Anda di halaman 1dari 93

SKRIPSI

GAMBARAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI


PADA SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI 1 WANGI-WANGI
KAB. WAKATOBI

LA ODE FARDIANSYAH
2110045

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2014

Gambaran Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi pada Siswi


Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Wangi-Wangi
Kab. Wakatobi

Skripsi
untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi
syarat-syarat untuk mencapai gelar sarjana keperawatan

LA ODE FARDIANSYAH
2110045

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
YAYASAN GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2014

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

GAMBARAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI


PADA SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI 1 WANGI-WANGI
KAB. WAKATOBI

Disetujui Oleh :

Pembimbing Pertama,

Pembimbing Kedua,

Akbar Harisa, S.Kep., Ns., PMNC., MN.

Yanti Mustarin, S.Kep., Ns.

Pada 13 September 2014

iii

HALAMAN PENGESAHAN

GAMBARAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI


PADA SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS
NEGERI 1 WANGI-WANGI
KAB. WAKATOBI

Telah dipertahankan dan disetujui oleh tim penguji skripsi STIK GIA
Makassar pada hari Sabtu, tanggal 13 September 2014

TIM PENGUJI
1. Akbar Harisa, S. Kep., Ns., PMNC., MN.

(..............................)

2. Yanti Mustarin, S.Kep., Ns.

(..............................)

3. Hj. Nurhaeni Rachim, S.Kp., M.Kep.

(..............................)

4. Hj. Hasniaty, A.G., S.Kp., M.Kep.

(..............................)

Mengetahui,
Ketua STIK GIA MAKASSAR

Hj. Hasniaty, A.G., S.Kp., M.Kep.

iv

ABSTRAK

LA ODE FARDIANSYAH. Gambaran Tingkat Stres dengan Siklus


Menstruasi pada Siswi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Wangi-Wangi
Kabupaten
Wakatobi.
(Dibimbing
oleh
Akbar
Harisa
dan
Yanti Mustarin).
Salah satu yang terjadi pada seseorang yang mengalami gangguan
reproduksi yang berkaitan dengan peristiwa menstruasi, yang ditentukan
oleh proses somato-psikik yang sifatnya kompleks. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui gambaran tingkat stres dengan siklus
menstruasi pada siswi di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.
Metodologi penelitian ini adalah non eksperimen yaitu deskriptif analitik
dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam
penelitian ini adalah semua siswi SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten
Wakatobi sebanyak 603 orang siswi dan sampel pada penelitian ini
adalah sebanyak 86 orang siswi dengan teknik pengambilan sampel non
probability sampling yaitu dengan teknik purposive sampling. Hasil
penelitian didapatkan sebanyak 41 (47,7%) responden yang mengalami
stres sedang dan 45 (52,3%) responden yang yang mengalami stres
berat. Sedangkan responden yang mengalami siklus menstruasi normal
yaitu sebanyak 38 responden (44,2%) dan 48 responden (55,8%) yang
mengalami siklus menstruasi yang tidak normal dari 86 responden. Stres
dapat mempengaruhi siklus menstruasi, karena pada saat stres, hormon
stres hormon kortisol sebagai produk dari glukokortiroid korteks adrenal
yang disintesa pada zona fasikulata bisa mengganggu siklus menstruasi
karena mempengaruhi jumlah hormon progesteron dalam tubuh. Jumlah
hormon dalam darah yang terlalu banyak inilah yang dapat menyebabkan
perubahan siklus menstruasi.

Kata Kunci : Siklus Menstruasi, Stres.


Kepustakaan : 24 buah (2004 2014)

ABSTRACT

LA ODE FARDIANSYAH. Overview the level of stress to the menstrual


cycle in female student at state high school 1 Wangi-Wangi district
Wakatobi. (Supervised by Akbar Harisa and Yanti Mustarin).
The one that occurs on someone experiencing reproductive impaired
related with menstruation events, which is determined by the somatopsychic processes that are complex. The purpose of this study is to find
out overview the level of stress to the menstrual cycle in female student at
SMAN 1 Wangi-Wangi district Wakatobi. The methodology of this study is
non-experimental ie analytic descriptive with use approach cross sectional.
The population in this study were all female student SMAN 1 Wangi-Wangi
district Wakatobi as many as 603 people female student and sample in
this study were 86 people female student with a non-probability sampling
retrieval technique ie with purposive sampling technique. The results
research obtained as much 41 (47,7 %) of respondents who experienced
moderate stress and 45 (52,3%) of respondents who were experiencing
severe stress. While respondents who experienced normal menstrual
cycle is of 38 respondents (44,2%) and 48 respondents (55,8%) were
experiencing abnormal menstrual cycles of 86 respondents. Stress can
affect the menstrual cycle, because in times of stress, the stress hormone
cortisol as a product of glukokortikoid synthesized in the adrenal cortex
fasciculata zones can disrupt the menstrual cycle because it affects the
amount of the hormone progesterone in the body. The amount of
hormones in the blood is too much this is that can cause changes in the
menstrual cycle.
Keywords
: Menstrual Cycle, Stress.
Bibliography : 24 item (2004 - 2014)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.


Alhamdulillah,

segala

puji

bagi

Allah

Subhanahu Wa Taala,

Tuhan seluruh alam, atas rahmat dan hidayah-Nya penulis akhirnya


dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Gambaran Tingkat
Stres dengan Siklus Menstruasi pada Siswi Sekolah Menengah Atas
Negeri 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Sebagai salah satu
persyaratan dalam

menyelesaikan

pendidikan

sarjana

keperawatan

pada program studi ilmu keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan


Gema Insan Akademik Makassar.
Dalam menyelesaikan penelitian ini penulis menyadari bahwa itu
tidak terlepas dari bantuan dan bimbingan yang sangat sederhana
tapi berharga dari berbagai pihak, baik secara moril maupun materil.
Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang
tua Ayahanda tercinta La Ode Pauddin dan Ibunda Wa Maa yang
tanpa kenal lelah memberikan motivasi dan dorongan kepada penulis,
serta pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih
kepada :
1. Bapak Drs. H. Andi Iwan Darmawan Aras, SE., selaku Ketua
Yayasan Gema Insan Akademik Makassar.
2. Ibu Hj. Hasniaty, A.G., S.Kp., M.Kep., selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik Makassar.

vii

3. Bapak Akbar Harisa, S.Kep., Ns., PMNC., MN., selaku pembimbing


I dalam penelitian ini yang telah memberikan dukungan dan
sumbangsih pikiran dalam mengarahkan penulis sehingga penulis
selesai menyelesaikan skripsi ini.
4. Ibu Yanti Mustarin, S.Kep., Ns., selaku pembimbing II dalam
penelitian ini yang telah memberikan dukungan dan sumbangsih
pikiran dalam mengarahkan penulis sehingga selesainya skripsi
ini.
5. Seluruh Pengelolah dan Staf Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Gema Insan Akademik Makassar.
6. Seluruh Kawan-kawan mahasiswa STIK GIA terutama angkatan
2010 serta para sahabat seperjuangan yang tak bisa penulis
sebutkan satu-persatu.
Dengan segala kerendahan hati dan senantiasa mengharapkan
ridha-Nya

karena

kepada-Nya

jugalah

tempat

kembalinya

segala

sesuatu, penulis terbuka bagi saran dan kritikan yang konstruktif


demi perbaikan kearah yang lebih baik. Amin.
Akhirnya

penulis

memohon

kepada

sang

maha

pengasih

( Ar Rahman ) semoga apa yang kita peroleh dapat bernilai ibadah


di sisi-Nya, Amin. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Makassar, 13 September 2014
Penulis

La Ode Fardiansyah
( 2110045 )
viii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ..............................................................................

HALAMAN PENUNJUK SKRIPSI ......................................................

ii

LEMBAR PERSETUJUAN ..................................................................

iii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................

iv

ABSTRAK ............................................................................................

ABSTRACT ..........................................................................................

vi

KATA PENGANTAR ...........................................................................

vii

DAFTAR ISI ........................................................................................

ix

DAFTAR TABEL .................................................................................

xi

DAFTAR GAMBAR .............................................................................

xii

DAFTAR LAMPIRAN ..........................................................................

xiii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................

A. Latar Belakang...............................................................

B. Rumusan Masalah .........................................................

C. Tujuan Penelitian ...........................................................

D. Manfaat Penelitian .........................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................

A. Tinjauan Umum tentang Stres ....................................

B. Tinjauan Umum tentang Menstruasi ............................

18

C. Tinjauan Umum tentang Remaja .................................

29

D. Tinjauan Khusus tentang Hubungan Tingkat Stres


dengan Perubahan Siklus Menstruasi .........................
ix

39

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ...............................................

43

A. Kerangka Konseptual.....................................................

43

Definisi Operasional .......................................................

44

C. Rancangan Penelitian ....................................................

44

D.

Waktu dan Tempat Penelitian ......................................

45

E.

Populasi dan Sampel ....................................................

45

F. Alat dan Bahan Penelitian............................................

48

G. Prosedur Pengumpulan Data........................................

49

H. Pengolahan Data dan Analisa Data ............................

50

I.

Etika Penelitian ..............................................................

51

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...............................................

53

A. Hasil Penelitian ..............................................................

53

B. Pembahasan...................................................................

56

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................

60

A. Kesimpulan .....................................................................

60

B. Saran ..............................................................................

61

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................

63

LAMPIRAN...........................................................................................

65

B.

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

Tabel 3.1 : Definisi Operasional ........................................................

44

Tabel 4.1 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Umur


Di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi ............

54

Tabel 4.2 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Kelas


Di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi ..............

54

Tabel 4.3 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat


Stres Di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

55

Tabel 4.4 : Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Siklus


Menstruasi Di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten
Wakatobi ..........................................................................

xi

56

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

Gambar 2.1 : Kerangka Teori ............................................................

42

Gambar 3.1 : Kerangka Konseptual...................................................

43

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

Lampiran 1 : Lembar Permohonan Menjadi Responden ................

65

Lampiran 2 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden ..................

66

Lampiran 3 : Lembar Kuisioner ........................................................

67

Lampiran 4 : Master Tabel ...............................................................

70

Lampiran 5 : Hasil Olah Data Penelitian ........................................

73

Lampiran 6 : Time Schedule ............................................................

77

xiii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di

Indonesia

memprihatinkan

masalah

karena

kesehatan

penyebaran

reproduksi

penduduk

yang

masih
belum

merata tingkat sosial ekonomi dan pendidikan belum memadai


serta tingkat kesehatan belum terjangkau. Pada umumnya sebagian
perempuan mengalami ketidaknyamanan yang dirasakan sebelum
menstruasi

dengan

gejala

bervariasi,

sehingga

mampu

mengganggu aktivitas sehari-hari.12


Penelitian yang dilakukan oleh Pelayanan Kesehatan Peduli
Remaja

(PKPR)

dibawah

naungan

World Health Organization

(WHO) tahun 2005 menyebutkan bahwa permasalahan remaja di


Indonesia

adalah

seputar

permasalahan

mengenai

gangguan

menstruasi (38,45%), masalah gizi yang berhubungan dengan


anemia (20,3%), gangguan belajar (19,7%), gangguan psikologis
(0,7%), serta masalah berat badan (0,5%).12
Menurut

Riset

persentase

remaja

di Provinsi

Sulawesi

Kesehatan
putri

yang

Tenggara

Dasar
berusia

(Riskesdas)
antara

mengalami

2010

1519

tahun

perubahan

siklus

menstruasi yang tidak teratur yaitu sebanyak 8,7 %. Alasan


perubahan siklus menstruasi yang tidak teratur pada perempuan
usia 1519 tahun di Sulawesi Tenggara adalah 0,5 % karena

sakit, 4,6 % karena masalah hormonal, 2,3 % karena masalah


berat badan, 6,9 % karena faktor stres, 11,3 % lain-lain, dan
15,7 % tidak mengetahui alasannya.11
Remaja pada umunya mengalami pencarian jati diri atau
keutuhan

diri, itu

suatu

masalah

utama

karena

adanya

perubahan-perubahan sosial, fisiologi dan psikologis didalam diri


mereka maupun

ditengah

masyarakat

tempat

mereka

hidup.

