Anda di halaman 1dari 38

2

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Hak asasi manusia (HAM) adalah hak-hak yang dimiliki manusia semata-
mata karena ia manusia. Umat manusia memilikinya bukan karena diberikan
kepadanya oleh masyarakat atau berdasarkan hukum positif, melainkan semata-
mata berdasarkan martabatnya sebagai manusia.1 Maka meskipun setiap orang
terlahir dengan warna kulit, jenis kelamin, bahasa, budaya dan kewarganegaraan
yang berbeda-beda, ia tetap mempunyai hak-hak tersebut. Selain bersifat
universal, hak-hak itu juga tidak dapat dicabut (inalienable). Artinya seburuk
apapun perlakuan yang telah dialami seseorang atau betapapun bengisnya
perlakuan seseorang, ia tidak akan berhenti menjadi manusia dan karena itu tetap
memiliki hak-hak tersebut. Dengan kata lain, hak-hak itu melekat pada dirinya
sebagai mahluk insani, dan siapapun wajib menghormatinya termasuk negara.2
Keberadaan negara adalah menjamin HAM dalam peraturan perundang-
undangannya serta memastikan terpenuhinya HAM tersebut dalam tataran
implementasi. Dalam konteks ini memanusiakan manusia atau memperlakukan
manusia sesuai dengan kodratnya merupakan suatu keharusan bagi penyelenggara
negara yaitu pemerintah dan pemerintah daerah termasuk memberikan perlakuan
lebih kepada kelompok khusus. Kelompok khusus adalah kelompok yang secara
sosial, ekonomi, budaya dan politik rentan karena ketidakmampuan kelompok ini
dalam berhadapan dengan kelompok lain dalam masyarakat. Hak kelompok
khusus merujuk pada ketentuan Pasal 5 ayat (3) Undang-undang Nomor 39 Tahun
1999 tentang HAM: “Setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat yang

1
Jack Donnely, Universal Human Rights in theory and practice, Cornell University Press, Ithaca
and London, 2003, hlm. 7-12. juga Maurice Cranston, What are Human Rights? Taplinger, New
York, 1973, hlm.70
2
Rhona K.M. Smith et al, Hukum Hak Asasi Manusia, Pusham UII, Yogyakarta, 2008. hlm 11.
2

rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih berkenaan dengan


kekhususannya”.
Salah satu kelompok rentan atau sering disebut kelompok defable itu
adalah Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD) atau Suku Kubu yang telah
hidup menetap dan menjalani kehidupan dalam kawasan hutan selama ratusan
tahun yang lalu, di lokasi-lokasi yang kaya sumber daya alam. Lokasi-lokasi
tersebut diantaranya adalah kawasan pesisir dan hutan di Provinsi Jambi yang
sekarang dikenal sebagai Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Berdasarkan
ketentuan Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber
Daya Alam Hayati dan Ekosistem ditentukan bahwa tidak boleh ada aktivitas
kehidupan di TNBD. Kebijakan taman nasional ini telah mengancam eksistensi
dan hak hidup Orang Rimba yang jumlahnya mencapai 2950 jiwa.3
Pembangunan Taman Nasional Bukit Dua Belas yang dibentuk melalui
Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 258/Kpts-II/2000,
dipermasalahkan oleh Orang Rimba. Taman Nasional Bukit Dua Belas sendiri
mempunyai luas wilayah 65.300 hektar dan secara administratif berada di tiga
kabupaten, yaitu Batang Hari, Tebo, dan Sarolangun di Provinsi Jambi. Selain
Taman Nasional ada bentuk pengelolaan kawasan konservasi lainya yaitu Cagar
alam dan Suaka Marga satwa. Salah satu aturan dalam taman nasional adalah
pembentukan Zonasi, yaitu Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, dan Zona
lainnya, yang menyesuaikan kebutuhan setempat. Zona inti menurut aturannya
adalah kawasan yang tidak boleh dimasuki, diakses dan dimanfaatkan oleh
masyarakat, termasuk masyarakat adat. Demikian pula dengan zona rimba.
Sedangkan zona lain dapat dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya dengan
tidak merubah fungsi pokok kawasan. Ketentuan zonasi ini masuk dalam Rencana
Pengelolaan Taman Nasional Bukit Dua Belas (RPTNBD) yang disusun oleh
3
Komnas HAM, Laporan Akhir Pemantauan Dugaan Pelanggaran Hak Masyarakat Adat Orang
Rimba, Jakarta, 2007, hlm.17.
2

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi yang menimbulkan


keresahan bagi Orang Rimba, karena zonasi membatasi ruang hidup Orang
Rimba, baik untuk kegiatan ekonomi, sosial, maupun budaya.4
Sebagai kelompok khusus Orang Rimba merupakan kelompok minoritas
secara sosial, ekonomi, budaya, politik, dan pembangunan, dibandingkan dengan
masyarakat lainnya. Posisi minoritas tersebut mengakibatkan Orang Rimba sangat
rentan sebagai obyek pelanggaran hak asasi manusia. Orang Rimba juga tidak
tahu bahwa hak asasinya telah dilanggar karena belum mempunyai kemampuan
secara mandiri membela hak-haknya. Karena kekhususan ini, maka Orang Rimba
berhak mendapat perlakuan yang khusus atas setiap kebijakan yang ada sehingga
mendukung pola kehidupan yang mereka jalani, sekaligus untuk menghindari
kerugian bagi mereka. Setiap kebijakan yang ada seharusnya menyesuaikan
dengan pola hidup dan kebudayaan mereka, bukan sebaliknya agar tidak akan
menimbulkan gejolak dan keresahan sosial.5
Kebijakan taman nasional menurut sejarahnya bukan merupakan kebijakan
yang genuine dari masyarakat Indonesia, namun diadopsi dari model konservasi
Negara Amerika Serikat yang dimulai dari pada abad 18. Secara sosial, ekonomi,
budaya, masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat adat mempunyai pola
pelestarian hutan yang berbasis kearifan lokal. Pola kebijakan taman nasional
dengan demikian akan berseberangan dan melanggar kekhususan Orang Rimba,
yang sudah mempunyai pola pelestarian hutan yang mandiri dan khas. Dalam
Pasal 6 ayat (1) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan
“Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan dan kebutuhan dalam
masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi oleh hukum,
masyarakat, dan Pemerintah”.
Terkait dengan adanya ketidaksinkronan berbagai instrumen hukum
mengenai kebijakan Taman Nasional dan jaminan hak asasi orang rimba, apabila
4
Komnas HAM, Ibid..
5
Komnas HAM, Ibid.
2

merujuk pada Undang-undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan


Peraturan Perundangan-undangan maka Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan
Perkebunan Nomor: 258/Kpts-II/2000 tersebut dapat dianggap bertentangan
dengan Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam dan Ekosistem. Di sisi lain, terdapat Surat Keputusan Menteri Kehutanan
dan Perkebunan Nomor: 258/Kpts-II/2000 yang menjamin hak asasi orang rimba
untuk hidup di TNBD. Persoalan potensi pelanggaran HAM Orang Rimba antara
lain berupa hak hidup, hak atas tanah ulayat dan hak untuk hidup bermartabat
dalam kaitannya dengan kebijakan taman nasional yang mengatur tidak boleh ada
aktivitas kehidupan pada zonasi tertentu, tempat dimana Orang Rimbo telah hidup
sejak lama perlu ditelaah dalam karya tulis ini dengan merumuskan judul
Kebijakan Pemerintah dalam Pemenuhan HAM Orang Rimba di Provinsi Jambi.

1.2. Perumusan Masalah


Berdasarkan paparan di latar belakang maka masalah dalam karya tulis ini
dititikberatkan pada tiga persoalan berikut:
1. Bagaimanakah status perlindungan dan pemenuhan HAM Orang Rimba
dalam kaitannya dengan kebijakan taman nasional di Provinsi Jambi.?.
2. Bagaimanakah kebijakan Pemerintah ke depan dalam upaya perlindungan
dan pemenuhan HAM Orang Rimba di Provinsi Jambi?.

