Anda di halaman 1dari 24

Laporan Tutorial

Blok 14 Modul 2
DASAR PROSTODONSIA

Oleh kelompok 2 :
An Nisaa Amelia
Annisa Dwi Cantika
Atika
Febrina Rahmadani
Intan Neira
Irma Oktaviani Zulmi
Putri Dwi Amalia
Redha Fauzana
Rizki Dwi Lestari
Siti Rahma
Wira Putri Winata

Tutor : drg. Didin Kustantiningtyastuti, Sp.Ort

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2015

MODUL 3
PROTESA
SKENARIO 3
Lepasan

Ny. Levi (40th) datang ke tempat praktek drg. Manulang untuk dibuatkan gigi tiruan.Selain
mengalami kesulitan dalam pengunyahan Ny.Levi merasa terlihat lebih tua dari usia
sebenarnya.Pemeriksaan intra oral menunjukan kehilangan gigi 16,15,11,21,22,35,36,37,38,46,47,48.
Gigi 34 rotasi,12,17 mesial drifting,17,18,31,32,, dan 41 ekstruksi. Drg.Manulang menawarkan
beberapa jenis gigi tiruan sebagai alternaif perawatan untuk kasus Ny.Levi. Setelah mendengarkan
penjelasan, akhirnya ia setuju untuk dibuatkan protesa lepasan berbahan akrilik.
Drg Manulang lalu mencetak Ny.Levi dan akan memasang model kerjanya di artikulator.
Ny.Levi juga diberitahu bahwa gigi tiruannya akan selesai dalam 4 hari, karena pembuatannya juga
akan memerlukan proses laboratorium.
Bagaimana saudara menjelaskan kasus diatas?

STEP 1. TERMINOLOGI
1. Protesa : Suatu bagian tubuh yang hilang secara kongenital, hancur karena kecelakaan atau
dibuang secara pembedahan dan digunakan untuk meningkatkan pengunyahan, fungsi bicara
dan dukungan otot wajah.
2. Rotasi : Gigi berputar pada sumbu panjang gigi.
3. Mesial drifting : Gerakan perlahan gigi kemesial yang terjadi karena gigi mesianya hilang
karena alamiah dengan bertambahnya usia atau trauma
4. Ekstrusi : Pergerakan gigi menjauhi socketnya akibat hilangnya gigi antagonis
5. Artikulator : Alat mekanik tepat meletakkan model rahang atas dan rahang bawah sekaligus
memproduksi relasi rahang bawah terhadap rahag atas dan digunakan untuk kajian oklusi,
pembuatan protesa dan restorasi.
STEP 2. ANALISA MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Kenapa Ny. Levi kelihatan lebih tua dari pada usia aslinya?
Apa saja jenis-jenis protesa?
Apa klasifikasi Rahang yang cocok untuk keadaan hilangnya gigi Ny. Levi?
Apa saja dampak kehilangan gigi jika tidak pakai gigi tiruan?
Apa fungsi gigi tiruan?
Kenapa Ny. Lesi dibuatkan Gigi tiruan lepasan? Apa saja indikasi gigi tiruan lepasan?
Apa saja dampak pemakaian protesa yang tidak tepat dalam rongga mulut?
Bahan apa saja yang bisa digunakan dalam pembuatan gigi tiruan selain akrilik?
Kenapa drg manulang menganjurkan untuk dibuatkan protesa berbahan akrilik?
Bagaimana pemilihan bahan pembuatan bahan di lab?
Selain artikulator, Apa saja alat bantu lain dalam pembuatan gigi tiruan?

STEP 3. MENGKLARIFIKASI MASALAH


1. Ny. Levi mengalami banyak kehilangan gigi anterior rahang atas dan gigi posterior rahang
bawah dan atas. Kehilangan gigi anterior dapat menyebabkan wajah dengan bibir masuk
kedalam, sehingga wajah menjadi depresi dengan hidung dan dagu menjadi lebih kedepan
dan timbul garis dari lateral sudut bibir akibatnya sulcus labio-nasalis lebih dalam.
Kehilangan gigi posterior dapat menyebabkan tidak adanya dukungan ke otot wajah sehingga
wajah menjadi kempot.
2. Jenis Protesa :
Fixed prosthodontics terdiri
dari crown and bridge
Removable prosthodontics
terdiri dari Gigi Tiruan Penuh
(GTP) dan Gigi Tiruan
Sebagian Lepasan (GTSL)
Implant prosthodontics
Macillofacial prosthetics

berdasarkan bahan landasan :

GTSL landasan akrilik


GTSL Kerangka logam

berdasarkan
sebagian/seluruh gigi yang diganti
:

GT sebagian (partial denture)


