Anda di halaman 1dari 16

TUGAS UNTUK MEMENUHI MATA

KULIAH DASAR KEILMUAN BAHASA


INDONESIA SD

Oleh
Dhita Wuryaningtyas
Dita Anggrainy
Izka Khullati M.
Octavia Puspita S.
Presty Kusumawardani
Rafika Dewi W.

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN KSDP
PRODI PGSD
OFFERING D3
OKTOBER 2013

PEMBELAJARAN BAHASA DAN PEMEROLEHAN


BAHASA

1. PEMBELAJARAN BAHASA
A.Pengertian
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran bahasa menurut para ahli :

Pembelajaran merupakan upaya membelajarkan siswa Degeng (1989)

Abdoel chaer (2002 : 242) menyatakan bahwa pembelajaran bahasa mengacu pada
hipotesis pemerolehan bahasa kedua (B2) setelah seorang kanak-kanak
memperoleh bahasa bahasa pertamanya (B1).
Istilah pembelajaran bahasa digunakan untuk mengacu pada penguasaan bahasa

kedua, baik digunakan secara formal di dalam pendidikan formal, maupun secara informal
didalam masyarakat sekitar kehudupan si pembelajar. Namun tampaknya pembelajaran
bahasa ini lebih mengacu pada pendidikan formal.

B. Dua Tipe Pembelajaran Bahasa Ellis (1986 : 215)


Tipe naturalistik.

Tipe naturalistik bersifat alamiah, tanpa guru dan tanpa kesengajaan.


Pembelajaran berlangsung di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. Dalam
masyarakat bilingual atau multilingual tipe naturalistik banyak dijumpai. Seorang
kanak-kanak yang di dalam lingkungan keluarganya menggunakan B1, misalnya
bahasa X, begitu keluar dari rumah berjumpa dengan teman-teman lain yang
berbahasa lain, misalnya bahasa Y, akan mencoba dan berusaha menggunakan bahasa
Y.
Tipe formal di dalam kelas
Bersifat formal berlangsung didalam kelas dengan adanya guru
dan materi, dan alat-alat bantu yang sudah dipersiapkan. Hasil yang diperoleh secara
formal di dalam kelas hasilnya lebih baik dari pada yang naturalistik

C. Sejarah Pembelajaran Bahasa


Kapan dimulai adaya pembelajaran bahasa tidak dapat diketahui dengan
pasti. Yang jelas adanya pembelajaran bahasa ini adalah sejak adanya interaksi antara
dua masyarakat atau lebih yang memiliki bahasa yang berbeda. Anggota sosial dari
masyarakat yang satu tentu akan mempelajari bahasa dari masyarakat yang lain agar
dapat berinteraksi dengan anggota masyarakat lain itu. Kemudian karena disadari suatu
bahasa lain diperlukan bukan hanya untuk sekadar berinteraksi melainkan juga untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain seperti mempelajari ilmu, maka muncullah
lembaga-lembaga pendidikan yang juga menyajikan pembelajaran bahasa kedua.

D.Hipotesis-Hipotesis Pembelajaran Bahasa


a. Hipotesis Kesamaan Antara B1 dan B2
Hipotesis ini menyatakan adanya kesamaan dalam proses belajar B1 dan belajar B2.
Kesamaan itu terletak pada urutan pemerolehan struktur bahan, seperti modus
interogasi, negasi, dan morfem-morfem gramatikal. Hipotesis ini menyatakan bahwa
unsur-unsur bahasa diperoleh dengan urutan-urutan yang diramalkan.
b. Hipotesis Kontrasif
Hipotesis ini dikembangkan oleh Charles Fries (1945) dan Robert Lado (1957).
Hipotesis ini menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar B2 adalah
karena adanya perbedaan antara B1 dan B2. Sedangkan kemudahan dalam belajar B2
disebabkan oleh adanya kesamaan antara B1 dan B2. Jadi, adanya perbedaan antara
B1 dan B2 akan menimbulkan kesulitan dalam belajar B2, yang mungkin juga akan
menimbulkan kesalahan, sedangkan adanya persamaan antara B1 dan B2 akan
menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar B2.
c. Hipotesis Krashen
Berkenaan dengan proses pemerolehan bahasa, Stephen Krashen mengajukan
sembilan buah hipotesis yang saling berkaitan. Kesembilan hipotesis itu adalah :
Hipotesis Pemerolehan dan Belajar
Menurut hipotesis ini dalam penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya
pemerolehan (acquisition) dan belajar (learning).
Hipotesis Urutan Alamiah
Hipotesis ini menyatakan bahwa dalam proses pemerolehan bahasa kanakkanak memperoleh unsur-unsur bahasa menurut urutan tertentu yang dapat

