Anda di halaman 1dari 45

PENGARUH SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN

KESEHATAN KERJA (SMK3) TERHADAP PRODUKTIVITAS


PEKERJA DALAM DUNIA KELISTRIKAN

ABILLA ADITYA PRATAMA


2016-11-118
Kelas B

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


SEKOLAH TINGGI TEKNIK PLN
JAKARTA 2017
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................................................. 2
1.2 Rumusan Masalah ......................................................................................................... 2
1.3 Batasan Masalah ............................................................................................................ 2
1.4 Tujuan ........................................................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah, Pengertian dan Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) ..................... 5
2.2 Kecelakaan Kerja .......................................................................................................... 7
2.3 Sumber bahaya listrik10
2.4 Instalasi Listrik ............................................................................................................... 13
2.5 Instalasi Penyalur Petir ................................................................................................... 15
2.6 Peraturan Perundang-undangan Terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3) ........ 16
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .................................................................................................................... 44
3.2 Saran ............................................................................................................................... 44

1|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan negara berkembang, hal ini ditunjukkan dengan


banyaknya pembangunan yang sedang dilakukan di Indonesia. Dewasa ini kita melihat bahwa
pertumbuhan industri, perkantoran, teknologi dan perdagangan di Indonesia semakin
meningkat. Salah satu tolok ukur peningkatannya adalah perekonomian Indonesia yang saat ini
semakin meningkat. Peningkatan perekonomian di Indonesia tidak lepas dari keterlibatan
tenaga kerja. Namun dalam pelaksanaannya seringkali terjadi kecelakaan yang menimpa
tenaga kerja. Hal ini tidak lepas dari buruknya penerapan Keselamatan dan Kesehatan
Kerja(K3).

Kondisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) perusahaan di Indonesia secara umum
diperkirakan termasuk rendah. Pada tahun 2005 Indonesia menempati posisi yang buruk jauh
di bawah Singapura, Malaysia, Filipina dan Thailand. Kondisi tersebut mencerminkan
kesiapan daya saing perusahaan Indonesia di dunia internasional masih sangat rendah.
Indonesia akan sulit menghadapi pasar global karena mengalami ketidakefisienan pemanfaatan
tenaga kerja (produktivitas kerja yang rendah). Padahal kemajuan perusahaan sangat
ditentukan peranan mutu tenaga kerjanya. Karena itu disamping perhatian perusahaan,
pemerintah juga perlu memfasilitasi dengan peraturan atau aturan perlindungan Keselamatan
dan Kesehatan Kerja. Nuansanya harus bersifat manusiawi atau bermartabat.

Keselamatan kerja telah menjadi perhatian di kalangan pemerintah dan bisnis sejak
lama. Faktor keselamatan kerja menjadi penting karena sangat terkait dengan kinerja karyawan
dan pada gilirannya pada kinerja perusahaan. Semakin tersedianya fasilitas keselamatan kerja
semakin sedikit kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja.

Di era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT yang akan berlaku tahun 2020
mendatang, kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan
dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antar negara yang harus dipenuhi oleh

2|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


seluruh negara anggota, termasuk bangsa Indonesia. Untuk mengantisipasi hal tersebut serta
mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia; telah ditetapkan Visi Indonesia.
Sehat 2010 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup
dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara
adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Pelaksanaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) adalah salah satu bentuk upaya
untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas dari pencemaran lingkungan,
sehingga dapat mengurangi dan atau bebas dari kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
yang pada akhirnya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Kecelakaan kerja
tidak saja menimbulkan korban jiwa maupun kerugian materi bagi pekerja dan pengusaha,
tetapi juga dapat mengganggu proses produksi secara menyeluruh, merusak lingkungan yang
pada akhirnya akan berdampak pada masyarakat luas.

Jenis kecelakaan kerja sendiri banyak sekali, antara lain kecelakaan kerja industri,
kecelakaan kerja listrik, kecelakaan kerja lingkungan hidup dan sebagainya. Untuk
mengantisipasi kecelakaan kerja tersebut kita harus menerapkan K3 yang terkait dengan
kecelakaan tersebut. Salah satunya adalah K3 listrik untuk menghindari kecelakaan kerja
listrik.

3|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, penulis dapat merumuskan masalah sebagai
berikut:

Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja?

Bagaimana cara mencegah terjadinya kecelakaan kerja?

Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja listrik? Dan bagaimana
cara mencegahnya?

Perundangan apa saja yang terkait dengan K3 umum dan K3 listrik?

1.3 Batasan Masalah


Dalam makalah ini penulis hanya akan membahas sejarah, pengertian dan
tujuan K3, peraturan dan perundang-undangan yang terkait dengan K3 bidang
kelistrikan, faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja, cara mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, faktor terjadinya kecelakaan kerja listrik dan cara mencegahnya.

1.4 Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang K3 pada bidang
kelistrikan dan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sertifikasi : Keselamatan dan
Kesehatan Kerja(K3)

4|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah, Pengertian dan Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
2.1.1 Sejarah K3
Pada tahun 1966 didirikan Lembaga Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja di
Departemen Tenaga Kerja, dan Dinas Higiene Perusahaan/Sanitasi Umum dan Dinas
Kesehatan Tenaga Kerja di Departemen Kesehatan. Disamping itu juga tumbuh organisasi
swasta yaitu Yayasan Higiene Perusahaan yang berkedudukan di Surabaya. Untuk selanjutnya
organisasi Hiperkes (Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja) yang ada di Pemerintah dari
tahun-ketahun selalu mengalami perubahan-perubahan.
Dengan Demikian Dapat dikatakan bahwa perkembangan K3 di Indonesia berjalan
bersama-sama dengan pengembangan kesehatan kerja yaitu selain melalui institusi, juga
dilakukan melalui upaya-upaya penerbitas buku-buku, majalah, leaflet K3, spanduk-spanduk,
poster dan disebabarluaskan ke seluruh Indonesia. Kegiatan lain adalah seminar K3, konvensi,
lokakarya, bimbingan terapan K3 diadakan secara berkala dan terus menerus.
Organisasi K3 adalah Asosiasi Hiperkes dan Keselamatan Kerja (AHKKI) yang
memiliki cabang diseluruh Provinsi Wilayah NKRI dengan pusat di Jakarta. Program
pendidikan keahlian K3 dilaksanakan baik dalam bentuk mata kuliah pendidikan formal yang
diberikan pada beberapa jurusan diPerguruan Tinggi, juga diberikan dalam bentuk In formasl
berupa kursuskursus keahlian K3 dan salah satu keahlian yang berkembang di tahun 2004
adalah HIMU = Higiene Industri Muda.

2.1.2 Pengertian K3
Menurut Mangkunegara (2002, p.163) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun
rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya
untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

Menurut Sumamur (2001, p.104), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha


untuk menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja di
perusahaan yang bersangkutan.

5|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)


Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang
bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup tentang
kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja .

Mathis dan Jackson (2002, p. 245), menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk
pada perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait dengan
pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan stabilitas emosi
secara umum.

Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000, p.6),
mengartikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang
sehat dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan
lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.

Jackson (1999, p. 222), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja


menunjukkan kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang
diakibatkan oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.

2.1.3 Tujuan K3
Tujuan Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja :
Secara umum, kecelakaan selalu diartikan sebagai kejadian yang tidak dapat diduga.
Kecelakaan kerja dapat terjadi karena kondisi yang tidak membawa keselamatan kerja, atau
perbuatan yang tidak selamat. Kecelakaan kerja dapat didefinisikan sebagai setiap perbuatan
atau kondisi tidak selamat yang dapat mengakibatkan kecelakaan. Berdasarkan definisi
kecelakaan kerja maka lahirlah keselamatan dan kesehatan kerja yang mengatakan bahwa cara
menanggulangi kecelakaan kerja adalah dengan meniadakan unsur penyebab kecelakaan dan
atau mengadakan pengawasan yang ketat. (Silalahi, 1995)
Keselamatan dan kesehatan kerja pada dasarnya mencari dan mengungkapkan
kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan. Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu mengungkapkan sebab-akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian
secara cermat dilakukan atau tidak.
Menurut Mangkunegara (2002) bahwa tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah
sebagai berikut:
6|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik,
sosial, dan psikologis.
Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif mungkin.
Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
AgarterhindardandariKesehatangangguanKerjakesehatanListrikyang disebabkan oleh lingkungan atau
kondisi kerja.
Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja

2.2 Kecelakaan Kerja


2.2.1 Pengertian Kecelakaan Kerja
Dalam kerja bengkel, kita pastinya akan menjumpai alat-alat berat yang sistem kerjanya
juga mengikuti postur atau fungsi alat tersebut. Seringkali alat yang kita gunakan dalam kerja
praktek tersebut tidak berfungsi secara maksimal, atau adanya human error yang menyebabkan
terhambatnya kerja bengkel. Hal ini sering kali di sebut sebagai kecelakaan kerja.
Kecelakaan ialah suatu kejadian yang tak terduga dan yang tidak diharapkan ,karena
dalam peristiwa tesebut tidak terdapat unsur kesengajaan, lebih- lebih dalam bentuk
perencanaan. Dalam Permenaker no. Per 03/Men/1994 mengenai Program JAMSOSTEK,
pengertian kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja,
termasuk penyakit yang timbul karena hubungan kerja demikian pula kecelakaan yang terjadi
dalam perjalanan berangkat dari rumah menuju tempat kerja daan pulang kerumah melalui
jalan biasa atau wajar dilalui. ( Bab I pasal 1 butir 7 ).
Kecelakaan menurut M. Sulaksmono (1997), adalah suatu kejadian yang tak terduga
dan yang tidak dikehendaki yang mengacaukan suatu proses aktivitas yang telah diatur.
Kecelakaan terjadi tanpa disangka sangka dalam sekejap mata , dan setiap kejadian tersebut
terdapat empat faktor bergerak dalam satu kesatuan berantai yakni: lingkungan ,bahaya,
peralatan, dan manusia.
Program kesehatan kerja menunjukkan pada kondisi yang bebas dari gangguan fisik,
mental, yang ditentukan, lingkungan yang dapat membuat stress emosi atau gangguan fisik
(Mangkunegara, 2000:161).
7|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
2.2.2 Penyebab Kecelakaan Kerja
Kecelakaan kerja bersifat tidak menguntungkan, tidak dapat diramal, tidak dapat
dihindari sehingga tidak dapat diantisipasi dan interaksinya tidak disengaja. Berdasarkan
penyebabnya, terjadinya kecelakaan kerja dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu langsung dan
tidak langsung. Adapun sebab kecelakaan tidak langsung terdiri dari faktor lingkungan(zat
kimia yang tidak aman, kondisi fisik dan mekanik) dan faktor manusia (lebih dari 80%)
Pada umumnya kecelakaan terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pelatihan,
kurangnya pengawasan, kompleksitas dan keanekaragaman ukuran organisasi, yang
kesemuanya mempengaruhi kinerja keselamatan di tempat kerja. Para pekerja akan tertekan
dalam bekerja apabila waktu yang disediakan untuk merencanakan, melaksanakan dan
menyelesaikan pekerjaan terbatas. Manusia dan beban kerja serta faktor-faktor dalam
lingkungan kerja merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, yang disebut roda
keseimbangan dinamis.
Terjadinya kecelakaan kerja di bengkel listrik yang diakibatkan oleh faktor manusia,
diakibatkan antara lain dari faktor heriditas (keturunan), misalnya keras kepala, pengetahuan
lingkungan jelek. Di samping itu, kecelakaan dapat diakibatkan oleh kesalahan manusia itu
sendiri. Misalnya kurangnya pendidikan, angkuh, cacat fisik atau mental. Karena sifat di atas
,timbul kecendrungan kesalahan dalam kerja yang akhirnya mengakibatkan kecelakaan.
Perbuatan salah karena kondisi bahaya (tak aman), bisa diakibatkan oleh beberapa hal,
misalnya secara fisik mekanik meninggalkan alat pengaman, pencahayaan tidak memadai,
mesin sudah tua, dan mesin tak ada pelindungnya. Ditinjau dari faktor fisik manusia, misalnya
dari ketidak seimbangan fisik /kemampuan fisik tenaga kerja,, misalnya : tidak sesuai berat
badan , kekuatan dan jangkauan, Posisi tubuh yang menyebabkan lebih lemah, kepekaan tubuh,
kepekaan panca indra terhadap bunyi, cacat fisik, cacat sementara.
Di samping itu kecelakaan bisa terjadi diakibatkan oleh ketidak seimbangan
kemampuan psikologis pekerja. Misalnya adanya rasa takut / phobia, karena gangguan
emosional, sakit jiwa, tingkat kecakapan, tidak mampu memahami, gerakannya lamban,
keterampilan kurang. Kecelakaan juga bisa terjadi diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan
tentang tidakan K3,
misalnya : kurang pengalaaman, kurang orientasi, kurang latihan memahami tombol tombol
(petunjuk lain), kurang latihan memahami data, salah pengertian terhadap suatu perintah.
Kecelakaan yang diakibatkan oleh kurangnya skill atau keterampilan kerja, misalnya :
kurang mengadakan latihan praktik, penampilan kurang, kurang kreatif, salah pengertian.
Kemudia hal lian yang sering terjadi akibat ada gangguan mental, misalnya emosi berlebihan,
8|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
beban mental berlebihan, pendiam dan tertutup, problem dengan suatu yang tidak dipahami,
frustasi dan sakit mental. Akibat stres fisik, antara lain : badan sakit (tidak sehat badan), beban
tugas berlebihan, kurang istirahat, kelelahan sensori, kekurangan oksigen, gerakan terganggu,
gula darah menurun.

2.2.3 Akibat / dampak kecelakaan kerja

Dalam kecelakaan kerja, dampak terbesar dialami oleh korban atau pelaku praktek kerja.
Kerugian paling fatal bagi korban adalah jika kecelakaan itu sampai mengakibatkan ia sampai
cacat tetap atau bahkan meninggal dunia. Akibat atau dampak lain dari terjadinya kecelakaan
adalah dapat merugikan secara finansial, baik langsung maupun tak langsung.
Misalnya saja merugikan terhadap investasi atau modal kerja, peralatan, bahan baku, dan
lingkungan kerja setempat.

2.2.3 Pencegahan Kecelakaan Kerja


Untuk mencegah kecelakaan kerja sangatlah penting diperhatikannya Keselamatan
Kerja. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan peralatan, tempat
kerja, lingkungan kerja,serta tata cara dalam melakukan pekerjaan yang bertujuan untuk
menjamin keadaan, keutuhan dan kesempurnaan,baik jasmaniah maupun rohaniah
manusia,yang tertuju pada kesejahteraan masyarakat pada umumnya dan pekerja pada
khususnya. Jadi dapat disimpulkan bahwa keselamatan kerja pada hakekatnya adalah usaha
manusia dalam melindungi hidupnya dan yang berhubungan dengan itu,dengan melakukan
tindakan preventif dan pengamanan terhadap terjadinya kecelakaan kerja ketika kita sedang
bekerja. Kita harus melaksanakan keselamatan kerja ,karena dimana saja,kapan saja, dan siapa
saja manusia normal,tidak menginginkan terjadinya kecelakaan terhadap dirinya yang dapat
berakibat fatal.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, pada dasarnya usaha untuk memberikan
perlindungan keselamatan kerja pada pekerja atau karyawan dapat dilakukan dengan dua cara:
(Soeprihanto,1996:48) yaitu: Pertama, melalui usaha preventif atau mencegah. Preventif atau
mencegah berarti mengendalikan atau menghambat sumber-sumber bahaya yang terdapat di
tempat kerja sehingga dapat mengurangi atau tidak menimbulkan bahaya bagi para karyawan.
Adapun langkah-langkah pencegahan itu dapat dibedakan, yaitu :
Subsitusi (mengganti alat/sarana yang kurang/tidak berbahaya)
Isolasi (memberi isolasi/alat pemisah terhadap sumber bahaya)
9|Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Pengendalian secara teknis terhadap sumber-sumber bahaya.
Pemakaian alat pelindung perorangan (eye protection, safety hat and
cap, gas respirator, dust respirator, dan lain-lain).
Petunjuk dan peringatan ditempat kerja.
Latihan dan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja.

Kedua, usaha represif atau kuratif. Artinya, kegiatan untuk mengatasi kejadian atau kecelakaan
yang disebabkan oleh sumber-sumber bahaya yang terdapat ditempat kerja. Pada saat terjadi
kecelakaan atau kejadian lainnya sangat dirasakan arti pentingnya persiapan baik fisik maupun
mental para karyawan sebagai suatu kesatuan atau team kerja sama dalam rangka mengatasi
dan menghadapinya. Selain itu terutama persiapan alat atau sarana lainnya yang secara
langsung didukung oleh pimpinan bengkel.2.3 Macam-macam Bahaya Listrik.

