Anda di halaman 1dari 10

PENDAHULUAN

Keberadaan limbah yang bersumber dari industri kosmetik cukup mengkhawatirkan. Bahan
beracun dan berbahaya banyak digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik maupun sebagai
penolong. Beracun dan berbahaya dari limbah ditunjukkan oleh sifat fisik dan kimia bahan itu
sendiri, baik dari jumlah maupun kualitasnya. Beberapa kriteria berbahaya dan beracun telah
ditetapkan antara lain mudah terbakar, mudah meledak, korosif, oksidator dan reduktor, iritasi
bukan radioaktif, mutagenik, patogenik, mudah membusuk dan lain-lain. Dalam jumlah tertentu
dengan kadar tertentu, kehadirannya dapat merusakkan kesehatan bahkan mematikan manusia
atau kehidupan lainnya sehingga perlu ditetapkan batas-batas yang diperkenankan dalam
lingkungan pada waktu tertentu.
Industri kosmetik, saat ini lebih terfokus pada upaya untuk melakukan efisiensi seiring
makin melambungnya biaya produksi, belanja pegawai hingga ongkos energi. Sehingga mau tak
mau akan menomorduakan persoalan pembuangan limbahnya. Apalagi pengolahan limbah
memerlukan biaya tinggi. Padahal limbah industri kosmetik sangat potensial sebagai penyebab
terjadinya pencemaran. Pada umumnya limbah industri kosmetik mengandung limbah B3, yaitu
bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18/99 pasal 1, limbah B3 adalah sisa suatu usaha atau
kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan beracun yang dapat mencemarkan atau
merusak lingkungan hidup sehingga membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup
manusia

dan

mahluk

lainnya.

Hal tersebut tidak bisa dibiarkan karena cepat atau lambat pasti akan membawa dampak yang
buruk bagi lingkungan ataupun bagi kesehatan manusia. Limbah industri harus ditangani dengan
baik dan serius oleh Pemerintah Daerah dimana wilayahnya terdapat industri. Pemerintah harus
mengawasi pembuangan limbah industri dengan sungguh-sungguh. Pelaku industri harus
melakukan cara-cara pencegahan pencemaran lingkungan dengan melaksanakan teknologi
bersih, memasang alat pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang dan yang
terpenting harus melakukan pengolahan limbah industri guna menghilangkan bahan pencemaran
atau paling tidak meminimalkan bahan pencemaran hingga batas yang diperbolehkan. Di
samping itu perlu dilakukan penelitian atau kajian-kajian lebih banyak lagi mengenai dampak

limbah industri yang spesifik (sesuai jenis industrinya) terhadap lingkungan serta mencari
metoda atau teknologi tepat guna untuk pencegahan masalahnya.
II. PENGOLAHAN LIMBAH
Teknologi pengolahan limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun
macam teknologi pengolahan limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat
dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih
harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan. Berbagai teknik
pengolahan limbah untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama
ini. Teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi
menjadi 3 metode pengolahan:
1.

Pengolahan secara fisika

2.

Pengolahan secara kimia

3.

Pengolahan secara biologi

Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan
secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
1. Pengolahan limbah secara fisika
Pada umumnya, sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap air buangan, diinginkan agar
bahan-bahan tersuspensi berukuran besar dan yang mudah mengendap atau bahan-bahan yang
terapung disisihkan terlebih dahulu. Penyaringan (screening) merupakan cara yang efisien dan
murah untuk menyisihkan bahan tersuspensi yang berukuran besar. Bahan tersuspensi yang
mudah mengendap dapat disisihkan secara mudah dengan proses pengendapan. Parameter desain
yang utama untuk proses pengendapan ini adalah kecepatan mengendap partikel dan waktu
detensi hidrolis di dalam bak pengendap.
Dalam industri kosmetik, limbah cair secara umum diolah secara fisika dengan cara
pengendapan purifikasi sehingga dihasilkan air yang terpurifikasi yang dapat direcycle untuk