1.3 Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan menelaah status perlindungan dan pemenuhan
HAM Orang Rimba dalam kaitannya dengan kebijakan taman nasional di
Provinsi Jambi.
2

2. Untuk menelaah dan merumuskan kebijakan Pemerintah ke depan dalam


upaya perlindungan dan pemenuhan HAM Orang Rimba di Provinsi
Jambi?

1. 4 Manfaat
Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari karya tulis ini adalah:
1.4.1 Secara teoritis meningkatkan pengetahuan dan pemahaman penulis
berkaitan dengan mata kuliah Hukum HAM
1.4.2. Secara praktis memberikan alternatif kebijakan bagi pihak terkait dalam
perlindungan dan pemenuhan HAM kelompok khusus pada umumnya,
Orang Rimba di provinsi jambi khususnya.
2

BAB II
TELAAH PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Hak Asasi Manusia


Asal-usul gagasan mengenai hak asasi manusia (HAM) bersumber dari
teori hak kodrati (natural rights theory). Teori kodrati mengenai hak itu bermula
dari teori hukum kodrati (natural law theory), yang terakhir ini dapat dirunut
kembali sampai jauh ke belakang hingga ke zaman kuno dengan filsafat stoika
hingga ke zaman modern melalui tulisan-tulisan hukum kodrati santo thomas
aquinas.6 Selanjutnya, Hugo de Groot mengembangkan lebih lanjut teori hukum
kodrati aquinas dengan memutus asal-usulnya yang teistik dan membuatnya
menjadi produk pemikiran sekuler yang rasional. Dengan landasan inilah
kemudian pada perkembangan selanjutnya oleh John Locke dikemukakan
pemikiran mengenai teori hak-hak kodrati.
Gagasan locke mengenai hak-hak kodrati diadakan melalui suatu kontrak
sosial (social contract), perlindungan atas hak yang tidak dapat dicabut ini
diserahkan kepada negara. Tetapi, menurut Locke, apabila penguasa negara
mengabaikan kontrak sosial itu dengan melanggar hak-hak kodrati individu, maka
rakyat di negara itu bebas menurunkan sang penguasa dan menggantikannya
dengan suatu pemerintah yang bersedia menghormati hak-hak tersebut. Melalui
teori hak-hak kodrati ini, maka eksistensi hak-hak individu yang pra-positif
mendapat pengakuan yang kuat dalam suatu kontrak sosial yang disebut
konstitusi.7
Menurut John Locke seorang individu memiliki hak-hak alamiah yang
terpisah dari pengakuan politis yang diberikan negara pada mereka. Hak-hak
alamiah ini dimiliki secara terpisah dan dimiliki lebih dahulu dari pembentukan

6
Rona K.M. Smith, op cit, hlm. 12
7

Ibid.
2

komunitas politik manapun. Tujuan utama pelantikan pejabat politis di suatu


negara berdaulat seharusnya adalah untuk melindungi hak-hak mendasar individu.
Bagi Locke, perlindungan dan dukungan pemerintahan bagi hak individu
merupakan justifikasi tunggal dalam pembentukan pemerintahan. Negara hadir
untuk melayani kepentingan dan hak-hak alamiah masyarakatnya, bukan untuk
melayani sistem.8
Gagasan HAM kemudian mengalami perkembangan yang progresif pasca
Perang Dunia II. Pengalaman buruk dunia internasional dengan peristiwa
Holocaust Nazi, membuat dunia merancang instrumen internasional yang
dipergunakan sebagai standar pencapaian HAM, terlebih dengan terbentuknya
perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Dituangkannya prinsip menegaskan kembali
kepercayaan terhadap HAM, terhadap martabat manusia, terhadap kesetaraan hak
laki-laki dan perempuan dan kesetaraan negara besar dan kecil. Seturut dengan itu
dirumuskan pula kewajiban negara untuk melindungi, menghormati dan
memenuhi HAM. Dari sinilah dimulai internasionalisasi HAM. Sejak saat itulah
masyarakat internasional bersepakat termasuk Indonesia menjadikan HAM
sebagai ”suatu tolok ukur pencapaian bersama bagi semua rakyat dan semua
bangsa (a commond standard of achievement for all peoples and all nations)”
melalui instrumen Deklarasi Umum HAM atau International Bill of Human
Rights, berikut dua Kovenannya yaitu Kovenan Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya
(International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights) disebut hak
ekosob serta Kovenan Hak Sipil dan Politik (hak sipol). Kedua Kovenan
Internasional dimaksud telah pula diratifikasi oleh Indonesia.
Daftar hak sipil dan politik (sipol) sebagaimana dimuat dalam Kovenan
Sipol menjamin suatu ruang kebebasan dimana individu sendirilah yang berhak
menentukan dirinya sendiri. Termasuk dalam hak ini adalah hak hidup, hak

8
Scott Davidson, Hak Asasi Manusi : Sejarah, Teori, dan Praktek dalam Pergaulan
Internasional, Pustaka Utama Grafiti, Jakarta, 1994, hlm 36.
2

kebebasan bergerak, hak perlindungan terhadap hak milik, hak kebebasan


berkumpul dan menyatakan pikiran, hak bebas dari hukum yang berlaku surut dan
hak memperoleh peradilan yang fair. Negara tidak boleh berperan aktif
terhadapnya karena akan mengakibatkan pelanggaran terhadap hak-hak dan
kebebasan tersebut.9
Berbeda dengan hak sipol, hak ekosob berawal mula dari tuntutan agar
negara menyediakan pemenuhan terhadap kebutuhan dasar setiap orang, mulai
dari makan sampai pada kesehatan. Negara dengan demikian dituntut bertindak
lebih aktif, agar hak-hak tersebut dapat terpenuhi. Karena itu hak ekonomi sosial
dan budaya ini dirumuskan dalam bahasa yang positif ”hak atas” (rights to) bukan
dalam bahasa yang negatif ”bebas dari” (freedom from). Hak-hak ini adalah hak
atas pekerjaan dan upah yang layak, hak atas jaminan sosial, hak atas pendidikan,
hak atas kesehatan, hak atas pangan, hak atas perumahan, hak atas tanah, hak atas
lingkungan yang sehat dan hak atas perlindunngan hasil karya ilmiah, kesusatraan
dan kesenian.
Hak-hak ekonomi, sosial dan budaya ini sering dikatakan sebagai hak-hak
positif. Yang dimaksud dengan hak-hak positif di sini adalah bahwa pemenuhan
hak-hak tersebut sangat membutuhkan peran aktif negara. Keterlibatn negara di
sini harus menunjukan tanda plus (positif), tidak boleh menunjukan tanda minus
(negatif). Jadi untuk memenuhi hak-hak yang dikelompokkan hak ekonomi, sosial
dan budaya, negara diwajibkan untuk menyusun dan menjalankan program dan
mengevaluasinya bagi pemenuhan hak-hak tersebut. Sejumlah negara telah
memasukkan hak ini ke dalam Konstitusi mereka termasuk Indonesia.

