Anda di halaman 1dari 25

Muhammad Rizqi Akbar

135060400111040

SOAL 1
EVAPOTRANSPIRASI
1.1 Latar Belakang
Menurut Manning dalam Asdak (2001: 9-10), sebagian besar (97%) air di dunia

ini ditemukan dalam bentuk air asin yang berasal dari lautan. Air tawar yang merupakan
kebutuhan utama manusia di dunia tidak lebih dari 1% dari keseluruhan air yang
tersedia di dunia. Gambaran secara global penyebaran air di dunia adalah sebagai
berikut :
Tabel 1.1 Penyebaran air di dunia
Kategori
Air Asin :

Persentase (%)

Laut
Danau

97,3
0,01

Air Tawar :
Air es (glacier)
Akifer
Kelembaban tanah
Atmosfer
Danau
Sungai
Total
Sumber : Asdak, 2001

2,14
0,61
0,005
0,001
0,009
0,0001
100

Perubahan yang dialami air di bumi hanya terjadi pada sifat, bentuk, dan persebarannya.
Perubahan bentuk air meliputi cair, padat dan gas.
Air dapat mengalami evaporasi sehingga mengalami perubahan wujud dari cair
menjadi gas. Evaporasi yang terjadi melalui tumbuhan (stomata) disebut transpirasi.
Apabila

evaporasi

dan

transpirasi

terjadi

secara

bersamaan

maka

disebut

evapotranspirasi. Selain itu, air juga mengalami proses presipitasi, yaitu jatuhnya air ke
permukaan bumi yang kemudian mengalami infiltrasi atau melimpas. Bila lapisan tanah
yang menyerap air jenuh, maka air bergerak turun ke lapisan tanah dibawahnya
(perkolasi). Selanjutnya air mengalami menuju ke laut kembali. Keseluruhan dari proses
tersebut disebut siklus hidrologi. Sedangkan ilmu yang mempelajari tentang siklus
hidrologi disebut hidrologi.
Evaporasi merupakan fakor penting dalam studi tentang pengembangan sumbersumber daya air. Evaporasi sangat mempengaruhi debit sungai, besarnya kapasitas
waduk, besarnya kapasitas pompa untuk irigasi, pengunaan konsumtif (consumptive
use) untuk tanaman dan lain-lain. Oleh karena itu, perhitungan evaporasi harus sangat
diperhatikan karena memiliki dampak yang sangat besar.
Besarnya evaporasi potensial dapat dihitung dengan beberapa metode, yaitu
dengan metode Blaney-Criddle, metode Radiasi, dan metode Penman. Ketiga metode
tersebut mempunyai prinsip umum yang sama. Perbedaannya adalah dalam penentuan
angka koreksi (c) dan evaporasi sebelum dikoreksi (ETo*). Perbedaan penentuan dua
parameter tersebut menyebabkan hasil perhitungan ketiga metode memiliki nilai yang
berbeda.
1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasikan permasalahan permasalahan


sebagai berikut:
1. Perhitungan evaporasi dengan metode yang berbeda akan menghasilkan nilai yang
berbeda
2. Dari hasil perhitungan nilai evaporasi tersebut, dihitung nilai evapotranspirasi
dengan tanaman padi sebagai parameter yang dihitung menggunakan metode
Blaney Criddle, metode Radiasi, dan metode Penman menghasilkan nilai yang
berbeda.
3. Dari perbedaan nilai yang dihasilkan dari tiga metode tersebut, memunculkan
pertanyaan tentang metode mana yang paling tepat digunakan dalam penentuan
evaporasi
1.3 Rumusan masalah
a. Berapa hasil perhitungan nilai evaporasi dengan rumus Blaney-Criddle,
Radiasi, dan Penman?
b. Berapa perbandingan antara ketiga rumus tersebut?
c. Berapa nilai evapotranspirasi dari tanaman kedelai?
1.4 Pembatasan Masalah
Evapotranspirasi merupakan suatu ilmu yang kajiannya sangat luas, oleh karena
itu pembahasan tentang evapotranspirasi akan dibatasi dengan hanya membahas tentang
perhitungan evaporasi potensial menggunakan rumus Blaney-Criddle, Radiasi dan
Penman serta hasil perbandingan antara ketiganya.
1.5 Tujuan
Tujuan dari kajian ini yaitu :
a. Untuk mengetahui hasil perhitungan nilai evaporasi dengan rumus BlaneyCriddle, Radiasi, dan Penman.
b. Untuk mengetahui perbandingan hasil dari ketiga rumus tersebut.
c. Untuk mengetahui nilai evapotranspirasi dari tanaman kedelai.
1.6 Manfaat
Untuk mengetahui hasil perhitungan Evapotranspirasi dengan menggunakan
rumus Blaney-Criddle, Radiasi dan Penman serta dapat membandingkan hasil dari
ketiga rumus tersebut.
1.7 Kajian Pustaka
1.7.1 Hidrologi

