Anda di halaman 1dari 6

ANALISA SINTESA TINDAKAN KEPERAWATAN

PEMASANGAN KATETER URINE


DI INSTALASI GAWAT DARURAT RSUD TIDAR KOTA MAGELANG
Nama klien

: Ny. W

Diagnosa Medis : Stroke non haemorragic


Tanggal Masuk : 4 Januari 2012
1. Diagnosa keperawatan dan dasar pemikiran
a. Diagnosa keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparese/ hemiplagia
Data Subjektif: Data Objektif:

Klien menggunakan O2 nasal kanul 3 liter/menit

Kesadaran: compos mentis, GCS : 14 E=4, M=6, V=4

Kekuatan otot: Ekstremitas atas kanan: 3, kiri: 4, bawah kanan 1, kiri: 3

TD : 190/ 120 mmHg

N : 108 x/menit

T : 36,50C

RR : 28 x/menit

Pada palpasi abdomen: teraba distensi kandung kemih

Klien tampak lemah, akral dingin, sianosis pada ujung ekstremitas atas
dan bawah

Cappilary refill < 2 detik

Klien tidak mampu menggerakkan kaki kanannya

Klien tidak mampu berbicara secara spontan

b. Dasar pemikiran

Stroke adalah suatu tanda klinis yang ditandai defisit neurologi fokal atau
global yang berlangsung mendadak selama 24 jam atau lebih atau kurang dari
24 jam yang dapat menyebabkan kematian, yang disebabkan oleh ganguan
pembuluh darah. Stroke non hemoragik dapat disebabkan oleh trombus dan
emboli. Stroke non hemoragik akibat trombus terjadi karena penurunan aliran
darah pada tempat tertentu di otak melalui proses stenosis. Mekanisme
patofisiologi dari stroke bersifat kompleks dan menyebabkan kematian
neuronal yang dikuti oleh hilangnya fungsi normal dari neuron yang terkena.
Memahami patofisiologi stroke non hemoragik akibat thrombus penting
dalam penatalaksanan pasien, khususnya dalam memberikan terapi secara
tepat. Sebagian besar klien dengan stroke mengalami inkontinensia urinarius
karena kerusakan kontrol urinarik dan postural. Setelah stroke kandung kemih
menjadi atonik, dengan kerusakan sensasi dalam respon pengisian kandung
kemih. Sehingga refleks berkemih menjadi berkurang.
2. Tindakan keperawatan yang dilakukan
Pemasangan dower cateter ukuran 16.
3. Prinsip-prinsip tindakan
a. Steril
b. Tindakan dilakukan secara tepat dan benar.
c. Patikan pemasukan yang tepat pada lubang ureter
d. Prosedur pemasangan kateter:
1) Persiapan alat:

Sarung tangan steril

Sarung tangan bersih

Larutan antiseptik

Kapas

Spuit 10 cc

Gel

Bengkok

Selang drainase steril dan urine bag

Kantong sampah

2) Prosedur tindakan:

Cuci tangan

Jelaskan prosedur kepada klien

Atur posis klien senyaman mungkin

Tutup ruangan/tirai

Bantu klien pada posisi dorsal rekumben

Kenakan sarung tangan sekali pakai

Buka kantong kateter sesuai petunjuk, jaga agar wadah tetap steril

Buka wadah specimen urine, pertahankan bagian atasnya agar tetap


steril dan sambungkan dengan selang kateter

Berika pelumas pada dasar ujung kateter 2,5-5 cm

Dengan tangan non dominan anda dengan hati-hati regangkan labia


untuk pemajanan sempurna meatus uretra. Pertahankan tangan non
dominan anda pada posisi ini sepanjang prosedur

Dengan tangan dominan anda tuangkan larutan aseptik pada kapas


atau kassa

Bersihkan area perineal, usap dari belakang ke depan dari klitoris


sampai ke anus

Minta klien untuk menarik napas dalam dan dengan perlahan


masukkan kateter melalui meatus

Dodong kateter sekitar 5-7,5 cm sampai urine keluar masuk ke urine


bag

Lepaskan labia dan pegang kateter dengan menggunakan tangan non


dominan

Kunci kateter dengan menggunakan aquadest 20-30 cc

Fiksasi selang kateter dan gantung kateter dengan menggunakan tali


agar posisinya menggantung ke bawah

Rapikan alat-alat

Cuci tangan

Dokumentasi

4. Analisa tindakan keperawatan


Sebagian besar klien dengan stroke mengalami inkontinensia urinarius karena
kerusakan kontrol urinarik dan postural. Setelah stroke kandung kemih menjadi
atonik, dengan kerusakan sensasi dalam respon pengisian kandung kemih. Saat
kontrol urinarius eksternal hilang atau berkurang, kemudian dilakukan katerisasi
urin dengan teknik steril. Ny. W yang mengalami kelemahan pada ekstremitas
menyebabkan klien juga tidak dapat melakukan aktivitas berpindah dari tempat
tidur melalui toilet. Oleh karena itu pemasangan kateter dilakukan pada klien Ny.
W dimana hal ini ditujukan untuk mengatasi gangguan sistem perkemihan dan
memantau output (jumlah dan warna urine) cairan yang dihasilkan.
5. Bahaya yang mungkin muncul
Kerugian kateterisasi sementara ini adalah adanya bahaya distensi kandung
kemih, resiko trauma uretra akibat kateter yang keluar masuk secara berulang,
resiko infeksi akibat masuknya kuman-kuman dari luar atau dari ujung distal
uretra (flora normal).
6. Hasil yang di dapat dan maknanya
S: O:

Kesadaran: compos mentis

Jumlah urine tamping: 500 cc dengan karakteristik urine: oranye, pekat


dan tidak ada sedimen dalam endapan urine.

TTV : TD = 190/90 mmHg, Nadi = 108 x/menit, irreguler, teraba lemah,


T = 36,0C,
RR 26 x/menit, reguler

Klien tampak lemah, akral mulai teraba lebih hangat

Cappilary refill < 2 detik

A: Masalah belum teratasi ditandai dengan klien terpasang kateter urine.


P : Lanjutkan intervensi
-

Monitor haluaran urine

Monitor vesica urinaria klien

7. Tindakan

lain

yang

dapat

dilakukan

untuk

mengatasi

diagnosa

keperawatan di atas
a. Mandiri
Observasi tanda-tanda vital
Pertahankan tirah baring dan berikan posisi yang nyaman.
Ciptakan lingkungan yang tenang, batasi pengunjung bila perlu.
b. Kolaborasi
Pemberian diuretik sesuai advis dokter.
8. Evaluasi diri
Pemasangan kateter pada Ny. W berjalan lancar, namun belum sesuai dengan
prosedur karena keterbatasan sarana dan pra sarana. Telah terpasang kateter urine
ukuran 16 dan dilakukan kegiatan monitoring karakteristik urine dan balance
cairan.
9. Kepustakaan
1)

Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8,


1997, EGC, Jakarta.

2)

Nanda Diagnosis Keperawatan 2012-2014

3)

Price, Sylvia Anderson, Patofisiologi Buku I, 1994,EGC, Jakarta.

4)

USU. Diakses melalui


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25132/4/Chapter%20II.pdf
pada tanggal 7 Januari 2015

5)

Wijaya, Aji. Diakses melalui


http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82595&val=970
tanggal 7 Januari 2015

pada