Anda di halaman 1dari 10

Oleh:

Benny Permana

SMA Negeri 1 SUKAGUMIWANG


Indramayu 2013

Daftar Isi
Kata Pengantar .

Daftar Isi ...

ii

Bab I Pendahuluan

Bab II Isi...

1.

Pengertian K3 ..

2.

Keamanan Kerja ...

3.

Kesehatan Kerja ...

4.

Keselamatan Kerja

5.

Tujuan Kesehatan, Keselamatan dan Keamanan Kerja.

6.

Undang-undang Keselamatan Kerja .

Bab III Penutup


Kesimpulan ...

Saran .

Kata Pengantar
Puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan
karunia-Nya kami masih diberi kesempatan untuk bekerja bersama untuk menyelesaikan
makalah ini. dimana makalah ini merupakan salah satu dari tugas Produktif ,yaitu tentang
Kesehatan dan Keselamatan Kerja atau K3 LH.
Tidak lupa kami ucapkan terimakasih kepada Guru dan teman-teman yang telah
memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan
kritik dan saran yang membangun. Dan semoga dengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca dan teman-teman. Amin...

Jatibarang Januari 2013


Penulis

Bab I
Pendahuluan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau disingkat K3 merupakan program pemerintah. Program
ini lahir dari keprihatinan akan banyaknya kecelakaan yang terjadi ditempat kerja yang
mengakibatkan penderitaan bagi pekerja mapun keluarga pekerja. Karena frekuensi kecelakaan
kerja tidak begitu banyak, maka banyak yang memandang sebelah mata pada program ini.
Pengusaha bilang, ini cost atau buang buang biaya. Pekerja berkomentar, memperlambat
pekerjaan. Dua duanya benar, jika hanya dilihat dari satu sisi saja. Tapi kalau dicermati
sisilainnya, tentunya pengusaha akan berpikir dua kali berkata demikian. Kenapa? Karena cost
yang dikeluarkan untuk suatu insiden kecelakaan kerja akan jauh berkali lipat dibandingkan yang
dikeluarkan untuk pencegahannya. Bagi pekerja, jika sudah terkena cidera atau fatality, tentu
tidak akan berani berkata lagi kalau K3 itu hanya memperlambat pekerjaan.
Undang Undang dibidang K3 sudah ada sejal tahun 1970 yaitu UU no. 1 tahun 1970 yang mulai
diundangkan tanggal 12 Januari 1970 yang juga dijadikan hari lahirnya K3. Namun, hingga
tahun 2000anlah K3 baru mulai banyak dikenal. Kemana saja selama ini regulasi K3 tersebut
diatas? Ya, mati surilah kalau boleh dikatakan begitu. Kenapa mati suri? Karena belum ada
kesadaran baik dari pihak pengusaha, pekerja bahkan dari pihak Depnakertrans sendiri sebagai
pengawas. Kenapa belum ada kesadaran? Karena belum tertimpa insiden kecelakaan kerja. jadi,
istilahnya menunggu bola, kalau dapat bola baru bergerak. Ini pola klasik, pola pecundang. Ini
sebabnya negara kita tidak maju maju, karena masih dilandasi oleh pola berpikir yang tidak
efektif tersebut. Kalau saja Depnakertrans bertindak tegas, bergerak cepat, tentu kemajuan
implementasi K3, sudah lebih maju daripada yang ada sekarang ini.
Lalu bagaimana caranya mengimplementasikan K3? Jika anda perusahaan besar dengan jumlah
karyawan 100 orang atau lebih atau sifat kerja organisasi anda yang mengandung bahaya atau
resiko yang tinggi, maka wajib mengimplementasi SMK3 (Sistem Manajemen Keselamtan dan
Kesehatan Kerja). Jika anda perusahaan kecil dan sifat kerjanya tidak mengandung bahaya atau
resiko tinggi, maka anda hanya pekerjakan seorang safety officer atau ahli K3 umum. Karena,
semua tempat kerja memiliki resiko atau bahaya. Itulah definisi tempat kerja menurut UU no.1
tahun 1970. Jadi, anda harus tetap waspada dengan bahaya laten ditempat kerja. Jika bukan baha
fisik instan, tentu ancaman penyakit yang mungkin saja terjadi bertahun tahun kemudian.

