Anda di halaman 1dari 93

SKRIPSI

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT


KECEMASAN PADA LANJUT USIA (LANSIA) YANG
MENGALAMI ARTHRITIS RHEUMATOID
DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
CENDRAWASIH MAKASSAR

TAUFIK NUGROHO
2110148

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2014

Skripsi
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan
Pada Lanjut Usia (Lansia) Yang Mengalami Arthritis
Rheumatoid Di Wilayah Kerja
Puskesmas Cendrawasih
Makassar

Skripsi
Untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi
syarat-syarat untuk mencapai gelar serjana keperawatan

TAUFIK NUGROHO
2110148

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2014

ii

III

iv

ABSTRAK
TAUFIK NUGROHO. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat
Kecemasan pada Lanjut Usia (Lansia) yang mengalami Arthritis
Rheumatoid di Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar
(dibimbing oleh Akbar Harisa dan Sri Ranti)
Gangguan jiwa adalah suatu kondisi terganggunya fungsi mental,
emosi, pikiran dan kemauan serta perilaku yang verbal sehingga dapat
mengakibatkan terganggunya fungsi humanistic individu. Salah satunya
gangguan jiwa dimasyarakat adalah kecemasan yang dialami oleh pasien
Arthritis Rheumatoid pada lanjut usia (Lansia), karena Arthritis
Rheumatoid merupakan salah satu penyakit yang cukup serius dan cukup
menjadi beban bagi penderita karena
mengganggu aktifitas dan
produktifitas. Sehingga diperlukan dukungan keluarga yang bertujuan
untuk membagi beban, juga memberi dukungan informasi, materi dan
emosional, dalam mengurangi atau menghilangkan kecemasan. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga
dengan tingkat kecemasan pada lanjut usia (lansia) yang mengalami
Arthritis Rheumatoid di Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Deskriptif
Analitik dengan pendekatan Crossectional. Populasi pada penelitian ini
adalah Lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid di wilayah kerja
Puskesmas Cendrawasih Makassar, yaitu sebanyak 36 orang. Sampel
pada penelitian ini diperoleh dengan teknik Purposive Sampling,
berjumlah 33 responden. Instrumen penelitian dengan menggunakan
kuesioner. Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai hitung p = 0,008
pada variabel dukungan keluarga. Dari variabel tersebut menyatakan nilai
p lebih kecil dari nilai =0,05. Dan dapat di simpulkan bahwa Ho ditolak
dan Ha diterima atau ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan pada lanjut usia (Lansia) yang mengalami Arthritis
Rheumatoid di wilayah kerja
Puskesmas Cendrawasih Makassar.
Diharapkan bagi keluarga dapat menambah pengetahuan khususnya bagi
keluarga yang memiliki lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid, dan
untuk membantu merawat lansia yang mengalami kecemasan.
Kata kunci : Arthritis Rheumatoid, Tingkat Kecemasan
Kepustakaan : 28 buah (2004-2013)

ABSTRACT
TAUFIK NUGROHO. The relation of family support with the level of
anxiety on eldery who Arthritis Rheumatoid in local goverment Puskesmas
Cendrawasih Makassar.(supervised by Akbar Harisa and Sri Ranti)
Mental disorder is a condition disruption of mental functions,
emotion, mind and volition and verbal action is disturbed and cause the
individual humanistic function disturbed. One of mental disorder in the
society is anxiety experinced by Arthritis Rheumatoid patiens on elderly,
one Arthritis Rheumatoid is a quite serious disease and become a burden
for suffere is since to disturb activity and productivity. There fore family
support is needed that aims shares the burden alsoshares information,
material and emotions to reduce or eliminate the anxiety. This study aims
to determine relations of family support with the level of anxiety on elderly
who suffered arthritis Rheumatoid in local goverment Puskesmas
Cendrawasih Makassar. Type of research is an descriptive analytic with
crosssectional approach. The population in this study is elderly who
suffered Arthritis Rheumatoid in Puskesmas Cendrawasih Makassar as
many as 36 people. The sampling method that used in this study is
purposive sampling with a sample as many as 33 respondent. Instrument
of the research is the method of questionnaire. Based on chi square test
the result showed that the value count p=0,008 on variable family support
from that variable revealed that value p is smaller than value a=0,05 and
can be concluded that Ho is rejected and Ha accepted which means there
is arelations of family support with the level of anxiety on elderly who
suffered Arthritis Rheumatoid in local goverment Puskesmas Cendrawasih
Makassar. Family is expected can increarge knowledge especially of
families who have elderly who suffered Arthritis Rheumatoid to help taking
care elderly who experinced anxiety.
Keywords : Rheumatoid arthritis , anxiety levels
Literatur : 28 items (2004-2013)

vi

KATA PENGANTAR

Assalam Alaikum Warahmatullahi Wabarakatu


Alhamdulilah, segala puji bagi Allah SWT, Tuhan seluruh alam,
atas rahmat dan hidayah-Nya penulis akhirnya dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan judul Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat
Kecemasan Lanjut Usia (Lansia) yang Mengalami Arthritis Rheumatoid di
Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar. Sebagai salah satu
persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan sarjana keperawatan pada
program studi ilmu keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema
Insan Akademik Makassar.
Dalam menyelesaikan penelitian ini penulis menyadari bahwa itu
tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan yang sangat berharga dari
berbagi pihak, baik secara moril maupun materil. Olehnya itu, penulis
mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua Ayahanda Bambang
Sutrisno dan Bapak Harsono, Ibunda Darti dan ibu Rini, yang tanpa kenal
lelah menberikan motivasi dan dorongan kepada penulis, serta pada
kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak H. Andi Iwan Darmawan Aras, SE, selaku ketua yayasan
Gema Insan Akademik Makassar.
2. Ibu Hj. Hasniaty, A.G., S.Kp., M.Kep., selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar.

vii

3. Bapak Akbar Harisa, S.Kep., Ns., PMNC, MN., selaku pembimbing


I dalam penelitian ini yang telah memberikan dukungan dan
sumbangsih pikiran dalam mengarahkan penulis sehingga penulis
selesai menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Sri Ranti S.Kep, Ns., selaku pembimbing II dalam penelitian ini
yang telah memberikan dukungan dan sumbangsih pikiran dalam
mengarahkan penulis sehingga penulis selesai menyelesaikan
skripsi ini.
5. Bapak Rasdin, S.Kep., Ns.,M.Kep dan ibu Hj. Nurhaeni Rachim,
S.Kp., M.Kep., selaku penguji I dan penguji II dalam penelitian ini
yang telah memberikan saran dan masukan dalam mengarahkan
penulis sehingga selesainya skripsi ini.
6. Teruntuk Veny Yusyie, Deni, dan Adikku Slamet Widodo yang telah
memberikan

dukungan

moril

kepada

penulis

sehingga

terselesainya skripsi ini.


7. Seluruh Kawan-kawan mahasiswa STIK GIA terutama angkatan
2010 sahabat seperjuangan (Andri Sinatra, Alpini, Awaluddin,
Sunardi, Muh.Nasaruddin, Syamsinar Syam, Wina Octaviana,
Teguh, Andi Setiawan dll ) yang tak bisa penulis sebutkan satu persatu.
8. Seluruh Pengelolah dan Staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema
Insan Akademik Makassar.
9. Seluruh staf Perawat serta Pimpinan di Puskesmas Cendrawasih
Makassar.

viii

Namun demikian penulis menyadari sebagai manusia biasa


yang penuh dengan keterbatasan, dengan kerendahan hati penulis
mengharapkan saran dan kritikan demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhirnya penulis memohon kepada sang maha pengasih
(Ar Rahman) semoga apa yang kita peroleh dapat bernilai ibadah di
sisi-Nya, Amin.
Makassar, September 2014
Penulis

Taufik Nugroho

ix

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................

HALAMAN PETUNJUK ................................................................

ii

LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................

iii

HALAMAN PENGESAHAN...........................................................

iv

ABSTRAK .....................................................................................

ABSTRACT ...................................................................................

vi

KATA PENGANTAR .....................................................................

vii

DAFTAR ISI ...................................................................................

DAFTAR TABEL ...........................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................

xiv

BAB I PENDAHULUAN...............................................................

A. Latar Belakang .............................................................

B. Rumusan Masalah .......................................................

C. Tujuan Penelitian ..........................................................

D. Manfaat Penelitian .......................................................

E. Hipotesis Penelitian.......................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................

A. Tinjauan Umum tentang Arthritis Rheumatoid ............

B. Tinjauan Umum tentang Lansia ...................................

12

C. Tinjaun Umum tentang Kecemasan ..............................

16

D. Tinjauan Umum tentang Dukungan keluarga ................

24

E. Tinjauan Khusus tentang Hubungan Dukungan Keluarga


dengan Tingkat Kecemasan pada Lanjut Usia (Lansia) yang
Mengalami Arthritis Rheumatoid ...................................

35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...........................................

40

A. Kerangka Konseptual ..................................................

40

B. Definisi Operasional .....................................................

41

C. Rancangan/Desain Penelitian ......................................

42

D. Waktu dan Tempat Penelitian .......................................

42

E. Populasi dan Sampel ...................................................

42

F. Alat dan Bahan Penelitian ............................................

44

G. Pengambilan Data Penelitian .......................................

45

H. Analisa Data Penelitian .................................................

47

I. Etika Penelitian ............................................................

58

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................

50

A. Hasil Penelitian ............................................................

50

B. Pembahasan ................................................................

53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .............................................

56

A. Kesimpulan ...................................................................

56

B. Saran ............................................................................

56

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................

58

LAMPIRAN

xi

DAFTAR TABEL
Tabel

Halaman

4.1. Distribusi Frekuensi berdasarkan Dukungan Keluarga .............

50

4.2. Distribusi Frekuensi berdasarkan Tingkat Kecemasan .............

51

4.3. Hubungan dukungan keluarga dengan Tingkat Kecemasan


Lanjut Usia (Lansia)...................................................................

xii

52

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Kerangka Teori ........................................................................

