Anda di halaman 1dari 6

JTM Vol. XVIII No.

3/2011

SOLUSI NUMERIK UNTUK MENENTUKAN LAJU PRODUKSI GAS


OPTIMUM
Muhammad Gusti Bastisya1, Pudjo Sukarno1
Sari
Dalam industri migas khususnya bidang teknik produksi, nodal sistem analisis merupakan salah satu metode yang paling
sering digunakan dalam penentuan laju produksi sumur. Solusi numerik dibuat untuk sistem wet gas agar nodal
sistemanalisis dapat diselesaikan dengan cepat dan relative lebih mudah. Persamaan inflow performance relationship (IPR)
disubstitusikan ke dalam persamaan outflow performance relationship, atau dalam hal ini dapat disebut sebagai Tubing
Performance Relationship (TPR), untuk memperoleh laju produksi dan tekanan operasi tanpa membuat grafik terlebih
dahulu. Persamaan hasil substitusi ini memerlukan laju alir sebagai input yang juga merupakan output sehingga
menyebabkan persamaan ini harus diselesaikan secara numerik dengan proses iterasi. Laju alir optimum yang dihasilkan
kemudian di-validasi menggunakan program yang sudah ada. Analisa sensitivitas juga dilakukan untuk mengetahui batasanbatasan program yang dibuat.
Kata kunci: solusi numerik, nodal sistem analisis, reservoir wet gas
Abstract
In oil industry, especially in production engineering, nodal sistemanalisis is one of the most common method for determining
optimum production rate. A numerical solution was made in order to make nodalsistemanalisis in wet gas reservoir easier to
solve. So it took less time to be solved. The Inflow performance relationship (IPR) correlation was substituted to the Outflow
Performance Relationship or so called Tubing Performance Relationship (TPR) correlation to determine the production rate
and pressurewithout drawing any graphic first.The resulting correlation needs production rate as an input data. But, as we
know production rate is thevariable that we want to solve. So it needs iterative solution. Then we validate the optimum rate
we getfrom this program with an existing comecial software. A sensitivity analisis was done to know the effects offluid
properties and well configuration change. As a result, we know the limitation of the program.
Keywords: numerical solution, nodal sistemanalisis, wet gas reservoir
1)

Program Studi Teknik Perminyakan, FakultasTeknik Pertambangan dan Perminyakan ITB,


Jl. Ganesa No. 10 Bandung 40132, Telp.: +62-22-2504955, Fax.: +62-22-2504955, Email: gusti.petroleum@yahoo.com

I. PENDAHULUAN
Nodal Siste mAnalisis merupakan suatu teknik
sederhana yang digunakan untuk menentukan
hubungan antara Inflow Performance Relationship
dengan Tubing Intake, yang dapatdigunakan untuk
menentukan laju produksi optimum yang terjadi
dalam suatu sistem produksi. Suatu persamaan
matematis digunakan untuk menggambarkan
kemampuan suatu reservoir untuk memproduksi
fluida menuju lubang sumur dan sistem perpipaan
yang mengalirkan fluida ke separator di
permukaan.
Komponen-komponen lain yang menyebabkan
kehilangan tekanan seperti lubang perforasi
danchoke juga dapat diperhitungkan untuk
menentukan kehilangan total sistem.Teknik ini
kemudian digunakan secara luas keperluan desain,
evaluasi keekonomian, dan penyelesaian masalah
pada sumur minyak dan gas.Pada umumnya teknik
ini diselesaikan secara grafik dengan menggunakan
plot tekanan versus laju alir.Persamaan inflow dan
outflow berbeda dan berpotongan pada suatu
titik.Titik perpotongan ini menunjukkan laju alir
dan tekanan yang terjadi dalam sistem.
Jika kedua kurva tersebut tidak berpotonganberarti
sumur tersebut tidak mampu memproduksikan
fluida menuju permukaan. Ha lini bisa diatasi
antara lain dengan metode artificial lift seperti gas
lift dan submercible pumps.

Gambar 1 memberi gambaran secarajelas


bagaimana nodal sistem analisis diselesaikan secara
grafis.

