Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KONTRASEPSI IUD

Diposkan oleh Sani Sanpig di 00.43 .

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini membahas tentang
(INTRA UTERINE DEVICES = IUD).
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Pelayanan KB
yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa
makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari
semua pihak demi perbaikan pembuatan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.
Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan
kelancaran dan kemudahan bagi kita semua.

Yogyakarta, Maret 2013

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya dari
mewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS) menjadi visi untuk
mewujudkankeluarga berkualitas tahun 2015. Keluarga yang berkualitas adalah yang
sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan,
bertanggung jawab, harmonis dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saefuddin,
2003).
Berdasarkan visi dan misi tersebut, program keluarga berencana nasional mempunyai
kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk. Dalam kontribusi
tersebut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah mewujudkan
keberhasilannya selain berhasil menurunkan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk,
juga terpenting adalah keberhasilan mengubah sikap mental dasar perilaku masyarakat
dalam upaya membangun keluarga berkualitas.
Sebagai salah satu bukti keberhasilan program tersebut. Antara lain dapat diamati dari
semakin meningkatnya angka pemakaian kontrasepsi(prevalensi). Survey Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) 1997 memperlihatkan proporsi peserta KB yang terbanyak
adalah suntik(21,1%), pil(19,4%), AKDR(18,1%), Norplan(16%), Sterilisasi wanita(3%),
Kondom(0,7%), Sterilisasi pria(0,4%), dan sisanya merupakan peserta KB tradisonal
yang masing-masing menggunakan cara tradisional seperti pantang berkala maupun
senggama terputus.
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa AKDR / IUD berada diposisi ketiga.
Sedangkan dalam program BKKBN memberikan penekanan pada kontasepsi AKDR
terutama adalah CuT380 A yang menjadi primadona BKKBN. Namun begitu tidak semua
klien berminat terhadap alat kontrasepsi AKDR dikarenakan berbagai alasan yang
berbeda-beda seperti takut efek samping, takut proses pemasangan , dilarang oleh suami,
dan kurang mengetahui tentang KB AKDR. Maka dari itu penulis ingin mencoba
membahas makalah dengan judul Kontrasepsi IUD .

2.1 Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui gambaran umum pelayanan kontrasepsi KB terutama AKDR atau IUD.
2. Tujuan Khusus
1) Mengetahui tentang pengertian AKDR
2) Untuk mengetahui tentang jenis-jenis AKDR
3) Untuk mengetahui tentang mekanisme kerja AKDR
4) Untuk mengetahui tentang indikasi dan kontraindikasi pemakaian AKDR
5) Untuk mengetahui tentang keuntungan dan kerugian memakai metode kontrasepsi
AKDR
6) Untuk mengetahui tentang cara penanganan dari efek samping AKDR
7) Untuk mengetahui tentang hal-hal apa saja yang harus diketahui akseptor KB.

BAB II

TINJAUAN TEORI
ALAT KONTRASEPSI DALAM RAHIM (AKDR)
(INTRA UTERINE DEVICES = IUD)

2.1 PENGERTIAN
1. Suatu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif,
reversibel dan berjangka panjang, dapat dipakai oleh semua perempuan usia
reproduktif (Saefuddin, 2003)
2. AKDR adalah suatau usaha pencegahan kehamilan dengan menggulung secarik
kertas, diikat dengan benang lalu dimasukkan ke dalam rongga rahim (Prawirohardjo,
2005)
3. AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari plastik yang
lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon dan dimasukkan
ke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang (BKKBN,2003)

2.2 JENIS-JENIS AKDR


1. AKDR Non-hormonal
Pada saat ini AKDR telah memasuki generasi ke-4. Karena itu berpuluh-puluh macam
AKDR telah dikembangkan. Mulai dari genersi pertama yang terbuat dari benang
sutra dan logam sampai generasi plastik(polietilen) baik yang diambah obat maupun
tidak.
a. Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi
1) Bentuk terbuka (oven device)
Misalnya: LippesLoop, CUT, Cu-7. Marguiles, Spring Coil, Multiload,Nova-T
2) Bentuk tertutup (closed device)
Misalnya: Ota-Ring, Atigon, dan Graten Berg Ring.
b. Menurut Tambahan atau Metal
1) Medicated IUD
Misalnya: Cu T 200, Cu T 220, Cu T 300, Cu T 380 A, Cu-7, Nova T, ML-Cu
375
2) Un Medicated IUD
Misalnya: Lippes Loop, Marguiles, Saf-T Coil, Antigon.
IUD yng banyak dipakai di Indonesia dewasa ini arijenis Un Medicated yaitu
Lippes Loop dan yang dari jenisMedicated Cu T, Cu-7, Multiload dan Nova-T.
Pada jenis Medicated IUD angka yang tertera dibelakang IUD
menunjukkanluasnya kawat halus tembaga yang ditambahkan, misalnya Cu T
220 berarti tembaga adalah 200mm2

