Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN TUTORIAL SKENARIO VI

BLOK KURATIF DAN REHABILITATIF III


Perawatan Lesi Infeksi Virus di Rongga Mulut

Pembimbing :
drg. Hengky B. Ardhiyanto, M.D.Sc.
Disusun oleh :
Kelompok Tutorial 2
Ketua

: Alvin Ananda S.

(131610101066)

Scibber Meja

: Farah Adibah

(131610101014)

Scribber Papan

: Roni Handika

(131610101068)

Anggota :
1. Catur Putri Kinasih

(131610101005)

2. Ni Putu Yogi W.

(131610101008)

3. Eni Ilmiatin H.

(131610101010)

4. Tita Sistyaningrum

(131610101011)

5. Inda Syifa Fauzia

(131610101022)

6. Adriano Joshua

(131610101065)

7. Safira Niza U.

(131610101087)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
hidayahNya penulis dapat menyelesaikan laporan tutorial skenario 6 Blok Kuratif
dan Rehabilitatif Kedokteran Gigi III dengan baik serta tepat waktu.
Laporan tutorial ini disusun untuk melengkapi tugas tutorial dengan
didukung oleh referensi-referensi yang bisa dipertanggungjawabkan. Laporan ini
bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas dari materi tutorial.
Penulis menyusun laporan tutorial ini melalui berbagai tahap baik dari
pencarian bahan, pembahasan, belajar mandiri, dan lain-lain. Laporan ini tidak
mungkin terwujud tanpa adanya kerjasama yang baik dengan pihak-pihak yang
terlibat. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. drg. Hengky B. Ardhiyanto, M.D.Sc. sebagai tutor yang telah banyak
membantu dalam proses tutorial.
2. Teman-teman anggota tutorial 2.
Semoga laporan tutorial ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang
membacanya. Tiada gading yang tak retak, apabila ada yang kurang sempurna
dalam laporan ini, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran pembaca guna
perbaikan lebih lanjut pada masa yang akan datang.

Jember, 28 Maret 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Herpes simpleks adalah infeksi akut suatu lesi akut berupa vesikel
berkelompok di atas derah yang eritema, dapat satu atau beberapa kelompok
terutama pada atau dekat sambungan mukokutan. Herpes simpleks disebabkan
oleh Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe I atau tipr II yang dapat berlangsung
primer maupun rekurens. Herpes simpleks disebut juga fever blister, cold sore,
herpes febrilis, herpes labialis, herpes genitalis. Herpes simpleks merupakan
infeksi virus yang ditandai dengan lesi primer terlokalisir, laten dan adanya
kecendurangan untuk kambuh kembali.
Virus herpes simpleks adalah virus DNA yang dapat menyebabkan infeksi
akut pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel yang berkelompok di atas
kulit yang sembab. Ada dua tipe virus herpes simpleks yang sering
menginfeksi yaitu HSV tipe 1 yang menginfeksi daerah mulut dan waajah dan
HSV tipe 2 yang menginfeksi daerah genital dan sekitar anus.
Hampir 50%-90% orang dewasa memiliki antibodi terhadap HSV 1.
Infeksi awal HSV 1 biasanya terjadi sebelum usia 5 tahun, namun saat ini
banyak infeksi primer ditemukan terjadi pada orang dewasa. Infeksi HSV 2
biasanya dimulai karena aktivitas seksual dan jarang terjadi sebelum
menginjak dewasa, kecuali kalau terjadi pelecehan seksual pada anak-anak.
Antibodi HSV 2 ditemukan sekitar 20%-30% pada orang Amerika dewasa.
Prevalensi antibodi HSV 2 meningkat (lebih dari 60%) pada kelompok sosial
ekonomi rendah dan pada orang-orang yang berganti-ganti pasangan.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa perbedaan HSV-1 dan HSV-2 ?
2) Bagaimana gejala klinis, patogenesis, dan penatalaksanaan dari HSV-1
tipe primer ?

3) Bagaimana gejala klinis, patogenesis, dan penatalaksanaan dari HSV-1


tipe sekunder ?
1.3 Tujuan Pembelajaran
1) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan perbedaan HSV-1 dan
HSV-2
2) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai gejala klinis,
patogenesis, dan penatalaksanaan dari HSV-1 tipe primer
3) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai gejala klinis,
patogenesis, dan penatalaksanaan dari HSV-1 tipe sekunder