diprediksikan.
Hipotesis Monitor
Hipotesis monitor ini meyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam

pemerolehan bahasa.
Hipotesis Masukan

Hipotesis ini menyatakan bahwa seseorang menguasai bahasa melalui


masukan (input) yang dapat dipahami yaitu dengan memusatkan perhatian

pada pesan atau isi, dan bukannya pada bentuk.


Hipotesis Afektif (Sikap)
Hipotesis ini menyatakan bahwa orang dengan kepribadian dan motivasi
tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan

orang dengan kepribadian dan sikap yang lain.


Hipotesis Pembawaan (Bakat)
Hipotesis ini menyatakan bahwa bakat bahasa mempunyai hubungan yang

jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua.


Hipotesis Filter Afektif
Hipotesis ini menyatakan bahwa sebuah filter yang bersifat afektif dapat
menahan masukan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam

usahanya untuk memperoleh bahasa kedua.


Hipotesis Bahasa Pertama
Hipotesis ini menyatakan bahwa bahasa pertama anak akan digunakan untuk
mengawali ucapan dalam bahasa kedua, selagi penguasaan bahasa kedua

belum tampak.
Hipotesis Variasi Individual Penggunaan Monitor
Hipotesis ini, yang berkaitan dengan hipotesis ketiga (hipotesis monitor),
menyatakan bahwa cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang
dipelajarinya ternyata bervariasi.

d. Hipotesis Bahasa Antara


Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa/ujaran yang digunakan seseorang
yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu, sewaktu dia belum dapat
menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu. Bahasa antara ini memiliki
ciri bahasa pertama dan ciri bahasa kedua. Bahasa ini bersifat khas dan mempunyai
karakteristik tersendiri yang tidak sama dengan bahasa pertama dan bahasa kedua.
Tampaknya semacam perpindahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua.
Bahasa antara ini merupakan produk dari strategi seseorang dalam belajar
bahasa kedua. Artinya, bahasa ini merupakan kumpulan atau akumulasi yang terusmenerus dari suatu proses pembentukan penguasaan bahasa.
e. Hipotesis Pijinisasi
Hipotesis ini menyatakan bahwa dalam proses belajar bahasa kedua, bisa saja
selain terbentuknya bahasa antara terbentuk juga yang disebut bahasa pijin (pidgin),
yakni sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah
tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan untuk

keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki bahasa sendiri.


Jadi, bisa dikatakan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli (Chaer dan Agustina,
1995).

2. PEMEROLEHAN BAHASA
A. Pengertian
Istilah pemerolehan dipakai untuk padanan istilah Inggris acquisition, proses
penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu dia belajar bahasa
ibunya (native language). Dengan demikian maka proses dari anak yang belajar menguasai
bahasa ibunya adalah pemerolehan.
Pengertian pemerolehan bahasa menurut para ahli :
Menurut Maksan (1993:20) pemerolehan bahasa adalah suatu proses penguasaan
bahasa yang dilakukan oleh seseorang secara tidak sadar, implisit, dan informal.
Tork dan Widdowson (1974:134) mengungkapkan bahwa pemerolehan bahasa dan
akuisisi bahasa adalah suatu proses anak-anak mencapai kelancaran dalam bahasa
ibunya.
Huda (1987:1) menyatakan bahwa pemerolehan bahasa adalah proses alami di dalam
diri seseorang menguasai bahasa

Chaer (2009:167) Pemerolehan bahasa atau akusisi bahasa adalah proses yang
berlangsung di dalam otak seseorang kanak- kanak ketika dia memperoleh bahasa
pertamanya atau bahasa ibunya.

