Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

PENDEKATAN ILMU SOSIAL DALAM KESEHATAN MASYARAKAT

KELOMPOK 4
KESEHATAN MASYARAKAT INTERMEDIET
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Ashar N Putra
Endang Syarifatul Anwar
Muhadi
Najah Syamiyah
Paulina Magdalena N
Rahimul Yakin
Dwika Sari Sasoka
Tri Setyanti

1506704365
1506784914
1506704466
1506704472
1506704491
1506785085
1506704402
1406520040

DAFTAR ISI

1.

Pendahuluan...............................................................................................................................................1

2.

Pokok Bahasan...........................................................................................................................................1
2.1 Perkembangan Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Kesehatan Masyarakat................................................1
2.2 Teori Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Kesehatan Masyarakat...............................................................3
2.3 Program, Kegiatan dan Strategi Promosi Kesehatan............................................................................7
2.4 Tantangan yang Dihadapi...................................................................................................................10
2.5 Upaya yang Dilakukan.......................................................................................................................12

3.

Penutup....................................................................................................................................................13

4.

Daftar pustaka..........................................................................................................................................14

1. Pendahuluan
Manusia adalah organisme yang kompleks. Selain kompleksitas material dari tubuh sendiri, mereka
memiliki kapasitas untuk berpikir, berkomunikasi, rasional, emosi, memegang keyakinan, merawat orang lain,
dan bertindak atas lingkungan mereka di tujuan, produktif, dan merusak cara. Makhluk sosial ini
menunjukkan dimensi cerdas hidup dari sifat manusia dengan investasi pengalaman sosial dan pemahaman
budaya. Investasi ini merupakan kehadiran lingkungan sosial dalam setiap orang. Ini termasuk sentimen moral
mendefinisikan baik dan buruk pikiran, perasaan dan perilaku, ideologi termasuk agama dan sekuler
keyakinan, dan pengetahuan serta seluruh repertoar simbol budaya dan maknanya, termasuk bahasa. Peter
Berger (1964) menyatakan baik itu, 'manusia berada dalam lingkungan sosial dan lingkungan sosial berada
dalam manusia'
Ilmu sosial atau ilmu pengetahuan sosial adalah sekelompok disiplin akademis yang mempelajari
aspek-aspek

yang

berhubungan

dengan manusia dan

lingkungan

sosialnya.

Ilmu

ini

berbeda

dengan seni dan humaniora karena menekankan penggunaan metode ilmiah dalam mempelajari manusia,
termasuk metoda kuantitatif, dan kualitatif. Istilah ini juga termasuk menggambarkan penelitian dengan
cakupan yang luas dalam berbagai lapangan meliputi perilaku, dan interaksi manusia pada masa kini, dan
masa lalu.
Ilmu sosial, dalam mempelajari aspek-aspek masyarakat secara subjektif, inter-subjektif, dan objektif
atau struktural, sebelumnya dianggap kurang ilmiah bila dibanding dengan ilmu alam. Namun sekarang,
beberapa bagian dari ilmu sosial telah banyak menggunakan metoda kuantitatif. Demikian pula, pendekatan
interdisiplin, dan lintas-disiplin dalam penelitian sosial terhadap perilaku manusia serta faktor sosial, dan
lingkungan yang mempengaruhinya telah membuat banyak peneliti ilmu alam tertarik pada beberapa aspek
dalam metodologi ilmu sosial. Penggunaan metoda kuantitatif, dan kualitatif telah makin banyak
diintegrasikan dalam studi tentang tindakan manusia serta implikasi, dan konsekuensinya.
Beberapa ilmu sosial dan perilaku yang berkaitan langsung dengan kesehatan masyarakat yaitu
psikologi, sosiologi, antropologi, ilmu poliik dan kebijakan publik, ekonomi, komunikasi, demografi dan
geografi.

2. Pokok Bahasan
2.1

Perkembangan Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Kesehatan Masyarakat

2.1.1 Perkembangan di Dunia


Pendekatan ilmu sosial dalam kesehatan masyarakat telah berlangsung lama dari kebudayaan yang
paling luas yakni Babylonia, Mesir,Yunani dan Roma telah tercatat bahwa manusia telah melakukan usahausaha untuk menanggulangi masalah-masalah kesehatan dan penyakit. Pada zaman ini juga diperoleh catatan
1