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Herpes simpleks
Herpes simpleks adalah infeksi akut yang disebabkan oleh herpes
simpleks virus (HSV) tipe I atau tipe II yang ditandai dengan adanya vesikel
yang berkelompok di atas kulit yang sembab dan eritematosa pada daerah
dekat mukokutan. Penyakit herpes simpleks tersebar kosmopolit dan
menyerang baik pria maupun wanita dengan frekuensi yang tidak berbeda.
Infeksi primer oleh herpes simpleks virus (HSV) tipe I biasa pada usia anakanak, sedangkan infeksi HSV tipe II biasa terjadi pada dekade II atau III dan
berhubungan dengan peningkatan aktivitas seksual. Infeksi genital yang
berulang 6 kali lebih sering daripada infeksi berulang pada oral-labial; infeksi
HSV tipe II pada daerah genital lebih sering kambuh daripada infeksi HSV
tipe I di daerah genital; dan infeksi HSV tipe I pada oral-labial lebih sering
kambuh daripada infeksi HSV tipe II di daerah oral. Walaupun begitu infeksi
dapat terjadi di mana saja pada kulit dan infeksi pada satu area tidak menutup
kemungkinan bahwa infeksi dapat menyebar ke bagian lain.
2.2 Virus herpes simpleks
Famili : Herpesviridae
Subfamili : Alphaherpesvirinae
Genus : Simpleksvirus
Spesies : Virus Herpes Simpleks Tipe 1 dan Virus Herpes Simpleks Tipe 2
Virus herpes simpleks atau HSV tergolong virus herpes golongan herpesvirinae yang cenderung memiliki karakteristik seperti
perkembangbiakannya yang cepat, efek sitolitik yang tinggi, dan dapat
menyebabkan infeksi laten. HSV memiliki DNA-doublestranded yang
menyebabkan virus ini lebih infeksius karena dapat lebih aktif dan progresif
dalam menyebabkan mutasi pada susunan kode genetik pada sel host.
Susunan kode genetik yang berubah akan menyebabkan ekspresi gen seperti
protein penyusun sel host akan berubah sehingga akan terjadi perubahan

fungsi dan dapat juga menyebabkan rusaknya sel terseut. Ada dua jenis virus
herpes yang sering menimbulkan penyakit pada rongga mulut, terutama di
mukosa, yaitu HSV tipe 1 dan tipe 2.
a. HSV Tipe 1
Virus ini merupakan penyebab utama terjadinya penyakit infeksi pada
mukosa oral berupa gingivostomatitis (lesi primer) dan herpes labialis
(apabila infeksi ini terjadi lebih dari sekali atau recurrent). Virus ini
memiliki struktur yang sama dengan virus jenis lain, namun ada struktur
yang sedikit berbeda yaitu adanya envelope (selubung) yang dapat
membantu terjadinya fusi dengan membran plasma. Berikut beberapa
penyakit yang disebabkan oleh HSV tipe 2 :
1. Gingivostomatitis herpetik akut
Penyakit ini sering terjadi pada anak-anak kecil (usia 1-3 tahun) dan
terdiri atas lesi-lesi vesikuloulseratif yang luas dari selaput lendir
mulut, demam, lekas marah dan limfadenopati lokal. Masa inkubasi
pendek (sekitar 3-5 hari) dan lesi-lesi menyembuh dalam 2-3 minggu.
2. Keratojungtivitis
Suatu infeksi awal HSV-1 yang menyerang kornea mata dan dapat
mengakibatkan kebutaan.
3. Herpes Labialis
Merupakan gejala infeksi sekunder (recurrent) berupa pengelompokan
vesikel-vesikel lokal, biasanya pada perbatasan mukokutan bibir.
Vesikel pecah, meninggalkan tukak yang rasanya sakit dan
menyembuh tanpa jaringan parut.
b. HSV tipe 2
HSV tipe II merupakan virus herpes yang sering dihubungkan dengan
infeksi genital. Berikut beberapa penyakit yang disebabkan oleh HSV tipe
2 antara lain :
1. Herpes Genetalis
Herpes genetalis ditandai oleh lesi-lesi vesikuloulseratif pada penis
pria atau serviks, vulva, vagina, dan perineum wanita. Lesi terasa
sangat nyeri dan diikuti dengan demam, malaise, disuria, dan
limfadenopati inguinal. Infeksi herpes genetalis dapat mengalami
kekambuhan dan beberapa kasus kekambuhan bersifat asimtomatik.

