Anda di halaman 1dari 16

Modul ke 3

Perekonian Indonesia
Asfia Murni

PELAKU EKONOMI INDONESIA


3.1 Pelaku Ekonomi ditinjau dari konsep ekonomi Makro/Mikro
Meskipun pelaku ekonomi itu sesungguhnya adalah masyarakat secara keseluruhan
menurut konsep ekonomi pelaku ekonomi dapat dibagi dalam empat kelompok dan masingmasing punya peranan dan tujuan. (Asfia Murni: 2013)
Pelaku Ekonomi

Peranan

Tujuan Kegiatan

Rumah Tangga
Konsumen (RTK)

Sebagai; pemilik/pemasok sumber daya


bagi pelaku ekonomi lainnya dan pemakai
barang-jasa yang dihasilkan kelompok
ekonomi lainnya

Kegiatan RTK; untuk


mencapai kesejahteraan
individu

Rumah tangga
Perusahaan
(RTP)

Sebagai; penghasil/pemasok barang-jasa


dan pemakai input dan output dari
kelompok pelaku ekonomi lainnya.

Kegiatan RTP; untuk


mencapai profit maksimum

Rumah tangga
Pemerintah
(RTN)

Sebagai; penghasil/pemasok barang


publik dan pemakai input dan output dari
kelompok pelaku ekonomi lainnya

Kegiatan RTN; untuk


mencapai kesejahteraan
masyarakat secara umum

Rumah Tangga
Luar Negeri
(RTLN)

Sebagai; pemasok barang-jasa dan input


dari LN dan pemakai output dari
kelompok pelaku ekonomi lainnya

a) Kegiatan RTLN; untuk


mencari keuntungan
dan kesejahteraan

Keempat pelaku ekonomi tersebut saling berinteraksi dalam mengelola faktor


produksi /sumber ekonomi yang tersedia, sehingga dapat bermanfaat secara optimal dan
dapat mencapai kepuasan serta kemakmuran masyarakat secara keseluruhan.
3.2 Pelaku Ekonomi ditinjau dari konsep Perekonomian Indonesia.
Sistem ekonomi di Indonesi sendi utamanya adalah UUD 1945 pasal 33 ayat (1), (2),
dan (3). Bentuk usaha yang sesuai dengan ayat (1) adalah koperasi, dan bentuk usaha yang
sesuai dengan ayat (2) dan (3) adalah perusahaan negara. Adapun dalam penjelasan pasal 33
1

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
UUD 1945 yang berbunyi hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak
boleh di tangan seorang.
Atas dasar ketentuan UUD 1945 tersebut maka terdapat

empat pelaku utama

ekonomi Indonesia yaitu: Pemerintah, Koperasi, Badan Usaha milik negara (BUMN), Badan
Usaha Milik Swasta (BUMS).
A. PEMERINTAH
Dalam suatu perekonomian terutama bagi Negara-negara sedang berkembang
seperti Indonesia sangat diperlukan peranan pemerintah. Pemerintah melalui kebijakan
fiscal dan moneter dapat mengatur dan mengendalikan perkonomian suatu Negara agar
dapat tumbuh dalam keadaan efisien (efficiency),merata (equity) dan Stabil (stability).
Menurut Samuelson (2001): peranan pemerintah, antara lain yaitu; meningkatkan
efisiensi, menciptakan pemerataan dan keadilan, memacu pertumbuhan ekonomi secara
menyeluruh dan memelihara stabilitasnya.
Disamping itu pemerintah juga bertugas dalam menyediakan barang-barang publik.
Menghasilkan Barang publik membutuhkan biaya yang sangat besar. karenanya menghasilkan
barang publik secara umum ditangani oleh pemerintah. Barang publik mempunyai prinsip
sebagai berikut:
a)

non-exclution principle, artinya barang publik diminta atau dikonsumsi masyarakat


tanpa pengecualian. setiap orang tanpa mengeluarkan biaya secara langsung untuk
mendapatkannya.

