Anda di halaman 1dari 11

Resonansi paralel sederhana (rangkaian tank)

Kondisi resonansi akan terjadi pada suatu rangkaian tank (tank circuit) (gambar 1) ketika
reaktansi dari kapasitor dan induktor bernilai sama. Karena rekatansi induktif bertambah
besar apabila frekuensi membesar dan reaktansi kapasitif berkurang apabila frekuensi
membesar, maka akan hanya ada satu nilai frekuensi dimana nilai reaktansi dari keduanya
akan sama besar.

Gambar 1 Rangkaian resonansi paralel sederhana


(rangkaian tank)
Pada rangkaian di atas, kita memiliki sebuah kapasitor 10 F dan induktor 100 mH. Karena
kita tahu persamaan untuk menghitung reaktansi pada frekuensi tertentu, dan kita ingin
mengetahui pada titik berapa reaktansi dari kapasitor dan induktor akan sama besar, maka
kita hitung reaktansi dari keduanya secara aljabar sebagai berikut :
Berikut ini rumus untuk menghitung reaktansi kapasitif dan raktansi induktif

pada saat resonansi, reaktansi kapasitif sama dengan reaktansi


induktif

Kalikan sisi sebalah kanan dan kiri persamaan dengan variabel f untuk
menghilangkan variabel f di ruas kanan

kedua sisi dibagi dengan 2f sehingga menyisakan variabel f sendirian di ruas


kiri persamaan

Akarkan kedua sisi persamaan

lalu sederhanakan

Jadi kita dapatkan rumus untuk menghitung frekuensi resonansi pada


rangkaian tank tersebut, dimana nilai induktansi (L) dalam Henry dan kapasitansi (C)

dalam Farad. Dengan memasukkan nilai L dan C pada rangkaian di atas, kita akan
mendapatkan frekuensi resonansi sebesar 159.155 Hz.
Apa yang terjadi pada kondisi resonansi adalah suatu hal yang menarik. Dengan reaktansi
induktif dan kapasitif yang sama antara satu sama lain, impedansi totalnya akan naik hingga
nilainya tak berhingga, yang berarti rangkaian tank tersebut sama sekali tidak mengambil
arus dari sumber AC tersebut. Kita dapat menghitung impedansi masing-masing dari kapsitor
100 F dan induktor 100 mH dan memparalelkan keduanya :
XL = 2 f L
XL = (2) () (159.155 Hz) (100 mH)
XL = 100
XC = 1/2fC
XC = 1/ (2)()(159.155 Hz) (10 F)
XC = 100

Lalu kita paralelkan kedua reaktansi ini, menghasilkan nilai impedansi yang tidak kita duga

Kita tidak dapat membagi suatu bilangan


dengan angka nol, tetapi kita dapat katakan bahwa nilai hasil perhitungannya adalah tak
berhingga. Nilai impedansinya mendekati tak berhingga apabila reaktansi dari keduanya
saling mendekati satu sama lain. Apa artinya impedansi yang tak berhingga tersebut? Artinya
pada rangkaian tank itu (kombinasi LC), rangkaian tersebut sama sekali tidak dialiri arus
listrik oleh sumber AC yang terpasang (sama seperti rangkaian terbuka open circuit). Bila kita
mensimulasikan rangkaian tersbut menggunakan simulator, maka akan diperoleh grafik
seperti ini :

Gambar 2 Rangkaian resonansi disimulasikan

dengan SPICE
Grafik hubungan antara arus dengan frekuensi pada rangkaian resonansi paralel