Waterson (1970) berpendapat bahwa pemerolehan bahasa adalah satu proses sosial
sehingga kajiannya lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosial yang
sebenarnya daripada pengkajian data-data eksperimen, lebih-lebih untuk mengetahui
pemerolehan fonologi

B. Pandangan teori pemerolehan bahasa


1. Teori Pemerolehan Bahasa Behavioristik
Menurut pandangan kaum behavioristik atau kaum empirik atau kaum
antimentalistik, bahwa anak sejak lahir tidak membawa strutur linguistik. Artinya, anak
lahir tidak ada struktur linguistik yang dibawanya. Anak yang lahir dianggap kosong
dari bahasa.

Brown dalam Pateda (1990:43) menyatakan bahwa anak lahir ke dunia ini

seperti

kain

membentuknya

putih
yang

tanpa

catatan-catatan,

perlahan-lahan

lingkungannyalah

dikondisikan

oleh

yang

lingkungan

akan
dan

pengukuhan terhadap tingkah lakunya. Pengetahuan dan keterampilan berbahasa


diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Pengalaman dan proses belajar
yang akan membentuk akuisisi bahasanya. Dengan demikian, bahasa dipandang
sebagai sesuatu yang dipindahkan melalui pewarisan kebudayaan, sama halnya
seperti orang yang akan belajar mengendarai sepeda.

Menurut Skinner (Suhartono, 2005:73) tingkah laku bahasa dapat dilakukan

dengan cara penguatan. Penguatan itu terjadi melalui dua proses yaitu stimulus dan
respon. Dengan demikian, yang paling penting di sini adalah adanya kegiatan
mengulangulang stimulus dalam bentuk respon. Oleh karena itu, teori stimulus dan
respon ini juga dinamakan teori behaviorisme.
Dikaitkan dengan akuisisi bahasa, teori behavioris mendasarkan pada proses
akuisisi melalui perubahan tingkah laku yang teramati. Gagasan behavioristik terutama

didasarkan pada teori belajar yang pusat perhatian tertuju pada peranan lingkungan,
baik verbal maupun nonverbal. Teori belajar behavioris ini menjelaskan bahwa
perubahan tingkah laku dilakukan dengan menggunakan model stimulus (S) dan respon
(R) Dengan demikian, akuisisi bahasa dapat diterangkan berdasarkan konsep SR. Setiap
ujaran dan bagian ujaran yang dihasilkan anak adalah reaksi atau respon terhadap
stimulus yang ada. Apabila berkata, Bu, saya minta makan, sebenarnya sebelum ada
ujaran ini anak telah ada stimulus berupa perut terasa kosong dan lapar. Keinginan
makan, antara lain dapat dipenuhi dengan makan nasi atau bubur. Bagi seorang anak
yang beraksi terhadap stimulus yang akan datang, ia mencoba menghasilkan sebagian
ujaran berupa bunyi yang kemudian memperoleh pengakuan dari orang yang di
lingkungan anak itu.
Kaum behavioris memusatkan perhatian pada pola tingkah laku berbahasa
yang berdaya guna untuk menghasilkan respon yang benar terhadap setiap stimulus.
Apabila respon terhadap stimulus telah disetujui kebenarannya, hal itu menjadi
kebiasaan. Misalnya seorang anak mengucapkan , "ma ma ma",dan tidak ada anggota
keluarga yang menolak kehadiran kata itu, maka tuturan "ma ma ma", akan menjadi
kebiasaan. Kebiasaan itu akan diulangi lagi ketika anak tadi melihat sesosok tubuh
manusia yang akan disebut ibu yang akan dipanggil "ma ma ma". Hal yang sama akan
berlaku untuk setiap kata-kata lain yang didengar anak.
Teori akuisisi bahasa berdasarkan konsep behavioris menjelaskan bahwa anakanak mengakuisisi bahasa melalui hubungan dengan lingkungan, dalam hal ini dengan
cara meniru. Dalam hubungan dengan peniruan ini Pateda (1990:45) menyatakan
bahwa faktor yang penting dalam peniruan adalah frekuensi berulangnya satu kata dan
urutan kata. ujaran-ujaran itu akan mendapat pengukuhan, sehingga anak akan lebih
berani menghasilkan kata dan urutan kata.
2. Teori Pemerolehan Bahasa Mentalistik
Kaum mentalis beranggapan bahwa setiap anak yang lahir telah memiliki apa
yang disebut LAD (Language Acquisition Device). Kelengkapan bahasa ini berisi
sejumlah hipotesis bawaan. Hipotesis bawaan menurut para ahli berpendapat bahasa
adalah satu pola tingkah laku spesifik dan bentuk tertentu dari persepsi kecakapan
mengategorikan dan mekanisme hubungan bahasa, secara biologis telah ditemukan
(Comsky, 1959).
Mc Neill (Brown, 1980:22) menyatakan bahwa LAD itu terdiri atas:
a. kecakapan untuk membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi yang lain.
b. kecakapan mengorganisasi satuan linguistik ke dalam sejumlah kelas yang
akan berkembang kemudian;
c. pengetahuan tentang sistem bahasa yang mungkin dan yang tidak mungkin,
dan kecapan menggunakan sistem bahasa yang didasarkan pada penilaian
perkembangan sistem linguistik, Dengan demikian, dapat melahirkan sistem
yang dirasakan mungkin diluar data linguistik yang ditemukan.

