Anda di halaman 1dari 18

BAHAN AJAR

MATA KULIAH

PROSES TRANSFER

oleh:
Rahmawati, ST., MSc.
Nurul Hidayati Fithriyah, ST., MSc., Ph.D

Jurusan Teknik Kimia


Fakultas Teknik

Modul Pembelajaran Proses Transfer

Universitas Muhammadiyah Jakarta


2010

Modul Pembelajaran Proses Transfer

SILABUS MATA KULIAH PROSES TRANSFER


BAHAN UTS (30%):
I. TRANSFER MOMENTUM
1. Viskositas dan Mekanisme Transfer Momentum

a. Hukum Newton tentang viskositas

b. Fluida Newtonian dan non-Newtonian

c. Viskositas sebagai fungsi suhu dan tekanan

2. Distribusi Kecepatan dalam Aliran Laminar

a. Neraca momentum dan syarat batas

b. Aliran jatuh lapisan tipis fluida (falling film)

c. Aliran melalui pipa silinder (cylinder tube)

d. Aliran dalam annulus (celah antara 2 silinder konsentris)


e. Aliran merambat di sekitar bola (sphere)

3. Persamaan Perubahan untuk Sistem Isotermal Tunak

4. Latihan soal dan pembahasan tugas

BAHAN UAS (50%):


II. TRANSFER PANAS
1. Konduktivitas dan Mekanisme Transfer Panas
a. Hukum Fourier tentang konduksi panas
b. Konduktivitas sebagai fungsi suhu dan tekanan
2. Distribusi Suhu dalam Padatan dan Aliran Laminar
a. Neraca energi dan syarat batas
b. Konduksi panas melalui dinding komposit
c. Konveksi alamiah dan paksa
d. Transfer panas melalui mekanisme radiasi

3. Persamaan Perubahaan untuk Sistem Non-IsotermalTunak


4. Latihan soal dan pembahasan tugas

Pertemuan ke-1

Pertemuan ke-2
Pertemuan ke-3
Pertemuan ke-4
Pertemuan ke-5

Pertemuan ke-6

Pertemuan ke-7

Pertemuan ke-8
Pertemuan ke-9

Pertemuan ke-10

TUGAS KELOMPOK 2 (20%): 1. T. Momentum; 2. T. Panas.


DAFTAR PUSTAKA
Bird, R. Byron, W.E. Stewart, W.N.Lightfoot, Transport Phenomena, Jhon Willey & Sons,
Singapore, 1994

Modul Pembelajaran Proses Transfer

Pertemuan ke-7
TIU (Tujuan Instruksional Umum):
Mahasiswa memahami mekanisme transfer panas
TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
:
1. Mahasiswa memahami hubungan konduktivitas bahan dan mekanisme transport panas
2. Mahasiswa mampu menuliskan persamaan hukum Fourier untuk konduksi panas
3. Mahasiswa memahami pengaruh suhu dan tekanan terhadap konduktivitas bahan

BAB IV
Konduktivitas Panas dan Mekanisme Transport Panas
Konduktivitas panas k adalah sifat bahan yang sangat penting dalam setiap permasalahan
transport panas. Nilai pentingnya adalah serupa dengan pentingnya viskositas dalam transport
momentum. Kita mulai pembahasan dengan menyatakan hukum Fourier untuk konduksi panas yang
mendefinisikan konduktivitas panas gas, cairan dan padatan. Pada bab ini kita hanya membahas
transport panas melalui mekanisme konduksi saja.
4.1 Hukum Fourier untuk Konduksi Panas
Kita tinjau sebuah lempengan bahan padat dengan luas A yang terletak diantara dua pelat besar
sejajar dengan jarak Y. Kita bayangkan bahwa pada kondisi awal (pada t<0) lempengan bahan padat
tersebut mempunyai suhu T0 secara keseluruhan. Pada t = 0, pelat terbawah secara tiba-tiba
dinaikkan suhunya ke suhu yang lebih tinggi T1 dan dipertahankan pada suhu tsb. Selama waktu
berjalan, profil suhu pada lempengan bahan tersebut berubah dan akhirnya sebuah distribusi suhu
yang tunak diperoleh. Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 4.1 Profil suhu sejak kondisi awal hingga mencapai tunak pada lempengan bahan padat
yang terletak di antara dua pelat sejajar