kegiatan yang lain. Namun dalam industri kosmetik terdapat limbah bahan berbahaya dan
beracun (B3) yang biasanya berupa logam-logam berat dan sisa-sisa pelarut yang bersifat toksik.
Untuk bahan-bahan yang mengapung seperti minyak dan lemak agar tidak mengganggu proses
pengolahan berikutnya digunakan proses floatasi. Floatasi juga dapat digunakan sebagai cara
penyisihan bahan-bahan tersuspensi atau pemekatan lumpur endapan dengan memberikan aliran
udara ke atas. Proses filtrasi dalam pengolahan air buangan biasanya dilakukan untuk
mendahului proses adsobrsi atau proses revers osmosis, untuk menyisihkan sebanyak mungkin
partikel tersuspensi dari dalam air agar tidak mengganggu proses adsorbsi atau menyumbat
membran yang dipergunakan dalam proses osmosis. Proses adsorbsi biasanya menggunakan
karbon aktif, dilakukan untuk menyisihkan senyawa aromatik (fenol) dan senyawa organik
terlarut lainnya, terutama jika diinginkan untuk menggunakan kembali air buangan tersebut.
Teknologi membran (reverse osmosis) biasanya diaplikasikan untuk unit-unit pengolahan kecil,
terutama jika pengolahan ditujukan untuk menggunakan kembali air yang diolah. Biaya instalasi
dan operasinya sangat mahal.
1. Pengolahan secara kimia
Pengolahan limbah industri kosmetik yang berupa logam berat dan sisa pelarut toksik secara
kimia dilakukan dengan pengikatan bahan kimia menggunakan partikel koloid. Penyisihan bahan
tersebut dilakukan melalui perubahan sifat bahan tersebut, yaitu tak mudah diendapkan
(flokulasi-koagulasi), baik dengan atau tanpa reaksi oksidasi-reduksi, dan juga berlangsung
sebagai hasil reaksi oksidasi.
Pengendapan bahan tersuspensi yang tak mudah larut dilakukan dengan membubuhkan
elektrolit yang mempunyai muatan yang berlawanan dengan muatan koloidnya agar terjadi
netralisasi muatan koloid tersebut, sehingga akhirnya dapat diendapkan. Penyisihan logam berat
dan senyawa fosfor dilakukan dengan membubuhkan larutan alkali (air kapur misalnya) sehingga
terbentuk endapan hidroksida logam-logam tersebut atau endapan hidroksiapatit. Endapan logam
tersebut akan lebih stabil jika pH air > 10,5 dan untuk hidroksiapatit pada pH > 9,5. Khusus
untuk krom heksavalen, sebelum diendapkan sebagai krom hidroksida [Cr(OH)3], terlebih
dahulu direduksi menjadi krom trivalent dengan membubuhkan reduktor (FeSO4, SO2, atau
Na2S2O5). Penyisihan bahan-bahan organik beracun seperti fenol dan sianida pada konsentrasi

