Anda di halaman 1dari 21

1.

Definisi
Abortus adalah berakhirnya kehamilan dengan pengeluaran hasil
konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dengan usia gestasi
kurang dari 20 minggu dan berat badan janin kurang dari 500 gram (Murray,
2002)
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan oleh akibat-akibat tertentu
pada atau sebelum kehamilan oleh akibat-akibat tertentu pada atau sebelum
kehamilan tersebut berusia 22 minggu atau buah kehamilan belum mampu untuk
hidup di luar kandungan (Praworihardjo, 2006)
Abortus adalah ancaman atau hasil pengeluaran konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup di luar kandungan (Nugroho, 2010)
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa
intervensi dari luar untuk mengakhiri kehamilan tersebut, terminology umum
untuk masalah ini adalah keguguran seperti abortus imminens, insipiens, komplit,
inkomplit dan missed abortion. Sedangkan abortus buatan adalah abortus yang
terjadi akibat intervensi tertentu yang bertujuan untuk mengakhiri proses
kehamilan, terminology untuk keadaan ini adalah pengguguran, aborsi atau
abortus provokatus (Praworihardjo, 2006)
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup di luar kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah sebagian
hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal
(Manuaba, 2008)
Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi masih
tertinggal di dalam uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis servikalis
masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol pada ostium
uteri eksternum, perdarahannya masih terjadi dan jumlahnya bisa banyak atau

sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang menyebabkan sebagian


placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan terus (Saifuddin,
2002)
Abortus Inkomplet adalah janin kemungkinan sudah keluar bersamasama dengan plasenta pada abortus yang terjadi sebelum minggu ke-10, tetapi
sesudah usia kehamilan 10 minggu, pengeluaran janin dan plasenta akan
terpisah. Bila plasenta seluruhnya / sebagian tetap tinggal dalam uterus maka
bisa menimbulkan perdarahan. (Obstetri Williams, Edisi 18, hal 581-582)

2. Klasifikasi
Klasifikasi abortus digolongkan menjadi 2 yaitu :
1. Abortus spontaneous Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktorfaktor mekanis atau medisinalis, tetapi karena faktor alamiah. Aspek klinis
abortus spontaneus meliputi :
a)

Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari
uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi
masih dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis
abortus imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam
pada paruh pertama kehamilan. Yang pertama kali muncul biasanya
adalah perdarahan, dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian
terjadi nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan
jelas bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang
menetap disertai perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman

atau nyeri tumpul di garis tengah suprapubis. Kadang-kadang terjadi


perdarahan ringan selama beberapa minggu.
b)

Abortus insipiens :
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang
meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa
mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Abortus
inkompletus : Pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus.

c)

Abortus kompletus :
Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah
menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat
dipermudah

apabila

hasil

konsepsi dapat

diperiksa

dan dapat

dinyatakan bahwa semuanya sudah keluar dengan lengkap.


d)

Abortus Servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus
dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga
semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi
besar, kurang lebih bundar, dengan dinding menipis. Pada pemeriksaan
ditemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba
jaringan. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan
kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.

e)

Missed Abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20
minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8
minggu atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga

pengaruh hormone progesterone. Pemakaian Hormone progesterone


pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed
abortion.
f)

Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau
lebih berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil,
tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu

g)

Abortus lnkompletus
Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi
pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di
uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan
tanda utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut,
perdarahan kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan
hipovolemia berat.

2. Abortus provokatus (abortus yang sengaja dibuat )


Yaitu menghentikan kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar
tubuh ibu. Pada umumnya dianggap bayi belum dapat hidup diluar kandungan
apabila kehamilan belum mencapai umur 28 minggu, atau berat badanbayi
belum 1000 gram, walaupun terdapat kasus bahwa bayi dibawah 1000 gram
dapat terus hidup. Abortus ini terbagi menjadi dua yaitu :
a)

Abortus medisinalis (abortus therepeutika) adalah abortus karena


tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan dilanjutkan, dapat
membahayakan jiwa ibu ( berdasarkan indikasi medis). Biasanya
perlu mendapat persetujuan dua sampai tiga tim dokter ahli

b)

Abortus kriminalis adal abortus yang terjadi oleh karena tindakan


tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis.