Gambar 3

Secara tidak sengaja, grafik output yang dihasilkan oleh simulator tersebut dikenal dengan
nama grafik Bode (Bode plot). Grafik seperti ini menampilkan amplitudo atau beda fasa pada
salah satu sumbu dan nilai frekuensi di sumbu lainnya. Pada grafik di atas, kenaikan nilai
frekuensinya menunjukkan karakteristik tanggapan frekuensi (frekuensi respon) dari
rangkaian tank di atas. Tanggapan frekuensi adalah seberapa sensitif amplitudo atau beda
fasa akan berubah apabila frekuensinya berubah.
Pada pembahasan di awal, kita menggunakan rangkaian LC murni dan ideal. Sekarang
perhatikan rangkaian LC tank pada gambar 4. Rangkaiannya terdiri dari sebuah kapasitor
yang diparalel dengan sebuah induktor yang tidak ideal karena resistansi dari kawat induktor
dipertimbangkan. Resistansi dari kawat ini diberi nama Rkawat seperti ditunjukkan pada
gambar 4. Tetapi rangkaian pada gambar 4 ini bukan benar-benar rangkaian paralel karena
ada kombinasi seri antara induktor dan resistor. Untuk dapat menghitung frekuensi pada saat
rangkaian bersifat resistif murni, maka rangkaian seri resistor induktor ini harus
ditransformasi ke dalam bentuk paralel ekivalennya. Sehingga rangkaiannya menjadi
rangkaian paralel seperti pada gambar 5.

Gambar 4 Rangkaian LC dengan rugi-rugi resistansi pada

induktor

Gambar 5 Rangkaian paralel RLC

Pada saat resonansi, reaktansi kapasitif dan induktif pada rangkaian gambar 5 bernilai sama.
Jadi, apabila ada reaktansi kapasitif dan reaktansi induktif yang bernilai sama dan
dihubungkan paralel, maka impedansi totalnya adalah :
Z = (jXL)(-jXC) (jXL jXC)
karena pada saat resonansi, reaktansi kapasitif dan induktif sama X L = XC = X, maka nilai
impedansi penggantinya adalah
Z = (jXL)(-jXC) 0 = (impedansinya tinggi sekali)
Jadi, pada saat terjadi resonansi, reaktansi kapasitif dan induktif akan saling menghilangkan
sehingga rangkaian penggantinya adalah open circuit (rangkaian terbuka) dan yang tersisa
hanyalah resistansi saja. Jadi impedansi total dari rangkaian paralel RLC ini saat terjadi
resonansi adalah murni resistif, ZT = Rp. Kita dapat menurunkan persamaan untuk
menghitung frekuensi resonansi rangkaian tank paralel RLC ini dengan cara membuat
persamaan antara reaktansi kapasitif dengan reaktansi induktif:
XC = XLP
Pertama, ingat rumus untuk mentransformasikan dari rangkaian seri ke rangkaian paralel dari
rangkaian RL

kita sederhanakan lagi menjadi

Dengan memfaktorkan bagian (LC) pada bagian penyebutnya, frekuensi


resonansi paralel dihitung dengan persamaan

Perhatikan bahwa apabila Rkawat2 << L/C, maka nilai hasil dari
bagian akarnya mendekati 1. Konsekuensinya, apabila L/C 100R kawat, frekuensi resonansi
paralelnya disederhanakan menjadi

Ingat bagaimana cara menghitung faktor kualitas, Q, dari


suatu rangkaian yaitu rasio atau perbandingan antara daya reaktif dengan daya rata-rata pada
rangkaian saat resonansi. Mari kita obeservasi lebih lanjut untuk menghitung faktor kualitas
(Q) dari rangkaian resonansi paralel RLC pada gambar 6.

Gambar 6 Rangkaian resonansi paralel RLC


Pada saat resonansi, reaktansi kapasitor dan induktornya akan saling menghilangkan,
sehingga rangkaiannya hanya menyisakan sumber arus dengan resistor saja. Kita dapat
dengan mudah menggunakan hukum Ohm pada rangkaian tersebut
V = IR = IR 0o
Respon frekuensi dari impedansi paralel RLC tersebut dapat dilihat pada gambar 7. Gambar
kiri menunjukkan hubungan antara magnitudo impedansi dengan frekuensi angular. Grafik
sebelah kanan menunjukkan hubungan antara sudut fasa impedansi dengan frekuensi angular

Ga
mbar 7 Grafik hubungan antara magnitudo dan sudut fasa dari impedansi dengan frekuensi
angular untuk rangkaian resonansi paralel

