Anda di halaman 1dari 64

Pendahuluan

Terorisme adalah serangan-serangan terkoordinasi yang bertujuan membangkitkan


perasaan teror terhadap sekelompok masyarakat. Berbeda dengan perang, aksi
terorisme tidak tunduk pada tatacara peperangan seperti waktu pelaksanaan yang selalu
tiba-tiba dan target korban jiwa yang acak serta seringkali merupakan warga sipil.
Istilah teroris oleh para ahli kontraterorisme dikatakan merujuk kepada para pelaku yang
tidak tergabung dalam angkatan bersenjata yang dikenal atau tidak menuruti peraturan
angkatan bersenjata tersebut. Aksi terorisme juga mengandung makna bahwa serangserangan teroris yang dilakukan tidak berperikemanusiaan dan tidak memiliki justifikasi,
dan oleh karena itu para pelakunya ("teroris") layak mendapatkan pembalasan yang
kejam.
Akibat makna-makna negatif yang dikandung oleh perkataan "teroris" dan "terorisme",
para teroris umumnya menyebut diri mereka sebagai separatis, pejuang pembebasan,
pasukan perang salib, militan, mujahidin, dan lain-lain. Tetapi dalam pembenaran dimata
terrorism : "Makna sebenarnya dari jihad, mujahidin adalah jauh dari tindakan terorisme
yang menyerang penduduk sipil padahal tidak terlibat dalam perang". Padahal Terorisme
sendiri sering tampak dengan mengatasnamakan agama.
Terorisme di dunia bukanlah merupakan hal baru, namun menjadi aktual terutama sejak
terjadinya peristiwa World Trade Center (WTC) di New York, Amerika Serikat pada
tanggal 11 September 2001, dikenal sebagai September Kelabu, yang memakan 3000
korban. Serangan dilakukan melalui udara, tidak menggunakan pesawat tempur,
melainkan menggunakan pesawat komersil milik perusahaan Amerika sendiri, sehingga
tidak tertangkap oleh radar Amerika Serikat. Tiga pesawat komersil milik Amerika
Serikat dibajak, dua di antaranya ditabrakkan ke menara kembar Twin Towers World
Trade Centre dan gedung Pentagon.

Berita jurnalistik seolah menampilkan gedung World Trade Center dan Pentagon sebagai
korban utama penyerangan ini. Padahal, lebih dari itu, yang menjadi korban utama dalam
waktu dua jam itu mengorbankan kurang lebih 3.000 orang pria, wanita dan anak-anak
yang terteror, terbunuh, terbakar, meninggal, dan tertimbun berton-ton reruntuhan puing
akibat sebuah pembunuhan massal yang terencana. Akibat serangan teroris itu, menurut
Dana Yatim-Piatu Twin Towers, diperkirakan 1.500 anak kehilangan orang tua. Di
Pentagon, Washington, 189 orang tewas, termasuk para penumpang pesawat, 45 orang
tewas dalam pesawat keempat yang jatuh di daerah pedalaman Pennsylvania. Para
teroris mengira bahwa penyerangan yang dilakukan ke World Trade Center merupakan
penyerangan terhadap "Simbol Amerika". Namun, gedung yang mereka serang tak lain
merupakan institusi internasional yang melambangkan kemakmuran ekonomi dunia. Di
sana terdapat perwakilan dari berbagai negara, yaitu terdapat 430 perusahaan dari 28
negara. Jadi, sebetulnya mereka tidak saja menyerang Amerika Serikat tapi juga dunia.
Amerika Serikat menduga Osama bin Laden sebagai tersangka utama pelaku
penyerangan tersebut.

Kejadian ini merupakan isu global yang mempengaruhi kebijakan politik seluruh negaranegara di dunia, sehingga menjadi titik tolak persepsi untuk memerangi Terorisme
sebagai musuh internasional. Pembunuhan massal tersebut telah mempersatukan dunia
melawan Terorisme Internasional. Terlebih lagi dengan diikuti terjadinya Tragedi Bali,
tanggal 12 Oktober 2002 yang merupakan tindakan teror, menimbulkan korban sipil
terbesar di dunia, yaitu menewaskan 184 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Perang
terhadap Terorisme yang dipimpin oleh Amerika, mula-mula mendapat sambutan dari
sekutunya di Eropa. Pemerintahan Tony Blair termasuk yang pertama mengeluarkan Anti
Terrorism, Crime and Security Act, December 2001, diikuti tindakan-tindakan dari negaranegara lain yang pada intinya adalah melakukan perang atas tindak Terorisme di dunia,
seperti Filipina dengan mengeluarkan Anti Terrorism Bill.

Banyak pendapat yang mencoba mendefinisikan Terorisme, satu di


antaranya adalah pengertian yang tercantum dalam pasal 14 ayat 1 The
Prevention of Terrorism (Temporary Provisions) act, 1984, sebagai berikut:
Terrorism means the use of violence for political ends and includes any use
of violence for the purpose putting the public or any section of the public in
fear.
Kegiatan Terorisme mempunyai tujuan untuk membuat orang lain merasa
ketakutan sehingga dengan demikian dapat menarik perhatian orang,
kelompok atau suatu bangsa. Biasanya perbuatan teror digunakan apabila
tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh untuk melaksanakan kehendaknya.
Terorisme digunakan sebagai senjata psikologis untuk menciptakan
suasana panik, tidak menentu serta menciptakan ketidak percayaan
masyarakat terhadap kemampuan pemerintah dan memaksa masyarakat
atau kelompok tertentu untuk mentaati kehendak pelaku teror. Terorisme
tidak ditujukan langsung kepada lawan, akan tetapi perbuatan teror justru
dilakukan dimana saja dan terhadap siapa saja. Dan yang lebih utama,
maksud yang ingin disampaikan oleh pelaku teror adalah agar perbuatan
teror tersebut mendapat perhatian yang khusus atau dapat dikatakan lebih
sebagai psy-war.
Terorisme kian jelas menjadi momok bagi peradaban modern. Sifat
tindakan, pelaku, tujuan strategis, motivasi, hasil yang diharapkan serta
dicapai, target-target serta metode Terorisme kini semakin luas dan
bervariasi. Sehingga semakin jelas bahwa teror bukan merupakan bentuk
kejahatan kekerasan destruktif biasa, melainkan sudah merupakan
kejahatan terhadap perdamaian dan keamanan umat manusia (crimes
against peace and security of mankind)

