Anda di halaman 1dari 9

EMBRYO VOL. 8 NO.

DESEMBER 2011

ISSN 0216-0188

ANALISIS PEMASARAN GARAM RAKYAT


(STUDI KASUS DESA KERTASADA, KECAMATAN KALIANGET,
KABUPATEN SUMENEP)
Try Suherman1, Elys Fauziyah2, Fuad Hasan2
1
Alumni Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
2
Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura
Abstract
This research has aimed to find out the marketing chain of salt, marketing margin of salt and marketing
efficiency of salt. It is performed in Kertasada village, Kalianget Sub district Sumenep. Marketing chain and
market structure are analyzed by qualitative analysis. Then, marketing margin and ratio concentration are
analyzed by quantitative analysis. The result of this research about marketing chain shows: salt farmer
trader factory agent retail customer. Marketing margin of salt is 1.780.000 IDR and it is implying
efficient.
Key Words : Marketing chaim, marketing margin, structure, habit, perform of market, Salt.

dapat merangsang petani untuk memproduksi


garam. Selain itu juga dapat membantu para
pegaram dalam memasarkan atau menjual hasil
produksinya. Diantara masing-masing lembaga
tersebut PT. Garam merupakan perusahaan
yang terbesar dalam komoditas ini. Hal ini
dikarenakan selain memasok garam dari petani,
PT. Garam ini juga mempunyai lahan yang
tersebar di wilayah pulau Madura. Lahan-lahan
ini biasanya dikontrakkan pada petani yang
hasilnya dibagi sesuai perjanjian kontrak.
Kebutuhan garam nasional setiap tahun
cukup besar, sebagai gambaran pada tahun
2010 dibutuhkan sekitar 2,985 juta ton, namun
total produksi pasokan garam dalam negeri
hanya sebesar 1,400 juta ton. Hanya setengah
dari kebutuhan garam nasional yang mampu
dihasilkan oleh pegaram. Untuk menutupi
kekurangan ini, pemerintah mempunyai opsi
mengimpor garam, tetapi hanya dilakukan di
luar musim panen (Kementrian Perindustrian,
2010). Seharusnya kelebihan permintaan garam
ini dapat dimanfaatkan oleh pegaram untuk
meningkatkan produktivitasnya. Namun untuk
merealisasikannya petani menghadapi beberapa
kendala diantaranya : (1) masih lemahnya
kelembagaan
pegaram,
(2)
terbatasnya
infrastruktur dan fasilitas produksi, (3) kecilnya
permodalan yang dimiliki, (4) regulasi yang
tidak berpihak ke patani, (5) sistem tataniaga
yang kurang menguntungkan pegaram, (6)
mutu/kualitas garam yang masih belum sesuai
dengan permintaan, dan (7) ketidakpastian

Pendahuluan
Indonesia sebagai negara kepulauan
dengan panjang garis pantai 81.000 km
merupakan kawasan pesisir dan lautan yang
memiliki berbagai sumber daya hayati dan nonhayati yang sangat besar. Lautan yang
merupakan 70% dari luasan total negara,
menyimpan banyak potensi yang dapat
dimanfaatkan. Salah satunya adalah komoditas
garam. Posisi sebagai negara kepulauan dengan
laut yang sangat luas menyebabkan setiap
daerah berpotensi untuk memproduksi garam,
tetapi sejak dahulu hanya beberapa daerah yang
dikenal sebagai produsen utama garam,
termasuk di dalamnya adalah Pulau Madura.
Sejak dahulu Pulau Madura dikenal
sebagai pulau garam. Sebenarnya istilah pulau
garam ini diambil dari komoditas potensial
yang ada di Madura. Pada saat ini madura
menghasilkan sekitar 800.000 ton garam per
tahun atau sekitar 80% kebutuhan garam
konsumsi di Indonesia. Salah satu pemasok
garam terbesar untuk kebutuhan garam nasional
adalah Kabupaten Sumenep yang merupakan
wilayah paling timur dari pulau Madura,
dengan luasan usahatani garam sebesar 10.067
hektar. Selain itu menurut Disperindag
Kabupaten Sumenep (2010) di wilayah ini juga
terdapat beberapa perusahaan diantaranya PT.
Budiono, PT. Pilar Raya, PT. Garindo, dan PT.
Garam. Keberadaan lembaga tersebut bagi
petani sangat penting, karena kelembagaan ini

73

Analisis Pemasaran Garam ...

