Anda di halaman 1dari 26

KATA PENGANTAR

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya sehingga makalah IPS 1 ini dapat terselesaikan. Makalah ini disusun berdasarkan
pengumpulan dari berbagai sumber, dan untuk memehuni tugas IPS 1.
Dengan ini penulis ucapkan terimakasih kepada Ibu Dhiniaty Gularso, M.Pd. selaku dosen
pembimbing matakuliah IPS 1. Penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian tugas ini. Semoga tugas yang penulis buat dapat bermanfaat bagi
penulis pribadi maupun pihak yang membaca.
Penulis menyadari bahwa tugas ini sangat jauh dari sempurna, masih banyak kelemahan dan
kekurangan. Setiap saran, kritik, dan komentar yang bersifat membangun dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk meningkatkan kualitas dan menyempurnakan tugas ini.
Yogyakarta, Desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .
ii
DAFTAR
ISI iii
BAB I

PENDAHULUAN
1

1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah. 2
3. Tujuan dan Manfaat. 2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Biografi Soeharto.. 3
2. Keadaan Pemerintahan Orde Baru dalam Segala Aspek .. 5
1. Pertahanan dan keamanan.. 5
2. Sosial. 5

3. Politik .. 6
4. Ekonomi

.. 13

5. Budaya . 23
6. Ideologi

.. 24

7. Pendidikan.. 26
8. Kelebihan dan Kekurangan Masa Pemerintahan Soeharto.. 28
a. Kelebihan . 28
b. Kekurangan.. 29
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN.

34

1. Kesimpulan .34
2. Saran . 35
DAFTAR PUSTAKA.. 36

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Biografi Soeharto

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta,
tanggal 8 Juni 1921. Dia adalah anak ketiga Kertosudiro dengan Sukirah yang dinikahinya
setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro yang menjadi petugas pengatur air
desa atau ulu-ulu, dikaruniai dua anak. Perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama.
Keduanya bercerai tidak lama setelah Soeharto lahir. Sukirah menikah lagi dengan Pramono dan
dikaruniai tujuh anak,
Belum genap 40 hari, bayi Soeharto dibawa ke rumah Mbah Kromo (adik kakek Sukirah). Mbah
Kromo kemudian mengajari Soeharto kecil untuk berdiri dan berjalan. Soeharto juga sering
diajak ke sawah. Sering, kakeknya memberi komando pada kerbau saat membajak sawah.
Karena dari situlah, Soeharto belajar menjadi pemimpin.
Ketika semakin besar, Soeharto tinggal bersama kakeknya, Mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya.
Soeharto sekolah ketika berusia delapan tahun, tetapi sering berpindah. Semula disekolahkan di
Sekolah Dasar (SD) di Desa Puluhan, Godean. Lalu, pindah ke SD Pedes (Yogyakarta) lantaran
ibu dan ayah tirinya, Pramono pindah rumah ke Kemusuk Kidul. Kertosudiro kemudian
memindahkan Soeharto ke Wuryantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Soeharto dititipkan di rumah

bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo. Soeharto diterima
sebagai putra paling tua dan diperlakukan sama dengan putra-putri Prawirowihardjo. Soeharto
kemudian disekolahkan dan menekuni semua pelajaran, terutama berhitung. Dia juga mendapat
pendidikan agama yang cukup kuat dari keluarga bibinya.
Sampai akhirnya terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah
pada tahun 1941.Beliau resmi menjadi anggota TNI pada 5 Oktober 1945.Pada tahun 1947,
Soeharto menikah dengan Siti Hartinah seorang anak pegawai Mangkunegaran.
Perkawinan Letkol Soeharto dan Siti Hartinah dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo.
Waktu itu usia Soeharto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan
putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi,
Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Pada 1 Maret 1949, ia ikut serta dalam serangan umum yang berhasil menduduki Kota
Yogyakarta selama enam jam. Inisiatif itu muncul atas saran Sri Sultan Hamengkubuwono IX
kepada Panglima Besar Soedirman bahwa Brigade X pimpinan Letkol Soeharto segera
melakukan serangan umum di Yogyakarta dan menduduki kota itu selama enam jam untuk
membuktikan bahwa Republik Indonesia (RI) masih ada.
Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karir militer dan
politiknya. Di kemiliteran, Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian
komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat
Letnan Kolonel.
Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI.Soeharto mengambil alih pimpinan Angkatan
Darat.Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib
oleh Presiden Soekarno.Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret
dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan
ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno Karena situasi politik yang memburuk
setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto
sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, Maret 1968. Pak Harto
memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21
Mei 1998.
Soeharto wafat pada pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR
dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87
tahun setelah dirawat selama 24 hari (sejak 4 sampai 27 Januari 2008) di Rumah Sakit Pusat
Pertamina (RSPP), Jakarta. Berita wafatnya Pak Harto pertama kali diinformasikan Kapolsek
Kebayoran Baru, Kompol. Dicky Sonandi, di Jakarta, Minggu (27/1). Kemudian secara resmi
Tim Dokter Kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Pak Harto tepat pukul
13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008 di RSPP Jakarta akibat kegagalan multi organ. Kemudian
sekira pukul 14.40, jenazah mantan Presiden Soeharto diberangkatkan dari RSPP menuju
kediaman di Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta.Ambulan yang mengusung jenazah Pak
Harto diiringi sejumlah kendaraan keluarga dan kerabat serta pengawal.Sejumlah wartawan
merangsek mendekat ketika iring-iringan kendaraan itu bergerak menuju Jalan Cendana,

mengakibatkan seorang wartawati televisi tertabrak.Di sepanjang jalan Tanjung dan Jalan
Cendana ribuan masyarakat menyambut kedatangan iringan kendaraan yang membawa jenazah
Pak Harto.Isak tangis warga pecah begitu rangkaian kendaraan yang membawa jenazah mantan
Presiden Soeharto memasuki Jalan Cendana, sekira pukul 14.55, Minggu (27/1). Sementara itu,
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah
menteri yang tengah mengikuti rapat kabinet terbatas tentang ketahanan pangan, menyempatkan
mengadakan jumpa pers selama 3 menit dan 28 detik di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (27/1).
Presiden menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya mantan Presiden RI
Kedua Haji Muhammad Soeharto.
B.

Keadaan Pemerintahan Orde Baru dalam Segala Aspek

1. Pertahanan dan Keamanan


Pada pemerintahan Presiden Soeharto pemerintahan yang diktator tetapi aman dan damai.
Terdapat dwi fungsi ABRI. Dalam hal ini manunggalnya ABRI dengan rakyat dan mantapnya
dwi fungsi ABRI merupakan salah satu kunci keberhasilan pembangunan selama PJP I sampai
pertengahan pelaksanaan Repelita VI sekarang ini. Pembangunan pertahanan keamanan terus
dilakukan sesuai dengan Sishankamrata, dan dengan terus memperkuat kemampuan ABRI dalam
melaksanakan kedua fungsinya.
2. Sosial
Adanya kesenjangan sosial yang mencolok antara orang kaya dan orang miskin.Namun, ada
kebijakan-kebijakan yang baik seperti transmigrasi dan keluarga berencana, adanya gerakan
memerangi buta huruf, munculnya gerakan Wajib Belajar dan Gerakan Nasional Orang Tua
Asuh. Pengembangan hukum adat sebagai hukum nasional bertolak dari paham Savignian yang
menganggap bahwa hukum itu tak mungkin dibuat dan dibebankan dari atas (sebagai atau tidak
sebagai sarana perekayasa sosial) melainkan akan dan harus tumbuh berkembang seiring dengan
berkembangnya masyarakat itu sendiri. Namun justru dengan konsep ini para ahli hukum adat
rupanya kesulitan ketika harus menyatukan hukum-hukum adat yang ada di Indonesia mengingat
banyaknya latar belakang sosial budaya masyarakat
Indonesia.Dan sampai saat penyusunan konsep suatu sistem hukum nasional, para ahli hukum
adat baru siap dengan statement bahwa Hukum adat merupakan salah satu sumber yang penting
untuk memperoleh bahan-bahan bagi Pembangunan Hukum Nasional yang menuju kepada
unifikasi hukum.
Akan tetapi dalam kehidupan sosial mereka mulai membuka diri dan mau peduli terhadap
lingkungan di sekitarnya.Mereka tidak lagi menolak apabila terpilih menjadi Ketua RT/RW dan
secara aktif ikut dalam penyelengaraan Pemilu di lingkungan tempat tinggalnya.
3. Politik
Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) tahun 1966 merupakan dasar legalitas dimulainya
pemerintahan Orde Baru di Indonesia.Orde Baru merupakan tatanan seluruh kehidupan rakyat,

