Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang (FK UMP)
menggunakan sistem Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam sistem KBK,
mahasiswa kedokteran akan dilatih melakukan berbagai keterampilan dalam bentuk Latihan
Keterampilan Klinik yang akan menunjang pembelajaran mereka untuk menjadi dokter yang
unggul, bermutu, dan islami.
Salah satu blok yang akan didalami oleh mahasiswa di FK UMP adalah blok XXI
mengenai kedokteran keluarga ditinjau dari berbagai aspek. Latihan Keterampilan Klinik di
blok XXI ini ditujukan untuk melatih mahasiswa FK UMP melakukan beberapa
keterampilan yang akan sering ditemui di lapangan sesuai dengan kompetensi yang
diharapkan, yaitu:
1. Konseling
Dalam Standar Kompetensi Dokter Indonesia disebutkan bahwa kemampuan
melakukan komunikasi antara dokter dengan pasien diharapkan mencapai tingkat 4
yaitu mampu melakukan secara mandiri. Dalam pelayanan dokter keluarga,
kemampuan berkomunikasi amatlah penting terutama dalam memberikan konseling
kepada pasien. Oleh karena itu, materi ini diberikan dalam latihan keterampilan
klinik demi tercapainya kompetensi tersebut.
2. Pengisian Rekam Medik Pelayanan Dokter Keluarga
Dokter memerlukan kemampuan Communication and recording dalam berhadapan
dengan pasien. Kemampuan ini harus mencapai level kompetensi tingkat 4 yaitu
mampu melakukan mandiri. Adapun kompetensi yang diharapkan yaitu mampu
memformulasikan secara oral dan tulisan, membuat perencanaan penatalaksanaan,
konsultasi terapeutik, membuat resep obat, serta mampu melaporkan dan membuat
catatan.
3. Perhitungan kapitasi dalam praktek dokter keluarga
Pelayanan dokter keluarga yang maksimal tentunya memerlukan pembiayaan dan
manajemen yang tertata dengan baik. Seorang dokter sebaiknya memiliki
kemampuan untuk memperhitungkan biaya per kepala yang diperlukan untuk
pencapaian hasil pelayanan yang maksimal.
4. Membuat resep
Dokter umum diharapkan mencapai tingkat kompetensi 4 (mampu melakukan secara
mandiri) dalam hal meresepkan obat. Hal ini tercantum dalam Standar Kompetensi
Dokter Indonesia mengenai Communication and Reading: Drug Prescription. Oleh
karena itu cara meresepkan obat dipilih sebagai materi latihan keterampilan klinik di
Blok Kedokteran Keluarga.

1.2 TUJUAN UMUM


Tujuan umum dari latihan keterampilan klinik yang akan dilaksanakan di Blok XXI
ini adalah:
1. Apabila dihadapkan pada pasien simulasi, mahasiswa diharapkan mampu melakukan
konseling yang efektif dalam pelayanan dokter keluarga.
2. Mahasiswa mampu membuat rekam medik pelayanan dokter keluarga secara lengkap
dan benar.
3. Mahasiswa mampu menghitung kapitasi dalam praktik dokter keluarga.
4. Apabila dihadapkan pada skenario kasus penyakit, mahasiswa mampu menulis resep
obat dengan benar.
1.3 METODE INSTRUKSIONAL
Metode instruksional yang dipakai dalam pelaksanaan latihan keterampilan klinik di
blok XXI ini adalah:
1. Mahasiswa mendapat kuliah singkat mengenai topik LKK.
2. Mahasiswa dibagi menjadi 10 orang per kelompok dan dibimbing oleh satu orang
instruktur.
3. Mahasiswa secara berkelompok diminta untuk melakukan keterampilan klinik sesuai
dengan langkah kerja yang terdapat di dalam penuntun LKK.
4. Mahasiswa menerima umpan balik dari instruktur tentang teknik LKK.
5. Diskusi antara mahasiswa dan instruktur.

BAB II
PENUNTUN LATIHAN KETERAMPILAN KLINIK
2.1 KONSELING
A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Memulai sesi konseling.
2. Mengumpulkan informasi.
3. Membangun struktur konseling.
4. Membangun hubungan dan memfasilitasi keterlibatan pasien.
5. Melakukan penjelasan dan perencanaan.
6. Menutup sesi konseling.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR KONSELING
1.1 Landasan Teori
Komunikasi adalah penyampaian pesan yang sukses dari satu orang ke orang lain.
Elemen utama dalam proses komunikasi adalah pengiriman pesan dengan pemahaman
atau pengertian seimbang. Tujuan komunikasi yaitu untuk memberikan informasi,
mempengaruhi orang, dan mengekspresikan perasaan. Salah satu bentuk penerapan dari
komunikasi ini terdalam dalam konseling. Dalam konseling, yang diperlukan adalah
jenis komunikasi yang disebut sebagai komunikasi terapeutik.
Dalam konteks pelayanan kesehatan, komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang
terjalin dengan baik, komunikatif, dan menyembuhkan atau paling tidak melegakan serta
membuat pasien serta keluarganya merasa nyaman dan akhirnya puas. Elemen dasar
komunikasi terapeutik adalah:
a. Pembukaan diri
Hal ini memiliki beberapa keuntungan, yakni:
1. Keadaan diri
2. Mengenal diri
3. Membuat hubungan
4. Meningkatkan keintiman
b. Mendengar
Tiga langkah dalam mendengarkan aktif adalah:
1. Refleksi isi
Yaitu mengatakan kembali ucapan pasien dengan menggunakan kata-kata lain,
memberi masukan kepada pasien tentang inti dan ucapan yang baru dikatakan
pasien dengan cara meringkas dan memperjelas ucapan pasien.

