P. 1
Kasus Kasus Pidana

Kasus Kasus Pidana

|Views: 2,930|Likes:
Dipublikasikan oleh gisthinx
kasus pidana
kasus pidana

More info:

Published by: gisthinx on Feb 12, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

Kliping Kasus Kasus Pidana (Tugas Mata Kuliah Hukum Pidana) D I S U S U N Oleh

:

Paramitha Amelia 0812049

SEKOLAH TINGGI ILMU HUKUM (STIH) Muhammadiyah kalianda Lampung Selatan
2010

Kamis, 12 November 2009 BANDAR LAMPUNG Pengedar Narkoba Diganjar 8 Tahun
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Ade Candra (22), terdakwa pengedar dan pemilik 90 butir pil ekstasi, serta 0,42 gram sabu-sabu, diganjar hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp20 juta, subsider 3 bulan kurungan, Rabu (11-11). Ade terbukti secara sah dan meyakinkan mengedarkan psikotropika berupa obat yang tidak terdaftar pada departemen yang bertanggung jawab di bidang kesehatan. Perbuatannya terbukti melanggar Pasal 60 Ayat (1) huruf c UU RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika, sebagaimana dalam dakwaan pertama jaksa. Ketua Majelis Hakim Jesden Purba menyatakan barang bukti 90 butir ekstasi dan 0,42 gram sabusabu dirampas untuk dimusnahkan. Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan Jaksa Selamet yang menuntut terdakwa Ade 10 tahun penjara dan denda Rp10 juta, subsider 5 bulan kurungan. Yang memberatkan, perbuatan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam pemberantasan narkoba, merusak generasi bangsa, dan meresahkan masyarakat. Sedangkan yang meringankan, terdakwa mengakui dan menyesali perbuatannya, serta belum pernah dihukum. Menanggapi putusan itu, terdakwa Ade Candra, warga Jalan Rasid, Kampung Wirda, Jatiagung, Lampung Selatan, menyatakan menerima, begitu juga dengan Jaksa Selamet. Terungkap di persidangan, pada Rabu (29-7), Ade Candra bersama temannya mengendarai sepada motor, menunggu pembeli di Jalan Sri Kresna, Kelurahan Sawah Brebes, Tanjungkarang Timur. Lalu datang aparat Polsekta Tanjungkarang Timur yang mendapat informasi akan ada transaksi narkoba. Melihat gerak-gerik terdakwa Ade Candra yang mencurigakan, polisi mendekatinya. Tapi Ade dan temannya segera kabur. Ade tertangkap, sedangkan temannya lolos. Setelah diperiksa, ditemukan barang bukti 90 butir ekstasi warna merah muda berlogo love, dan satu bungkus sabu-sabu seberat 0,42 gram dari saku celana sebelah kiri. Terdakwa Ade mengatakan ekstasi dan sabu-sabu tersebut didapat dari Beri (DPO) dengan cara membeli, dengan harga satu butir ektasi Rp100 ribu. Rencananya ekstasi tersebut akan dijual oleh terdakwa Ade seharga Rp120 ribu. Sedangkan sabu-sabu tersebut akan terdakwa gunakan sendiri.

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang persidangan kasus pengedar Psikotropika.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Ade Candra sebagai terdakwa pengedar. Jesden Purba sebagai Ketua Majelis Hakim. Selamet sebagai Jaksa Penuntut Umum.

-

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Persidangan dilakukan pada tanggal 11 November 2009. Penangkapan tersangka Ade terjadi pada hari rabu tanggal 29 Juli 2009.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat Penangkapan terdakwa di Jalan Sri Kresna, Kelurahan Sawah Brebes, Tanjungkarang Timur.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Persidangan terjadi karena Perbuatan terdakwa terbukti melanggar Pasal 60 Ayat (1) huruf c UU RI No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Ade Candra bersama temannya mengendarai sepada motor, menunggu pembeli di Jalan Sri Kresna, Kelurahan Sawah Brebes, Tanjungkarang Timur. Lalu datang aparat Polsekta Tanjungkarang Timur yang mendapat informasi akan ada transaksi narkoba. Melihat gerak-gerik terdakwa Ade Candra yang mencurigakan, polisi mendekatinya. Tapi Ade dan temannya segera kabur. Ade tertangkap, sedangkan temannya lolos. Setelah diperiksa, ditemukan barang bukti 90 butir ekstasi warna merah muda berlogo love, dan satu bungkus sabu-sabu seberat 0,42 gram dari saku celana sebelah kiri. Terdakwa Ade mengatakan ekstasi dan sabu-sabu tersebut didapat dari Beri (DPO) dengan cara membeli, dengan harga satu butir ektasi Rp100 ribu. Rencananya ekstasi tersebut akan dijual oleh terdakwa Ade seharga Rp120 ribu. Sedangkan sabu-sabu tersebut akan terdakwa gunakan sendiri.

Senin, 29 Oktober 2007 Ajaran Al-Qiyadah Al Islamiyah: Dua Pimpinan Ditahan Polisi
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Poltabes Bandar Lampung menahan dua pimpinan penganut ajaran Al-Qiyadah Al Islamiyah di Bandar Lampung, sebagai tersangka dengan sangkaan melanggar pasal 156 KUHP, tentang menodai perasaan dan penistaan agama, Minggu (28-10), sekitar pukul 21.00 Kedua orang tersebut Ponco Nugroho (28) alias Mustafa, warga Kebon Jeruk, Kampung Sawah, Tanjungkarang Timur, dan Ahmadi Asikin (50) alias Muhaimin, warga Jalan Ikan Bawal, Rt 034 PK V, Kampung Jualang, Telukbetung Selatan. Sementara kelompok lainnya, dalam pendataan. Kapoltabes Kombes Pol Endang Sunjaya, didampingi Kasat Reskrim AKP Hengki Haryadi menjelaskan sebelumnya keduanya hanya dikenai wajib lapor dan di bawah pengawasan sambil menunggu proses penyelidikan. Sabtu (27-10) malam, keduanya kembali dijemput di kediamannya oleh Sat Intel dan Sat Reskrim Poltabes. Alasannya kedua orang tersebut mendapat ancaman dari warga.

"Awalnya mereka kami amankan karena terancam. Sementara pemeriksaan dan penyelidikan terus dilanjutkan sambil melengkapi bukti-bukti pelanggaran terhadap pelaku aliran ini," kata Endang Sunjaya. Tim Reskrim Poltabes juga menggeledah rumah tinggal Ahmadi dan menyita bukubuku dan peralatan yang ada di atap rumah Ahmadi, yang dijadikan tempat pertemuan kelompok tersebut. Menurut Kapoltabes, setelah pemeriksaan para saksi dan beberapa bukti sudah mengarah, akhirnya polisi menetapkan keduanya sebagai tersangka, kemarin sore. Penelusuran Lampung Post, warga kesal dan marah dengan pelaku kelompok aliran tersebut. Karena tidak sedikit keluarga dan tetangga mereka terlibat aliran itu. Bahkan warga mengancam akan menghakimi kedua orang tersebut. Selain itu, warga mengancam akan membakar rumah mereka jika orang tersebut tidak segera meninggalkan lokasi kampung. "Kami tidak terima, kami ingin dia diusir dari lingkungan ini," kata Nurmaya, yang anaknya menjadi pengikut Ahmadi. Hengki menambahkan tim telah melakukan pemeriksaan terhadap saksi ahli yaitu Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indobesia Kota Bandar Lampung Abdul Bashit, didampingi Suryani M. Nur (Ketua II MUI) Kota Bandar Lampung. Saksi ahli menyebutkan banyak bukti penyimpangan ajaran yang dilakukan kelompok tersebut. "Untuk penahanan kami sedang kumpulkan alat bukti. Mereka kami tetapkan sebagai tersangka dengan sangkaan melanggar pasal 156 a KUHP. Di sana disebutkan tentang penodaan agama. Kami akan lihat bagaimana tentang ajaran Islam yang berlaku, yang mereka ajarakan" kata Hengki. Terlebih, kata Hengki, Ahmadi adalah berprofesi sebagai guru dan ada indikasi dia mengajarkan ajaran tersebut di tempat dia mengajar. "Untuk yang lainnya, sedang kami selidiki," katanya. Sementara, Ahmadi dan Mustafa membantah keras berita surat kabar yang menyebutkan tanggung jawab orang tua selesai setelah melahirkan dan ada kewajiban membunuh orang tua, jika tidak mengikuti ajaran mereka. "Masya Allah, itu tidak benar. Tolong diluruskan. Yang kami yakini adalah belum wajibnya salat lima waktu, belum wajib melaksanakan puasa, mengingkari nabi terakhir, dan syahadat yang berbeda. Jadi, tidak benar itu," kata Ahmadi, di Poltabes Bandar Lampung.

