Anda di halaman 1dari 55

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.

Pembukaan UUD 1945 menyebutkan bahwa tujuan negera adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejaheraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Oleh karena itu perlindungan segenap bangsa dan peningkatan kesejahteraan umum merupakan tanggung jawab Negara untuk mewujudkannnya. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah terjaminnya hak atas pangan bagi segenap rakyat yang merupakan hak asasi manusia yang sangat mendasar sehingga menjadi tanggung jawab Negara untuk memenuhinya. Untuk membangun ketahanan pangan, kemandirian pangan menuju kedaulatan pangan, perlu diupayakan melalui pelaksanaan pembangunan berkelanjutan. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah terjaminnya hak atas pangan bagi segenap rakyat yang merupakan hak asasi manusia yang sangat fundamental sehingga menjadi tanggung jawab negara untuk memenuhinya. Hal ini sejalan dengan ketentuan dalam Pasal 28A dan Pasal 28C Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan juga sesuai dengan Article 25 Universal Declaration of Human Rights Juncto Article 11 International Covenant on Economic, Social, and Cultural Right (ICESCR). Sejalan dengan itu, upaya membangun ketahanan dan kedaulatan pangan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat adalah hal yang sangat penting untuk direalisasikan. Dalam rangka mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan perlu diselenggarakan pembangunan pertanian berkelanjutan. Lahan pertanian memiliki peran dan fungsi strategis bagi masyarakat Indonesia yang bercorak agraris karena terdapat sejumlah besar penduduk Indonesia yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Dengan demikian, lahan tidak saja memiliki nilai ekonomis, tetapi juga sosial, bahkan memiliki nilai religius. Dalam rangka pembangunan pertanian yang berkelanjutan, lahan

2

merupakan sumber daya pokok dalam usaha pertanian, terutama pada kondisi yang sebagian besar bidang usahanya masih bergantung pada pola pertanian berbasis lahan. Lahan merupakan sumber daya alam yang bersifat langka karena jumlahnya tidak bertambah, tetapi kebutuhan terhadap lahan selalu meningkat. Alih fungsi lahan pertanian merupakan ancaman terhadap pencapaian ketahanan dan kedaulatan pangan. Alih fungsi lahan mempunyai implikasi yang serius terhadap produksi pangan, lingkungan fisik, serta kesejahteraan masyarakat pertanian dan perdesaan yang kehidupannya bergantung pada lahannya. Alih fungsi lahan-lahan pertanian subur selama ini kurang diimbangi oleh upaya-upaya terpadu mengembangkan lahan pertanian melalui pencetakan lahan pertanian baru yang potensial. Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian pangan menyebabkan makin sempitnya luas lahan yang diusahakan dan sering berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan petani. Oleh karena itu, pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan melalui perlindungan lahan pertanian pangan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan, dalam rangka meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya. Ditengah besarnya tanggung jawab pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan, pembangunan pertanian menghadapi permasalahan dan tantangan yang sangat besar terutama tingginya alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian sebagai akibat pertambahan penduduk. Kondisi geografi Kabupaten Cianjur menjadi suatu aspek penting dalam perencanaan pembangunan Kabupaten Cianjur berkaitan dengan potensi yang dapat dikedepankan.Potensi pengembangan wilayah didasarkan pada hasil analisis terhadap kondisi wilayah dan berbagai kemungkinan perkembangan di masa mendatang. Beberapa kondisi umum geografis daerah yang dipertimbangkan antara lain meliputi letak, luas, dan batas wilayah; kondisi geografi beberapa bagian wilayah; karakteristik topografi, klimatologi, kondisi geologis, dan jenis tanah; serta sumberdaya air berdasarkan hidrogeologi. Untuk kepentingan perencanaan pembangunan, maka perlu diperhatikan potensi wilayah sebagaimana diutarakan di atas dan sebaliknya persoalan pengembangan wilayah yang dapat

3

menghambat proses pengembangan wilayah atas pengaruh negatifnya pada upaya peningkatan akselerasi pertumbuhan wilayah Kabupaten Cianjur. Secara geografis Kabupaten Cianjur terletak di tengah Propinsi Jawa Barat, diantara 6021‟ - 7025‟ Lintang Selatan dan 106042‟ - 107025‟ Bujur Timur. Wilayah Kabupaten Cianjur memiliki luas kurang lebih 361.435 Ha (sumber :

RTRW Provinsi Jawa Barat), Kabupaten Cianjur juga terbagi dalam 3 wilayah yaitu Wilayah Utara,Wilayah Tengah dan Wilayah Selatan dengan jumlah kecamatan sebanyak 32 Kecamatan, jumlah desa sebanyak 354 desa dan jumlah kelurahan sebanyak 6 kelurahan yang berada diwilayah kota Cianjur. Secara administratif Kabupaten Cianjur berbatasan dengan :

- Sebelah utara adalah Wilayah Kabupaten Bogor dan Purwakarta;

- Sebelah barat adalah Wilayah Kabupaten Sukabumi;

- Sebelah selatan adalah Samudera Indonesia; dan

- Sebelah timur adalah Wilayah Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung, dan Garut. Secara geografis wilayah Kabupaten Cianjur terbagi dalam 3 bagian :

Wilayah Cianjur Utara, Wilayah Cianjur Tengah, dan Wilayah Cianjur Selatan. Wilayah Cianjur Utara yang merupakan dataran tinggi terletak di kaki Gunung Gede dengan ketinggian sekitar 2.962 m di atas permukaan laut. Wilayahnya juga meliputi daerah Puncak dengan ketinggian sekitar 1.450 m, Kota Cipanas (Kecamatan Cipanas dan Pacet) dengan ketinggian sekitar 1.110 m, serta Kota Cianjur dengan ketinggian sekitar 450 m di atas permukaan laut. Sebagian wilayah ini merupakan dataran tinggi pegunungan dan sebagian lagi merupakan perkebunan dan persawahan. Di bagian barat dekat zona Bogor terdapat Gunung Salak dengan ketinggian 2.21 m yang merupakan gunung api termuda yang sebagian besar permukaannya ditutupi bahan vulkanik. Wilayah Cianjur Tengah merupakan perbukitan, tetapi juga terdapat dataran rendah persawahan, perkebunan yang dikelilingi oleh bukit - bukit kecil yang tersebar dengan keadaan struktur tanahnya yang labil. Wilayah Cianjur Selatan merupakan dataran rendah yang terdiri dari bukit - bukit kecil dan diselingi oleh pegunungan - pegunungan yang melebar ke Samudra Indonesia, di antara bukit - bukit dan pegunungan

4

tersebut terdapat pula persawahan dan ladang huma. Dataran terendah di selatan Cianjur mempunyai ketinggian sekitar 7 m di atas permukaan laut. Dengan karakteristik wilayah yang beragam, Kabupaten Cianjur menyimpan potensi sumber daya alam yang sangat besar dalam membangun wilayahnya.Setiap bagian wilayah memiliki kekhasan yang dapat dimanfaatkan melalui pengembangan potensi dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakatnya.Namun kondisi tersebut tidak terlepas pula dari permasalahan yang dibatasi oleh kondisi geografis yang memiliki kerentanan dan kelabilan tanah, sehingga dalam pengelolaannya diperlukan strategi yang tepat.Wilayah utara Kabupaten Cianjur letaknya sangat strategis dan berkembang cepat.Di samping berada pada jalur pariwisata Puncak, Kota Cianjur dilalui oleh jalur regional Bandung - Jakarta dan sebaliknya.Wilayah selatan Kabupaten Cianjur belum berkembang seperti di bagian utara. Dengan posisinya yang berada pada lintasan antara ibukota negara dan ibukota propinsi telah memberikan implikasi positif terhadap kegiatan perekonomian masyarakat Kabupaten Cianjur, khususnya yang berada pada lintasan jalur regional maupun pengembangan wilayah secara keseluruhan. Hal ini ditunjukkan dengan berkembangnya berbagai kegiatan yang bersifat komersial dan menjadi mata pencaharian andalan masyarakat sekitar. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa sistem ketahanan pangan mencakup empat aspek penting yaitu: ketersediaan, distribusi, cadangan pangan, konsumsi di tingkat rumah tangga, peran Pemerintah serta masyarakat dalam sistem ketahanan pangan. Pemerintah melalui Peraturan Pemerintah nomor 68 tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan mengatur berbagai hal tentang system ketahanan pangan, termasuk peran Pemerintah Daerah (khususnya kabupaten) untuk menciptakan ketahanan pangan nasional. Peran pemerintah daerah menjadi sangat penting artinya karena sistem ketahanan pangan yang baik harus dibangun berlandaskan kemampuan sumberdaya lokal (daerah) dalam mencukupi kebutuhan pangan nasional.Hingga saat ini kemampuan sumberdaya lokal dalam mendukung sistem ketahanan pangan masih harus dioptimalkan agar dapat lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

5

Salah satu pendekatan wilayah basis pengembangan bahan pangan di kabupaten adalah dalam satuan wilayah kecamatan.Satu kecamatan dipandang sebagai satu kesatuan wilayah pengembangan yang memiliki keunggulan kompetitif untuk menghasilkan satu atau beberapa komoditi pangan. Beberapa kecamatan dengan daya dukung agroekologi yang sesuai akan menjadi penyumbang utama ketersediaan bahan pangan di suatu kabupaten. Konsentras wilayah pengembangan komoditas utama di beberapa kecamatan sentra (basis) dengan kondisi agroekologi yang sesuai akan mempermudah pengembangan komoditikomoditi tersebut. Pengetahuan tentang lokasilokasi (kecamatan) basis akan mempermudah kemungkinan pengembangan untuk memenuhi target kenaikan produksi dengan investasi yang lebih efisien. 1 Mengingat dampak yang ditimbulkan oleh adanya konversi lahan yang begitu luas, perlu kiranya ada upaya-upaya pengendaliannya.Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Mukhtar Rosyid Harjono pengendalian konversi lahan pertanian merupakan sebuah sistem yang melibatkan peraturan dan pelakunya.Sehingga diperlukan adanya keterikatan misi antar instansi agar dapat mengintegrasikan berbagai kepentingan dalam rangka pengendalian lahan pertanian. Disamping juga perlu adanya sosialisasi pada masyarakat akan pentingkan menjaga kelestarian lahan pertanian demi ketahanan pangan. 2 Di Kabupaten Cianjur alih fungsi lahan pertanian merupakan ancaman terhadap pencapaian ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan. Alih fungsi lahan mempunyai implikasi yang serius terhadap produksi pangan, lingkungan fisik serta kesejahteraan masyarakat pertanian dan perdesaan yang kehidupannya tergantung pada lahannya. Alih fungsi lahan-lahan pertanian subur yang selama ini terjadi kurang diimbangi dengan upaya-upaya secara terpadu dalam pengembangan lahan pertanian melalui pencetakan lahan pertanian baru yang potensial. Disamping itu alih fungsi lahan menyebabkan makin sempitnya luas garapan yang berdampak kepada tidak terpenuhinya skala ekonomi usahatani,

1 Endro Pranoto, Potensi Wilayah Komoditas Pertanian Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Berbasis Agribisnis Kabupaten Banyumas,, Tesis, UNDIP, Semarang, 2008, hlm 17. 2 Mukhtar Rosyid Haryono, Evaluasi Implementasi Kebijakan Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Kendal, Tesis, Undip, Semarang, 2005, hlm 131.

6

sehingga berakibat kepada in efisiensi dan pada akhirnya menurunnya kesejahteraan petani. Kecilnya luas garapan petani juga disebabkan oleh peningkatan jumlah rumah tangga petani yang tidak sebanding dengan luas lahan yang diusahakan. Akibatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tanpa penguasaan/kepemilikan lahan terus bertambah yang berakibat kepada sulitnya upaya peningkatan kesejahteraan petani dan pengentasan kemiskinan di kawasan perdesaan. Oleh karena itu pengendalian alih fungsi lahan pertanian melalui usaha-usaha perlindungan lahan pertanian pangan merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan menuju kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya.Berdasarkan uraian di atas naskah akademis tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di kabupaten Cianjur perlu ditindaklanjuti dengan peraturan daerah.