Remaja seringkali sulit mengatasi masalah mereka. Ada dua


alasan hal itu terjadi, yaitu : pertama ; ketika masih anak-anak,
seluruh masalah mereka selalu diatasi oleh orang-orang dewasa.
Hal inilah yang membuat remaja tidak mempunyai pengalaman
dalam menghadapi masalah. Kedua ; karena remaja merasa
dirinya

telah

mandiri,

maka

mereka

mempunyai gengsi

dan

menolak bantuan dari orang dewasa.9


Salah satu yang terjadi pada seseorang yang mengalami
gangguan reproduksi berkaitan dengan peristiwa menstruasi, yang
ditentukan oleh proses somato-psikik, yang sifatnya kompleks
yang meliputi hormonal, psikososial, dan salah satunya siklus
menstruasi dan sering disertai dengan gangguan fisik dan mental
yang bisa menyebabkan salah satunya yaitu pikiran, adanya
kecemasan dan stres.1

Berdasarkan

data

dari

pengambilan

data

awal

yang

dilakukan pada tanggal 12 Mei 2014 didapatkan data jumlah


siswi di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi pada tahun
ajaran 2013/2014 sebanyak 603 orang siswi dengan rincian
sebagai berikut ; Kelas X dengan jumlah siswi sebanyak 217
orang siswi dan terbagi menjadi sebelas kelas. Kemudian pada
kelas XI terdapat 205 orang siswi yang terbagi menjadi dua
jurusan yaitu jurusan PIA dan jurusan PIS. Sedangkan pada
kelas XII adalah sebanyak 181 orang siswi yang terbagi atas
dua jurusan yaitu jurusan PIA dan PIS.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan tersebut diatas,
maka peneliti

tertarik

untuk

melakukan

penelitian

tentang

Gambaran tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi


Sekolah

Menengah

Atas

Negeri

Wangi-Wangi

Kabupaten

Wakatobi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut diatas,


maka

peneliti

Bagaimanakah

dapat

merumuskan

Gambaran

Tingkat

masalah
Stres

penelitian
dengan

yaitu
Siklus

Menstruasi pada Siswi di Sekolah Menengah Atas Negeri 1


Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Diketahuinya

gambaran

tingkat

stres

dengan

siklus

menstruasi pada siswi di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten


Wakatobi.
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya gambaran tingkat stres yang dialami oleh
siswi di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.
b. Diketahuinya

gambaran

siklus

menstruasi

pada

siswi

di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Bagi Institusi


Sebagai

bahan

masukan

bagi

institusi

akademik

di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Gema Insan Akademik


Makassar

untuk

perpustakaan

sebagai

bagi

bahan

referensi,

mahasiswa-mahasiswi

administrasi
dilingkungan

akademik.
2. Bagi Responden
Sebagai bahan informasi bagi siswi SMA

Negeri 1

Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi untuk memahami tentang


hubungan tingkat stres dengan perubahan siklus menstruasi.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Sebagai

bahan

informasi

dan

bahan

masukan

bagi

peneliti selanjutnya khususnya bagi program studi keperawatan


yang berhubungan dengan penelitian tentang tingkat stres
dengan perubahan siklus menstruasi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum tentang Stres

1. Definisi Stres
Stres adalah suatu reaksi tubuh yang dipaksa, dimana ia
boleh

mengganggu

equilibrium

(homeostasis)

fisiologi

normal.16
Stres adalah reaksi atau respons tubuh terhadap stresor
psikososial (tekanan mental atau beban kehidupan).4
Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan
distres

dan

menciptakan

tuntutan

fisik

dan

psikis

pada

seseorang. 22
Jadi stres adalah suatu keadaan yang bersifat internal,
yang

bisa

disebabkan

oleh

tuntutan

fisik

(badan),

atau

lingkungan, dan situasi sosial, yang berpotensi merusak dan


tidak terkontrol.18
Stres
adaptasi
yang

membutuhkan
umum

terjadi

koping

dan

menggambarkan

stres

pada

tubuh

adaptasi.
sebagai

tanpa mempedulikan

Sindrom
kerusakan
apakah

penyebab stres tersebut positif atau negatif. Respon tubuh


dapat diprediksi tanpa memperhatikan stresor atau penyebab
tertentu.22

Stres

remaja

ini digunakan

secara

bergantian

untuk

menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan


yang tidak disukai berupa respon fisiologis, perilaku, dan
subjektif

terhadap

stres,

konteks

yang

menjembatani

pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat


stres, semua sebagai suatu sistem.4
2. Jenis-Jenis Stres
Stres terbagi atas dua jenis, yaitu eustres dan distres.
Eustres, yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat
sehat,

positif,

dan

konstruktif

(bersifat

membangun). Hal

tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi


yang

diasosiasikan

dengan

pertumbuhan,

fleksibilitas,

kemampuan adaptasi, dan tingkat performance yang tinggi.


Ini adalah semua bentuk stres yang mendorong tubuh untuk
beradaptasi dan meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi.
Ketika tubuh mampu menggunakan stres yang dialami untuk
membantu

melewati

performa,

stres

sebuah

tersebut

hambatan
bersifat

dan

positif,

meningkatkan
sehat,

dan

menantang.22
Di sisi lain distres, yaitu hasil dari respon terhadap stres
yang bersifat tidak sehat, negatif, dan destruktif (bersifat
merusak).
terhadap

Hal

tersebut

penyakit

(absenteeism)

yang

termasuk

konsekuensi

sistemik

dan

tingkat

tinggi,

yang

diasosiasikan

individu

ketidakhadiran
dengan

keadaan
semua

sakit,

penurunan,

bentuk

stres

dan

yang

kematian.

melebihi

Distres

kemampuan

adalah
untuk

mengatasinya, membebani tubuh, dan menyebabkan masalah


fisik atau psikologis. Ketika seseorang mengalami distres,
orang tersebut akan cenderung bereaksi secara berlebihan,
bingung, dan tidak dapat berperforma secara maksimal.22
3. Sumber Stres (Stresor)
Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya
dan

menghasilkan

reaksi

stres,

misalnya

jumlah

semua

respon fisiologis nonspesifik yang menyebabkan kerusakan


dalam sistem biologis. Stress reaction acute (reaksi stres akut)
adalah

gangguan

sementara

yang

muncul

pada

seorang

individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas,


terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat,
biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. Kerentanan
dan

kemampuan

koping

seseorang

memainkan

perenan

dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya.4


Jenis stresor meliputi fisik, psikologis, dan sosial. Stresor
fisik berasal dari luar diri individu, seperti suara, polusi,
radiasi, suhu udara, makanan, zat kimia, trauma, dan latihan
fisik yang terpaksa.16 Pada stresor psikologis tekanan dari
dalam

diri

individu

biasanya

yang bersifat

negatif

seperti

frustasi, kecemasan (anxiety), rasa bersalah, kuatir berlebihan,


marah, benci, sedih, cemburu, rasa kasihan pada diri sendiri,

serta rasa rendah diri, sedangkan stresor sosial yaitu tekanan


dari

luar

disebabkan

oleh

interaksi

individu

dengan

lingkungannya. Banyak stresor sosial yang bersifat traumatic


yang tak dapat dihindari, seperti kehilangan orang yang
dicintai, kehilangan pekerjaan, pensiun, perceraian, masalah
keuangan, pindah rumah dan lain-lain.4
4. Gejala Stres
Berikut

ini

kecemasan,

adalah gejala-gejala

ketegangan,

psikologis

kebingungan

stres :

dan

mudah

tersinggung, perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam


(kebencian), sensitif dan hyperreactivity, memendam perasaan,
penarikan

diri,

depresi,

komunikasi

yang

tidak

efektif,

perasaan terkucil dan terasing, kebosanan dan ketidakpuasan


kerja, kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan
kehilangan konsentrasi, kehilangan spontanitas dan kreativitas
serta menurunnya rasa percaya diri.4
Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres adalah :
meningkatnya
kecenderungan

denyut

jantung,

mengalami

tekanan
penyakit

darah,

dan

kardiovaskular,

meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh : adrenalin


dan

nonadrenalin),

gangguan

gastrointestinal

(misalnya

gangguan lambung), meningkatnya frekuensi dari luka fisik


dan kecelakaan, kelelahan secara fisik dan kemungkinan
mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue

10

syndrome), gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari


kondisi yang ada, gangguan pada kulit, sakit kepala, sakit
pada punggung bagian bawah, ketegangan otot, gangguan
tidur, rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk resiko tinggi
kemungkinan terkena kanker.1
Gejala-gejala

perilaku

menghindari

pekerjaan,

menurunnya

prestasi

dari
dan

stres

adalah:

menunda,

absen

dari

pekerjaan,

(performance)

dan

produktivitas,

meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan,


perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan), mengarah
ke obesitas, perilaku makan yang tidak normal (kekurangan)
sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan
secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tandatanda

depresi,

meningkatnya

kecenderungan

berperilaku

beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan


berjudi,

meningkatnya

kriminalitas,
dengan

agresivitas,

menurunnya

keluarga

dan

kualitas

teman

vandalisme,

hubungan

serta

dan

interpersonal

kecenderungan

untuk

melakukan bunuh diri.22


Pengalaman stres sangat individual. Stres yang luar
biasa untuk satu orang tidak semestinya dianggap sebagai
stres oleh yang lain. Demikian pula, gejala dan tanda-tanda
stres akan berbeda pada setiap individu.22

11

5. Tahapan Stres
Sriati mengatakan bahwa Amberg dalam penelitiannya
membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut :18
a. Stres Tahap I
Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling
ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan
sebagai berikut:
1) Semangat bekerja besar, berlebihan (over acting) .
2) Penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya.
3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari
biasanya,

namun

tanpa

disadari cadangan energi

semakin menipis.
b. Stres Tahap II
Dalam tahapan ini dampak/respon terhadap stresor
yang semula menyenangkan sebagaimana diuraikan pada
tahap I diatas mulai menghilang dan timbul keluhankeluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang
tidak lagi cukup sepanjang hari, karena tidak cukup waktu
untuk

beristirahat.

Istirahat

yang dimaksud

antara

lain

dengan tidur yang cukup, bermanfaat untuk mengisi atau


memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit.

12

Keluhan-keluhan
seseorang

yang

yang

berada

sering

pada

dikemukakan

stres

tahap

II

oleh
adalah

sebagai berikut:
1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya
merasa segar.
2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang.
3) Lekas merasa lelah menjelang sore hari.
4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel
discomfort).
5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebardebar).
6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang.
7) Tidak bisa santai.
c. Stres Tahap III
Apabila

seseorang

tetap

memaksakan

diri

dalam

pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada


stres tahap II, maka akan menunjukkan keluhan-keluhan
yang semakin nyata dan mengganggu, yaitu :
1) Gangguan

lambung

dan

usus

semakin

nyata;

misalnya keluhan maag, buang air besar tidak teratur


(diare).
2) Ketegangan otot-otot semakin terasa.
3) Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional
semakin meningkat.

13

4) Gangguan pola tidur (insomnia), misalnya sukar untuk


mulai

masuk

tengah

tidur (early

malam

dan

insomnia) atau

sukar

kembali

terbangun

tidur

(middle

insomnia) atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan


tidak dapat kembali tidur (late insomnia).
5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa akan jatuh
dan

serasa

seseorang

mau

sudah

pingsan).
harus

Pada

berkonsultasi

tahapan
pada

ini

dokter

untuk memperoleh terapi, atau bisa juga beban stres


hendaknya

dikurangi

dan

tubuh

memperoleh

kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai


energi yang mengalami defisit.
d. Stres Tahap IV
Gejala stres tahap IV, akan muncul :
1) Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa
amat sulit.
2) Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan
mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa
lebih sulit.
3) Yang

semula

kehilangan

tanggap

kemampuan

terhadap
untuk

situasi

merespons

menjadi
secara

memadai (adequate).
4) Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin
sehari-hari.

14

5) Gangguan
yang

pola

tidur

disertai

menegangkan.

dengan

Seringkali

mimpi-mimpi

menolak

ajakan

(negativism) karena tiada semangat dan kegairahan.


6) Daya konsentrasi daya ingat menurun.
7) Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak
dapat dijelaskan apa penyebabnya.
e. Stres Tahap V
Bila keadaan berlanjut, maka seseorang itu akan
jatuh dalam stres tahap V, yang ditandai dengan hal-hal
sebagai berikut :
1) Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam
(physical dan psychological exhaustion).
2) Ketidakmampuan

untuk

menyelesaikan

pekerjaan

sehari-hari yang ringan dan sederhana.


3) Gangguan

sistem

pencernaan

semakin

berat

(gastrointestinal disorder) .
4) Timbul perasaan ketakutan, kecemasan yang semakin
meningkat, mudah bingung dan panik.
f.

Stres Tahap VI
Tahapan ini merupakan tahapan klimaks, seseorang
mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan
takut mati. Tidak jarang orang yang mengalami stres
tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat
bahkan

ICCU,

meskipun

pada

akhirnya

dipulangkan

15

karena

tidak

ditemukan

kelainan

fisik

organ

tubuh.

Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut :


1) Debaran jantung teramat keras.
2) Susah bernapas (sesak dan megap-megap).
3) Sekujur badan terasa gemetar, dingin dan keringat
bercucuran.
4) Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan.
5) Pingsan

atau kolaps

(collapse). Bila

dikaji

maka

keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan diatas


lebih

didominasi

disebabkan
tubuh,

oleh

sebagai

oleh

keluhan-keluhan

fisik

yang

faal

(fungsional)

organ

stresor

psikososial

yang

gangguan
akibat

melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya.18


6. Respon Terhadap Stresor
a. Respon Fisiologis
Situasi
selanjutnya

stres

mengaktivasi

mengendalikan

dua

hipotalamus
sistem

yang

neuroendokrin,

yaitu sistem simpatis dan sistem korteks adrenal. Sistem


saraf

simpatik

berespons

terhadap

impuls

saraf

dari

hipotalamus yaitu mengaktivasi berbagai organ dan otot


polos yang berada dibawah pengendaliannya.18
Sebagai contohnya, stres meningkatkan kecepatan
denyut

jantung

dan

mendilatasi

pupil.

Sistem

saraf

simpatis juga memberi sinyal ke medulla adrenal. Untuk

16

melepaskan epinefrin dan norepinefrin ke aliran darah.


Sistem

korteks

adrenal

diaktivasi

jika

hipotalamus

mensekresikan CRF (corticotropin releasing factor), suatu


zat

kimia

yang

bekerja

pada

kelenjar

hipofisis

yang

terletak tepat dibawah hipotalamus.18


Kelenjar hipofisis selanjutnya mensekresikan hormon
ACTH (adrenocorticotropic hormone), yang dibawa melalui
aliran darah ke korteks adrenal. Dimana, ia menstimulasi
pelepasan sekelompok hormon, termasuk kortisol yang
meregulasi kadar gula darah. ACTH juga memberi sinyal
ke kelenjarendokrin lain untuk melepaskan sekitar 30
hormon. Efek

kombinasi berbagai hormon

stres

yang

dibawa melalui aliran darah ditambah aktivitas neural


cabang

simpatik

dari

sistem

saraf

otonomik

yang

mengalami

stres

berperan dalam respons fight or flight.4


Secara

umum

orang

yang

mengalami sejumlah gangguan fisik seperti : 20


1) Gangguan pada organ tubuh menjadi hiperaktif dalam
salah

satu

sistem

tertentu.

Contohnya :

muscle

myopathy pada otot tertentu mengencang/melemah,


tekanan darah naik terjadi kerusakan jantung dan
arteri, sistem pencernaan terjadi maag dan diare.
2) Gangguan

pada

sistem

reproduksi.

Seperti:

amenorhea/tertahannya menstruasi, kegagalan ovulasi

17

pada

wanita,

impoten

pada

pria,

kurang produksi

semen pada pria, kehilangan gairah seks.


3) Gangguan

pada

sistem

pernafasan :

asma

dan

bronchitis.
4) Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang
otot, jerawat, dst.20
b. Respon Psikologik
1) Keletihan emosi,
kecemasan,

jenuh, mudah menangis,

rasa

bersalah,

khawatir

frustasi,

berlebihan,

marah, benci, sedih, cemburu, rasa kasihan pada diri


sendiri serta rasa rendah diri.
2) Terjadi

depersonalisasi

dalam

keadaan

stres

berkepanjangan, seiring dengan keletihan emosi, ada


kecenderungan

yang

bersangkutan

memperlakukan

orang lain sebagai sesuatu ketimbang seseorang


3) Pencapaian

pribadi

yang

bersangkutan

menurun,

sehingga berakibat pula menurunnya rasa kompeten


dan rasa sukses.20
c. Respon Perilaku
1) Manakala

stres

menjadi

distres,

prestasi

belajar

menurun dan sering terjadi tingkah laku yang tidak


diterima oleh masyarakat.

18

2) Level stres yang cukup tinggi berdampak negatif pada


kemampuan

mengingat

informasi,

mengambil

keputusan, mengambil langkah tepat.


3) Siswa

yang

over-stressed

(stres

berat)

seringkali

banyak membolos atau tidak aktif mengikuti kegiatan


pembelajaran.20

B. Tinjauan Umum tentang Menstruasi

1. Definisi Menstruasi
Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik
dari uterus yang disertai dengan pelepasan (deskuamasi)
endometrium.24
Menstruasi

adalah

penumpahan

lapisan

uterus

yang

terjadi setiap bulan berupa darah dan jaringan, yang dimulai


pada

masa

memproduksi

pubertas,
cukup

ketika

hormon

seorang
tertentu

perempuan

(kurir

kimiawi

mulai
yang

dibawa didalam aliran darah) yang menyebabkan mulainya


aliran darah ini.2
Menstruasi adalah puncak dari serangkaian perubahan
yang

terjadi

karena

adanya

serangkaian

interaksi

antara

beberapa kelenjer didalam tubuh.7


2. Dinamika Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi merupakan waktu sejak hari pertama
menstruasi sampai datangnya menstruasi periode berikutnya.

19

Sedangkan panjang siklus menstruasi adalah jarak antara


tanggal

mulainya

menstruasi

yang

lalu

dan

mulainya

menstruasi berikutnya. Hari mulainya perdarahan dinamakan


hari pertama siklus. Karena jam mulainya menstruasi tidak
diperhitungkan dan tepatnya waktu keluar menstruasi dari
ostium uteri eksternum tidak dapat diketahui, maka panjang
siklus mengandung kesalahan 1 hari. Dalam satu siklus
terjadi perubahan pada dinding rahim sebagai akibat dari
produksi hormon-hormon oleh ovarium, yaitu dinding rahim
makin menebal sebagai persiapan jika terjadi kehamilan.24
Siklus menstruasi perempuan normal berkisar antara 2135 hari dan hanya 10-15 persen perempuan yang memiliki
siklus menstruasi 28 hari. Panjangnya siklus menstruasi ini
dipengaruhi oleh usia seseorang. Rata-rata panjang siklus
menstruasi

gadis

usia

12

tahun

ialah

25,1

hari,

pada

perempuan usia 43 tahun 27,1 hari, dan pada perempuan


usia

55

tahun

51,9

hari.

Setiap

bulannya,

menstruasi

berlangsung sekitar 3-7 hari. Setelah hari kelima dari siklus


menstruasi, endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai
persiapan terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Pada
sekitar hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan, endometrium
meluruh dan terjadilah siklus berikutnya.24
Lama keluarnya darah menstruasi juga bervariasi, pada
umumnya lamanya 4 sampai 6 hari, tetapi antara 2 sampai

20

8 hari masih dapat dianggap normal. Pengeluaran darah


menstruasi

terdiri

dari

fragmen-fragmen

kelupasan

endrometrium yang bercampur dengan darah yang banyaknya


tidak tentu. Biasanya darahnya cair, tetapi apabila kecepatan
aliran

darahnya

terlalu

sangat

mungkin

ukuran

menstruasi

yang

besar,

biasa

bekuan

ditemukan.
ini

dengan

berbagai

Ketidakbekuan

disebabkan

oleh

darah

suatu sistem

fibrinolitik lokal yang aktif didalam endometrium.10


Rata-rata banyaknya darah yang hilang pada wanita
normal selama satu periode menstruasi telah ditentukan oleh
beberapa kelompok peneliti, yaitu 25-60 ml. Konsentrasi Hb
normal 14 gr per dl dan kandungan besi Hb 3,4 mg per g,
volume

darah

ini

mengandung

12-29

mg

besi

dan

menggambarkan kehilangan darah yang sama dengan 0,4


sampai 1,0 mg besi untuk setiap hari siklus tersebut atau
150 sampai 400 mg pertahunnya.2
3. Fase Siklus Menstruasi
Pada awalnya, siklus mungkin tidak teratur, jarak antara
2 siklus bisa berlangsung selama 2 bulan atau dalam 1
bulan mungkin terjadi 2 siklus. Hal ini adalah normal, setelah
beberapa lama siklus akan menjadi lebih teratur. Siklus dan
lamanya menstruasi bisa diketahui dengan membuat catatan
pada

kalender.

tandailah

siklus

Dengan
Anda

menggunakan

setiap

kalender

tersebut,

bulannya. Setelah

beberapa

21

bulan, Anda bisa mengetahui pola siklus Anda dan hal ini
akan membantu

Anda

dalam

memperkirakan

siklus

yang

akan datang. Tandai setiap hari ke-1 dengan tanda silang,


lalu hitung sampai tanda silang berikutnya dengan demikian
Anda dapat mengetahui siklus Anda.23
Setiap bulan, setelah hari ke-5 dari siklus menstruasi,
endometrium mulai tumbuh dan menebal sebagai persiapan
terhadap kemungkinan terjadinya kehamilan. Sekitar hari ke14, terjadi pelepasan telur dari ovarium (ovulasi). Sel telur ini
masuk ke dalam salah satu tuba falopi dan didalam tuba
bisa terjadi pembuahan oleh sperma. Jika terjadi pembuahan,
sel telur akan masuk ke dalam rahim dan mulai tumbuh
menjadi janin.24
Pada hari ke-28, jika tidak terjadi pembuahan maka
endometrium akan dilepaskan dan terjadi perdarahan (siklus
menstruasi). Siklus ini berlangsung selama 3 5 hari kadang
sampai

hari.

Proses

pertumbuhan

dan

penebalan

endometrium kemudian dimulai lagi pada siklus ovarium.24


Menurut

Wiknjosastro,

siklus menstruasi

dibedakan

menjadi 4 fase, yaitu : 24


a. Fase Menstruasi atau Dekuamasi
Dalam fase ini endometrium dilepaskan dari dinding
uterus disertai perdarahan hanya stratum basale yang
tinggal utuh. Darah menstruasi mengandung darah vena

22

dan arteri dangan sel-sel darah merah dalam hemolisis


atau aglutinasi, sel-sel epitel dan struma yang mengalami
disintegrasi dan otolisis, dan sekret dari uterus, cervik,
dan kelenjar-kelenjar vulva. Fase ini berlangsung 3 4
hari.
b. Fase Pasca Menstruasi atau Fase Regenerasi
Luka
sebagian

endometrium
besar

yang

terjadi

berangsur-angsur

akibat

sembuh

pelepasan

dan

ditutup

kembali oleh selaput lendir yang tumbuh dari sel-sel


endometrium. Fase ini telah mulai sejak fase menstruasi
dan berlangsung kurang lebih 4 hari.
c. Fase Proliferasi
Dalam fase ini endometrium tumbuh menjadi setebal
3,5 mm. Fase ini berlangsung dari hari ke-5 sampai hari
ke-14 dari siklus menstruasi. Fase Proliferasi dapat dibagi
atas 3 subfase, yaitu : 7
1) Fase Proliferasi Dini (Early Proliferation Phase)
Berlangsung antara hari ke-4 sampai hari ke-7.
Fase ini dapat dikenal dari epitel permukaan yang
tipis

dan

adanya

regenerasi

epitel,

terutama

dari

mulut kelenjar.
2) Fase Proliferasi Madya (Mid Proliferation Phase)
Berlangsung antara hari ke-8 sampai hari ke-10.
Fase ini merupakan bentuk transisi dan dapat dikenal

23

dari

epitel

permukaan

yang

berbentuk

torak

dan

tinggi. Tampak adanya banyak mitosis dengan inti


berbentuk telanjang (nake nukleus).
3) Fase Proliferasi Akhir (Late Proliferation)
Fase ini berlangsung pada hari ke-11 sampai hari
ke-14. Fase ini dapat dikenal dari permukaan kelenjar
yang tidak rata dan dengan banyak mitosis. Inti epitel
kelenjar

membentuk

pseudostratifikasi.

Stoma

bertumbuh aktif dan padat.7


d. Fase Pra Menstruasi atau Fase Sekresi
Fase ini dimulai sesudah ovulasi dan berlangsung
dari hari ke-14 sampai ke-28. Pada fase ini endometrium
tebalnya tetap, bentuk kelenjar berubah menjadi panjang,
berkeluk-keluk, dan mengeluarkan getah yang makin lama
makin nyata. Didalam endometrium

tertimbun

glikogen

dan kapur yang kelak diperlukan sebagai makanan untuk


telur yang dibuahi.24
4. Mekanisme Siklus Menstruasi
Hormon steroid, estrogen, dan progesteron mempengaruhi
pertumbuhan

endometrium.

Dibawah

endometrium

memasuki

fase

ploriferasi

endometrium

memasuki

fase

sekresi

progesteron.

Dengan

menurunnya

pengaruh
sesudah
dibawah

kadar

estrogen
ovulasi,
pengaruh

estrogen

dan

progesteron pada akhir siklus menstruasi, terjadilah regresi

24

endometrium yang kemudian diikuti oleh perdarahan yang


dikenal dengan nama menstruasi.2
Mekanisme

menstruasi

belum

diketahui

seluruhnya,

selain faktor hormonal, maka ada beberapa faktor lain yang


ikut berperan. Faktor-faktor tersebut ialah :23
a. Faktor Enzim
Dalam
tersimpannya

fase

proliferasi,

enzim-enzim

estrogen

hidrolitik

mempengaruhi

tersebut

dilepaskan

dan merusak bagian dari sel-sel yang berperan dalam


sintesis

protein.

metabolisme

Akibatnya

endometrium

terjadi

yang

gangguan

dalam

mengakibatkan

regresi

pembentukan

sistem

endometrium dan perdarahan.


b. Faktor Vaskuler
Fase

proliferasi,

terjadi

vaskularisasi dalam lapisan fungsional endometrium dalam


hal

ini

pertumbuhan

arteri,

vena,

dan

hubungan

diantaranya dengan terjadinya regresi endometrium, maka


timbul

statis

dalam

vena

serta

saluran-saluran

yang

menghubungkannya dengan arteri yang akhirnya terjadi


nekrosis,

perdarahan,

maupun dari vena.

dan

hematom

baik

dari

arteria

25

c. Faktor Prostaglandin
Endometrium

mengandung

banyak

prostaglandin.

Dengan desigentrasi endometrium, prostaglandin terlepas


dan

menyebabkan berkontraksinya

suatu

faktor

untuk

miometrium

membatasi

sebagai

perdarahan

pada

dikontrol

oleh

menstruasi.23
5. Hormon yang Mengontrol Siklus Menstruasi
Pematangan

folikel

dan

ovulasi

hipotalamuspituitary ovarium axis. Hipotalamus mengontrol


siklus, tetapi hipotalamus dapat dipengaruhi oleh stimulus
yang lebih tinggi diotak misalnya kecemasan dan stres dapat
mempengaruhi

siklus

menstruasi.

Hipotalamus

memacu

kelenjar hipofisis dengan mensekresi gonadotroping-releasing


hormon (GnRH).7
Sekresi GnRH melalui pembuluh darah kecil disistem
pembuluh darah portal kelenjar hipofisis ke hipofisis anterior,
gonadotropin

hipofisis

mengatur

sintesis

dan

pelepasan

follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteining hormone (LH).7


Follicle

stimulating

hormone

(FSH)

adalah

hormon

glikoprotein yang memacu pematangan folikel selama fase


folikuler dari siklus menstruasi. FSH juga membantu LH
memacu sekresi hormon steroid, terutama estrogen oleh sel
granulose dari folikel matang. LH juga termasuk glikoprotein,
LH ikut dalam steroidogenosis dalam folikel dan berperan

26

penting dalam ovulasi yang tergantung pada midcicle surge


dari

LH.

Produksi

progesteron

oleh

korpus

luteum

juga

dipengaruhi oleh LH.7


6. Gangguan dalam Siklus Menstruasi
a. Amenorea
Amenorea adalah keadaan tidak adanya menstruasi
sedikitnya

tiga

bulan

berturut-turut.

Amenorea

primer

apabila seorang wanita berumur 18 tahun keatas tidak


pernah

dapat

menstruasi,

sedangkan

pada

amenorea

sekunder penderita pernah mendapat menstruasi tetapi


kemudian tidak dapat lagi. Amenorea primer umumnya
mempunyai sebab-sebab yang lebih berat dan lebih sulit
untuk diketahui, seperti kelainan-kelainan kongenital dan
kelainan-kelainan
lebih

menunjuk

kemudian
gizi,

dalam

gangguan

genetik.

Adanya

kepada

amenorea

sebab-sebab

kehidupan

wanita,

metabolisme,

yang

seperti

tumor,

sekunder
timbul

gangguan

penyakit

infeksi,

dan lain-lain. 23
b. Polimenorea atau Epimenoragia
Polimenorea

adalah

siklus

haid

yang

lebih

memendek dari biasa yaitu kurang 21 hari, sedangkan


jumlah perdarahan relatif sama atau lebih banyak dari
biasa.

Polimenorea

merupakan

gangguan

hormonal

dengan umur korpus luteum memendek sehingga siklus

27

menstruasi juga lebih pendek atau bisa disebabkan akibat


stadium proliferasi pendek atau stadium sekresi pendek
atau karena keduanya. 23
c. Oligomenorea
Oligomenore

merupakan

suatu

keadaan

dimana

siklus haid memanjang lebih dari 35 hari, sedangkan


jumlah perdarahan tetap sama. Wanita yang mengalami
oligomenorea akan mengalami haid yang lebih jarang dari
pada

biasanya.

Namun,

jika

berhentinya

siklus

haid

berlangsung lebih dari 3 bulan, maka kondisi tersebut


dikenal sebagai amenorea sekunder.23
Oligomenorea
gangguan

biasanya

keseimbangan

terjadi

akibat

hormonal

pada

adanya
aksis

hipotalamus-hipofisis-ovarium. Gangguan hormone tersebut


menyebabkan

lamanya

siklus

haid

normal

menjadi

memanjang, sehingga haid menjadi lebih jarang terjadi.


Oligomenorea

sering

terjadi

pada

3-5

tahun

pertama

setelah haid pertama ataupun beberapa tahun menjelang


terjadinya menopause. Oligomenorea yang terjadi pada
masa-masa itu merupakan variasi normal yang terjadi
karena

kurang

baiknya

koordinasi

antara

hipotalamus,

hipofisis dan ovarium pada awal terjadinya haid pertama


dan menjelang terjadinya menopause, sehingga timbul
gangguan keseimbangan hormon dalam tubuh.23

28

7. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Siklus Menstruasi


Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

siklus

menstruasi

adalah sebagai berikut :13


a. Ketidakseimbangan Hormon
Menstruasi iregular dapat disebabkan terlalu banyak
atau

sedikit

hormon,

yang

dapat

disebabkan

oleh

masalah tiroid, sindrom polikistik ovarium, obat-obatan,


premenopause, sakit, gaya hidup, olah raga berlebihan,
dan stres.
b. Stres
Beban pikiran sangat berpengaruh terhadap kondisi
tubuh, termasuk periode menstruasi. Kondisi pikiran yang
tidak

stabil

mengeluarkan
progesteron
releasing

dapat

menyebabkan

kortisol. Hal
dan

ini

berefek

menurunkan

hormone

kelenjar

(GnRH)

pada

adrenal
estrogen,

produksi

gonadotropin-

sehingga

menghambat

terjadinya ovulasi atau menstruasi.


c. Penyakit
Siklus menstruasi yang tidak teratur dalam waktu
lama

merupakan

tanda-tanda

adanya

penyakit

pada

saluran reproduksi. Misalnya, fibroid, kistas, endometriosis,


polip,

sindrom polikistik ovarium, infeksi pada saluran

reproduksi maupun kelainan genetik.

29

d. Perubahan Rutinitas
Perubahan rutinitas dalam hidup dapat berpengaruh
pada kondisi fisik. Misalnya, mereka yang harus berganti
jam kerja dari pagi menjadi malam. Hal ini biasa terjadi
hingga tubuh menyesuaikan dengan siklus atau rutinitas
baru.
e. Berat Badan
Berat

badan

dan

perubahan

berat badan

mempengaruhi fungsi menstruasi. Penurunan berat badan


akut dan sedang

menyebabkan gangguan pada fungsi

ovarium, tergantung derajat tekanan pada ovarium dan


lamanya penurunan berat badan. Kondisi patologis seperti
berat badan yang kurang/kurus dan anorexia nervosa
yang menyebabkan penurunan berat badan yang berat
dapat menimbulkan amenorrhea.13

C. Tinjauan Umum tentang Remaja

1. Definisi Remaja
Remaja
berarti

berasal

tumbuh

adolescence

dari

atau

mempunyai

kata

tumbuh
arti

latin

adolescence

menjadi

yang

lebih

dewasa.
luas

lagi

yang
Istilah
yang

mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.3


Sarwono (2006) mengemukakan definisi remaja yang
dikemukakan oleh World Health Organization (WHO) pada

30

1974,

disebutkan

bahwa

remaja

adalah

individu

yang

berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tandatanda

seksual

sekundernya

sampai

saat

ia

mencapai

kematangan seksual, individu yang mengalami perkembangan


psikologis

dan

dewasa,

dan

pola

identifikasi

individu

yang

dari

kanak-kanak

mengalami

menuju

peralihan

dari

ketergantungan sosial ekonomi menjadi suatu kemandirian.16


Sedangkan menurut Papalia, Old, dan Feldman (2008)
mengemukakan

bahwa remaja

adalah

merupakan

masa

transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa


dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13
tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal
dua puluhan tahun.6
2. Dinamika Masa Remaja
Masa

remaja

perkembangan

merupakan

manusia.

salah

Masa

ini

satu

periode

merupakan

dari
masa

perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa


dewasa

yang

meliputi

perubahan

biologik,

perubahan

sistem

reproduksi

psikologik, dan perubahan sosial.9


Pubertas

adalah

mengalami

kematangan

pleriminari

selama

satu

saat

dimana

pubertas
tahun

ditandai
atau

dengan

lebih

dan

periode
disebut

prepubertas, ketika karateristik seks sekunder mulai muncul.


Pada saat ini kelenjar endokrin, terutama kelenjar pituitary

31

dan gonad, mulai memproduksi hormon-hormonnya dalam


jumlah yang lebih besar. Bahan-bahan kimia yang sangat
kuat ini disebarkan ke setiap bagian tubuh melalui aliran
darah,

menyebabkan

perubahan

dalam

bentuk

tubuh,

kecepatan pertumbuhan, perkembangan organ-organ tubuh.


Perubahan-perubahan

khusus

pada

anak

perempuan

adalah perubahan puting susu, dan payudara, pertumbuhan


rambut

pubis

dan

aksila,

pinggul

dan

pelvis

melebar,

menarke (awal menstruasi), dan ovulasi mengikuti menarke 6


sampai

12

perempuan

bulan.

Baik

mengalami

pada

anak

perubahan

kulit.

laki-laki

maupun

Kelenjar

minyak

menjadi lebih aktif, yang menyebabkan jerawat dan bintik


hitam. Kelenjar keringat menghasilkan keringat lebih banyak
yang menyebabkan bau badan. Pembuluh-pembuluh darah
kulit

berdilatasi

sebagai

respon

terhadap

rangsangan

emosional, yang menyebabkan blusing (kemerahan).14


Disamping

perubahan-perubahan

fisik

pada

pubertas,

remaja harus mengatasi masalah-masalah psikososial yang


berat, termasuk harus tanggap terhadap jenis kelamin yang
berlawanan, kesadaran diri yang berlebihan, dan tumbuhnya
kebutuhan

akan

kemandirian.

Dorongan-dorongan

ini

menyebabkan konflik dengan nilai-nilai yang harus mereka


terima dari orang tua mereka, dan mereka mungkin merasa
bingung serta ketakutan. Dalam situasi ini yang sehat dan

32

dengan

berjalannya

waktu,

pengalaman,

konflik-konflik

tersebut teratasi, dan dicapai masa dewasa.14


3. Tahap-Tahap Perkembangan Remaja
Dalam proses penyesuaian diri menuju kedewasaan, ada
3 tahap perkembangan remaja, yaitu :16
a. Remaja Awal (Early Adolescent)
Seorang remaja pada tahap ini masih terheran-heran
akan perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuhnya
sendiri

dan

dorongan-dorongan

perubahan-perubahan

itu.

yang

Mereka

menyertai

mengembangkan

pikiran-pikiran baru, cepat tertarik pada lawan jenis, dan


mudah terangsang secara erotis. Kepekaan yang berlebihlebihan

ini

ditambah

dengan

berkurangnya

kendali

terhadap ego menyebabkan para remaja awal ini sulit


dimengerti oleh orang dewasa.
b. Remaja Madya (Middle Adolecent)
Pada tahap ini remaja sangat membutuhkan kawankawan.

Ia

senang

kalau

banyak

teman

yang

mengakuinya. Ada kecenderungan narsistis yaitu mencintai


diri sendiri, dengan menyukai teman-teman yang sama
dengan

dirinya,

selain

itu,

ia

berada

dalam

kondisi

kebingungan karena tidak tahu memilih yang mana peka


atau tidak peduli, ramai-ramai atau sendiri, optimistis atau
pesimistis, idealis atau materialis, dan sebagainya.

33

c. Remaja Akhir (Late Adolecent)


Tahap ini adalah masa konsolidasi menuju periode
dewasa dan ditandai dengan pencapaian akan lima hal,
yaitu :
1) Minat

yang

makin

mantap

terhadap

fungsi-fungsi

intelek.
2) Egonya mencari kesempatan untuk bersatu dengan
orang-orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman
baru.
3) Terbentuk identitas seksual yang tidak akan berubah
lagi,
4) Egosentrisme (terlalu memusatkan perhatian pada diri
sendiri)

diganti

dengan

keseimbangan

antara

kepentingan diri sendiri dengan orang lain.


5) Tumbuh dinding yang memisahkan diri pribadinya
(private self) dan masyarakat umum.16
Berkaitan

dengan

kesehatan

reproduksi

remaja,

kita

sangat perlu untuk mengenal perkembangan remaja serta ciricirinya. Berdasarkan sifat atau ciri perkembangannya, masa
(rentang waktu) remaja ada tiga tahap, yaitu :14
a. Masa Remaja Awal (10-13 tahun)
1) Tampak dan memang merasa lebih dekat dengan
teman sebaya.

34

2) Tampak dan merasa ingin bebas.


3) Tampak dan memang lebih banyak memperhatikan
keadaan tubuhnya dan mulai berpikir khayal (abstrak).
b. Masa Remaja Tengah (14-16 tahun)
1) Tampak dan ingin mencari identitas diri.
2) Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada
lawan jenis.
3) Timbul perasaan cinta yang mendalam.
c. Masa Remaja Akhir (17-19 tahun )
1) Menampakkan pengungkapan kebebasan diri.
2) Dalam mencari teman sebaya lebih selektif.
3) Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap
dirinya.
4) Dapat mewujudkan perasaan cinta.
5) Memiliki ke mampuan berpikir khayal atau abstrak.14
4. Aspek-Aspek Perkembangan pada Masa Remaja
a. Perkembangan Fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah
perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris
dan keterampilan motorik. Perubahan terutama

pada

perkembangan eksternal, sehingga perkembangan internal

35

lebih

menonjol

dibandingkan

dengan

perkembangan

eksternal.3
1) Perubahan Eksternal
a) Tinggi dan Berat Badan.
Penambahan tinggi berat badan remaja putri
rata-rata pada usia 17-18 tahun dan penambahan
tinggi

remaja

putra

kira-kira

pada usia

18-19

tahun. Perubahan berat badan remaja mengikuti


jadwal yang sama dengan tinggi dan terjadi pada
bagian-bagian

tubuh

yang

mengandung

lemak

sedikit atau tidak sama sekali.


b) Organ Seks dan Ciri-Ciri Seks Sekunder.
Perkembangan

seksual

akan

mencapai

ukuran yang matang pada masa remaja akhir.


Namun, fungsinya belum matang hingga beberapa
tahun.

Adapun

perkembangan

ciri-ciri

seks

sekunder akan sempurna matang pada remaja


akhir.
c) Proporsi Tubuh.
Beberapa dari bagian anggota tubuh lambat
laun akan mencapai perbandingan proporsi tubuh
yang

lebih

seimbang,

misalnya

badan

yang

melebar dan memanjang sehingga tidak kelihatan


yang panjang.3

36

2) Perubahan Internal
a) System Pencernaan.
Bentuk

perut

berbentuk pipa.

panjang

Usus

dan

bertambah

tidak

lagi

panjang

dan

besar, otot-otot perut dan dinding usus menjadi


lebih kuat dan tebal. Berat hati akan bertambah
dan kerongkongan semakin memanjang.3
b) System Peredaran dan System Pernafasan.
Ketika

usia

Panjang dan
meningkat

17-18

tebal

tahun

dinding

dan mencapai

tumbuh

pesat.

pembuluh

darah

kematangan

seiring

bertambah matangnya kekuatan jantung. Kapasitas


paru-paru

remaja

perempuan

akan

meningkat

ketika usia 17 tahun dan lebih cepat matang dari


pada remaja pria.
c) System Endokrin dan Jaringan Tubuh.
Ketika
yang

masa

meningkat

remaja

kegiatan

menyebabkan

ketidakseimbangan sementara
system

endokrin.

dari

gonad

terjadinya

dalam

seluruh

Kelenjar-kelenjar

seksual

berkembang pesat dan semakin berfungsi hingga


tahap remaja akhir dan awal dewasa. Sementara,
jaringan otot dan tulang terus berkembang pesat
dan akan berhenti ketika usia 18 tahun.3

37

b. Perubahan Psikologi Masa Remaja


Individu dikatakan sudah memasuki masa remaja
antara usia 16 atau 17 tahun dan berakhir pada usia 21
tahun.

Seorang

berkembang

disebut

kearah

remaja

apabila

kematangan

dia

telah

seksual

dan

memantapkan idetintasnya sebagai individu terpisah dari


keluarga, persiapan diri menghadapi tugas, menentukan
masa depannya, berakhir saat mencapai usia matang
secara hukum.16
c. Perubahan Kemampuan Intelektual
Pesatnya

perkembangan

kemampuan

intelektual

remaja terjadi saat usia 11-15 tahun. Mereka terdorong


memahami
mengorganisasi
kognitif

para

dunia

luar,

idenya.
remaja

mengembangkan

Bukti

pesatnya

ditunjukkan

dan

perkembangan

dengan

perubahan

mental, seperti belajar, daya ingat, menalar, berpikir, dan


bahasa.

Kini

perkembangan

intelektual

dari

remaja

memasuki tahap formal operasional, yaitu tahap berpikir


abstrak, indenpenden, fleksibel, berpikir logis, dan mampu
memprediksi suatu masalah.3
d. Perubahan Emosi
Dampak
mengakibatkan

perubahan
minimnya

emosi

yang

kemampuan

labil

akan

remaja

untuk

menguasai dan mengontrol emosi. Kondisi ini membuat

38

remaja selalu mengalami storm dan stres. Perubahan


emosi remaja merupakan akibat perubahan hormonal dan
terhenti seiring bertambah usia. Remaja dikatakan matang
secara emosi, jika mampu mengontrol emosi, menunggu
dalam mengungkap emosi dengan cara yang lebih dapat
diterima,

kritis

terlebih

dahulu

sebelum bereaksi,

dan

emosi lebih stabil.


e. Perubahan Perilaku Sosial
Pada

kurun

waktu

singkat

remaja

mengalami

perubahan sosial radikal, yaitu perubahan perilaku sosial


dari tidak menyukai lawan jenis menjadi menyukai lawan
jenis. Dampak keterlibatan kegiatan sosial remaja adalah
meningkatkan wawasan sosial, kompentensi sosial, dan
berkurangnya prasangka dan diskriminasi.
f.

Perubahan Minat
Meskipun banyaknya minat selama periode remaja,
namun tidak semua minat harus dimiliki oleh remaja,
karena hal ini sangat tergantung dengan karateristik dan
kebutuhan remaja. Ada beberapa minat tertentu yang
menjadi minat secara umum yaitu minat sosial, rekreasi,
penampilan diri, prestasi, uang, kemandirian, pekerjaan,
pendidikan, agama, simbol status, dan seks.3

39

D. Tinjauan Khusus tentang Hubungan Tingkat Stres dengan


Perubahan Siklus Menstruasi

Stresor
penyakit.
gangguan
sejumlah

diketahui

Salah
pada

merupakan

satunya

menyebabkan

menstruasi.

perubahan

faktor

dalam

etiologi
stres

Kebanyakan
siklus

dari

fisiologis

wanita

menstruasi

banyak
yaitu

mengalami

selama

masa

reproduksi. Dalam pengaruhnya terhadap siklus menstruasi, stres


melibatkan sistem neuro endokrinologi sebagai sistem yang besar
peranannya dalam reproduksi wanita.18
Stres dapat mempengaruhi siklus menstruasi, karena pada
saat stres, hormon stres yaitu hormone kortisol sebagai produk
dari glukokortioid korteks adrenal yang disintesa pada zona
fasikulata

bisa

mengganggu

siklus

menstruasi

karena

mempengaruhi jumlah hormon progesteron dalam tubuh. Jumlah


hormon dalam darah yang terlalu banyak inilah yang dapat
menyebabkan perubahan siklus menstruasi. 8
Gangguan pada siklus menstruasi ini melibatkan mekanisme
regulasi

intergratif

yang

mempengaruhi

proses

biokimia

dan

seluler seluruh tubuh termasuk otak dan psikologis. Pengaruh


otak dalam reaksi hormonal terjadi melalui jalur hipotalamushipofisis-ovarium yang meliputi multiefek dan mekanisme kontrol
umpan balik. Pada keadaan stres terjadi aktivasi pada amygdala
pada sistem limbik. Sistem ini akan menstimulasi pelepasan
hormon dari hipotalamus yaitu corticotropic releasing hormone

40

(CRH). Hormon ini secara langsung akan menghambat sekresi


GnRH hipotalamus dari tempat produksinya dinukleus arkuata.
Proses ini terjadi melalui penambahan sekresi opioid endogen.8
Peningkatan

CRH akan menstimulasi pelepasan endorfin

dan adrenocorticotropic
Endofrin

sendiri

hormone

diketahui

(ACTH)

merupakan

ke

dalam

opiat

darah.

endogen

yang

peranannya terbukti dapat mengurangi rasa nyeri. Peningkatan


kadar ACTH akan menyebabkan peningkatan pada kadar kortisol
darah.

Pada wanita

dengan

gejala

amenore

hipotalamik

menunjukkan keadaan hiperkortisolisme yang disebabkan adanya


peningkatan CRH dan ACTH.8
Hormon-hormon

tersebut

secara

langsung

dan

tidak

langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui


jalan ini maka stres menyebabkan gangguan siklus menstruasi.
Dari

yang

oligomenorea,

tadinya

siklus

polimenorea

menstruasinya
atau

amenorea.

normal

menjadi

Gejala-gejala

ini

umumnya bersifat sementara dan biasanya akan kembali normal


apabila stres yang ada bisa diatasi.8
Tubuh akan bereaksi saat mengalami stres. Faktor stres ini
dapat

menurunkan

ketahanan

terhadap

rasa

nyeri.

Tanda

pertama yang menunjukan keadaan stres adalah adanya reaksi


yang muncul yaitu menegangnya otot tubuh individu dipenuhi
oleh hormon stres yang menyebabkan tekanan darah, detak
jantung, suhu tubuh, dan pernafasan meningkat. Disisi lain saat

41

stres,

tubuh

akan

memproduksi

hormon

adrenalin,

estrogen,

progesteron serta prostaglandin yang berlebihan. Estrogen dapat


menyebabkan peningkatan

kontraksi

uterus

secara

sedangkan progesteron bersifat menghambat kontraksi.4

berlebihan,

42

Kerangka Teori

Stresor

Stresor Fisik :
Suara, polusi, radiasi,
suhu, udara,
makanan, trauma
serta latihan fisik yang
terpaksa.

Stresor Psikologi :
Tekanan dari dalam
diri individu, biasanya
bersifat negatif.

Stresor Sosial :
Kehilangan orang
yang dicintai,
perceraian, masalah
keungan, pindah
rumah, dsb.

Tingkat Stres

Respon Psikologi

Sistem
Pernapasan dan
Kardiovaskular

Respon Fisiologi

Gangguan
Tidur

Sistem
Endokrin dan
Reproduksi

Siklus Menstruasi

Gambar 2.1

Respon Sosial

Sistem
Pencernaan dan
Perkemihan

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Kerangka Konseptual

Kerangka konsep adalah kerangka hubungan antara konsep


yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian yang dilakukan.
Berdasarkan landasan teoritis yang telah diuraikan pada tinjauan
kepustakaan maka dapat dirangkumkan kerangka berpikir peneliti
dalam bentuk sebuah kerangka konsep seperti yang digambarkan
dibawah ini :
Variabel Independen

Variabel Dependen

Siklus
Menstruasi

Stres

Berat Badan
Aktifitas
Penyakit
Hormonal
Gambar 3.1
Kerangka Konsep Penelitian
Keterangan :
: Variabel Independen Yang Diteliti
: Variabel Independen Yang tidak Diteliti

43

44

: Variabel Dependen Yang Diteliti


: Menyatakan Hubungan Antara Variabel

B. Defenisi Operasional

Tabel 3.1
Defenisi Operasional
No.

Variabel
Penelitian
Independent

Definisi
Operasional

1.

Tingkat Stres Respon tubuh


yang spesifik
berupa respon
fisiologis,
psikologis
maupun perilaku
terhadap stresor
yang dialami
Dependent

2.

Siklus
Menstruasi

Jarak waktu
sejak hari
pertama
menstruasi
sampai
datangnya
menstruasi
berikutnya

Kriteria Objektif

Skala
Pengukuran

Stres Sedang
(19 25)
Stres Berat
(26 42)

Interval

Normal (21 35

Interval

hari)
Tidak normal
(<21 hari atau
>35 hari)

C. Rancangan Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan


study crossectional yang merupakan rancangan penelitian dengan
melakukan pengukuran atau pengamatan dilakukan pada satu
saat bersamaan (sekali waktu),17 untuk melihat gambaran tingkat

45

stres dengan siklus menstruasi pada siswi Sekolah Menengah


Atas Negeri 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.

D. Waktu dan Tempat Penelitian

1. Waktu Penelitian
Penelitian

ini

telah

dilaksanakan

pada

tanggal

19

Agustus sampai dengan tanggal 23 Agustus 2014.


2. Tempat Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di Sekolah Menengah
Atas Negeri 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi.

E. Populasi dan Sampel

1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas
obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan.19 Populasi dalam penelitian ini
adalah semua siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 1 WangiWangi Kabupaten Wakatobi sebanyak 603 orang siswi.
2. Sampel
Sampel

dalam

penelitian

ini

adalah

semua

siswi

Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Wangi-Wangi Kabupaten


Wakatobi

yang

mengalami

menstruasi,

dengan

tekhnik

pengambilan sampel non probability sampling yaitu dengan

46

teknik purposive sampling adalah merupakan teknik sampling


dengan pertimbangan tertentu. Teknik ini tidak memberikan
peluang yang
bertujuan

sama dari setiap

tidak

probabilitas

untuk

yang

anggota

populasi,

yang

yang

berasas

pada

Jumlah

sampel

pada

generalisasi

tidak

sama.18

penelitian ini dihitung dengan menggunakan rumus Slovin


yaitu :10
N
n=
N(2) + 1
Keterangan :
N

= Besar populasi.

= Besarnya sampel.

2 = Tingkat kepercayaan yang diinginkan = 0,102


Jadi, jumlah sampel pada penelitian ini adalah :
603
n=
603 (0,102) + 1
603
n=
603 (0,01) + 1
603
n=
6,03 + 1
603
n=
7,03
n = 85,775
n = 86

47

Sampel

pada

penelitian

ini

adalah

sebanyak

86

responden yang memenuhi kriteria penelitian.


Adapun kriteria sampel dibagi atas kriteria inklusi dan
kriteria eksklusi sebagai berikut
a. Kriteria Inklusi
Kriteria
penelitian

inklusi merupakan
dapat

mewakili

kriteria

dimana

subjek

sampel penelitian

yang

memenuhi syarat sebagai sampel. Pertimbangan ilmiah


harus

menjadi

pedoman

dalam

menentukan kriteria

inklusi. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah :


1) Semua

siswi

SMAN 1 Wangi-Wangi

Kabupaten

Wakatobi tahun ajaran 2014/2015 yang mengalami


menstruasi.
2) Siswi yang bersedia untuk menjadi responden.
3) Siswi yang aktif sekolah.
4) Siswi yang mengalami menstruasi selama 1 tahun.
5) Siswi yang dalam keadaan sehat.
b. Kriteria Eksklusi
Kriteria

eksklusi

adalah

menghilangkan

atau

mengeluarkan subyek yang memenuhi kriteria inklusi dari


studi karena berbagai sebab. Dalam penelitian ini peneliti
menggunakan kriteria eksklusi sebagai berikut :
1) Siswi yang tidak bersedia untuk menjadi responden.
2) Siswi yang tidak aktif sekolah.

48

3) Siswi yang tidak mengalami menstruasi.


4) Siswi yang tidak sehat.

F. Alat dan Bahan Penelitian

Alat dan bahan untuk penelitian ini merupakan data primer


yang diambil melalui 2 kuisioner, yaitu :
1.

Kuisioner siklus menstruasi


Kuisioner

ini

berisikan

tentang

pertanyaan

mengenai

siklus menstruasi. Pada saat itu juga responden menjawab


pertanyaan yang ada dalam kuisioner dan dikembalikan hari
itu juga.
2.

Kuisioner Depression Anxiety Stress Scale 24 (DASS 24)


Kuisioner DASS adalah 24 butir ukuran kuantitatif untuk
mengukur kondisi emosional negatif depresi, kecemasan dan
stres. Dalam penelitian ini peneliti hanya memilih kuisioner
yang mengukur tentang stres. Skala peringkat pada DASS
24 adalah sebagai berikut:
a. Tidak berlaku untuk saya sama sekali = 0.
b. Diterapkan

pada

saya

untuk

beberapa

derajat,

atau

beberapa waktu = 1.
c. Diterapkan kepada saya ke tingkat yang cukup, atau
bagian yang baik dari waktu = 2.
d. Diterapkan

pada

besar waktu = 3.

saya

sangat

banyak,

atau

sebagian

49

G. Prosedur Pengumpulan Data

1. Data Primer
Untuk memperoleh data primer yaitu dilakukan dengan
cara mengedarkan suatu pernyataan yang berupa formulir.
Langkahlangkah yang akan dilakukan oleh peneliti adalah
sebagai berikut :
a. Sebelum kuisioner diberikan kepada responden, peneliti
memberikan

penjelasan

tentang

tujuan

penelitian

dan

tentang isi kuisioner yang diberikan pada responden.


b. Setelah

responden memahami tujuan penelitian, maka

responden diminta kesediaannya untuk mengisi kuisioner.


c. Jika

responden

kuisioner

telah

diberikan

menyatakan

dan

dijelaskan

bersedia,
cara

maka

pengisian

kuisioner.
d. Setelah

kuisioner

selesai

diisi

oleh

responden,

maka

kuisioner dikumpulkan dan dilakukan pengolahan data.


2. Data Sekunder
Data

yang

diperoleh

dari

Sekolah

Menengah

Atas

Negeri 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi yang digunakan


sebagai pelengkap dan data penunjang data primer yang ada
prevalensinya untuk keperluan penelitian.

50

H.

Pengolahan Data dan Analisis Data Penelitian

1. Pengolahan Data
a. Editing
Setelah data terkumpul maka dilakukan pemeriksaan
ulang

kelengkapan

format

kuisioner

dan

mengecek

kembali kemungkinan kesalahan pengisian.


b. Koding
Setiap jawaban dikonversi ke dalam angka-angka
sesuai dengan format kode yang telah disiapkan untuk
mempermudah dalam pengolahan data berikutnya.
c. Tabulasi
Penyajian

data

dalam

bentuk

tabel

yang

diolah

dengan menggunakan komputer.


2. Analisis Data
Data yang akan dikumpulkan terlebih dahulu diedit baik
pada waktu dilapangan maupun pada saat memasukkan data
ke

dalam

komputer.

Hal

ini

dimaksudkan

untuk

menilai

kebenaran data. Setelah itu dilakukan koding kemudian data


dimasukkan kedalam tabel sesuai dengan tujuan penelitian
dan diolah secara elektronik dengan menggunakan program
komputer Microsoft Office Excel versi 2007.

51

Kemudian
perhitungan

data

jumlah

dianalisa
dengan

melalui

cara

persentase

menggunakan

dan

analisa

univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil penelitian


dengan

menggunakan

menghasilkan

tabel

distribusi dan

distribusi

frekuensi

sehingga

persentase dari tiap

variabel

yang diteliti.

I.

Etika Penelitian

Dalam
rekomendasi

melakukan
dari

penelitian,

institusinya

peneliti

untuk

pihak

perlu
lain

membawa

dengan

cara

mengajukan permohonan izin kepada institusi/lembaga tempat


penelitian
persetujuan,

yang

dituju

barulah

oleh

peneliti

peneliti.
melakukan

Setelah

mendapat

penelitian

dengan

menekankan masalah etika yang meliputi :


1. Informed Consent (Lembar Persetujuan)
Lembar

persetujuan

ini

diberikan

kepada

responden

yang diteliti yang memenuhi kriteria inklusi dan disertai judul


penelitian dan manfaat penelitian. Bila subjek menolak maka
peneliti

tidak

memaksa

dan

tetap menghormati

hak-hak

subjek.
2. Anonimity (Tanpa Nama)
Untuk menjaga kerahasiaan peneliti tidak mencantumkan
nama responden, tetapi lembar tersebut diberikan kode atau
inisial.

52

3. Confendiality (Kerahasiaan)
Kerahasiaan informasi responden dijamin peneliti hanya
kelompok
penelitian.

data

tertentu

yang

dilaporkan

sebagai hasil

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus


tahun 2014 sampai tanggal 23 Agustus tahun 2014 di SMAN 1
Wangi-Wangi

Kabupaten

Wakatobi.

Hasil

penelitian

yang

dilakukan pada responden dengan jumlah responden sebanyak


86

orang

siswi,

yang

bertujuan

untuk mengetahui

gambaran

tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi SMAN 1


Wangi-Wangi dengan menggunakan alat ukur berupa kuisioner.
Setelah

dilakukan

penelitian

selama

satu

minggu

kemudian

dilakukan pengumpulan data. Data yang terkumpul selanjutnya


dilakukan pengeditan, pengkodean, dan kemudian ditabulasi. Data
kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik correlation
dengan bantuan program komputer Microsoft Office Excel versi
2007.
Uji

statistik

pada

penelitian

ini

hanya

terdiri

dari

uji

univariat. Uji univariat ini dilakukan terhadap variabel-variabel dari


hasil penelitian, kemudian analisis ini menghasilkan distribusi dan
presentasi dari tiap-tiap variabel-variabel.

53

54

Adapun distribusi umur dan kelas penelitian

ini adalah

merupakan sebagai data pelengkap pada penelitian ini, dengan


hasil sebagai berikut :
1. Distribusi frekuensi berdasarkan umur responden
Dari hasil penelitian yang dilakukan maka diperoleh hasil
distribusi responden menurut umur adalah sebagai berikut :
Tabel 4.1
Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di SMAN 1
Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
Umur
15
16
17
18
19
Total
Sumber : Data Primer, 2014
Berdasarkan

tabel

4.1

n
9
29
20
23
5
86

menunjukkan

%
10,5
33,7
23,3
26,7
5,8
100

bahwa

dari

86

responden, yang paling banyak adalah umur 16 tahun yaitu


sebanyak

29 orang siswi (33,7%) dan yang paling sedikit

jumlahnya adalah umur 19 tahun yaitu 5 orang siswi (5,8%).


2. Distribusi frekuensi berdasarkan kelas responden
Tabel 4.2
Distribusi frekuensi responden berdasarkan kelas di SMAN 1
Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
Kelas
X
XI
XII
Total
Sumber : Data Primer, 2014

n
29
26
31
86

%
33,7
30,2
36,0
100

55

Berdasarkan

tabel

4.2

menunjukkan

bahwa

dari

86

responden, yang paling banyak adalah dari kelas XII yaitu


masing-masing sebanyak 31 orang siswi (36,0%) dan yang
paling sedikit jumlahnya adalah kelas XI yaitu sebanyak 26
orang siswi (30,2%).
Analisis univariat pada penelitian ini dilakukan untuk melihat
gambaran distribusi frekuensi dari variabel variabel yang akan
diteliti, meliputi tingkat stres dan siklus menstruasi pada siswi
SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi, dengan hasil sebagai
berikut :
1. Distribusi frekuensi berdasarkan tingkat stres
Tabel 4.3
Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat stres di
SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
Tingkat Stres
Stres Sedang
Stres Berat
Total
Sumber : Data Primer, 2014
Berdasarkan
responden

tabel

berdasarkan

n
41
45
86

4.3

menunjukkan

tingkat

stres

%
47,7
52,3
100

bahwa
siswi,

distribusi
ditemukan

frekuensi terbanyak adalah stres berat yaitu sebanyak 45


orang siswi (52,3%), sedangkan sebagian lainnya mengalami
stres sedang yaitu sebanyak 41 orang siswi (47,7%).

56

2. Distribusi frekuensi berdasarkan siklus menstruasi


Tabel 4.4
Distribusi frekuensi responden berdasarkan siklus menstruasi
di SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
Siklus Menstruasi
Normal
Tidak normal
Total
Sumber : Data Primer, 2014
Berdasarkan

tabel

4.4

n
38
48
86

%
44,2
55,8
100

menunjukkan

bahwa

dari

86

responden yang menjadi subjek penelitian, sebagian besar


responden mengalami siklus menstruasi tidak normal yaitu
terdapat 48 orang siswi (55,8%) dan diikuti dengan siklus
menstruasi normal yaitu sebanyak 38 orang siswi (44,2%).
Hal ini dapat dilihat pada gambar 4.4 diatas.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan


mengambil

data

menggunakan

responden yang sesuai dengan

kuisioner,
kriteria

dan

didapatkan

inklusi

dan

86

eksklusi

sehingga diperoleh responden yang homogen.


Dari hasil penelitian diperoleh data seperti pada tabel 4.3
tentang

tingkat

stres

pada

siswi

SMAN

Wangi-Wangi

Kabupaten Wakatobi yang menunjukan bahwa sebagian besar


siswinya mengalami stres berat yaitu sebanyak 45 orang siswi
(52,3%) sedangkan sebagian lainnya mengalami stres sedang
yaitu sebanyak 41 orang siswi (47,7%). Berdasarkan tabel 4.4

57

mengenai siklus menstruasi pada siswi SMAN 1 Wangi-Wangi


Kabupaten Wakatobi sebagian besar siswinya mengalami siklus
menstruasi yang tidak normal yaitu sebanyak 48 orang siswi
(55,8%) sedangkan 38 orang siswi (44,2%) lainnya mengalami
siklus menstruasi yang normal.
Pada

saat

sekarang

ini,

telah

banyak

fakta

yang

mengungkapkan hubungan antara stres dengan menstruasi yang


merupakan masalah kesehatan bagi wanita (Widyastuti, 2007).
Berdasarkan data wawancara dari beberapa studi, menunjukkan
bahwa siklus menstruasi yang abnormal berhubungan dengan
tingkat stres (Rakhmawati, 2012).
Stresor
penyakit.
gangguan
sejumlah

diketahui

Salah
pada

merupakan

satunya

menyebabkan

menstruasi.

perubahan

faktor

dalam

etiologi
stres

Kebanyakan
siklus

dari

fisiologis

wanita

menstruasi

banyak
yaitu

mengalami

selama

masa

reproduksi. Dalam pengaruhnya terhadap siklus menstruasi, stres


melibatkan sistem neuro endokrinologi sebagai sistem yang besar
peranannya dalam reproduksi wanita.
Insel dan Roth dalam Sriati (2007) mengungkapkan bahwa
berbagai macam perubahan emosi akibat suatu stressor telah
dihubungkan dengan adanya fluktuasi hormonal selama siklus
menstruasi. Stres dapat mempengaruhi siklus menstruasi, karena
pada saat stres, hormon stres hormon kortisol sebagai produk
dari glukokortiroid korteks adrenal yang disintesa pada zona

58

fasikulata

bisa

mengganggu

siklus

menstruasi

karena

mempengaruhi jumlah hormon progesteron dalam tubuh. Jumlah


hormon dalam darah yang terlalu banyak inilah yang dapat
menyebabkan perubahan siklus menstruasi.
Dari hasil penelitian beberapa studi juga menjelaskan bahwa
sewaktu stres terjadi aktifasi aksis hipotalamus-pituitari-adrenal
bersama-sama dengan sistem saraf autonom yang menyebabkan
beberapa perubahan, diantaranya pada sistem reproduksi yakni
siklus menstruasi yang abnormal (Chorousos dkk, 2004 dalam
Rakhmawati, 2012).
Gangguan pada siklus menstruasi ini melibatkan mekanisme
regulasi

intergatif

yang

mempengaruhi

proses

biokimia

dan

seluler tubuh termasuk otak dan psikologis. Pengaruh otak dalam


reaksi hormonal terjadi melalui jalur hipotalamushipofisisovarium
yang meliputi multiefek dan mekanisme kontrol umpan balik. Pada
keadaan stres terjadi aktivasi pada amygdala pada system limbik.
Sistem ini akan menstimulasi pelepasan hormon dari hipotalamus
yaitu Corticotropic Releasing Hormone (CRH). Peningkatan CRH
akan menstimulasi pelepasan Adenocorticotropin Hormone (ACTH)
kedalam darah. Peningkatan kadar ACTH akan menyebabkan
peningkatan kadar kortisol darah.

59

Hormon-hormon

tersebut

secara

langsung

dan

tidak

langsung menyebabkan penurunan kadar GnRH, dimana melalui


jalan ini maka stres menyebabkan gangguan siklus menstruasi.
Dari

yang

oligomenorea,

tadinya

siklus

polimenorea

menstruasinya
atau

amenorea.

normal

menjadi

Gejala-gejala

ini

umumnya bersifat sementara dan biasanya akan kembali normal


apabila stres yang ada bisa diatasi.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data tentang
gambaran tingkat stres dengan siklus menstruasi pada siswi
SMAN 1 Wangi-Wangi

Kabupaten

Wakatobi,

maka

dapat

disimpulkan sebagai berikut:


1. Tingkat stres pada siswi SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten
Wakatobi sebagian besar siswinya mengalami stres berat. Ini
dapat dibuktikan dengan hasil penelitian
tingkat

stres

berat

pada

siswi

bahwa distribusi

SMAN 1 Wangi-Wangi

Kabupaten Wakatobi adalah sebanyak 45 responden (52,3%),


sedangkan tingkat stres sedang yang dialami siswi SMAN 1
Wangi-Wangi

Kabupaten

Wakatobi

adalah

sebanyak

41

responden (47,7%) dari 86 responden.


2. Siklus

menstruasi

Kabupaten Wakatobi

pada

siswi

SMAN 1 Wangi-Wangi

sebagian besar

mengalami

siklus

menstruasi tidak normal. Ini dapat dibuktikan dengan hasil


penelitian bahwa distribusi siklus menstruasi tidak normal
pada siswi SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi adalah
sebanyak 48 responden (55,8%), sedangkan siklus menstruasi
normal pada siswi SMAN 1 Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
adalah sebanyak 38 responden (44,2%) dari 86 responden.

60

61

B. Saran
Berdasarkan
berdasarkan

manfaat

kesimpulan

yang
dari

ingin

hasil

dicapai
penilitian

peneliti

serta

diatas,

dapat

dikemukakan beberapa saran sebagai berikut :


1. Bagi Institusi
Peneliti lebih banyak menggunakan sumber pustaka dari
internet karena sumber pustaka yang tersedia di perpustakaan
yang berkaitan dengan penelitian ini masih kurang. Oleh
karena itu diharapkan pihak institusi dapat menambah jumlah
referensi
dengan

bukunya
siklus

mahasiswa

terutama

menstruasi,

dalam

yang

berkaitan

sehingga

mendapatkan

dapat
referensi

antara

stres

memudahkan
agar

bisa

menumbuhkan minat baca dikalangan mahasiswa STIK GIA


Makassar.
2. Bagi Responden
Bagi siswi yang mengalami tingkat stres berat maupun
yang mengalami tingkat stres sedang agar lebih meningkatkan
pengetahuan mengenai penatalaksaan stres dan bagi siswi
yang mengalami siklus menstruasi tidak normal, sebaiknya
perlu intervensi secara psikologis maupun klinis lebih lanjut
lagi.

62

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


Diharapkan dapat menjadi pertimbangan atau masukan
dalam penelitian selanjutnya yang meneliti tentang stres baik
itu kaitannya dengan siklus menstruasi maupun dengan yang
lainnya misalnya yaitu hubungannya dengan imunitas tubuh.

63

DAFTAR PUSTAKA

1. Hawari D., (2008), Stres, Cemas, dan Depresi. FKUI; Jakarta.


2. Heffner L, dan Schust
Surabaya.

D., (2008), Sistem Reproduksi. Erlangga,

3. Koban
W.S.,
dkk.,
(2011),
Tumbuh
Kembang/Remaja.
http://rumahbelajarpsikologi.com, diakses 21 Mei 2014
4. Nasution I.K., (2007), Stress pada Remaja (on line). Skripsi (tidak
diterbitkan), Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id,diakses 21 Mei 2014.
5. Nursalam, (2008), Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan: Pedoman Skiripsi , Tesis dan Instrument Penelitian
Keperawatan. Edisi 2, Salemba Medika, Jakarta.
6. Papalia D.E., dkk., (2008). Human Developmant ( Perkembangan
Manusia). Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
7. Prawirohardjo S., (2008), Ilmu Kebidanan, Edisi Keempat, PT Bina
Pustaka, Jakarta.
8. Price S.A., dan Wilson L.M., (2005), Patofisologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. Edisi 6 Volume 2, EGC, Jakarta.
9. Putranti N., (2008), Remaja dan Permasalahannya (Part 1) (on line),
http://nuritaputranti.wordpress.com, diakses 18 Mei 2014.
10. Rakhmawati A., (2012), Hubungan Tingkat Stres dan Obesitas dengan
Kejadian Gangguan Siklus Menstruasi pada Wanita Dewasa Muda (on
line) Fakultas Kedokteran Universitas Di Ponegoro. Semarang.
http://eprints.undip.ac.id, di akses 15 Mei 2014.
11. Riset Kesehatan Dasar, (2010), Laporan Nasional Riset Kesehatan
Dasar (RISKESDAS) Tahun 2010. Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. Jakarta.
http://akademikciamik2010.files.wordpress.com, diakses 18 Mei 2014.
12. Riswan I., dkk., 22 Januari (2007), Kesehatan Remaja (on line),
Majalah Kesehatan untuk Pekerja Kesehatan Indonesia dipublikasikan
oleh AIDE Medicale Internasionale (AMI). Edisi Kelima,
http://www.amifrance.org/IMG/pdf_HM5_Adolescents_health_.pdf,
diakses 18 Mei 2014.

64

13. Saifuddin A.B., (2006), Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal. YBPSP, Jakarta.
14. Santrock J.W., (2009), Adolescence : Perkembangan Remaja. Edisi
Keenam, Erlangga, Jakarta.
15. Saryono, (2009), Sindrom Pramenstruasi. Nuha Medika, Yogyakarta.
16. Sarwono S.W., (2006), Psikologi Remaja. PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
17. Setiadi, (2007), Konsep & Penulisan Riset Keperawatan. Edisi
Pertama. Penerbit Graha Ilmu, Yogyakarta.
18. Sriati A., (2007), Tinjauan Tentang Stress (on line). Fakultas Ilmu
Keperawatan Jatinagor. Http://www.recaucesunpad.ac.id, diakses 15
Mei 2014
19. Sugiyono, (2012), Statistika untuk Penelitian. Alfabeta, Bandung.
20. Sunaryo, (2004), Psikologi Untuk Keperawatan. EGC, Jakarta.
21. Tim STIK-GIA Makassar, (2013), Pedoman Penulisan Skripsi.
Yayasan Gema Insan Akademik, Makassar.
22. Walker J., (2004), Teens in Distress Series Adolescent Stress and
Depression, Minnesota University. http://www.extension.umn.edu,
diakses 21 Mei 2014.
23. Widyastuti Y., dkk, (2009), Kesehatan Reproduksi. Fitramaya,
Yogyakarta.
24. Wiknjosastro H., dkk, (2006), Ilmu Kandungan, Edisi Ketiga Cetakan
Kedelapan, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, Jakarta.

65

Lampiran 1
LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Kepada Yth,
Bapak/Ibu/Saudara/Saudari responden
Di tempatDengan hormat,

Bersama ini saya yang bertanda tangan dibawah ini. Mahasiswa


program studi S1 Keperawatan STIK GIA Makassar :
Nama

: La Ode Fardiansyah

NIM

: 2110045

Akan melakukan penelitian dengan judul Gambaran Tingkat Stres


dengan Siklus Menstruasi Pada Siswi SMAN 1 Wangi Wangi
Kabupaten
kesediaan

Wakatobi.
Saudari

Untuk

untuk

kepentingan

berkenan

tersebut,

menjadi

saya mohon

subjek

penelitian

(dijadikan sampel). Identitas dan informasi yang berkaitan dengan


Saudari dirahasiakan oleh peneliti.
Atas partisipasi dan dukungannya, disampaikan banyak terimakasih.

Wakatobi, 19 Agustus 2014

Hormat saya
La Ode Fardiansyah
2110045

66

Lampiran 2
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama

Alamat

:
Setelah diberikan penjelasan oleh peneliti, tentang maksud

dan tujuan penelitian ini, saya bersedia menjadi responden pada


penelitian

yang

dilakukan

oleh

saudara

La

Ode

Fardiansyah,

mahasiswa Program S1 Keperawatan STIK GIA Makassar dengan


judul Gambaran Tingkat Stres dengan Siklus Menstruasi Pada Siswi
SMAN 1 Wangi - Wangi Kabupaten Wakatobi.
Demikian surat ini saya buat dengan sukarela tanpa paksaan
dari pihak lain dan kiranya dipergunakan sebagaimana mestinya.

Wakatobi, 19 Agustus 2014

Peneliti

(La Ode Fardiansyah )

Responden

67

Lampiran 3
LEMBAR KUISIONER
GAMBARAN TINGKAT STRES DENGAN SIKLUS MENSTRUASI PADA
SISWI SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 1 WANGI-WANGI
KABUPATEN WAKATOBI

A. Identintas Responden
1. Nama responden ( inisial )

2. Umur

3. Kelas

4. Siklus menstruasi

a. Normal (21-35 hari)

b. Polimenorchea (<21 hari)

c. Oligomenorchea (>35 hari) :

B. Pertanyaan Responden
1. Tingkat stres
Petunjuk :
a. Berilah tanda ceklist ( ) pada kolom yang sesuai dengan
pendapat Saudari terhadap pernyataan yang diajukan.
b. Bacalah dengan baik pernyataan sebelum menjawab.

68

c. Pilihan jawaban terdiri dari empat pilihan yaitu :


1) Tidak berlaku untuk saya sama sekali = 0.
2) Diterapkan pada saya untuk beberapa derajat, atau
beberapa waktu = 1.
3) Diterapkan kepada saya ke tingkat yang cukup atau
bagian yang baik dari waktu = 2.
4) Diterapkan pada saya sangat banyak atau sebagian
besar waktu = 3.

No.

Pernyataan
Saya

1.

merasa

menjadi

bahwa

marah

diri

karena

saya
hal-hal

sepele.
2.

3.

4.

Saya

cenderung

bereaksi

berlebihan terhadap suatu situasi.


Saya

merasa

sulit

untuk

bersantai.
Saya menemukan diri saya mudah
merasa kesal.
Saya merasa telah menghabiskan

5.

banyak

energi

untuk

merasa

gelisah.
Saya menemukan diri saya menjadi
6.

tidak

sabar

ketika

mengalami

penundaan (misalnya : menunggu


sesuatu).

7.
8.

Saya merasa bahwa saya mudah


tersinggung.
Saya

merasa

sulit

untuk

69

beristirahat.
9.

Saya merasa bahwa saya sangat


mudah marah.
Saya merasa sulit untuk tenang

10. setelah

sesuatu

membuat

saya

kesal.
Saya

sulit

untuk

11. menghadapi

sabar

gangguan

dalam

terhadap

hal yang sedang saya lakukan.


12. Saya sedang merasa gelisah.
Saya tidak dapat memaklumi hal
13.

apapun yang menghalangi saya


untuk

menyelesaikan

hal

yang

sedang saya lakukan.


14.

Saya menemukan diri saya mudah


gelisah.
Keterangan :
Stres Sedang jika memiliki skor 19 25.
Stres Berat jika memiliki skor 26 42.

70

Lampiran 4
MASTER DATA

No

INISIAL

UMUR

KELAS

TINGKAT
STRES

SIKLUS
MENSTRUASI

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39

DB
P
SA
SR
HA
M
F
WA
S
K
U
RP
J
H
A
I
NI
S
S
YD
R
P
NW
SR
WD
NJS
TL
JL
N
MM
M
S
DB
F
D
S
NN
EP
DS

15
16
16
15
16
16
15
16
15
16
15
16
16
16
16
16
16
16
16
15
17
15
16
16
16
17
16
15
16
17
17
16
16
17
16
17
16
16
17

X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI

BERAT
SEDANG
SEDANG
SEDANG
SEDANG
SEDANG
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG

TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL

71

40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84

M
HI
D
E
R
M
P
A
EP
F
P
A
TS
Y
S
A
R
T
MA
MK
S
D
P
DA
N
I
PA
YS
A
H
L
RL
IL
IW
KB
M
D
TH
NO
NN
V
RH
N
SN
H

17
17
17
16
16
17
15
16
17
17
16
17
17
16
18
18
17
18
18
17
18
18
19
17
19
18
18
17
18
18
18
18
19
18
18
18
18
18
18
19
17
18
18
18
18

XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XI
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII
XII

BERAT
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT
SEDANG
SEDANG
BERAT
SEDANG
BERAT
BERAT
SEDANG
BERAT

TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL
TIDAK NORMAL
NORMAL
TIDAK NORMAL

72

85
86

A
R

19
18

XII
XII

BERAT
SEDANG

Ket :
Umur

= 1 : 1516
2 : 1719

Kelas

= 1 : XXII

Tingkat Stres

= 1 Sedang
2 Berat

Siklus Menstruasi

= 1 Normal
2 Tidak Normal

TIDAK NORMAL
NORMAL

73

Lampiran 5
HASIL OLAH DATA

Distribusi frekuensi responden berdasarkan umur di SMAN 1 WangiWangi Kabupaten Wakatobi

Umur

15

10.5

16

29

33.7

17

20

23.3

18

23

26.7

19

5.8

Total

86

100

Distribusi frekuensi responden berdasarkan kelas di SMAN 1 WangiWangi Kabupaten Wakatobi

Kelas

29

33.7

XI

26

30.2

XII

31

36

Total

86

100

74

Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat stres di SMAN 1


Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi

Tingkat Stres

Stres Sedang

41

47.7

Stres Berat

45

52.3

Total

86

100

Distribusi frekuensi responden berdasarkan tingkat stres di SMAN 1


Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi
Siklus Menstruasi

Normal

38

44.2

Tidak normal

48

55.8

Total

86

100

75

Umur

30
25
20
15

29

10

20

23

5
0

5
15

16

17

18

19

Kelas

31
30
29
28
27

31

29

26
25

26

24
23
X
XI

XII

76

Tingkat Stres

45
44
43
42

45

41
40

41

39
Stres Sedang
Stres Berat

Siklus Menstruasi

50
40
30
20

38

48

10
0
Normal
Tidak normal

77