bahwa telah dibangun tempat pembuangan kotoran (latrin) umum, meskipun alasan dibuatnya latrine tersebut
bukan karena kesehatan. Dibangunnya latri umum pada saat itu bukan karena tinja atau kotoran manusia dapat
menularkan penyakit tetapi tinja menimbulkan bau tak enak dan pandangan yang tidak menyedapkan.
Demikian juga masyarakat membuat sumur pada waktu itu dengan alasan bahwa minum air kali yang
mengalir sudah kotor itu terasa tidak enak, bukan karena minum air kali dapat menyebabkan penyakit.
Dari dokumen lain tercatat bahwa pada zaman Romawi kuno telah dikeluarkan suatu peraturan yang
mengharuskan masyarakat mencatatkan pembangunan rumah, melaporkan adanya binatang-binatang yang
berbahaya, dan binatang-binatang piaraan yang menimbulkan bau, dan sebagainya.
Bahkan pada waktu itu telah ada keharusan pemerintah kerajaan untuk melakukan supervisi atau
peninjauan kepada tempat-tempat minuman (public bar), warung makan, tempat-tempat prostitusi dan
sebagainya.
Bangkitnya ilmu pengetahuan pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 mempunyai dampak yang
luas terhadap segala aspek kehidupan manusia, termasuk kesehatan. Kalau pada abad-abad sebelumnya
masalah kesehatan khususnya penyakit hanya dilihat sebagai fenomena biologis dan pendekatan yang
dilakukan hanya secara biologis yang sempit, maka mulai abad ke-19 masalah kesehatan adalah masalah yang
kompleks. Oleh sebab itu pendekatan masalah kesehatan harus dilakukan secara komprehensif, multisektoral.
Pada abad ke 19 juga metode ilmu sosial digunakan untuk investigasi epidemioogi yang diawali denan
investigasi yang dilakukan oleh Jhon Snow padatahun 1845 dengan menyelidiki wabah kolera di Inggris.
Pertama dilakukan Snow adalah mencari informasi tentang keberadaan masyarakat yang terdeteksi meniggal
karena kolera. Setelah itu, Snow melakukan interview dengan anggota-anggota keluarga yang berada dilokasi
terdeteksinya distribusi wabah kolera, Snow juga menanyakan aktivitas sehari-hari meraka mulai dari makan,
bermain dan bejerja. Data yang dikumpulkannya tersebut bertujuan untk melihat polaaktivitas sehari-hari
meraka. Akhir abad ke 19 gerakan sanitasi mulai dikenal melalui upaya-upaya untuk meningkatkan gaya
hidup, kondisi lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan dari masyarakat miskin kota ke dalam masyarakat
industri.
Pada tahun 1986 Ottawa Character For Health Promotion mengidentifikasi faktor-faktor sosial
fundamental untuk menjamin hidup sehat dan sejahtera, ini menghasilkan lima rumusan strategi promosi
kesehatan, yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Mengembangkan kebijakan yang berwawasan kesehatan


Menciptakan lingkungan yang mendukung
Memperkuat gerakan masyarakat
Mengembangkan kemampuan perorangan
Menata kembali arah pelayanan kesehatan
Bangkok Charter for Health Promotion 2005 menegaskan kembali pentingnya faktor dan pendekatan

ilmu sosial dalam bidang kesehatan dan menitikberatkan kepada peran promosi kesehatan dalam
pembangunan.
2.1.2 Di Indonesia

Di Indonesia pendekatan lmu sosial dalam kesehatan masyarakat dimulai pada tahun 1925. Pada tahun
1925, Hydrich, seseorang petugas kesehatan pemerintah Belanda melakukan pengamatan terhadap tingginya
angka kematian dan kesakitan du Banyumas-Purwokerto pada waktu itu. Dari hasil pengamatan dan
analisanya tersebut dapat disimpulkan bahwa penyebab tingginya angka kematian dan kesakitan ini adalah
karena jeleknya kondisi sanitasi lingkungan. Masyarakat pada waktu itu membuang kotorannya di sembarang
tempat, dikebun, selokan, kali bahkan di pinggir jalan padahal mereka mengambil air minum juga dari kali.
Selanjutnya ia berkesimpulan bahwa kondisi sanitasi lingkungan ini disebabkan karena perilaku penduduk.
Memasuki zaman kemerdekaan, salah satu tonggak penting perkembangan kesehatan masyarakat di
Indonesia adlah diperkenalkannya Konsep Bandung (Bandung Plan) pada tahun 1951 oleh Dr. Y. Leimena dan
dr. Patahyang selanjutnya dikenal dengan Patah-Leimena. Dalam konsep ini mulai diperkenalkan bahwa
dalam pelayanan kesehatan masyarakat, spek kuratif dan preventif tidak dapat dipisahkan. Hal ini berarti
dalam mengembangkan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia kedua aspek ini tidak boleh dipisahkan, baik
di rumah sakit maupun di puskesmas.
Selanjutnya pada tahun 1965 dimulai kegiatan pengembangan masyarakat sebagai bagian dari upaya
pengembangan kesehatan masyarakat. Pada tahun 1965 ini oleh dr. Y. Sulianti didirikan Proyek Bekasi
sebagai proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembang kesehatan masyarakat pedesaan di
Indonesia, dan sebagai pusat pelatihan tenaga kesehatan. Proyek ini di samping sebagai model atau konsep
keterpaduan antara pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis, juga menekankan pada pendekatan
ini dalam pengelolaan program kesehatan.
Pada tahun 1984 Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) berdiri,sebagai salah satu upaya penggerak dan
peran serta masyarakat dalam kaitannya dengan paradigma sehat yang menyatakan bahwa:upaya kesehatan
harus mengutamakan upaya promotif dan prevetif dengan penekanan pada lingkungan dan perilaku sehat.
2.2

Teori Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Kesehatan Masyarakat


Hendrick L. Blum (1974) meyatakan bahwa derajat kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh satu

faktor saja, melainkan oleh kombinasi dari empat faktor penentu kesehatan yang dituangkan dalam teorinya
yaitu: lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan dan keturunan. Keempat faktor tersebut saling
terkait dengan beberapa faktor lain, yaitu sumber daya alam, keseimbangan ekologi, kesehatan mental, sistem
budaya, dan populasi sebagai satu kesatuan. Lingkungan mempunyai pengaruh paling besar terhadap derajat
kesehatan masyarakat.
2.2.1

