Anda di halaman 1dari 22

METABOLISME SEL SARAF

Lecture : dr. Surudarma, M.Si


Sistem saraf merupakan jalinan saraf yang saling berhubungan, sangat khusus
dan kompleks yang merupakan sistem koordinasi yang bertugas menyampaikan
rangsangan yang diterima dari reseptor untuk dideteksi dan direspon oleh tubuh. Sistem
saraf memungkinkan makhluk hidup tanggap dengan cepat terhadap perubahanperubahan yang terjadi di lingkungannya, baik luar maupun dalam.
Sistem saraf memiliki komponen-komponen yang nantinya berfungsi sebagai
penghantar impuls atau rangsangan. Komponen-komponen sistem saraf terdiri dari :
-

Reseptor
Reseptor adalah alat penerima rangsangan atau impuls. Yang bertindak
sebagai reseptor adalah organ indera.

Penghantar impuls
Penghantar impuls dilakukan oleh saraf itu sendiri.

Efektor
Efektor adalah bagian yang menanggapi rangsangan yang telah diantarkan
oleh penghantar impuls. Efektor yang paling penting pada manusia adalah
otot dan kelenjar.

Sistem saraf terdiri dari sel-sel saraf (neuron) dan sel-sel penyokong (neuroglia
dan sel schwann). Kedua jenis sel tersebut berkaitan erat dan terintegrasi satu sama
lain sehingga bersama-sama berfungsi sebagai satu unit.
Neuron adalah sel-sel sistem saraf khusus peka rangsang yang menerima
masukan sensorik atau aferen dari ujung-ujung saraf perifer atau dari organ reseptor
sensorik dan menyalurlan masukan motorik atau masukan eferen ke otot-otot atau
kelenjar-kelenjar, yaitu organ-organ efektor, (Price, 2006 :1007).

Sel saraf tersusun dari inti sel, badan sel, dendrit dan akson.

Inti sel, merupakan struktur inti sel pada umunya yang di dalamnya terdapat
asam nukleat (materi inti). Inti sel berperan sebagai pengatur segala aktifitas
sel saraf.

Badan sel merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf. Dalam badan
sel saraf terdapat inti sel, sitoplasma, mitokondria, bagan golgi, dan badan
nisel (kumpulan retikulum endoplasma). Badan sel berfungsi untuk menerima
rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke akson.

Dendrit
Dendrit adalah serabut sel saraf yang pendek dan bercabang-cabang yang
merupakan perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi untuk menerima dan
menghantarkan rangsangan ke badan sel.

Akson
Akson disebut juga neurit yaitu serabut panjang sel saraf yang merupakan
penjuluran sitoplasma badan sel. Didalam neurit terdapat benang-benang
halus yang disebut neurofibril. Neurofibril dibungkus oleh beerapa lapis
selubung mielin yang berfungsi unuk mempercepat jalannya rangsangan.
Selubung mielin dibungkus oleh sel-sel schwann yang dapat menyediakan
makanan untuk neurit dan membantu pembentukan neurit. Sel schwann juga
merupakan pelindung dan penyokong neuron-neuron dan tonjolan neuronal
di luar sistem saraf, (Price, 2006:1007).lapisan luar di selubung mielin disebut

neurilemma yang melindungi akson dari kerusakan. Bagian neurit yang tidak
terbungkus oleh lapisan mielin disebut nodus ranvier, yang berfungsi
mempercepat jalannya ragsangan.
Neuron bergabung membentuk suatu jaringan saraf yang berfungsi untuk
mengantarkan impuls. Hubungan antara sel saraf yang satu dengan sel saraf yang lain
disebut sinapsis, sedangkan hubungan antara sel saraf dengan serabut otot disebut
neuromuscular junction. Neuron pada manusia dapat kita kelompokkan berdasarkan
struktur dan fungsinya. Neuron berdasarkan strukturnya dibagi menjadi tiga tipe, yaitu
neuron multipolar, neuron bipolar, neuron unipolar. Neuron multipolar adalah tipe neuron
yang memiliki banyak dendrite dan satu akson. Neuron bipolar memiliki hanya satu
dendrite dan satu akson, sedangkan neuron unipolar tidak memiliki dendrit dan proses
penghantaran impuls dilakukan oleh satu akson.
Berdasarkan fungsinya sel saraf dapat dibagi menjadi sel saraf sensorik, Sel
saraf motorik, dan sel saraf penghubung.

Sel saraf sensorik (afferent)


Sel saraf sensorik adalah sel saraf yang berfungsi menerima rangsangan dari
reseptor, yaitu alat indera ke saraf pusat otak dan sumsum tulang belakang.

Sel saraf motorik (efferent)


Saraf motorik adalah saraf yang berfungsi mengantarkan rangsangan ke
efektor yaitu otot dan kelenjar. Rangsangan yang dihantarkan berasal atau
diterima dari otak dan sumsum tulang belakang.

Sel saraf penghubung (assosiation)