39

2. Kerangka Konseptual ..............................................................

40

xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran

Halaman

1. Lembar permohonan menjadi responden ..............................

60

2. Lembar persetujuan menjadi responden ...............................

61

3. Lembar kuisioner ...................................................................

62

4. Master tabel ...........................................................................

69

5. Uji Statistik .............................................................................

70

xiv

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di
dalam kehidupan manusia. Proses menua adalah proses sepanjang
hidup, tidak hanya di mulai dari suatu waktu tertentu, tapi di mulai dari
permulaan kehidupan.menjadi tua merupakan proses alamiah, yang
berarti seseorang telah memulai tiga tahap kehidupanya, yaitu
anak,dewasa,dan tua. Tiga ini berbeda, bak secara biologis maupun
psikologis. Memasuki usia tua mengalami kemunduranya, misalnya
kemunduran fisik yang di tandai dengan kulit yang mengendur,rambut
memutih,gigi mulai ompong, pendengaran kurang jelas,penglihatan
semakin memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidah
proposional.19
Proses menua merupakan proses yang terus menerus
berkelanjutan secara alamiah dan umumnya dialami oleh semua
makhluk hidup. Kecepatan proses menua setiap individu pada organ
tubuh tidak akan sama.11
Secara individual, pada usia diatas 50 tahun terjadi proses
penuaan secara alamiah. Hal ini dapat menimbulkan masalah
fisik,mental,social, ekonomi dan psikologis. Dengan bergesernya pola
perekonomian dan pertanian ke industri, maka pola penyakit juga
bergeser

dari

penyakit

menular

III
1

ke

penyakit

tidak

menular

(degeneratif). Meskipun secara ilmiah penurunan fungsi berbagai


organ, tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karena usia lanjut
harus sehat. Saat ini, diseluruh dunia jumlah orang lanjut usia (lansia)
diperkirakan ada 600an juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan
diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.11
Secara demografis, berdasarkan sensus pada tahun 2010,
jumlah penduduk berusia 60 tahun keatas yang tinggal diperkotaan
sebesar 12.380.321 (9,58%) dan yang tinggal di pedesaan sebesar
15.612.232 (9,97%). Seiring dengan peningkatan umur harapan hidup
penduduk lanjut usia di dunia, jumlah lanjut usia yang mengalami
masalah juga meningkat. Masalah yang paling sering dialami oleh
lanjut usia adalah masalah penyakit Artritis rhematoid. Dan penyakit
Artritis Rhematoid merupakan salah satu jenis dari sekian banyak
jenis penyakit yang sering dijumpai pada lanjut usia.10
Dari data yang diperoleh pada tahun 2008 menunjukkan bahwa
penderita rematik di Indonesia mencapai 2 juta jiwa, menurut data
Riskesdes 2007 prevalensi nasional penyakit sendi adalah 30,3% dan
berdasarkan hasil penelitian terakhir dari Zeng QY pada tahun 2012,
prevalensi rematik mencapai 23,6% hingga 31,1%. Di poliklinik umum
RSAD R.W Monginsidi Manado dari bulan juni hingga bulan agustus
2013 ditemukan ada sebanyak 198 orang lansia yang datang
memeriksakan diri dipoliklinik umum, yang terdiri dari 95 laki-laki dan
103 perempuan, yang terdiagnosa menderita penyakit rematik
sebanyak 98 orang lanjut usia.5

Puskesmas

Cendrawasih

Makassar

adalah

salah

satu

puskesmas yang berada dikota Makassar yang menyelenggarakan


upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata dapat
diterima dan terjangkau oleh masyarakat. Berdasarkan data yang ada
di beberapa kelurahan yang menjadi wilayah kerja puskesmas
Cendrawasih, ditemukan beberapa kasus artritis reumatoid pada
lansia tersebut. Untuk tahun 2012 dikelurahan sambung jawa 10
orang, tamparang keke 9 orang, pabatang 4 orang, parang 37 orang,
baji mapakasunggu - orang, bonto lebang 9 orang, karang anyar
orang. Dan untuk tahun 2013 dikelurahan sambung jawa - orang,
tamparang keke 24 orang, pabatang - orang, parang - orang, baji
mapakasunggu - orang, bonto lebang

24 orang, karang anyar 12

orang.
Hasil penelitian gambaran perilaku lansia terhadap kecemasan
di Panti Sosial Tresna Werdha Theodora Makassar terlihat bahwa dari
11 responden yang diteliti ada 27,3% mengalami cemas dan depresi,
dan hanya 9,1% cemas namun tidak depresi. Adapun 18,2%
mengalami cemas disertai dengan masalah kesehatan dan 18,2%
yang cemas namun tidak mengalami masalah kesehatan. Kemudian
18,2% mengalami cemas namun ada dukungan keluarga dan 18,2%
cemas tapi tidak ada dukungan keluarga dan .9,1% mengalami cemas
tapi tidak terganggu dengan kondisi lingkungan panti dan 27,3%
cemas sehingga terganggu dengan kondisi lingkungan panti.13

Berdasarkan
mengetahui

masalah

Hubungan

tersebut

Dukungan

peneliti

Keluarga

tertarik
dengan

untuk
Tingkat

Kecemasan Lansia yang Mengalami Arthritis Rheumatoid di Wilayah


Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan Uraian latar belakang tersebut, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana hubungan Dukungan
keluarga dengan tingkat kecemasan lansia yang mengalami Arthritis
Rheumatoid di Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Diketahuinya hubungan dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid di
Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya dukungan keluarga pada lansia yang mengalami
Arthritis Rheumatoid di Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih
Makassar
b. Diketahuinya tingkat kecemasan pada lansia yang mengalami
Arthritis Rheumatoid di Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih
Makassar

c. Diketahuinya hubungan dukungan keluarga dengan tingkat


kecemasan pada lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid
di Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Profesi Perawat
Sebagai

masukan

dan

informasi

untuk

menambah

pengetahuan keperawatan jiwa, terutama mengenal terjadinya


kecemasan pada lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid.
2. Bagi Instansi Kesehatan
Sebagai masukan dan informasi bagi perawat Puskesmas
untuk menyusun langkah-langkah, perencanaan dan program
sistem kesehatan khususnya pada lansia yang mengalami Arthritis
Rheumatoid.
3. Bagi Masyarakat/Keluarga
Dapat menambah pengetahuan khususnya bagi keluarga
yang memiliki lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid, dan
untuk membantu merawat lansia yang mengalami kecemasan.
4. Bagi peneliti
Sebagai bahan masukan tersendiri bagi peneliti untuk
menambah ilmu-ilmu teoritis dan ilmiah terutama mengenai tingkat
kecemasan pada lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid.

E. Hipotesis penelitian
1. Hipotesis Nol (Ho)
Tidak ada hubungan dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan pada lansia yang mengalami Arthritis Reumatoid.
2. Hipotesis alternatif (Ha)
Ada

hubungan

dukungan

keluarga

dengan

tingkat

kecemasan pada lansia yang mengalami Arthritis Reumatoid.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Tentang Arthritis Rheumatoid
1. Definisi Artritis Reumatoid
Rheumatoid

Arthritis

(RA)

adalah

penyakit

inflamasi

sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya. Karakteristik


RA adalah terjadinya kerusakan dan proliferasi pada membran
sinovial, yang menyebabkan kerusakan pada tulang sendi,
ankilosis, dan deformitas. Mekanisme imunologi tampak berperan
penting dalam memulai dan timbulnya penyakit ini. Pendapat lain
mengatakan, arthritis rheumatoid adalah gangguan kronik yang
menyerang berbagai sistem organ. Penyakit ini adalah salah satu
dari sekelompok penyakit jaringan penyambung difus yang
diperantarai oleh imunitas.14
2. Insiden
Arthritis rheumatoid terjadi kira-kira 2,5 kali lebih sering
menyerang wanita dari pada pria (Price, 1995). Menurut Noer
(1996) perbandingan antara wanita dan pria sebesar 3;1, dan
pada wanita usia subur perbandingan mencapai 5;1. Jadi
perbandingan antara wanita dan pria kira-kira 1;2, 5-3. Insiden
meningkat dengan bertambahnya usia, terutama pada wanita.
Kecenderungan insiden yang terjadi pada wanita dan wanita subur
diperkirakan, karena adanya gangguan dalam keseimbangan
hormonal (esterogen) tubuh, namun hingga kini belum dapat

dipastikan apakah faktor hormonal memang merupakan penyebab


penyakit ini. Penyakit ini biasanya pertama kali muncul pada usia
25-50 tahun, puncaknya adalah antara usia 40 hingga 60 tahun.
Penyakit ini menyerang orang-orang diseluruh dunia, dari
berbagai suku bangsa. Sekitar satu persen orang dewasa
menderita arthritis rheumatoid yang jelas, dan dilaporkan bahwa di
Amerika Serikat setiap tahun timbul kira-kira 750 kasus baru per
satu juta penduduk.14
3. Penyebab
Penyebab arthritis rheumatoid masih belum diketahui
secara pasti walaupun banyak hal mengenai patologis penyakit ini
telah terungkap. Penyakit ini belum dapat dipastikan mempunyai
hubungan

dengan

faktor

genetik.

Namun

berbagai

faktor

(termasuk kecenderungan genetik) bisa memengaruhi reaksi


autoimun. Faktor-faktor yang berperan antara lain adalah jenis
kelamin, infeksi (Price, 1995), keturunan (Price, 1995; Noer ,
1996), dan lingkungan (Noer , 1996). Dari penjelasan diatas,
dapat disimpulkan bahwa faktor yang berperan dalam timbulnya
penyakit arthritis rheumatoid adalah jenis kelamin, keturunan,
lingkungan, dam infeksi.14
Penyakit pada sendi ini adalah akibat degenerasi atau
kerusakan pada permukaan sendi tulang yang banyak ditemukan
pada lanjut usia, terutama yang gemuk. Hampir 8% orang yang
berusia 50 tahun keatas mempunyai keluhan pada sendinya,

misalnya linu, pegal dan kadang-kadang terasa seperti nyeri.


Bagian yang terkena biasanya ialah persendian pada jari-jari,
tulang

punggung,

sendi

penahan

berat

tubuh

(lutut

dan

panggul).18
Arthritis

rheumatoid

juvenil-dikarakteristikkan

dengan

peradangan sendi yang mengakibatkan penurunan mobilitas,


nyeri, dan pembengkakan-di klasifikasikan sebagai poliartikular,
pausiartikular, atau sistemik.26
Arhtritis poliartikular, yang mengenai banyak persendian
(terutama sendi kecil pada tangan), serta artritis pausiartikular,
yang terutama mengenai hanya sebagian kecil sendi (seperti lutut,
pergelangan kaki dan siku), terjadi lebih sering pada anak
perempuan. Artritis sistemik, yang khas ditandai dengan demam
tinggi, ruam reumatoid, dan poliartritis, dialami sama banyaknya
antara anak perempuan dan laki-laki.26
Beberapa teori berpendapat bahwa mekanisme pemicu
dalam tubuh (mungkin dikarenakan virus) akan menyebabkan
overaktifitas dalam sistem kekebalan sehingga berakibat pada
sekresi cairan synovial yang berlebihan, pembengkakan dalam
sendi dan inflamasi/peradangan pada lapisam synovial. Saat
terjadi

pertumbuhan

yang

berlebih

pada

lapisan

synovial

mengakibatkan kapsul sendi akan kemasukkan cairan tersebut


sehingga tulang dan tulang rawan akan erosi. Persendian akan
terasa sakit saat tulang saling bergesekan dengan tulang lain

10

(crepitus). Akhirnya, jaringan ikat fibrosa akan menggantikan


tulangrawan dan kapsul sendi sehingga menyebabkan subluksasi
(dislokasi sendi parsial), ankylosis (sendi yang menyatu) dan
pengerasan sendi yang sakit.21
4. Patofisiologi
Pada arthritis rheumatoid, reaksi autoimun terutama terjadi
pada jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzimenzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kolagen
sehingga terjadi edema, proliferasi membran sinovial, dan
akhirnya membentuk panus. Panus akan menghancurkan tulang
rawan dan menimbulkan erosi tulang, akibatnya menghilangkan
permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan
turut terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan
generatif dengan menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan
kontraksi otot.14
5. Manifestasi klinis
Tanda dan gejala utama rheumatoid arthritis adalah rasa
sakit dan pembengkakan dipersendian, hangat, dan menurunnya
ROM. Manifestasi sistemik sebelum gejala tampak adalah
mencakup rasa sakit di otot, anorexia, da rasa lelah. Kekakuan
pada banyak persendian dipagi hari biasanya akan berlangsung
lebih dari 30 menit dan sering mencakup persendian simetris.
Nodul kaku dan tidak lemas akan tumbuh diatas tonjolan pada
tulang. Deformitas khusus mencakup deformitas leher-angsa pada

11

tangan (hyperekstensi sendi interphalangeal proximal), deformitas


boutonniere (fleksi pada sendi interphalangeal proximal) dan ulnar
drift (tulang ulna mengapung). Sendi-sendi yang kecil dari tangan,
pergelangan tangan dan kaki sering terkena penyakit ini. Gejala
sistemik seperti malaise/rasa tidak enak badan, anorexia,
berkurangnya berat badan dikarenakan rasa sakit yang kronis dan
demam tingkat-rendah akan terus berlanjut saat penyakit semakin
bertambah parah.21
Ada beberapa manifestasi klinis yang lazim ditemukan pada
klien arthritis rheumatoid. Manifestasi ini tidak harus timbul
sekaligus pada saat yang bersamaan. Oleh karenanya penyakit ini
memiliki manifestasi klinis yang sangat bervariasi
a. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat
badan menurun dan demam. Terkadang dapat terjadi kelelahan
yang hebat.
b. Poliartritis simetris, terutama pada sendi perifer, termasuk
sendi-sendi ditangan, namun biasanya tidak melibatkan sendisendi interfalangs distal. Hampir semua sendi diarttrodial dapat
terserang.
c. Kekakuan dipagi hari selama lebih dari satu jam, dapat bersifat
generalisata tetapi terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan
berbeda dengan kekakuan sendi pada osteoartritis, yang
biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan
selalu kurang dari satu jam.