Modul Pembelajaran Proses Transfer

Ketika kondisi tunak ini tercapai, sebuah laju panas (heat flow) yang konstan sepanjang lempengan
tersebut diperlukan untuk mempertahankan perbedaan suhu T = T 1 T0. Ditemukan bahwa untuk
nilai T yang kecil akan mengikuti hubungan berikut:
Q
T
k
A
Y
(1)
Heat flow per satuan luas berbanding lurus dengan penurunan suhu sepanjang jarak Y. Konstanta
proporsional k adalah konduktivitas panas dari lempengan bahan padat tersebut.
Persamaan (1) di atas juga berlaku untuk cairan atau gas yang ditempatkan di antara pelat, dengan
mengasumsikan bahwa perlakuan yang cukup telah disediakan untuk mengeliminasi radiasi dan
konveksi. Sehingga persamaan diatas dapat menggambarkan peristiwa konduksi panas pada
padatan, gas dan cairan.
Pada perlakuan analitik yang akan kita gunakan nanti, akan lebih berguna jika menggunakan
persamaan (1) dalam bentuk diferensial, yaitu kita mengunakan bentuk limit tari persamaan di atas
yaitu saat ketebalan lempeng Y mendekati nol. Laju panas lokal (local heat flow) per unit area (atau
disebut heat flux atau flux panas) pada arah y-positif dilambangkan dengan qy. Sehingga persamaan
(1) dapat dituliskan kembali:
dT
q y k
dy
(2)
Persamaan ini merupakan bentuk satu dimensi dari Hukum Fourier untuk Konduksi Panas, berlaku
ketika T=T(y). Flux panas akibat konduksi berbanding lurus dengan gradient suhu.
Pada medium isotropik, di mana suhu bervariasi di ketiga arah, maka kita dapat menuliskan
persamaan di atas berdasarkan arah koordinatnya:
T
T
T
q y k
q x k
q z k
y
x
z
Beberapa bentuk medium berikut ini termasuk anisotropik, sehingga panas ditransfer hanya ke salah
satu arah: kristal tunggal bukan kubus, bahan serat, lempengan.
Dimensi dan satuan qy
qy [=] kal cm-2 s-1
T [=] K
y [=] cm
sehingga, k [=] kal cm-1 s-1 (K)-1
Selain konduktivitas panas, dalam transfer panas dikenal juga difusivitas panas, :
k
=
^p
C
Dalam persamaan tersebut Cp adalah kapasitas panas pada tekanan tetap. Aksen ^ untuk menyatakan
nilai per satuan massa, sedangkan aksen ~ digunakan untuk nilai per satuan mol.
Satuan difusivitas panas sama dengan viskositas kinematika, , yaitu (panjang)2 / waktu.
Perbandingan keduanya menyatakan kemudahan relatif transfer momentum dan panas dalam sistem
yang mengalir, dan dinyatakan dalam bilangan Prandtl:

Modul Pembelajaran Proses Transfer

^p
C
Pr= =

k
4.2 Pengaruh Suhu dan Tekanan terhadap Konduktivitas Panas

Modul Pembelajaran Proses Transfer

Pertemuan ke-8
TIU (Tujuan Instruksional Umum):
Mahasiswa memahami mekanisme transfer panas
TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
:
Mahasiswa mampu menggunakan neraca panas shell untuk menyelesaikan permasalahan transfer
panas secara konduksi, dengan studi kasus konduksi panas melalui dinding komposit

Bab V
Distribusi Suhu pada Padatan dan Aliran Laminar
Pada bab ini, kita akan bahas mengenai beberapa persoalan konduksi panas yang diselesaikan
dengan metode yang analog dengan persoalan transport momentum sebelumnya, yaitu dengan cara:
a) merumuskan neraca energi terhadap sebuah lempengan tipis atau shell yang tegak lurus
terhadap arah aliran panas. Neraca energi ini akan menghasilkan persamaan diferensial orde 1,
dimana distribusi flux panas akan diperoleh
b) Kemudian ke dalam persamaan yang diperoleh kita masukkan hukum Fourier untuk konduksi
panas. Langkah ini akan menghasilkan persamaan diferensial orde 1 dengan suhu sebagai fungsi
posisi. Konstanta integrasi yang akan muncul dapat dievaluasi dengan menggunakan syarat
batas (boundary conditions). Syarat batas diperoleh dengan menspesifikasikan suhu atau flux
panas pada permukaan batas.
5.1 Neraca Energi Shell dan Penetapan Syarat Batas (Boundary Conditions)
Sistem yang diterangkan di sini dianalisa dalam terminologi neraca energi shell.
Kita pilih sebuah irisan lempeng yang tipis, di mana permukaannya adalah normal terhadap arah
konduksi panas, lalu kemudian kita lakukan analisa neraca energi terhadap shell ini.
Untuk kondisi tunak (steady state), neraca energi shell dapat kita tuliskan:
{Laju Energi Panas masuk} {Laju Energi Panas keluar}
+ {Laju energi panas yang diproduksi} = 0

(1)

Energi panas (energi termal) dapat masuk atau meninggalkan sistem melalui mekanisme konduksi
panas, yang sesuai dengan hukum Fourier. Energi panas juga dapat masuk atau meninggalkan
sistem melalui aliran fluida keseluruhan. Jenis transport energi ini terkadang dihubungkan sebagai
mekanisme transport konvektif, dan energi yang masuk dan meninggalkan sistem dengan cara ini
umumnya disebut dengan panas sensibel masuk dan keluar. Energi termal juga dapat diproduksi
melalui degradasi energi listrik, melalui perlambatan neutron dan fragment nuklir yang dibebaskan

Modul Pembelajaran Proses Transfer

pada proses fisi, melalui degradasi energi mekanis (disipasi viskos), dan melalui konversi energi
kimia menjadi panas.
Kita tekankan bahwa persamaan neraca energi di atas hanya terbatas untuk energi panas, jadi tidak
memasukkan energi kinetik, energi potensial atau kerja. Sehingga, neraca tersebut akan berguna
untuk merumuskan dan menyelesaikan persoalan konduksi panas tunak pada padatan dan fluida
incompressible.
Syarat batas yang digunakan untuk mengevaluasi konstanta integrasi adalah:
1) Suhu pada permukaan dispesifikasikan, misal T = T0
2) Flux panas pada permukaan diberikan, misalnya q = q0
3) Pada interfasa padat-cair, flux panas dapat dihubungkan dengan perbedaan anatara suhu pada
permukaan padatan dengan suhu fluida, sehingga:
q = h (T Tfluida)
Hubungan ini dikenal dengan Hukum Newton untuk Pendinginan. Hukum ini bukan hukum
alam sesungguhnya, tetapi digunakan untuk mendefinisikan sebuah konstanta h, yang disebut
sebagai koefisien transfer panas.
4) Pada interfasa padat-padat, kontinyuitas suhu dan komponen normal dari flux panas dapat
dispesifikasikan.
5.2. Studi Kasus 1: Konduksi panas melalui dinding komposit
Pada bidang industri, salah satu permasalahan transfer panas yang sering dijumpai adalah peristiwa
konduksi melalui dinding yang terdiri atas beberapa lapis material yang berbeda karakteristik
konduktivitas termalnya. Pada bagian ini, akan ditunjukkan bagaimana tahanan yang bervariasi
terhadap transfer panas digabungkan menjadi tahanan total.
Pada gambar di bawah ini, ditunjukkan sebuah dinding komposit yang tersusun atas tiga material
dengan ketebalan berbeda, x1-x0, x2-x1 dan x3-x2 dan juga dengan konduktivitas termal yang berbeda,
k01, k12 dan k23. Pada x = x0, bahan 01 kontak langsung dengan sebuah aliran fluida dengan suhu T a
dan pada x = x3, dan bahan 23 kontak langsung dengan aliran fluida lain yang memiliki suhu Tb.
Transfer panas pada sisi batas x = x0 dan x = x3 diberikan oleh hukum pendinginan Newton dengan
koefisien transfer panas h0 dan h1. Sketsa profil suhu juga ditunjukkan pada gambar di bawah ini .

Modul Pembelajaran Proses Transfer

Gambar 5.1 Konduksi panas melalui dinding komposit


Pembuatan sketsa profil suhu sebaiknya dilakukan di awal penyelesaian kasus, karena akan
memudahkan problem set-up.
Pertama, kita turunkan persamaan diferensial untuk konduksi panas pada daerah 01. Neraca pada
lempeng dengan ketebalan x, dan volume WHx dirumuskan sebagai:
qx

01
x

WH q x

01
x x

WH 0

(2)

Setelah dibagi dengan WHx lalu diambil limit x 0,


01

dq x
0
dx

(3)

Integrasi terhadap persamaan ini menghasilkan:


qx01 = q0 (sebuah konstanta)
Konstanta q0 adalah flux panas pada bidang x = x0. Secara fisik, kita mengetahui bahwa pada saat
steady state, flux panas disetiap area akan sama, sehingga:
01

12

23

qx = qx = qx = q
0

(4)

Kita juga mengetahui bahwa:


qx

01

k 01

dT 01
dx

(5)

Dengan hubungan yang sama terhadap qx,12 dan qx,23. Penjumlahan ketiga hubungan ini dengan
persamaan (4) akan menghasilkan:

Modul Pembelajaran Proses Transfer

10

k 01

dT 01
q0
dx

(6)

12

k 12

dT
q0
dx

(7)

k 23

dT 23
q0
dx

(8)

Integrasi ketiga persamaan di atas untuk setiap nilai konstanta k01, k12 dan k13:

x0 x1

01
k

(9)

x1 x 2

12
k

(10)

x 2 x3

23
k

(11)

T0 T1 q 0

T1 T2 q 0

T2 T3 q0

Sebagai tambahan, kita memiliki dua persamaan yang berkaitan dengan transfer panas pada
permukaan dinding:
q
Ta T0 0
h0
(12)
q
T3 Tb 0
h0
(13)
Penambahan ke-5 persamaan di atas akan menghasilkan:

1 x1 x 0 x 2 x1 x3 x 2 1


01
12
23
h
h3
k
k
k
0

Ta Tb q 0

(14)

atau
q0

Ta Tb
3
1
xi xi 1 1

i 1,i
h
h3
k
i

1
0

(15)

Terkadang hasil ini dituliskan kembali dalam bentuk hukum Newton untuk pendinginan:
q 0 U (Ta Tb )
Q0 U (WH )(Ta Tb )
atau
(16)
di mana nilai U disebut sebagai koefisien transfer panas keseluruhan / overall heat transfer
coefficient. Nilai U diperoleh dari persamaan penambahan hambatan:
n
x x
1 1
1
= + i i1,ii1 +
U h 0 i=1 k
hn

Modul Pembelajaran Proses Transfer

Contoh Soal: Konduksi pada dinding komposit silindris

11

Modul Pembelajaran Proses Transfer

12

Modul Pembelajaran Proses Transfer

13

Modul Pembelajaran Proses Transfer

14

Pertemuan ke-9
TIU (Tujuan Instruksional Umum):
Mahasiswa memahami mekanisme transfer panas
TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
:
Mahasiswa memahami mekanisme transfer energi melalui mekanisme konveksi.

5.3 MEKANISME TRANSFER PANAS MELALUI KONVEKSI


Perbedaan antara konveksi alami dan konveksi paksa ditunjukkan oleh tabel berikut ini
KONVEKSI PAKSA

KONVEKSI ALAMI

Panas ditiup ke kanan oleh udara yang


dipaksa mengalir oleh kipas
Panas pindah ke atas bersama udara panas
1. Pola aliran ditentukan oleh gaya 1. Pola aliran ditentukan oleh gaya apung
eksternal
dari fluida yang dipanaskan
2. Profil kecepatan ditentukan dulu, 2. Profil kecepatan dan profil suhu saling
kemudian digunakan untuk menemukan tergantung
profil suhu
3. Bilangan Nusselt tergantung
bilangan Reynolds dan Prandtl

pada 3. Bilangan Nusselt tergantung


bilangan Grashof dan Prandtl

pada

Pada bagian ini, kita coba tinjau sebuah kasus konveksi paksa steady state.
Misalkan sebuah fluida yang viskos dengan sifat fisik konstan (,,k,Cp) mengalir secara laminar
pada sebuah pipa silinder dengan jari-jari R. Pada z<0, suhu fluida adalah konstan pada T0. Pada
z>0, dinding tube dikenai flux panas yang konstan, q1. Aplikasi kasus seperti ini, contohnya adalah
ketika sebuah pipa dibungkus secara seragam dengan pemanas listrik bergelung (heating coil).

Modul Pembelajaran Proses Transfer

15

Modul Pembelajaran Proses Transfer

16

Pertemuan ke-11
TIU (Tujuan Instruksional Umum):
Mahasiswa memahami mekanisme transfer panas
TIK (Tujuan Instruksional Khusus)
:
Mahasiswa memahami komponen pada persamaan neraca energi

Persamaan Energi
Persamaan perubahan energi untuk control volume sebuah fluida yang mengalir, dirumuskan sbb
{Laju akumulasi energi internal dan kinetic} = {laju masuk energi internal dan kinetic akibat
konveksi}-{laju keluar energi internal dan kinetic akibat konveksi}+{laju bersih pertambahan
panas akibat konduksi}-{laju bersih kerja yang dilakukan oleh system terhadap lingkungan}
Ini adalah hukum pertama Termodinamik untuk system terbuka dan non steady state. Sebenarnya,
pernyataan hukum diatas belumlah lengkap, karena tidak mengikutsertakan bentuk energi lain dan
energi transport, seperti energi nuklir, radiasi dan elektromagnetik.
Energi kinetic dirumuskan sebagai energi yang berhubungan dengan gerakan fluida yang dapat
1
2
teramati (observable fluid motion), yaitu 2
, dengan basis per unit volume.
Energi internal merupakan energi yang berhubungan dengan gerakan internal dan translasional acak
dari molekul-molekul ditambah energi interaksi antar molekul, sehingga energi internal bergantung
pada suhu local dan densitas fluida.
Energi potensial tidak muncul secara eksplisit pada persamaan diatas, karena sudah diikutsertakan
pada term kerja.
Sekarang, kita tuliskan persamaan energi untuk volume element xyz
Laju akumulasi energi internal dan kinetic melalui xyz adalah

(1)
Dimana U adalah energi internal per unit massa fluida pada volume element tsb.dan v adalah besar
kecepatan fluida lokal.
Laju bersih energi internal dan kinetic akibat konveksi adalah:

Modul Pembelajaran Proses Transfer

17

(2)

Laju bersih energi masuk akibat konduksi:

(3)
qx, qy , qz adalah x, y dan z komponen untuk vector flux panas q.
Kerja yang dilakukan oleh element fluida terhdap lingkungan, terdiri atas dua bagian: kerja
melawan gaya volume (yaitu gaya gravitasi) dan kerja melawan gaya permukaan (yaitu gaya
tekanan dan gaya viskos).
Kita ingat kembali, bahwa (kerja) = (gaya x jarak pada arah gaya)
Dan bahwa (laju melakukan kerja) = (gaya) x (kecepatan pada arah gaya)
Laju melakukan kerja melawan ketiga komponen gaya gravitasi per unit massa g adalah:

(4)
Tanda minus muncul karena kerja melawan gravitasi ketika nilai v dan g berbeda arah.
Laju melakukan kerja melawan tekanan static p pada ke enam muka volume elemen adalah
(5)
Serupa, laju melakukan kerja melawan gaya viskos adalah
(6)

Kita substitusikan persamaan persamaan diatas ke dalam persamaan energi dan membagi keseluruh
persamaan dengan xyz lalu diambil limit dengan xyz mendekati nol, maka akan kita
peroleh satu bentuk persamaan energi sbb:

Modul Pembelajaran Proses Transfer

18