B. Identifikasi Masalah. Naskah akadaemik ini mencoba memetakan berbagai permasalahan yang

dihadapi oleh Pemerintah Kabupaten Cianjur khsusnya berkenaan dengan pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur, adapun identifikasi masalah dalam naskah akademik ini meliputi :

1. Apakah latar belakang diperlukannya peraturan daerah tentang pelestarian

lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur ?

2. Apakah pengelolaan lahan untuk ketahanan pangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur selama ini telah sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku ?

3. Bagaimana pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis pembentukan rancangan peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur?

4. Bagaimanakah sasaran, ruang lingkup, jangkauan dan arah pengaturan pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur kedepan?

7

C. Tujuan dan Kegunaan Naskah Akademik.

1. Tujuan Penyusunan Naskah Akademik.

Sesuai dengan ruang lingkup identifikasi masalah yang dikemukakan diatas, tujuan penyusunan Naskah Akademik ini meliputi :

1.

Latar belakang diperlukannya peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur.

2.

Pengelolaan lahan untuk ketahanan pangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur selama ini telah sejalan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3.

Pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis pembentukan rancangan peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur.

4.

Sasaran, ruang lingkup, jangkauan dan arah pengaturan pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur kedepan.

2.

Kegunaan Penyusunan Naskah Akademik.

Kegunaan penyususnan Naskah Akademik secara umum adalah sebagai acuan, panduan atau referensi bagi pengelolaan lahan untuk ketahanan pangan di

Kabupaten Cianjur, disamping hal tersebut juga diharapkan dapat memberi manfaat secara :

a. Manfaat Teoritis Hasil penelitian naskah akademis ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam upaya untuk mendorong peningkatan ketahanan pangan di kabupaten Cianjur.

b. Manfaat Praktis Hasil penelitian naskah akdemik ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran kepada para pihak stakeholder diantaranya :

1) Bagi pemerintah dapat dijadikan dasar pembuatan peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur kedepan;

8

2) Bagi akademisi, hasil penelitian naskah akademis ini diharapkan dapat menambah reperensi sebagai pengayaan argumentasi akademis dalam mengelaborasi berbagai kebijakan dari pemerintah daerah Kabupaten Cianjur dalam rangka proses pembelajaran; 3) Bagi Masyarakat, melalui penelitian naskah akademis ini diharapkan menjadi salah satu forum untuk lebih memahami dan mengetahui berbagai kebijakan pemerintah khususnya dalam bidang ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur kedepan.

D. Metode Penelitian.

Metode yang dipilih dalam penelitian naskah akademik ini adalah metode deskriptif analisis, yang dilakukan untuk membuat deskripsi atau gambaran atau

lukisan serta hubungan antara fenomena yang diselidiki, penelitian naskah akademik ini juga bertujuan untuk mengungkapkan secara sistematis, metodologis, dan konsisten dengan mengadakan analisis dan konstruksi. 3 Dalam penelitian naskah akademik ini pengkajian difokuskan terhadap hubungan sebab akibat antara kaidah hukum positif tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur, penelitian dilaksanakan dengan :

1. Metode Pendekatan. Dalam penelitian naskah akademik ini memakai metode pendekatan Yuridis Normatif, penelitian ini dapat digunakan untuk mencari asas hukum, teori hukum dan sistem hukum, terutama dalam hal penemuan dan pembentukan asas-asas hukum baru, pendekatan hukum baru dari sistem hukum nasional terutama dalam pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur. 4 Dalam penelitian naskah akademik ini juga meliputi usaha untuk menemukan hukum yang ‘in concertio’ yang tujuannya untuk menemukan hukum

3 Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tujuan Singkat, Cetakan VI, Raja Gerapindo Persada, Jakarta, 2001, hlm. 1

4 Sunaryati, Penelitian Hukum di Indonesia Pada Abad ke 20, Alumni, Bandung, 1994, hlm.105; penelitian yang bersifat yuridis normative, dapat dibedakan menjadi penelitian monodisipliner dan interdisipliner.

9

yang sesuai dan yang akan diterapkan dalam suatu permasalahan tertentu di dalam penelitian naskah akademik tersebut. 5 Sunaryati Hartono, mengatakan penelitian hukum untuk menemukan suatu kebijakan (policy) baru, biasanya menggunakan penelitian hukum interdisipliner dan penelitian yang mengembangkan satuan teori adalah merupakan penelitian murni, beliau juga mengatakan bahwa kegunaan penelitian hukum normatif antara lain adalah :

a) Untuk mengetahui atau mengenal apakah dan bagaimakah hukum positifnya mengenai suatu masalah yang tertentu dan ini merupakan tugas semua sarjana hukum;

b) Untuk dapat menyusun dokumen-dokumen hukum;

c) Untuk menulis makalah/buku hukum;

d) Untuk dapat menjelaskan atau menerangkan kepada orang lain apakah dan bagaimanakah hukumnya mengenai peristiwa atau masalah tertentu;

e) Untuk melakukan penelitian dasar (basic research) di bidang hukum penyajian penulisan penelitian secara basic research menggunakan data- data yang kumulatif dan metode yang digunakan adalah metode hukum, yuridis normatif yang bersifat deskriptif analitis. 6

2. Jenis dan Sumber Data.

Penelitian naskah akademik ini dilakukan guna memperoleh data yang

akurat maka dilakukan melalui 2 (dua) tahapan besar sebagai berikut :

a) Penelitian kepustakaan (library research) yaitu dengan mengumpulkan dan mempelajari bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang berkaitan dengan penyelenggaraan kearsipan di Kabupaten Cianjur. 7 Dalam realisasinya penggalian data sebagai salah satu sumber penelitian maka peneliti memfokuskan pada tiga sumber bahan hukum diantaranya :

5 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 22

6 Sunaryati, Op Cit, hlm. 74

7 Dedi Mulyadi, Kebijakan Legislasi Tentang Sanksi Pidana Pemilu Legislatif di Indonesia Dalam Perspektif Demokrasi, Disertasi, Program Doktor Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Katolik Parahiyangan Bandung, 2011, hlm. 56; lihat pula Wila Chandra Wila Supardi, Metode Penelitian, Materi Kuliah Metode Penelitian Program Pascasarjana Doktor Ilmu Hukum Universitas Katolok Parahyangan, Bandung, 2009, hlm. 17

10

1) Bahan Hukum Primer, berupa peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hukum tata cara pembentukan produk hukum daerah yang berupa Undang-undang, Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden dan Peraturan Menteri Dalam Negeri dan peraturan lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan kearsipan. 2) Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan-bahan pustaka yang relevan dengan objek yang diteliti, anatara lain tentang referensi buku-buku, majalah, koran dan internet yang berkaitan penyelenggaraan kearsipan; 8 3) Bahan Hukum Tersier, yaitu bahan-bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan sekunder, seperti brosur-brosur, media cetak dan Black’s Law Dictionary. 9

b) Penelitian lapangan (field research) , tujuannya mencari data-data lapangan yang menyangkut pandangan, aspirasi dan ekspektasi masyarakat kampus tentang penyelenggaraan kearsipan di Kabupaten Cianjur (data Primer) yang berkaitan dengan materi penelitian dan berfungsi sebagai pendukung data sekunder.

3. Prosedur Pengumpulan Data

Untuk pengumpulan data dalam penelitian naskah akademik ini melalui 2 (dua) cara diantaranya :

1) Penelitian Awal (Pra Survey), yaitu pengambilan data awal di

instansi/lembaga terkait, untuk memudahkan langkah pengumpulan data selanjutnya;

2) Studi Pustaka (Library research), yakni melalui berbagai dokumen dan bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan permasalahan penyelenggaran kearsipan yang sedang dibahas dalam penelitian naskah akademik ini.

4. Teknik Pengecekan Validasi Data

Disamping teknik diatas pengecekan keabsahan data juga dilakukan melalui teknik pemeriksaan triangulasi, khususnya triangulasi sumber, Patton dalam

8 Ibid, hlm. 57

9 Nasution, Metode Research, Bumi Aksara, Bandung, 2001, hlm. 58

11

bukunya dengan judul ‘Qualitative Data Analysis; A Sourcebook of New Methods’, sebagaimana dikutip oleh Lexi J. Moleng menyebutkan bahwa

triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik tingkat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif. 10

5. Analisis Data

Pengertian analisis di sini dalam penelitian naskah akademis ini dimaksudkan sebagai interpretasi secara logis, sistimatis dan konsisten dimana dilakukan penelaahan data yang lebih rinci dan mendalam.Dari data yang berhasil dikumpulkan dalam penelitian ini, baik yang berupa data primer maupun data

sekunder dianalisis menggunakan metode kualitatif, tanpa menggunakan angka (matematik dan statistik).

Metode analisis data dalam penelitian ini meliputi 4 (empat) tahap kegiatan yaitu :

1)

Tahap pengumpulan data;

2)

Tahap reduksi data;

3)

Tahap pengujian data; dan

4)

Tahap penarikan kesimpulan.

Tahapan di atas merupakan siklus yang interaktif, artinya analisis data ini merupakan upaya yang terus berlanjut dan berulang terus menerus bergerak di antara empat tahapan kegiatan tersebut selama pengumpulan data.Penarikan kesimpulan yang dilakukan melalui pemeriksaan terhadap data/informasi yang telah diperoleh di lapangan, menjadi gambaran keberhasilan secara berturut-turut sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling menyusul. 11

10 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosda Karya, Bandung, 2001, hlm.

178

11 M.B. Miles dan A.M. Huberman, Analisis Data Kualitatif, Universitas Indonesia Press, Jakarta,

12

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIS

A. Kajian Teoritis.

UUD 1945 mengamanatkan bahwa lahan pertanian pangan merupakan bagian dari bumi yang dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar besar

kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Oleh karena negara Indonesia adalah negara agraris yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai

petani, sudah selayaknyalah jika negara perlu menjamin penyediaan lahan pertanian pangan yang berkelanjutan, sebagai sumber pekerjaan dan penghidupan

yang layak bagi kemanusiaan dengan mengedepankan prinsip kebersamaan,efisiesi, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan

kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Negara berkewajiban menjamin hak asasi warganegaranya atas

kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan.Isu penting dalam pembangunan dewasa ini adalah pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah suatu

proses yang memanfaatkan sumberdaya pertanian secara optimal untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat masa kini tanpa harus mengorbankan

kebutuhan dan kesejahteraan generasi yang akan datang. Seiring dengan laju konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian,sumberdaya pertanian yang perlu

mendapatkan prioritas adalah lahan pertanian, terutama lahan pertanian pangan. 12 Menurut Notohadipawiro, lahan merupakan kesatuan berbagai

sumberdaya daratan yang saling berinteraksi membentuk suatu sistem struktural dan fungsional. Sifat dan perilaku lahan ditentukan oleh jenis sumberdaya

dominan dan intensitas interaksi yang berlangsung antar sumberdaya.Sumberdaya lahan dapat mengalami perubahan karena aktivitas manusia. Penggunaan lahan

(land use) adalah setiap bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap lahan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya,baik material maupun

12 Anita Widhy, Implementasi Kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan di Kabupaten Magelang, Tesis, UNDIP, Semarang, 2012, hlm 3. Diunduh tanggal 30 Juni 2014, pukul 12.15 WIB.

