Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Payudara dapat mengembangkan berbagai jenis gangguan. Pada kenyataannya,
sebagian besar kondisi payudara tidak kanker. Dalam sebuah penelitian, 16% perempuan
antara usia 40 dan 69 tahun datang ke dokter dengan keluhan payudara selama periode 10
tahun. Kunci evaluasi nyeri payudara untuk memastikan tidak ada masalah mendasar
yang menjadi sumber rasa sakit. Hal ini termasuk pemeriksaan payudara lengkap serta
mammogram dan / atau USG tergantung pada wanita usia. Jika tidak ada kelainan yang
mendasari sebagai penyebab rasa sakit, umumnya karena stimulus hormonal.
Tidak sedikit penderita yang datang dengan keluhan benjolan di payudara. Pada satu
penelitian disebutkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun pengamatan, sedikitnya 16%
wanita datang dengan keluhan benjolan di payudaranya. Dari jumlah ini, ternyata 8%
adalah kanker payudara, terutama pada usia di atas 40 tahun. Gejala subjektif yang
dikeluhkan bervariasi dari hanya benjolan yang nyeri/tidak nyeri sampai keluarnya cairan
dari puting susu. Pada usia muda, sebagian besar (80-90%) benjolan di payudara adalah
jinak dan biasanya disertai keluhan. Justru bila tanpa keluhan, harus dicurigai
kemungkinan kanker payudara. Di antara berbagai jenis tumor jinak payudara, yang
tersering adalah kista dan fibroadenoma.
1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum: Menjelaskan dan Mengetahui Tentang Gangguan Payudara
2. Tujuan Khusus: Menjelaskan Tentang Asuhan Keperawatan pada pasien dengan
Gangguan Payudara, khususnya pada pasien dengan Kanker Payudara
a) Pengkajian pada pasien Kanker Payudara
b) Menegakkan diagnose keperawatan pada pasien Kanker Payudara
c) Membuat intervensi pada pasien Kanker Payudara
1.3 Manfaat
1. Agar mahasiswa lebih memahami tentang Gangguan Payudara, khususnya pada
pasien dengan Kanker Payudara
2. Mampu membuat askep. pada pasien Gangguan Payudara, khususnya pada pasien
dengan Kanker Payudara
BAB II
TINJAUAN TEORI GANGGUAN PAYUDARA

Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 1

2.1 Definisi Payudara


Merupakan modifikasi kelenjar keringat. Berasal dari penebalan epidermis pada
permukaan ventral tubuh mudigah berusia 6 minggu. Pada transmitter kedua kehidupan
janin , gencel dari stratum basalis epidermis tumbuh ke bawah dan menjadi duktus utama,
mula-mula padat lalu berlumen sehingga terbentuk duktus akan menjadi putting dan
areola. Pada wanita pertumbuhan payudara terus berjalan.
2.2 Anatomi Payudara
Kelenjar payudara manusia berbentuk seperti kuncup, terutama pada nulipara, karena
konsistensinya kenyal dan dengan bertambahnya usia payudara menjadi lembek dan
menggantung. Kelenjar payudara merupakan kelenjar tubualveolar bercabang , terdiri
atas 15-20 lobus yang dikelilingi oleh jaringan ikat dan lemak. Tiap lobus mempunyai
duktus laktiferus yang dilapisi oleh epitel gepeng berlapis. Tiap lobus terdiri atas
beberapa lobus yang dikelilingi oleh 10-100 asinus. Secara fisiologi anatomi payudara
terdiri dari alveolusi, duktus laktiferus, sinus laktiferus, ampulla, pori pailla, dan tepi
alveolan. Payudara terletak mulai dari kosta ke 1 atau ke 3 , sampai tulang rawan iga ke 7
dan dari garis aksila depan ke pinggir sternum. Vaskularisasi payudara di daerah medial
sebagai cabang arteri mamria interna yang menembus ruang interkostal di daerah
parasternal dekat tulang rawan dan arteri torakalis lateral. Dari bagian proksimal cabang
arteri sublavia terdapat pembuluh darah balik yang penting diketahui karena menjadi
kunci untuk mengetahui aliran limfe.
Jaringan payudara terdiri dari berbagai komponen, yakni lemak subkutis, stroma dan
parenkim yang ditunjang oleh jaringan ikat (ligamen Cooper), pembuluh darah, saraf, dan
jaringan limfatik. Daerah areola mammae mengandung folikel rambut, kelenjar apokrin,
dan kelenjar sebaseus Montgomery yang menghasilkan air susu. Puting susu mengandung
akhiran saraf dan otot polos, serta 8-20 duktus laktiferus komunis yang merupakan
terminal dari duktus laktiferus. Jaringan lemak sendiri distribusinya lebih banyak di
sekitar lobulus, dan di sekitar daerah perifer payudara. Sementara itu, struktur kelenjar
yang membentuk nodul distribusinya lebih banyak di kuadran lateral atas payudara.
Estrogen akan menstimulasi kelenjar-kelenjar ini, sehingga bila diperhatikan bentuk
payudara akan berubah-ubah, menjadi lebih besar saat fase proliferasi dalam siklus haid.
2.3 Fisiologi payudara
Payudara mengalami tiga perubahan yang dipengaruhi hormon. Perubahan pertama
ialah mulai dari masa hidup anak melalui masa pubertas, masa fertilitas, sampai ke
klimakterium dan menopause. Sejak pubertas pengaruh ekstrogen dan progesteron yang
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 2

diproduksi ovarium dan juga hormon hipofise, telah menyebabkan duktus berkembang
dan timbulnya asinus.
Perubahan kedua adalah perubahan sesuai dengan daur menstruasi. Sekitar hari
kedelapan menstruasi payudara jadi lebih besar dan pada beberapa hari sebelum
menstruasi berikutnya terjadi pembesaran maksimal. Kadang-kadang timbul benjolan
yang nyeri dan tidak rata. Selama beberapa hari menjelang menstruasi payudara menjadi
tegang dan nyeri sehingga pemeriksaan fisik, terutama palpasi, tidak mungkin dilakukan.
Pada waktu itu pemeriksaan foto mammogram tidak berguna karena kontras kelenjar
terlalu besar. Begitu menstruasi mulai, semuanya berkurang.
Perubahan ketiga terjadi waktu hamil dan menyusui. Pada kehamilan payudara
menjadi besar karena epitel duktus lobul dan duktus alveolus berproliferasi, dan tumbuh
duktus baru. Sekresi hormon prolaktin dari hipofisis anterior memicu laktasi. Air susu
diproduksi oleh sel alveolus, mengisi asinus, dan dikeluarkan dari duktus ke puting susu.
2.4 Etiologi dan Faktor Risiko
1. Faktor susu : Adanya efek dari stafilokokus aureus
2. Keturunan : Ibu yang menderita gangguan payudara sebagian besar diturunkan pada
anaknya, terutama tumor payudara.
3. Hiperestrinisme : Ada hubungan antara penyakit payudara dengan endotrium terjadi
akibat ketidakseimbangan estrogen. Pada kehamilan, estrogen ditekan yang
dikendalikan oleh system neuroendokrinologi yang sama.
Kita dapat membedakan tiga macam perubahan fisiologis kelenjar payudara.
a. Pertumbuhan dan involusi kelenjar payudara. Pada waktu lahir payudara
merupakan suatu system saluran yang bermuara ke mamalia. Beberapa hari
sesudah lahir sebagian besar bayi baik laki-laki maupun perempuan
menunjukan pembesaran kelenjar payudara sedikit dan mulai bersekresi
sedikit mengeluarkan kolostrum yang menghilang sesudah kira-kira 1 minggu
kemudian. Kelenjar payudara kembali dalam keadaan infantile, tidak aktif.
Pada permulaan pubertas antara 10-15 tahun , areola membesar dan lebih
mengandung pigmen. Payudara pun menyerupai satu cakram. Pertumbuhan
kelenjar akan berjalan terus sampai usia dewasa hingga bentuk seperti kuncup.
Hal ini terjadi dibawah pengaruh estrogen yang kadarnya meningkatnya,
terutama yang tumbuh ialah jaringan lemak dan jaringan ikat , diantara
kumpulan kelenjar 15-20 lobus dari payudara saluran-saluran lobus tidak
banyak tumbuh, biasanya payudara sudah sempurna.
b. Perubahan kelenjar payudara yang berhubungan dengan haid Pada waktu haid
payudara agak membesar dan menegang. Pada beberapa wanita timbul rasa
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 3

