Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

DIARE
Disusun Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : KIE & Swamedikasi
Dosen Pengampu : Drs. Jamaluddin Al J Ef., Apt.

Disusun oleh:
Analistiana

NPM. 0540017912

Nurul Inayah

NPM. 0540018012

Ainal Hana

NPM. 0540018312

Mia Sari Zulfiati

NPM. 0540018312

Kelas Farmasi A
Semester V

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


FAKUTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2015 / 2016

28

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
dengan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul
Diare dengan baik, untuk memenuhi tugas mata kuliah KIE & Swamedikasi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu
penulis harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah KIE & Swamedikasi yaitu
bapak Drs. Jamaluddin Al J Elf., Apt yang telah membimbing dan memberikan
pengarahan pengarahan dalam penyusunan makalah ini, dan kepada temantemanku yang selalu mendukung.
Semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan pikiran dan dapat
menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi pembaca.

Pekalongan, November 2015

Penulis
DAFTAR ISI

28

Cover................................................................................................................. 1
Kata pengantar................................................................................................... 2
Daftar isi............................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang......................................................................................... 4

1.2.

Rumusan Masalah.................................................................................... 5

1.3.

Maksud dan Tujuan.................................................................................. 5

1.4.

Manfaat..................................................................................................... 5

1.5.

Metode Penulisan...................................................................................... 6

BAB II PEMBAHASAN
2.1.
2.2.
2.3.
2.4.
2.5.
2.6.
2.7.
2.8.
2.9.
2.10.

Definisi..................................................................................................... 7
Jenis Jenis Diare..................................................................................... 7
Faktor Faktor Pencetus Diare................................................................. 8
Penyebab Diare.......................................................................................... 8
Gejala Penyakit Diare .............................................................................. 10
Cara Penularan Diare................................................................................ 10
Cara Pencegahan Diare............................................................................. 11
Cara penanggulangan diare ...................................................................... 14
Pengobatan terhadap Penyakit Diare........................................................ 14
Interaksi obat ............................................................................................ 25

BAB III PENUTUP


3.1.

Kesimpulan ............................................................................................... 27

3.2.

Saran ......................................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 28

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

28

Penyakit diare hingga saat ini masih menjadi masalah di Indonesia.


Padahal berbagai upaya penanganan, baik secara medik maupun upaya
perubahan tingkah laku dengan melakukan pendidikan kesehatan terus
dilakukan. Namun upaya-upaya tersebut belum memberikan hasil yang
menggembirakan. Setiap tahun penyakit ini masih menduduki peringkat atas,
khususnya di daerah-daerah miskin.
Diare menyerang siapa saja tanpa kenal usia. Diare yang disertai gejala
buang air terus-menerus, muntah dan kejang perut kerap dianggap bisa
sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu pertolongan medis. Memang diare
jarang sekali yang berakibat kematian, tapi bukan berarti bisa dianggap
remeh. Penyakit yang juga populer dengan nama muntah berak alias
muntaber ini bisa dikatakan sebagai penyakit endemis di Indonesia, artinya
terjadi secara terus-menerus di semua daerah, baik di perkotaan maupun di
pedesaan, khususnya di daerah-daerah miskin. Di kawasan miskin tersebut
umumnya penyakit diare dipahami bukan sebagai penyakit klinis, sehingga
cara penyembuhannya tidak melalui pengobatan medik. Kesenjangan
pemahaman semacam ini merupakan salah satu penyebab penting yang
berakibat pada lambatnya penurunan angka kematian akibat diare.
Lingkungan yang buruk disertai rendahnya tingkat kesadaran masyarakat
untuk berperilaku sehat menjadikan kawasan kumuh sebagai kawasan yang
rawan akan penyebaran penyakit. Lingkungan yang buruk menjadi penyebab
berkembangbiaknya berbagai virus penyakit menular. Karena itu berbagai
infeksi penyakit sering terjadi pada para penghuni kawasan kumuh. Penyakit
menular yang sering dijumpai adalah diare, diikuti dengan penyakit infeksi
lainnya seperti thypoid, ispa, penyakit kulit, campak, leptospirosis, demam
berdarah dengue (DBD). Kelangkaan air bersih menjadi sebab utama pemicu
penyakit ini. Gaya hidup yang jorok, tidak memperhatikan sanitasi
menyebabkan usus rentan terhadap serangan virus diare.
Namun, seperti yang telah dijelaskan di atas, berkembangnya perilaku
pencegahan ini sangat tergantung pada kondisi pribadi masing-masing
individu, termasuk persepsi individu bersangkutan dalam memandang diare.

