Anda di halaman 1dari 28

Tugas Makalah

TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


SEDIAAN MATA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK II FARMASI A
1
2
3
4
5
6
7
8

RISKA ZAIN
BESSE DASRIAH RIVAI
NURWINDA EKA SYAPUTRI
ANDI TRY RESTI FAUZIAH SAHIB
NURJAYANTI
MUH. ABDULLABIB FADULLAH
ARDITYA NOOR
PRATIWI NINGSI

(70100113043)
(70100113061)
(70100113071)
(70100113073)
(70100113087)
(70100113093)
(70100113097)
(70100113103)

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
SAMATA-GOWA
2016

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah sediaan steril tentang sediaan pada mata.
Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang sediaan steril pada
mata ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap setiap orang yang
membacanya.
Samata, Maret 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar

Daftar Isi
A. BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang
2. Rumusan Masalah
3. Tujuan
B. BAB II PEMBAHASAN
1. Anatomi dan Fisiologi Mata
2. Struktur dan Fisiologi Mata
3. Pengertian sediaan mata
4. Syarat-syarat sediaan mata
5. Keuntungan dan kerugian sediaan mata
6. Sifat-sifat sediaan mata
7. Jenis sediaan mata
8. Hal yang harus diperhatikan dalam proses pembuatan sediaan
9. Factor yang mempengaruhi ketersediaan
10. Pemetrasi sediaan mata
11. Evaluasi
12. Pengemasan
C. BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mata merupakan organ yang peka dan penting dalam kehidupan, terletak
dalam lingkaran bertulang yang berfungsi untuk memberi perlindungan
maksimal sebagai pertahanan yang baik dan kokoh. Mata mempunyai
pertahanan terhadap infeksi, karena sekret mata mengandung enzim lisozim
yang dapat menyebabkan lisis.
Dalam pengobatan berbagai penyakit dan kondisi pada mata, ada
beberapa bentuk sediaan pada obat mata, dimana masing-masing obat mata

tersebut memiliki mekanisme kerja tertentu. Salah satunya bentuk sediaan


obatnya adalah tetes mata.
Sediaan mata digunakan pada mata utuh atau terluka menghasilkan efek
diagnostic dan terapeutik local untuk merealisasikan kerja farmakologis yang
terjadi setelah berlangsungnya penetrasi bahan obat dalam jarigan yang
umumnya terdapat disekitar mata. Sediaan mata meliputi tetes mata, salep
mata, pencuci mata dan beberapa bentuk pemakaian yang khusus (lamella dan
penyemprot mata) serta inserte sebagai bentuk depo.
Obat tetes mata adalah sediaan steril berupa larutan atau suspensi yang
digunakan dengan meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak
dan bola mata. Persyaratan tetes mata antara lain: steril, jernih, tonisitas,
sebaiknya sebanding dengan NaCl 0,9 %. Larutan obat mata mempunyai pH
yang sama dengan air mata yaitu 4,4 dan bebas partikel asing. Penggunaan
tetes mata pada etiketnya, tidak boleh digunakan lebih dari satu bulan setelah
tutup dibuka, karena penggunaan dengan tutup terbuka kemungkinan terjadi
kontaminasi dengan bebas.
Selain obat tetes mata digunakan untuk mengobati berbagai penyakit dan
kondisi

pada

mata,

dapat

juga

digunakan

untuk

menghilangkan

ketidaknyamanan pada mata.


Menurut khasiatnya, obat mata dikenal antara lain sebagai anestetik
topikal, anestetik lokal untuk suntikan, midriatik & sikloplegik, obat-obat
yang dipakai dalam pengobatan glaukoma, kortikosteroid topikal, campuran
kortikosteroid & obat anti-infeksi, obat-obat lain yang dipakai dalam
pengobatan konjungtivitis alergika, dan obat mata anti-infeksi. Sediaan
pengobatan dapat berupa larutan dan suspensi dengan cara meneteskannya
pada mata (Vaughan & Asbury, 2010). Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa tetes mata (oculoguttae) merupakan cara pemberian obat pada mata
yang dapat digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata
dengan cara mendilatasi pupil, untuk mengukur refraksi lensa dengan cara
melemahkan otot lensa, kemudian juga dapat digunakan untuk menghilangkan
iritasi mata.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah sediaan mata yaitu :
1. Apakah definisi dari sediaan mata?
2. Hal-hal apa sajakah yang harus diketahui mengenai sediaan mata?
3. Bagaimana cara melakukan pengobatan pada mata?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari sediaan mata.
2. Untuk mengetahui hal-hal yang harus diketahui mengenai sediaan pada
mata.
3. Untuk mengetahui cara melakukan pengobatan pada mata

BAB II
PEMBAHASAN

A. Anatomi dan Fisiologi Mata


Mata adalah organ sensorik, rentan terhadap berbagai penyakit yang
berasal dari sistemik, seperti diabetes atau hipertensi, atau glaukoma, katarak
dan degenerasi makula. Selain itu, karena mata terletak pada permukaan tubuh,
juga mudah terluka dan terinfeksi.
Menurut lokasi penyakit, gangguan mata dikelompokkan sebagai
periokular dan intraocular kondisi. Penyakit periokular meliputi:

Blepharitis
Infeksi struktur penutup (biasanya Staphylococcus aureus) bersamaan
dengan seborrhea, rosacea, mata kering dan kelainan kelenjar meibomein

dan sekresi lipid.


Conjunctivitis

Kondisi dimana mata memerah dan adanya sensasi benda asing. Ada
banyak penyebab konjungtivitis, tapi sebagian besar adalah hasil dari
infeksi akut atau alergi. Konjungtivitis bakteri adalah infeksi mata yang

paling umum.
Keratitis
Kondisi di mana pasien mengalami penurunan penglihatan, sakit mata,
mata merah, dan sering kornea buram. Keratitis terutama disebabkan oleh

bakteri, virus, jamur, protozoa dan parasit.


Trachoma
Disebabkan oleh organisme Chalmydia trachomatis; itu adalah penyebab

paling umum kebutaan di Afrika Utara dan Timur Tengah.


