Anda di halaman 1dari 20

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur patut kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas kasih dan rahmat-Nya, makalah ini dapat terselesaikan. Makalah ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen serta memahami dan mengerti tentang spektrofotometri Uv/Vis dalam bidang farmasi. Namun, dalam penulisan makalah ini, masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu,kami mohon kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk pennyempurnaan makalah ini. Demikian makalah ini penulis buat, atas perhatian serta kritik dan sarannya, kami ucapkan terima kasih

Kendari,

Oktober 2014

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Instrumentasi merupakan alat-alat dan piranti yang digunakan untuk mengukur dan pengendalian dalam suatu system yang lebih besar dan lebih kompleks. Secara umum instrumentasi mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai alat pengukuran, sebagai alat analisa, dan sebagai alat kendali. Beberapa alat yang berfungsi sebagai alat analisa seperti, Spektrotometer UV- VIS, Spektrotometer serapan atom, Spektrotometer Infra Merah, kromatografi dan X-ray Difraction. Analisis kimia dengan mempergunakan metoda fisik dalam hal identifikasi dari berbagai selektifitas fungsi polimer campuran, pemodifikasi dan aditif digunakan untuk plastik dan elastomer. Spektroskopi infra merah, metoda pengukuran fotometer UV, gas dan liquid kromatografi dan spektroskopi masa bersama sama dengan dari metoda pengukuran termoanalisis merupakan alat yang teliti sebagai pilihan untuk analisis kwalitatif dan kwantitatif bahan. Spektrofotometri merupakan salah satu metode dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya. Sedangkan peralatan yang digunakan dalam spektrofometri disebut spektrofotometer. Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron yang adapada atom ataupun molekul yang bersangkutan. Pada makalah ini, penulis akan membahas salah satu alat tersebut yaitu Spektrotometer UV-VIS. Dimana Spektrofotometer Uv-Vis merupakan alat dengan teknik spektrofotometer pada daerah ultra-violet dan sinar tampak. Alat ini digunakan guna mengukur serapan sinar ultra violet atau sinar tampak oleh suatu materi dalam bentuk larutan. Konsentrasi larutan

yang dianalisis sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang terdapat dalam larutan tersebut.

  • 1.2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:

  • 1. Bagaimana fungsi dari bagian-bagian spektrofotometer Uv/Vis ?

  • 2. Bagaimana cara kerja spektrofotometer Uv/Vis ?

  • 3. Apa keuntungan analisis secara spektrofotometer Uv/Vis ?

  • 1.3. Tujuan

Tujuan dari dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:

  • 1. Mengetahui fungsi dari bagian-bagian spektrofotometer Uv/Vis

  • 2. Mengetahui cara kerja spektrofotometer Uv/Vis

  • 3. Mengetahui keuntungan analisis secara spektrofotometer Uv/Vis

  • 1.4. Manfaat

Manfaat dari dibuatnya makalah ini antara lain, yaitu:

