Anda di halaman 1dari 10

1

KELUARGA SAKINAH
Oleh Marsha Maharani (2013.35.1985)
Rara (NPM)

1. Pengertian Keluarga Sakinah


Pengertian sakinah dalam beberapa kamus Arab berarti; al-waqaar, aththumannah, dan al-mahbbah (ketenangan hati, ketentraman, dan kenyamanan).1
Imam Ar-Razi dalam tafsirnya Al-Kabr menjelaskan; sakana ilaihi berarti merasakan
ketenangan batin, sedangkan sakana indahu berarti merasakan ketenangan fisik.2
Pengertian sakinah juga terdapat dalam Ensiklopedia Islam3, disebutkan bahwa sakinah
adalah ketenangan dan ketentraman jiwa. Kata ini secara khusus disebutkan dalam AlQuran sebanyak 6 kali, yaitu pada surat Al-Baqarah ayat 248, At-Taubah ayat 26 dan
40 serta Al-Fath ayat 4, 18, dan 26. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa sakinah
itu dihadirkan Allah ke dalam hati para Nabi dan orang-orang yang beriman agar tabah
dan tak gentar menghadapi tantangan, rintangan, musibah, dan cobaan berat. Sakinah
dapat juga dipahami sebagai sesuatu yang memuaskan hati.
Menurut Quraish Shihab, kata sakinah berarti ketenangan. Ketenangan disini
adalah ketenangan yang dinamis. Dalam setiap rumah tangga ada saat dimana terjadi
gejolak, namun dapat segera tertanggulangi dan akan melahirkan sakinah. Sakinah
bukan hanya yang tampak pada ketenangan lahir, tetapi harus disertai dengan
kelapangan dada dan budi bahasa yang halus yang dilahirkan oleh ketenangan batin
akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati dan bergabungnya kejelasan
pandangan dengan tekad yang kuat. Kehadiran sakinah tidak datang begitu saja, tetapi
ada syarat kehadirannya. Kalbu harus disiapkan dengan kesabaran dan ketakwaan.4

1 Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia Terlengkap, (Cet. II;


Surabaya: Pustaka Progressif, 1997), 646.
2 Muslich Taman dan Aniq Farida, 30 Pilar Keluarga Samara: Kado Membentuk Rumah
Tangga Sakinah Mawaddah Wa Rahmah, (Cet. 1; Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2007), 7.
3 Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam, Ensiklopedi Islam 4, (Cet. 3; Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, 1994), 201.

Jadi, jika kata sakinah dikaitkan dengan keluarga, yakni keluarga sakinah, maka
dapat diartikan sebagai keluarga yang penuh dengan ketenangan dan ketentraman.
Ketenangan dan ketentraman keluarga tergantung dari keberhasilan pembinaan
keharmonisan hubungan suami istri dan anggota keluarga yang lain. Sementara
keharmonisan dapat diciptakan dengan adanya kesadaran anggota keluarga dalam
melaksanakan hak dan kewajibannya.
2. Nilai-Nilai Keluarga Sakinah Dalam Islam
Nilai-nilai dalam ajaran Islam yang terkandung dalam keluarga sakinah adalah
sebagai berikut5:
a) Iman kepada Allah
Keluarga sakinah berdiri di atas pondasi keimanan kepada Allah..
Suami dan istri yang memiliki keimanan yang kokoh kepada Allah, akan
merasakan pengawasan dari-Nya. Mereka akan terjaga dalam kebaikan,
terjauhkan dari kejahatan dan keburukan, karena yakin selalu dijaga dan
diawasi Allah. Mereka hidup dalam kesejukan iman, yang membuat suasana
spiritualitas dalam keluarga menjadi semakin kuat. Hal ini yang akan
menjadi pondasi kebahagiaan dan kesuksesan hidup berumah tangga. Iman
akan membimbing arah dan tujuan, iman akan memandu visi dan misi
kehidupan, iman akan menghantarkan kepada jalan yang lurus, dan
menjauhkan dari penyimpangan.
b) Ibadah dalam Kehidupan
Dengan motivasi ibadah, maka kehidupan berumah tangga akan selalu
lurus, di jalan yang benar, dan tidak mudah menyimpang. Jika ada
penyimpangan, maka akan mudah untuk diluruskan kembali karena semua
telah menyadari ada misi ibadah yang harus ditunaikan dalam kehidupan.
Bahwa menikah tidak hanya karena keinginan nafsu kemanusiaan, namun
ada misi yang sangat jelas untuk menunaikan ibadah.
4 M. Quraish Shihab, Pengantin Al-Quran : Kalung Permata Buat Anak-Anakku, (Cet. I;
Jakarta: Lentera, 2007), 80-82.
5 Cahyadi Takariawan, 10 Ciri Keluarga Sakinah, Anda Sudah Memiliki?,
(http://www.kompasiana.com/pakcah/10-ciri-keluarga-sakinah-anda-sudahmemiliki_55292420f17e61f23f8b4583, April 2015) diakses pada tanggal 21 September 2015
pukul 08.57 WIB.