GT penuh/lengkap (full
denture/complete denture)

berdasarkan dilepas atau tidak:

GT cekat
GT lepasan

berdasarkan jenis dukungan :

Tooth Borne Denture


Tooth-Tissue Borne Denture

Tissue Borne Denture


Implant Denture

berdasarkan pemasangan :

GT Konvensional
GT Immediate

berdasarkan daerah tak bergigi

Ganda
Berujung bebas
Anterior Tooth Supported

3. Klasifikasi yang sering di pakai dalam ilmu prostodontik adalah klasifikasi keneddy.
4. Klasifikasi keneddy untuk Ny. Levi adalah
Rahang Atas Kelas III Modifikasi 1
Rahang Bawah Kelas I
5. Dampak kehilangan gigi :
Migrasi/ mesial driffting dan Rotasi gigi
Erupsi berlebihan/ ektrusi
Penurunan efisiensi kunyah
Gangguan TMJ
Beban berlebihan pada jaringan periodontal
Memburuknya penampilan
Terganggu kebersihan mullut
Kelainan bicara
Efek pada jaringan lunak rongga mulut
6. Fungsi gigi tiruan
Pemulihan fungsi estetik
Peningkatan fungsi bicara
Perbaikan dan peningkatan fungsi pengunyahan
6. Karena Ny. Levi mengalami kehilangan gigi yang banyak di posterior dan tidak adanya
abutment posterior pada daerah edentulous (kelas 1 ) Rahang Bawah dan gigi anterior yang
membutuhkan esetetik yang lebih baik.
7. Indikasi Gigi Tiruan Lepasan :
Usia pasien kurang dari 17 atau lebih dari 55 tahun dengan kondisi kesehatan
yang buruk.
Luas membran periodontal gigi abutment harus sama atau lebih dari luas
membran periodontal gigi yang akan diganti.
Kehilangan tulang alveolar yang banyak pada daerah edentulous.
Ruang intermaksilaris edentulous terlalu kecil.
Dukungan gigi asli yang tersisa kurang sehat.
Tidak ada abutment posterior pada daerah edentulous
7. Dampak protesa yang tidak baik :
Peningkatan akumulasi plak
Trauma Langsung
Peyaluran beban kunyah
Kerusakan pada gigi dan jaringan periodontal
Peradangan mukosa resorpsi tulang dibawahnya
Disfungsi otot kunyah dan wajah
8. Porselen, logam tuang
9. Akrilik estetik sewarna gigi cocok untuk gigi anterior (Ny.Levi kehilangan gigi 22,21,12
Rahang Atas). Harganya murah dan tahap pengerjaannya tdak ribet (pembuatan sederhana).
10. Syarat pemilihan bahan pembuatan bahan di lab :
Non Toksik

Tidak mengiritasi mulut


Tidak terpengaruhi cairan Rongga Mulut
Biokompatibel
11. Surveyor, ocludator
8. STEP.4 SKEMA
9.
Ny. Levi (4oth)
10.
11.
12.

Drg. Manulang

13.
Anamnesa
14. STEP.
5 LEARNING OBJECTIVE

Pemeriksaan Klinis

Intra Oral
: Kehilangan
16 ,
CC:
dibuatkan
gigi tiruan
1. Ingin
Mahasiswa
Mampu
Memahami dan MenjelaskanP.tentang
Jenis
gigi tiruan gigi
( Indikasi,
15,11,21,22,35,36,37,38,46,47,48G
Kontra
indikasi,
Keuntungan dan kerugian)
Kesulitan
dalam
mengunyah
igi 34 Rotasi, 12,17 mesial drifting,
2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Gigi Tiruan
17,18,31,32,41 ekstrusi
Merasa Muka Lebih tua dari usia

3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan Alat pembuatan protesa


4. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan Dampak kehilangan gigi

15. STEP. 6 MENGUMPULKAN INFORMASI


16. STEP. 7 SINTESA DAN UJI INFORMASI
1. Jenis Gigi Tiruan

Rencana Perawatan : Pembuatan


Protesa Lepasan
Berbahan
17. Berdasarkan
cabang
Prostodontics gigi tiruan dibagi menjadi 4 yaitu
Akrilik