13

spiritual. Penggunaan lahan dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar yaitu (1) pengunaan lahan pertanian dan (2) penggunaan lahan bukan pertanian. 13 Menurut Sabiham, pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya untuk menghasilkan kebutuhan pokok manusia, yaitu sandang, pangan dan papan, sekaligus mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikannya. Definisi tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut: mantap secara ekologis, bisa berlanjut secara ekonomis, adil, manusiawi dan luwes. Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Sedangkan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan sendiri diartikan sebagai sistem dan proses dalam merencanakan dan menetapkan, mengembangkan, memanfaatkan dan membina, mengendalikan dan mengawasi lahan pertanian pangan dan kawasannya secara berkelanjutan. Menurut Rustiadi dan Reti, tersedianya sumberdaya lahan pertanian pangan yang berkelanjutan merupakan syarat untuk ketahanan pangan nasional. Ketersedian lahan pertanian pangan berkaitan erat dengan beberapa hal, yaitu : 1) Potensi sumberdaya lahan pertanian pangan, 2) Produktivitas lahan, 3) Fragmentasi lahan pertanian, 4) Skala luasan penguasaan lahan pertanian, 5) Sistem irigasi, 6) land rent lahan pertanian, 7) Konversi, 8) Pendapatan petani, 9) Kapasitas SDM pertanian serta 10) kebijakan di bidang pertanian. 14 Dalam rangka pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dalam UU Nomor 41

13 Sabiham, Manajemen Sumberdaya lahan dan usaha pertanian berkelanjutan, dalam Arsyad dan E. Rustiadi (ed), Penyelamatan tanah, air dan lingkungan, Crestpent Press dan yayasan Obor Indonesia, hlm 3-16. 14 Rustiadi dan W. Reti, Urgensi Lahan Pertanian Pangan Abadi dalam Perspektif Ketahanan Pangan, dalam Arsyad s dan E. Rustiadi (ed), Penyelamatan tanah, air dan lingkungan, Crestpent Press dan yayasan Obor Indonesia hlm 61-86.

14

Tahun 2009 tersebut dengan jelas disebutkan bahwa Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsistem guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. LP2B dapat berupa lahan beririgasi, lahan reklamasi rawa pasang surut dan non pasang surut (lebak) dan/atau lahan tidak beririgasi (lahan kering). Walapun suatu kawasan telah ditetapkan sebagai LP2B, bukan berarti bahwa lahan tersebut tidak dapat dialihkan kepemilikannya. LP2B dapat dialihkan kepemilikannya kepada pihak lain dengan tidak mengubah fungsi lahan tersebut sebagai LP2B. Lahan yang ditetapkan sebagai LP2B dilindungi dan dilarang untuk dialihfungsikan, tetapi dalam hal untuk kepentingan umum, dapat dilakukan alih fungsi tetapi dengan syarat harus melalui kajian kelayakan strategis, disusun rencana alih fungsi lahan, dibebaskan terlebih dahulu haknya dari pemilik dan disediakan lahan pengganti terhadap LP2B yang dialihfungsikan. Dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 juga secara tegas mengatur bahwa orang atau badan yang melanggar tentang ketentuan alih fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dapat dikenakan sanksi, baik sanksi administratif berupa peringatan tertulis, penghentian sementara kegiatan sampai kepada penutupan lokasi, pencabutan izin sampai kepada denda dan hukuman penjara. Memperhatikan uraian tersebut di atas, tampak jelas bahwa apabila UU Nomor 41 Tahun 2009 benar-benar dapat diimplementasikan secara tertib dan benar, maka merupakan suatu langkah strategis dalam upaya mengerem laju alih fungsi lahan pertanian produktif. Tinggal sekarang sejauhmana pemerintah, pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kota mau dan mampu mengimplementasikan UU Nomor 41 Tahun 2009 tersebut serta mencantumkan LP2B dalam rencana tata ruang wilayah masing-masing guna mendukung upaya mewujudkan ketahanan pangan, kemandirian pangan menuju kedaulatan pangan. 15

15 I Made Oka Parwata, Lahan Pertanian, internet, diunduh, hari senin, 16 Juni 2014, pukul 12.00 WIB.

15

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang selama ini masih diandalkan oleh Negara Indonesia karena sektor pertanian mampu memberikan pemulihandalam mengatasi krisis yang terjadi di Indonesia. Keadaan inilah yang menampakkan bahwa sektor pertanian sebagai salah satu sektor yang andal dan mempunyai potensi besar untuk berperan sebagai pemicu pemulihan ekonominasional melalui salah satunnya adalah ketahanan pangan nasional. Dengandemikian diharapkan kebijakan untuk sektor pertanian lebih diutamakan. Namun setiap tahun untuk luas lahan pertanaian selalu mengalami alih fungsi lahan dari lahan sawah ke lahan non sawah. Alih fungsi lahan sudah sejak lama menjadi masalah, khususnya di Jawa Barat.Sebagai provinsi yang berbatasan langsung dengan Ibu Kota Negara, memang tidak mengherankan bila areal sawah yang berubah fungsi di Jawa Barat terus meningkat setiap tahun. Alih fungsi lahan pertanian produktif di Jawa Barat, terutama lahan sawah, menjadi lahan non pertanian telah berlangsung dan sulitdihindari sebagai akibat pesatnya laju pembangunan antara lain digunakan untuk pemukiman, industri, sarana infrastruktur dan lainnya. Penurunan produksi padi di Jawa Barat yang menyediakan 17,84 % produksi beras nasional terjadi akibatpenciutan lahan sawah karena alih fungsi lahan dan pelandaian tingkat produktivitas di daerah-daerah itensifikasi. Usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempertahankan swasembada pangan adalah peningkatan mutu program itensifikasi, ekstensifikasi, diversifikasi

dan rehabilitasi lahan pertanian

kebutuhan pangan khususnya beras yang terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan penciutan lahan sawah khususnya di Jawa Barat.

Hasil analisis menunjukkan perubahan alih fungsi lahan sawah ke lahan non sawah pada periode tahun 1995-2006 sebesar -225.292 hektar atau sebesar - 1.82persen. Dengan demikian setiap tahun Jawa Barat mengalami mutasi lahan sebesar -18.774 hektar. Sementara produksi padi tahun 1995-2006 mengalamipenurunan akibat alih fungsi lahan pertanian sebesar -1,304,853 ton

Hal ini penting dilakukan guna mengantisipasi

16

atau sebesar -1.09 persen. Dengan demikian setiap tahun Jawa Barat mengalami pengurangan produksi padi sebesar -108.738 ton. Secara keseluruhan pada periode tahun 1995-2006 rata rata setiap tahunmengalami produksi padi 9.936.649 ton dan produktivitas pertanian sebesar 5.03ton setiap tahun meskipun dipengaruhi oleh konversi lahan pertanian sebesar18.774 hektar setiap tahun. Apabila pada tahun 1995-2006 tidak mengalamikonversi lahan pertanian tentu akan mempengaruhi peningkatan produksi padi di Jawa Barat sebesar 94.435 ton setiap tahun dengan demikian tentu dengan adanya konversi lahan pertanian berpengaruh terhadap produksi padi di Jawa Barat. Apabila kondisi alih fungsi lahan pertanian tidak segera dilakukan tindakanpencegahan dan produksi padi tidak dapat dipertahankan serta ditingkatkanmelalui intensifikasi pertanian, sementara jumlah penduduk terus meningkat makadiprediksi Jawa Barat akan mengalami krisis pangan khususnya kebutuhan beraspada tahun 2021. Permasalahan yang ditimbulkan oleh akibat pergeseran atau mutasi lahan sawah ke non sawah perlu dilihat bukan saja berdasarkan dampaknya kepada produksipadi saja, tetapi perlu dilihat dalam perspektif yang lebih luas. Dampak yang lebih luas tersebut termasuk pengaruhnya terhadap kesetabilan politik yang diakibatkan oleh kerawanan pangan, perubahan sosial yang merugikan, menurunya kualitas lingkungan hidup terutama yang menyangkut sumbangan fungsi lahan sawah kepada konservasi tanah dan air untuk menjamin kehidupan masyarakat di masadepan. Dampak dari kehilangan lahan pertanian produktif adalah kehilangan hasil pertanian secara permanen, sehingga apabila kondisi ini tidak terkendali maka dipastikan kelangsungan dan peningkatan produksi akan terus berkurang dan pada akhirnya akan mengancam kepada tidak stabilnya ketahanan pangan di JawaBarat. Untuk mengurangai alih fungsi lahan yang lebih luas pemerintah Jawa Barat Perlu melakukan strategi dan kebijakan mengenai pengendalian konversi lahan sawah karena permasalahannya sangat kompleks maka strategi pengendalian alih fungsi

17

lahan pertanian memerlukan pendekatan holistik (memuat instrumen yuridis,instrumen insentif bagi pemilik lahan pertanian, dan instrumen rencana tata ruang wilayah dan perizinan lokasi secara terpadu). Serta dalam rangka menjagaketahanan pangan Jawa Barat khususnya untuk meningkatkan produksi padi selain melakukan pengendalian alih fungsi lahan juga perlu dilakukan intensifikasipertanian melalui penerapan teknologi pertanian tepat guna spesifik lokasi danberwawasan lingkungan agar dapat meningkatkan budaya sains dan teknologipertanian Jawa Barat. Pengertian ketahanan pangan menurut PP No. 68 tahun 2002 adalah:

kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermindari tersedianya pangan yang cukup jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Dari pengertian di atas nampak bahwa satuan / unit tujuan dari ketahanan pangan adalah rumah tangga (termasuk individuindividu didalamnya). Tidak hanya aspek jumlah yang perlu diperhatikan namun aspeklain seperti mutu pangan, kontinyuitas ketersediaan dan keterjangkauannyajuga diperhatikan. Dilihat dari sisi kualitas, kontinyuitas danketerjangkauannya (aspek harga) ini berarti bahwa konsepsi ketahananpangan mengandung isi keadilan.Amanat yang terkandung dalam pengertian tesebut adalah pangan yang baik harus tersedia secara berkesinambungan hingga ke segenap lapisan masyarakat. Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terdiri atas subsistem ketersediaan, distribusi dan konsumsi. Hasil akhir dari system tersebut adalah stabilitas antara pasokan pangan, distribusi dan kemudahan akses masyarakat terhadap pangan serta pemanfaatan pangan termasuk didalamnya pengaturan menu dan distribusi pangan dalam keluarga.Indikator dari kebaikan sistem ketahanan pangan tercermin dalam status gizi masyarakat dengan indikator utama adalah status gizi anak balita.Indikator ini dipilih karena anakanak merupakan kelompok masyarakat yang paling rentan dan paling cepat terkena dampak dari buruknya sistem ketahananpangan di suatu daerah. Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari tiga sumber,yaitu: (i) produksi dalam negeri, (ii) impor pangan, (iii)pengelolaan cadangan pangan. Sumber utama dari ketersediaan pangan harus berasal dari produksi lokal / dalam negeri.

18

Ketersediaan pangan yang berasal dari dalam negeri merupakan kunci suksesnya sistem ketahanan pangan.Lahan yang luas dan jumlah penduduk yang besar serta sebagian besar dari pendudukhidup dari sektor pertanian merupakan modal utama yang harus selalu digali untuk menjadi sumber pasokan pangan nasional. Dalam kondisi perekonomian nasional yang masih lemah seperti saat ini maka kemampuan bangsa untuk memenuhi kebutuhanpangan dari produksi dalam negeri menjadi indikator bagikelanjutan eksistensi bangsa dan martabat dimata internasional. Diperlukan kebijakan yang kondusif untukmendukung peningkatan produksi pangan dalam negeri.Bantuan teknis produksi, akses permodalan yang mudah dengan bungalunak bagi para petani kecil merupakan insentif produksi yangsangat diharapkan.Perlindungan terhadap petani kecil daritingginya fluktuasi harga beras musiman juga sangat diperlukan. Harga gabah yang rendah pada musim panen harus segera dapat diatasi dengan menciptakan mekanisme penyerapan gabah minimal pada harga dasar yang berlaku. Penyediaan sarana produksiberkualitas (pupuk, benih, pestisida dan alsintan (alat mesinpertanian ) di tingkat usahatani dengan harga terjangkau akan memacu petani kecil untuk selalu berusaha meningkatkanproduktivitas usaha taninya. Impor merupakan pilihan terakhir dari system ketahanan pangan, sebagai upaya sementara untuk mengatasi kesenjangan antara produksi musiman dan permintaan dalam negeri.Impor mempunyai dampak buruk bagi kelangsungan hidup petani kecil yang merupakan mayoritas dari petani Indonesia. Cadangan pangan terdiri dari atas dua komponen,yaitu: cadangan pangan yang dimiliki oleh pemerintah dan cadangan pangan yang dikelola oleh masyarakat. Cadangan pangan yang dikelola oleh Pemerintah terdiri atas cadangan pangan yang dikelola oleh Pemerintah Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota. Cadangan pangan yang dikelola oleh masyarakat terdiri atas:cadangan pangan di tingkat rumah tangga, pedagang dan industry serta distributor pangan.