Teori Perilaku Individu


Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yang disebut

rangsangan. Berarti rangasangan tertentu akan menghasilkan perlaku tertentu.perilaku individu tidak timbul
dengan sendirinya, tetapi sebagai akibat adanya rangsangan baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar
individu. Pada hakekatnya perilaku individu mencakup perilaku yang tampak dan perilaku yang tidak
tampak.perilaku yang tampak adalah perilaku yang dapat diketahui oleh orang lain tanpa menggunakan alat

bantu, sedangkan perlaku yang tidak tampak adalah perlaku yang hanya dapat dimengerti dengan
menggunakan alat atau metode tertentu.
Tiap individu adalah unik, dimana mengandung arti bahwa manusia yang satu berbeda dengan
manusia yang lain dan tidak ada dua manusia yang sama persis di muka bumi ini, walaupun ia dilahirkan
kembar. Manusia mempunyai ciri-ciri, sifat, watak, tabiat, kepribadian dan motivasi tersendiri yang
membedakannya dari manusia lainnya. Perbedaan pengalaman yang dialami individu pada masa silam dan
cita-citanya kelak dikemudian hari menentukan perilaku individu di masa kini yang berbeda-beda pula.perlaku
manusia terbentuk karena adanyakebutuhan. Menurut Maslow, manusia memiliki 5 kebutuhan dasar, yaitu
kebutuhan fisiologis, rasa aman, mencintai dan dicintai, harga diri dan aktualisasi diri.
2.2.2

Teori Sosial Kognitif


Asumsi dasar dari social cognitive theory adalah perilaku terjadi karena proses kognitif dan

interaksinya dengan orang lain serta lingkungan disekitarnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif
mempunyai empat aspek:
a. Kematangan, sebagai hasil perkembangan susunan saraf
b. Pengalaman, yaitu berhubungan tibal alik antara organisme dengan dunianya
c. Interaksi sosial, yaitu pengaruh-pengaruh yang diperoleh dalam hubungannya dengan lingkungan
sosial
d. Ekulibrasi, yaitu adanya kemampuan atau sistem mengatur dalamdiri organisme agar dia selalu
mampu mempertahankankeseimbangan dan penyesuain diri terhadap lingkungannya.
System yang mengatur dari dalammepunyai dua faktor, yaitu skema dan adaptasi. Skema
berhubungan dengan pola tingkah laku yang teratur yang diperhatikan oleh organisme yangmerupakan
akumulasi dari tingkah laku yang sederhana hingga yang kompleks sedangkan adaptasi adalah fungsi
penyesuain terhadap lingkungan yang terdiri atas proses asimilasi dan akomodasi. Ada beberapa konsepyang
erlu dimengerti agar lebih mudah memahami teori kognitif.
a. Intelegensi: suatu bentuk ekuilibrium kearah mana semua struktur yang menghasilkan persepsi,
kebiasaan dan mekanisme sensiomotor diarahkan
b. Organisasi adalah tendensi yangumum untuk semua bentuk kehidupan guna mengintegrasikan
struktur, baik yang psikis ataupun fisiologis dalam suatu sistem yang lebih tinggi
c. Skema, suatu struktur mental seseorang dimana ia secara intelektual beradaptasi dengen lingkungan
sekitarnya
d. Asimilasi, proses kognitif dimana seseorang mengintegrasikan persepsi, konsep atau pengalaman baru
2.2.3

ke dalam skema atau pola yang sudah ada dalam pikirannya.


Teori Motivasi untuk Proteksi
Teori motivasi perlindungan mengusulkan bahwa kita melindungi dirikita sendiri didasarkan pada

empat faktor: keseriusan dengen persitiwa yang mengancam, kemungkinan dirasakan kejadian atau ketentuan,
efektivitas perilaku pencegahan yang disarankan dan yang dirasakan self efficacy.
Perlindungan motivasi berasal dari kedua penilaian ancaman dan penilaian coping. Penilaian ancaman
menilai keparahan situasi dan meneliti bagaimana seriusnya situasi ini. penilaian mengatasi adalah
bagaiamana seseorang merespon situasi. Penilianan mengatasi terdiri dari kedua keberhasilan dan efektivitas
4