2.2. Instrumen Hukum HAM bagi Perlindungan Kelompok Khusus


Komitmen bangsa Indonesia sebagai negara hukum tersebut diwujudkan
dalam satu bab khusus tentang hak asasi manusia di Undang-undang dasar 1945

9
Rona K.M. Smith, 2009, hlm. 37.
2

yakni pasal 28 dan pasal 28A sampai pasal 28 J. Selain pada bab khusus pada
undang – undang dasar 1945 juga terdapat pada Undang-undang Nomor.39 Tahun
1999 tentang HAM, Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan
Kovenan Hak Ekonomi Sosial dan Budaya serta Undang-undang Nomor 12
Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil dan Politik.
Secara normatif jaminan hak hidup sebagai HAM di Indonesia berlaku
bagi seluruh warga negara indonesia tanpa terkecuali seperti yang disebutkan
dalam pasal 28A Undang Undang Dasar 1945 bahwa ”Setiap orang berhak untuk
hidup serta berhak me mpertahankan hidup dan Kehidupannya”. Perumusan
”setiap orang” dalam konstitusi tersebut mengindikasikan hak yang dimaksud
berlaku bagi seluruh warga negara komponen bangsa tanpa terkecuali termasuk di
dalamnya masyarakat adat. Hak kelompok khusus merujuk pada ketentuan Pasal
5 ayat (3) Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999: “Setiap orang yang termasuk
kelompok masyarakat yang rentan berhak memperoleh perlakuan dan
perlindungan lebih berkenaan dengan kekhususannya”. Kemudian, dalam Pasal 6
ayat (1) disebutkan: “Dalam rangka penegakan hak asasi manusia, perbedaan
dan kebutuhan dalam masyarakat hukum adat harus diperhatikan dan dilindungi
oleh hokum, masyarakat, dan Pemerintah”. Pasal 6 ayat (2) yaitu : “Identitas
budaya masyarakat huku adat”, termasuk hak atas tanah ulayat dilindungi,
selaras dengan perkembangan zaman.
Seterusnya, kewajiban, dan tanggung jawab negara berdasarkan pada
Undang-undang Nomor. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, yaitu:
Pasal 8 : Perlindungan, Pemajuan, Penegakan, dan Pemenuhan hak asasi manusia
terutama menjadi tanggung jawab pemerintah.

Pasal 71 : Pemerintah Wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi,


menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam Undang-
undang ini, peraturan perUndang-undangan lain, dan hokum international tentang
Hak asasi manusia yang diterima oleh Negara Republik Indonesia.
2

Pasal 72 : Kewajiban dan tanggung jawab Pemerintah sebagaimana dimaksud


dalam pasal 71, meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hokum,
politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan keamanan Negara, dan bidang lain.

Suatu terobosan historis terhadap kebuntuan yang dialami selama berpuluh


dalam perjuangan melindungi, mengakui, dan menghormati hak masyarakat
hukum adat ini tercapai sewaktu Sidang Umum PBB mensahkan U.N.
Declaration on the Rights of the Indigenous Peoples, 13 September 2007. Sudah
barang tentu, sebagai dokumen yang non-legally binding, deklarasi ini tidak
memerlukan ratifikasi, namun norma-norma yang terkandung di dalamnya
bermanfaat sebagai salah satu rujukan, termasuk bagi Indonesia dalam pengakuan dan
pernghormatan terhadap masyarakat adat termasuk Orang Rimba.10
Orang Rimba atau Suku Kubu atau Suku Anak Daalam (SAD) merupakan
suku minoritas yang termarginalkan dalam tatanan masyarakat provinsi Jambi.
Dalam keseharian kehidupan mereka pada umumnya menggantungkan kebutuhan
hidup dan berpenghidupan di tengah hutan, tepatnya di kawasan hutan yang kini
ditentukan oleh negara sebagai Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD).
Perlindungan dan jaminan pemenuhan HAM Orang Rimba sebagai kelompok
khusus secara normatif memiliki posisi yang kuat namun kebijakan menentukan
tanah mereka sebagai taman nasional di satu pihak justru berpotensi mengancam,
mengurangi dan membatasi HAM Orang Rimba.

10
Saafroedin Bahar, op cit, hlm. 9.
2

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Penelitian mengenai kebijakan pemerintah dalam pemerintah dalam
rangka pemenuhan HAM Orang Rimba merupakan penelitian yuridis normatif
(legal research) yang didukung peneltian empiris.Menurut Soerjono Soekanto dan
Sri Mamudji bahwa “Penelitian hukum normatif mencakup: (1) penelitian
terhadap asas-asas atau prinsip-prinsip hukum; (2) penelitian terhadap sistematika
hukum; (3) penelitian taraf sinkronisasi vertikal dan horisontal; (4) perbandingan
hukum; dan (5) sejarah hukum.” (Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji:1985: 15)
Bertalian dengan penelitian normatif dilakukan dengan pendekatan
perUndang-undangan (Statute Approach), penelitian ini dilakukan dengan
menelaah kerangka normatif dari berbagai instrumen HAM berupa konstitusi,
peraturan perUndang-undangan, panduan pelaporan, concluding observation
tentang prinsip-prinsip dan standar-standar HAM terkait kebijakan pemenuhan
HAM HAM kelompok khsuss. Seterusnya, penelitian ini juga meliputi taraf
sinkronisasi yaitu bagaimana kesesuaian hukum antara peraturan yang mengatur
perlindungan dan pemenuhan HAM kelompok khusus Orang Rimba dengan
hukum yang mengatur mengenai kebijakan taman nasional di Provinsi Jambi.
Melalui pendekatan peraturan perUndang-undangan (Statute Approach)
akan ditelaah aspek sinkronisasi peraturan perUndang-undangan antara instrumen
hukum Undang-undang Nomor 05 Tahun 1999 tentang Sumber Daya Hayati dan
Ekosistem mengenai kebijakan taman nasional dengan instrumen Hukum HAM
yang diatur dalam Konstitusi, Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang
HAM dan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan
Hak Ekonomi Sosial dan Budaya dan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2005
tentang Pengesahan Kovenan Hak Sipil, United Nations Declaration on the rights
2

of Indigenous Peoples dan Politik serta Keputusan Menteri Kehutanan dan


Perkebunan Nomor 258/3/Kpts-II/2000 yang antara lain mengatur jaminan hak
hidup Orang Rimba.

3.2 Teknik Pengumpulan dan Sumber bahan hukum


Bahan hukum dikumpulkan melalui studi dokumen dan studi pustaka.
Studi dokumen dilakukan atas bahan hukum yang terdiri dari:
1. Bahan hukum primer yaitu:
- Undang-undang Dasar 1945;
- United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples;
2. Bahan hukum sekunder yaitu:
- Undang-undang Nomor 05 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya;
3. Bahan hukum tersier
- Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 258/Kpts-
II/2000
- Laporan dari Komnas HAM dan KKI-Warsi berkaitan dengan pemantauan
dugaaan pelanggaran HAM terhadap Orang Rimba.
Studi pustaka dilakukan terhadap literatur yang berkaitan dengan perlindungan
dan pemenuhan HAM kelompok khusus berupa buku, jurnal, maupun kertas
kerja.

3 5. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum dan Data


Teknik pengumpulan bahan hukum dilakukan melalui dua cara yaitu:
a. studi kepustakaan
b. studi dokumen
Sedangkan teknik pengumpulan data primer dilakukan melalui studi
lapangan dengan cara wawancara terstruktur pada pemangku kebijakan dan
2

kuesioner pada pemangku hak. Selanjutnya dalam penelitian ini, prinsip dan
standar HAM, pandangan-pandangan serta isi kaidah hukum HAM mengenai
pemenuhan HAM pendidikan diperoleh melalui dua referensi utama yaitu:bersifat
umum yaitu buku-buku yang membahas standar pemenuhan HAM pendidikan,
bersifat khusus, yaitu jurnal, laporan tahunan, hasil penelitian, terbitan berkala dan
lain-lain. Adapun studi dokumen sebagai sarana pengumpulan bahan hukum
ditujukan pada dokumen yang bersifat publik berkaitan dengan kebijakan
pemenuhan HAM pendidikan.

