Anda di halaman 1dari 18

PARAMETER SPESIFIK dan NON SPESIFIK EKSTRAK

RIMPANG KENCUR

KELOMPOK : 3
FARMASI D

LABORATORIUM FITOFARMASI
PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

1. JUDUL
Parameter dan Metode Uji Ekstrak
2. Tanggal Praktikum
27 oktober 2015
3. Tujuan
a. Memahami cara menentukan parameter dan metode uji ekstraksi
b. Memahami proses standarisasi produk obat terdisional dari ekstrak kencur
c. Menganalisis dan menarik kesimpulan berdasarkan proses penentuan parameter
4. Tinjauan Pustaka
Parameter Spesifik
a) Identitas
Identitas ekstrak dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Deskripsi Ekstrak (generic, dagang, paten)
Nama latin tumbuhan (sistematika botani)
Bagian tumbuhan yang digunakan (rimpang, daun, buah)
Nama Indonesia tumbuhan
Ektrak dapat mempunyai senyawa identitas artinya senyawa tertentu yang
menjadi petunjuk spesifik dengan metode tertentu. Parameter identitas ekstrak
mempunyai tujuan tertentu untuk memberikan identitas obyektif dari nama
dan spesifik dari senyawa identitas (Depkes RI, 2000).
b) Organoleptis
Parameter oranoleptik digunakan untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau,
rasa menggunakan panca indera dengan tujuan pengenalan awal yang
sederhana dan seobyektif mungkin (Depkes RI, 2000).
c) Kadar Sari
Parameter kadar sari digunakan untuk mengetahui jumlah kandungan senyawa
kimia dalam sari simplisia. Parameter kadar sari ditetapkan sebagai parameter
uji bahan baku obat tradisional karena jumlah kandungan senyawa kimia
dalam sari simplisia akan berkaitan erat dengan reproduksibilitasnya dalam
aktivitas farmakodinamik simplisia tersebut (Depkes RI,1995).

Penetapan Kadar Sari Larut Air.

Pada penentuan kadar sari laurut air, simpliasia terlebih dahulu dimaserasi
selama kurang lebih 24 jam dengan air. Ketika penentuan kadar larut air,
simplisia ditambahkan kloroform terlebih dahulu, penambahan kloroform
tersebut bertujuan sebagai zat antimikroba atau pengawet. Karena apabila
pada saat maserasi hanya air saja, mungkin ekstraknya akan rusak karena air
adalah media yang baik untuk pertumbuna mikroba atau dikhawatirkan terjadi
proses hidrolisi yang akan merusak ekstrak sehingga menurunkan mutu dan
kualitas dari ekstrak tersebut. Data kadar sari dalam pelarut tertentu biasanya
diperlukan

untuk

menentukan

pelarutyang

akan

digunakan

untuk

mengekstraksi dari simplisia yang akan diskstrak.

Penetapan Kadar Sari Larut Etanol

Sampel serbuk sebnayak 5g dnegan 100 ml etanol 96 %, ekstraksi dilakukan


dalam alabu bersumbat, setelah itu dikocok berkali-kali selama 6 jam merata
kemudian dibiarkan selama 18 ajam. Filtrate disaring lalu siambil sebanyak
20 mL. filtrate dan diuapkan samapikering dalam cawan porselen, hasil
penguapan dipanaskan pada suhu 105 c samapi bobot tetap. Kadar sari larut
etanol 95 % dihitung terhadap bahan yang telah dikeringakn diudara.
(Material Mediaka Indonesia Jilid VI, 1995)
Parameter untuk simpliasia yang baik sebgai berikut :
- Kadar Air : 10,00
- Kadar Minyak Atsiri : 0,19
- Kadar Abu Total : 10,00
- Kadar Sari Larut Air : 18,00
- Kadar tidak larut : 2,60
- Kadar Sari Larut Etanol : 6,30

Pola Kromatogram

Pola kromatogram mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran awal


komponen kandungan kimia berdasarkan pola kromatogram kemudian
dibandingkan dengan data baku yang ditetapkan terlebih dahulu (Depkes RI,
2000).