Perhatikan bahwa impedansi total dari rangkaian tersebut mencapai nilai maksimum saat
terjadi resonansi dan nilainya minimum saat = 0 rad/s dan rad/s. Hasil ini
berkebalikan dengan rangkaian resonansi seri, dimana pada rangkaian resonansi seri, nilai
impedansinya justru bernilai minimum saat terjadi resonansi, dan impedansinya maksimum
saat = 0 rad/s dan rad/s. Selain itu, untuk rangkaian paralel ini, impedansi totalnya
akan bersifat induktif saat frekuensinya kurang dari frekuensi resonansi ( p). Bagitu juga
sebaliknya, impedansinya bersifat kapasitif saat frekuensinya lebih besar dari frekuensi
resonansi (p).
Faktor kualitas, Q, dari rangkaian paralel RLC ini dapat dihitung

Hasil yang kita dapatkan ini persis sama dengan hasil yang kita peroleh
saat kita mengkonversi suatu rangkaian RL seri menjadi rangkaian ekivalen paralelnya (baca
di sini untuk lebih lengkapnya). Apabila resistansi dari kawat merupakan satu-satunya
resistansi yang ada di dalam rangkaian, maka faktor kualitas (Q) dari rangkaian sama dengan
faktor kualitas dari kumparan. Namun, apabila rangkaiannya memiliki resistansi lagi selain
resistansi dari kawat, maka resistansi tambahan ini akan mereduksi atau mengurangi faktor
kualitas (Q) dari rangkaian.
Untuk rangkaian resonansi paralel RLC, arus yang mengalir pada tiap-tiap komponen dapat
dihitung dengan mudah menggunakan hukum Ohm :

Saat resonansi, arus yang melewati induktor dan kapasitor


memiliki magnitudo yang sama tetapi beda fasanya adalah 180 o sehingga arus yang mengalir
pada kedua komponen ini akan saling menghilangkan. Perhatikan magnitudo dari arus yang
mengalir pada komponen reaktif (kapasitor dan induktor) pada saat resonansi, memiliki nilai
sebesar Q sumber arus. Karena nilai faktor kualitas (Q) pada rangkaian paralel biasanya
sangat besar, maka kita harus bisa memilih komponen yang kuat dan tahan saat dialiri
arus listrik yang besar saat terjadi resonansi.
Sama seperti saat kita menganalisa untuk menghitung bandwith (lebar pita frekuensi) pada
rangkaian resonansi seri, bandwith adalah lebar pita diantara dua batas frekuensi. Dua
frekuensi pembatas ini adalah frekuensi yang membuat rangkaian hanya menyerap setengah
dari daya total yang disuplai dari sumber. Kedua batas frekuensi tersebut ( 1 dan 2) dapat
dihitung dengan persamaan

Jadi, bandwith nya dapat dihitung


Apabila nilai Q 10, maka kurva selektivitasnya akan semakin
ramping (mendekati bentuk kotak ideal) yang melingkupi frekuensi p, dimana batas
frekuensi atas dan bawah nilainya adalah p BW/2. Persamaan menghitung bandwidth
(BW) diatas dapat dijabarkan lagi, yaitu mengalikannya dengan p/p :

Perhatikan bahwa persamaan menghitung BW yang ini sama persis


dengan menghitung BW dari rangkaian resonansi seri RLC.
Contoh Soal 1
Untuk rangkaian RLC paralel pada gambar 8,

Gambar 8 Rangkaian paralel RLC untuk


contoh soal 1
a. Hitunglah frekuensi resonansi, r (rad/s) dan fr (Hz) dari rangkaian tank tersebut
b. Hitung faktor kualitas Q dari rangkaian saat resonansi
c. Hitung tegangan rangkaian tersebut saat resonansi
d. Hitung nilai arus yang mengalir pada induktor dan resistor saat resonansi.
e. Hitung bandwith dari rangkaian tersebut, nyatakan dalam satuan radian per sekon dan juga
dalam Hz.
f. Gambar respon frekuensi untuk tegangan rangkaian tersebut, tunjukkan nilai tegangan
rangkaian saat daya yang ditransfer ke rangkaian hanya terserap setengahnya.
g. gambarkan kurva selektivitas dari rangkaian yang menunjukkan hubungan antara daya P
(watt) dengan (rad/s)
a. Nilai frekuensi resonansi adalah