Bersifat simtomatik ataupun asimtomatik, virus yang dikeluarkan dapat


menularkan infeksi pada pasangan seksual seseorang yang telah
terinfeksi.
2. Herpes neonatal
Herpes neonatal merupakan infeksi HSV-2 pada bayi yang baru lahir.
Virus HSV-2 ini ditularkan ke bayi baru lahir pada waktu kelahiran
melalui kontak dengan lesi-lesi herpetik pada jalan lahir. Untuk
menghindari infeksi, dilakukan persalinan melalui bedah caesar
terhadap wanita hamil dengan lesi-lesi herpes genetalis. Infeksi
herpesneonatal hampir selalu simtomatik. Dari kasus yang tidak
diobati, angka kematian seluruhnya sebesar 50%.
2.3 Patogenesis
HSV memiliki protein spesifik di permukaan selubung yang tersusun
atas lipid dan glikoprotein, yang dapat berikatan dengan protein spesifik yang
terdapat pada permukaan membran plasma apabila sesuai. Protein spesifik
milik virus ini dapat disebut ligan, dan milik sel host disebut reseptor. Ligan
virus seperti gC dan gD dapat berikatan dengan reseptor heparin sulfat yang
terbentuk dari residual glikoprotein. Setelah berikatan, akan terjadi fusi antara
membran plasma sel dengan selubung virus. Selubung virus yang berfusi ini
akan menyebabkan genom dalam kapsid dan protein dalam tegumen
berpenetrasi secara eksositosis ke dalam membran plasma. Lalu, kapsid dan
protein tegumen akan berfusi lagi di membran nucleus dan viral DNA akan
berpenetrasi ke dalam nucleus, dan mengganggu DNA dalam genom sel
inang.
Virus tidak memiliki kemampuan untuk memperbanyak dirinya
sendirian karena tidak ada struktur yang mendukung hal itu untuk terjadi.
Karena itulah virus masuk ke dalam nucleus sel inang seperti sel epitel, dan ia
ikut bereplikasi saat sel inangnya ini bereplikasi. Selain itu, ternyata pada
replikasi virus dibantu oleh adanya protein-protein yang membantu proses
transkripsi. Protein terutama, dapat membantu replikasi virus yang
menumpang pada sel inang karena mengandung enzim DNA-polimerase.
Selain itu, pembentukan kapsid juga terbentuk di dalam nucleus. Setelah

komponen DNA dan kapsid terbentuk, virus akan menembus nucleus dengan
bantuan glikoprotein yang dibentuk di reticulum endoplasma yang disebut
eksositosis. Setelah keluar dari nucleus, virus mendapatkan selubung dari
komponen protein dalam sel inang lalu keluar dengan menembus membran
plasma dan menginfeksi sel lainnya.
Selain menyerang secara langsung, virus ternyata bisa bersifat dormant
terlebih dahulu sebelum mulai replikasi. Dalam keadaan ini masa inkubasi
virus kira-kira selama beberapa hari sampai dengan dua minggu. Apabila ada
faktor yang mereaktivasi maka virus yang awalnya dorman itu akan aktif dan
memulai replikasinya.
Ketika virus berhasil menginfeksi sel-sel epitel, akan terbentuk suatu
lesi primer yang nantinya akan terbentuk vesikel di sana. Sebelum terbentuk
vesikel, seseorang akan merasakan sensasi terbakar, sakit, perih, panas dan
tidak nyaman pada suatu daerah tertentu di rongga mulutnya. Sensasi itu
disebut gejala prodromal, yang terjadi pada saat virus sedang bereplikasi
secara maksimal dan system pertahanan tubuh kita berusaha melawan antigen
dari virus tersebut. Biasanya, tidak lama setelah gejala prodromal muncul,
pada daerah yang terasa sakit tadi akan muncul suatu vesikel yang awalnya
berupa makula atau suatu ruam pada permukaan mukosa yang tidak menonjol
atau rata. Makula ini kemudian akan menjadi papula atau vesikel yang
menonjol, yang menunjukkan bahwa jaringan epitel telah mengalami
kerusakan sampai subepitel. Tonjolan ini cenderung berisi cairan eksudat, selsel leukosit dan virus yang sudah mati maupun masih aktif. Setelah 1-2 hari
setelah terbentuk, papula tadi akan pecah dan membentuk ulcer (kerusakan
pada epitel) yang terasa sangat sakit, yang akan sembuh tanpa meninggalkan
bekas luka selama kurang lebih 10 hari.
Selain dengan sel-sel leukosit seperti PMN, ternyata antigen virus juga
langsung dipresentasikan oleh APC (ex: makrofag) dan dibawa ke lymph
node. Di sana, antigen itu akan dikenali oleh sel T, dan sel Th akan membantu
mengingat antigen itu agar sel B dapat berdiferensiasi menjadi sel plasma dan
membentuk antibody untuk antigen virus ini. Jika infeksi virus yang terjadi
sangat kuat, maka lymph node akan bekerja maksimal sehingga dapat

