur berdasarkan
tingkat polarisasinya, yaitu pada frekuensi 12 Hz oleh motor driven yang menyebabkan
polarisator bergerak gerak dan membentuk sudut 1 atau 2 derajat atau lebih. Selain itu
servoamplifiernya hanya dapat merespon pada frekuensi 12 Hz sehingga servomotor akan
mengatur analisator secara kontinu dan servomotor juga memposisikan penderkorder untuk
menghasilkan suatu grafik.
Circular Dichroism Apparatus ( CDA )
CDA ini merupakan modifikasi dari spektrofotometer konfensional yang digunakan untuk
menentukan dua serapan atau absorban. Nilai polarisasi sekular ini dapat ditentukan dalam 2
langkah, yaitu yang pertama sinar harus mengalami polarisasi bidang dan kedua yaitu sinar
terpolarisasi tersebut diubah menjadi komponen terpolarisasi sirkular kanan dan sirkular kiri.
Untuk mengubah komponen menjadi terpolarisasi sekular kanan dan kiri, dapat digunakan tiga
tipe alat, yaitu the Fresnel rhomb, modulator pockets elektro-optik dan modulator tekanan photo-
elastic.
Saccarimeter
Alat ini hanya dapat digunakan untuk menentukan kadar gula. Sinar mempunyai arah getar atau
arah rambat kesegala arah dengan variasi warna dan panjang gelombang yang dikenal dengan
sinar polikromatis. Untuk menghasilkan sinar monokromatis, maka digunakan suatu filter atau
sumber sinar tertentu. Sinar monokromatis ini akan melewati suatu prisma yang terdiri dari suatu
kristal yang mempunyai sifat seperti layar yang dapat menghalangi jalannya sinar, sehingga
dihasilkan sinar yang hanya mempunyai satu arah bidang getar yang disebut sebagai sinar
terpolarisasi. Rotasi spesifik disimbolkan dengan [] sehingga dapat dirumuskan :
[] = / dc

2. BAHAN DAN METODE
Bahan
Dalam praktikum ini menggunakan 3 jenis zat yang ditentukan yaitu zat A, zat B dan
aqudes.
Metode
Untuk densitas zat cair disiapkan sebanyak 30 mL, botol piknometer ditimbang lalu zat
secara bergantian dimasukkan ke dalam piknometer kering yang ditimbang tadi, ditutup
perlahan jangan sampai ada gelembung udara. Zat cair yang tersisa dibiarkan meluap dari tutup
piknometer. Bagian luar piknometer yang basah dikeringkan dengan tisu dan piknometer
ditimbang kembali. Densitas dapat dihitung dengan d =



Praktikum selanjutnya yaitu polarmetri dilakukan menggunakan alat bernama
polarimeter. Pertama sel polarimetri dibilas dengan aquades,sel polarimeter diisi secara
bergantian dengan zat cair yang sudah ditentukan dan jangan sampai ada gelembung udara
dalam sel. Sel polarimeter dimasukkan ke dalam polarimeter, pembacaan mulai diatur melalui
lensa mata bagian kanan. Ditetapkan setengah bayangan (bayangan redup) sebagai bayangan
kerja. Polarimeter dapat dihitung menggunakan rumus


Dimana :

= putaran spesifik
= putaran yang diukur tanpa putaran
= panjang sel = 1dm
C = konsentrasi (5% W/V = 0,05)

3. DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
Data pengamatan pada densitas :

Nama Zat Massa Piknometer
kosong
Massa piknometer +
Zat
Volume
Aquades I 12,59 22,41 9,8 mL
Aquades II 12,59 22,39 9,78 mL
Zat A ( Glukosa) I 12,61 22,62 10,03 mL
Zat A ( Glukosa) II 12,61 22,63 10,04 mL
Zat B (Sukrosa) I 12,61 22,62 10,01 mL
Zat B (Sukrosa) II 12,61 22,61 10 mL
Percobaan pertama bertujuan untuk menentukan desitas (kerapatan) dari setiap zat yang
ditentukan menggunakan alat bernama piknometer, densitas dapat dihitung dengan rumus :
d =



Untuk menghitung densitas, ditentukan dulu volume piknometer yang akan digunakan
dengan cara menjumlahkan massa piknometer kosong yang diuji sebanyak 3 kali sehingga
mendapatkan massa rata-rata () piknometer kosong dan angka yang didapatkan yaitu 4,201 g ,
densitas glukosa pada pengukuran pertama dan kedua yaitu 4,384g/mL dan 4,386g/mL, densitas
yang didapat untuk sukrosa yaitu 4,384 g/mL dan 4,382 g/mL dan densitas aquades yang didapat
yaitu 4,33 g/mL dan 4,32 g/mL.

Data pada polarimetri
Nama Zat
Percobaan
I II
Aquades 20
0
25
0

Zat A (Glukosa) 27
0
25
0

Zat B (Sukrosa) 27
0
24
0


Selanjutnya yaitu menghitung polarimetri dari zat yang digunakan dalam praktikum
selanjutnya dilakukan pengukuran sudut putar dari larutan sampel berupa glukosa dengan
konsentrasi 5% dan sukrosa 5% dengan rumus