12

d. Arthritis erosif, merupakan ciri khas artritis reumatoid pada


gambaran

radiologik.

Peradangan

sendi

yang

kronik

mengakibatkan erosi ditepi tulang dan dapat dilihat pada


radiogram.21

B. Tinjauan Umum tentang Lanjut Usia (Lansia)


1. Definisi Lanjut Usia (Lansia)
Usia lanjut adalah fase menurunnya kemampuan akal dan
fisik, yang dimulai dengan adanya beberapa perubahan dalam
hidup. Sebagaimana diketahui, ketika manusia mencapai usia
dewasa, ia mempunyai kemampuan reproduksi dan melahirkan
anak. Ketika kondisi hidup berubah, seseorang akan kehilangan
tugas dan fungsi ini dan memasuki selanjutnya yaitu usia lanjut
kemudian mati. Bagi manusia yang normal, siapa orangnya.tentu
telah siap menerima keadaan baru dalam setiap fase hidupnya
dan mencoba menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungannya.4
Menurut (Keliat, 1999) Usia lanjut dikatakan sebagai tahap
akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia.3
2. Proses Menua
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi
di dalam kehidupan manusia. Memasuki usia tua berarti
mengalami kemunduran, seperti kemunduran fisik yang ditandai
dengan

kulit

mengendur,

rambut

memutih,

gigi

ompong,

13

pendengaran

kurang

jelas,penglihatan

semakin

memburuk,

gerakan lambat, dan gerakan tubuh yang tidak proporsional.18


Menurut Constantides (1994) mengatakan bahwa proses
menua adalah suatu proses menghilangkan secara perlahanlahan

kemampuan

jaringan

untuk

memperbaiki

diri

atau

mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga


tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan
yang diderita. Proses menua merupakan proses yang terus
menerus secara ilmiah dimulai sejak lahir dan setiap individu tidak
sama cepatnya. Menua bukan status penyakit tetapi merupakan
proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi
rangsangan dari dalam maupun dari luar tubuh.18
3. Batasan Usia Lanjut
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batasan
lanjut usia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia
sampai 59 tahun.
b. Lanjut usia (elderly) usia antara 60 sampai 70 tahun.
c. Lanjut usia tua (old) usia antara 75 sampai 90 tahun.
d. Usia sangat tua (very old) usia diatas 90 tahun.2

45

14

4. Perubahan-Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia


a. Perubahan atau kemunduran biologi
1) Kulit menjadi tipis, kering, keriput, dan tidak elastis lagi
fungsi kulit sebagai penyakit suhu tubuh lingkungan dan
mencegah kuman-kuman penyakit masuk.
2) Rambut mulai rontok, berwarna putih, kering, dan tidak
mengkilat.
3) Gigi mulai habis.
4) Penglihatan dan pendengaran berkurang.
5) Mudah lelah, gerakan menjadi lamban dan kurang lincah.
6) Keterampilan tubuh menghilang disana-sini terdapat
timbunan lemak terutama pada bagian pinggul dan perut.
7) Jumlah sel otot berkurang mengalami atrofi sementara
jumlah jaringan ikat bertambah, volume otot secara
keseluruhan

menyusut,

fungsinya

menurun

dan

kekuatannya berkurang.
8) Pembuluh darah penting khususnya

yang terletak

dijantung dan otak mengalami kekakuan lapisan intim


menjadi kasar akibat merokok, hipertensi, diabetes
melitus,

kadar

kolestrol

tinggi

dan

lain-lain

yang

memudahkan timbulnya pengumpukan darah trombosis.


9) Tulang pada proses menua kadar kapur (kalsium)
menurun akibatnya tulang menjadi keropos dan mudah
patah.18

15

b. Perubahan atau kemunduran kognitif


1) Mudah lupa karena ingatan tidak berfungsi dengan baik.
2) Ingatan kepada hal-hal dimasa muda lebih baik dari pada
yang terjadi pada masa tuanya yang pertama dilupakan
adalah nama-nama.
3) Orientasi umum dan persepsi terhadap waktu dan ruang
atau tempat juga mundur, erat hubungannya dengan daya
ingatan yang sudah mundur dan juga karena pandangan
yang sudah menyempit.
4) Meskipun telah mempunyai banyak pengalaman skor
yang dicapai dalam test-test intelegensi menjadi lebih
rendah sehingga lansia tidak mudah untuk menerima halhal yang baru.18
c. Perubahan-perubahan psikososial
1) Pensiun

nilai

seseorang

sering

diukur

oleh

produktifitasnya selain itu identitas pensiun dikaitkan


dengan peranan dalam pekerjaan.
2) Merasakan atau sadar akan kematian.
3) Perubahan dalam cara hidup, yaitu memasuki rumah
perawatan bergeraka yang lebih sempit.
4) Kesepian akibat pengasingan dari lingkungan.
5) Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan
dengan teman dan keluarga.

16

6) Hilangnya kemampuan dan ketegapan fisik, perubahan


terhadap gambaran diri, perubahan konsep diri.18

C. Tinjauan Umum Tentang Kecemasan


1. Definisi kecemasan
Kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan
menyebar, yang berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak
berdaya.

Kecemasan

di

alami

secara

subjektif

dan

di

komunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah respon


individu terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi
cemas di perlukan untuk bertahan hidup, tetapi tingkat kecemasan
yang bersifat tidak sejalan dengan kehidupan.3
2. Etiologi
a. Faktor Predisposisi (Pendukung)
Ketegangan dalam kehidupan dapat berupa hal-hal
sebagai berikut.
1) Peristiwa traumatic.
2) Konflik emosional.
3) Gangguan konsep diri.
4) Frustasi.
5) Gangguan fisik.
6) Pola mekanisme koping keluarga.
7) Riwayat gangguan kecemasan.
8) Medikasi.

17

b. Faktor presipitasi
1) Ancaman terhadap integritas fisik.
2) Ancaman terhadap harga diri.23
3. Tingkatan dan Karakteristik kecemasan
Kecemasan dibagi menjadi 4 (empat) tingkatan yaitu :
a. Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan
sehari-hari; kecemasan ini menyebabkan individu menjadi
waspada

dan

meningkatkan

lapangan

persepsinya.

Kecemasan ini dapat memotivasi belajar dan menghasilkan


pertumbuhan serta kreativitas.24
Karekteristik kecemasan ringan adalah : agak tidak
nyaman, gelisah, isomnia ringan, perubahan nafsu makan,
peka, pengulangan pertanyaan, prilaku mencari perhatian,
peningkatan

kewaspadaan,

peningkatan

persepsi

dan

pemecahan masalah, mudah marah, fokus pada masalah yang


akan datang, gerakan tidak tenang.23
b. Kecemasan sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting dan mengesampingkan hal yang lain. Kecemasan ini
mempersempit lapangan persepsi individu. Dengan demikian,
individu mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat
berfokus pada lebih banyak area jika di arahkan untuk
melakukannya.23

18

Karekteristik kecemasan sedang : perhatian terpilih pada


lingkungan, konsentrasi

hanya pada tugas-tugas individu,

ketidaknyamanan subyektif sedang, peningkatan jumlah waktu


yang di gunakan pada situasi masalah, suara bergetar,
perubahan dalam nada suara, takipnea, takikardi, gemetaran,
peningkatan ketegangan otot, mengigit kuku, memukul-mukul
jari, mengetukkan jari kaki, mengoyangkan kaki.23
c. Kecemasan berat
Sangat mengurangi lapangan persepsi individu. Individu
cenderung berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik serta
tidak berfikir tentang hal lain. Semua prilaku di tujukan untuk
mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan banyak
arahan untuk berfokus pada area lain.24
Karekteristik kecemasan berat : perasaan terancam,
ketegangan otot

yang berlebihan,

diaforesis,

perubahan

pernapasan, napas panjang, hiperventilasi, dispnea, pusing,


perubahan gastrointestinal, mual, muntah, rasa terbakar pada
ulu hati, sendawa, anoreksia, diare atau konstipasi, perubahan
kardiovaskuler, takikardi, palpitasi, rasa tak nyaman pada
prekordia,

berkurangnya

ketidakmampuan

untuk

jarak
belajar,

persepsi

secara

berat,

ketidakmampuan

untuk

konsentarasi, rasa terisolasi, kesulitan dan ketidaktepatan


pengungkapan, aktivitas yang tidak berguna, bermusuhan.23

19

d. Panik
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror.
Hal yang terinci terpecah dsri proporsinya. Kehilangan kendali,
individu yang mengalami panik tidak mampu melakukan
sesuatu

walaupun

disorganisasi

dengan

kepribadian

dan

arahan.

Panik

menimbulkan

mencakup
peningkatan

aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan


dengan

orang

lain,

persepsi

yang

menyimmpang

dan

kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat kecemasan ini


tidak sejalan dengan kehidupan; jika berlangsung dengan
waktu yang lama, dapat terjadi kelelahan dan kematian.24
Karekteristik panik : hiperaktivasi atau mobilitas
berat, rasa terisolasi yang ekstrim, Kehilangan identitas,
disentegrasi keperibadian, sangat goncang dan otot-otot
tegang, tidak kemampuan untuk berkomunikasi dengan kalimat
yang lengkap, distrorsi persepsi dan penilaian yang tidak
realistik terhadap lingkungan dan atau ancaman, prilaku kacau
dalam usahan melarikan diri, menyerang.23
4. Tanda dan Gejala Kecemasan
Keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang
mengalami kecemasan , antara lain sebagai berikut :
a. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri,
mudah tersinggung.
b. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.

20

c. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak anak.


d. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
e. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
f. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada ototdan
tulang, pendengaran berdenging (tinisus), berdebar-debar,
sesak napas, gangguan pencernaan, gangguan perkemian dan
sakit kepala.25
5. Pengukuran Tingkat Kecemasan
Sebuah alat ukur telah di ciptakan oleh hamilton yang
mengukur kecemasan dengan mengunakan 14 aspek yang terdiri
dari :
a. Perasaan cemas; berupa firasat buruk, takut akan pikiran
sendiri, mudah tersinggung.
b. Ketegangan; dapat berupa merasa tegang, lesu, tidak bisa
beristirahat dengan tenang, mudah terkejut, mudah menangis,
gemetar, dan gelisah.
c. Ketakutan; dapat dimanifestasikan dengan takut pada keadaan
gelap, takut pada orang asing, takut di tinggal sendiri, takut
pada binatang besar.
d. Gangguan tidur; dapat berupa sukar tidur, terbangun pada
malam hari, tidur tidak nyenyak, mimpi buruk, atau sering
binggung.
e. Gangguan

kecerdasan;

dapat

berubah

kesulitan

untuk

berkonsentasi, daya ingat yang buruk, atau sering bingung.