Sel saraf penghubung adalah sel saraf yang berfungsi menghubungkan sel
saraf satu dengan sel saraf lainnya. Sel saraf ini banyak ditemukan di otak
dan sumsum tulang belakang. Sel saraf penghubung, menghubungkan sel
saraf sensorik dan sel saraf motorik.
A. PENGHANTARAN IMPULS DALAM NEURON (NEUROTRANSMISI)
Saraf

berfungsi

mekanisme

tersebut

sebagai

mekanisme

berkaitan

dengan

depolarisasi
transportasi

dan
ion

repolarisasi.
menembus

Kedua

membran

(transmembran). Transportasi transmembran tersebut terkait dengan ion natrium dan


kalium sehingga kedua jenis ion itu termasuk jenis ion yang esensial bagi mekanisme
dalam saraf. Mekanisme tersebut memunculkan gelombang depolarisasi.
Seperti sel-sel lainnya, neuron selalu menciptakan gradien ionik antara kedua
sisi membran plasmanya melalui proses pemompaan ion-ion tertentu. Pemompaan yang
seringkali dilibatkan ialah pemompaan (Na+-K+) yang terkait dengan enzim (Na+-K+)ATPase. Proses ini memompa ion K kedalam sel namun memompa ion Na keluar sel
sehingga menghasilkan konsentrasi ionik intrasel maupun ekstrasel ion-ion tertentu.
Impuls saraf terdiri atas suatu gelombang depolarisasi membran yang disebut
Potensial Aksi dan merambat sepanjang sel saraf. Saat impuls Na+ merambat memasuki
sel saraf menunjukkan suatu peningkatan yang semula di dalam sel saraf bermuatan
negatif (-) berubah menjadi positif (+), sedangkan terjadi penurunan di luar sel saraf
yang semula bermuatan (+) berubah menjadi (-). Peristiwa ini disebut depolarisasi.
Adanya peristiwa depolarisasi tentunya ada juga peristiwa repolarisasi. Peristiwa
repolarisasi ini melibatkan ion K+ yang datangnya setelah impuls Na+ datang. Kerja dari
ion K+ ini yaitu menetralkan muatan sel saraf yang semula diubah oleh ion Na+.
Peristiwa repolarisasi ini terjadi saat setelah ion Na+ masuk ke sel saraf, kemudian K+
masuk dan mengubah muatan sel saraf yang awalnya di dalam sel saraf bermuatan
positif (+) kembali kemuatan semula yaitu negatif (-), sedangkan muatan di luar sel saraf
yang semula bermuatan negatif (-) kembali bermuatan positif (+).
Selanjutnya, potensial akan perlahan menuju potensial istirahat. Penyebab
terjadinya potensial aksi ini adalah peningkatan permeabilitas membran terhadap ion
Na+ secara transien (dalam rentang fraksi dari satu milidetik) kemudian diikuti oleh
peningkatan permeabilitas membran terhadap ion K+ secara transien serta penurunan
drastis pada permeabilitas membran terhadap ion Na+.

Pada neuron mahkluk vertebra sering dijumpai akson yang terselubung oleh
myelin yang merupakan selubung penginsulasi elektris. Selubung ini juga menginsulasi
secara elektris (bersifat isolator) dan menghindari kontak antara saraf dengan medium
ekstrasel (di luar sel). Selubung myelin hanya terdapat setiap tiap milimeter dan memiliki
selang-seling. Selang yang merupakan bagian akson tak termyelinasi itu disebut Nodus
Ranvier dan di tempat inilah akson dapat berinteraksi dengan medium ekstrasel. Telah
ditemukan bahwa saluran-saluran ion Na (saluran yang lebih berpengaruh pada
mekanisme potensial aksi) lebih banyak ditemukan pada Nodus-nodus Ranvier. Maka
dari itulah, potensial juga terbukti melompat-lompat antara nodusnodus dan proses
lompatan-lompatan ini disebut konduksi saltatori. Daerah-daerah yang dapat mengalami
pertukaran ion hanyalah pada daerah yang tidak diselubungi selubung mielin, yakni
pada nodus-nodus Ranvier. Jadi, nodus Ranvier yang memiliki beda potensial dan
medan listrik di sekitarnya akan mempengaruhi nodus selanjutnya dan memulai proses
penghantaran potensial aksi sekaligus memperkuatnya. Nodus-nodus Ranvier juga
berlaku sebagai stasiun-stasiun untuk mempertahankan intensitas impuls saraf (melalui
pertukaran ion transmembran). Karena itu, tanpa pertukaran ion transmembran, impuls
akan melemah.
B. PENGHANTARAN IMPULS MELALUI SINAPSIS
Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain
dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis.
Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi
neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan
sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang
membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka
vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan
melepaskan neurotransmitterberupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat
kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis.
Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh
tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang
terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel
pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada
reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah

melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang


dihasilkan oleh membran post-sinapsis.
Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran
pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema yang
mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama dengan sinapsis saraf-saraf lainnya.

Gbr. Lokasi, anatomi, dan cara kerja sinapsis

Jenis-jenis sinapsis
Struktur sinapsis adalah tempat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan
suatu bagian dari neuron post-sinapsis. Akson pre-sinapsis bisa berhubungan dengan
bagian manapun dari neuron post-sinapsis. Karenanya, sinapsis bisa dibedakan atas:
a. Dendritik sinapsis (dendritic synapse)
Sinapsis jenis ini terbentuk akibat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan
dendrit dari neuron post-sinapsis.
b. Somatik sinapsis ( somatic synapse )
Sinapsis jenis terbentuk akibat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan
badan sel dari neuron post-sinapsis.
c. Akson sinapsis ( axonal synapse )
Sinapsis jenis ini terbentuk akibat bertemunya akson dari neuron pre-sinapsis dengan
akson dari neuron post-sinapsis.
C. NEUROTRANSMITTER

Neurotransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyebrangkan impuls dari
neuron presinaps menuju post-sinaps. Lebih dari 40 substansi kimia telah dibuktikan
atau dinyatakan berfungsi sebagai transmitter sinaptik. Ada 2 macam proses transmisi
sinapsis yaitu small molecul neurotransmitter dan large molecule neurotransmitter. Yang
satu merupakan molekul kecil, yaitu transmitter yang bekerja cepat, dan yang lainnya
terdiri dari banyak neuropeptida yang memiliki ukuran molekul jauh lebih besar dan
bekerja jauh lebih lambat.
Transmitter molekul kecil yang bekerja cepat
KELAS
Kelas I
Kelas II