  • 1. Untuk mengetahui fungsi dari bagian-bagian spektrofotometer Uv/Vis

  • 2. Untuk mengetahui cara kerja spektrofotometer Uv/Vis

  • 3. Untuk mengetahui keuntungan analisis secara spektrofotometer Uv/Vis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Analisis berarti pemeriksaan sesuatu secara rinci untuk memahami dengan lebih baik atau menarik kesimpulan dari itu. Analisis kimia melibatkan prosedur dan teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur kimia komposisi sampel zat, analisis farmasi mengacu pada analisis kimia molekul obat atau bahan obat dan metabolitnya. Ini terdiri dari estimasi kualitas dan kuantitas obat dan bahan kimia, yang digunakan dalam farmasi persiapan (Ali, 2012). Spektrofotometri UV-Vis merupakan salah satu teknik analisis spektroskopi yang memakai sumber radiasi eleltromagnetik ultraviolet dekat (190- 380) dan sinar tampak (380-780) dengan memakai instrumen spektrofotometer. Spektrofotometri UV-Vis melibatkan energi elektronik yang cukup besar pada molekul yang dianalisis, sehingga spektrofotometri UV-Vis lebih banyak dipakai untuk analisis kuantitatif ketimbang kualitatif (Mulja dan Suharman, 1995: 26). Spektrofotometer terdiri atas spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometeradalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditranmisikan atau yang diabsorpsi. Spektrofotometer tersusun atas sumber spektrum yang kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blangko dan suatu alat untuk mengukur pebedaanabsorpsi antara sampel dan blangko ataupun pembanding (Khopkar, 1990: 216). Spektrofotometri ultra violet-visible dengan menggunakan metode zero crossing merupakan metode alternatif dalam mengatasi penetapan kadar campuran dua komponen atau lebih senyawa yang spektrumnya saling tumpang tindih. Dalam hal ini dilakukan dengan membuat spektra serapan normal, spektra serapan derivat pertama (Naid, 2011). Namun ada metode spektrofotometri UV adalah diusulkan untuk estimasi tanpa menggunakan hydrotope dalam jumlah besar dan sediaan farmasi bentuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan dan memvalidasi suatu metode analisis dengan menggunakan UV spektrofotometri untuk estimas dalam jumlah besar dan bentuk sediaan farmasi dan juga

melakukan studi degradasi pada obat sesuai pedoman ICH menggunakan metode diusulkan (Dey, 2010).

BAB III PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Spektrofotometri Uv-Vis

Spektroskopi adalah studi mengenai antaraksi cahaya dengan atom dan molekul. Radiasi cahaya atau elektromagnet dapat dianggap menyerupai gelombang. Jika cahaya continue (yaitu cahaya yang terdiri dari semua panjang gelombang yang mungkin, misal cahaya matahari) dilewatkan melalui sebuah prisma, cahaya akan terdispersi. Jika panjang gelombang terdispersi ini dilewatkan melalui sel yang mengandung sampel atom atau molekul, cahaya yang keluar tidak continue lagi. Beberapa dari gelombang cahaya berantaraksi dengan dan terabsorpsi oleh atom atau molekul yang terdapat dalam sel. Panjang gelombang yang hilang dapat dideteksi dengan menjatuhkan sinar yang keluar dari sel sampai pada pelat fotografi atau alat pendeteksi lainnya. Cara ini disebut spektroskopi absorpsi dan gambar yang tercatat adalah spektrum. Suatu garis spektrum adalah panjang gelombang dimana cahaya telah diabsorpsi.

  • 2.2 Sistem Peralatan Spektrofotometri Uv – Vis

1. Sumber cahaya Sumber cahaya pada spektrofotometer harus memiliki pancaran radiasi yang stabil dan intensitasnya tinggi. Sumber cahaya pada spektrofotometer UV-Vis ada dua macam :

a. Lampu Tungsten (Wolfram), Lampu ini digunakan untuk mengukur sampel pada daerah tampak. Bentuk lampu ini mirip dengna bola lampu pijar biasa. Memiliki panjang gelombang antara 350-2200 nm. Spektrum radiasianya berupa garis lengkung. Umumnya memiliki waktu 1000 jam pemakaian b. Lampu Deuterium Lampu ini dipakai pada panjang gelombang 190-380 nm. Spektrum energy radiasinya lurus, dan digunakan untuk mengukur sampel yang terletak pada daerah uv. Memiliki waktu 500 jam pemakaian.