21

f. Perasaan depresi; dapat berupa hilangnya minat, berkurangnya


kesenangan terhadap hobi.
g. Gangguan somatik/fisik (otot); dapat berupa sakit dan nyeri di
otot, kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.
h. Gejala somatik (sensorik); dapat berupa telinga berdenging,
penglihatan kabur, muka merah dan pucat, merasa lemas, dan
perasaan tertusuk-tusuk.
i.

Gejala kardivaskuler (jantung dan pembuluh darah); dapat


dimanifestasikan dengan jantung berdenyut cepat, berdebardebar, nyeri dada, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan, denyut
jantung berhenti sekejap.

j.

Gejal respiratori; dapat berupa rasa tertekan atau sempitdi


dada, rasa tercekik, sering menari napas dan sesak napas

k. Gejala gastroinstinal; dapat berupa sulit menelan, mualmuntah, berat badan menurun, konstipasi, perut melilit, nyeri
lambung, rasa panas di perut, atau perut kembung.
l.

Gejala unogenital; dapat berupa sering buang air kecil, tidak


dapat menahan air seni, tidak datang bulan, darah hait sedikit
atau waktu haid pendek, ejekulasi dini, ereksi lemah, impotensi.

m. Gejala Autonom; dapat berupa mulut kering, muka merah,


mudah berkeringat, kepala pusing, bulu-bulu berdiri.
n. Tingkah laku saat wawancara; dapat berupa gelisah, tidak
tenang, muka tegang, napas pendek dan cepat.12

22

6. Teori Kecemasan
Berbagai teori telah dikembangkan untuk menjelaskan asal
kecemasan, antara lain :
a. Teori Psikoanalitik
Dalam pandangan psikoanalitik, kecemasan adalah
konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian:
id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls
primitif, sedangkan superego mencermikan hati nurani dan
dikendalikan oleh norma budaya. Ego atau Aku, berfungsi
menengahi tuntunan dari dua elemen yang bertentangan
tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego
bahwa ada bahaya.
b. Teori interpersonal
Menurut pandangan interpersonal, kecemasan timbul
dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan
interpersonal.

Kecemasan

juga

berhubungan

dengan

perkembangan trauma, seperti perpisahan dan kehilangan,


yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga
diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat.
c. Teori perilaku
Menurut pandangan perilaku, kecemasan merupakan
produk frustasi yaitu segala sesuatu yang menganggu
kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Ahli teori perilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu

23

dorongan ysng dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri


untuk mengindari kepedihan.
d. Teori Keluarga
Kajian

keluarga

menunjukan

bahwa

gangguank

biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan kecemasan jugs


tumpang tindih antara gangguan kecemasan dengan depresi.
e. Teori biologi
Kajian biologis menunjukan bahwa otak mengandung
reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang
meningkatkan neuro regulator inhibisi asam gama-aminobutirat
(GABA), yang berperan penting dalam mekanisme biologis
yang berhubungan dengan kecemasan.23
7. Rentang Respon Kecemasan
Rentang respon kecemasan dapat di konseptualkan dalam
rentang respon. Rentang respon ini dapat digambarkan dalam
rentang respon adaptif sampai maladaptif. Reaksi terhadap
kecemasan dapat bersifat konstruktif dan destruktif. 25
Konstruktif merupakan motivasi seseorang untuk belajar
memahami terhadap perubahan-perubahan terutama perubahan
terhadap

perasaan

tidak

nyaman

dan

berfokus

pada

kelangsungan hidup. Sedangkan reaksi destruktif merpakan reaksi


yang dapat menimbulkan tingkah laku maladaptif serta disfungsi
yang menyangkut kecemasan berat atau panik. 25

24

Rentang respon kecemasan dapat dilihat pada gambar 2.1

Rentang respon kecemasan

Respon adaptif

Antisipasi

Ringan

respon Maladaptif

Sedang

Berat

Panik

D. Tinjauan Umum Tentang Dukungan Keluarga


1. Definisi Keluarga
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup
bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dimana
individu mempunyai peran masing-masing yang merupakan
bagian dari keluarga. Duval dan Logan (1986) menguraikan
bahwa keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan
perkawinan,
menciptakan,

kelahiran,

dan

adopsi

mempertahankan

yang

budaya,

bertujuan

dan

untuk

meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional, serta sosial dari tiap


anggota keluarga.20
Dukungan keluarga merupakan suatu strategi intervensi
preventif yang paling baik dalam membantu anggota keluarga
mengakses dukungan sosial yang belum digali untuk suatu
strategi bantuan yang bertujuan untuk meningkatkan dukungan
keluarga yang adekuat. Dukungan keluarga mengacu pada

25

dukungan yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai suatu


yang dapat diakses untuk keluarga misalnya dukungan bisa atau
tidak digunakan, tapi anggota keluarga memandang bahwa orang
yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan
bantuan jika diperlukan.9
Dukungan keluarga telah mengkonseptualisasi dukungan
sebagai koping keluarga baik dukungan keluarga yang eksternal
maupun internal. Dukungan dari keluarga bertujuan untuk
membagi beban juga memberi dukungan informasional.9
2. Ciri-ciri keluarga
a. Keluarga merupakan hubungan perkawinan
b. Keluarga berbentuk suatu kelembagaan yang berkaitan dengan
hubungan perkawinan yang sengaja dibentuk atau dipelihara.
c. Keluarga mempunyai suatu system tata nama (Nomen Clatur)
termasuk perhitungan garis keturunan.
d. Keluarga mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh
anggota-anggotanya berkaitan dengan kemampuan untuk
mempunyai

keturunan

dan

mempunyai

keturunan

dan

membesarkan anak.
e. Keluarga merupakan tempat tinggal bersama, rumah, atau
rumah tangga.22

26

3. Struktur keluarga
Struktur keluarga menggambarkan bagaimana keluarga
melaksanakan fungsi keluarga dimasyarakat struktur keluarga
terdiri dari bermacam-macam diantaranya adalah :
a. Patrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
seadarah dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu
disusun melalui jalur garis ayah.
b. Matrilineal
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara
sedarah dalam beberapa generasi dimana hubungan itu
disusun melalui jalur garis ibu.
c. Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah istri.
d. Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga
sedarah suami
e. Keluarga kawin
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga karena adanya hubungan dengan suami atau istri.8

27

4. Fungsi keluarga
a. Fungsi afektif adalah fungsi keluarga yang utama mengajarkan
segala sesuatu untuk mempersiapkan anggota keluarga
berhubungan dengan orang lain.
b. Fungsi sosialisasi adalah fungsi mengembangkan dan tempat
berlatih anak untuk kehidupan sosial sebelum meninggalkan
rumah untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah.
c. Fungsi reproduksi adalah fungsi untuk mempertahankan
generasi dan menjaga kelangsungan keluarga.
d. Fungsi ekonomi adalah keluarga berfungsi untuk memenuhi
kebutuhan keluarga secara ekonomi dan tempat untuk
mengembangkan kemampuan individu dalam meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi perawatan dan pemeliharaan kesehatan adalah fungsi
untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga
agar tetap memiliki produktivitas tinggi.9
f. Fungsi biologis adalah fungsi biologis, bukan hanya ditujukan
untuk meneruskan keturunan tetapi untuk memelihara dan
membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
g. Fungsi psikologis adalah fungsi psikologis, terlihat bagaimana
keluarga

memberikan

kasih

sayang

dan

rasa

aman,

memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina


pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan
identitas keluarga.

28

h. Fungsi pendidikan adalah fungsi pendidikan diberikan keluarga


dalam

rangka

membentuk

memberikan

perilaku

anak,

pengetahuan,

keterampilan,

mempersiapkan

anak

untuk

kehidupan dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkatan


perkembangannya.1
Ada tiga fungsi pokok keluarga terhadap anggota keluarga yaitu
:
1) Asih adalah memberikan kasih sayang, perhatian, rasa
aman, kehangatan kepada anggota keluarga.
2) Asuh

adalah

perawatan

menuju

anggota

kebutuhan

keluarga

agar

pemeliharaan
kesehatan

dan
selalu

terpelihara.
3) Asah adalah memenuhi kebutuhan pendidikan.22
5. Jenis dukungan keluarga
Jenis dukungan keluarga terdiri dari empat jenis atau
dimensi dukungan antara lain :
a. Dukungan emosional
Keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan damai untuk
istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap
emosi yang meliputi ungkapan empati, kepedulian dan
perhatian terhadap lansia.
b. Dukungan penghargaan (penilaian)
Keluarga

bertindak

sebagai

bimbingan

umpan

balik,

membimbing dan menengahi pemecahan dan sebagai sumber

29

dan validator identitas anggota. Terjadi lewat ungkapan hormat


(penghargaan) positif untuk lansi, dorongan maju, atau
persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dari
perbandingan positif pada lansia.
c. Dukungan instrumental
Keluarga merupakan sebuah sumber pertolongan praktis dan
konkrit yang mencakup bantuan seperti dalam bentuk uang,
peralatan, waktu, modifikasi lingkungan maupun menolong
dengan pekerjaan waktu mengalami stres.
d. Dukungan informatif
Keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan diseminator
(penyebar) informasi tentang dunia yang mencakup dengan
memberi

nasehat,

petunjuk-petunjuk,

sarana-sarana

atau

umpan balik. Bentuk dukungan yang diberikan oleh keluarga


adalah

dorongan

semangat,

pemberian

nasehat

atau

mengawasi tentang pola makan sehari-hari dan pengobatan.


Dukungan keluarga juga merupakan perasaan individu yang
mendapat perhatian, disenangi, dihargai dan termasuk bagian
dari masyarakat.22
6. Sumber dukungan keluarga
Ada dua sumber dukungan keluarga yaitu sumber natural
dan sumber artificial. Dukungan keluarga yang natural diterima
seseorang melalui interaksi sosial dalam kehidupannya secara
spontan dengan orang-orang yang berada disekitarnya misalnya

30

anggota keluarga (anak, istri, suami, dan kerabat) teman dekat


atau relasi. Dukungan keluarga ini bersifat non formal sementara
itu dukungan keluarga artifisial adalah dukungan sosial yang
dirancang

kedalam

kebutuhan

primer

seseorang

misalnya

dukungan keluarga akibat bencana alam melalui berbagai


sumbangan sosial. Sehingga sumber dukungan keluarga natural
memiliki berbagai perbedaan jika dibandingkan dengan dukungan
keluarga artifisial.7
7. Manfaat dukungan keluarga
Dukungan sosial keluarga adalah sebuah proses yang
terjadi sepanjang masa kehidupan. Sifat dan jenis dukungan
sosial berbeda-beda dalam berbagai tahapan siklus kehidupan.
Namun demikian, dalam semua tahap siklus kehidupan dukungan
sosial keluarga membuat keluarga mampu berfungsi dengan
berbagai kepandaian dan akal sebagai akibatnya. Hal ini
meningkatkan kesehatan dan adaptasi keluarga.9
8. Fungsi kesehatan keluarga
Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga
mempunyai tugas dibidang kesehatan yang perlu dipahami dan
dilakukan. Freeman (1981) membagi 5 tugas keluarga dalam
bidang kesehatan yang harus dilakukan yaitu ; 22
a. Mengenal masalah kesehatan setiap anggotanya.
b. Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat
bagi keluarga.