2. Refleksi perasaan
Yaitu mengungkapkan perasaan pasien yang teramati oleh dokter dari intonasi
suara, raut wajah, dan bahasa tubuh pasien dan hal-hal yang tersirat dari katakata verbal.
3. Merangkum
Merangkum mirip dengan refleksi isi namun dilakukan setelah beberapa waktu
yang lama dan mencakup beberapa informasi yang disampaikan pasien. Hal ini
bertujuan untuk transisi antartopik atau untuk memberikan penjelasan panjang
mengenai isu pasien yang rumit.
c. Bertanya
Dalam komunikasi terapeutik keterampilan bertanya mutlak diperlukan. Agar
mendapat informasi yang akurat seorang dokter harus belajar bertanya secara benar
dan efektif, sehingga betul-betul mendapatkan data yang akurat. Fungsi dari
bertanya adalah:
- memunculkan ide, pandangan atau perasaan.
- membantu orang lain untuk mencapai pengertian terhadap pandangan, opini,
dan perasaannya.
- memperlihatkan minat pada orang lain
- memberikan kesempatan kepada orang lain
d. Penguasaan bahasa nonverbal
Fungsi bahasa nonverbal:
- Memberikan kualitas, sikap, dan identitas
- Mendukung dan membantu bahasa verbal
- Membantu hubungan interpersonal
1.2 Media Pembelajaran
1. Panduan LKK 1 Blok XXI FK UMP
2. Ruang pemeriksaan dokter/ruang konseling
1.3 Langkah Kerja
Memulai Sesi Konseling
A. Membangun rapport awal
1. Menyapa pasien dan menanyakan nama pasien.
2. Memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan sesi, menanyakan persetujuan pasien bila
diperlukan.
3. Menunjukkan rasa hormat, minat, memenuhi kebutuhan pasien.
B. Mengidentifikasi alasan berkonsultasi
4. Mengidentifikasi masalah pasien atau hal yang ingin dibicarakan pasien menggunakan
pertanyaan pembuka yang sesuai (misal: mengapa datang kesini atau apa yang
ingin dibicarakan hari ini? atau pertanyaan apa yang ingin terjawab hari ini?).

5. Mendengarkan dengan penuh perhatian terhadap pernyataan pasien tanpa


menginterupsi atau mengarahkan jawaban pasien.
6. Mengkonfirmasi kembali permasalahan dan menanyakan adakah masalah lainnya
(misal: jadi ada panas dan rasa lelah ? atau ada lagi yang lain?).
7. Menyusun prioritas dalam konseling dengan memperhatikan pandangan pasien dan
dokter.
Mengumpulkan Informasi
A. Mengeksplorasi Masalah Pasien
8. Mendorong pasien menceritakan perjalanan penyakitnya mulai awal sampai saat ini
dengan menggunakan kata-kata sendiri (klarifikasi apa yang menyebabkan
kedatangannya hari ini).
9. Menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup dengan tepat, mulai dengan pertanyaan
terbuka dilanjutkan pertanyaan tertutup.
10. Mendengarkan pasien dengan penuh perhatian, membiarkan pasien menyelesaikan
perkataannya tanpa interupsi, memberikan waktu bagi pasien untuk berpikir sebelum
menjawab, meneruskan sesi setelah jeda.
11. Memfasilitasi respon pasien baik verbal maupun non-verbal (misal: mendorong pasien
bicara, diam, mengulang, paraphrasing).
12. Memperhatikan komunikasi verbal dan non-verbal pasien (misal: bahasa tubuh,
perkataan ekspresi wajah), memastikan dan menyatakan bila tepat.
13. Mengklarifikasi pernyataan pasien bila kurang jelas atau membutuhkan jawaban lebih
lanjut (misal: bisa jelaskan apa yang dimaksud dengan kepala terasa melayang?).
14. Pada waktu yang tepat merangkum untuk memastikan bahwa pengertian dokter sama
dengan yang dimaksud pasien, meminta pasien membenarkan bila ada interpretasi
yang kurang tepat atau meminta penjelasan lebih lanjut.
15. Menggunakan pertanyaan dan kalimat yang mudah dimengerti dan ringkas,
menghindari atau menjelaskan secukupnya istilah medis yang dipakai.
16. Menuliskan tanggal dan urutan sesi.
B. Keterampilan tambahan untuk meningkatkan pengertian terhadap perspektif pasien
17. Secara aktif menentukan dan secara tepat mengeksplorasi
- Pendapat pasien (pendapat tentang penyebab)
- Apa yang dipikirkan pasien (kekhawatiran) tentang setiap masalah
- Harapan pasien (tujuan, membantu pasien mengemukakan harapan untuk setiap
masalah)
- Dampak terhadap pasien: bagaimana setiap masalah mempengaruhi kehidupan
pasien
18. Mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Membangun Struktur Konseling
A. Membangun Organisasi Terbuka
19. Merangkum pada akhir satu bagian tertentu memastikan bahwa pengertian sama
sebelum pindah ke bagian berikutnya.
20. Berpindah dari satu bagian ke bagian lain menggunakan signposting, kalimat

transisional, mencakup rasional untuk bagian selanjutnya.