Gambar 1. Kurva nodal sistemanalisis


Pada makalah ini akan dibahas mengenai
penyelesaian nodal sistem analisis secara numerik.
Kedua kurva pada penyelesaian nodal sistem
analisis secara grafis terbentuk dari dua persamaan
yang berbeda tentunya.Masing-masing mewakili
bagian inflow dan outflow dari titik nodal. Sebagai
contoh adalah nodal sistem analisis dengan titik
nodal di dasar sumur.

129

Muhammad Gusti Bastisya, Pudjo Sukarno

TMNo.4/
Bagian inflow diwakili dengan persamaan IPR dan
bagian outflow diwakili oleh persamaan kehilangan
tekanan dalam tubing. Kedua persamaan inilah
yang digunakan dalam penyelesaian secara analitis,
tanpa menggambar kurva yang terbentuk terlebih
dahulu.

Dari dimensional analisis dan tes laboratorium, tiga


kelompok variabel tak berdimensi dipilih untuk
menentukan liquid holdup:
(2)
(3)

Jadi, dengan adanya makalah ini diharapkan nodal


sistem analisis dapat dilakukan secara cepat dengan
suatu program sederhana yang mudah digunakan.
II. KONSEP ALIRAN MULTIFASA
Ketika terdapat dua fasa atau lebih mengalir secara
bersamaan, kelakuan aliran menjadi lebih kompleks
dibandingkan dengan aliran satu fasa.Fasa yang ada
cenderung untuk berpisah karena perbedaan
densitas. Shear stress pada dinding pipa berbeda
untuk masing-masing fasa akibat perbedaan
densitas dan viskositas. Ekspansi gas yang sangat
compressible seiring penurunan tekanan akan
menaikkan laju gas. Sebagai akibatnya, gas dan
cairan biasanya tidak mengalir dengan kecepatan
yang sama. Untuk aliran vertikal ke atas, fasa gas
dengan densitas dan viskositas yang lebih rendah
dan lebih compressible cenderung untuk mengalir
lebih cepat dari fasa cair. Hal ini menimbulkan
fenomena yang disebut slippage.
Mungkin yang paling mendasar pada konsep aliran
multifasa adalah variasi distribusi fisik yang biasa
disebut flow pattern atau flow regime. Pada aliran
multifasa dalam pipa, flow pattern yang terjadi
bergantung pada besar gaya-gaya yang bekerja
pada fluida tersebut. Buoyancy, turbulensi, dan
tegangan permukaan bervariasi terhadap besarnya
laju alir, diameter pipa, sudut kemiringan, dan
properti fluida. Yang paling penting adalah nilai
gradien tekanan yang dihasilkan akan bervariasi
untuk flow pattern yang berbeda.
2.1 Prediksi Pressure Gradien Aliran Dalam
PipaVertikal
Gray mengembangkan suatu metode untuk
menentukan gradien tekanan pada sumur gas
vertikal yang juga menghasilkan kondensat atau
air. Total 108 data tes sumur digunakan untuk
mengembangkan
korelasi
empiris.
Dari
keseluruhan data yang digunakan, 88 set data
diambil dari sumur yang menghasilkan kondensat.
Gray menganjurkan pemakaian metode ini terbatas
untuk kecepatan alir di atas 50 ft/sec, diameter pipa
di atas 3,5 inci, condensate/liquid loadings di atas
50 bbl/MMscf, dan water/liquid loadings di atas 5
bbl/MMscf.
Gray mengusulkan persamaan berikut untuk
memperkirakan gradien tekanan untuk aliran dua
fasa pada sumur gas:
(1)

130

(4)
Sedangkan penentuan liquid holdup menggunakan
persamaan berikut:
(5)
dimana,
(6)
Gray
menganjurkan
untuk
menggunakan
persamaan di bawah ini untuk menentukan L yang
digunakan pada persamaan di atas ketika kondensat
dan air ada:
(7)
2.2 Prediksi Pressure Gradien Aliran Dalam
Pipa Horizontal
Terdapat banyak persamaan yang bisa digunakan
untuk menentukan gradien tekanan aliran fluida
dalam pipa horizontal. Namun hanya sedikit yang
dapat digunakan untuk wet gas. Korelasi Panhandle
dan Weymouth hanya berlaku untuk dry gas. Maka
dari itu digunakan korelasi Beggs and Brill untuk
menghitung kehilangan tekanan aliran dalam pipa
horizontal untuk aliran multifasa:
(8)
Namun korelasi ini berdasarkan eksperimen
dimana fluida yang digunakan memiliki liquid
holdup yang relatif besar. Minami dan Brill
menemukan satu korelasi untuk menentukan liquid
holdup untuk aliran wet gas dalam pipa horizontal.
HL = -0.0095 + 3.698x2 + 65.22x4

(9)

dimana:
(10)
Nilai variable tak berdimensi pada persamaan
tersebut diperoleh berdasar dimensionless groups of
variables yang dibuat oleh Duns and Ross:
(11)

Solusi Numerik Untuk Menentukan Laju Produksi Gas Optimum

(12)
Untuk perhitungan friksi pada korelasi gradien
tekanan baik aliran vertikal maupun horizontal
digunakan korelasi empiris Colebrook:
(13)
2.3 Inflow Performance Relationship
Inflow Performance Relationship (IPR) dapat
diartikan sebagai hubungan antara laju produksi
dari reservoir dan tekanan alir dasar sumur.Gilbert
adalah yang pertama kali menggunakan persamaan
IPR satu fasa untuk menganalisa suatu sumur.
Untuk reservoir wet gas digunakan persamaan IPR
Fetkovich:
(14)
Konstanta n bervariasi antara 0,5 1,0 bergantung
pada permeabilitas, skin dan lain - lain. Sedangkan
nilai konstanta C merepresentasikan productivity
index dari suatu reservoir.
III. METODOLOGI
Untuk memperoleh laju alir optimum diperlukan
proses substitusi persamaan kehilangan tekanan
dalam pipa ke dalam persamaan IPR. Dan untuk
menyelesaikan sistem persamaan yang dihasilkan
perlu dilakukan proses iterasi (dengan metode
direct substitution) karena kedua sisi persamaan
mengandung variabel laju alir.
Skema algoritma penyelesaian persamaannya dapat
dilihat dalam Gambar 2. Dalam proses iterasi
dengan metode direct substitution diperlukan
tebakan awal laju optimum sebagai salah satu
input. Laju optimum yang dihasilkan dari
persamaan tersebut kemudian dijadikan input untuk
proses iterasi yang kedua dan seterusnya hingga
eror mencapai nilai di bawah 0,0001.
Korelasi yang digunakan adalah persamaan IPR
Fetkovich, persamaan kehilangan tekanan dalam
pipa vertikal Gray, dan persamaan kehilangan
tekanan dalam pipa horizontal Beggs and Brill.
Skenario yang dipilih adalah sistem produksi
dengan flowline dan tanpa flowline. Sedangkan titik
nodal diletakkan di dasar sumur.
Hasil laju alir optimum (Q) ini kemudian
dibandingkan dengan hasil keluaran laju alir
optimum dari software komersial, dalam hal ini
Pipesim 2003.

Gambar 2. Algoritma perhitungan


IV. STUDI KASUS
Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang
model ini, maka akan diberikan suatu studi kasus
sebagai base case. Dalam studi kasus ini, data yang
diberikan merupakan data hipotetik yang
direkayasa, bukan data lapangan.
Data yang diberikan adalah data fluida, data tes
produksi, dan data konfigurasi sumur. Data-data
lain yang dibutuhkan diambil dari hasil korelasi
dengan input data yang diberikan (Tabel 1 sampai
4).
Tabel 1. Data properti fluida
SG gas
0,7 fraction
SG water
1 fraction
API oil
55 0API
Yield
0,01 Bbl/Mscf
T Kepala sumur
150 0F
T Dasar sumur
200 0F
T Separator
100 0F
WC
0 fraction
Tabel 2. Data konfigurasi sumur tanpa flowline
Diameter tubing
2,259 in
Roughness
0,00011295 ft
Panjang tubing
9.000 ft
Pwh
800 psi

131

Muhammad Gusti Bastisya, Pudjo Sukarno

TMNo.4/
Tabel 3. Data konfigurasi sumur dengan flowline
2,259 in
Diameter tubing
ft
0,00011295
tubing
ft
9.000
Panjang tubing
3,5 in
Diameter flowline
ft
0,00011295
flowline
ft
20.000
Panjang flowline
300 psi
P Separator