2.3 Sumber bahaya listrik.


Jenis-jenis sumber bahaya yang perlu dihindari antara lain :
a. Sentuh langsung
b. Sentuh tak langsung
c. Bahaya Over Load
d. Bahaya Hubung Singkat
e. Bahaya Tegangan Lebih
f. Bahaya Tegangan Rendah
g. Efek thermal
h. Pengaruh induksi gelombang elektro magnetic
i. Bahaya Arus tracking

a. Sentuh Langsung
Yang dimaksud sentuh langsung adalah pada bagian aktif perlengkapan adalah sentuh
langsung pada bagian aktif instalasi listrik. Bagian aktif perlengkapan atau instalasi listrik
adalah bagian produktif yang merupakan bagian dar sirkuit listriknya, yang dalam keadaan
kerja normal umumnya bertegangan dan dialiri arus listrik.
b. Sentuh Tak Langsung
Adalah sentuh pada bagian produktif terbuka, perlengkapan atau instalasi listrik yang
menjadi bertegangan akibat kegagalan isolasi. Kegagalan isolasi disebabkan oleh beberapa
sebab antara lain:
10 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pengaruh mekanik yang mengakibatkan rusaknya isolasi kabel dan terhubung dengan bagian
konduktif peralatan sehingga bagian tesebut bertegangan yang seharusnya tidak bertegangan.
Menurunnya sifat isolasi dari kabel listrik pada bagian tertentu sehingga mengakibatkan
timbulnya kebocoran arus yang mengenai bagian konduktif terbuka dari peralatan tersebut.
c. Bahaya Over Load
Bahaya Over Load adalah bahaya yag ditimbulkan karena adanya beban berlebih pada
suatu motor, yaitu motor listrik.
d. Bahaya Hubung Singkat
Istilah dalam bahasa Inggris adalah Short Circuit dan Korstluiting adalah bahasa
Belanda. Karena itu muncul istilah korsleting, korslet atau konslet, seperti yang biasa kita
gunakan sehar-hari. Karena hubung singkat ini menimbulkan arus listrik yang sangat besar
maka ada juga yang menggunakan istilah hubung singkat arus listrik.
Secara teknis, hubung singkat adalah gangguan yang terjadi pada sistem kelistrikan dimana
ada 2 penghantar yang memiliki beda tegangan terhubung dengan kondisi hambatan listrik
yang rendah sehingga timbul arus listrik yang besar.
e. Bahaya Tegangan Lebih
Tegangan berlebih merupakan peningkatan tegangan pada aliran listrik, dimana dapat
menyebabkan kerusakan alat-alat listrik atau komponen elektronik, bahkan hingga terjadinya
kebakaran.
Tegangan berlebih dapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu :
Petir
Petir merupakan kejadian alam yang sering kita jumpai, bahaya dari sambaran petir untuk alat
elektronik, dapat merusak jalur listrik , hingga menyebabkan kebakaran.
Pemakaian listrik yang tidak sesuai standar ( switching overvoltage / On-Off )
Tindakan switching ON-OFF pada alat-alat listrik yang memiliki power suply besar yang
sering dilakukan.
Pada kasus hubungan arus pendek akan memicu respon circuit breaker untuk bekerja, hal ini
memicu timbulnya switching atau tegangan transien.
f. Bahaya Tegangan Rendah
Bahaya Tegangan Rendah adalah bahaya yang ditujukan kepada motor listrik yang
berkaitan dengan torsi, sehingga menyebabkan motor listrik dapat rusak.
g. Efek Thermal
Adalah keadaan suhu berlebih pada instalasi atau peralatan yang sangat mungkin
mengakibatkan kebakaran, luka bakar atau cidera lainnya.
11 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Hal ini dapat terjadi karena beban listrik yang berlebihan dan tidak sesuai dengan
kemampuan penghantaran atau adanya hubungan pendek. Kenaikan suhu ini bila berlangsung
relatif lama dan bila menyentuh pada bagian yang mudah terbakar akan menjadi pemicu
terjadinya kebakaran.
a. Gelombang Elektromagnetik
Adalah segala proses berantai dari pembentukan medan magnet dan medan listrik yang
menjalar kesegala arah secara terus menerus.
b. Arus Tracking
Arus Tracking adalah arus rambat,, Tracking adalah suatu gejala atau kejadian alam, di
mana suatu lapisan konduktif didirikan (established) di atas permukaan bahan isolasi. Bila
terdapat kerusakan pada isolasi kabel, maka pada mulanya arus yang sangat kecil (miliamps
atau microamps) secara sebentar-bentar (intermittant) mengalir di atas permukaan bahan
isolasi.
Percikan api yang terjadi karena kesalahan isolasi ini sangat minimal dan gejala tersebut
dapat berjalan sangat lama, berbulan-bulan kadang-kadang bertahun-tahun. Jadi tiap-tiap
waktu arus mengalir di atas permukaan bahan isolasi, bila sifatnya organik, akan terjadi
karbonasi, tetapi sangat sedikit.
Bila lembab bertemu dengan kotoran (debu yang kotor di atas permukaan isolasi), maka
akan menghasilkan hubungan konduktif jembatan. Dalam keadaan tersebut, arus rambat
(creepage current) yang juga disebut arus tracking akan mengalir dalam tiap-tiap peristiwa
tersebut dan kerusakan yang terjadi karenanya akan menambah sampai arus tracking
dipertahankan

2.3.2 Upaya Pengendalian Sumber Bahaya


Untuk mencegah terjadi kecelakaan maka diperlukan upaya pengendalian sumber bahaya
terhadap obyek-obyek pengawasan yang ada. Langkah-langkah pengendalian tersebut :
1. Pengendalian Administratif.
2. Pengendalian terhadap obyek :
Pemeriksaan berkala
Perawatan berkala
3. Pengendalian terhadap manusia :
Pendidikan
Uji kesehatan

12 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pengendalian Administratif
Pengendalian ini merupakan gabungan dari pengendalian obyek dan manusia. Dimana
pengendalian ini dimulai sejak tahap tempat kerja atau calon obyek pengawasan dilakukan :
1. Perencanaan
2. Pemasangan
3. Pemakaian
4. Palayanan
5. Pemeliharaan

2.4 Instalasi Listrik


2.4.1 Tujuan Instalasi Listrik
Tujuan khusus K3 bidang listrik antara lain adalah:
a. Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai penggunaannya dalam peraturan instalasi listrik
dikenal 3 prisip dasar instalasi listrik yaitu handal, aman, dan ekonomis. Handal artinya sistem
instalasi dirancang dengan baik, sehingga jarang terdapat gangguan; atau saat ada gangguan
dari luar, sistem dapat mengatasinya dengan baik. Aman artinya tidak membahayakan bagi
manusia, instalasi itu sendiri, dan lingkungan sekitar. Dengan menerapkan keamanan dan
keselamatan kerja tanpa mengabaikan nilai ekonomis suatu instalasi listrik, maka ketiga prinsip
tadi akan terpenuhi.
b. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik:
Bahaya sentuhan langsung yaitu bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal
bertegangan.
Bahaya sentuhan tidak langsung yaitu bahaya akibat sentuhan pada bagian konduktif yang
secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan karena kegagalan isolasi.
Bahaya kebakaran biasanya terjadi akibat adanya percikan api dari hubung singkat. Namun
dalam beberapa kasus, kebakaran juga timbul akibat efek thermal dari sebuah penghantar
dengan tingkat resistansi tinggi yang dialiri arus dalam waktu yang cukup lama.

13 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
2.4.2 Perencanaan Instalasi Listrik.
Dalam perencanaan instalasi listrik faktor-faktor yang harus diperhatikan adalah sebagai
berikut :
a. Karakteristik suplai
Jenis arus, jenis dan jumlah penghantar, nilai dan toleransi dari tegangan, frekuensi, arus
maximum yang diperbolehkan dan hubungan pendek, tindakan proteksi yang melekat pada
suplai, misalnya kawat netral atau kawat ground.
b. Macam keutuhan akan listrik :
Jumlah dan jenis sirkit yang diperlukan untuk penerangan, daya, kendali, sinyal,
telekomunikasi dan lain-lain.
c. Kondisi lingkungan.
Selain itu perencanaan instalasi harus menjamin
1. Keselamatan manusia dan ternak dan keamanan harta benda dari :
Arus kejut listrik dan suhu berlebih yang sangat memungkinkan terjadi kebakaran, luka bakar
atau efek cidera lain.
2. Berfungsinya instalasi listrik dengan baik sesuai dengan maksed penggunaannya.

2.4.3. Pemasangan Instalasi Listrik


Dalam pelaksanaannya pemasangan instalasi listrik, instalatur harus memenuhi ketentuan
sebagai berikut :
1. Harus sesuai dengan gambar rancangan
2. Mengindahkan syarat-syarat yang telah ditetapkan.
3. Menggunakan tenaga kerja yang terlatih.
4. Bertanggung jawab dan menjaga keselamatan dan kesehatan tenaga kerjanya.
5. Orang yang diserahi tanggung jawab atas pelaksanaan pekerjaan pemasangan instalasi
listrik harus ahli dibidang listrik.

2.4.4 Pemakaian Instalasi Listrik


Instalasi listrik dapat dialiri listrik setelah diadakan pemeriksaan dan pengujian
dengan hasil yang baik. Meskipun instalasi sudah dinilai baik, instalatur tetap terikat
ketentuan tanggung jawab selama instalasi tersebut tidak dirubah baik oleh pengguna maupun
instalatur lain atas kecelakaan termasuk kebakaran yang menjadi akibat kesalahan
pemasangan instalasi. Jika terjadi kecelakaan yang disebabkan karena adanya perubahan dan

14 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
penambahan instalasi oleh pengguna atau pamasang instalasi lain, untuk pelaksana instalasi
yang terdahulu dibebaskan dari tanggung jawab.