2. Monokromator Monokromator adalah alat yang akan memecah cahaya polikromatis menjadi cahaya tunggal (monokromatis) dengan komponen panjang gelombang tertentu. Bagian-bagian monokromator, yaitu :

.a Prisma Prisma akan mendispersikan radiasi elektromagnetik sebesar mungkin supaya di dapatkan resolusi yang baik dari radiasi polikromatis. .b Grating (kisi difraksi) Kisi difraksi memberi keuntungan lebih bagi proses spektroskopi. Dispersi sinar akan disebarkan merata, dengan pendispersi yang sama, hasil dispersi akan lebih baik. Selain itu kisi difraksi dapat digunakan dalam seluruh jangkauan spectrum. .c Celah optis Celah ini digunakan untuk mengarahkan sinar monokromatis yang diharapkan dari sumber radiasi. Apabila celah berada pada posisi yang tepat, maka radiasi akan dirotasikan melalui prisma, sehingga diperoleh panjang gelombang yang diharapkan. .d Filter Berfungsi untuk menyerap warna komplementer sehingga cahaya yang diteruskan merupakan cahaya berwarna yang sesuai dengan panjang gelombang yang dipilih. .3 Wadah Sampel (Kuvet) Kebanyakan spektrofotometri melibatkan larutan dan karenanyan kebanyakan wadah sampel adalah sel untuk menaruh cairan ke dalam berkas cahaya spektrofotometer. Sel itu haruslah meneruskan energi cahaya dalam daerah spektral yang diminati: jadi sel kaca melayani daerah tampak, sel kuarsa atau kaca silica tinggi istimewa untuk daerah ultraviolet. Kuvet (sel ) Adalah tempat disimpannya larutan sampel yang akan diukur serapannya, kuvet ini diletakkan pada jalan cahaya dari monokromator.

Adapun syarat khusus yang harus dipenuhi , yaitu :

o Tidak berwarna (agar dapat mentransmisikan semua cahaya) o Permukaannya sejajar o Inert (tidak bereaksi terhadap bahan kimia) o Tidak rapuh o Tidak menyerap cahaya o Terbuat dari gelas silikat biasa (kaca korex untuk daerah UV) o Ukuran diameter 1 cm dengan volume 5ml o Bentuk sederhana ( persegi panjang atau silinder )

Terdapat berbagai jenis dan bentuk kuvet pada spektrofotometer. Umumnya pada pengukuran di daerah UV, digunakan kuvet yang terbuat dari bahan kuarsa atau plexiglass. Kuvet kaca tidak dapat mengabsorbsi sinar uv, sehingga tidak digunakan pada saat pengukuran di daerah UV. Oleh karena itu, bahan kuvet dipilih berdasarkan daerah panjang gelombang yang digunakan. Gunanya agar dapat melewatkan daerah panjang gelombang yang digunakan. • UV : fused silika, kuarsa • Visible : gelas biasa, silika atau plastik • IR : KBr, NaCl, IRTRAN atau kristal dari senyawa ion

Bahan

Panjang gelombang

Silika

150-3000

Gelas

375-2000

Plastik

380-800

Tabel 2 Bahan Kuvet Sesuai Panjang Gelombang

UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Kuvet biasanya terbuat dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika memiliki kualitas yang lebih baik. Hal ini disebabkan yang terbuat dari kaca dan plastik tidak dapat menyerap UV sehingga penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak (VIS). Cuvet biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm.

.4 Detektor

Detektor akan menangkap sinar yang diteruskan oleh larutan. Sinar kemudian diubah menjadi sinyal listrik oleh amplifier dan dalam rekorder dan ditampilkan dalam bentuk angka-angka pada reader (komputer). Detector dapat memberikan respons terhadap radiasi pada berbagai panjang gelombang Ada beberapa cara untuk mendeteksi substansi yang telah melewati kolom. Metode umum yang mudah dipakai untuk menjelaskan yaitu penggunaan serapan ultra- violet.

