Anda di halaman 1dari 3

ANALISIS / RESENSI FILM

TAMPAN TAILOR
Dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Pendidikan

Oleh :
TSALATSATI SOLEHATUN NISA
NIM.5402414035

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG


2015

Judul
: Tampan Tailor
Genre
: Drama
Sutradara
: Guntur Soeharjanto
Penulis Naskah : Alim Sudio dan Cassandra
Massardi
Produser
: Sudiad
Pemeran
: Vino G. Bastian, Marsha
Timothy, Ringgo Agus
Rakhman, Jefan Nathanio,
Lisye Herliman
Produksi
: Maxima Pictures
Tanggal Rilis : 28 Maret 2013
Durasi
: 101 menit
Analisis
Nah, itu dia identitas film Tampan Tailor yang ingin saya resensi. Kembali,
sebelum saya mulai membahas mengenai resensi dari film ini, saya akan memberikan
sedikit sinopsisnya.
TAMPAN TAILOR adalah sebuah film yang bercerita mengenai serangkaian
kisah perjuangan seorang pria bernama Topan (Vino G. Bastian) dalam usahanya
untuk menghidupi dan membesarkan putra tunggalnya, yaitu Bintang (Jefan
Nathanio). Perjuangan tersebut dimulai ketika Topan harus kehilangan sang istri
tercinta, Tami karena penyakit kanker yang dideritanya. Tidak berhenti sampai di situ,
Topan pun harus kehilangan tempat tinggal sekaligus memaksa Bintang untuk putus
sekolah setelah usaha toko jahit yang dibangun bersama istrinya mengalami
kebangkrutan. Meskipun hampir kehilangan segalanya, keberadaan sang anak
membuat Topan sadar bahwa dia tidak dapat menyerah begitu saja.
Dengan bantuan sepupunya, Darman (Ringgo Agus Rakhman), Topan pun
kembali merintis berbagai usaha untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik,
mulai dari menjadi calo tiket kereta api, kuli bangunan, hingga menjadi stuntman di
sebuah produksi film.
Semangat dan kegigihan Topan yang luar biasa ini diam-diam membuat
kagum Prita (Marsha Timothy), seorang gadis penjaga tempat penitipan anak. Dengan
bantuannyalah, akhirnya Topan perlahan dapat kembali bangkit dan mengembalikan
semua mimpinya.

Nah, itu dia sedikit sinopsis dari film Tampan Tailor. Selanjutnya, mari kita
simak resensinya berikut ini. Cekidot!
Keunggulan utama dari film Tampan Tailor ini adalah konflik-konflik dan kedalaman
kisahnya yang berhasil menampilkan sisi-sisi mengharukan sekaligus mengundang
tawa sampai menyentuh aspek romantik. Acungan jempol patut diberikan kepada duo
penulis naskah film ini, yaitu Alim Sudio dan Cassandra Massardi yang berhasil
bersatu padu dan mengisi satu sama lain dengan cermat, sehingga menghasilkan
naskah (skrip) yang cukup membumi, humoris, haru, dan penuh keragaman.
Keunggulan lain dari film ini adalah dari chemistry para pemainnya. Tidak
dapat dipungkiri lagi bahwa Vino G. Bastian memang selalu tampil total dalam
memerankan perannya, tidak terkecuali dalam film ini. Dapat dilihat bahwa
chemistry-nya dengan lawan-lawan mainnya cukup jempolan. Mulai dari chemistrynya dengan Jefan Nathanio sebagai ayah yang cukup klop dengan anaknya, dengan
Marsha Timothy (yang notabenenya adalah istrinya dalam dunia nyata) yang berhasil
menjalin interaksi yang cukup kuat dan mulus, hingga chemistry-nya dengan Ringgo
Agus Rakhman yang terlihat cukup dekat. Dalam deretan pemain lainnya, nama yang
patut dikedepankan adalah Ringgo Agus Rakhman. Sebagai tokoh pendukung
pemeran utama, karakternya cukup mencuri perhatian penonton. Gaya khasnya yang
agak sedikit slebor, dipenuhi dengan guyonan segar, dan keakraban dengan lawanlawan mainnya patut mendapat nilai plus. Kemudian pemain lain yang patut
mendapat sorotan adalah aktor cilik Jefan Nathanio yang bisa dibilang tampil cukup
baik dalam film ini walaupun beberapa kali masih terlihat aktingnya yang kurang
luwes.
Dari sisi penyutradaraan, sutradara Guntur Soeharjanto mampu mengarahkan
film ini dengan cukup baik sehingga penonton dapat meraskan relasi yang erat
dengan para tokoh, porsi drama juga dibuat pas dengan tidak terjebak pada kesedihan
yang berlarut atau drama percintaan yang berlebihan. Dari sisi sinematografi juga
patut mendapat pujian, dengan jitu Enggar Harliono mengarahkan kameranya dengan
tepat di sepanjang film ini ditambah editing yang cermat dari Ryan Purwoko.
Terlepas dari kelebihan-kelebihan di atas, film Tampan Tailor ini juga tidak hadir
tanpa kekurangan, terutama dari sisi tata musik hasil olahan Tya Subiakto yang
kurang dapat bersanding dengan scene-scene-nya (bisa dibilang suka berlebihan).
Itulah resensi saya mengenai film Tampan Tailor, sebuah film inspirasional yang
mengajarkan kepada kita bahwa boleh saja kita kehilangan segalanya, tapi jangan
sampai kehilangan harapan.
Mungkin itu saya yang dapat saya sampaikan pada kesempatan kali ini.
Semoga dapat bermanfaat. Terima kasih atas perhatian yang diberikan dan mohon
maaf apabila terdapat kekurangan.