2.4.5 Pelayanan Instalasi Iistrik


Pelayanan instalasi listrik harus dilakukan sedemikian rupa sehingga aman bagi yang
melayani, aman bagi instalsai dan instalasi berfungsi dengan baik serta keandalan yang
disalurkan terjamin. Yang dimaksud dengan pelayanan instalasi listrik ialah sistim yang
mencakup antara lain menyalurkan, mengatur, membagi, dan memutuskan arus listrik.

2.4.6 Pemeliharaan Instalasi Listrik


Pemeliharaan instalasi listrik meliputi program pemeriksaan, perawatan, perawatan,
perbaikan dan uji ulang berdasarkan petunjuk pemeliharaan yang sudah ditentukan. Agar
penggunaan serta kerusakan mudah diketahui, dicegah dan diperkecil. Tujuannya agar
instalasi listrik berfungsi dengan baik.
Karena instalasi mengalami keausan, penuaan, atau kerusakan yang akan mengganggu
instalasi maka secara berkala instalasi harus diperiksa dan diperbaiki dan bagian yang aus,
rusak, atau mengalami penuaan harus diganti.

2.5 Instalasi Penyalur Petir


2.5.1 Timbulnya Petir
Kilat atau halilinar adalah suatu kejadian/gejala listrik di atmosfir. Gejala ini timbul
karena adanya kondensasi dari uap air dan adanya kenaikan arus udara yang kuat. Karena
adanya kondensasi maka timbul titik-titik air . Titik-titik air ini dibawa oleh arus udara naik.
Titik-titik air kecil akan naik lebih cepat dari pada yang besar. Gesekan ini akan menimbulkan
awan yang bermuatan listrik. Kalau muatan terus bertambah lama kelamaan kuat medan
antara awan dan bumi akan menjadi semakin besar. Sehingga akan terjadi pelepasan muatan
terhadap bumi.

2.5.2 Bahaya Sambaran Petir


Petir selalu mencari jalan yang paling mudah ketanah, misalnya lewat lapisan udara yang
lembab dan terionisasi. Bangunan-bangunan yang tinggi paling besar kemungkinan terkena
sambaran petir.

15 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pengamanan terhadap sambaran petir perlu, terutama pada :
1. Bangunan yang sangat tinggi dan bangunan yang letaknya terpencil didataran terbuka.
2. Bangunan-bangunan yang atapnya mudah terhakar.
3. Bangunan-bangunan yang menyimpan barang yang mudah meledak dan mudah terbakar.

Pemeriksaan Berkala (Instalasi Listrik, Instalasi Petir)


Dalam pemeriksaan berkala ini yang membedakan adalah jangka waktu pada saat
pemeriksaan pertama dilakukan. Untuk instalasi listrik jangka waktu pemeriksaan berkala 4-
5 tahun, petir 2 tahun.

2.6 Peraturan Perundang-undangan Terkait Keselamatan dan Kesehatan Kerja(K3)

2.6.1 Peraturan Perundang-undangan Terkait K3 Secara Umum

Berikut adalah beberapa Peraturan Perundang-undangan Terkait K3 Secara umum: UU

No. 1 Tahun 1970

Tentang: Keselamatan Kerja

Pasal 3.

(1) Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk :

a. mencegah dan mengurangi kecelakaan;

b. mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;

c. mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;

d. memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran

atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;

e. memberi pertolongan pada kecelakaan;

f. memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja;

g. mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluasnya suhu,

kelembaban, debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar

atau radiasi, suara dan getaran;

16 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
h. mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik

maupun psychis, peracunan, infeksi dan penularan;

i. memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai;

j. menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik;

k. menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup;

l. memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban;

m. memperoleh keserasian antara tenaga kerja alat kerja,lingkungan kerja, cara


dan proses kerja.

n. mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang,

tanaman atau barang;

o. mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan;

p. mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat, perlakuan

dan penyimpanan barang;

q. mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya;

r. menyesuaikan danmenyempurnakan pengamanan pada pekerjaan

yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi.

(2) Dengan peraturan perundangan dapat dirubah perincian seperti tersebut

dalam ayat (1) sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi

serta pendapatan-pendapatan baru di kemudian hari.

Pasal 9.

(3) Pengurus diwajibkan menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja

yang berada di bawah pimpinannya, dalam pencegahankecelakaan dan

pemberantasan kebakaran serta peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, pula

dalam pemberian pertolongan pertama pada kecelakaan.

17 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Permennakertrans No.Per.03/Men/1982

Tentang: Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja

Pasal 2

Tugas pokok pelayanan Kesehatan Kerja meliputi:

a. Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, pemeriksaan berkala dan pemeriksaan

khusus.

b. Pembinaan dan pengawasan atas penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja.

c. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja.

d. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitair.

e. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan untuk kesehatan tenaga kerja.

f. Pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit umum dan penyakit akibat

kerja. g. Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.

h. Pendidikan Kesehatan untuk tenaga kerja dan latihan untuk petugas

Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan.

i. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan

alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan di tempat

kerja.

j. Membantu usaha rehabilitasi akibat kecelakaan atau penyakit akibat kerja.

k. Pembinaan dan pengawasan terhadap tenaga kerja yang mempunyai kelainan tertentu

dalam kesehatannya.

l. Memberikan laporan berkala tentang Pelayanan Kesehatan Kerja kepada pengurus.

18 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Undang-undang No. 3 Tahun 1969

Pasal 19 : Setiap badan , lembaga atau dinas pemberi jasa, atau bagiannya yang tunduk

kepada konvensi ini, dengan memperhatikan besarnya dan kemungkinan bahaya harus :

Menyediakan Apotik atau pos P3K sendiri atau Memelihara apotik atau pos P3K bersama-

sama dengan badan, lembaga atau kantor pemberi jasa atau bagiannya.Mempunyai satu atau

lebih lemari, kotak atau perlengkapan P3K

Permennakertrans No.Per.15/Men/1982

Tentang: Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja

Pasal 2

(1) Pengusaha wajib menyediakan petugas P3K dan fasilitas P3K di tempat kerja.

(2) Pengurus wajib melaksanakan P3K di tempat kerja.

Pasal 3

(1) Petugas P3K di tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) harus

memiliki lisensi dan buku kegiatan P3K dari Kepala Instansi yang bertanggungjawab di

bidang ketenagakerjaan setempat.

(2) Untuk mendapatkan lisensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi syarat-

syarat sebagai berikut :

a. Bekerja pada perusahaan yang bersangkutan;

b. Sehat jasmani dan rohani;

c. Bersedia ditunjuk menjadi petugas P3K;

d. memiliki pengetahuan dan ketrampilan dasar di bidang P3K di tempat kerja yang

dibuktikan dengan sertifikat pelatihan.

(3) Pemberian lisensi dan buku kegiatan P3K sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak

dikenakan biaya.

(4) Pedoman tentang pelatihan dan pemberian lisensi diatur lebih lanjut dengan Keputusan

Direktur Jenderal Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan.


19 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasal 4

Petugas P3K dalam melaksanakan tugasnya dapat meninggalkan pekerjaan utamanya untuk

memberikan pertolongan bagi pekerja/buruh dan/atau orang lain yang mengalami sakit atau

cidera di tempat kerja.

Pasal 5

(1) Petugas P3K di tempat kerja sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 3 ayat (1), ditentukan berdasarkan jumlah pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat

kerja, dengan rasio sebagaimana tercantum dalam Lampiran I Peraturan Menteri ini.

(2) Pengurus wajib mengatur tersedianya Petugas P3K pada :

a. Tempat kerja dengan unit kerja berjarak 500 meter lebih sesuai jumlah

pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja;

b. Tempat kerja di setiap lantai yang berbeda di gedung bertingkat sesuai jumlah

pekerja/buruh dan potensi bahaya di tempat kerja;

c. Tempat kerja dengan jadwal kerja shift sesuai jumlah pekerja/buruh dan potensi

bahaya di tempat kerja.

Pasal 8

(1) Fasilitas P3K sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) meliputi :

a. Ruang P3K;

b. Kotak P3K dan isi;

c. Alat evakuasi dan alat transportasi; dan

d. Fasilitas tambahan berupa alat pelindung diri dan/atau

peralatan khusus di tempat kerja yang memiliki potensi

bahaya yang bersifat khusus.

20 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
(2) Alat pelindung diri sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d merupakan peralatan

yang disesuaikan dengan potensi bahaya yang ada di tempat kerja yang digunakan dalam

keadaan darurat.

(3) Peralatan khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d berupa alat untuk

pembasahan tubuh cepat (shower) dan pembilasan/pencucian mata.