Menurut Asdak (2001: 4), Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari air dalam
bentuknya (cairan, gas, padat) pada, dalam, dan di atas permukaan tanah. Termasuk di
dalamnya adalah penyebaran, daur dan perilakunya, sifat-sifat fisika dan kimianya, serta
hubungannya dengan unsur-unsur hidup dalam air itu sendiri.
1.7.2 Siklus Hidrologi
Menurut Asdak (2001: 7), Siklus hidrologi merupakan perjalanan air dari
permukaan laut ke atmosfer kemudian ke permukaan tanah dan kembali lagi ke laut
yang tidak pernah berhenti.
Siklus hidrologi merupakan salah satu aspek penting yang diperlukan pada
proses analisis hidrologi. Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti
dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi,
evaporasi dan transpirasi. Dalam siklus hidrologi bagian yang sangat penting adalah
sinar matahari. Pemanasan sinar matahari merupakan kunci penting dalam siklus
hidrologi. Air yang ada di permukaan bumi ini akan menguap karena pemanasan sinar
matahari kemudian saat mencapai titik jenuh akan turun hujan.
Siklus Hidrologi dibedakan menjadi 3, yaitu :
1. Siklus Pendek : Air laut menguap kemudian melalui proses kondensasi berubah
menjadi butir-butir air yang halus atau awan dan selanjutnya hujan langsung
jatuh ke laut dan akan kembali berulang.
2. Siklus Sedang : Air laut menguap lalu dibawa oleh angin menuju daratan dan
melalui proses kondensasi berubah menjadi awan lalu jatuh sebagai hujan di
daratan dan selanjutnya meresap ke dalam tanah lalu kembali ke laut melalui
sungai-sungai atau saluran-saluran air .
3. Siklus Panjang : Air laut menguap, setelah menjadi awan melelui proses
kondensasi, lalu terbawa oleh angin ke tempat yang lebih tinggi di daratan dan
terjadilah hujan salju atau es di pegunungan-pegunungan yang tinggi. Bongkahbongkah es mengendap di puncak gunung dan karena gaya beratnya meluncur
ke tempat yang lebih rendah, mencair terbentuk gletser lalu mengalir melalui
sungai-sungai kembali ke laut.
Berikut ini adalah siklus hidrologi yang digambarkan secara lengkap

Gambar 1.1 Siklus hidrologi lengkap


Sumber : http://earthobservatory.nasa.gov/Features/Water/page2.php

Ada beberapa proses dalam siklus hidrologi, yaitu :


a) Evaporasi dan Transpirasi (Evapotranspirasi)
Evapotranspirasi adalah jumlah air total yang dikembalikan lagi ke
atmosfer dari permukaan tanah, badan air, dan vegetasi oleh adanya pengaruh
faktor-faktor iklim dan fisiologis vegetasi. Sesuai dengan namanya, ET juga
merupakan gabungan antara proses-proses evaporasi, intersepsi, dan transpirasi.
Evaporasi adalah proses penguapan, yaitu perubahan dari zat cair menjadi uap
air atau gas dari semua bentuk permukaan kecuali vegetasi. Sedang transpirasi
adalah perjalanan air dalam jaringan vegetasi (proses fisiologis) dari akar
tanaman ke permukaan daun dan akhirnya menguap ke atmosfer. Intersepsi
adalah penguapan air dari permukaan vegetasi ketika berlangsung hujan.
(Asdak, 2001: 117-118)
Evapotranspirasi sangat erat kaitannya dengan kebutuhan air tanaman.
Kebutuhan air tanaman adalah sejumlah air yang dibutuhkan untuk
menggantikan air yang hilang akibat penguapan. Penguapan dalam hal ini
meliputi penguapan dari permukaan air dan daun-daun tanaman. Bila kedua
proses terjadi bersamaan maka evapotranspirasi, yaitu gabungan dari proses
penguapan air bebas (evaporasi) dan penguapan melalui tanaman (transpirasi).
b) Presipitasi
Presipitasi adalah curahan atau jatuhnya air dari atmosfer ke permukaan

bumi dan laut dalam bentuk yang berbeda, yaitu curah hujan di daerah tropis dan
curah hujan serta salju di daerah beriklim sedang. (Asdak, 2001: 30)
c) Infiltrasi dan Perkolasi
Infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya berasal dari curah hujan)
masuk ke dalam tanah. Perkolasi merupakan proses kelanjutan aliran air tersebut
ke dalam tanah yang lebih dalam. Dengan kata lain, infiltrasi adalah aliran air
masuk ke dalam tanah sebagai akibat gaya kapiler (gerakan air ke arah lateral)
dan gravitasi (gerakan air ke arah vertikal). Setelah lapisan tanah bagian atas
jenuh, kelebihan air tersebut mengalir ke tanah yang lebih dalam sebagai akibat
gaya gravitasi bumi dan dikenal sebagai proses perkolasi. Laju maksimal
gerakan air masuk ke dalam tanah dinamakan kapasitas infiltrasi. Kapasitas
infiltrasi terjadi ketika intensitas hujan melebihi kemampuan tanah dalam
menyerap kelembaban tanah. Sebaliknya, apabila intensitas hujan lebih kecil
daripada kapasitas infiltrasi, maka laju infiltrasi sama dengan laju curah hujan.
(Asdak, 2001: 228-229)
d) Air tanah
Air yang berada di wilayah jenuh di bawah permukaan tanah disebut air
tanah. Secara global, dari keseluruhan air tawar yang berada di planet bumi ini
lebih dari 97% terdiri atas air tanah. Tampak bahwa peranan air tanah di bumi
adalah penting. Air tanah dapat dijumpai di hamper semua tempat di bumi. Ia
dapat ditemukan di bawah gurun pasir yang paling kering sekalipun, demikian
juga di bawah tanah yang membeku karena tertutup lapisan salju atau es (Asdak,
2001: 244-245)
Lapisan tanah yang terletak di bawah permukaan air tanah dinamakan
daerah jenuh (saturated zone), sedangkan daerah yang tidak jenuh berada di atas
daerah yang jenuh sampai ke permukaan tanah. Kedalaman air tanah di tiap
tempat tidak sama karena dipengaruhi oleh tebal atau tipisnya lapisan
permukaan di atasnya dan kedudukan air tersebut.
e) Limpasan permukaan
Limpasan permukaan adalah hasil presipitasi yang tidak masuk ke dalam
tanah. Semakin landai lahan dan semakin sedikit pori-pori tanah maka air
limpasan ini akan semakin banyak. Air limpasan ini akan menyatu dengan air
permukaan dan menuju laut. Air limpasan permukaan biasanya akan banyak
terlihat di daerah pemukiman.

1.7.3 Evaporasi Potensial


Evaporasi adalah proses pertukaran molekul air (liquid/solid) di permukaan
menjadi molekul uap air (gas) di atmosfer melalui kekuatan panas (heat energy)
(Martha,

1973).