b. Faktor kualitas saat terjadi resonansi

c. Pada saat resonansi, VC = VL = VR, sehingga


V = IR = (3.6 mA 0o) (500 0o) = 1.8 V 0o
d. Arus yang mengalir pada induktor dan resistor saat resonansi adalah

e. Bandwith dalam satuan rad/s dan Hz :

f. Frekuensi yang membuat rangkaian hanya


menyerap setengah dari daya yang ditransfer oleh sumber (batas frekuensi atas dan baawah
dari bandwith)

Berikut ini grafik respon frekuensi dari tegangan


rangkaian (atau hubungan antara tegangan dengan frekuensi)

Gambar 9 Respon frekuensi


dari tegangan
g. Daya yang diserap rangkaian saat resonansi sebesar

Dengan begitu kurva selektivitasnya dapat digambarkan sebagai


berikut (grafik yang menghubungkan daya yang diserap rangkaian dengan frekuensi)

Gambar 10 Respon frekuensi dari daya yang diserap


rangkaian. Saat resonansi, daya yang diserap rangkaian maksimal.
Bandwidth Rangkaian Resonansi Paralel
Nilai Q yang rendah akibat resistansi kawat induktor yang tinggi menghasilkan nilai
maksimum pada kurva selektivitasnya menjadi lebih rendah dan bandwidthnya lebih lebar
pada rangkaian resonansi paralel. (Gambar 11) Bagitu pula sebaliknya, nilai Q yang tinggi
akibat resistansi kawat induktor yang rendah membuat nilai maksimum pada kurva
selektivitasnya lebih tinggi dan bandwidthnya lebih sempit. Nilai Q yang tinggi dapat
diperoleh dengan menggunakan kawat dengan diameter yang lebar saat membentuk sebuah
induktor sehingga resistansi kawat induktor tersebut menjadi lebih rendah.

Gambar 11 Pengaruh faktor


kualitas, Q, terhadap respon rangkaian resonansi paralel
Bandwidth dari rangkaian resonansi paralel dapat diukur diantara dua frekuensi yang
membuat daya yang diserap rangkaian menjadi separuhnya (frekuensi cutoff atas dan bawah).
Apabila ditinjau dari segi tegangan/arus, frekuensi cutoff atas dan bawah adalah frekuensi
yang menyebabkan tegangan/arus output menjadi 0.707 dari tegangan maksimum. Karena P
~ E2 = (0.707)2 = 0.5P. Karena tegangan juga proporsional dengan impedansi (P = E 2/R),
maka kita bisa menentukan frekuensi cutoff atas dan bawah serta bandwidth dari rangkaian
resonansi paralel ini dengan mengguakan kurva impedansi frekuensi seperti pada gambar
12.

Gambar 12 Bandwidth,
atau f, diukur dari 70.7% dari nilai maksimum dari impedansi.
Pada gambar 12, impedansi maksimumnya bernilai 500 . Dan 0.707 dari impedansi
maksimum tersebut adalah (0.707) (500 ) = 354 . Jadi frekuensi cutoff atas dan bawah
adalah frekuensi yang membuat impedansi rangkaian menjadi bernilai 354 dan frekuensi
tersebut adalah 281 Hz untuk f1 dan 343 Hz untuk f2. Sehingga bandwidth nya adalah f2-f1 =
62 Hz.
BW = f = fh fl = 343 281 = 62 Hz

fl = fc f/2 = 312 31 = 281 Hz


fh = fc + f/2 = 312 + 31 = 343 Hz
Q = fc/BW = (312 Hz) / (62 Hz) = 5
Dimana :
fc : frekuensi resonansi
fl : frekuensi cutoff bawah
fh : frekuensi cutoff atas