PERMASALAHAN HUKUM

Dalam rangka mencegah dan memerangi Terorisme, sejak jauh sebelum maraknya
kejadian-kejadian yang digolongkan sebagai bentuk Terorisme terjadi di dunia,
masyarakat internasional maupun regional serta pelbagai negara telah berusaha
melakukan kebijakan kriminal (criminal policy) disertai kriminalisasi secara sistematik
dan komprehensif terhadap perbuatan yang dikategorikan sebagai Terorisme.
Menyadari sedemikian besarnya kerugian yang ditimbulkan oleh suatu tindak
Terorisme, serta dampak yang dirasakan secara langsung oleh Indonesia sebagai
akibat dari Tragedi Bali, merupakan kewajiban pemerintah untuk secepatnya
mengusut tuntas Tindak Pidana Terorisme itu dengan memidana pelaku dan aktor
intelektual dibalik peristiwa tersebut. Hal ini menjadi prioritas utama dalam
penegakan hukum. Untuk melakukan pengusutan, diperlukan perangkat hukum yang
mengatur tentang Tindak Pidana Terorisme. Menyadari hal ini dan lebih didasarkan
pada peraturan yang ada saat ini yaitu Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
belum mengatur secara khusus serta tidak cukup memadai untuk memberantas
Tindak Pidana Terorisme,
Pemerintah Indonesia merasa perlu untuk membentuk Undang-Undang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, yaitu dengan menyusun Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) nomor 1 tahun 2002, yang pada
tanggal 4 April 2003 disahkan menjadi Undang-Undang dengan nomor 15 tahun 2003
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Keberadaan Undang-Undang
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme di samping KUHP dan Undang-Undang
Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), merupakan Hukum
Pidana Khusus. Hal ini memang dimungkinkan, mengingat bahwa ketentuan Hukum
Pidana yang bersifat khusus, dapat tercipta karena:

1.

2.
3.
4.

1.
2.

Adanya proses kriminalisasi atas suatu perbuatan tertentu di dalam masyarakat.


Karena pengaruh perkembangan zaman, terjadi perubahan pandangan dalam
masyarakat. Sesuatu yang mulanya dianggap bukan sebagai Tindak Pidana, karena
perubahan pandangan dan norma di masyarakat, menjadi termasuk Tindak Pidana dan
diatur dalam suatu perundang-undangan Hukum Pidana.
Undang-Undang yang ada dianggap tidak memadai lagi terhadap perubahan norma
dan perkembangan teknologi dalam suatu masyarakat, sedangkan untuk perubahan
undang-undang yang telah ada dianggap memakan banyak waktu.
Suatu keadaan yang mendesak sehingga dianggap perlu diciptakan suatu peraturan
khusus untuk segera menanganinya.
Adanya suatu perbuatan yang khusus dimana apabila dipergunakan proses yang diatur
dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada akan mengalami kesulitan dalam
pembuktian.
Sebagai Undang-Undang khusus, berarti Undang-Undang Nomor 15 tahun 2003
mengatur secara materiil dan formil sekaligus, sehingga terdapat pengecualian dari
asas yang secara umum diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP)/Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) [[(lex specialis derogat
lex generalis)]].
Keberlakuan lex specialis derogat lex generalis, harus memenuhi kriteria :
bahwa pengecualian terhadap Undang-Undang yang bersifat umum, dilakukan oleh
peraturan yang setingkat dengan dirinya, yaitu Undang-Undang.
bahwa pengecualian termaksud dinyatakan dalam Undang-Undang khusus tersebut,
sehingga pengecualiannya hanya berlaku sebatas pengecualian yang dinyatakan dan
bagian yang tidak dikecualikan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan
pelaksanaan Undang-Undang khusus tersebut.

1.
2.
3.

Sedangkan kriminalisasi Tindak Pidana Terorisme sebagai bagian dari


perkembangan hukum pidana dapat dilakukan melalui banyak cara, seperti :
Melalui sistem evolusi berupa amandemen terhadap pasal-pasal KUHP.
Melalui sistem global melalui pengaturan yang lengkap di luar KUHP
termasuk kekhususan hukum acaranya.
Sistem kompromi dalam bentuk memasukkan bab baru dalam KUHP tentang
kejahatan terorisme.
Akan tetapi tidak berarti bahwa dengan adanya hal yang khusus dalam
kejahatan terhadap keamanan negara berarti penegak hukum mempunyai
wewenang yang lebih atau tanpa batas semata-mata untuk memudahkan
pembuktian bahwa seseorang telah melakukan suatu kejahatan terhadap
keamanan negara, akan tetapi penyimpangan tersebut adalah sehubungan
dengan kepentingan yang lebih besar lagi yaitu keamanan negara yang harus
dilindungi.
Demikian pula susunan bab-bab yang ada dalam peraturan khusus tersebut
harus merupakan suatu tatanan yang utuh. Selain ketentuan tersebut, pasal
103 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) menyebutkan bahwa
semua aturan termasuk asas yang terdapat dalam buku I Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) berlaku pula bagi peraturan pidana di luar
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) selama peraturan di luar Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tersebut tidak mengatur lain.

1.
2.
3.
4.

Sesuai pengaturan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Hukum


Acara Pidana (Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP),
penyelesaian suatu perkara Tindak Pidana sebelum masuk dalam tahap
beracara di pengadilan, dimulai dari Penyelidikan dan Penyidikan, diikuti
dengan penyerahan berkas penuntutan kepada Jaksa Penuntut Umum.
Pasal 17 Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana/KUHAP) menyebutkan
bahwa perintah Penangkapan hanya dapat dilakukan terhadap seseorang
yang diduga keras telah melakukan Tindak Pidana berdasarkan Bukti
Permulaan yang cukup. Mengenai batasan dari pengertian Bukti Permulaan
itu sendiri, hingga kini belum ada ketentuan yang secara jelas
mendefinisikannya dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
(KUHAP) yang menjadi dasar pelaksanaan Hukum Pidana. Masih terdapat
perbedaan pendapat di antara para penegak hukum.
Sedangkan mengenai Bukti Permulaan dalam pengaturannya pada UndangUndang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Terorisme, pasal 26 berbunyi :
Untuk memperoleh Bukti Permulaan yang cukup, penyidik dapat
menggunakan setiap Laporan Intelijen.
Penetapan bahwa sudah dapat atau diperoleh Bukti Permulaan yang cukup
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan proses pemeriksaan
oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Negeri.
Proses pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan
secara tertutup dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari.
Jika dalam pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan
adanya Bukti Permulaan yang cukup, maka Ketua Pengadilan Negeri segera
memerintahkan dilaksanakan Penyidikan.