Evaporasi

merupakan

faktor

penting

dalam

studi

tentang

pengembangan sumber-sumber daya air. Evaporasi merupakan faktor penting dalam


studi tentang pengembangan sumber-sumber daya air. Evaporasi sangat mempengaruhi
debit sungai, besarnya kapasitas waduk, besarnya kapasitas pompa untuk irigasi,
penggunaan konsumtif (comsumptive use) untuk tanaman dan lain-lain.
Air akan menguap dari tanah, baik tanah gundul atau yang tertutup oleh tanaman
dan pepohonan, permukaan tidak tembus air seperti atap dan jalan raya, air bebas dan
mengalir. Laju evaporasi atau penguapan akan berubah-ubah menurut warna dan sifat
pemantulan permukaan (albedo) dan hal ini juga akan berbeda untuk permukaan yang
langsung tersinari oleh matahari dan yang terlindung dari sinar matahari.
Besarnya faktor meteorologi yang mempengaruhi besarnya evaporasi poensial
adalah sebagai berikut :
Radiasi Matahari
Pengaruh radiasi matahari terhadap evapotranspirasi potensial adalah
melalui proses fotosintesis. Dalam mengatur hidupnya, tanaman memerlukan
sirkulasi air melalui sistem akar-batang-daun. Sirkulasi perjalanan air dari bawah
(perakaran) ke atas (daun) dipercepat dengan meningkatnya jumlah radiasi
matahari terhadap vegetasi yang bersangkutan. (de Vries dan van Duin dalam
Asdak, 2001: 119)
Angin
Pengaruh angin terhadap evapotranspirasi potensial adalah melalui
mekanisme dipindahkannya uap air yang keluar dari pori-pori daun. Semakin
dipindahkannya uap air yang keluar dari pori-pori daun. Semakin besar
kecepatan angin, semakin besar pula laju evapotranspirasi yang dapat terjadi.
Dibandingkan dengan pengaruh radiasi matahari, pengaruh angin terhadap laju
evapotranspirasi adalah lebih kecil (de Vries dan van Duin dalam Asdak, 2001:
119)
Kelembaban Relatif (Relative Humiditas)
Kelembaban tanah juga mempunyai peran untuk mempengaruhi terjadinya
evapotranspirasi. Telah seringkali dikemukakan oleh ahli fisiologi tanaman

bahwa evapotranspirasi berlangsung ketika vegetasi yang bersangkutan sedang


tidak kekurangan suplai air (Penman, 1956 dalam Asdak, 2001: 120) Dengan
kata lain, evapotranspirasi (potensial) berlangsung ketika kondisi kelembaban
tanah berkisar antara titik wilting point dan field capacity. Karena ketersediaan
air dalam tanah tersebut ditentukan oleh tipe tanah, dengan demikian, secara
tidak langsung, peristiwa evapotranspirasi potensial juga dipengaruhi oleh faktor
tanah.
Suhu (Temperature)
Pengaruh suhu terhadap evapotranspirasi dapat dikatakan secara langsung
berkaitan dengan intensitas dan lama waktu radiasi matahari. Namun demikian,
perlu dikemukakan bahwa suhu yang akan mempengaruhi evapotranspirasi
potensial adalah suhu permukaan daun dan bukan suhu udara di sekitar daun. (de
Vries dan van Duin dalam Asdak, 2001: 119)
Metode yang dapat dipakai dalam penghitungan besarnya evaporasi
potensial adalah sebagai berikut :
1.7.3.1.

Metode Blaney-Criddle
Metode ini untuk memprakirakan besarnya evapotranspirasi potensial

(PET) pada awalnya dikembangkan untuk memprakirakan besarnya konsumsi


air irigasi di Amerika Serikat (Dunne dan Leopold, 1978 dalam Asdak, 2001:
129).
Metode ini merupakan metode yang sering digunakan karena data
terukur yang dibutuhkan sedikit dan mudah di dapat.
Data terukur yang diperlukan dalam metode ini adalah:

Letak lintang (LL)

Suhu udara (t)

Angka koreksi (c)


Langkah-langkah pengerjaan dalam metode ini dapat digunakan prosedur

perhitungan berikut:
Cari letak
lintang daerah
yang ditinjau
dan cari nilai P

Cari data suhu


bulanan (t)

Hitung ETo*

Cari angka
koreksi sesuai
dengan bulan

Hitung ETo

Rumus Metode Blaney-Criddle:


ET0

= c . ET0*

ET0* = P . (0.457 t + 8.13)


Keterangan:
ET0

= Evaporasi Potensial (mm/hari)

= Angka koreksi (berdasarkan keadaan iklim)

ET0* = Evaporasi Potensial sebelum dikoreksi (mm/hari)


P

= Prosentase rata-rata jam siang malam, yang besarnya


bergantung pada letak lintang (LL)

Tabel 1.2 Hubungan P dan Letak Lintang (LL) Tabel BC. 1


Lintang

Utara
Selatan

60
55
50
45
40
35
30
25
20
15
10
5
0

Jan
Jul
0.15
0.17
0.19
0.20
0.22
0.23
0.24
0.24
0.25
0.26
0.26
0.27
0.27

Feb
Ags
0.20
0.21
0.23
0.23
0.24
0.25
0.25
0.26
0.26
0.26
0.27
0.27
0.27

Mar
Sep
0.26
0.26
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27
0.27

Apr
Okt
0.32
0.32
0.31
0.30
0.30
0.29
0.29
0.29
0.28
0.28
0.28
0.28
0.27

Mei
Nov
0.38
0.36
0.34
0.34
0.32
0.31
0.31
0.30
0.29
0.29
0.28
0.28
0.27

Jun
Des
0.41
0.39
0.36
0.35
0.34
0.32
0.32
0.31
0.30
0.29
0.29
0.28
0.27

Jul
Jan
0.40
0.38
0.35
0.34
0.33
0.32
0.31
0.31
0.30
0.29
0.29
0.28
0.27

Ags
Feb
0.34
0.33
0.32
0.32
0.31
0.30
0.30
0.29
0.29
0.28
0.28
0.28
0.27

Sep
Mar
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.28
0.27

Okt
Apr
0.22
0.23
0.24
0.24
0.25
0.25
0.26
0.26
0.26
0.27
0.27
0.27
0.27

Nov
Mei
0.17
0.18
0.20
0.21
0.22
0.23
0.24
0.25
0.25
0.26
0.26
0.27
0.27

Sumber: http://www.fao.org/docrep/s2022e/s2022e07.htm
Tabel 1.3 Angka Koreksi ( c ) Menurut Blaney Criddle Tabel BC.2
BULA
N
(c)