nyeri (mastodenia), perubahan ini kiranya ada hubungan dengan perubahan


vaskuler dan limfogen , karena itu janganlah mengambil keputusan terhadap
kelainan payudara pada waktu haid, karena mungkin kita akan memutuskan
melakukan biopsy yang sebenarnya tidak perlu di kerjakan. Apabila dalam
keadaan ragu-ragu, lebih bai keputusan di tangguhkansampai pemeriksaan
sesudah haid selesai.
c. Perubahan payudara pada waktu hamil dan laktasi. Perubahan payudara
dipengaruhi oleh progsteron, kemungkinan dapat terjadi gangguan payudara.
4. Trauma : Belum ada kepastian
2.5 Patofisiologi dan Manisfestasi klinis
Penyakit payudara dapat dibagi sebagai berikut:
1. Penyakit peradangan
a. Mastitis peradangan payudara. Mastitis lajim dibagi menjadi mastitis
gravidarum, dan mastitis peurperalis, karena memang penyakit ini boleh
dikatakan hamper selalu timbul pada waktu hamil dan laktasi. Pada umumnya
yang dianggap sebagai kuman penyebab ialah putting susu yang luka atau lecet,
dan kuman per kontinuitatum menjalar ke duktulus-duktulus dan sinus. Sebagian
besar yang ditemukan pada biakan pus ialah stafilokokus aureus. Tingkat
penyakit ini ada dua, yaitu tingkat awal peradangan dan tingkat abses. Pada
peradangan dalam taraf permulaan ibu hanya merasa nyeri bertambah hebat
dipayudara kulit , di atas abses mengkilap , dan suhu sangat tinggi (39-40 C)
dan bayi dengan sendirinya tidak mau menyusu pada payudara yang sakit ,
seolah olah dia tahu bahwa susu sisi ini bercampur nanah.
b. Nekrosis lemak payudara, timbulnya suatu tumor keras di payudara yang jarang
membesar dengan konsistensi yang keras, harus dipikirkan sebagai kemungkinan
nekrosis lemak. Penyakit ini kadang-kadang menunjukan retensi kulit yang
sering ditemukan pada kanker payudara. Biasanya ada trauma dalam anamnesis
dan tidak jarang ditemukan penrdarahan biopsy. Nekrosis lemak yang sedikit
luar biasa disertai infeksi menahun, menunjukan giant cell , dan infiltrasi
limfosit dalam sediaan mikroskopik.
c. Eustasia duktus laktiferus, kelainan ini punya beberapa tingkatan dan disebut
dengan berbagai istilah, misalnya mastitis sel plasma, mastitias komedo , dan
abses menahun. Kelainan tersebut kadang-kadang meragukan sekali karena acap
kali menimbulkan retraksi putting susu, yang sering ditemukan pada kanker.

Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 4

Patologi ditemukan peradangan subakut yang mungkin mula-mula disebabkan


oleh obstruksi duktus laktiferus.sel plasma ditemukan pada jaringan periduktus.
2. Pertumbuhan jinak
a. Cystic disease of breast Recluse , ilmuan jerman , orang pertama mengurai
penyakit ini , akan tetapi ia hanya menyebut tentang tumor yang banyak
sekali mengandung kista. Sarjana-sarjana perancis mengemukakan bahwa
penyakit ini timbul pada kedua payudara. Scmmelbusch dan konik (18901893) yang mula-mula memakai nama peradangan untuk penyakit ini yaitu
mastitis chornica sytica, padahal sama sekali tidak ada peradangan. Ahli-ahli
jerman diatas waktu itu tidak pernah mengemukakan gambaran patologis
penyakit ini. Sekarang kita mengetahui , bahwa ada tiga cirri gambaran
patologis penyakit ini , yaitu (1) kista yang multiple , (2) plorifelasi epitel,
dan (3) pibrosis. Pada gambaran penyakit klinis biologis ini sering bilateral
dan nyeri. Kadang hubungan antara jumlah hormone wanita dalam darah dan
penyakit ini hebat. Karena dapat ditimbulkan karena binatang percobaan
dengan pemberian estrogen. Tumor ini dapat timbul soliter dan multiple ,
gampang digerakan, dipermukaan berbentuk licin atau berlobus, sama sekali
bebas dari jaringan payudara disekitarnya, dan tidak berubah ubah besarnya
sejalan dengan siklus haid. Putting susu tidak memperlihatkan adanya
perubahan penting , dan sama sekali tidak nyeri spontan atau nyeri tekan.
b. Kistosarkoma filodes Penyakit ini adalah fibroadenoma yang tumbuh,
meliputi seluruh mamae. Kadang demikian besar dan nyaris tak tergendong
oleh ibu. Nama kistosarkoma filodes berasal dari mutler (1838), karena
mengandung kista-kista besar dan diantaranya banyak jaringan ikat, sehingga
waktu itu di duga sejenis sarcoma. Dipermukaan tumor terdapat banyak
jaringan yang mengingatkan kita pada lembaran-lembaran buku (phylon).
3. Pertumbuhan ganas
a. Kanker payudara, akhir-akhir ini orang melihat secara epidemiologic
tendensi familial. Seorang wanita dengan ibu kanker payudara mempunyai
kemungkinan lebih besar mendapatkan kanker payudara daripada wanita
wanita dari ibu yang tidak menderita penyakit tersebut. Juga wanita-wanita
yang infertile dan lebih besar kemungkinan menderita kanker payudara
daripada wanita yang fertile. Hal ini dapat dimengerti menurut beberapa
penyidik , karena wwaktu hamil tidak ada ovulasi. Penekanan ovulasi inilah
yang dianggap mempunyai hubungan dengan rendahnya kanker payudara
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 5

b. Sarkoma payudara penyakit ini jarang ditemukan . penulis hanya mempunyai


satu pengalaman tentang sarcoma pada payudara pada seorang klien
peranakan arab dari cirebon dengan tumor sebesar kepala bayi di payudara
kanan. Dilakukan simple mastectomy karena disangka kistosarkoma filodes.
2.6 Manajemen Terapeutik
1. Memberi penyangga pada payudara dengan kain segitiga supaya tidak
menggantung dan nyeri.
2. Memberi antibiotic.
3. Melakukan insisi dan memasukan drain pnrose
4. Melakukan biopsy dan insisi umumnya pada abses , nekrosis lemak payudara,
ekstasi duktus laktiferus , dan fibrodenoma
5. Melakukan aspirasi pada cystic disease of the breast.
6. Mastektomi dan pengangkatan fasia pektoralis dan pasca bedah diberi radiasi.
7. Radiasi dan super radikal mastektomi dengan membuka sternum serta
membersihkan semua kelenjar mammaria interna dilakukan pada kanker payudara.