b) non-rival principle (prinsip tidak bersaing) artinya dalam memanfaatkan barang publik
tidak perlu saling bersaing, karena keikut sertaan individu dalam memanfaatkan suatu
barang publik tidak akan mengurangi manfaat bagi konsumen/pihak lain.
c)

Non-exclusive principle (prinsip tidak dimanfaatkan secara sendiri-sendiri) artinya satu


barang publik manfaatnya tidak terbatas pada seorang konsumen saja tetapi
manfaatnya dapat dirasakan secara bersama-sama oleh banyak orang.
2

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
Bila dilihat dari sirkulasi kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh pelaku-pelaku
ekonomi maka posisi dan peranan pemerintah dalam suatu kegiatan ekonomi dapat
digambarkan pada bentuk model berikut ini.
(1)

(9)
(2)

(10)

(3)

(11)
(4)

(12)

(5) (6)

(7) (8)

(13)

Gambar 3.1
Keterangan gambar 3.1:
1.

(1), (5) dan (9) Pemerintah bertindak sebagai penghasil barang publik untuk
keperluan RTK, RTP dan RTLN yaitu berupa penyediaan sarana atau fasilitas umum
untuk kelancaran kegiatan ekonomi.

2. (2) dan (6) pemerintah bertindak dalam pemberian subsisidi pada kegiatan RTK dan

RTP.
3. (3) pemerintah membayar balas jasa berupa penghasilan bagi RTK atas penggunaan

faktor produksi dalam aktivitas pemerintah.

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
4. (4) dan (8) pemerintah menerima pajak dari RTK dan RTP berupa pajak langsung dan

pajak tidak langsung seperti pajak pendapatan dan pajak penjualan/ppn dan berbagai
pajak lainnya.
5. (7) dan (10) pemerintah membelanjakan penerimaan negara untuk membeli barang

kebutuhan pemerintah pada RTP dan RTLN.


6. (12) Pemerintah memerlukan pinjaman dan bantuan atau utang dari luar negeri

(RTLN) untuk biaya pembangunan.


7. (11) Pemerintah membayar utang ke luar negeri (RTLN).
8. (13) Pemerintah membuat peraturan, undang-undang dan bebagai kebijakan dalam

mengatur kegiatan dan hubungan antara RTK, RTP dan RTLN. Misalnya membuat
peraturan di bidang perdagangan, perlindungan konsumen, perburuhan atau kebijakan
dalam kegiatan ekspor-impor.
Selanjutnya keterlibatan pemerintah dalam kegiatan ekonomi dapat juga dilihat dari
berbagai bentuk pasar. Menurut ekonomi makro dalam kegiatan ekonomi terdapat 4 macam
pasar yaitu; pasar barang, pasar faktor produksi, pasar uang dan pasar luar negeri.
Di pasar barang, masalah ketersediaan barang swasta dan akan diatur oleh
mekanisme pasar. Peranan pemerintah

ikut intervensi dalam pengendalian harga melalui

pajakdan bisa juga dengan menetapkan celling price atau floor price untuk produk-produk
tertentu.
Di pasar faktor produksi, ketersediaan faktor produksi dan harganya juga dapat
dikendalikan oleh mekanisme pasar. Peranan pemerintah adalah: a) menyediakan sumber
daya manusia yang berkualias melalui kegiatan pendidikan. b) melindungi pekerja misalnya
melalui penetapan upah minimum. c) mengatur penggunaan sumber daya alam agar adanya
keselarasan antara pemanfaatannya dan kelestariannya.