diri. Keberhasilan adalah harapan individu yang melaksanakan rekomendasi dapat menghapus ancaman
tersebut. Self-efficacy adalah kepercayaan dalam kemampuan seseorang untuk menjalankan program yang
direkomendasikan tindakan sukses seperti Pencegahan primer yaitu mengambil tindakan untuk memerangi
risiko mengembangkan masalah kesehatan. (Misalnya, mengendalikan berat badan untuk mencegah tekanan
darah tinggi) dan pencegahan sekunder yaitu mengambil langkah untuk mencegah kondisi menjadi lebih
buruk. (Misalnya, mengingat untuk mengambil obat setiap hari untuk mengontrol tekanan darah).
a. Mengatasi Penilaian Proses
Penilaian mengatasi terdiri dari efektivitas tanggapan, self-efficacy, dan biaya respon. Kemanjuran
Respon adalah efektivitas dari perilaku yang dianjurkan dalam menghilangkan atau mencegah bahaya
yang mungkin. Self-efficacy adalah keyakinan bahwa salah satu berhasil dapat menetapkan perilaku
yang direkomendasikan. Biaya respon adalah biaya yang berkaitan dengan perilaku yang
direkomendasikan. Jumlah mengatasi kemampuan yang satu pengalaman adalah kombinasi khasiat
respon dan efektivitas diri, minus biaya respon. Proses penilaian koping berfokus pada respon adaptif
dan kemampuan seseorang untuk mengatasi dan menangkal ancaman tersebut. Penilaian mengatasi
adalah jumlah dari penilaian dari efektivitas tanggapan dan self-efficacy, dikurangi fisik atau
psikologis "biaya" mengadopsi respon pencegahan yang direkomendasikan. Mengatasi Penilaian
melibatkan penilaian individu terhadap efektivitas respon perilaku yang direkomendasikan (yaitu
dianggap efektivitas tabir surya dalam mencegah penuaan dini) serta satu yang dirasakan self-efficacy
dalam melaksanakan tindakan yang direkomendasikan. (Yaitu keyakinan bahwa seseorang dapat
menggunakan tabir surya secara konsisten).
Ancaman dan variabel penilaian mengatasi menggabungkan dengan cara yang cukup mudah,
meskipun penekanan relatif dapat bervariasi dari satu topik ke topic yang lain dan dengan populasi
target. Dalam bukunya, "Stres, Penilaian, dan Coping," Richard Lazarus menyatakan bahwa,
"menyarankan studi untuk mengatasi bahwa gaya yang berbeda untuk mengatasi terkait dengan hasil
kesehatan tertentu; kontrol kemarahan, misalnya, telah terlibat dalam hipertensi Tiga rute. Mengatasi
dapat mempengaruhi kesehatan meliputi frekuensi, intensitas, durasi, dan pola reaksi stres
neurokimia; menggunakan zat berbahaya atau melakukan kegiatan yang menempatkan orang pada
risiko, dan menghambat kesehatan adaptif / penyakit yang berhubungan dengan perilaku
b. Khasiat Respon
Respon menyangkut keyakinan yang mengadopsi respons perilaku tertentu akan efektif dalam
mengurangi ancaman penyakit', dan self-efficacy adalah keyakinan bahwa salah satu berhasil dapat
melakukan respon coping. Sejalan dengan cara tradisional untuk mengukur konsekuensi dari perilaku,
keberhasilan respon yang dioperasionalkan dengan menghubungkan konsekuensi dengan perilaku
yang dianjurkan serta apakah subjek dianggap sebagai konsekuensi kemungkinan hasil dari perilaku
yang dianjurkan
Kotter (1996) berpendapat bahwa proses perubahan dilakukan melalui tahapan berikut:
a) Menentukan rasa urgensi, yaitu mengidentifikasi dan mempelajari situasi internal dan eksternal
yang dihadapi
b) Menciptakan koalisi pengerahan, membentuk kelompok kerja sebagai tim.
5

c) Membangun visi dan strategi, yaitu menciptakan visi untuk mengarahkan usaha perubahan dan
mengembangkan strategi untuk mencapai visi.
d) Mengkomunikasikan visi yang telah berubah. Agar dipahami dan mendapatkan dukungan
e) Pemberdayaan aksi secara luas, yaitu struktur, sistem dan mekanisme perlu diubah, disesuaikan
dengan visi
f) Membangkitkan kemenangan jangka pendek, yaitu perlu segera memberikan bukti keberhasilan
dan kemenangan.
g) Mengkonsolidasikan keuntungan dan menghasilkan perubahan lebih lanjut, dengan
menggunakan peningkatan-peningkatan kredibilitas-kredibilitas merubah semua sistem,
struktur, dan kebijakan yang tidak sesuai dengan perubahan
h) Menancapkan pendekatan baru ke dalam budaya, dengan menciptakan kinerja lebih baik
melalui pelayanan dan orientasi produktifitas
2.2.4

Sosiologi
Merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang masyarakat. Salah satu subbidang