Pasal 9

(1) Pengusaha wajib menyediakan ruang P3K sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1)

huruf a dalam hal :

a. Mempekerjakan pekerja/buruh 100 orang atau lebih;

b. Mempekerjakan pekerja/buruh kurang dari 100 orang

dengan potensi bahaya tinggi.

(2) Persyaratan ruang P3K sebagaimana dimaksud pada ayat (1), meliputi :

a. Lokasi ruang P3K :

1. Dekat dengan toilet/kamar mandi;

2. Dekat jalan keluar;

3. Mudah dijangkau dari area kerja; dan

4. Dekat dengan tempat parkir kendaraan.

b. Mempunyai luas minimal cukup unruk menampung satu

tempat tidur pasien dan masih terdapat ruang gerak

bagi seorang petugas P3K serta penempatan fasilitas

P3K lainnya;

c. Bersih dan terang, ventilasi baik, memiliki pintu dan jalan

yang cukup lebar untuk memindahkan korban;

d. Diberi tanda dengan papan nama yang jelas dan mudah dilihat;

21 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
e. Sekurang-kurangnya dilengkapi dengan :

1. Wastafel dengan air mengalir;

2. Kertas tissue/lap;

3. Usungan/tandu;

4. Bidai/spalk;

5. Kotak P3K dan isi;

6. Tempat tidur dengan bantal dan selimut;

7. Tempat untuk menyimpan alat-alat, seperti : tandu dan/atau kursi roda;

8. Sabun dan sikat;

9. Pakaian bersih untuk penolong;

10. Tempat sampah;

11. Kursi tunggu bila diperlukan.

2.6.2 Peraturan Perundang-undangan Terkait K3 Listrik

Berikut adalah Peraturan perundang-undangan terkait K3 Listrik:

- PERMENAKERTRANS No Kep 75/Men/2002 Tentang Pemberlakuan PUIL 2000

- PERMENAKER No. PER 02/MEN/1989 Tentang Instalasi Penyalur Petir

Dari dua peraturan di atas, penulis hanya akan membahas PERMENAKER No. PER

02/MEN/1989 Tentang Instalasi Penyalur Petir.

22 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan :

a.Direktur ialah Pejabat sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-undang No. 1 Tahun

1970 tentang Keselamatan Kerja;

b.Pegawai Pengawas ialah Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan yang ditunjuk oleh

Menteri Tenaga Kerja;

c. Ahti Keselamatan Kerja ialah Tenaga Tehnis berkeahlian khusus dari luar Departemen

Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri Tenaga Kerja untuk mengawasi ditaatinya

Undang-undang No. l Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja;

d.Pengurus ialah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab penuh terhadap

tempat kerja atau bagiannya,yang berdiri sendiri;

e.Pengusaha ialah orang atau badan hukum seperti yang dimaksud pasal 1 ayat (3) Undang-

undang No. I Tahun 1970;

f. Tempat kerja ialah tempat sebagaimana dimaksud pasal 1 ayat (1) Undang undang No. 1

Tahun 1970;

g.Pemasang instalasi penyalur petir yang selanjutnya disebut Instalasi ialah badan hukum

yang melaksanakan pemasangan instalasi penyalur petir;

h.Instalasi penyalur petir ialah seluruh susunan sarana penyalur petir terdiri atas penerima

(Air Terminal/Rod), Penghantar penurunan (Down Conductor), Elektroda Bumi (Earth

Electrode) termasuk perlengkapan lainnya yang merupakan satu kesatuan berfungsi untuk

menangkap muatan petir dan menyalurkannya kebumi;

i.Penerima ialah peralatan dan atau penghantar dari logam yang menonjol lurus keatas

dan atau mendatar guna menerima petir;

23 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
j.Penghantar penurunan ialah penghantar yang menghubungkan penerima dengan elektroda

bumi;

k.Elektroda bumi ialah bagian dari instalasi penyalur petir yang ditanam dan kontak langsung

dengan bumi;

l.Elektroda kelompok ialah beberapa elektroda bumi yang dihubungkan satu dengan lain

sehingga merupakan satu kesatuan yang hanya disambung dengan satu penghantar

penurunan;

m.Daerah perlindungan ialah daerah dengan radius tertentu yang termasuk dalam

perlindungan instalasi penyalur petir;

n.Sambungan ialah suatu kontruksi guna menghubungkan secara listrik antara penerima

dengan penghantar penurunan, penghantar penurunan dengan penghantar penurunan dan

penghantar penurunan dengan elektroda bumi, yang dapat berupa las, klem atan kopeling;

o.Sambungan ukur ialah sambungan yang terdapat pada penghantar penurunan dengan

sistem pembumian yang dapat dilepas untuk memudahkan pengukuran tahanan pembumian;

p.Tahanan pembumian ialah tahanan bumi yang harus dilalui oleh arus listrik yang berasal

dari petir pada waktu peralihan, dan yang mengalir dari elektroda bumi kebumi dan pada

penyebarannya didalam bumi;

q.Massa logam ialah massa logam dalam maupun massa logam luar yang merupakaa satu

kesatuan yang berada didalam atau pada bangunan, misalnya perancah-perancah baja, lift,

tangki penimbun, mesin, gas dan pemanasan dari logam dan penghantar penghantar listrik.

Pasal 2

(1) Instalasi penyalur petir harus direncanakan, dibuat, dipasang dan dipelihara sesuai dengan

ketentuan dalam Peraturan Menteri ini dan atau standart yang diakui;

(2) Instalasi penyalur petir secara umum harus memenuhi persyaratan sebagai berikut

a.kemampuan perlindungan secara tehnis;

b.ketahanan mekanis;

24 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
c.ketahanan terhadap korosi;

(3) Bahan dan konstruksi instalasi penyalur petir harus kuat dan memenuhi syarat,

(4) Bagian-bagian instalasi penyalur petir harus memiliki tanda hasil pengujian dam atau

sertifikat yang diakui.

Pasal 3

Sambungan-sambungan harus merupakan suatu sambungan elektris, tidak ada kemungkinan

terbuka dan dapat menahan kekuatan tarik sama dengaa sepuluh kali berat penghantar yang

menggantung pada sambungan itu.

Pasal 4

(1) Penyambungan dilakukan dengan cara:

a. dilas.

b.diklem (plat k1em, bus kontak klem) dengan panjang sekurang-kurangnya 5 cm;

c.disolder dengan panjang sekurang-kurangnya 10 cm dan khusus untuk peng-hantar

penurunan dari pita harus dikeling.

(2) Sambungan harus dibuat sedemikian rupa sehingga tidak berkarat;

(3) Sambungan-sambungan harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga dapat diperiksa

dengan mudah.

Pasal 5

Semua penghantar penurunan petir harus dilengkapi dengan sambungan pada tempat yang

mudah dicapai.

Pasal 6

(1) Pemasangan instalasi penyalur petir harus dilakukan oleh Instalatir yang telah mendapat

pengesahan dari Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya;

(2) Tata cara untuk mendapat pengesahan sebagaimana dimaksud ayat (1), diatur lebih lanjut

dengan Keputusan Menteri.

25 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasal 7

Dalam hal pengaruh elektrolisa dan korosi tidak dapat dicegah maka semua bagian instalasi

harus dibalut dengan timah atau cara lain yang sama atau memperbaharui bagiau-bagiannya

dalam waktu tertentu.

BAB II

RUANG LINGKUP

Pasal 8

Yang diatur oleh Peraturan Menteri ini adalah Instalasi Penyalur Petir non radioaktip di

tempat kerja.

Pasal 9

(1)Tempat kerja sebagaimana dimaksud pasal 8 yang perlu dipasang instalasi penyalur petir

antara lain:

a. Bangunan yang terpencil atau tinggi dan lebih tinggi dari pada hangunan sekitarnya

seperti: menara-menara, cerobong, silo, antena pemancar, monumen dan lain-lain;

b.Bangunan dimana disimpan, diolah atau digunakan bahan yang mudah meledak atau

terbakar seperti pabrik-pabrik amunisi, gudang penyimpanan bahan peledak dan lain-lain;

c. Bangunan untuk kepentingan umum seperti: tempat ibadah, rumah sakit, sekolah, gedung

pertunjukan, hotel, pasar, stasiun, candi dan lain-lain;

d.Bangunan untuk menyimpan barang barang yang sukar diganti seperti: museum,

perpustakaan, tempat penyimpanan arsip dan lain-lain;

e. Daerah-daerah terbuka seperti: daerah perkebunan, Padang Golf, Stadion Olah Raga

dan tempat-tempat lainnya.

(2)Penetapan pemasangan instalasi pcnyalur petir pada tempat kerja sebagaimana dimaksud

ayat (1) dengan memperhitungkan angka index seperti tercantum dalam lampiran 1

Peraturan Menteri ini.