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
Di pasar uang, intervensi pemerintah lebih dominan terutama dalam mengendalikan
jumlah uang yang beredar (supply uang) dan tingkat bunga.. Kesemua intervensi pemerintah
akan dilaksanakan melalui kebijakan moneter.
Di pasar Luar Negeri Tugas utama pemerintah adalah untuk menjaga kestabilan
neraca pembayaran atau neraca perdagangan internasional. Intervensi pemerintah dapat
dengan penetapan kebijakan tarif atau quota untuk mengndalikan ekspor impor, menetapkan
kebijakan kurs, mengatur cadangan devisa dan lain sebagainya.
B. KOPERASI.
Koperasi merupakan suatu organisasi rakyat dibidang ekonomi yang berazazkan pada
prinsip gotong royong dan bermanfaat bagi seluruh anggotanya. Koperasi merupakan
gagasan Hatta dan sangat sesuai dengan prinsip yang terkandung dalam UUD 1945 Pasal 33
sebagai landasan perekonomian Indonesia.
B.2 Perkembangan Koperasi di Indonesia
Koperasi pertama kali lahir di Rochdale Inggris, pada tahun 1844 dengan tujuan
mengatasi masalah keperluan konsumsi para anggotanya dengan cara kebersamaan
yang dilandasi atas dasar prinsip-prinsip keadilan. Di Indonesia,Koperasi pertama kali
didirikan di Leuwiliang pada tahun 1895 dipelopori oleh Raden Ngabei Ariawiriaatmadja,
Patih Purwokerto dalam bentuk Bank Simpan Pinjam yang bertujuan untuk membantu para
pegawai negeri pribumi melepaskan diri dari cengkeraman pelepas uang.
Perkembangan koperasi di Indonesia dapat dilihat dari:
1.

Jumlah koperasi di Indonesia pada 2004 tercatat 130.730 unit dan meningkat
menjadi 155.301 unit pada 2008. Dan pada diakhir tahun 2013 sudah mencapai
203.701 unit. Meskipun demikian jumlah koperasi yang aktif di tahun 2013 hanya
143.117 unit. Pada tahun 2012 koperasi yang aktif mencapai jumlah 139 unit. Ini
menunjukan terjadi pertumbuhan koperasi di Indenesia sebesar 2.72 %.

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
2.

Volume Usaha diakhir 2013 sebesar Rp 125,59 trilyun, sedangkan pada tahun 2012
hanya Rp 119,18 trijun. Artinya terjadi pertumbuhan sebesar 5,37 %.

3.

Sisa hasil usaha (SHU), di akhir 2013 mencapai Rp 8,12 trilyun, sedangkan pada tahun
2012 hanya sebesar Rp 6,66 trilyun. Artinya terjadi pertumbuhan sebesar 21,87 %.
Berdasarkan angka tersebut koperasi mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam

pembangunan ekonomi. Hal ini dibuktikan dari kemampuan Koperasi mencapai angka 24,94%
dalam penciptaan Nilai Tambah Bruto (NTB) dan 0,32-0,6 persen dalam penciptaan
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB).
Dalam menghadapi era perdagangan bebas, dimana hilangnya hmbatan-hambatan dalam
perdagangan internasional, ini mengharuskan Indonesia untuk berbenah diri dalam menggali
potensi diri dan potensi ekonomi sehingga punya daya saing dalam pasar internasional,
termasuk dalam koperasi.
Secara umum koperasi di dunia akan menikmati manfaat besar dari adanya
perdagangan bebas, asal koperasi dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat/anggotanya
dengan menerapkan konsep-konsep skala ekonomis dalam kegiatan operasionalnya. Hal ini
dikatakan karena:
1.

perdagangan bebas itu akan selalu membawa pada persaingan yang lebih baik dan
membawa pada tingkat keseimbangan harga yang wajar serta efisien.

2.

Perdagangan bebas akan memperluas konsumsi masyarakat konsumen. Ini dapat


meningkatkan koperasi melalui penyediaan barang konsumsi.

3.