Banyak senyawa-senyawa organik menyerap sinar UV dari beberapa panjang gelombang. Jika anda menyinarkan sinar UV pada larutan yang keluar melalui kolom dan sebuah detektor pada sisi yang berlawanan, anda akan mendapatkan pembacaan langsung berapa besar sinar yang diserap. Jumlah cahaya yang diserap akan bergantung pada jumlah senyawa tertentu yang melewati melalui berkas pada waktu itu. Anda akan heran mengapa pelarut yang digunakan tidak mengabsorbsi sinar UV. Pelarut menyerapnya. Tetapi berbeda, senyawa-senyawa akan menyerap dengan sangat kuat bagian-bagian yang berbeda dari specktrum UV. Misalnya, metanol, menyerap pada panjang gelombang dibawah 205 nm dan air pada gelombang dibawah 190 nm. Jika anda menggunakan campuran metanol-air sebagai pelarut, anda sebaiknya menggunakan panjang gelombang yang lebih besar dari 205 nm untuk mencegah pembacaan yang salah dari pelarut 5. Visual display/recorder Merupakan system baca yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk % Transmitan maupun Absorbansi. Penyerapan sinar UV-Vis dibatasi pada sejumlah gugus fungsional atau gugus kromofor yang mengandung elektron valensi dengan tingkat eksutasi rendah. Tiga jenis elektron yang terlibat adalah sigma, phi, dan elektron bebas. Kromofor- kromofor organik seperto karbonil, alkena, azo, nitrat, dan karboksil mampu menyerap sinar ultraviolet dan sinar tampak. Panjang gelombang maksimumnya dapat berubah sesuai dengan pelarut yang digunakan.

Auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron bebas seperti hidroksil, metoksi, dan amina. Terkaitnya gugus kromofor akan mengakibatkan pergeseran pita absorpsi menuju ke panjang gelombang yang lebih besar dan disertai dengan peningkatan intensitas. Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah cahaya ditangkap dan kemungkinan kedua adalah cahaya discattering. Bila energi dari cahaya (foton) harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekul tersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran absorbansi dalam spektrofotometer. Cara kerja spektrofotometer dimulai dengan dihasilkannya cahaya monokromatik dari sumber sinar. Cahaya tersebut kemudian menuju ke kuvet (tempat sampel/sel). Banyaknya cahaya yang diteruskan maupun yang diserap oleh larutan akan dibaca oleh detektor yang kemudian menyampaikan ke layar pembaca. Larutan yang akan diamati melalui spektrofotometer harus memiliki warna tertentu. Hal ini dilakukan supaya zat di dalam larutan lebih mudah menyerap energi cahaya yang diberikan. Secara kuantitatif, besarnya energi

yang diserap oleh zat akan identik dengan jumlah zat di dalam larutan tersebut. Secara kualitatif, panjang gelombang dimana energi dapat diserap akan menunjukkan jenis zatnya.

2.3 Prinsip Dasar Pengukuran Spektroskopi UV-VIS

Dari 4 jenis spektrofotometri ini (UV, Vis, UV-Vis dan Ir) memiliki prinsip kerja yang sama yaitu “adanya interaksi antara materi dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu”. Perbedaannya terletak pada panjang gelombang yang digunakan. Panjang gelombang sinar ultraviolet (200–350 nm) dan sinar tampak (350 – 800 nm). Serapan cahaya uv atau cahaya tampak mengakibatkan transisi elektronik, yaitu promosi elektron-elektron dari orbital keadaan dasar yang berenergi rendah ke orbital keadaan tereksitasi berenergi lebih tinggi.

Keadaan dasar suatu molekul organik mengandung elektron-elektron valensi dalam tiga jenis utama orbital molekul, yaitu orbital sigma (σ); orbital pi (Π); dan orbital elektron bebas (n). Baik orbital σ maupun orbital Π dibentuk dari tumpang tindih dua orbital atom atau hibrid. Oleh karena itu masing-masing orbital molekul ini mempunyai suatu orbital σ* atau Π* antiikatan yang berkaitan dengannya. Transisi-transisi elektron mencakup promosi suatu elektron dari salah satu dari tiga keadaan dasar (σ; Π; atau n) ke salah satu dari dua keadaan eksitasi (σ* atau Π*). Terdapat empat transisi yang mungkin, seperti diagram berikut :

σ*

 
σ* Π* n Π σ σ → σ* Π → Π* n → σ* n →
σ* Π* n Π σ σ → σ* Π → Π* n → σ* n →
   

Π*

 
Π*
Π*

n

 

