Anda di halaman 1dari 7

Permasalahan Manajemen Sumber Daya Manusia Internasional

(http://lutfidamayanti.blogspot.com/2013/06/bab-17-mengelola-sdmglobal.html)

1. Faktor budaya
Perbedaan budaya dari setiap negara mengharuskan penyesuaian
perbedaan dalam praktek manajemen antara cabang-cabang sebuah
perusahaan. Sebagai contoh, dari sebuah studi sekitar 330 manajer dari
Hongkong, Republik Rakyat Cina dan Amerika Serikat, para manajer AS
cenderung untuk menjadi orang yang paling merasa khawatir terhadap
penyelesaian pekerjaannya. Para manajer Cina saling merasa khawatir
dalam mempertahankan keharmonisan lingkungan, dan para manajer
Hongkong berada diantara kedua ekstrem itu. Studi-studi lain
menunjukkan bagaimana petbedaan budaya dapat mempengaruhi
kebijakan SDM. Sebagai contoh, dibandingkan dengan para karyawan AS
para pekerja Meksiko mengharapkan para manajer menjaga jarak dengan
karyawan atau bersikap formal. Di Jerman, karyawan bahkan tidak boleh
terlambat beberapa menit dan harus selalu menyebut orang yang lebih
senior secara formal dengan jabatannya.

2. Sistem ekonomi
Perbedaan sistem ekonomi juga diterjemahkan kedalam perbedaan dalam
pratek SDM. Di beberapa negara lebih terpacu dengan ide perusahaan
bebas dari pada negara lainnya. Misalnya Perancis, walaupun negara yang
masyarakatnya kapitalis, menetapkan larangan ketat atas hak pengusaha
untuk memberhentikan karyawan, dan membatasi jumlah jam kerja yang
dapat digunakan karyawan untuk bekerja setiap minggu.

3.

Faktor hubungan hukum dan Industrial

Faktor hukum dan hubungan industri dari negara satu dengan negara
lain,contoh praktik pekerjaan sesukannya tidak ada di Eropa, dewan kerja
seperti memecat pekerja memakan waktu dan mahal. Banyak negara
Eropa,dimana dewan pekerja menggantikan mediasi manajemen pekerja
informal erbasis serikat pekerja seperti di AS. Dewan kerja adalah
kelompok formal yang dipilih karyawan dari perwakilan pekerja ,bertemu
setiap bulan dengan manajer mendiskusikan topik-topik berkisar kebijakan
hingga pemecatan.
Current issue

Ketidaksiapan SDM Indonesia


(https://www.visec.or.id/berita-19-afta-2015-dan-ketidaksiapan-sdmindonesia.html)

ASEAN AFTA.
Sebenernya sudah bukan waktunya lagi mempertanyakan kesiapan
Indonesia menghadapi Siap atau pun tidak, kita tak bisa lari dari
kenyataan penerapan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara
mulai 2015. Waktu untuk berbenah tidak banyak, kurang dari setahun.
Namun secara kasat mata kita melihat kelapangan, jawaban dari
pertanyaan tersebut adalah: Indonesia Tidak Siap! Mengapa? Karena
Indonesia belum memiliki modal yang menjanjikan agar cukup untuk
dikatakan siap. Indonesia masih memiliki banyak pekerjaan rumah
yang belum sempat diselesaikan, dan hal ini akan menghambat bahkan
justru akan menjatuhkan Indonesia dalam persaingan global yang
kompetitif. Jika ditilik dari kompetensi sumber daya Indonesia, Indonesia
masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara penggagas AFTA
lainnya.
Hal ini dibuktikan berdasarkan indeks kompetensi yang dikeluarkan oleh
World Economic Forum pada tahun 2013, bahwa Indonesia menempati