Koperasi

sebenarnya

menjadi

wahana

masyarakat

untuk

kemungkinan kerugian yang timbul akibat perdagangan bebas .

melindungi

diri

dari

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
B.3 Kebijakan Koperasi di Indonesia
Koperasi adalah organisasi yang seharusnya dapat mendidik anggotanya sehingga
mampu; menolong diri sendiri (self-help), percaya diri (self-reliance) dan bertanggung
jawab (self-responsibility), sebagai upaya untuk mencapai kejahteraan.
Dalam realitasnya koperasi di Indonesia belum dapat meningkatkan kesejahteraan
antara lain disebabkan oleh penyimpangan-penyimpangan dari kaidah koperasi sebagai
berikut:
1. Pendirian koperasi berdasarkan kebutuhan anggota yang tidak jelas, sehingga Core
Business koperasi tidak jelas.
2. Tidak memilki kriteria keanggotaan yang jelas.
3. Pendirian unit usaha yang tidak memenuhi kelayakan usaha
4. Hak-hak anggota yang terbelenggu oleh dominasi pengurus
Oleh sebab itu perlu ada kebijakan-kebijakan dalam meantisipasi dari berbagai
penyimpangan tersebut, sehingga koperasi benar-benar dapat dijadikan soko guru bagi
perekonomian rakyat Indonesia.
Selain kebijakan tersebut maka dirasa perlu pula melakukan kebijakan reformasi
agar koperasi dapat berperan sebagai kekuatan ekonomi kerakyatan. Reformasi koperasi
yang paling tepat di Indonesia menurut Yuyun Wirasasmita (Soeharsono Sagir,2009)
sebagai berikut:
1.

Mendorong koperasi tunggal usaha (Single Purpose Cooperative) dengan inti usaha
(Core Business) yang layak. Sehingga dapat mengujudkan efisiensi biaya rendah.

2.

Mendorong merger/amalgamasi bagi koperasi-koperasi kecil. Agar koperasi punya


keunggualan besaing dan memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam
berhadapan dengan perusahaan-perusahaan lain.

3.

Menentukan kriteria keanggotaan sebagai pemilik dan pelanggan dan hubungan


kontraktual antara anggota dengan koperasi. Syarat keanggotaan dan hubungan
7

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
kontraktual haru diperjelas agar dapat memberi kepuasan kepada koperasi dan
anggotanya.
4.

Menerapkan asas proportionalitas dalam pendanaan dari anggota. Artinya. Prinsip


Proportionalitas dalam permodalan pada koperasi adalah keadilaan. Artinya kontribusi
modal anggota sesuai asas tersebut adalah berdasarkan penyesuaian besarnya dana
usaha dengan rencana pelanggan.

5.

Menerapakan pendidikan anggota, pengurus, pengelola koperasi yang berkelanjutan.


Sehingga semua pengelolaan koperasi ditangani oleh SDM yang berkualitas.

6.

Mendorong kemitraan/aliansi strategis/ jaringan usaha. Kebijakan dalam perluasan


usaha dan dapat mengurangi ketidakpastian dalam hal pemasokan dan aliran barang
pada koperasi.

7.

Memanfaatkan kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan perkoperasian.

8.

Menerapakan kaidah-kaidah penghematan dalam koperasi baik dalam penggunaan input,


administrasi, struktur organisasi yang diharapkan dapat berdampak positif terhadap
operasionalisasi koperasi dan lingkungan.

C. BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN)


Menurut

Surat

Keputusan

Menteri

Keuangan

Republik

Indonesia

Nomor

740/KMK.00/1989 BUMN merupakan salah satu lembaga ekonomi/badan usaha yang


modalnya dimiliki negara. BUMN merupakan badan-badan usaha patungan dengan swasta
nasional/ asing dimana negara memiliki saham mayoritas minimal 50%. BUMN merupakan
alat kebijakan pemerintah untuk mengatur kehidupan perekonomian suatu negara.
C.1 Sejarah BUMN di Indonesia
Filosofi mengapa dibentuk Badan Usaha Milik Negara adalah karena berdasarkan
pada bunyi ketentuan UUD 1945 Pasal 33 khususnya ayat (2) dan (3) yang mengandung
maksud bahwa; cabang-cabang produksi penting bagi Negara yang menguasai hajat hidup
8