2. IUD yang mengandung hormonal


a. Progestasert-T = Alza T
Panjang 36mm, lebar 32mm, dengan 2 lembar benang ekor warna
hitam.Mengandung 38 mg progesteron dan barium sulfat, melepaskan 65mcg
progesteron per hari. Tabung insersinya berbentuk lengkung, Daya kerja :18
bulan. Teknik insersi: plunging. (modified withdrawal)
b. LNG-20
Mengandung 46-60mg Levonorgestrel, dengan pelepasan 20mcg per hari,
Sedang diteliti di Finlandia. Angka kegagalan /kehamilan sangat rendah: 0,5 per
100 wanita per tahun. Penghentian pemakaian oleh karena persoalan-persoalan
perdarahan ternyata lebih tinggi dibandingkan IUD lainnya, karena 25%
mengalami amenore atau perdarahan hait yan sangat sedikit.
2.3 MEKANISME KERJA
1. Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, ada yang
berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang menimbulkan reaksi radang
setempat, dengan sebutan lekorit yang dapat melarutkan blastosis atau seperma.
Mekanisme kerja AKDR yang dililiti kawat tembaga mungkin berlainan. Tembaga
dalam konsentrasi kecil yang dikeluarkan ke dalam rongga uterus juga menghambat
khasiatanhidrase karbon dan fosfatase alkali. AKDR yang mengeluarkanhormon juga
menebalkan lender sehingga menghalangi pasasi sperma (Prawirohardjo, 2005).
2. Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan pasti, kini
pendapat yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalam kavum uteri menimbulkan reaksi
peradangan endometrium yang disertai dengan sebutan leokosit yang dapat
menghancurkan blastokista atau sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami
perubahan perubahan pada pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokista tidak
dapat hidup dalam uterus. Walaupun sebelumnya terjadi nidasi, penyelidik-penyelidik
lain menemukan sering adanya kontraksi uterus pada pemakaian AKDR yang dapat
menghalangi nidasi. Diduga ini disebabkanoleh meningkatnya kadar
prostaglandindalam uterus pada wanita (Wiknjoastro, 2005).
3. Sebagai metode biasa (yang dipasang sebelum hubungan sexual terjadi) AKDR
mengubah transportasi tuba dalam rahim danmempengaruhi sel elur dan sperma
sehingga pembuahan tidak terjadi. Sebagai kontrasepsi darurat (dipasang setelah
hubungan sexual terjadi) dalam beberapa kasus mungkin memiliki mekanisme yang
lebih mungkin adalah dengan mencegah terjadinya implantasi atau penyerangan sel
telur yang telah dibuahi ke dalam dinding rahim
4. Menurut Saefuddin (2003), mekanisme kerja IUD adalah:
a. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopi
b. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
c. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu walaupun AKDR
membuat sperma sulit ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi
kemampuan sperma untuk fertilisasi
d. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur ke dalam uterus.

2.4 EFEKTIVITAS IUD


1. Efektivitas IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuition rate) yaitu beberapa lama
IUD tetap tinggal dalam uteri tanpa:
a. Ekspulsi
b. Terjadinya kehamilan
c. Pengangkatan/pengeluaran karena alasa-alasan medis atau pribadi.
2. Efektivitas dari bermacam-macam IUD tegantung pada:
a. IUD-nya: ukuran, bentuk kandungannya
b. Akseptor: Umur, parietas, frekuensi senggama.
c. Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor yaitu umur dan parietas
diketahui :
1) Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan
pengangkatan/pengeluaran IUD
2) Makin muda usia, terutama pada nulligravida makin tinggi angka ekspulsi dan
pengangkatan /pengeluaran IUD.

