Anda di halaman 1dari 10

SUBSISTEM AGRIBISNIS PEMASARAN USAHATANI CENGKEH

(Tugas Struktur Manajemen Agribisnis)

Oleh

Nurul Umi Apriliani


1714131023

JURUSAN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2019
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Indonesia memiliki potensi alamiah yang tinggi untuk mengembangkan


sektor pertanian. Salah satu sub-sektor pertanian yang perlu terus
dikembangkan adalah sub sektor perkebunan. Potensi yang perlu
dikembangkan berkenan dengandiversifikasi komoditi khususnya di bidang
perkebunan adalah komoditi cengkeh baik di pasar domestik maupun di pasar
internasional mempunyai prospek yang cerah antara lain ditandai dengan
terus meningkatnya nilai ekspor komoditi cengkeh secara nasional, sehingga
memberikan dan menambah devisa bagi negara (Goenadi, dkk, 2005).

Cengkeh memegang peranan penting dalam pembangunan perkebunan


khususnya dan pembangunan nasional pada umumnya. Kontribusi cengkeh
yang nyata dalam penyediaan kebutuhan bahan baku terutama bagi industri
rokok kretek, peningkatan pendapatan petani, peningkatandevisa negara,
penyediaan kesempatan kerja ditingkat on farm, industri farmasi dan
perdagangan serta sektor informal, saat ini sebagian besar hasil cengkeh
(95%) digunakan sebagai bahan baku pembuatan industri rokok kretek
(PRK), sisanya untuk memenuhi kebutuhan industri makanan dan obat–
obatan, oleh karenanya tidak dapat disangka bahwa peran cengkeh dalam
perekonomian nasional cukup besar (Nurdjanna, 2007).

Kondisi cengkeh di tingkat nasional mengalami pasang surut mengingat


fluktuasi harga cengkeh yang cukup besar dan biaya panen dan pengolahan
cukup tinggi, sementara itu di sisi teknis tanaman cengkeh mempunyai
karakteristik yang khas yaitu adanya panen besar diikuti panen kecil pada
tahun berikutnya serta panen raya pada periode tertentu. Panen besar atau
panen raya harga cenderung menurun yang mengakibatkan petani merugi dan
kemudian tidak memelihara tanamannya. Hal tersebut mengakibatkan
pertanaman kurang baik dan produksi rendah (Siregar,2011).

1.2 Tujuan

Tujuannya untuk mengetahui subsistem agribisnis pemasaran pada usahatani


cengkeh.
II. ISI

2.1 Sistem Agrbisnis


Agribisnis sebagai suatu sistem adalah agribisnis merupakan seperangkat
unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu
totalitas. Disini dapat diartikan bahwa agribisnis terdiri dari dari berbagai sub
sistem yang tergabung dalam rangkaian interaksi dan interpedensi secara
reguler, serta terorganisir sebagai suatu totalitas. Agribisnis adalah salah satu
kesatuan sistem yang terdiri dari beberapa subsistem yang saling terkait erat,
yaitu : subsistem penyediaan sarana produksi (saprodi), subsistem usahatani
(produksi), subsistem pasca panen dan pengolahan, subsistem pemasaran,
subsistem jasa dan penunjang (Kusumayana, 2016).
Adapun kelima mata rantai atau subsistem tersebut dapat diuraikan sebagai
berikut:

1. Subsistem Penyediaan Sarana Produksi


Sub sistem penyediaan sarana produksi menyangkut kegiatan pengadaan
dan penyaluran. Kegiatan ini mencakup Perencanaan, pengelolaan dari
sarana produksi, teknologi dan sumberdaya agar penyediaan sarana
produksi atau input usahatani memenuhi kriteria tepat waktu, tepat jumlah,
tepat jenis, tepat mutu dan tepat produk.

2. Subsistem Usahatani atau proses produksi


Sub sistem ini mencakup kegiatan pembinaan dan pengembangan
usahatani dalam rangka meningkatkan produksi primer pertanian.
Termasuk kedalam kegiatan ini adalah perencanaan pemilihan lokasi,
komoditas, teknologi, dan pola usahatani dalam rangka meningkatkan
produksi primer. Disini ditekankan pada usahatani yang intensif dan
sustainable (lestari), artinya meningkatkan produktivitas lahan semaksimal
mungkin dengan cara intensifikasi tanpa meninggalkan kaidah-kaidah
pelestarian sumber daya alam yaitu tanah dan air. Disamping itu juga
ditekankan usahatani yang berbentuk komersial bukan usahatani yang
subsistem, artinya produksi primer yang akan dihasilkan diarahkan untuk
memenuhi kebutuhan pasar dalam artian ekonomi terbuka

3. Subsistem Agroindustri/pengolahan hasil


Lingkup kegiatan ini tidak hanya aktivitas pengolahan sederhana di tingkat
petani, tetapi menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan
pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan
dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi
primer tersebut. Dengan demikian proses pengupasan, pembersihan,
pengekstraksian, penggilingan, pembekuan, pengeringan, dan peningkatan
mutu.

