Anda di halaman 1dari 19

Oleh:

Reni Apriliana, S. Ked


702008024

Pembimbing
dr. H. M. Salim, Sp.Rad

BAGIAN RADIOLOGI
RUMAH SAKIT BAYANGKARA PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALEMBANG
2012

BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit stroke merupakan suatu masalah


kesehatan yang serius baik di negara maju
maupun di negara berkembang. Stroke
merupakan penyebab kematian nomor tiga
di dunia. Menurut Yayasan Stroke Indonesia
(Yastroki) angka kejadian kasus stroke
mencapai 63,5 per 1000 pada kelompok
usia 65 tahun keatas. Dari semua kasus
stroke, 87% kasus adalah stroke infark
trombotik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Stroke merupakan suatu gangguan


neurologis akut, yang disebabkan oleh
karena gangguan peredaran darah ke otak,
dimana secara mendadak (dalam beberapa
detik), atau secara cepat (dalam beberapa
jam) timbul gejala dan tanda yang sesuai
dengan daerah fokal di otak yang terganggu.
Stroke dapat dibagi menjadi dua kelompok
besar, yaitu stroke infark (stroke iskemik)
dan stroke perdarahan (stroke hemoragik)

Stroke iskemik adalah defisit neurologis


yang terjadi secara mendadak dan menetap
24 jam atau lebih yang disebabkan oleh
kelainan vaskuler. Stroke iskemik terjadi
karena perfusi oksigen serebral yang tidak
adekuat.
Penyebab
stroke
meliputi
hipertensi, aterosklerosis dan thrombosis

1. Serangan iskemia atau Transient Ischemic


Attack (TIA).
2. Defisit Neurologik Iskemik Sepintas atau
Reversible Ischemic Neurological Defisit
(RIND).
3. Stroke Progresif (Progresive Stroke atau
Stroke in evolution).
4. Stroke Komplet (Completed Stroke atau
Permanent Stroke)

1. Arteri vertebralis
2. Arteri karotis interna
3. Arteri Basilaris(
4. Arteria serebri anterior
5. Arteria serebri posterior
6.Arteria serebri media

Akibat adanya plak yang terbentuk akibat


proses aterosklerotik pada dinding
pembuluh darah intrakranial, dimana plak
tersebut membesar yang dapat disertai
dengan adanya trombus yang melapisi
pembuluh darah arteri tersebut. Apabila
proses tersebut terus berlangsung maka
akan terjadi penyumbatan pembuluh darah
tersebut dan penghentian aliran darah
disebelah distal dari arteri yang mengalami
proses aterosklerotik.

1. Penemuan klinis

Anamnesis

2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan penunjang

CT Scan dan MRI


Ekokardiografi
Ultrasound scan arteri karotis
Intra arterial digital substraction angiografi
Transcranial Doppler
Pemeriksaan darah lengkap

BAB III
pembahasan

Pada MRI konvensional gambaran infark


harus dipastikan dengan adanya gambaran
hiperintens pada T2-WI, gambaran ini juga
harus muncul sebagai gambaran hipointens
pada T1-WI

Gambar 3.2 Contoh gambaran MRI pada stroke iskemik


Dikutip dari : Thumher, 2008

Kriteria diagnosis stroke infark untuk pemeriksaan MRI,


antara lain :
Akut: Hipointens pada T1 yang sering sulit ditemukan
dan hiperintens pada spin density dan T2. Efek massa
terlihat maksimal pada 24 jam setelah kejadian stroke,
namun sering sudah mulai terlihat pada 2 jam setelah
onset stroke. Tidak ada peningkatan intensitas parenkim
dengan kontras paramagnetik. Terlihat peningkatan
intensitas dari slow-flow arteries dengan kontras. Pada
48 jam setelah onset baru terjadi peningkatan intensitas
parenkim dengan kontras.
Subakut (sampai dengan 1 minggu) : low signal pada T1,
dan high signal pada T2-weighted images. Sesuai
ditribusi vaskuler. Terjadinya revaskularisasi dan
rusaknya sawar darah otak akan mengakibatkan
peningkatan intensitas parenkim dengan kontras.
Kronik (beberapa minggu sampai beberapa tahun): Low
signal pada T1, high signal on T2. Efek massa hilang
setelah 1 bulan. Didapatkan kerusakan jaringan yang
luas. Peningkatan intensitas parenkim dengan kontras
hilang setelah beberapa bulan.

Gambar 3.3 Perbandingan Hasil Pencitraan T2WI, DWI, ADC


Dikutip dari : Thumher,2008

Gambar di atas menunjukkan bahwa gambaran hiperintens


pada DWI dapat muncul sejak fase akut (bahkan beberapa
menit) lalu memuncak pada minggu pertama. Sedangkan pada
T2WI kita melihat bahwa gambaran hiperintens baru muncul
setelah 24 jam dan menjadi semakin jelas setelah beberapa
minggu (Thumher,2008). Beberapa peneliti juga mengatakan
bahwa DWI dapat digunakan untuk menentukan areal
ireversibel akibat stroke

Gambar 3.4 Mismatch perfusion and diffusion, gambar di kiri adalah gambar PWI
Dikutip dari: Thumher,2008

Untuk Perfusion Weighted Imaging, biasanya model pencitraan ini


digunakan untuk mengetahui luas area yang masih dapat kembali seperti
semula (reversibel). Oleh karena itu gambaran PWI dan DWI seringkali
digunakan bersamaan. Srinivasan et al, 2008 mengemukakan beberapa
kemungkinan gambaran pada PWI dan DWI dan kaitannya dengan terapi
pilihan untuk pasien. Adanya mismatch pada gambaran PWI yang lebih
besar daripada DWI menunjukkan adanya penumbra yang luas.

BAB IV
KESIMPULAN

1.

2.

3.

MRI
(Magnetic
resonance
imaging)
merupakan salah satu modalitas diagnosis
penyakit stroke yang terbukti lebih spesifik
dan sentitif untuk deteksi dini stroke.
Dalam diagnosis stroke infark pada MRI
ditemukan gambaran hipointens pada
teknik pemeriksaan dengan T1-WI dan
gambaran
hiperintens
pada
teknik
pemeriksaan dengan T2-WI.
Untuk mendapatkan diagnosis yang lebih
cepat
lagi
dapat
digunakan
teknik
pemeriksaan DWI dan PWI.