Pandangan kaum mentalis yang perlu diperhatikan adalah penemuan mereka


tentang sistem bekerjanya bahasa anak. Chomsky dan kawan-kawan berpendapat
bahwa perkembangan bahasa anak bukanlah perubahan rangkaian proses yang
berlangsung sedikit semi sedikit pada struktur bahasa yang tidak benar, dan juga standia
lanjut. Akan tetapi standia yang bersistem yang berbentuk kelengkapan-kelengkapan
bawaan ditambah dengan pengalaman anak ketika ia melaksanakan sosialisasi diri.
Kelengkapan bawaan ini kemudian diperluas, dikembangkan, dan bahkan diubah.
Dalam hubungan anak membawa sejumlah kapasitas dan potensi, kaum
mentalis memberikan alasan-alasan sebagai berikut:
Semua manusia belajar bahasa tertentu;
semua bahasa manusia sama-sama dapat dipelajari oleh manusia;
semua bahasa manusia bebeda dalam aspek lahirnya,
3. Teori Akuisisi Bahasa Kognitif
Para ahli bahasa mulai melihat bahwa bahasa adalah manifestasi dari
perkembangan umum yang merupakan aspek kognitif dan aspek afektif yang
menyatakan tentang dunia diri manusia itu sendiri.Teori kognitif menekankan hasil
kerja mental, hasil kerja yang nonbehavioris. Proses-proses mental dibayangkan
sebagai yang secara kualitatif berbeda dari tingkah laku yang dapat diobservasi. Titik
awal teori kognitif adalah anggapan terhadap kapasitas kognitif anak dalam
menemukan struktur di dalam bahasa yang ia dengar di sekelilingnya. Baik pemahaman
maupun produksi serta komprehensi, bahasa pada anak dipandang sebagai hasil proses
kognitif yang secara terus-menerus berkembang dan berubah. Jadi, stimulus merupakan
masukan bagi anak yang kemudian berproses dalam otak. Pada otak ini terjadi
mekanisme internal yang diatur oleh pengatur kognitif yang kemudian keluar sebagai
hasil pengolahan kognitif tadi.

C. Tahap pemerolehan bahasa anak


a) Perkembangan Bahasa Menurut Aitchison
Menurut Aitchison dalam Harras dan Andika (2009: 50-56), tahap kemampuan
bahasa anak terdiri atas hal-hal berikut.
Tahap Perkembangan Bahasa