BAB III
TINJAUAN TEORI KANKER PAYUDARA
3.1 Pengertian
Kanker adalah proses penyakit yang bermula ketika sel abnormal diubah oleh mutasi
genetik dari DNA seluler. Sel abnormal ini membentuk klon dan mulai berproliferasi
secara abnormal, mengakibatkan sinyal mengatur pertumbuhan dalam lingkungan sekitar
sel tersebut. Selama rentang kehidupan seseorang, berbagai jaringan tubuh normalnya
mengalami periode pertumbuhan atau proliferatif yang harus dibedakan dari aktivitas
pertumbuhan maligna. Terdapat beberapa pola pertumbuhan sel dan disebut dengan
istilah hyperplasia, metaplasia, dysplasia, anaplasia, dan neoplasia.
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 6

Hiperplasia yaitu peningkatan jumlah sel-sel jaringan, merupakan proses proliferasi


yang umum dijumpai selama periode pertumbuhan tubuh yang cepat dan selama
regenerasi kulit serta sumsum tulang. Hyperplasia adalah suatu respons seluler yang
normal saat terdapat tuntutan fisiologik, hal ini menjadi suatu respons yang abnormal
apabila pertumbuhan melebihi tuntunan fisiologik seperti yang terjadi pada iritasi kronis.
Metaplasia terjadi apabila salah satu tipe sel matur diubah menjadi tipe lain melalui
stimulus yang mempengaruhi sel batang induk. Iritasi atau inflamasi kronik, defisiensi
vitamin, dan pemajanan terhadap bahan kimiawi mungkin menjadi faktor yang mengarah
pada metaplasia. Perubahan metaplastik dapat pulih atau berkembang menjadi dysplasia.
Displasia adalah pertumbuhan sel aneh yang mengakibatkan sel sel lain dari tipe
jaringan yang sama, dapat terjadi akibat bahan kimia, radiasi, atau inflamasi atau iritasi
kronik. Anaplasia adalah diferensiasi sel-sel displastik pada derajat yang lebih rendah.
Sel-sel anaplastik sulit dibedakan dan bentuknya tidak beraturan atau tidak selaras dengan
pertumbuhan dan pengaturan. Sel-sel anaplastik tidak mempunyai ciri seluler normal dan
hampir selalu maligna. Neoplasia digambarkan sebagai pertumbuhan sel yang tidak
terkontrol, tidak mengikuti tuntutan fisiologik, dapat benigna atau maligna. Pertumbuhan
neoplastik benigna dan maligna diklasifikasikan dan dinamai sesuai asal jaringannya.
Payudara adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit dan diatas otot dada,
merupakan perubahan dari kelenjar keringat. Dalam keadaan normal hanya terdapat
sepasang kelenjar payudara, sedang pada beberapa jenis hewan, kelenjar susu dapat
membentang dari sekitar lipat paha sampai dada. Payudara dewasa beratnya kira-kira 200
gram, yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. Pada waktu hamil payudara
membesar, mencapai 600 gram dan pada ibu menyusui mencapai 800 gram.
Kanker payudara merupakan kanker yang berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan
jaringan penunjang payudara. Ketika sejumlah sel di dalam payudara tumbuh dan
berkembang dengan tidak terkendali inilah yang disebut kanker payudara. Kumpulan
besar dari jaringan yang tidak terkontrol ini disebut tumor atau benjolan. Akan tetapi
tidak semua tumor adalah kanker, karena sifatnya yang tidak menyebar ke seluruh tubuh.
Tumor yang dapat menyebar ke seluruh tubuh atau menyebar jaringan sekitar disebut
kanker atau tumor ganas.
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika
benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar
(metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah
bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 7

bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. Kanker payudara adalah
pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas.
3.2 Etiologi kanker payudara
Penyebab kanker payudara tidak diketahui dengan pasti, namun terdapat serangkaian
faktor genetik, hormonal dan lingkungan. Penyebab tersebut dapat menunjang terjadinya
kanker payudara. Banyak factor yang diprediksi mempuyai hubungan kanker payudara.
Genetik merupakan faktor penting karena kejadian kanker payudara akibat kelainan
genetik sebesar 5-10%. Riwayat keluarga yang perlu dicatat diantaranya adalah kanker
payudara pada ibu atau saudara perempuan yang terkena kanker payudara pada umur di
bawah 50 tahun atau keponakan dengan jumlah lebih dari dua
Hormon estrogen adalah hormon yang berperan dalam proses tumbuh kembang
organ seksual wanita. Hormon estrogen sebagai penyebab awal kanker pada sebagian
wanita. Hal ini disebabkan adanya reseptor estrogen pada sel-sel epitel saluran kelenjar
susu. Hormon estrogen yang menempel pada saluran ini, lambat laun akan mengubah selsel epitel tersebut menjadi kanker. Pengunaan KB hormonal seperti pil, suntik KB dan
susuk yang mengandung banyak dosis estrogen meningkatkan risiko kanker payudara
Faktor lingkungnan juga dapat menjadi pemicu kanker payudara. Lingkungan
tersebut berupa paparan radiasi bahan-bahan radioaktif, sinar X dan pencemaran bahan
kimia. Luwia (2003) mengatakan bahwa risiko kanker payudara meningkat apabila
radiasi terjadi sebelum umur 40 tahun.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kanker payudara diantaranya adalah:
a. Umur
Wanita berumur > 40 tahun mempuyai risiko kanker payudara lebih besar dibanding
umur < 40 tahun. Hal ini di karenakan pada umur ini kebanyakan wanita melakukan
mamografi pada program pemeriksaan payudara setempat. Banyak kasus kanker
payudara yang ditemukan terjadi pada wanita berumur antara 40-64 tahun
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin berpengaruh untuk terjadinya kanker payudara, wanita mempunyai
risiko lebih tinggi dibandingkan pria. Menurut penelitian di Inggris 99% dari semua
kasus kanker payudara terjadi pada wanita dan pada pria hanya 1% saja
c. Umur Menarche
Wanita riwayat menarchenya lambat insedensinya lebih rendah akan tetapi menarche
awal (dibawah 12 tahun) termasuk dalam faktor risiko terjadinya kanker payudara
d. Umur Menopause
Wanita yang umur menopausnya terlambat atau lebih dari 50 tahun mempuyai resiko
terkena kanker payudara lebih besrar dibandingkan wanita yang umur menopausnya
normal yaitu umur kurang dari 50 tahun
e. Riwayat keluarga dengan kanker payudara (genetik)
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 8

