Sistem Kaderisasi Jama’ah Shalahuddin
Sistem Kaderisasi Jama’ah Shalahuddin
Jamaah Shalahuddin
Disusun Oleh
Biro Khusus Kaderisasi (BKK) Jamaah Shalahuddin 1426 H
-Umar Saifuddin, Atik Husniyah, dan Netty Irawati-
Daftar Isi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
44
49
60
Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tiada patut pujian syukur itu kita panjatkan
kepada selainNya Hanya atas limpahan rahmat dan karuniaNyalah, akhirnya Konsep Sistem Kaderisasi Jamaah
Shalahuddin yang selama ini masih tersebar, atau tidak jelas arah dan tujuannya, kini sudah bisa kita baca dan kita
pahami, akan dibawa kemana proses kaderisasi Jamaah Shalahuddin ini.
Kemudian, tidak lupa pula kita sampaikan salam dan shalawat atas Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para
penerus risalahnya hingga akhir zaman. Akhirnya, kami berharap dengan adanya konsep yang jelas ini, bisa membantu
-2-
kita dalam mewujudkan apa yang kita cita-citakan; terwujudnya kejayaan Islam dengan sebab lahirnya pemuda-pemuda
Islam yang berkomitmen tinggi dengan keislamannya.
Dasar Pemikiran
Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf,
dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS Ali Imran : 104)
Hendaklah kalian menjadi orang-orang Rabbani, karena kamu selalu mengajarkan kitab, disebabkan karena kamu selalu
mempelajarinya. (QS Ali Imran : 79)
Pasal 7, 8, dan 23 Tata Gerak dan pasal 4, 7, dan 10 Tata Barisan Jamaah Shalahuddin.
Analisa Sosial
Perubahanperubahan yang terjadi selama dua dasawarsa ini menarik untuk dicermati, jika dikaitkan dengan
perkembangan dakwah kampus. Hal ini disebabkan karena ternyata dalam dua dasawarsa itu pula telah terjadi perubahan
zaman yang sangat mencengangkan. Akibat dari adanya arus globalisasi, maka semua sisi kehidupan kita sudah tidak ada
lagi yang murni dari pengaruh budaya asing, baik yang membawa dampak negatif ataupun positif. Sayangnya, hampir
semua jenis efek yang ditimbulkan oleh budaya asing itu, berdampak negatif. Hanya sebagian kecil saja yang mampu
menghasilkan dampak yang positif.
Memang benar bahwa sesuatu itu dinilai baik atau buruk, negatif atau positif itu tergantung pada persepsi masing-masing
individu. Tetapi tidak sama halnya bagi seorang muslim. Bagi kita yang mengakui Islam sebagai pedoman hidup kita, maka
landasan yang kita gunakan sebagai dasar penilain kita terhadap sesuatu itu baik-buruk, benar-salah, negatif-positif
adalah dengan menggunakan kacamata Islam. Pun ketika kita melihat realits sosial ini. Maka yang kita gunakan sebagai
kacamata atau lebih sering disebut sebagai world-view kita dalam melihat realita di lapangan adalah dengan
menggunakan Islam. Bukan dengan yang lain.
Sampai disini, semoga menjadi jelas bahwa dalam memahami realitas sosial, ternyata memang harus ada persoalan yang
seharusnya kita prioritaskan atau persoalan lain yang harus kita tinggalkan. Tidak semua persoalan itu harus kita pikirkan.
Apalagi kalau persoalan itu tidak berkaitan dengan sisi kehidupan kita sebagai seorang muslim. Tapi, yang menjadi
pertanyaan kembali ialah; adakah persoalan disekitar kita yang tidak berkaitan dengan prinsip hidup kita sebagai seorang
Muslim? Kita masih ingat bahwa, Islam ialah rahmatan lil alamin. Jadi semua sisi kehidupan ini sebenarnya tidak bisa
dipisahkan dari nilai-nilai Islam.
Oleh karena itu, perlu sebuah sikap yang bijak dari kita dalam memahami setiap permasalahan; tidak bersikap terlalu
keras atau sebaliknya terlalu lemah. Artinya, setiap kebijakan yang kita ambil dalam menyikapi suatu permasalahan sosial
ini, benar-benar diupayakan melalui proses musyawarah, dengan tidak mengedepankan emosi pribadi ataupun emosi
golongan kita (ashabiyah).
Kemudian, kembali lagi pada fenomena pergeseran yang telah terjadi selama dua dasawarsa ini, ternyata kalau kita amati,
perubahan-perubahan itu terjadi dengan sangat cepat. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari adanya kemajuan teknologi,
terutama dibidang teknologi informasi yang mampu menembus hampir semua sudut-sudut kehidupan kita. Paling tidak,
ada enam aspek kehidupan kita yang sedikit demi sedikit mulai mengalami pergeseran akibat adanya kemajuan teknologi
informasi ini.
1. Pergeseran pemikiran (ideologi)
-3-
Merupakan satu pergeseran yang paling berpengaruh terhadap terjadinya pergeseran pada aspek-aspek lainnya. Hal ini
disebabkan karena dengan pemikran inilah, melahirkan semangat bergerak. Memunculkan etos kerja. Menghasilkan
semangat untuk berkompetisi meraih tujuan yang dicita-citakannya. Tetapi dengan adanya pergeseran ini, maka
tumbuhnya semangat jihad dikalangan umat Islam zaman Shahabat, kini bisa jadi diartikan dengan mudah melalui istilah
kerja-keras. Jadi semua perbuatan kita yang dilakukan dengan kerja keras, sama nilainya dengan pahala jihad.
Memang tidak salah dengan pengertian ini. Tetapi kalau kita belum memiliki basis ideologi yang kuat, bisa jadi kita malah
terjerumus. Sama hal-nya dengan kaum materialis, dimana mereka juga memiliki etos kerja tinggi, tetapi karena tidak
dilandasi dengan keyakinan yang benar, maka hal ini tidak bisa disamakan nilainya dengan jihad.
Kasus-kasus semacam ini, ternyata kini semakin meluas, apalagi ditambah dengan adanya paham-paham baru semacam
Islam Liberal ataupun Islam Progesif. Keduanya memang sengaja diada-adakan oleh Barat untuk melemahkan umat Islam
dari dalam. Dengan fokus pada penafsiran Hadist ataupun ayat-ayat Alquran berdasarkan kebebasan berfikir tanpa
disertai dengan metodologi yang shahih (Ulumul Quran dan Mutsolah Hadist) maka apa yang ditafsirkan seringkali
berlawanan dengan pemahaman asal yang kita yakini selama ini. Akibatnya, banyak umat Islam yang terpengaruh
sehingga semakin jauh meninggalakan ajaran-ajaran Islam.
Contoh-contoh hasil pemikiran tersebut misalnya; deformalisasi syariat Islam, pluralisme agama; semua agama sama,
dekonstruksi syariat Islam; aturan warisan, perwalian, poligami, dll. Ini semua merupakan strategi Barat untuk
menghancurkan umat Islam dari dalam tubuh umat islam sendiri. Sehingga tanpa menggunakan senjata-pun mereka bisa
menguasai umat Islam melalui pemikiran. Inilah yang sering kita sebut sebagai perang pemikiran (ghazwul fikr).
2. Pergeseran orientasi
Jika contoh-contoh pemikiran diatas terus dilancarkan dan dikampanyekan pada masyarakat muslim, maka dalam waktu
yang tidak lama, akan mampu bermetamorfosis menjadi sebuah paradigma. Atau cara pandang kita terhadap sesuatu.
Yaitu bagaimana kita memandang kehidupan ini; apakah hanya bertujuan untuk mendapatkan kepuasan materi. Atau
hanya bertujuan untuk mendapatkan kesenangan diri-sendiri. Kalau yang pertama sering kita namakan sebagai orang
materialis, maka yang kedua sering kita sebut sebagai orang yang individualis. Keduanya sama saja. Sama-sama bertolakbelakang dengan tujuan hidup kita sebagai seorang muslim.
Bagi seorang muslim, tentu tujuan dari segala aktifitas perbuatannya hanyalah untuk keridhoan Allah semata. Tidak
pantas sama sekali untuk selainNya. Tetapi dengan adanya doktrin-doktrin pemikiran Barat, maka semua menjadi kabur.
Atas nama modernitas, sesuatu yang tadinya kita anggap baik, kini menjadi buruk. Sesuatu yang semula kita yakini benar,
kini menjadi absurd. Ini semua terjadi karena tidak adanya prinsip yang kita yakini kebenarannya, sehingga terjadi
penyimpangan orientasi.
3. Pergeseran nilai
Akibat dari adanya penyimpangan orientasi diatas, maka mengakibatkan terjadinya fase berikutnya; pergeseran nilai. Nilai
yang dimaksud disini ialah sesuatu yang dianggap baik, berguna dan penting, serta diberi bobot tertinggi oleh individu atau
kelompok, yang kemudian dijadikan sebagai referensi dalam bersikap dan perilaku . Sama halnya dengan terjadinya
penyimpangan orientasi diatas, maka disinipun terjadi pengaburan-pengaburan terhadap suatu nilai. Nilai-nilai keikhlasan
yang selama ini kita pegang, tergantikan oleh hal-hal yang bersifat material. Nilai persaudaraan yang sampai saat ini kita
utamakan, tertutupi oleh kepentingan-kepentingan personal. Lalu...?