Usia

Menangis

Lahir

Mendekur

6 minggu

Meraban

6 bulan

Pola intonasi

8 bulan

Tuturan satu kata

1 tahun

Tuturan dua kata

18 bulan

Infleksi kata

2 tahun

Kalimat tanya dan ingkar

2 tahun

Konstruksi yang jarang dan kompleks

5 tahun

Tuturan yang matang

10 tahun

1. Menangis
Menangis pada bayi ternyata memiliki beberapa tipe makna. Ada tangisan untuk
minta minum, minta makan, kesakitan, dan sebagainya. Tangisan merupakan
komunikasi yang bersifat instingtif seperti halnya sistem panggil pada binatang. Hasil
penelitian membuktikan bahwa makna tangisan itu bersifat universal.
2. Mendengkur
Fase yang mirip dekuran merpati ini dimulai saat anak berusia sekitar enam
tahun. Mendekur sebenarnya sulit dideskripsikan. Bunyi yang dihasilkannya mirip
dengan bunyi vokal, tetapi hasil penelitian menggunakan spektogram menunjukkan
bahwa hasil bunyi itu tidak sama dengan bunyi vokal yang dihasilkan orang dewasa.
Beberapa buku menyebut fase ini sebagai gurgling atau mewling. Mendekur pun
bersifat universal.
3. Meraban
Secara bertahap, bunyi konsonan akan muncul pada waktu anak mendekur, dan
ketika usia anak mendekati enam bulan, ia memasuki fase meraban. Secara impresif
anak menghasilkan vokal dan konsonan secara serentak. Awalnya, ia mengucapkan
sebagai suku kata, tetapi akhirnya vokal dan konsonan itu menyatu. Pada fase meraban,
anak menikmati eksperimennya dengan mulut dan lidahnya, sehingga fase ini
merupakan fase pelatihan bagi alat ucap. Bunyi yang biasanya dikeluarkan
berupa mama, papapa, dandadada.
4. Pola Intonasi
Anak-anak mulai menirukan pola-pola intonasi sejak usia delapan atau
sembilan bulan. Hasil tuturan anak mirip dengan tuturan ibunya. Anak tampaknya
menirukan tuturan orang tuanya tetapi hasilnya tidak dipahami oleh orang
sekelilingnya. Ibu-ibu sering mengidentifikasikan bahwa anaknya menggunakan
intonasi tanya dengan nada tinggi pada akhir kalimatnya, sehingga orang tua sering
melatih anaknya berbicara dengan bertanya "Kamu mau apa?" dan sebagainya.
5. Tuturan satu kata
Sekitar umur dua belas sampai delapan belas bulan anak mulai mengucapkan
tuturan satu kata. Jumlah kata yang diperoleh anak bervariasi. Lazimnya, rata-rata
anak memperoleh sekitar lima belas kata. Kata-kata yang biasanya dituturkan
misalnya papa, mama, bobo, meong, dan sebagainya.
6. Tuturan dua kata

Ciri yang paling menonjol dalam fase ini ialah kenaikan kosakata anak yang
muncul secara drastis. Ketika usianya menginjak dua setengah tahun, kosakatanya
mencapai hampir ratusan kata. Pada awal tahap dua kata ini tuturan anak cenderung
disebut telegrafis. Ia berbicara seperti orang mengirim telegram, yakni hanya katakata penting saja yang disampaikan. Tuturan yang awalnyaAni susu berubah
menjadi Ani mau minum susu.
7. Infleksi kata
Kata-kata yang awalnya dianggap remeh oleh anak akhirnya dimunculkan
juga. Dalam bahasa Indonesia, kata yang biasanya muncul ialah afiks, misalnya anak
sebelumnya