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang penangkapan dua pimpinan penganut ajaran Al-Qiyadah Al Islamiyah di Bandar Lampung.

2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
o o o

Ponco Nugroho dan Ahmadi Asikin sebagai tersangka. Kombes Pol Endang Sunjaya sebagai Kapoltabes Bandar Lampung. AKP Hengki Haryadi sebagai Kasat reskrim Poltabes Bandar Lampung.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

Penangkapan tersangka dilakukan pada tanggal 27 Oktober 2007.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat Penangkapan terdakwa Jalan Ikan Bawal, Rt 034 PK V, Kampung Jualang, Telukbetung Selatan.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Penangkapan terjadi karena Perbuatan tersangka terbukti melanggar pasal 156 KUHP, tentang menodai perasaan dan penistaan agama.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Sabtu (27-10) malam, kedua tersangka Ponco Nugroho dan Ahmadi Asikin dijemput di kediamannya oleh Sat Intel dan Sat Reskrim Poltabes. Alasannya kedua orang tersebut mendapat ancaman dari warga.

"Awalnya mereka kami amankan karena terancam. Sementara pemeriksaan dan penyelidikan terus dilanjutkan sambil melengkapi bukti-bukti pelanggaran terhadap pelaku aliran ini," kata Endang Sunjaya. Tim Reskrim Poltabes juga menggeledah rumah tinggal Ahmadi dan menyita bukubuku dan peralatan yang ada di atap rumah Ahmadi, yang dijadikan tempat pertemuan kelompok tersebut.

Selasa, 18 Maret 2008 Pencurian:Lima Pencuri Motor Dihukum Dua Tahun BANDAR LAMPUNG (Lampost): Lima terdakwa kasus pencurian sepeda motor divonis 2 tahun penjara masing-masing dalam sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Senin (17-3). Mereka dinyatakan terbukti melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke-4 KUHP. Para terdakwa adalah Sutikno (38), Sidik Rozali (20), Edi Siswanto (28), Baudin (28), dan Siswanto (19). Putusan Majelis Hakim Jesden Purba, Andreas Suharto dan K.G. Damanik itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa Jannes Sihombing, yaitu 2 tahun 6 bulan masing-masing. Pertimbangan yang memberatkan, perbuatan terdakwa meresahkan masyarakat. Yang meringankan, para terdakwa mengakui perbuatannya dan belum pernah dihukum. Menanggapi putusan tersebut, mereka menerima. Kasus pencurian Yamaha Vega-R warna biru-putih BE-6732-CB milik Rafles Welatsia Oktaferi, warga Kelurahan Sidosari, Kecamatan Natar, Lampung Selatan itu terjadi Senin, 5 Oktober 2007, sekitar pukul 21.00. Awalnya Sutikno bertugas sebagai tukang parkir di halaman Gedung Olahraga (GOR) Saburai. Saat itu dia melihat kunci kontak sepeda motor tertinggal di bodi samping sepeda motor Vega-R yang sedang diparkir. Kemudian Sutikno mengambil kunci tersebut dan timbul niat mengambil sepeda motor yang dijaganya itu. Lalu Sutikno mengajak lima terdakwa lain untuk mengambil sepeda motor tersebut. Setiap pelaku mempunyai tugas tersendiri. Sidik dan terdakwa Edi membawa sepeda motor keluar tempat parkir GOR Saburai. Sedangkan Baudin dan Siswanto mengawasi tempat parkir untuk memuluskan rencana mereka. Setelah itu sepeda motor dibawa ke rumah kontrakan Edi.

Di sana mereka (terdakwa) melepaskan beberapa bagian sepeda motor untuk menghilangkan jejak. Hal itu dilakukan agar sepeda motor yang dicuri tidak dikenal dan disimpan di rumah terdakwa Edi sambil menunggu situasi aman. Para terdakwa berencana menjual sepeda motor tersebut dan uangnya dibagi untuk setiap terdakwa. Namun, sebelum sempat dijual, perbuatan mereka tercium petugas berwenang. Akhirnya, kasus itu terungkap dan mereka ditangkap.

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang kasus pencurian sepeda motor.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Sutikno (38), Sidik Rozali (20), Edi Siswanto (28), Baudin (28), dan Siswanto (19). sebagai terdakwa pencuri. Jesden Purba , Andreas Suharto dan K.G. Damanik sebagai Majelis Hakim. Jannes Sihombing sebagai Jaksa Penuntut Umum.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Persidangan dilakukan pada tanggal 17 Maret 2008. Pencurian yang dilakukan tersangka terjadi pada hari senin tanggal 5 Oktober 2007.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Persidangan dilakukan di Pengadilan Negeri Tanjungkarang. Pencurian dilakukan di halaman Gedung Olahraga (GOR) Saburai.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Persidangan terjadi karena Perbuatan terdakwa terbukti melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke4 KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Awalnya Sutikno bertugas sebagai tukang parkir di halaman Gedung Olahraga (GOR) Saburai. Saat itu dia melihat kunci kontak sepeda motor tertinggal di bodi samping sepeda motor Vega-R yang sedang diparkir. Kemudian Sutikno mengambil kunci tersebut dan timbul niat mengambil sepeda motor yang dijaganya itu. Lalu Sutikno mengajak lima terdakwa lain untuk mengambil sepeda motor tersebut. Setiap pelaku mempunyai tugas tersendiri. Sidik dan terdakwa Edi membawa sepeda motor keluar tempat parkir GOR Saburai. Sedangkan Baudin dan Siswanto mengawasi tempat parkir untuk memuluskan rencana mereka. Setelah itu sepeda motor dibawa ke rumah kontrakan Edi. Di sana mereka (terdakwa) melepaskan beberapa bagian sepeda motor untuk menghilangkan jejak. Hal itu dilakukan agar sepeda motor yang dicuri tidak dikenal dan disimpan di rumah terdakwa Edi sambil menunggu situasi aman. Para terdakwa berencana menjual sepeda motor tersebut dan uangnya dibagi untuk setiap terdakwa. Namun, sebelum sempat dijual, perbuatan mereka tercium petugas berwenang. Akhirnya, kasus itu terungkap dan mereka ditangkap.

Selasa, 13/10/2009 Jakarta, Radar Online

Mantan Gubernur Sumsel Divonis 1 Tahun
Richard Burton.P [Jakarta]

Mantan gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Syahrial Oesman, divonis satu tahun penjara, karena terbukti terlibat dalam kasus suap proses alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang, Sumsel) menjadi Pelabuhan Tanjung Apiapi. "Menyatakan terdakwa Syahrial Oesman terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagai penganjur," kata Ketua Majelis Hakim, Teguh Harianto, ketika membacakan putusan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Senin (12/10).

Dalam putusannya, majelis hakim juga menjatuhkan denda sebesar Rp100 juta subsider enam bulan penjara. Putusan itu lebih ringan dari tuntutan tim jaksa penuntut umum yang meminta penjatuhan hukuman selama empat tahun penjara dan denda sebesar Rp200 juta subsider empat bulan penjara. Dalam pertimbangan yang meringankan, Teguh menjelaskan, Syahrial hanya terbukti menganjurkan pelaksanaan aliran dana kepada sejumlah anggota komisi IV untuk mempercepat proses alih fungsi hutan lindung. "Terdakwa tidak menikmati hasil dari penyuapan," kata Teguh ketika membacakan pertimbangan meringankan. Syahrial terbukti menyetujui dan menganjurkan aliran dana hingga mencapai Rp5 miliar kepada sejumlah anggota komisi IV DPR. Penyerahan dalam bentuk cek itu atas permintaan anggota DPR untuk memperlancar pemberian rekomendasi alih fungsi hutan lindung di Sumsel untuk dijadikan Pelabuhan Tanjung Apiapi. Untuk itu, Direktur Utama Badan Pengelolaan dan Pengembangan Pelabuhan Tanjung Apiapi yang juga mantan sekretaris daerah Provinsi Sumsel, Sofyan Rebuin, meminta bantuan anggota Komisi IV DPR RI Sarjan Tahir. Setelah itu, Sofyan menemui Syahrial yang waktu itu menjadi gubernur Sumsel dan pengusaha Chandra Antonio Tan pada Oktober 2006. Pada pertemuan itu, Sofyan mengatakan ada kebutuhan dana Rp5 miliar untuk pemberian rekomendasi alih fungsi hutan. Chandra Antonio Tan setuju untuk menyiapkan cek senilai Rp2,5 miliar. Chandra kemudian menyerahkan Rp2,5 miliar itu kepada Sarjan Tahir, yang kemudian dibagikan kepada beberapa anggota Komisi IV DPR. Pada Juni 2007, Sarjan kembali menghubungi Sofyan Rebuin untuk meminta sisa pembayaran Rp2,5 miliar. Kemudian Sofyan memberitahukan hal itu kepada terdakwa Syahrial. Penyerahan cek tahap kedua itu dilakukan oleh pengusaha Chandra Antonio Tan di Hotel Mulia Jakarta, pada 25 Juni 2007. "Maka unsur memberi sesuatu telah terbukti secara sah dan meyakinkan," kata anggota majelis hakim, Anwar. Sementara itu, hakim Ugo dan Andi Bachtiar sepakat menyatakan Syahrial telah dengan sengaja menyetujui dan menganjurkan aliran dana tersebut. Hal itu terbukti melalui fakta-fakta persidangan yang menyatakan Syahrial tidak melarang, bahkan memberi usul, ketika Sofyan Rebuin dan Chandra Antonio Tan menceritakan kebutuhan aliran dana kepada sejumlah anggota DPR. "Maka unsur dengan sengaja telah terpenuhi," kata Andi Bachtiar. Atas perbuatannya, Syahrial dijerat dengan pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) kedua KUHP. Dalam persidangan, Syahrial dan tim penasihat hukum belum menentukan sikap atas putusan majelis hakim. "Kami akan menggunakan waktu tujuh hari untuk berpikir," kata Syahrial di hadapan majelis hakim.