Π

 

σ

σ → σ*

ΠΠ*

n → σ*

nΠ*

< 165 nm

>165 nm

> 185 nm

> 270 nm

Kuantitas energi yang diserap oleh suatu senyawa berbanding terbalik dengan

panjang gelombang radiasi :

Δ E = h Ʋ = hc /λ ,

dengan Δ E = energi yang diabsorpsi, dalam erg

h = tetapan Planck , 6,6 x 1027 erg-det Ʋ = frekuensi, dalam Hz C = kecepatan cahaya, 3 x 1010 cm/det λ = panjang gelombang, dalam cm

Panjang gelombang cahaya UV atau tampak bergantung pada mudahnya promosi elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk

promosi elektron akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih panjang. Senyawa yang menyerap cahaya dalam daerah tampak (yakni senyawa berwarna) mempunyai elektron yang lebih mudah dipromosikan daripada senyawa yang menyerap pada panjang gelombang UV yang lebih panjang. Π→ Π* λ maks = 180 nm

promosi elektron akan menyerap pada panjang gelombang yang lebih pendek. Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit

A

n→ Π* λ maks = 250 nm
n→ Π* λ maks = 250 nm
  • 150 200

300

λ maks

Pada kebanyakan transisi Π→ Π* keadaan tereksitasi lebih terkutub (polar) daripada keadaan dasar. Akibatnya, pada transisi Π→ Π* , dalam pelarut

polar, absorpsi akan bergeser ke panjang gelombang lebih besar. Pergeseran absorpsi ke panjang gelombang lebih besar disebut efek batokromik (pergeseran merah). Molekul yang mempunyai elektron bebas (tidak terikat) dapat berantaraksi dengan pelarut berikatan hidrogen secara lebih baik dalam keadaan

dasar dari pada dalam keadaan tereksitasi. Akibatnya, absorpsi transisi n→ Π* akan bergerak ke panjang gelombang yang lebih kecil dalam pelarut polar, yang disebut dengan pergeseran hipsokrom (pergeseran biru).

Proses Absorbsi Cahaya pada Spektrofotometri

Ketika cahaya dengan panjang berbagai panjang gelombang (cahaya polikromatis) mengenai suatu zat, maka cahaya dengan panjang gelombang tertentu saja yang akan diserap. Di dalam suatu molekul yang memegang peranan

penting adalah elektron valensi dari setiap atom yang ada hingga terbentuk suatu

materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika dikenai suatu energi. Jika zat menyerap cahaya tampak dan UV maka akan terjadi perpindahan elektron dari keadaan dasar menuju ke keadaan tereksitasi. Perpindahan elektron ini disebut transisi elektronik. Apabila cahaya yang diserap adalah cahaya inframerah maka elektron yang ada dalam atom atau elektron ikatan pada suatu molekul dapat hanya akan bergetar (vibrasi). Sedangkan gerakan berputar elektron terjadi pada energi yang lebih rendah lagi misalnya pada gelombang radio. Atas dasar inilah spektrofotometri dirancang untuk mengukur konsentrasi suatu suatu yang ada dalam suatu sampel. Dimana zat yang ada dalam sel sampel disinari dengan cahaya yang memiliki panjang gelombang tertentu. Ketika cahaya mengenai sampel sebagian akan diserap, sebagian akan dihamburkan dan sebagian lagi akan diteruskan. Pada spektrofotometri, cahaya datang atau cahaya masuk atau cahaya yang mengenai permukaan zat dan cahaya setelah melewati zat tidak dapat diukur, yang dapat diukur adalah I t /I 0 atau I 0 /I t (perbandingan cahaya datang dengan cahaya setelah melewati materi (sampel)). Proses penyerapan cahaya oleh suatu zat dapat digambarkan sebagai berikut:

materi. Elektron-elektron yang dimiliki oleh suatu molekul dapat berpindah (eksitasi), berputar (rotasi) dan bergetar (vibrasi) jika

Gambar Proses penyerapan cahaya oleh zat dalam sel sampel. dari gambar terlihat bahwa zat sebelum melewati sel sampel lebih terang atau lebih banyak di banding cahaya setelah melewati sel sampel

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum lambert- beer atau Hukum Beer, berbunyi:

“Jumlah radiasi cahaya tampak (ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal larutan”.