19

Isu penting dalam pembangunan dewasa ini adalah pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah suatu proses yang memanfaatkan sumberdaya

pertanian secara optimal untuk memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat masa kini tanpa harus mengorbankan kebutuhan dan kesejahteraan generasi yang akan datang. Seiring dengan laju konversi lahan pertanian ke lahan non pertanian,sumberdaya pertanian yang perlu mendapatkan prioritas adalah lahan pertanian, terutama lahan pertanian pangan. Untuk mengendalikan konversi lahan pertanian, melalui Undang Undang RI Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, diharapkan dapat mendorong ketersediaan lahan pertanian untuk menjaga kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2009 bertujuan untuk:

1. melindungi kawasan dan lahan pertanian pangan secara berkelanjutan;

2. menjamin tersedianya lahan pertanian pangan secara berkelanjutan;

3. mewujudkan kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan;

4. melindungi kepemilikan lahan pertanian pangan milik petani;

5. meningkatkan kemakmuran serta kesejahteraan petani dan masyarakat;

6. meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani;

7. meningkatkan penyediaan lapangan kerja bagi kehidupan yang layak;

8. mempertahankan keseimbangan ekologis, dan

9. mewujudkan revitalisasi pertanian.

Mengingat kondisi lahan pertanian di Pulau Jawa adalah lahan yang subur sangat disayangkan jika dikonversi untuk kegiatan non pertanian. Jika praktek konversi lahan pertanian ini tidak dikendalikan maka akan mengganggu ketahanan pangan. Dengan konversi lahan produksi pertanian akan berkurang dan untuk memenuhi kebutuhan pokok kita harus memenuhinya dengan import.

B. Kajian Asas/Norma. I.C. Van Der Vlies, membagi asas-asas dalam pembentukan peraturan perundang-undangan yang masuk kedalam asas formal dan asas materil diantaranya :

20

Asas-asas formal yang dimaksud Van der Vlies meliputi : 1) asas tujuan yang jelas (beginsel van duidelijke doelstelling); 2) asas organ/lembaga yang tepat (begisel van het juiste organ); 3) asas perlunya pengaturan (het noodzakeijkheids beginsel); 4) asas dapat dilaksanakan (het beginsel van uitvoerbaarheid); dan 5) asas consensus (het beginsel van consensus). Asas-asas material menurut Vlies meliputi : 1) asas terminology dan sistem matika yang benar (het beginsel van duidelijke systematiek); 2) asas dapat dikenal (het beginsel van de kenbaarheid); 3) asas perlakuan yang sama dalam hukum (het rechtsgelijkheidsbeginsel); 4) asas kepastian hukum (het rechtszekerheidsbeginsel);5) asas perlakuan hukum sesuai keadaan individual (het beginsel van de individuele rechtbedeling). Pandangan A Hamid S. Attamimi tentang asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia juga bersimpul pada dua asas penting, yang relatip sama dengan konsepsi Van Der Vlies, asas formal dan asas material diantaranya yang termasuk asas formal adalah : 1) asas tujuan yang jelas; 2) asas perlunya pengaturan; 3) asas organ/lembaga yang tepat; 4) asas materi muatan yang tepat; 5) asas dapatnya dilaksanakan; dan 6) asasnya dapatnya dikenali. Sedangkan asas-asas material terdiri dari : 1) asas harus sesuai dengan ciri hukum dan norma fundamental Negara; 2) asas harus sesuai dengan hukum dasar Negara; 3) asas harus sesuai dengan prinsip-prinsip Negara berdasarkan atas hukum; dan 4) asas hukum sesuai dengan prinsip-prinsip pemerintahan berdasar sistem konstitusi. Hamid S. Attamimi, menyampaikan dalam pembentukan peraturan perundang-undangan, setidaknya ada beberapa pegangan yang harus dikembangkan guna memahami asas-asas pembentukan peraturan perundang- undangan yang baik (algemene beginselen van behorlijke regelgeving) secara benar, meliputi :

Pertama, asas yang terkandung dalam Pancasila selaku asas-asas hukum umum bagi peraturan perundang-undangan; Kedua, asas-asas Negara berdasar atas hukum selaku asas-asas hukum umum bagi perundang-undangan; Ketiga, asas-asas pemerintahan berdasar sistem konstitusi selaku asas-asas umum bagi

21

perundang-undangan, dan Keempat, asas-asas bagi perundang-undangan yang dikembangkan oleh ahli. 16

Berkenaan dengan hal tersebut pembentukan peraturan daerah yang baik selain berpedoman pada asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik (beginselen van behoorlijke wetgeving), juga perlu dilandasi oleh asas- asas hukum umum (algemene rechtsbeginselen), yang didalamnya terdiri dari asas Negara berdasarkan atas hukum (rechtstaat), pemerintahan berdasarkan sistem konstitusi, dan Negara berdasarkan kedaulatan rakyat. Sedangkan menurut Undang-undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dalam membentuk peraturan perundang-undangan termasuk Perda, harus berdasarkan pada asas-asas pembentukan yang baik yang sejalan dengan pendapat Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto 17 meliputi :

a. Asas Kejelasan Tujuan adalah bahwa setiap pembentukan Peraturan Perundang-undangan harus mempunyai tujuan yang jelas yang hendak dicapai;

b. Asas kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat adalah bahwa setiap jenis peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh lembaga/pejabat pembentuk peraturan perundang-undangan yang berwenang. Peraturan

16

17

Gagasan

Pembentukan Undang-undang Berkelanjutan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009, Hlm.

115

Yuliandri, Asas-asas Pembentukan

Peraturan

Perundang-Undangan

yang

Baik;

Purnadi

Landasan Filsafat Hukum, Rajawali, Jakarta, 1985, Hlm. 47; memperkenalkan enam asas undang-undang yaitu :

a. Undang-undang tidak berlaku surut;

b. Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi mempunyai kedudukan yang lebih tinggi pula;

c. Undang-undang yang bersifat khuhus mengenyampingkan Undang-undang yang bersifat umum;

d. Undang-undang yang berlaku belakangan membatalkan undang-undang yang berlaku terdahulu;

e. Undang-undang tidak dapat diganggu gugat;

f. Undang-undang sebagai sarana untuk semaksimal mungkin dapat mencapai kesejahteraan spiritual dan materiil bagi masyarakat maupun individu, melalui pembaharuan dan pelestarian (Asas Welvaarstaat)

Ikhtiar Antinomi Aliran Filsafat Sebagai

Purbacaraka

dan

Soerjono

Soekanto,

22

perundang-undangan tersebut dapat dibatalkan atau batal demi hukum, apabila dibuat oleh lembaga/pejabat yang tidak berwenang;

c. Asas Kesesuaian antara jenis dan materi muatanadalah bahwa dalam pembentukan peraturan perundang-undangan harus benar-benar memperhatikan materi muatan yang tepat dengan jenis Peraturan Perundang-undangannya;

d. Asas dapat dilaksanakan adalah bahwa setiap pembentukan peraturan perundang-undangan harus memperhitungkan efektifitas peraturan perundang-undangan tersebut, baik secara filosofii, yuridis maupun sosiologis.

1)

Aspek Filosofis adalah terkait dengan nilai-nilai etika dan moral yang

2)

berlaku di masyarakat. Perda yang mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi dibentuk berdasarkan semua nilai-nilai yang baik yang ada dalam masyarakat; Aspek Yuridis adalah terkait landasan hukum yang menjadi dasar kewenangan pembuatan perda.

3)

Aspek Sosiologisadalah terkait dengan bagaimana Perda yang

disusun tersebut dapat dipahami oleh masyarakat, sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat yang bersangkutan.

e. Asas hasil guna dan daya guna adalah bahwa setiap peraturan perundang- undangan dibuat karena memang benar-benar dibutuhkan dan bermanfaat dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara;

f. Asas kejelasan rumusan adalah bahwa setiap peraturan perundang- undangan harus memenuhi persyaratan teknis penyusunan peraturan perundang-undangan. Sistematika dan pilihan kata atau terminology, serta bahasa hukumnya jelas dan mudah dimengerti, sehingga tidak

menimbulkan berbagai macam interpretasi dalam pelaksanaanya.

g. Asas keterbukaan adalah bahwa dalam proses pembentukan peraturan perundang-undangan mulai perencanaan, persiapan, penyusunan dan pembahasan bersifat transparan. Dengan demikian seluruh lapisan masyarakat mempunyai kesempatan yang seluas-luasnya untuk

23

memberikan masukan dalam proses pembuatan peraturan perundang- undangan;

h. Asas materi muatan adalah materi muatan peraturan perundang-undangan mrenurut UU No. 12 Tahun 2011 harus mengandung asas-asas sebagai berikut :

1) Asas kekeluargaan adalah mencerminkan musyawarah untuk mufakat dalam setiap pengambilan keputusan;

2)

Asas Kenusantaraan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan

3)

daerah senantiasa memperhatikan kepentingan seluruh wilayah Indonesia dan materi muatan peraturan perundang-undangan yang dibuat di daerah merupakan bagian dari sistem hukum nasional yang berdasarkan Pancasila; Asas Bhinneka Tunggal Ika adalah bahwa materi muatan peraturan

4)

daerah harus memperhatikan keragaman penduduk, agama, suku, dan golongan, kondisi khusus daerah, dan budaya khususnya yang menyangkut masalah-masalah sensitif dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; Asas Keadilan adalah mencerminkan keadilan secara proporsional

5)

bagi setiap warga Negara tanpa kecuali; Asas kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan adalah

6)

bahwa setiap materi muatan peraturan daerah tidak boleh berisi hal- hal yang bersifat membedakan berdasarkan latar belakang, antara lain, agama, suku, ras, golongan, gender atau status sosial; Asas ketertiban dan kepastian hukum adalah bahwa setiap materi muatan peraturan daerah harus dapat menimbulkan ketertiban dalam masyarakat melalui jaminan adanya kepastian hukum;

7) Asas keseimbangan, keserasian, dan keselarasan adalah bahwa setiap materi muatan peraturan daerah harus mencerminkan keseimbangan, keserasian, dan keselarasan, antara kepentingan individu dan masyarakat dengan kepentingan bangsa dan Negara;

24

Asas pengayoman adalah memberikan perlindungan dalam rangka menciptakan ketentraman masyarakat;

9) Asas Kemanusiaan adalah mencerminkan perlindungan dan penghormatan hak-hak asasi manusia serta hakekat dan martabat

8)

setiap warga Negara secara proporsional; 10) Asas kemanusiaan adalah mencerminkan perlindungan dan

penghormatan hak-hak asasi manusia serta harkat dan martabat setiap warga Negara secara proporsional;

11) Asas Kebangsaan adalah mencerminkan sifat dan watak Bangsa Indonesia yang pluralistik dengan tetap menjaga prinsip Negara

kesatuan RI.

Perlindungan

Lahan

berdasarkan asas:

Pertanian

Pangan

Berkelanjutan

a. manfaat;

b. keberlanjutan dan konsisten;

c. keterpaduan

d. keterbukaan dan akuntabilitas;

e. kebersamaan dan gotong-royong;

f. partisipatif;

g. keadilan;

diselenggarakan

h. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan;

i. kelestarian lingkungan dan kearifan lokal;

j. desentralisasi;

k. tanggung jawab negara;

l. keragaman; dan

m. sosial dan budaya. Manfaat adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang

bagi

kesejahteraan dan mutu hidup rakyat, baik generasi kini maupun generasi masa

depan.

diselenggarakan

untuk

memberikan

manfaat

yang

sebesar-besarnya

25

Keberlanjutan dan konsisten adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang fungsi, pemanfaatan, dan produktivitas lahannya dipertahankan secara konsisten dan lestari untuk menjamin terwujudnya kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional dengan memperhatikan generasi masa kini dan masa mendatang. Keberlanjutan dan konsisten adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang fungsi, pemanfaatan, dan produktivitas lahannya dipertahankan secara konsisten dan lestari untuk menjamin terwujudnya kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional dengan memperhatikan generasi masa kini dan masa mendatang. Keterpaduan adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan dengan mengintegrasikan berbagai kepentingan yang bersifat lintas sektor, lintas wilayah, dan lintas pemangku kepentingan. Keterbukaan dan akuntabilitas adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan dengan memberikan akses yang seluas-luasnya kepada masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Kebersamaan dan gotong-royong adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan secara bersama-sama baik antara Pemerintah, pemerintah daerah, pemilik lahan, petani, kelompok tani, dan dunia usaha untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Partisipatif adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan, pembiayaan, dan pengawasan. Keadilan adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang harus mencerminkan keadilan secara proporsional bagi setiap warga negara tanpa terkecuali. Keserasian, keselarasan, dan keseimbangan adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang harus mencerminkan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara kepentingan individu dan masyarakat, lingkungan, dan kepentingan bangsa dan negara serta kemampuan maksimum daerah.