P reservoir
AOFP
C
n

Tabel 4. Data tes


3.000
Psi
3.659,27
Mscf/d
0,01
Mscf/d-psi2n
0,8

Laju alir optimum dicari dengan cara


menyubstitusikan persamaan kehilangan tekanan di
pipa atau tubing performance curve (TPR) ke
dalam persamaan IPR. Karena TPR dan IPR samasama dipengaruhi parameter laju alir, maka solusi
analitis ini diselesaikan dengan cara iterasi.

sedangkan untuk skenario dengan flowline sebesar


2,44%. Hal ini dapat disebabkan karena beberapa
hal seperti perbedaan korelasi yang digunakan pada
perhitungan properti fluida.
V. ANALISIS SENSITIVITAS
Untuk mengetahui batasan-batasan nilai input yang
dianjurkan untuk metode numerik ini dilakukan
studi sensitivitas terhadap API gravity minyak,
specific gravity gas, oil gas ratio (OGR), water cut,
dan diameter tubing dan flowline.
Error yang dihasilkan dapat dilihat dalam Gambar
4 sampai 9. Dapat dilihat dalam kurva, perubahan
API gravity kondensat tidak berpengaruh besar.
Nilai error yang dihasilkan tidak terlalu
menyimpang dari base case.

Demikian juga ketika mencari friction factor


dengan menggunakan persamaan Colebrook, solusi
dicari dengan cara iterasi juga. Sehingga dalam
mencari laju alir optimum, akan ada iterasi dalam
iterasi, yaitu iterasi friction factor dalam iterasi laju
alir.

Gambar 4. Grafik sensitivitas API gravity


Tidak berbeda dengan API gravity, perubahan
specific gravity dari gas juga tidak memberi
perubahan nilai error yang cukup signifikan. Dari
base case dengan skenario tanpa flowline, SG gas
0.7, error yang dihasilkan sebesar 0,44%.
perubahan yang dihasilkan masih masuk dalam
batas toleransi 5%.
Gambar 3. Perbandingan hasil perhitungan numerik
dan pipesim
Solution gas oil ratio (Rs) dan oil formation volume
factor (Bo) dicari menggunakan tigapilihan
korelasi yang berbeda, Standing,Vazquez and
Beggs, dan Kartoatmodjo andSchmidt.Viskositas
minyak dicari menggunakankorelasi Beggs &
Robinson. Selanjutnyaviskositas gas (Lee),
viskositas air (van Wingen), interfacial tension
minyak (Baker & Swerdloff), interfacial tension air
(Hocott & Hough).
Hasil perhitungan dengan solusi numerik kemudian
dibandingkan dengan perhitungan menggunakan
software Pipesim (Gambar 3). Untuk skenario
tanpa flowline menghasilkan error sebesar 0,44%,

132

Gambar 5. Grafik sensitivitasspecific gravity gas

Solusi Numerik Untuk Menentukan Laju Produksi Gas Optimum

Begitu pula dengan pengaruh Oil Gas Ratio.Error


yang dihasilkan juga masih dalam batas toleransi
5%. Error maksimum yang dihasilkan sebesar
2,5%.namun perlu diperhatikan bahwa persamaan
yang digunakan pada perhitungan kehilangan
tekanan aliran dalam pipa vertikal terbatas pada
OGR di bawah 50 bbl/MMscf.

Kemudian melihat error pada sensitivitas water cut,


untuk skenario tanpa flowline data yang
menghasilkan error di bawah 5% hanya data
dengan water cut di bawah 40%. Sedangkan untuk
skenario dengan flowline di bawah 20%. Hasilnya
dapat dilihat dalam Gambar 9.

Gambar 8. Grafik sensitivitas diameter flowline


Gambar 6. Grafik sensitivitas OGR
Gambar 8 memperlihatkan bagaimana pengaruh
sensitivitas diameter flowline. Semuanya masih
masuk dalam batas toleransi error. Namun memang
sedikit rancu pada flowline dengan diameter kecil.
Nilai errornya makin besar seiring mengecilnya
flowline. Namun untuk diameter flowline yang
biasanya dipakai di lapangan errornya masih masuk
dalam batas toleransi.

