Anda di halaman 1dari 13

ANALISA MUTU KALSIUM OKSIDA (CaO) PADA KUALITAS BATU GAMPING

( CaCO3DI DESA SANGOWO KECAMATAN MOROTAI TIMUR KABUPATEN


PULAU MOROTAI PROVINSI MALUKU UTARA TERNATE SKRIPSI O L E H MHD.
TAKDIR SIBUA 12105 10212 05 045 PROGRAM STUDI TEKNIK
PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALUKU
UTARA TERNATE 2011

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Batu gamping merupakan jenis bahan galian non logam yang menjadi bahan baku
utama di dalam pembuatan semen. Proses penambangan batu kapur sendiri terdiri
dari beberapa tahapan proses yang diawali dengan proses pembongkaran yang
bertujuan untuk membongkar atau melepaskan batuan dari batuan induknya,
dilanjutkan dengan pemecahan bongkahan batu kapur menjadi diameter yang lebih
kecil, kemudian pengambilan material, dilanjutkan dengan pemuatan material dan
tahapan terakhir adalah memperkecil ukuran material ke dalam crusher. Batu
gamping merupakan sumber utama dari senyawa kalsium Batu gamping murni
umumnya merupakan kalsit atau aragonite yang secara kimia keduanya dinamakan
(kalsium karbonat). Senyawa karbonat dan magnesium dalam batu gamping. Dalam
proses pembuatan semen akan berubah menjadi kalsium oksida (CaO) dan jika
jumlah MgO melebihi 5%, maka bangunan yang menggunakan semen tersebut
hasilnya akan pecah pecah. Mutu batu gamping dikatakan cukup baik apabila
memilik presentasi kadar sebagai berikut: CaO = > 50 %; MgO = 0,03 1,35% dan
Fe2O3 = 0,05 0,17%, Standard Nasional Indonesia (SNI). Sebagian besar batuan
yang ada di Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku Utara ialah batu gamping
(CaCo3). Inilah yang melatar belakangi peneliti untuk mengangkat penelitian
tentang kadar unsur Kalsium Oksida (CaO) sebagai standarisasi mutu bahan baku
pembuatan semen. 1.2 Rumusan Masalah Bertolak dari Latar belakang diatas,
bahwa peneliti akan menganalisa kandungan kadar CaO pada batu gamping di Desa
Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai. 1.3 Batasan masaalah
Dalam penelitian ini permasalahan hanya dibatasi pada analisis kadar Kalsium
Oksida (CaO) sebagai bahan baku industri semen dengan menggunakan metode X
Ray Diffration di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai.
1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
kandungan kadar Kalsium Oksida (CaO) dalam batu gamping yang ada di Desa
Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai. 1.5 Kegunaan
Penelitian 1.5.1. Untuk Peneliti Kegunaan dari penelitian Untuk peneliti yaitu
menambah pengetahuan dan wawasan bagi peneliti khususnya tentang analisa
kadar dengan menggunakan metode XRay pada lab tekMira. 1.5.2 Untuk Akademis
Diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebagai konsumsi ilmiah bagi
kaum akademis dan dapat dijadikan referensi bagi peneliti yang lain dalam
mengembangkan penelitian tentang masalah analisa kadar kalsium oksida pada
kualitas batu gamping. 1.5.3 Untuk Pemerintah Daerah Sebagai bahan masukan
untuk pemerintah daerah khususnya Kabupaten Pulau Morotai tentang hasil analisa
kadar kalsium oksida pada kualitas batu gamping yang ada di Desa Sangowo

Kecamatan Morotai Timur 1.6. Metode Pengambilan Data Dalam penilitian ini
adapun metode yang digunakan yaitu dengan metode analisa kadar kalsium oksida
(CaO) pada kualitas batu gamping dengan menggunakan metode X-Ray Diffraction
(XRD) dengan menggabungkan antara data teori dan data data yang ada di
lapangan. Adapun tahapan tahapan dalam pengumpulan data, sebagai berikut : a.
Studi literatur ini dilakukan dengan mencari bahan bahan pustaka dari : - Instansi
yang terkait dalam penelitian ini - Perpustakaan - Lapangan b. Observasi lapangan.
- Observasi lapangan dilakukan dengan pengamatan secara langsung dilapangan
terhadap kegiatan yang dilaksanakan dan mencari informasi pendukung yang
terkait dengan permasalahan yang di bahas. c. Pengambilan data Data yang
diperlukan untuk menunjang laporan penelitian ini adalah : - Kondisi batuan
disekitar lokasi penilitian - Data primer, yaitu Data yang diperoleh dari pengamatan
dan pengumpulan data langsung di lapangan berupa pengambilan data koordinat,
pengambilan Sampel batu gamping dan ploting area. - Data sekunder, yaitu data
pendukung dan pelengkap dalam proses pengolahan data selanjutnya keadaan
geologi, topografi, data curah hujan, dan vegetasi. - Dari hasil pengamatan dan
data yang sudah dikumpulkan, dilakukan dengan menggunakan GPS sehingga
dapat di buat peta ploting area sebaran bahan baku batu gamping di lokasi desa
Sangowo. - Analisa laboratorium di lakukan untuk menganalisa sampel guna
mengetahui kadar per tiap sampel sehingga dapat dihitung presentasi kadar
calsium carbonate (CaCO3) dan calsium oxide (CaO) serta analisa dilakukan pada
lab tek-MIRA Gambar 1.1 Bagan Alir Penilitian Studi literatur : Mengumpulkan
informasi, data-data dari referensi buku, jurnal maupun laporan yang berhubungan
dengan penelitian. Observasi lapangan : Mengumpulkan data langsung dilapangan
terhadap keadaan dan kondisi geologi seperti data primer dan data sekunder.
Pengambilan Data Data primer : - Data geologi - Data koordinat lokasi Penelitian Data pengambilan sampel batu gamping Data sekunder : - Kondisi geologi dan
stratigrafi - Topografi - Morfologi Analisa laboratorium dan pengolahan data : Analisa
lab guna mengetahui kadar per setiap sample sehingga dapat dihitung presentase
kadar CaO, CaCO3, serta analisa dilakukan pada pusat pengembangan dan
penilitian teknologi meneral dan batubara (tekMIRA). Dengan menggunakan metode
X-Ray dan pembuatan peta pengambilan sampel batu gamping. Hasil penelitian :
Berdasarkan hasil analisa data, pada daerah Pulau Morotai Desa Sangowo terdapat
kualitas mutu batu gamping dengan presentase kadar CaCO3 70 77 % dan CaO 50
62 %.