26 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB III

PENERIMA (AIR TERMINAL)

Pasal 10

(1) Penerima harus dipasang ditempat atau bagian yang diperkirakan dapat tersambar

petir dimana jika bangunan yang terdiri dari bagian-bagian seperti bangunan yang

mempunyai menara, antena, papan reklame atau suatu blok bangunan harus dipandang

sebagai suatu kesatuan;

(2) Pemasangan penerima pada atap yang mendatar harus benar-benar menjamin bahwa

seluruh luas atap yang bersangkutan termasuk dalam daerah perlindungan;

(3) Penerima yang dipasang diatas atap yang datar sekurang-kurangnya lebih tinggi 15 cm

dari pada sekitarnya;

27 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasal 11

Sebagai penerima dapat digunakan:

a.logam bulat panjang yang terbuat dari tembaga;

b.hiasan-hiasan pada atap, tiang-tiang, cerobong-cerobong dari logam yang disambung baik

dengan instalasi penyatur petir;

c. atap-atap dari logam yang disambung secara elektris dengan baik.

Pasal 12

Semua bagian bangunan yang terbuat dari bukan logam yang dipasang menjulang ke atas

dengan tinggi lebih dari 1 (satu) meter dari atap harus dipasang penerima tersendiri.

Pasal 13

Pilar beton bertulang yang dirancangkan sebagai penghantar penurunann untuk suatu instalasi

penyalur petir, pilar beton tersebut harus dipasang menonjol di atas atap dengan mengingat

ketentuan-ketentuan penerima, syarat-syarat sambungan dan elektroda bumi.

Pasal 14

(1) Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima dengan jenis Franklin dan sangkar

Faraday yang berhentuk runcing adalah suatu kerucut yang mempunyai sudut puncak 112

(seratus dua belas);

(3) Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima yang berbentuk penghantar

mendatar adalah dua bidang yang saling memotong pada kawat itu dalam sudut 112 (seratus

dua belas);

(3) Untuk menentukan daerah perlindungan bagi penerima jenis lain adalah sesuai

dengan ketentuan tehnis dari masing-masing penerima;

28 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB IV

PENGHANTAR PENURUNAN

Pasal 15

(1) Penghantar penurunan harus dipasang sepanjang bubungan (nok) dan atau sudut-sudut

bangunan ke tanah sehingga penghantar penurunan merupakan suatu sangkar dari bangunan

yang akan dilindungi.

(2) Penghantar penurunan harus dipasang secara sempuma dan harus diperhitungkan

pemuaian dan penyusutannya akibat perubahan suhu;

(3)Jarak antara alat-alat pemegang penghantar penurunan satu dengan yang lainnya tidak

boleh lebih dari 1,5 meter;

(4) Penghantar penurunan harus dipasang lurus kebawah dan jika terpaksa dapat mendatar

atau melampaui penghalang;

(5) Penghantar penurunan harus dipasang dengan jarak tidak kurang 15 cm dari atap yang

dapat terbakar kecuali atap dari logam, genteng atau batu;

(6) Dilarang memasang penghantar penurunan di bawah atap dalam bangunan.

Pasal 16

Semua bubungan (nok) harus dilengkapi dengan penghantar penurunan, dan untuk atap

yang datar harus dilengkapi dengan penghantar penurunan pada sekeliling pinggirnya,

kecuali persyaratan daerah perlindungan terpenuhi.

Pasal 17

(1) Untuk mengamankan bangunan terhadap loncatan petir dari pohon yang letaknya

dekat bangunan dan yang diperkirakan dapat tersambar petir, bagian bangunan yang

terdekat dengan pohon tesebut harus dipasang penghantar penurunan;

29 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
(2) Penghantar penurunan harus selalu dipasang pada bagian-bagian yang menonjol yang

diperkirakan dapat tersambar petir;

(3) Penghantar penurunan harus dipasang sedemikian rupa, sehingga pemeriksaan dapat

dilakukan dengan mudah dan tidak mudah rusak.

Pasal 18

(1) Penghantar penurunan harus dilindungi terhadap kerusakan-kerusakan mekanik, pengaruh

cuaca, kimia (elektrolisa) dan sebagainya.

(2) Jika untuk melindungi penghantar penurunan itu dipergunakan pipa logam, pipa

tersebut pada kedua ujungnya harus disambungkan secara sempurna baik elektris maupun

mekanis kepada penghantar untuk mengurangi tahanan induksi.

Pasal 19

(1) Instalasi penyalur petir dari suatu bangunan paling sedikit harus mempunyai 2 (dua) buah

penghantar penurunan;

(2) Instalasi penyalur petir yang mempunyai lebih dari satu penerima, dari penerima tersebut

harus ada paling sedikit 2 (dua) buah penghantar penurunan;

(3) Jarak antara kaki penerima dan titik pencabangan penghantar penurunan paling besar 5

(lima) meter.

Pasal 20

Bahan penghantar penurunan yang dipasang khusus harus digunakan kawat tembaga atau

bahan yang sederajat dengan ketentuan :

a.penampang sekurang-kurangnya 50 mm.;

b.setiap bentuk penampang dapat dipakai dengan tebal serendah-rendahnya 2 mm.

30 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasal 21

(1) Sebagai penghantar penurunan petir dapat digunakan bagian-bagian dari atap, pilar-pilar,

dinding-dinding, atau tulang-tulang baja yang mempunyai massa logam yang baik;

(2) Khusus tulang-tulang baja dari kolom beton harus memenuhi syarat, kecuali;

a. Sudah direncanakan sebagai penghantar penurunan dengan memperhatikan syarat-

syarat sambungan yang baik dan syarat-syarat lainnya;

b.Ujung-ujung tulang baja mencapai garis permukaan air dibawah tanah sepanjang waktu.

(3) Kolom beton yang bertulang baja yang dipakai sebagai penghantar penurunan

harus digunakan kolom beton bagian luar.

Pasal 22

Penghantar penurunan dapat digunakan pipa penyalur air hujan dari logam yang dipasang

tegak dengan jumlah paling banyak separuh dari jumlah penghantar penurunan yang

diisyaratkan dengan sekurang-kurangnya dua buah merupakan penghantar penurunan

khusus.

Pasal 23

(1)Jarak minimum antara penghantar penurunan yang satu dengan yang lain diukur

sebagai berikut;

a.pada bangunan yang tingginya kurang dari 25 meter maximum 20 meter;

b.pada bangunan yang tingginya antara 25 50 meter maka jaraknya {30 (0,4

x tinggi bangunan) }

c.pada bangunan yang tingginya lebih dari 50 meter maximum 10 meter.

(2) Pengukuran jarak dimaksud ayat (I) dilakukan dengan menyusuri keliling bangunan.

Pasal 24

Untuk bangunan-bangunan yang terdiri dari bagian-bagian yang tidak sama tingginya,

tiap-tiap bagian harus ditinjau secara tersendiri sesuai pasa1 23 kecuali bagian banguna

31 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
yang tingginya kurang dari seperempat tinggi bangunan yang tertinggi, tingginya kurang

dari 5 meter dan mempunyai luas dasar kurang dari 50 meter persegi.

Pasal 25

(1) Pada bangunan yang tingginya kurang dari 25 meter dan mempunyai bagian-bagian

yang menonjol kesamping harus dipasang beberapa penghantar penurunan dan tidak

menurut ketentuan pasal 23;

(2) Pada bangunan yang tingginya lebih dari 25 meter, semua bagian-bagian yang menonjol

ke atas harus dilengkapi dengan penghantar penurunan kecuali untuk menara-menara.

Pasal 26

Ruang antara bangunan-bangunan yang menonjol kesamping yang merupakan ruangan yang

sempit tidak perlu dipasang penghantar penurunan jika penghantar penurunan yang dipasang

pada pinggir atap tidak terputus.

Pasal 27

(1)Untuk pemasangan instalasi penyalur petir jenis Franklin dan sangkar Faraday, jenis-

jenis bahan untuk penghantar dan pembumian dipilih sesuai dengan daftar pada lampiran II

Peraturan Menteri ini;

(2)Untuk pemasangan instalasi penyalur petir jenis Elektrostatic dan atau jenis lainnya,

jenis-jenis bahan untuk penghantar dan pembumian dapat menggunakan bahan sesuai

dengan daftar pada lampiran II Peraturan Menteri ini dan atau jenis lainnya sesuai dengan

standard yang diakui;

(3)Penentuan bahan dan ukurannya dari ayat (l) dan ayat (2) pasal ini, ditentukan

berdasarkan beberapa faktor yaitu ketahanan mekanis, ketahanan terhadap pengaruh kimia

terutama korosi dan ketahanan terhadap pengaruh lingkungan lain dalam batas standard yang

diakui;

(4) Semua penghantar dan pengebumian yang digunakan harus dibuat dari bahan yang
memenuhi syarat, sesuai dengan standard yang diakui.