Parameter Non Spesifik


a)

Susut Pengeringan

Susut pengeringan merupakan pengukuran sisa zat setelah pengeringan pada


temperatur 105oC selama 30 menit atau sampai konstan, yang dinyatakan dalam
porsen. Dalam hal khusus (jika bahan tidak mengandung minyak menguap/atsiri
dan sisa pelarut organik) identik dengan kadar air, yaitu kandungan air karena
berada

di

atmosfer/lingkungan

udara

terbuka

(Depkes

RI,

2000).

Cara Penentuan :
1. Campur dan timbang seksama zat uji, kecuali dinyatakan lain pada masingmasing monografi, lakukan penetapan menggunakan 1 gr- 2gr. Apabila
zatberupa hablur besar, gerus secara cepat hingga ukuran partikel lebih kurang
2 mm.
2. Tara botol dangkal bersumbat kaca yang telah dikeringkan selama 30 menit
pada kondidsi seperti yang akan digunakan dalam pemetapan.
3. Masukkan zata uji ke dalam botol timbang tersebut, dna timbangseksama
botol beserta isinya. Perlahan-lahan, dnegan menggoyangkannya, ratakan zat
ujisampai setinggi 5 mm dnadlam hal zat ruahan ridak lebih dari 10 mm.
4. Masukkan ke dalam oven, buka sumbat dan biarkan sumbat ini dari dalam
oven. Panasakna zat uji pada suhu dan waktutertentu seperti yang tertera
dalam monografi.
b)

Kadar Abu

Parameter kadar abu merupakan pernyataan dari jumlah abu fisiologik bila
simplisia dipijar hingga seluruh unsur organic hilang. Abu fisiologik adalah abu
yang diperoleh dari sisa pemijaran (Depkes RI, 2000).
Penentuan kadar abu dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu pengabuan cara
langsung (cara kering) dan pengabuan cara tidak langsung (cara basah).

Penentuan kadar abu secara langsung

Prinsip pengabuan cara langsung yaitu semua zat organik dioksidasi pada suhu
tinggi, yaitu sekitar 500-600oC, kemudian zat yang tertinggal setelah proses
pembakaran ditimbang. Mekanisme pengabuan cara langsung yaitu cawan
porselen dioven terlebih dahulu selama 1 jam kemudian diangkat dan didinginkan

selama 30 menit dalam desikator. Cawan kosong ditimbang sebagai berat a gram.
Setelah itu, bahan uji dimasukan sebanyak 5 gram ke dalam cawan, ditimbang dan
dicatat sebagai berat b gram. Pengabuan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu
pemanasan pada suhu 300oC agar kandungan bahan volatil dan lemak terlindungi
hingga kandungan asam hilang. Pemanasan dilakukan hingga asam habis.
Selanjutnya, pemanasan pada suhu bertahap hingga 600oC agar perubahan suhu
secara tiba-tiba tidak menyebabkan cawan menjadi pecah

Penentuan Kadar Abu secara tidak Langsung.