urutan ke-50 atau lebih rendah dari Singapura (ke-2), Malaysia (ke-20),
dan Thailand (ke-30). Rendahnya kompetensi sumber daya Indonesia
diperoleh dari faktor-faktor yang saling berkaitan seperti: tenaga kerja/ahli
profesi yang tidak memiliki kualifikasi mumpuni; minimnya pelaksanaan
sertifikasi kompetensi; belum sesuainya kurikulum di sekolah menengah
dengan keahlian profesi; serta sumber daya manusia di Indonesia yang
sangat berlimpah namun belum dapat dioptimalkan oleh pemerintah.
Oleh karena itu, Indonesia dikatakan belum siap untuk menghadapi
kuatnya persaingan tenaga kerja AFTA 2015 karena tenaga kerja
Indonesia sendiri tidak akan cukup banyak yang mampu memenuhi
standar yang dibutuhkan. Standar tersebut akan selalu meningkat seiring
dengan tingginya persaingan kemampuan, keterampilan, pengetahuan,
maupun kemampuan berbahasa, antar tenaga kerja negara-negara SouthEast.
Disamping itu, menurut catatan BPS pada Agustus 2013, bahwa
pengganguran terbuka di Indonesia mencapai 6,25 persen. Angkatan kerja
di Indonesia pada Agustus 2013 mencapai 118,2 juta orang. Dari sumber
yang sama kita dapati bahwa masih ada lebih dari 360 ribu orang sarjana
yang menganggur di negeri kita. Angka yang sangat mencengangkan
sekaligus memprihatinkan. Jika sekarang saja para sarjana sulit mencari
kerja, apalagi tamatan SMA, SMP dan SD, tentunya akan lebih sulit lagi,
terlebih menjelang diterapkannya AFTA 2015, bayang-bayang akan
ledakan pengangguran terdidik akan semakin nyata.
Terlebih dengan dibukanya AFTA 2015 bisa dipastikan banyak tenaga kerja
dari luar negeri masuk ke Indonesia. Sementara orang Indonesia
kebanyakan mengirim tenaga kerja keluar negeri bukan sebagai tenaga
ahli, melainkan tenaga kerja seperti pembantu rumah tangga, sopir, dan
pekerja kasar di pabrik-pabrik, perkebunan atau di rumah tangga.
Sedangkan negara lain mengirim tenaga kerja yang terdidik dan terlatih

sehingga dia bekerja pada posisi sebagai manajer atau tenaga ahli di
Indonesia. Dengan diterapkan AFTA 2015, banyaknya tenaga kerja dari
luar negeri yang akan menggeser dan mengisi tenaga kerja dari
Indonesia, dan sudah bisa dipastikan semakin banyak pengangguran di
Indonesia. Segenap rakyat Indonesia yang belum siap /dipersiapkan oleh
pemerintahnya untuk menghadapi AFTA 2015, kemudian hanya akan
menjadi korban yang semakin dikalahkan dalam percaturan global
antarbangsa.
Pembenahan SDM
Meski AFTA 2015, merupakan buah simalakama yang
dipaksakan/dijejalkan ke dalam mulut seluruh rakyat Indonesia dari
Sabang sampai Merauke untuk dimakan. Mau tidak makan juga mati, mau
makan juga mati. Siap tidak siap harus siap. Bagaimana caranya untuk
siap, ketika AFTA 2015, sepertinya masih berupa sebuah euforia bagi
pemerintah, baik Pemda dan pusat yang saat ini sepertinya masih tidur
pulas dan kurang tanggap untuk mempersiapkan masyarakatnya agar
menjadi lebih siap dalam berbagai aspek untuk menghadapi semua
tantangan ini untuk dijadikan peluang menjadi lebih sejahtera dan
bermartabat di pentas Asia?
Diwaktu yang semakin sempit ini, ada banyak hal penting yang bisa
membuat Indonesia bisa bertahan, atau bahkan bisa memanfaatkan AFTA
2015 untuk kemajuan bangsa ini. Tentunya dengan harapan pemerintah
memahami prioritas masalah yang harus diselesaikan dan kekurangan
yang perlu ditingkatkan. Nah, prioritas pemerintah saat ini maupun
pemerintah yang terpilih pasca pilpres 9 Juli 2014 nanti, yaitu
memfokuskan perhatian dalam pembenahan SDM melalui perbaikan
pendidikan di Indonesia yang harus mendukung daya saing dan dayaguna
agar lulusan yang dihasilkan bisa bekerja dan bersaing di perusahaan
atau industri tidak hanya di Indonesia tetapi juga negara lain.

Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan kompetensi, pola pikir


adalah aspek penting yang perlu diperhatikan. Pola pikir tenaga kerja
maupun calon tenaga kerja harus mulai disesuaikan dengan tren abad ke21, antara lain: pembelajaran yang mendorong manusia untuk mencari
tahu dari berbagai sumber observasi; pembelajaran yang diarahkan untuk
mampu merumuskan masalah, bukan hanya menjawab masalah;
pembelajaran yang diarahkan untuk melatih berfikir analitis dan bukan
berfikir mekanistis, serta pembelajaran yang menekankan pentingnya
kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Hal ini harus
sudah mulai dibentuk sejak memasuki dunia pendidikan tingkat tinggi
seperti SMA dan PerguruanTinggi.
Yang kedua, masalah Usaha Kecil Menengah (UKM) yang kalah saing
dengan industri dari luar negeri maupun dari dalam negeri. Ini membuat
para pelaku UKM di Indonesia merasa terancam. Maka dalam hal ini,
pemerintah harus turun tangan membantu. Pemerintah bisa membantu
dengan bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memberikan kredit
usaha bagi pengusaha UKM. Yang terakhir, Pemerintah harus menerapkan
aturan agar kepentingan warga dan kepentingan dari luar negeri tidak
bersinggungan yang menyebabkan terjadinya masalah atau benturan di
kemudian hari.
Akhirnya, penerapan perdagangan bebas di kawasan Asia Tenggara mulai
2015, sudah didepan mata. Siap ataupun tidak, kita tak bisa lari dari
kenyataan.
Maka di waktu yang semakin sempit ini, marilah bekerja keras
menyiapkan diri untuk menjadi pemenang dalam percaturan di kawasan
Asia Tenggara.***

Current Issue

(http://www.portalhr.com/komunitas/opini/lagi-lagi-sdm/)

Statistik yang mengejutkan dan membuat nyali mereka, yang mengaku profesional di
ranah SDM, merosot ke titik nadir. Benarkah hampir semua (92%) karyawan Indonesia
unmotivated? Gallup Worldwide, lembaga riset internasional, yang melansir hasil
penelitian lembaga riset internasional itu, mengaku menelisik 73 ribu responden dari
141 negara di dunia, termasuk Indonesia.
Masih menurut Gallup, karyawan yang ditandai tidak mempunyai motivasi itu, hanya
melakukan ritual harian di tempat kerja, dengan aktivitas begitu-begitu saja.
Berangkat kerja, menyelesaikan tugas seadanya, segera pulang, dan terima gaji setiap
akhir bulan.
Mungkin yang dimaksud adalah mereka bekerja tanpa passion, tak memahami tujuan
pekerjaan itu sendiri, apalagi bersentuhan dengan objektif dari organisasi. Gambar
besar dari seluruh rangkaian pekerjaan tak berkaitan dan tak bermakna bagi spirit
hidupnya. Goal perusahaan tak align dengan individu dan karyawan bekerja secara
mekanistis semata-mata.
Artikel kedua, yang juga saya kutip dari blog di atas, tak kalah menyedihkan bagi dunia
industri kita. Judulnya : Kenapa Produktivitas Karyawan Indonesia hanya
Sepersepuluh Karyawan Singapore.
Bahwa manusia Indonesia pada umumnya kalah produktif dibanding Singaporean,
tentunya sudah menjadi rahasia umum. Tetapi, kalau perbandingannya begitu
njomplang, 1 melawan 10, pantas membuat shock dan ternganga-nganga. Apa benar
output yang dikeluarkan manusia Indonesia hanya sepersepuluh dibanding orang
Singapore? Apa boleh buat, hitung-hitungan matematika mengatakan demikian.
Yang membuat kita tambah nelangsa, negara tetangga kita lainnya, Malaysia,
mempunyai angka 4 kali lebih tinggi dibanding Indonesia. Satu orang Indonesia
mengeluarkan produk hanya seperempat kali dibanding seorang Malay.

Kebijakan pemerintah

Contoh kasus : suster yang di kembalikan ke Indonesia karena kurang


statisfied

Current issue
(http://www.portalhr.com/komunitas/opini/lagi-lagi-sdm/)

Menjadi tantangan bagi seluruh pelaku bisnis di Indonesia, agar membuat karyawan
bermotivasi lebih tinggi dengan passion yang lebih dalam. Motivasi dipacu bila mereka
tahu apa yang dikerjakannya dan paham implikasinya bagi obyektif perusahaan yang
lebih besar. Karyawan dan organisasi adalah dua makhluk yang saling tergantung dan
membutuhkan, symbiosis mutualistic.