Risiko terkena kanker payudara meningkat pada wanita yang mempunyai ibu atau
saudara perempuan yang terkena kanker payudara. Semua saudara dari penderita
kanker payudara memiliki peningkatan risiko mengalami kanker payudara
f. Paritas
Paritas merupakan keadaan yang menunjukan jumlah anak yang pernah dilahirkan.
Wanita yang tidak mempunyai anak (nullipara) mempuyai risiko insiden 1,5 kali
lebih tinggi dari pada wanita yang mempunyai anak (multipara)
g. Tidak menyusui anak
Menyusui merupakan salah satu faktor yang memberikan proteksi terhadap risiko
kanker payudara. Wanita yang tidak menyusui bayinya, mempunyai risiko yang
tinggi terkena kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang menyusui bayinya
Tidak ada penyebab spesifik, sebaliknya serangkaian faktor genetik, hormonal, dan
lingkungan dapat menunjang kanker payudara. Perubahan genetik termasuk mutasi dalam
gen normal, dan pengaruh protein baik yang menekan atau meningkatkan perkembangan
kanker payudara. Hormone steroid yang dihasilkan oleh ovarium punya peran penting
dalam kanker payudara. 2 hormon ovarium utama-estradiol dan progesterone- mengalami
perubahan dalam lingkungan seluler, dapat berpengaruh pertumbuhan kanker payudara.
3.3 Patofisiologi Penyakit
Tumor atau neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan ciri proliferasi
yang berlebihan dan tak berguna, yang tidak mengikuti pengaruh jaringan sekitarnya.
Proliferasi abnormal sel kanker akan mengganggu fungsi jaringan normal dengan
menginfiltrasi dan memasukinya atau terjadi mestastase dengan cara menyebarkan anak
sebar ke organ-organ yang jauh. Perubahan secara biokimiawi dan genetis terjadi didalam
sel tersebut terutama dalam inti sel. Hampir semua tumor ganas tumbuh dari suatu sel
yang mengalami transformasi maligna dan berubah menjadi sekelompok sel ganas
diantara sel normal. Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase, yaitu:
a. Fase induksi: 15-30 tahun
Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai dapat
merubah jaringan dysplasia menjadi tumor ganas.
b. Fase insitu: 5-10 tahun
Terjadi perubahan jaringan menjadi lesi pre cancerous yang bisa ditemukan di
serviks uteri, rongga mulut, paru, saluran cerna, kulit dan akhirnya juga di payudara.
c. Fase invasi: 1-5 tahun
Sel menjadi ganas, berkembang baik dan menginfiltrasi melalui membrane sel
jaringan sekitarnya dan melalui pembuluh darah serta saluran limfa.
d. Fase desiminasi: 1-5 tahun
Terjadi penyebaran ke tempat lain.
3.4 Tanda dan Gejala
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 9

Penemuan dini kanker payudara masih sulit, kebanyakan ditemukan jika sudah teraba
atau sudah stadium lanjut. Tanda dan gejala pada kanker payudara stadium lanjut:
a. Tanda dan gejala kanker payudara
1) Terdapat massa utuh kenyal, biasa di kwardan atas bagian dalam, di bawah
2)
3)
4)
5)

ketiak, bentuknya tak beraturan, terfiksasi dan sakit jika digerakan


Nyeri di daerah massa
Adanya lekukan ke dalam, tarikan pada area mammae
Edema dengan peaut d orange (keriput seperti kulit jeruk)
Adanya kerusakan dan retraksi pada area puting, keluar cairan spontan,

kadang disertai darah


6) Pengelupasan papilla mammae
7) Ditemukan lesi pada pemeriksaan mamografi
b. Penentuan ukuran dan penyebaran tumor berdasarkan 3 kategori yaitu tumor size
(T), regional limpho nodus (N) dan metastase jauh (M). Berikut ini penjelasannya:
1) Tumor Size ( T )
a) Tx : Tak ada tumor
b) To : Tak dapat ditunjukkan adanya tumor primer
c) T1 : Tumor dengan diameter, kurang dari 2 cm
d) T2 : Tumor dengan diameter 2 5 cm
e) T3 : Tumor dengan diameter lebih dari 5 cm
f) T4 : Tumor tanpa memandang ukurannya telah menunjukkan perluasan
secara langsung ke dinding thorak atau kulit.
2) Regional Limpho Nodus ( N )
a) Nx : Kelenjar ketiak tak teraba
b) No : Tak ada metastase kelenjar ketiak homolateral
c) N1 : Mestastase ke kelenjar ketiak homolateral tapi masih bisa digerakan
d) N2 : Mestastase ke kelenjar ketiak hormonal, melekat terfiksasi
e) N3 : Mestastase ke kelenjar homolateral supraklavikuler/ infraklavikuler
3) Mestastase Jauh ( M )
a) Mo: Tak ada mestastasee jauh
b) M1: Mestastase jauh termasuk perluasan ke dalam kulit di luar payudara.
3.5 Stadium Kanker Payudara
Kanker Payudara dapat didiagnosis pada stadium yang berbeda-beda. Kanker payudara
yang lebih dini ditemukan, kemungkinan sembuh akan lebih besar. Luwia (2003)
menyebutkan bahwa stadium kanker payudara terdiri atas beberapa stadium, antara lain:
a. Stadium I (stadium dini)
Besarnya tumor tidak lebih dari 2-2,25 cm, dan tidak terdapat penyebaran
(metastasis) pada kelenjar getah bening ketiak. Pada stadium ini kemungkinan
kesembuhan sempurna adalah 70%. Pemeriksaan ada atau tidaknya metastasis ke
bagian tubuh yang lain harus dilakukan di laboratorium.
b. Stadium II
Tumor sudah lebih dari 2,25 cm dan sudah terjadi mestastasis pada kelenjar getah
bening di ketiak. Kemungkinan untuk sembuh pada stadium ini hanya 30-40 %
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 10