Berdasarkan hukum Lambert-Beer, rumus yang digunakan untuk menghitung banyaknya cahaya yang hamburkan:

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakanit as ca h aya d a t ang d an I atau I adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel. Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai: A= a . b . c atau A = ε . b . c dimana: A = absorbansi b = tebal kuvet ( terkadang digunakan l = tebal larutan) c = konsentrasi larutan yang diukur 14 " id="pdf-obj-13-10" src="pdf-obj-13-10.jpg">

dan absorbansi dinyatakan dengan rumus:

Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakanit as ca h aya d a t ang d an I atau I adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel. Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai: A= a . b . c atau A = ε . b . c dimana: A = absorbansi b = tebal kuvet ( terkadang digunakan l = tebal larutan) c = konsentrasi larutan yang diukur 14 " id="pdf-obj-13-14" src="pdf-obj-13-14.jpg">

dimana I 0 merupakan intensitas cahaya datang dan I t atau I 1 adalah intensitas cahaya setelah melewati sampel.

Rumus yang diturunkan dari Hukum Beer dapat ditulis sebagai:

A= a . b . c atau A = ε . b . c
 

A= a . b . c

atau A = ε . b . c

A= a . b . c atau A = ε . b . c
A= a . b . c atau A = ε . b . c

dimana:

A = absorbansi

b = tebal kuvet ( terkadang digunakan l = tebal larutan)

c = konsentrasi larutan yang diukur

ε = tetapan absorptivitas molar (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam molar)

a = tetapan absorptivitas (jika konsentrasi larutan yang diukur dalam ppm)

Absorptivitas molar pada λ tertentu merupakan suatu nilai yang dapat dihitung dengan persamaan:

Є = A /c.

Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan yang digunakan memenuhi kriteria-kriteria berikut:

  • 1. Sinar yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan dengan panjang gelombang tunggal (monokromatis).

  • 2. Penyerapan sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak dipengaruhi oleh molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan.

  • 3. Penyerapan terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal kuvet) yang sama.

  • 4. Penyerapan tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan yang diukur harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid atau suspensi yang ada di dalam larutan.

  • 5. Konsentrasi

analit

rendah.

Karena

apabila

konsentrasi

tinggi

akan

menggangu kelinearan grafik absorbansi versus konsntrasi.

BAB III KESIMPULAN

Spektrofotometri merupakan alat yang terdiri dari spektrofotometer dan fotometer.

Spektrofotometri digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan, atau diemisikan sebagai fungsi panjang gelombang. Langkah-langkah analisis kuantitatif yang digunakan yaitu:

  • 1. Penentuan panjang serapan maksimum

  • 2. Pembuatan kurva kalibrasi

  • 3. Pengukuran konsentrasi sampel

Komponen yang harus ada dalam sebuah spektrofotometer yaitu sumber cahaya polikromatis, slit, pendispersi, sel sampel, dan detektor. Hukum yang mendasari spektrofotometer UV/Vis yaitu “bila suatu sinar monokromatis dilewatkan pada suatu media transparan, maka bertambah atau turunnya intensias sinar yang di teruskan sebanding dengan bertambah tebal dan kepekatan media tersebut. Berdasarkan hukum Lambert-Beer, diperoleh prinsip kerja spektrofotometri yaitu bila cahaya monokromatik melalui suatu media, maka sebagia cahaya tersebut diserap, sebagian dipantulkan, dan sebagian lagi dipancarkan.