a. Fixed prostodontics (gigi tiruan cekat) : cabang prostodonti yang berhubungan


dengan penggantian satu gigi atau lebih dan restorasi gigi dengan artificial substitutes
yang dipasang secara permanen di mulut pasien contohnya crown and bridge.
18. Kelebihan : Lebih estetik karenaPROTESA
tidak ada kawat/logam, Nyaman karena tidak ada
landasan.
19. Rerugian : Teknik pembersihan rumit, Pengurangan gigi penyangga, mahal.
20. Indikasi : Daerah edentulous pendek (short span), terdapat gigi sehat sebagai
Jenis gigi tiruan ( Indikasi,
Dampak kehilangan
penyangga, kestabilan dan
retensi GTL tidak
didapat, kemauan
pasien, gigi jika
Klasifikasi
Alat mungkn
pembuatan
Kontra indikasi)
tidak
memakai
protesa
tiruan
protesa
pasien kelainan mental,gigi
cacat
fisik tidak dapat
memelihara protesa lepasan.
21. Kontra indikasi : kehilangan tulang yang banyak akibat trauma, usia pasien<17
th>55th,kelainan periodontal gigi penyangga, long span, edentulous bilateral yang
membutuhkan stabilitas antar rahang,malformasi kangenital dimana gigi tidak dapat
memberikan dukungan yang adekuat,mental pasien yang tidak kooperatif, pasien
kelainan medis (leukemia,hipertensi dan DM),perluasan distallandasan gigi tiruan
seperti kasus klas I dan II kenedy.
b. Removable prostodontics (gigi tiruan sebagian) : cabang prosthodonti mengenai
penggantian gigi dan/struktur jaringan pendukung gigi yang dapat dibuka/dilepas
pasien. Terdiri dari Gigi Tiruan Penuh dan Gigi Tiruan Sebagian Lepasan.
22.
Indikasi gigi tiruan sebagian lepasan adalah :
1. Hilangnya satu atau lebih sebagian gigi

2. Gigi yang tertinggal dalam keadaan baik dan memenuhi syarat sebagai gigi
pegangan
3. Keadaan processus alveolaris masih baik
4. Kesehatan umum dan kebersihan mulut pasien baik
5. Pasien mau dibuatkan gigi tiruan sebagian lepasan
6. Bila tidak memenuhi syarat untuk suatu gigi tiruan cekat:
a. Usia : Usia pasien masih muda, ruang pulpa masih besar, panjang mahkota klinis
masih kurang. Pasien usia lanjut dengan kesehatan umum yang buruk, karena
perawatannya memerlukan waktu yang lama
b. Panjang daerah edentulous tida memenuhi syarat Hukum Ante
c. Kehilangan tuang yang banyak pada daerah edentulous
7. Tidak ada abutment gigi posterior pada ruang edentulous(free end saddle)
8. Bila dukungan sisa gigi asli kurang sehat
9. Bila dibutuhkan stabilisasi dari lengkung yang berseberangan
10. Bila membutuhkan estetik yang lebih baik
11. Bila dibutuhkan gigi segera setelah dicabut
23.
Kontraindikasi GTSL
1

Penderita yang tidak kooperatif, sifat tidak menghargai perawatan gigi tiruan.

Umur lanjut, mempertimbangkan sifat dan kondisi penderita sebaiknya dibuatkan


GT temporer.

penyakit sistemik (epilepsy, DM tidak terkontrol)

OH jelek.
24. Gigi tiruan Penuh Gigitiruan penuh (GTP) adalah gigitiruan yang
menggantikan seluruh gigi geligi yang hilang dan jaringan pendukungnya di
rahang atas dan rahang bawah. Tujuan pembuatan GTP adalah untuk memenuhi
kebutuhan estetik, fonetik, dukungan oklusal, untuk pengunyahan, kenyamanan
dan kesehatan jaringan pendukung. Hal hal yang perlu dipertimbangkan dalam
pembuatan GTP yaitu:

o Dukungan terhadap gigitiruan diberikan oleh tulang (rahang bawah dan


rahang atas) dan jaringan yang menutupinya.
o Stabilitas : Kontak yang rapat antara basis gigitiruan dengan mukosa,
besar dan bentuk daerah pendukung, bentuk permukaan yang dipoles,
serta lokasi dan susunan anasir gigitiruan yang mempengaruhi
kestabilan gigitiruan.
o Retensi
25.
GTSL dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam berdasarkan beberapa
hal, yaitu :
1. Berdasarkan jaringan pendukungnya

GT dukungan mukosa, yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan dari
jaringan mukosa.
GT dukungan gigi, yaitu gigi tiruan yang hanya mendapat dukungan dari gigi
asli.
GT dukungan mukosa dan gigi, yaitu gigi tiruan yang mendapat dukungan dari
mukosa dari gigi asli.
26.
2 .Berdasarkan saat pemasangannya :
Immediate prothesa, dipasang segera setelah pencabutan

Conventional prothesa, dibuat setelah gigi lama dicabut


27.

3.Berdasarkan ada tidaknya wing

Open face denture, tanpa wing pada bagian bukal dan labial, biasanya untuk
anterior.