32 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB V

PEMBUMIAN

Pasal 28

(1) Elektroda bumi harus dibuat dan dipasang sedemikian rupa sehingga tahanan pembumian

sekecil mungkin;

(2) Sebagai elektroda bumi dapat digunakan:

a.tulang-tulang baja dari lantai-lantai kamar dibawah bumi dan tiang pancang yang

sesuai dengan keperluan pembumian;

b.pipa-pipa logam yang dipasang dalam bumi secara tegak;

c. pipa-pipa atau penghantar lingkar yang dipasang dalam bumi secara

mendatar, d.pelat logam yang ditanam;

e.bahan logam lainnya dan atau bahan-bahan yang cara pemakaian menurut ketentuan

pabrik pembuatnya.

(3) Elektroda bumi tersebut dalam ayat (2) harus dipasang sampai mencapai air dalam bumi.

Pasal 29

(1) Elektroda bumi dapat dibuat dari:

a.Pipa baja yang disepuh dengan Zn (Zincum) dan garis tengah sekurang-kurangnya 25

mm dan tebal sekurang-kurangnya 3,25 mm;

b.Batang baja yang disepuh dengan Zn dan garis tengah sekurang-kurangnya 19 mm;

c.Pita baja yang disepuh dengan Zn yang tebalnya sekurang-kurangnya 3 mm dan

lebar sekurang-kurangnya 25 mm;

(2) Untuk daerah-daerah yang sifat korosipnya lebih besar, elektroda bumi harus dibuat dari:

a.Pipa baja yang disepuh dengan Zn dan garis tengah dalam sekurang-kurangnya 50 mm

dan tebal sekurang-kurangnya 3,5 mm;

b.Pipa dari tembaga atau bahan yang sederajat atau pipa yang disepuh dengan tembaga

33 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
atau bahan yang sederajat dengan garis tengah daIam sekurang-kurangnya 16 mm dan

tebal sekurang-kurangnya 3 mm;

c.Batang baja yang disepuh dengan Zn dengan garis tengah sekurang-kurangnya 25 mm;

d.Batang tembaga atau bahan yang sederajat atau batang baja yang disalur dengan

tembaga atau yang sederajat dengan garis tengah sekurang-kurangnya 16 mm;

e.Pita baja yang disepuh dengan Zn dan tebal sekurang-kurangnya 4 mm dan lebar

sekurang-kurangnya 25 mm.

Pasal 30

(1)Masing-masing penghantar penurunan dari suatu instalasi penyalur petir yang

mempunyai beberapa penghantar penurunan harus disambungkan dengan elektroda

kelompok;

(2) Panjang suatu elektroda bumi yang dipasang tegak dalam bumi tidak boleh kurang

dari 4 meter, kecuali jika sebahagian dari elektroda bumi itu sekurang-kurangnya

2 meter dibawah batas minimum permukaan air dalam bumi;

(3)Tulang-tulang besi dari lantai beton dan gudang dibawah bumi dan tiang pancang dapat

digunakan sebagai elektroda bumi yang memenuhi syarat apabila sebahagian dari tulang-

tulang besi ini berada sekurang-kurangnya l (satu) meter dibawah permukaan air dalam

bumi; (4)Elektroda bumi mendatar atau penghantar lingkar harus ditanam sekurang-

kurangnya 50 cm didalam tanah.

Pasal 31

Elektroda bumi dan elektroda kelompok harus dapat diukur tahanan pembumiannya

secara tersendiri maupun kelompok dan pengukuran dilakukan pada musim kemarau.

PASAL 32

Jika keadaan alam sedemikian rupa sehingga tahanan pembumian tidak dapat tercapai

secara tehnis, dapat dilakukan cara sebagai berikut:

34 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
a.masing-masing penghantar penurunan harus disambung dengan penghantar lingkar yang

ditanam lengkap dengan beberapa elektroda tegak atau mendatar sehingga jumlah tahanan

pembumian bersama memenuhi syarat;

b.membuat suatu bahan lain (bahan kimia dan sebagainya) yang ditanam bersama dengan

elektroda sehingga tahanan pembumian memenuhi syarat.

Pasal 33

Elektroda bumi yang digunakan untuk pembumian instalasi listrik tidak boleh digunakan

untuk pembumian instalasi penyalur petir.

Pasal 34

(1) Elektroda bumi mendatar atau penghantar lingkar dapat dibuat dari pita baja yang

disepuh Zn dengan tebal sekurang-kurangnya 3 mm dan lebar sekurang-kurangnya 25 mm

atau dari bahan yang sederajat;

(2) Untuk daerah yang sifat korosipnya lehih besar, elektroda burni mendatar atau penghantar

lingkar harus dibuat dari:

a.Pita baja yang disepuh Zn dengan ukuran lebar sekurang-kurangnya 25 mm dan tebal

sekurang-kurangnya 4 mm atau dari bahan yang sederajat;

b. Tembaga atau bahan yang sederajat, bahan yang disepuh dengan tembaga atau bahan yang

sederajat, dengan luas penampang sekurang-kurangnya 50 mm dan bila bahan itu berbentuk

pita harus mempunyai tebal sekurang-kurangnya 2 mm;

c.Elektroda pelat yang terbuat dari tembaga atau hahan yang sederajat dengan luas satu sisi

permukaan sekurang-kurangnya 0,5 m dan tebal sekurang-kurangnya 1 mm. jika berbentuk

silinder maka luas dinding silinder tersebut harus sekurang-kurangnya 1 m2.

35 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB VI

MENARA

Pasal 35

(1) Instalasi Penyalur Petir pada bangunan yang menyerupai menara seperti menara air, silo,

masjid, gereja, dan lain-lain harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a.Bahaya meloncatnya

petir; b.Hantaran listrik;

c.Penempatan penghantar;

d.Daya tahan terhadap gaya mekanik;

e.Sambungan-sambungan antara massa logam dari suatu bangunan.

(2) Instalasi penyalur petir dari menara tidak boleh dianggap dapat melindungi bangunan

bangunan yang berada disekitarnya.

Pasal 36

(l) Jumlah dan penempatan dari penghantar penurunan pada bagian luar dari menara

harus diselenggarakan menurut pasal 23 ayat (1);

(2) Didalam menara dapat pula dipasang suatu penghantar penurunan untuk

memudahkan penyambungan-penyambungan dari bagian-bagian logam menara itu.

Pasal 37
Menara yang seluruhnya terbuat dari logam dan dipasang pada pondasi yang tidak dapat

menghantar, harus dibumikan sekurang-kurangnya pada dua tempat dan pada jarak yang

sama diukur menyusuri keliling menara tersebut.

Pasal 38

Sambungan-sambungan pada instalasi penyalur petir untuk menara harus betul-betul

diperhatikan terhadap sifat korosip dan elektrolisa dan harus secara dilas karena

kesukaran pemeriksaan dan pemeliharaannya.

36 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB VII

BANGUNAN YANG MEMPUNYAI ANTENA

Pasal 39

(1)Antena harus dihubungkan dengan instalasi penyalur petir dengan menggunakan

penyalur tegangan lebih, kecuali jika antena tersebut berada dalam daerah yang dilindungi

dan penempatan antena itu tidak akan menimbulkan loncatan bunga api;

(2)Jika antena sudah dibumikan secara tersendiri, maka tidak perlu dipasang

penyalur tegangan lebih;

(3)Jika antena dipasang pada bangunan yang tidak mempunyai instalasi penyalur petir,

antena harus dihubungkan kebumi melalui penyalur tegangan lebih.

Pasa1 40

(1) Pemasangan penghantar antara antena dan instalasi penyalur petir atau dengan bumi harus

dilaksanakan sedemikian rupa sehingga bunga api yang timbul karena aliran besar tidak dapat

menimbulkan kerusakan;

(2) Besar penampang dari penghantar antara antena dengan penyalur tegangan lebih,

penghantar antara tegangan lebih dengan instalasi penyalur petir atau dengan elektroda

bumi harus sekurang-kurangnya 2,5 mm;

(3) Pemasangan penghantar antara antena dengan instalasi penyalur petir atau dengan

elektroda bumi harus dipasang selurus mungkin dan penghantar tersebut dianggap

sebagai penghantar penurunan petir.

Pasa1 41

(1) Pada bangunan yang mempunyai instalasi penyalur petir, pemasangan penyalur tegangan

lebih antara antena dengan instalasi penyalur petir harus pada tempat yang tertinggi;

(2) Jika suatu antena dipasang pada tiang logam, tiang tersebut harus dihubungkan dengan

instalasi penyalur petir;

37 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasa1 42

(1) Pada bangunan yang tidak mempunyai instalasi penyalur petir, pemasangan penyalur

tegangan lebih antara antena dengan elektroda bumi harus dipasang diluar bangunan;

(2) Jika antena dipasang secara tersekat pada suatu tiang besi, tiang besi ini harus
dihubungkan dengan bumi.

BAB VIII

CEROBONG YANG LEBIH TINGGI DARI 10 M

Pasal 43

(1) Pemasangan instalasi penyalur petir pada cerobong asap pabrik dan lain-lain yang

mempunyai ketinggian lebih dari 10 meter harus diperhatikan keadaan seperti dibawah ini

: a.Timbulnya karat akibat adanya gas atau asap terutama untuk bagian atas dari instalasi;

b.Banyaknya penghantar penurunan petir;

c.Kekuatan gaya mekanik.