4. Subsistem Pemasaran
Sub sistem pemasaran mencakup pemasaran hasil-hasil usahatani dan
agroindustri baik untuk pasar domestik maupun ekspor. Kegiatan utama
subsistem ini adalah pemantauan dan pengembangan informasi pasar dan
market intelligence pada pasar domestik dan pasar luar negeri.

5. Subsistem Penunjang
Subsistem agribisnis yang terakhir adalah subsistem penunjang agribisnis,
yakni seluruh kegiatan yang menyediakan jasa bagi agribisnis seperti
lembaga keuangan, lembaga penelitian dan pengembangan, lembaga
transportasi, lembaga pendidikan serta adanya regulasi pemerintah yang
mendukung petani dan lain sebagainya. Subsistem ini merupakan
penunjang kegiatan pra panen dan pasca panen yang meliputi:
a. Sarana Tataniaga
b. Perbankan/perkreditan
c. Penyuluhan Agribisnis
d. Kelompok tani
e. Infrastruktur agribisnis
f. Koperasi Agribisnis
g. BUMN
h. Swasta
i. Penelitian dan Pengembangan
j. Pendidikan dan Pelatihan
k. Transportasi
l. Kebijakan Pemerintah

1.2 Subsistem Pemasaran Komoditas Cengkeh

1. Saluran Pemasaran Cengkeh


Terdapat tiga saluran pemasaran komoditas cengkeh olahan kering.
Dimana dalam saluran pemasaran tersebut merupakan sekelompok
lembaga yang mengadakan kerjasama untuk mencapai suatu tujuan, yaitu
untuk memperoleh keuntungan. Pada masing-masing saluran pemasaran
tersebut terlibat beberapa lembaga pemasaran seperti: pedagang penyotek,
pedagang pengumpul dan pedagang antar pulau. Ketiga saluran pemasaran
tersebut yaitu :
a. Saluran satu : Petani ke Pedagang Penyotek ke Pedagang Antar Pulau
b. Saluran dua : Petani ke Pedagang Penyotek ke Pedagang Pengumpul ke
Pedagang antar pulau
c. Saluran tiga : Petani ke Pedagang Pengumpul ke Pedagang antar pulau

2. Hambatan-Hambatan Dalam Pemasaran Cengkeh


Terdapat hambatan-hambatan yang dihadapi oleh petani dalam
berusahatani cengkeh, petani sering mengalami masalah yang dihadapi
oleh faktor alam yang meliputi: seringnya terjadi angin kencang pada saat
musim panen sehingga akan berpengaruh langsung terhadap produktivitas,
terjadinya hujan lebat pada saat musim panen sehingga berpengaruh
terhadap kualitas cengkeh karena proses penjemuran akan terganggu dan
cengkehpun menjadi rusak, dan yang sekarang sedang menjadi masalah
besar bagi petani cengkeh adalah serangan hama penggerek batang dan
akar (subatah malingan) yang sangat meresahkan petani. Walaupun
demikian, semua kendala tersebut bukan menjadi penghambat masuk
(entry) ke industri cengkeh.

Disisi lain petani juga sangat merasakan masalah dalam hal harga. Harga
yang dimaksud dalam hal ini adalah fluktuasi harga yang sangat tajam
bahkan pada bulan September 2008 dalam satu minggu bisa berfluktuasi
lebih kurang sebesar Rp 10.000,00/Kg, yaitu mulai dari harga Rp
56.125,00/Kg pada minggu ke empat bulan September turun menjadi Rp
46.400,00/Kg pada awal Oktober tahun 2008. Fluktusi yang tajam dan
dalam waktu yang singkat sangat sering terjadi pada perkembangan harga
cengkeh, dan ini sangat beresiko bagi petani, karena petani mayoritas
mengolah cengkehnya dalam bentuk olahan kering, sehingga mereka
menyimpan cengkehnya untuk dijual pada saat harga sedang dipuncak
untuk memperbanyak keuntungan, dan yang paling sering menjadi
masalah para petani tidak mengetahui pada saat mana harga itu dalam
keadaan puncak, apabila terjadi lonjakan harga terus mengarah ke
peningkatan, mereka hanya menunggu tanpa mengadakan transaksi, dan
akhirnya apabila lonjakan itu berhenti dan mengarah ke penurunan barulah
mereka melakukan penjualan, sehingga keuntungan yang diperoleh
menjadi berkurang.
III. KESIMPULAN

Kesimpulan yaitu pada subsistem pemasaran cengkeh terdapat beberapa


hambatan-hambatan yang dihadapi oleh petani yaitu faktor alam dan fluktuasi
harga yang tajam.
DAFTAR PUSTAKA

Arisena, Mekse Korri. 2009. Struktur Dan Perilaku Pasar Komoditas Cengkeh Di
Kecamatan Busungbiu Kabupaten Buleleng. Gane C Swara.Vol. 3 No.2
Firdaus, Muhammad. 2007. Manajemen Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta.
Muljana W. 2006. Bercocok Tanam Cengkeh. Semarang: CV Aneka Ilmu.
Soetriono. 2003. Pengantar Ilmu Pertanian. Fakultas Pertanian Universitas
Jember. Jember.
LAMPIRAN