Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN HASIL DISKUSI KELOMPOK

PEMICU 4 BLOK 10
KENAPA YA KOK SUSAH MAKAN

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 5
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015

Data Kelompok
Ketua : Erlinda Agrianthy (140600148)
Sekretaris : Nabila (140600149)
Anggota :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

Karisha Hanna S ( 140600136)


Juliana Fang (140600137)
Khairun Nisah (140600138)
Theresia Retta (140600139)
Jasmine (140600140)
Lady Ade Irima (140600141)
Dessy Apriliana Hrp (140600142)
Bernard (140600143)
Calvina Winarta (140600144)
Michelle Nathalie G (140600145)
Sherly Kurniawan (140600146)
Nia Veronica (140600147)
Istaria Iskandar (140600190)
Dina Hudiya Nadana (140600191)
Rahmadita Meidina (140600192)
Riezky Amalia Hesy (140600193)
Intan Dyahtami Hrp (140600194)
Cut Siti Rahmah F (140600195)
Juan Putra Pratama (140600196)

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas
rahmat dan karunia-Nya sehingga laporan hasil diskusi kelompok
pemicu dua blok sepuluh mengenai Istri Terganggu Tidur Malam ini
bisa diselesaikan tepat pada waktunya.

Terima kasih kami ucapkan kepada fasilitator yang sudah


membantu kami dalam menyelesaikan masalah dan membantu mencari
titik tengah terhadap skenario pemicu dua blok sepuluh ini. Rasa terima
kasih juga diucapkan pada seluruh pihak terkait dalam proses
penyelesaian makalah.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak
kekurangan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun. Semoga dengan selesainya makalah ini dapat
bermanfaat.

TIM PENYUSUN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses menua adalah suatu proses fisiologis kemunduran semua fungsi tubuh
dan perubahan fisik yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan mulut sehingga
pengobatan yang harus dilakukan menjadi lebih rumit.Gangguan pada rongga mulut

yang dialami lanjut usia seperti kehilangan gigi dapat diakibatkan jarangnya
dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini antara lain berhubungan
dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan yang pernah diraih,
semakin tinggi kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Perubahan rongga
mulut pada lansia antara lain mulut kering, warna pucat pada mukosa mulut,
penipisan mukosa, atrisi, dan kehilangan gigi.
Masalah yang sering terjadi pada bidang kesehatan gigi dan mulut adalah
gangguan fungsi kunyah akibat perubahan gigi. Penurunan kemampuan mastikasi
yang paling signifikan terdapat pada populasi lansia dengan keadaan tidak bergigi.
Gangguan pada kemampuan mastikasi muncul pada individu yang memiliki kurang
dari 20 atau kurang dari 10 pasang gigi dengan oklusi yang baik. Penelitian
sebelumnya menunjukkan bahwa rerata jumlah kehilangan gigi lansia adalah 11,47.
Kondisi tak bergigi mempengaruhi patologi otot pengunyahan dan mempengaruhi
penurunan fungsi pengunyahan sesuai dengan faktor usia.
Akibat hilangnya gigi, oklusi akan berubah. Oklusi merupakan hubungan statis
antara gigi atas dan gigi bawah selama interkuspasi dimana pertemuan tonjol gigi atas
dan bawah terjadi secara maksimal. Oklusi dikatakan normal jika susunan gigi geligi
didalam lengkung teratur dengan baik, kontak proksimal dan marginal ridge baik,
hubungan gigi geligi serasi antara rahang atas dan bawah,. Jadi, pada oklusi normal
akan tercapai hubungan yang baik anatar gigi geligi, otot, dan sendi TMJ sehingga
tercapai fungsi mastikasi yang baik.
Beberapa akibat yang terjadi ketika gigi hilang dan tidak diganti adalah
penurunan dukungan jaringan periodontal tulang alveolar, atrisi, penurunan geligi dan
disfungsi TMJ, kehilangan efisiensi mastikasi, pergeseran gigi serta perubahan
lengkung oklusal.
Keluhan mulut kering juga sering ditemukan pada usia lanjut. Keadaan ini
disebabkan oleh adanya perubahan atropi pada kelenjar saliva sesuai dengan
pertambahan umur yang akan menurunkan produksi saliva dan mengubah
komposisinya.
1.2 Deskripsi topik
Seorang perempuan berusia 65 tahun datang ke RSGMP ingin membuat gigi
palsu untuk mengganti giginya yang ompong. Disamping itu pasien mengeluh
rahangnya semakin hari semakin ke depan, mulut terasa kering dan makanan terasa

