Anda di halaman 1dari 33

SOAL !

Penghapusan
1. Jelaskan pengertian Penghapusan logistik!
2. Jelaskan alasan dilakukannya penghapusan logistik!
3. Jelaskan cara-cara penghapusan logistik!
4. Berikan contoh kasus penyimpangan logistik !
Pengawasan
1. Jelaskan pengertian pengawasan logistik!
2. Jelaskan alasan mengapa pengawasan logistik sangat penting!
3. Jelaskan apa perbuatan dan sanksi baik bagi pengelola maupun penyedia Barang/Jasa
4. Jelaskan apa yang harus dilakukan untuk meminimalisir korupsi khususnya dalam
pengelolaan logistik !

Page | 1

JAWABAN
A. PENGHAPUSAN
1. PENGERTIAN PENGHAPUSAN LOGISTIK
Pengertian penghapusan
- Menurut Ibnu Syamsi
Penghapusan (disposal) adalah penyingkiran barang-barang inventaris,
-

karena tidak diperlukan atau digunakan lagi.


Menurut Lukas dan Rumsari
Penghapusan logistik merupakan kegiatan pembebasan barang dari
pertanggungjawaban

yang

berlaku

dengan

alasan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan
Menurut Keputusan Menkeu No. 470 KMK.01/1994
Penghapusan adalah keputusan dari pejabat yang berwenang untuk
menghapus barang dari daftar inventaris (Buku Inventaris) dengan tujuan
membebaskan bendaharawan barang dan atau pembantu penguasa barang
(PPBI) dari pertanggungjawaban administrasi barang dan pisik barang
milik/kekayaan

negara

yang

berada

dibawah

pengurusan

dan

penguasaannya sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.


Menurut Permendagri No. 17 Tahun 2007
Penghapusan barang milik daerah adalah tindakan-tindakan penghapusan
barang Pengguna/Kuasa Pengguna dan penghapusan dari Daftar Inventaris
Barang Milik Daerah.

Pengertian Penghapusan Logistik


Penghapusan logistik merupakan kegiatan pembebasan barang dari
pertanggung

jawaban

yang

berlaku

dengan

alasan

yang

dapat

dipertanggungjawabkan. Secara lebih operasional, penghapusan logistik


merupakan pengakhiran fungsi logistik dengan pertimbangan- pertimbangan
dan argumentasi- argumentasi tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan

demikian,

dalam

kegiatan

penghapusan

logistik

harus

mempertimbangkan alasan-alasan normative tertentu


(Dwiantara & Sumarto,2005).
Salah satu fungsi dalam manajemen logistik adalah Fungsi Penghapusan
Penghapusan adalah kgiatan atau usaha pembebasan barang dari pertanggungjawaban
sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku (Subagya: 1994).
Program penghapusan dapat ditinjau dari dua aspek antara lain:
Page | 2

a. Aspek yuridis, administrasi dan prosedur


Dalam aspek yuridis mencakup hal-ha: Pembentukan panitia penilai, identifikasi dan
inventarisasi peraturan-peraturan yang mengikat, persyaratan atau ketentuan terhadap
barang yang dihapus, penyelesaian kewajiban sebelum barang dihapus.
b. Aspek rencana pelaksana tehnis
Evaluasi, rencana pemisahan dan pembuangan serta rencana tindak lanjut.

TUJUAN DAN MANFAAT PENGHAPUSAN


Tujuan penghapusan
1. Menuju tertib pelaksanaan penghapusan barang milik/kekayaan negara atau
pemda
2. Menuju kepada adanya kesatuan bahasa atau keseragaman pelaksanaan
penghapusan
3. Menuju pada efisiensi dan efektivitas dalam pemanfaatan barang secara
optimal oleh setiap departemen/lembaga
4. Menetapkan suatu landasan umum penghapusan dan pemanfaatan barang
milik/kekayaan negara atau pemda sesuai peraturan perundang-undangan yang
berlaku
5. Membebaskan

bendaharawan

barang

atau

pengurus

barang

dari

pertanggungjawaban administrasi barang


Manfaat penghapusan
1. Mencegah terjadinya kerugian negara sebagai akibat tidak dilaksanakannya
penghapusan sedini mungkin.
2. Meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP).
3. Menekan biaya operasional terhadap barang- barang yang sudah waktunya untuk
dihapus.
SUMBER :
http://penghapusan-logistik.com
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/
http://penghapusanlogigtik-rumahsakit.blogspot.com
Retno Suryawati . 2012.Administrasi Logistik. Penyusutan dan penghapusan. Power Point
KESIMPULAN :
Menurut saya penghapusan logistik merupakan proses peniadakan barang yang
dikarenakan barang tersebut sudah tidak layak pakai. Penghapusan logistik dilakukan dengan
tujuan membebaskan barang dari tanggung jawab administrasi penyedia barang. Penghapusan
logistik perlu dilakukan supaya barang yang sudah rusak dapat segera di hilangkan dan
diganti dengan yang baru dan lebih layak.
Page | 3

2. ALASAN DILAKUKAN PENGHAPUSAN LOGISTIK


Alasan penghapusan barang antara lain:
a. Barang hilang, akibat kesalahan sendiri, kecelakaan, bencana alam,
administrasi yang salah, tercecer atau tidak ditemukan
b. Tehnis dan ekonomis: Setelah nilai barang dianggap tidak ada
manfaatnya. Keadaan tersebut disebabkan faktor-faktor: Kerusakaan
yang tidak dapat diperbaiki, obsolete (meningkatkan efisiensi atau
efektifitas), kadaluarsa yaitu suatu barang tidak boleh dipergunakan
lagi menurut ketentuan waktu yang ditetapkan, aus atau deteriorasi
yaitu barang mengurang karena susut, menguap atau hadling, Busuk
karena tidak memenuhi spesifikasi sehingga barang tidak dapat
dipergunakan lagi.
c. Surplus dan ekses
d. Tidak bertuan: Barang-barang yang tidak diurus
e. Rampasan yaitu barang-barang bukti dari suatu perkara
Syarat dilakukannya Penghapusan
Menurut Ibnu Syamsi
1. Perlengkapan dalam kondisi rusak berat
2. Perlengkapan sudah tidak efisien/ketinggalan zaman
3. Jumlahnya berlebihan (excess stock)
4. Penghapusan perlengkapan ybs tidak boleh sampai mengganggu kelancaran
pekerjaan
Page | 4

Dasar Penghapusan Barang


Menurut Permendagri No. 17 Thun 2007
Barang Tidak Bergerak
1. Rusak berat, terkena bencana alam/force majeure
2. Tidak dapat digunakan secara optimal (idle)
3. Terkena planologi kota
4. Kebutuhan organisasi karena perkembangan tugas
5. Penyatuan lokasi dalam rangka efisiensi dan memudahkan koordinasi
6. Pertimbangan dalam rangka perencanaan strategis Hankam
Barang Bergerak
a. Pertimbangan Teknis
1. Rusak berat dan tidak ekonomis bila diperbaiki
2. Tidak dapat digunakan lagi akibat modernisasi
3. Kadaluarsa
4. Penggunaan mengalami perubahan dasar spesifikasi dsb.
5. Mengalami penyusutan dalam penyimpanan/pengangkutan

b. Pertimbangan Ekonomis
1. Untuk optimalisasi barang milik daerah yang berlebih atau idle
2. Beaya opersional dan pemeliharaan lebih besar dari manfaat yang diperoleh
c. Pertimbangan karena hilang/kekurangan perbendaharaan atau kerugian,
yang disebabkan oleh:
1. Kesalahan atau kelalaian Penyimpan dan/Pengurus Barang
Page | 5