31

c. Memberikan keperawatan kepada anggota keluarganya yang


sakit atau yang tidak dapat membantu dirinya sendiri karena
cacat atau usia yang terlalu muda.
d. Mempertahankan suasana dirumah yang menguntungkan
kesehatan dan perkembangan kepribadian anggota keluarga.
e. Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan (pemanfaatan fasilitas kesehatan yang
ada).22
9. Tugas keluarga
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang
berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi
masalah

kesehatan.

mencantumkan

lima

Asuhan
tugas

keperawatan

keluarga

sebagai

keluarga,
paparan

etiologi/penyebab masalah dan biasanya dikaji pada saat


penjajagan tahap II bila ditemui data maladaptif pada keluarga.
Lima tugas keluarga yang dimaksud adalah :
a. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan,
termasuk bagaimana persepsi keluarga terhadap tingkat
keparahan penyakit, pengertian, tanda dan gejala, faktor
penyebab dan persepsi keluarga terhadap masalah yang
dialami keluarga.
b. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk
sejauhmana keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya
masalah,

bagaimana

masalah

dirasakan

oleh

keluarga,

32

keluarga

menyerah

atau

tidak

terhadap

masalah

yang

dirasakan oleh keluarga, keluarga menyerah atau tidak


terhadap masalah yang dihadapi, adakah rasa takut terhadap
akibat atau adakah sikap negatif dari keluarga terhadap
masalah

kesehatan,

bagaimana

system

pengambilan

keputusan yang dilakukan keluarga terhadap anggota keluarga


yang sakit.
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang
sakit,

seperti

bagaimana

keluarga

mengetahui

keadaan

sakitnya, sifat dan perkembangan perawatan yang diperlukan,


sumber-sumber yang ada dalam keluarga serta sikap keluarga
terhadap yang sakit.
d. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan, seperti
pentingnya hygiene sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan
penyakit

yang

dilakukan

keluarga,

upaya

pemeliharaan

lingkungan yang dilakukan keluarga, kekompakan anggota


keluarga dalam menata lingkungan dalam dan luar rumah yang
berdampak terhadap kesehatan keluarga.
e. Ketidak mampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan, seperti kepercayaan keluarga terhadap petugas
kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan, keberadaan
fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan keluarga terhadap
penggunaan fasilitas kesehatan, apakah pelayanan kesehatan

33

terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang kurang


baik yang dipersepsikan keluarga.1
10. Dukungan keluarga berhubungan dengan motivasi
Selain dari dukungan keluarga yang bisa diberikan, maka
motivasi keluarga juga bisa mendukung sesuai dengan yang
dikemukakan oleh Purwanto dalam bukunya bahwa ada dua jenis
motivasi yaitu motivasi instrinsik dan ekstrinsik. Motivasi instrinsik
berasal dari dalam diri manusia, biasanya timbul dari prilaku yang
dapat memenuhi kebutuhan sehingga manusia menjadi puas.
Motivasi ekstrinsik berasal dari luar yang merupakan pengaruh
dari orang lain atau lingkungan. Prilaku yang dilakukan dengan
motivasi ekstrinsik penuh dengan kekhawatiran, kesangsian
apabila tidak tercapai kebutuhan.28
a. Unsur- unsur Motivasi menurut Purwanto
1) Motivasi merupakan suatu tenaga dinamis manusia dan
munculnya memerlukan rangsangan baik dari dalam
maupun dari luar
2) Motivasi sering kali ditandai dengan prilaku yang penuh
emosi
3) Motivasi

merupakan

reaksi

pilihan

dari

beberapa

alternative pencapaian tujuan


4) Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam diri
manusia.28

34

b. Factor Yang Berhubungan dengan Motivasi


1) Persepsi

individu

mengenai

diri

sendiri;

seseorang

termotivasi atau tidak untuk melakukan sesuatu banyak


tergantung pada proses kognitif berupa persepsi dirinya.
Persepsi

seseorang

tentang

dirinya

sendiri

akan

mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang untuk


bertindak.
2) Menurut sarwono dukungan adalah suatu upaya yang
diberikan kepada orang lain, baik moril maupun materil
untuk memotivasi orang tersebut dalam melaksanakan
kegiatan. Menurut Santoso (2001), dukungan yaitu suatu
usaha untuk menyokong sesuatu, atau suatu daya upaya
untuk membawa sesuatu.
3) Keyakinan

klien

tentang

kesehatan

dapat

menjadi

motivasi yang kuat. Model keyakinan kesehatan pada


dasarnya disusun untuk menjelaskan alasan dimana
seseorang mencoba tindakan kesehatan. Selanjutnya
keyakinan itu digunakan untuk memprediksi kepatuhan
terhadap terapi. Motivasi muncul untuk memainkan
peranan

dalam

kesehatan.
pencegahan

mengaplikasikan

Motivasi

menjadi

kesehatan.

model

tanda

Nilai,

dari

keyakinan
tindakan

keyakinan

dan

keingintahuan alami dapat menjadi factor yang mengakar

35

dan menetap yang juga dapat membentuk hasrat untuk


mempelajari perilaku baru.
4) Sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai
kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap yang
obyek tadi. Sikap mungkin terarah terhadap benda-benda,
orang-orang tetapi juga peristiwa-peristiwa, pandanganpandangan, lembaga-lembaga, terhadap norma-norma,
nilai-nilai dan lain-lain.27
E. Tinjauan Khusus tentang Hubungan Dukungan Keluarga Dengan
Tingkat Kecemasan Lanjut Usia (Lansia) yang Mengalami
Arthritis Rheumatoid
Menurut Duval dalam mubarak, keluarga adalah sekumpulan
orang

yang

dihubungkan

tatanan

keluarga

sesuai

dengan

perkembangan sosial, menciptakan dan mempertahankan budaya


yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional
dan sosial dari setiap anggota.17
Keluarga merupakan sumber dukungan yang paling utama
karena dalam hubungan keluarga tercipta hubungan yang saling
mempercayai, individu sebagai anggota keluarga akan menjadikan
keluarga sebagai kumpulan harapan, tempat

bercerita, tempat

bertanya, dan tempat mengeluarkan keluhan-keluhan bilamana


individu sedang mengalami permasalahan yang dapat menimbulkan
kecemasan.20

36

Dukungan keluarga adalah bentuk pertolongan yang dapat


berupa materi, emosi, dan informasi yang diberikan oleh keluarga
ataupun orang yang dicintai. Bantuan atau pertolongan ini diberikan
dengan tujuan individu dalam hal ini seorang lansia yang mengalami
masalah

kesehatan

agar

dia

merasa

diperhatikan,

mendapat

dukungan, dihargai dan dicintai, keluarga selalu memberi dukungan


dan membantu untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi
oleh lansia tersebut. Bentuk dukungan dan keluarga dapat berupa
bantuan sosial emosional yaitu pernyataan tentang cinta, perhatian,
penghargaan, dan simpati dan menjadi bagian dari kelompok yang
berfungsi untuk memperbaiki perasaan negatif yang khususnya
disebabkan oleh karena lansia tersebut cemas.20
Dukungan sosial keluarga juga menjadi faktor ekstrinsik yang
mempengaruhi tingkat kecemasan seorang pasien dalam menjalani
pengobatan. Dukungan sosial keluarga mengacu kepada dukungandukungan keluarga yang dipandang oleh anggota keluarga sebagai
suatu yang dapat diakses diadakan untuk keluarga.Anggota keluarga
memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap
memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan. Dukungan
keluarga yang besar kepada responden, secara psikologis dapat
menambah semangat hidup bagi responden yang dapat berdampak
pada tingkat kecemasan yang rendah.6
Keluarga merupakan support system utama bagi usia lanjut
dalam

mempertahankan

kesehatannya.

Peran

keluarga

dalam

37

perawatan usia lanjut antara lain menjaga atau merawat usia lanjut,
mempertahankan dan meningkatkan status mental, mengantisipasi
perubahan

sosial

memfasilitasi

ekonomi,

kebutuhan

serta

spiritual

memberikan
bag

usia

motivasi
lanjut.

dan
Tugas

perkembangan keluarga merupakan tanggung jawab yang harus


dicapai oleh keluarga dalam setiap tahap perkembangan usia lanjut.
Keluarga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan bilogis, imperatif (
saling menguatkan ), budaya dan aspirasi, serta nila-nilai keluarga. 15
Keluarga merupakan sistem pendukung utama bagi lansia,
apabila terjadi sesuatu permasalahan maka keluarga merupakan
tujuan pertama lansia untuk meminta pertolongan, setelah itu teman
dan tetangga sedangkan tempat pelayanan sosial merupakan pilihan
terakhir. Disamping itu juga keluarga dalam kehidupan lansia sangat
penting terutama jika terjadi perubahan fisik lansia atau fungsi mental
dan keluarga memegang tanggung jawab untuk menolong lansia
mengidentifikasikan masalahnya dari berbagai sumber.16
Arthritis Rheumatoid bukan penyakit mematikan, tetapi perlu di
waspadai, selain mengganggu aktifitas dan produktifitas, dapat cacat
tubuh tertentu. Selain, dalam kondisi yang lebih parah lagi, artritis
reumatoid dapat menyerang tubuh tertentu, yang lebih parah lagi
dapat menyerang organ vital dan mengakibatkan komplikasi pada
ginjal, jantung, dan kelumpuhan, hal ini dapat memicu kecemasan
pada lansia.21

38

Namun kecemasan dapat menimbulkan reaksi konstruktif


maupun destruktif bagi individu, dimana :
a. Reaksi

konstruktif

mengadakan

individu

perubahan

termotivasi

terutama

untuk

perubahan

belajar
terhadap

perasaaan tidak nyaman dan terfokus pada kelangsungan


hidup. Contohnya individu yang melanjutkan pendidikan
kejenjang yang lebih tinggi karena akan dipromosikan naik
jabatan.
b. Reaksi destruktif. Individu bertingkah laku maladaptif dan
disfungsioanl. Contohnya : individu menghindari kontak dengan
orang lain atau mengurung diri, tidak mau mengurus diri, tidak
mau makan.25
Reaksi kecemasan setiap individu berbeda, sehingga semakin
berat tingkat kecemasan yang dirasakan oleh individu maka untuk
melakukan aktifitas seperti activity daily living (ADL) menjadi
terganggu.25

39

Kerangka Teori
Dukungan Keluarga
adalah bentuk pertolongan
yang dapat berupa materi,
emosi, dan informasi yang
diberikan oleh keluarga
ataupun orang yang
dicintai oleh keluarga yang
bersangkutan

Keluarga
memberi
dukungan
pada lansia

1. Dukungan
emosional
2. Dukungan
penghargaan
3. Dukungan
instrumental
4. Dukungan
informatif

Lansia mendapat
perhatian, disenangi,
dihargai dan
dianggap bagian dari
keluarga

Lansia tidak
mengalami
kecemasan

Keluarga
kurang
memberi
dukungan
pada lansia
1. Dukungan
emosional
2. Dukungan
penghargaan
3. Dukungan
instrumental
4. Dukungan
informatif

Lansia kurang
mendapat perhatian,
kurang disenangi,
kurang dihargai dan
kurang dianggap
bagian dari keluarga

Lansia mengalami
kecemasan

40

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Kerangka Konseptual
Berdasarkan landasan teori yang telah diuraikan pada
tinjauan pustaka serta masalah penelitian maka dapat disusun
kerangka konsep penelitian dengan menggunakan beberapa variabel
sebagai berikut :
Variabel Independen

Variabel Dependen

Tingkat kecemasan
pada lansia yang
mengalami arthritis
rheumatoid

Dukungan keluarga

Motivasi keluarga

Keterangan :
: Variabel Independen
: Variabel yang tidak di teliti
: Variabel Dependen

Gambar 3. 1 Kerangka konseptual

40

41

B. Definisi operasional
Definisi operasional adalah mendefenisikan variabel secara
operasional berdasarkan karakteristik yang diamati.
Variabel
penelitian
Independen

Defenisi Operasional

Dukungan

bentuk

keluarga

yang dapat berupa

Kriteria Objektif

pertolongan Baik

Skala

jika Ordinal

responden

materi, emosi, dan


memperoleh

informasi

yang

diberikan

oleh 15

keluarga.