hambar. Dari pemeriksaan rongga mulut dijumpai gigi 35, 36, 37, 38, 45, 46, 47, 48
edentulus gigi 14, 13, 12, 11, 21, 22, 23, 24 atrisi insisal dengan dentin terbuka tanpa
diikuti rasa ngilu. Oklusi gigi menunjukkan pseudo klas III dengan oklusi gigi
anterior edge to edge. Pada lidah dijumpai ada fisur-fisur yang dalam dan mukosa
lidah licin.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1.1 Pengertian Mastikasi dan Faktor-faktor yang Mengganggu Mastikasi
Menurut Journal of Dentistry Indonesia (2014) mastikasi ialah pross
penghancuran makanan secara mekanik yang bertujuan membentuk bolus kecil
sehingga mempermudah proses penelanan. Komponen dari mastikasi terdiri dari gigi
geligi, sendi rahang, system saraf, dan otot-otot mastikasi dengan tahap-tahap yang
terjadi yaitu membuka mandibula, menutup mandibula, dan kontak gigi dengan gigi
lain atau gigi dengan makanan. Pengertian lainnya menurut buku ajar fisiologi
(Ganong), mastikasi yaitu pemecahan partikel makanan dan pencampuran makanan
dengan sekret kelenjar saliva yang akan membantu dalam proses penelanan serta
pencernaan.
Faktor- faktor dalam kasus ini yang mengganggu mastikasi antara lain:
1. Edentulus gigi
Hilangnya gigi akan memengaruhi permukaan oklusal dalam proses pemecahan
dan pelumatan makanan sehingga menjadi berkurang.
2. Penurunan fungsi kelenjar saliva
Seiring dengan meningkatnya usia, dengan terjadinya proses aging, terjadi
perubahan dan kemunduran fungsi kelenjar saliva, dimana kelenjar parenkim
hilang yang digantikan oleh jaringan lemak, lining sel duktus intermediate
mengalami atropi. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan jumlah aliran
saliva. Saliva yang kurang akan mengganggu pembentukan bolus sebelum
ditelan.
2.1.2 Faktor yang Berperan dalam Proses Mastikasi dan Penelanan
1. Konsistensi Makanan
Cair/padat berpengaruh pada orang yang tidak memiliki gigi (edentulous)

2. Kontak Gigi Geligi


Proses penghancuran makanan terjadi akibat gerakan searah/berlawanan
rahang atas dan bawah. Saat memakan makanan keras, cusp rahang atas
dan bawah dioklusikan sehingga berdigitasi agar makanan dapat menjadi
halus.
3. Otot Mastikasi
Saat makanan berada di dalam mulut terjadi reflex inhibisi otot
pengunyahan sehingga rahang bawah turun kebawah, menimbulkan reflex
regangan otot mandibula yang menimbulkan kontraksi rebound, rahang
bawah otomatis terangkat untuk menutup sekaligus menekan bolus di
dinding mulut yang akan menghambat otot rahang bawah sekali lagi
sehingga gerakan yang sama terjadi secara berulang.
Otot Mastikasi Utama

Fungsi

1.Temporalis

-Mengangkat mandibula
-Menutup mandibula

2.Masseter

-Memundurkan mandibula
-Mengangkat mandibula
-Menutup mandibula

3.Pterygoideus medial

-Menutup rahang bersama p.


lateral
-Membantu pergerakan
rahang

Gambar

4.Pterygoideus lateral

-Membuka mandibula
-Memajukan mandibula
-Menggerakkan mandibula
ke segala sisi

Otot Mastikasi

Fungsi

Tambahan
1.Suprahyoid
-Digastricus

Gambar

-elevasi dan depresi hyoid


bone
-elevasi dan retraksi hyoid

-Geniohyoid

-Mylohyoid

bone
-elevasi lidah
-elevasi dan protrusi hyoid
bone
-elevasi hyoid bone
-menunjang dasar mulut
-elevasi dan retraksi hyoid
bone

-Stylohyoid
2.Infrahyoid
-Omohyoid
-Sternohyoid
-Sternothyroid
-Thyrohyoid

-depresi dan retreksi


hyiodeus bone
-depresi hyoid bone
-depresi laring
-mendekatkan cartilage
thyroid dengan hyoid bone

4. Persarafan
Otot mastikasi dipersarafi oleh cabang motorik nervus trigeminal cabang
cranial dan dikontrol oleh nucleus otak belakang. Perangsangan formasi
retikuler dekat pusat otak belakang berguna untuk pengecapan sehingga
menimbulkan pergerakan ritmik mengunyah secara kontinu.