73 81

(Try S., Elys Fauziyah, Fuad Hasan)

cuaca (Kementrian Kelautan dan Perikanan,


2010).
Permasalahan yang dihadapi oleh
pegaram secara nasional juga dihadapi oleh
pegaram yang ada di Desa Kertasada
Kabupaten Sumenep. Petani garam, berada
dalam posisi lemah dalam proses penetapan
kualitas dan harga di setiap pedagang. Pulau
penghasil garam terbesar di Indonesia ini tidak
mampu memenuhi stok garam nasional. Tidak
hanya karena cuaca yang kurang baik namun
keprihatinan terjadi saat musim panen harga
pun sangat fluktuatif. Petani garam tidak
mengetahui
secara
pasti
spesifikasi
teknis/kelas/grade mutu garam berdasarkan
Standart Nasional (SNI) dan tidak mengetahui
bagaimana harga patokan garam yang
ditetapkan, pada umumnya harga ditingkat
petani garam di tentukan oleh tengkulak.
Berdasarkan latarbelakang tersebut
diatas, penelitian ini bertujuan untuk : (1)
Mengetahui bentuk saluran pemasaran garam,
(2) Menganalisis marjin pemasaran garam
untuk pegaram dan lembaga pemasaran yang
terlibat dalam pemasaran garam, dan (3)
Menganalisis efisiensi pemasaran pada
pemasaran garam di daerah penelitian

a. Analisis Margin Pemasaran


Analisis margin di gunakan untuk mengukur
jumlah keuntungan yang diperoleh masingmasing lembaga pemasaran. Dengan analisis
margin juga dapat diketahui bagian (share)
yang di terima petani (Azaino,1981). Secara
matematis rumus analisis margin adalah :

Metodologi Penelitian

c. Share Biaya Pemasaran dan Share


Keuntungan
Persentase biaya pemasaran dan persentase
keuntungan yang di peroleh lembaga
pemasaran di tentukan dengan memakai rumus
sebagai berikut :

MP = Pr Pf ..(1)
Keterangan: MP = marjin pemasaran (Rp/ton);
Pr = harga konsumen (Rp/ton); Pf = harga
produsen (Rp/ton)
b. Share Harga yang diterima Petani
Salah satu ukuran yang perlu diperhatikan
dalam analisis margin adalah persentase bagian
yag diterima produsen dari harga konsumen
akhir. Untuk menentukan persentase harga
yang di terima produsen dari harga konsumen
akhir di gunakan rumus :
SPF=Pf/Pr..(2)
Keterangan: SPf = share harga di tingkat
petani; Pf = harga di tingkat petani; Pr = harga
di tingkat konsumen.

Metodologi Penentuan Lokasi dan Sampel


Lokasi penelitian dipilih secara sengaja
(purposive) yaitu di Desa Kertasada,
Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep.
Pemilihan lokasi penelitian dikarenakan di
Desa Kertasada, merupakan salah satu sentra
daerah penggaraman di Kabupaten Sumenep.
Pengambilan sampel Pegaram dilakukan
dengan cara acak sederhana (simple random
sampling), dengan jumlah sampel sebesar 35
pegaram. Sedangkan untuk analisis saluran
pemasaran penentuan sampelnya dilakukan
secara snowball sampling.