Kurang baik

skor

jika

responden
memperoleh

skor

<15

Dependen
Tingkat
kecemasan
pada lansia
yang
mengalami
arthritis
rheumatoid

Kekhawatiran
tidak

jelas

menyebar,
berkaitan

yang Cemas sedang jika Interval


dan responden
yang memperoleh

skor

dengan 14-27

perasaan tidak pasti Cemas berat jika


dan tidak berdaya.

responden
memperoleh
28-56

skor

42

C. Rancangan Penelitian
Desain penelitian menggunakan metode deskriptif analitik
dengan pendekatan Crossectional yaitu rancangan yang mengkaji
hubungan variabel indevpenden dan variabel dependen pada saat
bersamaan, subyek penelitian ini adalah lansia yang mengalami
arthritis rheumatoid di wilayah kerja Puskesmas Cendrawasih
Makassar.
D. Waktu dan Tempat Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan pada tanggal 9 Agustus
2014 sampai pada tanggal 9 September 2014.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di beberapa kelurahan
Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.
E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah semua lansia yang
mengalami

Arthritis

Rheumatoid

diwilayah

kerja

Cendrawasih Makassar yaitu sebanyak 36 orang.

puskesmas

43

2. Sampel
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan
metode Nonprobability sampling yaitu dengan teknik purposive
sampling, Peneliti menentukan sendiri sampel yang sesuai dengan
kriteria sampel.
Kriteria sampel sebagai berikut :
a. Kriteria Inklusi :
1) Lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid diwilayah
kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.
2) Lansia yang mengalami kecemasan.
3) Bersedia menjadi responden.
b. Kriteria Eksklusi :
1) Lansia yang tidak mengalami kecemasan.
2) Lansia yang mengalami penyakit lain.
Penentuan

besar

sampel

dalam

menggunakan rumus sebagai berikut :


Rumus :

n=

()

keterangan :

N = total populasi
n = total sampel
d = tingkat signifikan

penelitian

ini

44

n=

(,)

36

=
1+36(0,0025)

= 36

= 33,02

1,09
= 33 orang
F. Alat dan Bahan Penelitian
Pengumpulan data dilakukan dengan cara menggunakan
kuesioner yang terdiri dari :
1. Kuesioner tentang biodata responden yang terdiri dari nama, umur,
pekerjaan, jumlah anggota keluarga, alamat dan pendidikan
terakhir.
2. Lembar tentang dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan
lanjut usia (lansia) yang mengalami Artritis Reumatoid, peneliti
menggunakan skala Likert yang terdiri dari 10 pertanyaan dengan
alternatif jawaban SL (skor 3), KK (skor 2), TP (skor 1). Dikatakan
baik jika responden memperoleh skor sama dengan 15 atau lebih
dari 15, dikatakan kurang jika skor kurang dari 15.

45

3. Lembar tentang kecemasan yang terdiri dari 14 item dengan skor :


Nilai

Tidak ada gejala atau keluhan sama sekali


(tidak cemas)

Nilai

Satu gejala dari pilihan yang ada


(cemas ringan)

Nilai

Separuh dari gejala yang ada (cemas sedang)

Nilai

Lebih dari separuh gejala yang ada


(cemas berat)

Nilai

Semua gejala ada (cemas sangat berat/panik)

Tidak cemas jika tidak memperoleh skor, cemas ringan jika


memperoleh skor 1-13, cemas sedang jika responden memperoleh
skor 14-27 dan cemas berat jika responden memperoleh skor 2856.

G. Pengambilan Data Penelitian


1. Pengumpulan data
a. Data Primer
Data primer diperoleh dengan cara melakukan pengisian
kuisioner terhadap responden dengan menggunakan kuesioner
yang telah tersedia dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Sebelum kuesioner diserahkan kepada responden, peneliti
memberikan penjelasan tentang tujuan penelitian.
2) Setelah responden memahami tujuan penelitian, maka
responden diminta kesediaannya untuk mengisi kuesioner.

46

3) Jika responden telah mengatakan bersedia untuk diteliti, maka


kuesioner diberikan dan responden diminta untuk mempelajari
terlebih dahulu tentang cara pengisian kuesioner atau peneliti
yang mewawancarai responden berdasarkan pertanyaan pada
kuesioner.
4) Setelah semua data diperoleh, selanjutnya dikumpulkan dan
dipersiapkan untuk diolah dan dianalisa.
b. Data Sekunder
Data yang diperoleh di Wilayah Kerja Puskesmas
Cendrawasih Makassar, yang digunakan sebagai pelengkap dan
penunjang data primer yang ada relevansinya untuk keperluan
penelitian dan literatur.

2. Pengolahan Data
Prosedur pengolahan data yang akan dilakukan adalah
sebagai berikut :
a. Editing
Editing

adalah

pengecekan

jumlah

kuesioner,

kelengkapan data, diantaranya kelengkapan identitas, lembar


kuesioner dan kelengkapan isian kuesioner, sehingga apabila
terdapat ketidaksesuaian dapat dilengkapi oleh peneliti.
b. Koding
Koding adalah melakukan pemberian kode berupa
angka untuk memudahkan pengolahan data. Untuk variabel

47

dukungan keluarga angka yang digunakan dalam penelitian ini


adalah 1, 2, 3. Angka 1 untuk jawaban tidak pernah, angka 2
untuk jawaban kadang-kadang dan angka 3 untuk jawaban
selalu. Untuk variabel kecemasan angka 4 untuk kategori
sangat berat, angka 3 untuk kategori berat, angka 2 untuk
kategori sedang, angka 1 untuk satu dari gejala.
c. Tabulasi
Tabulasi adalah mengelompokkan data sesuai dengan
tujuan penelitian ini kemudian dimasukkan dalam tabel yang
sudah disiapkan. Setiap pertanyaan yang sudah diberi nilai,
hasilnya dijumlahkan dan di beri kategori sesuai dengan jumlah
pertanyaan pada kuesioner.
H. Analisa Data Penelitian
1. Analisa Univariat
Analisa

ini

menghasilkan

distribusi

frekuensi

dan

presentase dari setiap variabel yang diteliti.

2. Analisa Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk melihat hubungan tiap-tiap
variabel bebas dan variabel tergantung dengan menggunakan uji
statistik dengan tingkat kemaknaan () : 0,05. Uji statistik yang
digunakan adalah Chi-Square. Adapun rumus Chi-Square yang
digunakan adalah :

48

(fo fe)2
fe

keterangan :
x2 : nilai chi-square

fo : frekuensi observasi

fe : frekuensi espektasi
a. Apabila x2 hitung x2 tabel atau p 0,05 maka H0
diterima dan Ha ditolak artinya ada hubungan.
b. Apabila x2 hitung x2 tabel atau p 0,05 maka H0
ditolak dan Ha diterima artinya tidak ada hubungan.
I. Etika Penelitian
1. Lembar Persetujuan (Informed consent)
Penelitian ini akan dilakukan dengan cara memberikan
lembar

persetujuan

kepada

responden

untuk

melakukan

persetujuan antara peneliti dengan responden, dengan tujuan agar


subyek atau responden dapat mengerti maksud dan tujuan
penelitian, dimana pada lembar persetujuan tersebut terdapat
identitas

responden

dan

beberapa

daftar

pertanyaan,

jika

subyek/responden bersedia maka respon menandatangani lembar


persetujuan dan jika responden tidak bersedia maka peneliti tetap
menghargai hak-hak responden.

49

2. Tanpa nama (Anonimity)


Dalam penelitian ini, nama responden akan diganti dengan
menggunakan inisial saja atau kode pada setiap lembar kuesioner
untuk menjaga privasi dari responden.
3. Kerahasiaan (confidentiality)
Peneliti harus selalu menjamin kerahasiaan identitas dari
responden,

semua

berkas

yang

mencantumkan

identitas

responden harus digunakan untuk keperluan pengolahan data dan


bila tidak digunakan lagi maka data tersebut harus dimusnahkan.

50

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Pengumpulan data penelitiaan ini dilakukan di Wilayah Kerja
Puskesmas Cendrawasih Makassar. Sampel yang digunakan adalah
Lanjut Usia (Lansia) yang mengalami Arthritis Rheumatoid yaitu
sebanyak 33 orang. Setelah dilakukan Penelitian ini dan mengumpul
data yang selanjutnya dianalisis dengan hasil sebagai berikut :
1. Analisa Univariat
a. Distribusi

Frekuensi

Responden

Berdasarkan

Dukungan

Keluarga
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Dukungan
Keluarga pada Lanjut Usia (Lansia) yang mengalami
Arthritis Rheumatoid diWilayah Kerja Puskesmas
Cendrawasih Makassar 2014
Dukungan Keluarga

Baik

21

63,6%

Kurang baik

12

36,4%

Jumlah

33

100%

Sumber : Data Primer , 2014

Berdasarkan tabel 4.1 Menunjukkan bahwa kebanyakan


responden memiliki dukungan keluarga baik yaitu sebanyak 21
responden (63,6%) dan yang kurang baik hanya sebanyak 12
responden (36,4%).

50

51

b. Distribusi

Frekuensi

Responden

Berdasarkan

Tingkat

Kecemasan Lanjut Usia (Lansia)


Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat
Kecemasan pada Lanjut Usia (Lansia) yang
mengalami Arthritis Rheumatoid diWilayah
Kerja PuskesmasCendrawasih
Makassar 2014
n
%
Tingkat Kecemasan
Cemas Sedang

23

69,7%

Cemas Berat

10

30,3%

Jumlah

33

100%

Sumber : Data Primer, 2014

Berdasarkan tabel 4.2 Distribusi responden berdasarkan


tingkat kecemasan menunjukkan bahwa kebanyakan responden
yang mengalami cemas sedang yaitu sebanyak 23 responden (
69,7%) dan yang mengalami cemas berat sebanyak 10
responden (30,3%)

2. Analisa bivariat
Pada tahap ini dilakukan tabulasi silang antara variabel
independen (dukungan keluarga) dengan variabel dependen
(tingkat kecemasan lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid).
Hasil analisa variabel tersebut sebagai berikut :
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan
Lanjut Usia (Lansia) yang mengalami Arthritis Rheumatoid di
Wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.

52

Tabel 4.3
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan
pada Lanjut Usia (Lansia) yang Mengalami Arthritis
Rheumatoid diWilayah Kerja Puskesmas
Cendrawasih Makassar 2014
Tingkat Kecemasan Lansia
Dukungan
Keluarga
Baik
Kurang Baik
Jumlah

Sedang
n
18
5
23

Sumber : Data Primer , 2014

%
54,5%
15,2%
69,7%

Berat
n
3
7
10
p:0,008

Total

%
9,1%
21,2%
30,3%

n
21
12
33

%
63,6%
36,4%
100%

OR : 0,7

Berdasarkan analisis bivariat, menunjukkan bahwa pada


responden yang dukungan keluarganya baik dengan tingkat
kecemasan sedang sebanyak 18 responden (54,5%) dan
responden yang memiliki tingkat kecemasan berat dengan
dukungan keluarga baik hanya berjumlah 3 responden (9,1%).
Sedangkan responden yang mengalami dukungan keluarga
kurang baik dengan tingkat kecemasan yang sedang sebanyak
5 responden (15,2%) dan responden yang memiliki tingkat
kecemasan berat dengan dukungan keluarga yang kurang baik
hanya sebanyak 7 responden (21,2%).
Berdasarkan uji chi square diperoleh nilai hitung

p =

0,008 lebih kecil dari nilai = 0,05. Dari analisis tersebut dapat
diartikan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima atau ada hubungan
dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan lanjut usia
(lansia) di wilayah kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar.
Pada analisa dengan odds ratio 0,7 artinya apabila responden
memiliki dukungan keluarga yang kurang baik, maka akan
mempunyai peluang 0,7 kali untuk mengalami kecemasan.