Dry eye
Komposisi air mata berubah, atau volume air mata yang dihasilkan tidak
memadai, sehingga gejala mata kering akan timbul. Kondisi mata kering
tidak

hanya

menyebabkan

ketidaknyamanan,

tetapi

juga

dapat

mengakibatkan kerusakan kornea.


Penyakit periokular seperti ini relatif mudah diobati dengan
menggunakan formulasi topikal. Kondisi intraokular lebih sulit untuk
diobati dan termasuk infeksi intraokuler: infeksi yaitu di mata bagian
dalam, termasuk aqueous humor, iris, humor vitreous dan retina. Hal itu
dapat terjadi setelah operasi mata, trauma atau karena penyebab endogen.
Infeksi tersebut membawa risiko tinggi untuk kerusakan mata dan juga
kemungkinan penyebaran infeksi dari mata ke otak. Sebuah penyakit
intraokular umum adalah glaukoma, dianggap sebagai salah satu masalah
klinis mata terbesar di dunia. Lebih dari 2% dari populasi di atas usia 40
memiliki penyakit ini, di mana tekanan intraokular meningkat (IOP) lebih
besar dari 22 mmHg, sehingga pada akhirnya aliran darah ke retina
berubah dan menyebabkan kematian saraf optik perifer. Proses ini
mengakibatkan hilangnya jarak pandang dan berakhir pada kebutaan.
Baru-baru ini, dokter lebih mengenal kondisi tersebut sebagai glaukoma
normotensif. Sekitar 20% dari pasien glaukoma memiliki tekanan
intraokular normal dan pada pasien ini penyakit mungkin disebabkan dari
spasme pasokan arteri.

Gangguan pada posterior mata sangat sulit untuk di obati.


Mekanisme pembersihan yang efisien di depan mata mengurangi
konsentrasi obat dan dapat menyebar ke bagian belakang mata. Banyak
dari gangguan ini adalah kondisi kronis, membutuhkan terapi terus
menerus. Penyakit dari bagian belakang mata meliputi: retinits
Cytomeaglovirus (CMVR), proliferatif vitreoretinopathy (PVR), retinopati
diabetes, degenerasi makula usia dinilai, endophthalmitis dan retinitis
pigmentosa.

B. Struktur dan Fisiologi Mata


1. Kornea
Kornea adalah struktur lima-lapis, yang terdiri dari epitel (lapisan
superfisial), membran Bowman, stroma, membran Descemet dan
endotelium, seperti yang ditunjukkan pada Gambar.
Epithelium

Epitel dibangun dari beberapa lapisan sel dan sekitar 10%


dari total ketebalan kornea pada manusia, dan proporsi yang sama
di banyak spesies mamalia lainnya. Ada 5 lapisan dalam pria
dengan ketebalan 50-100 mm, yang mirip dengan kelinci, namun
jumlah lapisan meningkat di kornea paling tebal sampai 10, seperti
pada kornea sapi. Ini merupakan jaringan hidrofobik dan
memberikan kontribusi 90% dari penghalang terhadap obat
hidrofilik dan 10% untuk obat hidrofobik.
Membran Bowman
Pada manusia sebagai lembaran tipis homogen dengan
ketebalan 8-14 mm. Mata kelinci tidak memiliki lapisan ini. Ini

bukan membran elastis dan tidak beregenerasi ketika hancur.


Lapisan ini tidak dianggap sebagai penghalang untuk penyerapan
obat di kornea.
Stroma
Mewakili sekitar 90% dari ketebalan kornea pada mamalia
dan terdiri dari jaringan ikat yang dimodifikasi; 70-80% dari berat
basah air, dan 20-25% dari berat kering kolagen, protein dan
mucopolysaccharides lainnya. Stroma adalah penghalang utama
untuk obat yang sangat lipofilik.
Membran Descemet
Ini adalah membran yang kuat, homogen dan sangat tahan.
Tebalnya sekitar 6 m. Membran ini dapat meregenerasi ketika
rusak.
Endothelium
Merupakan satu lapisan sel epitel seperti saling bertautan
dengan bergantian, permukaan berputar, yang benar-benar meliputi
permukaan posterior kornea. Persimpangan kesenjangan ada di
antara sel-sel yang berdekatan memungkinkan perembesan
berbagai zat. Endotelium tidak memiliki nilai penentu sebagai
permeabilitas adalah 200 kali atau lebih lebih besar dari epitel.
Lapisan ini merumahkan pompa Na+ / K+ ATPase yang
bergantung-bikarbonat, dan beroperasi pada tingkat yang konstan
untuk mengontrol keseimbangan antara gerakan pasif air ke stroma
dan gerakan aktif cairan itu, bertanggung jawab untuk menjaga
transparansi kornea dan ketebalan kornea konstan. Jika pompa
aktif rusak atau kehabisan bikarbonat yang dilemahkan oleh
inhibitor

karbonat

anhidrase,

stroma

akan

menyerap

air,

membengkak dan menjadi buram, sehingga terjadi penebalan dan


kekeruhan kornea. Perubahan ketebalan kornea mempengaruhi
penyerapan obat.
2. Lapisan air mata