menyebabkan lymph node mengalami pembesaran dan membuat pasien


merasa sakit dan tidak nyaman untuk makan maupun minum.
Selain menginfeksi sel epitel secara langsung, ternyata virus juga dapat
bermigrasi ke ganglion saraf sensoris dengan melewati saraf tepinya. Di
daerah wajah dan leher, ganglion yang terbesar adalah ganglion trigeminal,
dan virus herpes ini cenderung akan bermigrasi ke sana dan menjadi virus
yang bersifat laten. Maksudnya adalah virus itu sedang dalam keadaan tidak
aktif, DNA-nya sedang berada dalam kondisi non-replicating dan noninfectious. Sama seperti sebelumnya, virus ini akan kembali aktif setelah ada
sesuatu yang dapat mengaktivasinya kembali, seperti sistem pertahanan tubuh
yang turun, adanya trauma minor dan beberapa faktor lain yang sudah
disebutkan sebelumnya. Di bawah ini adalah contoh lesi sekunder yang
disebabkan oleh teraktivasinya HSV-1 yang bersifat laten. Daerah palatum
diinervasi oleh N.V/2 yaitu nervus maxillaris yang bermuara di ganglion
trigeminal, sehingga HSV-1 laten yang teraktivasi dapat bermigrasi ke
palatum dengan melewati cabang saraf ganglion trigeminal ini.
Sel epitel yang telah terinfeksi dapat melakukan fusi dengan sel epitel
lain yang belum terinfeksi. Hal ini mungkin dapat disebabkan karena
rusaknya fungsi sel yang normal akibat susunan kode genetik dalam DNAnya
telah berubah karena mendapat gangguan dari DNA virus. Terjadinya fusi ini
akan menyebabkan terbentuknya multinucleated epithelial cell atau bisa juga
disebut multinucleated giant cells.
2.4 Pemeriksaan penunjang
a. Sitopatologi
Sitopatologi adalah pemeriksaan mikroskopik secara langsung terhadap
penanaman atau hapusan. Metode sitopatologi yang cepat adalah dengan
mewarnai goresan yang diperoleh dari dasar vesikel (misal, dengan
pewarnaan Giemsa); adanya sel raksasa berinti banyak menunjukan
adanya herpes virus, membedakan lesi dengan yang disebabkan oleh
coxsackie virus dan penyakit non virus.
b. Reaksi Rantai Polimerase (PCR)

Uji PCR dapat digunakan untuk mendeteksi virus dan bersifat sensitif serta
spesifik. PCR assay akan mencari potongan-potongan kecil DNA virus
dan kemudian mereplikasi mereka jutaan kali hingga virus terdeteksi. PCR
mampu mengamplifikasi daerah tertentu pada virus yang merupakan ciri
khas virus sehingga dapat dilakukan identifikasi virus.
c. Serologi
Tes serologi (darah) dapat mengidentifikasi antibodi yang spesifik
terhadap virus dan jenis virus. Salah satunya adalah degan menggunakan
Mikroskop Elektro Imun. Apabila terdeteksi adanya IgM maka dapat
dikatakan bahwa ada infeksi virus. IgM bisa muncul bersamaan dengan
IgG atau sebelum IgG muncul.

BAB III
ISI
3.1 STEP I
1. Vesikula

merupakan gelembung berisi cairan sebum, beratap,

berukuran kurang dari 0,5 cm, dan mempunyai dasar.


2. Ulser merupakan keadaan dimana vesikel yang pecah atau biasa
disebut luka terbuka
3. HSV tipe 1 Virus herper simpleks adalah virus DNA yang dapat
menyebabkan infeksi akut pada kulit yang ditandai dengan adanya vesikel
yang berkelompok di atas kulit yang sembab. Dimana untuk HSV tipe satu
menginfeksi daerah mulut dan wajah.
3.2 STEP II
1) Apa saja gejala klinis herpes simplek labialis ?
2) Apa yang menyebabkan rekurensi herpes simplek labialis?
3) Apakah ada hubungan pemberian obat demam dengan timbulnya
lepuhan ?
4) Apa terapi yang sesuai untuk untuk kasus di skenario ?
5) Apa yang perlu diperhatikan dalam merawat pasien yang terkena herpes
simplek ?
3.3 STEP III
1. Reaktivasi infeksi laten biasanya menyebabkan herpes labialis (demam
blister atau cold sores) ditandai dengan munculnya vesikula superfisial
yang jelas dengan dasar erythematous, biasanya pada muka atau bibir,
mengelupas dan akan sembuh dalam beberapa hari. Reaktivasi dipercepat
oleh berbagai macam trauma, demam, perubahan psikologis atau penyakit
kambuhan dan mungkin juga menyerang jaringan tubuh yang lain; hal ini
terjadi karena adanya circulating antibodies, dan antibodi ini jarang sekali
meningkat oleh karena reaktivasi. Penyebaran infeksi yang luas dan
mungkin terjadi pada orang-orang dengan immunosuppressed.
2. Infeksi herpes labialis yang berulang ( recurrent herpes labialis (RHL)
merupakan infeksi recurrent intraoral herpes simplex (RIH) terjadi pada
pasien yang mengalami infeksi herpes simplex sebelumnya dan yang
memiliki serum antibody dalam proteksi infeksi primer. Sebaliknya,