26

Kelestarian lingkungan dan kearifan lokal adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang harus memperhatikan kelestarian lingkungan dan ekosistemnya serta karakteristik budaya dan daerahnya dalam rangka mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Desentralisasi adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang diselenggarakan di daerah dengan memperhatikan kemampuan maksimum daerah. Tanggung jawab negara adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang dimiliki negara karena peran yang kuat dan tanggung jawabnya terhadap keseluruhan aspek pengelolaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Keragaman adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang memperhatikan keanekaragaman pangan pokok, misalnya padi, jagung, sagu, dan ubi kayu. Sosial dan budaya adalah Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan yang memperhatikan fungsi sosial lahan dan pemanfaatan lahan sesuai budaya yang bersifat spesifik lokasi dan kearifan lokal misalnya jagung sebagai makanan pokok penduduk Pulau Madura dan sagu sebagai makanan pokok penduduk Kepulauan Maluku.

C. Kajian Terhadap Penyelenggaraan.

Ditinjau

dari

aspek

pertanahan,

pengembangan

sektor

pertanian

dihadapkan pada berbagai masalah, antara lain:

1. Terbatasnya sumber daya tanah yang cocok untuk kegiatan pertanian.

2. Sempitnya tanah pertanian per kapita penduduk Indonesia.

3. Makin banyaknya jumlah kepala keluarga petani gurem.

4. Cepatnya konversi tanah pertanian menjadi non pertanian.

Tingginya

konversi

tanah

pertanian

menjadi

non

pertanian

dapat

mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sebagai berikut:

27

1. Menurunnya produksi pangan yang menyebabkan terancamnya ketahanan pangan.

2. Hilangnya mata pencaharian petani yang menimbulkan pengangguran dan pada akhirnya memicu masalah social.

3. Hilangnya investasi infrastruktur pertanian (irigasi) yang menelan biaya sangat tinggi.

Faktor-faktor

yang

menyebabkan

menjadi non pertanian antara lain:

cepatnya

konversi

lahan

pertanian

1. Faktor kependudukan; pesatnya peningkatan jumlah penduduk telah meningkatkan permintaan tanah untuk perumahan, jasa, industry dan fasilitas umum lainnya.

2. Kebutuhan tanah untuk kegiatan non pertanian antara lain pembangunan real estate, kawasan industry, kawasan perdagangan dan jasa-jasa lainnya yang memrlukan tanah yang luas, sebagian diantaranya berasal dari lahan pertanian termasuk sawah.

3. Faktor ekonomi, yaitu tingginya tingkat keuntungan yang diperoleh sektot non pertanian dan rendahnya land rent dari sector pertanian itu sendiri.

4. Faktor sosial budaya, antara lain keberadaan hukum waris yang menyebabkan terfragmentasinya tanah pertanian sehingga tidak memenuhi skala ekonomi usaha yang menguntungkan.

5. Degradasi lingkungan, antara lain kemarau panjang yang menimbulkan kekurangan air untuk pertanian terutama sawah, penggunaan pupuk dan pestisida secara berlebihan yang berdampak pada meningkanya serangan hama tertentu akibat musnahnya predator alami dari hama yang bersangkutan serta meracuni air irigasi, rusaknya lingkungan sawah sekitar pantai mengakibatkan terjadinya intrusi air laut ke daratan yang berpotensi meracuni tanaman padi. 18

18 Iwan isa, Kebijakan dan Permasalahan Penyediaan Tanah Mendukung Ketahanan Pangan, diunduh tanggal 7 Juli 2014, pukul 08.00 WIB, hlm 84-85.

28

Kebijakan bidang pertanahan dalam rangka pengendalian konversi tanah pertanian adalah terintegrasi dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Dalam rangka perlindungan dan pengendalian tanah pertanian secara menyeluruh dapat ditempuh melalui tiga strategi yaitu:

1. Memperkecil peluang terjadinya konversi,

2. Mengendalikan kegiatan konversi tanah,

3. Mengembangkan instrument pengendalian konversi tanah.

Sehubungan dengan itu, kebijakan prioritas yang diusulkan oleh BPN-RI dalam rangka pengendalian konversi tanah pertanian adalah sebagai berikut:

1. Menyusun peraturan perundang-undangan tentang ketentuan perlindungan tanah pertanian produktif, baik dalam bentuk Perpres, PP maupun UU.

2. Menetapkan zonasi (lokasi) tanah-tanah pertanian yang dilindungi, misalnya sawah perlindungan abadi, sawah konversi terbatas dan sawah konversi dalam bentuk Keppres.

3. Menetapkan bentuk insentif dan disinsentif terhadap pemilik tanah dan Pemda setempat.

4. Mengintegrasikan ketiga ketentuan tersebut dalam RTRW Nasional, provinsi dan kabupaten/Kota.

5. Membentuk komisi pengendali tanah sawah baik di tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota dengan keputusan kepala daerah yang bersangkutan. 19

D. Kajian Terhadap Implikasi Penerapan Sistem Baru.

Konversi lahan atau alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian sebenarnya bukan masalah baru. Pertumbuhan penduduk danpertumbuhan perekonomian menuntut pembangunan infrastruktur baik berupa jalan, bangunan industri dan pemukiman, hal ini tentu saja harus didukung denganketersediaan lahan. konversi lahan pertanian dilakukan secara langsung

19 Ibid, hlm 86

29

olehpetani pemilik lahan ataupun tidak langsung oleh pihak lain yang sebelumnyadiawali dengan transaksi jual beli lahan pertanian. Faktor-faktor yangmempengaruhi pemilik lahan mengkonversi lahan atau menjual lahanpertaniannya adalah harga lahan, proporsi pendapatan, luas lahan, produktivitaslahan, status lahan dan kebijakan-kebijakan oleh pemerintah. Kawasan perkotaan dapat diartikan sebagai kawasan yang mempunyaikegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempatpermukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan,pelayanan sosial. Dalam rencana tata ruang kawasan perkotaan sendiri, diaturalokasi pemanfaatan ruang untuk berbagai penggunaan (perumahan, perkantoran,perdagangan, ruang terbuka hijau, industri, sempadan sungai, dsb) berdasarkanprinsip-prinsip keadilan, keseimbangan, keserasian, keterbukaan (transparansi)dan efisiensi, agar tercipta kualitas permukiman yang layak huni danberkelanjutan. Rencana tata ruang merupakan landasan pengelolaan pembangunankawasan perkotaan atau ekonomi. Undang-Undang No 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam pelaksanaannya memiliki beberapa peraturan pendukung. Peraturan yang mendukung pelaksanaan Undang-Undang Nomor 41 tahun 2009, adalah sebagai berikut:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2011 tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

2. Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2012 tentang Sistem Informasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten

30

guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional. Sedangkan perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan sendiri diartikan sebagai sistem dan proses dalam merencanakan dan menetapkan, mengembangkan, memanfaatkan dan membina, mengendalikan dan mengawasi lahan pertanian pangan dan kawasannya secara berkelanjutan. Menurut Rustiadi dan Reti, tersedianya sumberdaya lahan pertanian pangan yang berkelanjutan merupakan syarat untuk ketahanan pangan nasional. Ketersedian lahan pertanian pangan berkaitan erat dengan beberapa hal, yaitu : 1) Potensi sumberdaya lahan pertanian pangan, 2) Produktivitas lahan, 3) Fragmentasi lahan pertanian, 4) Skala luasan penguasaan lahan pertanian, 5) Sistem irigasi, 6) land rent lahan pertanian, 7) Konversi, 8) Pendapatan petani, 9) Kapasitas SDM pertanian serta 10) kebijakan di bidang pertanian. 20 Dalam rangka pengendalian alih fungsi lahan pertanian pangan, pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. Dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 tersebut dengan jelas disebutkan bahwa Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsistem guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. LP2B dapat berupa lahan beririgasi, lahan reklamasi rawa pasang surut dan non pasang surut (lebak) dan/atau lahan tidak beririgasi (lahan kering). Untuk menjamin kecukupan pemenuhan akan bahan pangan, maka dalam perencanaan penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan didasarkan kepada : 1) pertumbuhan penduduk dan kebutuhan konsumsi pangan penduduk; 2) pertumbuhan produktivitas; 3) kebutuhan pangan nasional; 4) kebutuhan dan ketersediaan lahan pertanian pangan; 5) pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta 6) musyawarah petani. Penyusunan perencanaan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan secara berjenjang, mulai dari tingkat nasional, tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Perencanaan Lahan Pertanian Pangan

20 Rustiadi dan W. Reti, Urgensi Lahan Pertanian Pangan Abadi dalam Perspektif Ketahanan Pangan, dalam Arsyad s dan E. Rustiadi (ed), Penyelamatan tanah, air dan lingkungan, Crestpent Press dan yayasan Obor Indonesia hlm 61-86.

31

Berkelanjutan Nasional menjadi acuan perencanaan Lahan Pertanian Berkelanjutan provinsi dan kabupaten/kota. Perencanaan LP2B diawali dengan penyusunan usulan perencanan oleh Pemerintah, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota yang dilakukan berdasarkan hasil inventarisasi, identifikasi dan penelitian. Usulan selanjutnya disebarkan kepada masyarakat untuk memperoleh tanggapan dan saran perbaikan.

32

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT

Sistem norma hukum Indonesia pernah mengalami evolusi hierarki

Peraturan Perundang-undangan, saat ini yang menjadi acuan hierarki peraturan

perundang-undangan di Indonesia adalah UU No. 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan khusus untuk Peraturan Daerah

maka ditambah dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 53 Tahun 2011

tentang Pembentukan Produk Hukum Daerah.

Sebelumnya UU No. 12 Tahun 2011, yang disahkan oleh DPR RI dan

Presiden RI pada tanggal 12 Agustus 2011, sebagai pedoman pembentukan

peraturan perundang-undangan, acuan hierarki peraturan perundang-undangan di

Negara ini di tuangkan dalam UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan. UU No. 12 Tahun 2011 merupakan pengganti

dari UU No. 10 Tahun 2004. Sebelum diatur dalam bentuk UU, hierarki

perundang-undangan mengacu kepada dua Ketetapan Majelis Permusyawaratan

Rakyat/Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (Tap MPR/MPRS).

TAP MPRS No. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPRGR mengenai

sumber tertib hukum RI dan Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan RI, TAP

MPR No. III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Perundang-

undangan.

Apabila kita merujuk kepada teori jenjang norma dari Hans Kelsen dan

teori jenjang norma hukum dari Hans Nowiasky maka kita bisa melihat adanya

pencerminan dari dua sistem norma tersebut dalam sistem norma hukum

(jednis/hierarki Peraturan Perundang-undangan) di Indonesia.