Protein terlarut dalam cairan lakrimal mempengaruhi viskositas


air mata manusia, yang berkisar 1,3-5,9 cps dengan nilai rata-rata 2,92
cps. Air mata memiliki karakter pseudoplastic dengan nilai sekitar 32
cps pada 33 C. Selama sekejap bergerak tutup dengan kecepatan
tinggi dan film ini bergeser ke tingkat tinggi sekitar 10,000-40,000.
C. Pengertian Sediaan Mata
Menurut FI IV halaman 12: Larutan obat mata adalah larutan steril,
bebas partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas sedemikian
rupa hingga sesuai digunakan pada mata. Pembuatan larutan obat mata
membutuhkan perhatian khusus dalam hal toksisitas bahan obat, nilai
isotonisitas, kebutuhan akan dapar, kebutuhan akan pengawet (dan jika perlu
pemilihan pengawet) sterilisasi dan kemasan yang tepat. Perhatian yang sama
juga dilakukan untuk sediaan hidung dan telinga.
Menurut FI III halaman 10: Tetes mata adalah sediaan steril yang
berupa larutan atau suspensi yang digunaka dengan cara meneteskan obat pada
selaput lendir mata disekitar kelopak mata dari bola mata.
Menurut RPS halaman 850: Sediaan mata merupakan bentuk sediaan
khusus yang didesain untuk digunakan pada permukaan luar mata (topical)
digunakan pada (intraocular) atau (periocular seperti sclera atau subtenon)
kedalam mata, orusedin atau digunakan pada conjungtiva dengan alat khusus
untuk mata.
Menurut Pdf. SediaanMata: Sediaan obat mata adalah sediaan steril
berupa salep, larutan atau suspensi, digunakan untuk mata dengan jalan
meneteskan, mengoleskan pada selaput lendir mata di sekitar kelopak mata dan
bola mata.
Menurut DOM Martin: Tetes mata adalah seringkali dimasukkan ke
dalam mata yang terluka atau kecelakaan atau pembedahan dan mereka
kemudian secara potensial lebih berbahaya daripada injeksi intavena.
Menurut Scovilles: Larutan mata merupakan cairan steril atau larutan
berminyak dari alkaloid garam-garam alkaloid, antibotik atau bahan-bahan lain
yang ditujukan untuk dimasukkan ke dalam mata. Ketika cairan, larutan harus
isotonik, larutan mata digunakan untuk antibakterial, anstetik, midriatikum,

miotik atau maksud diagnosa. Larutan ini disebut juga tetes mata dan collyria
(singular collyrium).
Menurut Parrot: Larutan mata (colluria) Obat yang dimasukkan ke
dalam mata harus diformulasi dan disiapkan dengan pertimbangan yang
diberikan untuk tonisitas, pH, stabilitas, viskositas dan sterilisasi. Sterilisasi ini
diinginkan karena kornea dan jaringan bening ruang anterior adalah media
yang bagus untuk mikroorganisme dan masuknya larutan mata yang
terkontaminasi ke dalam mata yang trauma karena kecelakaan atau
pembedahan dapat menyebabkan kehilangan penglihatan.
Menurut Ansel: Dengan definisi resmi larutan untuk mata adalah
larutan steril yang dicampur dan dikemas untuk dimasukkan dalam mata.
Selain steril preparat tersebut memerlukan pertimbangan yang cermat terhadap
faktor-faktor farmasi seperti kebutuhan bahan antimikroba, isotonisitas, dapar,
viskositas dan pengemasan yang cocok.
D. Syarat- Syarat Sediaan Mata
1. Sterilisasi
Ia seharusnya steril ketika dihasilkan.
2. Kejernihan
Larutan mata adalah dengan definisi bebas dari partikel asing dan jernih
secara normal diperoleh dengan filtrasi, pentingnya peralatan filtrasi dan
tercuci baik sehingga bahan-bahan partikulat tidak dikontribusikan untuk
larutan dengan desain peralatan untuk menghilangkannya.Pengerjaan
penampilan dalam lingkungan bersih.
a. Penggunaan Laminar Air Flow dan harus tidak tertumpahkan akan
memberikan kebersamaan untuk penyiapan larutan jernih bebas
partikel asing. Dalam beberapa permasalahan, kejernihan dan streilitas
dilakukan dalam langkah filtrasi yang sama. Ini penting untuk
menyadari bahwa larutan jernih sama fungsinya untuk pembersihan
wadah dan tutup. Keduanya, wadah dan tutup harus bersih, steril dan
tidak tertumpahkan.Wadah dan tutup tidak membawa partikel dalam
larutan selama kontak lama sepanjang penyimpanan. Normalnya
dilakukan test sterilitas.
3. Preservatif

Ia seharusnya mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah


pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan
selama penggunaan. Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis
dengan sekresi lakrimal konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk
obat khusus, dan idelanya tidak terlalu jauh dari netral
4. Stabilitas Kemasan
Ia seharusnya stabil secara kimia. Sediaan untuk mata terdiri dari
bermacan-macam tipe produk yang berbeda. Sediaan ini basa berupa
larutan (tetes mata/pencuci mata), suspensi/salep. Kadang-kadang injeksi
mata digunakan dalam kasus khusus. Sediaan mata sama dengan sediaan
steril lainnya yaitu harus steril dan bebas dari bahan partikulat. Dengan
pengecualian jumlah tertentu dari injeksi mata, sediaan untuk mata adalah
bentuk sediaan topical yang digunakan untuk efek local dan karena itu
tidak perlu untuk bebas pirogen.
5. Tonisitas
Tonisitas berarti tekanan yang diberikan oleh garam-garam dalam larutan
berair, larutan mata adalah isotonik dengan larutan lain ketika
magnefudosifat

koligatif

larutan

adalah

sama.

larutan

mata

dipertimbangkan isotonik ketika tonisitasnya sama dengan 0,9% laritan Na


Cl. Sebenarnya mata lebih toleran terhadap variasi tonisitas daripada suatu
waktu yang diusulkan. Maka biasanya dapat mentoleransi larutan sama
untuk range 0,5%-1,8% NaCl. Memberikan pilihan, isotonisitas selalu
dikehendaki dan khususnya penting dalam larutan intraokuler. Namun
demikian,

ini

tidak

dibutuhkan

ketika

total

stabilitas

produk

dipertimbangkan.
6. Viskositas
USP mengizinkan penggunaan bahan pengkhelat viskositas untuk
memperpanjang lama kontak dalam mata dan untuk absorpsi obat dan
aktivitasnya.Bahan-bahan seperti metilselulosa, polivinil alkohol dan
hidroksi metil selulosa ditambahkan secara berkala untuk meningkatkan
viskositas.Para peneliti telah mempelajari efek peningkatan viskositas
dalam waktu kontak dalam mata.umumnya viskositas meningkat 25-50
cps range yang signifikan meningkat lama kontak dalam mata.