2.5 KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN AKDR ATAU IUD


1. Keuntungan
a. Keuntungan AKDR Non hormonal (Cu T 380A):
1) Sebagai kontrasepsi efektivitasnya tinggi. Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan
per 100 perempuan dalam 1 tahun pertama(1kegagalan dalan 125-170
kehamilan)
2) AKDR dapat efektf segera setelah pemasangan
3) Metode jangka panjang
4) Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
5) Tidak mempengaruhi hubungan sexual
6) Meningkatkan kenyamanan sexual karena tidak perlu takut untuk hamil
7) Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR(Cu T-380A)
8) Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
9) Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus
10) Dapat digunakan sampai menopause
11) Tidak ada interaksi dengan obat-obat.
b. Keuntungan IUD hormonal adalah:
1) Mengurangi volume darah haid dan mengurangi disminorrhoe
2) Untuk mencegah adhesi dinding-dinding uterus oleh synechiae(Ashermans
Syndrome)
2. Kerugian
a. Kerugian AKDR (Cu T-380A) Non hormonal:
1) Perubahan siklus haid
2) Haid lebih lama dan banyak
3) Perdarahan(spotting) antarmenstruasi
4) Disaat haid lebih sakit

5)
6)
7)
8)

Merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan


Perforasi dinding uterus(sangat jarang apabila pemasangan benar)
Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
Tidak baik digunaka pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang
sering berganti pasangan
9) Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri
10) Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk
mencegah kehamilan normal.

b. Kerugian IUD hormonal:


1) Jauh lebih mahal dari pada Cu IUD
2) Harus diganti setelah 18 bulan
3) Lebih sering menimbulkan perdarahan mid-siklus dan perdarahan
bercak(spotting)
4) Insidens kehamilan ektopik lebih tinggi
5) Efek samping dan komplikasi IUD hormonal dibagi menjadi 2 kelompok
yaitu:
1) Pada saat insersi
a) Rasa sakit atau nyeri
b) Muntah, keringat dingin
c) Perforasi uterus
2) Efek samping dan komplikasi IUD dikemudian hari:
a) Rasa sakit dan perdarahan
b) Infeksi
c) Kehamilan intra-uterine
d) Kehamilan ektopik
e) Ekspulsi

2.6 INDIKASI PEMAKAIAN AKDR ATAU IUD


1. Yang dapat menggunakan AKDR/IUD dan Progestasert
a. Usia reproduktif
b. Keadan nullipara
c. Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
d. Menyusui yang menginginkan menggunakan alat kontrasepsi
e. Setelah melahirkan dan tidak menyusui bayinya
f. Resiko rendah dari IMS
g. Tidak menghendaki metode hormonal
h. Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
i. Perokok
j. Sedang memakai antibiotika atau antikejang
k. Gemuk ataupun yang kurus
l. Sedang menyusui

2. Begitu juga ibu dalam keadaan seperti di bawah ini dapat menggunakan AKDR (Cu
T-380A):
a. Penderita tumor jinak payudara
b. Epilepsi
c. Malaria
d. Tekanan darah tinggi
e. Penyakit tiroid
f. Setelah kehamilan ektopik
g. Penderita DM

2.7 KONTRAINDIKASI PEMAKAIAN AKDR


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sedang hamil
Perdarahan vagina yang tidak diketaui
Sedang menderita infeksi genetalia
Penyakit trifoblas yang ganas
Diketahui menderita TBC velvik
Kanker alat genital
Ukuran rongga rahim kurang dari 5cm

2.8 CARA PEMASANGAN AKDR/IUD


1. Persiapan alat yang digunakan dalam pemasangan AKDR/IUD
a. Bivale speculum
b. Tanekulum(penjepit portio)
c. Sounde uterus(untuk mengukur kedalaman uterus)
d. Forsep
e. Gunting
f. Bengkok larutan antiseptic
g. Sarungtangan steril atau sarung tangan DTT
h. Kasa atau kapas
i. Cairan DTT
j. Sumber cahaya yang cukup untuk penerangan servik
k. AKDR(CuT-380A) atau Progestasert-T yang masih belum rusak dan terbuka
l. Aligator(penjepit AKDR)
2. Cara pemasangan AKDR atau Progestasert-T
Pemasangan AKDR sewaktu haid dan mengurangi rasa sakit dan memudahkan insersi
melalui servikalis.
a) Pemeriksaan dalam dilakukan untuk menentukan bentuk, ukuran dan posisi uterus
b) Singkirkan kemungkinan kehamilan dan infeksi velvik
c) Servik dibersihkan beberapa kali dengan larutan antiseptik