Sbi =(bi/Pr) x 100%.....................................(3)


Ski =(ki/Pr) x 100%....................................(4)
Keterangan: Ski = share keuntungan lembaga
pemasaran ke i; Sbi = share biaya pemasaran
ke i.
d. Distribusi marjin pemasaran
DM=(Mi/Mtot) x 100% ...............................(5)

Metode Analisis Data


Untuk menjawab tujuan pertama
dilakukan dengan cara analisis kualitatif yaitu
menelusuri lembaga-lembaga pemasaran yang
terlibat dalam kegiatan pemasaran komoditas
garam mulai dari pegaram sampai konsumen.
Sedangkan tujuan kedua dianalisis secara
kuantitatif dengan rumus sebagai berikut :

Keterangan
:
DM=Distribusi
Marjin;
Mi=Marjin pemasaran kelompok lembaga
pemasaran; i = 1 (pedagang pengumpul); i = 2
(pedagang pengecer) Mtot = M1 + M2 +
+ Mn.
Tujuan ketiga dianalisis dengan kreteria
sebagai berikut :

74

EMBRYO VOL. 8 NO. 2

DESEMBER 2011

ISSN 0216-0188

Tabel 1. Model Analisis dan Alat Ukur yang Digunakan dalam Pengukuran Efisiensi
Pemasaran
Kriteria
No
Model Analisis
Alat Ukur
Efisien
Tidak Efisien
Sedikit
Banyak
1
Struktur Pasar
a. Jumlah pembeli
(pedagang)
Sedikit
Banyak
b. Jumlah penjual
(petani)
Sulit
Mudah
c. Kemudahan
Memasuki Pasar
Ada
Tidak ada
d. Kolusi antar
pedagang
Terkonsentrasi
Tidak
e. Konsentrasi pasar
terkonsentrasi
Tidak
Berdasarkan
2
Perilaku Pasar
a. Penentuan harga
berdasarkan
standarisasi
standarisasi
Ditentukan oleh
b. Pembentukan harga Tidak
pedagang
ditentukan oleh
pedagang
c. Praktek tidak jujur
Ada
Tidak ada
Tidak
Menggunakan
3
Penampilan Pasar
a. Teknologi
teknologi
Kecil apabila
Besar apabila
b. Distribusi margin
fungsi
fungsi
pemasaran yang pemasaran yang
dilakukan sedikit
dilakukan
banyak
Adil
Belum adil
c. Share petani
Sumber : Indrian (2006)
produsen tidak mampu menanggung biaya
besarnya distribusi dan pengolahan. Hal ini
juga terjadi pada aliran pemasaran garam di
Desa
Kertasada
Kecamatan
Kalianget
Kabupaten Sumenep. Saluran pemasaran garam
melibatkan beberapa lembaga pemasaran. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa saluran
pemasaran untuk komoditas garam rakyat di
Desa
Kertasada
Kecamatan
Kalianget
Kabupaten Sumenep hanya tersusun dari satu
saluran pemasaran yaitu:

Hasil dan Pembahasan


Saluran Pemasaran Garam
Saluran pemasaran adalah organisasi
suatu produk atau lembaga pemasaran yang
terlibat dalam proses penyaluran pemasaran
suatu produk dan jasa, sehingga produk dan
jasa menjadi tersedia untuk digunakan atau
dikonsumsi oleh konsumen. Sebagian besar
produsen yang membuat suatu produk tidak
menjual secara langsung produknya kepada
konsumen akhir, hal ini disebabkan karena

 







 

Gambar 1. Saluran Pemasaran Garam di Desa Kertasada


Kondisi
dari
masing-masing
lembaga
pemasaran yang ada pada saluran pemasaran
garam rakyat dijelaskan sebagai berikut :

1. Pegaram
Ada beberapa kriteria penentuan pegaram yang
dijadikan sebagai responden dalam menentukan

75

Analisis Pemasaran Garam ...