rendah dapat dilakukan dengan mengoksidasinya dengan klor (Cl2), kalsium permanganat,
aerasi, ozon hidrogen peroksida. Pada dasarnya kita dapat memperoleh efisiensi tinggi dengan
pengolahan secara kimia, akan tetapi biaya pengolahan menjadi mahal karena memerlukan bahan
kimia.
Hasil pengolahan limbah B3 dari industri kosmetik ini harus di buang . Salah satunya dengan
metode injection well.
Sumur injeksi atau sumur dalam (deep well injection) digunakan di Amerika Serikat sebagai
salah satu tempat pembuangan limbah B3 cair (liquid hazardous wastes). Pembuangan limbah ke
sumur dalam merupakan suatu usaha membuang limbah B3 ke dalam formasi geologi yang
berada jauh di bawah permukaan bumi yang memiliki kemampuan mengikat limbah, sama
halnya formasi tersebut memiliki kemampuan menyimpan cadangan minyak dan gas bumi. Hal
yang penting untuk diperhatikan dalam pemilihan tempat ialah struktur dan kestabilan geologi
serta hidrogeologi wilayah setempat. Limbah B3 diinjeksikan dalam suatu formasi berpori yang
berada jauh di bawah lapisan yang mengandung air tanah. Di antara lapisan tersebut harus
terdapat lapisan impermeable seperti shale atau tanah liat yang cukup tebal sehingga cairan
limbah tidak dapat bermigrasi. Kedalaman sumur ini sekitar 0,5 hingga 2 mil dari permukaan
tanah. Tidak semua jenis limbah B3 dapat dibuang dalam sumur injeksi karena beberapa jenis
limbah dapat mengakibatkan gangguan dan kerusakan pada sumur dan formasi penerima limbah.
Hal tersebut dapat dihindari dengan tidak memasukkan limbah yang dapat mengalami presipitasi,
memiliki partikel padatan, dapat membentuk emulsi, bersifat asam kuat atau basa kuat, bersifat
aktif secara kimia, dan memiliki densitas dan viskositas yang lebih rendah daripada cairan alami
dalam formasi geologi. Hingga saat ini di Indonesia belum ada ketentuan mengenai pembuangan
limbah B3 ke sumur dalam (deep injection well). Ketentuan yang ada mengenai hal ini
ditetapkan oleh Amerika Serikat dan dalam ketentuan itu disebutkah bahwa:
1. Dalam kurun waktu 10.000 tahun, limbah B3 tidak boleh bermigrasi secara vertikal
keluar dari zona injeksi atau secara lateral ke titik temu dengan sumberair tanah.
2. Sebelum limbah yang diinjeksikan bermigrasi dalam arah seperti disebutkan di atas,
limbah telah mengalami perubahan higga tidak lagi bersifat berbahaya dan beracun.

1. Pengolahan secara biologi


Gambar. Skema pengolahan secara biologi
Sebagai contoh adalah pengolahan etil alkohol. Etil alkohol merupakan pelarut dalam industri
kosmetik. Limbah cair ini bersifat mudah terbakar sehingga perlu penanganan khusus dalam
proses pengolahan limbahnya. Proses pengolahan limbah etil alkohol dapat dilihat dalam
diagram di bawah ini :
= recovered/ renewable resource
Residu alkohol yang berasal dari limbah kosmetik dipisahkan lalu difermentasikan. Parameter
yang mempengaruhi proses fermentasi ini antara lain adalah suhu, pH, alkalinitas, DO, BOD,
dan COD. Setelah difermentasikan, selanjutnya didestilasi untuk dipisahkan etil alkohonya.
Parameter proses destilasi antara lain: suhu dan tekanan uap, Etil alcohol murni yang didapatkan
selanjutnya dapat digunakan lagi dalam industri kosmetik.
Selain etil alkohol dihasilkan pula etanol. Etanol yang dihasilkan dari destilasi ini selanjutnya
digunakan sebagai green fuel. Sedangkan residu sisanya dievaporasi. Kondensat hasil evporasi
disaring dengan menggunakan trickling filter menghasilkan air yang dapat digunakan dalam
proses industri serta untuk menyiram tanaman. Sisa dari proses evaporasi dapat dijadikan pakan
konsentrat.
Produk limbah cair etil alkohol banyak digunakan untuk menggantikan sumber energi yang tidak
dapat diperbarui seperti bahan bakar fosil. Sebagai sumber yang dapat diperbarui, etanol
memiliki keuntungan yang berarti bagi lingkungan. Sebagai contoh, ketika digunakan sebagai
bahan bakar tambahan dalam automobile, etanol sendiri dapat:
1. Mengurangi gas knalpot dan gas greenhouse hingga 10%
2. Mengurangi pelepasan karbondioksida dan gas beracun tinggi-hingga 30%
3. Menghasilkan reduksi bersih pada lapisan bawah ozon, komponen besar dari asap dan
bahaya kesehatan bagi anak-anak dan dewasa untuk masalah pernapasan