3. 4. Teknik Analisis Bahan Hukum


Bahan hukum dan data primer yang terkumpul yang bersifat prinsip,
standar dan norma HAM hukum nasional dan internasional mengenai
perlindungan dan pemenuhan HAM kelompok khusus Orang Rimba dianalisis
secara kualitatif. Analsis kualitatif tersebut lalu diuraikan secara deskritif dan
perspektif. Analisis deskriftif perspektif ini bertitik tolak dari analisis yuridis
sistematis mengenai kebijakan Pemerintah dalam perlindungan dan pemenuhan
HAM Orang Rimba di Provinsi Jambi.
2

BAB IV
ANALISIS SINTESIS

4. 1. Status Perlindungan dan Pemenuhan HAM Orang Rimba di Provinsi


Jambi

Orang rimba atau sering disebut sebagai suku anak dalam atau suku kubu
telah menetap dan menjalani kehidupannya dalam kawasan hutan bukit dua belas
selama ratusan tahun yang lalu. Seperti diketahui, lokasi masyarakat zaman
dahulu adalah dilokasi-lokasi yang kaya akan sumber daya alam, mengingat
kehidupan mereka yang masih sangat tergantung pada anugerah alam. Lokasi-
lokasi tersebut diantarannya adalah kawasan pesisir dan hutan. Ada banyak
pendapat mengenai sejarah lahir dan terbentuknya orang rimba bukit dua belas.
Pendapat pertama menyatakan bahwa nenek moyang Orang Rimba adalah
seorang perantau asal Pagar Ruyung. Di dalam hutan perantau tersebut bertemu
dengan seorang putri yang berasal dari buah kelumpang. Singkat Cerita akhirnya
mereka menikah, dan keturunan mereka inilah yang sekarang disebut sebagai
Orang Rimba.11
Pendapat kedua menyatakan bahwa nenek moyang Orang Rimba adalah
sekelompok tentara Pagar Ruyung yang tidak berani lagi pulang ke tanah airnya
karena misinya gagal. Kelompok tentara ini pada akhirnya memutuskan untuk
tinggal di hutan dan menikah dengan perempuan desa di sekitar hutan. Keturunan
para tentara inilah yang sekarang disebut sebagai Orang Rimba. Kemudian
pendapat lain yang mengatakan nenek moyang Orang Rimba adalah sisa sisa
tentara Kesultanan Jambi dan tentara Kesultanan Palembang yang terlibat perang
di wilayah Air Hitam. Setelah menjalani perang yang berkepanjangan dan
melelahkan kedua pasukan itu sepakat untuk berdamai. Ternyata kedua pasukan
tersebut tidak mau kembali ke kesultanan masing masing, mereka memilih untuk
tinggal di sekitar hutan Air hitam dan menikah dengan perempuan perempuan

11
Komnas HAM, op cit, hlm. 8.
2

Desa Air Hitam. Keturunan para tentara inilah yang sekarang disebut sebagai
Orang Rimba.
Pendapat ketiga mengatakan bahwa nenek moyang Orang Rimba adalah
kelompok masyarakat Desa Kubu Karambia kerajaan Pagar Ruyung yang
menolak untuk menerima ajaran Agama Islam dan melarikan diri kekawasan
hutan Bukit 12. Keturunan masyarakat inilah yang sekarang disebut sebagai
Orang Rimba. Selanjutnya ada Pendapat yang mengatakan bahwa nenek moyang
Orang Rimba adalah Imigran gelombang pertama yang datang ke Indonesia dari
wilayah utara. Mereka datang pada tahun 2000 SM. Mata pencaharian mereka
adalah bercocok tanam, berburu dan mengumpulkan hasil hutan. 1500 tahun
kemudian datang gelombang imigran kedua ke Indonesia. Imigran gelombang
kedua ini dalam segala hal jauh lebih unggul. Dengan mudah imigran gelombang
kedua ini menaklukan imigran gelombang pertama. Menurut beberapa sejarawan,
imigran gelombang pertama dijadikan budak oleh imigran gelombang kedua.
Tidak tahan di perbudak akhirnya imigran gelombang pertama ini memutuskan
untuk melarikan diri ke dalam hutan dan membentuk komunitas baru sebagai
orang rimba. Keturunan imigran pertama inilah yang sekarang disebut sebagai
Orang Rimba.
Dari pendapat-pendapat diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa nenek
moyang Orang Rimba pada awalnya tidak tinggal di hutan. Mereka dipaksa
tinggal di hutan oleh satu keadaan tertentu. Nenek moyang Orang Rimba
memutuskan untuk tinggal di hutan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan
diri. Pada akhirnya hutan menjadi identitas diri bagi komunitas ini. Dari sini
muncullah sebutan suku kubu yang artinya pertahanan diri, untuk
membedakannya dengan Orang Terang yang tinggal di dusun. Salah satu tempat
hidup orang rimba adalah bukit duabelas, yang terletak dipropinsi Jambi. Tempat
2

lain dimana keberadaan orang rimba masih eksis adalah di hutan bukit tiga puluh
provinsi Riau dan Jambi.12
Orang rimba Bukit duabelas adalah masyarakat adat yang tinggal secara
semi nomaden dikawasan hutan bukit duabelas. Orang rimba disebut sebagai
komunitas semi nomaden karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke
tempat lainnya. Perpindahan orang rimba dari satu tempat ke tempat lainnya
disebabkan oleh beberapa hal seperti ;
1. Melangun, karena ada anggota keluarga yang meninggal.
2. Menghindari musuh, dan
3. Membuka ladang baru.

Bukit Duabelas terletak diperbatasan tiga kabupaten yaitu Batang Hari,


Tebo, dan Sarolangun, Provinsi Jambi. Saat ini, berdasarkan keterangan yang
diberikan oleh tokoh masyarakat adat Orang Rimba pada pertemuan adat di Kota
Bangko bulan April 2006, Paling sedikit terdapat 59 Rombong kecil atau
kelompok kecil Orang Rimba yang hidup di kawasan hutan bukit
duabelas.Diantara 59 kecil rombong tersebut, beberapa ada yang mulai hidup dan
menyatukan diri dengan kehidupan desa sekitarnya. Tetapi sebahagian besar
masih tinggal di hutan dan masih menerapkan hukum adat sebagaimana nenek
moyangnya dahulu. Jumlah Orang Rimba di Bukit Dua Belas, sampai saat ini
belum diketahui secara pasti, tetapi seandainya disetiap rombong terdapat 10
kepala keluarga dan disetiap keluarga terdiri dari lima orang jiwa maka jumlah
Orang Rimb bisa mencapai 2950 jiwa.13
Berkaitan dengan budaya orang dan adat Orang Rimba seperti dijelaskan
diatas, maka pembangunan Taman Nasional Bukit Dua Belas yang dibentuk
melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 258/Kpts-
II/2000, dipermasalahkan oleh Orang Rimba. Taman Nasional Bukit Dua Belas

12
Ibid.
13
Kompas, Orang Rimba Terancam, Selasa 17 Maret 2009, hlm. 14.
2

sendiri mempunyai luas wilayah 65.300 hektar dan secara administratif berada di
tiga kabupaten, yaitu Batang Hari, Tebo, dan Sarolangun, Provinsi Jambi.
Taman nasional dibentuk berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990
tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistim. Selain Taman
Nasional ada bentuk pengelolaan kawasan konservasi lainya yaitu Cagar alam dan
Suaka Marga satwa. Salah satu aturan dalam taman nasional adalah pembentukan
Zonasi, yaitu Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, dan zona lainnya yang
menyesuaikan kebutuhan setempat. Zona inti menurut aturannya adalah kawasan
yang tidak boleh dimasuki, diakses dan dimanfaatkan oleh masyarakat, termasuk
masyarakat adat. Demikian pula dengan zona rimba. Sedangkan zona lain dapat
dimanfaatkan sesuai dengan peruntukannya dengan tidak merubah fungsi pokok
kawasan. Ketentuan zonasi ini masuk dalam Rencana Pengelolaan Taman
Nasional Bukit Duabelas (RPTNBD) yang disusun oleh BKSDA Jambi, yang
menimbulkan keresahan bagi Orang Rimba. Zonasi akan membatasi ruang hidup
Orang Rimba, baik untuk kegiatan ekonomi, sosial, maupun budaya.
Hak kelompok khusus, dimana diduaga belum ada perlakuan dan
perlandungan lebih terhadap Orang Rimba sebagai kelompok Khusus. Hak atas
Adat-istiadat, dimana diduga kebijakan Taman Nasional dan pemerintah secara
umum akan memnghambat, mengurangi, dan menghapus hak atas adat istiadat
Orang Rimba. Hak atas Tanah Ulayat, dimana diduga ada upaya dan/atau
tidndakan untuk tidak mengakui hak ulayat Orang Rimba. Hak untuk hidup secara
bermartabat, dimana diduga terjadi pembatasan, pengurangan, dan pelarangan
terhadap aktivitas kehidupan Orang Rimba di dalam Taman Nasional.
Masyarakat adat, termasuk Orang Rimba, adalah kelompok khusus yang
wajib mendapatkan perlakukan khusus dan perlindungan lebih dari negara. Hal ini
disebabkan posisi mereka yang sangat lemah secar sosial, ekonomi, politik, dan
pembangunan. Untuk itu mereka sangat rentan terhadap pelanggaran Hak asasi
manusia. Namun diduga previlege ini tidak dihormati, dilindungi, dan dipenuhi
2