4. Pergeseran perilaku
-4-
Dalam dataran yang lebih praktis, terjadinya pergeseran-pergeseran tersebut diatas, dapat dilihat dengan jelas pada
perubahan-perubahan pola sikap dan perilaku masyarakat. Hampir setiap hari bisa kita saksikan dalam berita-berita di
koran ataupun televisi tentang terjadinya tindak kejahatan, perampokan, pemerkosaan, pencurian, pemalsuan, dsb.
Anehnya, para pelaku dari tindak kejahatan ini ternyata tidak hanya dilakukan oleh para penjahat, tetapi juga oleh para
pejabat. Luar biasa. Padahal kasus-kasus ini belum ditambah daftarnya dengan kasus-kasus pornografi, free sex/seks
bebas, minuman keras dan narkotika, dsb. Termasuk didalamnya perilaku hedonisme, pragmatisme, kosumerisme, dll. Ini
semua menunjukan bahwa secara internal, umat ini sudah tidak lagi berdaya untuk melawan derasnya arus westernisasi.
5. Pergeseran budaya
Dalam skala yang lebih luas lagi, terjadinya pergeseran perilaku tersebut akan melahirkan perubahan budaya. Dari
munculnya satu kebiasaan individu, dengan mudahnya akses informasi dan media, maka perlaku menyimpang dari
individu tersebut akan menjadi icon baru bagi masyarakat. Jika sudah sampai pada fase ini, maka budaya asli
masyarakat yang awalnya memiliki nilai-nilai luhur, akan tercerabut oleh budaya baru yang penuh diwarnai oleh
kepentingan (dalam hal ini ialah kepentingan kapitalisme dan neo liberalisme)
6. Pergesaran sistem
Dan klimaks dari itu semua ialah terjadinya perubahan sistem, dimana sistem hidup Islam (manhaj Islam) tidak lagi
sebagai pedoman, tetapi tergantikan oleh sistem hidup jahiliiyah.
Dari keenam aspek pergeseran diatas, kalau kita cermati maka akan kita dapatkan adanya satu benang merah yang
mengakitkan permasalahan-permasalahan secara keseluruhan. Atau dalam arti lain, dapat disimpulkan bahwa dengan
adanya pergeseran pemikiran atau ideologi, maka munculah pergeseran orientasi, nilai, perilaku, budaya, sampai akhirnya
pada perubahan sistem hidup. Inilah yang menjadi perhatian (concern) kita selanjutnya, yaitu memperjuangkan ideologi
yang kita yakini; sebagai seorang muslim,
Maka dengan melihat kemampuan kita sebagai seorang mahasiswa muslim di kampus Universitas Gadjah Mada, yang
terkumpul dalam satu komunitas lembaga dakwah kampus bernama Jamaah Shalahuddin, berusaha mengambil peran
dalam proses perbaikan umat menuju kebangkitan Islam (as-shahwah al Islamiyah).
Sebagai LDK dari Universitas yang ternama, menjadikan aktifitas yang dilakukannya menjadi mudah dikenal oleh
masyarakat, terutama masyarakat di luar kampus.
Sebagai satu-satunya komunitas mahasiswa muslim yang menjadikan Masjid Kampus UGM sebagai pusat aktifitasnya,
dengan adanya sekretariat yang sudah tetap, menambah nilai strategisnya dalam usaha syiar Islam.
Sebagai UKM yang memiliki sense cukup kuat terhadap aktifitas keilmuan-keagamaan dan terhadap aktifitas sosial,
menjadikan daya tarik tersendiri bagi kalangan mahasiswa muslim, baik yang sudah memahami Islam secara
keseluruhan ataupun bagi yang baru sebagian dalam proses memahami Islam.
Adanya brand image JS sebagai kumpulan orang-orang yang baik, dalam arti memiliki komitmen moral yang sudah
diakui, menjadikan daya tarik tersendiri, terutama bagi mahasiswa baru.
-5-
2. Kelemahan
Belum adanya budaya profesionalitas dikalangan internal Jamaah Shalahuddin, menjadikan ruang geraknya menjadi
terbatas.
Belum adanya satu unit usaha mandiri, yang mampu menghasilkan keuntungan, menjadikan permasalahan tersendiri
dalam upaya menambah sarana dan fasiltas, seperti komputer, sound system, kendaraan, ataupun buku-buku
perpustakaan.
Masih lemahnya kemampuan skills manajerial kader, sehingga dalam membuat event-event akbar, seringkali menemui
kesulitan.
Belum kuatnya jaringan dengan lembaga dakwah fakultas, menjadikan efek yang ditimbulkan dari kegiatan-kegiatan
yang dilakukan kurang maksimal.
3. Ancaman
Tingginya biaya kuliah, mengakibatkan terjadinya percepatan belajar mahasiswa, sehingga kebanyakan mahasiswa
cenderung study oriented. Dalam arti, parameter yang seringkali digunakan dalam menilai kesuksesan seseorang ialah
hanya diukur dari IP tinggi dengan lulus cepat. Akibatnya, kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan sosial
menjadi menurun. Hal ini ditandai dengan semakin sepinya ruang-ruang diskusi mahasiswa yang sebenarnya bisa
digunakan sebagai sarana pembelajaran lain, terutama dalam mengasah kemampuan mahasiswa dalam hidup
bermasyarakat nantinya. Dan Jamaah Shalhuddin sebagai salah satu dari sekian banyak Unit Kegiatan Mahasiswa
menjadi tertuntut untuk mampu menciptakan aktifitas yang menarik (refreshing) tanpa menghilangkan esensi makna
dari keseriusan dakwah Islam.
Semakin gencarnya promosi perusahaan-perusahaan besar yang menggunakan acara-acara hiburan (entertainment) di
lingkungan kampus, menjadikan suasana yang tidak kondusif bagi syiar Islam.
Semakin kuatnya pengaruh budaya Barat terhadap gaya hidup (life style) mahasiswa yang cenderung permisif,
konsumtif, dan hedonis menyebabkan semakin tergesernya nilai-nilai Islam.
4. Peluang
Sudah dimulainya proses pembinaan sejak SMA, menyebabkan tidak sedikitnya jumlah mahasiswa muslim yang sudah
bisa memahami Islam secara keseluruhan, sehingga proses berikutnya yang harus dioptimalkan ialah pemberdayaan
atau pelibatan secara aktif dalam kegiatan-kegiatan dakwah islam.
Mulai terwacanakannya nilai-nilai positif syiar Islam dikalangan mahasiswa, mulai dari gaya bahasa, cara berbusana,
tingkah laku/interaksi antara ikhwan wa akhwat, atauapun hobby (semisal nasyid, bacaan Islami, dll) sehingga
memudahkan jalan dalam memasukan nilai-nilai Islam lain yang menjadi pokok intinya; ideologi Islam (Aqidah Islam).
Adanya dukungan dan kepercayaan yang diberikan oleh pihak rektorat kampus, menyebabkan semakin besarnya
semangat mahasiswa mulim dalam menyebarkan nilai-nilai Islam yang diyakininya.
Semakin kondusifnya suasana sosial-kemaysarakatan, baik dalam bidang ekonomi, sosial, ataupun pemerintahan,
menjadikan peluang untuk mengkaji atau memperdalam ilmu-ilmu keislaman semakin lebar.
Tingginya kesadaran masyarakat akan arti pentingnya pendidikan keagamaan (moral). Hal ini ditunjukan dengan
semakin banyaknya kelompok-kelompok masyarakat yang menuntut adanya kepemimpinan yang bersih dan bermoral.
Dengan mempertimbangkan hasil analisa diatas, maka keinginan kita untuk mengambil peran dalam proses perbaikan
umat, akan difokuskan pada proses pembinaan kader. Harapan ialah agar kedepan umat Islam memiliki generasi-
-6-
generasi yang siap untuk mengemban amanah sebagai pemimpin. Tidak hanya pada tingkat lokal ataupun nasional,
bahkan tujuan lebih panjang lagi ialah kepemimpinan global umat Islam. Untuk itu, adanya konsep sistem kaderissi
(pembinaan kader) yang jelas dan terencana adalah sangat penting. Karena dengan adanya visi-misi yang jelas dan
terarah itulah, maka proses-proses kaderisasi dapat dijalankan secara teratur, sehingga tahap demi tahap, tujuan yang
kita inginkan benar-benar terwujudkan.
Pemahaman ideologi yang mendalam keimanan yang dalam (iman amiq), pemahaman yang mendalam (fiqh
dahiq), dan perikatan yang kuat (tarabuth watsiq).
Kepribadian yang mulia : MULIA dalam hal ini mengandung arti ;
M : Mahabbah; Adalah mencintai Allah dan mencintai segala sesuatu karena Allah (Ikhlas).
U : Ukhuwah; Yaitu hati dan ruh yang terikat oleh kesamaan aqidah (persaudaraan yang hakiki).
L : Loyalitas; Merupakan ketaatan dan kedisiplinan yang sempurna (al-iltizamu al-kamil)
I : Integritas; Kemampuan dalam menjaga kredibilitas moral, sosial, ataupun profesional.
A : Amanah; Kesesuaian antara yang dikatakan dengan perbuatan ( komitmen dan istiqomah).
Matang secara emosional Optimalisasi potensi ruhiyah
Luas wawasan Optimalisasi potensi ruhiyah + fikriyah
Terampil manajerial Optimalisasi potensi ruhiyah + fikriyah + jasadiyah.