infeksi yang berulang ini terbatas pada daerah di kulit dan membran
mukosa. Herpes yang berulang tidak merupakan infeksi tetapi virus yang
aktif kembali dari masa laten di jaringan saraf. Herpes simplex dikultur
dari trigeminal ganglion dari cadavers manusia, dan lesi herpes yang
berulang biasanya tampak setelah pembedahan ganglion. Herpes recurrent
mungkin dapat diaktifkan oleh trauma bibir, demam, sunburn, imunosuresi
dan menstruasi. Perjalanan virus menginfeksi sel epitel, penyebarannya
dari sel ke sel untuk menyebabkan sebuah lesi.
3. Tidak ada hubungan karena obat yang diberikan adalah obat penurun
demam, sedangkan demaam yang ditimbulkan merupaakan gejala klinis
dari herpes labialis yang merupakan HSV-1 tipe sekunder. Jadi ketika obat
demam tidak diberikan maka demam akan kambuh kembali dan tidak
menyembuhkan penyaakit yang diderita pasien.
4. Alasan beberapa obat antivirus telah terbukti efektif melawan infeksi HSV.
Semua obat tersebut menghambat sintesis DNA virus. Obat-obat ini dapat
menghambat perkembangbiakan herpesvirus. Walaupun demikian, HSV
tetap bersifat laten di ganglia sensorik, dan angka kekambuhannya tidak
jauh berbeda pada orang yang diobati dengan yang tidak diobati.
Salah satu obat yang efektif untuk infeksi Herpes Simpleks Virus adalah
Asiklofir dalam bentuk topikal, intravena, dan oral yang kesemuanya
berguna untuk mengatasi infeksi primer. Asiklovir (zovirax) digunakan
secara oral, intravena atau topical untuk mengurangi menyebarnya virus,
mengurangi rasa sakit dan mempercepat waktu penyembuhan pada infeksi
genital primer dan infeksi herpes berulang, rectal herpes dan
herpeticwhitrow (lesi pada sudut mulut bernanah). Preparat oral paling
nyaman digunakan dan mungkin sangat bermanfaat bagi pasien dengan
infeksi ekstensif berulang. Namun, telah dilaporkan adanya mutasi strain
virus herpes yang resosten terhadap acyclovir. Valacyclovir dan
famciclovir baru-baru ini diberi lisensi untuk beredar sebagai pasangan
acyclovir dengan efikasi yang sama. Pemberian profilaksis harian obat
tersebut dapat menurunkan frekuensi infeksi HSV berulang pada orang
dewasa. Infeksi neonatal seharusnya diobati dengan acyclovir intravena.

5. Hal yang perlu diperhatikan adalah :


selalu menjaga agar alat yang digunakan merupakan alat yang steril
agar

tidak menularkan virus ataupun penyakit lain dari pasien satu ke

pasien yang lain


selalu menggunakan handscoon dan masker, sebagai proteksi operator
terhadap pasien
mencegah kontaminasi kulit dengan penderita melalui bahan bahan
infeksius
3.4 STEP IV
Herpes Simplek Virus

HSV - 1

primer

Gejala klinis

HSV - 2

sekunder

Patogenesis

Penatalaksanaan

3.5 STEP V
1) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan perbedaan HSV-1 dan
HSV-2
2) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai gejala klinis,
patogenesis, dan penatalaksanaan dari HSV-1 tipe primer
3) Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan mengenai gejala klinis,
patogenesis, dan penatalaksanaan dari HSV-1 tipe sekunder

3.6 STEP VI
3.7 STEP VII
3.7.1 Perbedaan HSV-1 dan HSV-2
1. Herpes berasal dari bahasa Yunani yang memiliki arti merayap, di mana
virus penyebab penyakit ini akan merayap pada sel-sel saraf dan akhirnya
berhenti pada ganglion dalam masa latennya. Herpes Simplex Virus
terbagi menjadi dua tipe yakni :
a. Herpes Simplex Virus Tipe 1
Jenis virus ini dapat menyebabkan penyakit infeksi yang biasa disebut
dengan cold sores. Cara penularannya melalui sentuhan langsung
atau droplet yang mengandung virus. Beberapa penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus ini adalah :
- Herpes Gingivostomatitis Herpetika Akut
Penyakit ini merupakan penyakit infeksi fase primer yang
biasa terjadi pada anak-anak berumur 5 bulan 6 tahun. Gejala
yang dialami biasanya asimpptomatik, sehingga keberadaan
penyakit ini jarang disadari oleh anak atau orang tua. Virus dapat
memasuki tubuh anak melalui jaringan epitel dan memulai masa
inkubasi selama 2-10 hari. Setelah itu timbul gejala prodormal
berupa kelelahan, sakit otot, sakit tenggorok, demam, sakit kepala,
dan terjadi pembesaran kelenjar limfe di servikal. 1-2 hari
selanjutnya akan timbul gejala klinis berupa vesikula-vesikula
kecil berdinding tipis dengan dasar eritematus yang kemudian
pecah menjadi ulser dan akhirnya menjadi krusta.
-