c) Taat pada Ajaran Agama


Dalam mengelola rumah tangga, keluarga sakinah selalu mendasarkan
diri pada ajaran agama. Hal-hal yang dilarang agama tidak akan dijumpai di
dalam rumah, baik berupa keyakinan, tradisi, sampai kepada peralatan,
perhiasan, teknologi, ataupun benda-benda yang digunakan sehari-hari.
Semua yang ada dalam rumah hanya yang dibenarkan menurut ajaran
agama.
d) Mencintai dan Menyayangi
Keluarga sakinah memiliki suasana yang penuh cinta dan kasih
sayang. Suami dan istri saling mencintai dan saling menyayangi. Untuk itu
mereka selalu berusaha untuk melakukan hal terbaik bagi pasangan. Mereka
menghindarkan diri dari tindakan atau ucapan yang saling menyakiti, saling
mengkhianati, saling melukai, saling mendustai, saling mentelantarkan,
saling membiarkan, saling meninggalkan. Mereka berusaha saling
memaafkan kesalahan, saling mendahului meminta maaf, saling membantu
pasangan dalam menunaikan tugas dan kewajiban. Karena cinta maka
mereka tidak mudah emosi, karena cinta maka mereka tidak mudah marah,
karena cinta maka mereka akan selalu setia kepada pasangannya.
e) Menjaga dan Menguatkan dalam Kebaikan
Dalam kehidupan berumah tangga, seiring dengan bertambahnya usia
pernikahan, kadang terjadi penurunan nilai-nilai kebaikan. Suami dan istri
menjadi malas melaksanakan ibadah, malas melakukan kebaikan, malas
menunaikan kewajiban sehingga suasana keluarga menjadi kering kerontang
dan tidak menyenangkan. Mereka selalu berusaha saling menguatkan dalam
kebaikan sehingga tidak membiarkan terjadinya

suasana kekeringan

spiritual dalam kehidupan keluarga. Mereka mengerti cara mengingatkan


pasangan agar tidak menimbulkan salah paham dan kemarahan. Saling
mengingatkan dan menasihati antara suami dan istri adalah cara untuk
saling menjaga dan menguatkan dalam kebaikan.
f) Memberikan yang Terbaik untuk Pasangan
Suami dan istri selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi
pasangan. Suami dan istri saling memberikan pelayanan terbaik,
memberikan

penampilan

terbaik,

memberikan

perhatian

terbaik,

memberikan bantuan terbaik, memberikan kata-kata terbaik, memberikan


senyuman terbaik, memberikan sentuhan terbaik, memberikan motivasi
terbaik, memberikan inspirasi terbaik, memberikan suasana terbaik,
memberikan hadiah terbaik, memberikan waktu terbaik, memberikan
komunikasi terbaik, memberikan wajah terbaik untuk pasangan. Dengan
kondisi seperti ini maka suami dan istri akan selalu berada dalam
kenyamanan hubungan. Mereka tidak menuntut hak dari pasangannya,
namun justru berloimba melaksanakan kewajiban untuk pasangan.
g) Keadilan dalam Rumah Tangga
Suami dan istri dalam keluarga sakinah selalu berusaha untuk
melakukan pembagian peran secara berkeadilan. Tidak boleh ada salah satu
pihak yang terdzalimi atau terbebani secara berlebihan, sementara pihak
lainnya tidak peduli. Oleh karena itu, sejak awal hidup berumah tangga,
suami dan istri telah menerapkan prinsip keadilan di dalam membagi peran.
Ada peran yang sudah ditetapkan oleh ajaran agama, maka tinggal
melaksanakannya sesuai ketentuan agama. Namun untuk peran yang tidak
diatur oleh agama, maka hendaknya bisa dibagi secara berkeadilan oleh
suami dan istri itu sendiri.
h) Kerjasama dalam Mendidik Anak
Suami dan istri dalam keluarga sakinah sadar sepenuhnya bahwa
mereka harus mencetak generasi yang tangguh, generasi yang unggul, yang
akan meneruskan upaya pembangunan peradaban. Anak-anak harus
terwarnai dalam nilai-nilai kebenaran dan kebaikan sehingga menjadi salih
dan salihah. Untuk mencapainya, harus diawali dengan peran kedua orang
tua yang dapat bekerjasama dalam mendidik dan membina anak-anak.
Suami dan istri bekerjasama dalam mengarahkan anak menuju kesuksesan
dunia maupun akhirat, dengan pendidikan yang integratif sejak di dalam
rumah.
3. Kriteria Keluarga Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah

Sebuah keluarga bisa dikatakan sakinah jika memiliki beberapa kriteria berikut
ini6:
a) Keluarga yang dipenuhi dengan semangat keagamaan dan keberagamaan
dalam keluarga. Ciri-ciri keluarga seperti ini terlihat dari struktur interior
rumah yang dihiasi dengan lukisan-lukisan ayat atau simbol keislaman yang
lain, tersedia alat dan tempat salat berjamaah, tersedia dan terdengar bacaan
Al-Quran setiap hari (setidaknya waktu maghrib dan subuh), keberpihakan
pada pendidikan agama untuk semua anggota keluarga dan mengalirnya
harta kekayaan pada hal-hal yang baik.
b) Terwujudnya nilai-nilai sosial yang dilandasi oleh kasih sayang, saling
menghormati, dan saling membantu. Dalam keluarga seperti ini akan
terbentuk sistem komunikasi keluarga yang dipenuhi kesalingpercayaan dan
saling menghargai pendapat dan keinginan masing-masing anggota
keluarga, tercipta sikap demokratis yang dilandasi nilai-nilai agama dan
sosial, serta terhindar dari kekerasan dalam rumah tangga.
c) Fenomena keluarga yang sakinah dapat terlihat dari kehidupan yang
terhindar dari konflik. Permasalahan yang terjadi selalu dimusyawarahkan.
Untuk menghindari konflik, terdapat sistem sosial yang menata peraturan
masing-masing anggota keluarga berdasarkan atas fungsi dan peran masingmasing.
d) Keluarga yang sakinah tidak mengeluarkan keuangan melebihi batas-batas
kewajaran dan kebutuhan konsumtif sehingga tidak terjadi pemborosan,
hidup dalam kesederhanaan sehingga tidak menunjukkan kecongkakan
keluarga, tidak menggunakan keuangan kecuali untuk kebutuhan yang tidak
melanggar tata aturan agama dan negara. Untuk menumbuhkan rasa
memiliki, setiap anggota keluarga disertakan dalam pengambilan keputusan
dan peraturan dalam keluarga sehingga setiap anggota akan mendukung dan
tidak melanggar hasil kesepakatan bersama. Hal ini akan membentuk sikap
mental kemandirian dan rasa bertanggung jawab terhadap fungsi dan
tugasnya.

6 M. F. Zenrif, Di bawah Cahaya Al-Quran: Cetak Biru Ekonomi Keluarga Sakinah, (Cet. 1;
Malang: UIN Press, 2006), 29-30.

e) Setiap anggota keluarga selalu memiliki kelebihan dan kekurangan, pernah


melakukan kebaikan tetapi juga pernah berbuat kejahatan (kecil maupun
besar). Setiap kejelekan dan perilaku negatif yang mungkin pernah
dilakukan oleh setiap anggota keluarga dilihat sebagai sesuatu yang menjadi
kekurangan dan perlu untuk diperbaiki, setiap dosa-dosa yang dilakukan
cepat disadari dan segera berjanji untuk tidak akan mengulanginya kembali.
4. Cara Membangun Keluarga Sakinah
Konsep-konsep cara membangun keluarga sakinah adalah7:
a) Memilih Kriteria Calon Suami atau Istri dengan Tepat
Agar terciptanya keluarga yang sakinah, maka dalam menentukan
kriteria suami maupun istri haruslah tepat. Di antara kriteria tersebut,
misalnya adalah beragama Islam, shalih maupun shalihah; berasal dari
keturunan yang baik-baik; berakhlak mulia, sopan santun dan bertutur kata
yang baik; mempunyai kemampuan membiayai kehidupan rumah tangga
(bagi suami). Rasulullah Saw. bersabda, Perempuan dinikahi karena empat
faktor: Pertama, karena harta; Kedua, karena kecantikan; Ketiga,
kedudukan; dan Keempat, karena agamanya. Maka hendaklah engkau pilih
yang taat beragama, engkau pasti bahagia.
b) Dalam Keluarga Harus Ada Mawaddah dan Rahmah
Mawaddah adalah jenis cinta membara dan yang menggebu-gebu,,
sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban, dan siap
melindungi kepada yang dicintai. Rasa damai dan tentram hanya dicapai
dengan saling mencintai. Maka, rumah tangga muslim punya ciri khusus,
yakni bersih lahir batin, tentram, damai, dan penuh hiasan ibadah.
c) Saling Mengerti Antara Suami dan Istri
Seorang suami atau istri harus tahu latar belakang pribadi masingmasing. Karena pengetahuan terhadap latar belakang pribadi masing-masing
adalah sebagai dasar untuk menjalin komunikasi. Dan dari sinilah, seorang
suami atau istri tidak akan memaksakan egonya. Banyak keluarga hancur,