tergantung pada luasnya penyebaran sel kanker. Tindakan operasi biasanya


dilakukan pada sadium I dan II untuk mengangkat sel-sel kanker yang ada pada
seluruh bagian penyebaran dan setelah operasi dilakukan penyinaran untuk
memastikan tidak adanya selsel kanker yang tertinggal.
Stadium IIa : tumor kurang dari 5 cm, tanpa keterlibatan LN, tidak ada
penyebaran jauh. Tumor kurang dari 2 cm dengan keterlibatan LN
Stadium IIb : tumor kurang dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. Tumor
lebih besar dari 5 cm tanpa keterlibatan LN
c. Stadium III
Tumor sudah cukup besar 3-5 cm, sel kanker hampir menyebar keseluruh tubuh,
dan kemungkinan untuk sembuh tinggal sedikit. Biasanya pengobatan hanya
dilakukan penyinaran dan kemoterapi (pemberian obat yang dapat membunuh sel
kanker). Kadang-kadang juga dilakukan operasi untuk mengangkat payudara
bagian yang parah. Benjolan menonjol ke permukaan kulit dan pecah/berdarah.
Stadium IIIa : tumor lebih besar dari 5 cm, dengan keterlibatan LN. semua
tumor dengan LN terkena, tidak ada penyebaran jauh
Stadium IIIb : semua tumor dengan penyebaran langsung ke dinding dada
atau kulit, edema pada tangan atau keterlibatan LN supraklavikular
d. Stadium IV
Tumor sudah berukuran besar >5 cm, sel kanker telah menyebar/bermestastase ke
seluruh organ tubuh, dan biasanya penderita mulai lemah. Pengobatan payudara
sudah tidak ada artinya lagi. Biasanya pengobatan dilakukan dengan terapi
hormonal dengan syarat Estrogen Reseptor (ER) atau Progesteron Reseptor (PR)
positif karena penderita terlalu lemah dengan syarat mempertimbangkan
kemoterapi yang sudah didapat sebelumnya.
3.6 Pemeriksaan Kanker Payudara
Pemeriksaan payudara secara rutin sangat diperlukan untuk mendeteksi kanker payudara
atau tumor sedini mungkin. Lebih dini kanker ditemukan dan mendapatkan penanganan
yang tepat, akan memberikan kesembuhan dan harapan hidup yang lebih besar. Beberapa
pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) yaitu merupakan cara sederhana untuk mengetahui
setiap perubahan yang terjadi pada payudara. Sadari harus dilakukan setiap bulan oleh
wanita setelah berumur 20 tahun. Meskipun sadari merupakan suatu teknik penyaringan
yang sederhana, dan tidak mahal, tetapi sadari sangat efektif untuk mengetahui adanya
kanker secara dini, tidak berbahaya, aman dan tidak menimbulkan nyeri.
Cara pemeriksaan Sadari adalah sebagai berikut:
a. Pada saat mandi
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 11

Angkat sebelah tangan dengan menggunakan satu jari gerakkan secara mendatar
perlahan-lahan ke semua tempat bagi setiap payudara. Gunakan tangan kanan
untuk memeriksa payudara kiri, dan tangan kiri untuk payudara kanan. Periksa
dan cari apabila terdapat gumpalan atau kebetulan keras, menebal di payudara.
b. Posisi berdiri di depan cermin
Mengankat kedua tangan ke atas kepala, putar-putar tubuh perlahan-lahan dari sisi
kanan ke sisi kiri. Pinggang dicekak, tekan turun perlahan-lahan kebawah untuk
menegakan otot dada dan membuat payudara condong ke depan. Perhatikan
dengan teliti segala perubahan seperti besar, bentuk, dan kontur payudara. Lihat
pula jika terdapat kekakuan, lekukan atau putting masuk ke dalam. Perlahanlahan, pijit kedua kedua puting dan perhatikan jika terdapat cairan keluar. Periksa
lebih lanjut apakah cairan itu jernih atau mengandung darah.
c. Posisi berbaring
Cara memeriksa payudara sebelah kanan, letakkan bantal di bawah bahu kanan
dan tangan kanan di belakang kepala. Jari menekan payudara dan bergerak
perlahan dalam bentuk bulatan kecil, bermula dari bagian pangkal payudara.
Selepas 1 putaran, jari digerakan I inci (2,5 cm) kearah putting. Ulangi hal sama
pada payudara sebelah kiri dengan meletakkan bantal di bawah bahu kiri dan
tangan kiri di belakang kepala. Coba rasakan apakah ada benjolan di payudara.
Pemeriksaan diagnostic
a. Mamografi
Sedapat mungkin dilakukan sebagai alat bantu diagnostik utama, terutama pada
usia di atas 30 tahun. Pada mamografi , lesi yang mencurigakan ganas
menunjukkan salah satu atau beberapa gambaran sebagai berikut: lesi asimetris,
kalsifi kasi pleomorfi k, tepi ireguler atau ber-spikula, terdapat peningkatan
densitas dibandingkan sekitarnya.11,12 Pada salah satu penelitian terhadap 41.427
penderita, sensitivitasnya mencapai 82,3% dengan spesifi sitas 91,2%. Walaupun
demikian, bila hasilnya negatif, harus tetap dilakukan pemeriksaan lanjutan.
b. Ultrasonografi
Ultrasonografi sangat berguna untuk membedakan lesi solid dan kistik setelah
ditemukan kelainan pada mamografi . Pemeriksaan ini juga dapat digunakan pada
kondisi klinis tertentu, misalnya pada wanita hamil yang mengeluh ada benjolan
di payudara sedangkan hasil mamografi nya tidak jelas walaupun sudah diulang,
dan untuk panduan saat biopsy jarum atau core biopsy. Hasil pemeriksaan USG
maupun mamografi dapat diklasifi kasikan menurut panduan The American
College of Radiology yang dikenal sebagai ACR-BIRADS, sebagai berikut:
Kategori 0: Harus dilakukan mamografi untuk menentukan diagnosis
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 12

Kategori 1: Negatif atau tidak ditemukan lesi


Kategori 2: Jinak. Biasanya kista simpleks. Ulang USG 1 tahun lagi
Kategori 3: Kemungkinan jinak. Sering ditemukan pada FAM. Ulang USG 3-6
bulan
Kategori 4: Curiga abnormal. Harus dibiopsi
Kategori 5: Sangat curiga ganas. Dikelola sesuai panduan kanker payudara dini
Kategori 6: Kanker. Hasil biopsi memang benar keganasan payudara, dikelola
sebagai kanker payudara dini.
c. CT. Scan
Digunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
d. Biopsi
Tidak terhadap semua kasus benjolan payudara dilakukan biopsi. Beberapa
panduan terkini lebih menganjurkan core biopsy sebagai pilihan pertama. Apabila
tidak ada fasilitas ini, maka biopsi insisi/ekstirpasi sebagai gantinya. Biopsi
aspirasi dengan jarum halus tidak dianjurkan, kecuali dilakukan oleh ahli yang
berpengalaman.
e. Pemeriksaan hematologi, yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor
pada peredaran darah dengan sendimental dan sentrifugis darah.
3.7 Pencegahan
a. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah langkah yang dilakukan untuk menghindari diri dari setiap
faktor yang dapat menimbulkan kanker payudara. Penyuluhan tentang kanker
payudara perlu dilakukan terutama mor-faktor risiko dan bagaimana melaksanakan
pola hidup sehat dengan menghindari makanan berlemak, banyak konsumsi sayursayuran dan buah-buahan serta giat berolah raga
b. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder dilakukan terhadap individu yang memiliki resiko untuk
terkena kanker payudara. Setiap wanita yang normal dan memiliki siklus haid normal
merupakan populasi at risk dari kanker payudara. Pencegahan sekunder dilakukan
dengan melakukan deteksi dini. Skrining melalui mamografi diklaim memiliki
akurasi 90% dari semua penderita kanker payudara, tetapi keterpaparan terusmenerus pada mamografi pada wanita yang sehat merupakan salah satu faktor resiko
terjadinya kanker payudara. Skrining dengan mamografi tetap dapat dilaksanakan
dengan beberapa pertimbangan antara lain wanita yangsudah mencapai usia 40 tahun
dianjurkan melakukan cancer risk assement survey. Wanita dengan faktor risiko
mendapat rujukan untuk melakukan mamografi setiap tahun. Wanita normal
mendapat rujukan mamografi setiap 2 tahun sampai mencapai usia 50 tahun.
Kematian oleh kanker payudara lebih sedikit pada wanita yang melakukan
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 13