4. Membantu mengurangi ketergantungan negeri kita dalam impor minyak asing.


Selain itu pengolahan limbah secara biologi dapat dilakukan dengan metode lumpur aktif.
Pengolahan sistem lumpur aktif adalah metode pemprosesan limbah dengan mempelajari proses
dekomposisi secara mikrobiologis yang dikenal dengan biodegradasi oleh mikroorganisme
pengurai. Lumpur akan mengandung berbagai jenis mikroorganisme heterotrofik termasuk
bakteri yang memiliki peran penting dalam proses pembersihan secara biologis. Bakteri dapat
memanfaatkan bahan terlarut maupun yang tersuspensi dalam air sebagai energi. Bakteri
tersuspensi dalam lumpur digunakan untuk mengolah limbah secara mikrobiologis dapat
dikembangkan dengan pembibitan (seeding) lumpur yang berasal dari ekosistem alam yang
terkontaminasi, tercemar, maupun dari ekosistem alami yang memiliki sifat-sifat khas ataupun
ekstrim. Salah satu limbah yang dapat diolah dengan metode tersebut adalah limbah deterjen.
Deterjen adalah senyawa sintetik yang termasuk surface active agent. Deterjen merupakan salah
satu bahan pencuci yang banyak digunakan sebagai zat pencuci untuk keperluan kosmetik karena
memiliki sifat sebagai pendispersi, pencuci dan pengemulsi. Penyusun utama deterjen adalah
Dodecyl Benzene Sulfonat (DBS). DBS berfungsi untuk menghasilkan busa. Keberadaan busabusa tersebut dapat membatasi kontak udara-air sehingga organisme air akan kekurangan
oksigen. Adapun metode penelitian yang digunakan untuk menguji kemampuan bakteri dalam
mengolah limbah deterjen (DBS) adalah sebagai berikut:
1.

Sampling Sedimen Sungai Tebe

Sedimen diambil dari dasar sungai kemudian disimpan dalam box sampel suhu 40 C. Sedimen
lalu diisolasi bakteri dengan media benzene sulfonat (2 g DBS, 1 g NPK, 0,4 gMg.SO4.7 H20)
1.

Penentuan

waktu

eksponensial

melalui

kurva

pertumbuhan

bakteri.

Media cair berisi 500 ml masing-masing dimasukkan dalam 2 erlenmeyer 1 L. Kemudian


media ditambahkan isolat bakteri secara aseptik dan media lain sebagai kontrol. Media
lalu diaerasi, pertumbuhan isolat bakteri diukur dengan turbidimeter setiap 1 jam selama
12 jam. Dari hasil tersebut akan diperoleh waktu pertumbuhan bakteri saat mencapai
eksponensial.

2. Pembibitan (Seeding) dan pertumbuhan isolat bakteri yang diinokulasikan dalam lumpur
aktif. Waktu pembibitan disesuaikan dengan kurva pertumbuhan bakteri, dimana larutan
bibit telah siap dipanen saat mencapai fase eksponensial.
3.

Penentuan

Kemampuan

Biodegradasi

DBS

oleh

isolat

bakteri

air limbah disiapkan dengan cara melarutkan 1 g DBS; 0,5 g NPK dan 0,2 g
MgSO4.7H2O ke dalam 1 liter akuades. Campuran digojog hingga homogen. Larutan
tersebut mengalami proses aerasi. Sebelum larutan bibit dipindahkan ke dalam reaktor,
kadar DBS daripada larutan bibit yang telah mencapai fase eksponensial diukur sebagai
faktor koreksi yaitu untuk mengetahui kadar DBS yang tersisa saat proses pembibitan.
Larutan bibit sebanyak 200 ml dimasukkan dalam gelas beker dan juga 800 ml limbah
DBS.