BAB II TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi Dan Kesampaian Daerah


Lokasi Pulau Morotai terletak di ujung utara Kabupaten Halmahera Utara dan
merupakan bagian dari Provinsi Maluku Utara dan merupakan Kabupaten kecil yang
hampir sebagian besar wilayahnya berhadapan langsung dengan lautan (Pesisir
Pantai). Yang secara administratif terdiri atas 4 kecamatan: a. Kecamatan Morotai
Utara, b. Kecamatan Morotai Selatan, d. Kecamatan Morotai Timur c. Kecamatan

Morotai Selatan Barat. Secara geografi,. Pulau Morotai berbatasan dengan: 1.


Sebelah Utara berbatasan dengan Samudera Pasifik 2. Sebelah Timur berbatasan
dengan Laut Halmahera 3. Sebelah Selatan berbatasan dengan selat Morotai 4.
Sebelah Barat berbatasan dengan Laut Sulawesi Lokasi penelitian berada di Desa
Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai dengan letak geografis
yaitu: 1280752 - 1282614" Bujur Timur (BT) dan 020432" - 0216 36" Lintang
Utara (LU). Daerah Sangowo Kecamatan Morotai Timur Berbatasan langsung dengan
: 1. Sebelah Utara berbatasan dengan sungai Lifao 2. Sebelah Selatan berbatsan
dengan desa Daeo 3. Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Halmahera 4. Sebelah
Barat berbatasan dengan hutan lindung. Kesampaian Daerah Untuk Menempuh
Perjalanan Ke Daerah Penelitian Morotai (Sangowo) yakni Sebagai Berikut : 1. Dari
Ternate Sofifi menggunakan transportasi laut speed boad 45 menit perjalanan.
2. Dari Sofifi Tobelo menggunakan transportasi darat (mobil carteran) 4 jam
perjalanan. 3. Dari Tobelo Morotai (Daruba) menggunakan transportasi laut kapal
fery 3 4 jam. Dari Morotai (Daruba) (Sangowo) menggunakan transportasi
darat (mobil carteran) 1/5 jam.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Landasan Teori


Batu gamping (CaCO3) Batu gamping dapat terjadi dengan beberapa cara,
yaitu secara organik, secara mekanik, atau secara kimia. Sesuai dengan
pengamatan lapangan batu gamping yang terdapat di alam/ dilokasi penelitian desa
Sangowo itu terjadi secara organik, jenis ini berasal dari pengendapan
cangkang/rumah kerang dan siput, foraminifera atau ganggang, atau berasal dari
kerangka binatang koral/kerang. Untuk batugamping yang terjadi secara mekanik,
sebetulnya bahannya tidak jauh berbeda dengan jenis batugamping yang terjadi
secara organic. Yang membedakannya adalah terjadinya perombakan dari bahan
batu kapur tersebut yang kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan
tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia adalah jenis
batugamping yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu
dalam air laut ataupun air tawar. Batu gamping dapat berwarna putih susu, abu
muda, abu tua, coklat bahkan hitam, tergantung keberadaan mineral pengotornya
(Sumber : .A. Katili & Marks. P. (1963). Geologi). Di alam batu gamping berikatan
dengan air secara kimia (CaCO3. nH2O) sehingga harus dihilangkan,. Proses
penghilangan air kristal tersebut dinamakan kalsinasi. 3.2 Pengertian Semen Semen
berasal dari bahasa latin cementum, dimana kata ini mula-mula dipakai oleh
bangsa Roma yang berarti bahan atau ramuan pengikat, dengan kata lain semen
dapat didefinisikan adalah suatu bahan perekat yang berbentuk serbuk halus, bila
ditambah air akan terjadi reaksi hidrasi sehingga dapat mengeras dan digunakan
sebagai pengikat (mineral glue). Pada mulanya semen digunakan orang-orang Mesir
Kuno untuk membangun piramida yaitu sejak abad ke-5 dimana batu batanya satu
sama lain terikat kuat dan tahan terhadap cuaca selama berabad-abad. Bahan
pengikat ini ditemukan sejak manusia mengenal api karena mereka membuat api di

gua-gua dan bila api kena atap gua maka akan rontok berbentuk serbuk. Serbuk ini
bila kena hujan menjadi keras dan mengikat batu-batuan disekitarnya dan dikenal
orang sebagai batu Masonry.