2. Diluar kesalahan/kelalaian Penyimpa dan/Pengurus Barang


3. Mati, bagi tanaman atau hewan/ternak
4. Karena kecelakaan atau alasan tidak terduga (force majeure)
Pertimbangan karena hilang
Secara administratif barang yang hilang harus disingkirkan. Hal ini penting
dilakukan, selain sebagai satu bentuk pertanggungjawaban pemakai, pengambilan
keputusan dan tindakan sebagai konsekuensi atas hilangnya logistik tersebut juga
untuk pengambilan keputusan maupun tindakan managemen logistik berikutnya
khususnya pengadaan logistik guna menghindari gangguan ataupun stagnasi kegiatan
suatu unit kerja.
Dari sumber lain dijelaskan Kriteria untuk Penghapusan Logistik, antara lain :
a. Logistik yang akan dihapus sudah sangat tua dan rusak
Logistik tersebut perlu dihapuskan dengan beberapa alasan: apabila logistik tersebut
digunakan terus dapat membehayakan keselamatan pemakai logistik tersebut, kualitas
maupun kuantitas output yang dihasilkan sudah tidak dapat mencapai tingkat optimal, apalagi
dibandingkan biaya operasional yang relatif tinggi.Apabila logistik ini dioperasionalkan terus,
akan menimbulkan inefektivitas dan inefisiensi organisasi.
b. Logistik yang sudah ketingalan zaman
Logistik yang sudah ketinggalan zaman perlu dihapuskan dengan pertimbangan,
logistik ini dipandang memerlukan dan menghabiskan biaya yang relatif tinggi, baik yang
berkaitan dengan bahan, tenaga, waktu, maupun output, baik ditinjau dari sisi kuantitas
maupun kualitas apabila dibandingkan dengan menggunakan logistik yang relatif baru
c. Logistik berlebihan
Logistik yang berlebihan perlu dihapuskan dengan beberapa alasan:

Page | 6

1) suatu organisasi tidak mungkin menggunakan seluruh logistiknya dalam waktu yang
bersamaan dan yang sekiranya memang logistik tersebut tidak perlu digunakan secara
bersamaan
2) Logistik yang sifatnya berlebihan tersebut tidak dihapuskan tentunya membutuhkan biaya
perawatan, maupun gaji untuk personel yang merawat barang.
3) Logistik tersebut membutuhkan tempat penyimpanan, sehingga bila logistik tersebut tidak
dihapuskan akan boros tempat
4) Apabila logistik tersebut akan digunakan dimasa yang akan akan dating, mungkin sudah
merupakan logistik yang ketinggalan zaman (Out of date)
d. Logistik yang hilang
Secara administrasi, logistik yang hilang harus disingkirkan. Hal ini penting dilakukan, selain
sebagai satu bentuk pertanggungjawaban pemakai, pengambilan keputusan dan tindakan
sebagai konsekuensi atas hilangnya logistik tersebut, juga untuk pengambilan keputusan
maupun tindakan manajemen logistik berikutnya.
SUMBER :
http://penghapusanlogigtik-rumahsakit.blogspot.com
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com
Retno Suryawati . 2012.Administrasi Logistik. Penyusutan dan penghapusan. Power Point

KESIMPULAN :
Didalam pengadaan logistik terdapat beberapa fungsi manajemen logisti, yaitu proses
penghapusan. Proses pengahapusan ini mempunyai banyak manfaat. Alasan dari proses
penghapusan adalah barang sudah tidak layak pakai , rusak , tidak memenuhi kriteria , sudah
ketinggalan jaman, dan lain sebagainya. Penghapusan logistik memang harus dilakukan
supaya barang yang sudah tidak layak pakai tersebut dapat segera diganti, sesuai dengan fugsi

Page | 7

barang masing-masing dan sesui dengan perkembangan jaman seperti sekarang ini. Jika tidak
segera diganti maka akan mengakibatkan hal yang buruk bagi perusahaan logistik.

3. CARA-CARA PENGHAPUSAN LOGISTIK


Sebelum melakukan penghapusan atau penyingkiran logistik ada beberapa hal yang
harus dilakukan yaitu :
a. Penelitian kelayakan penghapusan logistik tertentu yang hendak dihapuskan.
Kegiatan ini dilakukan oleh unit kerja atau Pemilik logistik yang akan dihapuskan
bersama dengan penanggungjawab pengelola logistik.
b. Membuat beberapa alternatif cara penghapusan logistik yang hendak ditempuh,
yang kemudian menentukan saru cara penghapusan logistik yang paling
menguntungkan, baik dengan pertimbangan finansial maupun non finansial.
c. Meminta persetujuan dari pimpinan tertinggi, khususnya sebagai penanggungjawab
dalam pengelolaan logistik
d. Implementasi penghapusan logistik sesuai dengan cara penghapusan logistik yang
ditentukan. Panitia penghapusan logistik membuat Berita Acara Penghapusan
Logistik.
e. Unit Kerja Pemilik logistik tersebut melakukan inventarisasi logistik berkaitan
dengan kegiatan penghapusan logistik, dan bila menggunakan model kartu barang,
unit kerja harus mengisi formulir kartu barang, khususnya pada kolom penghapusan
barang sesuai dengan cara penghapusan logistik yang dilakukan.
Cara-cara penghapuan Logistik
Menurut Lukas dan Rumsari cara penghapusan logistik ada 6 cara , yaitu :
Page | 8

1. Lelang
2. Ditukarkan
3. Dipindahkan
4. Dihibahkan
5. Pemanfaatan kembali (recycle)
6. Dimusnahkan

Menurut Permendagri No.17 Tahun 2007


Tindak Lanjut Penghapusan Barang Milik Negara/Daerah dapat dilakukan antara lain
dengan,
1. Pemusnahan, dapat dilakukan apabila :
a. Barang Milik Negara/Daerah tidak dapat digunakan/dimanfaatkan
b. Alasan lain sesuai ketentuan perundang-undangan
2. Pemindahtanganan barang milik daerah
Pemindahtanganan barang milik daerah adalah pengalihan kepemilikan
sebagai tindak lanjut dari penghapusan.
Bentuk-bentuk pemindahtanganan :
a. Penjualan dan Tukar menukar
Penjualan adalah pengalihan kepemilikan BMN/D kepada pihak lain
dengan menerima penggantian dalam bentuk uang
Penjualan ini dengan Pertimbangan :
1. Optimalisasi BMN/D yg berlebih atau Idle
Page | 9

2. Secara ekonomis lebih menguntungkan bagi negara apabila dijual


3. Sebagai pelaksanaan ketentuan PerUUanyg berlaku
Penjualan BMN/D dilakukan secara Lelang (melalui KLN), kecuali dalam
hal-hal tertentu yaitu : BMN/D bersifat khusus & BMN/D lainnya yg
ditetapkan lebih lanjut oleh Pengelola Barang
Penjualan BMD dilaksanakan oleh Pengelola Barang setelah mendapat
persetujuan Gubernur/Bupati/Walikota
Hasil penjualan wajib disetor seluruhnya ke Rekening Kas Umum Derah
sebagai penerimaan daerah

b. Hibah
Hibah adalah pengalihan kepemilikan barang dari Pemerintah Pusat
kepada Pemerintah daerah, dari Pemda kpd PP, antar Pemda, atau dr
PP/Pemda kepada Pihak Lain, tanpa memperoleh penggantian
Pertimbangannya untuk kepentingan sosial, keagamaan, kemanusiaan, dan
penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah

Syarat Hibah :
1. Bukan merupakan barang rahasia negara;
2. Bukan merupakan barang yg menguasai hajat hidup orang
banyak;
3. Tidak

digunakan

lagi

dlm

penyelenggaraan

Tupoksi

dan

penyelenggaraan pemerintahan negara/daerah


c. Penyertaan modal pemerintah pusat/daerah
Penyertaan modal pemerintah pusat atau daerah adalah kepemilikan
BMN/D dan atau Barang yg semula merupakan kekayaan yg tidak dipisahkan,
menjadi kekayaan yg dipisahkan utk diperhitungkan sbg Modal/Saham negara
Page | 10

atau daerah pada BUMN, BUMD, atau Badan Hukum lainnya yg dimiliki
Negara.
Penyertaan modal ini dilakukan dalam rangka pendirian, pengembangan, dan
peningkatan kinerja BUMN/BUMD atau Badan Hukum lainnya yg dimiliki
negara/daerah

Pertimbangan dari penyertaan modal antara lain :


1. BMN/BMD yg dari awal pengadaannya sesuai dokumen anggaran
diperuntukkan bagi BUMN/BUMD atau Badan Hukun lainnya dalam
rangka penugasan Pemerintah;
2. BMN/BMD lebih optimal apabila dikelola oleh BUMN/BUMD atau
Badan Hukum lainnya yg dimiliki negara/daerah baik yg sudah ada
maupun yg akan dibentuk

Kegiatan Penghapusan adalah sebagai berikut :


1. Membuat daftar logistik dan peralatan yang akan dihapuskan beserta alasan-

alasannya.
2. Pisahkan logistik dan peralatan yang kadaluwarsa/ rusak pada tempat tertentu sampai

pelaksanaan pemusnahan.
3. Melaporkan kepada atasan mengenai logistik dan peralatan yang akan dihapuskan.
4. Membentuk panitia pencelaan dan penghapusan logistik dan peralatan melalui Surat

Keputusan dari pejabat yang berwenang.


5. Membuat berita acara hasil pencelaan dan penghapusan logistik dan peralatan yang

akan dihapuskan.
6. Melaporkan hasil pencelaan dan penghapusan kepada pejabat yang berwenang.
7. Melaksanakan penghapusan dan pemusnahan setelah ada keputusan dari pejabat yang

berwenang.

Dari sumber lain terdapat Cara -Cara Penghapusan Logistik, antara lain :
a. Dijual atau dilelang

Page | 11

Dengan cara ini berarti organisasi akan memperoleh sejumlah kontraprestasi berupa uang
hasil penjualan logistik.
b. Ditukar dengan logistik lain yang dibutuhkan oleh institusi
Dengan cara ini organisasi akan menukarkan logistik yang dimiliki dengan logistik yang
dibutuhkan oleh organisasi. Dengan cara ini harus mempertimbangkan dan mengacu pada
prinsip-prinsip pengadaan logistik dengan cara menukarkan, antara lain logistik yang
ditukarkan harus benar-benar sudah tidak dibutuhkan institusi, nilai logistik yang
dipertukarkan harus sepada dan saling menguntungkan kedua belah pihak.

c. Dipindahkan
Penghapusan dengan cara dipindahkna adalah secara fisik logistik yang sudah tidak
dibutuhkan dimutasikan ke unit kerja lain ataupun kantor/ institusi cabang. Dengan demikian ,
pemusnhan logistik ini sifatnya masih dalam ruang lingkup organisasi internal
d. Dihibahkan
Penghapusan logistik dengan cara dihibahkan berarti organisasi memberikan secara CumaCuma kepada pihah/ organisasi lain yang membutuhkan logistik yang dihapuskan.
e. Pemanfaatan kembali
Penghapusan dengan cara pemanfaatan kembali berarti barang yang dihapus kemudian diubah
menjadi barang lain yang memiliki fungsi dan kegunaan berbeda dari fungsi dan kegunaan
barang semula.
f. Dimusnahkan
Penghapusan logistik dengan cara dimusnahkan adalah logistik benar-benar dihilangkan, dan
hal ini dilakukan apabila cara penghapusan logistik yang lain sudah tidak mungkin untuk
diimplementasikan.
Page | 12

SUMBER :
http://bahankuliahkesehatan.blogspot.com/
http://garis-besar-sistem-manajemen-gudang.html
Retno Suryawati . 2012.Administrasi Logistik. Penyusutan dan penghapusan. Power Point

KESIMPULAN :
Cara-cara pengahapusan logistik dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain
pelelangan, dihibahkan, ditukarkan , dijual kembali, didaur ulang yang kemudian
dimanfaatkan kembali, atau jika barang tersebut sudah benar-benar tidak dapat dimanfaatkan
dan tidak memungkinkan untuk dijual kembali , maka barang tersebut harus dimusnahkan
saja. Cara terakhir dengan memusnahkan barang tersebut dapat dilakukan karena jika tidak
segera dimusnahkan akan membuat gudang penyimpanan barang semakin padat dengan isi
yang tidak bermanfaat pula.

Page | 13

4. CONTOH KASUS PENYIMPANGAN LOGISTIK


Jakarta, Badan Pengawas Pemilu Direktur Indonesia Budget Center (IBC), Arief
Nur Alam mengatakan, pengadaan logistik yang dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum
(KPU) dari beberapa kasus terindikasi telah terjadi penyimpangan. Untuk itu, diharapkan
Panwaslu dapat meningkatkan pengawasan yang optimal dalam rangka pengadaan
logistik.
Ada beberapa modus penyimpangan pengadaan logistik yang terjadi, misalnya barang
yang diadakan di bawah standar, seperti dalam contoh kasus tinta kadar %AgNO3 di
bawah standar. Ada juga, penetapan pemenang tender dengan penawaran yang lebih tinggi
atau tidak sesuai kualifikasi, pengadaan barang melebihi ketentuan undang-undang, serta
perbedaan nilai kontrak antara vendor untuk mengadakan barang yang sama.
Selain itu, ada juga beberapa indikasi korupsi dalam hal Perubahan SK KPU
pengadaan logistik dalamn waktu singkat, seperti dalam contoh pengadaan segel yang
awalnya bersifat desentralisasi namun empat hari kemudian berubah menjadi sistem
sentralisasi. Standar penetapan pemenang, juga menjadi problem karena tidak ada protes
dari peserta tender yang lain terhadap pemenang tender yang belum tentu memenuhi
kualifikasi.

Page | 14

CONTOH KASUS

Penunjukan Langsung dalam Pengadaan Tinta Pemilu 2004


dan Prosedur yang ada dalam KEPRES No.80 Tahun 2003
Beberapa saat yang lalu setelah Pemilihan Umum 2004 berakhir muncul kasus-kasus yang
berhubungan dengan Penyediaan Logistik PEMILU 2004. Dan beberapa pelakunya berhasil
dibawa ke meja hijau dan akhirnya berhasil dipenjarakan. Tetapi dari sekian dari banyak
kasus tersebut ada yang salah satu keputusan hukumnya masih menimbulkan polemik hingga
saat ini. Yaitu mengenai Kasus Prof. Rusady Kantaprawira dalam pengadaan Tinta Pemilihan
Umum.
Pada sewaktu menjadi Ketua Panitia Pengadaan Tinta PEMILU Prof. Rusady melakukan
metode penunjukan langsung terhadap pemenang kualifikasi pengadaan tinta PEMILU, hal
ini disebabkan waktu yang terbatas dan pada waktu itu produsen tinta dalam negeri tidak ada
yang memenuhi kualifikasi standar yang telah ditetapkan KPU, berhubung waktu yang
semakin terbatas tersebut pada saat sidang Pleno KPU yang pada saat itu dihadiri oleh Ketua
KPU juga, Prof. Rusadi selaku Ketua Panitia Pengadaan Tinta Pemilu menyarankan agar
dilakukan penunjukan langsung karena para produsen tinta tidak mampu untuk menyediakan
tinta PEMILU tepat pada waktunya, sehingga Ketua KPU pun menyetujui saran dari Prof.
Rusady untuk menunjuk beberapa produsen tinta tidak hanya satu produsen tetapi beberapa
produsen tinta yang sudah memenuhi standar KPU yang saat itu meliputi produsen lokal dan
juga produsen dari India yang ditunjuk langsung dalam pengadaan tinta KPU tersebut.
Yang menjadi permasalahan dalam penunjukan langsung tersebut adalah kesalahan prosedur,
dalam konteks pengadaan tinta Pemilu 2004, metode penunjukan langsung dapat dibenarkan
untuk dipakai dengan pertimbangan waktu yang sangat mepet. Namun sayangnya, panitia
pengadaan menerapkan metode tersebut dengan prosedur yang tidak sesuai dengan Keppres
No. 80/2003. Jadi, pemilihan metode penunjukan langsung dibenarkan, hanya saja tidak
sesuai dengan

ketentuan.