73 81

saluran pemasaran yaitu pegaram yang


melakukan kegiatan produksi dan pemasaran
dengan lahan yang dimiliki sendiri sewa dan
bagi hasil sedangkan pegaram yang hanya
sebagai penggarap saja tidak dapat dijadikan
responden, karena pegaram tersebut hanya
melakukan kegiatan produksi sedangkan proses
transaksi dilakukan oleh pemilik lahan. Dalam
proses transaksinya Pegaram menjual garam ke
Tengkulak dalam bentuk curah dan yang
kemudian dikemas oleh Tengkulak dalam
karung 50 kg. Pegaram yang ada di desa
Kertasada di kategorikan dalam 3 kelompok :
Kelompok
pegaram
yang
memiliki
hubungan dengan tengkulak.
Beberapa karakteristik pegaram dalam kategori
ini adalah : (a) Pegaram mendapatkan pinjaman
modal yang di pergunakan untuk kegiatan
proses produksi, (b) Pegaram yang menjual
outputnya ke pegaram yang memberikan
pinjaman modal dan, (c) Pegaram yang tidak
bisa menjual pada tengkulak lain yang
memberikan nilai jual lebih tinggi. Bentuk
transaksi
seperti
ini
sangat
tidak
menguntungkan bagi pegaram, karena harga
yang di berikan pada pegaram lebih rendah dari
harga normal. Dalam proses pemasarannya
pegaram memiliki hubungan yang baik
(kekerabatan) dengan tengkulak, sehingga
seringkali pegaram tidak menjual kepada
tengkulak lain walau harga yang ditawarkan
lebih tinggi. Pegaram akan memilih menjual
produknya pada tengkulak yang selama ini
menampung hasil usahataninya. Selain percaya,
dengan adanya kedekatan keluarga timbul rasa
tidak enak jika harus menjual ke tengkulak lain.
Kelompok pegaram yang ikut dalam
Organisasi APGAT
Organisasi pegaram yang ada di Desa
Kertasada dikenal dengan nama APGAT
(Asosiasi Pegaram Garam Kertasada), yang
berfungsi menjadi wadah aspirasi pegaram
dalam melakukan kegiatan produksi serta
pemasaran. Dalam proses pemasarannya
APGAT ini memberikan arahan, saran dalam
melakukan transaksi tengkulak. Saran-saran
yang diberikan ini yaitu informasi-informasi
seperti harga dari masing-masing tengkulak
dengan perbedaan harga yang ditawarkan pada
pegaram sehingga dalam pemasarannya
pegaram dapat memilih tengkulak yang
memberikan harga yang lebih tinggi
dibandingkan dengan tengkulak lainnya.

(Try S., Elys Fauziyah, Fuad Hasan)

Kelompok pegaram yang tidak memiliki


hubungan dengan tengkulak dan tidak ikut
organisasi
Pegaram yang termasuk dalam kategori ini
memiliki kebebasan dalam membuat keputusan
untuk memasarkan garam. Namun pada
kategori ini tidak lantas membuat pegaram ini
mendapatkan harga yang menguntungkan. Hal
itu disebabkan karena pegaram tidak
mempunyai informasi yang akurat di
bandingkan dengan informasi dari APGAT,
sehingga posisi tawar pun tidak kuat.
2. Tengkulak
Dalam memperoleh bahan baku garam pabrik
tidak secara langsung mendapatkan dari
pegaram. Pabrik memperoleh garam dari
tengkulak. Tidak semua tengkulak garam dapat
menjual produk dimiliki ke pabrik. Hal itu
disebabkan karena pabrik hanya menerima
garam dari tengkulak yang sudah memiliki
badan usaha berupa UD, CV dan PT. Selain itu,
pihak pabrik garam mensyaratkan volume
pasok garam harus jumlah yang besar. Dengan
adanya ketentuan tersebut artinya para pegaram
tidak dapat langsung menjual garam pada
gudang/pabrik. Ada tiga badan usaha yang
bertindak penyetok garam pada pabrik garam
pada pabrik garam yaitu : (1) UD. Ahmad
Dewa, (2) UD. Eka Jaya, dan (3) UD. Tani
Garam. Keberadaan pabrik garam memberikan
kemudahan bagi tengkulak untuk menjual
garamnya karena pihak pabrik memberikan
bantuan operasional untuk mengangkut garam
yang dibeli dari tengkulak sehingga dapat
menghemat biaya.
3. Pabrik
Dalam saluran pemasaran garam di Desa
Kertasada terdapat 2 pabrik yang terlibat yaitu
PT. Garindo dan PT. Budiono. Sedangkan PT.
Garam tidak bisa menampung garam yang di
hasilkan oleh pegaram karena kualitas yang
disyaratkan oleh PT. Garam yaitu KP I
(kualitas baik sekali), yang tidak bisa dipenuhi
oleh masyarakat pegaram. Dalam hal ini tentu
PT. Garindo dan PT. Boediono sangat
dibutuhkan guna menampung hasil produksi
garam rakyat oleh pegaram yang sudah melalui
tengkulak. PT. Garindo dan PT. Boediono ini
merupakan cabang perusahaan yang berada di
Gresik. Fungsi dari Kedua Pabrik ini yaitu
hanya untuk menampung garam dari tengkulak
yang ada di Kecamatan Kalianget. Namun
sebelum didistribusikan ke Perusahaan yang
ada di gresik garam terlebih dahulu sudah