B. Memperhatikan Alur Pembicaraan
21. Mengatur pembicaraan dalam sekuens yang logis.
22. Memperhatikan waktu dan menjaga wawancara sesuai tujuan.
Membangun Hubungan memfasilitasi keterlibatan pasien
A. Menggunakan Komunikasi Non-Verbal yang sesuai
23. Memperlihatkan komunikasi non-verbal yang sesuai.
- Kontak mata, ekspresi wajah
- Sikap tubuh, posisi tubuh, gestures dan gerakan lainnya
- Vokal (kecepatan, volume, intonasi)
24. Jika membaca, menulis catatan atau menggunakan komputer, tidak mengganggu
jalannya sesi.
25. Memperlihatkan rasa percaya diri yang sesuai.
B. Membina Rapport
26. Menerima pendapat dan perasaan pasien, tidak menghakimi.
27. Menggunakan empati untuk menyampaikan pengertian dan apresiasi terhadap
perasaan atau situasi yang dihadapi pasien, secara terbuka menghormati pendapat dan
perasaan pasien.
28. Menyampaikan dukungan, memperlihatkan perhatian, pengertian, dan keinginan
membantu, menawarkan kesetaraan.
29. Memberikan perhatian khusus terhadap hal-hal sensitif yang dapat memperlakukan
atau menyakitkan pasien, termasuk pemeriksaan fisik.
C. Melibatkan Pasien
30. Membagi pemikiran dengan pasien untuk melibatkan (misal: yang terpikir oleh saya
adalah . ).
31. Menjelaskan alasan pertanyaan atau pemeriksaan fisik yang mungkin dirasa tidak
nyaman.
32. Saat melakukan pemeriksaan fisik menjelaskan prosesnya dan meminta izin.
Penjelasan dan Perencanaan
A. Memberiksan informasi yang cukup dan benar
Tujuan:
- Memberikan informasi yang tepat dan komprehensif.
- Menilai kebutuhan informasi setiap individu pasien.
- Agar tidak kurang atau berlebihan dalam memberikan informasi.
33. Jumlah tepat dan cek: berikan informasi dalam potongan-potongan yang dapat
dimengerti, cek pengertian pasien, gunakan respon pasien sebagai panduan bagaimana
harus berlanjut.
34. Nilai pengetahuan awal pasien: tanyakan pengetahuan pasien sebelumnya pada awal
pemberian informasi, tentukan sampai seberapa jauh pasien menginginkan informasi.

35. Tanyakan pasien informasi lain apa yang mungkin berguna, misal: etiologi, prognosis.
36. Berikan penjelasan pada waktu yang tepat: hindari pemberian saran, informasi, dan
jaminan secara prematur.
B. Membantu pemahaman dan ingatan yang akurat.
Tujuan: membuat informasi lebih mudah diingat dan dipahami pasien.
37. Mengatur penjelasan: bagi menjadi bagian-bagian kecil, buat urutan yang logis.
38. Gunakan pembagian dan signposting yang jelas (misal: ada tiga hal penting yang
akan saya bicarakan. Pertama . nah mari kita lanjut ke bagian berikutnya).
39. Menggunakan pengulangan dan rangkuman untuk memperkuat informasi.
40. Menggunakan pertanya dan kalimat yang mudah dimengerti dan ringkas, menghindari
atau menjelaskan istilah medis.
41. Menggunakan metode visual untuk menyampaikan informasi, diagram, model,
informasi dan instruksi tertulis.
42. Cek pemahaman pasien terhadap informasi (atau perencanaan) yang diberikan, misal:
dengan meminta pasien mengulangi dengan kata-katanya sendiri, mengklarifikasi bila
perlu.
C. Mencapai pemahaman bersama, memasukkan perspektif pasien
Tujuan:
- Menghasilkan penjelasan dan perencanaan yang berhubungan dengan perspektif
pasien.
- Mengetahui pikiran dan perasaan pasien tentang informasi yang diberikan.
- Mendorong terciptanya interaksi dan bukannya komunikasi satu arah.
43. Menghubungkan penjelasan dengan perspektif pasien: untuk menemukan pemikiran,
harapan serta kekhawatiran.
44. Memberikan kesempatan dan mendorong pasien untuk berkontribusi: minta pasien
mengajukan pertanyaan, mengklarifikasi serta menyatakan keraguannya, berikan
respon dengan tepat.
45. Perhatikan komunikasi verbal dan non-verbal pasien, mis: pasien perlu menyampaikan
informasi atau mengajukan pertanyaan, informasi atau mengajukan pertanyaan,
informasi terlalu banyak, stress.
46. Gali nilai, reaksi dan perasaan pasien tentang informasi yang diberikan, istilah yang
digunakan. Berikan respon bila diperlukan.
D. Perencanaan: Keputusan bersama
Tujuan:
- Mengajak pasien memahami proses pengambilan keputusan.
- Untuk melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan sampai tingkat yang
diinginkan pasien.
- Meningkatkan komitmen pasien terhadap rencana.
47. Berbagi apa yang ada di benak kita: pemikiran, proses berpikir, dilema.
48. Libatkan pasien:
- Berikan saran dan bukan instruksi.