28

Dengan kata lain jika seseorang mempersepsikan diare adalah penyakit yang
membahayakan maka yang bersangkutan dapat diproyeksikan akan semakin
berusaha keras untuk melakukan pencegahan agar tidak terserang diare.
Sebab, upaya pencegahan penyakit ini bersumber pada seluruh aktivitas
manusia yang berkaitan dengan upaya preventif.
1.2. Rumusan Masalah
Beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan dalam pembahasan
makalah ini

adalah:

1. Apa diare itu?


2. Apa faktor pencetus diare?
3. Apa penyebab diare?
4. Bagaimana cara penularan diare?
1.3. Maksud dan Tujuan
Sesuai dengan masalah yang dirumuskan diatas maksud dan tujuan inipun
dirumuskan

guna memperoleh suatu deskripsi tentang:

1. Definisi Diare
2. Faktor pencetus diare
3. Penyebab diare
4. Cara penularan diare
1.4. Manfaat
Dalam penyusunan makalah ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi
semua pihak. Adapun manfaat penyusunan itu diantaranya :
1. Berfungsi sebagai literatur-literatur bagi mahasiswa mahasiswi yang
ingin memperdalam wawasan tentang masalah kesehatan, khususnya
tentang penyakit diare
2. Para pembaca dapat mengetahui lebih dalam tentang penyakit diare.
1.5. Metode Penulisan

28

Dalam makalah ini penulis menggunakan metode kepustakaan yakni dengan


membaca buku buku yang berkaitan dengan judul makalah. Dan mecari
literatur- literatur di internet.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi Diare
Diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan
bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan

28

bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya (3 kali atau lebih dalam 1
hari).
Diare seringkali disertai kejang perut dan muntah-muntah, diare disebut
juga muntahber (muntah berak), muntah menceret atau muntah bocor. Diare
menyebabkan cairan tubuh terkuras keluar melalui tinja. Jika tinja atau
kotoran tersebut mengandung lendir dan darah, penderita telah mengalami
fase yang disebut disentri. Diare dapat terjadi dalam kadar yang ringan
maupun berat. Biasanya terjadi secara mendadak, bersifat akut, dan
berlangsung dalam waktu lama. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai
hal dan kadang diperlukan pengobatan khusus. Namun sebagian besar diare
dapat diobati sendiri di rumah, meskipun kita tidak yakin penyebab yang
menimbulkannya. Diare tak pernah pandang bulu, ia dapat menyerang siapa
saja, baik pria maupun wanita, baik orang tua maupun muda. Diare seringkali
dianggap sebagai penyakit sepele, padahal di tingkat global dan nasional fakta
menunjukkan sebaliknya.
2.2. Jenis-Jenis Diare
Berikut jenis-jenis diare yaitu antara lain :
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya
kurang dari 7 hari ). Gejala dan tanda sudah berlangsung < 2 minggu
sebelum datang berobat. Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan
dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita diare.
b. Diare kronik, yaitu diare yang gejala dan tanda sudah berlangsung > 2
minggu sebelum datang berobat atau sifatnya berulang.
c. Disentri, yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat dari
disentri adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat,
kemungkinan terjadi komplikasi pada mukosa.
2.3. Faktor pencetus diare
Diare dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu :
1. Tangan yang kotor.
2. Makanan dan minuman yang terkontaminasi virus dan bakteri.

28

3. Ditularkan oleh binatang peliharaan.


4. Kontak langsung dengan feses atau material yang menyebabkan diare (
cara membersihkan diri yang tidak benar setelah ke luar dari toilet ).
2.4. Penyebab Diare
Diare dapat disebabkan dari faktor lingkungan atau dari menu makanan.
Faktor lingkungan dapat menyebabkan anak terinfeksi bakteri atau virus
penyebab diare. Makanan yang tidak cocok atau belum dapat dicerna dan
diterima dengan baik oleh anak dan keracunan makanan juga dapat
menyebabkan diare. Kadang kala sulit untuk mengetahui penyebab diare.
Diare dapat disebabkan oleh infeksi pada perut atau usus. Peradangan atau
infeksi usus oleh agen penyebab diare antara lain :
1. Terinfeksi bakteri , virus, atau parasit ( jamur, cacing , protozoa)

Virus (penyebab diare tersering dan umumnya karena Rotavirus),


dengan gejala : Berak-berak air (watery), berbusa, TIDAK ada darah
lendir, berbau asam.Virus penyebab diare Viral gastroenteritis atau yang
dikenal sebagai "stomach virus", virus perut.

Bakteri, dengan gejala : Berak-berak dengan darah/lendir , sakit perut.


Memerlukan antibioka sebagai terapi pengobatan.

Parasite (Giardiasis), dengan gejala : Berak darah dan lendir, sakit


perut. perlu antiparasite. Parasit cryptosporidium atau microsporidium
menyebabkan diare yang terjadi pada banyak Odha. Kejadian infeksi
parasit ini sudah menurun di AS sejak terapi antiretroviral (ART)
dipakai.

Macam-macam bakteri dan parasit yang biasa menyerang perut :


a. E. Coli bacteria
b. Salmonella enteritidis bacteria
c. Compylobacter bacteria
d. Shigella bacteria
e. Giardo parasite
f. Cryptosporidium parasite

28

2. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun


bahan kimia.
Misalnya :

Obat ARV: Beberapa jenis obat yang dipakai oleh Odha dapat
menyebabkan diare. Hal ini sering berlaku dengan nelfinavir, ritonavir,
Kaletra, ddI, foskarnet, tipranavir dan interferon alfa.

Anak sedang terapi dengan pemakaian antibiotika Bila diare terjadi


saat anak sedang dalam pengobatan antibiotika, maka hubungi dokter
anda.

