Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MANAJEMEN RANTAI PASOKAN

Analisis Supply Chain Management Perusahaan Coklat PT. Ceres

Penanggung jawab:
Mochammad Hadi A1M013028

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015

I.

Pendahuluan
Kakao (cocoa) atau dalam bahasa latin disebut dengan Theobroma cacao

merupakan tumbuhan berwujud pohon yang berasal dari Amerika Selatan. Dari biji
tumbuhan ini, dihasilkan produk olahan yang dikenal sebagai cokelat. Cokelat sendiri
memilki banyak manfaat bagi kesehatan maupun psikologis. Oleh karena itu, terdapat
banyak sekali perusahaan perusahaan coklat yang saling berkompetisi dan
berinovasi dalam menciptakan produk coklat.
Salah satu perusahaan coklat terbesar di Indonesia adalah PT. Ceres yang
bermarkas di Bandung, Jawa Barat. Perusahaan yang merupakan anak turunan dari
PT. General Food Indonesia ini memiliki total 27 merek produk seperti Wafer Briko,
Top, Biskuit Selamat dll. Selain itu ada juga produk coklat yang dihasilkan oleh PT.
Ceres, salah satu produk coklat yang terkenal adalah Silver Queen.
Melihat permintaan konsumen yang begitu tinggi, PT. Ceres selalu berusaha
melakukan berbagai kebijakan terkait dengan masalah produksi dan distribusi. Dalam
rangka meningkatkan jumlah supplier cocoa untuk produk coklatnya, PT. Ceres juga
melakukan impor cocoa khususnya yang berasal dari Benua Afrika sebagai produsen
cocoa nomor 1 di dunia.
Selain permasalahan produksi dan distribusi, perusahaan juga menghadapi
beberapa kebijakan kebijakan dari pemerintah yang terkadang merugikan
perusahaan. Namun, melihat perkembangan dari PT. Ceres menunjukkan bahwa
perushaan ini memiliki sebuah management yang terstruktur dan konsisten khususnya
dalam Chain Supply Management. Oleh karena itu, sistem management PT. Ceres
bisa dijadikan salah satu model dan sebagai acuan dalam mempelajari management
suatu perusahaan besar.

II.

Isi
Supply Chain Management (SCM) atau yang juga dikenal dengan Manajemen

Rantai Pasokan adalah suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi
dan jasanya kepada para pelanggannya. Rantai ini juga merupakan jaringan dari
berbagai organisasi yang saling berhubungan dan mempunyai tujuan yang sama, yaitu
sebaik mungkin menyelenggarakan pengadaan atau barang tersebut, istilah supply
chain meliputi juga proses perubahan barang tersebut, misalnya dari barang mentah
menjadi barang jadi.
Manajemen rantai pasok merupakan integrasi aktivitas - aktivitas

yang

berawal dari pengadaan barang dan jasa, mengubah bahan baku menjadi barang
dalam proses dan barang jadi, serta mengantarkan barang-barang tersebut kepada para
pelanggannya dengan cara yang efisien. Dalam definisi tersebut, secara umum
pemahaman rantai pasok akan mengandung makna terjadinya aliran material dari
awal sampai ke konsumen dengan memperhatikan faktor ketepatan waktu, biaya, dan
jumlah produknya.
Dalam definisi operasional pengertian rantai pasok terdapat tiga aspek yang
perlu diperhatikan yaitu berikut ini :
1. Manajemen Rantai Pasok adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk
mencapai pengintegrasian yang efisien dari supplier, manufacturer, distributor,
retailer, dan customer.
2. Manajemen Rantai Pasok mempunyai dampak terhadap pengendalian biaya.
3. Manajemen Rantai Pasok mempunyai peranan penting dalam meningkatkan
kualitas pelayanan perusahaan kepada pelanggan.