3. Etiologi
Menurut prawirohardjo (2007) penyebab abortus dalam teori menyebutkan ada
beberapa hal, diantaranya :
1. kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi dapat menyebabkan kematian
atau cacat. Faktor yang menyebabkan kelainan dalam pertumbuhan adalah
sebagai berikut :
1. Kelainan kromosom, kelainan yang sering ditemukan pada abortus
spontan ialah trisomi, poliploidi, dan kemungkinan pula kelainan
kromosom seks.
2. Lingkungan sekitar kurang sempurna, apabila lingkungan di endometrium
di sekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zat-zat
makanan pada hasil konsepsi terganggu.
3. Pengaruh dari luar, akibat dari radiasi, virus, obat-obatan, tembakau dan
alkohol dapat mempengaruhi baik hasil konsepsi maupun lingkungan
hidupnya dalam uterus, pengaruh ini umumnya dinamakan pengaruh
teratogen.
2. kelainan pada placenta
Endotritis dapat terjadi dalam villi koriales dan menyebabkan
oksigenasi

placenta

terganggu,

sehingga

menyebabkan

gangguan

pertumbuhan dan kematian janin. Keadaan ini bisa terjadi sejak kehamilan
muda misalnya karena hipertensi menahun.
3. penyakit ibu

Penyakit mendadak seperti pneumonia,typus abdominalis,malaria


dan lain-lain yang menyebabkan abortus,toksin, bakteri, viurus, atau
plasmodium dapat melalui placenta masuk kejanin, sehingga menyebaban
kematian janin dan kemudian terjadilah abortus. Anemia berat, keracunan,
laparotomi, peritonitis umum dan penyakit menahun seperti brusellosis,
toksoplasmis juga dapat menyebabkan abortus walaupun jarang.
4.

kelainan traktus genitalis


Retroversio uteri, mioma uteri, atau kelainan bawaan uterus dapat
menyebabkan abortus. Tetapi harus diingat bahwa hanya retroversio uteri
gravidi inkarserata atau mioma submokusa yang memegang peranan penting.
Sebab lain abortus trimester ke 2 ialah servik inkompeten yang dapat
disebabkan oleh kelemahan bawaan pada servik, dilatasi servik berlebih,
konisasi, amputasi, atau robekan servik luas yang tidak di jahit.

4. Faktor Resiko
Sedangkan menurut Atom (2008) Faktor risiko atau predisposisi yang
diduga berhubungan dengan terjadinya abortus:
1)
2)
3)
4)

Usia ibu yang lanjut.


Riwayat obstetri/ginekologi yang kurang baik.
Riwayat infertilitas.
Adanya kelainan/penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya

5)

diabetes, penyakit imunologi sistemik, dsb).


Berbagai
macam
infeksi
(variola,

6)

cytomegalovirus, herpes simpleks, dsb).


Paparan dengan berbagi macam zat kimia (rokok, obat-obatan,

7)
8)

alkohol, radiasi, dsb).


Trauma abdomen/pelvik pada trimester pertama.
Kelainan kromosom, dari aspek biologi molekular kelainan kromosom

toxoplasma,

rubella,

ternyata paling sering dan paling jelas berhubungan dengan terjadinya


abortus.
5.

Patofisiologis (terlampir)

6.

Manifestasi Klinis
Diduga abortus apabila seorang wanita dalam masa reproduksi
mengeluh tentang perdarahan per vaginam setelah mengalami haid yang
terlambat juga sering terdapat rasa mulas dan keluhan nyeri pada perut
bagian bawah. (Mitayani, 2009)
Secara umum terdiri dari:
a.
Terlambat haid atau amenhore kurang dari 20 minggu.
b.
Pada pemeriksaan fisik, keadaan umum tampak lemah atau
kesadaran menurun, tekanan darah normal atau menurun, denyut
c.

nadi normal atau cepat dan kecil, suhu badan normal atau meningkat.
Perdarahan per vaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil

d.

konsepsi.
Rasa mulas atau kram perut di daerah simfisis, sering disertai nyeri

pinggang akibat kontraksi uterus.


Sedangkan secara khusus, tanda dan gejala abortus Inkomplit adalah:
a.
Perdarahan yang banyak atau sedikit serta memanjang, sampai
b.
c.
d.
e.
f.
7.

terjadi keadaan anemis.