76

EMBRYO VOL. 8 NO. 2

DESEMBER 2011

ISSN 0216-0188

yodium. Proses transaksi ini dimana konsumen


terakhir dapat langsung membeli kepada
pengecer yang dekat. Fungsi pemasaran juga
tidak banyak yang dilakukan hanya transportasi
untuk membeli produk pada agen.

melalui proses pencucian yang berguna untuk


mengurangi kandungan senyawa yang tidak
dibutuhkan dalam syarat bahan baku industri
maupun garam konsumsi.
4. Agen
Fungsi agen adalah menjual produk olahan
pabrik yang siap untuk di konsumsi. Saluran
pemasaran ini tidak rumit karena dalam proses
pemasarannya dapat dilakukan dengan dua cara
yaitu para pengecer mendatangi langsung pada
pihak agen dalam melakukan transaksi, atau
agen ini yang dapat mendatangi langsung para
toko/pengecer dalam melakukan transaksi
garam. Dalam saluran pemasaran mereka hanya
melakukan
kegiatan
penyimpanan
dan
transportasi. Produk garam yang di jual pun
juga merupakan produk garam yang dihasilkan
oleh pabrik. Tidak ada penambahan atau
inovasi yang dilakukan, karena agen ini
merupakan penyalur dari pabri ke pengecer.
5. Pengecer
Lembaga pemasaran ini merupakan rantai
terakhir dalam pemasaran garam. Sasaran dari
pembeli yaitu konsumen yang merasakan
langsung garam yang tadinya dalam bentuk
kasar dan masih karungan namun setelah
dilakukan proses pengolahan di pabrik garam
berubah dalam bentuk sachet yang telah
dihaluskan dan diberi tambahan obat berupa

Margin Pemasaran Garam


Marjin pemasaran sering digunakan sebagai
indikator efisiensi pemasaran. Besarnya marjin
pemasaran pada berbagai saluran pemasaran
dapat berbeda, karena tergantung pada panjang
pendeknya saluran pemasaran dan aktivitasaktivitas yang telah dilaksanakan serta
keuntungan yang diharapkan oleh lembaga
pemasaran yang terlibat dalam pemasaran.
Margin pemasaran garam rakyat dari petani
sampai ke pengecer seperti terlihat pada Tabel
2. Dalam pemasaran garam rakyat di Desa
Kertasada Kecamatan Kalianget ini bagian
yang di terima petani garam (farmers share)
sebesar 11%. Bagian yang diterima petani
garam (farmers share) ini sama dengan yang
diterima petani garam (Rp 220.000,-/ton)
dibagi dengan harga yang dibayarkan oleh
konsumen akhir atau harga di tingkat pengecer
(Rp 2.000.000,-/ton) dikalikan dengan 100%
dengan mengetahui bagian yang diterima petani
garam ini maka kita dapat melihat keterkaitan
antara pemasaran dan proses produksi.

Tabel 2. Margin Pemasaran , Distribusi Margin, dan Share pada Pemasaran Garam di Desa
Kertasada Tahun 2010
No Lembaga Pemasaran
Kode Nilai
Margin
Distribusi
Share (%)
dan Komponen Margin
(Rp/ton)
Margin (%)
1
Pegaram
220.000
11
a. Harga Jual
2
Tengkulak
220 000
a. Harga beli
0.35
0.39
7 000
b. Biaya pengemasan
0.4
0.45
8 000
c. Biaya bongkar muat
0.638
0.72
12 750
d. Biaya Transportasi
0.025
0.03
500
e. Biaya penyimpanan
1.588
1.78
31 750
f. Keuntungan
14
15.7
60 000
280 000
g. Harga jual
2

Pabrik
a. Harga beli
b. Biaya transportasi
c. Biaya bongkar muat
d. Biaya penyimpanan
e. Biaya pencucian
f. Biaya pengemasan
karung
g. Biaya penghalusan

280 000
157 750
5 500
1 888
53 833
6 000

8.86
0.31
0.11
3.02
0.34

7.888
0.275
0.094
2.692
0.3

72 000

4.04

3.6

77

Analisis Pemasaran Garam ...

h.
i.
j.
k.