Selain adanya target secara umum diatas, agar apa yang kami inginkan menjadi lebih jelas terukur nantinya, maka
diperlukan target-target spesifik, yang kami sebut sebagai Standar Mutu Kader Jamaah Shalahuddin, sbb :
Jenjang Satu (Marhalah I)
Jenjang
-7-
Dimensi
Aqidah
Memahami syahadat
Memahami arkanul iman
Ibadah
Akhlaq
Tsaqofah
Dakwah
Manajeri
al
-8-
surat menyurat
Ke-JS-an
Mengagendakan seluruh
aktifitasnya
Mampu memimpin rapat/menjadi
koordinator kegiatan
Mampu menterjemahkan perintah
qiyadah
Mempu mengekspresikan diri
Memahami karakter diri dan orang
lain
Mempu
bekerjasama&bertanggungjwb
Memahami JS sebagai salah satu
LDK
Memahami sejarah, struktur, dan
program-program Jamaah
Shalahuddin
Mengenal pengurus secara
personal
Memoliki motivasi untuk beraktifitas di
JS
-9-
Kemudian, yang perlu dipahami dari Kurikulum Materi Kaderisasi Jamaah Shalahuddin (KMK-JS) merupakan satu
kesatuan, meskipun ada salah satu point yang menjadi materi wajib (MDI) tetapi materi-materi lainnya tidak bias
dilepaskan. Hal ini terkait dengan tujuan kita, yaitu pembentukan kepribadian islam yang MULIA dengan pemahaman
ideologi yang kuat, sehingga wawasan (tsaqofah) tentang sejarah peradaban umat Islam, dimulai dari masa Kenabian
terakhir masa Turki Utsmani, juga termasuk dalam kerangkan pembentukan kepribadian islam yang kita inginkan.
Sebagaimana sudah kita ketahui bersama, bahwa dalam proses pembentukan suatu keperibadian, dua hal yang tidak
boleh dilepaskan ialah antara pembentukan pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah). Jika keduanya sudah terbentuk
dengan sempurna, maka dengan sendirinya akan memunculkan pola kepemimpinan Islam, sehingga tujuan akhir kita;
kepemimpinan umat Islam bisa terwujudkan.
Adapun Kurikulum Materi Kaderisasi Jamaah Shalahuddin adalah sebagai berikut
- 10 -
Materi
Marifatul
Insan
Sub Materi
Hakekat Hidup
Potensi Manusia
Cabang
Materi
Dari mana?
Untuk apa?
Mau ke mana?
Jasadiyah
Ruhiyah : Akal,
Nafsu, dan Hati
Marifatulla
h
Konsep Fitrah
Marifatur
Rasul
Hakekat risalah.
Keteladanan Rasul
Kewajiban Muslim terhadap Rasul
Marifatul
Islam
Syahadatai
n
Metode Mengenal
Allah
Konsekuensi-nya
Target
-
Syahadatain
Konsekuensi
Syahadatain
Referensi :
1. Said Hawa, Allah, Pustaka Mantiq
2. Said Hawa, Ar Rasul, Pustaka Mantiq
3. Said Hawa, Tazkiyatun Nafs, Rabbani Press
4. Said Hawa, Jalan Ruhani, Panduan Tasawuf bagi Para Aktifis, MIzan
5. Said Hawa, Intelektualitas Jundulllah, Al Ishlahy Press
6. Said Hawwa, Al Islam 01 : Syahadatain dan Fenomena Kekufuran, Ishlay Press.
7. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam. LPPI UMY. Yogyakarta.
8. Yusuf Qardhawi, Pengantar Kajian Islam, Pustaka Al Kautsar
9. Yusuf Qardhawi, Karajteristik Umum Islam, Risalah Gusti
10. Muhammad Qutub. KOnsepsi Ibadah Dalam Membentuk Generasi Qurani.
11. FS PAI JS, Meniti Jalan Islam. PFS PAI. JS UGM
B. Dakwah Islam
Tujuan
Internalisasi nilai -nilai dasar Islam pada setiap aktifitas sehari-harinya dengan melihat realita yang terjadi dimasyarakat yeng
membutuhkan sebuah solusi : dakwah.
No
1
Materi
Problematika Umat
Kontemporer
Mengenal Dakwah
Sub Materi
Permasalahan Internal
Umat Islam.
Permasalahan Ekstenal
(Gazwul Fikr).
Makna Dakwah.
Ciri-ciri Dakwah.
Keutamaan Dakwah.
- 12 -
Target
Peserta mengetahui penyebab permasalahan umat.
Peserta dapat mengidentifikasi akas masalah da ri
permasalahan umat.
Peserta dapat mengaitkan dengan kewajiban
berdakwah.
Peserta dapat memahami makna dakwah.
Peserta dapat mengetahui ciri - ciri dakwah.
Peserta dapat mengetahui keutamaan -keutamaan
Referensi
1.Muhammad
Husain Fadhlullah,
Metodologi Dakwah
dalam al Quran :
Pegangan bagi para
aktivis. Lentera.
2. Abdul Azis al
Jumah, Fiqh
Dakwah
Tujuan Dakwah
Fiqh Dakwah
Marhalah Dakwah.
Aktivitas Dakwah.
Kebutuhan terhdap
Amal Jama'ai.
dalam berdakwah.
Peserta dapat memahami tujuan dakwah.
Peserta dapat mengetahui marhalah/tahapan tahapan dalam berdakwah.
Peserta dapat mengetahui aktifitas apa saja dalam
setiap marhalah dakwah.
Peserta dapat menemkan korelasi antara dakwah
dengan kebutuhan akan amal jama'i.
Dakwah. Era
Intermedia.
3. M. Natsir. Fiqih
dawah. Media
Dakwah. IIFSO
4. Musthafa
Masyhur. Amal
Jamai; Gerakan
Bersama. Al Ishlahy
press.
C. Ibadah
No
1
Sub Materi
Thaharah (tayamum, bagaimana berwudhu yang
Target
Peserta mampu mempraktekkan cara wudhu dan tayamum
Referensi
- Sayid Sabiq, Fiqih
benar
Shalat (Jamak, qashar, masbuk, berdoa dalam
yg benar
Peserta memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih
sunnah
tentang shalat
shalat
Zakat (zakat maal, zakat perniagaan, zakat
3
4
5
Ulumuddin
- Al-GHazali Ihya
- Yusuf Qardhawi,
Fiqh Zakat
- Sulaiman Rasyjid,
2. menutup aurat
aurat)
D. Akhlaq
No
1
Sub Materi
Pendahuluan tentang akhlaq (pengertian, sumber, kedudukan,
keistimewaan dan ciri-cirinya)
- 13 -
Target
Peserta memahami konsepsi mendasar
tentang akhlak Islam
Referensi
1. Yunahar
Ilyas, Kuliah
Birul walidain
Silaturahim, bertetangga, dan memuliakan tamu
2
3
Menepati janji
2.
3.
Bergaul dengan akhlak mulia
4.
5.
6.
7.
8.
Akhlak, LPPI
Musthofa
Masyhur,
Zadun Ala
Thriq,
Pustaka
Adzkia
Sayid Sabiq,
Fiqh Sunnah
FS-PAI,
Meniti Jalan
Islam
T.M Sanihiya,
Pesan-pesan
Rasulullah.
Sulaiman
Rasjid, Fiqh
Islam, Sinar
baru
Algesindo
Said Hawwa,
Al Islam
Sistem
Akhlak, AlIshlahy Press
Etika
Seorang
muslim.
Materi
Masyarakat
Arab pra-Islam.
Sub Materi
Setting Keagamaan, Setting politik,
ekonomi, social, dan budaya
Target
- Peserta memahami kondisi masyarakat
tumbuh besar dan menyebarkan dakwah
- 14 -
Arab dimana
Muhamad
Persiapan
sebelum
Keabian
Dakwah periode
Mekah
Dakwah periode
Madinah
Proses
pembentukan
masyarakat madani
- 15 -
oleh Nabi
Peserta memahami bahwa Islam meru[akan ajaran yang sempurna.
Referensi :
1.
2.
3.
4.
Said Ramadhan al Buthy, Sirah Nabawiyah; Analisis Ilmiah terhadap pergerakan Islam dimasa rasulullah saw, Rabbani press.
Syaikh Shafiyyur Rahman Al Mubarakfury, Sirah Nabawiyah, Pustakan Al Kautsar.
Said Hawa, arRasul, Pustaka Mantiq
Husaein Muhammad bin Ali Jabir, Menuju Jamaatul Muslimin; telaah system jamaah dalam gerakan Islam, Rabbani Press,
hal.175 229
5. Munir Ghadhban, Manhaj Haraki dalam Sirah Nabawiyah, Rabbani Press
6. Faruq Hamadah, Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah, GIP
7. Ali Syariati, Rasulullah saw sejak Hijrah hingga Wafat; Tinjauan Kritis Sejarah Nabi Periode Madinah, Mizan
8. Asghar Ali Engineer, Islam dan Teologi Pembebasan, Pustaka Pelajar
9. Asghar Ali Engineer, Asal Usul Perkembangan Islam; Analisis Pertumbuhan Sosio Ekonomi, Pustaka Pelajar
10. Muhammad Husein Fadhullah, Metodologi Dakwah dalam Alquran, Lentera, hal 105 142.
11. www.erols.commkureshi/historym1.htm Dr. A.. Zahoor, A Chronology of Muslim History .