Perdarahan mendadak banyak menimbulkan keadaan gawat.
Terjadi infeksi ditandai dengan suhu tinggi.
Dapat terjadi degenerasi ganas (kario karsinoma).
Serviks masih membuka
Kadang-kadang teraba jaringan di dalamnya

Pemeriksaan Diagnostik
A. Pemeriksaan Ginekologi
a.
Inspeksi vulva : Perdarahan per vaginam, ada atau tidak
b.

jaringan hasil konsepsi, tercium atau tidak bau busuk dari vulva.
Inspekulo : Perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka
atau sudah tertutup, ada atau tidak jaringan keluar dari ostium,

c.

ada atau tidak cairan atau jaringan berbau busuk dari ostium.
Vaginal toucher : Porsio masih terbuka atau sudah tertutup,
teraba atau tidak jaringan dalam kavum uteri, besar uterus
sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, tidak nyeri saat porsio
digoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum douglasi

tidak menonjol dan tidak nyeri.


B. Pemeriksaan Penunjang

a.

Tes kehamilan : pemeriksaan HCG, positif bila janin masih

b.

hidup, bahkan 2-3 minggu setelah abortus.


Pemeriksaan doppler atau USG : untuk menentukan apakah

c.

janin masih hidup.


Histerosalfingografi, untuk mengetahui ada tidaknya mioma

d.

uterus submukosa dan anomali kongenital.


BMR dan kadar urium darah diukur untuk mengetahui apakah

e.

ada atau tidak gangguan glandula thyroidea.


Pemeriksaan kadar hemoglobin cenderung menurun akibat
perdarahan.

8.

Penatalaksanaan
Abortus dapat dibagi dalam 2 golongan, yaitu :

Abortus spontaneus
Yaitu abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
medisinalis, tetapi karena faktor alamiah. Aspek klinis abortus spontaneus
meliputi :
1. Abortus Imminens
Abortus Imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari
uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih
dalam uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks. Diagnosis abortus
imminens ditentukan apabila terjadi perdarahan pervaginam pada paruh
pertama kehamilan. Yang pertama kali muncul biasanya adalah
perdarahan, dari beberapa jam sampai beberapa hari kemudian terjadi
nyeri kram perut. Nyeri abortus mungkin terasa di anterior dan jelas
bersifat ritmis, nyeri dapat berupa nyeri punggung bawah yang menetap
disertai perasaan tertekan di panggul, atau rasa tidak nyaman atau nyeri
tumpul di garis tengah suprapubis. Kadang-kadang terjadi perdarahan
ringan selama beberapa minggu. Dalam hal ini perlu diputuskan apakah
kehamilan dapat dilanjutkan.

Sonografi

vagina,pemeriksaan

kuantitatif

serial

kadar

gonadotropin korionik (hCG) serum, dan kadar progesteron serum, yang


diperiksa tersendiri atau dalam berbagai kombinasi, untuk memastikan
apakah terdapat janin hidup intrauterus. Dapat juga digunakan tekhnik
pencitraan colour and pulsed Doppler flow per vaginam dalam
mengidentifikasi gestasi intrauterus hidup. Setelah konseptus meninggal,
uterus harus dikosongkan. Semua jaringan yang keluar harus diperiksa
untuk menentukan apakah abortusnya telah lengkap. Kecuali apabila
janin dan plasenta dapat didentifikasi secara pasti, mungkin diperlukan
kuretase. Ulhasonografi abdomen atau probe vagina Dapat membantu
dalam proses pengambilan keputusan ini. Apabila di dalam rongga uterus
terdapat jaringan dalam jumlah signifikan, maka dianjurkan dilakukan
kuretase.
Penanganan abortus imminens meliputi :
Istirahat baring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam
pengobatan, karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran
darah ke uterus dan berkurangnya rangsang mekanik.
Terapi hormon progesteron intramuskular atau dengan berbagai zat
progestasional sintetik peroral atau secara intramuskular.Walaupun
bukti efektivitasnya tidak diketahui secara pasti.
Pemeriksaan ultrasonografi untuk menentukan apakah janin masih
hidup.
2. Abortus Insipiens
Abortus Insipiens adalah peristiwa perdarahan uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu dengan adanya dilatasi serviks uteri yang
meningkat tetapi hasil konsepsi masih dalam uterus. Dalam hal ini rasa
mules menjadi lebih sering dan kual perdarahan bertambah. Pengeluaran
hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan kuret vakum atau dengan
cunam ovum, disusul dengan kerokan.
Penanganan Abortus Insipiens meliputi :