Biaya obat-obatan
Biaya pengemasan dos
Keuntungan
Harga jual

Agen
a. Harga beli
b. Biaya transportasi
c. Keuntungan
d. Harga jual
4
Pengecer
a. Harga beli
b. Keuntungan
c. Harga jual
Sumber : Data Mentah Diolah (2011)

73 81

(Try S., Elys Fauziyah, Fuad Hasan)

160 000
182 000
643 278
1 562 500

8.99
10.2

8
9.113

36.1

32.16
78.13

6.32
3.51

86.88
5.625
3.125

14.7

13.13
100

1 282 500

1 562 500
112 500
62 500
1 737 500

175 000

1 737 500
262 500
2 000 000

262 500

dan retribusi, sehingga terbentuk margin yang


besar dari pabrik. Sedangkan Share keuntungan
paling besar diterima oleh Pabrik (32,16%),
kemudian secara berturut-turut diterima oleh
Pengecer (13,13%) dan Agen (3,13%).

Jika dilihat pada Tabel 2 margin yang


terbentuk sebesar (Rp 1.780.000,-/ton) dengan
selisih dari harga beli konsumen akhir (Rp
2.000.000,-/ton) dan harga yang diterima
pegaram yaitu sebesar (Rp 220.000,-/ton).
Distribusi margin yang panjang terletak
dilembaga pemasaran pabrik, karena pabrik
melakukan banyak sekali fungsi pemasaran
yang terdiri dari : proses transportasi, bongkar
muat, penyimpanan, pencucian, pengemasan
karung dan dus, pengalusan, pemberian obat

Efisiensi Pemasaran Garam


Struktur, perilaku, dan penampilan pasar garam
di Desa Kertasada dapat dijelaskan dalam
Tabel 3 berikut :

Tabel 3. Struktur, perilaku, dan penampilan pasar garam di Desa Kertasada Tahun 2011
Kreteria
Model
Alat Ukur
Kondisi lapang
Efisien
Tidak
Efisiensi
Sedikit
Sedikit
Banyak
Struktur Pasar
a. Jumlah pembeli
(pedagang)
b. Jumlah penjual
Banyak
Sedikit
Banyak
(petani)
c. Kemudahan
Sulit
Sulit
Memasuki Pasar Mudah
d. Kolusi antar
pedagang
Ada
Ada
Tidak ada
e. Konsentrasi
pasar
Tidak
terkonsentrasi Terkonsentrasi terkonsentrasi
Terdapat standar
Perilaku Pasar
a. Penentuan harga Berdasarkan
Tidak
berdasarkan
standarisasi
standarisasi
Ditentukan oleh
b. Pembentukan
pedagang
harga
Ditentukan
Tidak
oleh pedagang
ditentukan
Ada
c. Praktek tidak
oleh
Ada
pedagang
jujur

78

EMBRYO VOL. 8 NO. 2

Penampilan Pasar

DESEMBER 2011

a.

Teknologi

b.

Distribusi
margin

c.