PENGERTIAN TINDAK PIDANA TERORISME


(Pasal 6 s/d Pasal 19)

Pasal 6
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan
menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas atau menimbulkan
korban yang bersifat massal, dengan cara merampas kemerdekaan atau hilangnya nyawa dan
harta benda orang lain, atau mengakibatkan kerusakan atau kehancuran terhadap obyek-obyek
vital yang strategis atau lingkungan hidup atau fasilitas publik atau fasilitas internasional,
dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun.

Pasal 7
Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan
bermaksud untuk menimbulkan suasana teror atau rasa takut terhadap orang secara meluas
atau menimbulkan korban yang bersifat massal dengan cara merampas kemerdekaan atau
hilangnya nyawa atau harta benda orang lain, atau untuk menimbulkan kerusakan atau
kehancuran terhadap obyek-obyek vital yang strategis, atau lingkungan hidup, atau fasilitas
publik, atau fasilitas internasional, dipidana dengan pidana penjara paling lama seumur hidup.

Pasal 8
Dipidana karena melakukan tindak pidana terorisme dengan pidana yang sama
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6, setiap orang yang:
a. menghancurkan, membuat tidak dapat dipakai atau merusak bangunan untuk
pengamanan lalu lintas udara atau menggagalkan usaha untuk pengamanan
bangunan tersebut;
b. menyebabkan hancurnya, tidak dapat dipakainya atau rusaknya bangunan untuk
pengamanan lalu lintas udara, atau gagalnya usaha untuk pengamanan bangunan
tersebut;
c. dengan sengaja dan melawan hukum menghancurkan, merusak, mengambil, atau
memindahkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan, atau menggagalkan
bekerjanya tanda atau alat tersebut, atau memasang tanda atau alat yang keliru;
d. karena kealpaannya menyebabkan tanda atau alat untuk pengamanan penerbangan
hancur, rusak, terambil atau pindah atau menyebabkan terpasangnya tanda atau alat
untuk pengamanan penerbangan yang keliru;
e. dengan sengaja atau melawan hukum, menghancurkan atau membuat tidak dapat
dipakainya pesawat udara yang seluruhnya atau sebagian kepunyaan orang lain;
f. dengan sengaja dan melawan hukum mencelakakan, menghancurkan, membuat tidak
dapat dipakai atau merusak pesawat udara;
g. karena kealpaannya menyebabkan pesawat udara celaka, hancur, tidak dapat dipakai,
atau rusak;

h. dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain dengan melawan
hukum, atas penanggung asuransi menimbulkan kebakaran atau ledakan, kecelakaan
kehancuran, kerusakan atau membuat tidak dapat dipakainya pesawat udara yang
dipertanggungkan terhadap bahaya atau yang dipertanggungkan muatannya maupun
upah yang akan diterima untuk pengangkutan muatannya, ataupun untuk kepentingan
muatan tersebut telah diterima uang tanggungan;
i. dalam pesawat udara dengan perbuatan yang melawan hukum, merampas atau
mempertahankan perampasan atau menguasai pesawat udara dalam penerbangan;
j. dalam pesawat udara dengan kekerasan atau ancaman kekerasan atau ancaman dalam
bentuk lainnya, merampas atau mempertahankan perampasan atau menguasai
pengendalian pesawat udara dalam penerbangan;
k. melakukan bersama-sama sebagai kelanjutan permufakatan jahat, dilakukan dengan
direncanakan terlebih dahulu, mengakibatkan luka berat seseorang, mengakibatkan
kerusakan pada pesawat udara sehingga dapat membahayakan penerbangannya,
dilakukan dengan maksud untuk merampas kemerdekaan atau meneruskan merampas
kemerdekaan seseorang;
l. dengan sengaja dan melawan hukum melakukan perbuatan kekerasan terhadap
seseorang di dalam pesawat udara dalam penerbangan, jika perbuatan itu dapat
membahayakan keselamatan pesawat udara tersebut;
m. dengan sengaja dan melawan hukum merusak pesawat udara dalam dinas atau
menyebabkan kerusakan atas pesawat udara tersebut yang menyebabkan tidak dapat
terbang atau membahayakan keamanan penerbangan;

n. dengan sengaja dan melawan hukum menempatkan atau menyebabkan


ditempatkannya di dalam pesawat udara dalam dinas, dengan cara
apapun, alat atau bahan yang dapat menghancurkan pesawat udara
yang membuatnya tidak dapat terbang atau menyebabkan kerusakan
pesawat udara tersebut yang dapat membahayakan keamanan dalam
penerbangan;
o. melakukan secara bersama-sama 2 (dua) orang atau lebih, sebagai
kelanjutan dari permufakatan jahat, melakukan dengan direncanakan
lebih dahulu, dan mengakibatkan luka berat bagi seseorang dari
perbuatan sebagaimana dimaksud dalam huruf l, huruf m, dan huruf n;
p. memberikan keterangan yang diketahuinya adalah palsu dan karena
perbuatan itu membahayakan keamanan pesawat udara dalam
penerbangan;
q. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan yang dapat
membahayakan keamanan dalam pesawat udara dalam penerbangan;
r. di dalam pesawat udara melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat
mengganggu ketertiban dan tata tertib di dalam pesawat udara dalam
penerbangan.