Senyawa yang dapat dianalisi menggunakan alat polarimeter adalah senyawa yang
memiliki atom C kiral seperti glukosa dan sukrosa. Demi mendapatkan hasil yang lebih akurat
pengamatan dilakukan sebanyak dua kali. Untuk menghitung polarimetri terlebih dulu ditentukan
putaran optik glukosa dan sukrosa dengan cara mengurangi putaran optik glukosa dan sukrosa
yang didapat dari percobaan dengan putaran optic rata-rata dari air yang didapat. Dari percobaan
diperoleh hasil putaran optik aquades adalah 20
o
dan 21
o
, glukosa 5 % didapatkan 27
o
dan 25
o
,
sedangkan sukrosa 5 % adalah 27
o
dan 24
o
.
Dari hasil perhitungan didapatkan putaran spesifik dari putaran spesifik glukosa adalah
15,75
o
dan 13,75
o
dengan persentase kebenaran praktikum 86,45 %. Dan nilai putaran spesifik
sukrosa adalah 10,75
o
dan 12,75
o
dengan persentase kebenaran praktikum 99,93 % putaran optic
dapat dipengaruhi oleh konsentrasinya sedangkan besarnya putaran spesifik untuk zat yang sama
walaupun konsentrasinya berbeda akan tetap sama. Panjang sel, konsentrasi dan suhu juga dapat
mempengaruhi pengukuan polarimetri yang terkadang hasil pengukuran yang didapat berbeda
dengan literatur

4. KESIMPULAN

1. Densitas (Massa jenis) adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda dan dapat
dihitung dengan rumus
2. Glukosa dan sukrosa merupakan suatu senyawa optis aktif karena dapat memutar bidang getar
yag terpolarisasi.
3. Pengukuran densitas glukosa pada pengukuran pertama dan kedua yaitu 4,384g/mL dan
4,386g/mL, densitas yang didapat untuk sukrosa yaitu 4,384 g/mL dan 4,382 g/mL dan
densitas aquades yang didapat yaitu 4,33 g/mL dan 4,32 g/mL.
4. Dari hasil perhitungan didapatkan putaran spesifik dari putaran spesifik glukosa adalah
15,75
o
dan 13,75
o
dengan persentase kebenaran praktikum 86,45 %. Dan nilai putaran spesifik
sukrosa adalah 10,75
o
dan 12,75
o
dengan persentase kebenaran praktikum 99,93 %.
5. Putaran optis ( bergantung pada panjang sel, panjang gelombang cahaya, dan temperatur.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Polarimetry. http://www.standardbase.hu/tech/SITechPolar.pdf , diakses 2
Oktober 2014.
Chang, Raymoond. 2003. Kimia Dasar Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 1. Jakarta : Erlangga
R.A.Alberty dan F. Daniels. 1983. Kimia Fisika. Erlangga : Jakarta.
Tim Lab Kimia Fisika. 2009. Diktat Penuntun Praktikum Kimia Fisika. Jurusan Kimia F.MIPA.
Universitas Udayana: Bukit Jimbaran.






















LAMPIRAN
Perhitungan
Densitas
Nama Zat Massa Piknometer
kosong
Massa piknometer +
Zat
Volume
Aquades I 12,59 22,41 9,8 mL
Aquades II 12,59 22,39 9,78 mL
Zat A ( Glukosa) I 12,61 22,62 10,03 mL
Zat A ( Glukosa) II 12,61 22,63 10,04 mL
Zat B (Sukrosa) I 12,61 22,62 10,01 mL
Zat B (Sukrosa) II 12,61 22,61 10 mL
() piknometer kosong =


m zat - () piknometer kosong
o Aquades = 22,41 4,201 = 18,209 g
d =

= 4,33 g/mL
Sehingga didapatkan data seperti :
Nama Zat () piknometer kosong Densitas
Aquades I 4,201 4,33
Aquades II 4,201 4,32
Zat A(Glukosa) I 4,201 4,384
Zat A(Glukosa) II 4,201 4,386
Zat B (Sukrosa) I 4,201 4,384
Zat B (Sukrosa) II 4,201 4,382

Polarimetri
Nama Zat
Percobaan
I II
Aquades 20
0
25
0

Zat A (Glukosa) 27
0
25
0

Zat B (Sukrosa) 22
0
24
0


Percobaan Putaran optik rata-
rata () aquades
Putaran () Zat A/
Glukosa
Putaran () Zat B/
Sukrosa
I 11,25
0
15,75
0
10,75
0

II 11,25
0
13,75
0
12,75
0


1. Untuk Zat A (glukosa)
Diketahui :
1
= 15,75
0



2
= 13,75
0

C = 5% =

= 0,05
l = 1 dm
Ditanya :

= ?
Jawab :
Sudut spesifik glukosa :
o Percobaan I


= 315
0

o Percobaan II


= 275
0

= 295
0


Ralat keraguan

)
2

315
0
295
0
20
0
400
0

275
0
295
0
-20
0
400
0


800
0


Standar deviasi (SD) =


=
= 400
0

Simpangan baku = (

SD = ( 295
0
400
0
)
Persentase kesalahan =

x 100% = 13,55%
Kebenaran praktikum = 100% - persentase kesalahan = 100% -13,55% = 86,45%

2. Untuk Zat B (sukrosa)
Diketahui :
1
= 10,75
0



2
= 12,75
0

C = 5% =

= 0,05
l = 1 dm
Ditanya :

= ?
Jawab :
Sudut spesifik glukosa :
o Percobaan I


= 215
0

o Percobaan II


= 255
0

= 235
0

)
2

215
0
235
0
-20
0
400
0

255
0
235
0
20
0
400
0


800
0


Standar deviasi (SD) =


=
= 15,32
0

Simpangan baku = (

SD = ( 235
0
15,32
0
)
Persentase kesalahan =

x 100% = 0,065%
Kebenaran praktikum = 100% - persentase kesalahan = 100% - 0,065% = 99,93%