oleh pemegang kebijakan sehingga terjadi perlakukan yang tidak semestinya atau
terjadi diskriminasi perlakuan dengan kelompok masyarakat lain. Pola
kepamilikan dan pemanfaatan tanah Orang Rimba secara komunal, dimana
pemimpin adat yang akan mengalokasikan tanah untuk dimanfaatkan, bukan
untuk dimiliki. Tanah ulayat Orang Rimba menyebar didalam kawasan yang saat
ini sudah ditunjuk sebagai Taman nasional, yang artinya dalam pengelolaan
nagara, dalam hal ini Departemn Kehutanan. Akibatnya akan terjadi overlapping
klaim kepemilikan anatara tanah ulayat dan kawasan taman nasional maupun
dengan ekspansi perkebunan kelapa sawit yang berkembang cepat di kawasan
hidup Orang Rimba yang berpotensi terjadi pelanggaran hak atas tanah ulayat.
Menurut pengaduan awal dan temuan lapangan maupun bukti-bukti yang
disampaikan oleh pengadu, diduga telah terjadi pembatasan, pengurangan, dan
pelarangan terhadap aktivitas kehidupan Orang Rimba didalam taman nasional
oleh staf BKSDA. Hal ini menyebabkan terganggunya kehidupan Orang Rimba
karena beberapa dari mereka tidak dapat lagi berladang, memanfaatkan hasil
hutan, maupun aktifitas lain didalam kawasan taman nasional. Disamping
persoalan didalam taman nasional, ditemukan juga kasus dimana Orang Rimba
yang telah direlokasi didesa tidak mendapatkan jaminan hidup yang layak sebagai
syarat mendasar memenuhi kehidupannya. Padahal semula mereka dijanjikan
fasilitas dasar untuk memulai kehidupa diluar kawasan hutan.
Tuntutan global mendesak negara di berbagai belahan dunia untuk
melakukan pembangunan berbasis HAM (right-based development) sebagai suatu
standar internasional HAM yang diarahkan untuk mendukung dan melindungi
HAM. Pembangunan berbasis HAM itu sendiri pada hakikatnya memadukan
norma-norma dan standar-standar (perjanjian, konvensi dan deklarasi) serta
prinsip-prinsip (kesetaraan, keadilan, pemberdayaan, akuntabilitas dan partisipasi)
sistem internasional HAM ke dalam perencanaan, kebijakan dan proses-proses
pembangunan. Karena itu, strategi ini mengandung elemen-elemen: a)
2

menunjukkan kaitan langsung dengan HAM, b) akuntabilitas, c) pemberdayaan,


d)partisipasi, dan e) tidak diskriminatif dan memberi perhatian kepada kelompok-
kelompok rentan.14(Nicola Colbran:2009:6)
Negara tidak dapat diartikan hanya pemerintah pusat, sebab negara
merupakan representasi institusi yang mewakili rakyat mengelola kepentingannya
baik di level pemerintahan pusat maupun daerah. Dengan demikian, tidak ada
dikotomi antara pemerintah pusat dan daerah. Keduanya memiliki porsi tanggung
jawab yang sama untuk melayani warga dengan pedoman kewenangan dan
kewajiban yang dirumuskan dalam sistem hukum yang berlaku (peraturan
perUndang-undangan dan hukum tidak tertulis). Masalahnya, negara yang
direpresentasikan oleh pemerintah pusat dan daerah seringkali gagal atau
setidaknya abai terhadap pemenuhan HAM warganya.
Sampai sekitar tahun 1960, pengakuan konstitusional terhadap masyarakat
hukum adat ini tidak banyak dipersoalkan, apalagi digugat. Sebagian faktor
penyebabnya adalah oleh karena jaminan tersebut dianggap sudah seyogyanya
demikian, sebagian lagi oleh karena Republik masih sibuk dengan perang
kemerdekaan. Namun perlindungan terhadap eksistensi dan hak masyarakat
hukum adat ini merosot tajam sejak tahun 1960, seiring dengan meningkatnya
kepentingan negara terhadap sumber daya alam, yang bagaimanapun juga berada
dalam wilayah ulayat masyarakat hukum adat, terutama di luar pulau Jawa.
Dengan berbagai peraturan perundang-undangan, Negara mengembangkan
berbagai kebijakan, yang intinya adalah mengurangi, menghalangi, membatasi,
dan atau mencabut hak-hak tradisional serta hak sejarah masyarakat hukum adat
yang ada, nota bene tanpa memberikan ganti rugi sama sekali. Secara retrospektif
dapat dikatakan bahwa sengaja atau tidak sengaja, seluruh kebijakan Negara yang
mengurangi, menghalangi, membatasi, dan atau mencabut hak-hak tradisional serta

14
Nicola Colbran, 2009, hlm. 6
2

hak sejarah masyarakat hukum adat tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak
asasi manusiai.15
Sesungguhnya, pengakuan secara eksplisit terhadap suatu kelompok atau
suku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat menimbulkan masalah jika
ditinjau dari perspektif hak asasi manusia serta dari faham nasionalisme, oleh
karena pengakuan eksplisit terhadap suatu suku atau kelompok bias ditafsirkan
sebagai suatu diskriminasi terhadap suku atau kelompok lainnya. Walaupun
demikian, pengakuan secara eksplisit terhadap Orang rimba atau Suku Kubu atau
Suku Anak Dalam ini juga bisa ditafsirkan secara positif sebagai affirmative
action, yaitu sebagai suatu kebijakan khusus untuk memperbaiki kesenjangan
yang selama ini berlangsung terhadap Orang Rimba tersebut.
Secara khusus, terdapat sikap ambivalen yang dianut oleh Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok-pokok Agraria terhadap hukum adat dan
masyarakat hukum adat. Pada suatu sisi, Undang-undang ini secara tegas menyatakan
bahwa hukum adat merupakan sumber dari hukum agraria nasional kita. Namun pada
sisi lain, eksistensi masyarakat hukum adat yang merupakan konteks sosio cultural
lahirnya hukum adat tersebut dibebani dengan beberapa kondisionalitas, yang cepat
atau lambat membuka peluang untuk dinafikannya masyarakat hukum adat tersebut.16
Sudah barang tentu, masyarakat hukum adat tidak berdiam diri terhadap
pengurangan, pengambilalihan, atau pencabutan hak-hak tradisionalnya itu. Di
seluruh Nusantara telah terjadi kritik, protes, bahkan perlawanan terbuka, dari
warga masyarakat hukum adat, yang pada umumnya gagal untuk dalam
mempertahankan esksistensi dan hak-hak tradisionalnya itu. Seperti dapat diduga,
mereka tidak berada pada posisi yang dapat membela diri, karena tidak
mempunyai akses pada kekuasaan, baik pada cabang legislatif, eksekutif, ataupun
yudikatif.
15
Saafroedin Bahar, Mendorong Pengakuan, Penghormatan & Perlindungan
Hak Masyarakat Adat di Indonesia, Makalah pada Workshop Hasil Penelitian Di Tiga
Wilayah , Lombok, 21 - 23 Oktober 2008, Pusham UII Yogyakarta, hlm. 7.
16
Ibid.
2