Salah satu kesalahan Prosedur Panitia Pengadaan Tinta Sidik Jari Pemilu Legislatif 2004
adalah tidak melakukan pengumuman. Padahal, Pasal 10 ayat (5) Keppres No. 80/2003
menetapkan salah satu tugas suatu kepanitiaan pengadaan adalah mengumumkan pengadaan
barang/jasa melalui media cetak dan papan pengumuman resmi untuk penerangan umum, dan
jika memungkinkan melalui media elektronik. Tetapi berdasarkan penelusuran penyidik tidak
ditemukan bukti panitia telah melakukan pengumuman di media. Dikatakan melanggar
Page | 15

Peraturan yang ada yaitu Keppres No. 80/2003 sehingga Prof. Rusady Didakwa sebagai
tersangka dalam kasus Kesalahan Prosedur tersebut.
Sebenarnya dalam kasus tersebut Prof. Rusadi hanya mengusulkan penunjukan langsung
dalam pengadaan tinta PEMILU 2004. Sedangkan keputusan berada di Pejabat Pembuat
Komitmen yaitu Ketua KPU. Dan menurut pendapat beberapa ahli hukum, dakwaan tersebut
tidaklah tepat dijatuhkan kepada Prof. Rusady karena pasal pasal yang dijatuhkan untuk
mendakwa Prof. Rusady tersebut hanyalah pasal apabila terjadi situasi yang normal,
sedangkan yang dilakukan oleh Prof. Rusady adalah situasi darurat di mana panitia
pengadaan Tinta PEMILU harus menyediakan dalam waktu yang sangat sempit sehingga
dilakukanlah proses

penunjukan

langsung.

Jika kita merujuk sebenarnya siapa yang bertanggung jawab dalam proses penunjukan
langsung tersebut, Sebenarnya Laporan atau usul panitia kepada KPU tidak memaksa dan
tidak mengikat. KPU sebagai lembaga dan penggunaan barang dan jasa mempunyai
kekuasaan dan wewenang serta hak penuh untuk menolak atau menerima apa yang diusulkan
atau dilaporkan oleh panitia pengadaan. Dengan diterimanya usul panitia pengadaan oleh
KPU dan diterbitkannya SK KPU tentang penunjukan rekanan penyedia barang dan jasa,
maka secara hukum KPU telah mengambil alih tanggung jawab dari panitia pengadaan.
Sehingga, pihak yang dapat dimintai pertanggungjawaban adalah KPU, bukan panitia
pengadaan

yang

sudah

selesai

dan

dibebaskan

dari

tanggung

jawabnya.

Berdasarkan pertimbangan hukum dalam putusan pengadilan tinggi maupun kasasi


menyebutkan berdasarkan fakta persidangan tidak terbukti bahwa Prof. Rusady menikmati
uang negara sesuai dengan dakwaan penuntut umum. Jika dikatakan yang diperkaya adalah
rekanan, maka hal tersebut sangat tidak logis dan tidak adil, karena pengusaha mana pun juga
pasti untuk mendapatkan keuntungan. Fakta persidangan membuktikan bahwa keuntungan
para perusahaan rekanan sebesar 10 hingga 15 persen secara bisnis dan akuntansi masih
dalam batas kewajaran.
Proses penunjukan langsung rekanan dengan sistem" multi winner"(beberapa pemenang ) dan
perata-rataan harga tinta merupakan bentuk penyelesaian yang adil dan bijak mengingat tidak
ada satu pun perusahaan tinta yang mampu menyediakan seluruh kebutuhan tinta pemilu
dalam waktu singkat. Tindakan itu dilakukan untuk menjamin kesuksesan pelaksanaan
Pemilu. Sehingga, kalaupun tindakan tersebut dikatakan melawan hukum secara formal, hal
tersebut tetap saja tidak dapat dipidana karena ada dasar pembenar atau alasan pemaaf.
Page | 16

Sebenarnya dalam perkara pengadaan tinta pemilu legislatif 2004, keuangan negara tidak
dirugikan karena harga tinta tersebut di bawah Harga Perkiraan Sendiri (HPS) serta di bawah
pagu anggaran dari Departemen Keuangan. Berdasarkan hal tersebut, maka unsur melawan
hukum, memperkaya diri sendiri, orang lain atau korporasi, serta unsur dapat merugikan
keuangan

negara tidak

terbukti.

Apabila salah satu unsur pasal 2 ayat 1 UU No 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak
pidana korupsi yang didakwakan kepada Prof. Rusadi itu tidak terbukti, maka dakwaan itu
harus dinyatakan tidak terbukti. Maka, majelis hakim agung pada tingkat kasasi, telah jelas
melakukan kekhilafan dan kekeliruannya yang nyata dalam putusannya yang menghukum
terdakwa.
Pada tingkat kasasi, Rusadi dihukum empat tahun penjara dan denda sebesar Rp200 juta.
Namun, hukuman mengganti kerugian negara senilai Rp1,3 miliar yang dijatuhkan oleh
majelis hakim pengadilan pertama dihapuskan pada putusan tingkat banding dan kasasi.
Beberapa contoh kasus tersebut menunjukkan KPU tidak diawasi secara optimal oleh
Pengawas Pemilu. Saya pikir, proses tender di KPU sama saja masalahnya di seluruh
Indonesia. Namun, memang kemungkinan ada titik rawan yang berbeda untuk masing-masing
wilayah, ujarnya, saat menjadi narasumber dalam acara Revisi Peraturan Bawaslu No. 29
Tahun 2009 tentang Pengawasan Pengadaan dan Pendistribusian Perlengkapan Pemungutan
dan Penghitungan Suara Pemilu Kada, di Jakarta, Selasa (6/12).
Sementara itu, peneliti Transparency International Indonesia (TII), Vidya Dyasanti
menilai, untuk menentukan perlu atau tidaknya pengawasan dalam proses pengadaan logistik,
maka Pengawas Pemilu harus melihat seberapa besar masalah Pemilu Kada yang timbul
akibat logistik. Dikhawatirkan, penyimpangan pengadaan logistik yang selama ini terjadi,
menjadi salah satu sumber permasalahan Pemilu Kada selama ini. Hal tersebut juga bisa
menjadi indikasi pengawasan dalam logistik Pemilu Kada, tambahnya. [FS]
SUMBER :
http://cupexpert.blogspot.com/2008/07/penunjukan-langsung-dalam-pengadaan.html
http://www.bawaslu.go.id/berita/39/tahun/2011/bulan/12/tanggal/07/id/2948/