49.
50.
51.

52.

- Dorong pasien agar menyumbangkan ide dan saran mereka.


Gali pilihan penatalaksanaan.
Pastikan tingkat keterlibatan yang diinginkan pasien dalam membuat keputusan.
Negosiasikan rencana yang dapat disepakati kedua belah pihak:
- Informasikan preferensi tentang pilihan yang tersedia.
- Tentukan pilihan pasien.
Cek apakah pasien:
- Menerima rencana.
- Kekhawatiran telah teratasi.

Menutup Sesi Konsultasi


A. Perencanaan ke depan
53. Mengikat kontrak dengan pasien tentang langkah selanjutnya terhadap pasien dan
dokter.
54. Antisipasi: jelaskan hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi, apa yang harus
dilakukan jika rencana tidak berjalan, kapan dan bagaimana mencari bantuan.
B. Memastikan kata penutup yang tepat
55. Merangkum sesi secara singkat dan klarifikasi rencana penatalaksanaan.
56. Cek terakhir kali bahwa pasien setuju dan merasa nyaman dengan rencana, tanyakan
apakah ada koreksi, pertanyaan, atau hal-hal lain yang masih perlu didiskusikan
(misal: ada pertanyaan lagi atau masih ada hal yang ingin didiskusikan?).

Skenario kasus dapat dilihat pada lampiran.

2.2 PENGISIAN REKAM MEDIK PELAYANAN DOKTER KELUARGA


A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini diharapkan mahasiswa mampu:
1. Mampu mengisi status umum pasien dengan lengkap dan benar.
2. Mampu mengisi status khusus pasien dengan lengkap dan benar.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR
1.1 Landasan Teori
Rekam medik adalah keterangan baik yang tertulis maupun terekam tentang
identitas, anamnesa, penentuan fisik, laboratorium, diagnosa segala penyakit, dan
tindakan medik yang diberikan kepada pasien dan pengobatan baik yang dirawat inap,
rawat jalan maupun yang mendapatkan pelayanan gawat darurat. Menurut UndangUndang Praktik Kedokteran, rekam medik adalah berkas yang berisi catatan dan

dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan


lain yang telah diberikan kepada pasien. Sedangkan menurut Permenkes
No.749a/Menkes/Per/XII/1989, rekam medik adalah berkas yang berisikan catatan dan
dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan
lain kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan.
Bentuk rekam medik pelayanan dokter keluarga yaitu:
1. Berkas Keluarga (Family Folder/FF), merupakan kumpulan RM dari masing-masing
anggota keluarga, yang disimpan menurut nomor urut atau huruf pertama nama
kepala keluarga (KK).
2. Buku Kesehatan Keluarga, merupakan suatu RM berbentuk buku, dipakai bersama
oleh semua anggota keluarga.
Isi rekam medik pelayaan dokter keluarga terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Keterangan tentang Data Dasar Keluarga(Data Base/ Family Profile)
a. Data demografi setiap anggota keluarga
b. Riwayat kesehatan setiap anggota keluarga
c. Data biologis setiap anggota keluarga
d. Keterangan tentang tindakan pencegahanpenyakit setiap anggota keluarga
e. Data tentang pelbagai faktor resiko setiapanggota keluarga
f. Data kesehatan lingkungan rumah
g. Struktur keluarga
h. Fungsi keluarga & pelaksanaannya
2. Keterangan tentang Data Klinik(Clinical Data), terdiri dari:
a. Tanggal kedatangan
b. Keluhan dari masalah kesehatan yang dihadapi
c. Jenis dan hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan
d. Jenis dan hasil pemeriksaan penunjang yang dilakukan
e. Masalah kesehatan yang ditemukan (diagnosis)
f. Rencana pengobatan dan tindakan medik yang dilakukan
g. Kemajuan dari pengobatan dan tindakan medik yang dilakukan tersebut
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 2 Blok XXI FK UMP
2. Formulir Rekam Medik dokter keluarga
3. Skenario kasus
4. ICD-X (daftar diagnosis penyakit)
1.3 LangkahKerja

1. Mahasiswa diminta membaca dan memahami skenario yang telah dibagikan.


2. Mahasiswa diminta mengisi formulir rekam medik berdasarkan informasi dari
skenario.
3. Mahasiswa diminta membuat laporan kelompok mengenai hasil pengisian rekam
medik.