1) Jika usia kehamilan kurang 16 minggu, lakukan evaluasi uterus dengan


aspirasi vakum manual. Jika evaluasi tidak dapat, segera lakukan:
Berikan ergomefiin 0,2 mg intramuskuler (dapat diulang setelah
15 menit bila perlu) atau misoprostol 400 mcg per oral (dapat
diulang sesudah 4 jam bila perlu).
Segera lakukan persiapan untuk pengeluaran hasil konsepsi dari
uterus.
2) Jika usia kehamilan lebih 16 minggu :
Tunggu ekspulsi spontan hasil konsepsi lalu evaluasi sisa-sisa
hasil konsepsi.
Jika perlu, lakukan infus 20 unit oksitosin dalam 500 ml cairan
intravena (garam fisiologik atau larutan ringer laktat dengan
kecepatan 40 tetes permenit untuk membantu ekspulsi hasil
konsepsi.
3) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan
3. Abortus lnkompletus
Abortus Inkompletus adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi
pada kehamilan sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal
dalam uterus. Apabila plasenta (seluruhnya atau sebagian) tertahan di
uterus, cepat atau lambat akan terjadi perdarahan yang merupakan tanda
utama abortus inkompletus. Pada abortus yang lebih lanjut, perdarahan
kadang-kadang sedemikian masif sehingga menyebabkan hipovolemia
berat.
Penanganan abortus inkomplit :
1) Jika perdarahant idak seberapab anyak dan kehamilan kurang 16
minggu, evaluasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam
ovum untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks.
Jika perdarahan berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskulera taum
iso prostol4 00 mcg per oral.
2) Jika perdarahanb anyak atau terus berlangsungd an usia kehamilan
kurang 16 minggu, evaluasi hasil konsepsi dengan :

Aspirasi vakum manual merupakan metode evaluasi yang terpilih.


Evakuasi dengan kuret tajam sebaiknya hanya dilakukan jika
aspirasi vakum manual tidak tersedia.
Jika evakuasi belum dapat dilakukan segera beri ergometrin 0,2 mg
intramuskuler (diulang setelah 15 menit bila perlu) atau
misoprostol 400 mcg peroral (dapat diulang setelah 4 jam bila
perlu).
3) Jika kehamilan lebih dari 16 minggu:
Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan intravena
(garam fisiologik atau ringer laktat) dengan k ecepatan 40 tetes
permenit sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi
Jika perlu berikan misoprostol 200 mcg per vaginam setiap 4 jam
sampai terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg)
Evaluasi sisa hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.
4) Pastikan untuk tetap memantau kondisi ibu setelah penanganan.
4. Abortus Kompletus
Pada abortus kompletus semua hasil konsepsi sudah dikeluarkan.
Pada penderita ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah menutup,
dan uterus sudah banyak mengecil. Diagnosis dapat dipermudah apabila
hasil konsepsi dapat diperiksa dan dapat dinyatakan bahwa semuanya
sudah

keluar

dengan

lengkap.

Penderita dengan abortus kompletus tidak memerlukan pengobatan


khusus, hanya apabila penderita anemia perlu diberikan tablet sulfas
ferrosus 600 mg perhari atau jika anemia berat maka perlu diberikan
transfusi darah.
5. Abortus Servikalis
Pada abortus servikalis keluarnya hasil konsepsi dari uterus
dihalangi oleh ostium uteri eksternum yang tidak membuka, sehingga
semuanya terkumpul dalam kanalis servikalis dan serviks uteri menjadi
besar, kurang lebih bundar, dengan dinding menipis. Padap emeriksaand
itemukan serviks membesar dan di atas ostium uteri eksternum teraba