Terlalu banyak makan buah mentah atau makanan berlemak.

3. Kekurangan gizi
misalnya : kelaparan, kekurangan zat putih telur.
Gizi yang buruk. Keadaan ini melemahkan kondisi tubuh penderita,
sehingga timbulnya diare akibat penyakit lain menjadi sering dan semakin
parah.
4. Tidak tahan terhadap makanan atau obat-obatan tertentu, misalnya :

Alergi susu => Alergi terhadap susu , si anak tidak tahan meminum
susu yang mengandung lemak atau laktosa diare biasanya timbul
beberapa menit atau jam setelah minum susu tersebut, biasanya pada
alergi susu sapi dan produk-produk yang terbuat dari susu sapi.

Alergi obat tertentu => Penggunaan obat-obatan tertentu yang tidak


dapat diterima oleh jaringan tubuh akan menyebabkan penyakit
sampingan berupa diare.

5. Gangguan fungsi usus , misalnya Penyakit Intestinal, Penyakit inflamasi


usus atau penyakit abdominal dan gangguan fungsi usus lainnya, seperti
sindroma iritasi usus dimana usus tidak dapat bekerja secara normal.
6. Adanya reaksi obat yang dapat menyebabkan diare, misalnya :
Laksatif penyalahgunaan obat-obatan pencahar sebagai obat menurunkan
berat badan juga menyebabkan diare, Antasida yang mengandung
magnesium, Antineoplastik, Antibiotik seperti klindamisin, tetrasiklin,
sulfonamide dan beberapa antibiotic spectrum luas, Antihipertensi seperti

28

reserpin, guanetidin, metildopa, guanabenz, guanadrel, Kolinergik seperti


betanecol, neostigmin, Senyawa yang mempengaruhi jantung seperti
kuinidin, digitalis, digoxin, Obat AINS, Prostaglandin, Kolkisin
2.5. Gejala Penyakit Diare
Pada diare hebat yang sering kali disertai frekuensi buang air besar
melebihi normal, kotoran encer / cair, sakit / kejang perut, pada beberapa
kasus, demam dan muntah, pada beberapa kasus. Adapun gejala pada anak
meliputi :

Dehidrasi ringan/sedang; gelisah, rewel, mata cekung, mulut kering,


sangat haus, kulit kering

Dehidrasi berat, lesu, tak sadar, mata sangat cekung, mulut sangat kering,
malas/tidak bisa minum, kulit sangat kering

2.6. Cara Penularan Diare


Penularan penyakit diare adalah kontak dengan tinja yang terinfeksi secara
langsung, seperti :
o Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah
dicemari oleh serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
o Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering
memasukan tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini
dapat bertahan dipermukaan udara sampai beberapa hari.
o Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan
benar.
o Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
o Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau
membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi
perabotan dan alat-alat yang dipegang.
2.7. Cara Pencegahan Diare

28

Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni:
Primary Prevention (promosi kesehatan dan pencegahan khusus)
Secondary Prevention (diagnosis dini serta pengobatan yang tepat)
Tertiary Prevention (pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi)
Berikut ini adalah penjabaran lebih lanjut mengenai pencegahan diare :
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada faktor
penyebab dan lingkungan.
a. Penyediaan Air Bersih
Air dapat juga menjadi sumber penularan penyakit. Peran air
dalam terjadinya penyakit menular dapat berupa, air sebagai penyebar
mikroba patogen, sarang insekta penyebar penyakit, bila jumlah air
bersih tidak mencukupi, sehingga orang tidak dapat membersihkan
dirinya dengan baik, dan air sebagai sarang hospes sementara
penyakit.
Untuk mencegah terjadinya diare maka air bersih harus diambil
dari sumber yang terlindungi atau tidak terkontaminasi. Sumber air
bersih harus jauh dari kandang ternak dan kakus paling sedikit sepuluh
meter dari sumber air. Air harus ditampung dalam wadah yang bersih
dan pengambilan air dalam wadah dengan menggunakan gayung yang
bersih, dan untuk minum air harus di masak. Masyarakat yang
terjangkau oleh penyediaan air bersih mempunyai resiko menderita
diare lebih kecil bila dibandingkan dengan masyarakat yang tidak
b.

mendapatkan air besih.


Tempat Pembuangan Tinja
Untuk mencegah kontaminasi tinja terhadap lingkungan, maka
pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik. Suatu
jamban memenuhi syarat kesehatan apabila memenuhi syarat
kesehatan: tidak mengotori permukaan tanah, tidak mengotori air
permukaan, tidak dapat di jangkau oleh serangga, tidak menimbulkan
bau, mudah digunakan dan dipelihara, dan murah.
Tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi
akan meningkatkan risiko terjadinya diare berdarah pada anak balita

28

sebesar dua kali lipat dibandingkan keluarga yang mempunyai


c.

kebiasaan membuang tinjanya yang memenuhi syarat sanitasi.


Status Gizi
Status gizi didefinisikan sebagai keadaan kesehatan yang
berhubungan dengan penggunaan makanan oleh tubuh. Penilaian
status gizi dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai metode,
yang tergantung dan tingkat kekurangan gizi. Metode penilaian
tersebut adalah:
1) konsumsi makanan
2) pemeriksaan laboratorium
3) pengukuran antropometri
4) pemeriksaan klinis
Metode-metode ini dapat digunakan secara tunggal atau

d.

kombinasikan untuk mendapatkan hasil yang lebih efektif.