  • 2.1 Metodologi Kuantitatif Spektrofotometri UV-VIS

Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari spektrum

dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi. Jadi spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi sebagai panjang gelombang. Langkah-langkah analisis kuantitatif dengan kurva kalibrasi adalah sebagai berikut :

2.1 Penentuan panjang gelombang serapan maksimum (λmax)

Penentuan λ max dilakukan pada larutan standar dengan konsentrasi yang memberikan serapan dengan kesalahan fotometrik terkecil, yaitu sekitar A = ± 0,4343. Konsentrasi tersebut dapat dihitung dari nilai absorptivitas molar (ɛ) Contoh: Nifedipin dalam metanol pada λ 235 nm mempunyai ɛ = 21.590

2.1 Metodologi Kuantitatif Spektrofotometri UV-VIS Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari spektrometer dan

2.1 Pembuatan Kurva Kalibrasi

Kurva Kalibrasi dibuat dengan menyiapan sederetan larutan standar dan serapan masing-masing larutan itu diukur pada panjang gelombang maksimum.

Contoh: Larutan standar nifedipin BPFI 4, 6, 8, 10 dan 12 mcg/mL dalam metanol diukur pada λ max 235 nm (Sirait, 2009)

Kurva kalibrasi nifedipin BPFI Perhitungan Persamaan Regresi Nifedipin BPFI (Sirait, 2009)
Kurva kalibrasi nifedipin BPFI
Perhitungan Persamaan Regresi Nifedipin BPFI (Sirait, 2009)
2.1 Pembuatan Kurva Kalibrasi Kurva Kalibrasi dibuat dengan menyiapan sederetan larutan standar dan serapan masing-masing larutan
2.1 Pembuatan Kurva Kalibrasi Kurva Kalibrasi dibuat dengan menyiapan sederetan larutan standar dan serapan masing-masing larutan

18

Persamaan garis regresi: Y = 0,052807 X + 0,002798

2.1 Pengukuran konsentrasi larutan sampel

Larutan sampel dibuat dengan cara melarutkan sampel dalam pelarut yang sama dengan pelarut untuk pembuatan kurva kalibrasi dan dengan konsentrasi yang diperkirakan mempunyai serapan sekitar A = 0,4343. Kemudian serapan diukur pada λ max dan hasilnya dimasukkan ke Persamaan Regresi sehingga diperoleh kadar larutan sampel. Contoh: Absorban larutan serbuk tablet Adalat® dalam metanol = 0,4625 (Sirait,

2009).

Persamaan garis regresi: Y = 0,052807 X + 0,002798 0,4625 = 0,052807 X + 0,002798 X = 8,70532315791467 mcg/mL Jadi kadar larutan nifedipin = 8,7 mcg/mL

Hal-hal yang perlu diperhatikan

1. Larutan yang dianalisis merupakan larutan berwarna

Apabila larutan yang akan dianalisis merupakan larutan yang tidak berwarna, maka larutan tersebut harus diubah terlebih dahulu menjadi larutan yang berwarna. Kecuali apabila diukur dengan menggunakan lampu UV.

  • 2. Panjang gelombang maksimum Panjang gelombang yang digunakan adalah panjang gelombang yang mempunyai absorbansi maksimal. Hal ini dikarenakan pada panajgn gelombang maksimal, kepekaannya juga maksimal karena pada panjang gelombang tersebut, perubahan absorbansi untuk tiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar. Selain itu disekitar panjang gelombang maksimal, akan

terbentuk kurva absorbansi yang datar sehingga hukum Lambert-Beer dapat terpenuhi. Dan apabila dilakukan pengukuran ulang, tingkat kesalahannya akan kecil sekali. 3. Kalibrasi Panjang gelombang dan Absorban Spektrofotometer digunakan untuk mengukur intensitas cahaya yang dipancarkan dan cahaya yang diabsorbsi. Hal ini bergantung pada spektrum elektromagnetik yang diabsorb oleh benda. Tiap media akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu tergantung pada senyawa yang terbentuk. Oleh karena itu perlu dilakukan kalibrasi panjang gelombang dan absorban pada spektrofotometer agar pengukuran yang di dapatkan lebih teliti.