dari sosiologi adalah sosiologi kesehatan yang menempatkan pemasalahan penyakit dan kesehatan dalam
konteks sosio budaya dan perilaku. Termasuk di dalamnya gambaran tentang teori-teori yang berhubungan
dengan distribusi penyakit dalam berbagai kelompok masyarakat; perilaku atau tindakan yang diambil oleh
individu dalam upaya meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati penyakit yang berkaitan dengan
nilai-nilai budaya dan faktor sosial yang berhubungan dengan sistem pelayanan kesehatan.
Sebagai suatu bidang yang spesifik sosiologi kesehatan diartikan pula sebagai bidang ilmu yang
menempatkan permasalahan penyakit dan kesehatan dalam konteks sosio kultural dan perilaku. Termasuk
dalam kajian bidang ini antara lain; deskripsi dan penjelasan atau teori-teori yang berhubungan
dengandistribusi penyakit dalam berbagai kelompok masyarakat; perilaku atau tindakan yang diambil oleh
individu dalam upaya menjaga atau meningkatkanserta menanggulangi keluhan sakit, penyakit dan cacat
tubuh; perilaku dan kepercayaan/ keyakinan berkaitan dengan kesehatan, penyakit, cacat tubuh, dan organisasi
serta penyedia perawatan kesehatan; organisasi dan profesi atau pekerjaan di bidang kesehatan, system
rujukan dari pelayanan perawatan kesehatan, pengobatan sebagai suatu institusi sosial dan hubungannya
dengan institusi sosial yang lainnya; nilai-nilai budaya dan masyarakat kaitannya dengan kesehatan, keluhan
sakit dan kecacatan serta peran faktor sosial dalam kaitan dengan penyakit, khususnya ketidakteraturan emosi
dan persoalan stress yang dikaitkan dengan penyakit.
2.2.5. Antropologi
Antropology adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk masyarakat.
Perhatian ilmu pengetahuan ini di tujukan pada sifat khusus badani dan cara produksi, tradisi, dan nilai nilai
yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya. Di dalam antropologi
memang terdapat banyak ilmu yang membahas tentang manusia, seperti ekologi, biologi, anatomi, psikologi,
dan sebagainya.
Menurut Hasan dan Prasad (1959), Antropologi Kesehatan adalah cabang dari ilmu mengenai manusia
yang mempelajari aspek-aspek biologi dan kebudayaan manusia (termasuk sejarahnya) dari titik tolak

pandangan untuk memahami kedokteran (medical), sejarah kedokteran (medico-historical), hukum kedokteran
(medico-legal), aspek sosial kedokteran (medico-social) dan masalah-masalah kesehatan.
2.3 Program, Kegiatan dan Strategi Promosi Kesehatan
Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya hidup mereka sehat
optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual,
dan intelektual. Ini bukan sekedar pengubahan gaya hidup saja, namun berkairan dengan pengubahan
lingkungan yang diharapkan dapat lebih mendukung dalam membuat keputusan yang sehat.
Pengubahan gaya hidup dapat difasilitasi melalui penggabungan:
a. menciptakan lingkungan yang mendukung,
b. mengubah perilaku, dan
c. meningkatkan kesadaran.
Promosi kesehatan pada tingkat ini dilakukan tindakan umum untuk menjaga keseimbangan antara
bibit penyakit-penjamu-lingkungan, sehingga dapat menguntungkan manusia dengan cara meningkatkan daya
tahan tubuh dan memperbaiki lingkungan. Tindakan ini dilakukan pada orang sehat. Adapun contohnya adalah
sebagai berikut:
a. Penyediaan makanan sehat dan cukup
b. Perbaikan hiegiene dan sanitasi lingkungan, misalnya penyediaan air bersih, pembuangan sampah,
pembuangan tinja dan limbah
c. Pendidikan kesehatan kepada masyarakat
d. Olahraga secara teratur sesuai kemampuan individu
e. Kesempatan memperoleh hiburan demi perkembangan mental dan sosial
f.

Nasihat perkawinan dan pendidikan seks yang bertanggung jawab

g. Rekreasi atau hiburan untuk perkembangan mental dan sosial


2.3.1

Program Nasional
Program-program dengan pendekatan ilmu sosial dalambidang kesehatan masyarakat yang telah

dilakukan di Indonesia antara lain sebagai berikut:


a. Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat
Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKMB) adalah salah satu wujud nyata peran serta masyarakat
dalam pembangunan kesehatan, kondisi ini ternyata mampu memacu munculnya berbagai bentuk dari UKMB
lainnya seperti Polindes, POD (Pos Obat Desa), Pos UKK (Upaya Kesehatan Kerja), TOGA (Taman Obat
Keluarga), Dana Sehat, dll.
Pemberdayaan masyarakat terhadap usaha kesehatan agar menjadi sehat sudah sesuai dengan Undangundang RI, Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, bahwa pembangunan kesehatan harus ditujukan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup masyarakat yang setinggi- tingginya, sebagai
investasi bagi pembangunan sumber daya masyarakat. Setiap orang berkewajiban ikut mewujudkan,
mempertahankan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat setinggi tingginya. Pemerintah
7