bangsa, dan negara, yang diletakan pada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar 1945. Dan juga dapat dikatakan bahwa Orde Baru merupakan koreksi terhadap
penyelewangan pada masa lampau, dan berusaha untuk menyusun kembali kekuatan bangsa
untuk menumbuhkan stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa. Melalui
Ketetapan MPRS No.XIII/MPRS/1966, Letjen Soeharto ditugaskan oleh MPRS untuk
membentuk Kabinet Ampera.Akibatnya muncul dualisme kepemimpinan nasional. Berdasarkan
Keputusan Presiden No. 163 tanggal 25 Juli 1966 dibentuklah Kabinet Ampera.Dalam kabinet
baru tersebut Soekarno tetap sebagai presiden dan sekaligus menjabat sebagai pimpinan kabinet.
Tetapi ketika kabinet Ampera dirombak pada tanggal 11 Oktober 1966, jabatan Presiden tetap
dipegang Soekarno, dan Letjen Soeharto diangkat sebagai perdana menteri yang memiliki
kekuasaan eksekutif dalam kabinet Ampera yang disempurnakan. Sesuai dengan Ketetapan
MPRS No.XIII/MPRS/1966, menyebabkan kekuasaan pemerintahan di tangan Soeharto semakin
besar sejak awal tahun 1967. Pada 10 Januari 1967, Presiden Soekarno menyerahkan Pelengkap
pidato pertanggungjawaban presiden yang disebut Pelnawaksara, tidak diterima oleh MPRS
berdasarkan Keputusan Pimpinan MPRS No. 13/B/1967. Dan pada tanggal 20 Februari
diumumkan tentang penyerahan kekuasaan kepada pengemban Ketetapan MPRS
No.IX/MPRS/1966.Sebagai tindak lanjut lembaga tertinggi Negara ini mengeluarkan Ketetapan
No.XXXIII/MPRS/1967 tertanggal 12 Maret 1967, yang secara resmi mencabut seluruh
kekuasaan pemerintahan Negara dari Presiden Soekarno, dan mengangkat Soeharto sebagai
pejabat presiden Republik Indonesia.Dengan dikeluarkannya Ketetapan MPRS itu, situasi
konflik yang telah menyebabkan terjadinya instabilitas politik nasional dapat teratasi.Dan pada
tanggal 27 Maret 1968 Soeharto diangkat sebagai presiden Republik Indonesia berdasarkan
Ketetapan MPRS No. XLIV/MPRS/1968, sampai presiden lama.Langkah-langkah yang
dilakukan adalah:
a. Pembentukan Kabinet Pembangunan
Kabinet pertama pada masa peralihan kekuasaan adalah Kabinet Ampera dengan tugasnya Dwi
Darma. Kabinat Ampera yaitu menciptakan stabilitas politik dan stabilitas ekonomi sebagai
persyaratan untuk melaksanakan pembangunan nasional. Program Kabinet Ampera terkenal
dengan nama Catur Karya Kabinet Ampera yakni
1)

Memperbaiki kehidupan rakyat terutama di bidang sandang dan pangan

2)
Melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu yang ditetapkan, yaitu tanggal 5 Juli
1968
3)

Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional

4)
Melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan
manifestasinya
5)
Setelah MPRS pada tanggal 27 Maret1968 menetapkan Soeharto sebagai presiden RI
untuk masa jabatan lima tahun, maka dibentuklah
Kabinet Pembangunan dengan tugasnya yang disebut Panca Krida yang meliputi:

1)

Menciptakan stabilitas politik dan ekonomi

2)

Menyusun dan melaksanakan Pemilihan Umum

3)

Mengikis habis sisa-sisa Gerakan 30 September

4)

Membersihkan aparatur Negara di pusat dan daerah dari pengaruh PKI.

b. Pembubaran PKI dan Organisasi massanya


Dalam rangka menjamin keamanan, ketenangan, serta stabilitas pemerintahan, Soeharto sebagai
pengemban Supersemar telah mengeluarkan kebijakan:
1)
Membubarkan PKI pada tanggal 12 Maret 1966 yang diperkuat dengan Ketetapan MPRS
No IX/MPRS/1966
2)

Menyatakan PKI sebagai organisasi terlarang di Indonesia

3)
Pada tanggal 8 Maret 1966 mengamankan 15 orang menteri yang dianggap terlibat
Gerakan 30 September 1965.
c.

Penyederhanaan Partai Politik

Pada tahun 1973 setelah dilaksanakan pemilihan umum yang pertama pada masa Orde Baru
pemerintahan pemerintah melakukan penyederhaan dan penggabungan (fusi) partai- partai
politik menjadi tiga kekuatan social politik.Penggabungan partai-partai politik tersebut tidak
didasarkan pada kesamaan ideologi, tetapi lebih atas persamaan program. Tigakekuatan social
politik itu adalah:
1)
Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan gabungan dari NU, Parmusi, PSII,
dan PERTI
2)
Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan gabungan dari PNI, Partai Katolik,
Partai Murba, IPKI, dan Parkindo
3)

Golongan Karya

Penyederhanaan partai-partai politik ini dilakukan pemerintah Orde Baru dalam


upayamenciptakan stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara.Pengalaman sejarah pada masa
pemerintahan sebelumnya telah memberikan pelajaran, bahwa perpecahan yang terjadi dimasa
Orde Lama, karena adanya perbedaan ideologi politik dan ketidakseragaman persepsiserta
pemahaman Pancasila sebagai sumber hukum tertinggi di Indonesia.
d. Pemilihan Umum

Selama masa Orde Baru pemerintah berhasil melaksanakan enam kali pemilihan umum, yaitu
tahun 1971, 1977, 1985, 1987, 1992, dan 1997. Dalam setiap Pemilu yang diselenggarakan
selama masa pemerintahan Orde Baru, Golkar selalu memperoleh mayoritas suara dan
memenangkan Pemilu. Pada Pemilu 1997 yang merupakan pemilu terakhir masa pemerintahan
Orde Baru, Golkar memperoleh 74,51 % dengan perolehan 325 kursi di DPR, dan PPP
memperoleh 5,43 %dengan peroleh 27 kursi.Dan PDI mengalami kemorosotan perolehan suara
hanya mendapat11 kursi. Hal disebabkan adanya konflik intern di tubuh partai berkepala banteng
tersebut, dan PDI pecah menjadi PDI Suryadi dan PDI Megawati Soekarno Putri yang sekarang
menjadi PDIP. Penyelenggaraan Pemilu yang teratur selama masa pemerintahan Orde Baru telah
menimbulkan kesan bahwa demokrasi di Indonesia telah berjalan dengan baik. Apalagi Pemilu
berlangsung dengan asas LUBER (langsung, umum, bebas, dan rahasia). Namun dalam
kenyataannya Pemilu diarahkan untuk kemenangan salah satu kontrestan Pemilu yaitu Golkar.
Kemenangan Golkar yang selalu mencolok sejak Pemilu 1971 sampai dengan Pemilu 1997
menguntungkan pemerintah di mana perimbangan suara di MPR dan DPR didominasi oleh
Golkar. Keadaan ini telah memungkinkan Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia selama
enam periode, karena pada masa Orde Baru presiden dipilih oleh anggota MPR. Selain itu setiap
pertanggungjawaban, rancangan Undang-undang, dan usulan lainnya dari pemerintah selalu
mendapat persetujuan MPR dan DPR tanpa catatan
e.

Peran Ganda (Dwi Fungsi) ABRI

Untuk menciptakan stabilitas politik, pemerintah Orde Baru memberikan peran ganda kepada
ABRI, yaitu peran Hankam dan sosial.Peran ganda ABRI ini kemudian terkenal dengan sebutan
Dwi Fungsi ABRI.Timbulnya pemberian peran ganda pada ABRI karena adanya pemikiran
bahwa TNI adalah tentara pejuang dan pejuang tentara. Kedudukan TNI dan POLRI dalam
pemerintahan adalah sama. di MPR dan DPR mereka mendapat jatah kursi dengan cara
pengangkatan tanpa melalui Pemilu. Pertimbangan pengangkatan anggota MPR/DPR dari ABRI
didasarkan pada fungsinya sebagai stabilitator dan dinamisator.Peran dinamisator sebanarnya
telah diperankan ABRI sejak zaman Perang Kemerdekaan.Waktu itu Jenderal Soedirman telah
melakukannya dengan meneruskan perjuangan, walaupun pimpinan pemerintahan telah ditahan
Belanda.Demikian juga halnya yang dilakukanSoeharto ketika menyelamatkan bangsa dari
perpecahan setelah G 30 S PKI, yangmelahirkankan Orde Baru.Boleh dikatakan peran
dinamisator telah menempatkan ABRI pada posisiyang terhormat dalam percaturan politik
bangsa selama ini.
f.

Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4)

Pada tanggal 12 April1976 Presiden Soeharto mengemukakan gagasan mengenai pedoman untuk
menghayati dan mengamalkan Pancasila, yang terkenal dengan nama Ekaprasatya Pancakarsa
atau Pedomanan Pengahayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Untuk mendukung pelaksanaan
Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, maka sejak tahun 1978
pemerintah menyelenggarakan penataran (P4) secara menyeluruh pada semua lapisan
masyarakat. Penataran (P4) ini bertujuan membentuk pemahaman yang sama mengenai
demokrasi Pancasila, sehingga dengan adanya pemahaman yang sama terhadap Pancasila dan
Undang-undang Dasar 1945 diharapkan persatuan dan kesatuan nasional akan terbentuk dan
terpelihara. Melalui penegasan tersebut opini rakyat akan mengarah pada dukungan yang kuat

terhadap pemerintah Orde Baru. Dan sejak tahun 1985 pemerintah menjadikan Pancasila sebagai
asas tunggal dan kehidupan berorganisasi.Semua bentuk organisasi tidak boleh menggunakan
asasnya selain Pancasila. Menolak Pancasila sebagai sebagai asas tunggal merupakan
pengkhianatan terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.Dengan demikian Penataran P4
merupakan suatu bentuk indoktrinasi ideologi, dan Pancasila menjadi bagian dari sistem
kepribadian, sistem budaya, dan sistem sosial masyarakat Indonesia. Pancasila merupakan
prestasi tertinggi Orde Baru, dan oleh karenanya maka semua prestasi lainnya dikaitkan dengan
nama Pancasila. Mulai dari sistem ekonomi Pancasila, pers Pancasila, hubungan industri
Pancasila, demokrasi Pancasila, dan sebagainya.Dan Pancasila dianggap memiliki kesakralan
(kesaktian) yang tidak boleh diperdebatkan.
g.

Penataan Politik Luar Negeri

Pada masa Orde Baru politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif kembali dipulihkan.Dan
MPR mengeluarkan sejumlah ketetapan yang menjadi landasan politik luar negeri
Indonesia.Pelaksanaan politik luar negeri Indonesia harus didasarkan pada kepentingannasional,
seperti pembangunan nasional, kemakmuran rakyat, kebenaran, serta keadilan.
1) Kembalinya menjadi anggota PBB
Pada tanggal 28 September1966 Indonesia kembali menjadi anggota Perserikatan BangsaBangsa (PBB). Keputusan untuk kembali menjadi anggota PBB dikarenakan pemerintah sadar
bahwa banyak manfaat yang diperoleh Indonesia selama menjadi anggota pada tahun 19551964.Kembalinya Indonesia menjadi anggota PBB disambut baik oleh negara-negara Asia
lainnya bahkan oleh PBB sendiri.Hal ini ditunjukkan dengan dipilihnya Adam Malik sebagai
Ketua
Majelis Umum PBB untuk masa siding tahun 1974.Dan Indonesia juga memulihkanhubungan
dengan sejumlah negara seperti India, Thailand, Australia, dan negara-negara lainnya yang
sempat renggang akibat politik konfrontasi Orde Lama.
2) Normalisasi Hubungan dengan Negara lain
a)

Pemulihan Hubungan dengan Singapura

Dengan perantaraan Dubes Pakistan untuk Myanmar, Habibur Rachman, hubungan Indonesia
dengan Singapura berhasil dipulihkan kembali.Pada tanggal 2 Juni 1966 pemerintah Indonesia
menyampaikan nota pengakuan atas Republik Singapura kepada Perdana Menteri Lee Kuan
Yew.Dan pemerintah Singapura menyampaikan nota jawaban kesediaan untuk mengadakan
hubungan diplomatik dengan Indonesia.
b)

Pemulihan Hubungan dengan Malaysia

Penandatanganan persetujuan normalisasi hubungan Indonesia-Malaysia

Normalisasi hubungan Indonesia dengan Malaysia dimulai dengan diadakannya perundingan di


Bangkok pada 29 Mei- 1 Juni 1966 yang menghasilkan Perjanjian Bangkok. Isi perjanjian
tersebut adalah:
1.1 Rakyat Sabah diberi kesempatan menegaskan kembali keputusan yang telah mereka ambil
mengenai kedudukan mereka dalam Federasi Malaysia.
1.2 Pemerintah kedua belah pihak menyetujui pemulihan hubungan diplomatik.
1.3 Tindakan permusuhan antara kedua belah pihak akan dihentikan.
Dan pada tanggal 11 Agustus 1966 penandatangan persetujuan pemulihan hubungan IndonesiaMalaysia ditandatangani di Jakarta oleh Adam Malik (Indonesia) dan Tun Abdul Razak
(Malaysia).
c)

Pembekuan Hubungan dengan RRC

Pada tanggal 1 Oktober 1967 Pemerintantah Republik Indonesia membekukan hubungan


diplomatik dengan Republik Rakyat Cina (RRC). Keputusan tersebut dilakukan karena RRC
telah mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dengan cara memberikan bantuan kepada G 30
S PKI baik untuk persiapan, pelaksanaan, maupun sesudah terjadinya pemberontakan tersebut.
Selain itu pemerintah Indonesia merasa kecewa dengan tindakan teror yang dilakukan orangorang Cina terhadap gedung, harta, dan anggota-anggota Keduataan Besar Republik Indonesia di
Peking.Pemerintah RRC juga telah memberikan perlindungan kepada tokoh-tokoh G 30 S PKI di
luar negeri, serta secara terang-terangan menyokong bangkitnya kembali PKI.Melalui media
massanya RRC telah melakukan kampanye menyerang Orde Baru. Dan pada 30 Oktober 1967
Pemerintah Indonesia secara resmi menutup Kedutaan Besar di Peking
Sebagai presiden Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto telah banyak memengaruhi
sejarah Indonesia.Dengan pengambil alihan kekuasaan dari Soekarno, Soeharto dengan
dukungan dari Amerika Serikat memberantas paham komunisme dan melarang pembentukan
partai komunis. Dijadikannya Timor Timur sebagai provinsi ke-27 (saat itu) juga dilakukannya
karena kekhawatirannya bahwa partai Fretilin (Frente Revolucinaria De Timor Leste
Independente /partai yang berhaluan sosialis-komunis) akan berkuasa di sana bila dibiarkan
merdeka.Hal ini telah mengakibatkan menelan ratusan ribu korban jiwa sipil.
Sistem otoriter yang dijalankan Soeharto dalam masa pemerintahannya membuatnya populer
dengan sebutan Bapak, yang pada jangka panjangnya menyebabkan pengambilan keputusankeputusan di DPR kala itu disebut secara konotatif oleh masyarakat Indonesia sebagai sistem
ABS atau Asal Bapak Senang.
Di bidang politik, Presiden Soeharto melakukan penyatuan partai-partai politik sehingga pada
masa itu dikenal tiga partai politik yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Golongan
Karya (Golkar) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dalam upayanya menyederhanakan
kehidupan berpolitik di Indonesia sebagai akibat dari politik masa presiden Soekarno yang
menggunakan sistem multipartai yang berakibat pada jatuh bangunnya kabinet dan dianggap
penyebab mandeknya pembangunan. Kemudian dikeluarkannnya UU Politik dan Asas tunggal

Pancasila yang mewarnai kehidupan politik saat itu. Namun dalam perjalanannya, terjadi
ketimpangan dalam kehidupan politik di mana muncullah istilah mayoritas tunggal di mana
GOLKAR dijadikan partai utama dan mengebirikan dua parpol lainnya dalam setiap
penyelenggaraan PEMILU. Berbagai ketidakpuasan muncul, namun dapat diredam oleh sistem
pada masa itu.Lemabga MPR juga memiliki struktur keanggotaan yang menguntungkan
pemerintah.Selain wakil-wakil TNI/Polri, ada juga utusan golongan yang sudah tentu
mendukung pemerintahan orde baru.
Selama orde baru, hak-hak politik warga Negara tidak diberi tempat. Tidak ada kebebasan pers.
Pemerintah melakukan control yang sangat ketat . Sementara itu, masyarakat yang mempunyai
pendapat berbeda dengan pemerintah maka akan dicap sebagai makar dan dapat dipenjarakan
4. Ekonomi
Banyak tindak korupsi pada masa-masa ini. Namun, pertumbuhan ekonomi timbuh dan
berkembang sangat pesat dan adanya perbaikan ekonomi dan pembangunan. Pada masa
pemerintahan Soeharto ini terjadi swasembada pangan, dimana harga sembako tergolong relatif
murah.
a. stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi.
Untuk mengatasi keadaan ekonomi yang kacau sebagai peninggalan pemerintah Orde Lama,
pemerintah Orde Baru melakukan langkah-langkah:
1)
Memperbaharui kebijakan ekonomi, keuangan, dan pembangunan. Kebijakan ini didasari
oleh Ketetapan MPRS No. XXIII/MPRS/1966
2)
MPRS mengeluarkan garis program pembangunan, yakni program penyelamatan, program
stabilisasi dan rehabilitasi.
Program pemerintah diarahkan pada upaya penyelamatan ekonomi nasional, terutama stabilisasi
dan rehabilitasi ekonomi.Yang dimaksud dengan stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan
inflasi agar harga barang-barang tidak melonjak terus.Dan rehabilitasi ekonomi adalah perbaikan
secara fisik sarana dan prasarana ekonomi.Hakikat dari kebijakan ini adalah pembinaan sistem
ekonomi berencana yang menjamin berlangsungnya demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya
masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Langkah-langkah yang diambil Kabinet
Ampera yang mengacu pada Ketetapan MPRS tersebut adalah:
1)
Mendobrak kemacetan ekonomi dan memperbaiki sektor-sektor yang menyebabkan
kemacetan. Adapun yang menyebabkan terjadinya kemacetan ekonomi tersebut adalah:
a)

Rendahnya penerimaan negara.

b)

Tinggi dan tidak efisiennya pengeluaran negara.

c)

Terlalu banyak dan tidak efisiennya ekspansi kredit bank.

d)

Terlalu banyak tunggakan hutang luar negeri.

e)

Penggunaan devisa bagi impor yang sering kurang berorientasi pada kebutuhan prasarana.