5. TMJ
Sendi temporomandibular (TMJ) adalah sendi sinovial dimana kondilus
dari mandibula menempel ke fosa mandibula di dasar tengkorak. Rongga
sendi dibagi ke dalam kompartemen atas dan bawah oleh intra-artikular
disc. Gerakan pada satu TMJ akan memiliki reaksi dalam TMJ dari sisi
lain. Perkembangan massa otot pengunyahan memungkinkan kekuatan
mengigit meningkat, sedangkan perkembangan dari artikulasi TMJ terkait
dengan meningkatnya presisi dari gerakan yang kompleks.

6. Bibir dan pipi


Fungsi sensoris untuk temperatur dan sentuhan, sehingga dapat
meyakinkan material yang berbahaya dicegah masuk ke dalam mulut.
Fungsi mekanisnya yaitu mentransfer makanan terutama dalam bentuk
cairan dalam mulut ( mencegah keluarnya cairan dan makanan keluar )
7. Palatum durum
Palatum mencegah kesalahan dalam peletakan makanan, mengukur
kekerasan makanan oleh bagian akhir palatum durum yang sensitif dan
membantu lidah memilih porsi makanan yang tepat untuk ditelan.
8. Lidah

Berperan dalam menghancurkan makanan menjadi halus dengan bantuan


palatum durum,

untuk mencampurkan makanan dengan saliva,

mentransfer makanan dari satu sisi ke sisi yang lain, memisahkan antara

bagian makanan yang siap ditelan dan bagian yang membutuhkan


pengunyahan lebih lanjut.
9. Saliva
Saliva membasahi dan melumasi makanan selama pengunyahan dan
enzimnya menyebabkan karbohidrat percernaan memulai fase awal dalam
mulut.
10. Usia
Gigi edentulus menyebabkan terganggunya proses penghancuran makanan
menjadi suatu partikel yang lebih kecil.
2.1.3 Faktor Penyebab Makanan Hambar dan Mekanismenya
Bertambahnya usia mempengaruhi kepekaan rasa akibat berkurangnya
degenerasi sel pengecap pada lidah. Permukaan lidah ditutupi oleh banyak papilla
pengecap dimana terdapat 4 tipe papilla (filiformis, fungiformis, circumvallate,
foliate) Sebagian besar papilla terdapat pada lidah dan beberapa ditemukan di
palatum epiglottis, laring, faring.
Mekanisme:
Sel-sel pengecap baru terus digantikan oleh proses mitosis oleh sel-sel epitel
disekitarnya. Taste bud hanya bertahan selama 10 hari, kemudian digantikan oleh
taste bud baru. Pada lansia, kecepatan mitosis dan ketahanan sel berkurang.
Karena kurangnya tastebud makanan terasa hambar. Selain berkurangnya taste
bud, taste bud juga mengalami atrofi sehingga sensitivitas berkurang. Pada lansia
juga, sel acininya digantikan oleh jaringan ikat fibrous dan lemak, sehingga
volume saliva berkurang, fungsi saliva pun juga berkurang. Saliva berkurang,
maka daya hantar berkurang sehingga tidak dapat masuk ke mikrovili yang
akibatnya persepsi tidak sampai ke otak.
2.1.4 Morfologi gigi 35, 36, 37, 38, 45, 46, 47, 48 Pandangan Oklusal
Premolar 2 (35,45)
Two cusp type, mesiobuccal & distobuccal cusp ridge ukurannya
sama. Tiap cusp memiliki triangular ridge yang dipisahkan
developmental groove

Molar 1 (36, 46)


Aspek oklusal berbentuk persegi enam, ukuran mesiodistal lebih
besar sekitar 1mm disbanding bukolingualnya. Memiliki 1 major
fossa dan 2 minor fossa.Terdapat triangular pit dari pertemuan
triangular ridge.

Molar 2 (37,47)
T idak memiliki distobuccal developmental groove. Lereng cusp M2
tidak sehalus M1. Bentuk permukaan oklusalnya persegi panjang.

Molar 3 (38, 48)


Ukuran bukolingual bagian distal terlihat lebih kecil dibanding
bagian mesial.