Jadi, sudah saatnya pengusaha dan pekerja serta pihak depnakertrans sendiri sadar untuk lebih
meningkatkan performa K3 di semua organisasi di Indonesia, karena angka kecelakaan kerja di
Indonesia masih lebih tinggi dibanding negara2 lainnya di Asia tenggara, bahkan di Asia. Angka
yang dilaporkan pemerintahpun belum tentu angka konkrit. Masih banyak perusahaan2 yang
tidak melaporkan insiden2 kecelakaan kerja yang terjadi ditempat kerjanya. Bahkan penghargaan
zero

accidentpun

patut

dipertanyakan

metode

penilaiannya.

------------------->
Bab II
Kesehatan Kerja dan Keselamatan Kerja
Kesehatan kerja (Occupational health) merupakan bagian dari kesehatan masyarakat yang
berkaitan dengan semua pekerjaan yang berhubungan dengan faktor potensial yang
mempengaruhi kesehatan pekerja (dalam hal ini Dosen, Mahasiswa dan Karyawan). Bahaya
pekerjaan (akibat kerja), Seperti halnya masalah kesehatan lingkungan lain, bersifat akut atau
khronis (sementara atau berkelanjutan) dan efeknya mungkin segera terjadi atau perlu waktu
lama. Efek terhadap kesehatan dapat secara langsung maupun tidak langsung.Kesehatan
masyarakat kerja perlu diperhatikan, oleh karena selain dapat menimbulkan gangguan tingkat
produktifitas, kesehatan masyarakat kerja tersebut dapat timbul akibat pekerjaanya. Sasaran
kesehatan kerja khususnya adalah para pekerja dan peralatan kerja di lingkungan PSTKG.
Melalui usaha kesehatan pencegahan di lingkungan kerja masing-masing dapat dicegah adanya
penyakit akibat dampak pencemaran lingkungan maupun akibat aktivitas dan produk PSTKG
terhadap masyarakat konsumen baik di lingkungan PSTKG maupun masyarakat luas.
Tujuan kesehatan kerja adalah: 1. Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
pekerja di semua lapangan pekerjaan ketingkat yang setinggi-tingginya, baik fisik, mental
maupun kesehatan sosial. 2. Mencegah timbulnya gangguan kesehatan masyarakat pekerja yang
diakibatkan oleh tindakan/kondisi lingkungan kerjanya. 3. Memberikan perlindungan bagi
pekerja dalam pekerjaanya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan olek faktor-faktor yang
membahayakan kesehatan. 4. Menempatkan dan memelihara pekerja di suatu lingkungan
pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan psikis pekerjanya. Kesehatan kerja
mempengaruhi manusia dalam hubunganya dengan pekerjaan dan lingkungan kerjanya, baik
secara fisik maupun psikis yang meliputi, antara lain: metode bekerja, kondisi kerja dan

lingkungan kerja yang mungkin dapat menyebabkan kecelakaan, penyakit ataupun perubahan
dari kesehatan seseorang. Pada hakekatnya ilmu kesehatan kerja mempelajari dinamika, akibat
dan problematika yang ditimbulkan akibat hubungan interaktif tiga komponen utama yang
mempengaruhi seseorang bila bekerja yaitu:
1. Kapasitas kerja: Status kesehatan kerja, gizi kerja, dan lain-lain.
2. Beban kerja: fisik maupun mental.
3. Beban tambahan yang berasal dari lingkungan kerja antara lain:bising, panas, debu,
parasit, dan lain-lain.
Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu kesehatan kerja yang
optimal. Sebaliknya bila terdapat ketidakserasian dapat menimbulkan masalah kesehatankerja
berupa penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan
produktifitas kerja. Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran dan
upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun rohani tenaga kerja
pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat
makmur dan sejahtera.
Kebutuhan akan keselamatan dan kesehatan kerja di masyarakat semakin meningkat sebagai
dampak dari globalisasi dan perdagangan bebas. Keberadaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(K3) akan menjamin perkembangan investasi industri di Indonesia. Kebutuhan K3 yang semakin
meningkat tidak hanya pada masyarakat industri (sektor formal) tetapi juga penting bagi
masyarakat khususnya pelaku sektor usaha skala kecil dan menengah (small medium enterprise).
Dalam menghadapi tantangan dan kebutuhan tadi FKMUI membuka Program Magister K3 yang
bertujuan untuk:
1. Menciptakan Sumber Daya Manusia yang mempunyai ketajaman analisis dan
kemandirian berpikir dalam memahami K3 dari segi akademis maupun praktis dalam
pengembangan dan pengelolaan K3 di perusahaan maupun dalam kehidupan
bermasyarakat.
2. Menciptakan SDM yang mampu berpikir dalam kerangka sistem sehingga mampu
mengintegrasikan sistem manajemen K3 dalam Sistem Manajemen perusahaan maupun
dalam kehidupan masyarakat.