2)

Debirokrasi untuk memperlancar kegiatan perekonomian

3)

Berorientasi pada kepentingan produsen kecil

Untuk melaksanakan langkah-langkah penyelamatan tersebut, maka pemerintah Orde Baru


menempuh cara-cara :
1)

Mengadakan operasi pajak

2)
Melaksanakan sistem pemungutan pajak baru, baik bagi pendapatan perorangan maupun
kekayaan dengan cara menghitung pajak sendiri dan menghitung pajak orang.
3)
Menghemat pengeluaran pemerintah (pengeluaran konsumtif dan rutin), serta
menghapuskan subsidi bagi perusahaan Negara.
4)

Membatasi kredit bank dan menghapuskan kredit impor.

Program stabilsasi ini dilakukan dengan cara membentung laju inflasi. Dan pemerintah Orde
Baru berhasil membendung laju inflasi pada akhir tahun 1967-1968, tetapi harga bahan
kebutuhan pokok naik melonjak.Sesudah dibentuk Kabinet Pembangunan pada bulan Juli 1968,
pemerintah mengalihkan kebijakan ekonominya pada pengendalian yang ketat terhadap gerak
harga barang khususnya sandang, pangan, dan kurs valuta asing.Sejak saat itu ekonomi nasional
relatif stabil, sebab kenaikan harga bahan-bahan pokok dan valuta asing sejak tahun 1969 dapat
dikendalikan pemerintah.
Program rehabilitasi dilakukan dengan berusaha memulihkan kemampuan berproduksi.Selama
sepuluh tahun terakhir masa pemerintahan Orde Lama, Indonesia mengalami kelumpuhan dan
kerusakan pada prasarana social dan ekonomi.Lembaga perkreditan desa, gerakan koperasi, dan
perbankan disalahgunakan dan dijadikan alat kekuasaan oleh golongan dan kelompok
kepentingan tertentu.Dampaknya lembaga (negara) tidak dapat melaksanakan fungsinya sebagai
penyusun perbaikan tata kehidupan rakyat.
b. Kerjasama Luar Negeri
1) Pertemuan Tokyo
Selain mewariskan keadaan ekonomi yang sangat parah, pemerintahan Orde Lama juga
mewariskan utang luar negeri yang sangat besar yakni mencapai 2,2-2,7 miliar, sehingga
pemerintah Orde Baru meminta negara-negara kreditor untuk dapat menunda pembayaran
kembali utang Indonesia. Pada tanggal 19-20 September1966 pemerintah Indonesia mengadakan
perundingan dengan negara-negara kreditor di Tokyo.Pemerintah Indonesia akan melakukan
usaha bahwa devisa ekspor yang diperoleh Indonesia akan digunakan untuk membayar utang

yang selanjutnya akan dipakai untuk mengimpor bahan-bahan baku. Hal ini mendapat tanggapan
baik dari negara-negara kreditor.Perundinganpun dilanjutkan di Paris, Perancis dan dicapai
kesepakatan sebagai berikut.
Pembayaran hutang pokok dilaksanakan selama 30 tahun, dari tahun 1970 sampai dengan 1999.
a)

Pembayaran dilaksanakan secara angsuran, dengan angsuran tahunan yang sama besarnya.

b)

Selama waktu pengangsuran tidak dikenakan bunga.

c)
Pembayaran hutang dilaksanakan atas dasar prinsip nondiskriminatif, baik terhadap negara
kreditor maupun terhadap sifat atau tujuan kredit.
2) Pertemuan Amsterdam
Pada tanggal 23-24 Februari 1967 diadakan perundingan di Amsterdam, Belanda yang bertujuan
membicarakan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan pemberian
bantuan dengan syarat lunas, yang selanjutnya dikenal dengan IGGI (Intergovernmental Group
for Indonesia). Pemerintah Indonesia mengambil langkah tersebut untuk memenuhi
kebutuhannya guna pelaksanaan program-program stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi serta
persiapan-persiapan pembangunan. Di samping mengusahakan bantuan luar negeri tersebut,
pemerintah juga berusaha dan telah berhasil mengadakan penangguhan serta memperingan
syarat-syarat pembayaran kembali (rescheduling) hutang-hutang peninggalan Orde Lama.
Melalui pertemuan tersebut pemerintah Indonesia berhasil mengusahakan bantuan luar negeri.
c. Pembangunan Nasional
1) Trilogi Pembangunan
Setelah berhasil memulihkan kondisi politik bangsa Indonesia, maka langkah selanjutnya yang
ditempuh pemerintah Orde Baru adalah melaksanakan pembangunan nasional. Pembangunan
nasional yang diupayakan pemerintah waktu itu direalisasikan melalui Pembangunan Jangka
pendek dan Pembangunan Jangka Panjang. Pambangunan Jangka Pendek dirancang melalui
Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Setiap Pelita memiliki misi pembangunan dalam rangka
mencapai tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia.Sedangkan Pembangunan Jangka Panjang
mencakup periode 25-30 tahun.Pembangunan nasional adalah rangkaian upaya pembangunan
yang berkesinambungan yang meliputi seluruh aspek kehidupan masyarakat, bangsa, dan
Negara. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam upaya mewujudkan tujuan nasional yang
tertulis dalam pembukaan UUD 1945 yaitu:
a)

Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah Indonesia

b)

Meningkatkan kesejahteraan umum

c)

Mencerdaskan kehidupan bangsa

d) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan social
Pelaksanaan Pembangunan Nasional yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru berpedoman pada
Trilogi Pembangunan dan Delapan jalur Pemerataan.Inti dari kedua pedoman tersebut adalah
kesejahteraan bagi semua lapisan masyarakat dalam suasana politik dan ekonomi yang stabil. Isi
Trilogi Pembangunan adalah :
a)
Pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju kepada terciptanya keadilan sosial
bagi seluruh rakyat.
b)

Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

c)

Stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.

Dan Delapan Jalur Pemerataan yang dicanangkan pemerintah Orde Baru adalah:
a)
Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat khususnya pangan, sandang dan
perumahan.
b)

Pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan dan pelayanan kesehatan

c)

Pemerataan pembagian pendapatan.

d)

Pemerataan kesempatan kerja

e)

Pemerataan kesempatan berusaha

f)
Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya bagi generasi muda
dan kaum wanita.
g)

Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah Tanah Air

h)

Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan.

2)

Pelaksanaan Pembangunan Nasional

Seperti telah disebutkan di muka bahwa Pembangunan nasional direalisasikan melalui


Pembangunan Jangka Pendek dan Pembangunan Jangka Panjang. Dan Pembangunan Jangka
Pendek dirancang melalui program Pembangunan Lima Tahun (Pelita). Selama masa Orde Baru,
pemerintah telah melaksanakan enam Pelita yaitu:
a)

Pelita I

Pelita I dilaksanakan mulai 1 April1969 sampai 31 Maret1974, dan menjadi landasan awal
pembangunan masa Orde Baru.Tujuan Pelita I adalah meningkatkan taraf hidup rakyat dan

sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan tahap berikutnya.Sasarannya adalah


pangan, sandang, perbaikan prasarana perumahan rakyat, perluasan lapangan kerja, dan
kesejahteraan rohani. Titik beratnya adalah pembangunan bidang pertanian sesuai dengan tujuan
untuk mengejar keterbelakangan ekonomi melalui proses pembaharuan bidang pertanian, karena
mayoritas penduduk Indonesia masih hidup dari hasil pertanian.
b)

Pelita II

Pelita II mulai berjalan sejak tanggal 1 April 1974 sampai 31 Maret 1979.Sasaran utama Pelita II
ini adalah tersedianya pangan, sandang, perumahan, sarana prasarana, mensejahterakan rakyat,
dan memperluas kesempatan kerja.Pelaksanaan Pelita II dipandang cukup berhasil.Pada awal
pemerintahan Orde Baru inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I inflasi berhasil ditekan
menjadi 47%. Dan pada tahun keempat Pelita II inflasi turun menjadi 9,5%.
c)

Pelita III

Pelita III dilaksanakan pada tanggal 1 April 1979 sampai 31 Maret 1984.Pelaksanaan Pelita III
masih berpedoman pada Trilogi Pembangunan, dengan titik berat pembangunan adalah
pemerataan yang dikenal dengan Delapan Jalur Pemerataan.
d)

Pelita IV

Pelita IV dilaksanakan tanggal 1 April 1984 sampai 31 Maret 1989.Titik berat Pelita IV ini
adalah sektor pertanian untuk menuju swasembada pangan, dan meningkatkan industri yang
dapat menghasilkan mesinindustri sendiri.Dan di tengah berlangsung pembangunan pada Pelita
IV ini yaitu awal tahun 1980 terjadi resesi.Untuk mempertahankan kelangsungan pembangunan
ekonomi, pemerintah mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal.Dan pembangunan nasional
dapat berlangsung terus.
e)

Pelita V

Pelita V dimulai 1 April 1989 sampai 31 Maret 1994.Pada Pelita ini pembangunan ditekankan
pada sector pertanian dan industri. Pada masa itu kondisi ekonomi Indonesia berada pada posisi
yang baik, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 6,8% per tahun.[rujukan?] Posisi perdagangan
luar negeri memperlihatkan gambaran yang menggembirakan.Peningkatan ekspor lebih baik
dibanding sebelumnya.
f)

Pelita VI

Pelita VI dimulai 1 April 1994 sampai 31 Maret 1999.Program pembangunan pada Pelita VI ini
ditekankan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan industri dan pertanian, serta peningkatan
kualitas sumber daya manusia sebagai pendukungnya. Sektor ekonomi dipandang sebagai
penggerak pembangunan. Namun pada periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negaranegara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam
negeri yang mengganggu perekonomian telah menyebabkan proses pembangunan terhambat, dan
juga menyebabkan runtuhnya pemerintahan Orde Baru.