7 Anonim, Cara Membangun Keluarga Sakinah, (http://unknownharmonikeluarga.blogspot.co.id/2012/05/cara-membangun-keluarga-sakinah.html, 2012)


diakses pada 21 September 2015 pukul 09.57 WIB.

disebabkan oleh sifat egoisme. Ini artinya seorang suami tetap bertahan
dengan keinginannya dan begitu pula istri.
d) Saling Menerima
Suami istri harus saling menerima satu sama lain. Suami istri itu ibarat
satu tubuh dua nyawa. Tidak salah kiranya suami suka warna merah, si istri
suka warna putih, tidak perlu ada penolakan. Dengan keridhaan dan saling
pengertian, jika warna merah dicampur dengan warna putih, maka akan
terlihat keindahannya.
e) Saling Menghargai
Seorang suami atau istri hendaklah saling menghargai perkataan dan
perasaan masing-masing, bakat dan keinginan masing-masing, dan
menghargai keluarga masing-masing. Sikap saling menghargai adalah
sebuah jembatan menuju terkaitnya perasaan suami dan istri.
f) Saling Mempercayai
Dalam berumahtangga seorang istri harus percaya kepada suaminya,
begitu pula dengan suami terhadap istrinya, ketika ia sedang berada di luar
rumah. Jika di antara keduanya tidak adanya saling percaya, kelangsungan
kehidupan rumah tangga berjalan tidak seperti yang dicita-citakan yaitu
keluarga yang bahagia dan sejahtera. Akan tetapi, jika suami istri saling
mempercayai, maka kemerdekaan dan kemajuan akan meningkat.
g) Suami dan Istri Harus Menjalankan Kewajibannya
Suami mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk menghidupi
keluarganya, tetapi di samping itu, ia juga berfungsi sebagai kepala rumah
tangga atau pemimpin dalam rumah tangga. Menikah bukan hanya masalah
mampu mencari uang, walaupun ini juga penting, tapi bukan salah satu yang
terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang memeras keringat untuk
mencari rezeki yang halal, tetapi ternyata tidak mampu menjadi pemimpin
bagi keluarganya. Istri mempunyai kewajiban taat kepada suaminya,
mendidik anak dan menjaga. Ketaatan seorang istri kepada suami dalam
rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya adalah jalan menuju surga di dunia
dan akhirat. Istri boleh membangkang kepada suaminya jika perintah
suaminya bertentangan dengan hukum syara.

h) Suami Istri Harus Menghindari Pertikaian


Pertikaian adalah salah satu penyebab retaknya keharmonisan
keluarga, bahkan apabila pertikaian tersebut terus berkesinambungan, maka
dapat menyebabkan perceraian. Baik suami maupun istri harus dapat
menghindari masalah-masalah yang dapat menyebabkan pertikaian karena
suami dan istri adalah faktor paling utama dalam menentukan kondisi
keluarga.
i) Hubungan Antara Suami Istri Harus Atas Dasar Saling Membutuhkan
Jika istri mempunyai suatu kekurangan, suami tidak menceritakan
kepada orang lain, begitu juga sebaliknya. Jika istri sakit, suami segera
mencari obat atau membawa ke dokter, begitu juga sebaliknya. Istri harus
selalu