Kelas III

Kelas IV

TRANSMITTER
Asetilkolin
Norepinefrin
Dopamin
Serotonin
Histamin
Asam Gama Aminobutirat (GABA)
Glisin
Glutamat
Aspartat
Oksida Nitrat (NO)

Golongan molekul kecil, yaitu transmitter yang bekerja cepat adalah salah satu
yang menyebabkan sebagian besar respon cepat dari sistem saraf, seperti penjalaran
sinyal sensorik ke otak dan sinyal motorik ke otot. Neuropeptida sebaliknya, biasanya
menyebabkan kerja yang lebih lambat, seperti perubahan jangka panjang jumlah
reseptor,pembukaan atau penutupan jangka panjang dari saluran ion tertentu, dan
mungkin bahkan perubahan jangka panjang jumlah sinap atau ukuran sinap.
Neuropeptida (Transmitter yang bekerja lambat)
JENIS
Hypothalamic-releasing hormone

NEUROPEPTIDA
Thyrotropin releasing hormone
Luteinizing hormone-releasing hormone
Somatostatin
Peptida hipofise
ACTH
Beta Endorfin
Alfa melanocyte stimulating hormone
Prolactin
Luteinizing hormone
Thyrotropin
Growth hormone
Vasopresin
Oksitosin
Peptida yang bekerja pada usus dan otak Leusin enkefalin
Metionin enkefalin

Dari Jaringan-jaringan lain

Substansi P
Gastrin
Kolesistokin
Polipeptida vasoaktif
Intestinum (VIP)
Neurotensisn
Insulin
Glukagon
Angiotensin II
Bradikinin
Karnosin
Peptida tidur
Kalsitonin

Transmitter Bermolekul Kecil Yang Bekerja Cepat


Pada sebagian besar kasus, transmitter jenis molekul kecil ini disintesis
dalam sitosol pada ujung presinaptik dan kemudian diabsorbsi melalui transpor aktif
ke dalam banyak gelembung transmitter di ujung sinaps. Kemudian setiap kali
potensial aksi mencapai ujung sinap, beberapa gelembung segera melepaskan
transmitternya ke dalam celah sinaptik. Hal ini biasanya terjadi dalam waktu
milidetik atau kurang melalui mekanisme yang telah dijelaskan sebelumnya. Kerja
transmitter jenis molekul kecil ini selanjutnya pada reseptor membran postsinaps
biasanya juga terjadi dalam waktu milidetik atau kurang. Efek yang paling sering
adalah mengaktivasi protein reseptor yang meningkatkan atau menurunkan
hantaran melalui saluran ion. Suatu contoh adalah untuk meningkatkan hantaran
natrium yang menyebabkan eksitasi atau untuk meningkatkan hantaran kalium atau
klorida yang menyebabkan inhibisi. Kadang-kadang transmitter jenis molekul kecil
dapat merangsang enzim teraktivasi-reseptor dan sebaliknya membuka saluran ion,
maka terjadi perubahan mesin metabolik internal dari sel.
Pendauran Ulang Gelembung Jenis Molekul Kecil
Gelembung yang menyimpan dan melepaskan transmitter molekul kecil
terus menerus mengalami daur ulang, artinya dapat dipakai lagi. Setelah mereka
bersatu dengan membran sinap dan membuka untuk melepaskan substansi
transmitternya, mula-mula gelembung membran menjadi bagian dari membran
sinap. Namun, dalam beberapa detik sampai beberapa menit, bagian gelembung
dari membran masuk kembali ke dalam ujung presinap dan akan membentuk
gelembung baru. Gelembung ini tetap berisi protein transpor yang sesuai untuk
mengkonsentrasikan substansi transmitter baru dibagian dalam gelembung.

Asetilkolin adalah transmitter molekul kecil yang khas yang mematuhi


prinsip-prinsip sintesis dan pelepasan seperti di atas. Substansi transmitter ini
disintesis diujung presinap dari koenzim asetil A dan kolin dengan menggunakan
enzim kolin asetiltransferase. Kemudian substansi ini dibawa ke dalam gelembung
spesifiknya.ketika kemudian gelembung melepaskan asetilkolin ke dalam celah
sinap, asetilkolin dengan cepat memecah kembali asetat dan kolin dengan bantuan
enzim kolinesterase, yang berikatan dengan retikulum proteoglikan dan mengisi
ruang celah sinap. Kemudian gelembung mengalami daur ulang dan kolin juga
secara aktif dibawa kembali ke dalam ujung sinap untuk digunakan kembali bagi
keperluan sintesis asetilkolin baru.
a. Ciri Khas Beberapa Transmitter Molekul Kecil
a. Aspartat
Asam

aspartat

(Asp) adalah -asam

HO2CCH(NH2)CH2CO2H. Asam
karena

terionisasi

di

aspartat (atau

dalam sel),

amino dengan rumus


sering

merupakan

kimia

disebut aspartat saja,


satu

dari

20 asam

amino penyusun protein. Kodonnya adalah GAU dan GAC.