Share petani

Tidak ada
Menggunakan
teknologi
Besar apabila
fungsi
pemasaran
yang
dilakukan
banyak

ISSN 0216-0188

Tidak
Kecil apabila
fungsi
pemasaran
yang
dilakukan
sedikit

Menggunakan
teknologi
Kecil

Belum adil

Adil
Belum adil

Sumber : Data Mentah Diolah (2011)


Tabel 4. Struktur Pasar garam di Desa Kertasada Tahun 2011.
Tingkat
Jumlah Penjual
Jumlah
Differensiasi
Hambatan
Pasar
Pembeli
Produk
Keluar masuk
pasar
Pegaram
35
3
Tidak ada
Ada
Tengkulak
3
2
Tidak ada
Ada
Sumber : Data Mentah Diolah

Monopsoni
Monopsoni

mendapatkan garam dari pegaram hal ini


disebabkan para pegaram sebagian besar terikat
secara tidak formal dengan tengkulak lain yang
sudah lama memiliki ikatan dengan mereka.
Selain itu terdapat kolusi yang dilakukan oleh
para Pedagang, ini terlihat dari kondisi dimana
pabrik memberikan ketentuan untuk memasok
garam harus mempunyai badan hukum. Hal itu
tentu merugikan pegaram yang tidak dapat
memasok garam langsung ke pabrik.
Untuk menganalisis perilaku pasar
dapat digunakan pendekatan kualitatif yang
dapat dilihat dari proses
penentuan dan
pembentukan harga dan ada atau tidaknya
praktek pemasaran yang tidak jujur. Proses
penentuan harga garam petani diatur dalam
ketentuan
PERATURAN
MENTERI
PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
:
44/MDAG/PER/1012007
TENTANG
PERUBAHAN
ATAS
PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN
NOMOR 20/M-DAG/PER/9/2005 TENTANG
KETENTUAN IMPOR GARAM dalam Pasal
1 ayat 2 dimana KP1 dan KP2 adalah
pengelompokan jenis garam petani untuk
penentuan harga penjualan garam di tingkat
petani. Sedangkan pembentukan harga garam
terdapat pada PERATURAN MENTERI
PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR
:
44/MDAG/PER/1012007
TENTANG
PERUBAHAN
ATAS

Struktur pasar dapat dianalisa secara


kualitatif maupun kuantitatif. Analisa kualitatif
dapat dilihat dari jumlah penjual dan pembeli,
diferensiasi produk dan hambatan keluar masuk
pasar.
Sedangkan
analisa
kuantitatif
menggunakan analisa konsentrasi ratio. Analisa
Kualitatif struktur pasar garam ditunjukkan
dalam Tabel 4.
Jika dilihat dari jumlah penjual dan
pembeli yang tidak sebanding, maka pemasaran
garam di Desa Kertasada Kecamatan Kalianget
dikategorikan sebagai pasar tidak efisien,
karena beberapa tingkat pasar ini hampir
semuanya mengarah pada pasar monopsoni.
Sedangkan kalau dilihat dari aspek differensisi
produk, tidak ada perubahan bentuk yang
dapat menciptakan nilai tambah dari garam
yang dilakukan oleh lembaga-lembaga
pemasaran yang terlibat dalam pemasaran
garam di Desa Kertasada Kecamatan Kalianget.
garam yang dihasilkan pegaram seluruhnya
dijual dalam bentuk karungan tanpa
pengubahan nilai tambah. Sedangkan hambatan
keluar masuk pasar dapat dilihat dari kondisi
dimana pegaram yang memiliki hubungan
seperti pinjaman kepada tengkulak, tidak dapat
memilih menjual garam kepada tengkulak yang
dapat memberikan harga yang lebih baik.
Sedangkan dalam pasar, antara tengkulak juga
tidak dapat keluar masuk pasar secara bebas,
karena tengkulak tidak mudah untuk

Struktur
Pasar

79

Analisis Pemasaran Garam ...

73 81

(Try S., Elys Fauziyah, Fuad Hasan)

oleh petani kecil, untuk mengatasi hal tersebut


pegaram dapat memaksimalkan fungsi Asosiasi
ini yaitu dengan cara mengganti posisi
pedagang dengan Asosiasi. Asosiasi ini dapat
membentuk badan hukum
yang dapat
menaikkan posisi tawar terhadap pabrik.