tampil

membanggakan

suami,

suami

juga

harus

tampil

membanggakan istri.
j) Suami Istri Harus Senantiasa Menjaga Makanan yang Halal
Menurut hadis Nabi, sepotong daging dalam tubuh manusia yang
berasal dari makanan haram, cenderung mendorong pada perbuatan yang
haram juga. Semakna dengan makanan, juga rumah, mobil, pakaian dan
lain-lainnya.
5. Meneladani Keluarga Nabi Muhammad Saw.8
Rasulullah Saw. bersikap tawadhu (rendah diri) di hadapan istri-istrinya. Sikap
tawadhu Rasulullah Saw. tercermin dari sikapnya yang membantu istri-istrinya dalam
menjalankan pekerjaan rumah tangga. Padahal dalam kesehariannya, Rasulullah
memiliki kesibukan dan mobilitas yang sangat tinggi untuk menunaikan kewajiban
menyampaikan risalah Allah dan kesibukan mengatur kaum muslimin.
Aisyah mengatakan, Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sibuk membantu
istrinya dan jika tiba waktu salat maka ia pun pergi menunaikannya.Imam Al-Bukhari
mencantumkan perkataan Aisyah ini dalam dua bab di dalam sahihnya, yaitu Bab
Muamalah Seorang (suami) dengan Istrinya dan Bab Seorang Suami Membantu
Istrinya. Urwah bertanya kepada Aisyah, Wahai Ummul Mukminin, apa yang
8 Redaksi Kisahmuslim.com, Romantisme Rasulullah Bersama Istri-Istrinya,
(http://kisahmuslim.com/rasulullah-bersama-istri-istrinya/, November 2011) diakses pada 21
September 2015 pukul 09.34 WIB.

diperbuat Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam jika ia bersamamu di rumah?. Aisyah


menjawab, Ia melakukan seperti yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang
membantu istrinya, ia memperbaiki sandalnya, menjahit bajunya, dan mengangkat air di
ember.
Dalam Syamail karya At-Tirmidzi terdapat tambahan, Dan memerah susu
kambingnya Ibnu Hajar menerangkan faidah hadis ini dengan mengatakan, Hadis
ini menganjurkan untuk bersikap rendah hati dan meninggalkan kesombongan dan
hendaklah seorang suami membantu istrinya.
Sebagian suami ada yang merasa malu jika membantu istrinya mencuci atau
menyelesaikan urusan rumah tangga. Kata mereka, tidak ada istilahnya lagi, menyuci
baju sendiri, merapikan rumah yang tidak bersih, dan menjahit baju sendiri. Seolah-olah
mereka menjadikan istri sebagai seorang pembantu dan memang tugasnyalah melayani
suami. Apalagi jika mereka adalah para suami berjas berpenampilan necis, pekerjaan
seperti ini tentu tidak layak dan tidak pantas mereka kerjakan. Atau mereka merasa ini
hanyalah tugas ibu-ibu dan para suami tidak pantas dan tidak layak untuk
melakukannya.
Berikut ini beberapa kisah yang menunjukkan tawadhunya Rasulullah shalallahu
alaihi wa sallam di hadapan istri-istrinya, Dari Anas bin Malik ia berkisah, Suatu saat
Rasulullah berada di tempat salah seorang istrinya, maka istrinya yang lain mengirim
sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan
pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu
Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan
mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliau berkata, Ibu kalian cemburu
Rasulullah menghadapi permasalahan rumah tangganya dengan tenang dan bijak,
bagaimanapun beratnya permasalahan tersebut. Beliau tidak marah terhadap perbuatan
istrinya yang memecahkan piring. Beliau juga mampu menenangkan istri-istrinya jika
timbul kecemburuan diantara mereka. Rasulullah memaklumi bahwa sikap cemburu
biasa terjadi pada seorang istri. Rasa cemburu itu memang merupakan tabiat yang
terdapat dalam diri (wanita) yang tidak mungkin untuk ditolak. Sebagian suami tidak
mampu mengatasi permasalahan istrinya dengan tenang, padahal istrinya tidak sebanyak
istri Rasulullah dan kesibukannya pun tidak sesibuk Rasulullah. Bahkan, suami yang

10

memiliki istri hanya satu orang pun, tak mampu mengatasi permasalahan antara dia dan
istrinya. Selain itu, terkadang suami pun menghukum istrinya yang cemburu. Padahal
ada hadis yang mengisyaratkan untuk tidak menghukum wanita yang cemburu karena
sikap kekeliruan yang timbul darinya. Karena tatkala cemburu, akalnya tertutup akibat
kemarahan yang disebabkan oleh rasa cemburu.