Prinsip pengabuan cara tidak langsung yaitu bahan ditambahkan reagen kimia
tertentu sebelum dilakukan pengabuan. Senyawa yang biasa ditambahkan adalah
gliserol alkohol atau pasir bebas anorganik yang selanjutnya dipanaskan dalam
suhu tinggi. Pemanasan menyebabkan gliserol alkohol membentuk kerak sehingga
menyebabkan terjadinya porositas bahan menjadi besar dan memperbesar
oksidasi. Pemanasan pada pasir bebas dapat membuat permukaan yang
bersinggungan dengan oksigen semakin luas dan memperbesar porositas sehingga
proses pengabuan semakin cepat.
Mekanisme pengabuan cara tidak langsung yaitu cawan porselen dioven terlebih
dahulu selama 1 jam kemudian diangkat dan didinginkan selama 30 menit dalam
desikator. Cawan kosong ditimbang sebagai berat a gram. Setelah itu, bahan uji
dimasukan sebanyak 5 gram ke dalam cawan, ditimbang dan dicatat sebagai berat
b gram. Gliserol alkohol ditambahkan dalam cawan sebanyak 5 ml dan dimasukan
dalam tanur pengabuan hingga putih keabu-abuan. Abu yang terbentuk dibiarkan
dalam muffle selama 1 hari. Cawan porselen dioven terlebih dahulu untuk
mengeringkan air yang mungkin terserap saat disimpan dalam muffle lalu
dimasukan ke desikator. Penimbangan cawan setelah pengabuan dicatat sebagi
berat c gram. Suhu yang tinggi menyebabkan elemen abu yang volatil, seperti Na,
S, Cl, K dan P menguap. Pengabuan juga menyebabkan dekomposisi tertentu,
seperti K2CO3 dan CaCO3. Pengeringan dengan metode ini bertujuan mendapatkan
berat konstan.

Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam

Penetapan kadar abu total dna kadar abu tak larut asam dilakukan dengan
pengabuan ekstrak dalam krus di dalma tanur pada suhu 800 C. Disini terjadi
pemanasan bahanekstrak temperature dimana senyawa organic dan turunan
terdestruksi dan menguap,sehingga yang tertinggal hanya unsur mineral dan
anorganik. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kandungan mineral
internal dan ekternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak.
Selain itu penetapan kadar abu juga dimaksudkan untuk mengontrol jumlah
pencemaran benda-benda organic seperti yanah, pasir yang sering kali terikat
dalam sediaan nabati. Penetapan kadar abu tidak larut dalam Asam
Abu yang diperolehdari penetapan kadar abu total didihkan dalam 25 ml asam
klorida encer selama lima belas menit. Bagian yang tidaklarut dalam asam
dikumpulkan, disaring melalui kertas saring bebas abu, dicuci dengan air panas,
dipijar hingga bobot tetap. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung
terhadapbahan yang telahdikeringkan di udara (Depkes, 1995).
5.

Alat dan Bahan

a. Alat

Timbangan analitik

Beaker glass

Hot plate

Botol Timbang

Krus Porselen

Eksikator

Kertas Saring

Corong

Tripod

Bunsen

b. Bahan
Ekstrak Rimpang kencur
Etanol 96%
Kloroform
Aquadest
6.

Prosedur Kerja

a. Penetapan Kadar Sari Larut Air


Ditimbang 5 gram ekstrak, masukkan ke
dalam labu Erlenmeyer dimaserasi
selama 24 jam
+ 100 ml air kloroform LP
Dikocok selama 2,5 jam kemudian
dibiarkan selama 24 jam
Saring, filtrate
20 ml filtrate diuapkan hingga kering di
dalam cawan dangkal berdasar rata
yang ditara.

Sisa dipanaskan (105 C) hingga bobot


tetap, lalu dihitung kadar sarinya dalam
%. Percobaan dilakukan 3 kali.

Cat : air kloroform LP


adalah air suling
997,5 ml + 2,5 ml
kloroform

b. Penetapan Kadar Sari Larut Etanol


Ditimbang 5 gram ekstrak, masukkan ke
dalam labu Erlenmeyer dimaserasi
selama 24 jam
+ 100 ml etanol 96 %
Dikocok selama 2,5 jam, kemudian
dibiarkan selama 24 jam
Saring, Filtrat
dikumpulkan
20 ml filtrate diuapkan hingag kering di
dalam cawan dangkal berdasar rata
yang ditara
Sisa dipanaskan (105 C) hingga bobot
tetap, lalu dihitung kadar sarinya dalam
%. Percobaan dilakukan 3 kali.

c. Susut Pengeringan
Tara Botol timbang + tutup, panaskan
( 105 C) selama 30 menit

Timbang ekstrak 1 g dalm botol timbang


kemudian ratakan

Panaskan (105
Dibiarkan
hingga
C) dingin
dengan
dalam
tutp dibuka
eksikator
pada suhu
hingga
bobot
kamar
tetap

d. Penetapan Kadar Abu Total


2-3 g ekstrak masukkan dalm krus
yang telah dipijarkan dan ditara,
ratakan.