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Peak (Sudut) Dan Intensitas Yang Di Dapatkan Dari Hasil Analisa X-Ray
Diffraction Pada Sampel Batu Gamping Desa Sangowo Penentuan presentase kadar
batu gamping dengan uji X-ray Difraction (XRD) pada laboratorium tekMIRA dengan
jumlah sampel batu gamping sebanyak 3(tiga) sampel memperlihatkan pada pola
yang dihasilkan X-Ray sebagai berikut: Untuk sampel batu gamping dengan kode
1276/11 dan 1277/11 serta 1278/11 ( lihat tabel 5.1) didapatkan sudut-sudut (peak)
dan intensitas yang dihasilkan: Untuk Calcium Carbonate (CaCO3). Tabel 5.1
Tabel Hasil analisis kurva XRD untuk tiap-tiap sampel. No Kode Sampel Material
Sampel JCPDF 2 Intensitas k t r It Ir k1 k2 1 1276/11 CaCO3 47 1743 28,46
38,57 1500 850 1,76 - 46 1045 47,32 57,5 750 250 - 3,00 2 1277/11 CaCO3 47
1743 28,46 38,57 1500 850 1,76 - 46 1045 47,32 57,5 1150 350 3,29 3 1278/11
CaCO3 47 1743 28,46 48,57 1500 850 1,76 - 46 1045 47,32 57,5 750 300 2.50
Kualitas Mutu Batu Gamping Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur Menurut
Sukandarrumidi (1999) bahwa mengenai jenis batu gamping dapat dikatakan bahwa
kadar terbaik sebuah batu gamping sebagai bahan baku pembuatan semen adalah
dengan memiliki kadar CaO = > 50 % dan untuk kadar CaCO3 70 80 % . Jika
dibandingkan dengan hasil analisa pada sampel sampel batu gamping yang
dilakukan pada penelitian ini nampak bahwa batu gamping asal Desa Sangowo
Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai Provinsi Maluku ini dibuktikan
dengan kadar (CaCO3) yang mencapai 70 dan 74 hingga 77 %, sesuai literatur
kadar ini sangat tinggi jauh diatas kadar batu gamping asal Kabupaten Agam
Provinsi Sumatra Barat yang merupakan bahan baku batu gamping pada PT. Semen
Padang yaitu untuk kadar CaCO3 70,12 %. Selain pembuatan bahan baku semen,
pemanfaatan/penggunaan daripada batu gamping antara lain untuk : 1. Penetral
Keasaman Tanah Tanah yang terlalu asam misalnya didaerah gambut, tidak sesuai
untuk budidaya pertanian karena tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Dalam
usaha menetralkan keasaman tanah, salah satu caranya dengan menambah
kapur/batu gamping. Karena batu gamping mudah larut dalam air, dalam usaha
penetralan tanah disarankan dipergunakan batu gamping berukuran kerikil bukan
berukuran pasir. 2. Industri Kaca Dalam pembuatan kaca diperlukan 50 % pasir
silika dll. Persyaratan batu gamping menurut standar perancis dengan presentase
kadar ialah : SiO2 0,96 %, Fe2O3 0,04 %, Al2O3 0,14 %, MgO 0,15 %, CaO 55,8 %.
3. Bahan Tahan Api Dikenal dengan nama dead burned dolomite umumnya dipaki
sebagai pelapisan (lining) tanur peleburan baja. Bahan dibuat dari dolomit dengan
komposisi MgCO3 35 %, SiO2 maksimum 1,0 %, Fe2O3 maksimum 1,5 %, Al2O3
maksimum 1,5 % sisanya sebagai CaCO3. Bahan ini dibakar sedemikian rupa
sehingga hasil yang diperoleh adalah tidak aktif lagi. BAB VI KESIMPULAN DAN
SARAN 6.1 Kesimpulan Beberapa kesimpulan dari penelitian tugas akhir ini adalah:
1. Bahwa Analisa kandungan kadar calcium carbonat (CaCO3) dengan

menggunakan masing-masing faktor konversinya didapatkan pula elemen calcium


oxide (CaO) dengan menggunakan metode X-Ray Difraction pada sampel batu
gamping di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai
Provinsi Maluku Utara telah berhasil dilakukan. 2. Kadar yang dihasilkan untuk
senyawa calcium carbonat (CaCO3) untuk masingmasing tiga, yaitu untuk sampel
Batu Gamping 1276/11 adalah 77 % massa CaCO3 dengan konversi CaO 62%. Batu
Gamping 1277/11 adalah 70 % massa CaCO3 dengan konversi CaO 56%,
sedangkan untuk sampel sampel Batu Gamping 1278/11 adalah 74 % massa CaCO3
dengan konversi CaO 59%. Dari ketiga sampel yang memiliki kadar CaCO3 dengan
konversi CaO tertinggi adalah untuk sampel Batu Gamping 1276/11 . 3. Dari hasil
analisa kadar tersebut bahwa batu gamping di Desa Sangowo Kecamatan Morotai
Timur Kabupaten Pulau Morotai dikatakan kualitas batu gamping dengan kadar
calsium carbonate (CaCO3) dan kadar calsium oxide (CaO) sangat baik untuk
dijadikan satu pemanfaatan/penggunaan dalam pembuatan bahan baku semen, dll.
6.2 Saran 1. Diharapkan kepada pihak pemerintah daerah untuk segera
meningkatkan khususnya potensi pertambangan mengenai kualitas batu gamping
yang ada di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai
Provinsi Maluku Utara. 2. Diharap pada pihak investor untuk segera diadakan proses
lanjut untuk ekplorasi dan pengolahan sebagai bahan baku semen dll.