TINDAK PIDANA LAIN YANG BERKAITAN DENGAN


TINDAK PIDANA TERORISME
Pasal 20
Setiap orang yang dengan menggunakan kekerasan atau ancaman
kekerasan atau dengan mengintimidasi penyelidik, penyidik, penuntut
umum, penasihat hukum, dan/atau hakim yang menangani tindak
pidana terorisme sehingga proses peradilan menjadi terganggu,
dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling
lama 15 (lima belas) tahun.
Pasal 21
Setiap orang yang memberikan kesaksian palsu, menyampaikan alat
bukti palsu atau barang bukti palsu, dan mempengaruhi saksi secara
melawan hukum di sidang pengadilan, atau melakukan penyerangan
terhadap saksi, termasuk petugas pengadilan dalam perkara tindak
pidana terorisme, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3
(tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun.
Pasal 22
Setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi, atau
menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan,
penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan dalam perkara
tindak pidana terorisme, dipidana dengan pidana penjara paling singkat
2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun.

Pasal 23
Setiap saksi dan orang lain yang melanggar
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 32 ayat (2) dipidana dengan pidana
kurungan paling lama 1 (satu) tahun.
Pasal 24
Ketentuan mengenai penjatuhan pidana
minimum khusus sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20, Pasal 21, dan Pasal 22,
tidak berlaku untuk pelaku tindak pidana
terorisme yang berusia dibawah 18 (delapan
belas) tahun.

PENYIDIKAN, PENUNTUTAN, DAN PEMERIKSAAN


DI SIDANG PENGADILAN

Penyidik diberi wewenang untuk melakukan penahanan terhadap tersangka paling


lama 6 (enam) bulan.
Untuk memperoleh bukti permulaan yang cukup, penyidik dapat menggunakan setiap
laporan intelijen.
Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi:
a. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana;
b. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan, dikirimkan, diterima, atau disimpan
secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu; dan
c. data, rekaman, atau informasi yang dapat dilihat, dibaca, dan/atau didengar, yang
dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana, baik yang tertuang di
atas kertas, benda fisik apapun selain kertas, atau yang terekam secara elektronik,
termasuk tetapi tidak terbatas pada:
1) tulisan, suara, atau gambar;
2) peta, rancangan, foto, atau sejenisnya;
3) huruf, tanda, angka, simbol, atau perforasi yang memiliki makna atau dapat
dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya.
Penagkapan oleh Penyidik dalam waktu 7 X 24 jam
Ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini dapat
diperlakukan surut untuk tindakan hukum bagi kasus tertentu sebelum mulai
berlakunya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini, yang penerapannya
ditetapkan dengan Undangundang atau Peraturan Pemerintah Pengganti Undangundang tersendiri.

2.Daerah operasi organisasi teroris


Sumut
Kalimantan

Sumsel

Cirebon
Tj.KarangLampung

PamekasanMadura
Makasar-Sulsel

Cipinang-Jkt
Bandung
Nusakambangan
Madiun

DenpasarBali

AbepuraPapua

Indonesia Profile
The world's largest archipelago : more than 17,500 islands
Between two continents, Asia and Australia.
Length: 3,977 miles from the Indian Ocean to the Pacific Ocean.
Area if its territorial waters were included, the total area is 1.9
million square miles.
The five major islands :

Sumatra : 473,606 square km


Java : 132,107 square km
Kalimantan : 539,460 square km,
Sulawesi : 189,216 square km
Papua : 421,981 square km.

5.KEKUASAAN KEHAKIMAN :
UU RI NO.8 Tahun 2004 Tentang Perubahan
Atas Undang-undang No.2 Tahun 1986
Tentang Peradilan Umum menyatakan bhw :
Peradilan umum( Pengadilan Negeri dan
pengadilan Tinggi ) merupakan peradilan di
bawah Mahkamah Agung sebagai pelaku
kekuasaan kehakiman yang merdeka ,untuk
menyelenggarakan
peradilan
guna
menegakkan hukum dan keadilan.

6.PENGADILAN MENDAHULUKAN PENYELESAIAN


TERORIS :

Pasal 57 UU No.8 Tentang Perubahan


Peradilan Umum menyatakan bahwa:
-perkara-perkara yang harus didahulukan
penyelesaiannya di Pengadilan adalah :
1.perkara korupsi
2.perkara terorisme
3.narkotika/psikotropika
4.pencucian uang

7.PERTIMBANGAN PUTUSAN HAKIM :


Pasal 19 ayat (4) UU No.4 Tahun 2004 :Hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau
pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang di periksa dan menjadi bagian dari putusan .
Putusan hakim :
-harus memuat semua fakta yang terungkap dalam persidangan ,
-memuat alasan dasar putusan ,
-memuat pertimbangan hukum yang menjadi dasar putusan,
-memuat pasal dari UU yang berhubungan dengan perkara itu ,
-memuat sumber hukum tidak terulis yang dijadikan dasar mengadili.
Pasal 28 : hakim wajib menggali ,mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa
keadilan yang hidup dan berkembang dalam masyarakat.
UU No.5 Tahun 2004 Tentang Perubahan UU No.14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah
Agung : mengatur masalah dissenting opinion

8. PUTUSAN PENGADILAN ADALAH :

pernyataan hakim yang diucapkan dalam


sidang terbuka untuk umum:
-dapat berupa pemidanaan,
-dapat bebas atau lepas dari segala
tuntutan hukum dalam hal serta menurut
cara yang diatur dalam undang-undang
ini

9.Proses penegakan hukum

sidang
prk teroris

PN

SIDANG :

PT
-di hukum ok terbukti-di hukum
-dibebaskan
-dibebaskan
-lepas contoh kasus -dilepaskan
PN.Medan

Pengerahan
MASSA
Intervensi :
- Politisi ,LSM,NGO
- mengomentari sidang
- polisi disebutkan tdk
profesional utk melemahkan
- melanggar HAM
- dukungan ormas tertentu

MA
-DI HUKUM
-DIBEBASKAN
-DILEPASKAN

10.

PENGADILAN MAMPU MENYELESAIKAN


TERORIS TEPAT WAKTU :

1.

2.

3.

PERKARA

Penyidik, Penuntut umum,Hakim dihadapkan


persoalan
masalah
penahanan,
sidang
marathon.
PN. JakSel telah menyelesaikan perkara teroris
Jamah Islamiyah,bom JW Marriot,bom di
depan Kedubes Australia Kunigan.
Pengadilan Negeri Denpasar juga sudah
menyelesaikan perkara peledakan bom Bali I
dan bom Bali II .Juga pengadilan-pengadilan
negeri lainnya sudah menyelesaikan banyak
perkara teroris.