hanya

mengatakan Kakak

mukul

adik menjadi Kakak

memukul

adik atau Adik dipukul kakak. Dalam tahap ini pun anak mulai memperoleh kata
majemuk, seperti orang tua, namun pemerolehan tersebut tidaklah signifikan karena
kemampuan setiap anak bervariasi.
8. Kalimat tanya dan ingkar
Dalam bahasa Indonesia, anak mulai memperoleh kalimat tanya seperti apa,
siapa, dan kapanpada kalimat seperti Apa ini?, Siapa orang itu?, dan Kapan ayah
pulang?, sedangkan kalimat ingkar biasanya berupa kalimat-kalimat seperti Kakak
tidak nakal, Saya tidak mau makan, Kue ini tidak enak, dan Ini bukan punya adik.
9. Konstruksi yang jarang atau kompleks
Pada usia lima tahun, anak secara mengesankan memperoleh bahasa yang
terus berlanjut meskipun agak lamban. Tuturan anak usia lima tahun berbeda dengan
tuturan atau tata bahasa orang dewasa, tetapi mereka tidak menyadari kekurangan
mereka itu. Mereka selalu menganggap bahwa tuturannya sama dengan orang dewasa
dan akan selalu menyamakannya. Dalam tes pemahaman, anak-anak siap untuk
mengerjakan dan menafsirkan struktur yang diberikan kepadanya, tetapi sering
mereka menafsirkannya secara keliru. Hal tersebut tampak dalam kalimat majemuk
setara atau kalimat majemuk bertingkat yang biasanya mereka tuturkan seperti Ali
dan kakaknya pergi ke sekolah meskipun hujan.Tahap inilah yang dianggap tahap
rumit dalam fase perkembangan bahasa anak.
10. Tuturan matang
Perbedaan tuturan anak-anak dengan orang dewasa secara perlahan
akan berkurang ketika usia anak semakin bertambah. Ketika usianya mencapai sebelas
tahun, anak mampu menghasilkan kalimat perintah yang sama dengan kalimat
perintah orang dewasa, misalnya Tolong ambilkan buku itu!.

b) Perkembangan Bahasa Menurut Schaerlaekens


Tahapan perkembangan bahasa yang dialami anak menurut Schaerlaekens
dalam Marat (2005: 61) terdiri atas beberapa hal sebagai berikut:
1. Periode pralingual
Umumnya tahap ini dialami anak pada usia 0-1 tahun, ketika anak hanya
mengeluarkan bunyi-bunyi yang merupakan reaksi terhadap situasi tertentu
dengan tahapan sebagai berikut.
a.

Tahap mendekut (cooing). Anak mengeluarkan bunyi yang mirip vokal

atau konsonan (/a/).


b.

Tahap berceloteh (babbling). Anak mengeluarkan gabungan mirip vokal

dan konsonan (/p/, /b/, /m/).


2. Periode lingual
Tahap ini umumnya dialami anak pada usia 1-2,5 tahun, ketika anak mulai
mengucapkan kata-kata dengan tahapan sebagai berikut.
a.

Tahap ujaran holofrastik. Anak mampu memproduksi satu kata yang dapat

menyatakan lebih dari satu maksud.


b.

Tahap ujaran telegrafik. Anak mampu memproduksi dua kata sebagai

pernyataan suatu maksud.


c.

Tahap lebih dari dua kata. Anak mulai memproduksi lebih dari dua kata

dan menunjukkan perkembangan morfologis. Komunikasinya pun tidak lagi


bersifat egosentris.
3. Periode diferensiasi
Umumnya dialami anak pada usia 2,5-5 tahun, ketika anak dianggap
telah menguasai bahasa ibu dengan penguasaan tata bahasa pokok. Fungsi
bahasa sebagai alat komunikasi mulai berjalan baik. Anak juga mulai mampu
mengomunikasikan persepsi dan pengalamannya

kepada orang lain.

Perkembangan aspek fonologi telah berakhir walaupun masih ada kesukaran


tertentu. Aspek kosakata berkembang baik secara kualitatif dan kuantitatif.
Anak juga telah mampu membedakan nomina dan verba serta menggunakan
pronomina dan preposisi.
c)