Page | 17

KESIMPULAN :
Kesimpulan yang dapat saya tarik mengenai beberapa contoh kasus diatas adalah pihak-pihak
yang terkait pada kasus diatas pada umumnya sudah jelas melanggar pengadaan logistik. . dan
pada umumnya kasus-kasus tersebut dilanggar oleh orang petinggi negara khususnya dalam
pemerintahan Indonesia, haal ini menurut saya sangat memprihatinkan,

B. PENGAWASAN
1. PENGERTIAN PENGAWASAN LOGISTIK
Pengertian Pengawasan/Pengendalian
Pengendalian merupakan proses kegiatan pengawasan atas pergerakan
masuk keluarnya logistik dan peralatan dari dan ke gudang agar persediaan dan
penempatan dapat diketahui secara cepat, tepat dan akurat serta akuntabel.
Pengendalian dilaksanakan dengan menggunakan formulir dalam lampiran.
Pengawasan merupakan setiap upaya untuk menjaga pelaksanaan setiap
tindakan dan kegiatan dalam pengelolaan logistik sesuai dg rencana yg telah
ditetapkan, baik berkaitan dg pemakaian /penggunaan logistik maupun hasil/out
put pengelolaan
. Secara lebih operasional pengawasan merupakan suatu usaha sistematik
utk menetapkan standar pelaksanaan yg telah ditetapkan sebelumnya, menentukan
dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi
yg diperlukan
Pengendalian Logistik

Page | 18

Pengendalian logistik merupakan serangkaian kegiatan penetapan standar


(satuan pengukuran yg dapat digunakan sebagai patokan utk penilaian hasil/out
put maupun proses) dari setiap fungsi operasional managemen logistik maupun
dalam penggunaan logistik, pengukuran logistik dan evaluasi pelaksanaan dan
tindakan korektif bila diperlukan dalam setiap tindakan dan kegiatan dalam
pengelolaan logistik, sehingga dapat menjamin tercapainya tujuan-tujuan
managemen logistik maupun tujuan-tujuan organisasi secara keseluruhan

Pengendalian sama maknanya dengan pengawasan. Penggunaan istilah


pengendalian

pada

dasarnya

hanya

mengacu

pada

konotasi

istilah

pengendalian itu sendiri yg bermakna pada suatu penekanan bahwa kegiatan


pengawasan yg dilakukan setiap saat selama proses suatu kegiatan berjalan

Pengendalian logistik tidak sebatas dilakukan pada saat kegiatan operasional


pengelolaan logistik sedang berjalan, tetapi juga dilakukan sebelum, selama
dan sesudah kegiatan pengelolaan logistik dilaksanakan dan berjalan.

Pengendalian adalah sistem pengawasan dari hasil laporan, penilaian, pemantauan dan
pemeriksaan terhadap langkah-langkah manajemen logistik yang sedang atau telah
berlangsung (Mustikasari: 2007).
Bentuk kegiatan pengendalian antara lain:
a. Merumuskan tatalaksana dalam bentuk manual, standar, kriteria, norma, instruksi dan
prosedur lain
b. Melaksanakan pengamatan (Monitoring), evaluasi dan laporan, guna mendapatkan
gambaran dan informasi tentang penyimpangan dan jalannya pelaksanaan dari rencana
c. Melakukan kunjungan staf guna mengidentifikasi cara-cara pelaksanaan dalam rangka
pencapaian tujuan
d. Melakukan supervisi
Agar pelaksanaan pengendalian dapat berjalan dengan baik diperlukan sarana-sarana
pengendalian sebagai berikut:
a. Struktur organisasi yang baik
b. Sistem informasi yang memadai
c. Klasifikasi yang selalu mengikuti perkembangan menuju standardisasi
Page | 19

d. Pendidikan dan pelatihan


e. Anggaran yang cukup memadai
SUMBER :
http://mengenal-dan-mengelola-logistik.html
Subagya M S, ( 1994 ) Manajemen Logistik cetakan keempat Jakarta : PT Gunung
http://garis-besar-sistem-manajemen-gudang.html
Retno Suryawati . 2012.Administrasi Logistik. Penghasilan dan pengawasan logistik. Power
Point

KESIMPULAN :
Pengawasan atau pengendalian logistik meupakan usaha yang dilakukan untuk
melakukan penglihatan secara lebih intensif dalam rangka untuk menghindari penyimpanganpenyimpangan yang mungkin terjadi dalam pengelolaan logistik. Pengendalian dan
pengawasan logistik dapat berbentuk banyak macam antara lain pencatatan, pengamatan
barang logistik , sistem perencanaan , komunikasi yang baik , dan lain sebagainya.

2. ALASAN PENGAWASAN LOGISTIK SANGAT PENTING


Pengelolaan Logistik atau pengadaan logistic memerlukan dana besar dan banyak
terjadi penyimpangan dalam prsktik pelaksanaannya hal ini dikarenakan
pengawasan lemah oleh karena itu Pengawasan dalam pengadaan logistik
sangatlah penting
Hal ini dapat dibuktikan dari Hasil temuan KPK yang menyebutkan bahwa:

Kerugian negara : Rp 36 Trilyun/tahun

Dari seluruh kasus korupsi, 70% korupsi Pengadaan Barang/Jasa

Tingkat kebocoran pada Pengadaan Barang/Jasa, ditengarai mencapai minimal


20% dari total jumlah anggaran
Page | 20

Di Solo terjadi lebih dari 50 kasus tindak pidana korupsi yg ditangani KPK,
80% kasus korupsi Pengadaan Barang/Jasa

Indikasi hal-hal yang menyebabkan kebocoran dan penyelewengan


1. Banyaknya proyek pemerintah yg tidak tepat waktu, tepat sasaran, tepat
kualitas dan tidak efisien
2. Banyaknya Barang/Jasa yg dibeli tidak bisa dipakai
3. Pengadaan Barang/Jasa tidak sungguh dibutuhkan karena dijinjing dan
dititipkan dari atas, bukan direncanakan berdasarkan kebutuhan nyata
4. Mudah rusaknya infrastruktur ,masa pakai hanya mencapai 30-40%
5. Perbedaan HPS (Harga Perkiraan Sendiri) barang sejenis yg cukup menyolok
antara satu instansi dg instansi lain
6. Persentase tertentu yg harus disetor oleh Panitia Pengadaan dan Pimpro kepada
atasan, dengan dalih untuk belanja organisasi
Menurut Lukas dan Rumsasri, 2004 : 133 terdapat 2 Jenis Penyimpangan :
1. Pelaksanaan managemen logistik : (perencanaan kebutuhan/penganggaran, pengadaan,
inventarisasi, penyimpanan/penggudangan, pendistribusian, pemeliharaan maupun
penghapusan logistik)
2. Pemakaian/penggunaan logistic
penggunaan logistik yg bersifat boros, asal-asalan maupun penggunaan logistik yg
tidak sesuai dengan fungsi dan hak pemakainya

SUMBER :
http://PengendaliandanPengawasanLogistik_nurdiana.html
www.pengahpusanlogistikkesehatan.blogspot.com
Retno Suryawati . 2012.Administrasi Logistik. Pengendalian dan pengawasan logistik. Power
Point
Page | 21

KESIMPULAN :
Alasan perlu diadakannya pengawasan dan pengendalian barang logistik adalah
supaya barang yang disimpan atau yang dimiliki pengelola logistik tetap aman terkendali.
Dalam proses pengelolaan logistik sering kali terjadi penyimpangan, baik penyimpangan
yang berupa penyalahgunaan, perusakan barang, penggunaan barang yang berlebihan, dan
lain sebagainya. Karena banyak sekali penyimpangan yang muncul, perlu sekali adanya
fungsi pengawasan dan pengendalian , agar barang tetap diawasai , dan keluar masuknya
barang dapat dikendalikan supaya perusahaan tidak mengalami kerugian.