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
orang banyak dikuasai oleh Negara. Kemudian bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Pada awalnya BUMN adalah hasil nasionalisasi ex-perusahaan-perusahaan asing
(Belanda) yang kemudian ditetapkan sebagai perusahaan Negara. Kemudian dengan UU No. 1
Prp 1969 dibentuklah pembagian 3 jenis bentuk Badan Usaha Milik Negara menjadi
Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum) dan Persero. Pembagian ini
dibentuk sesuai dengan tugas, fungsi dan misi Usaha pada waktu itu.
Pemahaman BUMN sebagai agent of development berlanjut sampai dengan periode tahun
80an, yang kemudian pemahaman tersebut membawa dampak negatif/minir karena fungsi
kontrol terhadap BUMN dianggap sangat lemah, BUMN sebagai sarang korupsi dan lain-lain
Perkembangan perusahaan negara dibagi dalam empat fase perkembangan yaitu:
1. Fase sebelum kemerdekaan. Dalam fase ini berbagai jenis perusahaan negara
termaksud diatur oleh ketentuanUU No. 8 tahun 1941. (didasari pada UU kolonial).
2. Fase antara tahun 1945-1960. Pada priode ini terjadi gerakan nasionalisasi terhadap
perusahaan negara milik asing/bekas milik Belanda. Pengembalian ini diatur dalam PP. NO.
27 tahun 1957 dan UU No. 26 tahun 1959 tentang nasionalisasi perusahaan milik Belanda.
Perusahaan yang dinasionalisasikan mulanya berbentuk Perseroan Terbatas dan
beroperasi dalam hampir semua sektor ekonomi negara yang mencakup lapangan
perbankan, perkebunan, perdagangan dan jasa
3. Fase yang berlangsung tahun 1960-1969. Dalam fase ini, terjadi keseragaman yang
berlandaskan UU No. 19 tahun 1960 menjadi satu bentuk yaitu Perusahaan Negara.
Namun demikian masih terdapat kekaburan dalam organisasi perusahaan Negara. Oleh
karena itu, ditetapkanlah tiga bentuk perusahaan negara yakni Perusahaan Jawatan
(Perjan), Perusahaan Umum (Perum) dan Perusahaan Perseroan (Persero).

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
4.

Fase antara tahun 1969 hingga sekarang. Dalam fase ini peranan Perusahaan Negara
dalam menunjang perekonomian nasional semakin meningkat sejalan dengan pelaksanaan
pembangunan sejak Pembangunan Lima Tahun (Pelita) I sampai sekarang yang merupakan
kelanjutan dan peningkatan dari periode pembangunan sebelumnya.

C.2 Tujuan Badan Usaha Milik Negara


Tujuan BUMN tentu tidak terlepas dari landasan pendiriannya, yaitu Pembukaan
UUD 1945 dan pasal 33 UUD 1945. disebutkan disana bahwa tujuan pendirian umum BUMN
adalah meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Sesecara khusus, tujuan BUMN yang diatur dalam PP Nomor 3 tahun 83 adalah:

a) tujuan

komersial yakni alat memupuk keuntungan. b) tujuan secara makro, yakni memberi
sumbangan bagi perkembangan ekonomi/pendapatan negara, perintis kegiatan usaha dan
penunjang kebijakan pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan.