2.3 PERHITUNGAN KAPITASI UNTUK PRAKTIK DOKTER KELUARGA


A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Mahasiswa mampu menghitung utilisasi.
2. Mahasiswa mampu menghitung unit cost.
3. Mahasiswa mampu menghitung kapitasi parsial untuk praktik dokter keluarga.
4. Mahasiswa mampu menghitung kapitasi penuh untuk untuk praktik dokter keluarga.
5. Mahasiswa mampu menghitung premi untuk digunakan dalam negosiasi dengan
BPJPK/perusahaan asuransi.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR
1.1 Landasan Teori
A. Utilisasi
a. Tingkat pemanfaatan fasilitas pelayanan, dinyatakan dalam persen.
b. Memberikan gambaran kualitas pelayanan.
c. Utilisasi tinggi menunjukkan: kualitas pelayanan buruk atau derajat kesehatan
peserta buruk.
d. Provider hanya dapat menghitung utilisasi per populasi bila jumlah total populasi
itu dimiliki oleh provider.
e. Penting untuk menghitung kapitasi.
f. Nilai utilisasi dihitung berdasarkan beban kerja ideal (normatif), setelah 1 tahun
berjalan maka dilakukan utilitazion review.
B. Satuan Biaya (Unit Cost)
Untuk menghitung unit cost, dokter keluarga harus mempunyai:
a. Data biaya investasi (tempat praktik, alat medis dan non medis).
b. Data biaya operasional (jasa dokter dan asisten, bahan habis pakai, listrik,
telepon, air, dll.).
c. Data pemeliharaan (pemeliharaan tempat praktik, CPD, asuransi jiwa).
C. Perhitungan Kapitasi

10

Untuk menghitung kapitasi dokter keluarga harus mempunyai


a. Rekam medik yang baik dan lengkap, yang berisi:
Data kunjungan (jumlah, pola usia, jenis kelamin, dll).
Pola Penyakit.
b. Manajemen keuangan
Daftar tarif dan laporan keuangan yang rinci.
c. Jenis layanan yang mampu dilakukan di praktik dokter keluarga
d. SOP pelayanan medik, misalnya:
- Standar pengobatan
- Standar pelayanan KIA
- Standar pelayanan KB
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 3 Blok XXI FK UMP
2. Komputer
3. Kertas Jawaban
1.3 Langkah Kerja
Cara perhitungan kapitasi:
a. Kapitasi adalah perkalian utilisasi dan unit cost (Utilisasi x Unit cost)
b. Utilisasi adalah jumlah kunjungan dibagi jumlah populasi lalu dikalikan 100 %
(didapat dari data kunjungan).
c. Unit Cost (biaya rata-rata per jenis layanan) adalah jumlah pemasukan untuk suatu
layanan dibagi jumlah kunjungan untuk layanan dimaksud (diperoleh dari data
keuangan)
Langkah perhitungan
a) Tentukan jenis layanan yang mampu dilakukan oleh dokter keluarga.
b) Hitung utilisasi untuk tiap jenis layanan.
c) Hitung unit cost untuk tiap jenis layanan.
d) Kalikan setiap utilisasi dengan unit cost-nya.
e) Jumlahkan nilai kapitasi per jenis layanan.
Contoh:
Sebuah klinik/praktik DK yang buka 6 hari seminggu, mampu melakukan:
a) Konsultasi
b) Pemberian obat-obatan
c) Tindakan medis sederhana
d) Laboratorium sederhana

11

e) Promotif
Jumlah kunjungan untuk tiap layanan:
a) Konsultasi: 20 pasien/hari
b) Pemberian obat-obatan: 15 pasien/hari
c) Tindakan medis sederhana: 1 dalam 2 hari
d) Laboratorium sederhana: 1 pasien/hari
e) Promotif 2 kali sebulan
Utilisasi untuk tiap layanan:
a. Konsultasi: (20 x 25 hari/2500) x 100%= 20 %
b. Pemberian obat-obatan: (15 x 25/2500) x 100%= 15 %
c. Tindakan medis sederhana: (0,5 x 25/2500) x 100%= 0,5%
d. Laboratorium sederhana: (1x25/2500) x 100%= 1%
Unit cost untuk tiap layanan:
a. Konsultasi: rata-rata Rp. 25.000/kunjungan
b. Pemberian obat-obatan: Rp. 30.000/ resep
c. Tindakan medis sederhana: Rp. 75.000/tindakan
d. Laboratorium sederhana: Rp. 5.000/pemeriksaan
Cara menghitung kapitasi parsial:
10%x 25.000 = 2.500
7,5 %x 30.000 = 2.250
0,25x75.000 = 1.875
Lab sederhana 0,5 %x Rp 5.000,00 = Rp 25,00
Promotif
Semua nilai di atas dijumlahkan hingga diperoleh nilai kapitasi parsial sebesar
Rp. 6.650,00/kepala.
2.4 MEMBUAT RESEP
A. SASARAN PEMBELAJARAN
Setelah kegiatan ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Menghitung dosis obat dalam penulisan resep obat berdasarkan personal drug.
2. Menentukan bentuk sediaan obat dalam penulisan resep obat berdasarkan
personal drug.
3. Menentukan cara pemberian obat dalam penulisan resep obat berdasarkan
personal drug.