Overview Kronologis
Tahu
Peristiwa
Ibrah/Fokus Kajian
570 -
576
579
58694
595
Abrahah berusaha untuk menyerbu Makkah dan memporakporandakan daerah suci Ka'bah; pasukannya dihukum Allah (SWT)
sebelum mencapai daerah tersebut. Surah Al-Fl merekam
peristiwa tersebut.
- Muhammad SAW lahir pada tahun tersebut yang dikenal sebagai
Tahun Gajah.
- Abdullah, ayah Muhammad, wafat di Yathrib (Madinah) beberapa
pekan sebelum kelahiran Muhammad
Amnah, ibu Muhammad, wafat di Abwa dalam perjalanan pulang dari
Yathrib (Madinah).
Abdul Muttalib (Shaybah), kakek Muhammad wafat
- Muhammad SAW berpartisipasi dalam perang Fijar [586]
- Muhammad bergabung dengan sebuah perkumpulan pembebasan
kaum yang menderita, Hilful Fudhul [591]
- Muhammad menjalankan kafilah dagang untuk Khadjah [594].
Muhammad menikah dengan Khadjah (ra).
- 16 -
Pengalaman militer
Pengalaman diplomasi sosial politik
Mengemban amanah
605 Muhammad menyelesaikan perselisihan peletakan Hajar Aswad di Ka'bah - Keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dan
sehingga mendapat gelar Al-Amn
menjadi problem solver dalam konflik yang terjadi di
tengah masyarakat
610 - Setelah bertahannuts selama 3 tahun, wahyu pertama (Srah Al
- Pra kondisi masa kenabian (Tazkiyyatun-Nafs,
Alaq: 1-5) melalui malaikat Jibril di Gua Hir. Muhammad SAW is
Perenungan realitas poleksosbud + keagamaan
diangkat sebagai Nabi dan Rasul Allah.
masyarakat)
- Setelah itu beliau mulai berdawah secara sembunyi-sembunyi
- Tahapan dawah dimulai dengan strategi dawah
kepada kaum kerabatnya.
sirriyah dengan memprioritaskan keluarga atau
teman dekat.
613 Nabi mulai berdawah secara terang-terangan setelah mendapat wahyu
Srah Al-Hijr/9: 15.
615 Penyiksaan terhadap kaum Muslim semakin intensif. Sekelompok Muslim - Dawah itu perlu pengorbanan bahkan seringkali para
meninggalkan Makkah menuju Abyssinia (kini: Ethiopia).
dai itu sendiri yang terkorban
- Untuk menyelamatkan jiwa dalam kerangka dawah
617- Pemboikotan sosial dan ekonomi serta pemblokiran/ blockade terhadap
diperlukan hijrah dan tentunya hijrah bisa dilakukan
19 Nabi dan keluarganya (Banu Hashim). Raja Chakrawati Farmas dari
jika ada persiapan mental yang bagus dan wawasan
Malabar (south-west India) mengunjungi Nabi Muhammad di Makkah dan
wilayah (area insight) yang mencukupi
masuk Islam, raja tersebut wafat dalam perjalanan pulangnya di Zafar,
Dawah itu dilakukan dengan memanfaatkan semua lini
Yemen (Para pedagang Arab telah membangun kontak reguler dengan
yang ada. Pentingnya pembangunan jaringan dawah
Malabar and Sri Lanka (Ceylon) sekurang-kurangnya seabad
lokal, regional, internasional.
sebelumnya).
619 Abu Talib dan Khadija (ra) meninggal dunia segera setelah pencabutan
Dengan berbagai sebab bisa jadi orang-orang terdekat
boikot. Tahun tersebut dikenal sebagai Tahun Duka Cita.
meninggalkan kita dalam perjalanan dawah. Ketabahan
menghadapi cobaan (istiqmah/konsisten) dan keyakinan
bahwa Allah akan tetap menolong orang yang berdawah
harus terus ada pada diri para dai.
620- - Nabi berdawah ke Thaif namun oleh penduduk Thaif dilempari.
- Dawah ke masyarakat perlu proses, kesabaran dan
21
optimisme senantiasa mendoakan semoga Allah
- Isr' and Mi'rj (Night journey to Jerusalem and ascension to the
berkenan memberi hidayah.
Heavens).
- Ibrah Isr' and Mi'rj ? Banyak sekali
- Konsolidasi awal sebuah gerakan dawah merupakan
hal yang sangat penting. Kesetiaan personal dawah
- Ikrar Aqaba yang pertama [621].
pada jalan dawah Islam merupakan hal yang mutlak.
- 17 -
622 -
627 Perang Khandaq (Parit). Banu Quraizah keluar dari Madinah untuk
bersekutu/berkomplot dengan orang-orang kafir Makkah.
628 -
Perjanjian Hudaybiah.
- 18 -
629 -
630 -
631 632 -
apa?
Be Careful with non-Muslim promise!
Materi
Pengantar
Masa Kenabian
Masa
Kekhalifahan
Rasyidah (632660 M)
Masa
Kekhilafahan
Bani Umayah
Masa
Sub Mtateri
Fokus Kajian
Urgensi, Tujuan, Ruang Lingkup, Overview
- Wafatnya Rasulullah saw
- Deskripsi umum umat Islam
- Masa kevakuman kepemimpinan
- Realisasi Konsep Syuro
- Peralihan kepemimpinan dan proses
- Sosialisasi hasil syuro dan respon
legitimasi
umat
- Baiat Saqifah
1. Khalifan Abu Bakar (11-13 H/
- Setting Pemerintahan
632-634 M)
- Setting Ekonomi dan Konsep Baitul
2. Khalifah Umar ibn Khattab (13-23
Ma
H /634-644M)
- Setting sosial budaya & gerakan
3. Khalifah Utsman ib Affan (23-35H
dakwah
/644-656M)
- Setting hukum dan militer
4. Khalifah Ali ibn Abi Thalib (35- Peristiwa-peritiwa penitng :
39H /656-660M)
1. Perang Yamamah
2. Pembunuhan terhadap Khalifah
3. Peselisihan dengan Muawiyah r.a.
1. Muawiyah
- Perkembangan Ilmu pengetahuan
2. Umar ibn Abdul Azis (717-720)
- Setting hukum dan perbedaan
Madzhab
- Setteing sistem pemerintahan,
1. Dinasti Fatimiyah di Mesir,
- 19 -
Referansi
- Abul Ala al Maududi.
Khilafah dan Kerajaan,
Mizan
- Abdul Azis Thaba,
Islam dan Negara
dalam Politik Orde
Baru, GIP.
- T.M Ash Shidieq, Ilmu
kenegaraan dan Fiqh
islam, Bulan Bintang
- M Natsir Arsyad,
Ilmuwan Muslim
Sepanjang Sejarah,
Mizan
- Ahmad Y Al
Hassa,Teknologi
dalam sejarah islam,
Mizan
- Abadullah Azzam,
Pelita yang Hilang, Al
Kekhilafahan
Bani Abbasiyah
Haq
Karen Amstrong,
Islam; Sejarah
Singkat, Jendela
Albert Hourani,
Sejarah Bangsabangsa Muslim di
Dunia, Mizan.
Materi
Mengenal Proses Awal
Islamisasi di Indonesia.
(waktu, tempat, dan
para penyebarnya)
Sub Materi
-
Fokus kajian
Penjajahan Belanda
Penjajahan Jepang
- 20 -
Referensi :
1. M Natsir, Capita Selecta, Bulan Bintang
2. HAMKA, Sejarah Umat Islam, Bulan Bintang
3. Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda,LP3ES
4. Deliar Noer, Gerakan Islam Modrn di Indonesia, LP3ES
5. Abdul aziz thaba, Islam dan Negara dalam Politik Orde Baru, GIP
6. Kuntowijoyo, Paradigma Islam; interprestasi untuk Aksi, Mizan
7. M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press
8. Thomas Walker Arnold, Sejarah dakwah Islam, Widjaya, Jakarta
9. Cliford Geertz, Santri, Abangan, dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Pustaka Jaya
10. Ahmad SyafiI Maarif, Islam dan Politk; Teori Belah bamu Masa Demokrasi Terpimpin, GIP
11. Ahmad SyafiI Maarif, islam dan masalah ketetanegaraan; Perdebatan dalam Badan Konstituante, LP3ES
12. Harry J Benda, Bulan sabit Matahari Terbit; Islam pada Masa pendudukan Jepang,
13. Eep saefullah Fatah, Format Baru Politik Islam; Belajar dari Kekeliruan Politk Lama, Republika, 2 Januari 1999
14. Eep saefullah Fatah, Format Baru Politik Islam; Pro-reformasi Total, membentuk Oposisi dan Publik, Republika 4 Januari 1999
15. Endang saifuddin Anshari, Piagam Jakarta; Sejarah Konsesnus antara Nasionalis Islami dan Nasionalis sekuler tentang dasar
Negara GIP
Materi
Pengantar
Sub Materi
- Urgensi dan
tujuan
- Metodologi
- RuangLingkup
- Periodisasi dan
Pemetaan
Target
Peserta dan fasilitator
mampu menyiapkan diri untuk
terlibat dalam proses kajian
yang akan dilakukan
Peserta memahami
orientasi danmemperoleh
- 21 -
Refernsi
www.iman.co.id/tarikh/
Thaha Jabir al Alwani, Krisis Pemikiran islam, LKPSI
Gerakan Kegamaan dan pemikrian; akar Ideologi
dan penyebarannya, Jilid I dan II, Ishlahy Press
Muhamad Imarah, perang Terminologi Islam versus
Barat, Rabbani Press
Pemikrian
1.
dan
pergerakan
islam
Internasional 2.