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

0.80

0.80

0.75

0.70

0.70

0.70

0.70

Sumber : Montarcih L, 2010

Agus
t
0.75

Sep

Okt

Nov

Des

0.80

0.80

0.80

0.80

Des
Jun
0.13
0.16
0.18
0.20
0.21
0.22
0.23
0.24
0.25
0.25
0.26
0.27
0.27

1.7.3.2.

Metode Radiasi
Data terukur yang diperlukan dalam metode radiasi :

Letak lintang daerah (LL)

Suhu udara (t)

Kecerahan matahari (n/N).

Prosedur perhitungan yang dapat digunakan sebagai berikut;


Cari suhu ratarata bulanan dan
nilai w

Cari letak
lintang dan nilai
R

Cari nilai
kecerahan
matahari ()

Hitung ETo
Rumus
ETo =c.w.Rs

Cari angka
koreksi (c)

Hitung Rs
Rumus
Rs=(0,25+0,54.
) R

Rumus Metode Radiasi:


ET0

= c . ET0*

ET0* = w . Rs
Keterangan:
ET0

= Evaporasi Potensial (mm/hari)

= Angka koreksi (berdasarkan keadaan iklim)

ET0* = Evaporasi Potensial sebelum dikoreksi (mm/hari)


w

= Faktor pengaruh suhu dan elevasi ketinggian daerah

Rs

= Radiasi gelombang pendek yang diterima bumi (mm/hari)

Rs

= (0.25 + 0.54 (n/N)) R

= Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfer

n/N

= Kecerahan matahari (%)

Tabel 1.4 Hubungan t dan w (Tabel R.1)


(Untuk Indonesia, EL. 0-500 m)
Suhu
(t0)

Suhu
(t0)

24.0
24.2
24.4
24.6
24.8
25.0
25.2
25.4
25.6
25.8
26.0
26.2
26.4
26.6
26.8
27.0

0.735
0.737
0.739
0.741
0.743
0.745
0.747
0.749
0.751
0.753
0.755
0.757
0.759
0.761
0.763
0.765

27.2
27.4
27.6
27.8
28.0
28.2
28.4
28.6
28.8
29.0
29.2
29.4
29.6
29.8
30.0
30.2

0.767
0.769
0.771
0.773
0.775
0.777
0.779
0.781
0.783
0.785
0.787
0.789
0.791
0.793
0.795
0.797

Sumber : Montarcih L, 2010


Tabel 1.5 Harga R Untuk Indonesia (Tabel R.2)
(Untuk Indonesia : 50 LU s/d 100 LS)
Bula
n
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

5
13.0
14.0
15.0
15.1
15.3
15.0
15.1
15.3
15.1
15.7
14.8
14.6

LU
4
14.3
15.0
15.5
15.5
14.9
14.4
14.6
15.1
15.3
15.1
14.5
14.1

0
2
14.7
15.3
15.6
15.3
14.6
14.2
14.3
14.9
15.3
15.3
14.8
14.4

15.0
15.5
15.7
15.3
14.4
13.9
14.1
14.8
15.3
15.4
15.1
14.8

2
15.3
15.7
15.7
15.1
14.1
13.9
14.1
14.8
15.3
15.4
15.1
14.8

4
15.5
15.8
15.6
14.9
13.8
13.2
13.4
14.3
15.1
15.6
15.5
15.4

LS
6
15.8
16.0
15.6
14.7
13.4
12.8
13.1
14.0
15.0
15.7
15.8
15.7

8
16.1
16.1
15.1
14.1
13.1
12.4
12.7
13.7
14.9
15.8
16.0
16.0

10
16.1
16.0
15.3
14.0
12.6
12.6
11.8
12.2
13.1
14.6
15.6
16.0

Sumber : Montarcih L, 2010


Tabel 1.6 Angka Koreksi ( c ) Menurut Rumus Radiasi (Tabel R.3)
BULA
N
(c)

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

0.80

0.80

0.75

0.75

0.75

0.75

0.75

Sumber : Montarcih L, 2010


1.7.3.3.

Metode Penman

Agus
t
0.80

Sep

Okt

0.80

0.80

No
v
0.80

Des
0.80

Metode Penman pada mulanya dikembangkan untuk menentukan


besarnya evaporasi dari permukaan air terbuka. Dalam perkembangannya,
metode tersebut juga digunakan untuk menentukan besarnya evapotranspirasi
potensial (PET) dari suatu tegakan vegetasi dengan memanfaatkan data iklim
mikro yang diperoleh dari atas permukaan vegetasi yang menjadi kajian.
(Asdak, 2001: 133)
Data terukur yang dibutuhkan :
Suhu rerata bulanan (t C)
Kelembaban relatif bulanan rerata (RH %)
Kecerahan matahari bulanan (n/N %)
Kecepatan angin bulanan rerata (u m/dt)
Letak lintang daerah (LL)
Angka koreksi (c)
Prosedur perhitungan dalam Rumus Penman adalah sebagai berikut;
Cari data suhu
rerata bulanan dan
nilai , w, f(t) dari
tabel

Cari data RH

Hitung d

Hitung f(d)