Untuk mengelola aliran barang dan jasa dalam rantai pasok, pertama-tama
yang harus diketahui adalah gambaran sesungguhnya dan lengkap mengenai seluruh
mata rantai yang ada, mulai dari yang pertama sampai yang terakhir. Misalnya, rantai

pasok dari pabrik kertas adalah dimulai dari hutan kayu sebagai penghasil bahan
baku, bahan penolong, peralatan, dan pemasok lain yang terlibat.
Cikal bakal perusahaan Ceres sebetulnya perusahaan tua yang didirikan di
Bandung, Jawa Barat, oleh orang Belanda, dengan nama NV Ceres. Ketika Jepang
menduduki Indonesia, pemilik Ceres pulang ke Belanda dan menjualnya ke orang
Indonesia dan berganti nama menjadai PT Ceres. Sejak krisis moneter, Ceres berganti
kepemilikan, kemudian statusnya berubah menjadi PMA dengan induk perusahaan
bernama Petra Foods yang bermaskar di Singapura, dan mayoritas sahamnya dikuasai
keluarga Chuang.
Petra Foods adalah perusahaan publik yang telah mencatatkan sahamnya di
Singapore Stock Exchange. Namun, mayoritas saham 60% masih digenggam
keluarga Chuang, sedangkan 40% sisanya di tangan publik dan sebuah bank di
Prancis. Mulanya grup Ceres adalah layaknya home industry pada umumnya,
skalanya kecil dan ditangani sederhana. Bedanya, yang ditekuni adalah bisnis cokelat
olahan yang saat itu terbilang jarang di Indonesia.
Sebagai perusahaan pemroses kakao utama di dunia, jajaran petinggi dalam
manajemen Petra Foods Limited yang bermarkas di Singapura wajar selalu
memikirkan keberlangsungan (sustainability) pertumbuhan usahanya melalui
pendekatan yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena produk yang menjadi bahan
utama penggerak bisnisnya adalah kakao, sebagai bahan baku cokelat, maka
perhatian kepada lingkungan penanaman kakao dan para pemangku kepentingannya
(stakeholders) menjadi esensi dalam kegiatan usaha.

Petra Foods dibangun di atas 2 divisi usaha yang saling mendukung, yaitu

1. Cocoa Ingredients salah satu produsen utama dunia sekaligus pemasok bahan
baku kakao berkualitas premium seperti Cocoa Liquor, Cocoa Butter dan Cocoa
Powder yang menjadi dasar bagi berbagai produk cokelat yang dikonsumsi oleh
jutaan manusia setiap harinya.
2. Branded Consumer salah satu pemain terdepan di Asia Tenggara yang
memasarkan dan mendistribusikan merek-merek milik sendiri atas berbagai produk
cokelat dan kembang gula ke pasar konsumen umum, dan menduduki posisi sebagai
pemimpin pangsa pasar di Indonesia.
Sejak lahir pada tahun 1984, dan pada tahun 2001 awal memiliki 5 pabrik dan
berbagai kantor di 4 negara, Petra Foods telah menjadi pemain yang disegani. Saat ini
Petra Foods memiliki fasilitas pemrosesan, kantor-kantor dan kegiatan usaha di 16
lokasi yang tersebar di 11 negara yang berada di benua Asia, Eropa dan Amerika.
Jumlah karyawan juga telah mencapai 6.000 orang dengan latar belakang 22
kebangsaan.
Ekspansi usaha ini telah membuat Petra Foods mampu melayani lebih baik
banyak pelanggan internasional mereka yang bergerak di bidang usaha Cocoa
Ingredients sekaligus memenuhi kebutuhan akan konsumsi berbagai produk chocolate
confectionery di Asia Tenggara. Berawal dari usaha keluarga pada sekitar 60 tahun
lalu dalam usaha chocolate confectionery, telah mewarisi penguasaan pasar yang kuat
akan berbagai produk cokelat di Indonesia. Produk Ingredient berbasis kakao dan
divisi produk Konsumer bermerek (branded) terus bertumbuh kuat dengan
penguasaan pangsa pasar lebih dari 50 persen di pasar Indonesia saja.
Komitmen Petra Foods atas keberlangsungan dan usaha peningkatan kualitas
komunitas didasarkan pada keinginan membalas apa yang telah diberikan masyarakat
atas kemajuan perusahaan dan sejalan pula dengan pendekatan Corporate Social
Responsibilty (CSR) perusahaan. Salah satu contoh aktivitas CSR yang baru-baru ini
dicanangkan kegiatannya oleh Petra Foods adalah SEEDS (Social Economic

Environmental Development for Sustainability), yang berlangsung di hotel Novotel


Bandar Lampung pada 17 Oktober 2012 lalu.
Menurut Joseph Chuang, Lampung memiliki potensi yang bagus sebagai
sentra perkebunan kakao, tinggal bagaimana meningkatkan kualitas dan kuantitas
hasil produksi perkebunan kakao dan penanganan paska panen agar bisa dijual ke
pabrik pengolahan kakao dalam kondisi yang baik sesuai standar. Dengan demikian,
sebagaimana visi SEEDS, pendapatan petani bisa meningkat. Kondisi yang ideal
tersebut akan menjaga kesinambungan pasokan biji kakao bermutu bagi kebutuhan
pabrik-pabrik pemrosesan kakao yang ada dalam jajaran grup Petra Foods, seperti
General Food Industries yang berada di Bandung.
SEEDS diyakini merupakan program yang ramah lingkungan karena
mengurangi pemakaian pestisida kimia. Penambahan produktifitas lahan pertanian
akan mengurangi kebutuhan penambahan luas lahan baru, karena hal tersebut ternyata
tidak menambah hasil produksi. Di Lampung program SEEDS dimulai sejak tahun
2010 di daerah Way Jepara Lampung Timur dan Pringsewu, Lampung Barat.
Melihat bahwa kakao sudah menjadi komoditas pilihan petani di Lampung
dalam kurun 10 tahun terakhir. Hal ini karena komoditas lain seperti cengkeh dan
kopi harganya selalu berfluktuasi secara tajam sementara kakao lebih stabil dan
secara jangka panjang ke depan akan terus meningkat harganya karena tren
permintaan dunia akan produk cokelat terus meningkat. Program SEEDS menurut
akan membantu petani dalam meningkatkan kualitas produksi dan mendukung
permodalan.
Dirjen Perkebunan mengklaim bahwa Indonesia adalah negara penghasil
kakao terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading (38,8%) dan Ghana (30,2%),
dengan kontribusi 13,8 % dari pasokan dunia yang total mencapai 4 juta ton per
tahun. Kakao sebagai tanaman sosial, karena ditanam melalui perkebunan rakyat
yang melibatkan 1,5 juta Kepala Keluarga dan mampu menyumbang penghasilan 1,3

miliar USD bagi negara, berada di urutan ketiga setelah kelapa sawit dan karet untuk
kategori sub sektor tanaman hasil perkebunan.
Program ini menjaga kendali rantai pasokan dari bibit (upstream) sampai hasil
produk akhir (downstream) dengan kualitas yang terjaga sekaligus mampu telusur
(traceability). Peningkatan pendapatan petani secara cepat dilakukan melalui
pelatihan atas Good Agricultural Practices (Praktek Penanaman Yang Benar), proses
paska panen dan pengawasan atas material penanaman yang memberi hasil tinggi.
Tiga pilar SEEDS yaitu Availability (petani setia menanam kakao secara jangka
panjang), Quality (pelatihan agronomi, penanaman, paska panen) dan Traceability
(konsumen cokelat mengetahui dari petani mana mereka mengkonsumsi cokelatnya
dan apakah petani tersebut mendapat penghargaan yang layak atas jerih payahnya).
Marc Donaldson berharap jumlah petani kakao yang tercakup dalam program
SEEDS akan meningkat dari 23.500 petani menjadi 35 ribu petani di tahun 2015.
Petra Foods menjamin akan bertindak sebagai pembeli atas hasil panen kakao dari
para petani tersebut.
Simbiosis mutualisme antara petani kakao dan produsen pemroses kakao telah
tercipta melalui program SEEDS yang dilaksanakan Petra Foods. Kegiatan CSR ini
bukan semata kosmetik untuk menampilkan kesan artifisial akan tanggung jawab
perusahaan bagi masyarakat yang telah mendukung kemajuan perusahaan. SEEDS
telah memberi bukti nyata akan dampak positif kehadiran perusahaan besar bagi
lingkungan dan masyarakat, dan ke depan para petinggi dan jajaran manajemen Petra
Foods akan semakin sibuk untuk terus berkreasi dalam program SEEDS, yang
menjamin kesinambungan rantai pasokan bahan baku cokelat, sebagai salah satu
langkah strategis usaha dalam berkompetisi di pasaran dunia.