bertanggungjawab memberdayakan dan mendorong peran serta aktif masyarakat dalam segala bentuk upaya
kesehatan.
Pemberdayaan masyarakat terus diupayakan melalui pengembangan Usaha Kesehatan Bersumberdaya
Masyarakat (UKBM) yang ada di desa. Kegiatan difokuskan kepada upaya survailans berbasis masyarakat,
kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana serta penyehatan lingkungan.
Kegiatan-kegiatan UKBM di antaranya adalah:
1) Survailans berbasis masyarakat adalah pengamatan dan pencatatan penyakit yang diselenggarakan
oleh masyarakat (kader) dibantu oleh tenaga kesehatan, dengan berpedoman kepada petunjuk teknis
dari Kementerian Kesehatan.
Kegiatan-kegiatannya berupa:
a) Pengamatan dan pemantauan penyakit serta keadaan kesehatan ibu dan anak, gizi,
lingkungan, dan perilaku yang dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat,
b) Pelaporan cepat (kurang dari 24 jam) kepada petugas kesehatan untuk respon cepat,
c) Pencegahan dan penanggulangan sederhana penyakit dan masalah kesehatan, serta
d) Pelaporan kematian.
2) Kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana adalah upayaupaya yang dilakukan oleh
masyarakat dalam mencegah dan mengatasi bencana dan kedaruratan kesehatan, dengan berpedoman
kepada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Kegiatan-kegiatannya berupa:
a) Bimbingan dalam pencarian tempat yang aman untuk mengungsi,
b) Promosi kesehatan dan bimbingan mengatasi masalah kesehatan akibat bencana dan
mencegah faktor-faktor penyebab masalah,
c) Bantuan/fasilitasi pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar (air bersih, jamban,
pembuangan sampah/limbah, dan lain-lain) di tempat pengungsian,
d) Penyediaan relawan yang bersedia menjadi donor darah, dan
e) Pelayanan kesehatan bagi pengungsi.
3) Penyehatan lingkungan adalah upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat untuk menciptakan dan
memelihara lingkungan desa/kelurahan dan permukiman agar terhindar dari penyakit dan masalah
kesehatan, dengan berpedoman kepada petunjuk teknis dari Kementerian Kesehatan. Kegiatankegiatannya berupa:
a) Promosi tentang pentingnya sanitasi dasar,
b) Bantuan/fasilitasi pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar (air bersih, jamban,
pembuangan sampah dan limbah, dan lain-lain), dan
c) Bantuan/fasilitasi upaya pencegahan pencemaran lingkungan.

2.3.2

Desa Siaga
Desa siaga menurut Keputusan Meneteri Kesehatan Nomot 564 tahun 2006 adalah desa yang

memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan
(bencana dan kegawatdaruratan kesehatan) secara mandiri.

Pengembangan desa dan keluarahan siaga aktif yang telah ditetapkan dalam keputusan Menteri
Kesehatan Nomor 1529/Menkes/SK/X/2010 dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat, yaitu upaya
memfasilitasi proses belajar masyarakat desadan kelurahan dalam memecahkan masalah-masalah
kesehatannya. Meliputi 3 komponen pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif:
a. Akses layanan kesehatan dasar
b. Pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat
c. Perilaku hidup bersih dan sehat
Desa siaga aktif merupakan pengembangan dari desa siaga, yaitu desa atau kelurahan yang:
a. Penduduknya dapat mengakses dengan mudah pelayanan kesehatan dasar yang memberikan
pelayanan setiap hari melalui Poskesdes atau sarana kesehatan yang ada di wilayah tersebut seperti
Pustu, Puskesmas, atau sarana kesehatan lainnya
b. Penduduknya mengembangkan upaya kesehatan berbasis masyarakat dan melaksanakan surveilans
berbasis masyarakat, kedaruratan kesehatan dan penanggulangan bencana, serta penyehatan
lingkungan sehingga masyarakatnya menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Tujuan umum dari program ini adalah percepatan terwujudnya masyarakat desa dankelurahan yang
peduli, tanggap dan mampu mengenali, mencegah serta mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi
secara mandiri, sehingga derajat kesehatannya meningkat dengan tujuan khusus, yaitu:
a. Mengembangkan kebijakan pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif di pemerintahan desa atau
kelurahan
b. Meningkatkan komitmen dan kerja sama semua perangkat desa atau kelurahan dan organisasi
kemasyarakatan untuk pengembangan desa dan kelurahan siaga aktif
c. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar di desa atau kelurahan
d. Mengembangkan UKBM dan melaksanakan serveilans berbasis masyarakat, penanggulangan bencana
dan kedaruratan kesehatan, serta penyehatan lingkungan
e. Meningkatkan ketersediaan sumber daya manusia, dana, maupun sumber daya lain yang berasal dari
pemerintah desa atau kelurahan, masyarakat dan swasta/dunia usaha, untuk pengembangan desa dan
kelurahan siaga aktif
f.
2.3.3

Meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat di rumah tangga


Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) menurut Keputusan Menteri Kersehatan Nomor

852/Menkes/SK/IX/2008

adalah pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui

pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Pemicuan adalah cara untuk mendorong perubahan
perilaku higiene dan sanitasi individu atau masyarakat atas kesadaran sendiri dengan menyentuh perasaan,
pola pikir, perilaku dan kebiasaan individu masyarakat. STBM

bertujuan untuk mengubah perilaku

masyarakat dalam hal stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun dengan menggunakan air
yang bersih dan mengalir serta memakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga,
pengamanan sampah rumah tangga dan pengamanan limbah cair rumah tangga.
9