3. Menciptakan SDM yang mampu mengembangkan wacana K3 dalam setiap aspek


kegiatan di perusahaan maupun dalam kehidupan masyarakat.

1.

Keamanan

Kerja

Keamanan kerja adalah unsur-unsur penunjang yang mendukung terciptanya suasana kerja yang
aman,

baik

berupa

materil

maupun

nonmateril.

a. Unsur-unsur penunjang keamanan yang bersifat material diantaranya sebagai berikut.


1)

Baju

kerja

2)

Helm

3)

Kaca

mata

4)

Sarung

tangan

5)

Sepatu

b. Unsur-unsur penunjang keamanan yang bersifat nonmaterial adalah sebagai berikut.


1)

Buku

petunjuk

2)

Rambu-rambu

penggunaan

dan

isyarat

3)

alat
bahaya.

Himbauan-himbauan

4) Petugas keamanan
2.

Kesehatan

Kerja

Kesehatan kerja adalah suatu kondisi kesehatan yang bertujuan agar masyarakat pekerja
memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya, baik jasmani, rohani, maupun sosial, dengan
usaha pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit atau gangguan kesehatan yang disebabkan
oleh

pekerjaan

dan

lingkungan

kerja

maupun

penyakit

umum.

Kesehatan dalam ruang lingkup kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja tidak hanya
diartikan sebagai suatu keadaan bebas dari penyakit. Menurut Undang-Undang Pokok Kesehatan
RI No. 9 Tahun 1960, BAB I pasal 2, keadaan sehat diartikan sebagai kesempurnaan keadaan
jasmani, rohani, dan kemasyarakatan.
3.

Keselamatan

Kerja

Keselamatan kerja dapat diartikan sebagai keadaan terhindar dari bahaya selama melakukan
pekerjaan. Dengan kata lain keselamatan kerja merupakan salah sau faktor yang harus dilakukan
selama bekerja. Tidak ada seorang pun didunia ini yang menginginkan terjadinya kecelakaan.

Keselamatan kerja sangat bergantung .pada jenis, bentuk, dan lingkungan dimana pekerjaan itu
dilaksanakan.
Unsur-unsur

penunjang

keselamatan

kerja

adalah

sebagai

berikut:

a) Adanya unsur-unsur keamanan dan kesehatan kerja yang telah dijelaskan diatas.
b)

Adanya

kesadaran

c)

dalam

menjaga

Teliti

keamanan

dan

kesehatan

dalam

kerja.
bekerja

d) Melaksanakan Prosedur kerja dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan kerja.


Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja adalah
upaya perlindungan bagi tenaga kerja agar selalu dalam keadaan sehat dan selamat selama
bekerja di tempat kerja. Tempat kerja adalah ruang tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap,
atau sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan usaha dan tempat terdapatnya sumber-sumber
bahaya.
Kecelakaan

kerja

dapat

dibedakan

menjadi

kecelakaan

yang

disebabkan

oleh

1.

Mesin

2.

Alat

3.

Peralatan

angkutan
kerja

yang

lain

4.

Bahan

kimia

5.

Lingkungan

kerja

6. Penyebab yang lain


Tujuan

Kesehatan,

keselamatan,

dan

keamanan

kerja.

Kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja bertujuan untuk menjamin kesempurnaan atau
kesehatan

jasmani

dan

rohani

tenaga

kerja

serta

hasil

karya

dan

budayanya.

Secara singkat, ruang lingkup kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja adalah sebagaai
berikut
a.

:
Memelihara

lingkungan

kerja

yang

sehat.

b. Mencegah, dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat pekerjaan sewaktu bekerja.
c.

Mencegah

dan

mengobati

keracunan

yang

ditimbulkan

dari

kerja

d. Memelihara moral, mencegah, dan mengobati keracunan yang timbul dari kerja.
e.
f.

Menyesuaikan
Merehabilitasi

pekerja

kemampuan
yang

cedera

dengan
atau

pekerjaan,
sakit

akibat

dan
pekerjaan.