Tim penuntut umum yang tuntutannya tidak dipenuhi oleh majelis hakim juga menyatakan pikir-pikir. Sebelumnya, Syahrial membantah telah memerintahkan penyerahan cek ke DPR untuk melancarkan proses alih fungsi hutan lindung. Ignatius Supriadi, penasihat hukum Syahrial, menegaskan penyerahan cek kepada sejumlah anggota DPR tanpa sepengetahuan kliennya. Menurut dia, inisiatif penyerahan dana berasal dari bawahan Syahrial. "Pak Syahrial tentu tidak bisa mengontrol tindakan bawahan sepenuhnya," ujarnya. (TMA/Ant/Rbp).

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang persidangan kasus suap proses alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang, Sumsel menjadi Pelabuhan Tanjung Apiapi.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Syahrial Oesman sebagai terdakwa penganjur pemberian suap. Teguh Harianto sebagai Ketua Majelis Hakim. Sofyan Rebuin sebagai Direktur Utama Badan Pengelolaan dan Pengembangan Pelabuhan Tanjung Apiapi Chandra Antonio Tan sebagai pengusaha pemberi suap kepada sejumlah anggota komisi IV DPR.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Persidangan dilakukan pada tanggal 12 Oktober 2009. Proses pemberian suap kepada anggota komisi IV DPR terjadi pada 25 Juni 2007.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pemberian suap kepada anggota komisi IV DPR di Hotel Mulia Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Persidangan terjadi karena terdakwa terbukti terlibat dalam kasus suap proses alih fungsi hutan lindung Pantai Air Telang, Sumsel menjadi Pelabuhan Tanjung Apiapi. Tersangka dijerat dengan pasal 5 ayat (1) huruf a Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) kedua KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Syahrial terbukti menyetujui dan menganjurkan aliran dana hingga mencapai Rp5 miliar kepada sejumlah anggota komisi IV DPR. Penyerahan dalam bentuk cek itu atas permintaan anggota DPR untuk memperlancar pemberian rekomendasi alih fungsi hutan lindung di Sumsel untuk dijadikan Pelabuhan Tanjung Apiapi. Untuk itu, Direktur Utama Badan Pengelolaan dan Pengembangan Pelabuhan Tanjung Apiapi yang juga mantan sekretaris daerah Provinsi Sumsel, Sofyan Rebuin, meminta bantuan anggota Komisi IV DPR RI Sarjan Tahir. Setelah itu, Sofyan menemui Syahrial yang waktu itu menjadi gubernur Sumsel dan pengusaha Chandra Antonio Tan pada Oktober 2006. Pada pertemuan itu, Sofyan mengatakan ada kebutuhan dana Rp5 miliar untuk pemberian rekomendasi alih fungsi hutan. Chandra Antonio Tan setuju untuk menyiapkan cek senilai Rp2,5 miliar. Chandra kemudian menyerahkan Rp2,5 miliar itu kepada Sarjan Tahir, yang kemudian dibagikan kepada beberapa anggota Komisi IV DPR. Pada Juni 2007, Sarjan kembali menghubungi Sofyan Rebuin untuk meminta sisa pembayaran Rp2,5 miliar. Kemudian Sofyan memberitahukan hal itu kepada terdakwa Syahrial. Penyerahan cek tahap kedua itu dilakukan oleh pengusaha Chandra Antonio Tan di Hotel Mulia Jakarta, pada 25 Juni 2007. "Maka unsur memberi sesuatu telah terbukti secara sah dan meyakinkan," kata anggota majelis hakim, Anwar. Sementara itu, hakim Ugo dan Andi Bachtiar sepakat menyatakan Syahrial telah dengan sengaja menyetujui dan menganjurkan aliran dana tersebut.

"Nyabu" Bersama Polisi, Direktur Teknik PDAM Ditangkap
Sabtu, 19 Desember 2009 PADANG, KOMPAS — Polisi dari jajaran Polsek Lubuk Begalung atau Lubeg menangkap Direktur Teknik PDAM Padang yang terlibat narkotika jenis sabu di Komplek Perumahan Plam Griya, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang (1812).RL, Direktur Teknik PDAM Padang adalah warga Komplek Plam Griya, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang. Kepala Satreskrim Polsek Lubuk Begalung Ipda Roy Noer di Padang mengatakan, penangkapan Direktur Teknik (Dirtek) PDAM Padang yang terlibat sabu tersebut dilakukan Satuan Reskrim Polsek Lubek. "Selain menangkap Dirtek PDAM Kota Padang, Satuan Reskrim Polsek Lubek juga membekuk oknum dari anggota Polri yang bersama-sama dalam rumah tersebut," ujarnya. Polisi masih merahasiakan siapa nama oknum dari anggota kepolisian yang terlibat bersama Dirtek PDAM Padang tersebut. Ia menambahkan, para tersangka terkejut saat melihat anggota Satuan Reskrim Polsek Lubek tiba-tiba masuk ke dalam rumah. "Sementara itu, para tersangka juga berniat mau membuang semua barang bukti yang terletak di atas meja dalam ruang tamu," ujarnya. Ia mengatakan, awalnya Satuan Reskrim Polsek Lubek mendapat informasi bahwa ada buronan yang lari ke Komplek Perumahan Plam Griya, kemudian masuk ke salah satu rumah warga Blok D N 11 yang berada di kompleks tersebut. "Setelah mengepung buronan yang masuk dalam rumah Blok D Komplek Plam Griya, ternyata bukannya buronan pelaku pencurian yang kita cari, tetapi Dirtek PDAM Padang bersama oknum polisi," katanya. Ia menambahkan, pelaku bersama oknum polisi terkejut melihat kehadiran anggota Satuan Reskrim Polsek Lubek masuk rumah. "Mereka ini kita tangkap ketika mau pesta sabu di ruang tamu rumah Dirtek PDAM tersebut," katanya. Dari tangan tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa satu paket sabu, alat penghisap, dan alat pembakar. Para terangka dapat dijerat dengan UndangUndang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penyalahgunaan Narkotika dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang penangkapan Direktur Teknik PDAM Padang dan oknum dari anggota kepolisian yang terlibat kasus narkoba jenis sabu.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

RL Direktur Teknik PDAM Padang dan oknum dari anggota kepolisian sebagai tersangka pemakai narkoba. Ipda Roy Noer sebagai Kepala Satreskrim Polsek Lubuk Begalung.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Penangkapan dilakukan pada tanggal 18 Desember 2009.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat Penangkapan tersangka di Komplek Perumahan Plam Griya, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Dirtek PDAM Padang bersama oknum polisi yang tertangkap tangan ketika mau pesta sabu di ruang tamu rumah Dirtek PDAM tersebut. Para terangka dapat dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2008 tentang Penyalahgunaan Narkotika dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Awalnya Satuan Reskrim Polsek Lubek mendapat informasi bahwa ada buronan yang lari ke Komplek Perumahan Plam Griya. Setelah mengepung buronan yang masuk dalam rumah Blok D Komplek Plam Griya, ternyata bukannya buronan pelaku pencurian yang

ditemukan, melainkan Dirtek PDAM Padang bersama oknum polisi yang tertangkap tangan ketika mau pesta sabu di ruang tamu rumah Dirtek PDAM tersebut. Dari tangan tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa satu paket sabu, alat penghisap, dan alat pembakar.

Terdakwa Diancam 20 Tahun Bui

Kamis, 17/12/2009 SOLO (Joglosemar): Sidang perdana korupsi buku ajar digelar di Pengadilan Negeri (PN) Solo, Rabu (16/12). Kedua terdakwa Pradja Suminta dan Amsori, terancam hukuman penjara selama 20 tahun. Usai mendengarkan pembacaan surat dakwaan, melalui penasihat hukumnya langsung mengajukan keberatan (eksepsi) atas dakwaan jaksa. Jalannya persidangan dilangsungkan secara terpisah, kendati demikian Ketua Majelis Hakim Saparudin Hasibuan yang juga Ketua PN Surakarta, dengan hakim anggota Asra dan JJH Simanjuntak. Sidang dimulai sekitar pukul 10.20 WIB. Sidang pertama dengan terdakwa Pradja Suminta. Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdiri Sigit Kristanto, RR Rahayu dan Wahyu Darmawan dalam surat dakwaan menyatakan jika Pradja telah melanggar hukum. Menurutnya, bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan melawan hukum yakni memperkaya orang lain atau korporasi sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 3,7 miliar. Atas dakwaan itu, JPU menjerat terdakwa dengan dua dakwaan sekaligus, yakni dakwaan Primer dan subsider. Dalam dakwaan primer terdakwa dijerat dengan pasal 2 ayat (1) Jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tentang tindak pidana korupsi. Dalam pasal tersebut, ancaman hukuman paling lama 20 tahun penjara. Kemudian untuk dakwaan subsider terdakwa dijerat pasal 3 junto Pasal 18

UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Pradja secara tegas menolak dakwaan yang dibacakan oleh JPU. “Setelah mendengar dakwaan JPU, saya menolak karena hal itu tidak benar,” kata Pradja kepada majelis. Melalui penasihat hukumnya, YB Irpan dan Eko Yudhi Santoso terdakwa menyampaikan eksepsinya. “Penyidik tidak objektif dan telah mengabaikan hak-hak dalam statusnya sebagai tersangka. Sesuai dengan ketentuan Pasal 116 (3) dan (4) KUHAP saksi a de charge ayau meringankan seharusnya juga disidik guna memberikan keterangan kepada penyidik,” kata Irpan saat membacakan eksepsi. Penangguhan Penahanan Katanya, tidak hanya itu, pihaknya juga mengatakan jika kasus yang menjerat kliennya merupakan lingkup hukum administrasi negara (HAN) sehingga PN Solo tidak berhak mengadili kliennya. “Kasus ini, tidak termasuk tindak pidana, melainkan merupakan termasuk dalam hukum administrasi negara, sehingga PN tidak berhak mengadilinya,” tegas Irpan. Pihaknya langsung mengajukan surat permohonan penangguhan penahanan terhadap kliennya. “Saya akan bicarakan permohonan Saudara kepada anggota lainnya,” kata Saparudin. Seusai persidangan terhadap Pradja Suminta, PN Solo langsung melanjutkannya ke sidang kedua dalam kasus yang sama dengan terdakwa Amsori. Dalam sidang perdana, Amsori didampingi oleh tim penasihat hukum dari LBH Kajian Kebijakan Publik (Kakapi), salah satunya, Sri Sujianta. Amsori, usai mendengarkan surat dakwaan langsung menolaknya. “Kami akan mengajukan nota keberatan atas dakwaan JPU yang akan dibacakan pada sidang berikutnya,” kata Sri Sujianta. Amsori melalui penasihat hukumnya, Sri Sujianta mengajukan permohonan penangguhan penahanan. Sidang kemudian ditutup dan akan dilanjutkan pada Selasa (22/12) pekan depan. (apl/m3)

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Sidang perdana korupsi buku ajar yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Solo.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Pradja Suminta dan Amsori sebagai terdakwa kasus Korupsi. Saparudin Hasibuan sebagai Ketua Majelis Hakim. Sigit Kristanto, RR Rahayu dan Wahyu Darmawan sebagai Jaksa Penuntut Umum. YB Irpan dan Eko Yudhi Santoso Sebagai Kuasa Hukum Terdakwa.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Persidangan dilakukan pada tanggal 16 Desember 2009.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat Persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Solo.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Persidangan terjadi karena terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan melawan hukum yakni memperkaya orang lain atau korporasi sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 3,7 miliar.. Terdakwa dijerat dengan pasal 2 ayat (1) Jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tentang tindak pidana korupsi. Dalam pasal tersebut, ancaman hukuman paling lama 20 tahun penjara. Kemudian untuk dakwaan subsider terdakwa dijerat pasal 3 junto Pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Sidang dimulai sekitar pukul 10.20 WIB. Sidang pertama dengan terdakwa Pradja Suminta. Jaksa Penuntut Umum (JPU), terdiri Sigit Kristanto, RR Rahayu dan Wahyu Darmawan dalam surat dakwaan menyatakan jika Pradja telah melanggar hukum. Menurutnya, bahwa terdakwa secara sah dan meyakinkan telah melakukan perbuatan melawan hukum yakni memperkaya orang lain atau korporasi sehingga mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 3,7 miliar.

Atas dakwaan itu, JPU menjerat terdakwa dengan dua dakwaan sekaligus, yakni dakwaan Primer dan subsider. Dalam dakwaan primer terdakwa dijerat dengan pasal 2 ayat (1) Jo pasal 18 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP tentang tindak pidana korupsi. Dalam pasal tersebut, ancaman hukuman paling lama 20 tahun penjara. Kemudian untuk dakwaan subsider terdakwa dijerat pasal 3 junto Pasal 18 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dengan UU nomor 20 tahun 2001 junto Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP. Pradja secara tegas menolak dakwaan yang dibacakan oleh JPU. “Setelah mendengar dakwaan JPU, saya menolak karena hal itu tidak benar,” kata Pradja kepada majelis. Melalui penasihat hukumnya, YB Irpan dan Eko Yudhi Santoso terdakwa menyampaikan eksepsinya. “Penyidik tidak objektif dan telah mengabaikan hak-hak dalam statusnya sebagai tersangka. Sesuai dengan ketentuan Pasal 116 (3) dan (4) KUHAP saksi a de charge ayau meringankan seharusnya juga disidik guna memberikan keterangan kepada penyidik,” kata Irpan saat membacakan eksepsi.

Asyik Judi, 4 Orang Disergap
Sabtu, 19/12/2009 SOLO (Joglosemar): Asyik judi kiu-kiu empat warga ditangkap di daerah Kepatihan, Jebres. Mereka yang ditangkap yakni Suwarno (32), warga Tapen, Gilingrejo, Miri, Sragen, Riyanto (27), warga Tempel RT 06/RW VII Banyuanyar, Mukti Hartono (37), warga Kepatihan Wetan RT 02/RW IV, Jebres dan Joko Muwarto (33), warga Soka RT 03/RW I Kragilan, Mojosongo, Boyolali. Dari tangan tersangka petugas menyita satu set kartu domino dan uang tunai sebesar Rp 293.000. Informasi diperoleh Joglosemar menyebutkan, penggerebekan bermula dari adanya informasi masyarakat yang memberitahukan jika kawasan Kepatihan, Jebres, sering digunakan untuk berjudi. Berdasarkan laporan itu, Anggota Reskrim Polsektabes Jebres, melakukan penyelidikan hingga berhasil menangkapnya, Jumat (18/12), sekitar pukul 00.05 WIB. Mereka dipergoki tengah asyik berjudi kiu-kiu. Keempat penjudi tidak dapat berkelit lagi, setelah petugas menyita sejumlah barang bukti berupa uang tunai yang digunakan untuk taruhan sebesar Rp 293.000 serta satu set kartu domino. Kapoltabes Surakarta Kombes Pol Joko Irwanto melalui Kapolsektabes Jebres AKP Dwi Retnowati didampingi Kanit Reskrim Ipda Teguh Sujadi membenarkan penangkapan itu. Teguh mengatakan jika tempat tersebut memang tempat yang sering digunakan untuk berjudi. “Tempat itu memang sering digunakan untuk berjudi. Akibat perbuatannya keempat penjudi akan dijerat dengan Pasal 303 KUHP,” kata Teguh. (apl)

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Penangkapan empat warga yang sedang berjudi.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Suwarno (32), warga Tapen, Gilingrejo, Miri, Sragen, Riyanto (27), warga Tempel RT 06/RW VII Banyuanyar, Mukti Hartono (37), warga Kepatihan Wetan RT 02/RW IV, Jebres dan Joko Muwarto (33), warga Soka RT 03/RW I Kragilan, Mojosongo, Boyolali Sebagai tersangka Penjudi. Kombes Pol Joko Irwanto sebagai Kapoltabes Surakarta. AKP Dwi Retnowati sebagai Kapolsektabes Jebres. Ipda Teguh Sujadi Sebagai Kanit Reskrim.

-

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

Penggerebakan dilakukan pada hari Jumat (18/12), sekitar pukul 00.05 WIB.

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat Penggerebekan tersangka di kawasan Kepatihan, Jebres.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Penggerebekan bermula dari adanya informasi masyarakat yang memberitahukan jika kawasan Kepatihan, Jebres, sering digunakan untuk berjudi yang melanggar Pasal 303 KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

Penggerebekan bermula dari adanya informasi masyarakat yang memberitahukan jika kawasan Kepatihan, Jebres, sering digunakan untuk berjudi. Berdasarkan laporan itu, Anggota Reskrim Polsektabes Jebres, melakukan penyelidikan hingga berhasil menangkapnya, Jumat (18/12), sekitar pukul 00.05 WIB. Mereka dipergoki tengah asyik berjudi kiu-kiu. Keempat penjudi tidak dapat berkelit lagi, setelah petugas menyita sejumlah barang bukti berupa uang tunai yang digunakan untuk taruhan sebesar Rp 293.000 serta satu set kartu domino, keempat penjudi akan dijerat dengan Pasal 303 KUHP.

Wanita Pembakar Mobil Pejabat Polri Jadi Tersangka
Selasa, 29 Desember 2009

JAKARTA--MI: Wanita pembakar mobil jenderal bintang dua, Wakil Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Irjen Rismawan, menjadi tersangka. Wanita itu adalah Herti Tambunan (HT). Ia dikenakan Pasal 187 KUHP. Kadiv Humas Polri Irjen Nanan Soekarna membenarkan bahwa HT sudah menjadi tersangka dan diproses di Polres Jakarta Selatan. Ia melaporkan perkembangan sidik kasus pembakaran mobil dinas wairwasum polri. "Dia dikenakan Pasal 187 ayat 1e subsider 406 KUHP," ujar Nanan.

Berkas kasus HT dengan nomor LP: 2059/K/XII/2009/RES Jaksel, 28 Desember 2009.

Saksi yang sudah diperiksa masing-masing Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan pegawai negeri sipil bernama Wagiman. Barang bukti yang disita di tempat kejadian berupa 1 botol air mineral berisi bensin, 1 korek api, koran, dan foto mobil dinas yang terbakar. Seperti diberitakan, HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin. Dari pemeriksaan, wanita itu adalah seorang guru yang dipecat oleh yayasan tempat dia bekerja. Karena tidak puas, dia melaporkan kejadian itu ke Polres Jakarta Barat. Ternyata, kasusnya ditolak jaksa karena kurang cukup bukti. Karena tidak puas, HT melaporkan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya ke Profesi dan Pengamanan (Propam) Polri. Namun, perkembangannya mungkin kurang memuaskannya. Wairwasum Polri yang dikonfirmasi soal mobilnya yang dibakar itu mengatakan tidak mengetahui penyebab pembakaran mobilnya. "Saya juga tidak mengenal dia dan belum pernah memegang atau mengetahui kasusnya di Polres Jakarta Barat maupun yang ditangani di Propam Polri," ujar Rismawan. Dari keterangan HT ke polisi, kata Rismawan, dia hanya asal memilih mobil yang dibakarnya. "Dia hanya ingin membakar mobil polisi saja. Kebetulan, mobil saya diparkir di halaman belakang Mabes Polri dan saat itu sekitarnya sepi. Jadi, mobil saya yang kena," ujar Rismawan. Soal tindak lanjut kasus pembakaran mobilnya, Rismawan menyerahkan ke Polres Jakarta Selatan. "Tapi, kalau dia ternyata memang stres, saya akan meminta agar dia jangan diapa-apain dan dilepaskan dari tuntutan hukum," ujar Rismawan.

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang pembakaran mobil pejabat polri yang dilakukan oleh seorang wanita yang dilakukan di mabes polri.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka

-

Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Direktur Diadili
Sabtu, 8 November 2008

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman, diadili di PN Tanjungkarang, Kamis (6-11). Dia didakwa melanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). Sidang perdana dengan Majelis Hakim R.E. Setiawan, K.G. Damanik, dan Ardi dibantu Panitera Pembantu Suryadi itu mendengarkan dakwaan Jaksa Fajar. Terungkap dalam sidang, awalnya PT BJM bertransaksi kernel dengan PT SJIM dengan surat kontrak No. 012/KJB/BJM-II/2008 tanggal 25 Februari 2008 sebanyak 500 ton dan surat kontrak No. 014/KJB/BJM-II/2008 tanggal 25 Februari 2008 sebanyak 1.000 ton dengan uang muka 75%. Karena PT SJIM tidak setuju, kontrak itu dirubah. Kontrak dikirim melalui faksimili oleh CV BJM. Kemudian dikirim uang muka Rp1,5 miliar, tapi kernel tidak diserahkan. Hal itu tertuang dengan bukti berupa faksimili asli surat kontrak jual beli palem kernel 1.000 ton, bukti transfer uang DP Rp1,5 miliar dan Rp1 miliar, faktur pajak, berkas fotokopi dilegalisasi surat gugatan perdata, dan surat perjanjian angkutan laut. Dalam kasus dugaan penipuan penggelapan tersebut akan dihadirkan 14 orang saksi, termasuk saksi pelapor dan saksi ahli. Mendengar dakwaan Jaksa Kejaksaan Tinggi Lampung, Agusman Chandar Jaya, kuasa hukum terdakwa menyatakan akan menyampaikan pembelaan eksepsi. Majelis Hakim menunda sidang hingga pekan depan. "Kita akan dengarkan eksepsi dari kuasa hukum terdakwa. Sidang ditunda hingga pekan depan," kata Hakim Ketua R.E. Setiawan. Kuasa hukum PT SJIM, Mulyadi Hartono, menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut pada proses hukum di pengadilan. Sebelumnya, Agusman Candra Jaya dan Meutia Elvina Sesunan sempat menyatakan menyesalkan atas dilanjutkannya kasus tersebut. Pa

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Pencuri Kabel Dituntut

Jum'at, 12 September 2008 BANDAR LAMPUNG--Jaksa Iwan Artho Koesoemo menuntut Tomi Anggara hukuman 1 tahun 3 bulan penjara. Jaksa mengatakan Tomi terbukti melanggar Pasal 363 Ayat (1) ke-4 dan 5 KUHP tentang Pencurian dan Pasal 480 Ayat (1) KUHP jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Tuntutan itu dibacakan Jaksa Iwan Artho Koesoemo dalam sidang yang dipimpin Majelis Hakim Marsup dengan anggota R.B.R. Perangin-angin dan Siti Suryati. Setelah menjelaskan kembali tuntutan Jaksa, Hakim menanyakan kepada terdakwa apakah hal itu telah dimengerti, dan terdakwa boleh mengajukan pembelaan karena hal itu merupakan hak. Terdakwa menyatakan telah mengerti. Dalam dakwaan Jaksa disebutkan terdakwa Tomi Anggara baik bertindak sebagai pelaku yang menyuruh melakukan atau turut serta melakukan bersama-sama saksi Rusdi alias Encek (sidang dalam berkas terpisah) pada Kamis, 13 Maret 2008, sekitar pukul 04.00, yakni mencuri tujuh meter kabel tembaga warna hitam yang seluruhnya milik Sudarmo Haryanto. n RIS/K-1

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang

Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu

segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Minggu, 29 Juni 2008 Ferry Yuliantono Dijerat Tiga Pasal

JAKARTA (Lampost): Sekretaris Jenderal (Sekjen) Komite Bangkit Indonesia (KBI) Ferry Joko Yuliantono yang kini menjadi tersangka kasus kerusuhan di depan DPR dan Universitas Atma Jaya, dijerat tiga pasal dalam KUHP. Pasal penghasutan, kekerasan, dan pembakaran. Kepala Divisi Humas Mabes Polri, Irjen Pol. Abubakar Nataprawira di Jakarta Selatan, Sabtu (28-6), mengatakan Ferry dikenai Pasal 60 KUHP tentang Penghasutan, untuk melawan kepada petugas. Pasal 170 KUHP jo Pasal 55 dan 56 KUHP tentang Melakukan Tindakan Kekerasan terhadap Barang atau Orang. Selain itu, kata dia, Ferry dijerat Pasal 187 KUHP tentang Pembakaran. "Kami juga menjeratnya dengan Pasal 55 dan 56 KUHP," kata Abubakar. Menurut Abubakar, Ferry pernah berupaya pulang ke Indonesia melalui jalur gelap yakni tidak melalui pintu imigrasi. Upaya itu dilakukan karena dia tahu akan ditangkap polisi begitu mendarat di Jakarta. "Dari China, Ferry terbang ke Kuala Lumpur lalu akan masuk ke Indonesia melalui laut lewat Dumai atau Tanjung Balai, Kepulauan Riau," kata Abubakar didampingi Direktur Keamanan dan Transnasional Badan Reserse Kriminal Polri, Brigjen Pol. Badrootin Haiti. Abubakar menyatakan melihat rute kepulangan Ferry, Polri mensinyalir ia hendak menghindari proses hukum di Indonesia. Sebelumnya, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar mensinyalir FY sebagai aktor intelektual di balik unjuk rasa menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di Jakarta, Selasa (24-6), yang berakhir anarki. Syamsir menyatakan FY sedang berada di China dan segera pulang ke Indonesia. Mabes Polri telah menangkap Ferry saat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (27-6), pukul 19.25.

Untuk menangkap Ferry, Mabes Polri mengirimkan dua perwira ke China pada 26 Juni 2008 untuk memantau pergerakan Ferry yang saat itu berada di Guangzhou, China, bersama 15 kawannya dari Indonesia. "Kami khawatir, Ferry tidak kembali ke Indonesia setelah namanya disebut-sebut terlibat kasus unjuk rasa di depan gedung DPR yang anarkhis," kata Abubakar. Pada 27 Juni 2008, Polri mendapatkan keterangan bahwa Ferry bersama kawankawannya akan pulang ke Indonesia dengan naik pesawat dari Guangzhou ke Jakarta. Namun, ketika pesawat itu terbang ke Jakarta, Ferry tidak ikut dalam pesawat tapi malah terbang ke Kuala Lumpur dengan naik pesawat yang lain. n R-1 Mabes Polri lalu menghubungi perwakilan Polri di KBRI Kualalumpur untuk koordinasi dengan imigrasi di sana agar Ferry tidak diperbolehkan masuk ke negara itu. "Begitu masuk pintu imigrasi, ia ditolak dan diminta kembali naik pesawat ke Jakarta," katanya. Dua perwira yang memantau Ferry ikut terbang satu pesawat dengan tersangka ini namun keduanya tidak menangkapnya karena pesawat itu berbendera Malaysia, artinya dalam pesawat itu masih wilayah Malaysia. "Saat melewati pintu imigrasi Bandara Soekarno Hatta, kedua polisi ini menangkapnya sebab tidak ingin Ferry kabur," katanya. Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Kasus Sodomi:PNS Diancam Penjara 7 Tahun Selasa, 12 Juni 2007

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Az (29), oknum PNS Kantor Wilayah Perpajakan, Provinsi Lampung (bukan Bapedalda, red) yang disangka menyodomi An (14), siswa SMP dijerat dengan Pasal 289 KUHP, Pasal 18, dan Undang-Undang 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Tersangka yang ditahan di Polsekta Sukarame diancam 7 tahun penjara. Sebelumnya Az saat diperiksa mengaku bekerja di sebuah kantor yang berlokasi di Jalan Wolter Monginsidi, Telukbetung Utara, yakni Bapedalda. Kepala Kantor Badan Pengedalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi Lampung, Syaifullah Sesunan, membantah jika AZ, PNS yang menjadi tersangka kasus sodomi pelajar SMP merupakan pegawai di lingkungannya. Menurut dia, kantor di Jalan Wolter Monginsidi No. 223 Bandar Lampung kini ditempati Kanwil Pajak. "Sebelumnya itu memang Kantor Bapedalda. Namun, kini kantor itu ditempati Kanwil Pajak. Jadi tidak ada PNS kami bernama Az. Dia bukan PNS di lingkungan Bapedalda. Kami telusuri ke Polsekta Sukarame," kata Syaifullah Sesunan. Kapolsekta Sukarame AKP Indra Widjatmoko mengatakan kasus yang ditangani Polsekta Sukarame itu diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Dia dijerat Pasal 289 KUHP tentang Sodomi dan dijerat UU 22/2003 tentang Perlindungan Anak. Az disangka melakukan tindak kekerasan seksual (sodomi, red) di sebuah kamar kontrakannya di Jalan Pangeran Antasari, Sukarame. Perbuatannya itu terbongkar ketika Az mengadukan An ke Polsekta Sukarame dengan tuduhan melarikan sepeda motornya. "Az melaporkan kasus pencurian motor sekaligus menyerahkan tersangka An. Setelah diperiksa, An balik melaporkan Az telah menyodominya. An juga mengakui perbuatannya membawa kabur sepeda motor. Nah sekarang dua-duanya ditahan," kata Kapolsekta Sukarame AKP Indra Widjatmoko. Kepada Lampung Post, An mengaku hari Rabu (6-6) malam dia dan Safrudin, adik sepupunya, hendak pulang ke Dusun Lubuk Bais, Tanjungbintang, Lampung Selatan. Namun, uang mereka tidak cukup buat ongkos. Lalu keduanya nongkrong di Jalan Urip Sumoharjo menunggu tumpangan kendaraan ke Tanjungbintang. "Awalnya kami hendak naik mobil ke Tanjungbintang dari Terminal Pasar Bawah. Karena ongkosnya tidak cukup, akhirnya kami turun di lampu merah Jalan Urip Sumoharjo untuk mencari tumpangan," aku An. Sekitar pukul 20.00, Az mendekati kedua remaja itu. Setelah cukup lama mengobrol, Az mengajak mereka ke sebuah kamar indekos di Jalan Pangeran Antasari. Menurut An, setiba di kamar, Az menyuruh mereka mandi. Mereka juga diberi pakaian ganti. "Saya diberi celana pendek. Setelah itu kami diberi makan soto," ujarnya.

Menjelang tengah malam, An dan adik sepupunya tidur. Saat itu, An sempat melihat Az sedang membaca buku. "Saya kemudian disuruh pindah tidur bersama Mas (Az, red) itu." Tanpa curiga, dia mengikuti permintaan Az agar tidur di kamar bersamanya. "Saya tidur lebih dahulu. Tiba-tiba lampu mati dan badan saya digerayangi. Saya sempat berontak, tapi didekap kuat. Kemudian saya digituin setelah diolesin entah minyak atau handbody, saya tidak tahu. Yang saya rasakan sakit, tapi sekarang sudah tidak," ujarnya. Lewat tengah malam, An terbangun dan ingin minum. Dia keluar kamar dan langsung membuka kulkas. Saat melihat kunci sepeda motor di atas kulkas, terbersit niat di benaknya untuk kabur dengan membawa sepeda motor tersebut. Nahas, Az rupanya memasang kunci rahasia di motornya sehingga sulit dihidupkan. An akhirnya menuntun sepeda motor itu keluar perumahan dan sempat dilihat anggota satpam perumahan. Sekitar pukul 03.00, Az terbangun. Dia kaget karena An dan sepeda motornya sudah raib. Atas bantuan anggota satpam perumahan, dia berhasil menangkap remaja yang baru dicabulinya itu. Dini hari itu juga An diserahkan ke Polsekta Sukarame. Saat menjalani pemeriksaan, An membeberkan peristiwa yang dialami. Polisi langsung menciduk Az yang tinggal di Perumahan Griya Asri Blok F, Segalamider, Tanjungkarang Barat. Oknum PNS itu mengakui perbuatannya terhadap An. n JUN/K-2

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka

-

Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Penganiayaan:Pengeroyok Polisi Diancam 5 Tahun Penjara

Sabtu, 12 Mei 2007 BANDAR LAMPUNG (Lampost): Empat anggota Pol. PP dan satu PNS Dinas Sosial Kota Bandar Lampung yang disangka mengoroyok polisi terancam hukuman 5 tahun penjara. Mereka disangka melanggar Pasal 170 KUHP. Kelimanya: Haristari (50), warga Jalan Flamboyan No. 44, Lk. III, Tanjungkarang Pusat; Rio Pratama (21), warga Jalan Ratu Dibalau, Gang Damai No. 36, Tanjungsenang; Lasdi Ismail (33), warga Jalan Laksamana R.E. Martadinata, Kelurahan Permata, Telukbetung Barat; Warid Fadillah (21), warga Jalan Kebersihan No. 50, Sukadanaham, Tanjungkarang Barat; dan Sukardi (46), warga Jalan Komarudin, Kp. Madiun, Lk. II, Rajabasa. Keluarga tersangka mengajukan penangguhan penahanan. Dirreskrim Polda Lampung Kombes Pol. Sugeng Priyanto menegaskan kelima tersangka masih mendekam di sel Polda Lampung terkait kasus penganiayaan bersama-sama dan perbuatan tidak menyenangkan pada proses razia dan pengeroyokan oknum anggota Polri dan Unit P3D Polres Tulangbawang, Bripda Taufik Hidayat. Saat itu, Jumat (19-4), sekitar pukul 23.00, Bripda Taufik Hidayat terjaring razia di Hotel Tirtayasa, Lempasing, bersama Pausah, warga Jalan Cipto Mangunkusumo, Kupang. "Unsur-unsur yang disangkakan pada Pasal 170 KUHP terpenuhi. Bahkan hasil pemeriksaan, barang bukti, dan keterangan tersangka yang mengakui peran masing-masing, yaitu saat peritiwa pengeroyokan tersebut," kata Sugeng. Menurut Dirreskrim, Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan menyebutkan barang siapa yang di muka umum bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang atau barang, dihukum penjara selama-lamanya 5 tahun 6 bulan. "Unsur barang siapa, di muka umum bersama-sama, melakukan kekerasan, terhadap orang atau barang terpenuhi. Sudah bukti VCD rekaman saat kejadian dan visum menerangkan tersangka melakukan kekerasan dengan cara memegang, menjambak, mencekik, dan memukul. Korban menderita memar di kening, luka ringan akibat benda tumpul," kata Sugeng. Sementara itu, terkait pengajuan penangguhan penahanan oleh pihak keluarga tersangka, Dirreskrim mengatakan kini sedang dalam pertimbangan. "Silakan saja mengajukan penangguhan penahanan. Kami akan proses pengajuan penangguhan karena itu hak keluarga tersangka. Pertimbangannya bergantung pada pimpinan dan keyakinan penyidik." n

JUN/K-2

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Tanggamus - Jual Kupon Togel:3 Warga Pringsewu Ditahan di Polres

Selasa, 30 Januari 2007 KOTAAGUNG (Lampost): Tiga warga Kecamatan Pringsewu, Tanggamus, ditahan aparat dari Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tanggamus karena tertangkap tangan menjual kupon putih toto gelap (togel). Mereka dibidik Pasal 303 KUHP dengan ancaman penjara 10 tahun. Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Tanggamus, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Mashar Yusuf, mendampingi Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Tanggamus Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Joko Santoso kepada Lampung Post di Mapolres, Senin (29-1), mengatakan ketiga tersangka pengedar kupon putih toto gelap itu adalah Suharman (51), warga Pekon Sidoarjo, Kecamatan Pringsewu. Kemudian, Untung Suyatno (44), warga Pekon Podomoro, Kecamatan Pringsewu, dan Yatiman Bin Zulzani (53), warga Pekon Pringombo, Kecamatan Pringsewu.

Dari tangan Suharman, polisi mengamankan delapan lembar hasil rekapan togel, satu pulpen, dan uang tunai Rp130 ribu hasil penjualan togel. Sedangkan dari tersangka Yatiman, polisi mengamankan dua lembar kertas bertuliskan kombinasi angka dan uang Rp129 ribu hasil penjualan togel tersebut. "Penangkapan ketiga tersangka itu berdasarkan informasi warga yang resah dengan peredaran kupon putih itu di Kecamatan Pringsewua," kata AKP Mashar Yusuf. Berdasarkan informasi tersebut, kata AKP Mashar, Tim Reskrim Polres Tanggamus langsung melakukan identifikasi tersangka dan mempelajari situasi. Awalnya petugas mengawasi tersangka Untung yang hari itu, Rabu (24-1), sekitar pukul 13.00, bermaksud membeli kupon togel kepada Suharman di Pekon Sidoarjo, Pringsewu. Saat terjadi transaksi kupon putih togel antara Suharman (penjual) dan Untung (pembeli), polisi langsung menyergap keduanya. Polisi langsung melakukan pengembangan. Atas keterangan Suharman dan Untung, polisi juga menangkap Yatimin yang juga penjual togel di Pringombo. "Berdasarkan keterangan dari para tersangka, kami sudah mengetahui bandar besarnya. Tapi saat kami datangi, pelaku sudah melarikan diri," ujar Mashar. Sementara itu, berdasarkan pengakuan sejumlah peminat dunia "303" (istilah togel, red), peredaran dan penjualan kupon putih togel di sejumlah wilayah di Kabupaten Tanggamus masih bisa dijumpai, walau agak susah menemukannya. Modus operandinya, para penjual togel secara aktif mendatangi pelanggan tetap, bahkan bertransaksi dengan menggunakan ponsel dan telepon. "Kalau petugas mau jeli, kupon togel ini masih dijual hampir di setiap kecamatan," kata seorang warga. Beberapa warga meminta aparat kepolisian terus melakukan razia perjudian karena praktek itu dapat merusak generasi muda. "Saya acungkan jempol polisi yang menangkap penjual togel, tapi bersamaan dengan itu saya juga berharap polisi terus menggencarkan razia-razia," kata seorang warga Pringsewu. n UTI/D-1

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM).

.
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Pemerkosa Anak Kandung Diancam 15 Tahun
Jum'at, 13 Januari 2006

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Chairul Fandi (37) diancam 15 tahun penjara karena memerkosa anak kandungnya yang berusia 10 tahun. Jaksa menjerat terdakwa dengan Pasal 285 KUHP Undang-Undang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan UU Perlindungan Anak pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Kamis (121). Dalam sidang tertutup itu, Jaksa Rosman Yusa menghadirkan tiga saksi; LM (ibu korban), Ma (korban), dan seorang warga Wayhalim yang melihat perbuatan terdakwa. Pengacara Yoesron Effendi mengatakan korban menangis saat menceritakan kejadian di semak-semak belakang PKOR Wayhalim, 30 September 2005, sekitar pukul 19.30. Berdasarkan pengakuan korban, ujar Yoesron Effendi, sebelum diperkosa, pelaku mengajak membeli durian. Sampai di lapangan Wayhalim, Fandi menghentikan motor dan membuka rok anaknya. Setelah itu Fandi memerkosa korban. Kejadian itu disaksikan warga setempat yang curiga dengan gelagat Fandi. Warga mengintip perbuatan Fandi, sehingga dia sempat dikeroyok massa. Saksi LM mengatakan sebelum kejadian itu, sekitar 4 tahun lalu, suaminya pernah memasukkan jari ke alat vital anaknya hingga luka. Ketika itu, anaknya baru duduk di kelas I SD di Cilegon. Untuk menghindari kejadian serupa, LM memindahkan korban ke salah satu SD di Bandar Lampung dan tinggal bersama neneknya. Sedangkan dia dan suaminya tinggal di Pulau Jawa. LM mengatakan saat anaknya kelas V SD, dia dan suaminya pulang ke Bandar Lampung dan berkumpul bersama anaknya. LM tidak menyangka sopir truk itu tega memerkosa anaknya dan menyebabkan trauma mendalam pada bocah berambut panjang itu. Namun, Fandi menyangkal memerkosa anaknya. Dia mengaku hanya menempelkan kemaluannya. Mendengar sanggahan itu, Hakim Ketua Magdalena membacakan hasil visum yang menyatakan terdapat luka pada kemaluan korban. n CR-8/K-1

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Mutilasi: Supran Dituntut 14 Tahun
Rabu, 1 Maret 2006

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Terdakwa pembunuhan mutilasi, Supran (20), dituntut 14 tahun penjara pada sidang di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang, Selasa (28-2). Jeratan jaksa sesuai Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan Biasa dengan ancaman maksimal 15 tahun kurungan. Setelah mendengar Jaksa Fajar Gurindro membacakan tuntutan, Supran memohon keringanan kepada Majelis Hakim. "Saya punya empat adik yang masih kecil yang harus dinafkahi. Ibu saya janda, Pak Hakim. Saya mohon hukuman diringankan," kata dia. Supran mengakui kesalahannya dan menyesal atas perbuatan tersebut. "Saya khilaf karena mabuk," ujarya. Pengacara Supran, Nurul Hidayah, meminta dua minggu kepada Majelis Hakim untuk mengajukan pleidoi tertulis. Supran mengatakan membunuh Rina Tomboy karena emosi atas perkataan dan perbuatan korban. Menurut dia, Jumat, 7 Oktober 2005, dia bersama beberapa temannya minum empat botol minuman keras di kapal motor tempat dia bekerja. Tiba-tiba, Rina Tomboy datang meminta minuman dengan mengeluarkan umpatan dan kata-kata kasar. Supran mengaku awalnya tidak emosi, tetapi Rina memaki dan mengeluarkan ancaman membunuh Supran dan temantemannya. "Saya tidak tahu ancaman itu ditujukan kepada siapa. Namun, Rina mengatakan salah satu dari kami ada yang mati," katanya.

Mendengar kata-kata itu, menurut Supran, dia menanyakan kepada Rina tentang ancaman itu. Tetapi, Rina memukul dadanya hingga terjatuh. "Saya emosi dan menusuk leher Rina," kata Supran. Menurut dia, untuk memastikan Rina meninggal, dia memotong leher korban. Sedangkan saksi Sudarmawan (kepala kapal) mengatakan Supran datang ke rumahnya sambil menjinjing kantong plastik hitam berisi kepala Rina Tomboy. Menurut dia, Supran mengaku membunuh Rina dan benda dalam plastik hitam yang dijinjingnya adalah kepala Rina. n CR-8/K-1

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Rabu, 16 November 2005

Penggelap Pupuk Diancam 4 Tahun BANDAR LAMPUNG (Lampost): Menggelapkan tujuh ton pupuk Super Phospat (SP) milik PT Bumi Tani Subur, terdakwa Au Kian Fat (38) dikenai Pasal 378 KUHP dengan ancaman empat tahun. Hal itu terungkap dalam sidang di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Selasa (15-11). Dalam sidang dengan Hakim Ketua Saleh Rasun, Jaksa Atik mengajukan beberapa pertanyaan kepada Au Kian Fat. Tetapi, terdakwa tidak menjawab pertanyaan, malah mengubah fokus masalah, sehingga Jaksa Atik marah dan meminta terdakwa memberikan keterangan jujur dan jelas. "Anda

mengeluarkan pupuk dari gudang tanpa izin pimpinan kan?" kata Atik. Setelah Jaksa berkali-kali menanyakan perizinan tersebut, terdakwa tidak mampu menyangkal pupuk senilai Rp16 juta yang dikirimkan ke CV Mekarindo Agro Utama tanpa DO (izin pengiriman pupuk) pimpinan perusahaan. CV Anugerah Lestari punya dua gudang pupuk; PT Bumi Tani Subur dan PT Masyarakat. Au Kian Fat bekerja sebagai kepala gudang di PT Bumi Tani Subur, bertanggung jawab atas keluar masuknya pupuk dari gudang. Au Kian Fat mengakui secara prosedural, setiap pengeluaran dan pengiriman pupuk harus menggunakan DO yang dibuat pimpinan induk dan harus dibayar di muka. Sementara, dia mengirim pupuk tanpa DO dan perusahaan tidak menerima pembayaran pupuk senilai Rp16 juta itu. Au Kian Fat mengatakan pupuk 7 ton yang dia ambil dari gudang PT Masyarakat untuk menutupi kekurangan pupuk 205,5 MT yang harus dikirim ke CV Mekarindo Agro Utama. "Saya berniat menjaga nama baik perusahaan," katanya. Anehnya, niat baik terdakwa tidak diiringi dengan prosedur yang benar. Terdakwa tidak melaporkan kekurangan jumlah pupuk di gudang kepada pimpinannya dan tanpa DO memerintahkan karyawan gudang PT masyarakat memberikan pupuk pada CV Mekarindo. n CR-8/K-1

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil.

-

Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

Putra Bupati Dijerat Pasal Berlapis

Rabu, 26 Oktober 2005

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Putra Bupati Tulangbawang, Aris Sandhi Dharma Putra (29), dijerat pasal berlapis, yaitu UU No. 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Pasal 351 KUHP, Pasal 335 KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan," kata Kapoltabes Kombes Pol H.S. Maltha, didampingi Kasat Reskrim Kompol Hilman , tadi malam. Aris Sandhi dijebloskan ke sel Poltabes Bandar Lampung sejak Senin (25-10), sekitar pukul 17.00 karena menganiaya istrinya. Aris ditangkap Minggu (24-6), sekitar pukul 19.00, berdasarkan laporan istrinya yang mengaku dipukuli hingga memar di sekujur tubuh dan dirawat di rumah sakit. Menurut Kapoltabes, tersangka membantah tuduhan korban dan memberikan keterangan berbelit-belit. Namun, akhirnya mengakui telah menganiaya istrinya dengan cara melempar, meninju, menampar, dan menendang. Semula Aris Sandhi menolak menandatangani hasil berita acara pemeriksaan (BAP) dan surat perintah penahanan. Kemudian, meminta tersangka membuat surat pernyataan tentang ketidaksediaannya menandatangani surat perintah penahanan tersebut. Tersangka menolak dengan alasan menunggu pengacaranya. Akhirnya, Aris Sandhi mengaku memukul istrinya lebih dari satu kali. "Kurang lebih tiga kali memukul, menendang juga sekitar tiga kali," kata Aris di hadapan petugas. Wartawan mencoba menanyai penyebab kemarahan terhadap istri. Namun, Aris bungkam bahkan sempat terjadi saling dorong antara wartawan dan Aris yang berusaha menghindar. Aris menjalani pemeriksaan selama tiga jam di hadapan Kanit Harta Benda (Harda) AKP Adi Sastri. "Tersangka selalu berdalih masalah tersebut adalah masalah keluarga. Kini, ada UU No. 23 Tahun 2004 tentang KDRT dan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak," kata Adi Sastri. Selain memeriksa tersangka, petugas telah memeriksa tiga saksi, yaitu dua pembantu wanita, dan satu penjaga malam rumah tersebut. Sebagai saksi, ia mengaku tidak melihat langsung, tetapi mendengar keributan dari dalam kamar dan mendengar teriakan majikan perempuannya. "Saya dengan bapak marah-marah. Saya disuruh mengambil tas untuk tempat pakaian ibu. Saya hanya lihat bapak mukul dan nendang ibu," kata seorang saksi.

Beberapa kerabat dan utusan tersangka sudah berupaya menghubungi korban, Oktofaniarsyah S.Oe yang akrab disapa Fany. Termasuk Dodi, adik bungsu Aris. Ia ke rumah sakit untuk membujuk Fany agar berdamai. Namun, Fany hanya menjawab, "Saya sedang sakit. Saya tidak ada masalah dengan Dodi. Jadi, maaf, Fany mau istirahat. Segala sesuatu sudah saya perhitungkan dengan matang." ujar Fany. n JUN/CR-2/K-2

Analisa :
1. Apakah tema dari berita diatas?

Tema dari berita diatas adalah tentang Persidangan Direktur CV Bangun Jaya Mandiri (BJM), Abdurahman di PN Tanjungkarang yang didaelanggar Pasal 378 tentang Penipuan dan Penggelapan jo Pasal 374 KUHP, terkait bisnis palem kernel (biji sawit) dengan PT Sinar Jaya Inti Mulya (SJIM). .
2. Siapakah Pelaku utama dalam berita diatas?

Pelaku utama dalam berita diatas adalah :
-

Herti Tambunan sebagai tersangka yang membakar mobil polri. Irjen Rismawan sebagai korban pemilik mobil. Irjen Nanan Soekarna sebagai Kadiv Humas Polri yang memeriksa tersangka Brigadir M Rusdi, Brigadir Bagus, Briptu Hadi Siswanto, Bripda Ali Baskara, dan Wagiman sebagai saksi.

3. Kapan Peristiwa itu terjadi?

-

Pembakaran mobil dilakukan pada hari Senin (28/12/2009). Proses pemeriksaan tersangka pada hari Senin (28/12/2009).

4. Dimanakah peristiwa itu terjadi?

Tempat pembakaran mobil pejabat polri dilakukan di mabes polri Jakarta.

5. Mengapa peristiwa itu terjadi?

Wanita pembakar mobil tidak puas dengan kinerja anggota Polres Jakarta yang menangani kasusnya yang melaporkan perusahaan tempat dia bekerja yang memecatnya.Perbuatan tersangka tersebut melanggar Pasal 187 ayat 1e subsider 406
KUHP.

6. Bagaimanakah kronologis kejadiannya?

HT membakar mobil Rismawan yang terparkir di halaman Mabes Polri, Senin (28/12). Saat itu, HT diduga stres. Mobil hangus di bagian belakang. Beruntung kejadian itu segera ditangani polisi yang berjaga. Soalnya, bila dibiarkan beberapa detik lagi, api akan menyambar ke tangki bensin.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->