c) Tujuan sosial

politik, melayani kepentingan umum dan memenuhi hayat hidup orang banyak serta
membantu golongan ekonomi lemah dan koperasi.
Dari Kondisi realnya di lapangan BUMN juga mempunyai tujuan umumnya yaitu:
a) Memberi sumbangan bagi perkembangan perekonomian nasional pada umumnya dan
penerimaan negara pada khususnya, b) Mengejar keuntungan, c) Menyelenggrakan
kemanfaatan umum berupa penyediaan barang atau jasa yang bermutu tinggi dan memadai
bagi pemenuhan hidup orang banyak. d) Menjadi perintis bagi kegiatan-kegiatan usaha yang
belum dapat dilaksanakan oleh sektor swasta atau koperasi. e) Turut aktif memberikan
bimbingan dan bantuan kepada pengusaha ekonomi lemah, koperasi dan masyarakat.
C.3 Tugas dan Peranan Perusahaan Negara dalam Perekonomian Negara.
Menurut Peraturan Pemerintah No. 3 Th. 1983, peranan BUMN secara umum adalah
sebagai berikut:

10

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
a) Melaksanakan fungsi komersial, dalam hal ini BUMN sebagai unit ekonomi (business
entity), harus mampu mencari keuntungan dan memupuk dana untuk membiayai
aktivitas baik yang bersifat rutin maupun pengembangan. BUMN berperan sebagai
pemasok dana melalui pajak dan deviden.
b) Melaksanakan fungsi-fungsi non-komersial, dalam hal ini BUMN yang merupakan
bagian dari aparatur negara, bertindak sebagai agent of development. Artinya BUMN
melaksanakan program-program pemerintah, antara lain tugas-tugas perintis dan
mendorong perkembangan usaha swasta dan koperasi.
C.4 Privatisasi BUMN di Indonesia
Pengertian privatisasi BUMN menurut Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 yaitu
penjualan saham persero, baik sebagian maupun seluruhnya, kepada pihak lain dalam rangka
meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan, memperbesar manfaat bagi negara dan
masyarakat, serta memperluas pemilikan saham oleh masyarakat.
Menurut Setyanto Privatisasi PT Telkom di Indonesia mempunyai tujuan sebagai
berikut (Suharsono Sagir; 2009): Tujuan Secara Makro adalah a) Membantu pemerintah
dalam memperoleh dana pembangunan, b) Pengganti kewajiban setoran tambahan modal
pemerintah, c) Mendorong pasar modal dalam negeri. Tujuan secara Mikro adalah a)
Restrukturisasi

Modal

(Capital

Restructuring),

b)

Keterbukaan

dalam

Pengelolaan

Perusahaan, c) Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas, d) Perubahan Budaya Perusahaan


Privatisasi BUMN di Indonesia mulai dicanangkan pemerintah sejak tahun 1980-an.
BUMN-BUMN yang telah diprivatisasi seperti PT. Telkom (Persero) Tbk., PT. Perusahaan
Gas Negara (Persero) Tbk., PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT. Bank BNI 46 (Persero)
Tbk., PT. Indosat (Persero) Tbk., PT. Aneka Tambang (Persero) Tbk., dan PT. Semen Gresik
(Persero) Tbk., ternyata mampu memberikan kontribusi yang signifikan terhadap likuiditas
dan pergerakan pasar modal.

11

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
Kondisi ini membuat semakin kuatnya dorongan untuk melakukan privatisasi secara
lebih luas kepada BUMN-BUMN lainnya. Namun demikian, terdapat beberapa BUMN yang
tidak menunjukkan perbaikan kinerja terutama 2-3 tahun pertama setelah diprivatisasi,
misalkan pada PT. Indofarma (Persero) Tbk. dan PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Dimana
target privatisasi BUMN masih belum tercapai sepenuhnya.
D. Badan Usaha Milik Swasta (BUMS).
BUMS adalah salah satu kekuatan ekonomi di Indonesia. BUMS merupakan badan usaha
yang didirikan dan dimiliki oleh pihak swasta. Tujuan BUMS adalah untuk memperoleh laba
sebesar-besarnya. BUMS didirikan dalam rangka ikut mengelola sumber daya alam
Indonesia, namun dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan peraturan
pemerintah dan UUD 1945. BUMS dalam menjalankan perannya mengandalkan kekuatan
pemilikan modal. Perkembangan usaha BUMS terus didorong pemerintah dengan berbagai
kebijaksanaan.