Norma hukum yang satu selalu berlaku, bersumber, dan berdasarkan pada

norma hukum yang lebih tinggi diatasnya, dan norma hukum yang lebih tinggi

juga selalu merujuk pada norma hukum yang lebih tinggi lagi sehingga lahir gium

yang mengatakan ‘Lex superior derogate legis inferiori’ yang dapat diartikan

hukum yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih

33

tinggi. Demikian seterusnya sampai pada suatu norma fundamental negara (staatsfundamentalnorm) Republik Indonesia yaitu Pancasila. Asasnya adalah peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang kedudukannya lebih tinggi. Sistem norma hukum Indonesia khususnya dalam pembuatan rancangan peraturan daerah menggaris bawahi bahwa Pancasila merupakan norma hukum tertinggi atau sumber dari segala sumber hukum Negara. Jenjang dibawah Pancasila sekaligus menempati puncak hierarki Peraturan perundang-undangan di Indonesia adalah UUD 1945 sebagai aturan dasar Negara/ aturan pokok Negara (staatsgrundgesetz). Untuk memberikan jaminan hukum, penetapan Rencana Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) dimuat dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP), Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) dan Rencana Tahunan, baik nasional, provinsi maupun kabupaten/kota. Disamping itu pada UU Nomor 41 Tahun 2009 Pasal 23 dengan tegas disebutkan bahwa penetapan Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan Nasional diatur dalam Peraturan Pemerintah mengenani Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan untuk di Tingkat Provinsi diatur dalam Perda mengenai tata ruang wilayah provinsi serta di kabupaten/kota diatur dalam Perda tata ruang wilayah kabupaten/kota. Demikian juga halnya apabila suatu Kawasan Pertanian Pangan Berkelanjutan tertentu memerlukan perlindungan khusus, kawasan tersebut dapat ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). Ketentuan lebih detail tentang Penetapan dan Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 1 Tahun 2011. Dalam UU Nomor 41 Tahun 2009 juga dinyatakan bahwa dalam suatu hal, suatu daerah/kawasan ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, maka pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan konservasi tanah dan air yang meliputi : 1) perlindungan sumber daya lahan dan air; 2) pelestarian sumber daya lahan dan air; 3) pengelolaan kualitas lahan dan air serta 4) pengendalian terhadap pencemaran. Hal ini dilakukan guna memberikan jaminan bahwa LP2B yang telah ditetapkan, tetap produktif dan mampu

34

memberikan dukungan dalam proses produksi pangan dalam jangka panjang dan berkelanjutan. Menyadari atas keberadaan hak miliki masyarakat, terhadap lahan masyarakat yang ditetapkan sebagai LP2B dan memperhitungkan nilai ekonomi lahan serta hasil yang diperoleh dari pengusahaan lahan tersebut oleh pemilik lahan, maka dalam rangka perlindungan dan pengendalian LP2B dilakukan oleh pemerintah dan pemerintah daerah melalui pemberian : insentif, disinsentif, mekanisme perizinan, proteksi dan penyuluhan. Insentif dapat diberikan dalam bentuk : 1) keringanan PBB; 2) pengembangan infrastruktur pertanian; 3) pembiayaan penelitian dan pengembangan benih dan varietas unggul; 4) kemudahan dalam mengkases informasi dan teknologi; 5) penyediaan sarana dan prasarana produksi pertanian; 6) jaminan penerbitan sertifikat bidang tanah pertanian tanaman pangan serta 7) penghargaan bagi petani berprestasi tinggi. Pemberian insentif diberikan dengan mempertimbangkan : jenis lahan, kesuburan tanah, luas,kondisi irigasi, produktivitas usahatani, lokasi, dll. Pemberian insentif perlindungan LP2B lebih lanjut diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Insentif Perlindungan Lahan Pertanian Berkelanjutan. Pemberian insentif perlindungan LP2B bertujuan untuk : 1) mendorong perwujudan LP2B yang telah ditetapkan; 2) meningkatkan upaya pengendalian alih fungsi LP2B; 3) meningkatkan pemberdayaan, pendapatan dan kesejahteraan petani; 4) memberikan kepastian hak atas tanah bagi petani dan 5) meningkatkan kemitraan semua pemangku kepentingan dalam rangka pemanfaatan, pengembangan dan perlindungan LP2B. Pembiayaan perlindungan LP2B dibebankan pada APBN, APBD Provinsi serta APBD Kabupaten/Kota.Ketentuan lebih lanjut tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan diatur dalam Peraturan Pemerintah RI Nomor 30 Tahun 2012.

35

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS, DAN YURIDIS

A. Landasan Filosofis.

Dasar filosofis berkaitan dengan rechtsidee dimana semua masyarakat mempunyainya, yaitu apa yang mereka harapkan dari hukum, misalnya untuk menjamin keadilan, ketertiban, kesejahteraan dan sebagainya. Cita hukum atau rechtsidee tersebut tumbuh dari sistem nilai mereka mengenai baik atau buruk, pandangan terhadap hubungan individu dan kemasyarakatan, tentang kebendaan, kedudukan wanita dan sebagainya. Semuanya itu bersifat filosofis artinya menyangkut pandangan mengenai hakikat sesuatu. Hukum diharapkan mencerminkan sistem nilai tersebut baik sebagai sarana mewujudkannya dalam tingkah laku masyarakat. Nilai-nilai ini ada yang dibiarkan dalam masyarakat sehingga setiap pembentukan hukum atau peraturan perundang-undangan harus dapat menangkapnya setiap kali akan membentuk hukum atau peraturan perundang-undangan. Akan tetapi adakalanya

sistem nilai tersebut telah terangkum dengan baik berupa teori-teori filsafat maupun dalam doktrin-doktrin resmi (Pancasila). Dalam tataran filsafat hukum, pemahaman mengani pemberlakuan moral bangsa ke dalam hukum (termasuk peraturan perundang-undangan dan Perda) ini dimasukan dalam pengertian yang disebut dengan rechtsidee yaitu apa yang diharapkan dari hukum, misalnya untuk menjamin keadilan, ketertiban, kesejahteraan dan sebagainya yang tumbuh dari sistem nilai masyarakat (bangsa) mengenai baik dan buruk, pandangan mengenai hubungan individu dan masyarakat, tentang kebendaan, tentang kedudukan wanita, tentang dunia gaib dan lain sebagainya. 21 Berdasarkan pada pemahaman seperti ini, maka bagi pembentukan/ pembuatan hukum atau peraturan perundang-undangan di Indonesia harus berlandaskan pandangan filosofis Pancasila, yakni :

21 Bagir Manan, Pertumbuhan dan Perkembangan Konstitusi Suatu Negara, Mandar Maju, Bandung, 1995, Hlm. 20

36

a. Nilai-nilai religiusitas bangsa Indonesia yang terangkum dalam sila Ketuhanan Yang Maha Esa;

b. Nilai-nilai hak-hak asasi manusia dan penghormatan terhadap harkat dan martabat kemanusiaan sebagaimana terdapat dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab;

c. Nilai-nilai kepentingan bangsa secara utuh, dan kesatuan hukum nasional seperti yang terdapat di dalam sila Persatuan Indonesia;

d. Nilai-nilai demokrasi dan kedaulatan rakyat, sebagaimana terdapat di

dalam Sila Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan; dan

e. Nilai-nilai keadilan baik individu maupun sosial seperti yang tercantum dalam sila Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kelima dasar filosofis tersebut harus tersurat maupun tersirat tertuang dalam suatu peraturan daerah bahkan alasan atau latar belakang terbentuknya suatu peraturan daerah harus bersumber dari kelima nilai filosofi tersebut. Seperti telah banyak disinggung dalam pembukaan di atas bahwa landasan filsafat dalam suatu Negara yang menganut paham Negara Hukum Kesejahteraan, fungsi dan tugas negara tidak semata-mata hanya mempertahankan dan melaksanakan hukum seoptimal mungkin guna terwujudnya kehidupan masyarakat yang tertib dan aman, melainkan yang terpenting adalah bagaimana dengan landasan hukum tersebut kesejahteraan umum dari seluruh lapisan masyarakatnya (warga negara) dapat tercapai. Pemahaman di atas merupakan implementasi dari negara hukum kesejahteraan, yang oleh beberapa sarjana sering disebut dengan berbagai macam istilah misalnya negara hukum modern, negara hukum materiil, negara kesejahteraan. Dan tugas yang terpenting dari suatu Negara yang menganut

hukum kesejahteraan mencakup dimensi yang luas yakni mengutamakan kepentingan seluruh warga negaranya, sudah sewajarnya bila dalam melaksanakan tugasnya tidak jarang bahkan pada umumnya pemerintah atau Negara turut

37

campur secara aktif dalam berbagai aspek kehidupan warga negaranya, hal ini sejalan dengan pendapat Sudargo Gautama. 22

Di dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 dijelaskan

bahwa

berdasarkan pada asas Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang baik, yang meliputi:

a. kejelasan tujuan;

b. kelembagaan atau pejabat pembentuk yang tepat;

c. kesesuaian antara jenis, hierarki, dan materi muatan;

d. dapat dilaksanakan;

e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;

f. kejelasan rumusan; dan

g. keterbukaan.

harus

mencerminkan asas:

a. pengayoman;

b. kemanusiaan;

c. kebangsaan;

d. kekeluargaan;

e. kenusantaraan;

f. bhinneka tunggal ika;

g. keadilan;

h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;

i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau

j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.

membentuk Peraturan perundang-undangan harus dilakukan

dalam

Selanjutnya

materi

muatan

Peraturan

Perundang-undangan

22 Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni Bandung, 1983, Hlm. 10; Negara hukum modern dianggap mempunyai kewajiban yang lebih luas, Negara yang modern harus mengutamakan kepentingan seluruh masyarakatnya. Kemakmuran dan keamanan sosial yang harus dicapai. Berdasarkan tugas pemerintah ini, penguasa zaman sekarang turut serta dengan aktif dalam mengatur pergaulan hidup khalayak ramai. Lapangan kerja penguasa pada waktu ini jauh lebih besar dan luas dari pada pemerintah model kuno. Dalam tindakan-tindakan pemerintah dewasa ini yang menjadi tujuan utama ialah kepentingan umum.

38

Secara filosofis, Lahan pertanian pangan merupakan bagian dari bumi sebagai karunia Tuhan yang Maha Esa yang dikuasasi oleh Negara dan dipegunakan untuk sebesar-besar kemakmuran dan kesejahteraan rakyat sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945. Indonesia sebagai Negara agraris perlu menjamin penyediaan lahan pertanian pagan secara berkelanjutan sebagai sumber pekerjaan dan penghiduan yang layak bagi kemanusiaan dengan mengendepankan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan kemandirian serta menjaga keseimbangan, kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.

B. Landasan Sosiologis.

Dasar sosiologis dari peraturan daerah adalah kenyataan yang hidup dalam masyarakat (living law) harus termasuk pula kecenderungan-kecenderungan dan harapan-harapan masyarakat. Tanpa memasukan faktor-faktor kecenderungan dan harapan, maka peraturan perundang-undangan hanya sekedar merekam seketika (moment opname). Keadaan seperti ini akan menyebabkan kelumpuhan peranan hukum. Hukum akan tertinggal dari dinamika masyarakat. Bahkan peraturan perundang-undangan akan menjadi konservatif karena seolah-olah pengukuhan kenyataan yang ada. Hal ini bertentangan dengan sisi lain dari peraturan perundang-undangan yang diharapkan mengarahkan perkembangan masyarakat. Peraturan perundang-undangan dibentuk oleh Negara dengan harapan dapat diterima dan dipatuhi oleh seluruh masyarakat secara sadar tanpa kecuali. Harapan seperti ini menimbulkan konsekuensi bahwa setiap peraturan perundang- undangan harus memperhatikan secara lebih seksama setiap gejala sosial masyarakat yang berkembang. Dalam hal ini Eugene Ehrlich mengemukakan gagasan yang sangat rasional, bahwa terdapat perbedaan antara hukum positif di

satu pihak dengan hukum yang hidup dalam masyarakat (living law) di pihak lain. Oleh karena itu hukum posistif akan memiliki daya berlaku yang efektif apabila berisikan, atau selaras dengan hukum yang hidup dalam masyarakat. 23