Suatu terobosan historis terhadap kebuntuan yang dialami selama berpuluh


dalam perjuangan melindungi, mengakui, dan menghormati hak masyarakat
hukum adat ini tercapai sewaktu Sidang Umum PBB mensahkan U.N.
Declaration on the Rights of the Indigenous Peoples, 13 September 200713. Sudah
barang tentu, sebagai dokumen yang non-legally binding, deklarasi ini tidak
memerlukan ratifikasi, namun norma-norma yang terkandung di dalamnya
bermanfaat sebagai salah satu rujukan hokum internasional yang
Rencana pengelolaan taman nasional menurut Undang-undang No. 5 /
1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya adalah
kewenangan pusat. Dengan demikian pengelolaan dalam kawasan taman nasional
menjadi kewenangan penuh dari pemerintah pusat, padahal dalam kawasan
terdapat tanah ulayat Orang Rimba. Orang rimba khawatir bahwa kebijakan taman
nasional akan meniadakan pengakuan atas tanah ulayat.
Merujuk pada pasal 9 ayat (1) dimana “setiap Orang berhak untuk hidup,
mempertahankan hidup, dan meningkatkan taraf kehidupannya”. Seperti
disampaikan oleh pengadu bahwa dalam rencana pengelolaan taman ansional
bukit duabelas akan diterapkan pengaturan kawasan zona-zona berdasar Undang-
undang Nomor. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati
dan Ekosistemnya. Zona inti menurut aturan Undang-undang tersebut tidak boleh
dimasuki apalagi dimanfaatkan oleh masyarakat, seperti ditegaskan dalan
Undang-undang tersebut dipasal 33 ayat (1) : “ setiap orang dilarang melakukan
kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti
taman nasioanal”. Padahal Orang Rimba hidup semi nomaden dan berpindah-
pindah, Walaupun zonasi belum dijalankan, pembatasan, pelarangan, dan
ancaman bagi Orang rimba yang menjalani kehidupannya sudah berlangsung.

4.2. Kebijakan Pmerintah ke Depan dalam Rangka Pemenuhan HAM Orang


Rimba.
2

Dalam penegakan hak asasi manusia, pemerintah adalah pemegang


kewajiban dan tanggung jawab (duty holderr) dan masyarakat, secara individu
dan kolektif, adalah pemegang hak (right holder). Relasi ini menjadi jelas karena
pemerintah mempunyai kewenangan melalui kebijakan, regulasi, program, dan
anggaran untuk merealisasikan kewajiban dan tanggung jawabnya, untuk
memenuhi hak warga Negara. Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk tidak
menegakkan hak asasi manusia (no execuse). Pemerintah berkewajiban
mendayagunakan sumber dayanya untuk menghormati, melindungi, memenuhi,
dan memajukan hak asasi manusia.
Kemudian pelanggaran hak asasi manusia dapat dilakukan melalui tiga bentuk,
yaitu:
1. Pelanggaran hak asasi manusia dengan tindakan (by commission), dimana
pemerintah dengan sengaja bertindak melalui kebijakan dan regulasi
sehingga melanggar hak asasi manusia.
2. Pelanggaran hak asasi manusia dengan pembiaran (by omission), dimana
pemerintah dengan sengaja membiarkan terjadinya pelanggaran hak asasi
manusia padahal mempumyai kemampuan untuk mencegah dan menindak
pelanggaran tersebut.
3. Pelanggaran hak asasi manusia berupa ketidakpatuhan (non compliance),
dimana pemerintah tidak mematuhi aturan hak asasi manusia di tingkat
nasional maupun internasional yang telah diratifikasinya.
2

Sejak awal perlu disadari bahwa status hukum kawasan hidup Orang
Rimba di akui melalui status hukum Taman Nasional, akan menimbulkan
problema hukum yang berimplikasi luas terhadap pengelolaan kawasan.
Walaupun alasan keputusan SK Taman Nasional itu adalah perlindungan wilayah
kehidupan dan penghidupan Orang Rimba sebagaimana disebutkan dalam SK
Penetapannya. Karena itu pula sejak awal Keluarga Konservasi Indonesia Warsi
sebagai lembaga swadaya masyarakat yang selama ini menaruh kepedulian
terhadap keberadaan Orang Rimba tidak pernah mengusulkan kawasan ini dengan
status hukum sebagai Taman Nasional tetapi Warsi mengusulkan perluasan Cagar
Biosfir Bukti Duabelas. Status hukum Cagar Biosfir dinilai lebih sesuai untuk
mendukung kehidupan Orang Rimba. Akan tetapi menurut pandangan pemerintah
melalui Departemen Kehutanan, status Cagar Biosfir tidak memiliki landasan
hukum di Indonesia, sehingga tidak memiliki kekuatan hukum. Karena itu
pemerintah secara sepihak memutuskannya menjadi Taman Nasional.
Lemahnya legitimasi hak hidup merka dalam kawasan Taman Nasional
yang hanya diatur lewat sebuah SK Menhutbun. Dalam Undang-undang Nomor
05 Tahun 1990 Bab VII pasal 31 disebutkan, ”Di dalam Taman Nasional, taman
hutan raya, dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan
penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, dan
wisata alam.”
Pasal 33 ayat (1) ”setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat
mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional”.
Berdasarkan bunyi ketentuan pasal tersebut bahwa dalam kawasan Taman
Nasional di Indonesia tidak diperkenankan adanya aktivitas selain yang disebut
dalam pasal 31 tersebut. Selain itu dalam kawasan Taman nasional tidak
diperkenankan adanya aktivitas kegiatan (kehidupan) yang dapat mengakibatkan
perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. Sedang fakta dilapangan,
dalam beraktivitas orang rimba kebanyakan berada dalam kawasan zona inti
2

Taman Nasional yang sebenarnya dilarang. Penetapan mengenai zona inti sangat
membatasi hak Orang Rimba terhadap akses hutan karena hutan larangan yang
selama ini sangat dihormati Orang Rimba malah tidak dimasukkan dalam zona
inti, sedangkan dalam kawasan tersebut terdapat inumon yaitu kawasan berupa
sumber mata air di puncak-puncak bukit yang diyakini sebagai tempat tinggalnya
dewa-dewa.
Jika Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990 tersebut diterapkan secara
konsekuen di seluruh Taman Nasional di Indonesia maka efek sosial yang terjadi
pada orang rimba ialah keharusan untuk meninggalkan kawasan yang selama
beratus tahun mereka gunakan sebagai tempat hidup dan mempertahankan
hidupnya. Kebijakan Pemerintah selanjutnya mengatur hak hidup orang rimba
SK Menhutbun No.258/KPTS-II/2000. Dalam SK tersebut
mengakui adanya kekhasan komunitas masyarakat asli di
dalamnya, yaitu Orang Rimba atau Suku Anak Dalam (SAD).
Dengan legitimasi hak hidup ”hanya” diatur dalam SK
menhutbun yang secara fakta bertentangan dengan undang–
undang maka dapat dikatakan bahwa kedudukan dan hak hidup
orang rimba rentan akan pelanggaran dan konflik jika ada
kepentingan pihak-pihak tertentu.
Berdasarkan paparan tersebut di atas maka perlu diambil langkah
menyusun suatu ketentuan berupa adanya perubahan dari Undang-undang nomor
05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem
dengan menambahkan ketentuan pengecualian. Pasal diskresi dalam tatanan
hukum sekarang merupakan suatu keniscayaan mengingat makin dinamis dan
berkembangnya masyarakat pada periode ini.
Penambahan pasal diskresi pada Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990
dimungkinkan mengingat dalam pembentukan perUndang-undangan di indonesia
dikenal adanya affirmative action. Affirmative action adalah suatu tindakan
2