3. PERBUATAN DAN SANKSI ,BAIK BAGI PENGELOLA MAUPUN


PENYEDIA BARANG/JASA
Mengenai pengadaan barang dan jasa, pemerintah sudah mengeluarkan Keppres
No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
Tetapi , justru aturan ini yang paling banyak dilanggar dalam kasus-kasus korupsi yang
terbongkar.Secara maksud dan tujuan, Keppres ini dikeluarkan agar pelaksanaan
pengadaan barang/jasa yang sebagian atau seluruhnya dibiayai APBN/APBD dilakukan
secara efisien, efektif, terbuka dan bersaing, transparan, adil/tidak diskriminatif, dan
akuntabel.
Keppres mengatur mengenai Etika Pengadaan, yang harus dipatuhi oleh pengguna
barang/jasa, penyedia barang/jasa, dan para pihak yang terkait dengan pengadaan, di
antaranya:

bekerja secara profesional dan mandiri atas dasar kejujuran, serta menjaga kerahasiaan
dokumen pengadaan barang dan jasa (yang seharusnya dirahasiakan) untuk mencegah
terjadinya penyimpangan dalam pengadaan barang/jasa

tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung untuk mencegah
dan menghindari terjadinya persaingan tidak sehat

menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak yang


terkait(conflict of interest)

menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan negara


dalam pengadaan barang/jasa
Page | 22

menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi dengan tujuan


untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung atau tidak
langsung merugikan negara

tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau
menerima hadiah, imbalan berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut
dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa
Selain itu, juga diatur mengenai perbuatan atau tindakan penyedia barang/jasa

yang dapat dikenakan sanksi:

berusaha mempengaruhi panitia pengadaan/pejabat yang berwenang dalam bentuk dan


cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi keinginannya
yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam
dokumen pengadaan/kontrak, dan atau ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku

melakukan persekongkolan dengan penyedia barang/jasa lain untuk mengatur harga


penawaran di luar prosedur pelaksanaan pengadaan barang/jasa sehingga
mengurangi/menghambat/memperkecil dan/atau meniadakan persaingan yang sehat
dan/atau merugikan pihak lain

membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar
untuk memenuhi persyaratan pengadaan barang/jasa yang ditentukan dalam dokumen
pengadaan
Dalam peraturan presiden ini, ditentukan prinsip yang harus diterapkan dalam

pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah, antara lain :


a. efisien, berarti Pengadaan Barang/Jasa harus diusahakan dengan menggunakan dana
dan daya yang minimum untuk mencapai kualitas dan sasaran dalam waktu yang
ditetapkan atau menggunakan dana yang telah ditetapkan untuk mencapai hasil dan
sasaran dengan kualitas yang maksimum.
b. efektif, berarti Pengadaan Barang/Jasa harus sesuai dengan kebutuhan dan sasaran
yang telah ditetapkan serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya.
c. transparan, berarti semua ketentuan dan informasi mengenai Pengadaan Barang/Jasa
bersifat jelas dan dapat diketahui secara luas oleh Penyedia Barang/Jasa yang berminat
serta oleh masyarakat pada umumnya.
Page | 23

d. terbuka, berarti Pengadaan Barang/Jasa dapat diikuti oleh semua Penyedia


Barang/Jasa yang memenuhi persyaratan/kriteria tertentu berdasarkan ketentuan dan
prosedur yang jelas.
e. bersaing, berarti Pengadaan Barang/Jasa harus dilakukan melalui persaingan yang
sehat diantara sebanyak mungkin Penyedia Barang/Jasa yang setara dan memenuhi
persyaratan, sehingga dapat diperoleh Barang/Jasa yang ditawarkan secara kompetitif dan
tidak ada intervensi yang mengganggu terciptanya mekanisme pasar dalam Pengadaan
Barang/Jasa.
f. adil/tidak diskriminatif, berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
Penyedia Barang/Jasa dan tidak mengarah untuk memberi keuntungan kepada pihak
tertentu, dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.
g. Akuntabel, berarti harus sesuai dengan aturan dan ketentuan yang terkait dengan
Pengadaan Barang/Jasa sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
Oleh karena itu Para pihak yang terkait dalam pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
harus mematuhi etika sebagai berikut:
1. Melaksanakan tugas secara tertib, disertai rasa tanggung jawab untuk
mencapai sasaran, kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan Pengadaan
Barang/Jasa;
2. Bekerja secara profesional dan mandiri, serta menjaga kerahasiaan Dokumen
Pengadaan Barang/Jasa yang menurut sifatnya harus dirahasiakan untuk
mencegah terjadinya penyimpangan dalam Pengadaan Barang/Jasa;
3. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung yang
berakibat terjadinya persaingan tidak sehat;
4. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan yang ditetapkan
sesuai dengan kesepakatan tertulis para pihak;
5. Menghindari dan mencegah terjadinya pertentangan kepentingan para pihak
yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam proses
Pengadaan Barang/Jasa;

Page | 24

6. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dan kebocoran keuangan


negara dalam Pengadaan Barang/Jasa;
7. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan/atau kolusi
dengan tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara
langsung atau tidak langsung merugikan negara; dan
8. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak menjanjikan untuk memberi
atau menerima hadiah, imbalan, komisi, rabat dan berupa apa saja dari atau
kepada siapapun yang diketahui atau patut diduga berkaitan dengan Pengadaan
Barang/Jasa

Sanksi yang dikenakan pada pengelola barang/jasa


Perbuatan atau tindakan penyedia barang/jasa yang dapat dikenakan sanksi adalah:
a. Berusaha mempengaruhi ULP/Pejabat Pengadaan/pihak lain yang berwenang
dalam bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna
memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur
yang telah ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak, dan/atau ketentuan
peraturan perundang-undangan;
b. Melakukan persekongkolan dengan Penyedia Barang/Jasa lain untuk mengatur
Harga Penawaran diluar prosedur pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa,
sehingga

mengurangi/menghambat/memperkecil

dan/atau

meniadakan

persiangan yang sehat dan/atau merugika orang lain;


c. Membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang
tidak benar untuk memenuhi persyaratan Pengadaan Barang/Jasa yang
ditentukan dalam Dokumen Pengadaan;
d. Mengundurkan diri dari pelaksanaan Kontrak dengan alasan yang tidak dapat
diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan;
e. Tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan kontrak secaran
bertanggungjawab; dan/atau

Page | 25

f. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan adanya ketidaksesuaian dalam


penggunakan barang/jasa produksi dalam negeri.

Perbuatan atau tindakan di atas dapat dikenakan sanksi berupa:


- sanksi administrative
- sanksi pencantuman dalam Daftar Hitam
- gugatan secara perdata; dan/atau
- pelaporan secara pidana kepada pihak yang berwenang.

Orang yang berhak memberi Sanksi:


-

Sanksi administratif dilakukan oleh PPK/ULP/Pejabat Pengadaan sesuai


dengan ketentuan.

Sanksi pencantuman dalam Daftar Hitam dilakukan oleh PA/KPA setelah


mendapat masukan dari PPK/ULP/Pejabat Pengadaan sesuai dengan
ketentuan.

Gugatan secara perdata dan atau pelaporan secara pidana kepada pihak yang
berwenang hal ini sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Apabila ditemukan penipuan/pemalsuan atas informasi yang disampaikan penyedia


barang/jasa, dikenakan sanksi pembatalan sebagai calon pemenang dan dimasukan
dalam Daftar Hitam.