7. Tambahan (Additives)
Penggunaan bahan tambahan dalam larutan mata diperbolehkan, namun
demikian pemilihan dalam jumlah tertentu. Antioksidan, khususnya
Natrium Bisulfat atau metabisulfat, digunakan dengan konsentrasi sampai
0,3%, khususnya dalam larutan yang mengandung garam epinefrin.
Antioksidan lain seperti asam askorbat atau asetilsistein juga digunakan.
Antioksidan berefek sebagai penstabil untuk meminimalkan oksidasi
epinefrin.
8. pH
Idealnya, sediaan mata sebaiknya pada pH yang ekuivalen dengan cairan
mata yaitu 7,4. Dalam prakteknya, ini jarang dicapai. mayoritas bahan
aktif dalam optalmologi adalah garam basa lemah dan paling stabil pada
pH asam. ini umumnya dapat dibuat dalam suspensi kortikosteroid tidak
larut suspensi biasanya paling stabil pada pH asam.
pH optimum umumnya menginginkan kompromi pada formulator.
pH diseleksi jadi optimum untuk kestabilan. Sistem buffer diseleksi agar
mempunyai kapsitas adekuat untuk memperoleh pH dengan range
stabilitas untuk durasi umur produk. kapasitas buffer adalah kunci utama,
situasi ini.
E. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Mata
Keuntungan dan kerugian sediaan mata
Salep mata
Keuntungan
1. Dapat memberikan bioavaibilitas lebih besar dari pada sediaan larutan
dalam air yang ekuivalen
2. Waktu kontak yang lebih lama sehingga jumlah obat yang diabsorbsi lebih
tinggi
Kerugian
1. Dapat mengganggu penglihatan kecuali digunakan pada saat akan tidur
2. Dari tempat kerjanya yaitu bekerja pada kelopak mata, kelenjar sebasea,
konjungtiva, kornea dan iris.
3. Onset dan waktu puncak absorbsi yang lebih lama
4. Cenderung membentuk lapisan pada mata dan menyebabkan masalahmasalah pencampuran antara pembawa salep dengan cairan mata.

5. Kaburnya pandangan yang terjadi begitu dasar salep meleleh dan


menyebar melalui lensa mata.
Tetes mata
Keuntungan
1. Lebih stabil
2. Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan
Kerugian
1. Waktu kontak yang relatif singkat antara obat dengan permukaan yang
terabsorpsi
2. Bioavaibilitas obat mata diakui buruk jika larutannya digunakan secara
topical untuk kebanyakan obat kurang dari 1-3% dari dosis yang
dimasukkan melewati kornea. Sampai ke ruang anterior. Karena
bioavaibilitas obat sangat lambat, hendaknya pasien mematuhi antara dan
teknik pemakaian yang tepat.
F.

Sifat-Sifat Sediaan Mata


1. Tetes mata
a. Harus steril ketika dihasilkan
b. Bebas dari partikel-partikel asing
c. Bebas dari efek mengiritasi
d. Harus mengandung pengawet

yang

cocok

untuk

mencegah

pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang


dihasilkan selama penggunaan.
e. Harus stebil secara kimia
2. Salep mata
a. Stabil
b. Lunak
c. Mudah digunakan
d. Protektif
e. Homogen
G. Jenis Sediaan Mata
1. Larutan steril Tetes mata
Syarat:
a. Steril
b. Isotonis
c. Isohidris
d. Jernih
e. Bebas Partikel asing dan irritant

Faktor yang paling penting dipertimbangkan ketika menyiapkan


larutan mata adalah tonisitas, pH, stabilitas, viskositas, seleksi pengawet
dan sterilisasi. Sayang sekali, yang paling penting dari itu dalah sterilitas
yang telah menerima sifat/perhatian dan farmasis dan ahli mata.
Adapun cara pembuatan tetes mata kecuali dinyatakan lain
digunakan salah satu cara sebagai berikut:
a. Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa yang mengandung salah
satu zat pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang cocok dan
larutan dijernihkan dengan penyaringan, masukkan ke dalam wadah,
tutup wadah dan sterilkan dengan cara sterilisasi pemanasan dengan
otoklaf.
b. Obat dilarutkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandung
salah satu zat pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang cocok
dan larutan disterilkan dengan cara penyaringan melalui penyaring
bakteri steril, diisikan ke dalam wadah akhir yang steril kemudian
ditutup kedap menurut tehnik aseptic.
c. Obat dilanitkan kedalam cairan pembawa berair yang mengandung
salah satu zat pengawet tersebut atau zat pengawet lain yang cocok
dan larutan dijernihkan dengan penyaringan, masukkan ke dalam
wadah, tutup wadah dan sterilkan dengan cara pemanasan dengan
bakterisida (sterilisasi cara B yang tertera pada FI edisi lll).
Cara penggunaan (RPS 18 th : 1584).
a. Cuci tangan
b. Dengan satu tangan, tarik perlahan-lahan kelopak mata bagian bawah
c. Jika penetesnya terpisah, tekan bola karetnya sekali ketika penetes
dimasukkan ke dalam botol untuk membawa larutan ke dalam penetes
d. Tempatkan penetes di atas mata, teteskan obat ke dalam kelopak mata
bagian bawah sambil melihat ke atas jangan menyentuhkan penetes
pada mata atau jari.
e. Lepaskan kelopak mata, coba untuk menjaga mata tetap terbuka dan
jangan berkedip paling kurang 30 detik.
2. Gel Steril Mata (Remington)