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Beberapa kesimpulan dari penelitian tugas akhir ini adalah:
1. Bahwa Analisa kandungan kadar calcium carbonat (CaCO3) dengan
menggunakan masing-masing faktor konversinya didapatkan pula elemen calcium
oxide (CaO) dengan menggunakan metode X-Ray Difraction pada sampel batu
gamping di Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai
Provinsi Maluku Utara telah berhasil dilakukan.
2. Kadar yang dihasilkan untuk senyawa calcium carbonat (CaCO3) untuk
masingmasing
tiga, yaitu untuk sampel Batu Gamping 1276/11 adalah 77 % massa
CaCO3 dengan konversi CaO 62%. Batu Gamping 1277/11 adalah 70 % massa
CaCO3 dengan konversi CaO 56%, sedangkan untuk sampel sampel Batu
Gamping 1278/11 adalah 74 % massa CaCO3 dengan konversi CaO 59%. Dari
ketiga sampel yang memiliki kadar CaCO3 dengan konversi CaO tertinggi adalah
untuk sampel Batu Gamping 1276/11 .
3. Dari hasil analisa kadar tersebut bahwa batu gamping di Desa Sangowo
Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai dikatakan kualitas batu
gamping dengan kadar calsium carbonate (CaCO3) dan kadar calsium oxide
(CaO) sangat baik untuk dijadikan satu pemanfaatan/penggunaan dalam
pembuatan bahan baku semen, dll.
6.2 Saran
1. Diharapkan kepada pihak pemerintah daerah untuk segera meningkatkan
khususnya potensi pertambangan mengenai kualitas batu gamping yang ada di

Desa Sangowo Kecamatan Morotai Timur Kabupaten Pulau Morotai Provinsi


Maluku Utara.
2. Diharap pada pihak investor untuk segera diadakan proses lanjut untuk
ekplorasi dan pengolahan sebagai bahan baku semen dll.

Batu gamping pada umumnya adalah bukan terbentuk dari batuan sediment seperti yang kita kira,
tidak juga terbentuk dari clay dan sand, terbentuk dari batu-batuan bahkan juga terbentuk dari
kerangka calcite yang berasal dari organisme microscopic di laut dangkal. Pulau Bahama adalah
sebagai contoh dari daerah dimana proses ini masih terus berlangsung hingga sekarang.
Sebagian perlapisan batu gamping hampir murni terdiri dari kalsit, dan pada perlapisan yang lain
terdapat sejumlah kandungan silt atau clay yang membantu ketahanan dari batu gamping tersebut
terhadap cuaca. Lapisan gelap pada bagian atas mengandung sejumlah besar fraksi dari silika yang
terbentuk dari kerangka mikrofosil, dimana lapisan pada bagian ini lebih tahan terhadap cuaca.
Batu gamping dapat terlarutkan oleh air hujan lebih mudah dibandingkan dengan batuan yang
lainnya. Air hujan mengandung sejumlah kecil dari karbon dioksida selama perjalanannya di udara,
dan hal tersebut mengubah air hujan tersebut menjadi nersifat asam. Kalsit adalah sangat reaktif
terhadap asam. Hal tersebut menjelaskan mengapa goa-goa bawah tanah cenderung untuk
terbentuk pada daerah yang banyak mengandung batu gamping, dan juga menjelaskan mengapa
bangunan bangunan yang terbuat dari bahan batugamping rentan terhadap air hujan yang
mengandung asam. Pada daerah daerah tropis , batu gamping terbentuk menjadi batuan yang kuat
membentuk sejumlah pegunungan-pegunungan batu gamping yang indah.
Dibawah pengaruh pressure yang tinggi, batu gamping termatomorfosakan menjadi batuan
metamorf marble. Pada kondisi tertentu, kalsit yang terdapat di dalam batugamping teralterasi
menjadi dolomite, berubah menjadi batuan dolomite.
Batu kapur (bahasa Inggris: limestone) (CaCO3) adalah sebuah batuan sedimen terdiri
darimineral calcite(kalsium carbonate). Sumber utama dari calcite ini adalah organisme laut.
Organisme
ini
mengeluarkan shell yang
keluar
ke
air
dan
terdeposit
di
lantai samudrasebagai pelagicooze (lihat lysoclineuntuk informasi tentang dissolusi calcite).
Calcite
sekunder
juga
dapat
terdeposi
oleh
air meteorik tersupersaturasi(air
tanah yangpresipitasi material di gua). Ini menciptakan speleothemseperti stalagmitdan stalaktit.
Bentuk yang lebih jauh terbentuk dari Oolite(batu kapur Oolitic) dan dapat dikenali dengan
penampilannya yang granular. Batu kapur membentuk 10% dari seluruh volume batuan sedimen.

GENESA
BATUGAMPING
Batu gamping adalah merupakan salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sector
industri ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, batu bangunan,
bahan penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian, bahan keramik, industri kaca, industri
semen, pembuatan karbit, untuk peleburan dan pemurnian baja, untuk bahan pemutih dalam
industri kertas pulp dan karet, untk proses pengendapan bijih logam dan industri gula.
Batugamping dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organic, secara mekanik, atau secara
kimia. Sebagian besar batugamping di alam terjadi secara organic. Jenis ini berasal dari