Asam

aspartat

bersama

dengan

asam

glutamat

bersifat asam dengan pKa dari 4.0. Bagi mamalia aspartat tidaklah esensial.
Fungsinya diketahui sebagai pembangkit neurotransmisi di otak dan saraf otot.
Diduga, aspartat berperan dalam daya tahan terhadap kelelahan. Senyawa ini
juga merupakan produk dari daur urea dan terlibat dalamglukoneogenesis.
Peranan dalam biosintesis asam amino
Aspartat adalah asam amino non esensial bagi manusia yang dihasilkan
dari oksaloasetat melalui transaminase. Pemindahan gugus amino dari asam
amino ke asam keto menghasilkan asam keto dari asam amino asal dan asam
amino baru dari asam keto yang sudah menerima gugus amino. Reaksi ini
dikatalisis oleh aminotransferase atau transaminase. Sebagai aseptor utama
gugus amino adalah a ketoglutarat membentuk asam amino glutamat:
Asam amino + a ketoglutarat a asam keto + glutamat. Glutamat
selanjutnya mentransfer gugus aminonya dalam transaminasi kedua ke
oxaloasetat membentuk aspartat. Glutamat + oxaloasetat a ketoglutarat +
aspartat. Sebaliknya aspartat dapat diubah kembali menjadi oxaloacetate
melalui transaminasi aspartat. Dalam tanaman dan mikroorganisme, aspartat
merupakan bahan prekursor untuk pembentukan beberapa asam amino,

termasuk

empat

asam

amino

essensial

yaitumethionine, threonine, isoleucine, dan lysine. Pembentukan asam amino


tersebut dari aspartat dimulai dengan mereduksi aspartat menjadi bentuk semi
aldehidnya, HO2CCH(NH2)CH2CHO.
Asparagine berasal dari aspartat melalui proses transamidasi:
HO2CCH(NH2)CH2CO2H+GC(O)NH2HO2CCH(NH2)CH2CONH2+ GC(O)OH
(GC(O)NH2 adalah glutamat dan GC(O)OH adalah asam glutamat). Sebaliknya
asparagin dapat diubah menjadi aspartat oleh asparaginase
Peranan sebagai neurotransmiter
Aspartat

(basa

konjugasi

dari

asam

aspartat)

merupakan

neurotransmiter yang bersifat eksitasi terhadap sistem saraf pusat. Aspartat


merangsang reseptor NMDA (N-metil-D-Aspartat), meskipun tidak sekuat
rangsangan glutamat terhadap reseptor tersebut. Sebagai neurotransmitter,
aspartat berperan dalam daya tahan terhadap kelelahan. Tetapi,bukti-bukti yang
mendukung gagasan ini kurang kuat.
Sumber
1. Sumber makanan
Asam aspartat bukan merupakan asam amino esensial, yang berarti dapat
disintesis sendiri dalam tubuh manusia. Asam aspartat dapat ditemukan dalam
daging, sosis, alpukat, asparagus, dan suplemen makanan.
2. Sintesis kimia
Asam aspartat dapat disintesis dari diethyl sodium phthalimidomalonate,
(C6H4(CO)2NC(CO2Et)2).
b. Glisin
Glisin (Gly, G) atau asam aminoetanoat adalah asam amino alami paling
sederhana. Rumus kimianya NH2CH2COOH. Glisin merupakan asam amino
terkecil dari 20 asam amino yang umum ditemukan dalam protein. Kodonnya
adalah GGU, GGC, GGA dan GGG.
Glisin merupakan satu-satunya asam amino yang tidak memiliki isomer
optikkarena

gugus

residu

yang

terikat

pada

atom karbon alpha adalah

atom hidrogen sehingga terjadi simetri. Jadi, tidak ada L-glisin atau D-glisin.
Glisin merupakan asam amino yang mudah menyesuaikan diri dengan
berbagai situasi karena strukturnya sederhana. Sebagai contoh, glisin adalah
satu-satunya

asam

amino

internal

pada

heliks kolagen,

suatu protein struktural. Pada

sejumlah

protein

penting

tertentu, misalnya sitokrom c, mioglobin, dan hemoglobin, glisin selalu berada


pada posisi yang sama sepanjang evolusi (terkonservasi). Penggantian glisin
dengan asam amino lain akan merusak struktur dan membuat protein tidak
berfungsi dengan normal. Secara umum protein tidak banyak pengandung
glisina. Perkecualian ialah pada kolagen yang dua per tiga dari keseluruhan
asam aminonya adalah glisin.
Biosintesis Glisin
Glisin merupakan asam amino nonesensial bagi manusia. Tubuh manusia
memproduksi glisin dalam jumlah mencukupi. Glisin dibentuk dari serin, yang
merupakan derivat dari 3-phosphoglycerate. Pada kebanyakan organisme,
enzim serine hydroxymethyltransferasemengkatalis pembentukan glisin dari
serin. Serine + tetrahydrofolate Glycine + N5,N10-Methylene tetrahydrofolate
+ H2O
Dalam hati vertebrata, sintesis glisin dikatalis oleh enzim glycine
synthase secara reversibel. CO2 + NH4+ + N5,N10-Methylene tetrahydrofolate +
NADH + H+ Glycine + tetrahydrofolate + NAD+
Katabolisme glisin
Glisin didegradasi melalui tiga jalur:
1. Glisin dipecah dengan bantuan enzim glycine synthase, enzim yang sama
dalam biosintesis glisin. Jalur ini merupakan jalur utama bagi katabolisme
glisin

dan serin pada manusia serta banyak vertebrata lainnya.

Kompleks glycine synthase, yaitu suatu kompleks enzim makromolekular


pada mitokondria hati, akan memecah glisin menjadi CO2 dan NH4+ secara
reversibel.
Glycine + tetrahydrofolate + NAD + CO2 + NH4+ + N5,N10-Methylene
tetrahydrofolate + NADH + H+
2. Glisin dipecah dalam dua langkah. Glisin diubah menjadi serin dengan
bantuan enzimhydroxymethyl transferase. Serin yang terbentuk diubah
menjadi piuvat dengan bantuan enzim serine dehydratase.
3. Glisin diubah menjadi glyoxylate olehD-amino acid oxidase. Glycoxylate
lalu dioksidasi oleh lactate dehydrogenase menjadi oxalate in pada reaksi
yang bergantung pada NAD+.
Peranan glisin sebagai neurotransmiter.