pemeriksaan Sadari dibandingkan yang tidak Sadari. Sensitivitas Sadari untuk


mendeteksi kanker payudara hanya 26%, bila dikombinasikan dengan mamografi
maka sensitivitas mendeteksi secara dini menjadi 75%
c. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier biasanya diarahkan pada individu yang telah positif menderita
kanker payudara. Penanganan yang tepat penderita kanker payudara sesuain dengan
stadiumnya akan dapat mengurangi kecacatan dan memperpanjang harapan hidup
penderita. Pencegahan tersier ini penting untuk kualitas hidup penderita serta
mencegah komplikasi penyakit dan meneruskan pengobatan. Tindakan pengobatan
dapat berupa operasi walaupun tidak berpengaruh banyak terhadap ketahanan hidup
penderita. Tindakan kemoterapi dengan sitostatika pada penderita kanker perlu
dilakukan apabila telah bermetastasis jauh. Pengobatan pada stadium ini akan
diberikan berupa simptomatik dan dianjurkan untuk mencari pengobatan alternatif.
3.8 Penatalaksanaan
a. Pembedahan
Operasi dilakukan untuk membuang sel-sel kanker di dalam payudara. Jenis-jenis
pembedahan yaitu Lumpectomy (oprasi pengangkatan tumor dan jaringan
disekitarnya) dan Total mastectomy (oprasi pengangkatan seluruh payudara), tetapi
tidak termasuk kelenjar getah bening di bawah ketiak.
1) Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran). Mulai lumpektomi sampai
pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan dan kulit yang terkena).
2) Mastektomi total dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe
dilateral otocpectoralis minor.
3) Mastektomi radikal yang dimodifikasi
Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksial
a) Mastektomi radikal. Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor
dibawahnya : seluruh isi aksial.
b) Mastektomi radikal yang diperluas. Sama seperti mastektomi radikal
ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.
b. Non pembedahan
1) Radioterapi, dilakukan untuk merusak sel-sel kanker
2) Penyinaran, pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat
direseksi pada kanker lanjut; metastase tulang, metastase kelenjar limfe aksila.
3) Terapi hormon dan endokrin, untuk kanker yang telah menyebar, memakai
estrogen, androgen, antiestrogen, coferektomi adrenalektomi hipofisektomi.
4) Kemoterapi, merupakan tindakan kemoterapi dilakukan untuk membunuh sel
kanker dengan obat anti-kanker (sitostatika) dan hormon terapi dilakukan untuk

Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 14

mengubah lingkungan hidup kanker sehingga pertumbuhan selnya terganggu dan


akhirnya mati sendiri. Enam klasifikasi umum obat kemoterapi yaitu:
a) Agen pengekat umum adalah carmustine, (BCNU), lomustine (CCNU),
streptozocin, dan semustine (methyl-CCNU).
b) Antimetabolik membunuh sel-sel kanker dengan memblok sintesis DNA
dan RNA. Agen umum meliputi cytarabine (ARA-C), Floxuridine (FUDR),
5-fluorourasil (5-FU), hidroxyurea (hydrea), 6-mercaptopurine (6-MP),
methotrexate (Mexate), dan 6-thioguanine.
c) Antibiotik anti tumor adalah obat siklus sel non-spesifik bekerja dengan
beberapa mekanisme yamg berbeda untuk memproduksi efek sitotosik.
d) Tanaman alkaloid adalah agen siklus sel spesifik yang bekerja dengan
kristalisasi mikrotubular mitotic kumparan protein selama metaphase
dimana mitosis berhenti yang menyebabkan sel mati.
e) Agen lain, mekanisme kerjanya berbeda dari kelas-kelas umum. Jenisnya
meliputi L-asparaginase (Elpar), mitoxantrone (Novantrone), procarbazine
(Matulane), Navelvine dan mitotane (Lysodren).
f) Agen Hormonal bekerja pada tumor yang tergantung pada lingkungan
hormonal spesifik untuk bertumbuh.

Tujuan penggunaan kemoterapi adalah:


a) Terapai adjuvan : kemoterapi yang diberikan sesudah oprasi, dapat sendiri
atau bersamaan dengan radiasi, dan bertujuan untuk membunuh sel yang
telah bermestastase.
b) Terapi Neoadjuvan : kemoterapi yang diberikan sebelum oprasi untuk
mengecilkan massa tumor, biasanya dikombinasikan dengan radioterapi.
c) Kemoterapi primer : digunakan sendiri dalam penatalaksanaan tumor, yang
kemungkinan kecil untuk diobati, dan kemoterapi digunakan hanya untuk
mengontrol gejalanya.
d) Kemoterapi induksi : digunakan sebagai terapi pertama dari beberapa terapi
berikutnya.
e) Kemoterapi kombinasi : menggunakan 2 atau lebih variabel kemoterapi
Cara pemberian kemoterapi adalah
a) Pemberian per oral
Beberapa jenis kemoterapi telah dikemas untuk pemberian peroral,
diantaranya adalah chlorambucil dan etopside (VP 16)
b) Pemberian secara intra-muskulus

Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 15

Pemberian dengan cara relatif mudah, sebaiknya suntikan tidak diberi pada
lokasi yang sama dengan pemberian dua-tiga kali berturut-turut. Yang dapat
diberikan secara intra-muskulus antara lain bleomicin dan methotrexate.
c) Pemberian secara intravena
Pemberian secara intravena dapat diberikan dengan bolus perlahan-lahan
atau diberikan secara infuse (drip). Cara ini merupakan cara pemberian
kemoterapi yang paling umum dan dapat digunakan.
d) Pemberian secara intra-arteri
Pemberian intra-arteri jarang dilakukan karena membutuhkan sarana yang
cukup banyak, antara lain alat radiologi diagnostik, mesin, atau alat filter,
serta memerlukan keterampilan tersendiri.
e) Pemberian secara intraperitoneal
Cara ini juga jarang dilakukan karena membutuhkan alat khusus (kateter
intraperitoneal) serta kelengkapan kamar oprasi karena pemasangan perlu
narkose.

Pemberian

kemoterapi

intraperitonial

diindikasikan

dan

diisyaratkan pada minimal tumor residu pada kanker ovarium.


BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN KANKER PAYUDARA
4.1 PENGKAJIAN
Identitas klien : Nama, Umur, Jenis Kelamin, Pekerjaan, Alamat , Suku/Bangsa, Agama,
Tanggal Masuk, No. Rekam Medis
Riwayat Kesehatan Sekarang : Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan
adanya benjolan yang menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan
mengeras, bengkak dan nyeri.
Riwayat Kesehatan Dahulu : Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada
kelainan pada mammae, kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada
bagian dada sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun
mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
Riwayat Kesehatan Keluarga: Adanya keluarga yang mengalami ca mammae
berpengaruh pada kemungkinan klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien
pernah mengidap penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
Pemeriksaan Fisik
1. Kepala
: normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan
tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
2. Rambut

: biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu berminyak.


Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 16

3. Mata

: biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata.