Dipijar perlahan-lahan hingga arang


habis, dinginkan dan ditimbang

Jika arang tidak hilang + air panas dan


disaring dengan kertas saring bebas
abu. Sisa kertas saringdipijarkan dalm
krus yang sama

Filtrat dimasukkan dalam krus,


diuapkan, dipijar ad bobot tetap lalu
ditimbang. Dihitung kadar terhadap
bahan yang telah dikeringkan diudara

e. Penetapan Kadar Abu Tidak Larut dalam Asam


Abu yang diperoleh pada penetapan
kadar abu total dididihkan dengan 25
mlas.sulfat encer 5 menit

Hitung dengan
Bagian
Dicuci
kadar
tak larut
abu
airpanas,
asam
yangdikumpulkan
tidak
dipijar
larut
ad asam
bobot
dan
disaring
tetap,
terhadap
ditimbang
melalui
bahan yang
krus kaca
telahmasir
dikeringkan
atau
kertas
di
udara.
saring bebas abu

7. Hasil dan Pembahasan


Hasil Praktikum
Parameter Spesifik
1. Identitas
Nama Ekstrak
Nama lain tumbuhan
Bagian yang digunakan
Nama Indonesia

: Ekstrak kental
: Kaempferia galangal L
: Rimpang
: Kencur

2. Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa

: Kental
: Coklat
: Khas Aromatik
: Agak pedas dan hangat

3. Senyawa terlarut dalam pelarut tertentu


a. Kadar senyawa larut air
Berat ekstrak awal
Berat cawan kosong
Berat cawan + ekstrak I
Berat cawan + ekstrak II
Berat cawan + ekstrak III
Rata-rata

: 5 gram
: 19,78 gram
: 20,0066 gram
: 20,0099 gram
: 20,0089 gram
: 20,0085 gram

Bobot ekstrak :

:
: 22,9 %
c. Kadar senyawa larut etanol
Berat ekstrak awal
Berat cawan kosong
Berat cawan + ekstrak I
Berat cawan + ekstrak II
Berat cawan + ekstrak III
Rata-rata
Bobot ekstrak

: 5 gram
: 19,91 gram
: 20,6023 gram
: 20,5894 gram
: 20,5892 gram
: 20,5936 gram
:

:
: 68, 4 %
Kelompok

Kadar Sari Larut Air

Kadar Sari Larut Etanol

22 %

73 %

II

21 %

27 %

III

22,9 %

68,4 %

IV

22 %

66 %

23 %

68 %

VI

19 %

38 %

Rata-rata

22,3 %

67,47 %

SD

0,5196

1,2858

KV

0,1029

1,9057

c. Parameter Non Spesifik


Susut Pengeringan

: 5,92 %

PEMBAHASAN
Standardisasi adalah suatu hal yang diperlukan untuk menjamin kualitas dari suatu simplisia
atau skstrak. Parameter yang ditetapkan dalam strandardisasi ekstrak terdiri dari parameter
spesifik dan non spesifik. Penetapan nilai pada kedua parameter tersebut bertujuan untuk
menjamin bahwa ekstrak tersebut mempunyai nilai parameter tertentu yang konstan (ajeg) dan
ditetapkan terlebih dahulu.
Pada praktikum kali ini dilakukan parameter spesifik dan non spesifik, dimana pada parameter
spesifik dilakukan penetapan kadar sari laut air dan penetapan kadar sari larut etanol. Penetapan
kadar sari larut air digunakan untuk menentukan kadar zat terekstrak dalam pelarut air dari suatu
bahan, dalam hal ini adalah ekstrak rimpang kencur (Kaempferia galangal L) serta penetapan
kadar sari larut etanol yaitu untuk menentukan kadar zat terekstrak pada ekstrak rimpang kencur
dalam pelarut etanol. Berdasarkan standart farmakope Herbal Penetapan kadar sari larut air yaitu
tidak kurang dari 14,2 % sedangkan penetapan kadar sari larut etanol yaitu tidak kurang dari 4,2
%.