Glisin bekerja sebagai transmiter inhibisi pada sistem saraf pusat,


terutama pada medula spinalis, brainstem, dan retina. Jika reseptor glisin
teraktivasi, korida memasuki neuron melalui reseptor inotropik, menyebabkan
terjadinya potensial inhibisi post sinaps(Inhibitory postsynaptic potential /
IPSP). Strychnine merupakan

antagonis

reseptor

glisin

yang

kuat,

sedangkan bicuculline merupakan antagonis reseptor glisin yang lemah. Glisin


merupakan reseptor agonis bagi glutamat reseptor NMDA.
c. GABA
-Aminobutyric acid (GABA) adalah neurotransmiter inhibisi utama pada
sistem saraf pusat. GABA berperan penting dalam mengatur exitability neuron
melalui sistem saraf. Pada manusia, GABA juga bertanggung jawab langsung
pada pengaturan tonus otot.
Biosntesis GABA
GABA dibentuk dari dekarboksilasi glutamat yang dikatalis oleh glutamate
decarboxylase (GAD).GAD umumnya terdapat dalam akhiran saraf. Aktivitas
GAD membutuhkanpyridoxal phosphate (PLP) sebagai kofaktor. PLP dibentuk
dari vitamin B6 (pyridoxine, pyridoxal, and pyridoxamine) dengan bantuan
pyridoxal kinase. Pyridoxal kinase sendiri membutuhkan zinc untuk aktivasi.
Kekurangan pyridoxal kinase atau zinc dapat menyebabkan kejang, seperti
pada pasien preeklamsi.
Reseptor GABA
Reseptor GABA dibagi dalam dua jenis: GABAA dan GABAB. Reseptor
GABAA membuka saluran florida dan diantagonis oleh pikrotoksin dan bikukulin,
yang keduanya dapat mnimbulkan konvulsi umum. Reseptor GABAB yang
secara selektif dapat diaktifkan oleh obat anti spastik baklofen, tergabung
dalam saluran kalium dalam membran pascasinaps. Pada sebagian besar
daerah otak IPSP terdiri atas komponen lambat dan cepat. Bukti-bukti
menunjukkan

bahwa

GABA

adalah

transmiter

penghambat

yang

memperantarai kedua componen tersebut. IPSP cepat dihambat oleh antagonis


GABAA,

sedangkan

IPSP

lambat

oleh

antagonis

GABAB.

Penelitian

imunohistokimia menunjukkan bahwa sebagian besar dari saraf sirkuit local


mensintesis GABA. Satu kelompok khusus saraf dari sirkuit local terdapat di
tanduk dorsal sumsum tulang belakang juga menghasilkan GABA. Saraf-saraf

ini membentuk sinaps aksoaksonik dengan terminal saraf sensoris primer dan
bekerja untuk inhibisi presinaps.
Peranan GABA sebagai neurotransmiter.
Pada vertebrata, GABA berperan dalam inhibisi sinaps pada otak
melalui pengikatan terhadap reseptor spesifik transmembran dalammembran
plasma pada proses pre dan post sinaps. Pengikatan ini menyebabkan
terbukanya saluran ion sehingga ion klorida yang bermuatan negatif masuk
kedalam sel dan ion kalium yang bermuatan positif keluar dari sel. Akibatnya
terjadi perubahan potensial transmembran, yang biasanya menyebabkan
hiperpolarisasi. Reseptor GABAA merupakan reseptor inotropik yang merupakan
saluran ion itu sendiri, sedangkan Reseptor GABA B merupakan reseptor
metabotropik yang membuka saluran ion melalui perantara G protein (G
protein-coupled reseptor)
Neuron-neuron yang menghasilkanyang menghasilkan GABA disebut
neuron GABAergic. Sel medium spiny merupakan salahsatu contoh sel
GABAergic.
d. Glutamat
Glutamate merupakan neurotransmitter yang paling umum di sistem
saraf pusat, jumlahnya kira-kira separuh dari semua neurons di otak. Sangat
penting dalam hal memori. Kelebihan Glutamate akan membunuh neuron di
otak. Terkadang kerusakan otak atau stroke akan mengakibatkan produksi
glutamat berlebih akan mengakibatkan kelebihan dan diakhiri dengan banyak
sel-sel otak mati daripada yang asli dari trauma. AlS, lebih dikenal sebagai
penyakit Lou Gehrigs, dari hasil produksi berlebihan glutamate. Banyak
percaya mungkin juga cukup bertanggung jawab untuk berbagai penyakit pada
sistem saraf, dan mencari cara untuk meminimalisir efek.
e. Norephineprin, Dopamin
Noepinephrine,

epinephrine,

dan

dopamine

dikelompokkan

dalam cathecolamines. Hidroksilasi tirosin merupakan tahap penentu (ratelimiting step) dalam biosintesis cathecolamin. Disamping itu, enzim tirosin
hidroksilase ini dihambat oleh oleh katekol (umpan balik negatif oleh hasil
akhirnya).
1. Dopamin

Merupakan

neurotransmiter

yang

mirip

dengan

adrenalin

dimana

mempengaruhi proses otak yang mengontrol gerakan, respon emosional dan


kemampuan untuk merasakan kesenangan dan rasa sakit. Dopamin sangat
penting untuk mengontrol gerakan keseimbangan. Jika kekurangan dopamin
akan menyebabkan berkurangnya kontrol gerakan seperti kasus pada penyakit
Parkinson. Jika kekurangan atau masalah dengan aliran dopamine dapat
menyebabkan orang kehilangan kemampuan untuk berpikir rasionil, ditunjukkan
dalam skizofrenia. dari perut tegmental area yang banyak bagian limbic sistem
akan menyebabkan seseorang selalu curiga dan memungkinkan untuk
mempunyai kepribadian paranoia. Jika kekurangan Dopamin di bidang
mesocortical dari daerah perut tegmental ke neocortex terutama di daerah
prefrontal dapat mengurangi salah satu dari memori.
2. Norephineprin
Disekresi oleh sebagian besar neuron yang badan sel/somanya terletak pada
batang otak dan hipothalamus. Secara khas neuron-neuron penyekresi
norephineprin yang terletak di lokus seruleus di dalam pons akan mengirimkan
serabut-serabut saraf yang luas di dalam otak dan akan membantu pengaturan
seluruh aktivitas dan perasaan, seperti peningkatan kewaspadaan. Pada
sebagian daerah ini, norephineprin mungkin mengaktivasi reseptor aksitasi,
namun pada yang lebih sempit malahan mengatur reseptor inhibisi.
Norephineprin juga sebagian disekresikan oleh sebagian besar neuron post
ganglion sistem saraf simpatisdimana ephineprin merangsang beberapa organ
tetapi menghambat organ yang lain.
f.