23 Lili Rasjidi, Filsafat Hukum Apakah Hukum itu, Remaja Rosdakarya, Bandung, 1991, Hlm. 49-

39

Berpangkal tolak dari pemikiran tersebut, maka peraturan perundang- undangan sebagai hukum positif akan mempunyai daya berlaku jika dirumuskan ataupun disusun bersumber pada living law tersebut. Dalam kondisi yang demikian maka peraturan perundang-undangan tidak mungkin dilepaskan dari gejala sosial yang ada di dalam masyarakat tadi. Sehubungan dengan hal itu, Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka mengemukakan landasan teoritis sebagai dasar sosiologis berlakunya suatu kaidah hukum termasuk peraturan daerah yaitu :

a. Teori kekuasaan (Machttbeorie), secara sosiologis kaidah hukum berlaku karena paksaan penguasa, terlepas diterima atau tidak diterima oleh masyarakat;

b. Teori pengakuan (Annerkennungstbeorie), kaidah hukum berlaku

berdasarkan penerimaan dari masyarakat tempat hukum itu berlaku. 24 Berdasarkan landasan teoritis tersebut, maka pemberlakuan suatu peraturan daerah ditinjau dari aspek sosiologis, tentunya sangat ideal jika didasarkan pada penerimaan masyarakat pada tempat peraturan daerah itu berlaku,

dan tidak didasarkan pada faktor teori kekuasaan yang menekankan pada aspek pemaksaan dari penguasa. Kendatipun demikian, teori kekuasaan memang tetap dibutuhkan bagi penerapan suatu peraturan daerah. Penerapan teori kekuasaan ini dilakukan sepanjang budaya hukum masyarakat memang masih sangat rendah. Terkait dengan dua landasan teoritis yang menyangkut landasan sosiologis bagi suatu peraturan daerah, Moh. Mahfud MD, mengemukakan karakter produk hukum yang menjadi pilihan diantaranya :

a. Produk hukum responsive/ populis adalah produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi harapan masyarakat dalam proses pembuatannya memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompok-kelompok sosial atau individu dalam masyarakat. Hasilnya bersifat responsive terhadap tuntutan-tuntutan kelompok sosial atau individu dalam masyarakat;

24 Bagir Manan, Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia, Ind-Hil Co, Jakarta, 1992, Hlm. 16

40

b. Produk hukum konservatif/ortodoks/elitis adalah produk hukum yang

isinya lebih mencerminkan visi sosial elit politik, lebih mencerminkan keinginan pemerintah, bersifat positivis instrumentalis, yakni menjadi alat pelaksana idiologi dan program Negara. Sifatnya lebih tertutup terhadap tuntutan-tuntutan kelompok maupun individu-individu dalam masyarakat. Dalam pembuatannya peranan dan partisipasi masyarakat relatif kecil. 25 Pandangan seperti ini sangat relevan jika diletakan dalam konteks peraturan daerah sebagai salah satu dari produk hukum seperti peraturan daerah. Dalam argumen lain Allen mengemukakan bahwa ciri demokratis masyarakat- masyarakat dunia sekarang ini memberikan capnya sendiri tentang cara-cara peraturan daerah itu diciptakan, yaitu yang menghendaki unsur-unsur sosial kedalam peraturan perundang-undangan juga peraturan daerah. 26

Oleh karena yang disebut sebagai unsur-unsur sosial adalah bersifat multidimensional dan multisektoral maka tidak dapat disangkal jika proses pembuatan suatu peraturan daerah dapat juga disebut sebagai proses pembuatan pilihan-pilihan hukum dari berbagai sektor dan dimensi sosial yang akan dipergunakan sebagai kaidah yang mengikat dan bersifat umum. Demikian halnya dengan rancangan Peraturan Daerah Kabupaten Cianjur tentang Pelestarian Lahan untuk Ketahanan pangan. Dasar sosiologis dibuatnya peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan adalah bahwa Negara menjamin hak atas pangan sebagai hak asasi setiap warga Negara sehingga Negara berkewajiban menamin kemandirian, ketahanan dan kedaulatan pangan. Makin meningkatnya pertambahan penduduk serta perkembangan ekonomi dan industry mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Produksi pangan dalam negeri menjadi unsur utama dalam memperkuat ketahanan pangan dan pembangunan pedesaan. Upaya kearah itu menjadi strategis di masa dating. Dalam konteks prtanahan upaya peningkatan produksi tersebut

25 Moh Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3S, Jakarta, 1998, Hlm. 25

26 Ibid, Hlm. 115-116

41

dapat ditempuh melalui dua hal yaitu, jaminan ketersediaan tanah pertanian dan peningkatan akses masyarakat petani terhadap tanah pertanian. Ketersediaan akses terhadap tanah hingga kini masih merupakan isu penting di Indonesia, yang dicirikan dengan terjadinya ketimpangan dalam alokasi penguasaan, penggnaan dan pemanfaatan tanah antar sector khususnya antara sector pertanian dan non pertanian, yang berdampak kepada penyusutan tanah pertanian terutama tanah pertanian tanaman pangan. Ha ini secara langsung merupakan ancaman terhadap ketahanan pangan yang berdampak kepada goncangan politk di masa mendatang. 27 Perlindungan lahan pertanian pangan merupakan upaya yang tidak terpisahkan dari reforma agraria. Reforma agraria tersebut mencakup upaya penataan yang terkait dengan aspek penguasaan/pemilikan serta aspek penggunaan/ pemanfaatan sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 2 Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor IX/MPR-RI/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam.

C. Landasan Yuridis.

Pembentukan peraturan perundang-undangan, haruslah mengacu pada landasan pembentukan peraturan perundang-undangan atau ilmu perundang- undangan (gesetzgebungslehre), 28 yang diantaranya landasan yuridis. Setiap produk hukum, haruslah mempunyai dasar berlaku secara yuridis (juridische gelding). Dasar yuridis ini sangat penting dalam pembuatan peraturan perundang- undangan khususnya peraturan daerah. Peraturan daerah merupakan salah satu unsur produk hukum, maka prinsip-prinsip pembentukan, pemberlakuan dan penegakannya harus

27 Iwan isa, Kebijakan dan Permasalahan Penyediaan Tanah Mendukung Ketahanan Pangan, diunduh tanggal 7 Juli 2014, pukul 08.00 WIB, hlm 82.

28 Hamzah Halim dan Kemal Redindo Syahrul Putera, Cara Praktis Menyusun & Merancang Peraturan Daerah; Suatu Kajian Teoritis & Praktis Disertai Manual; Konsepsi Teoritis Menuju Artikulasi Empiris, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010, Hlm. 23; Krems, mengatakan gesetzgebungslehre mempunyai tiga sub bagian disiplin, yakni proses perundang-undangan gesetzgebungsverfahren (slehre); metode perundang-undangan gesetzgebungsmethode (nlehre); dan teknik perundang-undangan gesetzgebungstechnik (lehre).

42

mengandung nilai-nilai hukum pada umumnya. Berbeda dengan nilai-nilai sosial lainnya, sifat kodratinya dari nilai hukum adalah mengikat secara umum dan ada pertanggungjawaban konkrit yang berupa sanksi duniawi ketika nilai hukum tersebut dilanggar. Oleh karena itu peraturan daerah merupakan salah satu produk hukum, maka agar dapat mengikat secara umum dan memiliki efektivitas dalam hal pengenaan sanksi maka dapat disesuaikan dengan pendapat Lawrence M. Friedman, 29 mengatakan bahwa sanksi adalah cara-cara menerapkan suatu norma atau peraturan. Sanksi hukum adalah sanksi-sanksi yang digariskan atau di otorisasi oleh hukum. Setiap peraturan hukum mengandung atau mengisyaratkan sebuah statemen mengenai konsekuensi-konsekuensi hukum, konsekuensi- konsekuensi ini adalah sanksi-sanksi, janji-janji atau ancaman. Dalam pembentukan peraturan daerah sesuai pendapat Bagir Manan harus memperhatikan beberapa persyaratan yuridis. Persyaratan seperti inilah

yang dapat dipergunakan sebagai landasan yuridis, yang dimaksud disini adalah :

a. Dibuat atau dibentuk oleh organ yang berwenang, artinya suatu peraturan perundang-undangan harus dibuat oleh pejabat atau badan yang mempunyai kewenangan untuk itu. Dengan konsekuensi apabila tidak diindahkan persyaratan ini maka konsekuensinya undang-undang tersebut batal demi hukum (van rechtswegenietig);

b. Adanya kesesuaian bentuk/ jenis Peraturan perundang-undangan dengan materi muatan yang akan diatur, artinya ketidaksesuaian bentuk/ jenis dapat menjadi alasan untuk membatalkan peraturan perundang-undangan yang dimaksud;

29 Lawrence M. Friedman, Sistem Hukum Persfektif Ilmu Sosial, The Legal System; A Social Science Perspective, Nursamedia, Bandung, 2009, Hlm. 93-95; efek pencegah atau efek insentif dari sanksi pertama-tama berarti pencegahan umum, yakni kecenderungan bahwa populasi atau sebagian populasi yang mendengar tentang sanksi atau melihat beroperasinya sanksi akan memodifikasi prilakunya sesuai hal itu.

43

c. Adanya prosedur dan tata cara pembentukan yang telah ditentukan adalah pembentukan suatu peraturan perundang-undangan harus melalui prosedur dan tata cara yang telah ditentukan; 30

d. Tidak boleh bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannnya adalah sesuai dengan pandangan stufenbau theory, peraturan perundang-undangan mengandung norma-norma hukum yang sifatnya hirarkhis. Artinya suatu Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi tingkatannya merupakan grundnorm (norma dasar) bagi peraturan perundang-undangan yang lebih rendah tingkatannya. 31

Peraturan

daerah

tentang

pelestarian

lahan

untuk

ketahanan

pangan

mempunyai keterkaitan dengan peraturan perundang-undangan lainnya, yaitu:

1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok- Pokok Agraria;

2. Undang-Undang Nomor 56 Prp tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian;

3. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman;

4. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

5. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan;

6. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

7. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

8. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

9. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

10. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan.

11. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

30 Pasal 20 Ayat (2) UUD 1945 dan lihat pula Pasal 136 Ayat (1) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.

31 Bagir Manan, Op Cit, Hlm. 14-15

44

Aspek penguasaan/pemilikan berkaitan dengan hubungan hukum antara manusia dan lahan, sedangkan aspek penggunaan/pemanfaatan terkait dengan kegiatan pengambilan manfaat atau nilai tambah atas sumber daya lahan. Ketentuan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dimaksudkan agar bidang-bidang lahan tertentu hanya boleh digunakan untuk aktifitas pertanian pangan yang sesuai. Untuk mengimplementasikannya, diperlukan pengaturan- pengaturan terkait dengan penguasaan/pemililikan lahannya agar penguasaan/pemilikan lahan terdistribusikan secara efisien dan berkeadilan. Pada saat yang sama diharapkan luas lahan yang diusahakan petani dapat meningkat secara memadai sehingga dapat menjamin kesejahteraan keluarga petani serta tercapainya produksi pangan yang mencukupi kebutuhan.

45

BAB V

JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RUANG LINGKUP

MATERI MUATAN PERDA

A. Ketentuan Umum.

Dalam rancangan Peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk

ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur, ada beberapa istilah yang perlu

dicantumkan yaitu:

1. Daerah adalah Kabupaten Cianjur.

2. Pemerintah Daerah adalah Bupati dan perangkat daerah sebagai unsur

penyelenggara pemerintahan daerah Kabupaten Cianjur.

3. Bupati adalah Bupati Cianjur.

4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disingkat DPRD

adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur.

5. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris daerah Cianjur.

6. Bagian Hukum adalah Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten

Cianjur.

7. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selanjutnya disingkat APBD

adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan

disetujui bersama oleh Pemerintah daerah dan DPRD, dan ditetapkan

dengan peraturan daerah.

8. Organisasi Perangkat Daerah yang selanjutnya disingkat OPD adalah

sekretariat daerah, dinas, badan, kantor, kecamatan dan kelurahan di

lingkungan Pemerintah Daerah.

9. Penyidik Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat PPNS adalah

penyidik pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Kabupaten

Cianjur.

10. Dinas adalah Dinas yang bertanggung jawab di bidang pertanian, ketahanan pangan.

11. Lahan adalah bagian daratan dari permukaan bumi sebagai lingkungan

fisik yang meliputi tanah beserta segenap faktor yang mempengaruhi

46

penggunaannya seperti iklim, relief, aspek geologi, dan hidrologi yang terbentuk secara alami maupun akibat pengaruh manusia.

adalah bidang lahan yang digunakan untuk usaha

pertanian.

12. Lahan

Pertanian

13. Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah bidang lahan pertanian yang ditetapkan untuk dilindungi dan dikembangkan secara konsisten guna menghasilkan pangan pokok bagi kemandirian, ketahanan, dan kedaulatan pangan nasional.