Dari hasil praktikum kelompok kami didapatkan kadar sari air ekstrak rimpang kencur
sebanyak 22,9 %. Kadar sari larut air tersebut dinyatakan telah memenuhi persyaratan sesuai
dengan farmakope herbal simplisia kencur yang telah ditetapkan yaitu tidak kurang dari 14, 2 %.
Sedangka kadar sari larut etanol pada ekstrak rimpang kencur sebanyak 68,4 %. Kadar sari larut
etanol tersebut dinyatakan telah memnuhi persyaratan sesuai dengan framakope herbal dimana
untuk penetapan kadar sari larut etanol yaitu tidak kurang dari 4,2 %. Dengan hal tersebut
menunjukkan bahwa kadar sari larut air pada ekstrak rimpang kencur lebih besar dibandingkan
dengan kadar sari larut etanol.
Setelah itu dilakukan pengumpulan data hasil kadar senyawa larut air. Kadar sari larut etanol
dari setiap kelompok, hal ini bertujuan untuk mengetahui presisis dan akurasi dari hasil
praktikum dengan menghitung nilai SD ( Strandar Deviasi ) dan KV (koefisiensi variasi).
Standar deviasi merupakan patokan yang menunjukkan tingkat presisi. Semakin kecil standar
deviasinya, maka semakin tinggi pula tingkat presisinya dan koefisien variasi merupakan suatu
ukuran variansi yang dapat digunakan untuk membandingkan sutu distribusi data yang yang
membandingkan suatu distribusi data yang mempunyai satuan yang berbeda. Koefisien variasi
adalah sutu perbandingkan antara simpangan baku dnegan nilai rat-rata dan dinyatakan dengan
presentase. Besarnya koefisien variasi akan berpengaruh terhadap kualitas sebaran data. Semakin
kecil koefisien variasi, maka datanya semakin homogeny dan sebaliknya semakin besar koefisien
variasi maka datanya semakin heterogen.
Dari hasil data praktikum didapatkan SD sebesar 0,5196 pada kelompok (1,3,40) dan nilai KV
sebesar 0,1029 pada kadar sari larut air, sedangkan untuk kadar sari larut etanol didapatkan nilai
SD sebesar 1,258 pada kelompok (3,4,5) dan nilai KV adalah 1,9057. Sehingga adanya nilai SD
pada kelompok (1,3,4) dan KV dari kelompok (3,4,5) menunjukkan parameter stastistik ekstrak
rimpang kencur.
Pada praktikum kali ini juga dilakukan parameter non spesifik, yaitu susut pengeringan.
Tujuan mengetahui susut pengeringan adalah memberikan batasan maksimal (rentang) tentang
besarnya senyawa yang hilang pada proses pengeringan. Berdasarkan standart Farmakope Herbal
penetapan susut pengeringan pada ekstrak rimpang kencur yaitu tidak lebih dari 10%. Dari hasil
praktikum kelompok kami didapatkan susut pengeringan 5,92 % sehingga dinyatakan telah

memenuhi persyaratan sesuai dnegan farmakope herbal simplisia kencur yang telah ditetapkan
yaitu tidak lebih dari 10%.

KESIMPULAN
1. Parameter yang ditetapkan dalam standardisasi ekstrak terdiri dari parameter nonspesifik
dan parameter spesifik bertujuan untuk menjamin bahwa ekstrak tersebut mempunyai
nilai parameter tertentu yang konstan (ajeg)
2. Hasil praktikum kelompok kami memenuhi penetapan nilai-nilai standardisasi ekstrak
rimpang kencur (Kaempferia galangal L) yang telah dinyatakan pada farmakope herbal
Indonesia. Berikut perolehan kadar sari larut air sebesar 22,9 % ( 14,2 %) ; kadar sari
larut etanol sebesar 68,4 % ( 4,2 %) ; Susut pengeringan sebesar 5,92% ( 10%)
3. Rata-rat kadar sari larut etanol (^7,47%) lebih besar dibandingkan dengan rata-rata kadar
sari larut air (22,3%) untuk semua kelompok.