Iinspekulum, servik ditampilkan dan bibir depan servik dijepit dengan cunan
servik, penjepit dilakukan kira-kira 2cm dari osteum uteri externum, dengan cunan
bergerigi Saturday
d) Sambil menarik servik dengan cunan servik, masukkanlah sounde uterus untuk
menentukan arah sumbukanalis dan uterus, panjang kavum uteri, dan posisi
osteum uteri internum. Tentukan arah ante atau retroversi uterus. Jika sounde
masuk kurang dari 5 cm atau kavumuteri terlalu sempit, insersi AKDR jangan
dilakukan
e) Tabung penyalur dengan AKDR di dalamnya dimasukkan melalui kanalis
servikalis sesuai dengan arah dan jarak yang didapat pada waktu pemasangan
sounde. Kadang-kadang terdapat tahanansebelum fundus uteri tercapai. Dalam hal
demikian pemasangan diulangi
e)
f) AKDR dilepaskan dalam kavum uteri dengan cara menarik keluar tabung
penyalur atau dapat pula dengan mendorong penyalur ke dalamkavumuteri, cara
pertama agaknya dapat mengurangi perforasi oleh AKDR
g) Tabung dan penyalur kemudian dikeluarkan, filamen AKDR ditinggalkan 2-3cm.
3. Cara pencabutan AKDR
a. Mengeluarkan AKDR lebih mudah jika dilakukan sewaktu haid
b. Inspikulo filamen ditarik perlahan-lahan,jangan sampai putus AKDR-nya akan ikut
keluar perlahan-lahan. Jika AKDR tidak ikut keluar dengan mudah, lakukan sounde
uterus, sehingga osteum uteri internum terbuka. Sounde diputus 900 perlahan-lahan.
Selanjutnya AKDR dikeluarkan seperti di atas
c. Jika filamen tak tampak atau putus, AKDR dapat dikeluarkan dengan mikro
kuret. Kadang-kadang diperlukan anastesi paraservikal untuk mengurangi rasa
nyeri
d. Dilatasi kanalis servikalis dapat dilakukan dengan dilator atau tabung laminaria
e. AKDR Lippes tidak perlu dikeluarkan seara berkala, jika posisinya baik, tidak
ada efek samping, dan pasien masih mau memakainya. AKDR tersebut dibiarkan
saja intra uteri. Hanya AKDR tembaga perlu dikeluarkan dan digant secara
periodik(2-3tahun), sedang Progestasert-T 1-2 tahun.

2.9 PENANGANAN EFEK SAMPING AKDR(Cu T-380A)


1. Amenora
Periksa apakah sedang hamil, apabila tidak, jangan lepas AKDR, lakukan konseling
dan selidiki penyebab amenoreaapabila diketahui. Apabila hamil, jelaskan dan
sarankan untuk melepas AKDR bila talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13
minggu. Apabila benang tidak terlihat, atau kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR
jangan dilepas.Apabila klien sedang hamil dan ingin mempertahankan kehamilannya
tanpa melepas AKDR jelaskan ada resiko kemungkinan terjadinya kegagalan
kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilanharus lebih diamati dan
diperhatikan
2. Kejang

Pastikan dan tegaskanlah adanya PRP dan penyebab ain dari kekejangan. Tanggulangi
penyebabnya apabila ditemuka. Apabila tidak ditemukan penyebabnya beri analgesik
untuk sedikt meringankan. Apabila klien menglami kejang yang berat, lepaskan
AKDR dan bantu klien menentukan metode kontrasepsi yang lain.
3. Perdarahan pervaginam yang hebat dan tidak teratur
Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik. Apabila tidak ada
kelainan potologis, perdarahan berkelanjutan serta prdarahan hebat, lakukan konseling
dan pemantauan. Beri ibu profen(800mg, 3x sehari selama 1 minggu) untuk
mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi(1 tablet setiap hari selama 1 sampai
3bulan).
4. Benang yang hilang pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakan apakah AKDR
terlepas. Apabila tidak hamil dan AKDR tidak terlepas, berikan kondom, periksa
talinya di dalam saluran endoservik dan kavum uteri (apabila memungkinkan adanya
peralatan dan tenaga terlatih) setelah masa haid briutnya. Apabila tidak ditemukan
rujk ke dokter, lakukan x-ray atau pemeriksaan ultrasound. Apabila tidak hamil dan
AKDR yang hilang tidak ditemukan, pasanglah AKDR baru atau bantulah klien
menentukan metode lain.
5. Adanya pengeluaran cairan dari vagina atau dicurigai adanya PRP
Pastikan pemeriksaan untuk IMS. Lepaskan AKDR apabila ditemukan menderita atau
sangat dicurigai menderita gonorhoe atau infeksi klamidal, lakukan pengobatan yang
memadai. Bila PRP, obati dan lepas AKDR sesudah 48 jam. ApabilaAKDR
dikeluarkan beri metode lain sampai masalahnya teratasi.
2.10 KUNJUNGAN ULANG
1.
2.
3.
4.
5.
6.