Serotonin
Serotonin (5-hydroxytryptamine,

atau 5-HT)

adalah

suatu

neuro

transmitter monoamino yang disintesiskan dalam neuron - neuron serotonergis


dalam sistem saraf pusat (CNS) dan sel-sel enterochromaffin dalam saluran
pencernaan.
Nama kimia
Rumusan kimia
Massa molekul
Massa monoisotop
Komposisi (berat)

5-Hydroxytryptamine or
3-(2-aminoethyl)-1H-indol-5-ol
N2OC10H12
176.2182 g/mol
176.0950 g/mol
N: 15.8970% O: 9.0793%

Nomor CAS
SMILES
IUPAC InChI ID

C: 68.1598% H: 6.8638%
50-67-9
NCCC1=CNC2=C1C=C(O)C=C2
1/C10H12N2O/c11-4-3-7-6-12-10-2-18(13)5-9(7)10/h1-2,5-6,12-13H,3-4,11H2

1. Fungsi
Pada system saraf pusat serotonin memiliki peranan penting sebagai
neurotransmitter yang berperan pada proses marah, agresif, temperature
tubuh, mood, tidur, human sexuality, selera makan, dan metabolisme, serta
rangsang muntah. Serotonin memiliki aktivitas yang luas pada otak dan variasi
genetic pada reseptor serotonin dan transporter serotonin, yang juga memiliki
kemampuan untuk reuptakeyang jika terganggu akan memiliki dampak pada
kelainan neurologist.
Obat-obatan yang mempengaruhi jalur dari pembentukan serotonin
biasanya digunakan sebagai terapi pada banyak gangguan psikiatri, selain itu
serotonin juga merupakan salah satu dari pusat penelitian pengaruh genetic
pada perubahan genetic psikiatri. Pada beberapa studi yang telah dilakukan
dapat dibuktikan bahwa pada beberapa orang dengan gangguan cemas
memiliki serotonin transporter yang tidak normal dan efek dari perubahan ini
adalah adanya peluang terjadinya depresi jauh lebih besar dibanding orang
normal. Peningkatan dari jumlah serotonin di otak juga diketahui memiliki
hubungan erat dengan peningkatan agresifitas dan mutasi genetic pada kode
reseptor 5-HT2A memiliki peningkatan resiko untuk bunuh diri menjadi 2 kali
lipat.
Dari peneltian terbaru juga didapatkan bahwa serotonin bersama-sama
dengan asetilkolin dan norepinefrin akan bertindak sebagai neurotransmitter
yang dilepaskan pada ujung-ujung saraf enteric. Kebanyakan nuclei rafe akan
mensekresi serotonin yang membantu dalam pengaturan tidur normal.
Serotonin juga merupakan salah satu dari beberapa bahan aktif yang akan
mengaktifkan proses peradangan, yang akan dimulai dengan vasodilatasi
pembuluh darah lokal sampai pada tahap pembengkakan sel jaringan, selain itu
serotonin juga memiliki kendali pada aliran darah, kontraksi otot polos,
rangsang nyeri, system analgesic, dan peristaltic usus halus.
2. Anatomi
a. Gross Anatomy

Neuron-neuron dari nuclei rafe merupakan sumber utama dari


pelepasan 5-HT. Nuklei rafe merupakan kelompok neuron yang tergabung
menjadi sembilan pasang dan tersebar sepanjang batang otak. Akson-akson
dari nuclei rafe akan membentuk sebuah system neurotransmitter yang
tersebar luas pada area-area otak. Akson-akson dari sisi kaudal nuclei rafe
akan berjalan mengikuti deep cerebellar nuclei, korteks serebelum, dan medulla
spinalis. Pada sisi rostral akson dari neuron-neuron nuklei rafe akan berakhir
pada talamus, striatum, hipotalamus, nukleus accumbens, neokortek, singulum,
hipokampus, dan amigdala. Dari penjelasan tersebut dapatlah diketahui bahwa
sistem serotonin memiliki efek luas pada otak.
b. Microanatomy
Serotonin dilepaskan dari serotonergic varicosities (swellings) ke dalam
ekstraneural space, namun tidak dari bouton sinap terminal, seperti
neurotransmitter lainnya. Pada akhirnya serotonin akan mengaktifkan reseptor
5-HT pada dendrite, badan sel, dan presinap dari batas antar neuron
1. Reseptor
Reseptor untuk serotonin adalah 5-HT. reseptor 5-HT terdapat pada
membrane sel dari sel saraf dan beberapa sel lain pada hewan dan terutama
bertindak sebagai mediator efek dari serotonin ligan endogen dan sangat
banyak dari obat-obatan an terutama pada obat-obatan halusinagen.
2. Terminasi
Aksi serotonergik akan diakhiri dengan uptake 5-HT dari sinap. Hal ini
akan diteruskan pada monoamin transporter yang spesifik untuk 5-HT pada
neuron presinap. Beberapa senyawa dapat menghambat uptake 5-HT,
diantaranya ekstasi, amfetamin, kokain, dekstrometorpan, trisiklik antidepresan
dan selektif serotonin reuptake inhibitor (SSRIs)
c. Endothelial cell function dan serotonin
5-HT akan mengaktivasi sintesis endotel nitric oxide dan merangsang
proses fosforilasi dari p44/p42 mitogen yang akhirnya akan mengaktivasi
protein kinase pada sel endotel.
3. Biosintesis
Pada hewan, termasuk manusia serotonin disintesis dari amino acid Ltryptophan melalui metabolisme singkat yang membutuhkan dua buah enzim,