11. TERORISME MERUPAKAN KEJAHATAN :


KEJAHATAHAN INTERNASIONAL.
TERORGANISASI DENGAN BAIK .
MEMPUNYAI JARINGAN LUAS DAN
MENGGUNAKAN SISTEM SEL .
MEMILIKI SUMBER DANA YANG SANGAT
BESAR .
MENGANCAM PERDAMAIAN DAN
KEAMANAN NASIONAL,REGIONAL DAN
INTERNASIONAL.

12.KERJASAMA INTERNASIONAL
Pada bulan Desember 2000 di Palermo ,Sisilia,Italia ditanda
tangani Konvensi PBB Tentang Kejahatan Terorganisasi
Transnasional
(United
Nations
Convention
against
Transnational organized Crime )
Pada tanggal 28 November 2005 dalam pertemuan Euro
Mediterranean Summit di Barcelona ,rencana penanganan
antiterorisme, dalam rancangan
Code of conduct on
Countering Terrorism ,menyatakan serangan teroris tetap
tidak dapat dibenarkan apapun alasannya .
Masalah terorisme tidak bisa diatasi oleh hanya suatu
negara akan tetapi perlu kerjasama Internasional untuk
menanggulanginya .

13. KERJASAMA REGIONAL ASEAN

KONFERENSI

TAHUNAN

KEPALA

KEPOLISIAN
PERTEMUAN PARA MENTERI ASEAN
TENTANG
KEJAHATAN
TRANSNASI
ONAL TAHUN 1997, 1999
PERTEMUAN PARA DIRJEN IMIGRASI

14.AKSI BOM DI INDONESIA

1.Pada tanggal 01 AGUSTUS 2000.Terjadi serangan bom dirumah kediaman Duta


Besar Filipina di Jakarta.
2.Pada tanggal 27 Agustus 2000 ledakan di depan kantor Kedubes Malysia .
3.Pada tanggal 13 September 2000 .Terjadi ledakan bom di Gedung Bursa Efek .
4. Pada tanggal 24 Desember 2000. ledakan Bom pada malam hari Natal.
5.Pada tanggal 23 September 2001Terjadi ledakan bom di Plaza Atrium Senen.
6.Pada tanggal 12 Oktober 2001.Terjadi ledakan bom di Restoran KFC, Makassar.
7.Pada tanggal 6 November 2001.Terjadi ledakan bom di Sekolah Australia,di Jakarta.
Bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS ).
8.Pada tanggal 01Januari2002Terjadi ledakan bom pada malam Tahun Baru.
9.Pada tanggal 12 Oktober 2002 Terjadi peledakan Bom bunuh diri yang sangat dahsyat
di Kuta, Bali.
10.Pada tanggal 5 Desember2002 bom di Restoran McDonald's, Makassar.
11.Pada tanggal 3 Februari 2003 Terjadi ledakan bom di Kompleks Mabes Polri.
12.Pada tanggal 27 April 2003 Terjadi ledakan bom di Bandara Cengkareng.
13.Pada tanggal 5 Agustus 2003 Terjadi peledakan bom bunuh diri dengan kekuatan
besar di Hotel JW Marriott, Jakarta.
14.Pada tanggal 9 September 2004 Terjadi peledakan bom bunuh diri di depan Kedubes
Australia, Jakarta.
15.Pada tanggal 8Juni2005Terjadi ledakan di Pamulang, Tangerang.
16.Pada tanggal 1 Oktober 2005 Kuta, Bali.(BOM BALI II).

15.Korban teroris sejak


tahun 1960
Sejak akhir 1960-an, aksi teroris
telah mengakibatkan kehancuran
fatal dalam sejarah.
16.000 serangan teroris yang terjadi
di dunia ini mengakibatkan lebih dari
20.000 korban jiwa.

16.Cara cara operasi Terorisme


Pengeboman
Pembunuhan
Penculikan

dengan tebusan
Penyanderaan
Pembajakan
Penyerangan bersenjata
Melukai anggota tubuh orang lain
sehingga
mengakibatkan cacat secara
permanen
Pembakaran
Perampokan

17.Kelompok teroris yang menggunakan


bom bunuh diri
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

Organisasi Jihad Islam Hezbollah


Brigade Al-Qassam dari HAMAS
Jihad Islam Palestina
Babbar Khaisa (Kelompok Sikh)
Partai Buruh Kurdistan atau PKK
Al-Jihad Mesir
Harimau Pembebasan dari Tamil Eelam atau LTTE
DHKP/C di Turki
Al-Qaeda
Laskar l-Taiba (Kashmir)
Brigade Syahid Al-Quds dari FATAH
Pemberontak Chechen
Front Populer untuk Kebebasan dari Palestina
Jamaah Islamiyah Asia Tenggara dan Indonesia

18.Kecenderungan dalam Terorisme


Revolusi Rusia
Konflik ArabIsrael

Fundamentalisme
Radikal
Pengeboman
Fasilitas
di Seluruh
Dunia

Revolusi Prancis

Terorisme yang Tumbuh


di Dalam Negeri
Evolusi Terorisme

Trends in
Terrorism

Serangan Senjata Kimia/Biologi

19.Pelaku Bom Bunuh Diri Masa Kini

20.Terorisme Modern
Teroris

tidak segan-segan melakukan serangan kejam dengan


mengorbankan rakyat sipil dalam jumlah besar

Modern Terrorism

Terrorists are willing to conduct ruthless


attacks against mass civilian targets

21.Jumlah Fasilitas yang Menjadi


Sasaran Serangan Teroris

22.Konflik Etnis Utama

Daerah Basque di Spanyol


Suku Kurdi di Turki dan Irak
Warga Albania di Macedonia dan Serbia
Chechen di Rusia
Aceh, Irian Jaya (Papua) di Indonesia
Uighur di Cina
Tamil di Sri lanka
Suku Assam, Bodo, Kashmir, Sikh, dan Naga di
India
Warga Irlandia di Irlandia Utara
Warga Palestina di Israel

23.Kamp pelatihan teroris di Akademi Militer


Mujahidin Afganistan, Kamp Latihan
Hudaybiyah dan Kamp Latihan Jabal Quba di
Mindanau ,Filipina Selatan :

Materi pelajaran militer yang utama diberikan


adalah:
1.Tactic,yaitu seni pertempuran infanteri.
2.Map Reading ,yaitu kemahiran seputar peta dan
navigasi .
berbagai
3.Weapon Training ,yaitu kemahiran
macam senjata infanteri dan artileri.
4.Field Engineering ,yaitu kemahiran ranjau
standar buatan pabrik ,bahan peledak ,penempatan
bom ,dan penggunaannya sebagai alat
penghancur .Termasuk pengetahuan peracikan
bahan kimia dan juga bahan dapur yang dapat
diolah menjadi bahan peledak disebut juga materi

24.LATIHAN LANJUTAN DI KAMP TERORIS

1.Kemahiran menembak pistol dan revolver.