1 bulan pasca pemasangan


3 bulan kemudian
setiap 6 bulanberikutnya
1 tahun sekali
bila terlambat haid 1 minggu
perdarahan banyak dan tidak teratur.

2.11ANGKA KEGAGALAN IUD


1. Belum ada IUD yang 100% efektif
2. Angka kegagalan untuk:
a. IUD pada umumnya: 1-3 kehamilan per 100 wanita per tahun
b. Lippes Loop dan First Generation Cu IUD: 2 kehamilan per 100 wanita per tahun.
c. Second Generation Cu IUD <1 kehamilan per 100 wanita per tahun dan 1,4
kehamilan per 100 wanita setelah 6 tahun pemakaian.

2.12 INFORMASI UMUM


1. AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan

2. AKDR dapat keluar dari uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan
pertama.
3. Kemungkinan terjadi perdarahan (spotting) beberapa hari setelah pemasangan.
4. Perdarahan menstruasi biasanya akan lebih lama dan lebih banyak
5. AKDR mungkin dilepas setiap saat atas kehendak klien

BAB III

PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. AKDR adalah suatau usaha pencegahan kehamilan dengan menggulung secarik
kertas, diikat dengan benang lalu dimasukkan ke dalam rongga rahim (Prawirohardjo,
2005)
2. Jenis-jenis AKDR / IUD yaitu AKDR hormonal dan non hormonal
3. Mekanisme kerja IUD yaitu Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba
falopi, Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri, dll.
4. Efektivitas dari bermacam-macam IUD tegantung pada:
a. IUD-nya: ukuran, bentuk kandungannya
b. Akseptor: Umur, parietas, frekuensi senggama.
c. Dari faktor-faktor yang berhubungan dengan akseptor
5. Kerugian AKDR (Cu T-380A) Non hormonal yaitu perubahan siklus haid, haid lebih
lama. Perdarahan (spotting) antar menstruasi. Disaat haid lebih sakit. Kerugian IUD
hormonal yaitu Jauh lebih mahal dari pada Cu IUD, harus diganti setelah 18 bulan
6. Indikasi pemakaian AKDR atau IUD yaitu Usia reproduktif, Keadan nullipara,
Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang, Menyusui yang
menginginkan menggunakan alat kontrasepsi, Setelah melahirkan dan tidak
menyusui bayinya, dll.
7. Kontraindikasi pemakaian AKDR yaitu Sedang hamil, Perdarahan vagina yang tidak
diketaui, Sedang menderita infeksi genetalia, Penyakit trifoblas yang ganas,
Diketahui menderita TBC velvik
8. AKDR bekerja langsung efektif segera setelah pemasangan, AKDR dapat keluar dari
uterus secara spontan, khususnya selama beberapa bulan pertama, Kemungkinan
terjadi perdarahan (spotting) beberapa hari setelah pemasangan, Perdarahan
menstruasi biasanya akan lebih lama dan lebih banyak, AKDR mungkin dilepas
setiap saat atas kehendak klien.
3.2 SARAN
1. Bagi pengguna alat kontrasepsi AKDR

Pengguna hendaknya mengetahui terlebih dahulu alat kontrasepsi yang akan di pakai
dengan cara bertanya hal yang ingin diketahui ke tenaga kesehatan.
2. Bagi tenaga kesehatan
a. Sebagai tenaga kesehatan hendakna meningkatkan keterampilannya memasang
AKDR yang baik dan sesuai prosedur.
b. Sebelum memasang AKDR pada klien jangan lupa untuk melakukan
infomconsent pada klien.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP


Hartanto Hanafi. 2003. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: CV.
Mulia Sari
Prawirohardjo, Sarwono. 2003. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta: YBP-SP
Saefuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi.
Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Riswindarto http://pendidikan-dan-kesehatan.blogspot.com/2012/05/makalah-pelayanan-kbiud.html Diakses tanggal 28 Maret 2013 Pukul 14.00 WIB