D.1 Perkembangan dan Peranan BUMS di Indonesia


Perusahaan-perusahaan swasta sekarang ini telah memasuki berbagai sektor
kehidupan antara lain di bidang perkebunan, pertambangan, industri, tekstil, perakitan
kendaraan, dan lain-lain. Perusahaan swasta terdiri atas dua bentuk yaitu perusahaan
swasta nasional dan perusahaan swasta asing.
1.

Perusahaan swasta nasional, Contohnya antara lain: a) PT Astra Internasional


(mengelola industri mobil dan motor),

b) PT Ghobel Dharma Nusantara (mengelola

industri alat-alat elektronika), c) PT Indomobil (mengelola industri mobil), dan


sebagainya.
2.

Perusahaan swasta asing contohnya antara lain: a) PT Freeport Indonesia Company


(perusahaan Amerika Serikat yang mengelola pertambangan tembaga di Papua, Irian
Jaya), b) PT Exxon Company (perusahaan Amerika Serikat yang mengelola pengeboran
12

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
minyak

bumi),

c)

PT

Caltex

Indonesia

(perusahaan

Belanda

yang

mengelola

pertambangan minyak bumi di beberapa tempat di Indonesia), dan sebagainya.


Perusahaan-perusahaan swasta tersebut sangat mempunyai peranan penting bagi
perekonomian di Indonesia.

Antara lain adalah membantu: a) meningkatkan produksi

nasional, b) Menciptakan kesempatan dan lapangan kerja baru, c) Membantu pemerintah


dalam usaha pemerataan pendapatan, d) pemerintah mengurangi pengangguran, e)
Menambah sumber devisa bagi pemerintah, f) Meningkatkan sumber pendapatan negara
melalui pajak, g) pemerintah memakmurkan bangsa.
D.2 Kebijakan Pengembangan BUMS di Indonesia
Peranan BUMS di Indonesia sangatlah penting untuk meningkatkan pertumbuhan
ekonomi yang berkelanjutan. Untuk dapat merealisasikannya diperlukan berbagai kebijakan
pemerintah antara lain: kebijakan deregalusasi dan debitroktratisasi.
Kebijakan Deregulasi, dapat diartikan sebagai suatu kebijakan dalam menghapus
aturan-aturan yang selama ini diperlakukan dengan tujuannya untuk memberi kemudahan
bagi pengusaha untuk menjalankan usahanya. Contoh kebijakan deregulasi berupa
kemudahan-kemudahan memperoleh dana usaha. Hal ini dapat dilihat dari adanya
1.

Bantuan kredit usaha, kemudahan perbankan dalam memberikan kredit pada BUMS
terutama untuk Usaha Kecil dan Menengah.

2.

Bantuan dalam pemasaran untuk memperluas segmen pasar baik dalam negeri maupun
luar negeri.
Dengan adanya bantuan-bantuan tersebut terbukti telah banyak usaha-usaha kecil di

Indonesia yang mampu bersaing baik di pasar dalam negeri maupun internasional.
Aplikasinya produk-produk unggulan Mitra Binaan Mandiri dan Wirausaha Muda Mandiri
merupakan usaha Bank Mandiri dalam mendorong usahawan mikro kecil dan menengah

13

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
(UMKM) Indonesia untuk mampu berinovasi serta mandiri dalam mengahsilkan produkproduk unggulan. Dan mereka berhasil menerobos pasar internasional.
Konsep-konsep penerapan deregulasi di Indonesia diharapkan dapat meningkatkan
pertumbuhan ekonomi Indonesia dan melepaskan ketergantungan rakyat Indonesia
terhadap produk-produk buatan luar negeri.
Kebijakan Debirokratisasi, suatu kebijakan memperbaharui birokrasi kearah yang
lebih sederhana dan efisien dalam bentuk pelayanan pemerintah, sehingga semua urusan
yang berkaitan dengan usaha BUMS dapat lebih mudah.
Kebijakan debirokratisasi tersebut dilakukan melalui penyempurnaan peraturan
perundang-undangan di bidang usaha, penyederhanaan prosedur pelayanan usaha, perkuatan
kelembagaan dan kewenangan serta pengembangan sistem informasi. Selanjutnya Kebijakan
Debirokratisasi harus memilki arah sebagi berikut:
1.