Kilas balik
Perkembangan
pemikiran Islam
Overview
Pemikiran Islam
Klasik;
Jamaluddin al Afgani
Muhamad Abduh
Ibnu Taimiyah
Ibnu Khaldun
Ikhwanul Muslimin;
- Hasan al banna
- Said Hawa
- Sayyid Qutb
- Yusuf Qardhawi
3.
Jamaat Islami
(Abul ala alMaududi)
4. Hizbut Tahrir
5. (Taqiyudin an
Nabhani
6. Jamah Tabligh
7. Salafy
8. Syiah
- Khomeini
- Ali Syariati
- M Khatami
9. Ahmadiyah
10.Tasawuf dan Tarekat
- A Q Jaelani
- Jalaluddin Rumi
11. Kiri islam
- Hasan Hanafi
- Asghar Ali
Engineer
12.Neo Modernisme
(Fazlurrahman)
13.Post modernisme
- 22 -
14.Gerakan Islamisasi
Pengetahuan
IIIT (International
Institute of Islamic
Thought)
IIUM
(International Islamic
University Malaysia)
Ziaudin Sardar
Naquib al Attas
15.Muhammad Iqbal
16.Anwar Ibrahim,
.3
Pemikiran
Pergerakan
Islam di
Indonesia
- NU ( Wachid Hasyim
- Muhamadiyah
( Ahmad Dahlan
- Masyumi ( M Natsir,
Muh Roem, Syafruddin
Prawiranegara
- Pemikiran HOS
Cokroaminoto
- NII ( Kartosuwiryo
- Pemikiran Islam
Indoensia
- 23 -
Pergerakan
pelajar dan
mahasiswa
Islam di
Indoensia
Persoalan
Pergerakan
Islam
Kontemporer
Kontemporer :
Rajawali Press
- Abdurahman Wahid
- Umaruddin Masdar, Membaca Pikiran Gusdur dan amien Rais tentang
Demokrasi, Pustaka Pelajar
- Amien rais
- Masykuri Abdillah, Demokrasi di Persimpangan Makna, Tiara Wacana.
- Nurcholis Madjid
- Kuntowijoyo
- HMI DIPO
- HMI MPO
- PMII
- KAMMI
- PII
- IRM-IMM
- IPPNU
- LDK
- Pluralitas pergerakan Islam; Konflik ideologi dan
- Yusuf Qordhowi, Gerakan Islam; Antara perbedaan
Manajemen Konflik
yang diperbolehkan dan perpecahan yang dilarang,
- Perbenturan dan Dialog Wacana dalam
Rabbani Press.
pergerakan Islam
- Thaha Jabir Al alwani, The Ethics of Disagreement in
Islam, IIIT
- Metodologi Kaderisasi
- Husein bin Ali Jabir, Menuju Jamaatul Muslimin,
- Strategi dan Metode Dakwah
Rabbani Press
- Membangun Masa Depan; Sinergisitas Gerakan
Islam
Materi
Pengantar
Sub materi
- Urgensi
- Tujuan
- Metodologi
- Ruang Lingkup
- Overview
Target
Peserta dan fasilitator menyiapkan
diri untuk terlibat dalam proses kajian
Peserta memahami orientasi dan
memperoleh gambaran tentang kajian
ini
Peserta dan fasilittator
merumuskan kesepakatan yang
diperlukan untuk kelancaran proses
kajian
- 24 -
Referensi
- Ali syariati, Humanisme antara islam
dan Mazhab Barat, Pustaka Hidayah
- Murtadho Muthahhari, Kritik Islam
terhadap Materialisme, Risalah Masa
- Ziaudin Sardar, Masa Depan Islam,
Mizan
- Muh Baqir Shadr, Falsafatuna, Mizan
- Ahmad Zaro, Islam, Sosialisme, dan
Ideologi
Studi
Lanjut
Ghazwul
Fikri
Konsep Ideologi
Materialisme
Liberalisme -Kapitalisme
Sosialisme - Marxsisme
Nasionalisme
Fasisme
Peta Ideologi di Indonesia
Orientalisme
Sekulersime
Imperialisme
Humanisme
Feminisme
Kristenisasi
Zionisme (Free Mansory
dan Lions Club)
Kapitalisme, Makalah
Muhamad Imarah, Perang Terminologi
Islam-barat, Rabbany Press
Yunahar Ilyas, Feminisme, Pustaka
Pelajar
WAMY, Gerakan keagamaan dan
pemikiran, Ishlahy Press
Abu Ridha, Rencana Zionis
melumpuhkan Shahwah Islamiyah,
SIDIK
dll
Materi
- Visi dan Misi JS, dengan
dinamika perubahannya
- Sejarah Jamaah Shalahuddin
- Realitas Jamaah Shalahuddin
-
Target
- Pengurus dan anggota memahami dan
mengaplikasikan visi dan misi organisasi
- Memahami latar belakang pendirian, sepak terjang,
popularitas, dan hubungan dengan lembaga eksternal
- Peserta memahami kondisi JS terkini, melalui analisa
SWOT
- Pengurus dan anggota memahami dan
mengaplikasikan visi dan misi organisasi untuk
keselarasan gerak JS
- Pengurus dan anggota mengetahui atribut-atribut
Jamaah Shalahuddin, ex Mars Shalahuddin,dll
Referensi
- Kitab Amanah Gerak
dakwah Jamaah
Shalahuddin
- LPJ Kepengurusan Jamaah
Shalahuddin
- Majalah Boulevard, edisi
2/IV/1997 (20 tahun JS)
- Masjid Arief Rahman Hakim,
ARH UI
- Proceding FSLDK X UMM
1998
Materi
Manajemen Diri
Motivasi Diri
Sub Materi
Pengetian, teori, dan
proses motivasi diri
prestasi
Target
Dapat membuat target dan mampu menstimulus dirinya untuk
mencapainya (berprestasi pribadi/organisasi)
- 25 -
Referensi
James A Stones,
Manajemen jilid
I, 2, Prehhalindo
Pembentukan Diri
Positif thingking
Creative thingking
Problem solver
Decicion maker
Manajemen waktu
Manjemen Tim
Team Work
Building
Komunikasi Efektif
Manajemen
Konflik
3
Manajemen
/Desain Kegiatan
Memiliki karakter dan cara pandang yang positif (thd diri dan
lingkungan)
Mengalami peningkatan dalam kreatifitas ide dan pemikiran
Mampu mengkritisi masalah dan memberikan saran serta
masukan
Mampu membuat keputusan
Memahami pentingnya waktu
Mampu mengoptimalkan segala potensi yang untuk berkarya.
- 26 -
Stephen P
Robins, Perilaku
Organisasi,
Prehallindo
Proposaliat
Negosiasi dan
Lobbying
Fundraising dan
Marketting
Manajemen Data
Lain-lain ;
Rapat Efektif
Manajemen Forum
Teknik Rekayasa Forum
Dll
Hisyam al
tahlib, Panduan
Latihan bagi
Juru Dakwah,
Media dakwah,
Jakarta
Covey, S.R. 7
Kebiasaan
efektif,
Gramedia
Tasmara, Toto,
Etos Kerja
pribadi Muslim,
Paulines
Barrets,
Management
teams,
Heinemman,
1981
Abdullah
Gymntsiar,
Manajemen
waktu, DT
Jalaludin
Rakhmat,
Psikologi
Komunikasi,
Rosdakarya
Syarif. MReza,
Life Exxelent,
GIP
Merupakan cara-cara yang digunakan untuk menyampaikan materi; secara khusus dan untuk menjalankan proses kaderisasi;
secara umum.
1. Metode untuk menyampaikan materi
1. Ceramah dan diskusi dalam forum klasikal
- Forum ini bertujuan untuk mengkaji secara lebih mendasar tentang segala sesuatu yang terkait dengan materi yang terkait.
Forum ini dipandu langsung oleh narasumber agar seluruh peserta mampu mendialogkan pertanyaan-pertanyaan, sehingga
peserta benar-benar terpahamkan.
- Bentuknya bisa bervariasi, disesuaikan dengan karakter materi yang akan diberikan. Bisa dilakukan dengan bedah film, bedah
buku, games dan simulasi, workshop, dll. Akan lebih jelas jika dilihat pada tabel program kerja kaderisasi selama 1 tahun
kepengurusan.*
2. Ceramah dan diskusi dalam forum kecil berbeda dengan forum besar, dalam forum ini biasanya dipandu oleh Anggota JS
tingkat III atau yang sudah direkomendasikan oleh Biro Kaderisasi untuk bergabung dalam tim Pemandu JS (KPJS). Bentuknya
pun bervariasi; diskusi makalah, diskusi buku, sharring pengalaman, penugasan, dll. Yang membedakan ialah dalam hal waktu
pelaksanaan; biasanya rutin dilakukan sekali dalam sepekan. (Dalam forum ini juga sekalian dilakukan pemantauan terhadap
kondisi kader).