jaringan. Terapi terdiri atas dilatasi serviks dengan busi Hegar dan
kerokan untuk mengeluarkan hasil konsepsi dari kanalis servikalis.
6. Missed Abortion
Missed abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20
minggu, tetapi janin yang telah mati itu tidak dikeluarkan selama 8 minggu
atau lebih. Etiologi missed abortion tidak diketahui, tetapi diduga
pengaruh hormone progesterone. Pemakaian Hormone progesterone
pada abortus imminens mungkin juga dapat menyebabkan missed
abortion.
Diagnosis
Missed abortion biasanya didahului oleh tanda-tanda abortus
imminens yang kemudian menghilang secara spontan atau
setelah pengobatan. Gejala subyektif kehamilan menghilang,
mamma agak mengendor lagi, uterus tidak membesar lagi malah
mengecil, tes kehamilan menjadi negatif. Dengan ultrasonografi
dapat ditentukan segera apakah janin sudah mati dan besamya
sesuai dengan usia kehamilan. Perlu diketahui pula bahwa missed
abortion kadang-kadang disertai oleh gangguan pembekuan darah
karena hipofibrinogenemia, sehingga pemeriksaan ke arah ini
perlu dilakukan.
Penanganan
Setelah diagnosis missed abortion dibuat, timbul pertanyaan
apakah hasil konsepsi perlu segera dikeluarkan. Tindakan
pengeluaran itu tergantung dari berbagai faktor, seperti apakah
kadar

fibrinogen

dalam

darah

sudatr

mulai

turun.

Hipofibrinogenemia dapat terjadi apabila janin yang mati lebih dari


I bulan tidak dikeluarkan. Selain itu faktor mental penderita perlu

diperhatikan karena tidak jarang wanita yang bersangkutan


merasa gelisah, mengetahui ia mengandung janin yang telah mati,
dan ingin supaya janin secepatnya dikeluarkan.

7. Abortus Habitualis
Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau
lebih berturut turut. Pada umumnya penderita tidak sukar menjadi hamil,
tetapi kehamilannya berakhir sebelum 28 minggu.
9.
a.

Komplikasi
Perdarahan
Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil
konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena
perdarahan dapat terjadi apabila pertolongan tidak diberikan pada
waktunya.

b.

Perforasi
Perforasi uterus pada kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam
posisi hiperretrofleksi. Dengan adanya dugaan atau kepastian terjadinya
perforasi, laparatomi harus segera dilakukan untuk menentukan luasnya
perlukaan pada uterus dan apakah ada perlukan alat-alat lain.

c.

Syok
Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan
karena infeksi berat.

d.

Infeksi
Sebenarnya pada genitalia eksterna dan vagina dihuni oleh bakteri yang
merupakan flora normal. Khususnya pada genitalia eksterna yaitu
staphylococci, streptococci, Gram negatif enteric bacilli, Mycoplasma,

Treponema (selain T. paliidum), Leptospira, jamur, Trichomonas vaginalis,


sedangkan pada vagina ada lactobacili,streptococci, staphylococci, Gram
negatif enteric bacilli, Clostridium sp., Bacteroides sp, Listeria dan jamur.
Organisme-organisme yang paling sering bertanggung jawab terhadap
infeksi paska abortus adalah E.coli, Streptococcus non hemolitikus,
Streptococci anaerob, Staphylococcus aureus, Streptococcus hemolitikus,
dan Clostridium perfringens. Bakteri lain yang kadang dijumpai adalah
Neisseria

gonorrhoeae,

Pneumococcus

dan

Clostridium

tetani.

Streptococcus pyogenes potensial berbahaya oleh karena dapat


membentuk gas.
10.

Pengkajian
Pengkajian adalah pendekatan sistematis untuk mengumpulkan
data dan menganalisanya sehingga dapat diketahui masalah dan
kebutuhan perawatan bagi klien.
Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah :
Biodata : mengkaji identitas klien dan penanggung yang meliputi ;
nama, umur, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan, status
perkawinan, perkawinan ke- , lamanya perkawinan dan alamat
Keluhan utama : Kaji adanya menstruasi tidak lancar dan adanya
perdarahan pervaginam berulang
Riwayat kesehatan , yang terdiri atas :
1) Riwayat kesehatan sekarang yaitu keluhan sampai saat klien pergi ke
Rumah Sakit atau pada saat pengkajian seperti perdarahan pervaginam
di luar siklus haid, pembesaran uterus lebih besar dari usia kehamilan.
2) Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat pembedahan : Kaji adanya pembedahan yang pernah dialami
oleh klien, jenis pembedahan , kapan , oleh siapa dan di mana tindakan
tersebut berlangsung.
Riwayat penyakit yang pernah dialami : Kaji adanya penyakit yang
pernah dialami oleh klien misalnya DM , jantung , hipertensi , masalah
ginekologi/urinary , penyakit endokrin , dan penyakit-penyakit lainnya.