Fungsi
fissure: tempat melekat makanan agar stabil dan tidak lari dari
tempatnya
Crown: Bentuk konkaf untuk melindungi jaringan periodontal
Cusp : Menggiling makanan

2.1.5 Pengertian Atrisi, Abrasi, Erosi, Abfraksi, Karies, Oklusi pseudo klas
III, Oklusi edge to edge, Fisur lidah dalam, Mukosa lidah licin
Atrisi merupakan kerusakan pada permukaan gigi atau restorasi akibat
kontak antar gigi selama pengunyahan atau karena adanya parafungsi/kelainan
fungsi, seperti bruksism. Gambaran klinis atrisi, sebagai berikut: a. Kerusakan
yang terjadi sesuai dengan permukaan gigi yang berkontak saat pemakaian. b.
Permukaan enamel yang rata dengan dentin. c. Kemungkinan terjadinya fraktur
pada tonjol gigi atau restorasi

Abrasi juga penyebab terkikisnya enamel dan akhirnya menyebabkan


terpaparnya dentin. Abrasi adalah kerusakan pada jaringan gigi akibat benda
asing, seperti sikat gigi dan pasta gigi. Gambaran klinis abrasi, sebagai berikut: a.
Biasanya terdapat pada daerah servikal gigi b. Lesi cenderung melebar daripada
dalam. c. Gigi yang sering terkena P dan C.

Erosi adalah kerusakan yang parah pada jaringan keras gigi akibat dari
proses kimia tetapi tidak disebabkan oleh aktivitas bakteri. Gambaran klinis erosi,
sebagai berikut: a. Bentuk lesi cekung yang luas dan permukaan enamel yang
licin. b. Permukaan oklusal yang melekuk (insisal yang beralur) dengan
permukaan dentin yang terbuka. c. Meningkatnya translusensi pada insisal. d.
Permukaan restorasi amalgam yang bersih dan tidak terdapat tarnish e. Rusaknya
karakteristik enamel pada gigi anak- anak. f. Sering ditemui enamel cuff atau
ceruk pada permukaan servikal. g. Terbukanya pulpa pada gigi desidui.

Abfraksi merupakan kerusakan permukaan gigi pada daerah servikal


akibat tekanan tensile dan kompresif selama gigi mengalami flexure atau
melengkung. Gambaran klinis abfraksi, sebagai berikut: a. Kelainan ditemukan
pada daerah servikal labial/bukal gigi. b. Berupa parit yang dalam dan sempit
berbentuk huruf V. c. Pada umumnya hanya terjadi pada satu gigi yang
mengalami tekanan eksentrik pada oklusal yang berlebihan atau adanya halangan
yang mengganggu oklusi.

Karies adalah kerusakan pada jaringan keras gigi akibat demineralisasi


dan fermentasi asam laktat. Faktor utama yang menyebabkan terjadinya karies gigi
adalah host (gigi dan saliva), substrat (makanan), mikroorganisme penyebab karies

dan waktu. Karies gigi hanya akan terbentuk apabila terjadi interaksi antara
keempat faktor berikut.

Oklusi pseudo klas III, saat relasi sentrik diperoleh overjet yang normal
atau posisi insisivus yang edge to edge. Maloklusi pseudo Klas III dapat ditandai
dengan terjadinya gigitan terbalik habitual dari seluruh gigi anterior, tanpa kelainan
skeletal, dan dihasilkan dari pergeseran fungsional mandibula saat menutup. Pada
maloklusi pseudo Klas III ditandai dengan oklusi yang prematur akibat kebiasaan
menempatkan mandibula ke depan.

Pada Oklusi pseudo klas III nilai overbite dan overjetnya adalah 0

Oklusi edge to edge yaitu bertemunya ujung insisal rahang atas dan bawah
dalam keadaan oklusi sentrik. Atrisi terjadi pada permukaan insisalnya akibatnya
mandibula didudukkan kedepan sehingga gigi-gigi insisivus berada dalam keadaan
oklusi edge to edge.

Fissure lidah dalam adalah kelainan anatomi lidah yang menyebabkan


terdapat banyak celah pada permukaan lidah, yang juga sering menyebabkan reaksi
sensitif terhadap makanan pedas, panas berbumbu atau dingin atau sering
mengalami sensasi terbakar. Mudah terkena infeksi, banyak terdapat bakteri. Sisa
makanan mudah lengket pada fissure.