pengendapan cangkan atau rumah kerang dan siput. Foraminifera atau ganggang. Atau berasal dari
kerangka
binatang
koral/kerang.
Untuk batugamping yang terjadi secara mekanik, sebetulnya bahannya tidak jauh berbeda dengan
jenis batugamping yang terjadi secara organic. Yang membedakannya adalah terjadinya perombakan
dari bahan batu kapur tersebut yang kemudian terbawa oleh arus dan biasanya diendapkan tidak
jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia adalah jenis batugamping yang terjadi
dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar.
Selain hal diatas, mata air mineral dapat pula mengendapkan batugamping. Jenis batugamping ini
terjadi karena peredaran air panas alam yang melarutkan lapisan batugamping dibawah permukaan,
yang
kemudian
diendapkan
kembali
dipermukaan
bumi.
Magnesium, lempung dan pasir merupakan unsure pengotor yang mengendap bersama-sama pada
saat proses pengendapan. Keberadaan pengotor batugamping memberikan klasifikasi jenis
batugamping. Apabila pengotornya magnesium, maka batugamping tersebut diklasifikasikan sebagai
batu
gamping
dolomitan.
Begitu juga apabila pengotornya lempung, maka batu kapur tersebut diklasifikasikan sebagai
batugamping lempungan, dan batugamping pasiran apabila pengotornya pasir. Persentase unsureunsur pengotor sangat berpengaruh terhadap warna batu kapur tersebut, yaitu mulai dari warna
putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat, bahkan hitam. Warna kemerah-merahan misalnya,
biasanya disebabkan oleh adanya unsure mangan, sedangkan kehitam-hitaman disebabkan oleh
adanya
unsure
organic.
Batugamping dapat bersifat keras dan padat, tetapi dapat pula kebalikannya. Selain yang pejal
dijumpai
pula
yang
porous.
Batugamping yang mengalami metamorfosa akan berubah penampakannya maupun sifat-sifatnya.
Hal ini terjadi karena pengaruh tekanan maupun panas, sehingga batugamping tersebut menjadi
berhablur, seperti yang dijumpai pada marmer. Selain itu, air tanah juga sangat berpengaruh
terhadap penghabluran kembali pada permukaan batugamping, sehingga terbentuk hablur kalsit.
Dibeberapa daerah endapan batu batugamping seringkali ditemukan di gua dan sungai bawah tanah.
Hal ini terjadi sebagai akibat reaksi tanah. Air hujan yang mengandung CO3 dari udara maupun dari
hasil pembusukan zat-zat organic dipermukaan, setelah meresap ke dalam tanah dapat melarutkan
batugamping yang dilaluinya. Reaksi kimia dari proses tersebut adalah sebagai berikut :
CaCO3
+
2
CO2
+
H2O
Ca
(HCO3)2
+
CO2
Ca (HCO3)2 larut dalam air, sehingga lambat laun terjadi rongga di dalam tubuh batugamping
tersebut. Secara geologi, batugamping erat sekali hubungannya dengan dolomite. Karena pengaruh
pelindian atau peresapan unsure magnesium dari air laut ke dalam batugamping, maka
batugamping tersebut dapat berubah menjadi dolomitan atau jadi dolomite. Kadar dolomite atau
MgO dalam batugamping yang berbeda akan memberikan klasifikasi yang berlainan pula pada jenis
batugamping tersebut.
Genesa Batu Kapur
1.

PENDAHULUAN

Batu kapur merupakan salah satu mineral industri yang banyak digunakan oleh sektor industri
ataupun konstruksi dan pertanian, antara lain untuk bahan bangunan, batu bangunan bahan
penstabil jalan raya, pengapuran untuk pertanian dll.
Stabilitas politik yang baik indonesia telah memacu pengembangan sektor industri, konstruksi dan
pertanian ketingkat yang lebih baik. Perkembangan ini secara tidak ;langsung memperlihatkan
adanya peningkatan kebutuhan akan bahan baku dan penolong bagi perkembangan sektor industri
yang merupakan industri hilir. Berdasarkan pertimbangan tersebut diperkirakan prospek pasar
untuk komoditas pasar cukup cerah.
A.

Mula Jadi

Batu Kapur dapat terjadi dengan beberapa cara yaitu secara organik secara mekanik atau secara
kimia sebagian batu kapur dialam terjadi secara organik. Jenis ini berasal dari pengembangan
cangkang atau rumah kerang dan siput. Untuk batu kapur yang terjadi secara mekanik sebetulnya
bahannya tidak jauh beda dengan batu kapur secara organik yang membedakannya adalah
terjadinya perombakan dari bahan batu kapur tersebut kemudian terbawa oleh arus dan biasanya
diendapkan tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang terjadi secara kimia jenis batu kapur
yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar.
B.

Mineralogi

Batu Kapur dan dolomit merupakan batuan karbonat utama yang banyak digunakan diindustri
Aragonit yang berkomposisi kimia sama dengan Kalsit (CaCO 3) tetapi berbeda dengan struktur
kristalnya, merupakan mineral metas table karena pada kurun waktu tertentu dapat berubah
menjadi Kalsit. Karena sifat fisika mineral-mineral karbonat hampir sama satu sama lain, maka
tidak mudah untuk mengidentifikasinya.
C.

Identifikasi Batugamping

Batugamping merupakan salah satu golongan batuan sedimen yang paling banyak
jumlahnya.Batugamping itu sendiri terdiri dari batugamping non-klastik dan batugamping klastik.
Batugamping non-klastik, merupakan koloni dari binatang laut antara lain dari Coelentrata,
Moluska, Protozoa dan Foraminifera atau batugamping ini sering jyga disebut batugamping Koral
karena penyusun utamanya adalah Koral.
Batugamping Klastik, merupakan hasil rombakan jenis batugamping non-klastik melalui proses
erosi oleh air, transportasi, sortasi, dan terakhir sedimentasi.selama proses tersebut banyak mineralmineral lain yang terikut yang merupakan pengotor, sehingga sering kita jumpai adanya variasi
warna dari batugamping itu sendiri. Seperti warna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat,
merah bahkan hitam.
Secara kimia batugamping terdiri atas Kalsium karbonat (CaCO 3). Dialam tidak jarang pula dijumpai
batugamping magnesium. Kadar magnesium yang tinggi mengubah batugamping dolomitan dengan
komposisi kimia CaCO3MgCO3
Adapun sifat dari batugamping adalah sebagai berikut :
a. Warna