Perkembangan Bahasa Menurut Ruqayyah

Menurut Ruqayyah (2008) dalam http://massofa.wordpress.com/2008/11/


19/pemerolehan-bahasa-anak-usia-4-6-tahun/html, perkembangan pemerolehan bahasa
anak dapat dibagi atas tiga bagian penting yaitu sebagai berikut:
1 Perkembangan prasekolah
Perkembangan pemerolehan bahasa anak pada masa prasekolah dapat
dibagi lagi atas perkembangan pralinguistik, yaitu anak mengembangkan
konsep dirinya. Ia berusaha membedakan dirinya dengan subjek, dirinya dengan
orang lain, serta hubungan dengan objek dan tindakan.
Selain itu ada pula tahap satu kata, yaitu anak terus-menerus berupaya
mengumpulkan nama benda-benda dan orang yang ia jumpai. Kata-kata yang
pertama diperoleh lazimnya adalah kata yang menyatakan perbuatan, sosialisasi,
dan tempat. Perkembangan pemerolehan bunyi anak-anak berawal dari
membuat bunyi menuju arah membuat pengertian. Anak biasanya membuat
pembedaan bunyi perseptual yang penting selama periode ini, misalnya
membedakan antara bunyi suara manusia dan bukan manusia, bunyi ekspresi
marah dengan yang bersikap bersahabat, antara suara anak-anak dengan orang
dewasa, dan antara intonasi yang beragam. Anak-anak mengenali makna-makna
berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang didengarnya.
Anak-anak menukar atau mengganti ucapan mereka sendiri dari waktu ke waktu
menuju ucapan orang dewasa, dan apabila anak-anak mulai menghasilkan
segmen bunyi tertentu, hal ini menjadi perbendaharaan mereka.
2 Perkembangan ujaran kombinatori
Perkembangan ujaran kombinatori anak-anak dapat dibagi dalam empat
bagian, yaitu perkembangan negatif, interogatif, penggabungan kalimat, dan
perkembangan sistem bunyi. Perkembangan beberapa proposisi menjadi sebuah
kalimat tunggal memerlukan rentang masa selama beberapa tahun dalam
perkembangan bahasa anak-anak.
3 Perkembangan masa sekolah
Pada perkembangan masa sekolah, orientasi seorang anak dapat
berbeda-beda. Ada anak yang lebih impulsif dari pada anak yang lain, lebih
refleksif dan berhati-hati, cenderung lebih jelas dan nyata dalam berekspresi,
lebih senang belajar dengan bermain-main, sementara yang lain lebih pragmatis
dalam

pemakaian

bahasa.

Setiap

kepribadiannya sendiri pada masa ini.

bahasa

anak

akan

mencerminkan

Selama masa sekolah, anak mengembangkan dan memakai bahasa


secara unik dan universal. Pada saat itu anak menandai atau memberinya ciri
sebagai pribadi yang ada dalam masyarakat itu. Perkembangan bahasa pada
masa sekolah dapat dibedakan dengan jelas dalam tiga bidang, yaitu struktur
bahasa, pemakaian bahasa dan kesadaran meta linguistik.

d) Faktor-Faktor Yang Memepngaruhi Pemerolehan Bahasa Anak


1. Faktor Biologis
Setiap anak yang lahir telah dilengkapi dengan kemamuan kodrati atau alami
yang memungkinkannya menguasai bahasa. Potensi alami itu bekerja secara otomatis.
Chomsky (1975 dalam Santrock, 1994) menyebut potensi yang terkandung dalam
perangkat biologis anak dengan istilah Piranti pemerolehan bahasa (Language
Acquisition Devives
2. Faktor Lingkungan Sosial
Untuk memperoleh kemampuan berbahasa, seorang anak memerlukan orang
lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Anak yang secara sengaja dicegah untuk
mendegarkan sesuatu atau menggunakan bahasanya untuk berkomunikasi, tidak akan
memiliki kemampuan berbahasa. Mengapa demikian? Bahasa yang diperoleh anak
tidak diwariskan secara genetis atau keturunan, tetapi didapat dalam lingkungan yang
menggunakan bahasa. Atas dasar itu maka anak memerlukan orang lain untuk
mengirimkan dan menerima tanda-tanda suara dalam bahasa itu secara fisik. Dengan
demikian, lingkungan sosial tempat anak tinggal dan tumbuh, seperti keluarga dan
masyarakat merupakan salah satu faktor utama yang menentukan pemerolehan bahasa
anak.
Cara lingkungan sosial memberikan dukungan kepada anak dalam belajar
bahasa :
a. Bahasa semang (motheresse) yaitu penyederhanaan bahasa oleh orang tua atau
orang dewasa lainnya ketika berbicara dengan bayi anak kecil. Misalnya, Napa
chayang? Mau mimi, iya? Bentar, ya!
b. Parafrase, yaitu pengungkapan kembali ujaran yang diucapkan anak dengan
cara yang berbeda. Misalnya kalimat pernyataan menjadi kalimat pertanyaan. Efek
parafase ini sangat menolong anak belajar bahasa. Oleh karena itu, orang dewasa
sebaiknya membiarkan anak menunjukkan minat serta mengungkapkannya dalam
bentuk komentar, demontrasi dan menjelaskan. Menurut Rice (Santrock, 1994),
pendekatan direktif atau langsung sewaktu berkomunikasi dengan anak akan
mengganggunya. Misalnya:
Anak : Mammam!
Ibu : Oh, maem, chayang? (Oh maka, sayang?)
c. Menegaskan kembali (echoing) yaitu mengulang apa yang dikatakan anak,
terutama apabila tuturannya tidak lengkap atau tidak sesuai dengan maksud.
Misalnya:
Anak : Mah itu! sambil menunjuk. Mukanya seperti ketakutan.
Ibu : Oh, cecak, Rani takut cecak? Nggak apa-apa. Cecak baik, kok!
Anak : Iya!
d. Memperluas (expanding) yaitu mengungkapkan kembali apa yang dikatakan
anak dalam bentuk kebahasaan yang lebih kompleks.