Riwayat kesehatan keluarga : Yang dapat dikaji melalui genogram


dan dari genogram tersebut dapat diidentifikasi mengenai penyakit
turunan dan penyakit menular yang terdapat dalam keluarga.
Riwayat kesehatan reproduksi : Kaji tentang mennorhoe, siklus
menstruasi, lamanya, banyaknya, sifat darah, bau, warna dan adanya
dismenorhoe serta kaji kapan menopause terjadi, gejala serta keluahan
yang menyertainya
Riwayat kehamilan , persalinan dan nifas : Kaji bagaimana keadaan
anak klien mulai dari dalam kandungan hingga saat ini, bagaimana
keadaan kesehatan anaknya.
Riwayat seksual : Kaji mengenai aktivitas seksual klien, jenis
kontrasepsi yang digunakan serta keluahn yang menyertainya.
Riwayat pemakaian obat : Kaji riwayat pemakaian

obat-

obatankontrasepsi oral, obat digitalis dan jenis obat lainnya.


Pola aktivitas sehari-hari : Kaji mengenai nutrisi, cairan dan elektrolit,
eliminasi (BAB dan BAK), istirahat tidur, hygiene, ketergantungan, baik
sebelum dan saat sakit.
Pemeriksaan fisik, meliputi :
Inspeksi adalah proses observasi yang sistematis yang tidak hanya
terbatas pada penglihatan tetapi juga meliputi indera pendengaran dan
penghidung.
Hal yang diinspeksi antara lain :
mengobservasi kulit terhadap warna, perubahan warna, laserasi, lesi
terhadap

drainase,

pola

pernafasan

terhadap

kedalaman

dan

kesimetrisan, bahasa tubuh, pergerakan dan postur, penggunaan


ekstremitas, adanya keterbatasan fifik, dan seterusnya
Palpasi adalah menyentuh atau menekan permukaan luar tubuh dengan
jari.
Sentuhan : merasakan suatu pembengkakan, mencatat suhu, derajat
kelembaban dan tekstur kulit atau menentukan kekuatan kontraksi uterus.
Tekanan : menentukan karakter nadi, mengevaluasi edema,
memperhatikan posisi janin atau mencubit kulit untuk mengamati turgor.

Pemeriksaan dalam : menentukan tegangan/tonus otot atau respon


nyeri yang abnormal
Perkusi adalah melakukan ketukan langsung atau tidak langsung pada
permukaan tubuh tertentu untuk memastikan informasi tentang organ
atau jaringan yang ada dibawahnya.
Menggunakan jari : ketuk lutut dan dada dan dengarkan bunyi yang
menunjukkan ada tidaknya cairan , massa atau konsolidasi.
Menggunakan palu perkusi : ketuk lutut dan amati ada tidaknya
refleks/gerakan pada kaki bawah, memeriksa refleks kulit perut apakah
ada kontraksi dinding perut atau tidak
Auskultasi adalah mendengarkan bunyi dalam tubuh dengan bentuan
stetoskop dengan menggambarkan dan menginterpretasikan bunyi yang
terdengar. Mendengar : mendengarkan di ruang antekubiti untuk tekanan
darah, dada untuk bunyi jantung/paru abdomen untuk bising usus atau
denyut jantung janin.
(Johnson & Taylor, 2005 : 39)
Pemeriksaan laboratorium :
Darah dan urine serta pemeriksaan penunjang : rontgen, USG, biopsi,
pap smear.
Keluarga berencana : Kaji mengenai pengetahuan klien tentang KB,
apakah klien setuju, apakah klien menggunakan kontrasepsi, dan
menggunakan KB jenis apa.
Data lain-lain :
Kaji mengenai perawatan dan pengobatan yang telah diberikan selama
dirawat di RS.Data psikososial.
Kaji orang terdekat dengan klien, bagaimana pola komunikasi dalam
keluarga, hal yang menjadi beban pikiran klien dan mekanisme koping
yang digunakan.
Status sosio-ekonomi : Kaji masalah finansial klien
Data spiritual : Kaji tentang keyakinan klien terhadap Tuhan YME, dan
kegiatan keagamaan yang biasa dilakukan.