2.sniper (rifle markmanship ) .
3.Kursus-kursus bahan kimia dan peracikan bahan
peledak
4.perbengkelan senjata dan amunisi .
5.Kemahiran merakit sirkuit elektronik.
6.Kursus Tank Tempur (seperti ,T-60,T-59,T-72)
7.Latihan tempur infanteri di berbagai bentuk
lapangan,sekaligus ikut bertempur kontak senjata dll.

25.Penyidikan
Tindak Pidana Terorisme
Pasal 25, 26, 27, 28, 29, 30, 31 dan 32

Penyidikan berdasar hukum acara berlaku kecuali

ditentukan lain dalam Perpu.


Penyidik diberi wewenang 4 (empat) bulan untuk HAN
Bukti permulaan yang cukup dapat gunakan setiap
Laporan Intelejen
Alat Bukti Pasal 184 + 2 DE
KAP berdasar bukti permulaan pasal 26 ayat 2 ?, 7 x 24
Jam.
Blokir rekening
Keterangan Bank dan Jasa Keuangan
Buka, riksa dan sita surat dan kiriman via pos or jasa
pengiriman
Pasal 32 Saksi memberikan keterangan dengan
bebas tanpa tekanan

26.MENURUT PROF.DR.MULADI
bahwa
masalah
terorisme
merupakan bahaya laten dan
sekaligus musuh bagi bangsa
Indonesia pada khususnya dan
umat manusia pada umumnya
(hostes humanis generis ).

27.JARINGAN TERORIS JAMAAH


ISLAMIYAH

Jamaah

Islamiyah
adalah
sebuah
jaringan
teroris
berbasis
di
Asia
Tenggara yang memiliki hubungan
dengan Organisasi teroris Internasional
Al Qaeda. Jaringan ini merekrut dan
melatih para ekstremis pada akhir
1990an, tujuannya menciptakan sebuah
negara Islam yang meliputi Brunei,
Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina
Selatan, dan Thailand Selatan.

28.JAMAAH ISLAMIYAH DI INDONESIA

Al-jamaah Al-Islamiyah adalah sebuah organisasi

/jamaah yang terdiri dari orang-orang muslim


yang memiliki seorang pemimpin yang disebut
Amir Jamaah .Jamaah ini bukanlah Jamaatul
Muslimin tetapi merupakan Jamaatun minalMuslimin, maksud dari minal-Muslimin adalah
kelompok atau organisasi ini terdiri dari
sebagian orang-orang muslim saja ,yaitu bukan
bermaksud umumnya semua umat Muslim di
seluruh dunia .
. Al-Jamaah Al-Islamiyah adalah sebuah JAMAAH
atau organisasi dengan alasan bahwa Al-Jamaah
Al-Islamiyah memiliki pimpinan jamaah yang
ditaati ,anggota jamaah dan struktural
kepemimpinan (jalur komando ) .

29.UNDANG-UNDANG TERORIS DI
INDONESIA

Kejahatan teroris adalah kejahatan

yang baru masuk dalam peraturan


perundang-undangan di Indonesia
sejak terjadi Bom Bali pada tahun
2002 ,sementara di negara-negara
lain perkara kejahatan teroris sudah
lama masuk dalam undang undang .

Karakteristik
Karakteristik: :

1.1. Disengaja
Disengaja
2.2.Gunakan
GunakanKekerasan
Kekerasan
2.2.Dengan
perencanaan
Dengan perencanaan
3.3.Dilakukan
Dilakukansecara
secarabersama
bersama
4.4.Dukungan
Pembiayaan
Dukungan Pembiayaan

Pasal
Pasal66dan
dan77: :

30.Tindak
Pidana
Teror
Bab III 14 Pasal, Bab IV 5 Pasal

Akibatkan
Akibatkan: :
Suasana
Suasanateror
teror
Rasa
takut
Rasa takutterhadap
terhadaporang
orangsecara
secarameluas
meluas
Menimbulkan
MenimbulkanKorban
Korbanyg
ygbersifat
bersifatmassal
massal
Dengan
Dengancara
cara: : -- Merampas
Merampaskemerdekaan
kemerdekaan
-- Hilangnya
nyawa
Hilangnya nyawa
-- Harta
Hartaorang
oranglain
lain
-Untuk
Untuk menimbulkan
menimbulkan : : --Kerusakan
Kerusakan
-- Kehancuran
Kehancuranterhadap
terhadapobyek
obyekvital
vitalstrategis
strategis
-- Lingkungan
Hidup
Lingkungan Hidup
-- Fasilitas
Fasilitas Publik
Publik
-- Fasilitas
Fasilitas International
International

30.

Pasal
Pasal99: :
Setiap
Setiaporang
orangmelawan
melawanhukum
hukum
Memasukan
ke
Ina,
membuat,
Memasukan ke Ina, membuat,
Menerima,
Menerima,mencoba
mencobaperoleh,
peroleh,
Menyerahkan,
mencoba
Menyerahkan, mencobamyrhkn
myrhkn
Menguasai,
membawa,
mmpnyi
Menguasai, membawa, mmpnyi
Persediaan
Persediaanpadanya,
padanya,menyimpn
menyimpn
Mengangkut,
menyembunyikan,
Mengangkut, menyembunyikan,
Mempergunakan,
Mempergunakan,mengeluarkan
mengeluarkan
Ke
dan/atau
dari
Ina.
Ke dan/atau dari Ina.
Senpi,
Senpi,Amunisi,
Amunisi,Handak
Handakdan
dan
Bahan
bahaya
lainnya
Bahan bahaya lainnya
Dengan
Denganmaksud
maksudmelakukan
melakukan
Tindak
Pidana
Terorisme
Tindak Pidana Terorisme

31.PENANGKAPAN :

Pihak berwajib Indonesia

telah menahan sampai


sekarang bulan Maret
2006, sekitar 400 orang
teroris yang terlibat aksiaksi teroris di Indonesia

32.KTT Arab di Arab Saudi 07


Desember 2005

Negara OKI menyerukan agar

negara-negara OKI memberantas


ekstrimisme dan militan yang
mengatas namakan Islam dan
memerangi terorisme.