53

B. Pembahasan
Hubungan dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan pada lanjut
usia (lansia) yang mengalami Arthritis Rheumatoid.
Berdasarkan
responden

yang

analisis

bivariat,

dukungan

menunjukkan

keluarganya

baik

bahwa

dengan

pada
tingkat

kecemasan sedang sebanyak 18 responden (54,5%) dan responden


yang memiliki tingkat kecemasan berat dengan dukungan keluarga
baik hanya berjumlah 3 responden (9,1%). Sedangkan responden
yang mengalami dukungan keluarga kurang baik dengan tingkat
kecemasan yang sedang sebanyak 5 responden (15,2%) dan
responden yang memiliki tingkat kecemasan berat dengan dukungan
keluarga yang kurang baik hanya sebanyak 7 responden (21,2%).

Pada Penelitian Ini di peroleh, 3 responden (9,1%) yang


dukungan dari keluarganya baik tetapi mengalami kecemasan Berat.
Hal ini terjadi karena dukungan yang diberikan oleh keluarganya tidak
cukup atau tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan Lansia untuk
mengurangi rasa cemas yang dialaminya, karena individu memiliki
kecemasan yang akan tetap muncul secara otomatis bila tubuh
merespon adanya suatu konflik, dimana lansia dalam hal ini
mengalami cemas berat karena penyakit yang dialaminya.

Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Sarafino dalam Rahayu


(2010),

bahwa

dukungan

keluarga

merupakan

sumber

penanggulangan yang paling utama dalam menghadapi kecemasan


dan stress. Dimana dukungan keluarga yang diberikan tidak sesuai

54

dengan apa yang dianggap sebagai sesuatu yang membantu. Hal ini
terjadi karena dukungan yang diberikan tidak cukup atau tidak sesuai
dengan apa yang dibutuhkan oleh individu, individu merasa tidak
pernah dibantu atau terlalu khawatir secara emosional sehingga tidak
memperhatikan dukungan yang diberikan.

Menurut teori Kuntjoro (2004), bahwa dukungan keluarga adalah


strategi koping yang dimiliki untuk mengurangi kecemasan, stress dan
konsekuensinya negatif. Pada penelitian ini di dapatkan pula 5
responden (15,2%) yang dukungan keluarga dari keluarganya kurang
baik tetapi mengalami kecemasan sedang. Hal ini terjadi karena
dukungan yang diberikan oleh keluarga bisa membantu dalam
mengurangi rasa cemas yang dialami oleh Lansia tersebut. Hal ini
sejalan dengan pendapat Sarafino (2012) bahwa dukungan keluarga
mampu mengurangi efek negatif dalam mempengaruhi kejadian dan
efek dari kecemasan dan stress.

Hal ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Duval
dalam Mubarak (2009) bahwa keluarga sebagai konteks yang vital
bagi pertumbuhan dan perkembangan yang sehat, keluarga memiliki
pengaruh yang penting terhadap pembentukan identitas seseorang
individu dan perasaan harga diri. Keluarga memainkan suatu peranan
yang bersifat mendukung selama penyembuhan dan pemulihan,
dalam bentuk kunjungan dari partisipasi keluarga dalam perawatan
seseorang anggota keluarga.

55

Hal ini sesuai dengan pendapat Suparyanto dalam Rahayu


(2010), bahwa dukungan keluarga yang diberikan kepada anggota
keluarganya adalah bentuk pertolongan yang dapat berupa materi,
emosi, dan informasi sudah dirasa cukup. Sama halnya dalam hal in,
pada seseorang yang mengalami atau merasakan kecemasan dengan
penyakit yang diderita, dukungan dari keluarga dibutuhkan untuk
kebutuhan

yang

diinginkan

mengurangi fase cemas itu.

seseorang

untuk

mengatasi

atau

56

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti
dapat menarik kesimpulan bahwa ada dukungan keluarga bagi Lansia
yang mengalami Athritis Rheumatoid, yang dukungan keluarganya
baik sebanyak 21 responden dan kurang baik sebanyak 12 responden,
dan ada pula kecemasan pada Lansia yang mengalami Athritis
Rheumatoid dengan cemas sedang sebanyak 23 responden dan
cemas berat sebanyak 10 responden. Maka dengan penelitian ini
didapatkan adanya hubungan dukungan keluarga dengan tingkat
kecemasan pada Lansia yang mengalami Athritis Rheumatoid di
wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar dengan jumlah
sampel sebanyak 33 responden.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah diuraikan diatas, maka
peneliti menyarankan :
1. Bagi Masyarakat/Keluarga
Diharapkan dapat menambah pengetahuan khususnya bagi
keluarga

yang

Rheumatoid,

memiliki

dan

untuk

lansia

yang

membantu

mengalami kecemasan.

56

mengalami

merawat

Arthritis

lansia

yang

57

2. Bagi Instansi Kesehatan


Diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan informasi
bagi perawat Puskesmas untuk menyusun langkah-langkah,
perencanaan dan program sistem kesehatan khususnya pada
lansia yang mengalami Arthritis Rheumatoid.
3. Bagi peneliti selanjutnya
Diharapkan sebagai bahan masukan tersendiri bagi peneliti
selanjutnya untuk menambah ilmu-ilmu teoritis dan ilmiah
terutama

mengenai

tingkat

kecemasan

mengalami Arthritis Rheumatoid.


.

pada

lansia

yang

58

DAFTAR PUSTAKA
1. Ayu H.K., (2010), Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga,
Sagung Seto, Jakarta.
2. Bandiyah S., (2009), Lanjut Usia Dan Keperawatan Gerontik, Mulia
Medika, Yogyakarta.
3. Christine B., (2013), Kamus Saku Keperawatan Edisi 3, EGC, Jakarta.
4. Darmojo., (2004), Buku Ajar Geriatri, Beberapa Aspek Gerontologi
Dan Pengantar Geriatri, FKUI, Jakarta.
5. Deiby., (2013), Kekambuhan Penyakit Reumatik Pada Usia lanjut,
http://www.Academia.edu.(online) Diakses 31 Mei 2014.
6. Dewi U., (2010), Kecemasan Pada Pasien Yang Mengalami Masalah
Kesehatan, http://www.Jurnal.ac.id, (onlione) Diakses 16 Juni 2014.
7. Efendi S., (2008), Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori Dan
Praktek Dalam Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.
8. Efendi S., (2009), Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori Dan
Praktek Dalam Keperawatan, Salemba Medika, Jakarta.
9. Friedman., (2003), Keperawatan Keluarga : Teori Dan Praktik,
Salemba Medika, Jakarta.
10. Hamid A., (2010), Artikel Kementerian Sosial RI, Penduduk Lanjut
Usia di Indonesia Dan Masalah Kesejahteraannya, Jakarta,
http://www.Kemsos.go.id, (online) diakses 30 Mei 2014.
11. Idawati., (2009), Pengaruh Pemberian Bekam Bering Terhadap
Perubahan Tingkat Nyeri Reumatik pada Lanjut usia dikelurahan
Sambung jawa kec.Mamajang Kota Makassar. Sripsi (tidak
diterbitkan) Sekolah tinggi ilmu kesehatan Gema Insan Akademik
makassar.
12. Lipsig & Noman., (2010), Hamilton Axienty Rating Scale, WWW.
Atlantap Ssychiatry, Com/ Forms/HAM-A, Pdf, diakses 30 Mei 2014.
13. Irto dkk., (2011), Gambaran Perilaku Lansia Terhadap Kecemasan Di
Panti Sosial Tresna Werda Theodora Makassar. (Skripsi), Diakses 29
juni 2014.
14. Lukman & Nurna., (2009), Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Muskuloskeletal, Salemba Medika, Jakarta.

59

15. Jaya dkk., (2010), Keperawatan Gerontik Cetakan Ke 3, Pustaka As


Salam, Jakarta.
16. Maryam S, dkk., (2008), Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya,
Salemba Medika, Jakarta.
17. Mubarak I.W., (2009), Pengantar Konsep Dasar Keperawatan,
Fitramaya, Yogyakarta.
18. Nugroho W., (2008), Keperawatan Gerontik Dan Geriatrik Edisi 3,
EGC, Jakarta
19. Nugroho W., (2012), Keperawatan Gerontik Dan Geriatrik Edisi 3,
EGC, Jakarta.
20. Rahayu W., (2010), Hubungan Antara Dukungan Keluarga Dengan
Respon Sosial Pada Lansia Di Desa Sukaraja Lor Kecamatan
Sukaraja, http//Rahayulansia.html, Diakses 1 April 2013.
21. Reeves dkk., (2001), Keperawatan Medikal Bedah, Salemba Medika,
Jakarta.
22. Setiadi., (2008), Konsep Dan Proses Keperawatan Keluarga, Graha
Ilmu, Yogyakarta.
23. Stuart & Sundeen., (2008), Buku Saku Keperawatan Jiwa, EGC,
Jakarta.
24. Stuart G.W., (2012), Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5, EGC,
Jakarta.
25. Suliswati., (2005), Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC,
Jakarta.
26. Speer Dan Kathelen., (2007), Rencana Asuhan Keperawatan
Pediatrik Dengan Clinical Pathway Edisi 3, EGC, Jakarta.
27. Sunaryo., (2013), Psikologi Untuk Keperawatan Edisi 2, EGC, Jakarta.
28. Widayatun T.R., (2009), Ilmu Perilaku Buku Pegangan Mahasiswa
Akper, CV Sagung Seto, Jakarta.

60

LAMPIRAN 1

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN


Kepada Yth.
Saudara/i responden
Di tempat_
Dengan hormat
Bersama ini saya yang bertanda tangan di bawah ini. Mahasiswa
program Studi S1 Keperawatan STIK GIA Makassar :
Nama : Taufik Nugroho
Nim

: 2110148

Alamat : Jl. Dr Ratulangi no 27


Akan melakukan penelitian dengan judul Hubungan Dukungan
Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Lanjut Usia (Lansia) Yang
Mengalami Arthritis Rheumatoid Di Wilayah Kerja Puskesmas
Cendrawasih Makassar.
Peneliti yang akan dilakukan tidak akan menimbulkan akibat
yang merugikan bagi lansia selaku responden, kerahasiaan semua
informasi yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan unutk
kepentingan penelitian. Tidak ada paksaan bagi lansia untuk menjadi
responden di dalam penelitian ini.
Apabila anda bersedia menjadi responden, saya persilahkan
menandatangani surat pernyataan kesediaan menjadi responden yang
terlampir dalam surat ini.
Demikianlah atas partisipasi, perhatian, dan kerjasama anda
saya ucapkan terima kasih.

Peneliti,

Taufik. N
2110148

61

Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama :
Alamat :
Setelah diberikan penjelasan oleh peneliti, Tentang maksud dan
tujuan penelitian ini, saya bersedia menjadi responden pada penelitian
yang dilakukan oleh saudara Taufik Nugroho, Mahasiswa Program S1
Keperawatan STIK GIA Makassar dengan judul Hubungan Dukungan
Keluarga Dengan Tingkat Kecemasan Lanjut Usia (Lansia) Yang
Mengalami Arthritis Rheumatoid Di Wilayah Kerja Puskesmas
Cendrawasih Makassar
Dengan demikian surat ini saya buat dengan sukarela tanpa
paksaan dari pihak lain dan kiranya dipergunakan sebagai mana
mestinya.