Pada permulaan orde baru, program pemerintah berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi
nasional terutama pada usaha mengendalikan tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara dan
pengamanan kebutuhan pokok rakyat.
Selama pemerintahannya, Presiden Soeharto telah berhasil meletakkan kerangka tinggal landas
dengan capaian-capaian bidang ekonomi antara lain:
a. Berhasil meningkatkan pertumbuhan Indonesia dari minus 2,25 pada tahun 1963 menjadi naik
tajam sebesar 12% pada tahun 1969 atau setahun setelah dirinya ditunjuk sebagai pejabat
Presiden. Selama periode tahun 1967-1997, pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat ditingkatkan
dan dipertahankan rata-rata 7,2% pertahun.
b.Pertumbuhan Indonesia yang tinggi dan berkelanjutan (mulai tahun 1967 s/d 2007) menjadikan
Indonesia digolongkan kedalam ekonomi industri baru (Newly Industrializing Economies, NIEs)
. Pertumbuhan tinggi dan konsisten, stabilitas yang terkelola dengan baik dan disertai political
will pemerataan telah menghasilkan capaian-capaian:
(1) perbaikan kesejahteraan rakyat secara signifikan,
(2) panjang usia harapan (life expectancy) meningkat cukup tajam dari 56 tahun pada tahun 1966
menjadi 71 tahun pada tahun 1991.
(3) proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan absolut menurun tajam dari 60% tahun
1966 menjadi 14% pada tahun 1990.
(4) perbaikan secara cepat dan signifikan indikator sosial- ekonomi mulai dari pendidikan hingga
kepemilikan peralatan serta penguasaan teknologi. Indonesia juga telah berubah dari negara
pengimpor beras menjadi negara swasembada tahun 1984 dan pertumbuhan penduduk dapat
dikendalikan melalui program keluarga berencana (KB).Capaian prestasi ini menjadikan
Indonesia (bersama Malaysia dan Thailand) digolongkan sebagai Keajaiban Asia.
c. Seiring dengan peningkatan pertumbuhan, Indonesia juga mengalami peningkatan penanaman
modal dan perbaikan sumber daya manusia yang keberadaanya menjadi pendorong utama
pertumbuhan. Peningkatan ini menghasilkan akumulasi modal fisik maupun SDM bagi
pembangunan bangsa secara umum. Sebagai ilustrasi adalah adanya peningkatan signifikan
penanaman modal domestik (dalam negeri) yang rata-rata meningkat sebesar 50,43% pertahun
selama kurun waktu 1976-1997. Kondisinya mengalami anomali pada era reformasi karena
penanaman modal domestik mengalami penurunan atau minus rata-rata 17,20% pertahun selama
lima tahun pertama reformasi (1998-2002). Selama periode tahun 1990 s/d 1997, penanaman
modal dalam negeri mengalami peningkatan secara tajam untuk kemudian mengalami
perlambatan oleh krisis politik tahun 1998. Setelah mengalami peningkatan pada tahun 1999,
akibat krisis politik berkepanjangan, penanaman modal dalam negeri terus mengalami penurunan
pada tahun-tahun berikutnya. Begitu pula dengan gairah pemodal luar negeri dalam berinvestasi
di Indonesia yang mengalami peningkatan rata-rata 42,10% pertahun selama kurun waktu 19771997. Hal ini menandakan iklim investasi di Indonesia cukup diminati oleh investor luar negeri.
Sejalan dengan trend penanaman modal domestik, penanaman modal asing juga mengalami

anomali pada era reformasi yang mengalami penurunan atau minus rata-rata 15,04% pertahun
selama lima tahun pertama reformasi. Pertumbuhan tinggi yang dapat dipertahankan secara stabil
juga meningkatkan tabungan domestik sehingga dapat mendorong tingginya tingkat investasi.
Tabungan domestik selama kurun waktu tahun 1974-1996 meningkat rata-rata 69,08% pertahun.
d. Sektor pertanian juga tumbuh cepat yang didukung dengan peningkatan produktivitas padi.
Pada awal pemerintahan Presiden Soeharto, Indonesia masih menjadi pengimpor beras terbesar
di dunia. Pada tahun 1969 produksi beras Indonesia hanya 12 juta ton, namun meningkat pesat
menjadi 28 juta ton pada tahun 1980-1989 dan menjadikannya sebagai negara swasembada
beras. Prestasi ini mengundang kekaguman internasional sehingga pada tanggal 14 November
1985.
e. Presiden Soeharto diundang untuk memaparkan kunci-kunci keberhasilan pembangunan
pangan di Indonesia, dalam forum sidang organisasi pangan dan Pertanian PBB (FAO). Produksi
beras mengalami peningkatan sebesar 7.5 juta ton dalam periode tahun 1970-1979 dan 15 juta
ton selama periode tahun 1980-1989. Pada akhir 1990-1999 produksi beras hanya meningkat 5,6
juta ton sebagai dampak krisis politik 1998.
f. Berhasil menyediakan kebutuhan papan. Selama periode 1978-1983 melalui Perum Perumnas
pemerintah telah membangun 209.872 unit perumahan dan selama pemerintahan Presiden
Soeharto secara keseluruhan telah terbangun 441.923 unit rumah. Selama periode 1978-1983
Perum Perumnas telah menjadi perintis munculnya kawasan pemukiman bagi penduduk
kalangan menengan ke bawah. Melalui kebijakan KPR (Kredit Kepemilikan Rumah),
masyarakat juga dipermudah dalam penyediaan rumah tempat tinggal.
g. Pemerintahan Presiden Soeharto berhasil melakukan pengendalian pertumbuhan penduduk.
Pada tahun 1967 pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 2,6% dan pada tahun 1996 telah
menurun drastis menjadi 1,6%. Keberhasilan ini dicapai melalui program Keluarga Berencana
Nasional yang dilaksanakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
Program pengendalian kependudukan di Indonesia diawali dengan ditandatanganinya Deklarasi
Kependudukan PBB pada tahun 1967 sehingga secara resmi Indonesia mengakui hak-hak untuk
menentukan jumlah dan jarak kelahiran sebagai hak dasar manusia dan juga pentingnya
pembatasan jumlah penduduk sebagai unsur perencanaan ekonomi dan sosial. Atas keberhasilan
Indonesia ini, Direktur UNICEF James P. Grant memuji Indonesia karena dinilai berhasil
menekan tingkat kematian bayi dan telah melakukan berbagai upaya lainnya dalam rangka
mensejahterakan kehidupan anak-anak di tanah air. Grant bahkan mengemukakan apa yang telah
dilakukan pemerintah Indonesia itu hendaknya dijadikan contoh bagi negara-negara lain yang
tingkat kematian bayinya masih tinggi.
h. Melalui kebijakan anggaran berimbang, Pemerintahan Presiden Soeharto juga dinilai berhasil
menekan inflasi dibawah 10%, rata-rata defisit neraca berjalan 2,5% dari PDB dan
mempertahankan cadangan devisa mendekati jumlah kebutuhan impor kurang lebih 5 bulan.
Selain kebijakan anggaran berimbang, pemerintahan Presiden Soeharto juga mempertahankan
kebijakan moneter secara hati-hati, mengupayakan tingkat kurs yang kompetitif dan
mempertahankan sistem devisa bebas untuk menarik investasi dengan mengantisipasi perubahan

situasi pasar dunia. Kebijakan tersebut dilaksanakan untuk mencapai sasaran stabilitas ekonomi
makro, yaitu terkendalinya inflasi dan defisit neraca berjalan.
i. Selain berhasil mengendalikan inflasi, pemerintahan Presiden Soeharto berhasil dalam
melakukan pengelolaan utang luar negeri. Sebagaimana dipaparkan Widjoyo Nitisastro dalam
bukunya berjudul Pengalaman Pembangunan Indonesia yang terbit tahun 2010,
mengungkapkan bahwa pada tahun 1966 Indonesia sebenarnya sedang menunggak utang. Pada
saat itu terdapat dua jenis pinjaman yaitu utang lama (yang diadakan sebelum 30 Juni 1966) dan
utang baru (yang diadakan setelah 30 Juni 1966). Terdapat beberapa macam pinjaman lama yaitu
utang kompensasi nasionalisasi perusahaan Hindia Belanda kepada pemerintah Belanda dan
hutang-hutang lain (kira-kira 2,1 miliar dollar AS) kepada sekitar 30 negara besar dan kecil baik
dari negara-negara Eropa Timur (terutama Uni Soviet), Amerika Serikat, Eropa Barat dan
Jepang.
Untuk menjaga etika hubungan internasional maka diadakan pembicaraan dengan negara-negara
tersebut dan akhirnya dicapai kesepakatan antara Indonesia dengan negara-negara Paris Club
pada bulan April 1970 untuk penyelesaian tunggal dan menyeluruh utang-utang Indonesia
dengan kesepakatan:
1. Pembayaran utang pokok dilakukan dengan mencicil selama 30 tahun dari 1970 sampai
dengan tahun 1999.
2. Pembayaran atas bunga yang sudah disepakatidilakukan selama 15 tahun dari 1985
sampai 1999.
3. Utang yang dijadwalkan kembali tersebut bebas bunga.
4. Indonesia mempunyai pilihan untuk menunda sebagian dari utang yang jatuh tempo pada
delapan tahun pertama ke delapan tahun terakhir, yakni 1992-1999, dengan bunga sebesar
empat persen pertahun.
Pemerintahan Presiden Soeharto melakukan pengelolaan utang secara hati-hati dalam jumlah
seperlunya dan mengalokasikannya untuk biaya kegiatan pembangunan yang produktif.Kehatihatian ini tampak dari jumlah hutang Indonesia selama era Orde Baru dengan era reformasi.
Selama 32 tahun memerintah, pemerintahan Presiden Soeharto mencatatkan utang sekitar
Rp.46,88 triliun per tahun. Jumlah ini lebih kecil jika dibandingkan dengan 10 tahun
pemerintahan reformasi yang mencatatkan utang sebesar Rp. 111,4 triliun per tahun. Pada saat
mengundurkan diri pada bulan Mei 1998, Presiden Soeharto mencatatkan utangsebesar Rp. 553
triliun.Sedangkan 10 tahun pemerintahan reformasi telah mencatatkan utang sebesar Rp. 1667
triliun.
Keterputusan agenda tinggal landas akibat krisis ekonomi dan moneter barangkali tidak akan
terlalu parah dan dapat dilanjutkan kembali manakala terdapat soliditas komponen bangsa.
Permasalahannya terdapat banyak pelaku dalam peristiwa reformasi 1998 yang didalamnya
mengusung agenda pragmatisnya masing-masing sehingga soliditas bangsa tidak bisa segera
terwujud.Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diwarnai beragam instabilitas

(keamanan, politik, pemerintahan dan ekonomi) sehingga keberlangsungan agenda tinggal landas
menjadi terbengkalai.
Target mengantarkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan dari 20 besar negara di dunia pada
tahun 2005, hanya bisa diwujudkan dengan predikat sebagai the emerging market atau negara
yang pasarnya sedang tumbuh dengan stabil dan dalam hal ini merupakan bahasa halus dari
tempat pembuangan produk negara-negara maju. Sedangkan target tinggal landas (setara
dengan negara maju pada tahun 2019/2020) dengan struktur perekonomian yang didukung
industri pertanian dan industri strategis yang kuat justru semakin menjauh. Bahkan sejumlah ahli
ekonomi menyatakan telah terjadi de-industrialisasi pada era reformasi. Segala jerih payah untuk
mewujudkan kedaulatan dan kemandirian ekonomi bangsa itu kini harus ditata kembali.
Kegagalan ini merupakan kegagalan bersama sebagai sebuah bangsa yang dalam proses transisi
tahun 1998 tidak bisa memetakan secara akurat siapa lawan dan siapa pengkianat bangsa yang
sesungguhnya.
5. Budaya
Pada masa Orde Baru terdapat beberapa kebijakan pemerintah yang bersifat diskriminatif, seperti
Surat Edaran No.06/Preskab/6/67 yang memuat tentang perubahan nama. Dalam surat itu
disebutkan bahwa masyarakat keturunan Cina harus mengubah nama Cinanya menjadi nama
yang berbau Indonesia, misalnya Liem Sioe Liong menjadi Sudono Salim. Selain itu,
penggunaan bahasa Cinapun dilarang.
Pemerintah mengontrol bidang kebudayaan yang dianggap bertentangan atau membahayakan
kebudayaan nasional akan dihapus. Selain itu juga mengontrol kerja dan produksi
kebudayaan.Seniman tidak bisa seenaknya menghasilkan karya seni.Demikian juga puisi dan
pementasan-pementasan seperti teater, harus ada izin tertulis dari aparat keamanan.Didirikannya
sekolah-sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) sejak 1900, mendorong berkembangnya pers
dan sastra melayu Tionghoa.Maka dalam waktu 70 tahun telah dihasilkan sekitar 300 buku.Suatu
prestasi yang luar biasa bila dibandingkan dengan sastra yang dihasilkan oleh angkatan pujangga
baru, angkatan 45, 66, dan pasca 66 yang tidak seproduktif itu.Dengan demikian komunitas ini
telah berjasa dalam membentuk 1 awal perkembangan bahasa Indonesia.Sehingga pada
pemerintahan Presiden Soeharto semua budaya china tidak boleh masuk ke Indonesia dan tahun
baru Imlek belum menjadi libur nasional.
6. Ideologi
Pada pemerintahan Presiden Soeharto Pancasila terkesan menjadi Ideologi tertutup.Pancasila
hanya menjadi lambang dasar negara saja, namun nilai-nilai Pancasila tidak diterapkan dalam
kehidupan pemerintahan.Pemerintahan bersifat otoriter, hanya terpaku pada Presiden saja dan
demokrasi tidak berjalan.
Hukum merupakan dasar untuk menegakkan nilai-nilai kemanusian.Berbagai perbaikan di
bidang hukum telah dilakukan dan diarahkan menurut petunjuk UUD 1945. Dalam kaitan ini,
antara lain telah ditetapkan Un dang-undang tentang KUHAP, Undang-undang tentang Hak
Cipta, Paten, dan Merek, kompilasi hukum Islam, dan lain-lain. Agar hukum dapat dijalankan

berdasarkan peraturan- peraturan yang berla ku, dilakukan pula penyuluhan hukum kepada
masyarakat luas maupun kepada aparat pemerintah. Perbaikan aparatur hukum terus menerus
dilakukan meskipun belum mencapai hasil yang optimal, dan belum sepenuhnya dapat
memenuhi tuntutan keadilan masyarakat.
Kecenderungan orde baru dalam memandang Pancasila sebagai doktrin yang komprehensif
terlihat pada anggapan bahwa ideologi sebagai sumber nilai dan norma dan karena itu harus
ditangani (melalui upaya indoktrinasi) secara terpusat. Pada akhirnya, pandangan tersebut
bermuara pada keadaan yang disebut dengan perfeksionisme negara. Negara perfeksionis adalah
negara yang merasa tahu apa yang benar dan apa yang salah bagi masyarakatnya, dan kemudian
melakukan usaha-usaha sistematis agar kebenaran yang dipahami negara itu dapat diberlakukan
dalam masyarakatnya. Sehingga formulasi kebenaran yang kemudian muncul adalah sesuatu
dianggap benar kalau hal tersebut sesuai dengan keinginan penguasa, sebaliknya sesuatu
dianggap salah kalau bertentangan dengan kehendak penguasa.
Pendidikan pada masa orde baru bukan untuk meningkatkan taraf kehidupan rakyat, apalagi
untuk meningkatkan sumber daya manusia Indonesia, tetapi malah mengutamakan orientasi
politik agar semua rakyat itu selalu patuh pada setiap kebijakan pemerintah.Bahwa putusan
pemerintah adalah putusan yang adiluhung yang tidak boleh dilanggar.Itulah doktrin orde baru
pada sistem pendidikan kita.
Indoktrinisasi pada masa kekuasan Soeharto ditanamkan dari jenjang sekolah dasar sampai pada
tingkat pendidikan tinggi, pendidikan yang seharusnya mempunyai kebebasan dalam pemikiran.
Pada masa itu, pendidikan diarahkan pada pengembangan militerisme yang militan sesuai
dengan tuntutan kehidupan suasana perang dingin .Semua serba kaku dan berjalan dalam sistem
yang otoriter.
7. Pendidikan
Ahkirnya, kebijakan pendidikan pada masa orde baru mengarah pada penyeragaman. Baik cara
berpakaian maupun dalam segi pemikiran. Hal ini menyebabkan generasi bangsa kita adalah
generasi yang mandul. Maksudnya, miskin ide dan takut terkena sanksi dari pemerintah karena
semua tindakan bisa-bisa dianggap subversif. Tindakan dan kebijakan pemerintah orde baru-lah
yang paling benar. Semua wadah-wadah organisasi baik yang tunggal maupun yang majemuk,
dibentuk pada budaya homogen. Bahkan partai politik pun dibatasi. Hanya tiga partai yang
berhak mengikuti Pemilu.Di bidang pendidikan mereka banyak
mendirikan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari kursus bahasa Inggris, Mandarin, komputer
sampai akademi dan universitas. Kalangan mudanya secara aktif mulai memasuki bidang-bidang
profesi di luar wilayah bisnis semata. Mereka sekarang secara terbuka berusaha menjadi artis
sinetron, presenter TV, peragawati, foto model, pengacara, wartawan, pengarang, pengamat
sosial/ politik, peneliti, dsbnya. Hal ini sangat berbeda ketika rezim Orde Baru memberlakukan
kebijakan diskriminasi. Misalnya, pemberlakuan batasan 10 persen bagi etnis Cina untuk bisa
belajar di bidang medis, permesinan, sains dan hukum di universitas.

Di bidang pendidikan mereka banyak mendirikan lembaga-lembaga pendidikan mulai dari


kursus bahasa Inggris, Mandarin, komputer sampai akademi dan universitas.Kalangan mudanya
secara aktif mulai memasuki bidang-bidang profesi di luar wilayah bisnis semata.Mereka
sekarang secara terbuka berusaha menjadi artis sinetron, presenter TV, peragawati, foto model,
pengacara, wartawan, pengarang, pengamat sosial/ politik, peneliti, dsbnya.Hal ini sangat
berbeda ketika rezim Orde Baru memberlakukan kebijakan diskriminasi.Misalnya, pemberlakuan
batasan 10 persen bagi etnis Cina untuk bisa belajar di bidang medis, permesinan, sains dan
hukum di universitas.
Perkembangan Pendidikan Guru pada Masa Orde Baru
Pembangunan Dibidang Pendidikan
Pembangunan dibidang pendidikan memiliki 2 fungsi dalam keseluruhan kerangka
pembangunan ekonomi yaitu:
1)
Mengusahakan agar kesempatan mendapatkan pendidikan menjadi terjangkau oleh semua
masyarakat.
2)
Meningkatkan secara berangsur-angsur kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui
pendidikan yang bermutu. Untuk meningkatkan mutu pendidikan ini pemerintah masa orde baru
melakukan:
a)

Peningkatan Mutu Pendidikan Kejuruan

Peningkatan ini melalui memutakhirkan struktur pendidikan kejuruan sesuai dengan


perkembangan zaman. Dalam struktur pendidikan kejuruan yang baru muncul sekolah-sekolah
menengah kejuruan dibidang manajemen bisnis, pariwisata, dan perhotelan.Padahal dulu hanya
ada 4 jenis sekolah menengah kejuruan yaitu pertanian, tehnik, ekonomi, dan kejuruan rumah
tangga.Selanjutnya adalah memodernisasi program pendidikan atau kurikulum di semua bidang
kejuruan dari pertanian teknologi sampai kejuruan rumah tangga.
b)

Tindakan Darurat

Tamatan SGA yang menurut rencana semula akan ditempatkan sebagai guru SD diangkat
menjadi guru SMP dan SGB. Pada tahun 1952 dibangun Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan
Pertama (PGSLP). Lama pendidikan PGSLP mula-mula ditetapkan 1 tahun, namun mulai 1
September 1958 lama pendidikan ini diperpanjang menjadi 2 tahun dan lamanya diubah menjadi
Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Atas (PGSLA). Siswa PGSLP ini diambil dari para lulusan
SGA yang telah ditempatkan sebagai guru sekolah menengah.PGSLP ditutup secara menyeluruh
pada tahun ajaran 1978/1979.
c)

Peningkatan Mutu Pendidikan Umum

Peningkatan pendidikan ini dilakukan melalui peningkatan mutu guru melalui penatarapenataran guru dalam jabatandan peningkatan mutu kurikulum SD sampai kurikulum SMU. Dari

program-program penataran ini lahir PPPG (Pusat Pengembangan Penataran Guru). Sejak tahun
1977 sampai 1991 didirikan 6 PPPG untuk peningkatan pendidikan umum dan 4 PPPG untuk
peningkatan pendidikan kejuruan.
d)

Pembaharuan Kurikulum

Sejak 1968 terjadi pembaharuan kurikulum dari tingkat SD sampai tingkat SMU dan selesai
tahun 1975. Pembaharuan ini berupa perubahan cara mengemas seluruh materi pembelajaran.
Misal mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi disebut ilmu pengetahuan alam, sedangkan
geografi, sejarah, dan kwarganegaraan disebut ilmu pengetahuan sosial.Program pendidikan
sekolah dari SD sampai SMU pada dasarnya terdiri dari 4 mata pelajaran saja yaitu bahasa,
matematika, IPA, dan IPS.
e)

Pembangunan Dibidang Pendidikan Guru Pra Jabatan

Berdasarkan laporan-laporan, ada 2 langkah dasar yang dilakukan pemerintah orde baru untuk
memodernisasikan pendidikan keguruan yang bersifat pra jabatan. Langkah-langkahnya yaitu:
1.1 Menyergamkan jenjang pendidikan guru pra jabatan, dari sistem yang merupakan gabungan
antara jenjang pendidikan menengah dan jenjang perguruan tinggi menjadi sistem yang bersifat
strata tunggal, yaitu semua pendidikan guru pra jabatan diselenggarakan pada jenjang perguruan
tinggi.
1.2 Menentukan semua pendidikan guru pra jabatan dikelola oleh Direktorat Jendral Pendidikan
Tinggi dengan dileburnya FKIP dan IPG pada tahun 1963 menjadi IKIP, pihak Departemen P dan
K selaku pihak yang mempekerjakan para lulusan lembaga pendidikan guru merasa dikalahkan,
pada tahun 1989 diputuskan semua pendidikan keguruan yang bersifat pra jabatan
diselenggarakan pada jenjang perguruan tinggi. Jadi pengelolaan pendidikan keguruan dipegang
oleh Departemen Jendral Pendidikan Tinggi.
C. Kelebihan dan Kekurangan Masa Pemerintahan Soeharto
1.

Kelebihan

a. Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru perkembangan GDP per kapita Indonesia yang
pada tahun 1968 hanya AS$70 dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
b. Kemajuan sektor migas
Puncaknya adalah penghasilan dari migas yang memiliki nilai sama dengan 80% ekspor
Indonesia. Dengan kebijakan itu, Indonesia di bawah Orde Baru, bisa dihitung sebagai kasus
sukses pembangunan ekonomi.
Keberhasilan Pak Harto membenahi bidang ekonomi sehingga Indonesia mampu berswasembada
pangan pada tahun 1980-an, menurut Emil Salim, diawali dengan pembenahan di bidang politik.
Kebijakan perampingan partai dan penerapan azas tunggal ditempuh pemerintah Orde Baru,

dilatari pengalaman masa Orde Lama ketika politik multi partai menyebabkan energi terkuras
untuk bertikai.
Gaya kepemimpinan tegas seperti yang dijalankan Suharto pada masa Orde Baru memang
dibutuhkan untuk membenahi perekonomian Indonesia yang berantakan di akhir tahun 1960.
Namun, dengan menstabilkan politik demi pertumbuhan ekonomi, yang sempat dapat
dipertahankan antara 6%-7% per tahun, semua kekuatan yang berseberangan dengan Orde Baru
kemudian tidak diberi tempat.
c. Swasembada beras
Seperti pepatah From Zero to Hero itulah kebijakan yang dilakukan oleh HM. Soeharto pada
masa pemerintahannya. Saat itu Indonesia menjadi pengimpor beras terbesar didunia, namun
oleh Soeharto ini dijadikan motivasi untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung beras dunia.
Puncaknya adalah ketika pada 1984 Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi
kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Prestasi itu membalik kenyataan, dari
negara agraria yang mengimpor beras, kini Indonesia mampu mencukupi kebutuhan pangan di
dalam negeri. Pada tahun 1969 Indonesia memproduksi beras sekitar 12,2 juta ton beras tetapi
tahun 1984 bisa mencapai 25,8 juta ton. Harga bahan pokok menjadi murah.
d. Sukses transmigrasi
e. Sukses Program KB
f. Sukses memerangi buta huruf
g. Sukses swasembada pangan
h. Pengangguran minimum
i. Sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
j. Sukses Gerakan Wajib Belajar
k. Sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
l. Sukses keamanan dalam negeri\
m. Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia.
n. Sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri
2.