khusus untuk suatu kelompok tertentu yang bertujuan menjamin kemajuan dan
perlindungan suatu kelompok masyarakat tertentu. Dalam kasus ini tentu orang
rimba di propinsi Jambi, pengaturan dari affirmative action di atur dalam pasal 1
ayat (4) dan pasal 2 ayat (2) konvensi internasional tentang penghapusan segala
bentuk diskriminasi rasial (1965).
Kalimat Pasal diskresi pada Undang-undang ini ditempatkan dalam pasal 33
ayat (3), dengan bunyi :
“ Pelarangan aktivitas kehidupan dalam zona inti kawasan Taman Nasional seperti
yang dimaksud pada ayat (1) di kecualikan terhadap masyarakat adat yang jika
dalam kawasan tersebut sebelum Undang-undang ini diberlakukan telah lama
berdiam dan melakukan aktivitas kehidupan dalam kawasan zona inti kawasan
taman nasional “.
Penambahan Pasal diskresi dapat dilakukan melalui mekanisme revisi
terhadap Undang-undang Nomor 05 tahun 1990. Revisi terhadap Undang-undang
ini juga penting mengingat Undang-undang tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistem ini mengandung banyak kelemahan, antara lain:
1. Masih mengacu kepada Undang-undang 1945 yang belum diamandemen.
2. Mengacu pada Undang-undang Nomor. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup yang sudah tidak berlaku
lagi.
3. Mengacu kepada Undang-undang Nomor 5 tahun1967 tentang Ketentuan-
ketentuan Pokok Kehutanan yang sudah tidak berlaku lagi.
4. Tidak ada satu pasal pun yang mengatur masalah keberadaan Masyarakat
Hukum Adat beserta hak-hak tradisionalnya.
5. Penerapan Undang-undang Nomor. 5 Tahun 1990 ini di banyak tempat
telah melahirkan penderitaan bagi masyarakat hukum adat yang tempat
tinggalnya ditetapkan sebagai kawasan konservasi
2

Dengan penambahan pasal diskresi pada pasal 33 tersebut maka secara


yuridis hak masyarakat adat yang berdiam di kawasan Taman Nasional menjadi
jelas. Bagi orang rimba sendiri pasal diskresi berarti jaminan hukum yang
memiliki legitimasi yang kuat dan jelas tentang pemenuhan hak hidup mereka
dalam kawasan hutan Taman Nasional bukit duabelas (TNBD). Pasal Diskresi
pada Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990 sekaligus dapat mengakhiri
ketidaksinkronan SK Menhutbun No.258/Kpts-II/2000 dengan
ketentuan Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.
Keseriusan pemerintah merumuskan kebijakan yang
memberikan kepastian perlindungan dan pemenuhan HAM Orang
Rimba akan bermakna sebagai bagian dari pelaksanaan
kewajiban dan tanggung jawabnya dalam pemenuhan HAM
Orang Rimba. Sebaliknya ketidaksungguhan pemerintah dalam
merumuskan kebijakan yang berpihak pada pemenuhan HAM
Orang Rimba dapat dianggap bahwa pemerintah melakukan
pengabaian dan penundaan HAM Orang Rimba yang merupakan
bentuk dari pelanggaran HAM dengan tindakan (by commission), dimana
pemerintah dengan sengaja bertindak melalui kebijakan dan regulasi taman
nasional di Provinsi Jambi sehingga melanggar HAM Orang rimba, padahal
mempumyai kemampuan untuk mencegah dan menindak pelanggaran tersebut.
2

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan.
Berdasarkan analisis sintesis pada karya tulis ini maka dapat di ambil kesimpulan
sebagai berikut:
a. Pemberlakuan kebijakan taman nasional di hutan tempat Orang Rimba
hidup telah melanggar hak hidup, hak tanah ulayat dan hak martabat
Orang Rimba yang merupakan kelompok khusus yang wajib mendapatkan
perlakukan dan perlindungan lebih dari pemerintah sesuai dengan
peraturan perUndang-undangan yang berlaku. Pemerintah secara umum
belum memberikan perlakuan dan perlindungan lebih terhadap Orang
Rimba sebagai kelompok khusus dalam kebijakan pembangunan melalui
penetapan kebijakan, program, dan anggaran yang berpihak pada HAM
Orang Rimba.
b. Alternatif kebijakan yang perlu ditempuh oleh pemerintah ke depan adalah
merumuskan penambahan pasal diskresi atau pengecualian pada ketentuan
Pasal 33 Undang-undang Nomor 05 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem mengenai jaminan dan
perlindungan masyarakat adat yang telah hidup sebelum adanya kebijakan
taman nasional tetap diakui dan dilindungi untuk hidup dan menetap di
taman nasional.

5.2 Saran
1. Ke depan dalam rangka pengakuan, penghormatan dan pemenuhan HAM
Orang Rimba perlu diadopsi kebijakan affirmatif bagi kelompok khusus ini
2

yang dituangkan dalam Peraturan Daerah yang bertujuan pemberdayaan Orang


Rimba dengan menetapkan kebijakan yang berbasis HAM Orang Rimba
2. Pemerintah dan pemerintah daerah agar melakukan melaksanakan tanggung
jawab dan kewajibannya termasuk memulihkan HAM Orang Rimba yang telah
dilanggar dengan kebijakan taman nasional bukit dua belas di Provinsi Jambi.
2

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Franz Magnis Suseno. 2008. Sepuluh Tahun HAM di Indonesua Pasca Reformasi:
Sebuah Refleksi (Butir-Butir Pokok Pembahasan), Makalah pada
peluncuran Buku Ajar Hukum HAM tanggal 19 April 2008, Pusham UII
Yogyakarta.

Jack Donnely. 2003. Universal Human Rights in Theory and Practice,


University Press Ithaca London.

Nicola Colbran. 2008. Seminar Hasil Penelitian Hak Ekosob Status dan Kondisi
Pemenuhan Hak Atas Pendidikan dan Perumahan di Tiga Wilayah (Aceh,
Yogyakarta dan Kalimantan Timur), Makalah pada Workshop Hak
Ekosob diselenggarakan oleh Pusham UII kerja sama dengan Norwegian
Centre for Human Rights, Yogyakarta 16-18 Desember 2008)

Rhona K.M. Smith et al. 2009. Hukum Hak Asasi Manusia, Pusham UII,
Yogyakarta

Scott Davidson. 1994. Hak Asasi Manusia Sejarah, Teori dan Praktik dalam
Pergaulan Internasional, Grafiti Press, Jakarta.

Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji.1985. Penelitian Hukum Normatif, Grafiti


Press, Jakarta.

Makalah
Saafroedin Bahar, Kebijakan Negara Dalam Rangka Penghormatan,
Perlindungan dan Pengakuan Masyarakat (Hukum) Adat di Indonesia,
Makalah pada Workshop Hasil Penelitian Di Tiga Wilayah “Mendorong
Pengakuan, Penghormatan & Perlindungan Hak Masyarakat Adat di
Indonesia” Lombok, 21 - 23 Oktober 2008, Pusham UII Yogyakarta.

Laporan
Komnas HAM, Laporan Akhir Pemantauan Pelanggaran Hak Masyarakat Adat
Orang Rimba, Jakarta, Maret 2007.