Sediaan gel mata biasanya menggunakan basis air, yang


mengandung sistem polimer dengan tingkat viskositas larutan rendah,
dan gel dapat berkontak/ bercampur dengan air mata. Pembuatan gel
darai larutan harus memperhatiakan dengan mengubah suhu, pH,
peningkat ion atau kandungan protein dalam air mata.
3. Salep Mata
Syarat :
a. Steril (cara aseptik atau sterilisasi akhir)
b. Tidak mengandung partikel kasar
c. Dasar salep tidak mengiritasi mata,mudah berdifusi atas bantuan
cairan air mata, melebur pada suhu tubuh
d. Wadah berupa tube yang dapat disterilkan,dengan mulut tube
menyempit
Salep mata merupakan sediaan salep steril yang penggunaannya
pada mata, salep memiliki waktu kontak dengan mata lebih lama,
sekitar 24
Jam. Salep mata lebih kental, kontak dengan mata lama, sifat basis
harus hidrofil, harus melebur pada suhu 32,9, bahan aktif terlarut
atau tersuspensi dalam basis.
Pembuatan Salep Mata
1. Bahan aktif ditambahkan sebagai larutan steril atau sebagai serbuk
steril termikronisasi dalam basis salep mata steril.
2. Hasil akhir dimasukkan ke dalam tube steril secara aseptis
3. Sterilisasi basis salep dikerjakan secara sterilisasi kering pada suhu
120C selama 2 jam atau 150C selama 1 jam tergantung pada sifat
fisik dari basis salep yang digunakan
4. Sterilisasi tube dilakukan dalam oven pada suhu 160C selama 2
Jamt Oven.Digunakan untuk alat-alat yang tahan dengan pemanasan
dengan suhu 180oC selama 2 jam .

alat-alat

seperti gelas,

erlenmeyer, tabung reaksi, vial, tube, cawan petri, cawan porselin,


dan juga dapat mensterilkan bahan-bahan namun dengan suhu
tertentu .
5. Kedipan kelopak mata
6. Kondisi bahan aktif dalam sediaan mata, yaitu terlarut dalam basis
salep mata, tersuspensi dalam basis salep
7. Ukuran partikel bahan aktif

Cara penggunaan salep Mata


a.
b.
c.
d.

cuci tangan
Buka penutup tube
Dengan satu tangan tarik kelopak mata kebawah.
Dengan melihat keatas, tekan bagian tube untuk mengeluarkan

isinya.
e. Tutup mata dan gerakkan mata ke kanan, ke kiri, ke atas, dan
kebawah.
f. Tutup tube kembali.
8. Suspensi Obat Mata
Tujuan penggunaan
f. meningkatkan waktu kontak dengan kornea
g. memberikan kerja lepas lambat
Suspensi mata steril merupakan sediaan suspensi steril khusus yang
mengandung bahan aktif yang tersuspensi dalam sediaan dan
dengan ukuran partikel tertentu.
H. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan sediaan
1. Kecermatan dan kebersihan selama pembuatan
2. Pembuatan dikerjakan seaseptis mungkin
3. Formula yang tepat
4. Teknologi pembutan dan peralatan yang menunjang
I. Faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan
1. Faktor Fisiologis
a. Keadaan dan fungsi dari kornea dan konjungtiva, (perlukaan
epitel)
b. Ikatan molekul obat dengan protein pada air mata
c. Penguraian metabolisme obat ( oleh enzym dalam air mata
2. Faktor Fisika-kimia
a. Tonisitas
Tidak terjadi peningkatan permeabilitas epitel kornea pada
konsentrasi senyawa 0,9 10% NaCl, sedangkan pada larutan yang
hipertonis terjadi peningkatan permeabilitas
b. pH (pendaparan)
1. pH air mata normal 7.4
2. Obat memiliki aktivitas terapeutik tertinggi pada pH yang
mengandung molekul yang tak terion
3. Kekentalan
memperpanjang waktu kontak

kelompok turunan selulose


pembentukan misel
meningkatkan aksi obat (pilokarpin, kloramfenikol)
regenerasi sel epitel kornea
4. Surfaktan
menurunkan tengangan antar permukaan
meningkatkan tercampurnya obat dengan air mata
memperluas permukaan epitel kornea
meningkatkan kontak obat dengan kornea dan konjungtiva
meningkatkan penembuasan dan penyerapan obat
J. Penetrasi Sediaan Mata
Ada dua jalur untuk penyerapan mata, rute kornea dan
konjungtiva / scleral rute seperti yang ditunjukkan pada Gambar 12.3.
Penyerapan konjungtiva merupakan nonproduktif dan terdapat kerugian
tambahan dari dosis topikal.

1. Rute korneal
Rute kornea sering dianggap sebagai jalur utama untuk
penyerapan mata. Kebanyakan obat melintasi membran ini ke
dalam jaringan intraokular baik oleh difusi antarselular atau
transelular. Obat lipofilik diangkut melalui rute transelular, dan
obat-obatan hidrofilik menembus melalui jalur antarselular. Ada
sedikit bukti bahwa obat tetes mata menembus ke kompartemen
mata oleh transportasi aktif. Secara umum, penetrasi kornea
terutama diatur oleh lipofilisitas obat tetapi juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor lain, termasuk kelarutan, ukuran molekul dan bentuk,
biaya dan tingkat ionisasi.

2. Rute nonkorneal
Penyerapan rute noncorneal melibatkan penetrasi di
konjungtiva dan sclera ke dalam jaringan intraokular. Ada tiga jalur
untuk penetrasi obat di sclera:
Melalui ruang perivaskular;
Melalui media air dari mucopolysaccharides seperti gel;
Melalui ruang-ruang kosong dalam jaringan kolagen.
Rute noncorneal biasanya tidak produktif, obat menembus
permukaan luar mata limbus cornealscleral diambil dari tempat
kapiler lokal dan dipindahkan ke sirkulasi umum. Rute ini secara
umum menghalangi masuknya obat ke dalam aqueous humor, yang
akan berdampak pada pemberian obat mata.
Absorbsi rute noncorneal penting untuk senyawa hidrofilik
dengan berat molekul besar seperti timolol maleat dan gentamisin.
Rute ini juga berpotensi memfasilitasi pengangkutan peptida dan
protein, baik sebagai obat-obatan atau pembawa obat, ke situs
target dalam mata.
K. Evaluasi Sediaan
1. Uji Organoleptis