Berdasarkan letak
lintang cari nilai R

Cari data kecerahan


matahari ()

Cari ETo*

Cari ETo

Cari data f(U)

Cari Rn1

Cari nilai angka


koreksi c

Cari nilai Rs

Cari nilai f()

Cari data
kecepatan angin
(U)

Rumus Metode Penman:


ET0

= c . ET0*

ET0* = w . (0.75 Rs Rn1) + (1 w) f(u) (g d)

Keterangan:
ET0

= Evaporasi Potensial (mm/hari)

= Angka koreksi (berdasarkan keadaan iklim)

ET0* = Evaporasi Potensial sebelum dikoreksi (mm/hari)


w

= Faktor pengaruh suhu dan elevasi ketinggian daerah

Rs

= Radiasi gelombang pendek yang diterima bumi (mm/hari)

Rs

= (0.25 + 0.54 (n/N)) R

= Radiasi gelombang pendek yang memenuhi batas luar atmosfer

n/N

= Kecerahan matahari (%)

Rn

= Radiasi bersih gelombang panjang (mm/hari)

Rn1

= f(t) . f(d) . f(n/N)

f(t)

= Fungsi suhu

f(d)

= Fungsi tekanan uap

f(d)

= 0.34 0.44 . ((d)0.5)

= Tekanan uap sebenarnya (mbar)

= d* . RH

f(n/N) = Fungsi kecerahan matahari


f(n/N) = 0.1 + 0.9 . (n/N)
f(u)

= Fungsi kecepatan angin pada ketinggian 2.00 m

f(u)

= 0.27 . ( 1 + 0.864 u )

RH

= Kelembaban relatif (%)

Tabel 1.7 Hubungan t Dengan , w, f (t) (Tabel PN.1)

t
(C)
24
24.1
24.2
24.3
24.4
24.5
24.6
24.7
24.8
24.9
25
25.1
25.2
25.3
25.4
25.5
25.6
25.7
25.8
25.9
26
26.1
26.2

(mba
r)
29.85
30.03
30.21
30.39
30.57
30.76
30.94
31.13
31.31
31.50
31.69
31.88
32.06
32.26
32.45
32.64
32.83
33.03
33.22
33.42
33.62
33.82
34.02

f (t)

t
(C)

0.735
0.736
0.737
0.738
0.739
0.74
0.741
0.742
0.743
0.744
0.745
0.746
0.747
0.748
0.749
0.75
0.751
0.752
0.753
0.754
0.755
0.756
0.757

15.4
15.425
15.45
15.475
15.5
15.525
15.55
15.575
15.6
15.625
15.65
15.675
15.7
15.725
15.75
15.775
15.8
15.825
15.85
15.875
15.9
15.920
15.94

26.3
26.4
26.5
26.6
26.7
26.8
26.9
27
27.1
27.2
27.3
27.4
27.5
27.6
27.7
27.8
27.9
28
28.1
28.2
28.3
28.4
28.5

(mba
r)
34.22
34.42
34.63
34.83
35.04
35.25
35.46
35.66
35.88
36.09
36.30
36.50
36.72
36.94
37.16
37.37
37.59
37.81
38.03
38.25
38.48
38.70
38.92

f (t)

t
(C)

0.758
0.759
0.76
0.761
0.762
0.763
0.764
0.765
0.766
0.767
0.768
0.769
0.77
0.771
0.772
0.773
0.774
0.775
0.776
0.777
0.778
0.779
0.78

15.960
15.98
16.000
16.02
16.040
16.06
16.080
16.1
16.120
16.14
16.160
16.18
16.200
16.22
16.240
16.26
16.280
16.3
16.320
16.34
16.360
16.38
16.400

28.6
28.7
28.8
28.9
29
29.1
29.2
29.3
29.4
29.5
29.6
29.7
29.8
29.9
30
30.1
30.2
30.3
30.4
30.5
30.6
30.7
30.8

(mba
r)
39.14
39.38
39.61
39.84
40.06
40.29
40.51
40.74
40.96
41.19
41.41
41.64
41.86
42.09
42.31
42.54
42.76
42.99
43.21
43.44
43.66
43.89
44.11

f (t)

0.781
0.782
0.783
0.784
0.785
0.786
0.787
0.788
0.789
0.79
0.791
0.792
0.793
0.794
0.795
0.796
0.797
0.798
0.799
0.8
0.801
0.802
0.803

16.42
16.440
16.46
16.480
16.5
16.520
16.54
16.560
16.58
16.600
16.62
16.640
16.66
16.680
16.7
16.720
16.74
16.760
16.78
16.800
16.82
16.840
16.86

Sumber : Montarcih L, 2010


Tabel 1.8 Harga R Untuk Indonesia (Tabel PN.2)
(Untuk Indonesia : 50 s/d 100 LS)
Bula
n
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Ags
Sep
Okt
Nov
Des

5
13.0
14.0
15.0
15.1
15.3
15.0
15.1
15.3
15.1
15.7
14.8
14.6

LU
4
14.3
15.0
15.5
15.5
14.9
14.4
14.6
15.1
15.3
15.1
14.5
14.1

0
2
14.7
15.3
15.6
15.3
14.6
14.2
14.3
14.9
15.3
15.3
14.8
14.4

15.0
15.5
15.7
15.3
14.4
13.9
14.1
14.8
15.3
15.4
15.1
14.8

2
15.3
15.7
15.7
15.1
14.1
13.9
14.1
14.8
15.3
15.4
15.1
14.8

4
15.5
15.8
15.6
14.9
13.8
13.2
13.4
14.3
15.1
15.6
15.5
15.4

LS
6
15.8
16.0
15.6
14.7
13.4
12.8
13.1
14.0
15.0
15.7
15.8
15.7

8
16.1
16.1
15.1
14.1
13.1
12.4
12.7
13.7
14.9
15.8
16.0
16.0

10
16.1
16.0
15.3
14.0
12.6
12.6
11.8
12.2
13.1
14.6
15.6
16.0

Sumber : Montarcih L, 2010

Tabel 1.9 Angka Koreksi ( c ) Menurut Rumus Penman (Tabel PN.3)