12

4. Menentukan lama pemberian obat dalam penulisan resep obat berdasarkan


personal drug.
B. PELAKSANAAN
1. PANDUAN BELAJAR MEMBUAT RESEP
1.1 Landasan Teori
Resep adalah permintaan tertulis dokter kepada apoteker apotek untuk : membuat,
menyediakan dan menyerahkan obat seperti yang tertulis, kepada pasien. Resep
merupakan kesimpulan dari apa yang telah diamati, diperiksa, didiagnosis dan
menetapkan terapi pada saat itu, dari seorang penderita (pasien) yang dituangkan pada
kertas resep dalam bentuk obat.
Resep yang baik adalah resep yang:
a. Sesuai dengan kebutuhan pasien.
b. Efektif dan aman dalam hal pemilihan obat dan dosis sesuai dengan karakteristik
pasien.
c. Efektif dalam soal harga.
1.2 Media Pembelajaran
1. Penuntun LKK 4 Blok XXI FK UMP
2. Ruang periksa dokter
3. Kertas resep
4. MIMS atau ISO terbaru
5. DOEN
1.3 Langkah Kerja
1. Mahasiswa diberikan pengarahan mengenai penulisan resep.
2. Mahasiswa dibagi menjadi 6 kelompok di ruangan yang berbeda.
3. Setiap kelompok dipandu oleh 1 pembimbing.
4. Mahasiswa akan diberikan 2 kasus yang berbeda.
Contoh :
Seorang anak laki-laki, umur 10 bulan dengan BB 8 kg dibawa ke RS dengan keluhan
panas badan, batuk berdahak dan sesak napas. Dokter mendiagnosis pasien tersebut
dengan Bronkopneumonia akut ringan yang disebabkan oleh bakteri.
Dokter tersebut akan memberikan obat sebagai berikut:
- panas : antipiretik
- sesak napas: bronkodilator, dekongestan
- batuk berdahak: mukolitik

13

- faringitis bakterial: antibiotik


5. Mahasiswa akan menentukan obat yang tepat untuk diresepkan.
Pilihan obat-obatan (drugs of choice) untuk kasus di atas:
a. Antibiotik
: Amoksisilin
b. Antipiretik
: Asetaminofen
c. Mukolitik
: Gliseril guaiakolat
d. Antihistamin
: Klorfeniramin maleat (CTM)
e. Nasal dekongestan
: Fenilefrin
6. Mahasiswa menghitung dosis yang tepat untuk tiap-tiap obat yang sesuai dengan
kasus. Ada dua cara perhitungan dosis, yaitu:
a. Infant body weight table
b. Proper equation (dihitung berdasarkan dosis obat/kg BB)
Contoh:
- Amoksisilin :
Usia : 10 bulan
+ 8 kg
Dosis Amoksisilin 25 - 75 mg/kg BB/hari (dibagi dalam 3 dosis)
Dosis Amoksisilin : (8 X 50 mg) / 3 = 133 mg
Catatan: untuk sediaan sirup perhatikan kandungan obat per ml.
Contoh: Amoksilin drops mengandung 100 mg amoksisilin/1 ml sehingga
untuk kasus ini diperlukan sekitar 1,3 ml.
-

Acetaminofen
Freid n (bulan) / 150 x dosis dewasa = (10 / 150) x 500 mg = 33,3 mg/kali
Clarck BB (kg) / 68 x dosis dewasa = ( 8 / 68 ) x 500 mg = 58,8 mg/kali
Catatan: untuk sediaan serbuk terbagi perhatikan kandungan obat per tablet
yang digunakan untuk dosis dewasa
Contoh: 1 tablet Acetaminofen 500 mg, dosis yang diperlukan untuk anak
dalam kasus ini adalah 50 mg/kali sehingga 1 tablet Acetaminofen dapat
dibagi menjadi 10 serbuk terbagi (pulveres).

7. Mahasiswa menentukan rute pemberian obat yang sesuai.


Pada kasus ini obat akan diberikan melalui oral.
8. Mahasiswa menentukan bentuk sediaan obat yang sesuai.
Untuk anak usia 10 bulan bentuk sediaan obat oral yang dipilih adalah sediaan
sirup atau serbuk terbagi.
9. Mahasiwa menentukan lamanya waktu pemberian obat.
Untuk obat-obatan kausatif (antibiotik) pengobatan diberikan selama 5-7 hari.
Untuk obat-obatan simptomatik dapat diberikan selama 3 hari.

14

Contoh Penulisan Resep Jadi:


R/ Amoksisilin drop flc no.I
S 3 dd 1,3ml
R/ Acetaminofen tab 500 mg no.I
m.f.pulv no.X
S 3 dd pulv 1

atau

R/ Acetaminofen 50 mg
m.f.pulv.dtd no.X
S 3 dd pulv 1

1.4 Kesimpulan
Dibahas bersama pembimbing latihan keterampilan klinik.

BAB III
EVALUASI
Mahasiswa akan dievaluasi pada saat pelaksanaan latihan keterampilan klinik dalam
bentuk formatif dan akan dievaluasi pada akhir blok dalam bentuk sumatif.
3.1 EVALUASI FORMATIF
3.1.1 Metode Evaluasi
Evaluasi formatif dilakukan dengan mengobservasi kegiatan yang dilakukan
mahasiswa selama proses keterampilan klinik oleh instruktur.
3.1.2 Indikator Pencapaian
Indikator pencapaian berupa pencapaian tujuan pembelajaran yang diperoleh
mahasiswa pada setiap kegiatan latihan keterampilan klinik.
3.1.3 Umpan Balik
Umpan balik dilakukan oleh instruktur berupa masukan terhadap hasil kegiatan

15

latihan keterampilan klinik setiap mahasiswa.


3.2 EVALUASI SUMATIF
Evaluasi keterampilan akan dilaksanakan secara komprehensif pada ujian LKK
menggunakan daftar penilaian (checklist). Evaluasi dilakukan dalam bentuk station dimana
satu station akan menguji satu keterampilan klinik. Satu ujian LKK akan menguji 2-4
station, sesuai dengan banyaknya LKK yang telah dilakukan dalam blok tersebut.