Close face denture, memakai wing pada bagian bukal, biasanya untuk
posterior.

28.
4. Pembagian gigi tiruan sebagian berdasarkan bahan yang digunakan menurut
Soelarko dan Wachijati (1980) adalah :

Frame denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang terdiri dari kerangka
logam tuang dan bagian sadel terdiri dari akrilik serta elemen gigi tiruan.

Acrylic denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang basisnya terdiri dari
akrilik serta elemen gigi tiruan.

Vulkanite denture adalah gigi tiruan sebagian lepasan yang terdiri dari karet
yang dikeraskan sebagai basis gigi tiruan serta elemen gigi tiruan.

c. Maxillofacial Prosthetic : penggantian sistem stomatognatik atau struktur wajah yang rusak
karena penyakit/luka/bawaan ataupun akibat bedah.
2. Klasifikasi Gigi Tiruan

29.
30.

a. Klasifikasi kennedy

Kelas I Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi
yang masih ada dan berada pada kedua sisi rahang (bilateral).

31.
32.

Gambar Klas I Kennedy

Gambar Klas II Kennedy

33.
Kelas II Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari
gigi yang masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu rahang saja (unilateral).
Kelas III Kennedy : daerah tak bergigi terletak dibagian posterior dari gigi yang
masih ada, tetapi berada hanya pada salah satu rahang saja (unilateral). Kelas IV
Kennedy : darah tak bergigi terletak dibagian anterior dari gigi-gigi yang masih ada
dan melewati garis tengah rahang.

34.
35.

Gambar Klas III Kennedy

Gambar Klas IV Kennedy

36. b. Klasifikasi applegate


37.

Kelas I : daerah tak bergigi sama dengan kelas I kennedy. Keadaan ini sering
dijumpai pada rahang bawah dan biasanya telah beberapa tahun kehilangan gigi.

38.
39. Kelas II : daerah tak bergigi sama seperti kelas II kennedy.Kelas III : keadaan tak
bergigi paradental dengan kedua gigi tetangganya tidak lagi mampu memberi
dukungan kepada protesa secara keseluruhan.

40.
41.

Kelas IV : daerah tak bergigi sama dengan kelas IV kennedy. Kelas V :


daerah tak bergigi paradental dimana gigi asli anterior tidak dapat dipakai sebagai
gigi penahan atau tidak mampu menahan gayah kunyah.Kelas VI : daerah tak bergigi
paradental dengan kedua gigi tetangga asli dapat dipakai sebagai penahan.

42.
43. c. Klasifikasi Cummer
44.

Klasifikasi pertama yang diakui secara professional. Dirancang tahun 1920


oleh Cummer gigi tiruan diklasifikasikan berdasarkan pada posisi dari penahan
langsung (direct retainer). Diagonal : Dua penahan langsung (direct retainer) secara
diagonal berlawanan dengan penahan lainnya. Diametrik : Dua penahan langsung
secara diametrik bersebrangan dengan penahan lainnya. Unilateral
: Dua atau
lebih penahan langsung terhadap sisi yang sama Multilateral
: 3 terkadang 4
penahan langsung dalam hubungan triangular (kadang kadang guadrangular)

45.

46.
Unilateral

Diagonal

GTSL diametrik

GTSl

47.
48.

GTSL multilateral triangular

GTSL Multilateral Quadrangular

49. d. Klasifikasi Meuk


50.

Dirancang pada tahun 1942, berdasarkan pada jumlah, panjang, dan posisi dari
edentulous dan jumlah serta posisi dari gigi yang masih ada.

51.

Kelas I : Bilateral space tanpa adanya gigi posterior pada ruang tersebut.Kelas
II : Bilateral space dengan adanya gigi posterior pada salah satu ruang.Kelas III :
Bilateral space dengan adanya gigi posterior pada kedua ruang.Kelas IV : Unilateral
space tanpa adanya gigi posterior pada ruang tersebut. Lengkung lawan tidak hilang.
Kelas V : Anterior space dengan lengkung posterior pada kedua sisi tidak
hilang.Kelas VI : Irregular space pada daerah lengkung gigi yang ada dapat single
atau double group

52.

53. e. Klasifikasi Gadfrey


54.

Dirancang pada tahun 1951, klasifikasi ini didasarkan pada lokasi dan ukuran
dari daerah edentulous. Kelas utama tidak memiliki modifikasi.

55.

Kelas A : Denture base ditunjang oleh gigi, pada bagian anterior. Dapat
berupa ruang 5 gigi tanpa terputus, ruang 5 gigi terputus atau ruang 4 gigi tanpa
terputus.

56.