Makassar, Juni 2014

Responden

(........................................)

62

Lampiran 3

KUESIONER
Hubungan Dukungan Keluarga DenganTingkat Kecemasan
(lanjut usia) Lansia Yang Mengalami Arthritis Rheumatoid
Di wilayah Kerja Puskesmas Cendrawasih Makassar

No. urut :

A. Indentifikasi Responden
a. Nama Responden

b. Umur Responden

c. Pekerjaan

d. Jumlah anggota keluarga

e. Alamat

f. Pendidikan Terakhir

Tahun

1. Tidak Tamat SD/Tidak Sekolah


2. SD
3. SMP
4. SMA
5. Perguruan Tinggi

63

B. Dukungan Keluarga
Petunjuk pengisian kuesioner
1. Bacalah dengan cermat dan teliti setiap pernyataan di bawah ini
2. Pilihlah salah satu jawaban yang responden anggap paling sesuai
dengan pendapat dan keadaan responden.
3. Berilah tanda check list () setiap pernyataan yang diberikan,
sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :
SL

Selalu, bernilai 3

KK

Kadang-kadang 2

TP

Tidak Pernah, bernilai 1

No
1.

Pernyataan
Keluarga

mendampingi

SL
saya

dalam

semangat

untuk

keadaan perawatan.
2.

Keluarga

memberi

keberhasilan penyembuhan.
3.

Keluarga ikut membantu saya ketika saya


merasa kesakitan.

4.

Keluarga

tampak

mendukung

usaha

perawatan saya.
5.

Keluarga memperhatikan kebutuhan saya.

6.

Keluarga ikut merasakan keadaan yang


saya rasakan saat ini.

7.

Keluarga mengingatkan untuk makan dan


minum obat setiap hari.

8.

Keluarga menyiapkan atau menyediakan


apa yang saya butuhkan.

KK

TP

64

9.

Keluarga

mengungkapkan

perasaannya

dan meminta saran petugas kesehatan


tentang masalah kesehatan yang saya
alami dan kemudian memberikan informasi
tentang masalah kesehatan saya.

10.

Keluarga ada di sisi saya menemani saya


dalam menjalani proses perawatan saya.

65

C. Tingkat Kecemasan
Petunjuk pengunaan alat ukur Hamilton Scale For Ansxiety ( HARS)
adalah :
Berikan tanda silang (X) terpadat pada kolom di bawah ini, sesuai
dengan manifestasi kecemasan yang di alami/ di rasakan oleh
responden.
Responden boleh memilih lebih dari satu jawaban
Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan
kategori:
0 = tidak ada gejala sama sekali
1 = Satu dari gejala yang ada
2 = Sedang/ separuh dari gejala yang ada
3 = berat/lebih dari gejala yang ada
4 = sangat berat semua gejala ada.

Gejala Kecemasan

No
1.

Perasaan Cemas (Ansietas)


a. Cemas
b. Firasat Buruk
c. Takut Akan Pikiran Sendiri
d. Mudah Tensinggung.

2.

Ketegangan
a. Merasa Tegang
b. Lesu
c. Tidak Bisa Istrahat Tenang
d. Mudah Terkejut
e. Mudah Menangis
f. Gelisah
g. Gemetar.

NILAI ANGKA / SKOR


0

KODE

66

3.

Ketakutan
a. Pada Gelap
b. Terhadap Orang Asing
c. Ditinggal Sendiri
d. Pada Keramaian Lalu Lintas.
e. Pada Kerumuhan Orang Banyak.

4.

Gangguan Tidur
a. Sukar Memulai Tidur
b. Terbangun Pada Malam Hari
c. Tidur Tidak Banyak
d. Bangun Dengan Lesu
e. Banyak Mimpi-Mimpi
f. Mimpi Buruk
g. Mimpi Menakutkan.

5.

Gangguan Kecerdasan
a. Sukar Konsentrasi
b. Daya Ingat Menurun
c. Daya Ingat Buruk.

6.

Perasaan Depresi Murung


a. Hilangnya Minat
b. Berkurangnya Kesenangan Pada
Hobi
c. Sedih
d. Bangun

Dini

Hari

Perasaan

Berubah Sepanjang Hari.


7.

Gangguan Somatic/ Fisik (Otot)


a. Sakit Dan Nyeri Otot-Otot
b. Kaku
c. Kedutan Otot
d. Gigi Gemerutuk
e. Suara Tidak Stabil

67

8.

Gejala Somatik/Fisik (Otot)


a. Tinitus (Telinga Berdenging)
b. Penglihatan Kabur
c. Muka Merah Atau Pucat
d. Merasa Lemas
e. Perasaan Ditusuk-Tusuk.

9.

Gejala Kardiovaskuler
a. Takikardia

(Denyut

Jantung

Cepat)
b. Berdebar-Debar
c. Nyeri Dada
d. Denyut Nadi Mengeras
e. Rasa Lesu/ Lemas Seperti Mau
Pingsan.
10. Gejala Respirasi
a. Rasa Tertekan Atau Sempit Di
Dada
b. Rasa Tercekik
c. Sering Menarik Nafas
d. Nafas Pendek Dan Sesak
11. Gejala Gastrointestinal
a. Sulit Menelan
b. Perut Melilit
c. Nyeri Sebelum Dan Sesudah
Makan
d. Perasaan Terbakar Di Perut
e. Mual
f. Muntah
g. Buang Air Besar Lembek
h. Sukar Buang Air Besar
i.

Kehilangan Berat Badan

68

12. Gejala Urogenital


a. Sering Buang Air Kecil
b. Tidak Dapat Menahan Air Seni.
13. Gejala Autonom
a. Mulut Kering
b. Muka Merah
c. Mudah Berkeringat
d. Kepala Pusing
e. Kepala Terasa Berat
f. Kepala Terasa Sakit
g. Bulu-Bulu Berdiri.
14. Tingkah

Laku

(Sikap)

Pada

Wawancara
a. Gelisah
b. Tidak Tenang
c. Jadi Gemetar
d. Kerut Kering
e. Muka Tegang
f. Otot Tegang/ Mengeram
g. Napas Pendek Dan Cepat
h. Muka Merah.

Penentuan derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan


item 1-14 dengan hasil:
Kecemasan sedang jika skor 14-27
Kecemasan berat jika skor 28-56

69

MASTER TABEL
No

Nama Usia

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33

Ny. Y
Ny. G
Tn. B
Ny. T
Ny. W
Ny. S
Tn. R
Tn. W
Ny. S
Ny.E
Ny. F
Ny. H
Tn. T
Ny. D
Ny. M
Tn. N
Ny. G
Ny. F
Tn. B
Tn. S
Ny. S
Ny. B
Ny. R
Tn. S
Ny.E
Ny. S
Tn. E
Tn. P
Tn. W
Ny. L
Ny. M
Ny. L
Ny. T

65 thn
63 thn
71 thn
75 thn
63 thn
63 thn
66 thn
61 thn
82 thn
62 thn
61 thn
67 thn
63 thn
69 thn
77 thn
72 thn
64 thn
64 thn
70 thn
69 thn
66 thn
68 thn
73 thn
76 thn
60 thn
68 thn
62 thn
88 thn
65 thn
60 thn
62 thn
71 thn
61 thn

Pendidikan
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SMA
SD
SMP
SMA
Tidak Sekolah
SMP
SMP
SMA
SMA
SMP
SMP
SMA
SD
SMA
SMP
SMA
SMA
SMP
SMP
SD
SD
SMP
SMA
SMP
SD
SMP
Tidak Sekolah
SMA

Dukungan
Keluarga
Kurang baik
Baik
Kurang Baik
Baik
Kurang baik
Baik
Kurang baik
Baik
Baik
Baik
Kurang Baik
Kurang baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Baik
Kurang baik
Baik
Baik
Kurang baik
Baik
Baik
Kurang baik
Baik
Kurang Baik
Kurang baik
Baik
Baik
Kurang baik
Baik
Baik

Tingkat
Kecemasan
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas sedang
Cemas berat
Cemas sedang
Cemas sedang

Keterangan:
Dukungan Keluarga :

Tingkat Kecemasan :

1. Baik

1. Cemas Sedang

2. Kurang Baik

2. Cemas Berat

JADWAL PENELITIAN
HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KECEMASAN
PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH (ISK) DIRUANG
RAWAT INAP RUMAH SAKIT BHAYANGKARA
MAKASSAR
BULAN
NO

URAIAN KEGIATAN

MARET
1

Identifikasi dan
justifikasi Masalah

pengambilan data
awal

Penyusunan
Proposal

Seminar Proposal

Perbaikan Hasil
Seminar Proposal

Pengumpulan Data

7
8
9
10

Pengolahan Data
dan Analisa Data
Seminar Hasil
Penelitian
Perbaikan Hasil
Seminar
Publikasi

APRIL
4

1 2

MEI
4

JUNI

1 2 3 4 1 2 3 4

JULI
1

AGUSTUS

2 3 4 1

SEPTEMBER
4 1 2 3 4

OKTOBER
1

71

UJI STATISTIK
A. Uji Univariat

DukunganKeluarga
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

Baik

21

63,6

63,6

63,6

kurang baik

12

36,4

36,4

100,0

Total

33

100,0

100,0

72

Tingkat Kecemasan
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

cemas sedang

23

69,7

69,7

69,7

cemas berat

10

30,3

30,3

100,0

Total

33

100,0

100,0

73

B. UJI BIVARIAT
Tingkat Kecemasan

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
DukunganKeluarga *

Percent
33

TingkatKecemasan

Missing

100,0%

Total

Percent
0

Percent

0,0%

33

100,0%

DukunganKeluarga * TingkatKecemasan Crosstabulation


TingkatKecemasan
cemas sedang
DukunganKeluarga Baik

Count
Expected Count
% within
DukunganKeluarga
% within
TingkatKecemasan
% of Total

kurang baik

Count
Expected Count
% within
DukunganKeluarga
% within
TingkatKecemasan
% of Total

Total

Count
Expected Count
% within
DukunganKeluarga
% within
TingkatKecemasan
% of Total

cemas berat

Total

18

21

14,6

6,4

21,0

85,7%

14,3%

100,0%

78,3%

30,0%

63,6%

54,5%

9,1%

63,6%

12

8,4

3,6

12,0

41,7%

58,3%

100,0%

21,7%

70,0%

36,4%

15,2%

21,2%

36,4%

23

10

33

23,0

10,0

33,0

69,7%

30,3%

100,0%

100,0%

100,0%

100,0%

69,7%

30,3%

100,0%

74

Chi-Square Tests
Exact

Value
Pearson Chi-Square
Continuity Correction
Likelihood Ratio

Exact Sig. (2-

Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

Df
a

,008

5,085

,024

6,960

,008

7,015
b

Asymp. Sig. (2-

Fisher's Exact Test

,016

Linear-by-Linear

6,802

Association
N of Valid Cases

,009

33

a. 1 cells (25,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3,64.
b. Computed only for a 2x2 table

Risk Estimate
95% Confidence Interval
Value

Lower

Upper

Odds Ratio for


DukunganKeluarga (baik /

8,400

1,571

44,917

2,057

1,030

4,109

,245

,077

,775

kurang baik)
For cohort
TingkatKecemasan = cemas
sedang
For cohort
TingkatKecemasan = cemas
berat
N of Valid Cases

33

,013

75

76

77

78

79