Apabila terjadi pelanggaran dan/atau kecurangan dalam proses pengadaan barang/jasa,


maka ULP:
- sanksi administrasi
- ganti rugi dan/atau
- Dilaporkan secara pidana

Perbuatan atau tindakan yang berupa ketidaksesuaian dalam penggunakan barang/jasa


produksi dalam negeri selain dikenakan sanksi administratif dan sanksi pencantuman
dalam Daftar Hitam juga dikenakan sanksi financial.
Page | 26

Penyedia barang/jasa yang terlambat menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu


sebagaimana yang ditetapkan dalam kontrak, dalam dikenakan denda keterlambatan
sebesar 1/1000 (satu per seribu) dari harga kontrak atau bagian kontrak untuk setiap
hari keterlambatan dan tidak melampaui besarnya jaminan pelaksanaan.

Konsultan perencana yang tidak cermat dan mengakibatkan kerugian negara


dikenakan sanksi berupa keharusan menyusun kembali perencanaan dengan beban
biaya dari konsultan yang bersangkutan, dan/atau tuntutan ganti rugi.

PPK yang melakukan cidera janji terhadap ketentuan yang termuat dalam kontrak,
dapat dimintakan ganti rugi dengan ketentuan sebagai berikut:
-

Besarnya ganti rugi yang dibayar PPK atas keterlambatan pembayaran


adalah sebesar bunga terhadap nilai tagihan yang terlambat dibayar,
berdasarkan tingkat suku bunga yang berlaku pada saat itu menurut
ketetapan Bank Indonesia; atau

Dapat diberikan kompensasi sesuai ketentuan dalam kontrak

Dalam hal terjadi kecurangan dalam pengumuman pengadaan, sanksi diberikan


kepada anggota ULP/Pejabat Pengadaan sesuai peraturan perundang-undangan.

K/L/D/I dapat membuat daftar hitam yang memuat identitas penyedia barang/jasa
yang dikenakan sanksi oleh K/L/D/I terkait dengan tindakan yang dilakukan oleh
penyedia barang/jasa yang melakukan persekongkolan dengan penyedia barang/jasa
lainnya untuk mengatur harga penawaran diluar prosedur pelaksanaan pengadaan
barang/jasa sehingga mengurangi/menghambat/memperkecil dan/atau meniadakan
persaingan yang sehat dan/atau merugikan oranglain

Daftar Hitam tersebut juga memuat daftar penyedia barang/jasa yang dilarang
mengikuti pengadaan barang/jasa pada K/L/D/I yang bersangkutan.

K/L/D/I menyerahkan Daftar Hitam kepada LKPP untuk dimasukkan dalam Daftar
Hitam Nasional.

Daftar Hitam Nasional dimutahirkan setiap saat dan dimuat dalam portal pengadaan
nasional.

Menurut Permendagri No.17 tahun 2007


Page | 27

Pembinaan , Pengendalian dan Pengawasan


a) Pembinaan merupakan usaha atau kegiatan melalui pemberian pedoman
bimbingan, pelatihan, dan supervisi dilakukan oleh Menteri Keuangan
b) Pengendalian merupakan usaha atau kegiatan untuk menjamin dan
mengarahkan agar pekerjaan yang dilaksanakan berjalan sesuai dengan
rencana yang telah ditetapkan dilakukan oleh pengguna barang atau kuasa
pengguna barang
c) Pengawasan merupakan usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai
kenyataan yang sebenarnya mengenai pelaksanaan tugas dan/atau kegiatan,
apakah dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan dilakukan oleh
pengguna barang atau kuasa pengguna barang

Tuntutan Ganti Rugi (TGR)

Dalam rangka pengamanan dan penyelamatan terhadap barang milik daerah, perlu
dilengkapi dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur tentang sanksi terhadap
pengelola, pembantu pengelola, pengguna/kuasa pengguna, dan penyimpan dan/atau
pengurus barang berupa Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang dalam perbuatannya
merugikan daerah

Tuntutan ganti rugi dilakukan oleh pegawai negeri, pegawai perusahaan daerah, dan
pegawai daerah yang melakukan perbuatan melanggar hukum atau perbuatan
melalaikan kewajiban atau tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya
sesuai dengan fungsi dan status jabatannya sehingga karena perbuatannya tersebut
mengakibatkan kerugian bagi daerah

SUMBER :
http://PengendaliandanPengawasanLogistik_nurdiana.html
http://pengadaan-barang-dan-jasa.html
http://PerananMasyarakatDalamPengadaanBarang_JasaPemerintah_LawangPost.html
Page | 28

http://penyedia-barang-jasa-menurut-UU.html
Retno Suryawati . 2012.Administrasi Logistik. Penyusutan dan penghapusan. Power Point
KESIMPULAN :
Dalam proses pengadaan barang dan jasa masyarakat juga ikut andil dalam proses ini.
Tetapi dalam kenyataannya sering kali terjadi penyimpangan terhadap pengadaan barang dan
jasa. Buktinya di Indonesia , KPK lebih banyak menangani proses korupsi dalam kasus
pengadaan barang dan jasa. Hal ini dikarenakan prosesnya masih tertutup dan belum
transparan. Oleh karena itu terdapat sanksi hukum yang dikenakan pada oarang yang
melakukan penyalahgunaan ini. Dan sanksi-sanksi tersebut sudah ada hukum pidananya , dan
tercantun dalam Perundang-undangan dalam negeri.

4. UPAYA YANG

HARUS

DILAKUKAN

UNTUK

MEMINIMALISIR

KORUPSI KHUSUSNYA DALAM PENGELOLAAN LOGISTIK


Kinerja logistik Indonesia dalam peringkat internasional tidaklah membanggakan.
Data yang dilansir oleh Bank Dunia menunjukkan bahwa Indeks Kinerja Logistik Indonesia
pada tahun 2010 berada pada peringkat 75 dari survei terhadap 155 negara. Dibandingkan
dengan negara-negara tetangga Indonesia jauh ketinggalan. Singapura menempati urutan ke 2
dunia. Sementara, Vietnam berada pada urutan 53, Filipina pada urutan 44, Thailand pada
peringkat 35, dan Malaysia pada peringkat 29.
Rendahnya kinerja logistik Indonesia berdampak terhadap biaya ekonomi tinggi dan
mutu pelayanan logistik yang buruk. Indonesia masih harus bekerja keras untuk mengejar
ketertinggalannya dengan melakukan perbaikan yang serius pada urusan kepabeanan,
prasarana, pengiriman internasional, kompetensi logistik, pelacakan dan penjejakan, dan
ketepatan waktu.
Kegiatan logistik pemerintah sering dijadikan sorotan media massa lantaran adanya
berbagai penyimpangan pengadaan barang dan jasa yang bersumber dari Anggaran
Pendapatan Belanja Negara (APBN). Jenis penyimpangan yang terjadi antara lain salah
Page | 29