2.4 Tantangan yang Dihadapi


2.4.1

Mengubah Mindset dari Paradigma Sakit Menjadi Paradigma Sehat


Paradigma sehat adalah cara pandang, pola pikir, atau model pembanguan kesehatan yang

memandang masalah kesehatan saling terkait dan mempengaruhi banyak faktor yang bersifat lintas sektoral
dengan upaya yang lebih diarahkan pada peningkatan, pemeliharaan, serta perlindungan kesehatan, tidak
hanya pada upaya penyembuhan penyakit atau pemulihan kesehatan. Paradigma sehat mengubah cara
pandang terhadap masalah kesehatan baik secara makro maupun mikro.
a. Secara makro, berarti bahwa pembangunan semua sektor harus memperhatikan dampaknya dibidang
kesehatan, minimal memberi sumbangan dalam pengembangan lingkungan dan perilaku sehat.
b. Secara makri, berarti bahwa pembangunan kesehatan harus menekankan pada upaya promotif dan
preventif, tanpa mengesampingkan upaya kuratif dan rehabilatif.
Hidup sehat adalah hak asasi manusia, artinya sehat merupakan sesuatu yang sangat esensial dalam
diri manusia yang perlu dipertahankan dan dipelihara. Sehat merupakan suatu investasi untuk kehidupan yang
produktif, bukanlah hal yang konsumtif, melainkan prasyarat agar hidup kita menjadi berarti, sejahtera dan
bahagia.
Kesehatan merupakan salah satu dari tiga faktor utama yang sangat menentukan kualitas sumber daya
manusia, disamping pendidikan dan pendapatan (ekonomi). Oleh karena itu, kualitas kesehatan perlu
dipelihara dan ditingkatkan. Paradigma sehat dikatakan sebagai suatu perubahan sikap, oritentasi atau mindset.
a. Kesehatan sebagai konsumtif di ubah menjadi pandangan bahwa kesehatan merupakan suatu investasi
karena menjamin adanya sumber daya manusia yang berproduktif secara sosial dan ekonomi.
b. Kesehatan hanya bersifat penanggulangan jangka pendek diubah menjadi pandangan bahwa
kesehatan bagian upaya pengembangan sumber daya manusia jangka panjang
c. Pelayanan kesehatan bukan hanya pelayanan medis diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan
pelayanan kesehatan paripurna, dengan memandang manusia sebagai manusia seutuhnya.
d. Pelayanan kesehatan terpecah-pecah diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan terpadu
e. Kesehatan hanya jasmani/fisik diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan mencakup mental dan
f.

sosial
Sasaran pelayanan kesehatan masyarakat umum diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan

tanggung jawab juga masyarakat swasta (private)


g. Kesehatan merupakan urusan pemerintah diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan juga menjadi
urusan swasta
h. Biaya kesehatan publik subsidi pemerintah diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan ditanggung
i.

bersama pengguna jasa.


Pembayaran biaya setelah pelayanan diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan dapat dibiayai di

muka
j. Kesehatan berfungsi sosial diubah menjadi pandangan bahwa kesehatan juga berfungsi ekonomi
k. Pengaturan secara sentralis diubah menjadi pengaturan desentralisasi
l. Peran serta masyarakat diubah menjadi kemitraan
10

2.4.2

Desentralisasi
Desemtralisasi kesehatan di Indonesia secara lebih jelas dilaksanakan setelah dikeluarkannya UU No.

22 tahun 1999, PP No. 25 tahun 2000, sertaSE Menkes No. 1107/Menkes/E/VII/2000. UU No. 22 tahun 1999
pasal 1 ayat h menyebutkan otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat (termasuk bidang kesehatan), menurut prakarsa sendiri
berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurut aturan perundang-undangan dan dalam prakteknya, desentralisasi bidang kesehatan yang ada
di indonesia menganut semua jenis desentralisasi (dekonsentrasi, devolusi, delegasi dan privatisasi). Hal ini
terlihat dari masih adanya kewenangan pemerintah pusat yang didekontrasikan di daerah propinsi melalui
Dinas Kesehatan Provinsi. Selain itu, berdasarkan SE Menkes/E/VII/2000 disebutkan beberapa tugas yang
mungkin tidak dapat dilaksanakan oleh pemerintah kabupaten/kota dapat diserahkan ke tingkat yang lebih
tinggi. Upaya privatisasi pelayanan kesehatan dan perusahaan pendukung pelayanan kesehatan juga sedang
giat dilakukan. Kandungan makna substansial dari desentralisasi adalah bagaimana menyejahterakan dan
menciptakan keadilan bagi kehidupan masyarakat di daerah (Tagela, 2001). Selanjutnya, Simangunsong
(2001). Mengatakan bahwainti dari pelaksanaan otonomi daerah adalah terdapatnya keluesan pemerintah
daerah untuk melaksanakan pemerintahan sendiri atas prakarsa, kreativitas, dan peran serta masyarakat dalam
mengembangkan dan memajukan daerahnya.
Dalam bidang kesehatan, implikasi desentralisasi pembangunan kesehatan, antara lain, adalah sebagai
berikut;
a.
b.
c.
d.

Terwujudya pembangunan kesehatan yang demokratis yang berdasarkan atas aspirasi masyarakat
Pemerataan pembangunan dan pelayanan kesehatan
Optimalisasi potensi pembanmgunankesehatan di daerah yang selama ini belum tergarap,
Memacu sikap inisiatif dan kreatif aparatur pemerintah daerah yang selama ini hanya mengacu pada

petunjuk atasan
e. Menumbuhkembangkan pola kemandirian pelayanan kesehatan (termasuk pembiayaan kesehatan)
2.4.3

tanpa mengabaikan peran serta sector lain.