Selain masalah supplier, kebijakan pemerintah juga menjadi salah satu factor
yang sangat menentukan nasib perusahaan.. Beberapa dampak kebijakan bisa dilihat
dari berbagai pihak, seperti petani, pedagang dan kelompo processing.
1 .Petani adalah kelompok yang paling dirugikan karena harga biji coklat akan jauh
dari harga dunia karena otomatis ekportir akan membebankan PE pada harga
pembelian dari pengumpul daerah dan seterusnya, ujung-ujungnya harga pada level
petani akan tertekan.
2. Pedagang (mulai pengepul sampai eksportir) tidak dirugikan atau diuntungkan
karena akhir dari perdagangan adalah eksportir, tentunya mereka akan menyesuaikan
pembelian dengan harga dunia dikurangi PE.
3. Kelompok processing adalah yang paling diuntungkan.Faktanya harga dilapangan
yang terbentuk, adalah harga dominan terbentuk dari persaingan antara prosesing
dengan eksportir. Jika harga pembelian eksportir rendah karena ada beban PE,
Sedangkan produk olahan prosesing tidak dikenakan PE (powder dan butter) tentunya
keuntungan menjadi tinggi.
Analisa lebih lanjut, walau ekportir tidak diuntungkan/dirugikan,pada
akhirnya prosesing akan menjalankan strategi menaikan harga beli dibanding
eksportir sehingga eksportir tidak mendapatkan profit yg menarik, jika dia adalah
ekportir dadakan akan mengalihkan ke komoditi lain, jika sebelumnya pungumpul
daerah akan kembali ke pangkuan prosesing. Celakanya, prosesing ini tinggal
hitungan jari dan mereka sudah dalam 1 asosiasi, sangat memungkinkan ber
oligopoli.

III.

Penutup
Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan beberapa hal, diantaranya :
1. Supply Chain Management (SCM) atau yang juga dikenal dengan Manajemen
Rantai Pasokan adalah suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang
produksi dan jasanya kepada para pelanggannya.
2. Dalam menjaga jumlah bahan baku cocoa tetap tersdia, perusahaan PT. Ceres
berusaha menerapkan sistem SEEDS kepada petani cocoa, agar mereka
dibimbing dan dikontrol untuk menghasilkan cacao dalam jumlah banyak dan
berkualitas
3. Kebijakan pemerintah seperti misalnya penambahan pajak ekspor, tentunya
memberikan dampak yang buruk pada petani cocoa karena nanti pajak
eksportir yang harus dibebankan pada harga cocoa yang akan dijual.
Sedangkan untuk bagian processing tentu sangat dintungkan, hal itu
dikarenakan harga dilapangan yang terbentuk, adalah harga dominan
terbentuk dari persaingan antara prosesing dengan eksportir.Jika harga
pembelian eksportir rendah karena ada beban PE, Sedangkan produk olahan
prosesing tidak dikenakan PE (powder dan butter) tentunya keuntungan
menjadi tinggi.