Evalusai organoleptis menggunakan panca indra, mulai dari bau, warna,


tekstur sedian, konsistensi pelaksanaan menggunakan subyek responden
( dengan kriteria tertentu ) dengan menetapkan kriterianya pengujianya
( macam dan item ), menghitung prosentase masing- masing kriteria yang
di peroleh, pengambilan keputusan dengan analisa statistik.
2. Uji pH ( FI IV hal. 1039 1040 )
Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter atau kertas indikator
universal.
Dengan pH meter : Sebelum digunakan, periksa elektroda dan jembatan
garam. Kalibrasi pH meter. Pembakuan pH meter : Bilas elektroda dan sel
beberapa kali dengan larutan uji dan isi sel dengan sedikit larutan uji. Baca
harga pH. Gunakan air bebas CO2 untuk pelarutan dengan pengenceran
larutan uji.
3. Uji kejernihan ( Lachman hal. 1355 )
Pemeriksaan dilakukan secara visual biasanya dilakukan oleh seseorang
yang memeriksa wadah bersih dari luar di bawah penerangan cahay yang
baik, terhalang terhadap refleksi ke dalam matanya, dan berlatar belakang
hitam dan putih, dengan rangkaian isi dijalankan dengan suatu aksi
memutar, harus benar-benar bebas dari partikel kecil yang dapat dilihat
dengan mata.
4. Uji keseragaman volume ( FI IV hal. 1044 )
Diletakkan pada permukaan yang rata secara sejajar lalu dilihat
keseragaman volume secara visual.
5. Uji kebocoran (lachman III hal 1354)
Tidak dilakukan untuk vial dan botol karena tutup karetnya tidak kaku
Prosedur Uji kebocoran
Letakkan ampul di dalam zat warna ( biru metilen 0,5 1% ) dalam
ruangan vakum. Tekanan atmosfer berikutnya kemudian menyebabkan zat
warna berpenetrasi ke dalam lubang, dapt dilihat setelah bagian luar ampul
dicuci untuk membersihkan zat warnanya.
6. Uji sterilitas ( FI IV hal. 855 )
Asas : larutan uji + media perbenihan, inkubasi pada 20o 25oC
Kekeruhan / pertumbuhan mikroorganisme ( tidak steril )
Metode uji :

Teknik penyaringan dengan filter membran ( dibagi menjadi 2 bagian )


lalu diinkubasi
Prosedur uji:
Inokulasi langsung ke dalam media perbenihan.
Volume tertentu spesimen ditambah volume tertentu media uji, inkubasi
selama tidak kurang dari 14 hari, kemudian amati pertumbuhan secara
visual sesering mungkin sekurang-kurangnya pada hari ke-3 atau ke-4 atau
ke-5, pada hari ke-7 atau hari ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji.
7. Penetapan kadar
Menggunakan Spektrofotometri dan Kromatografi (FI IV, 1995)
8. Uji pirogenitas
Secara biologik (Metode Seibert 1920: USP XII 1942)
Asas :
Berdasarkan peningkatan suhu badan kelinci yang telah disuntikkan
dengan larutan 10 mg/Kg BB dalam vena auricularis.
Cara :
- Setiap penurunan suhu dianggap nol
- Memenuhi syarat : tak seekor kelinci pun menunjukkan kenaikan suhu
0,5C atau lebih
- Jika ada kelinci dengan kenaikkan suhu 0,5C atau lebih, lanjutkan
dengan kelinci tambahan
- Memenuhi syarat : tidak lebih dari 3 ekor kelinci dari 8 kelinci masingmasing menunjukkan kenaikkan suhu 0,5C atau lebih dan jumlah
kenaikkan suhu maksimal 8 ekor kelinci tidak lebih dari 3,3C
8. Uji Endotoksin Bakteri
Bertujuan untuk memperkirakan kadar endotoksin bakteri yang mungkin
ada di dalam atau pada bahan uji.
Prinsip : pengujian dilakukan menggunakan limulus amebocyte lysate
(LAL). Deteksi dilakukan dengan metode turbidimetri atau kolorimetri,
penetapan titik akhir reaksi dilakukan dengan membandingkan langsung
enceran dari zat uji dengan enceran endotosin baku, dan jumlah
endotoksin dinyatakan dalam unit endotoksin (UE).
Sebelum melakukan pengujian dilakukan persiapan: Uji konfirmasi
kepekaan reaksi LAL. Uji pengambatan atau pemacuan. Pengenceran
maksimum yang absah (PMA). (Akfar PIM/2010)
L. Pengemasan

Meskipun beberapa larutan dan suuspensi obat mata koemrsial


dikemas di dalam botol berbahan gelas kecil dengan penetes berbahan
gelasa atau plastic yang terpisah, hamper seluruhnya dikemas didalam
wadah berbahan plastic yang halur dengan penetes yang telah terpasang
dan tidaka dapat diganti, jenis kemasan ini lebih disukai baik untuk
memudahkan

pemberian

maupun

untuk

melindungi

produk

dari

kontaminsai eksternal. Larutan suspensi maupun salep mata umumnya


dikemas di dalam wadah yang memuat peroduk sekitaran 2- 30 ml.
Pasien harus berhati hati dalam melindungi larutan ataupun
suspensi obat mata dari kontaminan eksternal. Jelaslah, wadah dengan
penetes yang melekat pada wadah dengan penetes yang melekat pada
wadah cenderung sedikit memperoleh kontaminasi dari udara, daripda
botol dengan tipe penutup yang meutar, yang harus dibuka secara penuh
pada saat penggunaannnya, namun setiap jenis dapat mengalami
kontaminasi udara dan melalui sentuhan yang tidak disengaja pada ujung
penetes pada mata, kelopak mata, atau permukaan lainnya.

Contoh Kemasan Eye drops yang baik


(Ansel, 2010: 583-584)

BAB III
KESIMPULAN
Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep, larutan atau
suspensi, digunakan untuk mata dengan jalan meneteskan, mengoleskan pada
selaput lendir mata disekitar kelopak mata dan bola mata.
Sediaan obat mata merupakan sediaan steril, yang terdiri dari bahan
bahan berkhasiat obat dan bahan tambahan dan membutuhkan perhatian khusus
dalam pembuatannya terutama dalam hal toksisitas bahan obat, nilai
isotonisitas, kebutuhan akan dapar, pengawet, sterilitas, serta kemasan yang
tepat.
Syarat sediaan mata antara lain Steril, Jernih, Preservatif, Stabilitas
Kemasan, Tonisitas, Viskositas, Tambahan (Additives), Ph. Dan dalam
pembuatan sediaan mata harus diperhatikan kecermatan dan kebersihan selama
pembuatan, Pembuatan dikerjakan seaseptis mungkin, Formula yang tepat dan
Teknologi pembutan serta peralatan yang menunjang.
Sediaan pada mata diberikan dengan cara tetes mata, salep mata dan
pencuci mata.