Kebiasaan Mencuci Tangan
Diare merupakan salah satu penyakit yang penularannya berkaitan
dengan penerapan perilaku hidup sehat. Sebagian besar kuman
infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur oral. Kuman-kuman
tersebut ditularkan dengan perantara air atau bahan yang tercemar
tinja yang mengandung mikroorganisme patogen dengan melalui air
minum. Pada penularan seperti ini, tangan memegang peranan
penting, karena lewat tangan yang tidak bersih makanan atau
minuman tercemar kuman penyakit masuk ke tubuh manusia.

2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada sianak yang telah
menderita diare atau yang terancam akan menderita yaitu dengan
menentukan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat dan tepat, serta
untuk mencegah terjadinya akibat samping dan komplikasi. Prinsip
pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit
(rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare. Diare dapat disebabkan oleh
banyak faktor seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai radang.
Pengobatan yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien. Obat
diare dibagi menjadi tiga, pertama kemoterapeutika yang memberantas
penyebab

diare

seperti

bakteri

28

atau

parasit,

obstipansia

untuk

menghilangkan

gejala

diare

dan

spasmolitik

yang

membantu

menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan. Sebaiknya jangan


mengkonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan
menentukan obat yang disesuaikan dengan penyebab diarenya misal
bakteri, parasit. Pemberian kemoterapeutika memiliki efek samping dan
sebaiknya diminum sesuai petunjuk dokter.
3. Pencegahan Tertier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai
mengalami kecatatan dan kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini
penderita diare diusahakan pengembalian fungsi fisik, psikologis
semaksimal mungkin. Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi
untuk mencegah terjadinya akibat samping dari penyakit diare. Usaha
yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkonsumsi makanan bergizi
dan menjaga keseimbangan cairan. Rehabilitasi juga dilakukan terhadap
mental penderita dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut
memberikan dukungan secara mental kepada anak. Anak yang menderita
diare selain diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus
dipenuhi dan kebutuhan sosial dalam berinteraksi atau bermain dalam
pergaulan dengan teman sepermainan.
2.8. Cara Menanggulangi Diare
Apabila seseorang terkena diare berarti jumlah cairan dalam tubuh yang
dapat diserap sangat sedikit. Hal ini menimbulkan kondisi kekurangan cairan
atau dehidrasi. Pertolongan pertama yang dapat dilakukan adalah mengganti
cairan tubuh yang hilang dengan minum bayak air dan oralit. Tindakan lain
yang dapat dilakukan bila seseorang terkena diare adalah:
1. Makan sup bening. Hindari kopi, teh, dan susu. Pada bayi ASI boleh tetap
diberikan tetapi untuk susu formula harus dibuat lebih encer sampai dua
kali lipat. Hindari makanan padat ganti dengan bubur, roti ataupun pisang
2.
3.

selama 1-2 hari.


Memeriksa penyebab diare sehingga terjadinya diare kembali dapat
dihindari.
Cuci tangan tiap selesai BAB untuk mencegah penularan.

28

4.

Menjaga kebersihan diri, makanan yang akan dikonsumsi dan

5.

lingkungan.
Bila diare berlanjut lebih dari 2 hari, bila terjadi dehidrasi, feses
berdarah, atau terus-menerus kejang perut periksakan ke dokter terutama
bila terjadi pada anak-anak/bayi.

2.9. Pengobatan Terhadap Penyakit Diare


Karena bahaya diare terletak pada dehidrasi maka penanggulangannya
dengan cara mencegah timbulnya dehidrasi dan rehidrasi intensif bila telah
terjadi dehidrasi. Cairan rehidrasi oral yang dipakai oleh masyarakat adalah
air kelapa, air tajin, ASI, air teh encer, sup wortel, air perasan buah, dan
larutan gula garam

(LGG). pemakaian cairan ini lebih dititik beratkan pada

pencegahan timbulnya dehidrasi, sedangkan bila terjadi dehidrasi sedang atau


berat sebaiknya diberi minum oralit. Oralit merupakan salah satu cairan
pilihan untuk mencegah dan mengatasi dehidrasi. Oralit sudah dilengkapi
dengan elektrolit, sehingga dapat menggantikan elektrolit yang ikut hilang
bersama cairan.
Pengobatan diare berdasarkan 3 macam, yaitu :
1) Kemoterapeutik
Yakni untuk terapi kausal, yaitu memusnahkan bakteri penyebab
penyakit digunakan obat golongan sulfonamida atau antibiotik. Contoh
obat : Metronidazole,Cotrimoxazole ( trimetropim + sulfametoxazole),
Tetrasiklin
2) Spasmolitik
Yakni zat yang dapat melemaskan kejang-kejang otot perut pada diare
misalnya Atropin sulfat. Contoh obat : Atropin sulfat, Extrak baladonae,
Papaverin, Paracetamol, Ibuprofen, bismutt
3) Obstipansia (Gejala)
Yakni untuk terapi simptomatis dengn tujuan untuk menghentikan
diare, yaitu dengan cara:
a.