: Putih,putih kecoklatan, dan putih keabuan

b. Kilap

: Kaca, dan tanah

c. Goresan

: Putih sampai putih keabuan

d. Bidang belahan

: Tidak teratur

e. Pecahan

: Uneven

f. Kekerasan

: 2,7 3,4 skala mohs

g. Berat Jenis

: 2,387 Ton/m3

h. Tenacity

: Keras, Kompak, sebagian berongga

2. Manfaat Batu Kapur


Adapun pemanfaatan dari kapur diantaranya adalah :
-

bahan bangunan

bahan bangunan yang dimaksud adalah kapur yang dipergunakan untuk plester,adukan pasangan
bata, pembuatan semen tras ataupun semen merah.
-

Bahan penstabilan jalan raya

Pemaklaian kapur dalam bidang pemantapan fondasi jalan raya termasuk rawa yang dilaluinya.
Kapur ini berfungsi untuk mengurangi plastisitas, mengurangi ppenyusutan dan pemuaian fondasi
jalan raya
-

Sebagai pembasmi hama

Sebagai warangan timbal (PbAsO3) dan warangan kalsium (CaAsO3) atau sebagai serbuk belerang
untuk disemprotkan.
-

Bahan pupuk dan insektisida dalam pertanian

Apabila ditaburkan untuk menetralkan tanah asam yang relatife tidak banyak air, sebagai pupuk
untuk menambah unsur kalsium yang berkurang akibat panen, erosi serta untuk menggemburkan
tanah. Kapur ini juga dipergunakan sebagai disinfektan pada kandang unggas, dalam pembuatan
kompos dan sebagainya
-

Penjernihan air

Dalam penjernihan pelunakan air untuk industri , kapur dipergunakan bersama-sama dengan soda
abu dalam proses yang dinamakan dengan proses kapur soda.
Limestone adalah batuan sedimen yang sebagian besar terdiri dari mineral calcite (kalsium
karbonat, CaCo3). Limestone merupakan batu yang sangat halus berbutir dengan kandungan calcite
tinggi juga mengandung garam-karang dan mineral gipsum. Beberapa batu berisi butiran kristal
silikon. Limestone merupakan batuan penting dalam dunia arsitektur, Basalt dan Limestone
merupakan bahan baku utama yang paling sering digunakan dalam arsitektur bangunan modern.
Cocok untuk Pahatan Dinding, Ornamen, dinding dan lantai yang mencolok untuk aplikasi lalu
lintas yang rendah.
Marmer adalah batuan kristalinkasar yang berasal dari batu gampingatau dolomit. Marmer yang
murni berwarna putih dan terutama disusun oleh mineral kalsit.
Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu
gamping. Pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan terjadi
rekristalisasi pada batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.

Akibat rekristalisasi struktur asal batuan membentuk tekstur baru dan keteraturan butir. Marmer
Indonesia diperkirakan berumur sekitar 3060 juta tahun atau berumur Kuarter hingga Tersier.
Tulungagung adalah salah satu penghasil marmer terlama di Indonesia. PT. DAYACAYO
ASRITAMA adalah salah satu penghasil marmer di Indonesia yang membawa nama Indonesia
sebagai salah satu produsen marmer di dunia,sekaligus yang terbesar di Indonesia. Saat ini daerah
penghasil marmer di Indonesia sudah tersebar luas, antara lain Lampung, Jawa Tengah, Bandung,
Sulawesi, Kalimantan, Bangka, dan Kupang,namun marmer terbaik terdapat di Sulawesi Selatan
Marmer atau batu pualam merupakan batuan hasil proses metamorfosa atau malihan dari batu
gamping. Pengaruh suhu dan tekanan yang dihasilkan oleh gaya endogen menyebabkan terjadi
rekristalisasi pada batuan tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.
Akibat rekristalisasi struktur asal batuan membentuk tekstur baru dan keteraturan butir. Marmer
Indonesia diperkirakan berumur sekitar 3060 juta tahun atau berumur Kuarter hingga Tersier.
Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batugamping. Setiap ada batu marmer akan
selalu ada batugamping, walaupun tidak setiap ada batugamping akan ada marmer. Karena
keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik berupa
tekan maupun perubahan temperatur yang tinggi. Di Indonesia penyebaran marmer tersebut cukup
banyak,
seperti
dapat
dilihat
pada
Penggunaan marmer atau batu pualam tersebut biasa dikategorikan kepada dua penampilan yaitu
tipe ordinario dan tipe staturio. Tipe ordinario biasanya digunakan untuk pembuatan tempat mandi,
meja-meja, dinding dan sebagainya, sedangka tipe staturio sering dipakai untuk seni pahat dan
patung
Marmer adalah batuan yang tersusun oleh mineral kalsit dengan kandungan mineral minor lainya
adalah kuarsa, mika, klhorit, tremolit, dan silikat lainnya seperti graphit, hematit, dan limonit. Nilai
komersil marmer bergantung kepada warna dan tekstur. Marmer yang berkualitas sangat tinggi
adalah berwarna putih sangat jernih, sebab kandungan kalsitnya lebih besar dari 90 %. Marmer yang
berwarna abu-abu dihasilkan dari kandungan grapit pada batuan tersebut, pink dan merah akibat
adanya kandungan hematit, kuning dan krem sebagai pengaruh dari kandungan limonit.
Marmerpun dicirikan pula oleh gores arah jarus dan lapisan grapit atau silikat gelapnya.
Berdasarkan besar butirnya, tekstur berkisar dari halus hingga kasar. Sifat sifat lainnya yang
berpengaruh terhadap kualitas marmer adalah porositas, kekuatan regangan dan kekuatan terhadap
cuaca.
Marmer merupakan bahan galian yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat luas, bahkan cukup
gencar pula muncul ke permukaan yang menimbulkan sensasi pencarian marmer yang dapat tembus
cahaya dengan harga penawaran sangat menggiurkan, walaupun hanya sebatas orang-per orang dan
diliputi misteri, hobi dan aspek mistik lainnya.
Sebagai bahan galian yang mempunyai nilai jual tinggi karena rona yang sangat indah, artistik, dan
aspek kuat tekan dan geser yang tinggi menjadikan bahan galian ini mempunyai pangsa pasar yang
relatif tinggi hingga pada pasar menengah.
Penggunaan marmer biasanya untuk meja, tegel, hiasan dinding, pelengkapan rumah tangga sepeti
guci, lampu hias dan lain sebagainya. Untuk tegel, dinding dan meja memerlukan diameter yang
besar dan kualitas yang sangat baik dalam artian sedikit sekali adanya retakan dan kandungan
minerl bijihnya, sehingga akan menimbulkan kesan dingin walaupun kenas sinar matahari
sekalipun.
Sejak zaman dahulu kala marmer sudah memiliki pasar yang baik, sehingga perburuan ke lokasilokasi penghasil marmerpun cukup tinggi. Italia merupakan negara pengahsil marmer yang sangat