57. Kelas A
58.

Kelas B

Kelas B : Denture base yang ditunjang oleh mukosa pada daerah anteriornya.
Dapat berupa ruang 6 gigi tanpa terputus, ruang 5 gigi tanpa terputus atau ruang 5
gigi terputus.

59.
Kelas C : Denture base ditunjang oleh gigi pada bagian posterior,
dapat berupa ruang 3 gigi tanpa terputus, ruang 2 gigi tanpa terputus atau ruang 2-3
gigi yang terputus.

60.
61.
62.

Kelas C

Kelas D

Kelas D : Denture base ditunjang oleh mukosa pada bagian posterior. Dapat
berupa ruang 4 gigi tanpa terputus atau ruang setengah atau 3 gigi tanpa teputus

63. f. Klasifikasi Friedman


64.

A : Anterior

B : Bounded

C : Cantilever

65.
66.

Gambar Tipe A

Gambar Tipe B

Gambar Tipe C

67. g. Klasifikasi Beckett dan Wilson (1957)


68.

Tahun 1921 ditemukan, klasifikasi ini untuk mempertimbangkan jumlah yang


sebanding dengan dukungan yang diberikan oleh gigi dan jaringan lunak. (mukosa
dan yang mendasari tulang)

Kualitas dari batasan dukungan (abutment support)


Besarnya dukungan oklusal (occlusal support)
Keharmonisan dari oklusi
Kualitas dari mukosa dan ridge yang masih ada
69.
Mereka percaya bahwa setiap upaya dapat dibuat untuk menghindari
dukungan yang hanya dari jaringan lunak.
70.
Kelas I : Bounded Saddle : Dibatasi oleh gigi yang memiliki syarat untuk
mendukung gigi tiruan. Mukosa tidak digunakan sebagai pendukung.
71.
Kelas II : Free End
72.
Tooth and Tissue Borne
: Didukung oleh gigi dan jaringan lunak
73.
Tissue Borne
: Didukung oleh jaringan lunak
74.
Kelas III : Bounded Saddle
75.
Dibatasi oleh gigi tetapi tidak memiliki syarat untuk mendukung gigi tiruan
seperti pada kelas I.
76.

77.

78.

Kelas 1

kelas 2

kelas 3

79. h. Klasifikasi Craddock


80.

Dirancang tahun 1954, mengklasifikasikan gigi tiruan sebagian menurut :

81.

Kelas I

: Saddle Support pada kedua sisi atau batasan gigi yang kuat

82.
Kelas II
: Kekuatan gigitan vertikal di aplikasikan sebagai penahan gigi
tiruan sebagai jaringan lunak.
83.

Kelas III

: Didukung gigi pada satu ujung dari penjangkar

84.

85.

Kelas I

Kelas II

Kelas III

86.
J. Klasifikasi Austin dan Lidge
87.
Ditemukan tahun 1957. Menyebutkan bahwa ada 65.000 kemungkinan
kombinasi dari gigi dan area edentulous.
88.
89.
Kelas A : Gigi anterior hilang
90.
A2 : Gigi anterior hilang pada kedua sisi tapi masih ada gigi diantara gigi
yang hilang.. AB1 : Gigi anterior hilang pada kedua sisi (bilateral).. A1 : Gigi anterior
hilang pada satu sisi

91.

92.

Gambar A1

Gambar A2

Gambar

AB1
93.
94.

Kelas P
: Gigi Posterior Hilang. P1 : Gigi posterior hilang pada satu
sisi (unilateral). P2 : Gigi posterior hilang pada kedua sisi, tapi masih ada sisi di
antara gigi yang Hilang. PB1: Gigi posterior hilang pada kedua sisi (bilateral)

95.
96.
97.

Gambar P1

Gambar P2

Gambar PB 1

Kelas AP
: Gigi anterior dan posterior hilang. AP 1
: Gigi anterior dan
posterior pada satu sisi. AP2 : Gigi anterior dan posterior pada kedua sisi, tapi masih
ada diantara sisi yang Hilang. APB1: Gigi anterior dan posterior pada kedua sisi
(bilateral)

98.
99.

Gambar AP1

Gambar AP2

Gambar

APB1
3. Alat Pembuatan Protesa
a. Surveyor
100. Bagian-bagian Surveyor Gigi
101.