Menekankan peristaltik usus, misalnya loperamid

28

b.

Menciutkan selaput usus, contohnya tannin

c.

Pemberian adsorben untuk menyerap racun atau bakteri misalnya,


carbo adsorben, kaolin

d.

Pemberian mucilago untuk melindungi selaput lendir usus yang luka.


contoh obat : Carbo adsorbens,Kaolin pectin,Oralit,Attalpugit

kemoterapeutik

Spasmolitik

Obstipansia (gejala)

Metronidazole

Atropin sulfat

Carbo adsorbens

Cotrimoxazole

Extrak baladonae

Kaolin pectin

( trimetropim +

Papaverin

Oralit

sulfametoxazole)

Paracetamol

Attalpugit

Tetrasiklin

Ibuprofen

bismutt

Pengobatan Menggunakan Obat Sintesis


Pada umumnya obat antidiare terbagi atas 4 macam yaitu : antimotilitas
(difenoksilat, loperamid, paregoric, tinctur opium, difenoxin), adsorben
(Kaolin pectin, Polikarbofil, Attapulgit), antisekresi (Bismut subsalisilat,
enzim laktase, Lactobacillus), dan oktreotid.
a. Oralit
Komposisi oralit 200 mL :
- Glukosa anhidrat
4g
- Natrium klorida
0,7 g
- Natrium sitrat dihidrat0,58 g
- Kalium klorida
0,3 g
Serbuk dilarutkan dalam 200 mL atau 1(satu) gelas air matang hangat
Takaran pemakaian oralit pada diare antara lain sebagai berikut :
Keada

an

mu

mu

mu

diare

r <

r 1

r 5

11

- 4

tah

tah

12

Dewasa

28

un

un

tah
un

Tidak
ada

Setiap kali BAB beri oralit

dehidra
si
10

Terapi

A
(mence
gah

mL
(0,
5

dehidra
si )

gel
as)

20
0
mL
(1
gel
as)

30
0
mL
(1,
5

400 mL
(2 gelas)

gel
as)

Dengan
Dehidra

3 jam pertama beri oralit

si
T
e

30

mL
(1,

p
i
B

5
gel
as)

60
0
mL
(3
gel
as)

1,2
L
(6
gel

2,4 L
(12 gelas)

as)

Mengat
asi
Selanjutnya setelah BAB beri oralit

dehidras
i
10

20

30

mL
(0,

mL
(1

mL
(1,

400 mL
(2 gelas)

28

5
gel
as)

gel
as)

5
gel
as)

1) Kegunaan oralit :
- Oralit tidak menghentikan diare, tetapi mengganti cairan tubuh
yang keluar bersama tinja.
- Oralit 200 adalah campuran gula, garam natrium dan kalium
2) Kontraindikasi: Obstruksi atau perforasi usus
3) Peringatan dan Perhatian:Pengemudi kendaraan bermotor dan
operator mesin berat jangan minum obat ini sewaktu menjalan kan
tugas.
4) Efek Samping:HipernatremiaLoperamide
b. Kaolin
1) Indikasi : diare
2) Dosis : Dewasa 15-45 mL, Childn 6-12 thn 10-20 mL. Digunakan
setelah setiap buang air besar atau seperti yang diarahkan. Maksimal 2
hari.
3) Pemberian : Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
4) Peringatan, interaksi : menurunkan absorpsi dan diflunisal,
azitromisin, siprofloksasin, isoniazid, nitrofurotoin, norfloksasin,
ofloksasin, rifampisin, dan sebagian besar golongan tetrasiklin,
gabapentin, fenitoin, itrakonazol, ketokonazol, kloroquin, fenotiazin,
fenasin, besi oral.
5) Kontra indikasi : Obstruksi usus, kondisi usus spastik. Anak <6
tahun.
6) Efek yang tidak diharapkan : Sangat jarang, sembelit parah yang
dapat menyebabkan impaksi feses pada anak dan lansia.
7) Kategori pada kehamilan : B
8) Kombinasi Kaolin (1g) dan Pektin (50 mg)
c. Attapulgit (Magnesium aluminium silikat)
1) Indikasi : Gejala pengobatan diare nonspesifik.
2) Dosis : Dewasa 2 tab setelah buang air besar awal dan 2 tablet setelah
buang air besar berikutnya, dosis harian maksimum 12 tab. Anak-anak
6-12 thn dosis dewasa, dosis harian maksimal 6 tab.
3) Pemberian : Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.

28

4) Kontra indikasi : GIT lesi pulmonalis. Demam tinggi.


5) Terapi khusus : Terapi tidak boleh melebihi 2 hari atau demam.
Anak-anak < 6 tahun. Insufisiensi ginjal parah.
6) Interaksi obat : Dapat mempengaruhi penyerapan GI dari tetrasiklin.
Indikasi
: terapi simptomatik untuk diare non spesifik
(penyebab diare belum pasti) dengan mengabsorbsi toksin dan
virus penyebab diare
Kontraindikasi
: hipersensitif terhadap attapulgit, demam
tinggi, stenosis (penyempitan) pada saluran cerna.
Peringatan
: jangan digunakan lebih dari 2 hari atau bila
disertai demam tinggi. Tidak untuk anak < 6 th, insufisiensi ginjal
berat.
d. Karbo adsorben
1) Kegunaan : mengurangi frekuensi buang air besar, memadatkan tinja,
menyerap racun pada penderita diare
2) Perhatian : penderita harus meminum oralit karena obat ini bukan
pengganti oralit, tidak boleh diberikan pada anak usia dibawah 5
tahun.
3) Aturan pakai :
Tablet Norit 250 mg
Dewasa : 3 4 tablet (750 1000 mg), 3 kali sehari (setiap 8 jam)
Kombinasi kaolin Pektin dan Attapulgit
(Setiap tablet mengandung 600 mg atapulgit)
Dewasa dan anak > 12 tahun : 1 tablet setiap habis buang air besar,
maksimal 12 tablet selama 24 jam.
Anak-anak 6 - 12 tahun : 1 tablet setiap habis buang air besar,
maksimal 6 tablet selama 24 jam.
4) Efek samping : Efek samping

: muntah, konstipasi, feses

hitam

e. Loperamid hidroklorida
1) Indikasi : tambahan terapi rehidrasi pada diare akut pada dewasa dan
anak-anak lebih 4 tahun; diare kronik hanya pada dewasa.

28

2) Peringatan, kontraindikasi : kram abdomen dan reaksi kulit


termasuk urtikaria; ileus paralitik dan perut kembung.
3) Dosis : diare akut, dosis awal 4 mg diikuti dengan 2 mg setelah habis
buang air besar. Diare kronik pada dewasa, dosis awal 4 mg, diikuti 2
mg setiap buang air besar. Dosis tidak melebihi dari 16 mg sehari.
Pemberian harus dihentikan bila tidak ada perbaikan setelah 48 jam.
4) Kategori pada kehamilan : B
f. Co-Fenotrop
1) Komposisi : difenoksilat hidroklorida dan atropine sulfat
2) Indikasi : tambahan terapi rehidrasi pada diare akut; kolitis ulseratif
ringan dan kronis
3) Peringatan, Kontraindikasi, Efek samping : anak-anak terutama
rentan terhadap overdosis dan gejala-gejala mungkin tertunda
sehingga pengamatan dilakukan paling tidak selama 48 jam setelah
penggunaan; adanya dosis subklinis atropine dapat menimbulkan efek
samping atropine pada individu yang rentan atau pada overdosis.
4) Interaksi :
- Alkohol : menaikkan efek sedative dan efek hipotensif
- Antibakteri : kadar plasma siprofloksasin
- Antidepresan : eksitasi atau depresi SSP (hipertensi atau
hipotensi) apabila menerima MAOI (termasuk moklobemid)
- Antiulkus : simetidin menghambat metabolism analgetik opioid
(meningkatkan kadar plasma).
g. Bismuth subsalisilat
1) Indikasi : Pengobatan gejala diare akibat racun dan virus. Meredakan
gangguan pencernaan, mulas, mual.
2) Dosis : Dewasa 1 - 2 tab sekaligus. Max: 11 tab sehari. Anak-anak
9-12 thn - 1 tab, max: 5 tab sehari, 6-9 tahun tab, max: 4 tab
sehari.
3) Kontraindikasi : Anak yang baru saja sembuh dari cacar air atau flu,
4)
5)
6)
7)

hipersensitivitas terhadap aspirin, neonatus, lemah dan pasien geriatri.


Efek yang tidak diinginkan : Lidah dan feses berwarna gelap
Interaksi obat : Doxycycline.
Pemberian : Dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
Kategori pada kehamilan : C

h. Kombinasi dan Pectin

28

1) Indikasi : simptomatik diare non spesifik


2) Kontraindikasi : Obstruksi intestinal, hipersensitif terhadap kaolin
dan pektin. Konstipasi.
3) Peringatan : jangan digunakan lebih dari 2 hari, pasien demam,
anak< 3th
i. Kombinasi attalpugite dengan kaolin
1) Kontraindikasi : pasien konstipasi, obstruksi usus, hipersensitif
terhadap obat ini.
2) Efek samping : konstipasi, impaksi feses (dalam dosis besar)
3) Peringatan : tidak untuk anak < 6 th, demam tinggi, dehidrasi.
jangan diberikan lebih dari 2 hari, demam tinggi, anak < 6 th, hamil
dan menyusui.
4) Interaksi obat : Dapat mempengaruhi penyerapan GI dari tetrasiklin.
Penggunaan antibiotik untuk diare
Antibiotik biasanya dianjurkan jika penyebab diare telah diketahui
sebagai bakteri atau jika gejala diare yang terjadi sangat parah. Penderita diare
disarankan untuk tidak mengkonsumsi antibiotik jika penyebabnya tidak
diketahui pasti. Selain karena antibiotik bisa menimbulkan efek samping
buruk, antibiotik juga tidak berpengaruh jika diarenya disebabkan oleh virus.
Jika terlalu sering digunakan untuk penyakit yang ringan, efek positif
antibiotik akan berkurang ketika nantinya digunakan untuk mengobati kondisi
yang lebih serius. Antibiotik juga disarankan bagi mereka yang memiliki
kekebalan tubuh yang lemah dan rentan terhadap infeksi.
Berikut ini adalah obat obat yang termasuk anti biotik yang sering
digunakan dalam pengobatan diare :
1. Metronidazole
a) Indikasi

Infeksi yang diduga disebabkan oleh bakteri anaerob;

Infeksi menular seksual;

Infeksi bakterial vaginosis (penyakit infeksi tidak spesifik pada


vagina);

28

Infeksi parasit trichomonas (misal pada diare atau keputihan akibat


trichomonas);

Infeksi kuman amoeba (misal pada diare akibat amoeba).

b) EFEK SAMPING

Nafsu makan turun (10%);

Muncul infeksi jamur (10%);

Diare (10%);

Pusing (10%);

Mual dan muntah (10%)

Air kencing berwarna gelap (1-10%);

Alergi (1-10%);

Kejang (1-10%).

c) Kontra indikasi
tidak boleh diberikan untuk wanita hamil trimester pertama (hamil usia
0-3 bulan) dan saat menyusui
2. Cotrimoxazole ( trimetropim + sulfametoxazole)
a) Indikasi

Infeksi saluran kemih dan kelamin yang disebabkan oleh E. coli.


Klebsiella sp, Enterobacter sp, Morganella morganii, Proteus
mirabilis, Proteus vulgaris.

Otitis media akut yang disebabkan Streptococcus pneumoniae,


Haemophilus influenzae.

Infeksi saluran pernafasan bagian atas dan bronchitis kronis yang


disebabkan Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae.

Enteritis yang disebabkan Shigella flexneri, Shigella sonnei.

Pneumonia yang disebabkan Pneumocystis carinii.

Diare yang disebabkan oleh E. coli.

b) Kontra indikasi

28

Penderita dengan gangguan fungsi hati yang parah, insufisiensi


ginjal, wanita hamil, wanita menyusui, bayi prematur atau bayi
berusia dibawah 2 bulan.

Penderita anemia megaloblastik yang terjadi karena kekurangan


folat.

Penderita yang hipersensitif/alergi terhadap trimetoprim dan obatobat golongan sulfonamida.

c) Efek samping

Efek samping jarang terjadi pada umumnya ringan, seperti reaksi


hipersensitif/alergi, ruam kulit, sakit kepala dan gangguan
pencernaan misalnya mual, muntah dan diare.

Leukopenia, trombositopenia, agranulositosis, anemia aplastik,


diskrasia darah.

Walaupun sifatnya jarang dapat terjadi reaksi hipersensitivitas yang


fatal pada kulit atau darah seperti sindrom Steven Johnson, toxic
epidermal, necrosis fulminant, hepatic necrosis dan diskrasia darah
lainnya.

d) Peringatan dan perhatian

Pada penderita dengan gangguan fungsi ginjal, dosis harus


dikurangi untuk mencegah terjadinya akumulasi obat.

Selama pengobatan dianjurkan untuk banyak minum (minimal 1,5


liter sehari) untuk mencegah kristaluria.

Pada penggunaan jangka panjang sebaiknya dilakukan pemeriksaan


darah secara periodik karena kemungkinan terjadi diskrasia darah.

Hentikan penggunaan Cotrimoxazole bila sejak awal penggunaan


ditemukan ruam kulit atau tanda-tanda efek samping lain yang
serius.

3. Tetrasiklin

28

a) Indikasi:
Bruselosis, batuk rejan, pneumonia, demam yang disebabkan oleh
Rickettsia, infeksi saluran kemih, bronkitis kronik. Psittacosis dan
Lymphogranuloma inguinale. Juga untuk pengobatan infeksi-infeksi
yang disebabkan oleh Staphylococcus dan Streptococcus pada
penderita yang peka terhadap penisilin, disentri amuba, frambosia,
gonore dan tahap tertentu pada sifilis.
b) Kontra Indikasi:
- Penderita yang peka terhadap obat-obatan golongan Tetrasiklin.
- penderita gangguan fungsi ginjal (pielonefritis akut dan kronis).
c) Cara Kerja Obat
Tetrasiklin HCl termasuk golongan tetrasiklin, mempunyai spektrum
luas dan bersifat bakteriostatik, cara kerjanya dengan menghambat
pembentukan protein pada bakteri.
d) Efek Samping:
- Pada pemberian lama atau berulang-ulang, kadang-kadang terjadi
superinfeksi

bakteri

atau

jamur

seperti:enterokolitis

dan

kandidiasis.
- Gangguan gastrointestinal seperti: anoreksia, pyrosis, vomiting,
flatulen dan diare.
- Reaksi hipersensitif seperti: urtikaria, edema, angioneurotik, atau
anafilaksis.
- Jarang

terjadi

seperti:

anemia

hemolitik,

trombositopenia,neutropenia dan eosinofilia.


e) Peringatan dan Perhatian
- Hendaknya diminum dengan segelas penuh air +/- 240 ml untuk
meminimkan iritasi saluran pencernaan.
- Sebaiknya tetrasikli tidak diberikan pada kehamilan 5 bulan
terakhir sampai anak berusia 8 tahun, karena menyebabkan
perubahan warna gigi menjadi kuning dan terganggupertumbuhan
tulang.

28

- Penggunaan tetrasiklin pada penderita dengan gangguan fungsi


ginjal,dapat menimbulkan efek komulasi.
- Hati-hati penggunaan pada penderita dengan gangguan fungsi hati,
wanita menyusui.
- Jangan minum susu atau makanan produk susu lainnya dalam
waktu 1 - 3 jam setelah penggunaan Tetrasiklin.
2.10.

Interaksi obat
1. Metronidazole
antikoagulan

menghambat
kumarin

metabolisme

lainnya

harus

warfarin

dikurangi.

dan

dosis

Metronidazole

meningkatkan risiko efek samping antikoagulan kumarin.


2. Pemberian alkohol selama terapi dengan metronidazole dapat
menimbulkan gejala seperti pada disulfiram yaitu mual, muntah, sakit
perut dan sakit kepala.
3. Dengan obat-obat yang menekan aktivitas enzim mikrosomal hati
seperti simetidin, akan memperpanjang waktu paruh metronidazole
4. Kotrimoksazol dapat menambah efek dari antikoagulan dan
memperpanjang waktu paruh Fenitoin juga dapat mempengaruhi
besarnya dosis obat-obat hipoglikemia.
5. Pernah dilaporkan adanya megaloblastik anemia apabila kotrimoksazol
diberikan bersama-sama dengan obat yang dapat menghambat
pembentukan folat misalnya Pirimetamin.
6. Pemberian kotrimoksazol bersama dengan diuretik terutama Tiazid
dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya trobositopenia.
7. Tetrasiklin membentuk kompleks khelat dengan ion-ion kalsium,
magnesium, besi dan aluminium. Maka sebaiknya tidak diberikan
bersamaan dengan tonikum-tonikum yang mengandung besi atau
dengan antasida berupa senyawa aluminium, amgnesium. Susu
mengandung banyak kalsium, sehingga sebaiknya tidak diminum
bersamaan dengan susu.
8. Pengobatan dengan tetrasiklin jangan dikombinasikan dengan penisilin
atau sefalosporin.
9. Karbamazepin dan fenitoin: menurunkan efektifitas tetrasiklin secara
oral.

28

10. Tetrasiklin akan memperpanjang kerja antikluogulan kumarin,


sehingga proses pembekuan akan tertunda.
11. Guanetidin, histamin, dan Reserpin dapat mengantagonis efek
penghambatan antikolinergik atropin pada sekresi asam lambung.
12. antasida bisa mengganggu penyerapan Atropin

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
1. Diare adalah suatu kondisi dimana seseorang buang air besar dengan
konsistensi lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja dengan
2.

frekuensi lebih sering ( biasanya lebih dari 3 kali dalam satu hari.
Diare dapat disebabkan oleh :
a. Terinfeksi bakteri , virus, atau parasit ( jamur, cacing , protozoa)
b. Keracunan makanan/minuman yang disebabkan oleh bakteri maupun

bahan kimia.
c. Kekurangan gizi
d. Tidak tahan terhadap makanan atau obat-obatan tertentu, misalnya :
e. Gangguan fungsi usus
f. Adanya reaksi obat yang dapat menyebabkan diare
3. Inti dari pengobatan diare yakni : Mengganti cairan yang keluar dan
menghilangkan penyebabnya.
4. Pengobatan diare ada 3 macam yakni : Kemoterapeutik, spasmolitik, dan
obstipansia.
5. Pengobatan pada anak yang diare menggunakan zinc pemberian selama
10 hari dan pemberian lactulosa.
6. Pengobatan pada diare harus diperhatikan terapi pengobatannya, serta
interaksi antar obatnya
3.2. Saran
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman dapat
memberikan kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi
sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatankesempatan

28

berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga
para pembaca yang budiman pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Sukandar, Elin Y. 2009. ISO Farmakoterapi. Ed. II. PT. ISFI Penerbitan. Jakarta.
349-353, 372-377.
Tan HT, Rahardja K. 1993. Swamedikasi. Gramedia. Jakarta, 101-109, 111-118.
Holt GA dan Edwin LH. 1986. The Pros and Cons of Self-medication. Dalam
Journal of Pharmacy Technology, September /October: 213-218. Available
as PDF fileMcEwen J. 1979. Self-medication in The Context of Self-care: A
review. Dalam: nderson, J.A.D (ed). Self Medication. The Proceedings of
Workshop on Self Care, London: MTP Press Limited Lancaster, 95-111.
Available as PDF file.
Rosenstock IM. 1974. The Health Belief and Preventive Health Behavior. Health
Education Monograph, 2(4): 354. Available as PDF file
Tan HT, Rahardja K. 2002. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan dan Efek
Sampingnya. Ed. V. Gramedia. Jakarta, 270-294.
Wells BG. 2006. Pharmacotherapy Handbook. 6th Edition. McGraw-Hill.
Available as PDF file.
Anderson JAD. 1979. Historical Background to Self-care. The
Proceedings of Workshop on Self Care. London: MTP Press
Limited Lancaster, 10-18. Available as PDF file.
http://www.mims.com/

28