yaitu enzymes:tryptophan

hydroxylase (TPH)

and amino

acid

decarboxylase (DDC).
4. Target obat
Beberapa kelas dari target obat 5-HT termasuk didalamnya antidepresan,
antipsikotik, antixiolitik, antiemetik, dan antimigrain serta obat-obat psychedelic
dan empatogen.
a. Psychedelic drugs
Obat-obat psychedelic, DMT, mescaline, dan LSD akan bertindak
sebagai bahan serupa serotonin pada reseptor 5-HT. Lain halnya dengan
ekstasi yang akan melepaskan serotonin dari sinap.
b. Antidepresan
MAOI

akan

bekerja

dengan

mencegah

penurunan

monoamine

neurotransmitter (termasuk serotonin) dan akan meningkatkan konsentrasinya


pada otak. Beberapa obat MAOI akan menghambat reuptake dari serotonin,
dengan membuatnya bertahan lebih lama didalam sinaps. Antidepresan trisiklik
akan menghambat reuptake dari serotonin dan norepinefrin.
c. Antiemetik
Antagonis

5-HT3 terdapat

pada

ondansentron,

granisetron,

dan

tropisetron merupakan antiemetik yang sangat penting. Obat-obatan tersebut


dapat mencegah terjadinya mual dan muntah selama kemoterapi terutama
dengan obat-obatan sitotoksik. Selain itu bias juga digunakan untuk
pencegahan dan terapi mual dan muntah setelah operasi. Aplikasi lainnya juga
dapat digunakan sebagai terapi dari depresi dan beberapa gangguan mental
dan psikologi.
5. Patologi
Jika neuron-neuron pembuat serotonin (neuron serotonergik) tidak
normal pada bayi, maka akan dapat meningkatkan resiko dari sudden infant
death syndrome (SIDS). Obsessi Compulsive disorder juga ditemukan adanya
kekurangan dari jumlah serotonin, yang dapat diterapi dengan menggunakan
obat-obatan yang meningkatkan jumlah serotonin.
a. Serotonin sindrom
Peningkatan jumlah serotonin yang sangat ekstrim dapat bersifat toksik
dan berpotensi untuk menjadi fatal, yang disebabkan oleh kondisi yang disebut
sebagai serotonin sindrom. Pada percobaan peningkatan jumlah serotonin

sampai menjadi toksik dapat dicapai hanya dengan menggunakan satu jenis
obat antidepresi dengan melebihi dosis aman.
b. Kronik disease resulting dari serotonin 5-HT2B overstimulation
Di dalam darah, serotonin tersimpan dalam platelet dan dengan adanya
serotonin

ini

dapat

menyebabkan

terjadinya

vasokonstriktor

untuk

menghentikan perdarahan dan juga sebagai fibrosit mitotic untuk mempercepat


penyembuhan. Dengan adanya efek ini, kelebihan serotonin, atau adanya
tambahan obat agonis serotonin yang berlebihan, bias menyebabkan gangguan
akut maupun kronik dari hipertensi pulmonary karena vasokonstriksi dari
pulmonary atau sindrom lainnya yang disebut retroperitoneal fibrosis atau
cardiac valve fibrosis (endocardial fibrosis) yang disebabkan oleh rangsangan
berlebihan dari reseptor pertumbuhan serotonin pada fibrosit.
6. Serotonin pada organisme uniseluler
Serotonin memiliki berbagai kegunaan pada berbagai organisme
uniseluler dengan banyaknya keragaman tujuan. Serotonin re-uptake inhibitors
(SSRIs) dapat menjadi toksik pada beberapa organisme uniseluler seperti alga,
pada parasit gastrointestinal seperti Entamoeba histolytica dapat mensekresi
sendiri serotonin yang akan mengakibatkan terjadinya diare sekretorik pada
beberapa pasien.
7. Serotonin pada tanaman
Serotonin dapat dijumpai pada jamur dan tanaman-tanaman, termasuk
buah dan sayur. Kadar tertinggi sekitar 25-400 mg/kg didapatkan pada kacangkacangan. Kadar serotonin ditemukan sekitar 3-30mg/kg pada nanas, pisang,
buah kiwi, dan tomat. Di bawah itu dengan kadar sekitar 0,1-3 mg/kg dapat
ditemukan pada berbagai sayur-sayuran.
8. Serotonin pada hewan
Serotonin sebagai neurotransmitter ditemukan pada hamper seluruh
hewan, termasuk serangga.
g. Epinefrin
Epinefrin meningkatkan Figth or Flight Response dari system simpatis
melalui jaras saraf otonom. Epinefrin dibentuk dari asam amino fenilalanin dan
tirosin. Epinefrin merupakan salah satu hormon yang berperan pada reaksi
stres jangka pendek. Epinefrin disekresi oleh kelenjar adrenal saat ada
keadaan gawat ataupun berbahaya. Di dalam aliran darah epinefrin dengan