Surveyor gigi (dental surveyor) terdiri dari bagian-bagian berikut :

Basis Datar (horizontal base)


102.
Bagian dasar yang datar dan horizontal.
Tiang Tegak (upright column)
103.
Suatu tiang yang tegak lurus basis datar.
Lengan Datar (horizontal arm)
104.
Bagian yang memegang gelendong tegak.
Gelendong Tegak (vertical spindle)
105.
Bagian yang memegang berbagai alat untuk melakukan survey yaitu :
a. Tongkat Analisis (analyzing rod), sebatang logam kecil dan lurus yang digunakan untuk
melakukan analisis.

b. Karbon Penanda (carbon marker), sebatang karbon yang digunakan untuk menggambar
garis pada permukaan model.
c. Pelindung (sheath), untuk melindungi karbon penanda agar tidak mudah patah.
d. Pengukur Gerong (undercut gauge), untuk mengukur dalamnya gerong pada gifi yang
sudah disurvei.
e. Pemangkas Sejajar dan Lancip (parallel and tapered trimmer), alat seperti pisau kecil
untuk merapikan malam penutup gerong.
Meja Basis (table base)
106.
Meja kecil dengan sendi peluru yang memungkinkan gerakan ke segala
arah; model yang akan disurvei diletakkan di atas meja ini dan dapat dikunci pada
posisi tertentu.
107.

108.
109.
110. Prinsip Suatu Surveyor
111.
Bila suatu benda diletakkan suatu bidang vertical dan bidang ini digerakkan
melingkari permukaannya, maka bidang tersebut akan menggambarkan suatu garis dimana
tergambar permukaan terbesar dari benda itu.
112.
Surveyor mempunyai lengan vertical, pada lengan ini dapat dipasang pensil
atau carbon marker. Bila lengan ini digerakkan pada permukaan gigi, maka carbon marker

akan membentuk suatu garis yang melingkari gigi dan menggambarkan permukaan gigi
yang terbesar gigi yang terbesar. Garis ini disebut garis survei.
113.
Garis survei membagi gigi menjadi dua bagian yaitu :
1. Permukaan gigi di ataas garis survei yang merupakan permukaan yang tidak ada
undercut disebut supra bulge area.

114.
2. Permukaan di bawah garis survey merupakan permukaan yang ada undercut disebut
infra bulge area.

115.
116.
117. Penggunaan Surveyor
I. Mensurvei Study Cast
118.
Tujuannya :
a. Menentukan arah pasang yang terbaik yang akan mengurangi hambatan pada waktu
pemasukan dan pengeluaran geligi tiruan sebagian.
b. Menemukan adanya permukaan-permukaan proksimal yang bisa dibuat sejajar
sehingga dapat bertindak sebagai guiding planes.
c. Menemukan dan mengukur daerah-daerah pada permukaan gigi yang dapat
digunakan untuk retensi.
d. Menetukan apakah daerah-daerah gangguan pada gigi dan tulang perlu dibuang
dengan jalan extraksi gigi atau memilih arah pasang lain.
e. Memungkinkan pemberian tanda bagi persiapan mulut yang akan dilaksanakan,
termasuk pemotongan jaringan proksimal dan kontur gigi yang berlebihan untuk
mengurangi interferensi (hambatan).
f. Menggambarkan garis kontur terbesar pada gigi pendukung dan menentukan gerong
yang tak diharapkan yang perlu ditutupi atau dibuang.
g. Menetapkan posisi model rahang dalam hubungan dengan arah pasang yang dipilih
dengan jalan melakukan tripoding.
II. Menentukan Batas dan Bentuk Pola Malam
119.
Trimer dan surveyor digunakan senagai wax carver selam preparasi dalam
mulut, sehinggan arah pasang yang sudah ditentukan dapat dipertahankan selama
preparasi restorasi tuang bagi gigi pendukung dilakukan.
III.
Penempatan Internal Attachment
120.
Dalam hal ini, surveyor digunakan untuk :
a. Memilih arah pasang dalam hubungan dengan sumbu panjang gigi pendukung,
sehingga daerah gangguan dimanapun pada lengkung rahang dapat dihindari.

b. Membuat preparasi untuk kaitan presisi (precision attachment) pada model studi
dengan memperhatikan jangan sampai mengenai ruang pulpa. Hal ini dapat
dilakukan dengan bantuan foto rontgen.
c. Membentuk model wax untuk precision attachment.
IV.
Penempatan Precision Rest (sandaran presisi)
121.
Surveyor dapat digunakan sebagidrill press, dengan melekatkan dental
handpiece pada vertical spindle.
V. Pembuatan Restorasi Tuang
122.
Dengan dental handpiece yang dipasang pada vertical spindle, permukaanpermukaan vertical restorasi tuang dapat dihaluskan dengan suatu batu carborundum
berbentuk silindris yang sesuai.
VI.
Mensurvei Model Kerja
123.
Tujuannya :
a. Memilih arah pasang yang paling sesuai, sesudah preparasi dalam mulut yang
memenuhi persyaratan dari guiding planes, retensi, tanpa hambatan dan estetis
diselesaikan.
b. Mengukur daerah retentive dan lokasi ujung cengkram sesuai dengan fleksibilitas
dari cengkram yangsedang dibuat.
c. Menetukan daerah undesirable undercut yang masih didapati pada model.
d. Merapikan bahan block out sampai sejajar dengan arah pasang sebelum kita
melakukan duplikasi.
b. Artikulator
124.
Artikulator : Alat mekanik tepat meletakkan model rahang atas dan rahang
bawah sekaligus memproduksi relasi rahang bawah terhadap rahag atas dan digunakan
untuk kajian oklusi, pembuatan protesa dan restorasi.

125.
Macam macam artikulator :
Simple hinge type / artikulator type engsel : Hanya bisa menirukan gerakan buka
tutup (oklusi). Contoh : okludator.
Average type / non adjustable / type rata rata : Dapat meniru gerakan buka tutup
( oklusi ) dan gerakan ke kiri kanan, ke depan belakang ( artikulasi ). Inklinasi lereng
sendi dan lereng incisal ditentukan oleh pabrik, berdasarkan ukuran rata rata. Contoh :
Free plane articulator, Gysi simplex.
Semi adjustable type : Contoh : Hanau H3.
Fully adjustable type : Contoh : Denar D4A.

126.

127.

Artikulator

Okludator

128.
4. Dampak Kehilangan Gigi
129.
Secara umum dampak kehilangan gigi
A. Fungsional
130.

Kesehatan mulut yang rendah berdampak pada kehilangan gigi yang dapat

menyebabkan masalah pada pengunyahan dan pola makan sehingga mengganggu


status nutrisi. Individu yang kehilangan gigi sebagian atau seluruhnya hanya dapat
memakan makanan yang lembut sehingga nutrisi bagi tubuh menjadi terbatas. 26
Populasi yang mengalami kehilangan gigi terutama kehilangan seluruh gigi akan
mengubah pola konsumsinya, sehingga makanan yang keras dan kesat seperti buahbuahan, sayur sayuran dan daging yang merupakan sumber vitamin, mineral dan
27

protein menjadi sesuatu hal yang sulit bahkan tidak mungkin untuk dikunyah. Hasil
penelitian Osterberg dkk (1996) menemukan bahwa kemampuan mengunyah pada
1

pasien yang kehilangan seluruh gigi hanya /6 dari pasien yang memiliki gigi asli.
Kekuatan gigit pada pemakai GTP hanya sekitar 20% jika dibandingkan dengan
subjek yang masih bergigi. Hal ini dapat menjelaskan mengapa orang yang
kehilangan gigi geliginya mengeluhkan kesukaran dalam mengunyah makanan
yang keras.
B. Sistemik
131.
132. Dampak sistemik yang timbul akibat kehilangan gigi berupa penyakit
sistemik seperti defisiensi nutrisi, osteoporosis dan penyakit kardiovaskular
(artherosclerosis). Penyebabnya adalah status gigi yang buruk dan perubahan pola

konsumsi.Kurangnya konsumsi kalsium dan vitamin D yang berasal dari buah


buahan dan sayur sayuran akibat kehilangan gigi dapat meningkatkan resiko
terjadinya osteoporosis. Selain itu, penyakit kardiovaskular dapat disebabkan
bersatunya agen infeksius dalam bentuk atheroma dan faktor predisposisi genetik
terhadap penyakit periodontal dan penyakit
133. kardiovaskular. Penyebaran bakteri dari penyakit periodontal akan masuk ke
sirkulasi pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan resiko sistemik.
134. C Fungsional
135. Dampak emosional adalah perasaan atau reaksi yang ditunjukkan
pasien sehubungan dengan status kehilangan seluruh gigi yang dialaminya.
Kehilangan gigi dapat merubah bentuk wajah, tinggi muka dan vertikal dimensi serta
rahang yang prognasi sehingga menimbulkan reaksi seperti merasa sedih dan depresi,
kehilangan kepercayaan diri, merasa tua, perubahan tingkah laku, merasa tidak siap
untuk menerima kehilangan gigi dan tidak ingin orang lain melihat penampilannya
saat tidak memakai gigitiruan serta mengubah tingkah laku dalam bersosialisasi. Fiske
dkk (1998) menyatakan bahwa hilangnya gigi dan pemakaian gigitiruan berdampak
pada psikososial seseorang.Penelitian oleh Davis dkk (2000) menunjukkan bahwa
terdapat pengaruh emosional yang signifikan sebagai konsekuensi kehilangan gigi,
45% dari pasien kehilangan seluruh gigi di London sulit untuk menerima kehilangan
gigi.
136.

Dampak kehilangan gigi (Davenport, 2000):

a. Drifting dan Tilting dari gigi asli yang masih ada


137. Hal ini disebabkan, kehilangan kontinuitas deretan lengkung gigi dan juga
kehilangan posisi ideal gigi asli dalam menerima tekanan gigitan sewaktu terdapat gerak
pengunyahan. Struktur jaringan periodontium gigi asli tersebut menderita gangguan.
Secara tidak langsung akibat miringnya letak gigi asli akan menyulitkan pembersihan
gigi, dengan demikian menambah cepatnya karies di tempat itu.
b. Over Eruption
138. Bila geligi asli tidak mempunyai antagonis maka gigi akan menjadi bebas
bergerak ke arah oklusal. Hal ini dapat diikuti ataupun tidak oleh pertumbuhan tulang
alveolar. Pada contoh gigi yang mengalami extruded tidak diikuti pertumbuhan tulang
alveolar, dapat terjadi kerusakan struktur periodontal. Sedangkan pada contoh gigi
extruded yang diikuti pertumbuhan tulang alveolar, akan menyebabkan kesulitan jika
pasien membutuhkan gigi tiruan penuh di kemudian hari.
c. Berkurangnya efisiensi pengunyahan
139. Fungsi mekanis gigi asli menurun, atau hilang sama sekali. Kejadian ini dapat
diterangkan bahwa fungsi pengunyahan merupakan faktor yang sangat penting dalam
pemeliharaan kesehatan pasien.
d. Persendian Temporomandibular
140.
141. Kebiasaan mengunyah yang tidak teratur, gangguan pada persendian
temporomandibular (Eccentric jaw relationship) biasanya terjadi karena hilangnya

beberapa gigi asli. Hal ini menyebabkan rasa sakit pada persendian atau pada otototot yang berhubungan.
e. Tekanan yang berlebihan pada jaringan penyangga
142. Jika tekanan pengunyahan dan oklusi dibebankan oleh beberapa gigi yang masih
ada, biasanya menyebabkan beban yang berlebihan, akibatnya terjadi kerusakan jaringan
periodontal disertai hilangnya gigi

f. Perubahan nada suara


143. Gigi-gigi yang hilang sering menyebabkan gangguan dalam berbicara. Yang paling
nyata adalah bila gigi yang hilang adalah gigi anterior atas, maka akibatnya bicara menjadi
tidak jelas.
g. Faktor estetika berkurang
144. Hilangnya gigi-gigi anterior atas akan menyebabkan faktor estetika berkurang,
menurut pandangan masyarakat modern. Salah satu alasan yang penting dalam
menggunakan gigi tiruan adalah untuk memperbaiki profil wajah.
h. Gangguan pada kesehatan mulut (Oral Hygiene)
145. Selain drifting dan tilting gigi-gigi, maka hilangnya gigi antagonis akan mencegah
abrasi dari gigi-gigi yang masih ada. Dengan demikian sisa makanan akan mudah menutup
permukaan gigi dan resiko terjadinya karies akan bertambah.
i. Atrisi
146. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa membran periodontal dari gigi-gigi
yang menerima beban berlebih tidak mengalami kerusakan tetapi mengakibatkan
keausan vertikal dari permukaan gigi ketika gigi-gigi dalam keadaan sentrik oklusi.
j. Pengaruh pada jaringan lunak
147. Bila gigi-gigi hilang, maka ruang dalam lengkung gigi akan ditempati oleh jaringan
lunak dari pipi dan lidah. Jika keadaan ini berlanjut untuk beberapa tahun, maka pasien
akan menemukan kesulitan dalam penyesuaian, dengan pemakaian alat yang menggeser
jaringan ini.
148. DAFTAR PUSTAKA
149.
1. Arifin M., Rahardjo W., Roselani. 2000. Diktat Prostodonsia: Ilmu Gigi Tiruan Cekat
(Teori dan Klinik). Departemen Prostodonsia Faklutas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia.
2. Bakar, Abu. 2012. Kedokteran Gigi Klinis. Yogyakarta: Quanum Sinergis Media.
3. Barclay CW, Walmsley AD. 2001. Fixed and removable prosthodontics. 2nd ed. Tottenham:
Churchill livingstone;
4. Gunadi, Haryanto. A; Burhan, Lusiana A.; Suryatenggara, Freddy. 1995. Ilmu Geligi
Tiruan Sebagian Lepasan Jilid 1. Jakarta: Hipokrates. Pp : 112-116
5. Nallaswamy D. 2003. Textbook of Prosthodontics. New Delhi: Jaypee Brothers Medical
Publishers.
150.
151.
152.

153.
154.
155.
156.

157.
158.
159.
160.
161.
162.
163.

164.
165.