Herpes Labialis
Penyakit ini merupakan penyakit infeksi rekuren yang biasa
terjadi pada anak-anak atau pun dewasa. Gejala awal yang dapat
dirasakan oleh penderita adalah demam, iritasi, sakit kepala, nyeri,
dan sakit waktu menelan. Kemudian beberapa hari setelahnya akan
timbul peradangan gingiva, bibir, palatum, mukosa bukal, lidah dan
tonsil. Bentukan khas dari penyakit ini adalah berupa ulser yang
berkelompok dengan tidak ada halo (lingkaran) pada palatum

durum, perbatasan bibir, atau pada gingiva. Penyembuhan dapat


terjadi secara spontan sekitar 1-2 minggu.
-

Herpes Keratokonjungtivitis
Penyakit ini dapat berupa penyakit infeksi primer maupun
rekuren yang ditandai dengan gangguan pada kornea hingga terjadi
kebutaan.

b. Herpes Simplex Virus Tipe 2


Virus tipe ini memiliki ciri khas menyerang bagian genital seseorang.
Namun pada beberapa kasus infeksi fasial dan oral juga dapat
ditemukan keberadaan virus tipe ini. Beberapa penyakit infeksi yang
dapat disebabkan oleh virus ini adalah :
- Herpes Genital
Penyakit ini ditandai dengan lesi vesikuloulserative pada penis,
serviks, vulva, vagina, atau perineum wanita. Lesi tersebut terasa
sangat sakit yang biasanya diikuti dengan demam, malaise, disuria,
dan limfadenopati inguinal. Penularannya dapat melalui hubungan
seksual.
-

Herpes Neonatal
Penyakit ini terjadi pada bayi yang baru lahir dari seorang ibu yang
terinfeksi herpes simplex virus tipe 2. Transmisi biasa terjadi pada
saat antenatal, intrapartum, atau postnatal. Tertularnya bayi saat
antenatal adalah melalui plasenta. Mortalitas pada bayi tidak jarang
terjadi (60% meninggal dan setengah dari yang hidup mengalami
gangguan syaraf pusat dan mata), biasanya saat ibu mengalami
infeksi primer pada saat hamil trimester awal, janin akan abortus.
Apabila penularan terjadi pada trimester ke 2, bayi akan lahir
prematur. Sedangkan infeksi postpartum adalah penularan melalui
sentuhan bayi dengan lesi pada genital ibu saat melewati jalan lahir
juga sering terjadi.

Tipe virus

infeksi primer

Infeksi rekuren

HSV-1

Gingivostomatitis

Herpes labialis

Keratokonjunctivitis

Keratokonjuntivitis

HSV-2

lesi pada genital dan kulit


lesi pada genital dan kulit

Lesi pada genital dan kulit


lesi pada genital dan kulit

Gingivostomatitis

Gingivostomatitis

Keratokonjunctivitis

Aseptic meningitis

Aseptic meningitis

HSV-1

HSV-2

152 kb pair

154 kb pair

Komponen G+C 68%

Komponen G+C 69%

Tempat

latency

ganglion

Tempat

latency

ganglion

trigeminal sehingga rekurensi

saklar, dasar spinal sehingga

pada bibir / wajah

rekurensi pada area genital

3.7.2 Gejala Klinis, Patogenesis dan Penatalaksanaan HSV-1 tipe Primer


a. Patogenesis an Gejala Klinis
Infeksi primer terjadi pada pasien yang tidak memiliki kekebalan yang
dihasilkan dari kontak sebelumnya dengan virus. Pasien dapat terjangkit
HSV setelah kontak dengan individu yang memiliki lesi aktif primer / lesi
rekuren.
Manifestasi klinis
-

Full-blown oral dan penyakit sistemik


Masa inkubasi 5-7 hari, range 2-12 hari
Pada infeksi herpes primer terdapat riwayat umum berupa gejala
prodormal 1-2 hari yang mendahului lesi lokal. Informasi tersebut
berguna untuk membedakan infeksi virus dengan stomatitis karena
alergi / eritema multiforme di mana munculnya gejala sistemik dan lesi

lokal secara bersamaan


Gejala umum : demam, sakit kepala, malaise, nausea, vomiting
Sekitar 1-2 hari setelah gejala prodormal, muncul vesikel kecil pada

mukosa oral
Vesikel berdinding tipis dan dikelilingi daerah inflamasi
Vesikel ruptur dengan cepat dan meninggalkan ulser bulat

Apabila

penyakit

progesif,

beberapa

lesi

mungkin

menyatu

membentuk lesi ireguler yang besar / luas


Kriteria diagnosa yang penting pada penyakit ini adalah muncul

generalized gingivitis marginal akut


HSV primer pada anak biasanya merupakan self limiting disease di
mana demam biasanya menghilang dalam 3-4 hari dan lesi mulai
sembuh 7-10 hari
Manifestasi klinis infeksi primer biasanya lebih berat dan berlangsung

lebih lama dibanding infeksi rekuren.Ditandai dengan lesi vesikula


bergerombol dasar eritematus atau vesikoulseratif bergerombol dasar
eritematus.
Variasi klinis berupa:
Herpes Gingivostomatitis :
-

Penyebab HSV 1

Pada usia muda (1-3 tahun)

Lesi vesikuloulseratif bergerombol

dengan dasar eritem yang luas

pada mukosa bukalis, gingiva, farinks, lidah


-

Disertai gejala umum, nyeri, demam, malaise

Sembuh dalam 2-3 minggu

Diagnosis banding harus dibedakan dengan kelainan lain dimulut. Sebagai


patokan

bila ada lesi vesikel pada mukosa mulut,

disebabkan oleh Herpes simpleks.