Mata anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
4. Telinga
: normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda infeksi
dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
5. Hidung
: bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
6. Mulut
: mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
7. Leher
: biasanya terjadi pembesaran KGB.
8. Dada
: adanya kelainan kulit berupa peau dorange, dumpling, ulserasi atau
tanda-tanda radang.
9. Hepar
: biasanya tidak ada pembesaran hepar.
10. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
1. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
2. Nutrisi Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan terjadi
penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi makanan
mengandung MSG.
3. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena, nyeri saat
defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
4. Aktivitas dan Latihan
Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien terganggu
karena terjadi kelemahan dan nyeri.
5. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan ada
komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
6. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
7. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat operasi
akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya sebagai
wanita normal.
8. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam melakukan
perannya dalam berinteraksi social.
9. Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
10. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus asaan.
11. Nilai dan Keyakinan
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 17

Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan lapang


dada.
Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan diri payudara bisa mendeteksi adanya bongkahan payudara palpable,

sehingga memungkinkan wanita menemui praktisi untuk mendapatkan evaluasi dini.


Mamografi dilakukan untuk tiap wanita yang pemeriksaan fisiknya menunjukkan
adanya kanker payudara. Mamografi sebaiknya dilakukan sebagai pemeriksaan dasar
Factor Predisposisi dan resiko tinggi
pada wanita berusia 35
sampai 39 tahun,
tiapmamae
1 sampai 2 tahun untuk wanita berusia
Hiperplasia
pada sel

40 samapi 49 tahun, dan tiap tahun untuk wanita uang berusia lebih dari 50 tahun,
wanita yang memiliki riwayat kanker payudara dikeluarganya, dan

wanita yang

menderita kanker payudara unilateral, untuk memeriksa adanya penyakit baru.


Biopsy
dilakukan jika diduga
ada gumpalan
hasil mamografi
negatif. pembuluh darah
Mendesak
Mendesak
sel saraf
Mendesak
jaringandan
sekitar
Ultrasonografi, yang bisa membedakan kista berisi cairan dengan tumor, juga bisa

dipakai dari pada biopsy bedah invasive.


Scan tulang computed tomografi scan, pengukuran kadar alkalin fosfate,studi fungsi

hati,
biopsy hatiMemakan
bisa mendeteksi
metastasis
jauh.
Interupsi
seldan
saraf
jaringan
pada yang
mamae

Aliran darah terhambat

Pengujian (assay) reseptor hormonal yang dilakukan pada tumor bisa menentukan

apakah tumor dependen pada estrogen atau progesterone.


Pemeriksaan laboratorium:
Pemeriksaan darah hemoglobin biasanya menurun, leukosit meningkat, trombosit
Nyeri
hipoksia
Peningkatan konsistensi mamae
meningkat jika ada penyebaran ureum dan kreatinin.

Pemeriksaan urine, diperiksa apakah ureum dan kreatinin meningkat.


4.2 DIAGNOSA
MamaeKEPERAWATAN
membengkak (NANDA)
Ukuran mamae abnormal Necrose jaringan
1. Nyeri (kronik) berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor dan
proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf) (00133)
2. Hamabatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu dan nyeri
(00085)
Bakteri
patogen
3. Ansietas
berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan tentang kondisi,
prognosis,
Imobilisasi
lengan/bahu
Kurang pengetahuan
Mamaeluar
asimetrik
Masa tumor mendesak ke jaringan

dan serta pengobatan penyakitnya. (00146)


4. Kerusakan intergritas jaringan berhubungan dengan perubahan gangguan sirkulasi,
adanya edema, destruksi jaringan (00044)
5. Gangguan citra diri berhubungan dengan proses penyakit dan terapi penyakit
Perfusi
jaringan terganggu
(kehilangan
payudara)(00118)
Ansietas Resiko Infeksi
Gangguan citra diri
Hambatan
mobilitas
fisik
6. Resiko infeksi berhubungan dengan factor resiko kulit rusak, prosedur invasif,

lamanya penyembuhan luka bedah (00004)


Pathway

ulkus
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 18

Kerusakan integritas jaringan

4.3 INTERVENSI/RENCANA KEPERAWATAN


Diagnosa
1. Nyeri (kronik)
b.d adanya
penekanan
massa
tumor dan
proses
penyakit
(penekanan/
kerusakan
jaringan
syaraf)
(00133)

2. Hamabatan
Mobilitas
Fisik
b.d
imobilisasi

Tujuan/Kriteria Hasil
(Noc)
Tujuan: Nyeri dapat
teratasi dengan
kriteria hasil:
Klien mengatakan
- nyeri berkurang
atau hilang
- Nyeri tekan
tidak ada
- Ekspresi wajah
tenang
- Luka bekas
operasi sembuh
dengan baik

Tujuan : Klien dapat


beraktivitas dan memperlihatkan mobilitas 1
(tidak
mengalami

Intervensi(Nic)
Mandiri
1. Kaji karakteristik nyeri
- Provoking : Penyebab
- Quality : Kwalitas
- Region : Lokasi
- Severate : Skala
- Time : Waktu
2. Beri posisi nyaman bagi pasien untuk
memungkikan tidak terjadi penekanan
pada tempat terjadinya penyakit.
3. Anjurkan teknik relaksasi napas dalam.

Rasional

1. Rasional : Untuk mengetahui sejauh mana


perkembangan rasa nyeri yang dirasakan oleh
klien sehingga dapat dijadikan sebagai acuan
untuk intervensi selanjutnya.

4. Ukur tanda-tanda vital setiap 4-6 jam


sehari pada pasien.

2. Rasional : Dapat mempengaruhi kemampuan


klien untuk rileks/istirahat secara efektif dan
dapat mengurangi nyeri.
3. Rasional : Relaksasi napas dalam dapat
mengurangi rasa nyeri dan memperlancar
sirkulasi O2 ke seluruh jaringan.
4. Rasional : Peningkatan TTV dapat menjadi
acuan adanya peningkatan nyeri.

Kolaborasi
5. Penatalaksanaan kolaborasi pemberian
analgetik

5. Rasional : Analgetik dapat menghilangkan


rangsangan nyeri sehingga nyeri tidak
dipersepsikan.

Mandiri
1. Latihan rentang gerak pasif sesegera
mungkin untuk meng-urangi kekakuan
selama tirah baring.

1. Rasional : Untuk mencegah kekakuan sendi


yang dapat berlanjut pada keterbatasan gerak.
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 19

lengan /bahu gang-guan) dengan


2. Bantu dalam aktivitas perawatan diri
dan
nyeri Kriteria Hasil :
sesuai ke-perluanpasien.
3.
Bantu ambulasi dan dorong
(00085)
- Dapat beraktivitas.
- Berjalan
memperbaiki postur.
- Mudahc bergerak
3.Kerusakan
Tujuan
: Mandiri
Intergritas
menunjukkan
1. Surveilans kulit :pantau besar-nya
Jaringan b.d
intergritas
jaringan
edema, warna kemerahan dan rusak,
adanya edema,
kulit
tidak
ada
suhu, kerlembapan dan kekeringan yang
destruksi
gangguan dengan
ber-lebihan.
2. Manajemen penekanan :
jaringan dan
Kriteria Hasil :
inspeksikulit diatas penonjolan tulang
luka post
- Nyeri
tidak
dan titik penekanan lain saat mengubah
operasi (00044)
dirasakan lagi
posisi atau minimalkan terjadi penekanan
- Memiliki nadi
didaerah terjadinya benjolan.
kuat
dan
3. Pencegahan ulkus decubitus pada pasien
simetris
yang tirah baring.
- Warna
kulit
4.
Perawatan luka jika terjadi luka pada
kembali normal
daerah payudara yang terjadi benjolan.
- Suhu
tubuh
dalam
batas 5. Perawatan area insisi agar tidak terjadi
resiko infeksi.
normal
4. Ansietas b.d Tujuan : Kecemasan
Mandiri
Kurangnya
dapat berkurang,
1. Jelaskan tentang proses penyakit,
peng-etahuan
menunjukkan
prosedur pembedahan dan harapan yang
tentang
pengendalian diri.
akan datang.
kondisi,
dengan
prognosis, dan Kriteria Hasil :
2. Diskusikan tanda dan gejala proses
serta
- Klien
tampak
penyakit atau perjalanan penyakit dan