2. Metode untuk menjalankan proses kaderisasi
Secara umum terdapat dua macam metode kaderisasi, yaitu secara struktural-formal atau kultural-informal. Kedua cara ini
sama saja dalam hal tingkat efektifitasnya, hanya saja yang perlu diperhatikan ialah penerapannya yang disesuaikan dengan
kondisi kebutuhan kader.
1.
o
o
o
o
o
o
2.
-
Secara Struktural
Pembinaan (tsaqofah diniyah)
Mabit
Pelatihan Kepemimpinan
Pemanduan / focus on group discussion
Pengembangan (skills manajerial)
Pelatihan Manajerial
Pelatihan Kepemimpinan
Pelibatan dalam Kepanitiaan
Secara Kultural
Pendekatan personal
o Silaturahim personal
o Pemantauan kondisi lapangan
o Dialog ringan / sharing permasalahan
Pendekatan komunal
o Pendekatan melalui rapat rutin departemen atau
kegiatan
o
o
- 28 -
Dari kedua jenis metode pengkaderan diatas, maka agar lebih sistematis dapat dilihat pada peta Alur Proses Kaderisasi. Alur Proses
Kaderisasi adalah rangkaian proses-proses yang harus dilewati setiap kader dalam hal Kaderisasi agar mencapai hasil yang optimal.
Masing-masing organisasi biasanya memang mempunyai pola alur proses kaderisasi sendiri. Namun secara umum, alur tersebut
biasanya dimulai dari Rekruitmen Pembinaan dan Penjagaan, kemudian baru dapat melakukan proses Pemetaan kader.
Berikut contoh Alur Proses Kaderisasi Jamaah Shalahuddin.
1) Alur Proses Kaderisasi berdasarkan tahapan prosesnya.
Cat : Kalau dilihat dari alur diatas, maka yang digunakan sebagai pintu masuk rekruitmen kader ada 2; Open rekruitmen diawal kepengurusan
(bulan Muharram) dan melalui kegiatan rutin tahunan (RDK). Yang perlu dilengkapi dari alur diatas ialah bagaimana bentuk-bentuk pemanduan
atau penjagaan sebagai follow up dari TKJS (Training Kepemimpinan Jamaah Shalahuddin I, II, dan III) bias dilihat dalam program kerja satu
tahun kepengurusan
Ketua terpilih
Pembentukan DF
TKJS
Pembentukan PH
Open
Rekr.
Skill Manajerial
Kultural
HR Planning
Silaturahmi
Raker
Karakterisasi
Struktural
Pemberdayaan
Pemanduan
Optimalisasi
Kepanitiaan
Close
Rekr.
Orientasi
Pemantauan
Pembinaan
Penilaian
Ruhiyah Diniyah
Pelatihan
Sekolah JS
Penjagaan/Maintenance
Rekruitment
Pemanduan
Pewarisan system
Evaluasi akhir
Pemetaan
Cat : Dari alur diatas, sudah agak nampak jelas tentang seperti apa bentuk-bentuk penjagaan setelah kader mengikuti TKJS. Namun sayangnya, juga
masih belum terlihat spesifik bias dilihat dalam program kerja satu tahun kepengurusan.
1. Rekruitmen
Ada dua jalur masuk Jama'ah Shalahudin, yaitu melalui momen tertutup dan momen-momen terbuka. Namun biasanya
yang lebih sering digunakan sebagai sarana rekruitmen oleh Jamaah Shalahuddin ialah momen-momen terbuka. Sedikitnya
ada 5 macam momen terbuka yang bisa dijadikan sarana bagi mahasiswa baru (termasuk juga bagi mahasiswa lama) untuk
mendaftarkan dirinya sebagai calon anggota Jama'ah Shalahuddin, yaitu :
1.
Momen Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB)
2.
Momen Gadjah Mada Explore (Gamex)
3.
4.
5.
2. Orientasi
Orientasi/inisiasi, yaitu mengenalkan, menjelaskan, menerangkan, menyampaikan, hingga sampai pada memahamkan.
Bentuknya sederhana saja, misalnya dengan melakukan diskusi ringan, ngobrol santai, atau dengan posisi yang serius :
wawancara. Namun ada juga model yang bener-bener formal, yaitu orientasi pada saat mereka akan mengikuti TKJS.
3. Pembinaan
Bentuk-bentuk pembinaan ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu; pembinaan skill manajerial dan pembinaan ruhiyah
diniyah. Selanjutnya, agar lebih mudah, maka untuk pembinaan skill manajerial disebut sebagai pelatihan, sedangkan
untuk pembinaan ruhiyah dan tsaqofah diniyah disebut sebagi pemanduan.
3.1. Pelatihan
Pelatihan merupakan salah satu sarana pembinaan kader yang lebih menitik-beratkan pada kemampuan skill manajerial.
Meskipun pada realisasinya tidak bisa dipisahkan dengan fungsi pembinaan yang lain, yaitu pembinaan ruhiyah dan
tsaqofah diniyah. Selain itu, antar pelatihan satu dengan lainnya juga terdapat sebuah alur yang saling berkaitan satu
dengan lainnya. Jadi diharapkan setelah kader JS mengikuti jenjang pelatihan ini akan memiliki kemampuan khusus yang
menjadi target dari fungsi pelatihan ini. Target yang dimaksud ini dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
3.1.1.Target materi
Ialah berupa pemahaman kader terhadap materi-materi dasar, seperti misalnya dalam TKJS1, materi dasar yang
harus dikuasai ialah :
Konsep
Aqidah
Konsep Diri (muslim)
Konsep Dakwah
Islam
Dari ketiga materi diatas, sebenarnya satu dengan lainnya tidak dapat berdiri sendiri, dimana konsep diri seorang
muslim tidak dapat dilepaskan dari konsep aqidahnya, dan konsep aqidah itu tidak akan sempurna tanpa pemahaman
terhadap konsep dakwah secara kaffah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Kurikulum Materi Kaderisasi
Jama'ah Shalahuddin.
3.1.2.Target skills
Mengacu pada target kaderisasi, yaitu pada Standar Mutu Kader Jamaah Shalahuddin yang memuat kemampuan
dalam hal manajerial, maka dalam pelatihan ini harus juga menargetkan adanya kemampuan skills minimal yang
harus dikuasai oleh kader. Lebih jelasnya, bisa dilihat pada Standar Mutu Kader Jamaah Shalahuddin.
3.2. Pemanduan (1)
Pemanduan merupakan sebuah forum rutin pekanan, yang berbentuk kelompok kecil beranggotaakan 5 12 orang dengan
satu orang pemandu. Yang dibahas dalam forum ini ialah hal-hal yang berkaitan dengan sisi-sisi kehidupan manusia. Yaitu
sisi ruhiyah (amal ibadah) dan fikriyah (tsaqofah diniyah). Dari kedua sisi ini akan terungkap semua permasalahan maupun
potensi kader yang berkaitan dengannya, untuk kemudian dicari sebuah solusi dan sarana aktualisai dari potensi tersebut
dalam bentuk aktifitas organisasi, maupun aktifitas amalan pribadi.
4. Penjagaan
4.1.Pendekatan secara kultural
Metode ini hampir sama dengan cara-cara dakwah fardiyah, dimana yang lebih ditekankan ialah pada pendekatan personal,
bukan formal. Yang diperlukan disini ialah sebuah proses peleburan atau pembauran, sehingga lebih mudah terjadi transfer
karakter karakterisasi.
4.2. Pendekatan secara struktural
Yaitu jenis metode pendekatan formal-institusional. Ada dua macam cara, yaitu :
4.2.1.Pemanduan (2)
4.2.2.Pemberdayaan
Target dari fungsi ini ialah tercapainya optimalisasi potensi kader, melalui kegiatan kepanitiaan, baik yang bersifat rutin
maupun isidental.
5. Pemantauan
Fungsi ini ialah bertujuan untuk menemukan sebab-sebab munculnya permasalahan kader solusi.
6. Penilaian Rewads & Educative Punishment
Merupakan salah satu metode untuk memberikan kompensasi/penghargaan atas kreatifitas, loyalitas, dan amanah dalam
menjalankan tugas, atau sebaliknya memberikan satu bentuk pembelajaran atas kelalaian yang dilakukan oleh kader.
Realisasinya bisa dalam bentuk formal ataupun informal. Dan yang lebih sering dilakukan di Jamaah Shalahuddin ialah dalam
bentuk in-formal.
7. Pemetaan
Merupakan tahapan terakhir dari proses kaderisasi; penempatan kader pada posisinya yang tepat (placement). Namun dalam
impelemntasinya di lapangan, biasanya proses ini tidak hanya dilakukan pada saat akhir saja, tetapi ditengah proses
berlangsung, malah lebih sering dilakukan, terkait dengan penempatan kader dalam suatu kepanitiaan.
Nah, itulah beberapa penjelasan metode tiap tahapan dari alur proses kaderisasi yang selama ini dijalankan di Jamaah
Shalahuddin. Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam proses kaderisasi, minimal terdapat tujuh macam tahapan,
dimana pada masing-masing tahapan memiliki cirri khas penanganan (treatment) yang berbeda-beda. Termasuk dalam hal ini
hal-hal yang dibutuhkan dalam tiap tahapannya juga berbeda. Lebih jelasnya dapat dilihat pada point instrumnen dibawah ini.