Surat Khabar
Kompas, Orang Rimba Terancam, 17 Maret 2009.
2

Peraturan PerUndang-undangan

Undang-undang Dasar Tahun 1945

Undang-undang Nomor. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam


Hayati dan Ekosistem

Undang-undang Nomor. 39 Tahun 1999 tentang HAM


2

DAFTAR ISI
Lembar Pengesahan................................................................................i
Kata Pengantar......................................................................................ii
Daftar Isi................................................................................................iii
Ringkasan..............................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................6
1.3 Tujuan Penulisan..............................................................................8
1.4 Manfaat Penelitian............................................................................8
BAB II TELAAH PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Hak Asasi Manusia...................................................9
2.2 Hak Untuk Hidup............................................................................12
2.3 Hak Asasi Masyarakat Adat............................................................13
2.4 Sinkronisasi. ....................................................................................15
2.5 Undang – Undang............................................................................17
2.6 Surat Keputusan .............................................................................18
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian.....................................................................19
3.2 Teknik Pengumpulan dan Sumber Data..........................................20
BAB IV ANALISIS SINTESIS
4.1 Efek Hukum UNDANG-UNDANG Nomor 05 Tahun 1990 terhadap Orang
rimba
di Propinsi Jambi.............................................................................21
4.2 Taman Nasional Bukit Duabelas untuk Perlindungan
Hak hidup Orang Rimba................................................................22
4.3 Sinkronisasi UNDANG-UNDANG Nomor 05 tahun 1990 dengan SK
Menhutbun
2

No.258/KPTS-II/2000 sebagai solusi...............................25


BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan................................................................. 28
5.2 Saran .......................................................................28
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
2

LEMBAR PENGESAHAN

KARYA TULIS ILMIAH dengan Judul:

ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM RANGKA


PEMENUHAN HAM ORANG RIMBA
DI PROPINSI JAMBI

NAMA PENULIS : Beny Saputra (B10007241)


Chris januardi (B10008085)

Jambi, 27 April 2009

Disahkan oleh:

Pembantu Dekan III Dosen Pembimbing


Fakultas Hukum Universitas Jambi

Khabib Nawawi, S.H, M.H. Retno Kusniati, S.H, M.H.


NIP. 131654138 NIP. 132093589
2

Kata Pengantar

Puji syukur atas segala nikmat dari Allah SWT, dengan perkenan dan
rahmatNYA maka akhirnya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah
dengan judul Kebijakan Pemerintah Daerah dalam Rangka Pemenuhan
HAM Orang Rimba Di Propinsi Jambi, dalam kesempatan ini penulis
menghaturkan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah banyak
membantu dalam proses penyusunan karya tulis ini, antara lain :
1. Bapak Khabib Nawawi, S.H, M.H selaku Pembantu Dekan III Fakultas
Hukum Universitas Jambi yang memberikan kesempatan kepada penulis
untuk terus berkarya.
2. Ibu Retno Kusniati, S.H, M.H selaku dosen pembimbing yang dengan
kesabaran dan perhatian membimbing penulis dalam pembuatan karya
tulis ini.
3. Keluarga Konservasi Indonesia-Warsi Jambi selaku LSM yang bergerak
dalam usaha penyelamatan Orang Rimba di Propinsi Jambi yang banyak
memberikan data dan informasi kepada kami dalam penyelesaian karya
tulis ini.
4. Kedua orang tua penulis yang senantiasa mendoakan penulis untuk
berprestasi.
5. Rekan-rekan dan semua pihak yang membantu dalam proses pembuatan
karya tulis ini.
Akhirnya dengan segala kerendahan hati dan selalu mengharapkan keridhoan
Allah SWT semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi peningkatan
2

pemahaman tentang mata kuliah Hukum HAM umumnya, pemenuhan Hak


Hidup kelompok defable Orang Rimba di Provinsi Jambi khususnya.

Jambi, 27 April 2009

Penulis
2

KARYA TULIS ILMIAH

ANALISIS KEBIJAKAN PEMERINTAH DALAM RANGKA


PEMENUHAN HAK HIDUP ORANG RIMBA
DI PROPINSI JAMBI

Beny Saputra B10007241


Chris Januardi B10008085

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS JAMBI
2

2009
Ringkasan

Karya tulis ilmiah ini dilatarbelakangi bahwa Orang rimba atau sering disebut
sebagai suku anak dalam atau suku kubu yang telah menetap dan menjalani
kehidupan dalam kawasan hutan selama ratusan tahun yang lalu, dilokasi-lokasi
yang kaya sumber daya alam. Lokasi-lokasi tersebut diantaranya adalah kawasan
pesisir dan hutan di Provinsi Jambi yang sekarang dikenal sebagai Taman
Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Namun, berdasarkan ketentuan Undang
Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan
Konservasi ditentukan bahwa tidak boleh ada aktivitas kehidupan di TNBD.

Kebijakan taman nasional telah menimbulkan keresahan bagi Orang Rimba untuk
menjalani kehidupannya dan berpotensi terjadinya pelanggaran Hak Asasi
Manusia (HAM). Di samping itu, Pemerintah secara secara umum dan
pemerintah daerah khususnya, belum memberikan perlakuan dan perlindungan
terhadap Orang Rimba sebagai kelompok khusus. Potensi pelanggaran HAM
antara lain adalah hak hidup dan hak ulayat Orang Rimba, berupa pembatasan,
pengurangan, dan pelarangan terhadap aktivitas kehidupan Orang Rimba sebagai
akibat kebijakan taman nasional bukit dua belas.

Guna menjamin hak hidup Orang Rimba di TNBD, Pemerintah kemudian


mengeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No.258/KPTS-II/2000 yang mengatur tentang jaminan untuk
tinggal dan hak hidup Orang Rimba. Keputusan ini tidak sinkron
dengan aturan yang lebih tinggi yang mengatur sebaliknya yaitu
Undang Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati
dan Konservasi, dalam konteks ini aturan yang lebih rendah sudh tentu tidak
boleh bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi. Pertanyaannya upaya apa
yang perlu dilakukan untuk melindungi dan memenuhi HAM Orang Rimba yang
hidup di taman nasional bukit dua belas?. Lalu dimanakah posisi hukum dalam
kerangka upaya tersebut?. Seterusnya bagaimanakah kebijakan Pemerintah ke
depan dalam upaya perlindungan dan pemenuhan HAM Orang Rimba.

Melalui penelitian normatif penelitian ini, penelitian ini bertujuan


menganalisis upaya apa yang perlu dilakukan untuk melindungi dan
memenuhi HAM Orang Rimba yang hidup di taman nasional bukit dua belas?.
Lalu dimanakah posisi hukum dalam kerangka upaya tersebut?. Seterusnya
bagaimanakah kebijakan Pemerintah ke depan dalam upaya perlindungan dan
pemenuhan HAM Orang Rimba. Hasil penelitian menunjukan bahwa HAM orang
2

Rimba sebagai kelompok khusus dan sebagai masyarakat adat telah dijamin
perlindungan dan pemenuhan HAMnya melalui Konstitusi dan Undang-undang
Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM, namun perlindungan dan perlakuan lebih
kepada kelompok khusus ini dalam kenyataanya belum terlaksana terlebih dengan
adanya Undang Undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam
Hayati dan Konservasi. Sedangkan jaminan hak hidup bagi Orang Rimba yang
diatur melalui Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No.258/KPTS-II/2000 sangat lemah. Oleh karena itu seharusnya
pengaturan mengenai kebijakan taman nasional memuat
ketentuan pengecualian dalam melalui perubahan Undang Undang
Nomor 05 Tahun 1990 tentang Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem dengan
mengadopsi pasal mengenai hak hidup kelompok khusus yang
sejak dulu ada ini tetap dijamin dan dilindungi. Ke depan
pemerintah daerah yaitu penyelengara pemerintahan di kabupaten Batang hari,
Kabupaten Sarolangun, Kabupaten Tebo, pemerintah Provinsi Jambi, Balai
konservasi sumber Daya alam Jambi dan Balai Taman Nasional Bukit Duabelas
perlu menjamin hak hidup Orang Rimba melalui penyusun Peraturan Daerah serta
mendorong revisi Undang-undang Nomor 05 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam dan Ekosistem dengan merumuskan ketentuan pengecualian
bagi masyarakat adat yang telah hidup di taman nasional tetap dijamin dan
dilindungi haknya.