Gambar 9. Grafik sensitivitas water cut

Gambar 7. Grafik sensitivitas diameter tubing


Nilai error berubah cukup signifikan pada
sensitivitas diameter tubing. Karena persamaan
Gray terbatas untuk aliran dalam tubing dengan
diameter di bawah 3,5 inci, sensitivitas hanya
dilakukan untuk diameter 1,5 3,5 inci.
Hasilnya, nilai error yang berada di bawah 5%
hanya pada selang 2 3 inci. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat dalam Gambar 7.

Dari hasil analisa sensitivitas dengan batas toleransi


error sebesar 5%, parameter yang perlu
diperhatikan adalah diameter tubing dan water cut.
Untuk skenario tanpa flowline, selang diameter
tubing yang dianjurkan adalah antara 2 3 inci.
Dan selang water cut yang dianjurkan adalah antara
040%. Sedangkan untuk skenario dengan
flowline, selang diameter tubing yang dianjurkan
adalah antara 2 3,5 inci. Dan selang water cut
yang dianjurkan adalah antara 0 20%.
VI. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
6.1 Kesimpulan
Dari penelitian ini, dapat disimpulkan beberapa
kondisi sebagai berikut:
1. Penyelesaian nodal sistem analisis dapat
dilakukan dengan secara numerik dengan proses
substitusi dan iterasi menggunakan software ini.
2. Pada base case, laju alir optimum yang
dihasilkan dari program ini memiliki error

133

Muhammad Gusti Bastisya, Pudjo Sukarno

TMNo.4/
berkisar antara 0,44% - 2,44% dibandingkan
3. Setelah dilakukan sensitivitas analisis, error
terbesar dihasilkan pada nilai diameter tubing
yang sangat kecil (mencapai sekitar 18%). Jadi
untuk menghindari kesalahan perhitungan,
program sebaiknya digunakan pada sumur
dengan diameter tubing yang tidak terlalu kecil.
4. Program ini sensitif terhadap perubahan
diameter tubing dan water cut.
5. Perubahan nilai API gravity, specific gravity
gas, OGR, dan flowline diameter tidak
menyebabkan perubahan error yang signifikan.
6. Secara garis besar, nilai error yang dihasilkan
pada skenario sumur tanpa flowline lebih kecil
dibandingkan dengan error pada skenario sumur
dengan flowline.
6.2 Rekomendasi
Dari penelitian ini dapat diajukan beberapa
rekomendasi, sebagai berikut:
1. Perlu diperhatikan range input data yang
dimasukkan ke dalam program karena
keterbatasan beberapa persamaan yang ada.
2. Untuk menghindari kesalahan perhitungan,
sebaiknya program digunakan pada range data
input yang menghasilkan error relatif kecil.
3. Perlu dilakukan studi lebih lanjut mengenai
pembuatan solusi numerik dengan sistem
produksi yang lebih kompleks, seperti adanya
choke, tappered tubing, comingle well, dll.
DAFTAR PUSTAKA
1. Brill, J.P., and Mukherjee, H., 1999. Multiphase
Flow in Wells, SPE, Texas.
2. Dale Beggs McCain, W.D., 1898. The
Properties of Petroleum Fluids, PennWell,
Oklahoma.

134

dengan hasil perhitungan Pipesim.


3. Guo, B., Lyons, W.C., and Ghalambor, A.,
2006. Petroleum Production Engineering,
Elsevier Science & Technology Books.
4. Minami, K., and Brill, J.P., 1987. Liquid
Holdup in Wet-Gas Pipelines, SPE 14535.
5. Munir, R., 2002. Algoritma & Pemrograman,
Informatika, Bandung.
DAFTAR SIMBOL
dP/dz , dP/dL = kehilangan tekanan alir sepanjang pipa
f
= friction factor
= density in no-slip condition
= density in slip condition
= liquid density
= gas density
= liquid velocity
= gas velocity
= mixture velocity
d
= pipe diameter
g
= gravity acceleration
,
= dimensionless groups of variable
= liquid velocity number
= pipe diameter number
= liquid surface tension
= oil surface tension
= water surface tension
= oil fraction
= water fraction
= liquid holdup
= no-slip liquid holdup

= kekasaran pipa
= reynold number
q
= laju alir
C,n
= konstanta IPR fetkovich
= tekanan reservoir
= tekanan dasar sumur