BULA
N
(c)

Jan

Feb

Mar

Apr

Mei

Jun

Jul

Agust

Sep

Okt

Nov

Des

1.10

1.10

1.10

0.90

0.90

0.90

0.90

1.00

1.00

1.00

1.00

1.00

Sumber : Montarcih L, 2010


1.7.4 Analisa Evaporasi Potensial
Evaporasi potensial dapat dihitung menggunakan tiga metode. Adapun metode
yang dipergunakan dalam perhitungan evaporasi potensial ini adalah:
1. Metode Blaney-Criddle
2. Metode Radiasi
3. Metode Penman
Tabel berikut adalah tabel data perhitungan evaporasi yang nantinya akan
menjadi data penunjang perhitungan dalam ketiga metode tersebut.
Tabel 1.10 Data Perhitungan Evaporasi
Letak
Lintang
8 LU

jan
25.3

feb
27.3

mar
26.7

apr
28.8

Suhu Rata-rata Bulanan


may jun
jul
aug sep
28.2 29.2 30.2 30.7 29.2

RH min
%
50.0

n
jam/hari
10.8

U
m/dt
6.0

Sumber: Data, 2014

Tabel 1.11 Metode Blaney Criddle

oct
29.8

nov
28.8

dec
26.8

No.

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

Letak
Lintan
g
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU

t
(C)

ET0*
(mm/hr)

ET0
(mm/hr)

0.264
0.27
0.27
0.28
0.28
0.286
0.286
0.28
0.28
0.27
0.264
0.264

25.3
27.3
26.7
28.8
28.2
29.2
30.2
30.7
29.2
29.8
28.8
26.8

5.199
5.564
5.490
5.962
5.885
6.142
6.272
6.205
6.013
5.872
5.621
5.380

0.80
0.80
0.75
0.70
0.70
0.70
0.70
0.75
0.80
0.80
0.80
0.80

4.159
4.451
4.117
4.173
4.119
4.299
4.391
4.654
4.810
4.698
4.497
4.304

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Contoh Perhitungan Metode Blaney - Criddle :
1. Bulan Januari

LL

Mencari P

= 80 LU
(dari Tabel BC.1)

Dengan interpolasi (antara 5 LU dan 10 LU)


(((8-5)/(10-5))*(0,26-0,27))+0,27 = 0,264

ET0* = P . (0,457 t + 8,13)


= 0,264 . (0,457 . 25,3 + 8,13)
= 5,199 mm/hari

Januari
ET0

= 25,30 C

(dari Tabel BC.2) : c = 0.80


= c . ET0*
= 0,80 . 5,199
= 4,159 mm/hari

Tabel 1.12 Metode Radiasi

No.

Bulan

Letak
Lintang

t
(C)

n/N
(%)

R
(mm/hr)

Rs
(mm/hr)

ET0*
(mm/hr)

ET0
(mm/hr)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU

25.3
27.3
26.7
28.8
28.2
29.2
30.2
30.7
29.2
29.8
28.8
26.8

90
90
90
90
90
90
90
90
90
90
90
90

0.748
0.768
0.762
0.783
0.777
0.787
0.797
0.802
0.787
0.793
0.783
0.763

11.77
13.06
14.59
15.11
15.89
15.59
15.75
15.66
14.99
15.80
14.61
14.52

8.664
9.615
10.740
11.124
11.697
11.471
11.592
11.524
11.030
11.629
10.751
10.688

6.481
7.385
8.184
8.710
9.089
9.028
9.239
9.242
8.680
9.222
8.418
8.155

0.80
0.80
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.80
0.80
0.80
0.80
0.80

5.184
5.908
6.138
6.533
6.817
6.771
6.929
7.394
6.944
7.377
6.734
6.524

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Contoh Perhitungan Metode Radiasi :
1. Bulan Januari

Mencari w

LL

Mencari R

= 25,30 C
(dari Tabel R.1) ; w = 0,748

= 80 LU
(dari Tabel R.2)

Dengan Forecasting dari data 5LU s/d 2LU


R = 11,77 mm/hr

(n/N) = 0.90

Rs

= (0,25+0,54(n/N)) R
= (0,25+0,54(0,90)) 11,77
= 8,664 mm/hari

Januari

ET0*

ET0

(dari Tabel R.3) : c = 0,80


= w . Rs
= 0,748. 8,664
= 6.481 mm/hari
= c . ET0*
= 0,80 . 4,341
= 5.184 mm/hari

Tabel 1.13 Metode Penman


No.

Bulan

Letak
Lintang

t
(C)

(mbar)

f(t)

RH
(%)

d
(mbar)

f(d)

R
(mm/hr)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU
8 LU

25.3
27.3
26.7
28.8
28.2
29.2
30.2
30.7
29.2
29.8
28.8
26.8

32.26
36.30
35.04
39.61
38.25
40.51
42.76
43.89
40.51
41.86
39.61
35.25

0.748
0.768
0.762
0.783
0.777
0.787
0.797
0.802
0.787
0.793
0.783
0.763

15.73
16.16
16.04
16.46
16.34
16.54
16.74
16.84
16.54
16.66
16.46
16.06

50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50
50

16.128
18.148
17.520
19.805
19.125
20.255
21.380
21.943
20.255
20.930
19.805
17.625

0.163
0.153
0.156
0.144
0.148
0.142
0.137
0.134
0.142
0.139
0.144
0.155

11.77
13.06
14.59
15.11
15.89
15.59
15.75
15.66
14.99
15.80
14.61
14.52

n/N
(%)

Rs
(mm/hr)

f(n/N)

U
(m/dt)

f(u)

Rn1
(mm/hr)

ET0*
(mm/hr)