Parameter Non Spesifik


1. Identitas
Nama Ekstrak
Nama lain tumbuhan
Bagian yang digunakan
Nama Indonesia

: Ekstrak kental
: Kaempferia galangal L
: Rimpang
: Kencur

2. Organoleptis
Bentuk
Warna
Bau
Rasa

: Kental
: Coklat
: Khas Aromatik
: Agak pedas dan hangat

Berat ekstrak awal


Berat krus kosong rata-rata
Berat krus + ekstrak I
Berat krus + ekstrak II
Rata-rata
Bobot ekstrak :

: 3 gram
: 34,5379 gram
: 35,4272 gram
: 35,4206 gram
: 35,4239 gram

(Berat Krus + Ekstrak) Krus Kosong

x 100%

Berat Ekstrak
=

(35,423 gram + 34,5379 gram)

x 100%

3 gram
= 29,53%
Kadar abu total standar Farmakope Herbal Indonesia = 8,7%
Kadar Abu Total Kelompok :
Kelompok

= gagal

Kelompok

= 29,09 %

Kelompok

= 29,53 %

Kelompok

= 29,90 %

Kelompok

= gagal

Kelompok

= 30,42 %

Data yang diambil

Kelompok

= 29,09 %

Kelompok

= 29,53 %

Kelompok

= 29,90 %

SD

= 0,4%

KV

= SD / Rata-rata x 100%

= 0,4 / 29,51 x 100%


= 1,35 %

PEMBAHASAN
Standarisasi ekstrak sangat penting dilakukan untuk mempertahankan konsistensi
kandungan senyawa aktif yang terkandung dalam ekstrak. Terpenuhinya standart mutu produk/
bahan ekstrak tidak terlepas dari pengendalian proses, artinya bahwa proses yang terstandart
dapat menjamin produk terstandart.
Penetapan kadar abu total dilakukan dengan metode gravimetric yaitu pengabuan ekstrak
dalam krus pada suhu tinggi. Disini terjadi pemanasan bahan pada temperature dimana senyawa
organic dan turunannya terdestruksi dan menguap, sehingga yang tertinggal hanya unsur mineral
dan anorganik.
Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal
yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak. Selain itu penetapan kadar abu juga
di maksudkan untuk mengontrol jumlah pencemar benda-benda organic dari tanah, pasir yang
sering kali terikut dalam sediaan nabati. Kadar abu total yang diperbolehkan dalam ekstrak
rimpang kencur yang tertera dalam farmakope Herbal Indonesia adalah 8,7%
Dari hasil praktikum kelompok kami diperoleh kadar abu total ektrak rimpag kencur
sebesar 29,53%. Kadar abu total tersebut dinyatakan tidak memenuhi persyaratan sesuai dengan
yang tertera pada Farmakope Herbak Indonesia, hal ini disebabkan karena ekstrak rimpang
kencur mengandun penotor organic yang berasal dari simplisia awak ataupun disebabkam pada
proses pembuatan ekstrak.
Dari hasil praktikum dari data kelas diambil data kelompok 2,3,4 untuk menghitung SD
dan KV yaitu SD 0,4% dan KV 1,35%. Hasil tersebut menunjukkan presisi dari praktikum
tinggi, dimana SD dan KV yang kecil berarti presisi.

KESIMPULAN
1. Pada praktimum kelompok kami diperoleh data kadar abu total yaitu = 29,53%,
disimpulkan melebihi standar Farmakope Herbal Indonesia.
2. Penetapan presisinya praktikum menggunakan data kelas kelompok 2,3,4 diperoleh SD =
0,4% dan KV = 1,35%