2. Rasional : Menghemat energi pasien dan


mencegah kelelahan.
3. Rasional : Untuk menghindari ketidak
seimbangan dan keterbatasan dalam gerakan
dan postur.
1. Rasional : Mengumpul-kan dan meng-analisa
data pasien untuk mempertahankan intergritas
kulit dan membrane mukosa.
2. Rasional:minimalkan
bagian- bagian tubuh

penenkanan

pada

3. Rasional : mencegah ulkus decubitus pada


pasien yang risiko tinggi mengalaminya.
4. Rasional: mencegah komplikasi luka dan
menigkatkan penyembuhan.
5. Rasional : memebersihkan, memantau, dan
meningkatkan penyembuhan
1. Rasional : Memberikan pengetahuan dasar,
dimana pasien dapat membuat pilihan ber
dasarkan informasi, dan dapat berpartisipasi
dalam terapi.
2. Rasional : agar mengurangi kecemasan dan
menambah informasi klien.
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 20

pengobatan
penyakitnya.
(00146)

5. Gangguan
citra diri berb.d
proses
penyakit dan
terapi penyakit
(kehilangan
payudara)
(00118)

tenang
Mau
berpartisipasi
dalam program
terapi
Klien
menunjukan
pemahaman
mengenai
penyakit ini.

prosedur yang dilakukan (therapy)


3. Dukung klien untuk mengekspresikan
perasaannya ( yang menyebabkan
depresi).
4. Diskusikan tanda dan gejala depresi

5. Diskusikan kemungkinan untuk bedah


rekonstruksi atau pemakaian prostetik.
6. Tanyakan pada klien kembali tentang
penjelasan yang diberikan mengenai
penyakitnya.

Tujuan : Klien dapat


Mandiri
menerima keadaan
1. Diskusikan dengan klien atau orang
dirinya. Dengan
terdekat
respon
klien
terhadap
Kriteria Hasil :
penyakitnya.
2.
Tinjau ulang efek pembedahan
- Klien
tidak
malu
dengan
keadaan dirinya. 3. Berikan dukungan emosi klien.
- Klien dapat
menerima efek
4. Anjurkan keluarga klien untuk selalu
pembedahan.
mendampingi klien.

6. Resiko infeksi Tujuan : Tidak terjadi


b.d
factor infeksi. Dengan

1. Kaji adanya tanda tanda infeksi.

3. Rasional : Proses kehilangan bagian tubuh


membutuhkan penerimaan, sehingga pasien
dapat membuat rencana untuk masa
depannya.
4. Rasional : Kehilangan payudara dapat
menyebabkan perubahan gambaran diri, takut
jaringan parut, dan takut reaksi pasangan
terhadap perubahan tubuh.
5. Rasional : Rekonstruksi memberikan sedikit
penampilan yang lengkap, mendekati normal.
6. Rasional: untuk meng-evaluasi tentang penyuluhan kesehatan yang diberikan, apakah
klien memahaminya.

1. Rasional : membantu dalam memastikan


masalah untuk memulai proses pemecahan
masalah
2. Rasional : bimbingan antisipasi dapat
membantu pasien memulai proses adaptasi.
3. Rasional : klien bisa menerima keadaan
dirinya.
4. Rasional : klien dapat merasa masih ada
orang yang memperhatikannya.
1. Rasional : Untuk mengetahui secara dini
tanda infeksi dan dapat segera diberi tindakan
Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 21

resiko
kulit Kriteria Hasil :
rusak,prosedur
- Tidak ada tanda
invasif,
tanda infeksi.
Luka dapat
lamanya
sembuh dengan
penyembuhan
sempurna.
luka
bedah
(00004)

2. Lakukan pencucian tangan sebelum dan


sesudah prosedur tindakan.
3. Lakukan prosedur invasif secara aseptik
dan antiseptik.
4. Kolaborasi pemberian antibiotik.

2. Rasional : Menghindari resiko penyebaran


kuman penyebab infeksi.
3. Rasional : Untuk menghindari kontaminasi
dengan kuman penyebab infeksi.
4. Rasional : Menghambat perkembangan
kuman sehingga tidak terjadi proses infeksi
dan mempercepat proses penyembuhan luka.

Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 22

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Payudara merupakan modifikasi kelenjar keringat. Berasal dari penebalan epidermis
pada permukaan ventral tubuh mudigah berusia 6 minggu. Pada transmitter kedua
kehidupan janin , gencel dari stratum basalis epidermis tumbuh ke bawah dan menjadi
duktus utama, mula-mula padat lalu berlumen sehingga terbentuk duktus akan menjadi
putting dan areola. Pada wanita pertumbuhan payudara terus berjalan.
Kanker payudara merupakan kanker berasal dari kelenjar, saluran kelenjar dan
jaringan penunjang payudara. Ketika sejumlah sel di dalam payudara tumbuh dan
berkembang dengan tidak terkendali inilah yang disebut kanker payudara. Kumpulan
besar dari jaringan yang tidak terkontrol ini disebut tumor atau benjolan. Akan tetapi
tidak semua tumor adalah kanker, karena sifatnya yang tidak menyebar ke seluruh tubuh.
Tumor yang menyebar ke seluruh tubuh dan jaringan sekitar disebut kanker/ tumor ganas.
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk bejolan di payudara. Jika
benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar
(metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah
bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa
bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. Kanker payudara adalah
pertumbuhan yang tidak normal dari sel-sel jaringan tubuh yang berubah menjadi ganas.
Masalah keperawatan yang didapat pada kanker payudara, antara lain:
1. Nyeri (kronik) berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor dan
proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf)
2. Hamabatan Mobilitas Fisik berhubungan dengan imobilisasi lengan/bahu dan nyeri
3. Ansietas berhubungan dengan Kurangnya pengetahuan tentang kondisi, prognosis,
dan serta pengobatan penyakitnya.
4. Kerusakan intergritas jaringan berhubungan dengan perubahan gangguan sirkulasi,
adanya edema, destruksi jaringan
5. Gangguan citra diri berhubungan dengan proses penyakit dan terapi penyakit
(kehilangan payudara)
6. Resiko infeksi berhubungan dengan factor resiko

kulit rusak, prosedur invasif,

lamanya penyembuhan luka bedah

Gangguan Payudara
Kelompok 3 (Kls A-2, Sem.V) | 23