ET0
(mm/hr)

90
90
90
90
90
90
90
90
90
90
90
90

8.664
9.615
10.740
11.124
11.697
11.471
11.592
11.524
11.030
11.629
10.751
10.688

0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910
0.910

6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0
6.0

1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670
1.670

2.337
2.244
2.275
2.160
2.194
2.137
2.080
2.052
2.137
2.103
2.160
2.269

8.188
9.214
9.710
10.460
10.645
10.758
11.047
11.104
10.498
10.985
10.241
9.706

1.10
1.10
1.00
0.90
0.90
0.90
0.90
1.00
1.10
1.10
1.10
1.10

9.007
10.136
9.710
9.414
9.580
9.682
9.942
11.104
11.547
12.084
11.265
10.677

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Contoh Perhitungan Metode Penman :
1. Bulan Januari

Tabel PN. 1 :

= 25,30 C

= 25,30 C

= 0,748

f (t)

= 15,73

RH

= 0.50

= . RH

= 32,26 mbar

= 32,26 . 0,50 = 16,128 mbar

= 0,34 0,044(d 0.5)

f(d)

= 0,163

Tabel PN.2 :
= 80 LU

LL

Mencari R

(dari Tabel R.2)

Dengan Forecasting dari data 5LU s/d 2LU


R = 11,77 mm/hr

n/N

= 0,90

Rs

= (0,25 + 0,54 (n/N)) R


= (0,25 + 0,54 . 0,90) 11,77
= 8,664 mm/hari

f(n/N) = 0,1 + 0,9 (n/N)


= 0,1 + 0,9 . 0,90
= 0,91

= 6,0 m/dt

f(U)

= 0,27 . (1 + 0,864 U)
= 0,27 . (1 + 0,864 . 6,0)
= 1,669

Rn1

= f(t) . f(d) . f(n/N)


= 15,73 . 0,163 . 0,91
= 2,337 mm/hari

Januari

ET0* = w (0.75 Rs Rn1) + (1 w) f(U) ( d)

(dari Tabel PN.3) : c = 1.10

= 0,748 (0,75 . 8,664 2,337) + (1 0,748) . 1,669 (32,26


16,128)
= 7,361 mm/hari

ET0

= c . ET0*
= 1,10 . 7,361
= 8,098 mm/hari

Tabel 1.14 Perbandingan Metode Blaney Criddle, Radiasi, dan Penman


No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

ET0*
BC
5,199
5,564
5,490
5,962
5,885
6,142
6,272
6,205
6,013
5,872
5,621
5,380

R
6,481
7,385
8,184
8,710
9,089
9,028
9,239
9,242
8,680
9,222
8,418
8,155

c
P
8,188
9,214
9,710
10,460
10,644
10,758
11,047
11,104
10,498
10,985
10,241
9,706

BC
0,80
0,80
0,75
0,70
0,70
0,70
0,70
0,75
0,80
0,80
0,80
0,80

R
0,80
0,80
0,75
0,75
0,75
0,75
0,75
0,80
0,80
0,80
0,80
0,80

ET0
P
1,10
1,10
1,00
0,90
0,90
0,90
0,90
1,00
1,10
1,10
1,10
1,10

BC
4,159
4,451
4,117
4,173
4,119
4,299
4,391
4,654
4,810
4,698
4,497
4,304

R
5,184
5,908
6,138
6,533
6,817
6,771
6,929
7,394
6,944
7,377
6,734
6,524

Sumber: Hasil Perhitungan, 2014


Keterangan:
BC
: Metode Blaney Criddle
R
: Metode Radiasi
P
: Metode Pennman

Gambar 1.2 Grafik Perbandingan Evaporasi Potensial (ET0)


Sumber : Data, 2014

P
9,007
10,136
9,710
9,414
9,580
9,682
9,942
11,104
11,547
12,084
11,265
10,677

Komentar:
Berdasarkan hasil perhitungan dari metode Blaney Criddle, metode Radiasi,
dan metode Penman nilai evaporasi potensial (ETo) yang diperoleh memiliki nilai yang
berbeda-beda. Secara umum, dari ketiga perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Metode Penman > Metode Radiasi > Metode Blaney Criddle
Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor iklim yang diperhitungkan dalam masing
masing metode. Semakin banyak faktor iklim yang diperhitungkan, maka hasil
evaporasi potensial akan semakin besar dan akurat. Untuk penerapan di lapangan sangat
dianjurkan menggunakan metode Penman untuk stasiun dengan data iklim yang
lengkap, karena faktor iklim yang diperhitungkan lebih banyak dari metode lainnya,
namun metode Blaney Criddle akan cenderung lebih banyak digunakan karena hanya
membutuhkan data iklim yang relatif lebih mudah didapatkan.
1.7.5

Evapotranspirasi
Evapotranspirasi adalah jumlah air total yang dikembalikan lagi ke atmosfer dari

permukaan tanah, badan air, dan vegetasi oleh adanya pengaruh faktor-faktor iklim dan
fisiologis vegetasi. Sesuai dengan namanya, ET juga merupakan gabungan antara
proses-proses evaporasi, intersepsi, dan transpirasi. Evaporasi adalah proses penguapan,
yaitu perubahan dari zat cair menjadi uap air atau gas dari semua bentuk permukaan
kecuali vegetasi. Sedang transpirasi adalah perjalanan air dalam jaringan vegetasi
(proses fisiologis) dari akar tanaman ke permukaan daun dan akhirnya menguap ke
atmosfer. Intersepsi adalah penguapan air dari permukaan vegetasi ketika berlangsung
hujan. (Asdak, 2001: 117-118)
Evapotranspirasi sangat erat kaitannya dengan kebutuhan air tanaman.
Kebutuhan air tanaman adalah sejumlah air yang dibutuhkan untuk menggantikan air
yang hilang akibat penguapan. Penguapan dalam hal ini meliputi penguapan dari
permukaan air dan daun-daun tanaman. Bila kedua proses terjadi bersamaan maka
evapotranspirasi, yaitu gabungan dari proses penguapan air bebas (evaporasi) dan
penguapan melalui tanaman (transpirasi).