A. Diagnosa Keperawatan

Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut:


a.

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler


dalam jumlah berlebih

b.

Nyeri berhubungan dengan dilatasi serviks, trauma jaringan dan kontraksi

uterus
c.

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan

d.

Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian diri sendiri dan janin

C. Intervensi Keperawatan
1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan vaskuler berlebih
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam volume cairan
terpenuhi dengan kriteria hasil:
Pasien mengungkapkan tidak lemah, dan tidak merasa haus lagi
Mukosa bibir lembab
Turgor kulit normal
Mata tidak cekung
Intervensi :
1. Observasi TTV
R=
2.

Mengetahui keadaan umum klien

Posisikan ibu dengan tepat (semi fowler)


R= Menjamin keadekuatan darah yang tersedia untuk otak, peninggian
panggul menghindari kompresi vena

3.

Lakukan tirah baring dan menghindari ibu untuk valsava manufer


R = Pendarahan dapat berhenti dengan reduksi aktivitas

4. Laporkan serta catat jumlah dan sifat kehilangan darah


R= Untuk mengetahui perkiraan banyak nya kehilangan darah

2. Nyeri berhubungan dengan dilatasi serviks, trauma jaringan dan kontraksi


uterus
Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan 3 x 24 jam nyeri teratasi dengan kriteria hasil:
Pasien tidak mengeluh nyeri lagi
Skala nyeri berkurang (<3)
Observasi TTV
Intervensi :
1. Jelaskan nyeri yang di derita klien serta penyebabnya
R= Meningkatkan koping klien dalam mengatasi nyeri
2. Tentukan riwayat nyeri. Misalnya lokasi nyeri, frekuensi, durasi, dan
intensitasnya
R= Untuk mengetahui lokasi nyeri, skala, dan intensitasnya
3. Berikan tindakan fixsasi (misalnya dengan gurita)
R= Untuk mengurangi nyeri
4. Kolaborasi Berikan analgetik
R=

Analgetik berfungsi untuk mengurangi nyeri

3. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan


Tujuan:
Setelah dilakukan tindakan 3 x 24 jam pasien tidak mengalami infeksi dengan
kriteria hasil:
Tidak merasa nyeri pada daerah vulva.
Tidak merasa gatal
TTV dalam batas normal
Interversi :
1. Terangkan pada klien pentingnya vulva hygiene
R = Untuk mencegah terjadinya infeksi berkelanjutan
2.

Lakukan teknik vulva hygiene

R= Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat dapat


menyebabkan infeksi
3. Tingkatkan teknik cuci tangan yang benar untuk meningkatkan personal
hygiene klien
R= Membantu mencegah penularan bakteri
4.

Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian diri sendiri dan janin

Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan 3 x 24 jam pasien tidak mengalami kecemasan
dengan ktriteria hasil:

Klien mendiskusikan ketakutan mengenai diri janin dan masa depan

kehamilan, juga mengenai ketakutan yang sehat dan tidak sehat


Klien tampak tenang
Klien tidak terlihat cemas lagi
Intervensi :
1. Jelaskan prosedur dan arti gejala
2. Berikan informasi dalam bentuk verbal dan tertulis serta beri kesempatan
klien untuk mengajukan pertanyaan
3. Pantau respon verbal dan non verbal ibu dan pasangan.
4. Libatkan ibu dalam perencanaan dan berpatisipasi dalam perawatan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC
Hamilton, C. Mary, 1995, Dasar-dasar Keperawatan Maternitas, edisi 6, EGC,
Jakarta
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid I. Jakarta: Media
Aesculapius

Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC
Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: PT. Salemba Medika
Nugroho, Taufan. 2010. Buku Ajar Obstetric. Yogyakarta: Nuha Medika
Praworihardjo, S. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta:
Yayasan Bina Pustaka

LAPORAN PENDAHULUAN
CLINICAL STUDY 2
DEPARTEMEN MATERNITAS
Abortus Inkomplet
RSI DINOYO

Disusun Oleh :
Eka Fitri Cahyani
115070201111001
Kelompok 6A

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015