DAFTAR PUSTAKA
Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
Ditjen POM, (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV, Depkes RI, Jakarta.
Parrot, L.E., (1971), Pharmaceutical Technology Fundamental Pharmaceutics,
Burgess Publishing Co, USA.

William, Lippincot. 2005. Remington The Science and Pharmacy Practice.


Philadeelphia: Philadelphia College of Pharmacy and Science
Pdf.Sediaan_Mata
Elisa.ugm.ac.id//Sediaan_Steril_Lain
Pdf. Biofarmasetika
Ebook Drug Delivery and Targetting Ophtalmic

LAMPIRAN TAMBAHAN MATERI


1. STERILISASI
Oven
Digunakan untuk alat-alat yang tahan dengan pemanasan dengan suhu 180 oC
selama 2 jam . alat-alat seperti gelas, erlenmeyer, tabung reaksi, vial, tube, cawan
petri, cawan porselin, dan juga dapat mensterilkan bahan-bahan namun dengan
suhu tertentu .
Autoklaf
Pemanasan ini menggunakan tekanan tinggi dengan suhu 121 oC selama 15 menit .
alat-alat yang biasanya di sterilkan di autoklaf yaitu karet vial, spoit, pipet tetes,
spatel, wadah obat streil, ose.
2. PENETRASI
Tempat obat yang memungkinkan penetrasi ke dalam mata adalah kornea
dan konjugtiva Melewati kornea lebih besar dibanding dengan konjungtiva

Penetrasi pada konjungtiba akan lebih besar bila terjadi iritasi oleh bahan asing,
bahan kimia atau mekain, bila ini terjadi zat aktif bisa menmbus konjungtiva
dalam jumlah besar dan masuk ke aliran darah sehingga menimbulkan efek
sistemik yang tidak diharapkan.
Penetrasi melalui kornea akan lebih besar bila terjadi penyempitan atau
kecepatan aliran darah menurun dalam konjungtiva dengan adanya bahan
adstringens. Laju penetrasi obat melalui kornea tergantung dari beberapa faktor,
antara lain : koefisien partisis zat aktif, karena sifat dari epitel yang mengandung
lipida; sesuai dengan hukum difusi Fick Dimana jumlah obat yang berdisfusi :
Dimana :
Km = Koefisien partisi zat aktif
D
= kecepatan difusi zat aktif dalam lapisan lipida
H
= tebal membran lipid
A
= Luas permukaan
C
= konsentrasi zat aktif dalam sediaan
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penetrasi obat dari sediaan mata.
Kemampuan zat aktif untuk berpenetrasi ke dalam kornea tergantung pada :
Sifat kimia zat aktif
Formulasi sediaan
Faktor-faktor fisiologis
I. Faktor Fisiologis
Tergantung pada kondisi kornea dan konjungtiva
Bila ada luka, akibat partikel asing berupa bahan kimia atau mekanik ini
akan menaikkan permeabilitas kornea dan konjungtiva menurunkan
jumlah obat yang berpenetrasi
Adanya protein dalam air mata dapat mengikat zat aktif tertentu
kecepatan penetrasi zat aktif tersebut menurun.
II. Faktor-faktor Fisikokimia
Karakteristik sifat fisikokimia, formula dan tekhnik pembuatan obat mata
mempengaruhiketersediaan hayati zat aktif
Sifat-sifat tersebut akakn :
Mempengaruhi tleransi mata pada obat
Meningkatkan pengeluaran aira mata
Mempengaruhi permeabilitas kornea dan konjungtiva

Tonisitas

Tonisitas air mata tekanan 0,93% b/v NaCl dalam air tidak menyebabkab
rasa sakit dan mengiritasi
Hipertonisitas untuk obat mata yang dapat diterima 1,5% NaCl. Bila zat aktif
dilarutkan dalam NaCl 0,8 0,9% konsentrasi zat aktif yang dikandung
tidak akan melebihi 1,5%NaCl
Pengenceran yang cepat oleh air mata dapat mengurangi resiko iritasi
0,9 1,0% tidak mempengaruhi permeabilitas dari kornea dan konjungtiva
Tetapi larutan zat aktif dalam pembawa larutan NaCl akan berpengaruh
terhadap kecepatan penetrasi zat aktif. Karena NaCl yang hipertonis akan
meningkatkan koefisien partisi zat aktif
Untuk larutan hipotonis akan mempengaruhi permeabilitas kornea &
konjungtiva. Dan pengaruh yang kecil terhadap zat aktif.
Peranan pH
Dari sudut fisiologis pH ideal obat tetes mata adalah 7,4 7,65 sangat
jarang zat aktif yang stabil pada pH tersebut .
Didahulukan pHstabilitas zat aktif dalam batasan pHterbaik yang dapat
diterima oleh mata
Larutan dapar isotonik pada pH 7,4 9,6 tidak mengiritasi mata
Cairan lakrimal mempunyai sistem dapar 7,4 yaitu dapat mengubah
dengan cepat derajat keasaman sediaan dengan pH 3,4 -10,5. Dengan
kapasitas dapar rendah ke pH yang dapat diterima yaitu sekitar 7,4.
Penetrasi zat aktif tergantung pada bilangan koefien partisi, semakin besar
Km maka kecepatan penetrasi zat aktif semakin tinggi.
Tetes mata garam alkaloid pada pH 3,5. pH ini akan menjamin stabilitas
zat aktif tersebut. Tetapi pada pH 3,5 ini zat aktif berada dalam bentuk
terionisasi sehingga Km nya sangat rendah.
o Saat pemakaian pH sediaan 3,5 berubah dengan adanya cairan lakrimal
berubah ke pH air mata. Kecepatan perubahan tergantung pada
kapasitas dapar yang terdapat dalam sediaan, bila kapasistas dapar
tinggi akan lambat atau sukar
o Dipilih dapar fosfat atau dapar borat untuk pembawa tetes mata.
o Yang terbaik digunakan dapar yang telah dimodifikasi dengan
penambahan NaCl yang berfungsi untuk menurunkan kapasitas dapart
o Dapar fosfat yang telah dimodifikasi ada pada FI III
dan dapar borat. digunakan dapar yang telah dimodifikasi oleh palitzch
yang terdapat dalam the Arts of Compounding dari Jenkin Cs.
Peranan konsentrasi bahan aktif
Zat aktif berpenetrasi ke dalam kornea dengan cara difusi pasif Hukum
Fick jumlah yang berpentrasi tergantung pada konsentrasi.
Bila 1 tetes obat tetes mata bervolume 0,05 ml sampai 0.075 ml dan
diencerkan oleh air mata 0,01 ml
Untuk garam-garam alkaloid, sistem pengenceran penting untuk
perubahan pH meningkatkan Km.