Instrumen
1. Rekrutmen
1.1 Pamflet Open Rekrutmen terdokumentasi
1.2 Formulir Pendaftaran Anggota Jamaah Shalahuddin*)
Biodata Kader
1.3 Data Base Kader Jamaah Shalahuddin Sistem Database
Kader
3.2.2.
Kurikulum Materi Pemanduan*) Mengacu
pada Kurikulum Materi Kaderisasi Jamaah
Shalahuddin
3.2.3.
Suplemen** Modul Pengembangan
Kurikulum Materi Kepemanduan
3.2.4.
Daftar
Pengelompokan
Peserta
Kepemanduan
3.2.5.
Buku Evaluasi Forum Kepemanduan.
3.2.6.
Tim Pemandu form seleksi tim pemandu
3.2.7.
Koordinator Pemandu yang bertangung
jawab thd manajemen kepemanduan secara
umum manajer
3.2.8.
Forum Pemandu rutin diadakan sekali
dalam 2 bulan (ex.).
4. Penjagaan
4.1. Pemberdayaan
4.1.1. Tim Back Up Kepanitiaan Evaluasi Kinerja
Kader.
4.2. Pemanduan
(idem)
5. Pemantauan dan Penilaian Evaluasi
5.1. Form Pemantauan Kepemanduan
5.2. Form Evaluasi Kinerja Pengurus**
5.2. Form Chek List Kondisi Departemen**
2. Orientasi
2.1 Profil Lembaga Dakwah Kampus Jamaah Shalahuddin*
2.2 Profil Kader Jamaah Shalahuddin** mengacu pada
Standar Mutu Kader (SMK) Jamaah Shalahuddin
3. Pembinaan
3.1 Pelatihan
3.1.1. Kurikulum Materi Pelatihan * mengacu
pada Kurikulum Materi Kaderisasi Jamaah
Shalahuddin
3.1.2. Modul Pelatihan*) pengembangan dari
Kurikulum
Materi
Kaderisasi
Jamaah
Shalahuddin
3.1.3. Proposal Pelatihan*)
3.1.4. Lembar
Evaluasi*)
tiap
materi
dan
keseluruhan pelatihan secara umum.
3.1.5. Instrumen lain yang selalu dibutuhkan dalam
suatu pelatihan; alat tulis, komputer, sound
system, dll
6. Pemetaan
6.1. Form Rencana Mapping Kader Jamaah Shalahuddin**
3.2. Pemanduan
3.2.1. Sistem Pemanduan Jamaah Shalahudfin*)
Ket :
* sudah ada
** belum ada
Prosedur
Program Kerja 1 tahun Kepengurusan (1427 H)
N
o
Progra
m Kerja
Kurang Lebih =
Pekan ke1
Up Grade
Pengurus
Muharam
Safar
Februari
1
Rabiuul
ula
Maret
4
1
X
Rabiul
tsani
April
4
Djumadil
ula
Mei
3
Djumadil
tsani
Juni
2
Rajab
Juli
2
Saban
Agustus
2
September
3
Ramadhan
Syawal
Oktober
November
Dzulkaida
h
Dzulhijjah
Desember
4
Januari
4
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
TOT
TOM
TKJS 1
PMB
TM 1
TM 2
Mabit
RDK
TKJS 1
TKJS 2
TKJS 3
Up date
Database
Kader
Penjagaan
+
Pembinaan
(Pemandua
n)
Pembinaan
(Sekolah JS)
Pemantaua
n
Pemetaan
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
Ket : Mengamati distribusi program kerja diatas, terlihat bahwa ditengah kepengurusan akhir frekuensi yang sangat tinggi dibutuhkan
bekal yang sangat kuat diawal kepengurusan orientasi, kesamaan visi, kepahaman tujuan, kekompakan, dan kebersamaan harus sudah
terbangun. Sedangkan bagi kader-kader baru yang masuk JS ditengah kepengurusan tugas tim pemandu (KPJS) untuk membersamainya dan
menjaganya.
Penutup
Demikianlah kurang lebih gambaran tentang konsep sistem kaderisasi yang kami usulkan. Dari penjelasan diatas, semoga
dapat memberikan gambaran yang utuh tentang kaderisasi; apa tujuan-targetnya, bagaimana prosesnya, dan bagaimana
proses penjagaannya. Ketiganya menjadi inti dari paparan konsep yang kami tawarkan, karena dari ketiga point itulah letak
penting dari system kaderisasi. Kaderisasi tanpa tujuan yang jelas serta adanya target yang konkret dan nyata bisa diraih,
adalah suatu keharusan sebelum proses itu dilakukan. Sedangkan proses-nya itu sendiri, menjadi tulang punggung penentu
keberhasilan dari suatu sistem kaderisasi. Untuk itu diperlukan suatu desain perencanaan terhadap proses kaderisasi yang
menyeluruh dan intergral. Desain proses kaderisasi yang komprehensif dan tepat sasaran terhadap output kader yang kita
inginkan. Oleh karena itu, dengan adanya Konsep Sistem Kaderisasi ini, diharapkan dapat memberikan masukan yang cukup
berarti, terutama bagi para pengampu dan pengemban amanah di tim Kaderisasi.
Namun demikian, selain kepahaman akan proses kaderisasi, tidak kalah penting untuk dipahami ialah adanya sistem
penjagaan terhadap jalannya proses kaderisasi itu sendiri. Hal ini bertujuan agar proses kaderisasi yang dijalankan tidak
mengalami penyimpangan. Dan inilah yang harus mendapat perhatian yang cukup serius dimasa mendatang, agar Konsep
Sistem Kaderisasi ini bisa dijalankan dengan optimal.
Akhirnya, kepada Allah kita semua bertawakal.
Yogyakarta, 8 Ramadhan 1426 H
Lampiran 1
TKJS 1
Materi I. Konsep Diri
1. Peserta memahami hakikat penciptaan dirinya
2. Peserta memahami posisi dan perannya sebagi seorang muslim dan sebagai khalifah fil ardh
3. Peserta memahami pentingnya visi dan misi pribadi dalam konteks sebagai eorang muslim
4. Peserta memahami dan mampu menganalisis kelebihan dan kelemahan dirinya sehingga mampu menentukan
kompetensinya.
Materi II. Problematika Umat
1. Peserta mampu mengidentifikasi permasalahn umat yang ada di masyarakat.
2. Peserta mampu memberikan alternatif solusinya.
Materi III. Konsep Dakwah
1. Peserta mengetahui makna dan hakikat dari aktivitas dakwah
2. Peserta memahami urgensi dakwah
3. Peserta memahami prinsip-prinsip dalam berdakwa
4. Peserta memahami metode dan tahapan dakwah.
Materi IV. Amal Jamai
1. Peserta memahami prinsip-prinsip dan urgensi amal jamai
2. Peserta mampu mengaplikasikan prinsip-prinsip amal jamai dalam kehidupan masyarakat
Materi V. Ke-JS-an dan pengenalan struktur JS 1426 H
1. Tersampaikannya semangat ruh JS
2. Peserta paham JS sebagai salah satu wasilah dakwah
TKJS 2
TKJS 3
1. Konsepsi tauhid
Pandangan hidup umat Islam yang hakiki harus merujuk pada konsep tauhid. Kalau diibaratkan kekokohan pandangan
hidup itu seperti sebuah pohon, maka tauhid adalah akar-akar yang menghunjam ke dalam bumi, yang menopang
tegaknya pohon tersebut. Saking fundamentalnya konsep tauhid ini, jika kita sedikit saja terperanjat dan melenceng dari
akar-akarnya, hal ini akan mengakibatkan perubahan arah di luar konsep tauhid, yang dikenal dengan syirik.
Oleh karena itu, setiap strategi yang kita rencanakan, setiap langkah yang kita lakukan, semestinya harus kita landasi
dengan pemahaman yang benar tentang konsepsi tauhid.
Sejak jaman pertama kehidupan manusia, dunia ini secara garis besar terbagi menjadi 2 kekuatan, yaitu kebaikan dan
kejahatan. Kedua kekuatan ini akan terus berperang hingga akhir jaman. Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi umat
manusia. Apabila seseorang telah mengucapkan 2 kalimat syahadat), maka ada konsekuensi yang harus diembannya, yaitu
meng-Ilahkan Allah semata dan menegasikan segala sesembahan selain Allah.
2. Kesadaran kritis dan global
JS adalah salah satu wasilah dari sekian banyak wasilah dakwah yang ada di muka bumi, oleh karena itu, pada pembuatan
desain JS tahap analisis sosial, hendaknya tidak hanya memperhatikan kondisi lokal di mana kita berada, tetapi juga harus
memperhatikan kondisi global agar solusi yang kita lakukan tidak hanya tambal sulam saja, tapi benar-benar bisa tuntas
hingga ke akar masalah. We must think globally act locally.
Kondisi umat Islam yang terpuruk dan kondisi bangsa Indonesia yang memprihatinkan secara garis besar dipengaruhi oleh 2
faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor eksternal yang menjadi akar masalah adalah bahwa saat ini dunia
dikuasai oleh sistem yang bukan sistem Islam. Arogansi kapitalisme dan materialisme telah menjadi imperium dan
konglomerasi. Mereka menempatkan keberhasilan sebagai prestasi individu belaka. Jangankan mengakui peran dan
kontribusi insan, bahkan pada saatnya mereka pun menafikkan substansi Allah, yang pada akhirnya sampai ke tingkat
peniadaan eksistensi-Nya. Islam bukan saja tidak menganut ideologi penghalalan cara dan profit motif, dogma
individualisme, dan hedonisme; bahkan mengharamkannya. Oleh karena itu, sesuai dengan
esensi dari kalimat
Laailahailallah, maka kapitalisme harus dilawan!!!