cepat menjaga kebutuhan tubuh saat terjadu ketegangan, atau kondisi gawat
dengan memberi suplai oksigen dan glukosa lebih pada otak dan otot. Selain
itu epinefrin juga meningkatkan denyut jantung, stroke volume, dilatasi dan
kontraksi arteriol pada gastrointestinal dan otot skelet. Epinefrin akan
meningkatkan gula darah dengan jalan meningkatkan katabolisme dari glikogen
menjadi glukosa di hati dan saat bersamaan menurunkan pembentukan lipid
dari sel-sel lemak.
Epinefrin memiliki banyak sekali fungsi di hampir seluruh tubuh, diantaranya
dalam mengatur konsentrasi asam lemak, konsentrasi glukosa darah, kontrol
aliran darah ginjal, mengatur laju metabolisme, kontraksi otot polos,
termogenesis kimia, vasodilatasi, vasokonstriksi, dll.
h. Asetilkolin
Asetilkolin disekresi oleh neuron-neuron yang terdapat di sebagian
besar daerah otak, namun khususnya oleh sel-sel piramid besar korteks
motorik, oleh beberapa neuron dalam ganglia basalis, neuron motorik yang
menginervasi otot rangka, neuron preganglion sistem saraf otonom,, neuron
postganglion sistem saraf simpatik,. Pada sebagian besar contoh di atas
asetilkolin memiliki efek eksitasi, namun asetilkolin juga telah diketahui memilik
efek inhibisi pada beberapa ujung saraf parasimpatik perifer, misalnya inhibisi
jantung oleh nervus vagus.
i.

Nitrat Oksida (NO)


NO adalah substansi molekul kecil yang baru ditemukan. Zat ini

terutama timbul di daerah otak yang bertanggung jawab terhadap tingkah laku
jangka panjang dan untuk ingatan. Karena itu, transmitter yang baru ditemukan
ini dapat menolong kita untuk menjelaskan mengenai tingkah laku dan fungsi
ingatan. Oksida nitrat berbeda dengan transmitter molekul lainnya dalam hal
mekanisme pembentukan di ujung presinap dan kerjanya di neuron post sinap.
Zat ini tidak dibentuk sebelumnya dan disimpan dalam gelembung ujung
presinap seperti transmitter lain. Zat ini disintesis hampir segera saat diperlukan
dan kemudian berdifusi keluar dari ujung presinap dalam waktu beberapa detik
dan tidak dilepaskan dalam paket gelembung-gelembung. Selanjutnya zat ini
berdifusi ke dalam neuron post sinap yang paling dekat, selanjutnya di neuron
postsinap, zat ini tidak mempengaruhi membran potensial menjadi lebih besar,
tetapi sebaliknya mengubah fungsi metabolik intraseluler yang kemudian

mempengaruhi eksitabilitas neuron dalam beberapa detik, menit, atau


barangkali lebih lama.
b. Ciri Khas Beberapa Transmitter Molekul Besar (Neuropeptida)
Neuropeptida merupakan kelompok transmitter yang sangat berbeda dan
biasanya bekerja lambat dan dalam hal lain sedikit berbeda dengan yang
terdapat pada transmitter molekul kecil. Sekitar 40 jenis peptida diperkirakan
memiliki fungsi sebagai neurotransmitter. Daftar peptida ini semakin panjang
dengan ditemukannya putative neurotransmitter (diperkirakan memiliki fungsi
sebagai neurotransmitter berdasarkan bukti-bukti yang ada tetapi belum dapat
dibuktikan secara langsung). Neuropeptida sudah dipelajari sejak lama, namun
bukan dalam fungsinya sebagai neurotransmitter, namun fungsinya sebagai
substansi hormonal. Peptida ini mula-mula dilepaskan ke dalam aliran darah oleh
kelenjar endokrin, kemudian hormon-hormon peptida itu akan menuju ke
jaringan-jaringan otak. Dahulu para ahli meyangka bahwa peptida dihasikan
dalam kelenjar hormon danmasuk ke dalamjaringan otak, namun saat ini sudah
dapat dibuktikan bahwa peptida yang berfungsi sebagai neurotransmitter, dapat
disintesa dan dilepaskan oleh neuron di susunan saraf.
Neuropeptida tidak disintesis dalam sitosol pada ujung presinap. Namun
demikian, zat ini disintesis sebagai bagian integral dari molekul protein besar
oleh ribosom-ribosom dalam badan sel neuron. Molekul protein selanjutnya
mula-mula memasuki retikulum endoplasma badan sel dan kemudian ke
aparatus golgi, yaitu tempat terjadinya perubahan berikut:
1. Protein secara enzimatik memecah menjadi fragmen-fragmen yang lebih
kecil dan dengan demikian melepaskan neuropeptidanya sendiri atau
prekursornya.
2. Aparatus golgi mengemas neuropeptida menjadi gelembung-gelembung
transmitter berukuran kecil yang dilepaskan ke dalam sitoplasma.
3. Gelembung transmitter ini dibawa ke ujung serabut saraf lewat aliran
aksonal dari sitoplasma akson, berkeliling dengan kecepatan lambat hanya
beberapa sentimeter per hari.
4. Akhirnya gelembung ini melepaskan trasnmitternya sebagai respon
terhadap potensial aksi dengan cara yang sama seperti untuk transmitter
molekul kecil. Namun gelembung diautolisis dan tidak digunakan kembali.

SISTEM NEUROLOGI
RESUME METABOLISME

OLEH SGD 7 :
I Gede Sukma Aricipta

(0902105061)

I Dewa Gede Suapriyantara

(0902105062)

I Gede Bayu Wirantika

(0902105063)

Ayu Prameswari

(0902105067)

Nym. Mippy Nurya Wardani

(0902105073)

Gst. Pt. Ayu Tyas Meivi Raka (0902105077)


Kadek Novi Puspitawati

(0902105078)

Ni Komang Suryaningsih

(0902105079)

Made Dwi Kusumayanti

(0902105082)

Ni Putu Dian Septiana Andriani

(0902105086)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
2010