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN


NOMOR 20/M-DAG/PER/9/2005 TENTANG
KETENTUAN IMPOR GARAM terdapat pada
pasal 3 ayat 7 dimana Harga garam KP1 dan
KP2 ditetapkan oleh Direktur Jenderal
berdasarkan
kesepakatan
instansi/asosiasi
terkait. Di dalam proses pemasaran garam
terdapat praktek tidak jujur, hal ini terlihat dari
kejadian dimana pegaram yang memiliki
hubungan dengan tengkulak menetapkan harga
garam di bawah strandar yang telah ditentukan
oleh pemerintah.
Dalam penelitian ini penampilan pasar
dalam pemasaran garam digunakan indikator
teknologi analisis marjin pemasaran, distribusi
marjin, share harga yang diterima pegaram.
Teknologi ini merupakan metode atau alat yang
digunakan oleh setiap lembaga pemasaran yang
dapat
membantu
mempermudah
dan
mengefisienkan biaya yang harus dikeluarkan.
Dari segi pemasaran untuk pendistribusian
barang dari pegaram sampai terdistribusi ke
konsumen akhir dibantu alat transportasi
berupa truk. Sedangkan di pabrik teknologi
digunakan untuk pencucian, penghalusan dan
pengemasan. Sedangkan dari sisi distribusi
margin lembaga pemasaran yang banyak
melakukan fungsi pemasaran mendapatkan
distribusi margin yang terbesar dalam
penelitian ini distribusi margin yang terbesar
diterima oleh pabrik garam. Dari aspek share
pegaram, mereka hanya menerima sebesar
11%, ini lebih kecil dibandingkan dengan share
yang diterima oleh pabrik atau tengkulak.

Daftar Pustaka
Aboot, M. 1981. Agricultural Economic and
Marketing in The Tropic. Longman
Group Ltd. Essex.
Aprianto. 2006. Analisis Pemasaran Gula
Merah Kelapa. [Skripsi] Jurusan
SosialEkonomi Fakultas Pertanian.
Universitas Brawijaya, Malang.
Asih, N. 2002. Analisis Pemasaran Makanan
Tradisional Getuk Goreng. Skripsi
Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas
Pertanian. Universitas Brawijaya,
Malang.
Azaino, Z . 1981. Pengantar Tataniaga Hasil
Pertanian.
Departemen
ilmuilmusocial ekonomi pertanian. IPB
Bogor.
Kottler, Philip. 1997. Marketing Management
Analysis, Planning, Implementation
and Control. New Jersey: Prentice
Hall Internasional inc. 9 thn edition.
Limbong dan Sitorus. 1985. Pengantar Tata
Niaga Pertanian. IPB Bogor

Simpulan
1. Hanya ada satu Saluran pemasaran garam
di Desa Kertasada yaitu: Petani
Tengkulak Pabrik Agen Pengecer
Konsumen
2. Marjin pemasaran untuk saluran pemasaran
garam sebesar Rp 1.780.000,-/ton, dengan
distribusi margin terbesar ada di lembaga
pemasaran pabrik garam.
3. Berdasarkan analisis efisiensi pemasaran
dengan pendekatan SCP (Structure,
Conduct, Performance) disimpulkan bahwa
pemasaran garam di Desa Kertasada
Kecamatan Kalianget tidak efisien.

Masrofie.

1994. Pengantar Tata


Pertanian. IPB Bogor

Marihati

dan
Prasetya.2003.
Profil
Penggaraman
di
II
Daerah
Penghasil Garam Rakyat dan
Upaya Yang Perlu Dilakukan Guna
Meningkatkan Mutu Produk Garam
Beryodium. [skripsi].Vol 4, No.2,
April 32 Jurnal Gaky Indonesia
(Indonesia Jurnal Of IDD) IL 2003.
(http://google.com) diakses pada
Minggu 16 Januari 2011.

Saran
Saluran pemasaran garam pada penelitian
cukup panjang, sedangkan share yang diterima

Syafii, Achmad. 2006. Potret Pemberdayaan


Petani
Garam
(Implementasi

80

Niaga

EMBRYO VOL. 8 NO. 2

Konsep Strategi)
Press Surabaya
Suryani

DESEMBER 2011

ISSN 0216-0188

Nasional.
Prosiding
Seminar
Nasional Teknik Industri dan
manajemen
produksi
Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, 2021 juni Surabaya.

.[skripsi].untag

dan Wirjodirdjo.2001. Scenario


Kebijakan Pengembangan Garam

81