terkenal di dunia, walaupun pada kenyataannya bahanbaku marmer itu sendiri bukan asli dari Italia
tetapi dari negara-negara lainnya yang dimasukan terlebih dahulu ke Italia. Marmer dari luar
tersebut diproses terlebih dahulu di Intalia yang kemudian dikemas sedmikian rupa dan dipasarkan
dengan merek Italia.
Pasar marmer atau batu pualam yang sempat kandas saat krisis melanda kini mulai membaik. Meski
dari kualitas pengolahan marmer lokal masih kalah dengan polesan produk impor, namun dari sisi
penjualan marmer lokal lebih baik.
Produk lokal dengan impor memang tidak beda jauh seperti dari segi ornamen. Namun, harga
marmer lokal lebih murah dibanding dengan yang impor. Oleh karena itu rata-rata konsumen
menyukai produk lokal karena selain lebih murah ornamen yang disuguhkan juga hampir sama.
Jika belum cukup jeli, sulit untuk membedakan antara marmer lokal dan impor. Pada umumnya
marmer lokal berwarna terang, sedangkan yang impor warnanya agak gelap, seperti warna coklat.
Tetapi, tidak berarti seluruh marmer impor berwarna gelap. Karena marmer yang asal Cina juga
memiliki warna yang hampir sama dengan marmer lokal, seperti warna krem.
Secara fisik akan nampak jelas dari aspek pori-porinya, dimana marmer impor memiliki pori-pori
yang rapat sedangkan marmer lokal kurang rapat. untuk mengetahui pori-pori marmer tersebut
rapat atau tidakcukup dengan menyiramkan air pada bagian atas marmer, dan jika meninggalkan
bekas basah walau telah dilap dengan kain kering, berarti pori-pori marmer tersebut besar (Mega
Sari, Kompas, 2002).

GEOLOGI
2.1 Mula Jadi
Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam merupakan batuan hasil proses
metamorfosa atau malihan dari batuan asalnya yaitu batukapur. Pengaruh temperatur dan tekanan
yang dihasilkan oleh gaya endogen kan menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan
tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.
Akibat rekristalisasi tersebut akan menghilangkan struktur asal batuan tersebut tetapi akan
membentuk tekstur baru, keteraturan butir. Pembentuk mineral ini di Indonesia yang sudah
ditemukan adalah sekitar 30 60 juta tahun yang lalu atau berumur Kwarter hingga Tersier.
2.2. Potensi:
Marmer akan selalu berasosiasi keberadaanya dengan batugamping. Setiap ada batu marmer akan
selalu ada batugamping, walaupun tidak setiap ada batugamping akan ada marmer. Karena
keberadaan marmer berhubungan dengan proses gaya endogen yang mempengaruhinya baik berupa
tekan maupun perubahan temperatur yang tinggi.
PERTAMBANGAN
Untuk mengetahui besarnya cadangan suatu tubuh marmer maka biasanya dilakukan eksplorasi
geofisika agar diketahui baik penyebaran horizontal maupun vertikal, kemudian dbuat sumur uji dan
pemboran untuk mengetahui ketebalan lapisan. Untuk mengetahui kualitas marmer di suatu lokasi
maka diambil sampel yang diuji di laboratorium baik fisika maupun kimia, secara mikroskopis.