14. Alih Fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan adalah perubahan fungsi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan menjadi bukan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan baik secara tetap maupun sementara.

15. Setiap orang adalah Orang Perseorangan, Kelompok orang atau Korporasi, baik yang berbentuk Badan Hukum maupun Bukan Badan Hukum.

16. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disingkat RTRW adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Cianjur.

17. Kemandirian Pangan adalah kemampuan produksi pangan dalam negeri yang didukung kelembagaan ketahanan pangan yang mampu menjamin pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup ditingkat rumah tangga, baik dalam jumlah, mutu, keamanan, maupun harga yang terjangkau, yang didukung oleh sumber-sumber pangan yang beragam sesuai dengan keragaman lokal.

18. Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata, dan terjangkau.

19. Kedaulatan Pangan adalah hak negara dan bangsa yang secara mandiri dapat menentukan kebijakan pangannya, yang menjamin hak atas pangan bagi rakyatnya, serta memberikan hak bagi masyarakatnya untuk menentukan sistem pertanian pangan yang sesuai dengan potensi sumber daya lokal.

47

B. Materi Yang Akan Diatur

Adapun materi yang diatur dalam rancangan peraturan daerah Kabupaten Cianjur tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan adalah sebagai berikut:

Bab I. Ketentuan umum. Di dalam ketentuan umum dijelaskan mengenai beberapa peristilahan yang dimuat dalam raperda tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur . Bab II. Landasan, Asas dan Tujuan. Di dalam bab ini dijelaskan mengenai landasan pelestarian lahan untuk ketahanan pangan, asas-asas dan tujuannya. Bab III. Ruang Lingkup. Di dalam bab ini dijelaskan ruang lingkup Pelestarian Lahan untuk Ketahanan Pangan dilaksanakan secara terintegrasi. Bab IV. Kewenangan. Didalam bab ini dijelaskan mengenai kewenangan pemerintah Daerah dalam hal menangani pelestarian lahan untuk ketahanan pangan. Bab V. Pengendalian Alih Fungsi lahan. Pengendalian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan secara terkoordinasi antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah. Bab VI. Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Di dalam Bab VI dijelaskan mengenai perlindungan dan pemberdayaan

petani.

Bab VII. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian.

Dalam

bab

ini

dijelaskan

mengenai

pembinaan,

pengawasan

dan

pengendalian.

Bab VIII. Pembiayaan

Pembiayaan dibebankan kepada APBD CIanjur. Bab IX. Peran serta Masyarakat. Dalam bab ini dijelaskan mengenai Masyarakat berperan serta dalam pelestarian lahan untuk ketahanan Pangan. Bab X. Penyidikan.

48

Penyidikan dilakukan oleh PPNS. Bab XI. Ketentuan Penutup Dijelaskan mengenai perintah pengundangan dalam Lembaran Daerah.

49

BAB VI

PENUTUP

A.

Di dalam penyusunan naskah akademik Raperda Kabupaten Cianjur tentang Pelestarian Tanah untuk ketahanan pangan ada beberapa hal yang dapat

disimpulkan yaitu:

1. Latar belakang diperlukannya peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur adalah usaha-usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam memberikan perlindungan lahan pertanian pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan kedaulatan pangan menuju kemandirian pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat pada umumnya.

2. Pengelolaan lahan untuk ketahanan pangan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Cianjur selama ini belum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku karena masih ada beberapa alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan pemukiman yang diharuskan untuk penggantian lahan yang sama belum terrealisasikan oleh Pemerintah Daerah dan Pengusaha.

3. Pertimbangan atau landasan filosofis, sosiologis, dan yuridis pembentukan rancangan peraturan daerah tentang pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur adalah Di Kabupaten Cianjur alih fungsi lahan pertanian merupakan ancaman terhadap pencapaian ketahanan pangan menuju kedaulatan pangan. Alih fungsi lahan mempunyai implikasi yang serius terhadap produksi pangan, lingkungan fisik serta kesejahteraan masyarakat pertanian dan perdesaan yang kehidupannya tergantung pada lahannya. Alih fungsi lahan-lahan pertanian subur yang selama ini terjadi kurang diimbangi dengan upaya-upaya secara terpadu dalam pengembangan lahan pertanian melalui pencetakan lahan pertanian baru yang potensial. Disamping itu alih fungsi lahan menyebabkan makin sempitnya luas

Kesimpulan.

50

garapan yang berdampak kepada tidak terpenuhinya skala ekonomi usahatani, sehingga berakibat kepada in-efisiensi dan pada akhirnya menurunnya kesejahteraan petani. Kecilnya luas garapan petani juga disebabkan oleh peningkatan jumlah rumah tangga petani yang tidak sebanding dengan luas lahan yang diusahakan. Akibatnya jumlah petani gurem dan buruh tani tanpa penguasaan/kepemilikan lahan terus bertambah yang berakibat kepada sulitnya upaya peningkatan kesejahteraan petani dan pengentasan kemiskinan di kawasan perdesaan. Secara yuridis penyediaaan lahan untuk ketahanan pangan diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dan peraturan perundang-undangan lainnya.

4. Sasaran, ruang lingkup, jangkauan dan arah pengaturan pelestarian lahan untuk ketahanan pangan di Kabupaten Cianjur kedepan adalah harus memuat mengenai asas dan tujuan dari pelestarian lahan untuk ketahanan pangan, kewenangan pemerintah daerah, pengendalian, pembinaan dan pengawasan serta peran serta masyarakat dalam pelestarian lahan.

B. Saran.

1. Diharapkan Pemerintah Daerah dalam membuat kebijakan penyediaan tanah untuk mendukung ketahanan pangan berpedoman terhadap asas-asas

ketahanan pangan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Diharapkan dalam pengawasan terhadap penyediaan tanah yang mendukung ketahanan pangan dilakukan secara berkesinambungan.

51

DAFTAR FUSTAKA

Buku-Buku :

A. Hamid S. Attamimi, Teori Perundang-Undangan Indonesia, Makalah pada Pidato Upacara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap di Fakultas Hukum UI Jakarta, 25 April 1992

A. Mukhtie Fadjar, Tipe Negara Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, 2005

Abdul Latif, Fungsi Mahkamah Konstitusi Dalam Upaya Mewujudkan Negara Hukum Demokrasi, Total Media, Yogyakarta, 2007

Bagir Manan dan Kuntana Magnar, Mewujudkan Kedaulatan Rakyat Melalui Pemilihan Umum, dalam Bagir Manan (Ed), Kedaulatan Rakyat, Hak Asasi Manusia dan Negara Hukum, Gaya Media Pratama, Jakarta, 1996

-------------------Dasar-dasar

Konstitusional

Peraturan

Perundang-undangan

Nasional, Fakultas Hukum Universitas Andalas, Padang, 1994

-------------------Dasar-dasar Jakarta, 1992

-------------------Pertumbuhan

Perundang-undangan

dan

Perkembangan

Mandar Maju, Bandung, 1995

Indonesia,

Konstitusi

Ind-Hil

Co,

Suatu

Negara,

Brian Z. Tamahana, On the Rule of Law, History, Politics, Theory, Cambridge University Press,2004

H. Rojidi Ranggawijaya, Pengatar Ilmu Perundang-undangan Indonesia, Mandar Maju, Bandung, 1998

H.W.R. Wade, Administrative Law, Third Edition (Oxford: Clarendon Press,

1971)

Hamzah Halim dan Kemal Redindo Syahrul Putera, Cara Praktis Menyusun & Merancang Peraturan Daerah; Suatu Kajian Teoritis & Praktis

52

Disertai Manual; Konsepsi Teoritis Menuju Artikulasi Empiris, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2010

J.J. Oostenbrink, Administratieve Sancties, Vuga Boekerij, s-Gravenhage, tt

Jilmy Asshiddiqie, Pengantar Hukum Tata Negara, Jilid II, Sekretariat Jendral dan Kepanitraan RI, Jakarta,2006

Lawrence M. Friedman, Sistem Hukum Persfektif Ilmu Sosial, The Legal System; A Social Science Perspective, Nursamedia, Bandung, 2009

Lili Rasjidi, Filsafat Hukum Apakah Hukum itu, Remaja Rosdakarya, Bandung,

1991

Mahendra Putra Kurnia dkk, Pedoman Naskah Akademik PERDA Partisipatif (urgensi, strategi, dan proses bagi pembentukan Perda yang baik), Total Media, Yogyakarta, 2007

Miriam Budiarjdo,

Dasar-Dasar Ilmu

Utama, Jakarta

Mochtar

Kusumaatmadja,

Fungsi

Politik, Cet. XIII,

dan

Perkembangan

Gramedia Pustaka

Hukum

Dalam

Pembangunan Nasional, Bina Cipta, Bandung, 1976

Moh Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, LP3S, Jakarta, 1998

Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum Studi Tentang Prinsip-prinsipnya dilihat dari Segi Hukum Islam, Implementasinya pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Cet. II, Prenada Media, Jakarta,

2003

N.E. Algra dan H.C.J.G. Jansen, Rechtsingang Een Orientasi in Het Recht, H.D. Tjeenk Willink bv, Groningen, 1974

P.J.P. Tak, Rechtsvorming in Nederland, Samsom H.D. Tjeenk Willink, 1991

Penjelasan Umum Undang-Undang No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

53

Philipus M. Hadjon, Perlindungan Hukum bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu, Surabaya, 1987

Purnadi Purbacaraka dan Soerjono Soekanto, Ikhtiar Antinomi Aliran Filsafat Sebagai Landasan Filsafat Hukum, Rajawali, Jakarta, 1985

Ridwan HR, Hukum Adminsitrasi Negara, UII Perss Yogyakarta, 2003

Rustiadi dan W. Reti, Urgensi Lahan Pertanian Pangan Abadi dalam Perspektif Ketahanan Pangan, dalam Arsyad s dan E. Rustiadi (ed), Penyelamatan tanah, air dan lingkungan, Crestpent Press dan yayasan Obor Indonesia.

Sabiham, Manajemen Sumberdaya lahan dan usaha pertanian berkelanjutan, dalam Arsyad dan E. Rustiadi (ed), Penyelamatan tanah, air dan lingkungan, Crestpent Press dan yayasan Obor Indonesia,

Soedjono Dirdjosisworo, Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta, Rajawali Pers, 1984

Sri Soemantri, Perbandingan Antar Hukum Tata Negara, Alumni, Bandung, 1971

Sudargo Gautama, Pengertian Tentang Negara Hukum, Alumni Bandung, 1983

Sudikno Mertokusumo dalam Y. Sari Murti Widiyastuti, Ringkasan Disertasi untuk Ujian Promosi Doktor Dari Dewan Penguji Sekolah Pascasarjana UGM, 12 Desember 2007

Suko Wiyono, Otonomi Daerah Dalam Negara Hukum Indonesia, Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif, Faza Media, Jakarta, 2006

Yuliandri, Asas-asas Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang Baik; Gagasan Pembentukan Undang-undang Berkelanjutan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2009

B. Peraturan Perundang-undangan.

Undang-Undang Dasar 1945

54

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria;

Undang-Undang Nomor 56 Prp tahun 1960 tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian;

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman;

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air;

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang Perkebunan;

Undang-Undang

Nomor

25

Tahun

Pembangunan Nasional;

2004

tentang

Sistem

Perencanaan

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 Tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang- undangan.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan.

Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2012 Tentang Pembiayaan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

C. Internert, jurnal, makalah.

Anita Widhy, Implementasi Kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan

Berkelanjutan di Kabupaten Magelang, Tesis, UNDIP, Semarang, 2012, hlm 3. Diunduh tanggal 30 Juni 2014, pukul 12.15 WIB. Endro Pranoto, Potensi Wilayah Komoditas Pertanian Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Berbasis Agribisnis Kabupaten Banyumas,, Tesis, UNDIP, Semarang, 2008.

55

Mukhtar Rosyid Haryono, Evaluasi Implementasi Kebijakan Pengendalian Konversi Lahan Pertanian di Kabupaten Kendal, Tesis, Undip, Semarang, 2005. Iwan isa, Kebijakan dan Permasalahan Penyediaan Tanah Mendukung Ketahanan Pangan, 2014. I Made Oka Parwata, Lahan Pertanian, internet, 2014.