BAB IV
PENUTUP
Demikianlah Modul Latihan Keterampilan Klinik Blok XXI ini disusun sedemikian
rupa agar dapat membantu mahasiswa dan instruktur memahami maksud dan tujuan LKK
sehingga dapat dilaksanakan dengan tepat dan terarah. Lampiran daftar tilik (checklist)
dalam modul LKK ini diharapkan dapat membantu mahasiswa mengarahkan keterampilan
mereka dan sebagai panduan persiapan mengikuti evaluasi sumatif dalam bentuk ujian LKK.

16

DAFTAR REFERENSI
1. Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Kompetensi Dokter. Jakarta.
2. Konsil Kedokteran Indonesia. 2006. Standar Pendidikan Profesi Dokter. Jakarta.
3. Wiyono, A., Supriyatiningsih, Kusbaryanto, Puspitosari, W.A., Sukirman, I. 2009.
Buku Panduan Kepaniteraan Program Pendidikan Profesi. Yogyakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.
4. Trisna D.V. 2006. Standar Pelayanan Dokter Keluarga dalam Laporan
Pengembangan Dokter Keluarga Proyek HWS. Sekretariat HWS-IDI. Jakarta.
5. Ali, MM dan Sidi, IPS. 209. Manual Komunikasi Efektif Dokter-Pasien. Jakarta:
Lembaga Konsultan Peraturan Bisnis Indonesia.
6. Daldiyono. 2006. Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
7. Azwar, Al. 1996. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga. Jakarta : Yayasan
Penerbitan Ikatan Dokter Indonesia.
8. Azwar, Al, Gan, GL, Wonodirekso, S. 2004. A Primer on Family Medicine Practice.
Singapore : Singapore International Foundation.
9. Kementerian Kesehatan. 2007. Pedoman Penatalaksanaan TB Nasional. Jakarta.

17

10. Kementerian Kesehatan. 2004. Permenkes 128 tahun 2004 tentang Kebijakan
Puskesmas. Jakarta.
11. Wiyono, A., Supriyatiningsih, Kusbaryanto, Puspitosari, W.A., Sukirman, I. 2009.
Buku Panduan Kepaniteraan Program Pendidikan Profesi. Yogyakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Muhamadiyah Yogyakarta.
12. Du Bois,G.C. 1990. The Bussiness of Medical Practice : A Canadian handbook.
Ontario : Copp Clark Pitman.
13. Frohlich N, et al. 2006. Profiling Primary Care Physician Practice in Manitoba.
Manitoba Center for Health Policy, Winnipeg.
14. Henry J, Lynan K.B. 2000. Managed care issues, dalam Financial Management for
Medical Groups : A Resource for New and Experienced Managers, Second edition.
MGMA Center for Research, Englewood.
15. Medical Economics. 1985. Ideal Physician-population Ratio dalam Encyclopedia of
Practice and Financial Management. Alexandria.
16. Hardman, JG. and Limbird, LE, editor. 2007. Goodman & Gilman: Dasar
Farmakologi Terapi. Vol. 2. Jakarta: EGC.
17. Katzung, B.G. 2002. Farmakologi Dasar dan Klinik. Jakarta: Salemba Medika.
18. Constable, S., Winstanley, P., Walley, T. 2007. Master Medicine: Medical
Pharmacology 3rd ed. Elsevier.
19. Brown, D. 1976. Prescription for Primary Health Care : Community Guidebook.
The Primary Care Development Project. Cornell University, Ithaca : New York.

18

LAMPIRAN 1
Instrumen Evaluasi KONSELING
No
I

ASPEK YANG DINILAI


Mahasiswa mampu memulai sesi konsultasi.
Langkah No. 1-7

II

Mahasiswa mampu mengumpulkan informasi.


Langkah No. 8-18

III

Mahasiswa mampu membangun struktur konsultasi.


Langkah No. 19-22

IV

Mahasiswa mampu membangun hubungan-memfasilitasi keterlibatan


pasien.
Langkah No. 23-32

19

Melakukan

Mahasiswa mampu melakukan penjelasan dan perencanaan.


Langkah No. 33-52

VI

Mahasiswa mampu menutup sesi konsultasi.


Langkah No. 54-56
TOTAL SKOR

LAMPIRAN 2
Instrumen Evaluasi Penulisan Rekam Medik
No

ASPEK YANG DINILAI

Melakukan pengisian data pasien.


Menuliskan hasil anamnesis secara lengkap pada lembar
rekam medik.
Menuliskan hasil pemeriksaan fisik secara lengkap pada
lembar rekam medik.
Menuliskan diagnosis dan diagnosis banding secara
lengkap pada lembar rekam medik.
Menuliskan rencana penatalaksanaan pasien meliputi obat
yang diberikan, tindakan medis yang dilakukan, dan
pemeriksaan penunjang.
Menuliskan saran terhadap pasien.

Menuliskan tindakan follow up/tindak lanjut terhadap

2
3
4
5

20

Melakukan
dengan benar

8
9
10

pasien.
Menuliskan tindakan promotif dan preventif terhadap
pasien.
Menuliskan data rujukan pasien.
Menuliskan well check up dan informasi umum kesehatan
individu.

21

LAMPIRAN 3
Instrumen Evaluasi Perhitungan Kapitasi
No

Aspek yang dinilai

Melakukan dengan
benar

Menghitung utilisasi.