Keselamatan kerja mencakup pencegahan kecelakaan kerja dan perlindungan terhadap terhadap

tenaga kerja dari kemungkinan terjadinya kecelakaan sebagai akibat dari kondisi kerja yang tidak
aman dan atau tidak sehat. Syarat-syarat kesehatan, keselamatan, dan keamanan kerja ditetapkan
sejak tahap perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran, perdagangan, pemasangan,
pemakaian, penggunaan, pemeliharaan, dan penyimpanan bahan, barang, produk teknis, dan
aparat produksi yang mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.
Undang-undang

Keselamatan

Kerja

UU Keselamatan Kerja yang digunakan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, menjamin
suatu proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar proses produksi
berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar proses produksi tidak merugikan semua
pihak. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan dalam melakukan
pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi serta produktivitas nasional.
UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia sekarang adalah UU Keselamatan Kerja
(UUKK) No. 1 tahun 1970. Undang-undang ini merupakan undang-undang pokok yang memuat
aturan-aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum tentang keselamatan kerja di segala macam
tempat

kerja

yang

berada

di

wilayah

kekuasaan

hukum

NKRI.

Dasar hukum UU No. 1 tahun 1970 adalah UUD 1945 pasal 27 (2) dan UU No. 14 tahun 1969.
Pasal 27 (2) menyatakan bahwa: Tiap-tiap warganegara berhak atas pekerjaan dan penghidupan
yang layak bagi kemanusiaan. Ini berarti setiap warga negara berhak hidup layak dengan
pekerjaan yang upahnya cukup dan tidak menimbulkan kecelakaan/ penyakit. UU No. 14 tahun
1969 menyebutkan bahwa tenaga kerja merupakan modal utama serta pelaksana dari
pembangunan.
Ruang lingkup pemberlakuan UUKK dibatasi oleh adanya 3 unsur yang harus dipenuhi secara
kumulatif
a.
b.

terhadap

Tempat

tempat

kerja

di

Adanya

kerja.
mana

Tiga

unsur

dilakukan
tenaga

yang
pekerjaan

harus
bagi
kerja,

dipenuhi

adalah:

suatu

usaha.
dan

c. Ada bahaya di tempat kerja. UUKK bersifat preventif, artinya dengan berlakunya undangundang ini, diharapkan kecelakaan kerja dapat dicegah. Inilah perbedaan prinsipil yang
membedakan dengan undang-undang yang berlaku sebelumnya. UUKK bertujuan untuk
mencegah, mengurangi dan menjamin tenaga kerja dan orang lain ditempat kerja untuk
mendapatkan perlindungan, sumber produksi dapat dipakai dan digunakan secara aefisien, dan
proses produksi berjalan lancar.

Memahami

Prosedur

yang

Berkaitan

dengan

Keamanan

Prosedur yang berkaitan dengan keamanan (SOP, Standards Operation Procedure) wajib
dilakukan. Prosedur itu antara lain adalah penggunaan peralatan kesalamatan kerja. Fungsi utama
dari peralatan keselamatan kerja adalah melindungi dari bahaya kecelakaan kerja dan mencegah
akibat lebih lanjut dari kecelakaan kerja. Pedoman dari ILO (International Labour Organization)
menerangkan bahawa kesehatan kerja sangat penting untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja.

Pedoman

itu

antara

lain:

a. Melindungi pekerja dari setiap kecelakaan kerja yang mungkin timbul dari pekerjaan dan
lingkungan
b.

Membantu

kerja.
pekerja

menyesuaikan

diri

dengan

pekerjaannya

c. Memelihara atau memperbaiki keadaan fisik, mental, maupun sosial para pekerja.
Alat keselamatan kerja yang biasanya dipakai oleh tenaga kerja adalah helm, masker, kacamata,
atau alat perlindungan telinga tergantung pada profesinya.

Bab III Penutup


1.

Kesimpulan
Pada dasarnya UU Keselamatan Kerja yang digunakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan

mengatur agar proses produksi berjalan teratur dan sesuai rencana, dan mengatur agar proses
produksi tidak merugikan semua pihak. Setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan
keselamatan dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan produksi
serta produktivitas nasional.
2.

Saran
Dalam pelaksanaan K3 perlu memperhatikan 2(dua) hal penting yakni indoor dan outdoor. Baik
perhatian terhadap konstruksi gedung beserta perlengkapannya dan operasionalisasinya terhadap
bahaya kebakaran serta kode pelaksanannya maupun terhadap jaringan elektrik dan komunikasi,
kualitas udara, kualitas pencahayaan, kebisingan, display unit (tata ruang dan alat), hygiene dan
sanitasi, psikososial, pemeliharaan maupun aspek lain mengenai penggunaan komputer.
Hal diatas tidak hanya meningkatkan dari sisi kesehatan maupun sisi keselamatan
karyawan/pekerja dalam melakukan pekerjaan di tempat kerjanya.
Harapannya rekomendasi ini dapat dijadikan sebagai acuan ataupun perbandingan dalam rangka
meningkatkan pelaksanaan K3 khususnya di perkantoran.