33.KTT OKI DI ARAB SAUDI :

Pikiran jiwa seorang muslim harus dibersihkan dari

pikiran ekstrimis yang menyimpang dan menyerukan


pengafiran, pertumpahan darah, serta pengahancuran
masyarakat.
Persatuan dan kebangkitan Islam tidak bisa
diwujudkan
melalui
aksi
peledakan
bom
dan
pertumpahan darah. Itu adalah pemikiran yang dianut
sekelompok orang yang sesat.
Persatuan dan kebangkitan hanya bisa tercipta
melalui keimanan yang kuat, saling menyayangi
sesama, serta iklas berkata dan bekerja.
Menjadi moderat adalah dasar manusia untuk bisa
membangun rasa saling memahami. Pijakan lain
adalah sikap toleran, memahami dan menghormati.

34.Terorisme di Malaysia
Negara Malaysia telah menahan

ratusan orang tersangka kelompok


militan,mereka di tahan di sebuah
penajara berdasarkan UU keamanan
yang mengijinkan penahanan tanpa
harus diadili lebih dahulu.( Internal
Security Act)

35.PM Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dalam


kongres tahunan partai UMNO (Organisasi Nasional
Malaysia bersatu,21 Juli 2005 menyerukan :
umat islam agar mencegah upaya yang dilakukan kelompok

militan untuk membajak nama islam demi kepentingan idiologi


kekerasan mereka dan budaya kekerasan atas nama islam tidak
terjadi lagi.
Ia meminta umat islam sadar bahwa islam dan ajarannya dapat
digunakan oleh kelompok tertentu utk melaksanakan agenda
tersembunyi mereka .
Ada kelompok yg melakukan kekerasan dengan
mengatasnamakan islam.
Harus di cegah keimanan islam dijadikan alat oleh kelompok yg
memiliki agenda tersembunyi.
Kelalaian akan memberikan kelompok militan menyebarkan
pertikaian dikalangan muslim dan menggaggu keharmonisan ras.

36.PERTEMUAN UNI EROPA

Penanganan

antiterorisme
yang
dibahas dalam Euro-Mediterranean
Summit
selama
dua
hari
di
Barcelona,pada
tanggal
28
November 2005. Rancangan Code
of conduct on Countering Terrorism
itu menyatakan.serangan teroris
tetap tidak dapat dibenarkan dengan
alasan
apapun.

37.Mantan Sekjen PBB Kofi Annan :


Semua

negara di dunia harus bersatu dalam


solidaritas dengan para korban terorisme, dan
dalam kebulatan tekad dalam mengambil suatu
tindakan melawan teroris itu sendiri dan
melawan semua pihak yang memberi mereka
perlindungan, bantuan, atau
dorongan.selanjutnya Kofi Annan
mengatakannya dari sifatnya, terorisme adalah
suatu penyerangan atas prinsip dasar dari
hukum, tata tertib, hak manusia.

38.Konferensi Internasional Tentang


Isu Radikalisme Islam dan Aktifitas
Ekonomi Indonesia :

Wakil

Presiden
RI
Jusuf
Kalla
dalam
sambutannya dalam Konferensi Internasional
tentang isu radikalisme Islam dan aktivitas
ekonomi Indonesia (07 Desember 2005)meminta
rakyat berpikir positif menanggapi langkah
langkah pemerintah termasuk langkah perang
melawan terorisme. Pemerintah akan terus
melakukan
perang
menyeluruh
melawan
terorisme. Isu terorisme adalah isu yang sangat
sensitif dan tidak selalu populis.

39.AGENDA UTAMA ORGANISASI


TERORIS INTERNASIONAL :

mendapatkan Weapons of Mass

Destruction yaitu senjata


pemusnah masal seperti senjata
nuklir, senjata kimia, senjata
biologi (senjata gas sarin yang
merusak saraf), dan Bom hidrogen.
-melalui kerja sama Internasional
ini bisa di cegah.

40.IMPLIKASI KERUNTUHAN
NEGARA UNI SOVIET :
Setelah Negara Uni Soviet runtuh:

beberapa komponen senjata nuklir dan cetak

biru pembuatan senjata nulir dijual ke negaranegara tertentu yang sangat berminat memiliki
senjata nuklir tersebut.
Yang menjadi keprihatinan dunia Internasional
adalah apabila teroris mampu menguasai negara
tersebut sehingga mereka mempunyai akses ke
senjata pemusnah masal tersebut, dan apabila
ini terjadi ini akan terjadi bencana global.

41.Persoalan dibidang legislasi


Pemberantasan Teoris :

Apabila

aparat
keamanan
diberikan
kewenangan
yang
lebih
besar.Kekhawatirkan masyarakat
akan
terjadi
penyalahgunaan
kewenangan
( abuse of power ).

Di Perancis aparat kemanan diberikan

kewenangan
ternyata
tidak
ada
masalah.Bahkan
setelah
UU
diamandemen aparat keamanan mampu
mencegah dan memggagalkan sebanyak
26
rencana peledakan bom diseluruh
Perancis .

42.Undang-undang Keamanan Australia


Yang Baru :
1.Sekarang ini Polisi dan agen rahasia Australia
memperoleh hak untuk menyadap telepon dan
melacak email serta sms warga masyarakat
,walaupun mereka bukan tersangka kejahatan dan
bukan pelaku kejahatan.
2.Polisi boleh menahan orang tanpa perintah
perpanjangan masa penahanan,jika orang tersebut
dituduh mengetahui rencana serangan
Reaksi masyarakat dan pembela kebebasan
sipil menganggap UU ini mengganggu privasi
masyarakat.

43.Indonesia Ratifikasi 2 Konvensi


Internasional Pemberantasan Terorisme :

1.Konvensi Internasional Pemberantasan

Pengeboman oleh Teroris Tahun 1997


(International
Convention
for
The
Suppression of Terrorist Bombings 1997).
2.Konvensi Internasional Pemberantasan
Pendanaan
Terorisme
Tahun
1999
(International
Convention
of
the
Suppression of the financing of Terrorism
1999). Kedua Konvensi Internasional ini
sangat bermanfaat bagi Indonesia dalam
memerangi kejahatan teroris.

44.Keberhasilan Negara
Perancis menangani
Terorisme :

Adanya dukungan dari Parlemen Perancis dalam proses legislasi, dengan


memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Pemerintah Perancis untuk
melakukan segala upaya penegakan hukum dalam perang melawan teroris.
Apabila kita melihat keberhasilan Pemerintah Perancis dalam memerangi
kejahatan teroris tersebut, tentunya Pemerintah Indonesia juga bisa
menggunakan gagasan untuk mendapatkan dukungan dari Parlemen, agar
diberikan dukungan melalui proses legislasi untuk memberikan kewenangan yang
lebih luas kepada Pemerintah dalam memerangi kejahatan teroris tersebut .

45.Konvensi Internasional Pemberantasan


Pengeboman oleh Teroris thn.1997( UU No.5
Thn.2006 ) dlm pasal 2 menyatakan:

Setiap orang yang dianggap telah melakukan tindak


pidana, apabila orang tersebut secara melawan hukum dan
sengaja mengirimkan, menempatkan,melepaskan, atau
meledakkan, suatu bahan peledak atau alat mematikan
lainnya di, ke dalam, atau terhadap tempat umum, fasilitas
negara atau pemerintah, sistem transportasi masyarakat,
atau fasilitas infrastruktur yang dilakukan dengan tujuan
untuk menyebabkan kematian, luka berat, atau dengan
tujuan untuk menghancurkan tempat, fasiltas atau sistem
yang mengakibatkan kerugian ekonomi yang besar .
-Ketentuan ini juga berlaku bagi orang yang melakukan
percobaan atas tindak pidana tersebut dan bagi mereka
yang turut serta dalam terjadinya tindak pidana tersebut

46.Konvensi Internasional Tentang


Pendanaan Terorisme thn.1999 ( UU No.6
Thn.2006 )

Pasal 2 ( dua ) :Setiap orang

dianggap telah
melakukan tindak pidana apabila orang tersebut
secara langsung atau tidak langsung, secara
melawan
hukum
dan
dengan
sengaja
menyediakan atau mengumpulkan dana dengan
niat
akan
digunakan
atau
dengan
sepengetahuannya
akan digunakan, secara
keseluruhan atau sebagian, untuk melakukan
tindakan yang dapat menimbulkan suatu akibat
yang tercakup dan dirumuskan dalam salah satu
Konvensi
yang
tercantum
dalam
lampiran
Konvensi ini.

47.Pasal 8 dan pasal 9 :


Pasal 8 : Mengatur kewajiban negara pihak
untuk mengidentifikasi, mendeteksi, dan
membekukan dana yang digunakan untuk
membiayai tindak pidana terorisme. Dana
tersebut selanjutnya dapat dirampas negara
sesuai dengan hukum nasional.

Pasal 9 : Mengatur kewajiban negara pihak

untuk melakukan penahanan terhadap


tersangka pelaku tindak pidana untuk tujuan
penuntutan atau ekstradisi setelah memiliki
bukti penahanan yang cukup.

48.CARA-CARA PENANGGULANGAN
AKSI TERORISME LAINNYA:
1. Selain melalui cara penegakan hukum cara

lain yang juga dianggap penting dan efektif


untuk melawan aksi teroris adalah dengan
menyebarkan toleransi antar umat manusia
dan toleransi antar umat beragama .
2. Dunia internasional harus bekerjasama
untuk menemukan akar masalah yang
memicu timbulnya aksi terorisme.

49.Golden Rules yang harus


diperhatikan hakim dalam memutus
perkara .
Memegang teguh supremasi hukum.
Mandiri dan tidak terpengaruh oleh pihak

manapun .
Objektif(no bias) dalam memutus suatu
perkara ,harus memutus berdasarkan pada
hukum ,bukan karena pengaruh eksternal .
Melakukan analisis atas dasar bukti-bukti
yang ada .
Dalam membuat pertimbangan harus
dengan jelas dan mudah dimengerti.

Kesimpulan dan saran :

Keberhasilan Insititusi Pengadilan dalam menyelesaikan perkara kejahatan terorisme


itdak lepas dari peranan penuntut umum dalam membuat surat dakwaan yang baik
dan kemampuan penuntut umum membktuikan kesalahan terdakwa.Perlu ada sinergi
antara instansi kepolisian ,kejaksaan dan pengadilan .
Dalam menanggulangi kejahatan terorisme ,Jaksa-jaksa dan hakim yang menangani
perkara teroris harus memahami cara-cara kerja organisasi dan jaringan teroris
,struktur organisasi teroris dan jaringan organisasi Internasional .

3.Kejahatan teroris menjadi ancaman bagi stabilitas keamanan nasional ,regional dan
Internasional .dan menjadi ancaman bagi perekonomian nasional dan perekonomian
global .

4.Selain kemampuan Profesional aparat penegak hukum .Merevisi UU Terorisme


sesusai dengan perkembangan tingkat kejahatan yang dan memberikan kewenangan
yang lebih luas kepada aparat keamanan dalam memerangi aksi terorisme.

5. Perang melawan teroris selain menangkap para pelakunya (otaknya ) juga


termasuk mencegah terjadinya serangan-serangan bom
di kemudian hari .
6.Pemerintah harus mampu mengidentifikasi sumber-sumber pembiayaan serta
mengamputasi dan membasmi dana-dana pembiayaan terorisme di Indonesia

6.Mengatasi aksi terorisme selain dengan cara -cara melalui penegakkan hukum cara
lain yang juga dianggap paling efektif dalam melawan terorisme adalah dengan
menyebarkan ajaran toleransi antarmanusia dan Dunia Internasional harus bekerja
sama menemukan akar masalah yang memicu timbulnya aksi terorisme di seluruh
dunia.