II

Menghitung unit cost.

III

Menghitung kapitasi parsial untuk bahan negosiasi dengan Badan


Penyelenggara JPK.

IV

Menghitung kapitasi penuh untuk bahan negosiasi dengan Badan


Penyelenggara JPK
TOTAL SKOR

22

LAMPIRAN 4
Instrumen Evaluasi Membuat Resep
No
Aktivitas
Mempersiapkan Perintah Peresepan
1
Menentukan P-Drug
2

Menghitung dosis

Menentukan bentuk sediaan obat

Menentukan rute pemberian obat

Menentukan lama pengobatan

Melakukan dengan benar

Menulis Resep
6
Menulis identitas dokter (nama, alamat praktek, SIP)
7

Menulis tanggal peresepan

Menulis superscription

Menulis inscription

10

Menulis subscription

11

Menulis signature

12

Menulis identitas pasien

23

LAMPIRAN 5
Skenario LKK 1 Konseling

IBU TUTI DATANG KE PDKM BERTEMU DENGAN DOKTER NUNING

Suatu hari di PDKM Sehat Selalu..


Hari sudah menunjukkan jam 9.00 pagi. Ibu Tuti bersiap-siap untuk berangkat ke
PDKM Sehat Selalu. Sebelum berangkat Ibu Tuti harus menitipkan anaknya yang
berumur 6 tahun kepada tetangganya, karena sedang tidak enak badan. Ibu Tuti harus
berjalan sejauh 1 kilometer untuk mencapai PDKM Sehat Selalu. Tidak ada transportasi
umum di desa itu. Hujan turun rintik-rintik. Bu Tuti merasa cemas takut hujan turun
lebih deras.
Sesampainya di PDKM Sehat Selalu, ternyata PDKM Sehat Selalu masih sepi
belum terlihat kegiatan apa-apa. Beberapa ibu beserta bayi dan anaknya sudah banyak
menunggu. Jumlah kursi yang tersedia tidak cukup, Ibu Ani harus berdiri sambil
menggendong bayinya. Jam 10.00 dua orang petugas datang, melihat suasana seperti itu
salah seorang di antaranya merasa kesal dan minta kepada temannya untuk memanggil
petugas yang lainnya.
Karena menunggu petugas lainnya dan dokter, PDKM baru bisa mulai jam 11.30.
Bayi Ibu Tuti sudah mulai menangis pada saat giliran Bu Tuti tiba. Dokter Nuning
sedang mewawancarai seorang ibu.
Ketika merasa ada seorang ibu datang, dokter Nuning menengok ke arah pintu
sekilas, lalu meneruskan pekerjaannya. Dokter tidak mempersilakan Ibu Tuti duduk.
Berikut dialog mereka:
Dr. Nuning: Bu, tunggu dulu ya, ngantre.. ini juga belum selesai
Bu Tuti agak terkejut mendengar teguran tersebut. Dia merasa kecewa, karena dia
datang atas himbauan Ibu Santi, tetangganya yang bilang bahwa PDKM ini manjur.
Dr. Nuning: Ibu kan yang baru pindah dari Jawa Tengah? Kok baru sekarang ke sini?
Kan sudah beberapa kali dikunjungi oleh Bu Santi?
Ibu Tuti:
Betul ibu...Saya baru bisa ke sini sekarang soalnya.
Dr. Nuning: Pasti alasannya repot kan? Iya.. kalau belum perlu ya nggak
datang Mestinya begitu pindah ke mari ibu harus sudah
memanfaatkan PDKM ini. Kami kan ada di sini untuk membantu. Ada
apa bu? Sakit ya anaknya? Kelihatannya kok kurus.
Ibu Tuti:
Dr. Nuning:

Saya ingin ........ saya..


Cepetan bu, lihat tuh di luar banyak yang masih ngantre, ada apa sih?

24

Ibu Tuti :
Dr. Nuning:
Ibu Tuti :

Dr. Nuning:
Ibu Tuti :
Dr. Nuning:
Ibu Tuti :
Dr. Nuning:

Ibu Tuti :
Dr. Nuning:

Ini bu . saya ingin anak saya diimunisasi.. tapi saya. Gimana ya


bu...
Terus( berbicara dengan tidak sabar)
Anak saya baru satu kali diimunisasi, waktu itu saya masih di Jawa
Tengah. Setahu saya umur tiga bulan harus diimunisasi lagi. Apakah
sekarang belum terlambat ya bu?
Berapa umur anak ibu?
Hampir empat bulan dok
Nah kan, coba ibu begitu pindah langsung datang ke sini Anaknya
pernah diimunisasi enggak?
Anak saya pernah diimunisasi oleh Bu Bidan yang menolong saya
melahirkan. Apakah sudah terlambat untuk imunisasi berikutnya?
Itulah.ibu kurang memperhatikan anak ibu.
Nanti bu bidan yang akan menentukan apakah bayi ibu bisa diimunisasi.
Coba lihat, berat badan anak ibu cuma 4,6 kilo.
Apakah normal bu?
Ya enggak dong, coba lihat ini. Berat badan Koko sudah di bawah garis
normal..... Dikasih makan apa saja sih? Nggak disusui ya bu?

Ibu Tuti : ............................

25