e. Menamai (labeling), yaitu mengindentifikasi nama-nama benda. Bisa dalam


bentuk benda sebenarnya atau benda tiruan (realia), gambar, permainan kata, dan
sebagainya.
f. Penguatan (reinforcement) yaitu menanggapi atau memberi respon positif atas
perilaku bahasa anak. Misalnya, dengan memuji, memberi acungan jempol, dan
tepuk tangan.
g. Pemodelan (modelling), yaitu contoh berbhasa yang dilakukan orang tua atau
orang dewasa (Santrock, 1994; Benson, 1998).
Semakin kuat rangsangan dan dukungan sosial terhadap bahasa anak, akan
semakin kaya pula masukan dan kemampuan berbahasanya.
3. Faktor Intelegensi
Intelengesi adalah daya atau kemampuan anak dalam berpikir atau bernalar.
Zanden (1980) mendefinisikannya sebagai kemampuan seseorang dalam
memecahkan masalah. Anak yang berintelengensi tinggi, tingkat pencapaian
bahasanya cenderung lebih cepat, lebih banyak dan lebh bevariasi bahasanya dari
pada anak-anak yang bernalar sedang atau rendah.
4. Faktor Motivasi
Benson (1988) menyatakan bahwa kekuatan motivasi dapat menjelaskan
Mengapa seorang anak yang normal sukses mempelajari bahasa ibunya. Sumber
motivasi itu ada 2 yaitu dari dalam dan luar diri anak.
Dalam belajar bahasa seorang anak tidak terdorong demi bahasa sendiri. Dia
belajar bahasa karena kebutuhan dasar yang bersifat, seperti lapar, haus, serta perlu
perhatian dan kasih sayang (Goodman, 1986; Tompkins dan Hoskisson. 1995).
Inilah yang disebut motivasi intrinsik yang berasal dari dalam diri anak sendiri.
Untuk itulah mereka memerlukan kemunikasi dengan sekitarnya. Kebutuhan
komunikasi ini ditunjukkan agar dia dapat dipahami dan memahami guna
mewujudkan kepentingan dirinya.
Dalam perkembangan selanjutnya si anak merasakan bahwa komunikasi bahasa
yang dilakukannya membuat orang lain senang dan gembira sehingg dia pin kerap
menerima pujian dan respon baik dari mitra bicaranya. Kondisi ini memacu anak
untuk belajar dan menguasai bahasanya lebih baik lagi. Nak karena dorongan
belajar anak itu berasal dari luar dirinya maka motivasinya disebut motivasi
ekstrinsik.

DAFTAR PUSTAKA
http://sumadipengawas.blogspot.com/2012/09/pengertian-dan-teoripemerolehan-bahasa.html
http://iwanumsida.blogspot.com /2013/01/makalah-proses-pemerolehan-bahasaanak.html
http://roemahsastra.blogspot.com/2012/03/pemerolehan-dan-pembelajaranbahasa.html
http://www.taufiqslow.com/
http://id.wikipedia.org
http://nurhadijahsiregarpgmiuhn.blgspt.com/2012/12/bahasa-indonesia.html