(2) Akibat kesukaran yang timbul pada pemeriksaan dan pemeliharaan, pelaksanaan

pemasangan dari instalasi penyalur petir pada cerobong asap pabrik dan lain-lainnya harus

diperhitungkan juga terhadap korosi dan elektrolisa yang mungkin terjadi.

Pasa1 44

Instaiasi penyalur petir yang terpasang dicerobong tidak boleh dianggap dapat bangunan

yang berada disekitarnya.

Pasa1 45

(1)Penerima petir harus dipasang menjulang sekurang-kurangnya 50 cm diatas

pinggir cerobong;

(2) Alat penangkap bunga api dan cincin penutup pinggir bagian puncak cerobong

dapat digunakan sebagai penerima petir;

(3)Penerima harus disambung satu dengan lainnya dengan penghantar lingkar yang

38 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
dipasang pada pinggir atas dari cerobong atau sekeliling pinggir bagian luar, dengan jarak

tidak lebih dari 50 cm dibawah puncak cerobong;

(4) Jarak antara penerima satu dengan lainnya diukur sepanjang keliling cerobong paling

besar 5 meter. Penerima itu harus dipasang dengan jarak sama satu dengan lainnya pada

sekelilingnya;

(5)Batang besi, pipa besi dan cincin besi yang digunakan sebagai penerima harus

dilapisi dengan timah atau bahan yang sederajat untuk mencegah korosi.

Pasal 46

(1) Pada tempat-tempat yang terkena bahaya termakan asap, uap atau gas sedapat mungkin

dihindarkan adanya sambungan;

(2) Sambungan-sambungan yang terpaksa dilakukan pada tempat-tempat ini, harus dilindungi

secara baik terhadap bahaya korosi;

(3)Sambungan antara penerima yang dipasang secara khusus dan penghantar penurunan harus

dilakukan sekurang-kurangnya 2 meter dibawah pinggir puncak dari cerobong.

Pasal 47

(1)Instalasi penyalur petir dari cerobong sekurang-kurangnya harus mempunyai 2 (dua)

penghantar penurunan petir yang dipasang dengan jarak yang sama satu dengan yang

lain; (2)Tiap-tiap penghantar penurunan harus disambungkan langsung dengan penerima.

Pasal 48

(1)Cerobong dari logam yang berdiri tersendiri dan ditempatkan pada suatu pondasi

yang tidak dapat menghantar harus dihubungkan dengan tanah;

(2)Sabuk penguat dari cerobong yang terbuat dari logam harus di sambung secara

kuat dengan penghantar penurunan.

Pasal 49

(1)Kawat penopang atau penarik untuk cerobong harus ditanamkan ditempat pengikat

39 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
pada alat penahan ditanah dengan menggunakan elektroda bumi sepanjang 2meter;

(2)Kawat penopang atau penarik yang dipasang pada bangunan yang dilindungi

harus disambungkan dengan instalasi penyalur petir bangunan itu.

BAB IX

PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN

Pasal 50

(I)Setiap instalasi penyalur petir dan bagian-bagiannya harus dipelihara agar selalu

bekerja dengan tepat, aman dan memenuhi syarat;

(2)Instalasi penyalur petir harus diperiksa dan diuji:

a.Sebelum penyerahan instalasi penyalur petir dari instalatir kepada pemakai;

b.Setelah ada perubahan atau perbaikan suatu bangunan dan atau instalasi penyalur
petir; c.Secara berkala setiap dua tahun sekali; d.Setelah ada kerusakan akibat sambaran
petir;

Pasal 51

(1)Pemeriksaan dan pengujian instalasi penyalur petir dilakukan oleh pegawai pengawas,

ahli keselamatan kerja dan atau jasa inspeksi yang ditunjuk;

(2)Pengurus atau pemilik instalasi penyalur petir berkewajiban membantu pelaksanaan

pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan oleh pegawai pengawas, ahli keselamatan

kerja dan atau jasa inspeksi yang ditunjuk termasuk penyedian alat-alat bantu.

Pasa1 52

Dalam pemeriksaan berkala harus diperhatikan tentang hal-hal sebagai berikut:

a.elektroda bumi, terutama pada jenis tanah yang dapat menimbulkan karat;

b.kerusakan-kerusakan dan karat dari penerima, penghantar dan sebagainya;

c. sambungan-sarnbungan;

d.tahanan pembumian dari masing-masing elektroda maupun elektroda kelompok.

40 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasa1 53

(1) Setiap diadakan pemeriksaan dan pengukuran tahanan pembumian harus dicatat dalam

buku khusus tentang hari dan tanggal hasil pemeriksaan;

(2) Kerusakan-kerusakan yang didapati harus segara diperbaiki.

Pasa1 54

(1) Tahanan pembumian dari seluruh sistem pembumian tidak boleh lebih dari 5 ohm

(2) Pengukuran tahanan pembumian dari elektroda bumi harus dilakukan sedemikian rupa

sehingga kesalahan-kesalahan yang timbul disebabkan kesalahan polarisasi bisa

dihindarkan; Pemeriksaan pada bagian-bagian dari instalasi yang tidak dapat dilihat atau

diperiksa, dapat dilakukan dengan menggunakan pengukuran secara listrik.

41 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB X

PENGESAHAN

Pasal 55

(1) Setiap perencanaan instalasi penyalur petir harus dilengkapi dengan gambar rencana

instalasi;

(2) Gambar rencana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus menunjukan: gambar bagian

tampak atas dan tampak samping yang mencakup gambar detail dari bagian-bagaian instalasi

beserta keterangan terinci termasuk jenis air terminal, jenis dari atap bangunan, bagian-

bagian lain peralatan yang ada diatas atap dan bagian-bagian logam pada atau diatas atap.

Pasal 56

(1) Gambar rencana instalasi sebagaimana dimaksud pada pasal 55 harus mendapa

pengesahan dari Menteri atau pejabat yang ditunjuknya;

(2) Tata cara untuk mendapat pengesahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih

lanjut dengan Keputusan Menteri.

Pasal 57

(1) Setiap instalasi penyalur petir harus mendapat sertifikat dari Menteri atau pejabat yang

ditunjuknya;

(2) Setiap penerima khusus seperti elektrostatic dan lainnya harus mendapat sertifikat dari

Menteri atau pejabat yang ditunjuknya;

(3) Tata cara untuk mendapat sertifikat sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) diatur

lebih lanjut dengan Keputusan Menteri.

Pasal 58

Dalam hal terdapat perubahan instalasi penyalur petir, maka pengurus atau pemilik harus

mengajukan permohonan perubahan instalasi kepada Menteri cq. Kepala Kantor Wilayah
6
yang ditunjuknya dengan melampiri gambar rencana perubahan. 0

42 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
Pasal 59

Pengurus atau pemilik wajib mentaati dan melaksanakan semua ketentuan dalam Peraturan

Menteri ini.

BAB XI

KETENTUAN PIDANA

Pasa1 60

pengurus atau pemilik yang melanggar ketentuan pasal 2, pasal 6 ayat (1), pasal 55 ayat (1), pasal

56 ayat (1), pasal 57 ayat (1) dan (2), pasal 58 dan pasat 59 diancam dengan hukuman kurungan

selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,-(seratus ribu rupiah)

sebagaimana dimaksud pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja.

BAB XII

ATURAN PERALIHAN

Pasal 61

Instalasi penyalur petir yang sudah digunakan sebelum Peraturan Menteri ini ditetapkan, Pengurus

atau Pemilik wajib menyesuaikan dengan Peraturan ini dalam waktu 1 (satu) tahun sejak

berlakunya Peraturan Menteri ini.

BAB XIII

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 62

Peraturan Menteri ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

43 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Tujuan dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai berikut:


Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja baik secara fisik, sosial, dan
psikologis.
Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya selektif mungkin.
Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi pegawai.
Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan atau kondisi kerja.
Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja
kecelakaan kerja adalah kecelakaan yang terjadi berhubung dengan hubungan kerja, termasuk penyakit
yang timbul karena hubungan kerja demikian pula kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan berangkat
dari rumah menuju tempat kerja daan pulang kerumah melalui jalan biasa atau wajar dilalui.

3.2 Saran

Penerapan K3 akan berjalan dengan baik apabila pemilik usaha dan pekerja menerapkan dasar-dasar K3
dan prinsip-prinsip K3, namun dalam kenyataannya seringkali kita temui pemilik usaha dan pekerja yang
tidak menerapkan dasar-dasar K3 dan prinsip-prisip K3. Oleh karena itu diperlukan peran pemerintah
untuk menindak tegas perihal tersebut

44 | K e s e l a m a t a n d a n K e s e h a t a n K e r j a ( K 3 )