Harga evapotranspirasi bergantung kepada jenis dan umur tanaman, yang


nilainya didapatkan degan mengalikan koefisien tanaman dan harga evaporasi potensial.
Rumus Evapotranspirasi Tanaman:
ET = Kc . ET0

Keterangan:
ET
Kc
ET0
1.7.6

= Evapotranspirasi Tanaman (mm/hari)


= Koefisien Tanaman (berdasarkan jenis tanaman)
= Evaporasi Potensial (mm/hari)

Analisa Evapotranspirasi
Tabel 1.15 Harga Kc Tanaman Kedelai
No.

Bulan

Kc

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

0,50
0,75
1,00
1,00
0,82
0,45
-

Sumber: http://www.ilmutekniksipil.com/bangunanair/analisis-kebutuhan-air-irigasi

Tabel 1.16 Harga Evapotranspirasi Tanaman Kedelai


No.

Bulan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

BC
4,159
4,451
4,117
4,173
4,119
4,299
4,391
4,654
4,810
4,698
4,497
4,304

ET0 (mm/hr)
R
5,184
5,908
6,138
6,533
6,817
6,771
6,929
7,394
6,944
7,377
6,734
6,524

Sumber: Data Perhitungan, 2014

P
9,007
10,136
9,710
9,414
9,580
9,682
9,942
11,104
11,547
12,084
11,265
10,677

Kc
0,5
0,75
1
1
0,82
0,45
-

BC
2,080
2,226
2,059
2,087
2,060
2,150
-

ET (mm/hr)
R
2,592
2,954
3,069
3,267
3,409
3,386
-

P
4,504
5,068
4,855
4,707
4,790
4,841
-

Gambar 1.3 Grafik Perbandingan Evapotranspirasi (ET)


Sumber : Data, 2014

Contoh Perhitungan:
Bulan Januari (Kc = 0,50)
Metode Blaney-Criddle
ET
= Kc . ET0
= 0,50 . 4,159 = 2,080 mm/hari
Metode Radiasi
ET
= Kc . ET0
= 0,50 . 5,184 = 2,592 mm/hari
Metode Penman
ET
= Kc . ET0
= 0,50 . 9,007 = 4,504 mm/hari
Komentar:
Berdasarkan hasil perhitungan evapotranspirasi tanaman kedelai, harga
evapotranspirasi menunjukkan nilai yang berbeda setiap bulan dan metode yang
digunakan. Harga evapotranspirasi menggunakan metode Pennman menghasilkan hasil
terbesar dibandingkan dengan menggunakan metode Blaney Criddle dan metode
Radiasi,

seperti

pada

hasil

perhitungan

evaporasi

potensial,

karena

harga

evapotranspirasi tanaman diperoleh melalui perkalian koefisien tanaman (Kc) dan harga

evapotranspirasi potensial (ET0). Sehingga untuk nilai koefisien tanaman yang sama,
semakin besar harga evaporasi potensial menghasilkan harga evapotranspirasi tanaman
yang semakin besar.
1.8 Kesimpulan :
Berdasarkan hasil perhitungan dari metode Blaney Criddle, metode Radiasi,
dan metode Penman nilai evaporasi potensial (ETo) yang diperoleh memiliki nilai yang
berbeda-beda. Secara umum, dari ketiga perhitungan tersebut, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Metode Penman > Metode Radiasi > Metode Blaney Criddle
Hal ini dipengaruhi oleh adanya faktor iklim yang diperhitungkan dalam masing
masing metode. Semakin banyak faktor iklim yang diperhitungkan, maka hasil
evaporasi potensial akan semakin besar dan akurat. Untuk penerapan di lapangan sangat
dianjurkan menggunakan metode Penman untuk stasiun dengan data iklim yang
lengkap, karena faktor iklim yang diperhitungkan lebih banyak dari metode lainnya,
namun metode Blaney Criddle akan cenderung lebih banyak digunakan karena hanya
membutuhkan data iklim yang relatif lebih mudah didapatkan.
Berdasarkan hasil perhitungan evapotranspirasi tanaman kedelai, harga
evapotranspirasi menunjukkan nilai yang berbeda setiap bulan dan metode yang
digunakan. Harga evapotranspirasi menggunakan metode Pennman menghasilkan hasil
terbesar dibandingkan dengan menggunakan metode Blaney Criddle dan metode
Radiasi,

seperti

pada

hasil

perhitungan

evaporasi

potensial,

karena

harga

evapotranspirasi tanaman diperoleh melalui perkalian koefisien tanaman (Kc) dan harga
evapotranspirasi potensial (ET0). Sehingga untuk nilai koefisien tanaman yang sama,
semakin besar harga evaporasi potensial menghasilkan harga evapotranspirasi tanaman
yang semakin besar.
1.9 Daftar Bacaan
Asdak, C. 2001. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Yogyakarta :
GADJAH MADA UNIVERSITY PRESS
Limantara, L.M. 2010. Hidrologi Praktis. Bandung : Lubuk Agung
Soewarno. 1991. Hidrologi Aplikasi Metode Statistik. Bandung : NOVA

Anonim. 2012. Analisis Kebutuhan Air Irigasi. (online).


(http://www.ilmutekniksipil.com, diakses tanggal 4 Juni 2014)
Anonim. 1986. Penentuan Kebutuhan Air Irigasi. (online). (http://www.fao.org,
diakses tanggal 4 Juni 2014)
Anonim. 2009. Hydrologic Cycle.(online). (http://earthobservatory.nasa.gov,
diakses tanggal 12 Juni 2014)
Abdurrozaq. 2011. Siklus Hidrologi.(online). (http://blog.uin-malang.ac.id, diakses
tanggal 12 Juni 2014)