Selain

larutan

tersebut

juga

dibuat

larutan

kontrol.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa proses biodegradasi Dodecyl Benzena Sulfonat
(DBS) dengan menggunakan isolat bakteri dari sedimen sungai Tebe Denpasar
menunjukkan penurunan kadar DBS selama 7 hari pengolahan.
4.
5. III. CONTOH PENGOLAHAN LIMBAH KOSMETIK DI INDONESIA
Limbah cair dari PT P&G terutama mengandung bahan organik yang tinggi yang berasal dari
produksi shampo (80 % dari total limbah). Sistem pengolahan limbah cair PT P&G dilakukan
secara kombinasi fisik-kimia-biologis. Pengolahan kimia yang digunakan adalah proses
koagulasil flokulasi, sedangkan proses biologis yang digunakan adalah proses lumpur aktif
(activated sludge).
Pengolahan kimia dengan proses koagulasi/flokulasi menggunakan bahan kimia Na2CO3
untuk pengaturan pH, PAC sebagai koagulan, dan polimer anionik sebagai koagulan pembantu.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, didapatkan dosis optimum koagulan yang digunakan,
yaitu Na2CO3 sebesar 600 ppm, PAC sebesar 4000 ppm, dan polimer anionik sebesar 1.5 ppm.
Efisiensi yang diperoleh adalah zat padat tersuspensi (SS) tebesar 80,3% dan COD sebesar
80,8%.

Pengolahan biologis baik dengan proses lumpur aktif maupun gabungan proses anaerobaerob dalam reaktor tipe fixed film dilakukan dengan menggunakan tiga variasi waktu tinggal
(detention time), yaitu 24 jam, 48 jam, dan 72 jam.
Pengolahan limbah cair dengan proses anaerob dan aerob dalam reaktor tipe fixed film
(AAFBR) dengan waktu tinggal 24 jam dapat menurunkan COD maksimum sebesar 34,94%,
dengan waktu tinggal 48 jam sebesar 75,34%, sedangkan dengan waktu tinggal 72 jam sebesar
81,53%.
Sedangkan proses lumpur aktif dengan waktu tinggal 24 jam dapat menurunkan COD
maksimum sebesar 52,01%, dengan waktu tinggal 48 jam sebesar 68,29%, dan dengan waktu
tinggal 72 jam sebesar 76,22%.
Berdasarkan pengamatan, terlihat bahwa persentase penyisihan COD pada proses aerob
cenderung menurun dengan bertambahnya waktu tinggal. Sebaliknya dengan proses anaerob,
persentase penyisihan COD pada proses aerob semakin meningkat dengan bertambahnya waktu
tinggal. Yang perlu diperhatikan bahwa tenyata efisiensi pengolahan Iimbah cair dengan proses
koagulasi/flokulasi (proses fisik kimia), proses lumpur aktif dan proses anaerob-aerob (proses
fisik-biologi) yang dilakukan secara terpisah belum dapat menurunkan beban COD sampai
memenuhi baku mutu limbah yang berlaku. Untuk memperoleh efisiensi pengolahan yang dapat
menurunkan beban COD sampai memenuhi baku mutu maka dilakukan penggabungan terhadap
ketiga proses.
IV. STUDI KASUS PENGOLAHAN LIMBAH CAIR KOSMETIK DI SEBUAH
PERUSAHAAN KOSMETIK AMERIKA KMS (KOCH MEMBRANE SYSTEM )
Industri kosmetik menghasilkan limbah sebagai akibat dari pembersihan alat-alat
pencampuran, pengemas dan lantai. Limbah ini sering mengandung minyak, lemak, padatan
tersuspensi dan surfaktan. Konsentrasi dari polutan ini beragam tergantung pada jenis dan
ukuran operasional industri kosmetik. Aliran limbah juga berubah-ubah secara signifikan karena
siklus operasi dari fasilitas industri. Penting dilakukan sistem pengolahan limbah yang secara
efektif dan ekonomis dapat menangani variabilitas limbah tanpa berpengaruh pada kualitas
efluen.

Metode konvensional untuk menangani kosmetik meliputi penggunaan bahan kimia yang
berhubungan dengan penetapan kejernihan air, alat dissolved air flotation, danrotary drum
vacuum filters. Sejak tahun 1980, KMS ( Koch Membrane System ) telah menggunakan
ultrafiltrasi (UF).
Keuntungan ultrafiltrasi adalah sebagai berikut:
1. Tidak membutuhkan bahan kimia seperti polimer atau koagulan lain
2. Mudah dioperasikan dan hanya butuh sedikit tenaga operator
3. Konsisten dan efluent kualitas tinggi dapat dicapai dengan ultrafiltrasi walaupun
komposisi limbah cair mentah sangat beragam.
KMS telah menyediakan lebih dari 20 sistem ultrafiltrasi untuk pengolahan limbah cair industri.
Sistem UF menggunakan baik tubular (1 FEG-Plus, salah satunya membran HFM-251 atau
HFP-276 ) dan hollow fiber (membran XM atau CM) produk membran. Sistem UF KMS telah
berhasil mencapai pengurangan volume 10 -100 kali tergantung komposisi bahan dan membran
yang digunakan. Dikarenakan komposisi limbah cair industri kosmetik beragam maka fluks
membran hanya dapat ditentukan dengan ploting sebenarnya.
Untuk tubular 1, produk-produk FEG, fluks membran pada metode ini berkisar antara 30
40 GFD (51 68 lmh). Untuk produk hollow fiber KMS , fluks berkisar dari 15 25 GFD (26
43 lmh). Beberapa hasil parameter pengolahan limbah industri kosmetik dengan sistem UF sbb
:
Rekomendasi Pretreatment untuk sistem UF meliputi penghilangan minyak free floating dan
padatan . Kantung filter 200 mikron direkomendasikan sebagai prefiltrasi untuk membran fiber
sementara membran tubular FEG hanya membutuhkan 3000 mikron filter.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2005. Parallel Products, The Waste Management and Resource Recovery Experts.
Fitriani Niza. 2010. Optimasi pengolahan limbah cair dengan proses fisika-kimia-biologi : studi
kasus industri permen, kosmetik, dan farmasi, pt procter & gamble indonesia.Jakarta. Tersedia
online : http://www.lontar.ui.ac.id//opac/themes/libri2/detail.jsp?id=75272&lokasi=lokal diakses
4 oktober 2010
Koch

Membrane

Systems,

Inc.,

2005, Application Bulletin Cosmetics WastewaterTreatment , www.kochmembrane.com diakses


4 oktober 2010
Ritariata.blogspot,
2010, Pengolahan Limbah Cair Pada Industri.http://ritariata.blospot.com diakses pada tanggal
14 Oktober 2010 pada pukul 23.39 WIB
Majaromagazine, 2008, Teknologi Pengolahan Limbah B3. http://majarimagazine.comdiakses
pada tanggal 14 Oktober 2010 pada pukul 23.39 WIB
Scribd, 2010, Jenis dan Karateristik Limbah B3, http://www.scribd.com diakses pada tanggal 14
Oktober 2010 pada pukul 23.42 WIB
Putra

prabu,

2008, Identifikasi

dan

Karakterisasi

Limbah B3,http://putraprabu.wordpress.com diakses pada tanggal 14 Oktober 2010 pada pukul


23.39 WIB
Opixcute.blogspot, 2009, Penyebab BOD dan COD, http://opixcute.blogspot.com diakses pada
tanggal 15 Oktober 2010 pada pukul 00.13 WIB
Chemistry,

2009, Pretretment

pada

Pengolahan

Limbah, http://Chem-Is-

Try.Org/2009/06/08/Pretreatment pada pengolahan limbah.htm diakses pada tanggal 15 Oktober


2010 pada pukul 00.13 WIB