Herpes Gingivostomatitis

gingiva, hanya

Herpes Simpleks pada Mata:


Infeksi primer kebanyakan terjadi pada usia dewasa. Ciri ciri adalah:
-

lesi umumnya keratokonjunktivitis, dapat unilateral atau bilateral.

Disertai vesikula pada palpebra dan sekitarnya.

Fase rekuren biasanya beripa keratitis.

Bentuk yang progresif dapat menimbulkan kebutaan.

b. Penatalaksanaan
Terapi paliatif
Merupakan suatu pendekatan untuk meningkatkan kualitas hidup
pasien dan keluarganya dalam menghadap masalah yang berkaitan dengan
penyakit yang mengancam jiwanya, termasuk kegiatan preventif dan relief
of pain
Identifikasi awal
Penilaian sempurna
Pengobatan nyeri dan masalah lain yang meliputi fisik, psikis
maupun spiritual
Pemberian topikal anestesi, analgesik dan antipiretik rinsing yang
mengandung lidokain viscous 2% sebelum makan secara efektif
dapat mengurangi nyeri selama makan
Mencegah dehidrasi
Terapi supportif :
hidrasi,
makan makanan lunak,
antipiretik berupa ibuprofen (hindari golongan aspirin).
Terapi kausatif :
acyclovir tablet 15 mg/kg BB 5 kali sehari (untuk anak-anak)
Memberikan antiseptik topikal povidon iodine 10 % dan
triamnisolone 0.1 %
Menganjurkan anak untuk berkumur dengan chlorhexidine 3 x
sehari, mengonsumsi multivitamin sirup 1 x 1 sendok teh, dan
meminum susu yang mengandung protein/ kalori tinggi.
3.7.3 Gejala Klinis, Patogenesis dan Penatalaksanaan HSV-1 tipe Sekunder
a.

Gejala Klinis
Herpes Labialis:

umumnya sebagai infeksi rekuren dari Herpes gingivostomatitis

lesi vesikel pada daerah mukokutan merupakan tanda khas.

Sebagian besar didahului dengan gejala prodromal, panas,nyeri, gatal


pada daerah lesi.

Lesi biasanya unilokuler, tapi dapat juga menjalar sampai hidung.

Sembuh dalam 6-10 hari.

Herpes Simpleks Labialis


b. Patogenesis
Genom virus HSV tetap ada pada fase non replikasi. Selama fase laten,
DNA herpes terdeteksi namun tidak ada MHC antigen yang diekspresikan
sehingga tidak terjadi respon dari sel T.
Terjadi reaktivasi dari virus laten yang menyebabkan HVS beralih ke fase
replikatif. Reaktivasi dapat terjadi sebagai hasil dari beberapa faktor spontan
termasuk injuri jaringan perifer karena trauma, sinar matahari, demam /
imunosupresan.
Patofosiologi dari rekurensi dihubungkan dengan gangguan fokus
immunoserveliance

atau

perubahan

dalam

mediator

inflamasi

yang

memungkinkan virus untuk bereplikasi.


Pasien biasanya menunjukkan gejala prodormal kesemutan, rasa terbakar /
nyeri pada tempat yang akan muncul lesi. Dalam hitungan jam, beberapa
vesikel muncul dan lesi mungkin dapat menyatu. Rekurensi pada pasien
imunosupresi biasanya nyeri dan rasa tidak nyaman yang signifikan dan

cenderung terkena infeksi bakteri maupun jamur. Pada pasien imunodefisiensi,


lesi bersifat kronis dan destruktif serta tidak terbatas pada oral
c. Penatalaksanaan
Terapi Paliatif :
1. Pencegahan transmisi HSV secara horisontal
a) Higiene Personal

Sering membersihkan diri dengan mandi menggunakan air yang


bersih. Idealnya saat musim panas mandi 2 kali pagi dan sore.

Ganti pakaian satu hari minimal 2 kali sehabis mandi agar tubuh
tetap terjaga kebersihannya.

Cucilah seprai, handuk dan pakaian yang dipakai dengan air yang
bersih dan menggunakan deterjen [6].

Pencegahan kontak dengan saliva penderita HSV dapat dilakukan


dengan menghindari berciuman dan menggunakan alat-alat makan
penderita serta menggunakan obat kumur yang mengandung
antiseptik yang dapat membunuh virus sehingga menurunkan
risiko tertular.

b) Sanitasi lingkungan

Menjaga lingkungan agar tetap bersih

Menggunaan air bersih yang kualitasnya memenuhi syarat


kesehatan.