Sebelum keluar teknologi baru, penambangan marmer dilakukan dengan 2 tahapan yaitu:
Land clearing (pengupasan), yaitu kegiatan pengupasan lapisan tanah dengan menggunakan
buldozer dan ekskavator menggali tanah yang menutupi tubuh batuan guna menyiapkan kegiatan
penambangan
Kegiatan produksi, yaitu proses pemolaan, pemboran, pemahatan, dan seleksi tiap blok dan
mengangkutnya ke lokasi pengolahan selanjutnya.
Biasanya pemboran dilakukan dengan mengebor vertikal sampai kedalaman 110 cm pada sisi pan
jang dengan ukuran 260 cm dan sisi lebar (mendatar) sebesar 135 cm (Asril Riyanto, 1994).
Sedangkan pemahatan mendatar dimaksudkan untuk melepas blok dengan ukuran standar 260 x
110 x 135 cm. Kegiatan tersebut dibantu dengan alat angkat/tarik, alat dorong serta alat angkut.
Setelah muncul teknologi baru yaitu dengan menggunakan alat pengerat bermata diamond, maka
segala kegiatan eksploitasi dilakukan di lokasi marmer tersebut berada. Untuk tahap awal dilakukan
pemolaan diameter batu yang akan dibelah dan dipotong, selanjutnya dibor sampai kedalam
tertentu lalu dilakukan pengeratan tersebut.
Pengolahan merupakan proses kegiatan memperhalus produk hingga menjadi produk yang siap
dipasrkan. Adapaun kegiatan tersebut adalah sebagai berikut:
Untuk yang masih menggunakan teknologi lama maka blok batu pualam berukuran ( 260 x 100 x
135 ) cm digergaji menjadi lempengan-lempengan denganketebalan rata-rata 2 cm.
Lempengan batu pualam tersebut kemudian dipotong menjadi barang setengah jadi, sesuai ukuranukuran standar pesanan
Barang setengah jadi tersebut kemudian digerinda dua tahap dan kemudian disempurnakan atau
ditambal da dipoles pada lapisan-lapisan yang berlubang hingga akan dihasilkan marmer yang
mengkilap.
KEGUNAAN
Penggunaan marmer atau batu pualam tersebut biasa dikategorikan kepada dua penampilan yaitu
tipe ordinario dan tipe staturio. Tipe ordinario biasanya digunakan untuk pembuatan tempat
mandi, meja-meja toilt, lanati, dinding dan sebagainya, sedangka tipe staturio sering dipakai untuk
seni pahat dan patung (Asril, 1994).
Marmer atau dikenal pula dengan sebutan batu pualam merupakan batuan hasil proses
metamorfosa atau malihan dari batuan asalnya yaitu batukapur. Pengaruh temperatur dan tekanan
yang dihasilkan oleh gaya endogen kan menyebabkan terjadinya kristalisasi kembali pada batuan
tersebut membentuk berbagai foliasi mapun non foliasi.
Impor marmer mengalami penu-runan drastis ejak tahun 1998 akibat dari krisis moneter di
Indonesia, dan konsumen beralih ke produk domestik.
Kuarsa adalah salah satu mineral yang umum ditemukan di kerak kontinenbumi. Mineral
ini memiliki struktur kristal heksagonal yang terbuat dari silika trigonal terkristalisasi (silikon
dioksida, SiO2), dengan skala kekerasan Mohs7 dan densitas 2,65 g/cm. Bentuk umum kuarsa
adalah prisma segienam yang memiliki ujung piramida segienam.

hkkhhkjhkjhkhkjhkjhkjPENDAHULUAN

Operasi dalam pengolahan mineral pada prinsipnya sama seperti yang telah
dilakukan ribuan tahun yang lalu. Tentunya perkembangan peralatan dan system
pengolahan pada masa sekarang ini telah sangat lebih modern, tetapi masalah
yang di hadapi tetap sama, yaitu bagaimana mengolah mineral dengan sifatnya
yang keras, abarasive, susunan kristal yang tidak homogen agar mendapat hasil
pemisahan yang maksimal
Pemrosesan atau pengolahan mineral adalah untuk meningkatkan mutu atau
kualitas dan kegunaan dari suatu material dasar. Hasil pemrosesan yang dilakukan
bisa berupa bongkahan bongkahan mineral dengan ukuran dan bentuk tertentu,
ataupun hasil pengayaan kandungan logam secara maksimum. Pemorosesan
mineral yang digolongkan berdasarkan ukuran produknya dan cara pemrosesannya
dibagi menjadi dua yaitu secara kering atau basah. Pada proses kering tidak
diperlukan air dalam proses ini, dan tidak boleh menggunakan air dalam proses ini.
Sedangkan proses basah yaitu penggunaan air untuk efesiensi proses, instalasi
yang lebih lengkap, dan tidak diinginkannya debu sebagai hasil proses.
Batu kapur merupakan salah satu mineral industri yang banyak digukan oleh
banyak industri ataupun konstruksi.salah satunya di industri semen.
Batu kapur dapat terbentuk dengan beberapa cara yaitu,secara organic, secara
mekanik, ataupun secara kimia. Sebagian besar batu kapur dialam terjadi secara
organic, jenis ini berasal dari pengendapat, cangkang/rumah kerang dan siput,
foraminifera atau ganggang atau berasal dari binatang koral/kerang. Untuk batu
kapur yang terjadi secara mekanik, sebetulnya bahannya tidak jauh berbeda
dengan jenis batu kapur yang terjadi secara organic, yang membedakan adalah
terjadi perombakan dari bahan batu kapur tersebut yang kemudian terbawah oleh
arus dan biasanya diendapkan tidak jauh dari tempat semula. Sedangkan yang
terjadi secara kimia adalah batu kapur yang terjadi dalam kondisi iklim dan suasana
lingkungan tertentu dalam air laut ataupun air tawar.
Penambangan batu kapur di Indonesia umumnya dilakukan dengan cara tambang
Terbuka (Kuari) tanah penutup (Overburden) yang terdiri dari tanah liat, pasir, dan
koral dikupas dahulu dengan menggukan bulldozer atau power scraper selanjutnya
penambangan dilakukan dengan cara pengeboran dan peledakan, sampai diperoleh
ukuran bongkah yang diingikan, bongkahaan yang terlalu besar akan di bor dan
diledakan ulang (secondary blasting).
Batu kapur dapat langsung digunakan sebagai bahan baku misalnya pada industri
semen,akan tetapi untuk keperluan lainnya perlu pengolahan terlebih dahulu
misalnya dengan pembakaran cara ini dimaksudkan untuk memperoleh kapur tohr.