Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN LAPORAN PRAKTIKUM GC

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk memahami prinsip analisa dan mampu
mengoperasikan alat GC serta mengetahui pengaruh suhu oven terhadap waktu retensi
(Retention Time). GC (Gas Chromatography) atau juga yang dikenal kromatografi gas salah satu
jenis dari teknik kromatografi. Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan komponenkomponen dalam campuran berdasarkan perbedaan distribusi komponen-komponen ke dalam 2
fase. Pada kromatografi dikenal ada 2 fase yaitu fase diam (stasioner) dan fase gerak (mobile).
Dasar prinsip pemisahan kromatografi adalah adanya perbedaan sifat fisik dan kimia dari
masing-masing senyawa. Pada kromatografi sifat yang paling dominan berpengaruh adalah sifat
kelarutan atau ini berkaitan dengan polar dan non-polar. Berdasarkan fase gerak yang digunakan
kromatografi dibedakan menjadi dua yaitu liquid chromatography dan gas chromatography.
Dalam praktikum ini jenis kromatografi yang dilakukan adalah GC atau berarti fase gerak yang
digunakan adalah dalam bentuk gas. Syarat senyawa pada sampel analisa GC ada dua yaitu
mudah menguap (volatile) saat diinjeksikan dan stabil pada suhu pengujian (50 oC -300oC) yakni
tidak mengalami penguraian atau pembentukan menjadi senyawa lain.
Langkah pertama yang penting dalam analisa GC adalah saat menginjeksikan sampel.
Penginjeksian menggunakan syringe harus dilakukan dalam waktu yang singkat, kecepatan
konstan, dan dengan volume yang sedikit. Hal ini dikarenakan sampel yang digunakan adalah
cairan yang akan langsung menguap pada injektor. Jika injeksi sampel lambat, maka
kemungkinan sampel akan tersebar sebelum pemisahan dalam kolom terjadi.
Ketika sampel masuk melalui injektor akan berkontak dengan carrier gas (N2) dan
dibawa menuju kolom. Pada GC proses pemisahan terjadi di kolom kapiler. Sampel didorong
dari injektor oleh gas N2 (carrier gas). Pemisahan terjadi berdasarkan sifat kepolaran. Pada
kolom kapiler berisi zat padat (fase stasioner) seperti silika berlapis cairan yang memiliki sifat
kepolaran tertentu. Senyawa yang memiliki sifat kepolaran hampir sama dengan fase stasioner
maka akan bertahan lebih lama pada fase stasioner tersebut begitupun sebaliknya pada senyawa
yang sifat kepolarannya berbeda maka akan keluar lebih dahulu dari kolom.
Temperatur kolom lebih kecil dari temperatur injektor dan temperatur injektor lebih kecil
dibanding temperatur detector . Perbedaan temperatur ini bertujuan mencegah kondensasi pada

kolom. Jika terjadi proses kondensasi pada kolom mengakibatkan kolom akan tersumbat oleh
sampel ( dalam bentuk cairan ) sehingga mengakibatkan kolom aus dan lebih cepat rusak.
Tahap akhir analisa GC adalah pada komponen detektor yaitu mendeteksi adanya
komponen sampel didalam kolom (kualitatif) dan menghitung kadarnya (kuantitatif). Detektor
yang digunakan adalah FID ( Flame Ionization Detector ). FID akan mengukur arus listrik dari
ion-ion dan elektron-elektron (dihasilkan dari reaksi pembakaran senyawa yang keluar dari
kolom oleh gas hydrogen dan oksigen) yang berkumpul pada suatu elektroda. Hasil pengukuran
detektor selanjutnya ditampilkan pada kromatogram.
Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan melihat kromatogram didapatkan beberapa
kesimpulan. Dengan melihat hasil waktu retensi serta variasi suhu oven yang digunakan dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu oven yang digunakan maka akan semakin singkat waktu
retensinya. Hal ini dikarenakan pada suhu tinggi menyebabkan molekul-molekul gas pada
senyawa yang terkandung pada sampel bergerak lebih cepat sehingga dapat mempercepat waktu
retensi. Namun penggunaan suhu oven yang tinggi akan membuat segala sesuatu melalui kolom
secara cepat, dengan kata lain akan membuat pemisahan menjadi kurang baik. Dalam analisa
kualitatif yang melibatkan lebih dari satu senyawa akan membuat tidak akan terdapat jarak
antara puncak-puncak dalam kromatogram.
Selanjutnya dengan melihat puncak pada kromatogram kita dapat melihat adanya
kesalahan atau error pada percobaan. Pada percobaan kali ini analisa yang dilakukan adalah
analisa kualitatif serta melibatkan hanya satu jenis senyawa yaitu etanol. Pada kromatogram satu
puncak mewakili satu jenis senyawa namun pada hasil percobaan dalam kromatogram terlihat
ada beberapa puncak yang terbentuk. Dapat disimpulkan detector mendeteksi senyawa lain selain
etanol. Ada beberapa dugaan kesalahan atau error yang terjadi yaitu keberadaan komponen
pengotor bisa pada sampel, gas pembawa, syringe maupun pada kolom setelah itu
kesalahan lain adalah proses injeksi sampel.

dugaan