prosedur, data fiktif, penyuapan, dan penggelembungan harga. Pengadaan barang dan jasa
memang rawan terhadap praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) mencatat bahwa sekitar 80 persen kasus yang ditangani berkaitan dengan
pengadaan barang dan jasa pemerintah.
Melihat permasalahan tersebut diatas sesungguhnya telah ada niat cukup besar untuk
mengatasi korupsi. Namun penanganan korupsi tidak dilakukan secara komprehensif,
setengah hati, dan tidak sungguh-sungguh. Ini terlihat dari tak adanya keteladanan dari
pemimpin dan sedikit atau rendahnya pengungkapan kejahatan korupsi sementara masyarakat
tahu bahwa korupsi terjadi di mana-mana.
UPAYA UMUM UNTUK MEMBERANTAS KORUPSI:
1. Percepatan pemberlakuan asas pembuktian terbalik
2. Penegakan hukum yg tegas dan konsisten dengan sanksi berat kepada pelaku korupsi
(hukuman mati);
3. Meningkatkan komitmen, konsisten dengan sanksi berat kepada pelaku korupsi;
4. Menata kembali organisasi, memperjelas, transparansi, mempertegas tugas dan fungsi yg
diemban oleh setiap instansi;
5. Menyempurnakan sistem ketatalaksanaan meliputi: perumusan kebijakan (agar tidak terjadi
penyalahgunaan kebijakan), perencanaan penganggaran, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi
pertanggungjawaban kinerja serta kualitas pelayanan masyarakat;
6. Memperbaiki manajemen kepegawaian;
7. Mengembangkan budaya kerja/tertib/malu melakukan KKN;
8. Meningkatkan transparansi, akuntabilitas dan pelayanan prima.
Wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi:
1. mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi;
2. menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi;
3. meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi
yang terkait;
4. melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi;
5. meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak pidana korupsi;
6. Berani menindak pelaku korupsi yang melarikan diri ke negara lain.
UPAYA KHUSUS DALAM KASUS KORUPSI PENGADAAN LOGISTIK
1.

Menggunakan sistem E-Procurement,

Page | 30

Pengadaan berbasis elektronik adalah The process of obtaining goods and services
from preparation and processing of a requisition through to receipt and approval of
the invoice for payment. (http://www.businessdictionary.com). Organisasi sektor
publik menggunakan EP for contracts untuk mendapatkan benefit berupa
peningkatan efisiensi dan penghematan biaya karena lebih cepat dan murah. EP pada
pemerintah dapat meningkatkan transparansi sehingga mengurangi korupsi. Terdapat
tujuh tipe EP, yaitu (1) Web-based ERP (Enterprise Resource Planning): (2) e-MRO
(Maintenance, Repair and Overhaul), (3) e-sourcing, (4) e-tendering, (5) e-reverse
auctioning, (6) e-informing, dan (7) e-marketsites: Expands on Web-based ERP to
open up value chains.

2. Menggunakan sistem E-Accounting,


Pencatatan keuangan atau akuntansi dapat didefinisikan berdasarkan dua aspek
penekanan yaitu (1) Aspek fungsi (menyajikan informasi yang penting untuk
melakukan suatu tindakan yang efisien dan mengevaluasi suatu aktivitas dari
organisasi) dan (2) Aspek aktivitas (mengidentifikasikan data yang relevan dalam
pembuatan keputusan, memproses atau menganalisa data yang relevan, dan
mengubah data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pembuatan
keputusan). Hasil pencatatan keuangan disebut Laporan Keuangan (Financial
Statement) yang berisi catatan informasi keuangan pada suatu periode akuntansi
yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja organisasi. Proses pencatatan
dimulai dengan (1) Jurnal (journal), yaitu pencatatan atas transaksi-transaksi
keuangan yang dilaksanakan setiap hari, (2) Posting, yaitu memindah-bukukan dari
jurnal ke dalam perkiraan judul dan nomor transaksi pada Buku Besar, (3) Laporan
Laba Rugi (Income Statement), (4) Laporan perubahan ekuitas (Equity Statement),
(5) Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupa laporan arus kas
(Cash Flow), dan (6) Neraca (Balance Sheet).

3.

Menggunakan strategi pemanfaatan SIMKeua di Indoneasi yang diharapkan


mampu menghadap korupsi adalah sebagai berikut:
Page | 31

1. Membangun paradigma baru secara nasional: Pemerintah (eksekutif), anggota


dewan di pusat dan daerah (legislatif), unsur yudikatif, dan masyarakat bahwa
pemanfaatan teknologi dalam pemerintahan menjadi kemutlakan Indonesia untuk
bersaing secara global, meningkatkan kinerja pemerintah dan transparansi.
Migration to E-World akan memberikan peluang makin banyak investor
menanamkan modal di Indonesia sehingga akan membuka lebih banyak lapangan
pekerjaan dan perbaikan ekonomi masyarakat. Pembangunan berbasis ekonomi
kerakyatan akan terwujud dengan kinerja yang baik pemerintah, dan transparansi
pengelolaan keuangan negara akan meningkatkan partisipasi rakyat dalam
melakukan pengawasan sehingga korupsi dapat ditekan. Dengan paradigma ini
diharapkan rakyat Indonesia semakin sadar bahwa amanah pemerintahan dan
dewan hanya diberikan kepada orang-orang yang mendukung partisipasi meraka
dalam mengawasi pembangunan melalui SIMKeu berbasis elektronik.
2. Peningkatan kompetensi dan kualitas SDM dapat dilakukan dengan pelatihan
dengan metode learning by doing langsung di daerah yang melibatkan perguruan
tinggi, professional, dan pemerintah daerah yang telah berhasil. Program jangka
panjang dilakukan dengan kemitraan kampus dan daerah dengan penempatan 1-2
tahun sarjana-sarjana baru di daerah secara bergiliran.
3. Membangun infrastruktur dengan arah dan pilihan yang benar dengan
memperhatikan kondisi geografis, topologi, dan potensi bencana alam.
4. Kerentanan sistem informasi akibat perilaku manusia yang berbahaya seperti
praktik-praktik phising (pencurian identitas), hacker (akses ilegal dengan tujuan
kejahatan), ancaman internal melalui penerobosan jaringan oleh karyawan,
pencurian perangkat keras, bahaya kebakaran, dan sumber-sumber lainnya;
kesemuanya dapat dihindari dengan sistem pengamanan dan pengendalian, seperti
pengamanan dan pengendalian internal secara ketat dan konsisten, audit
pengamanan sistem, dan kebijakan backup file dan pengadaan pusat komputer
duplikasi dalam keadaan darurat.
5. Membangun konsorsium SIMKeu yang melibatkan pemerintah, swasta, dan
akademisi untuk melakukan penelitian-penelitian untuk menemukan perangkat
dan sistem operasi teknologi informasi yang murah dan aman, perencanaan
Page | 32

strategi pengembangan teknologi informasi dari waktu ke waktu, dan melakukan


evaluasi / audit untuk menemukan peluang-peluang baru untuk pengembangan.
SUMBER :
http://jasmanats.wordpress.com/category/uncategorized/
http://www.supplychainindonesia.com/mari-memajukan-logistik-indonesia/
http://zulchizar.wordpress.com/2010/07/10/cara-pemberantasan-korupsi-dalam-perspektifislam/
http://asa-2009.blogspot.com/2012/02/permasalahan-dan-pemberantasan-korupsi.html
http://en.wikipedia.org).\

KESIMPULAN :
Pernyataan korupsi sebagai sebuah kebudayaan tetap menjadi sebuah pernyataan yang
melahirkan dua pandangan yang berbeda. Ada pihak yang mengatakan bahwa tindakan
korupsi merupakan sebuah budaya dan ada juga yang menentang hal ini. Namun perbedaan
pendapat ini didasarkan pada pemahaman kebudayaan yang berbeda-beda pula.
Selain itu strategi memanfaatan SIMKeu berbasis elektronik untuk melawan korupsi di
Indonesia adalah cara yang tepat, misalnya saja Membangun paradigma baru nasional tentang
pentingnya teknologi digital bagi pemerintahan, program peningkatan kompetensi yang
langsung bersentuhan dengan owner di tempat kerjanya, membangun infrastruktur yang tepat
sesuai kondisi daerah, sistem pengamanan dan pengendalian system informasi, dan
pembentukan konsorsium nasional system informasi.

Page | 33