2. Pencegahan transmisi HSV secara vertikal


Terapi ini dapat dilakukan dengan deteksi ibu hamil dengan
screning awal di usia kehamilan 14-18 minggu, selanjutnya dilakukan
kultur servik setiap minggu mulai dari minggu ke-34 kehamilan pada ibu
hamil dengan riwayat infeksi HSV serta pemberian terapi antivirus supresif
(diberikan setiap hari mulai dari usia kehamilan 36 minggu dengan
acyclovir 400mg 3/hari atau 200mg 5/hari) yang secara signifikan dapat
mengurangi periode rekurensi selama proses persalinan (36% VS 0%).

Namun apabila sampai menjelang persalinan, hasil kultur terakhir tetap


positif dan terdapat lesi aktif di daerah genital maka kelahiran secara sesar
menjadi pilihan utama.[3] Periode postnatal bertanggungjawab terhadap 510% kasus infeksi HSV pada neonatal. Infeksi ini terjadi karena adanya
kontak antara neonatus dengan ibu yang terinfeksi HSV (infeksi primer
HSV-I 100%, infeksi primer HSV-II 17%, HSV-I rekuren 18%, HSV-II
rekuren 0%) dan juga karena
Beberapa obat antivirus telah terbukti efektif melawan infeksi
HSV. Semua obat tersebut menghambat sintesis DNA virus. Obat ini dapat
menghambat perkembangbiakan virus herpes. Walaupun demikian, HSV
tetap bersifat laten di ganglia sensorik, dan angka kekambuhannya tidak
jauh berbeda pada orang yang diobati dengan yang tidak diobati. Salah satu
obat yang efektif untuk infeksi Herpes Simpleks Virus adalah: Siklofir
dalam bentuk topikal, intravena, dan oral yang kesemuanya berguna untuk
mengatasi infeksi primer.
Terapi supportif :
makan makanan lunak,
antipiretik berupa ibuprofen (hindari golongan aspirin).
Terapi kausatif :
Herpes labialis bisa ditekan dengan menghilangkan faktor pemicu
seperti menggunakan sun screen.
Medikasinya biasanya berupa antiviral topikal yaitu 5% acyclovir, 3%
penciclovir, dan 10% docosanol diaplikasikan pada lesi 3 sampai 6 kali
sehari.

BAB IV
KESIMPULAN
Herpes Simples merupakan penyakit yang disebabkan olrh Virus Herpes
Simpleks, sering terdapat pada rongga mulut dan memiliki dua tipe yaitu virus
Herpes tipe 1 dan Virus Herpes tipe II. Lesi Herpes Simpleks di rongga mulut
banyak disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I.
Tanda infeksi di rongga mulut adalah terbentuknya vesikel kecil yang
berkelompok timbul di mukosa mulut, bibir, dan bagian wajah. Beberapa hari
kemudian vesikel pecah dan membentuk ulkus. Infeksi ini diikuti oleh gejala
prodormal berupa demam, sakit kepala, malaise, limfadenophaty, rasa tidak
nyaman di mulut dan berlangsung selama beberapa hari. Lesi berdiameter
beberapa milimeter sampai 1 cm dan lesi akan sembuh dalam waktu 10 hari.
Infeksi primer Herpes Simpleks Virus bersifat sementara, tetapi jika ada
faktor pencetus maka virus akan mengalami reaktivasi setelah infeksi primer dari
sisa virus yang tidak aktif pada fase laten di ganglion dorsalis pada penderita yang
terinfeksi sebelumnya sehingga terjadi infeksi rekuren.
Perawatan Herpes Simpleks terdiri dari perawatan sistemik yang mencakup
antivirus dan antibiotik, topikal (lokal) dan suportif. Sebenarnya tidak ada obat
yang dapat menghilangkan Virus Herpes Simpleks, tetapi beberapa obat antivirus
berfumgsi mempercepat waktu penyembuhan dan mengurangi gejala. Obat
antivirus yang digunakan yaitu acyclovir, valacyclovir, dan famcyclovir.

DAFTAR PUSTAKA

Greenberg, Martin S., Glick, Michael., Ship, Jonathan A. 2008. Burkets Oral
Medicine 11th edition. Hamilton : BC Decker Inc
Sardjito R. 2003. Herpesviridae dalam Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran.
Jakarta : Binarupa Aksara.
Stoopler Eric T. CDA Journal Vol. 4 No. 4. 2013 Topical and Systemic Therapies
for Oral and Perioral Herpes Simplex Virus Infections. University of
Pennsylvania.
Prof.dr.ir. J.H. van Bemme1. 2002. Pathogenesis of Herpes Simplex Virus
Infections of the Cornea. Erasmus Universiteit Rotterdam.
Sangkar Vidya. 2010. Herpetic Infections : Etiology, Epidemiology, Clinical
Manifestations, Diagnosis & Treatment.