Mengurangi praktek ekonomi biaya tinggi baik untuk tahapan perizinan usaha maupun
operasi. Caranya dengan Melakukan pemangkasan birokrasi, menata aturan main yang
jelas yang didasarkan prinsip prinsip transparansi dan kepemerintahan yang baik.
Misalnya: a) prosedur perijinan dan pengelolaan usaha. b) pengeloaan yang berkaitan
dengan ekspor/impor dan lain sebagainya.

2.

Menjamin kepastian usaha dan peningkatan penegakan hukum serta perlindungan hakhak pelaku ekonomi.

3.

Memperbaiki harmonisasi peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional dan


kedaerahan, dengan mengedepankan prinsip kepastian hukum, deregulasi dan efisiensi
dalam biaya dan waktu pengurusan.

4.

Menetapkan standardisasi sarana dan prasarana kerja, pelayanan terpadu satu atap
atau satu pintu.

14

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni
5.

Menerapkan keputusan Menteri PAN No.63/KEP/M.PAN/7/2003 tentang Pedoman


Umum penyelenggaraan Pelayanan Publik, dalam proses penyempurnaan sistem dan
prosedur kelembagaan pelayanan.(Asdep Tata Laksana 14/06/2007)
Selanjutnya mulai bulan Februari 2014, pemerintah mengeluarkan Program Paket

Kebijakan untuk Meningkatkan Kemudahan Berusaha. Pemerintah sudah menetapkan target


di

delapan area yang

dapat

ditingkatkan

untuk meningkatkan

kemudahan dalam

menyelenggarakan bisnis, antara lain: a) Memulai usaha, b) Pemasangan jaringan listrik, c)


Pembayaran pajak dan premi asuransi, d) Penegakan kontrak, e) Penyelesaian insolvensi, f)
Pendaftaran property, g) Pengurusan izin konstruksi, h) Pengajuan kredit
Disaming itu tanggal 23 Agustus 2013, pemerintah mengumumkan paket kebijakan
ekonomi, yang ditujukan untuk meningkatkan investasi, yaitu
1.

Penyederhanan prosedur perijinan, mengurangi kendala dalam memulai usaha,


terutama dalam hal prosedur perizinan.

2.

Merevisi Daftar Negative Investasi (DNI): membuat peraturan investasi yang lebih
ramah bagi investor dan DNI dengan sektor-sektor baru yang terbuka bagi
penanaman modal asing akan segera diumumkan tahun ini,

3.

Meningkatkan insentif pajak, antara lain: a) Keringanan pajak bagi industri padat
karya seperti industri tekstil, pakaian, sepatu, furnitur dan mainan, b) Penambahan
pengurangan pajak untuk perusahaan-perusahaan yang paling tidak 30% dari hasil
produksinya ditujukan untuk ekspor

Sumber bacaan:
1.

Dewi Hanggraeni. Apakah Privatisasi BUMN Solusi yang Tepat Dalam Meningkatkan
Kinerja?, Artikel dalam Manajemen Usahawan Indonesia No.6 Tahun 2009

2.

Suharsono Sagir. Kapita Selekta Ekonomi Indonesia., Kencana Media Group, edisi 1
2009.

3.

Asfia Murni., Ekonomika Makro ., Rafika Aditama, Bandung edisi tiga 2013

15

Modul ke 3
Perekonian Indonesia
Asfia Murni

16