Terjadinya Dehumanisasi Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan berkaitan dengan manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial,

karenanya pengetahuan tentang budaya dan masyarakat menjadi konsep dasar dalam membangun layanan
kesehatan. Perilaku seseorang terkait dengan pengetahuan, nilai, norma dan lingkungan sosialnya yang sejalan
dengan perkembangan ekonomi dan industri, perkembangan pelayanan kesehatan juga berubah menjadi
berorientasi pasar. Kalangan bisnis melihat hal tersebut sebagai peluang yang besar dalam bidang kesehatan
sehingga meningkatkan komersialisasi pelayanan terhadap masyarakat miskin terabaikan serta berujung pada
dehumanisasi pelayanan kesehatan. Perubahan-perubahan ini mempengaruhi sikap dan perilaku para petugas
kesehatan. Ditambah lagi kurangnya kemampuan petugas kesehatan dalam menghadapi masalah kesehatan
masyarakat dan perkembangan baru dalam pelayanan kesehatan.

11

2.5 Upaya yang Dilakukan


2.5.1 Mengembangkan Kebijakan yang Berwawasan Kesehatan
Gerakan pembangunan berwawasan kesehatan adalah inisiatif semua komponen bangsa dalam
menetapkan perencanaan pembangunan selalu berorientasi untuk mengedepankan upaya promotif dan
preventif pada masalah kesehatan, walaupun bukan berarti mengesampingkan kegiatan kuratif.
Melalui pengembangan kebijakan publik yang berwawasan sehat. Strategi ini mempunyai
karakteristik berupa kebijakan yang berpihak terhadap kesehatan dan kesetaraan dalam semua area kebijakan
dan trukur dampaknya terhadap kesehatan. Strategi ini memiliki tujuan untuk mendukung masyarakat untuk
hidup sehat.
2.5.2

Reorientasi Pelayanan Kesehatan


Sistem pelayanan kesehatan yang memfokuskan pada kebutuhan individu dengan melibatkan profesi

kesehatan, institusi pelayanan kesehatan dan pemerintah dan menyeimbangkan antara upaya pencegahan,
diagnosis dini, pengobatan, perawatan dan pelayanan.
2.5.2

Peningkatan Upaya Edukasi


Peningkatan upaya edukasi pada hakikatnya adalah suatu proses untuk pencapaian tujuan pendidikan

melalui peningkatan pengetahuan dan sikap untuk mencapai perubahan perilaku dan perubahan gaya hidup.
Upaya-upaya edukasi kesehatan ini dilakukan dengan beberapa metode baik secara individual, kelompok,
ataupun massa. Peningkatan upaya edukasi secara individu dilakukan dengan beberapa pendekatan misalnya
bimbingan dan penyuluhan di mana kontak antara petugas dan klien lebih intensif. Sedangkan upaya edukasi
secara kelompok dilakukan dengan penyuluhan, sosialisasi, ceramah mapun seminar.

Penutup
Ilmu sosial dan kesehatan masyarakat memliliki yang sangat erat, dimana keduanya berpusat

dimasyarakat serta mempelajari aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia dan lingkungannya. Dengan
mempelajari setiap aspek baik dari segi individu maupun masyarakat akan membantu dalam hal upaya
peningkatan kesehatan seseorang atau masyakarat.
Suatu perubahan derajat kesehatan masyarakat ditentukan bukan hanya oleh sebuah pengetahuan akan
pentingnya kebiasaan sehat, tetapi juga pemahaman dan kemauan untuk melaksanakannya. Hal tersebut
memerlukan perubahan perilaku : individu, kelompok, dan lingkungan sosial.

12

Perubahan perilaku kesehatan masyarakat erat kaitannya dengan ilmu sosial seperti psikologi,
demografi,dan lain-lain karena pada masyarakat faktor-faktor tersebut berperan dalam pembentukan pola pikir
dan kebiasaan, termasuk kebiasaan yang berhubungan dengan kesehatan. Selain itu intervensi seperti program
pemerintah juga dapat menjadi sarana yang efektif.

Daftar Pustaka

Depertemen Kesehatan RI. 2013. Data dan Informasi Pengembangan Desa dan Kelurahan Siaga

Aktif, Kelompok kerja Operasional Desa dan Kelurahan Siaga Aktif Tingkat Pusat Tahun 2013
Hassan, Khwaja Arif dan B.G. Prassad. 1959. A Note on The Contributions of Anthropology to

Medical Science. Journal of the Indian Medical Assosiation. 33: hlm 182-190.
http://id.wikipedia.org/wiki/ilmu_sosial Current Sociology 50, no. 1 (January): 135-150, diunduh

tanggal 25 oktober 2015


http://id.wikipedia.org/wiki/Promosi_Kesehatan . Di unduh tanggal 25 oktober 2015
Irianto, Koes. 2014. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung: Alfabeta
13

Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Nasional Sanitasi

Total Berbasis Masyarakat


Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 585/Menkes/SK/V?2007 tentang Pedoman Pelaksanaan

Promosi Kesehatan di Puskesmas


Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Rahayu, Nia. 2013. Konsep Pemberdayaan Masyarakat
http://niarahayu9.blogspot.co.id/2013/12/konsep-pemberdayaan-masyarakat_7602.html diunduh pada

tanggal 25 oktober 2015


Wibowo, adik dan Tim. 2014. Kesehatan Masyarakat Di Indonesia, konsep, Aplikasi dan Tantangan.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

14