Konsep
Diri
Problematika
Umat
Dakwah
Konsep
Amal Jama
Wawasan
Tentang JS
Analisis sosial
Desain Kegiatan
Tujuan
Target
Out Put
Operasio-
Materi
Metode
- Bentuk Kegiatan
Instrumen
- Segmentasi
ALUR TKJS 3
Konsepsi tauhid
Lampiran 2
Sistem Pemanduan
Jamaah Shalahuddin
Definisi
1. Pemanduan sebagai bagian dari aktifitas pendidikan
Prosedur
Evaluasi
Akhir
nalisasi
Pemanduan merupakan bagian dari satu aktifitas pendidikan kader (tarbawi) di Jamaah Shalahuddin yang dilakukan melalui
pemberian materi-materi tsaqofah Islamiyah (transfer of knowledge) sekaligus disertai dengan penanaman nilai-nilai Islam
(transfer of value).
Forum Pemanduan berbentuk small Islamic environment (lingkungan kecil yang Islami), dimana para peserta didalamnya
saling berinteraksi, memberi dan menerima sehingga benar-benar tercipta sebuah lingkungan kecil yang selalu berusaha
menerapkan nilai-nilai Islam, melalui penerapan konsep persaudaraan dan amal jamai yang dibimbing oleh seorang
pemandu.
2. Pemanduan sebagai bagian sistem kaderisasi Jamaah Shalahuddin
Pemanduan JS merupakan salah satu sarana pembinaan yang diikuti oleh anggota JS, sebagai follow-up dari TKJS
sebelumnya dan persiapan mengikuti TKJS berikutnya, yaitu dengan melakukan fungsi Pembinaan dan Penjagaan Kader .
Pembinaan adalah proses/usaha untuk meningkatkan mutu dan kemampuan anggota yang telah terekrut. Sedangkan
Penjagaan Kader ialah suatu proses/usaha untuk mengikat kader agar memiliki komitmen terhadap lembaga sehingga tidak
mengalami kelunturan.
Tujuan
1. Perubahan Individu
Tujuan dari adanya Forum Pemanduan ini ialah tertanamkannya nilai-nilai Islam, baik aqidah, ibadah, ataupun akhlaq
sehingga terjadi perubahan, baik sikap ataupun perilaku menuju pribadi muslim yang ideal (muslim kaffah).
2. Perubahan Sosial
Ialah terbentuknya ikatan ukhuwah yang kuat diantara sesama peserta sehingga tercipta lingkungan kecil yang menerapkan
nilai-nilai Islam. Semakin banyak lingkungan kecil-lingkungan kecil yang terbentuk, maka akan semakin besar pengaruhnya
terhadap perubahan sosial-masyarakat menuju masyarakat Islam. (ummatan wahidah)
Target
1. Umum
Dimilikinya 10 karakter pribadi muslim yang ideal;
1) Aqidah yang murni dan selamat
2) Ibadah yang benar dan istiqomah
3) Akhlaq yang mulai dan mantap
4) Ilmu yang sempurna
5) Fisik yang prima
6) Wawasan yang luas
7) Terampil akademik dan manajerial
8) Mandiri dan memiliki kemauan berwirausaha
9) Proaktif terhadap masalah sosial-kemasyarakatan
10)Semangat dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan
2. Khusus
8.
9.
10.
11.
12.
Isi Materi
1. Marifatul Insan
1.1. Dari mana berasal
QS 37 : 11 >> 32 : 7 >>15 : 28 >> 23 : 12 >> 22 : 5 >> 32 : 9
(Tanah/Tiin - Tanah liat kering/lumpur hitam - Sari pati tanah - Air mani - Darah - Daging)
1.2. Mau kemana manusia
QS 2 : 207 >> 98 : 5 (keridhoan Allah)
1.3. Untuk apa manusia
QS 51 : 56 >> 2 : 21 (Ibadah)
QS 2 : 30 >> 33 : 72 >> 24 : 55 (Khalifah) >> Tidak ada lagi fitnah (QS 8 : 39)
1.4. Potensi manusia
Potensi dasar
- Pendengaran, Penglihatan, dan Hati (67:23, 32:9, 16:78, 7:179, 22:46)
1. Ghazwul fiqr
Operasionalisasi
Dalam melaksanakan proses Pemanduan ini, maka diperlukan perangkat-perangkat sistem pemanduan, yaitu :
a. Peserta Pemanduan.
b. Pemandu.
c. Forum Pemanduan.
d. Forum Pemandu.
e. Koordinator Pemandu
f. Kurikulum Pemanduan
g. Suplemen
A. PESERTA PEMANDUAN
Peserta Kepemanduan adalah anggota Jamaah Shalahuddin yang mengikuti forum Kepemanduan. Anggota yang mengikuti
forum kepemanduan biasanya adalah anggota hasil open rekruitmen atau anggota pasca TKJS I. Pembagian peserta
Kepemanduan akan diampu oleh BKK.
B. PEMANDU
Pemandu adalah seseorang yang bertugas untuk mengelola sebuah kelompok kepemanduan. Dalam Sistem Kepemanduan
Jamaah Shalahuddin, Pemandu secara umum mempunyai syarat sebagai berikut :
1. Pernah mengikuti Forum Pemanduan
2. Minimal dua tahun lebih tua dari peserta Pemanduan
3. Masih aktif di Jama'ah Shalahuddin
C. FORUM PEMANDUAN
Seperti definisi yang sudah disebutkan diatas bahwa forum kepemanduan pada realita di lapangan adalah forum antara
Pemandu dan Peserta Kepemanduan. Isi dari forum Kepemanduan secara garis besar adalah :
- Pembukaan (oleh pemandu)
- Tilawah (oleh seluruh peserta dan pemandu)
- Kultum (oleh peserta)
- Materi (oleh pemandu)
- Diskusi (oleh peserta dan pemandu)
- Penutup (oleh pemandu)
Forum kepemanduan diadakan satu pekan sekali dengan waktu yang disepakati oleh pemandu dan perserta kepemanduan.
Lama kepemanduan yang diadakan oleh Jama'ah Shalahuddin adalah selama 6 bulan.
D. FORUM PEMANDU
Forum Pemandu adalah forum yang diadakan oleh BKK dan dihadiri oleh para Pemandu Jama'ah Shalahuddin untuk melakukan
pengontrolan terhadap berjalannya forum-forum kepemanduan. Dari Forum Pemandu ini diharapkan dapat diketahui
permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh Pemandu dalam Forum Kepemanduan.
Forum Pemandu ini diadakan oleh BKK setiap bulan sekali. Dalam forum tersebut masing-masing pemandu akan melaporkan
keadaan kelompok Kepemanduannya masing-masing. Hal-hal yang perlu dilaporkan oleh pemandu dalam Forum Pemandu
adalah sebagai berikut.
- Absensi peserta
- Materi
- Kefahaman Peserta akan Materi (Subyektifitas Pemadu)
- Permasalahan Kepemanduan
- Keaktifan Peserta di Forum Kepemanduan
- Keaktifan Peserta di Jama'ah Shalahuddin
E. KOORDINATOR PEMANDU
Koordinator Pemandu diperlukan untuk memfasilitasi forum pemandu dan mempersiapkan perangkat-perangkat yang
dibutuhkan. Koordinator Pemandu dalam hal ini adalah BKK. Tugas-tugas Koordinator Pemandu adalah sebagai berikut :
- Mengadakan rekruitmen dan Upgrading Pemandu.
- Merumuskan Sistem Kepemanduan Jamaah Shalahuddin.
- Mengkoordinasi forum-forum kepemanduan Jamaah Shalahuddin.
- Mengadakan forum Pemandu untuk menjalankan mekanisme kontrol bagi Pemandu.
F. KURIKULUM KEPEMANDUAN
Form pemantauan kepemanduan (diisi tiap kepemanduan)
Kurikulum Kepemanduan adalah
materi-materi
Pertemuan
ke
:yang perlu dicapai oleh kader Jamaah Shalahuddin dalam kepemanduan.
G. SUPLEMEN
Waktu
:
Suplemen adalah acara yang diadakan oleh KPJS bersama pemandu untuk memberikan pengayaan materi, penguatan
Hadir
:
maknawiyah dan hal-hal lain yang tidak bisa diberikan oleh pemandu dalam forum Kepemanduan / MABIT.
Lampiran 3
Absen (alasan)
:
Acara
:
Materi yang disampaikan dan metode :
Lain-lain (materi tambahan/pertanyaan
diajukan/penugasan)
Form Pemantauanyang
Kepemanduan
Mohon diutamakan Jamaah
penugasanShalahuddin
ada tiap pertemuan, mis : membaca
buku
Evaluasi Personal Kader (periodik)
Nama kader
:
Orientasi ikut kepemanduan
:
Orientasi ke JS
:
Amanah di JS
:
Amanah di luar JS
:
Perkembangan dan potensi
:
Kesan terhadap Forum
Materi
:
Kondisi dan pengaruhnya di JS :
Pengaruh bagi pemandu
: