Anda di halaman 1dari 4

PENGUKURAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN

Nama

: Yoana Puspita Sari

NIM

: G84110066

Hari/Tanggal : Rabu/12 November 2013

Antioksidan adalah senyawa yang memiliki kemampuan untuk


menetralisir radikal bebas dengan cara menyumbangkan elektronnya pada
molekul radikal bebas. Senyawa antioksidan dapat mencegah kerusakan yang
ditimbulkan oleh radikal bebas terhadap sel normal, protein, lemak, dan DNA.
Berdasarkan sumbernya, antioksidan dikelompokkan ke dalam antioksidan
endogen dan antioksidan eksogen. Antioksidan endogen merupakan antioksidan
enzimatis yang dihasilkan oleh tubuh, melalui proses metabolismesel. Contoh
antioksidan endogen, antara lain superoksida dismutase (SOD), katalase (CAT),
peroksidase, dan glutathione peroksidase (GPX). Superoksida dismutase
merupakan antioksidan endogen yang dapat mengkatalisis radikal superoksida
(O2.) menjadi hidrogen peroksida (H2O2), sehingga SOD disebut sebagai
scavengeratau pembersih superoksida (O2.). Katalase sebagai salah satu
antioksidan endogen, merupakan senyawa hemotetramerdengan besi (Fe) sebagai
kofaktornya. Katalase adalah suatu hemoprotein yang mengandung empat gugus
heme, dan banyak ditemukan pada hewan maupun tumbuhan. Katalase berfungsi
untuk mengkatalisis berbagai radikal peroksida menjadi H2O dan O2 (Blouis
1958). Peroksidase merupakan enzim turunan hemeprotein yang terdapat pada
organisme prokariot dan eukariot. Sedangkan GPX adalah salah satu jenis enzim
peroksidase yang memiliki gugus prostetik berupa logam selenium (Se). Enzim
GPX bekerja dengan cara memecah H2O2dan berbagai lipid peroksida, dengan
mereduksinya menjadi H2O. Proses tersebut melibatkan reaksi redoks dari
glutathione tereduksi (GSH) (Hanani 2005).
Antioksidan eksogen merupakan antioksidan yang diperoleh dari luar
tubuh. Antioksidan eksogen kerap kali diperoleh dari makanan sehari-hari,
terutama sayuran dan buah-buahan yang banyak mengandung vitamin (vitamin A,
C, dan E) serta mineral (seperti Zn dan Se) (Hanani 2005). Berdasarkan
fungsinya, antioksidan dikelompokkan menjadi antioksidan primer, antioksidan
sekunder, antioksidan tersier,oxygen scavenger, dan chelator. Antioksidan primer
adalah antioksidan yang berfungsi untuk mencegah terbentuknya radikal bebas
baru, karena memiliki kemampuan untuk menonaktifkan radikal bebas
sebelumnya. Contoh antioksidan primer adalah enzim SOD,enzim tersebut dapat
melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan yang diakibatkan oleh radikal bebas.
Kinerja enzim SOD dipengaruhi oleh beberapa mineral, seperti Zn, Mn, Cu, dan
Se (Orak 2006). Antioksidan sekunder adalah senyawa antioksidan yang mampu
memotong reaksi berantai (propagasi) yang ditimbulkan olehradikal bebas.
Sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan yang lebih besar. Contoh

antioksidan sekunder adalah betakaroten, vitamin C, dan vitamin E. Sedangkan


antioksidan tersier merupakan antioksidan yang mampu memperbaiki kerusakan
sel atau jaringan akibat oksidasi radikal bebas. Metionin sulfoksidan merupakan
contoh antioksidan tersier yang mampu memperbaiki kerusakan DNA akibat
oksidasi radikal bebas.Oxygen scavengeradalah antioksidan yang mampu
mengikat radikal oksigen, sehingga tidak mendukung terjadinya reaksi oksidasi.
Asam askorbat (vitamin C) merupakan contoh dari oxygen scavenger. Sedangkan
chelator berfungsi mengikat kofaktor logam yang mampu mengkatalisis reaksi
oksidasi, misalnya asam sitrat dan asam amino (Parkash 2001).
Berdasarkan sumbernya, antioksidan dikelompokkan menjadi antioksidan
alami dan antioksidan sintetik. Antioksidan alami dalam makanan, dapat berasal
dari satu atau beberapa komponen makanan. Senyawa antioksidan tersebut dapat
berupa antioksidan yang diisolasi dari sumber alami dan ditambahkan sebagai
bahan tambahan pangan, maupun antioksidan yang terbentuk selama proses
pengolahan (Riley 1996). Antioksidan alami umumnya memiliki gugus hidroksil
dalam struktur molekulnya (Okawa 2001). Menurut Permana (2003), senyawa
antioksidan yang diisolasi dari sumber alami, berasal dari bagian tumbuhan
seperti kayu, kulit kayu, akar, daun, buah, bunga, biji, rimpang, dan serbuk sari.
Selain antioksidan alami, terdapat juga antioksidan sintetik. Jenis-jenis
antioksidan sintetik yang sering dijumpai, diantaranya tokoferol, (BHT),
butylatedhydroxyanysole (BHA), propylgalate (PG), tert-butyl hydroxyquinone
(TBHQ), dan noredihidroquairetic acid (NDGA). Senyawa BHT dan BHA adalah
antioksidan yang paling banyak digunakan sebagai bahan tambahan pangan
(Molyneux 2004). Namun, antioksidan tersebut bersifat karsinogen terhadap
sistem reproduksi, menyebabkan pembengkakan organ hati, mempengaruhi
aktivitas enzim dalam hati, bahkan dalam jangka waktu lama tidak terjamin
keamanannya. Berdasarkan uji toksisitas akut dan kronik pada hewan coba,
pemakaian zat antioksidan maksimal yang diperbolehkan dalam campuran
makanan adalah sebesar 200 ppm (Kikuzaki 2002).
Uji aktivitas antioksidan, dikenal metode DPPH (difenilpikril hidrazil).
Zat ini berperan sebagai electron scavenger (penangkap elektron) atau hydrogen
radical scavenger (penangkap radikal hidrogen bebas). Hasilnya adalah molekul
yang bersifat dimagnetik dan stabil. Jika suatu senyawa antioksidan direaksikan
dengan zat ini maka senyawa antioksidan tersebut akan menetralkan radikal bebas
dari DPPH. Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan dengan inkubasi DPPH
dengan ekstrak antioksidan selama 30 menit sehingga menghasilkan larutan yang
berwarna kuning kemudian dilakukan pengukuran panjang gelombang pada 517
nm. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut
(DPPH) + (HA) DPPHH + (A)
Ungu
Kuning
H-A adalah senyawa antioksidan yang akan diuji.
Aktivitas antioksidan diperoleh dari nilai absorbansi yang selanjutnya akan
digunakan untuk menghitung persentase inhibisi 50% (IC50) yang menyatakan
konsentrasi senyawa antioksidan yang menyebabkan 50% dari DPPH kehilangan
karakter radikal bebasnya. Semakin tinggi kadar senyawa antioksidan dalam
sampel maka akan semakin rendah nilai IC50 (Bintang 2010).

Metode FRAP menggunakan Fe(TPTZ)23+ kompleks besi ligan 2,4,6tripiridil-triazin sebagai pereaksi. Kompleks biru Fe(TPTZ)23+ akan berfungsi
sebagai zat pengoksidasi dan akan mengalami reduksi menjadi Fe(TPTZ) 22+ yang
berwarna kuning (Benzie 1996). Metode CUPRAC (Apak et al 2007)
menggunakan (neokuproin) tembaga (II) Cu(Nc)22+ yang berwarna biru akan
mengalami reduksi menjadi Cu(Nc)2+ yang berwarna kuning.
Temu Ireng (Curcuma aeruginosa Roxb) merupakan tanaman semak,
dengan ketinggian berkisar 1.5 m. Temu ireng memiliki batang semu, yang
terdiri dari pelepah daun dan rimpang. Temu ireng memiliki daun tunggal,
berbentuk bulat telur, berujung runcing, bagian tepi rata, bagian pangkal tumpul,
permukaannya licin, tulang daun menyirip, dan terdapat garis-garis coklat
membujur. Temu ireng memiliki bunga majemuk, berambut, memiliki tangkai
berukuran 20-35 cm, panjang mahkota 2.5 cm, lebar 1.5 cm, berwarna kuning,
kelopak berbentuk silindris, bercangap tiga, dan pangkal bunga berwarna putih.
Temu ireng memiliki bentuk perakaran serabut, dan berwarna coklat muda.
Berdasarkan taksonominya, temu ireng termasuk ke dalam kingdom
plantae, divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Monocotyledonae,
ordo Zingiberales, famili Zingiberaceae, genus Curcuma, spesies Curcuma
aeruginosa Roxb.Rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa) merupakan salah
satu tanaman obat tradisional yang dimanfaatkan sebagai obat cacing
(antihelmintik), penambah nafsu makan, peluruh dahak, dan obat demam
berdarah. Salah satu bahan alam yang sering digunakan adalah rimpang
temulawak (Curcuma xanthorriza) dan temu ireng (Curcuma aeruginosa). Kedua
bahan tersebut berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan sebagai bahan
antihelmintik. Selain itu, temu ireng juga dapat dimanfaatkan secara empiris untuk
mengobati kerusakan sel hati. Rimpang temu ireng mengandung senyawa kimia
berupa turunan kurkuminoid,saponin, flavonoid, minyak atsiri, dan polifenol.
DAFTAR PUSTAKA
Apak R et al. 2007. Comparative evaluation of various total antioxidant capacity
assay applied to phenolic compounds with the CUPRAC assay. Molecules.
(12): 1496-1547.
Bintang M. 2010. Biokimia Teknik Penelitian. Jakarta: Erlangga.
Blouis MS. 1958, Antioxidant determinations by the use of a stable free radical.
Nature: 1199-1200.
Hanani EA, Munim R, Sekarini. 2005. Identifikasi senyawa antioksidan dalam
Spons callyspongia SP dari Kepulauan Seribu. Majalah Ilmu Kefarmasian,
Vol II No 3: 127-133.
Kikuzaki H, Hisamoto M, Hirose K, Akiyama K, and Taniguchi H. 2002.
Antioxidants properties of ferulic acid and its related compound,
J.Agric.Food Chem 50: 2161-2168.
Molyneux P. 2004. The use of the stable free radical diphenyl picrylhydrazyl
(DPPH) for estimating antioxidant activity. J. Sci. Technol. 26 (2): 211-219.
Okawa M. 2001. Modification method DPPH (2-2-difenil-1-pikrilhidrazil) radical
scavenging activity of flavonoids obtained from some medicinal plants. Biol.
Pharm. Bull. 24 (10): 1202-1205.

Orak HH.
2006. Total antioxidant activities phenolics, anthocyanins,
polyphenoloxidase activities in red grape varieties. Journal of Polish
Agricultural University Food Science and Technology. Volume 9:118-128.
Permana DN. 2003. Antioxidative constituents of hedotis diffusa wild. Natural
Product Sciencesb9(1): 7-9.
Prakash A. 2001. Antioxidant Activity Medallion Laboratories : Analytical
Progres Vol 19 No : 2. 1 4.
Riley CM. 1996. Development and Validation of Analytical Methods, 1st ed.
United Kingdom: Elsevier Science Ltd.