Untuk zat aktif yang mengiritasi mata, zat aktif akan keluar dengan air
mata penetrasi tidak terjadi.
Pemakaian obat tetes mata seperlunya saja. Karena berlebihan disamping
menyebabkan iritasi juga akan memperlabat perubahan pH ke 7,4.
Pengaruh Kekentalan
Tujuan penambahan zatpengental pada tetes mata :
a. Sebagai air mata buatan
b. Sebagai bahan pelicin untuk lensa kontak
c. Untuk meningkatkan kekentalan larutan agar waktu kontak sediaan dengan
kornea semakin lama Semakin tinggi jumlah zat aktif yang bisa
terpenetrasi meninggikan tercapainya harapan efek terapi
Bahan pengental senyawa makromolekul seperti metil selulosa, akan
menjerat zat aktif. Sehingga konsentrasi zat aktif yang bisa terpentrasi
berkurang.
Pemilihan zat pengental harus positif terhadap ketersediaan hayati
zat aktif
Pada penambahan metil selulosa adanya penigkatan efek midriasis dalam
kolirium homatripon atau efek miosis dari pilokarpin dengan penambahan
pengental yang sama
Kekentalan optimal larut dalam air 25 55 cPc
Selain metil cellulosa dapakai hidroksi metil selulosa dan hidroksi etil
selulosa.
Natrium Karboksi Metil Selulosa jarang digunakan karena tidak
tahan terhadap elektrolit (kekentalan menurun) kadang tidak
tercampurkan dengan zat aktif.
Polivinil alkohol bahan penyusun air mata buatan dan larutan pelincir
untuk lensa kontak
Pada umunya penggunaan senyawa selulosa dapat meningkatkan
penetrasi obat tetes mata. Sama halnya pada polivinil pirolidon
dan dekstran.
Faktor-faktor lain dalam pemilihan bahan pengental
Ketahanannya waktu disterilisasi
Kemungkinan dapat disaring
Stabilitas
Ketidaktercampuran
Dll
Surfaktan
Surfaktan dalam obat tetes mata dapat memenuhi berbagai aspek :
a. Sebagai anti mikroba (surfaktan gol. Kationik, spt: Benzalkonium Klorida,
Setil Piridinium Klorida, dll

Menurunkan tegangan permukaan antara obat mata dan kornea


meningkatkan aksi terapeutik zat aktif.
c. Menigkatkan ketercampuran obat tetes mata dengan cairan lakrimal.
Meningkatkan kontak zat aktif dengan kornea dan konjungtiva sehingga
menigkatkan penembusan dan penetrasi obat
d. Surfaktan tidak boleh meningkatkan pengeluaran air mata, tidak mengiritasi
dan merusak kornea, surfaktan non ionik lebih dapat diterima dibanding
surfaktan golongan lain.
b.

3. BASIS SALEP
Contoh basis bahan lunak yaitu :
Vaselin kuning
- Massa lunak, lengket, kuning, bening, sifat ini tetap setelah zat dilebur dan
dibiarkan hingga dingin tanpa diaduk, berfluoresensi lemah. Jika dicairkan
ridak berbau, hampir tidak berasa.
Basis salep mata
Basis salep mata biasanya terdiri atas parafin cair, lanolin, dan parafin
kuning lunak (dengan perbandingan 1: 1 : 8). Lanolin digunakan untuk
memfasilitasi pencampuran air. Perbandingan parafin yang digunakan dapat
bervariasi, jika produk digunakan untuk iklim tropis dan subtropis maka parafin
padat dicampurkan , dimana suhu tinggi membuat basis terlalu lunak untuk
memberikan kenyamanan (untuk menjaga konsistensi salep). Alkohol alifatik
(setil alkohol dan stearil alkohol) dan senyawa seperti kolesterol dan beeswax
(fasa minyak) dapat ditambahkan ke dalam basis selain lanolin, untuk
memfasilitasi pencampuran air untuk menghasilkan emulsi minyak dalam air.
Batas ukuran partikel dalam salep mata yang mengandung partikel padat
terdispersi diberikan dalam BP. Standar ini dapat dipenuhi dengan mereduksi
semua padatan terdispersi menjadi serbuk yang sangat halus (< 25 m) sebelum
dicampurkan.

Absorbsi obat pada mata


Tetes mata diserap kedalam aliran darah melalui lapisan membran mukosa
pada permukaan mata, sistem pengeluaran air mata, dan hidung. Ketika
diabsorbsi pada aliran darah, tetes mata dapat menyebabkan efek samping

pada bagian tubuh lainnya. Beberapa efek samping diantaranya adalah: denyut
jantung melemah, rasa pusing, dan sakit kepala. Walaupun demikian,
umumnya obat tetes mata memiliki resiko efek samping yang lebih kecil
daripada jenis obat-obatan lain yang dikonsumsi secara oral (American
Academy of Ophthalmology, 2011).