Mukosa lidah licin yakni jaringan mukosa atrofi dengan tanda-tanda tipis,
merah, mengkilap, kering. Terjadi perubahan struktur, fungsi, dan elastisitas
jaringan mukosa mulut disebabkan proses aging. Karena terganggunya mitosis

taste bud tadi, yang seharusnya berganti 10 hari sekali bisa terbentuk atau tidak
sama sekali.

2.1.6

Faktor Penyebab Atrisi, Hubungannya dengan Gigi Edentulous,


gigitan edge to edge, pseudo klas III
Akibat pasien mengalami edentulous, jumlah gigi berkurang sehingga

sistem pengunyahan pun bekerja lebih kuat. Beban terpusat pada bagian anterior
karena mencari oklusal. Akibatnya mandibula perlahan maju dan terjadi pseudo
klas III. Adapun insisivus maksila dan mandibula terus berbentur, oklusi edge to
edge tak terhindarkan, inilah yang menyebabkan gigi pasien tersebut mengalami
atrisi.
2.1.7

Faktor penyebab Gigi tidak terasa ngilu

Atrisi menyebabkan odontoblas primer dirusak. Pulpa di rich cell zone


menempati posisi odontoblas yang rusak . Odontoblast mati sehingga terbentuklah
otontoblast-like cells. Dentin tersier dibentuk hanya oleh odontoblas yang
langsung terkena stimulus, maka ketebalan dentin bergantung pada stimulus yang
diterima. Bentuk tubulus dentin irrgular dan cellular inclusions, yang disebut
dengan osteodentin. lapisan dentin makin tebal sehingga stimulus lebih lambat
ditangkap oleh nerve. Dikarenakan bentuk tubulus dentin yang banyak tulang,
nerve sedikit yang terangsang, reaksi terhadap injuri berkurang. pulpa menekan
bagian saraf A-delta sehingga reseptor menjadi tidak sensitif.

BAB III
KESIMPULAN
Pada kasus, pasien tersebut mengalami gangguan dalam mastikasi dan
penelanan. Faktor usia menunjukkan korelasi bermakna terhadap kemampuan
mastikasi. Dalam hal ini pasien mengalami edentulous, dimana permukaan oklusal
menjadi faktor penting, karena jumlah gigi berpengaruh terhadap pemecahan atau
pelumatan makanan. Selain itu faktor lain yang mengganggu mastikasi dalam
kasus ini adalah penurunan fungsi kelenjar saliva yang akan mengganggu
pembentukan bolus. Adapun faktor-faktor yang memengaruhi mastikasi ialah
konsistensi makanan, kontak gigi geligi, otot mastikasi, persarafan, rahang, dan
usia.
Pasien mengeluh rasa hambar karena tastebud pasien sudah mengalami
atrofi. Saliva pasien juga mengalami kemunduran, dimana kelenjar parenkim
hilang yang digantikan oleh jaringan lemak dan penyambung, lining sel duktus
intermediate mengalami atropi. Keadaan ini mengakibatkan pengurangan jumlah
aliran saliva. Pada lansia kemampuan mitosis menurun, dimana tastebud
seharusnya diperbaharui tiap 10 hari sekali. Atrisi menyebabkan penurunan
vertical dimensi, saat mengunyah mandibula berusaha beradaptasi dan bergerak
maju perlahan sehingga pasien mengalami oklusi pseudo klas III, yang mana pada

maloklusi ini salah satu cirinya yaitu terjadi oklusi edge to edge. Oklusi edge to
edge menyebabkan atrisi dan begitu seterusnya. Pasien tidak merasakan sakit
meski dentinnya terbuka sebab sudah terbentuk dentin tersier sebagai respon dari
stimulus berupa atrisi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Riadani B, Dewi RS, Ariani N, Gita F. Tooth Loss and Perceived Masticatory
Ability in Post Menopausal Women. J Dent Indonesia 2014; 21(1): 11-15
2. Ganong, WF. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit
buku kedokteran.
3. Dayal PK. 1998. Textbook of Oral Medicine. New Delhi: Jaypee Brother
Medical Publisher
4. Shafer, Hine, Levy. 2012. Shafers Textbook of Oral Pathology. New Delhi:
Elsevier
5. Scheid RC, Weilss G. 2014. Anatomi gigi. Jakarta: EGC Penerbit bukuu
kedokteran
6. Nasution, MI.2015. Peran Gigi Geligi pada Rongga Mulut. Medan: USU Press