Kekurangan

a. Politik

Presiden Soeharto memulai Orde Baru dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis
mengubah kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh Soekarno pada akhir
masa jabatannya. Salah satu kebijakan pertama yang dilakukannya adalah mendaftarkan
Indonesia menjadi anggota PBB lagi. Indonesia pada tanggal 19 September 1966 mengumumkan
bahwa Indonesia bermaksud untuk melanjutkan kerjasama dengan PBB dan melanjutkan
partisipasi dalam kegiatan-kegiatan PBB, dan menjadi anggota PBB kembali pada tanggal 28
September 1966, tepat 16 tahun setelah Indonesia diterima pertama kalinya. Ini merupakan
langkah awal dari ketergantungan Indonesia terhadapa modal asing.
Pada tahap awal, Soeharto menarik garis yang sangat tegas. Orde Lama atau Orde Baru.
Pengucilan politik di Eropa Timur sering disebut lustrasi dilakukan terhadap orang-orang
yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Sanksi kriminal dilakukan dengan menggelar
Mahkamah Militer Luar Biasa untuk mengadili pihak yang dikonstruksikan Soeharto sebagai
pemberontak. Pengadilan digelar dan sebagian dari mereka yang terlibat dibuang ke Pulau
Buru.
Sanksi nonkriminal diberlakukan dengan pengucilan politik melalui pembuatan aturan
administratif. Instrumen penelitian khusus diterapkan untuk menyeleksi kekuatan lama ikut
dalam gerbong Orde Baru. KTP ditandai ET (eks tapol). Orde Baru memilih perbaikan dan
perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya dan menempuh kebijakannya melalui struktur
administratif yang didominasi militer namun dengan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat.
DPR dan MPR tidak berfungsi secara efektif. Anggotanya bahkan seringkali dipilih dari
kalangan militer, khususnya mereka yang dekat dengan Cendana. Hal ini mengakibatkan aspirasi
rakyat sering kurang didengar oleh pusat. Pembagian PAD juga kurang adil karena 70% dari
PAD tiap provinsi tiap tahunnya harus disetor kepada Jakarta, sehingga melebarkan jurang
pembangunan antara pusat dan daerah.
Soeharto siap dengan konsep pembangunan yang diadopsi dari seminar Seskoad II 1966 dan
konsep akselerasi pembangunan II yang diusung Ali Moertopo. Soeharto merestrukturisasi
politik dan ekonomi dengan dwitujuan, bisa tercapainya stabilitas politik pada satu sisi dan
pertumbuhan ekonomi di pihak lain. Dengan ditopang kekuatan Golkar, TNI, dan lembaga
pemikir serta dukungan kapital internasional, Soeharto mampu menciptakan sistem politik
dengan tingkat kestabilan politik yang tinggi.
b. Eksploitasi sumber daya
Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya
alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar namun tidak merata
di Indonesia. Contohnya, jumlah orang yang kelaparan dikurangi dengan besar pada tahun 1970an dan 1980-an.
c. Diskriminasi terhadap Warga Tionghoa
Warga keturunan Tionghoa juga dilarang berekspresi. Sejak tahun 1967, warga keturunan
dianggap sebagai warga negara asing di Indonesia dan kedudukannya berada di bawah warga
pribumi, yang secara tidak langsung juga menghapus hak-hak asasi mereka. Kesenian barongsai

secara terbuka, perayaan hari raya Imlek, dan pemakaian Bahasa Mandarin dilarang, meski
kemudian hal ini diperjuangkan oleh komunitas Tionghoa Indonesia terutama dari komunitas
pengobatan Tionghoa tradisional karena pelarangan sama sekali akan berdampak pada resep obat
yang mereka buat yang hanya bisa ditulis dengan bahasa Mandarin. Mereka pergi hingga ke
Mahkamah Agung dan akhirnya Jaksa Agung Indonesia waktu itu memberi izin dengan catatan
bahwa Tionghoa Indonesia berjanji tidak menghimpun kekuatan untuk memberontak dan
menggulingkan pemerintahan Indonesia.
Satu-satunya surat kabar berbahasa Mandarin yang diizinkan terbit adalah Harian Indonesia yang
sebagian artikelnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Harian ini dikelola dan diawasi oleh militer
Indonesia dalam hal ini adalah ABRI meski beberapa orang Tionghoa Indonesia bekerja juga di
sana. Agama tradisional Tionghoa dilarang. Akibatnya agama Konghucu kehilangan pengakuan
pemerintah.
Pemerintah Orde Baru berdalih bahwa warga Tionghoa yang populasinya ketika itu mencapai
kurang lebih 5 juta dari keseluruhan rakyat Indonesia dikhawatirkan akan menyebarkan
pengaruh komunisme di Tanah Air. Padahal, kenyataan berkata bahwa kebanyakan dari mereka
berprofesi sebagai pedagang, yang tentu bertolak belakang dengan apa yang diajarkan oleh
komunisme, yang sangat mengharamkan perdagangan dilakukan. Orang Tionghoa dijauhkan dari
kehidupan politik praktis. Sebagian lagi memilih untuk menghindari dunia politik karena
khawatir akan keselamatan dirinya.
d. Perpecahan bangsa
Di masa Orde Baru pemerintah sangat mengutamakan persatuan bangsa Indonesia. Setiap hari
media massa seperti radio dan televisi mendengungkan slogan persatuan dan kesatuan bangsa.
Salah satu cara yang dilakukan oleh pemerintah adalah meningkatkan transmigrasi dari daerah
yang padat penduduknya seperti Jawa, Bali dan Madura ke luar Jawa, terutama ke Kalimantan,
Sulawesi, Timor Timur, dan Irian Jaya. Namun dampak negatif yang tidak diperhitungkan dari
program ini adalah terjadinya marjinalisasi terhadap penduduk setempat dan kecemburuan
terhadap penduduk pendatang yang banyak mendapatkan bantuan pemerintah. Muncul tuduhan
bahwa program transmigrasi sama dengan jawanisasi yang disertai sentimen anti-Jawa di
berbagai daerah, meskipun tidak semua transmigran itu orang Jawa.
Pada awal Era Reformasi konflik laten ini meledak menjadi terbuka antara lain dalam bentuk
konflik Ambon dan konflik Madura-Dayak di Kalimantan. Sementara itu gejolak di Papua yang
dipicu oleh rasa diperlakukan tidak adil dalam pembagian keuntungan pengelolaan sumber
alamnya, juga diperkuat oleh ketidaksukaan terhadap para transmigra
e. Semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
Pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan pembangunan antara
pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan daerah sebagian besar disedot ke pusat
munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan pembangunan, terutama
di Aceh dan Papua kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang
memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun pertamanya

f. Bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya dan si
miskin)
g. Kritik dibungkam dan oposisi diharamkan kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh
banyak koran dan majalah yang dibreidel penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan,
antara lain dengan program Penembakan Misterius (petrus)
h.Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya

BAB III
KESIMPULAN dan SARAN
A.

Kesimpulan

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia.Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta,


tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu
lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah. Beliau resmi menjadi
anggota TNI pada 5 Oktober 1945.Pada tahun 1947, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah
seorang anak pegawai Mangkunegaran. Seharto menjabat sebagai presiden Republik Indonesia
selama 32 tahun lamanya yaitu dari 12 Maret 1967- 21 Mei 1998. HM Soeharto wafat pada
pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008. Jenderal Besar yang oleh MPR dianugerahi
penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, itu meninggal dalam usia 87 tahun.
Adapun Kelebihan masa pemerintahan Soeharto
1. harga-harga kebutuhan pokok yang murah
2. pertumbuhan ekonomi yang stabil, dengan menjadi negara swasembada beras dan turut
mensejahterahkan petani.
3. pembangunan dimasa Presiden Soeharto dianggap paling maju melalui Repelita I sampai
Repelita VI.
4. Keamanan dan kestabilan negara yang terjamin serta menciptakan kesadaran
nasionalisme yang tinggi
5. kesehatan, upaya meningkatkan kualitas bayi dan masa depan generasi ini dilakukan
melalui program kesehatan di posyandu dan KB
6. pendidikan telah sukses memerangi buta huruf, Sukses Gerakan Wajib Belajar,
Sedangkan untuk kekurangan dalam pemerintahan Soeharto itu sendiri yaitu
1. eksploitasi sumber daya,
2. diskriminasi terhadap warga Tionghoa,

3. perpecahan bangsa,
4. semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme,
5. bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata bagi si kaya
dan si miskin),
6. kritik dibungkam dan oposisi diharamkan kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh
banyak koran dan majalah yang dibreidel penggunaan kekerasan untuk menciptakan
keamanan, antara lain dengan program Penembakan Misterius (petrus)
7. Tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden selanjutnya.
B.

Saran

Jangan memandang sebelah mata pemerintahan Soeharto, jika direnungkah banyak jasa-jasa
besar yang dilakukan Soeharto untuk pembangunan dan perkembangan Indonesia dimata dunia
Internasional, sebagian rakyat yang pernah hidup di zaman Presiden Soeharto menganggap
zaman Soeharto merupakan zaman keemasan Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
http://www.crayonpedia.org/mw/BSE:Berakhirnya_Masa_Orde_Baru_dan_Lahirnya_Reformasi
_9.2_(BAB_13)
www.wikipedia.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Tionghoa-Indonesia
http://sejarah.kompasiana.com/2013/01/18/menilik-jejak-hitam-soeharto-karya-harsono-sutedjo520823.html
Penulis : Harsono Sutedjo
http://nardyberkomunikasi.wordpress.com/2010/02/04/kepemimpinan-soeharto/
http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/01/biografi-presiden-soeharto.html
http://pelitaonline.com/untold-stories/2013/05/21/dibidang-ekonomi-kerakyatan-era-presidensoeharto-diutamakan#.UqgwRlODwxw
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Indonesia_(1966-1998)
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_Indonesia